P. 1
LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR

|Views: 7,940|Likes:
Published by Fina Saindri

More info:

Published by: Fina Saindri on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/08/2013

pdf

text

original

Sections

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sel merupakan unit terkecil dari makhluk hidup. Sel yang sejenis dan

memiliki fungsi yang sama akan membentuk jaringan. Berbagai jaringan

akan membentuk organ. Berbagai macam oragan akan membentukl sistem

organ. Berbagai macam sistem organ akan membentuk organisme (Dwisang,

2008).

Setiap organisme adalah sebagian dari unit sel, dan semua sel

berasal dari sel pula. Secara umum, sel merupakan unit terkecil dari suatu

makhluk hidup. Bentuk sel ada yang pipih, lonjong, bulat, maupun bikonkaf.

Namun kesemuanya itu berukuran mikroskopis (Virchaw, 2008).

Sel-sel yang ada pada tumbuhan tentu saja berbeda dengan sel-sel

yang ada pada hewan melalui pengamatan, sel hewan dan sel tumbuhan.

Diharapkan praktikum dapat mengetahui cirri-ciri perbedaan keduanya

(Weisz,1963).

1.2 Maksud dan Tujuan

Tujuan dari praktikum Biologi Dasar tentang Sel Hewan,Tumbuhan

dan Benda-benda Kecil lainnya yaitu menerapkan penggunaan mikroskop

dengan baik dan benar. Memahami ciri-ciri sekaligus dapat membedakan sel

tumbuhan dan sel hewan.

Maksud dari praktikum Biologi Dasar tentang Sel Hewan,Tumbuhan

dan Benda-benda Kecil lainnya adalah meneliti dan mengamati sel

tumbuhan,sel hewan dan benda-benda kecil lainnya.

1.3 Waktu dan tempat

Praktikum Biologi Dasar tentang sel tumbuhan, sel hewan dan benda-

benda kecil lainnya dilaksanakan pada hari Kamis, 29 September 2011

bertempat di Gedung C lantai 1 dimulai dari pukul 18.00-20.00 WIB. Di

laboratorium Ilmu-Ilmu perikanan (IIP). Fakultas Perikanan dan Ilmu

Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sel

Sel merupakan unit terkecil dari makhluk hidup baik secara struktural

maupun fungsional. Sel terdiri dari membran sel, sitoplasma, nukleus, dan

organ-organ lainnya. Sel yang sejenisnya dan memiliki fungsi yang sama

akan membentuk jaringan (Evi lavina Dwisang, 2008).

Menurur Max Schulze dan Thomas Hute (1825-1984), sel merupakan

kesatuan fungsional kehidupan. Rudolf Virchaw (1858). Mengemukakan

bahwa sel berasal dari sel (Omnis celulla cellulae). Sehingga lahirlah teori

sel. Sel merupakan kesatuan tumbuhan (Pratiwi,dkk,1994).

Sel merupakan unit terkecil dari makhluk hidup, yang berarti sel

mampu atau dapat hidup tanpa kehadiran sel yang lain. Apila kita katakan sel

merupakan struktural terkecil yang mampu melakukan pertumbuhan dan

reproduksi, ada orang lain yang mengatakan bahwa virus adalah lebih kecil

dari sel (Marianti,2007).

2.2 Sejarah Penemuan Sel

Sel pertama kali ditemukan oleh Robert Hooke (1965) ketika

mengamati sayatan sel gabus, dengan mikroskop sederhana. Hasil

pengamatan berupa rongga-rongga kosong (karena sel gabus, merupakan

sel mati) yang ukurannya sangat kecil yang kemudian disebut sel

(cellula=kamar) (kristiyono,2006).

Penemuan selanjutnya dilakukan oleh Methios J. Schlein dan

Theodor Schwann (1883) yang mengamati bahwa sel-sel hidup ternyata

bukan berupa ruangan kosong, tetapi berisi sitoplasma yang diduga

mendukung aktivitas makhluk hidup. Kemudian lahirlah teori sel yang

mengatakan bahwa semua makhluk hidup tersusun dari sel. Dengan

demikian, sel merupakan unit struktural dan fungsional makhluk hidup

(Khristiyono, 2006).

Menurut max Schulze, sel berasal dari sel (Omnis celulla cellulae).

Sehingga lahirlah teori sel. Sel merupakan kesatuan tumbuhan

(Pratiwi.dkk,1994).

2.3 Bentuk-bentuk Sel dan Contohnya

Menurut Istamar Syamsuri (2006), bentuk-bentuk sel sebagai berikut :

a. Bentuk Pipih

: Sel y6ang berbentuk membrane sel tetap

Contoh

: Ephitelium

b. Bentuk memanjang

: Sel yang bentuknya berubah-ubah karena
: tidak memiliki plastid.

Contoh

: Amoeba
c. Bentuk Sangat Memanjang : Sel yang bentuknya sangat memanjang
Contoh

: Sel Syaraf

d. Bentuk Bikonkaf

: Sel yang bentuknya terdapat lekukan di
: bagian tengah

Contoh

: Sel Darah Merah

e. Bentuk Bulat (Coccus)

: Sel yang bentuknya Bulat

Contoh

: Bakteri

Menurut Khristiyono (2008), bentuk sel hewan tidak tetap, karena

tidak memiliki dinding sel, sehingga pergerakan membrane sel bebas. Pada

sel tumbuhan, bentuknya tetap karena memiliki dinding sel sehingga gerakan

membran sel terbatas :

a. Butiran-butiran nucleoprotein yang terbesar pada sitoplasma,

Contoh: Ribosom

b. Sel terbentuk seperti tabung, dua lapis saling berhubungan dan

menutupi,

Contoh : Retikulum Endoplasma

c. Bentuk sel panjang dan mempunyai membrane yang rangkap

Contoh : Mitokondri

Sel berbentuk Coccus

http://www.google.co.id

Sel Berbentuk Pipih

http://monrow.wordpress.com/tag/jaringan-ikat/

Sel berbentuk sangat panjang

http://4.blogspot.com

Sel berbentuk Bikonkaf

http://ramditaa.blogpot.com/2011/04/sel-

darah-merah-eritrosit.html

2.4 Bagian-bagian sel dan Fungsinya

Menurut Weise (1963), bagian-bagian sel adalah sebagai berikut :

a. Inti Sel (Nukleus)

: mengatur selluruh aktivitas sel

b. Retikulum Endoplasma : berfungsi dalam transport intra sel

c. Ribosom

: tempat berlangsungnya sintetis protein

d. Mitokondria

: tempat berlangsungnya proses respirasi

e. Lisosom

: mengandung enzim yang berfungsi dalam

: proses pencernaan intrasel

f. Vakuola

: untuk mencerna makanan

g. Badan Golgi

: berfungsi dalam proses sekresi polisakarida,

: protein dan lender serta berperan dalam

: pembentukan Lisosom

h. Plastida

: hanya dijumpai pada tumbuhan

i. Membran Sel

: memiliki fungsi dalam pergerakan molekul

: dari dalam aturan dari luar sel

j. Sitoplasma

: sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis

: dan biogeokimia

k. Dinding Sel

: untuk perlindungan dan member bentuk sel

l. Kromosom

: mengontrol aktivitas sel

m. Kloroplas

: untuk proses fotosintesis

2.5 Perbedaan Sel Hewan dan Sel tumbuhan

Menurut Dwisang (2008), perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan

sebagai berikut :

Sel hewan

Sel Tumbuhan

Tidak memiliki Dinding Sel

Memiliki Dinding Sel

TIdak memiliki Plastida

Memiliki Plastida

Tidak memiliki Lisosom

Tidak memiliki Lisosom

Timbunan zat berupa Lemak dan

Glikogen

Timbunan Zat berupa Pori

Bentuk tidak Tetap

Bentuk tetap

Vakuola kecil

Vakuola Besar

Perbedaaan Sel Tumbuhan dan Sel Hewan

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsinya

Dalam Praktikum Biologi Dasar tentang Mikroskop alat-alat yang

digunakan antara lain :

a. Mikroskop Binokuler : untuk mengamati objek-objek yang akan diamati

b. Objek Glass

: digunakan untuk meletakkan objek-objek yang akan

: diamati

c. Silet

: untuk mengiris objek

d. Cover Glass

: untuk menutup objek yang telah diletakkan pada

: objek glass

e. Pinset

: untuk mengambil bahan berukuran kecil

f. Pipet Tetes

: untuk memindahkan dan mengambil larutan

g. Jarum pentul

: untuk mengambil irisan

h. Beaker Glass

: sebagai wadah larutan Y-KY, lugol, aquades

3.2 Bahan dan Fungsinya

Dalam praktikum Biologi Dasar tentang mikroskop, bahan-bahan yang

digunakan antara lain :

a. Ketela Pohon

: sebagai objek pengamatan

b. Paramecium

: sebagai objek pengamatan

c. Ephitelium

: sebagai objek pengamatan

d. Daun Hydrilla

: sebagai objek pengamatan

e. Lugoll

: untuk memperjelas bayangan

f. Larutan Y-KY

: untuk memperjelas bayangan

g. Aquades

: untuk memperjelas bayangan

h. Batang Korek Api

: alat untuk mengambil ephitelium

i. Larutan Biru Methilena

: untuk memperjelas bayangan Ephitellium

: squamosum pipi

Diambil Paramecium dengan Pipet Tetes

Diletakkan di atas Objek Glass

Ditetesi dengan Larutan Lugol

Ditutupi dengan Cover Glass Sudut 450

Diamati dengan menggunakan Mikroskop

HASIL

Diambil Ketela pohon dengan Jarum Pentul

Diletakkan di atas Objek Glass

Ditetesi dengan Larutan Y-KY

Ditutupi dengan Cover Glass Sudut 450

Diamati dengan menggunakan Mikroskop

HASIL

3.3 Skema Kerja

3.3.1 Ketela Pohon

3.3.2 Paramecium

Diambil atau Disayati Daun Hydilla

Diletakkan di atas Objek Glass

Ditetesi dengan Larutan Aquades

Ditutupi dengan Cover Glass Sudut 450

Diamati dengan menggunakan Mikroskop

HASIL

Dikorek bagian dalam pipi dengan batang korek api

Diletakkan di atas Objek Glass

Ditetesi dengan Larutan Biru Ethilene

Ditutupi dengan Cover Glass Sudut 450

Diamati dengan menggunakan Mikroskop

HASIL

3.3.3 Daun Hydrilla

3.3.4 Ephitelium Squamosum pipi

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur

Adapun analisis prosedur dari praktikum Biologi Dasar tentang sel

hewan, sel tumbuhan, dan benda-benda kecil lainnya adalah :

4.1.1 Ketela Pohon

Mikroskop disiapkan kemudian ketela pohon disayat bagian

batang yang terdapat jaringan gabus. Jaringan gabus disayat disetipis

mungkin, kemudian diletakkan diatas objek glass dan ditetesi dengan

larutan Y-KY untuk memperjelas bayangan. Ditutupi dengan cover

glass dengan kemiringan 450

agar tidak ada gelembung. Gunakan

mikroskop dengan perbeasaran lemah 40×. Kemudian digambar

hasilnya.

4.1.2 Paramecium

Paramecium diambil dengan pipet tetes dari rendaman air jerami.

Diletakkan diatas Objek Glass dan ditetsi dengan lugol 1-2 tetes untuk

memperjelas bayangan. Lalu ditutupi dengan cover glass dengan

kemiringan 45o

agar tidak terjadi gelembung. Kemudian diamati dengan

perbesaran lemah 40× kemudian digambar hasilnya.

4.1.3 Daun Hydrilla

Daun Hydrilla diambil selembar dengan pinset dan diletakkan

pada Objek Glass ditetesi dengan Aquades 1 tetes agar objek dapat

dilihat dengan jelas. Kemudian ditutupi dengan Cover Glass dengan

kemiringan 45o

agar tidak terjadi gelembung. Kemudian diamati dengan

perbesaran lemah 40× kemudian digambar hasilnya.

4.1.4 Ephitelium Squamosum Pipi

Ephitellium diambil dibagian dalam pipi menggunakan batang

korek api, dioleskan pada Objek Glass. Ditetesi dengan Larutan Biru

Methilene agar objek dapat terlihat dengan jelas. Kemudian ditutupi

dengan cover glass dengan kemiringan 45o

agar tidak terjadi

gelembung dan tidak terkena debu. Kemudian diamati dengan

Mikroskop dengan perbesaran lemah 40×. Kemudian hasilnya

digambar.

4.2 Analisa Hasil

Adapun hasil dari praktikum Biologi Dasar tentang sel hewan, sel

tumbuhan dan benda-benda kecil lainnya adalah :

a) Ketela Pohon

Pada pengamatan irisan ketela pohon (sel gabus) sel-selnya memiliki

penampang berbentuk persegi panjang dan trapesium dimana di dalamnya

terdapat satu inti sel.

b) Daun Hydilla

Dari hasil pengamatan, sel-sel pada irisan daun hydrilla tersusun rapi

berbentuk persegi panjang yang satu dan lainnya saling berdampingan

timpang tindih berjejer rapih.

c) Paramecium

Menurut hasil pengamatan terhadap rendaman jerami. sel-sel paramecium

memiliki bentuk bulatan kecil yang tidak beraturan terdapat sel (bintik-bintik)

yang tersebar merata.

d) Ephitelium Squamosum Pipi

Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa Ephitellium

Squamosum pipi memiliki membran sel dan berbentuk lonjong agak tidak

beraturan.

4.3 Gambar dan Hasil Pengamatan

Dalam praktikum Biologi Dasar, diperoleh data hasil pengamatan dari

struktur sel pada ketela pohon, paramecium, ephitellium squamosum dan daun

hydrilla.

NO SEL BAHAN

GAMBAR HASIL
PENGAMATAN

GAMBAR SEL

1.

Ketela
Pohon
(Gabus)

www.scibd.com/doc/16429741/pengamatan-sel-
tumbuhan

2.

Daun
Hydrilla

http://biology-touchspin.com/hydrilla-verticillata-
leaf.php

3. Paramecium

http://scribd.com/doc/16429741/2009/09/jaringan-
epitel14.html

4.

Ephitellium
squamosum

Pipi

http://histovett.blogspot.com/2009/09/jaringan-
epitel14.html

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan terhadap sel hewan, sel tumbuhan, dan benda-

benda kecil lainnya, didapat kesimpulan sebagai berikut :

Sel merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup
Sel tumbuhan memiliki dinding sel yang kuat, sehingga memiliki bentuk
yang tetap/stabil sedangkan sel hewan tidak

Bentuk-bentuk sel adalah bikonkaf, pipih, batang, kerucut, panjang, dan
berubah-ubah (sel hewan)

Larutan fiksasi berfungsi untuk memfokuskan bayangan pada suatu objek
yang diamati

Penggunaan larutan Lugol berfungsi untuk fiksasi paramecium,aquadest
digunakan untuk fiksasi daun hydrilla, larutan Y-KY digunakan untuk

fiksasi sel ketela pohon,dan larutan Bromtimol Biru Methilene digunakan

untuk fiksasi Ephitellium Squamosum pipi.

5.2 Saran

Dari praktikum Biologi Dasar tentang sel tumbuhan dan sel hewan serta

benda-benda kecil lainnya. Sebaliknya praktikum harus memanfaatkan waktu

seefektif mungkin dan berhati-hati dalam menggunakan alat-alat yang ada. Serta

praktikum juga untuk mempelajari materi dan membaca buku panduan sebelum

melakukan kegiatan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Amelia, pialang dan Dida, 2007. Biologi Sel. Graha Ilmu :Yogyakarta

Virchow, 2008. Sains of Biology. Erlinger :Jakarta

Marianti, 2007. Biologi Sel. Graha Ilmu :Yogyakarta

Image. 2009. Paramecium. http://scribd.com/doc/16429741/2009/09/jaringan-
epitel14.html

Image. 2009. Hydrilla. http://biology-touchspin.com/hydrilla-verticillata-leaf.php

Image, 2009 Pengamatan sel tumbuhan.
www.scibd.com/doc/16429741/pengamatan-sel-tumbuhan

Image, 2009. Ephitellium squmosum pipi.
http://histovett.blogspot.com/2009/09/jaringan-epitel14.html

SISTEMATIKA,
ANATOMI, FISIOLOGI
DAN

MORFOLOGI

IKAN NILA

(Oreochromis niloticus)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini permintaan ikan air tawar naik cukup tinggi untuk kebutuhan

domestic dan luar negeri. Salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan

pasar adalah Budidaya Ikan. Budidaya Ikan Air Tawar salah satunya adalah

Ikan Nila (Indhie, 2009).

Ikan nila memiliki factor penting yaitu rasa dagingnya yang vkhas

dengan kandungan omega pada patin dan gizi yang cukup tinggi, sehingga

ikan nila sering dijadikan sumber protein yang murah dan mudah didapat.

Serta harga jualnya yang terjangkau oleh masyarakat (Dhewi, 2005).

Morfologi Ikan Nila adalah memiliki bentuk yang pipih kea rah vertical

(kompres), bertulang belakang (vertebrata). Habitatnya perairan, bernafas

dengtan insang dan menjaga keseimbangan tubuh menggunakan sirip. Sirip-

sirip tersebut bersifat Poikilotermal (Dwisang, 2008).

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui Sistematika,

Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila.

Tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui

Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila.

1.3 Waktu dan Tempat

Praktikum Biologi Dasar tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan

Morfologi Ikan Nila dilaksanakan pada hari Kamis, 6 Oktober 2011 pada

pukul 18.00-20.00WIB, bertempat di gedung C lantai 1 Laboratorium

Hidrologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya,

Malang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Ikan Nila

Ikan Nila atau Oreochromis niloticus termasuk jenis hewan vertebrata

yang seluruh badannya bersisik dan mempunyai gurat sisi. Ikan Nila

termasuk dalam filum Chordata yang berarti bertulang belakang atau

kerangka tubuh (Dwisang, 2008).

Ikan Nila merupakan salah satub jenis ikan yang dapat dibudidayakan

di kolam dan memiliki nilai ekonomis yang cukup penting. Potensi Ikan Niloa

sebagai Ikian Budidaya cukup besar, karena memiliki kelebihan, yaitu :

Mudah berkembang biak di lingkungan budidaya
Dapat menerima makanan yang beragam
Toleransi terhadap kadar garam/salinitas tinggi
Pertumbuhannya Cepat

(Rustia, 1996)

Habitat lingkngan Ikan Nila, yaitu : danau, Sungai, Waduk, Rawa,

Sawah, dan perairan lainnya. Selain itu Ikan nila mampu hidup pada perairan

payau, misalnya tambak dengan salinitas maksimal 29% oleh karena itu

masyarakat yang berada di daerah sekitar pantai dapat membudidayakannya

khusus kegiatan pembesaran Ikan Nila (Santoso,1996).

2.2 Klasifikasi Ikan Nila

Menurut Dr. Trewavas (1982) klasifikasi lengkap Ikan Nila adalah sebagi

berikut :

Fillum

: chordate

Sub Fillum : vertebrata

Kelas

: detoichtyas

Sub Kelas

: achanthoptarigi

Ordo

: parcomorphi

Sub Ordo

: parchokka

Family

: cichlidan

Genus

: oreochromis

Spesies

: niloticus sp

Nama Latin

:Oroechromis niloticus

Nama Indonesia

: Nila

(Ditetapkan Dirjen Perikanan 1972)

Daerah penyebaran : Afrika, Amerika, Eropa, Asia

(Santoso, 1962)

2.3 Morfologi Ikan Nila

Menurut Pratama (2009), ikan nila mempunyai nilai bentuk tubuh

yang pipih kea rah vertical (kompres) dengan profil empat persegi panjang

kea rah anteroposterior, posisi mulut terletak di ujung/termal.

Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis yang vertical dan pada sirip

punggungnya garis terlihat condong lekuknya. Ciri ikan nila adalah garis-

garis vertikal berwarna hitam pada sirip, ekor, punggung dan dubur. Pada

bagian sirip caudal/ ekor yang berbentuk membulat warna merah dan biasa

digunakan sebagai indikasi kematangan gonad (Pratama, 2009).

Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe

scenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari darsal yang keras, begitupun

bagian awalnya. Dengan posisi siap awal dibagian belakang sirip dada

(abdormal) (Pratama, 2009).

2.4 Anatomi Ikan Nila

Menurut wordpress (2010), adapun anatomi dari ikan nila adalah

sebagai berikut :

1. Sistem penutup tubuh (kulit) : antara lain sisik, kelenjar racun,

kelenjar lender dan sumber-sumber pewarnaan

2. Sistem otot (Urat Daging) : penggerak tubuh, sirip-sirip, insang, organ

listrik

3. Sistem rangka (tulang) : tempat melekatnya otot, pelindung organ-

organ dalam dan penegak tubuh

4. Sistem pernafasan (respirasi)

: organnya terutama insang, ada

organ-organ tambahan

5. Sistem peredaran darah (sirkulasi) : organnya jantung dan sel-sel

darah, mengedarkan O2, nutrisi dan sebagainya

6. Sistem pencernaan 1 organnya saluran pencernaan dari mulut

sampai anus

7. Sistem Hormon

: kelenjar-kelenjar hormone

untuk pertumbuhan reproduksinya dan sebaginya

8. Sistem Saraf

: Organ otak dan saraf-saraf tepi

9. Sistem Ekskresi dan Osmoregulasi : Organnya terutama ginjal

10. Sistem reproduksi dan Embriologi : Organnya Gonad Jantan dan

Betina

Ada hubungan yang sangat erat antara kesepuluh sistem anatomi

tersebut, misalnya : Menentukan cara bergeraknya daging dan system

rangka. System pernapasan dan peredaran darah O2 dari perairan di tangkap

oleh darah, dipertukarkan dengan CO2 dibawa ke seluruh tubuh oleh darah

(wordpress,2010.

Anatomi atau organ-organ internal ikan adalah bjantung, alat

pencerna, Gonad kandung kemih, dan Ginjal. Organ-organ tersebut biasanya

diselubungi oleh jaringan pengikat yang halus dan lunak yang disebut

peritoneum. Peritoneum merupakan selaput atau membrane yang tipis

berwarna hitam y6ang biasanya dibuang joke ikan sedang disiangi (Pratama,

2009).

2.5 Sistem Pencernaan Ikan Nila

Sistem pencernaan pada ikan nila melalui proses sebagai berikut.

Dari mulai anggota mulut, esophagus/Kerongkongan, Lambung, usus dan

terakhir anus (Dwisang,2008).

Proses penyedeerhanaan pada ikan nila melalui cara fisik dan kimia.

Sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus

kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui system peredaran darah

(Dwisang, 2008).

Sisitem pencernaan pada hewan vertebrata dibangun oleh pembuluh-

pembuluh yang sifatnya sangat muskuler, yang dimulai dari bagian mulut

sampai anus. Organ-organnya adalah rongga mulut faring esophagus

lambung usus halus usus besar dan rektum (Pratama, 2009).

2.6 Ekskresi dan Reproduksi

Sistem ekskresi dan reproduksi pada Ikan Nila adalah sebagai berikut

2.6.1 Sistem Ekskresi

Nekanisme system Ekskresi pada ikan yang hidup di air tawar

adalah : ikan tidak banyak minum, aktif menyerap ion organic, melalui

insang dan mengeluarkan urin yang encer dalam jumlah yang besar

(Dwisang, 2008).

Sistem Ekskresi melibatkan organ insang, kulit, Ginjal

berfungsi mengekskresikan zat-zat sisa metabolism yang

mengandung Nitrogen (Pratama,2009).

Insang sebagai organ pernafasan ikan. Kulit sebagai organ

ekskresi karena mengandung kelenjar keringat yang mengeluarkan

5%, 10%dari seluruh metaydisme (Pratama, 2009).

2.6.2 Sistem Reproduksi

Sistem reproduksi pada jantan mempunyai tistis. Pada ikan

betina mempunyai indung telur, keduanya terletak pada rongga perut.

Sebelah kandung kemih dan kanan cili mentari keadaan Gonad Ikan

sangat menentukan kedewasaan ikan, meningkat dengan makin

meningkatnya fungsi Gonad. Ikan nila umumnya memiliki gonad,

terletak pada bagian posterior rongga perut disebelah bawah ginjal

(Pratama, 2009).

Nila berasal dari sungai nil, secara ilmiah/alamiah dapat

berkembang biak sepanjang tahun. Namun frekuensi pemijahan,

banyak terjadi pada musim penghujan. Ikan ini mudah berkembang

biak tanpa perlakuan khusus (meitanisyah, 2010).

Sebelum melangsungkan perkawinan, nila jantan biasanya

membuat kubangan berbentuk bulat didasar perairan, kolan (Santoso,

1996).

2.7 Jenis dan Bagian Fungsi Sisik

Sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka ragam yakni

sisik Gonoid, yang merupakan sisik besar dan kasar, berbentuk lempengan

tunggal biasanya tersusun genting. Sisik placoid berbentuk bundar sirkular

tetapi tidak sebundar cosmoid. Sisik Stenoid tekstur tajam pada permukaan.

Cosmoid berbentuk bulat, halus. Clasoid ujungnya tajam disatu sisi. Posterior

dan anteriordiraba halus dan joke dibalik kasar (Saputra, 2007).

Ada beberapa jenis Ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian

tubuh tertentu saja. Seperti pada paddlefish. Ikan yang hanya ditemukan

sepanjang literalis (Dwisang,2008.)

Ikan Sidat (angulla) yang terlihat seperti tidak bersisik tetapi sisiknya

kecil yang berlapisi lender yang tebal (Meitanisyah, 2010)

2.8 Jenis dan Bagian Fungsi Ekor

Menurut Seaworld (2011) adapun jenis dan bagian fungsi ekor adalah :

No Jenis Ekor

Fungsi

Gambar

1. Rounded

Memiliki ekor yang kuat untuk

melindungi diri namun lambat

dalam berenang

(Aquaviews.2011)

2. Imargind

Memiliki ekor yang kuat untuk

berenang

(Aquaviews.2011)

3. Forked

Ikan dapat terus berenang dengan

sirip yang bercabang

(Aquaviews.2011)

4. Lunated

Merupan ikan tercepat dan ekornya

berfungsi

untuk

menjaga

kecepatan dalam jangka waktu

yang lama.

(Aquaviews.2011)

5

Trunced

Memiliki ekor yang kuat untuk

melindungi diri, namun lambat

dalam berenang

(Aquaviews.2011)

6. Pointed

Untuk mempermudah gerakan saat

berenang

(Aquaviews.2011)

BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Biologi Dasar tentang

Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila (Oreochromis

niloticus) adalah :

1. Sectio Set

: seperangkat alat bedah untuk membedah ikan

2. Nampan

: tempat untuk alas alat dan bahan

3. Kamera

: untuk menggambar objek

4. Cover Glass

: menutup objek pada objek glass

5. Mikroskop

: mengamati struktur Anatomi, Fisiologi dan Morfologi

: ikan nila yang tidak dapat dilihat oleh kasat mata

6. Lap Basah

: sebagai alat untuk menetralisir keadaan ikan

7. Beaker glass

: sebagai wadah larutan aquades

8. Masker

: melindungi saat menghirup udara

9. Objek glass

: meletakkan Objek yang akan diamati

10. Pipet tetes

: untuk mengamb il larutan dalam beaker glass

11. Sarung tangan :untuk melindungi tangan dari bahan agar tidak

melukai tangan

3.2 Bahan dan Fungsi

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Biologi Dasar

mengenai Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan NIla

(Oreochromis niloticus) adalah:

1. Ikan Nila

: sebagai objek yang akan diamati

2. Tissue

: membersihkan alat

3. Aquades

: sebagai cairan fiksasi

3.3 Skema Kerja

3.3.1 Pengamatan Alat Pencernaan dan Sekresi

Diambil Ikan Nila dengan lap basah dan Jaring

Diletakkan Ikan Nila pada Nampan

Ditusuk Ikan Nila dengan Penusuk pada medulla Oblongata

Diamati dan digambar bagian tubuh Ikan Nila

Dibuka bagian perut Ikan Nila mulai anus hingga
rongga perut secara melintang dengan sectioset

Diamati dahn Digambar bagian Pencernaan sekresi Ikan Nila

HASIL

3.3.2 Pengamatan Sisik

3.3.4 Pengamaan Insang

Diambil sisik dengan pinset

Diletakkan di atas objek glass

Ditutup dengan cover glass dengan sudut
45o

Diamati bagian sisik dengan Mikroskop

HASIL

Diambil Insang dengan pinset

HASIL

Diamati dan Digambar bagian Insang

BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam Praktikum Biologi Dasar Ikan Nila, dapat dijelaskan sebagai berikut :

4.1 Data dan Gambar Hasil Pengamatan

Dalam praktikum Biologi Dasar ikan nila, diketahui bahwa data-data Ikan

Nila sebagai berikut :

4.1.1 Bagian-bagian Sirip Ikan ikan Nila adalah :

a. Sirip Darsal

: punggung

b. Sirip Caudal

: Ekor

c. Sirip Anal

: Anus

d. Sirip Pektoral

: Perut

e. Sirip Ventral

: Dada

4.1.2 Macam-macam bentuk caudal adalah :

a. Rounded (Bulat)

:

b. Forked

:

c. Idented/Imargined:
d. Square (truncate) :
e. Lunate

:

f. Pointed

:
Ikan Nila termasuk ikan yang memiliki bentuk ekor Imargined/Idented
4.1.3 Macam-macam Bentuk Sisik Ikan :
a. Cosmoid

: bundar-bundar, tekstur halus, penuh

Contoh

: Ikan Purba

b. Plakoid

: Ujung panjang tajam satu sisi, joke diraba posterior dan
: anterior halus, jika dibalik kasar

Contoh

: Ikan hiu

c. Cycloid

: Bundar circular, tidak sebundar cosmoid

Contoh

: Ikan Kapus

d. Stenoid

: Seperti cycloid bundar, tapi tekstur tajam di permukaan

Contoh

: Ikan Nila

e. Ganoid

: bentuk lempengan tunggal, biasanya sisik tersusun
: seperti susunan atap

Contoh

: Ikan Purba

Jadi, Ikan Nila termasuk ikan yang memiliki jenis sisik Stenoid.

4.1.4 Bagian-bagian insang yang dimiliki oleh ikan nila adalah :

a. Gill filament = berfungsi untuk menyaring oksigen

b. Gill raker = berfungsi untuk meremas-remas makanan

c. Gill art

= berfungsi untuk menempelkan gill raker dan gill

= filament

4.1.5 Ciri-ciri Usus yang dimiliki oleh ikan, adalah :

a. Ikan Herbivora

Ususnya panjang, kecil, lembut => karena herbivora tumbuhan dan

proses pencernaannya lama

b. Ikan karnivora

Ususnya pendek, besar, kasar => karena untuk pross pencernaan

ikan dengan proses yang cepat

c. Ikan Omnivora

Ususnya ideal

4.1.6 Sistem Pencernaan Ikan Nila :
Adapun system pencernaan Ikan Nila sebagai berikut :
Mulut Esofagus Lambung Usus Anus
4.1.7 Sistem Ekskresi pada Ikan Nila, yaitu :
Ginjal, Urogenetal, Insang, Kulit
4.1.8 Sistem reproduksi :
Sistem reproduksi pada Ikan Nila berada di GONAD.

4.1.9 Gambar Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan yang dilakukan pada praktikum Biologi

Dasar Ikan Nila adalah :

4.2 Analisa Prosedur

Adapun analisis prosedur dari praktikum Biologi dasar tentang Sistematika,

Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah :

4.2.1 Pengamatan Alat Pencernaan dan sekresi :

Dalam pengamatan alat pencernaan dan sekresi adalah ambil

Ikan Nila dengan Lap basah dan jaring. Lap Basah digunakan untuk

menetralisir keadaan ikan nila. Kemudian letakkan ikan nila di

nampan. Lalu ikan Nila ditusuk dengan penusuk pada bagian antara

bola mata ikan (meolula oblongata). Kemudian amati dan digambar

bagian ikan nila. Setelah itu dibuka bagian perut ikan nila mulai dari

anus hingga rongga perut secara melintang dengan seetroset agar

lebih mudah membuka bagian dari ikan nila tidak sobek atau

tergores. Joke salah satu bagaian pencernaan terkena alat potong

maka tidak akan terlihat bentuk-bentuk ikan nila. Lalu amati dan

digambar bagian pencernaan dan sekresi dari ikan nila setelah dapat

membuka bagian tubuh ikan nila, lalu amati hasilnya.

4.2.2 Pengamatan Sisik :

Dalam pengamatan sisik ikan nila yang sudah mati, diambil

sisiknya dengan menggunakan pinset agar lebih mudah mengambil

sisiknya. Kemudian ditaruh di atas objek glass. Tetesi dengan

aquades agar bayangan objek dapat terlihat, tutup dengan cover

glass dengan sudut 45o agar tidak terjadi gelembung. Amati bagian

sisik dengan mikroskop. Lalu digambar hasil pengamatannya.

4.2.3 Pengamatan pada Insang Ikan Nila :

Pengamatan yang dilakukajn pada insang Nila adalah ambil

insang yang ada dibagian Kepala (Caput) Ikan Nila dengan

menggunakan pinset. Lalu diamati dan digambar bagian Insang.

4.3 Analisis Hasil

Adapun analisis hasil dari praktikum Biologi Dasar tentang

Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila (Oreochromis

niloticus) adalah : Pada percobaan ikan nila setelah dibedah tampak bagian

dalamnya yaitu insang, hati, lambung, usus, pancreas dan gelombang

renang. Gelombang renang berfungsi untuk mengatur naik turunnya ikan

saat berenang.

Selain organ dalamnya terdapat juga organ bagian ikan yaitu sirip dan

sisik. Pada ikan nila adalah catenoid, bentuknya sedikit bergerigi dan fungsi

sisik yaitu untuk mengklarifikasi ikan.

Fungsi sirip yaitu menyeimbangkan tubuh ikan dan mempermudah

gerakan pada saat berenang. Insang terletak di samping kepala ikan dan

pada insang, oksigen dalam air ditangkap oleh darah lalu ke pembuluh

darah. System pencernaan dari mulut kerongkongan, lambung, usus, dan

berakhir ke anus,

Ikan nila memiliki sisik yang berjenis stenoid. Fungsi dari sisik ikan Nila

sendiri adalah untuk melindungi tubuh ikan. Bentuk dari sisik ikan nila yang

terbentuk stenoid seperti cycloid bundar, tetapi tekstur tajam di permukaan.

Ikan nila memiliki bentuk caudal bertipe Imargind, yang memiliki ekor

yang kuat untuk berenang. Ikan nila biasanya dapat berenang dengan cepat.

BAB V

PENUTUP

5.2 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari Praktikum Biologi dasarc tentang

Sistematika, morfologi, Fisiologi dan Anatomi ikan Nila sebagai berikut :

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan hewan air jenis vertebrata
Seluruh badan ikan memiliki sisik dan gurat sisi
Reproduksi ikan nila memiliki sisik dan gurat sisi
Reproduksi ikan nila terjadi di luar tubuh
Sistem pencernaan ikan nila adalah sebagai berikut :
Mulut Esophagus Lambung Usus Anus

Ikan nila termasuk ke dalam fillum chordate yang berarti tulang atau
kerangka tubuh

Sistem Ikan Nila dalam ekskresi adalah : Ginjal, Uregenital, insang, kulit
Bagian tubuh ikan terdiri dari :
1. Kepala (caput)

2. Trunchus (Badan)

3. Ekor (Caudal)

5.2 Saran

Pada praktikum Biologi dasar tentang sistematika, morfologi, fisiologi

dan anatomi ikan nila, sebaiknya praktikum untuk memanfaatkan waktu

seefektif mungkin dan perlunya perlengkapan alat uhntuk menunjang

kelancaran dalam praktikum

DAFTAR PUSTAKA

Dhewi, 2008 Kualitas Ikan Nila. Graha Ilmu: Jakarta

Dwisang, 2008. Struktur Tubuh Ikan Nila: Yogyakarta

Image. 2009. Caudal of Nila Fish. http://aquaviews.net

Diakses tanggal 07 Oktober 2011 pukul 09.31 WIB

Image, 2009. Gambar ikan Nila. http://meitanisyah.wordpress.com

Diakses tanggal 07 Oktober 2011 pukul 09.36 WIB

Image, 2009. Sisik Ikan Nila. http://australianmuseum.net.au

Diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 pukul 12.16 WIB

Indhie. 2009. Ikan Nila. http://indhie.wordpress.com

Diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 pukuol 16.30 WIB

Trewavas.Dr, 2009 Klasifikasi Nila. http://meitanisyah.wordpress.com

Diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 pukul 12.19 WIB

Meitanisyah, 2010 Anatomy of Fish. Erlangga: Jakarta

Pratama, 2009. Morfologi Ikan Nila. Airlangga. Jakarta

Putra, adriansyah, 2010. Macam-macam sisik ikan nila. Graha Ilmu: Jakarta

Rustidja,1996. Pola warna dan genetika ikan. Jakarta

Santoso. Budi 1996. Budidaya Ikan Nila. Kasinius: Yogyakarta

Santoso,budi,1996. Sistem reproduksi. Kasinius: Yogyakarta

Seaworld. 2011. Jenis ekor Ikan. http://seaworld.org/aquaviews/tetra/mbuthfish.htm

Diakses pada tanggal 7 Oktober 2011 pukul 13.01 WIB

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->