P. 1
PENDIDIKAN INKLUSIF

PENDIDIKAN INKLUSIF

|Views: 212|Likes:
Published by Abu Zahlan Husain

More info:

Published by: Abu Zahlan Husain on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2015

pdf

text

original

PENDIDIKAN INKLUSIF; ANTARA KONSEP, KEBIJAKAN DAN PRAKTEK

Pembaca yang terhormat, Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk berbicara di Lembaga Administrasi Negara pada sebuah focus group discussion dalam rangka merumuskan menejemen pelayanan berbasis inklusif yang akan dirumuskan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN). Berikut adalah share saya tentang paper yang saya sajikan dalam forum diskusi yang sangat menarik tersebut. Pendahuluan Seiring dengan perkembangan sejarah perubahan sosial dari masa ke masa, pemahaman orang terhadap keberadaan kelompok berkebutuhan khusus, penyandang cacat, difabel, penyandang ketunaan maupun istilah lain yang dimaksudkan untuk merujuk subyek yang sama (dengan idiologi dan konsepsi yang berbeda) pun telah mengalami banyak perubahan. Secara garis besar, setidaknya ada dua konsepsi yang dalam sepanjang perkembangan sejarah perubahan social serta penteorian difabililitas cukup dominant. Yang pertama adalah pandangan medis/individual, yang melihat dan menempatkan kecacatan sebagai sebuah permasalahan individu. Secara ringkas, pandangan ini menganggap kecacatan/impairment sebagai sebuah tragedy personal, dimana impairment selalu diposisikan sebagai akar permasalahan serta penyebab atas hambatan aktifitas serta berbagai bentuk ketidak beruntungan social yang dialami (Barnes and Mercer, 1996). Model/pandangan ini pun diadobsi dalam sebuah instrument internasional yang dipublikasikan oleh WHO pada tahun 1980, yang dikenal dengan ICIDH (International Clasification of Impairment, Disability and Health). Dalam klasifikasi internasional ini, WHO, dengan keterlibatan dominant kelompok-kelompok professional medis, sekali lagi menegaskan hubungan kausal antara impairment /keterbatasan fungsi, disability / ketidak mampuan/hambatan aktifitas, serta handicap / ketidak beruntungan social (WHO 1980, Oliver 1990, Oliver, pada Barnes and Mercer 1996). Adapun pandangan ke dua adalah pandangan/konseptualisasi difabilitas

indivisibility and inter related of rights. Dengan kata lain. dan Barnes dan Mercer 1996). jaminan atas partisipasi penuh tersebut akan seperti apa. Dengan kata lain. melalui serangkaian akomodasiakomodasi yang harus dilakukan sesuai kebutuhan. lingkungan serta negara dalam mengakomodasi apa yang menjadi kebutuhan difabel (UPIAS. Oleh masyarakat dunia. inklusi mestinya dipahami sebagai sebuah kondisi yang menjamin partisipasi penuh setiap manusia dengan berragam keberbedaan. dimana berangkat dari salah satu prinsip bahwa hak asasi manusia merupakan hak yang secara inherent melekat pada setiap manusia. Disability. yang belakangan kemudian berkembang menjadi pandangan yang melihat difabilitas dalam pendekatan HAM ini dibangun atas sebuah prinsip dasar bahwa kecacatan/impairment maupun keterbatasan fungsional sesungguhnya tidak pernah mempunyai korelasi langsung terhadap apa yang dikatakan sebagai disability / ketidak mampuan aktifitas. Dalam perkembangannya. dan seterusnya. jaminan atas kesetaraan. sebagaimana diatur dalam berbagai instrument HAM. ya itu bahwa setiap hak bersifat terkait. kesamaan hak serta partisipasi penuh juga semestinya melekat pada setiap individu difabel yang juga mesti dilindungi. tentunya masih perlu diterjemahkan dengan lebih nyata tentang bagaimana akomodasi-akomodasi kebutuhan tersebut harus dilakukan. menurut pandangan ini tidak lain dikarenakan atas kegagalan masyarakat. disability yang dimaksud merupakan buah dari sebuah interaksi lingkungan yang gagal mengakomodasi keberadaan difabel. maupun juga partisipasi social (UPIAS 1996. . maka kondisi social exclusion yang dialami oleh kelompok difabel yang diakibatkan atas interaksi yang gagal tersebut sudah seharusnya dipandang sebagai suatu bentuk pelanggaran hak. 1996). langkah-langkah pemenuhan hak dasar.yang terlahir atas dominasi konsepsi difabel dan bagaimana semestinya lingkungan social memandang diri mereka. Pengertian yang masih abstrak ini. langkah-langkah mewujudkan . Dalam hal ini. inclusion pun dipandang sebagai sebuah cara yang paling tepat dalam engejawantahkan pandangan ini. tergantung dan saling tak terpisahkan satu sama lain. HAM kemudian mulai mengenali disability issue sebagai sebuah bagian integral atas isu HAM. Pandangan yang disebut dengan social model. yang untuk kelompok difabel akan lebih relevan jika merujuk pada Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) juga semestinya dilakukan dengan memperhatikan prinsip inter dependence. Tidak berhenti sampai disitu. Akhirnya.

Setidaknya. Sementara. Konvensi Hak Anak (1989). apa yang dimaksud sebagai pendidikan inklusif dalam kontek sistem pendidikan nasional kita agaknya juga masih perlu dikaji dan dikembangkan lebih jauh. Di sisi lain. pendidikan inklusif sendiri sudah dimulai beberapa tahun terakhir di Indonesia. kreatifitas dan komitmen lembaga pendidikan tinggi merupakan hal yang esensial dalam mengakomodasi kebutuhan tersebut. Namun. layanan inklusi dalam pendidikan yang sudah berjalan ini masih sebatas pada tingkat pendidikan dasar. Terlebih apa bila mengacu pada pernyataan salamanca (1994) yang secara lebih mengerucut memberikan guideline yang jelas mengenai penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dalam setting inklusi. apa bila merujuk pada beberapa dokumen internasional seperti Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948). keunikan serta keberragaman masing-masing peserta didik.inclusion ke dalam bentuk nyata pun terlihat dengan munculnya berbagai dokumen internasional. yang mesti pula dibarengi dengan komitmen pemerintah dalam memfasilitasi pengembangannya. perkembangan teori. pelaksanaan pendidikan inklusif sejauh ini masih belum mampu menjawab kebutuhan akan keteraksesan serta kualitas pendidikan itu sendiri. apa yang sudah dilaksanakan ini pun masih menyisakan beberapa pertanyaan. filosofi akademik. Pendidikan inklusif Pendidikan inklusif. sudah menjadi tuntutan lembaga pendidikan tinggi untuk mulai memberlakukan dan mengembangkan sistem inklusi. Di tingkat dasar. Jika sudah boleh dikatakan berjalan. faktanya bahwa angka difabel yang menempuh pendidikan tinggi sudah cukup meningkat dari tahun ke tahun. bahkan sudah menjadi keharusan bagi setiap kecamatan untuk memulai sedikitnya satu sekolah yang inklusi. sehingga mau tidak mau. Peraturan Standar Tentang Persamaan Hak Bagi Difabel (1993). dalam beberapa substansinya mempunyai pointer-pointer yang relevan dengan semangat pendidikan inklusif sebagai sebuah penyelenggaraan pendidikan yang mengakomodasi keberbedaan. Fakta menunjukkan bahwa sepanjang implementasinya. Deklarasi Dunia Tentang Pendidikan Untuk Semua (1990). yang kini telah mulai dikenal setelah lama diwacanakan di Indonesia sendiri telah mulai berkembang di tingkat internasional sejak cukup lama. serta perubahan pendekatan dalam menangani kelompok difabel tersebut. Untuk itu. Di satu pihak kesiapan hard resources masih menjadi masalah . Setidaknya.

serta modivikasi kurikulum yang menjadi konsekwensi logis dari pendidikan inklusif juga masih menjadi kesulitan di sebagian besar sekolah. kemampuan mengelola pembelajaran dalam setting inklusi. tulisan ini akan mencoba untuk (1) melihat relevansi antara konsep dan kebijakan pendidikan inklusif dalam rangka memberikan kontribusi atas perbaikan-perbaikan yang mungkin untuk dilakukan. namun juga harus dapat diterjemahkan secara praktis dan implementatif. yang terkait dengan ketersediaan media belajar. pendidikan inklusif dibangun atas sebuah ide mulia untuk mengakomodasi keberragaman.besar pada sekolah-sekolah inklusi baru-baru ini. Inklusi yang ingin coba diterapkan di Indonesia ini harus dipahami secara mendalam bukan hanya dalam tataran abstrak dan teoritis. perubahan paradigma di kalangan stake holders yang berpengaruh dalam penyelenggaraan pendidikan harus terjadi secara matang dan tepat. Demikan pula. Lebih dari itu. infra struktur. kaya dan miskin. melainkan untuk memaknai keberragaman sebagai sesuatu yang “normal” dalam masyarakat. dengan . Begitu pula. dan (2) mendiseminasikan model layanan inklusi pada pendidikan tinggi sebagaimana yang sudah dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga bersama Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD) Kerangka Berfikir Mendudukkan “pendidikan inklusif” sebagai sebuah prinsip dalam penyediaan layanan pendidikan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. serta berbagai fasilitas sekolah yang aksesibel. Untuk itu. Sementara di pihak lain. istilah “normal” tidak lagi dipahami sebagai standar-standar kewajaran yang digunakan untuk mengkategorikan kemampuan anak. Memahami pendidikan inklusif tidak bisa berhenti sebatas menerima anak didik berkebutuhan khusus pada lembaga pendidikan secara bersama-sama dengan anak-anak lainnya. Memaknai Pendidikan inklusif Bagaimana pendidikan inklusif dimaknai merupakan pondasi penting yang harus dibangun untuk dapat mengkonseptualisasikannya dalam tataran praktis. Dalam sudut pandang ini. pengayaan soft resources yang berupa penguasaan pemahaman pengajar serta management lembaga pendidikan akan konsekwensi dari inklusi. adalah normal apa bila ada anak yang pandai dan tidak. sebelum inklusi dapat sepenuhnya diterapkan. melakukan sistem penilaian.

Yang ke dua adalah faktor dalam diri peserta didik yang dapat meliputi rasa ingin tahu. Ke tiga faktor inilah yang dalam penyelenggaraan seting pembelajaran inklusi mesti diakomodasi ke dalam berbagai bentuk penyesuaian-penyesuaian sebagaimana yang diperlukan. Dengan kata lain. yang termasuk di dalamnya adalah respon lingkungan terhadap keberadaan peserta didik berkebutuhan khusus. serta kemampuan. Jika pada sistem pendidikan segregasi. inklusi harus diterjemahkan sebagai bukan saja sebuah affirmative action untuk mengakomodasi pendidikan bagi anak-anak dengan difabilitas saja. agama. ketika kita berbicara tentang pendidikan inklusif. adabtasi . inklusi memang sebuah upaya untuk mengakomodasi berbagai bentuk keragaman. kompetensi sosial. Dengan membaca keterkaitan antara ke tiga faktor di atas. yang secara langsung maupun tidak. serta lingkungan yang lebih luas yang berhubungan dengan lingkungan sosial. sebenarnya kita berbicara tentang membangun lingkungan / penyelenggaraan pendidikan bagi semua anak (education for all). keseluruhan akan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan belajar anak. lebih jauh Skjorten (2001) mengidentifikasi bahwa ada setidaknya tiga faktor yang harus diakomodasi secara holistik dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. tingkat pemahaman dan penguasaan guru terhadap pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan. isi. 2001).perbedaan ras. inklusi mempunyai sebuah karakteristik khusus yang sama sekali berubah dari sistem sebelumnya. termasuk yang berkebutuhan khusus dan yang tidak dan keberadaan mereka harus diakomodasi dalam sistem pendidikan inklusif(Skjorten. inklusi berupaya untuk meninggalkan pemahaman ini. ekonomi serta politik. temperamen. materi serta metode pembelajaran. dorongan untuk belajar dan gaya belajar. kreatifitas. Sesuatu yang dikatakan sebagai kecacatan kemudian tidak lagi dipandang sebagai segalanya atau sesuatu yang serba menentukan. karena potensi dan sesuatu yang potensial untuk dikembangkan dari peserta didik merupakan hal yang paling utama. Adapun faktor yang ke tiga adalah hakekat dan tingkat kebutuhan khusus. Dengan demikian. Yang pertama adalah lingkungan. Dalam kaitannya dengan pendidikan inklusif bagi siswa / peserta didik dengan kebutuhan khusus. motivasi. inisiatif untuk berinteraksi dan komunikasi. tapi lebih dari itu. suku bangsa. Demikian pula. pendidikan berorientasi kepada keterbatasan anak dengan merujuk pada diagnosa yang dilakukan oleh profesional.

lingkungan serta interaksi. Johnsen menyatakan bahwa setidaknya ada tiga prinsip utama dari penyelenggaraan pendidikan inklusif yang keseluruhan bermuara pada pemahaman inti bahwa adalah hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan dalam seting lokal bersama dengan masyarakat lainnya. Dan baik atau tidaknya sebuah kebijakan. Dalam kontek inilah kemudian pendidikan inklusif menempatkan assessment sebagai tahapan penting (Skjorten. teman belajar. Tidak mudah dan butuh waktu lama untuk sampai pada tingkat pemahaman ini. Yang lebih penting lagi adalah bahwa negara memegang sebuah peran penting dalam mensistematikakan konsep ini melalui berbagai bentuk kebijakan pendidikan yang komprehensif. Tak berhenti sampai disitu. 2001). Ke tiga prinsip utama tersebut adalah (1) bahwa setiap anak semestinya dapat menjadi bagian yang integral dari komunitas lokalnya dan kelas atau . namun yang lebih sulit dan menjadi tantangan bagi upaya implementasi pendidikan inklusif yang sejatinya adalah bagaimana menyebarkan pemahaman ini di kalangan guru. sehingga konsep ini dapat secara implementatif diterapkan. Adanya sebuah kebijakan yang mampu menjadi acuan pelaksanaan pendidikan inklusif merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan untuk mendukung implementasinya. profesional yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan . serta masyarakat di luar sekolah mempunyai kontribusi yang sangat bernilai bagi keberhasilan pencapaian peserta didik dalam seting inklusi. serta stake holder lain yang berhubungan. peran orang tua. dapat diukur dari sejauh mana kebijakan tersebut mempunyai relevansi dengan prinsip utama dari sesuatu yang akan diatur dalam kebijakan tersebut. proses pembelajaran. media serta metode belajar yang tepat dan sesuai kebutuhan anak menjadi kunci yang harus dipertimbangkan. Kebijakan Belajar dari negara yang telah sepenuhnya mengadopsi inklusi dalam sistem pendidikan nasionalnya seperti Norwegia mungkin dapat menjadi awal yang baik untuk melihat relefansi dan kompatibilitas kebijakan yang sudah kita miliki dalam menterjemahkan dan me-regulate pelaksanaan pendidikan inklusif.

penjelasan tentang penyelenggaraan pendidikan bagi warga negara berkebutuhan khusus dijelaskan pada pasal 5 ayat 1-2. khusus dan individual. secara tegas telah tercantum pada undang-undang dasar republik Indonesia tahun 1945 pada pasal 31 ayat 1 dan 2. 2001). Idiologi Pendidikan inklusif dan Kebijakan Jika pada bagian terdahulu saya mencoba mengelaborasi pemaknaan ideal atas pendidikan inklusif. Pemerintah mengusahakan dan menjelenggarakan satu sistim pengajaran nasional. emosional.kelompok reguler. Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran. Dan semari memperjelas struktur konsep pendidikan inklusif dalam tatanan sistem pendidikan nasional kita.20 tahun 2003 tentang sistim pendidikan nasional. dan (3) bahwa guru bekerjasama dan memiliki pengetahuan tentang strategi pembelajaran dan kebutuhan pengajaran umum. mental. intelektual. serta mempunyai sifat fleksibel dalam pemilihan materi.70 tahun 2009 yang baru-baru ini dikeluarkan.” Istilah “pendidikan khusus” sebagaimana tercantum pada kutipan ayat diatas jelas bukan berasal dari terminologi pendidikan inklusif. dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. walaupun sebetulnya sudah cukup terlihat pada peraturan menteri pendidikan nasional no. Bagaimana konsep tentang pendidikan inklusif di Indonesia untuk selanjutnya dapat dituangkan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional tentu masih perlu dikaji. Jaminan atas kesetaraan hak untuk memperoleh pendidikan. pada bagian ini. dan memiliki pengetahuan tentang cara menghargai pluralitas perbedaan individual dalam mengatur aktivitas kelas (Johnsen. Pembahasan a. yang diatur dengan undang-undang. (2) bahwa kegiatan pembelajaran diatur melalui tugastugas belajar yang kooperatif. Pada ayat 2 dari undang-undang tersebut berbunyi “Warga negara yang memiliki kelainan fisik. Karena. berorientasi pada pembelajaran individual. yang bunyinya sebagai berikut: “1.” Lebih jauh pada undang-undang no. 2. tulisan ini akan mencoba mengulas pemaknaan pendidikan inklusif di Indonesia dengan melihat rangkaian kebijakan yang ada. . ke tiga prinsip yang ditawarkan oleh Johnsen tersebut mungkin bisa dijadikan tolok ukur dalam menganalisa keberadaan kebijakan pendidikan kita dalam mengakomodasi dan meregulasi keberadaan pendidikan inklusif.

Penyelenggaraan pendidikan inklusif yang ada sekarang ini. Hanya ada satu kalimat ya itu “Setiap satuan pendidikan yang melaksanakan pendidikan inklusiff harus memiliki tenaga kependidikan yang mempunyai kompetensi menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus ” Secara bebas. satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusif harus menanggung sendiri hal-hal yang berkait dengan penyiapan tenaga pengajar yang mampu menyelenggarakan pembelajaran inklusi. inklusi mengakomodasi kekhususan peserta didik dan kebutuhan khususnya. Ke dua hal tersebut yaitu standard aksesibilitas fisik yang berisi adabtasi lingkungan fisik yang harus ditetapkan dalam rangka mendukung terciptanya lingkungan yang free-barrior untuk mendukung pendidikan inklusif. serta aksesibilitas non-fisik yang dapat berupa aturan-aturan atau prosedur yang menjamin partisipasi penuh peserta didik dengan kebutuhan khusus dalam pendidikan / kegiatan persekolahan. Hal tersebut semestinya juga terbaca sebagai komponen penyelenggaraan pendidikan inklusif yang harus dirangkum secara holistik dalam sebuah standard penyelenggaraan pedidikan inklusi. sudah cukup jelas bahwa ternyata.19 tahun 2005. Disana sama sekali tidak muncul adanya peran pemerintah dalam mengakomodasi penyiapan pengajar yang mempunyai kompetensi tersebut. tidak pula disebutkan standarisasi pelaksanaan pendidikan inklusif. Pembacaan yang hanya melihat pentingnya standar pengajar yang punya kompetensi dalam pengelolaan pembelajaran inklusif sebagaimana yang sudah ada pada PP no. Sementara.secara jelas.19 ini sekali gus dapat dipahami . metode pembelajaran.20 tersebut masih bisa dikatakan sebagai sesuatu yang setengah hati. setidaknya muncul dua kebutuhan besar yang harus diakomodasi serta distandardkan sebagai bagian dari implementasi inklusi. dalam penentuan standard pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah no. serta layanan administrasi. adabtasi kurikulum. kondisi anak dan kebutuhan khusus/difabilitas). apa bila merujuk pada tiga faktor penyelenggaraan pendidikan inklusiff secara holistik (lingkungan. inklusi belum merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional kita. kalimat tersebut di atas dapat ditafsirkan bahwa seolah-olah. dan bukan berarti penyelenggaraan pendidikan secara khusus yang justru lebih tepat disamakan dengan pendidikan segrasi / luar biasa. Sampai disini sebetulnya. Mencoba menelusuri lebih jauh. dengan melihat UU no.

keberhasilan pembelajaran ditentukan salah satunya oleh ketepatan program pembelajaran yang disesuaikan dengan hasil need assessment masingmasing peserta didik. program pembelajaran maupun layanan-layanan khusus yang diperlukan. Akan lebih fair sebetulnya jika penyelenggaraan satuan pendidikan inklusiff ditentukan berdasarkan data persebaran difabel / anak berkebutuhan khusus. satu hal yang masih menjadi catatan adalah penyelenggaraan sekolah inklusif yang masih berbasis penunjukan kiranya tidaklah sesuai dengan prinsip pendidikan inklusiff yang salah satunya adalah “bahwa setiap anak semestinya dapat menjadi bagian yang integral dari komunitas lokalnya dan kelas atau kelompok reguler”. Dalam setting inklusi. sangat penting kiranya untuk menjadikan assessment sebagai bagian dari prosedur dalam penyelenggaraan pendidikan yang inklusif. prinsip untuk tetap memberikan akses pendidikan yang integral bagi setiap anak dalam komunitas lokalnya akan sulit terpenuhi karena tidak setiap sekolah akan menerima siswa dengan kebutuhan khusus. serta membakukannya dalam sebuah kebijakan. Tetapi.bahwa inklusi yang tertuang pada sistem pendidikan nasional kita sekali lagi masih inklusi yang setengah hati dan belum mau mendudukkan keberadaan lingkungan yang lebih luas sebagai faktor yang juga menentukan keberhasilan pembelajaran. dalam praktek pendidikan inklusif sesungguhnya dikenal pula assessment sebagai sebuah proses pengukuran kemampuan serta kebutuhan akan berbagai adaptasi. . Jika evaluasi belajar berfungsi untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa. yang selanjutnya dipergunakan sebagai acuan dalam menyusun program pembelajaran. beberapa hal teknis seperti keterlibatan pemerintah dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusiff sudah cukup terlihat. Berdasarkan peraturan menteri tersebut. Namun sayangnya. dengan model penunjukan sebagaimana diatur dalam PERMEN tersebut. maka pada saat yang sama. Sama pentingnya dengan evaluasi belajar. Beberapa kekhawatiran di atas sebetulnya telah cukup terjawab dengan dikeluarkannya peraturan menteri pendidikan nasional no. masalah ketersediaan data pun masih menjadi masalah tersendiri yang agaknya sulit terpecahkan. Hanya saja. assessment berfungsi untuk mengidentifikasi tingkat kemampuan dan kebutuhan. Sayangnya. proses ini pun belum terbaca dalam peraturan kependidikan kita terkait dengan pendidikan inklusif ini. Oleh karenanya.70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusiff.

karena belum terfikir segala hal yang menjadi kebutuhan mahasiswa difabel dalam menjalani proses pembelajaran. Untuk itu. Mungkin. pada bagian berikutnya dari tulisan ini akan mencoba dipaparkan bagaimana praktek pendidikan inklusif di-design dan dilaksanakan di Universitas Islam Negeri melalui Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD). Membangun Role Model Praktek Inklusi di Perguruan Tinggi. dan dengan demikian. Studi Kasus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Penerimaan UIN Sunan Kalijaga terhadap mahasiswa difabel sebenarnya sudah dimulai sejak lama. belum ada pemahaman ataupun pemikiran tentang inklusi. Berbekal pemahaman dan sumber daya yang terbatas tersebut. Mahasiswa difabel hanya diterima pada program studi yang dipandang memungkinkan tanpa fasilitasi ataupun adaptasi tertentu. bahkan sudah sejak belasan tahun yang lalu. Prinsip dasar yang melandasi komitmen ini adalah bahwa difabel adalah juga warga negara dan hamba Tuhan yang sama kedudukannya dengan manusia lainnya. Seiring dengan berjalannya waktu. b. Pada saat itu. akan lebih pas kiranya bila dilanjutkan pada analisa fakta mengenai praktek dan impementasi pendidikan inklusif. Dan UIN sebagai perguruan tinggi berbasis islam harus mampu dan berani untuk mulai memberikan contoh yang diharapkan dapat diikuti oleh lembaga pendidikan tinggi lain di Indonesia. apa yang dilakukan oleh UIN pada saat itu adalah lebih buruk dari pendidikan terpadu di tingkat sekolah dasar dan menengah sekalipun. semakin banyaknya difabel yang belajar di UIN Sunan Kalijaga memunculkan kesadaran beberapa dosen dan pimpinan universitas akan pentingnya mengakomodasi difabel dalam sebuah seting pendidikan yang diidealkan sebagai inklusi. adalah hak mereka juga untuk memperoleh layanan pendidikan yang inklusif dan mengakomodasi kebutuhankebutuhan mereka. bila diidentikkan.Berangkat dari pandangan sekilas mengenai kebijakan pendidikan inklusiff tersebut. pada .

akses internet bagi mahasiswa difabel. . merumuskan bentuk-bentuk adaptasi yang diperlukan dalam proses pembelajaran. beberapa hal yang sudah dikembangkan diantaranya adalah: .Bersama dengan Perpustakaan UIN. Fungsi praktis – menyelenggarakan layanan pendukung pendidikan dan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mahasiswa difabel. . digital talking book. mulai dari ketersediaan referensi sampai dengan teknologi adaptif pendukung belajar dalam bentuk blind corner. . didirikanlah Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD). PSLD juga telah berhasil merumuskan standard operasi dan prosedur(SOP) PEMBELAJARAN DAN LAYANAN AKADEMIK INKLUSIF YANG MASIH AKAN TERUS DIKAJI DAN DISEPURNAKAN. dan bersama dengan pengajar. saat ini PSLD juga sedang menggagas tersedianya fasilitas perpustakaan yang aksesibel. perpustakaan.Bersama pengajar. .Menyelenggarakan kursus-kursus keterampilan penunjang akademik dan belajar seperti komputer dan penulisan ilmiah dalam rangka mendukung keberhasilan mahasiswa dalam belajar.Penyediaan teknologi adaptif difabel yang meliputi komputer bicara. Memberikan fasilitas pendampingan (belajar dan ujian). penyelenggara KKN dan praktikum serta unit lain. . Dalam menjalankan fungsi ini.Melakukan need assessment terhadap mahasiswa difabel.Mengorganisir relawan yang berasal dari mahasiswa UIN maupun dari luar kampus UIN.tahun 2006. . serta unit transkripsi yang bekerja mentranskripsi referensi ke dalam soft files. Dua fungsi utama yang diharapkan dapat dilaksanakan oleh Pusat Studi dan Layanan Difabel ini adalah: 1. berbagai unit layanan seperti TU.

. dosen. Sampai dengan saat ini. Fungsi strategis (advocacy initiative) .2. di UIN Sunan Kalijaga tidak ada disiplin ilmu / jurusan yang terkait langsung dengan pendidikan bagi difabel. . justru dari situasi inilah sebenarnya.Membangun jaringan pendidikan inklusif di perguruan tinggi. bagi kami bagaikan meraba-raba dalam gelap. Kendala lain adalah keterbatasan sumber daya pendukung dalam pengembangan layanan inklusi itu sendiri. bahkan kawan-kawan yang terlibat dalam tim PSLD sendiri mengenai hal-hal yang terkait dengan difabilitas. . praktek yang berlangsung di UIN Sunan Kalijaga memang memperoleh dukungan penuh . Sejauh ini.Melakukan berragam aktifitas kampanye baik di kampus maupun di luar kampus yang dimaksudkan untuk membangun kesadaran masyarakat (kampus dan non kampus) akan pentingnya menghormati dan mengakomodasi hak difabel akan pendidikan inklusiff. bahkan pendidikan inklusif. maupun pihak penyedia layanan di tingkat UIN dalam rangka mewujudkan kampus UIN yang inklusif dan ramah difabel. yang lebih difokuskan pada akses difabel pada pendidikan tinggi. ada sebuah keyakinan bahwa merekalah yang memahami kebutuhan mendasr mereka sehingga segala sesuatunya mesti dirumuskn dengan memberikan porsi keterlibatan penuh mahasiswa difabel.Memediasi proses-proses konsultasi antara difabel dan pimpinan universitas. Dengan pemahaman sederhana bahwa inklusi adalah tentang pelibatan / partisipasi penuh dengan mengakomodasi kebutuhan dan keberbedaan. Kendala dan Pembelajaran Praktek yang telah dikembangkan oleh PSLD dalam kurun waktu 3-4 tahunan ini tidaklah berjalan dengan mulus dan mudah seperti yang diharapkan. ada sebuah proses pembelajaran besar bahwa ternyata segala sesuatunya dapat dirumuskan bersama dengan melihat siuasi lokal. Sebagaimana diketahui.Melakukan kajian secara berkesinambungan dan mendalam terkait dengan isu-isu difabilitas. kegiatan kajian yang kami laksanakan masih dalam bentuk kajian internal yang ditujukan untuk menggali permasalahan serta kebutuhan difabel serta alternatif solusi yang mungkin dilakukan oleh PSLD dalam menjawab permasalahan / kebutuhan tersebut. Namun. Salah satu kendala utamanya adalah minimnya pemahaman di tingkat UIN. sehingga memulai proses ini.

melalui berbagai perundang-undangan. satu hikmah yang dapat diyakini adalah bahwa pendidikan inklusif hanya dapat terlaksana dengan komitmen penuh para penyelenggara pendidikan. Kesimpulan Sebagai kesimpulan. maka seperti apapun inklusi yang dilakukan hanya akan menjadi sebuah bentuk lain dari segregasi yang lebih tersamarkan. dan jika memang benar itu yang terjadi. Dan jika melihat kebutuhan pengembangan yang sebegitu besar itu. Berdasar pada studi kasus tersebut. disadari bahwa untuk mencapai bentuk inklusi yang ideal. rasanya dukungan dari unifersitas saja tidak lah cukup. . Mungkin bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah fase peralihan antara segregasi ke inklusi. maka harus ada penyempurnaan kebijakan dengan mengadopsi paradigma pendidikan inklusif yang sesungguhnya. Namun. Sebelum perubahan paradigma ini terjadi. peningkatan kreatifitas dosen. peran pemerintah melalui alokasi anggaran pengembangan layanan inklusi di perguruan tinggi rasanya menjadi cukup beralasan untuk direalisasikan. serta penelitian dan pengembangan. masih banyak adaptasi dan pengembangan yang harus dilakukan baik berupa hard resources yang berbentuk sarana / prasarana maupun soft resources seperti pengembangan kapasitas dan penyadaran dosen dan staf. tulisan ini meyakini bahwa sistim pendidikan nasional. Untuk itu.baik secara moral maupun finansial dari pimpinan unifersitas. Belum lagi apa bila berfikir tentang bagaimana model semacam ini bisa direplikasikan di perguruan tinggi lain yang tentu membutuhkan banyak sumberdaya yang termasuk didalamnya berupa pendanaan. dan bukan keseragaman yang harus diperbandingkan. tulisan ini telah mencoba mempersandingkan antara konsep pendidikan inklusif yang sejatinya dengan kerangka kebijakan pendidikan nasional di Indonesia. peraturan pemerintah maupun peraturan menteri yang ada belumlah secara penuh mengadopsi pendidikan inklusif sebagai salah satu pendekatan dan prinsip dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pada bagian lain dari tulisan ini juga telah diulas sebuah studi kasus pengembangan layanan pendidikan inklusiff di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. pengembangan / modifikasi kurikulum. Faktanya adalah bahwa perubahan menuju inklusi harus dimulai dengan sebuah evolusi pola berfikir serta cara pandang terhadap keberbedaan dan keragaman yang harus diakomodasi. Dari sebuah analisa perbandingan yang sederhana tersebut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->