bjektif 1. Memahami epidemiologi dan definisi remaja 2. Memahami masalah yang dihadapi remaja 3.

Memahami peran orang tua dan lingkungan dalam menghadapi masalah remaja Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan ketidakwajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya teori-teori perkembangan yang membahas ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanantekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan lingkungan.1 Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja, mereka juga dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari tugas pada masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Apabila individu mampu menyelesaikan tugas perkembangan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan, dan kebahagian juga akan menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya. Beberapa perubahan yang dialami remaja adalah perubahan fisik, psikis, dan sosial.2 Berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia tahun 2006, remaja Indonesia (usia 10-19 tahun) berjumlah sekitar 43 juta jiwa atau 19,61% dari jumlah penduduk.3 Pada tahun 2008, jumlah remaja di Indonesia diperikirakan sudah mencapai 62 juta jiwa.4 Di Propinsi Jawa Barat menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008 jumlah remaja (usia 10-19 tahun) sebanyak 8.145.616 jiwa yang terdiri dari 51,8% laki-laki dan 48,2% perempuan.5 Remaja sering dianggap sebagai periode yang paling sehat dalam siklus kehidupan. Akan tetapi pertumbuhan sosial dan pola kehidupan masyarakat akan sangat mempengaruhi pola tingkah laku dan jenis penyakit golongan usia remaja seperti kecelakaan, kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit akibat hubungan seksual, penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang yang semuanya akan menentukan kehidupan pribadi serta dapat menjadi masalah bagi keluarga maupun bangsa dan negara di masa yang akan datang.6 Masalah yang dihadapi remaja terutama yang berumur antara 12 - 18 tahun, dalam mendapatkan pelayanan kesehatan adalah seringkali mereka dibuat bingung karena dianggap anak sudah lewat sehingga tidak dapat dilayani di bagian anak tetapi sebagai orang dewasa belum sampai. Pelayanan kesehatan terhadap remaja sangat penting karena mereka harus dipersiapkan untuk menjadi produktif dan diharapkan menjadi pewaris bangsa. Definisi Remaja Masa remaja atau masa adolesens adalah suatu fase tumbuh kembang yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial. Untuk tercapainya tumbuh kembang remaja yang optimal tergantung pada potensi biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik seorang remaja merupakan hasil interaksi faktor genetik dan

menengah (1516 tahun). dan akhir (17-20 tahun).9 Menurut Stanley Hall usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Masa remaja menengah ditandai dengan hampir lengkapnya pertumbuhan pubertas.lingkungan biofisikopsikososial.1 tahun 1974. anak dianggap remaja bila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal sendiri. Menurut WHO.8 Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Menurut Undang-Undang Perkawinan No. Masa remaja akhir ditandai dengan persiapan untuk peran sebagai orang dewasa. peningkatan pengenalan terhadap datangnya masa dewasa. timbulnya keterampilan-keterampilan berpikir yang baru. Secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:11 1. dan identity achieved. . remaja adalah individu yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum menikah. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.7. foreclosure.4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak. Menurut Undang-Undang Perburuhan. Masa remaja berlangsung melalui 3 tahapan yaitu masa remaja awal (10-14 tahun). tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama.10 Masalah-masalah Remaja Timbulnya masalah pada remaja disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat kompleks. remaja adalah bila anak telah mencapai umur 10-19 tahun. Menurut UndangUndang No. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda memberikan ciri tersendiri pada setiap remaja. moratorium. Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. anak dianggap remaja bila sudah cukup matang untuk menikah yaitu 16 tahun untuk anak perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki.10 Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri.10 Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli. Masa remaja awal ditandai dengan peningkatan cepat pertumbuhan dan pematangan fisik. Adanya perubahan-perubahan biologis dan psikologis yang sangat pesat pada masa remaja yang akan memberikan dorongan tertentu yang sangat kompleks. dan keinginan untuk memapankan jarak emosional dan psikologis dengan orangtua. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/confusion.7 Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan.8 Masih terdapat berbagai pendapat tentang umur kronologis berapa seorang anak dikatakan remaja. termasuk klarifikasi tujuan pekerjaan dan internalisasi suatu sistem nilai pribadi. dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menganggap remaja bila sudah berusia 18 tahun yang sesuai dengan saat lulus dari sekolah menengah.9. Orangtua dan pendidik kurang siap untuk memberikan informasi yang benar dan tepat waktu karena ketidaktahuannya. Pernyataan ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall.7.1 Monks.

tenis. Kurangnya pemanfaatan penggunaan sarana untuk menyalurkan gejolak remaja. pasien baru yang berobat karena masalah akne sebanyak 123 remaja laki-laki dan 432 remaja perempuan. Beberapa penyakit yang sering dijumpai antara lain: Akne Merupakan masalah kulit yang paling mengganggu remaja dan ditemukan pada sekitar 80% remaja. psikologis. Penyakit ini merupakan gangguan pada kelenjar pilosebaseus yang ditandai dengan sumbatan dan peradangan folikel. . 6.12 Di poli kosmetik bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin RS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2008. Sebaliknya. Secara garis besar. Kejadian kawin muda masih banyak terutama di pedesaan. masalah kesehatan remaja dapat dibagi ke dalam dua golongan yaitu masalah kesehatan fisis dan masalah perilaku yang menimbulkan kelainan fisis. Perbaikan gizi yang menyebabkan menars menjadi lebih dini.4% remaja menderita gangguan penglihatan. Pembangunan ke arah industrialisasi disertai pertambahan penduduk yang menyebabkan peningkatan urbanisasi. Kebanyakan cedera pada mata terjadi pada remaja laki-laki. di perkotaan kesempatan untuk bersekolah dan bekerja menjadi lebih terbuka bagi wanita sehingga usia kawin bertambah. Akne berkaitan dengan masalah kebersihan kulit.13 Gangguan Pada Mata Miop dan cedera pada mata merupakan gangguan mata yang sering ditemukan pada remaja. sebab bila tidak ditanggulangi akan menurunkan kualitas remaja sebagai sumber daya manusia. Olah raga yang sering menimbulkan cedera pada mata adalah bulu tangkis. dan sepak bola. Lapangan kerja yang kurang memadai dapat memberikan dampak yang kurang baik sehingga remaja menderita frustrasi dan depresi yang menyebabkan mereka mengambil jalan pintas dengan melakukan tindakan negatif. pola makan. Ketimpangan sosial dan individualisme sering memicu terjadinya konflik perorangan maupun kelompok. sedangkan kejadian hipermiop lebih jarang.6 Masalah Kesehatan Fisis Penyakit-penyakit ringan yang terjadi pada remaja tetap merupakan masalah yang harus mendapat perhatian.4 Dari hasil survei pada 1219 remaja SLTP dan SLTA di Bandung tahun 1998 didapat 23. hormonal. dan infeksi bakteri. Insiden akne pada remaja bervariasi antara 30-60% dengan insiden terbanyak pada usia 14-17 tahun pada perempuan dan 16-19 tahun pada laki-laki. Membaiknya sarana komunikasi dan transportasi akibat kemajuan teknologi sehingga sulit melakukan seleksi terhadap informasi dari luar. Kesenjangan antara menars dan usia kawin yang makin panjang dan disertai pergaulan yang makin bebas tidak jarang menimbulkan masalah.6 Akne paling sering terjadi pada masa remaja dan dimulai pada awal pubertas. 5. Kejadian tertinggi miop terdapat pada usia 11-13 tahun. Perlu adanya penyaluran sebagai substitusi yang positif ke arah pengembangan keterampilan yang mengandung unsur kecepatan dan kekuatan misalnya olahraga.3. 4. berkurangnya sumber daya alam dan terjadi perubahan tata nilai.

Dari survei yang dilakukan pada remaja SLTP dan SLTA di Bandung pada tahun 1998 ditemukan bahwa kurang lebih 30% responden memiliki karies dentis. Prevalensi anemia pada remaja berkisar 40-88%. Laporan SKRT tahun 1995. Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab masalah ini. Ketidakstabilan emosi. Hasan Sadikin Bandung terdapat 2. Dari hasil penelitian remaja anak jalanan di Bandung tahun 1998 didapatkan 3.4 Gangguan Pendengaran Gangguan pendengaran merupakan gangguan kronik yang paling sering ditemukan pada remaja. .8% sedangkan di perkotaan 7. 4. risiko melahirkan bayi dengan BBLR. Pada tahun 1998 di bagian THT RSUP Dr. 2. Dari hasil penelitian anak remaja jalanan di Bandung tahun 1998 terdapat 5. remaja usia sekitar 13 tahun sangat memperhatikan kesehatan giginya.9%. dan penurunan kesegaran jasmani.4 Masalah Gizi Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat misalnya penurunan konsentrasi belajar. yaitu:11 1. Sebanyak 15. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup. 3.5% remaja yang mengalami gangguan pendengaran dengan penyebab tertinggi adalah otitis media perforata yang terjadi pada masa kanak-kanak. meliputi 16/100 remaja. gangguan telinga luar didapatkan 192/1000 kasus sedangkan otitis media didapatkan 35/1000 kasus. di pedesaan sebanyak 17.14 Masalah Perilaku Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan. Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi masalah gizi tersebut akan membantu upaya penanggulangannya.7% remaja jalanan yang mengalami gangguan pendengaran.6% penduduk berumur 1 tahun ke atas tidak mempunyai kebiasaan menggosok gigi.8% yang menderita gangguan penglihatan dan 49. kebiasaan menggosok gigi merupakan bagian pola hidup sehat.4 Karies Dentis Menurut penelitian. Banyak penelitian telah dilakukan menunjukkan kelompok remaja menderita banyak masalah gizi antara lain anemia dan indeks massa tubuh (IMT) kurang dari normal (kurus).3% di antaranya menderita miop.4% menderita gangguan penglihatan.Dari 4498 remaja yang datang berobat ke RS Mata Cicendo Bandung pada tahun 1998 terdapat 6. sedangkan prevalensi remaja dengan IMT kurus berkisar 30-40%. Dari data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 masalah telinga banyak pula dijumpai.

Dalam abad ke-20 lingkungan telah banyak merubah perilaku para remaja dan banyak yang menjurus ke perilaku risiko tinggi (risk-taking behaviour) dengan segala konsekuensi akibat dari perilaku tersebut. khayalan. Survei Badan Narkotik Nasional (BNN) tahun 2003 memperkirakan mereka yang pernah memakai NAZA di kelompok pelajar dan mahasiswa sekitar 5. serta perlindungan orang tua.16 . masalah emosi. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok. emosi. penyalahgunaan obat dan alkohol. bangsa dan negara di masa yang akan datang. dan bualan. keluarga.8%. fisiologis. Karena merasa tidak dimengerti remaja seringkali memperlihatkan agresifitas yang dapat mengarah pada perilaku berisiko tinggi. namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis. gangguan makan. 9. penyakit seksual yang ditularkan. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa. dukungan. proses pematangan fisik pada remaja terjadi lebih cepat dari proses pematangan psikososial. sosial dan pencapaian. kehamilan remaja.5. 10. Senang bereksplorasi. Berdasarkan tinjauan teori perkembangan. termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif. 6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya. yang akan mempengaruhi kehidupan pribadi. sedangkan yang pernah memakai dalam setahun terakhir sebesar 3. Penyakit-penyakit atau kelainan fisis yang timbul karena masalah perilaku remaja antara lain ialah: luka atau kecelakaan. jauh lebih tinggi daripada perempuan yaitu sebanyak 0. usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahanperubahan yang cepat. Di satu sisi remaja sudah merasa matang secara fisik dan ingin bebas dan mandiri. Sebanyak 75% kematian pada remaja terjadi akibat faktor perilaku. dan sosial. Senang bereksperimentasi. Prevalensi penyalahgunaan NAZA lebih tinggi pada pendidikan SLTA ke atas dibandingkan pendidikan yang lebih rendah. Di sisi lain mereka tetap membutuhkan bantuan.4%. Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik. 8. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang.15 Lebih jauh ditegaskan. Hal ini sering menyebabkan berbagai masalah. Mempunyai banyak fantasi.9%. Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua. 7. Prevalensi pada laki-laki sebanyak 4. dan sebagainya. merokok.6%. Orang tua sering tidak mengetahui atau tidak memahami perubahan yang terjadi pada remaja sehingga tidak jarang terjadi konflik di antara keduanya.

10 • • • • • • • Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan y ydari orang tua.18 Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu. Komnas Perlindungan Anak mendapatkan data tentang faktor penyebab daya tarik remaja terhadap rokok. Diperoleh data. Penilaian negatif dari orang tua. dll. rendahnya harga diri. menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Cinta dan Hubungan Heteroseksual Permasalahan Seksual Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua Permasalahan moral. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok. rasa .7 % setelah melihat iklan rokok di luar ruang. yagresif. pil-pil psikotropika usia 10 tahun. minum minuman beralkohol usia 9 tahun. dan narkoba.17 Jumlah perokok dari kalangan remaja Indonesia akhir-akhir ini mengalami peningkatan. perceraian dan perpisahan orang tua. alkohol. 87. dll.Data survei dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat tahun 1997 menemukan bahwa usia pengenalan NAZA semakin muda yaitu menghisap rokok 6 tahun. Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental. menghisap ganja pada usia 7 tahun. dan 81 % setelah mengikuti kegiatan yang disponsori industri rokok. alkohol.8 % dan pada kisaran 5-9 tahun sebanyak 2. pil-pil psikotropika.2 % setelah melihat iklan rokok di koran dan majalah. solidaritas. 76. kontrol dan dorongan. dan pemakaian opium usia 13 tahun. supervisi. BPS mencatat pada tahun 2004 perokok aktif dari kalangan anak-anak ada pada kisaran usia 13-15 tahun dengan jumlah 26.8 %.7 % remaja terpengaruh untuk merokok setelah melihat iklan rokok di televisi. Pada tahun 1991-1995 prevalensi pemakaian alkohol dan obat-obatan oleh remaja meningkat dua kali yaitu dari 11% menjadi 21%. kemampuan koping yang buruk. maupun untuk kompensasi. orang yang memiliki lokus kontrol eksternal. Alkohol merupakan substansi utama yang paling banyak digunakan remaja dan sering berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor yang merupakan penyebab utama kematian remaja. Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol ydan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional. 99. ketegangan di rumah.6 Centers for Disease Control and Prevention pada tahun 1995 memperkirakan sekitar 5 juta orang berusia kurang dari 17 tahun meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok. berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis. nilai. adaptasi dengan lingkungan. dan ganja.15 Tipe Remaja dini Usia (tahun) 10-13 Karakteristik Masa pubertas. Data di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya diperkirakan 30-40% anak-anak jalanan memakai zat-zat yang mempengaruhi kerja otak seperti lem. hubungan dengan Dampak Memperhatikan tahapan fisik dan seksual. dan agama Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson. untuk meningkatkan rasa percaya diri.

6 Dari laporan Polda Jabar. Era tahun 1970. dapat diprediksi sehingga dapat dilakukan usaha pencegahan atau pengendaliannya.618 kecelakaan rumah tangga yang disebabkan oleh terjatuh.6% dari seluruh korban kecelakaan di Jabar tahun 1998. paham mantap tujuan hidup.197 kecelakaan di jalan raya dan 1. keracunan.881 kasus kecelakaan.3%) ditemukan pada usia kurang dari 18 tahun. pelanggaran lalu lintas termasuk kebutkebutan yang dilakukan remaja dengan rentang usia 11-21 tahun mencapai 17. Tahun 1987 meningkat menjadi 17. lebih terbuka. kebebasan.801 kasus (32. Di negara berkembang kematian remaja karena kecelakaan telah menjadi saingan utama kematian akibat penyakit infeksi. teman. penelitian .19 Di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Nasional tahun 2001. Tahun 1989 terjadi peningkatan angka kejadian sebanyak dua kali lipat yaitu 41. sikap ambivalen. Kematangan fisik.Remaja pertengahan 14-16 Remaja Akhir 17-21 tanggung jawab.078 kecelakaan rumah tangga. tertelan benda asing dan tenggelam. bunuh diri merupakan yang paling tragis.741 kecelakaan di jalan raya dan 6. timbul rasa bersalah. Dari semua jenis perilaku yang bersifat merusak pada remaja. kecelakaan menempati urutan keenam dari 10 penyakit penyebab kematian berbagai usia. perilaku. dan kemarahan yang tidak tersalurkan. Kecelakaan Kecelakaan adalah suatu kejadian yang timbul akibat kesengajaan (intentional injury) maupun ketidaksengajaan (unintentional injury). Angka statistik tentang deviasi (penyimpangan) perilaku seks pra nikah anak remaja dari tahun ke tahun semakin besar. ego kognisi abstrak belum stabil Hubungan individual. sedangkan remaja yang mengalami kecelakaan lalu lintas mencapai 22. perubahan kebebasan bertambah.219 kecelakaan rumah tangga. memahami tanggung saling berbagi rasa.778 kecelakaan di jalan raya dan 13. 4. Pada tahun 1986 terdapat 3. jawab. emandipasi tanggung jawab.8%. Penelitian oleh Soetjiningsih (1996) di unit emergensi RS Sanglah Bali selama periode satu tahun mulai 1 Januari sampai 31 Desember 1996 terdapat 14. paham kesehatan. Hubungan Seksual Pra Nikah Salah satu bentuk perilaku risiko tinggi yang terjadi dan menjadi masalah masa remaja adalah perilaku yang berkaitan dengan seks pra nikah. Gangguan perilaku biasanya muncul akibat frustasi. memahami edealis. Insiden kecelakaan pada anak dan remaja meningkat dari tahun ke tahun. kognisi konkret interaksi dengan alat verbal dan visual Muncul dorongan Menarik lawan jenis seksual.

Di Kabupaten Kulon Progo berdasarkan pantauan Dinas Kesehatan tahun 2006. Adapun motivasi utama melakukan senggama adalah suka sama suka (76% di Jakarta dan 75.3% yang datang dengan kehamilan tak dikehendaki dan telah melakukan tindakan pengguguran kandungan dengan sengaja secara tidak aman sekitar 2% berusia <22 tahun. Salah satu indikator kesejahteraan rakyat adalah angka kematian ibu.3%. Data tentang kejadian aborsi dan kematian yang diakibatkannya sangat sulit diperoleh karena menurut UndangUndang No. Di daerah pedesaan dan perkotaan perempuan melakukan perkawinan di bawah umur tercatat masing-masing 24. kejadian tersebut menurun menjadi 41% pada tahun 1988. menurut data sekunder tahun 1996-1997 terdapat 19. Sedangkan hasil SKRT 1995 menunjukkan penurunan angka kematian ibu sampai 373 per 100. Badan Litbang Kesehatan. dan pernikahan dini.981 pengunjung klinik KB di Yogyakarta. sekitar 44% calon pengantin baru yang melakukan tes kehamilan telah diketahui positif hamil. Pusat Studi Kriminologi Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta menemukan 26.6 Sebuah survei tahun 1995 mendapatkan 21.mengenai perilaku seks pra nikah menunjukkan angka 7-9%.6.4% dan 16. Depkes RI tahun 1990 terhadap siswa-siswa SMA di Jakarta dan Yogyakarta menyebutkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah adalah membaca buku porno dan menonton blue film (54. Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi. pengaruh teman. Survei Depkes tahun 1995/1996 pada remaja belum menikah berusia 13-19 tahun sebanyak 1189 orang di Jawa Barat dan 922 orang di Bali menemukan 7% remaja perempuan di Jawa Barat dan 5% di Bali mengakui pernah terlambat haid atau hamil.3% di Jakarta dan 49. Jawa Barat 39. jarak kelahiran yang terlalu berdekatan.5% perempuan Indonesia yang perkawinan pertamanya dilakukan pada usia 17 tahun.21 .000 kelahiran hidup. Persentase terbesar kawin muda terdapat di propinsi Jawa Timur 40. kebutuhan biologis 14-18% dan merasa kurang taat pada nilai agama sebanyak 20-26%.1%.6% di Yogyakarta).20 Di era sekarang ini. Laporan UNICEF tahun 2001 menyebutkan angka kematian ibu rata-rata dari tahun 1980-1999 adalah 450 per 100. tindakan aborsi tanpa indikasi medis merupakan tindakan ilegal dengan ancaman denda dan hukuman penjara bagi pelakunya. dan Kalimantan Selatan 37. Beberapa penyebab utama kematian tersebut adalah tidak tersedianya perawatan ibu dengan baik.20 Data nasional survei keluarga tahun 1982 sebanyak 65% perempuan muda menggunakan kontrasepsi yang tidak efektif atau tanpa kontrasepsi sewaktu melakukan hubungan seks pertama. angka tersebut meningkat menjadi 12-15%.20 Kawin Muda Semakin muda usia saat perkawinan pertama semakin besar risiko yang dihadapi ibu dan anak. Dan 10.35% dari 846 peristiwa pernikahan telah melakukan hubungan seksual pra nikah dimana 50% nya menyebabkan kehamilan. Berikutnya tahun 1990 meningkat lagi menjadi 20%.5%.2% di Yogyakarta). Dekade tahun 1980.6 Aborsi Aborsi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang belum teratasi sampai saat ini.23 tentang kesehatan pasal 15.6 Penelitian oleh Pusat Ekologi Kesehatan.000 kelahiran hidup.6%.

Survei Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia menemukan jumlah kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya mencapai 2. namun secara psikologis rentan terhadap stres (tekanan hidup). petugas kesehatan yang profesional dan masyarakat. Di RS Dr. Pelayanan tersebut memerlukan keterlibatan yang penuh dari para remaja sendiri. . Pada hakekatnya inti pelayanan kesehatan kepada remaja meliputi: 1) bimbingan yang berlanjut untuk mencegah terjadinya morbiditas baru 2) melakukan pemeriksaan rutin untuk memantau kesehatan mereka. Kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah dalam 5 tahun terakhir ini mengalami peningkatan yang cukup berarti. 3) menilai dan memantau proses biologis pubertas remaja dengan berbagai keluhan yang mungkin timbul.22 Infeksi Menular Seksual Remaja Indonesia saat ini sedang mengalami peningkatan kerentanan terhadap berbagai ancaman risiko kesehatan terutama yang berkaitan dengan kesehatan seksual dan reproduksi termasuk peningkatan ancaman HIV/AIDS. Ini menunjukkan pergaulan seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Remaja percaya bahwa IMS dapat dicegah dengan cara meningkatkan stamina dan meminum antibiotik sebelum berhubungan seks. Di RSUP Sanglah Denpasar tercatat 59.3 juta dan 30% di antaranya dilakukan oleh remaja. Pelayanan Kesehatan Remaja Dalam keadaan sehat maupun sakit para remaja perlu mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif.3 Di RS Pirngadi Medan selama 2 tahun (1993-1994) untuk penyakit kondiloma akuminata tercatat 35. dan umur 15-19 tahun sebanyak 78 kasus (5. dan 20 kasus perempuan dari total kunjungan pasien baru 483 orang.803 kasus IMS pada unit rawat jalan.20. umur 5-14 tahun sebanyak 4 kasus (0. orang tua.53%).4 Sampai dengan tahun 2004 kasus AIDS di Indonesia yang dilaporkan ditemukan pada kelompok 0-4 tahun sebanyak 12 kasus (1.23 Data penyakit infeksi menular seksual (IMS) remaja yang berobat ke RSHS tahun 1998 adalah 19 kasus pria. Depkes RI menunjukkan bahwa sampai Maret 2008 pengidap HIV/AIDS terbanyak adalah kelompok remaja. Kurangnya perhatian pada faktor non-fisik dapat menyebabkan seorang remaja hanya sehat fisiknya saja. Pelayanan kesehatan bagi remaja sebaiknya terpisah dengan pelayanan lainnya.8%) diderita oleh remaja berusia 15-24 tahun.6 Pada remaja pria kasus terbanyak adalah uretritis gonore dan pada perempuan adalah bakterial vaginosis.8 Selama ini perhatian masyarakat hanya tertuju pada upaya peningkatan kesehatan fisik remaja semata tapi kurang memperhatikan faktor non-fisik.69%).1% penderita IMS pada tahun 1995-1997 adalah kelompok remaja. dari 14 kasus pada tahun 2000 menjadi 158 kasus pada tahun 2005. 36 ribu janin dibunuh oleh remaja dari rahimnya.3%). Kariadi Semarang selama 4 tahun (1990-1994) tercatat 3. Klinik kesehatan juga berfungsi sebagai sarana deteksi dini dan mengatasi masalah perilaku beriko tinggi remaja yang merugikan diri sendiri dan orang lain.4% pada kelompok usia 20-24 tahun. Jika dihitung per tahun. 1325 kasus (38.24 Peningkatan kejadian IMS pada remaja disebabkan oleh kurangnya pengetahuan remaja tentang IMS dan kurangnya kesadaran remaja untuk menggunakan kondom pada saat melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial.Saat ini tiap hari ada 100 remaja yang melakukan aborsi karena kehamilan di luar nikah.

guru. Ditangan remaja-lah masa depan bangsa ini digantungkan. maupun masyarakat sekitar agar memahami perkembangan jiwa remaja dengan harapan masalah remaja dapat tertanggulangi. tingkat pendidikan. Peran Puskesmas yang kini sudah mengakar di masyarakat bisa dikembangkan untuk mempunyai divisi khusus yang menangani permasalahan remaja. kenakalan remaja. remaja bisa mengungkapkan persoalannya tanpa takut-takut guna dicarikan solusi atas masalahnya tersebut. kesulitan belajar. Di Klinik Kesehatan dapat dilakukan skrining masalah remaja tentang kehidupan di rumah. menarik diri. yaitu antara lain:26 Peran Orangtua • • • • • • • Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita Membekali anak dengan dasar moral dan agama Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua–anak Menjalin kerjasama yang baik dengan guru Menjadi tokoh panutan bagi anak baik dalam perilaku maupun dalam yhal menjaga lingkungan yang sehat Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak Hindarkan anak dari NAPZA . sehingga para remaja yang memiliki masalah psikososial diperiksakan kepada dokter ahli jiwa psiakater terdekat. Petugas kesehatan dalam melakukan pendekatan kepada remaja harus bersikap empati. depresi dll. kecemasan. orang lain maupun lingkungan. Selain ketiga masalah psikososial yang sering terjadi pada remaja seperti yang disebutkan dan dibahas diatas terdapat pula masalah-masalah lain pada remaja seperti tawuran. pelayanan kesehatan raga dan penyuluhan. Semua masalah tersebut perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak mengingat remaja merupakan calon penerus generasi bangsa. sehingga mampu memberikan jaminan kerahasiaan seperti remaja yang memiliki kasus kekerasan seksual dan upaya bunuhdiri. Pembentukan klinik kesehatan remaja agaknya bisa menjadi solusi mengatasi makin tingginya remaja yang terkena penyakit infeksi seksual menular dan penyakit lain akibat penyalahgunaan narkoba. Untuk itu diperlukan suatu cara pendekatan yang komprehensif dari semua pihak baik orang tua. penyalahgunaan narkoba.25 Saat ini masih sedikit klinik khusus kesehatan remaja. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya untuk mencegah semakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja.Hal yang perlu diperhatikan dari klinik remaja adalah tersedianya petugas kesehatan yang menaruh perhatian penuh untuk membantu remaja yang mempunyai masalah kesehatan jiwa dan raga. masalah seksualitas). menghindari sikap curiga. Melalui klinik khusus tersebut.8 Peran Orang Tua dan Llingkungan Perilaku berisiko tinggi yang dilakukan remaja perlu dicermati dengan bijaksana karena di satu pihak dapat merupakan perilaku sesaat tapi juga dapat pula merupakan pola perilaku yang terus menerus dapat membahayakan diri.

dan bertanggung jawab. orang tua perlu lebih sabar dan mau mengerti tentang perubahan pada remaja. sehingga mereka mampu belajar mengambil keputusan tebaik. Peran orang tua yang baik akan mempengaruhi kepribadian remaja. Namun demikian hendaknya dilakukan dengan bersahabat dan lemah lembut. Peran Sebagai Panutan Remaja memerlukan model panutan di lingkungannya. Orang tua perlu memberikan contoh dan teladan. Terutama saat mengalami kegagalan yang mampu menyurutkan semangat mereka. jauh dari ketegangan atau ucapan yang disertai cercaan. Peran Sebagai Pendorong Menghadapi masa peralihan menuju dewasa. Hanya bila remaja merasa aman dan terlindung. Sikap penuh curiga. di luar sekolah. Peran Sebagai Teman Menghadapi remaja yang telah memasuki masa akil balig. ketika menghadapi masa-masa sulit dalam mengambil keputusan bagi dirinya. serta tidak gampang menyerah dari kesulitan. Agar kelak remaja dapat membentuk rencana hidup mandiri. Peran Sebagai Konselor Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi remaja.Peran Sebagai Pendidik Orang tua hendaknya menyadari banyak tentang perubahan fisik maupun psikis yang akan dialami remaja. Nilai-nilai agama yang ditanamkan orang tua kepada anaknya sejak dini merupakan bekal dan benteng mereka untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. serta kehilangan kesempatan untuk melakukan dialog terbuka dengan anak dan remaja. terlebih lagi seandainya remaja sudah . remaja sering membutuhkan dorongan dari orang tua. disiplin. Perlu menciptakan dialog yang hangat dan akrab. Peran Sebagai Pengawas Menjadi kewajiban bagi orang tua untuk melihat dan mengawasi sikap dan perilaku remaja agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang membawanya ke dalam kenakalan remaja dan tindakan yang merugikan diri sendiri. baik dalam menjalankan nilai-nilai agama maupun norma yang berlaku di masyarakat. Orang tua dapat memberikan gambaran dan pertimbangan nilai yang positif dan negatif . orang tua perlu menanamkan keberanian dan rasa percaya diri remaja dalam menghadapi masalah. serta teman yang dapat diajak bicara atau bertukar pendapat tentang kesulitan atau masalah mereka. serta di dalam keluarga. Pada saat itu. orang tua dapat menjadi sumber informasi. Selain itu orang tua juga perlu memiliki kesabaran tinggi serta kesiapan mental yang kuat menghadapi segala tingkah laku mereka. orang tua perlu menanamkan arti penting dari pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah. justru akan menciptakan jarak antara anak dan orang tua. Untuk itu orang tua wajib memberikan bimbingan dan arahan kepada anak.

Artinya tidak menghardik anak. dan sekolah lain Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek setempat Mewaspadai adanya provokator Mengadakan kompetisi sehat.melakukan hal yang tidak diinginkan. sesama guru. sanksi. seni budaya dan olahraga antar sekolah Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembang ysecara sehat adalah hal fisik. Suasana harmonis dan saling memahami antara orang tua dan remaja. mental. Orang tua perlu membicarakan segala topik secara terbuka tetapi arif. Peran Guru • • • • • • • • • • • • Bersahabat dengan siswa Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada y ykegiatan ekstrakurikuler Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP Meningkatkan disiplin sekolah dan sanksi yang tegas Meningkatkan kerjasama dengan orangtua. Peran Sebagai Komunikator. Sebagai konselor. spiritual dan sosial Meningkatkan deteksi dini penyalahgunaan NAPZA Peran Pemerintah dan masyarakat • • • • • • Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti Menyediakan sarana/prasarana yang dapat menampung agresifitas yanak melalui olahraga dan bermain Menegakkan hukum. dan disiplin yang tegas Memberikan keteladanan Menanggulangi NAPZA. Menciptakan rasa aman dan telindung untuk memberanikan anak dalam menerima uluran tangan orang tua secara terbuka dan membicarakan masalahnya. dapat menciptakan komunikasi yang baik. dengan menerapkan peraturan dan hukumnya ysecara tegas Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan Peran Media Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesuai usia) Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif) Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak. elektronik) yang bebas biaya khusus untuk remaja Kesimpulan . orang tua dituntut untuk tidak menghakimi. tetapi dengan jiwa besar justru harus merangkul remaja yang bermasalah tersebut.

Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak dan remaja.info 5. Jakarta: BPK. Wiradisuria S. 2002. yaitu dapat mensahkan dan membenarkan adanya pemeriksaan psikologik. penyunting. Epidemiologi masalah remaja. tim penyalahgunaan obat terlarang dan tim untuk menyelesaikan masalah stres dan bunuh diri. Tanuwidjaya S. 2007. 9. Daftar Pustaka 1. Soelaryo TS. Suyitno H. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jamela AR.com 4. 2003. Dengan cara tersebut akan-memberikan pelayanan medik sebagai keseluruhan. Mongks FJ. 2002.Situasi masalah kesehatan remaja di tiap negara berbeda-beda dan terdapat kesulitan dalam mengumpulkan data tentang masalah remaja termasuk di Indonesia. Soetjiningsih. 11. 8. 1989. Ranuh ING. 8. dan bahaya penyalahgunaan minuman keras/narkoba. Knoers AMP. Tumbuh kembang remaja dan permasalahannya. Terjemahan. Haditono SR. penyunting. Survei data dasar mengenai keadaan kesehatan remaja umumnya diperoleh melalui informasi yang tidak langsung misalnya melalui wawancara terhadap orangtua. 2000. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2008. Jawa Barat dalam angka. Tim spesialis yang perlu dibentuk adalah tim intervensi krisis. Survei atau penelitian masalah remaja yang dilakukan secara nasional masih belum ada atau masih sedikit sekali dibandingkan dengan negara maju. 10. Belum didapat kesepakatan yang jelas antara semua instansi mengenai batasan usia remaja sehingga diperoleh data yang berbeda dengan penggolongan usia yang berbeda-beda pula. 11. tim nutrisi dan gangguan makan. Jakarta: Sagung Seto. 9. Dalam: Narendra MB. 7. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran. Dalam: Narendra MB. Sularyo TS. Tersedia dari: http://www. 10. 138-70. penyunting. Remaja dan permasalahannya: bahaya merokok. h 1-38. 1991. Lebih 1. Badan Pusat Statistik Jawa Barat. Ranuh ING. Jakarta: Sagung Seto. Gunung Mulia. menghindari terjadinya perbedaan pendapat antar para profesional yang terlibat. penyimpangan seks pada remaja. Remaja Indonesia masih sangat membutuhkan informasi kesehatan reproduksi. Tumbuh kembang anak dan remaja.2 juta remaja Indonesia sudah lakukan seks pra nikah. 3. 2007. Gunarsa SD. [diunduh 7 April 2009]. Suyitno H. Sularyo TS. Wiradisuria S. 2. Soetjiningsih. tim kekerasan fisik dan seksual. h. Redaksi Sinar Baru Indonesia. Pardede N. Dalam: Soetjiningsih. Jakarta: Penerbit Erlangga.kesrepro. Sukartini R. Cetakan ke-2. 6. [diunduh 7 April 2009]. Masa remaja. Adolescence (Perkembangan Remaja). Adanya keterbatasan jumlah populasi remaja yang disurvei kurang bisa menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Psikologi perkembangan: anak dan remaja. Santrok JW. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hurlock EB. Pertumbuhan somatik pada remaja. Jakarta: Sagung Seto. mempermudah dalam memeriksa kesehatan remaja secara komprehensif dan akan menyempurnakan hasil penelitian dengan dokumen dan catatan medik yang ada. Widianti E. Suatu tim interdisiplin akan lebih berhasil untuk menyelesaikan masalah remaja di klinik karena pendekatan tersebut akan menguntungkan. . 171-9. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. 2008. 2008. h. Tersedia dari: http://hariansib.

com/cgi/reprint/14/4/326 pada 18 April 2008 16.go. 2002. Perlukah rokok diharamkan. Sadjimin T.id 15. Adolescent medicine secrets. h.go. penyunting. Tersedia dari: http://tfj. remaja. 20. The Family Journal: Counseling therapy For Couples and Families. 24. Dalam: Soetjiningsih. Wirawan DS. 2007. Substance Use Problems and their Family. 2007. h 107-18. penyunting. [diunduh 14 22. Brown RT. 147-53. Pola perkembangan seksual sekunder 23. Hasan Sadikin.org 22. 2007. Cetakan ke-2. 17. Cetakan ke-2.rokokpelita. Pindha IS. Permaisih.id 23. Tumbuh kembang remaja dan permasalahannya. 14 Maret 2009]. Situmorang A. No. Berkala Ilmu Kedokteran.id 21. Belfus. Suara Karya 1 Agustus 2005 halaman 15.12. penelitian penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia tahun 2003-2006. 18. 13.bkkbn. 2003.com 19. Philadelphia: Hanley & 17. Adolescent reproductive health in Indonesia. Kumpulan hasil-hasil 16.litbang. 26. 19. Tersedia dari: http://digilib. Dalam: Soetjiningsih.34:155-6. Tersedia dari: http://www. Tersedia dari: http://obgyn_unsri. 14 Maret 2009].usaid. Harian Umum Pelita. Tumbuh 12. kembang remaja dan permasalahannya. [diunduh 30 Mei 2009]. Maret 2009]. 2008. Tersedia dari: http://starh. Tumbuh kembang remaja dan permasalahannya. [diunduh 31 Maret 2009]. Holland C. Jakarta: Sagung Seto.depkes. [diunduh 14 Maret 2009].kulonprogokab. [diunduh 21. Perlunya dibentuk klinik kesehatan 25. Bandung.id/jabar/article_detail. Remaja dan infeksi menular seksual. 25. 24.php?aid=8 . Vol. 18. Azhari. Jakarta: Sagung Seto. Mardiya. Cetakan ke-2. Status gizi remaja dan faktor-faktor yang mempengaruhi. h 26775. Badan Narkotik Nasional Republik Indonesia. Tersedia 20. Peran orang tua dalam pembinaan remaja. [diunduh tanggal 1 Juni 2009] 26. Catatan Rekam Medis Poli Kosmetik Bagian Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin 13. Dhamayanti M. Duarsa NW.go. Fagan R. Dalam: Soetjiningsih. Puslitbang & Info Lakhar BNN. penyunting. dari: http://www. Masalah abortus dan kesehatan reproduksi perempuan. Counseling and Treating Adolescents with Alcohol and Other 15.14. Kecelakaan pada remaja. siswa lakilaki sekolah dasar di Kotamadya Yogyakarta.4. 14.or. [diunduh 14.326-333. Akne vulgaris. 2002. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran RS Dr. Jakarta: Sagung Seto. Tersedia dari: http://prov. 2007. Machfud S.sagepub. Menangani persoalan remaja.