APLIKASI IRT PADA KONVERSI NILAI UAN 2004

[Diposting: 18 Januari 2005|2746 Pembaca]

[Cetak Tulisan ini] APLIKASI IRT PADA KONVERSI NILAI UAN 2004 Daryono, Guru SMA 8 Tangerang

Abstrak Metode Item Response Theory (IRT) saat ini dianggap lebih mampu memberikan rasa keadilan (test fairness) pada peserta UAN karena tingkat kecermatannya sangat tinggi yang mampu memberikan penghargaan pada prestasi setiap individu siswa sesuai dengan tingkat kesulitan soal yang dihadapi. Keunggulan utama IRT adalah statistik soal seperti tingkat kesukaran soal, daya pembeda soal, dan sebagainya terletak dalam skala yang sama dengan kemampuan siswa yang diukur. Model IRT yang banyak digunakan adalah unidimensionality dan local independence. Unidimensionality ada tiga model yaitu : satu parameter model (Rasch model), dua parameter model, dan tiga parameter model. Dari ketiga model tersebut yang menjadi dasar Tabel Konversi adalah Rasch model, karena memiliki keunggulan di dalam menentukan tingkat kesukaran butir soal. Tingkat kesukaran butir soal tidak berubah sekalipun dijawab oleh kelompok berkemampuan tinggi atau kelompok berkemampuan rendah. Selain itu Tabel Konversi yang digunakan pada UAN sebenarnya merupakan salah satu penerapan sistem ujian pada norma kelompok (normreferenced measurement). Tujuan dari adanya Tabel Konversi adalah membuat skala yang sama untuk membuat perbandingan atau pemetaan kualitas pencapaian (educational attainment) antardaerah di negara kita. Jadi Tabel Konversi bukan untuk menolong siswa yang kurang siap mengikuti UAN. Pendahuluan. Evaluasi dalam sistem pendidikan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting untuk dilakukan dalam periode-periode tertentu dengan tujuan untuk memonitor kualitas pendidikandan dan membantu kegiatan belajar mengajar dikelas. Dalam berbagai referensi akademik ujian (examination) berbeda dengan evaluasi (evaluation). Ujian digunakan untuk mengetahui sejauh mana seseorang mencapai standar mutu yang ditentukan, sedangkan evaluasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana proses pencapaian tujuan telah dilaksanakan. Ujian lebih berkaitan dengan kinerja individu (individual performance), sedangkan evaluasi berkaitan dengan kinerja lembaga (institusional performance). Ujian bisa dilakukan siapa saja, baik yang terkait maupun tidak terkait proses pembelajaran, sedangkan evaluasi hanya dilaksanakan oleh pihak yang terkait proses pembelajaran. Dengan kata lain, ujian bisa dilakukan pihak eksternal, sedangkan evaluasi hanya dilakukan oleh pihak internal. Maka UAN yang dilaksanakan Depdiknas berbeda dengan ebtanas. UAN adalah ujian, sedangkan ebtanas adalah evaluasi. Resistensi sekelompok masyarakat pada UAN yang memberikan landasan

Sehingga dengan menggunakan hasil UAN dapat dimonitor kapasitas guru-guru. karena unsur-unsur teori tes itu sudah dikembangkan dan diaplikasikan sejak lama. perlu digunakan satu standar kelulusan dengan perangkat tes yang mempunyi tingkat kesulitan sama untuk seluruh wilayah. dari mana. Untuk menghindari insiden diskriminasi terhadap provinsi tertentu. serta latar belakangnya untuk dianalisis pengaruhnya terhadap tinggi rendahnya nilai ujian seorang siswa. ujian dapat dilakukan oleh lembaga independen dalam rangka memberi umpan balik berupa saran-saran. pada makalah ini bertujuan untuk sebuah pemikiran dasar tentang apa dan bagaimana konsep IRT itu apabila diaplikasikan pada konversi nilai UAN yang pada gilirannya dapat memberikan pemetaan mutu pendidikan. kemudian melakukan upaya-upaya sistematis dalam memperbaiki sekolah dan proses pembelajaran untuk mencapai keunggulan. Sejalan dengan wewenangnya dalam pengendalian mutu (quality control). Hasil ujian harus dapat digunakan sebagai umpan balik (feedback) perbaikan proses pendidikan. Asumsi 2 : Nilai harapan skor perolehan sama dengan skor murni. Asumsi 5 : Jika ada . Ujian siswa juga mengukur data sekolah. dan seberapa sering?. Batas kelulusan harus menunjukkan seberapa jauh nilai UAN yang dicapai siswa terhadap kriteria standar kelulusan yang ditetapkan secara nasional. Teori Tes Klasik ( Classical Test Theory). Asumsi 3 : Skor murni dan skor kesalahan yang dicapai oleh suatu populasi subyek pada suatu tes tidak berkorelasi satu sama lain. Jadi tidak ada hubungan sistematik antara skor murni dan skor kesalahan. Fungsi ujian sekolah lainnya adalah penjaminan mutu pendidikan. data siswa.argumentasinya pada Pasal 58 Ayat (1) UU Sisdiknas yang berbunyi : Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses. Masalahnya apakah sudah tepat Depdiknas memasang angka 4. Sesuai fungsinya dalam penjaminan mutu. sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan. Skor perolehan pada umumnya meleset dari menampilkan secara tepat besaran atribut yang diukur. Hal ini sangat penting di era desentralisasi. Syarat pokok dalam pengukuran ulang itu adalah hasil pengukuran yang satu harus bebas dari hasil pengukuran yang lain.01 sebagai kriteria kelulusan?. Asumsi 4 : Skor-skor kesalahan pada dua tes (yang dimaksud untuk mengukur hal yang sama ) tidak saling berkorelasi. Asumsi 1: Skor perolehan terdiri dari skor murni dan skor kesalahan pengukuran. makin tinggi mutu pendidikan. menunjukkan kelompok masyarakat itu tidak memahami bahwa UAN adalah salah satu bentuk ujian bukan evaluasi. terutama kalau dilihat dari arah penerapannya di bberbagai bidang kehidupan. Jadi skor yang diperoleh dari sesuatu pengukuran pada umumnya tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Berangkat dari paradigma di atas. untuk mengelola pendidikan di tiap daerah menyangkut faktor-faktor apa saja yang perlu diperbaiki agar mutu pendidikan meningkat. Teori tes klasik disebut demikian. Secara yuridis penyelenggaraan UAN oleh Depdiknas. Artinya makin tinggi rata-rata nilai ujian. Skor murni adalah nilai rata-rata skor perolehan teoritis sekiranya dilakukan pengukuran berulang-ulang terhadap seseorang dengan menggunakan alat ukur yang sama. didukung Pasal 35 UU Sisdiknas tentang pentingnya standar nasional pendidikan. pemerintah melaksanakan jenis ujian seperti ini sebagai bahan pemetaan. tinggi rendahnya diukur dengan apa. Ujian sekolah juga berfungsi mengendalikan mutu pendidikan. dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambunganµ. namun tetap bertahan. kemajuan. Masalahnya. Inti dari teori tes klasik berupa asumsi-asumsi yang dirumuskan secara matematis. fasilitas pendidikan dan proses pembelajaran.

maka soal tersebut akan terlihat sukar. Jika seorang dites dengan suatu tes yang sama berulang-ulang maka rata-rata skor-skor kesalahannya sama dengan nol. Tetapi kalau soal-soal tersebut diberikan kepada orang-orang yang kurang pandai. namun dalam kenyataannya teori ini masih bertahan 1 2 3 .dua tes yang dimaksudkan untuk mengukur atribut yang sama. Dari kelima asumsi tersebut maka dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan berikut : Kesimpulan 1. dan apabila diberikan kelompok subyek yang tinggi kemampuannya akan merupakan tes yang mudah2[2]. Kesimpulan 4. Kesimpulan 5. Selain itu dalam teori tes klasik juga sulit untuk menyeleksi soal-soal yang tingkat kesukarannya sesuai dengan kemampuan siswa yang akan diukur. Kuadrat korelasi antara skor-skor perolehan dengan skor-skor murni sama dengan satu dikurangi nisbah antara varians skorskor kesalahan dengan varians skor-skor perolehan1[1] Dapat dikatakan bahwa kelemahan utama teori tes klasik adalah bahwa alat ukur yang disusun berdasarkan tes klasik itu terikat kepada sampel (sample bound). Demikian pula kalau dilihat dari arah subyek. maka berdasarkan teori tes klasik. varians skor-skor perolehan sama dengan varians skor-skor murni ditambah varians skor-skor kesalahan. Kesimpulan 2. Kesimpulan ini kemudian sangat penting dalam hubungannya dengan reliabilitas tes. Sebagai ilustrasi bahwa dalam teori tes klasik tingkat kesukaran soal-soal memang sulit untuk mengestimasi kemampuan siswa akan dijelaskan sebagai berikut 3[3]: misalkan suatu soal diberikan kepada kelompok orang-orang yang pandai. Hal-hal seperti di atas akan menimbulkan kesukaran-kesukaran. Walaupun banyak kelemahan. Sekelompok subyek akan terlihat mempunyai kemampuan tinggi kalau mereka mengerjakan tes yang mudah. Karena itu jika seperangkat tes diberikan kepada kelompok subyek yang rendah kemampuannya akan merupakan tes yang sukar. bila menggunakan teori tes klasik tidak menjamin akan memperoleh keputusan yang terbaik bagi validitas pengambilan keputusan (validity of classifactory decisions). Secara konsep dalam teori tes klasik tidak ada hubungan antara tingkat kesukaran soal dengan kemampuan siswa. Jadi dalam teori tes klasik tingkat kesukaran soal tidak tetap tergantung kepada tingkat kemampuan sampel siswa yang menempuh tes tersebut. dan akan terlihat berkemampuan rendah apabila mereka mengerjakan tes yang sulit. Nilai harapan hasil skor-skor kesalahan dan skor-skor murni sama dengan nol. Nilai harapan skor-skor kesalahan seseorang subyek sama dengan nol. terutama dalam kehidupan praktis. maka skor-skor kesalahan pada tes pertama tidak berkorelasi dengan skor-skor murni pada tes kedua. tingkat kesukaran soal tersebut akan terlihat mudah. Butir-butir soal yang dirakit menjadi suatu perangkat alat ukur atau tes hanyalah sampel dari populasi butir soal yang sangat besar jumlahnya. Demikian pula kelompok subyek yang dikenai tes guna menyusun tes tersebut juga hanya sampel dari populasi subyek yang sangat besar jumlahnya. Sehingga apabila soalsoal diseleksi untuk merakit sebuah perangkat tes berdasarkan tingkat kesukaran soalsoalnya untuk mengikuti standar kelulusan yang ditetapkan. Kesimpulan 3. Kuadrat korelasi antara skorskor perolehan dan skor-skor murni sama dengan nisbah antara varians skor-skor murni dan varians skor-skor perolehan. karena sebagian besar akan menjawab dengan benar. karena kemungkinan sebagian besar orang-orang dalam kelompok tersebut tidak dapat menjawab dengan benar.

ACER (Australian Foundations for Educational Research). yaitu4[4] : 1. jadi model itu mungkin tidak secara baik meramalkan atau menjelaskan data tersebut5[5]. Semua model ICC berisi satu parameter atau lebih yang mendeskripsikan butir soal dan satu atau lebih yang mendeskripsikan subyek. Oleh karena itu setiap dalam setiap penerapan IRT adalah esensial untuk menguji keseuaian modelnya dengan datanya. Demikian juga beberapa tes yang digunakan di Indonesia. Teori Tes Modern Teori tes modern mendasarkan diri pada sifat-sifat atau kemampuan yang laten. tergantung bentuk matematis fungsi karakteristik butir soal dan atau banyaknya parameter yang terlibat dalam model itu. dan mendasari kinerja (performance) atau respons subyek terhadap butir soal tertentu. Ada banyak model respon butir soal yang dapat disusun. Konsep IRT sangat berguna untuk memecahkan masalah-masalah dalam penyeleksian soal-soal untuk mendesain suatu perangkat tes tertentu. seperti diketahui alat-alat ukur fisik. Oleh karena itu teori ini menggunakan model sifat laten (latent traits model). NFER (National Foundations for Educational Research). dan keseuaian model dengan data juga dapat dinilai. ETS (Educational Testing Service). masih memakai teori tes klasik. Walaupun keberlakuan asumsi-asumsi itu tidak dapat ditentukan secara langsung. Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). seperti Tes Potensi Akademik (TPA). 2. maka probabilitas suatu respons yang benar terhadap suatu butir soal juga naik. Berbagai tes yang dikeluarkan lembagalembaga testing yang terkenal seperti. alat ukur berat. Suatu hal yang perlu diingat adalah bahwa perbedaan dengan teori skor murni klasik model-model butir soal itu dapat palsu. Nama yang lebih populer adalah teori respons butir atau Item Respon Teori (IRT). Model matematis yang digunakan IRT menyatakan bahwa probabilitas subyek menjawab benar terhadap butir soal tertentu tergantung kepada kemampuan subyek dan karakteristik butir soal yang bersangkutan.sebagai dasar pengembangan tes di mana-mana. ACT (American College Testing Program). atau sifatsifat laten. Oleh karena itu upaya-upaya yang dilakukan oleh para ahli adalah upaya untuk membebaskan alat ukur tersebut dari keterikatannya kepada sample. Kinerja (performance) seorang subyek pada suatu butir soal dapat diprediksikan atau dijelaskan dari suatu perangkat faktor-faktor yang disebut sifat-sifat. Langkah pertama dalam setiap aplikasi ICC adalah mengestimasi parameter-parameter itu. Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Fungsi ini menyatakan bahwa apabila taraf sifat (kemampuan) meningkat. Hubungan kinerja subyek pada suatu butir soal dan perangkat sifat-sifat yang mendasari kinerja dapat dideskripsikan dengan fungsi meningkat secara monoton yang disebut fungsi karakteristik butir soal (Item Characteristic Function) atau kurva karakteristik butir soal = KKS (Item Characteristic Curve = ICC). dapat pula tidak. dan lain sebagainya. Ujian Akhir Semester (UAS). Suatu asumsi umum yang digunakan secara luas dalam model-model IRT adalah bahwa hanya satu kemampuan yang 4 5 . Konsep IRT berlandaskan dua postulat. atau kemampuan (ability). namun sementara bukti tidak langsung dapat dikumpulkan dan dinilai. Artinya suatu model respons butir soal dapat sesuai atau cocok dengan suatu perangkat tes data tertentu. semuanya tidak terikat kepada sampel. misalnya alat ukur panjang. Model-model IRT meliputi seperangkat asumsiasumsi yang dikenai model itu.

(3) kemampuan program komputer untuk mengestimasi parameter IRT. (2) keadaan distribusi sampel dari peserta ujian. Dari ketiga model tersebut. Suatu konsep lain yang langsung berkaitan dengan unidimensionalitas adalah ketidak-tergantungan lokal (local independence). dua parameter model. Rasch Model dan Konversi Skor UAN Dalam konteks ujian akhir nasional (UAN). Ada tiga hal yang bisa digunakan untuk mempertimbangkan model mana yang akan digunakan apakah satu parameter model. (b) model logistik dua parameter. diperlukan tabel konversi yang disusun berdasarkan bobot butir soal yang dikembangkan melalui bank soal dan telah dikalibrasi secara nasional. Jadi sampel peserta ujian yang diperlukan untuk mengestimasi tiga parameter model lebih banyak daripada untuk mengestimasi satu parameter model. Mengingat pentingnya Uan sebagai kegiatan penilaian prestasi belajar akhir jenjang pendidikan. (c) model logistik tiga parameter6[6]. Hal ini sama saja seperti kita ingin menimbang 1 kg kentang dan 1 kg emas. Keuntungan dari cara tersebut adalah terbentuknya skala baku nasional 6 . Mengingat ujian diadakan secara nasional maka dilakukan pembedaan tingkat kesulitan soal. obyektivitas dan perbandingannya nilai UAN. atau tiga parameter model tergantung dari (1) banyaknya sampel peserta tes. namun tetap menggunakan standar-standar penilaian nasional. Artinya alat ukur yang digunakan untuk mengukur kemampuan akademik siswasiswa Jakarta atau di kota-kota besar lainnya tentunya tidak adil jika alat serupa dipergunakan untuk melakukan hal serupa terhadap anak-anak di wilayah pelosok atau kepulauan. yaitu respons terhadap butir soal.01. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Asumsi juga dapat mengenai karakteristik butir soal yang relevan bagi kinerja subyek pada suatu butir soal. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin banyak parameter yang digunakan semakin banyak pula sampel peserta ujian yang diperlukan untuk mengestimasi parameter-parameter tersebut. Untuk itu. Hal ini disebut asumsi unidimensionalitas (unidimensionality). yang diukur adalah prestasi atau kemampuan akademik peserta didik untuk menentukan layak-tidaknya meraih predikat lulus dari satuan dan jenjang pendidikan tertentu. Asumsi lain yang dibuat dalam semua model IRT adalah bahwa fungsi karakteristik butir soal tertentu merefleksikan hubungan sebenarnya (true relationship) antara variabelvariabel yang tidak dapat diobservasi yaitu kemampuan dengan variabel-variebel yang dapat diobservasi. untuk menguji tingkat intelektualitasnya memerlukan adanya alat ukur yang berbeda dengan skala yang sama. Oleh karena itu. Walaupun secara teori dapat disusun model-model IRT yang sangat besar jumlahnya. Pemerintah menyadari bahwa tingkat intelektualitas di tiap daerah di negara kita berbeda. namun dalam praktek hanya tiga model yang populer. setiap skor yang diperoleh siswa dari hasil UAN harus dapat dikonversikan ke dalam suatu skala baku yang bersifat nasional. model satu parameter atau Rasch model sekarang ini adalah yang paling banyak digunakan. Standar yang dimaksud adalah patokan nilai 4.diukur oleh butir-butir soal yang merupakan seperangkat tes. Suatu fungsi karakteristik butir soal atau kurva karakteristik butir soal adalah suatu rumusan matematik yang menghubungkan probabilitas keberhasilan (yaitu menjawab dengan benar) pada suatu butir soal dengan kemampuan yang diukur dengan tes itu dan karakteristik butir soal bersangkutan. Maka kita harus menggunakan timbangan yang berbeda tetapi dengan skala yang tetap sama. yaitu (a) model logistik satu parameter. baik antardaerah dan antarsekolah pada waktu yang sama sangat diperlukan.

4. Nilai ujian bukan lagi merupakan cermin kemampuan atau kompetensi siswa. 3. Pertimbangan perlunya tabel konversi antara lain selama ini penilaian dengan menggunakan skor mentah (jumlah jawaban benar) dan skor relatif (jumlah jawaban benar dibagi jumlah soal dikalikan 10) memiliki beberapa kelemahan. mereka menganggap tabel konversi mempunyai dampak sebagai berikut 7[7] : 1. Dengan tabel konversi ini. Depdiknas dengan sengaja merusak citra sekolah-sekolah favorit atau unggul. Dan di negara asalnya sistem ini tidak pernah dikritik karena sudah menerapkan azas keadilan. Dua atau lebih paket tes pararel yang terdiri dari butir soal berbeda dianggap memiliki rata-rata tingkat kesukaran sama. Selisih nilai mentah atau skor relatif tidak menggambarkan selisih kemampuan sebenarnya. Skala baku nasional memungkinkan dilakukannya analisis perbandingan mutu antar sekolah dan antar daerah. ATT Telkom. Dengan dalih meningkatkan motivasi siswa belajar dan meningkatkan mutu lulusan dengan menetapkan minimal nilai lulus 4. 2.01. Siswa kurang mampu dianugerahi penghargaan besar-besaran hanya demi mencapai target. Tabel Konversi di dapat sebagai hasil kegiatan transfer skor mentah (raw score) menjadi skor yang memiliki skala sama. Jadi bisa diartikan bahwa penerapan konversi ini tidak ada pihak yang dirugikan. misalnya tiap soal dianggap mempunyai tingkat bobot yang sama. Dengan penafsiran tersebut. rata-rata NUN sekolah unggul turun drastis. Sebaiknya skala pengukuran bersifat kontinum dalam skala interval atau rasio yang dapat digunakan untuk perhitungan statistik. Depdiknas secara sistematis mengkhianati tujuan dan fungsi ujian nasional yang mereka tetapkan sendiri. nilai UAN dapat memberikan informasi tentang materi apa yang dikuasai dan yang tidak dikuasai sesuai kompetensi dan tujuan pembelajaran setiap bidang sesuai kurikulum yang berlaku. Bagi pihak yang kontra. 7 . Selama ini masyarakat menggunakan rata-rata NUN sebagai salah satu ukuran keberhasilan sekolah. tetapi hanyalah sebagai alat permainan untuk menentukan kelulusan siswa. Hampir semua instansi mengharuskan minimal nilai rata-rata tertentu. misalnya STAN. Sistem konversi yang digunakan di Indonesia berasal dari Amerika. Karena bisa jadi siswa A berhasil menyelesaikan soal-soal yang mudah dengan bobot yang rendah.untuk semua paket tes yang digunakan dalam UAN melalui proses penyetaraan antarpaket tes. sehingga tidak memenuhi kaidah pengukuran yang baik. Depdiknas berada di barisan paling depan dalam pemerkosaan arti nilai ujian. tidak harus diberi angka yang sama dengan menggunakan raw score sebagaimana yang diusulkan oleh pendapat yang kontra terhadap Tabel Konversi. Konversi dianggap memudahkan dalam menafsirkan hasil UAN. Selain itu akan memungkinkan pula dilakukannya pemantauan mutu pendidikan secara berkesinambungan dari tahun ke tahun. Peluang lulusan SMA/MA untuk mengikuti berbagai tes atau seleksi di berbagai instansi kedinasan menjadi sirna. Semua siswa diasumsikan mengerjakan soal yang sama walaupun dalam prakteknya paket-paket soal memiliki derajat kesulitan yang berbeda. Sebaliknya siswa B berhasil menjawab dengan benar soal-soal yang sukar dan mudah sehingga skor akhir yang diperoleh siswa B setelah dkonversi akan lebih tinggi dari siswa A. Misalnya bila ada dua orang siswa yang berhasil menyelesaikan 30 soal Matematika dengan benar. Sementara skor mentah dan skor relatif hanya bersifat ordinal atau berfungsi mengurutkan kedudukan siswa dari skor tertinggi ke terendah. Akademi Militer. 5.

Karena paket-paket tes yang digunakandalam UAN disetarakan dan disatuskalakan ke dalam nilai (skala) baku nasional. Meningkatkan kecermatan dalam penggunaan data hasil UAN untuk kepentingan perencanaan di tingkat makro. (b) total skor hasil dari waktu yang telah dibatasi dibandingkan dengan total skor hasil dari waktu yang tidak dibatasi. 2. antarsekolah. Dipihak lain Depdiknas menjelaskan keuntungan penggunaan Tebel Konversi berikut : 1. Memungkinkan dilakukannya pemantauan mutu pendidikan dari tahun ke tahun. 3. Telah disebutkan bahwa ada tiga model dalam unidimensional IRT dengan asumsi sebagai berikut : 1. dan persentase dari peserta tes yang dapat mengerjakan 75 % dari soal-soal dalam tes. dan apabilka asumsi ini dipenuhi maka rasionya mendekati nol. 2. Asumsi terakhir hanya berlaku pada satu parameter IRT model. Ada tiga cara untuk mengecek asumsi ini. juga persentase dari jumlah peserta tes yang dapat mengerjakan semua soal. Pada waktu pelaksanaan tes. yaitu kesamaan pada semua daya pembeda soal (item discrimination). antardaerah. Dari ketiga model dan asumsi dari IRT tersebut. Salah satu cara untuk mengeceknya adalah dengan menggunakan analisis soal klasik (classical item analysis). Terbentuknya skala baku nasional untuk semua paket tes yang digunakan dalam UAN melalui proses penyetaraan antarpaket tes. dan apabila angkanya jauh berbeda. maupun antarwilayah. waktu yang tersedia untuk mengerjakan tes cukup. yaitu : (a) variance dari banyaknya soal yang tidak dikerjakan oleh peserta tes dibandingkan dengan variance banyaknya soal yang dijawab salah oleh peserta tes.6. maka kita tidak kuatir adanya guessing atau faktor menebak. maka asumsi ini terpenuhi. telah dilakukan penyesuaian sehingga tabel konversi untuk masing-masing paket tes adalah setara. dan antarwilayah dapat diperbandingkan sehingga dapat digunakan dalam rangka mengendalikan mutu pendidikan itu sendiri dan sekaligus merumuskan kebijakan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan secara nasional. bila distribusi biserial hampir homogen . Salah satu cara mengeceknya adalah dengan melihat skor kelompok peserta tes kemampuan bawah pada soal-soal yang paling sukar. skor mentah (jumlah butir soal yang dijawab benar) siswa yang memperoleh paket-paket tes yang berbeda tingkat kesukarannya. Skala baku nasional memungkinkan dilakukan analisis perbandingan kemampuan (mutu outcome) antarsekolah. Artinya peserta tes harus disediakan waktu yang cukup untuk menyelesaikan soalsoal dalam tes. Terlepas dari paradigma tersebut mari kita kaji secara ilmiah konversi nilai tersebut. 3. Guru dikecewakan oleh Depdiknas. apabila hampir semua peserta tes gagal untuk menyelesaikan semua soal-soal dalam tes. Bagaimana kita menjelaskan semua ini kepada masyarakat?. Siswa dan orang tua siswa hanya mengetahui bahwa nilai tidak baik. (c) dilihat pertama-tama banyaknya soal yang dapat diselesaikan oleh 80 % peserta tes. karena tes yang digunakan sifatnya power test bukan speeded test. dan apabila skornya nol. Untuk satu-parameter (Rasch model) dan dua-parameter model adalah faktor menebak atau guessing sangat minim atau kemungkinan menebak sedikit sekali. di mana paket tes yang digunakan berbeda. Menjaga keadilan bagi siswa. hanya Rasch model yang menjadi . Berarti gurunya tidak bisa mengajar. Informasi hasil UAN antartahun. maka bisa dicurigai adanya speeded test. 4. maka speeded tes juga dapat dicurigai.

8 9 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful