P. 1
Liberal is Me Dan me

Liberal is Me Dan me

|Views: 28|Likes:
Published by solekahdesna

More info:

Published by: solekahdesna on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2012

pdf

text

original

Liberalisme dan Liberasionisme Pendidikan

Februari 13, 2012 in Review | Tinggalkan Komentar BAB I PENDAHULUAN A. Pengantar Paper ini sesungguhnya adalah sebuah chapter report (III) dari buku William F. O‟Neil yang berjudul: „Ideologi-Ideologi Pendidikan‟ (2008). Dalam buku ini terdapat empat bagian. Bagian pertama berbicara tentang filosofi, ideologi dan pendidikan, bagian kedua tentang ideologi-ideologi pendidikan konservatif, yang terdiri dari (a) fundamentalisme pendidikan; (b) intelektual pendidikan; dan (c) konservatisme pendidikan, bagian ketiga tentang ideologiideologi pendidikan liberal, dan terakhir keempat ideologi-ideologi pendidikan: sebuah rangkuman. Karena keterbatasan kemampuan kami dalam melaporkan buku ini secara komprehensif dan sistematis, serta demi pertimbangan kedalaman (fokus) dalam pembahasan, maka pada paper ini dibatasi hanya meliputi liberalisme pendidikan dan liberasionisme pendidikan. Agar pemahaman kita tentang ideologi-ideologi pendidikan dalam buku ini dapat terpahami lebih baik maka dalam pengantar ini akan disajikan secara ringkas tentang fundamentalisme pendidikan, intelektualisme pendidikan dan konservatisme pendidikan. Sedangkan pembahasan tentang anarkhisme pendidikan juga akan diuraikan secara ringkas dalam bab penutup sebagai pelengkap pemahaman kita tentang pendidikan liberal. 1. Fundamentalisme Pendidikan Pandangan aliran ini bahwa pendidikan sebagai proses regenerasi moral sehingga menilai pengetahuan dan kurikulum sebagai alat untuk membangun kembali masyarakat dalam pola kesempurnaan moral, seperti yang ada di masa silam. Bagi aliran fundamentalisme, kesamaan di antara anak didik lebih penting ketimbang perbedaan yang ada, sehingga metode pembelajaran yang diterapkan pun cenderung tradisional. Misalnya, penyampaian materi dengan melulu metode ceramah, hafalan, dan pengawasan ketat. Semua itu dikendalikan oleh guru (teacher centered), karena siswa dianggap tak cukup mampu untuk mengarahkan proses perkembangan intelektualnya sendiri. Freire (2008) memberikan istilah pembelajaran semacam ini dengan “banking concept of education”, yang bersifat indoktrinasi dan menindas. Indoktrinasi sendiri adalah anti pendidikan dan pembunuhan sikap kritis manusia sehingga bertentangan dengan hakekat pendidikan kritis (Fakih, 2008, dalam pengantar buku “Ideologi-Ideologi Pendidikan). Jika Freire menelorkan konsep “banking concept of education” dan “oppressed” maka Nemiroff (1992: 37) menyebutnya dengan istilah “kelas tradisional” dan “lingkungan represif” (menindas) untuk menjelaskan keadaan guru yang mendominasi pembelajaran dalam kelas. Ada dua macam cabang dari aliran fundamentalisme. (a) Fundamentalisme Religius. Dijumpai dalam metode pendidikan di berbagai gereja Kristen yang terikat cara pandang kaku tentang realitas, sebagaimana realitas itu diwahyukan dalam al-Kitab; (b) Fundamentalisme Sekuler. Ditandai dengan komitmen yang sama kakunya dengan fundamentalisme religius, terhadap akal sehat yang disepakati mayoritas orang. 2. Intelektualisme Pendidikan Intelektualisme pendidikan berpendapat bahwa setiap manusia adalah makhluk rasional. Oleh karena itu, sekolah menjadi sarana penting untuk mengajarkan cara menalar dan menyalurkan

kebijaksanaan yang tahan lama dari masa silam. Dengan begitu, wewenang intelektual tertinggi di sekolah terletak pada kecerdasan intelektual, bahwa kebenaran bisa dipahami melalui proses penalaran. Sayangnya, pembelajaran ditekankan hanya pada aspek kognitif, bukan pada aspek afektif dan sosial. Paham intelektualisme pendidikan masa lalu tersirat dari karya Plato dan Aristoteles. 3. Konservatisme Pendidikan Bagi kaum konservatisme pendidikan, tujuan atau sasaran pendidikan adalah sebagai pelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan sosial serta tradisi-tradisi. Berciri ke orientasi ke masa kini, menghormati masa silam, namun ia terutama memusatkan perhatiannya pada kegunaan dan penerapan pola belajar mengajar di dalam konteks sosial yang ada sekarang. Orientasi kurikulum (khususnya mata pelajaran) pada konservatisme pendidikan yakni mengarah kepada hal-hal yang bersifat praktis dan lebih baru, seperti: sejarah, biologi, fisika, dan lain-lain yang dianggap sebagai bidang-bidang yang secara langsung relevan dengan berbagai problem masyarakat kontemporer yang paling mendesak dan harus segera diselesaikan. B. Batasan Permasalahan Dalam pembahasan paper ini, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, maka hal utama yang menjadi pokok pembahasan yakni bagaimana ideologi pendidikan liberalisme dan liberasionisme serta apa saja yang mencirikannya kedua aliran tersebut. Biografi Paulo Freire penting diuraikan, mengingat ide-idenya tentang pendidikan yang humanistik dalam pembahasan liberasionisme pendidikan. BAB II IDEOLOGI PENDIDIKAN LIBERAL DAN LIBERASION Tujuan jangka panjang pendidikan menurut Liberalisme Pendidikan adalah untuk melestarikan dan meningkatkan mutu ketahanan sosial yang ada sekarang dengan cara mengajar setiap anak bagaimana cara mengatasi masalah-masalah kehidupannya sendiri secara efektif. Dalam arti yang lebih rinci, seorang pendidik liberalis menganggap bahwa sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang khususnya berupaya untuk : (1) Menyediakan informasi dan keterampilan yang diperlukan siswa untuk belajar sendiri secara efektif, (2) Mengajar para siswa bagaimana cara memecahkan persoalan-persoalan praktis melalui penerapan proses-proses penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok, dengan berdasar kepada tata cara ilmiah-rasional bagi pengujian dari pembuktian gagasan. A. Sekolah dan Masyarakat Perbedaan antara berbagai idiologi liberal adalah terutama pada bagaimana menghadapi keterkaitan antara sekolah dengan masyarakat. Tafsiran tentang konsep relatifisme budaya dan demokrasi sosial, ketika persoalannya sampai pada hubungan antara sekolah dengan masyarakat, kaum liberal mengambil pendekatan psikologis (personalistis), di mana individu didahulukan ketimbang tuntutan-tuntutan masyarakat. Ada dua alasan mengapa liberalis pendidikan mengambil sikap seperti itu. Pertama, kaum liberal yakin bahwa yang psikologis itu tetap menjadi landasan puncak bagi pembuktian kebenaran atau kekeliruan/kesalahan klaim manapun terhadap pengetahuan. Belajar adalah sesuatu yang bersifat personal dalam arti yang lebih mendasar jika dibandingkan dengan belajar sebagai kegiatan yang berpusat pada kelompok. Kedua, tidak ada budaya yang benar-benar terbuka dan kritis, dan akan menjadi model yang sahih bagi pencarian kecerdasan praktis yang terlatih, yang dipandang sebagai sebuah sasaran

secara kolektif. Sekolah dipandang sebagai lembaga yang lebih terbuka, lebih kritis, dan lebih bertanggungjawab dibandingkan dengan sistem politis. Bagi kaum liberal, pendidikan yang terbaik adalah yang ada untuk melatih anak agar berfikir secara kritis dan objektif, mengikuti bentuk dasar proses ilmiah, dan melatih anak meyakini hal-hal tersebut sebagai hal-hal yang paling baik berdasarkan pengetahuan ilmiah. B. Kemenduaan Liberalisme Pendidikan Liberalisme pendidikan pada intinya merupakan sebuah cabang pertumbuhan dari sudut pandang empirisme dan eksperimentalisme, yang menaati gagasan bahwa nilai tertinggi „kebahagiaan‟, perwujudan diri atau apapun juga secara fundamental merupakan keluaran sampingan dari kecerdasan praktis. Di sisi lain, generalisasi-generalisasi tersebut memerlukan tiga batasan sebagai berikut : 1. Fenomenologi dan Behaviorisme Ketika sampai pada persoalan hakikat puncak pengalaman personal, kaum empiris cenderung tergelincir ke arah satu dari dua kubu yang saling bertentangan yaitu kaum fenomenologis dan behavioris. Kaum fenomenologis memegang keyakinan bahwa segala hal yang mungkin bisa diketahui seseorang, adalah proses kesadarannya sendiri atau subjektivitasnya sendiri. Tokoh utama fenomenologi yakni Edmund Husserl. Kaum behavioris berpendapat bahwa makna yang tersimpul dalam pengalaman personal mengisyaratkan bahwa seluruh pengalaman selaras dengan keadaan-keadaan yang mendahului dan menentukan sifat-sifat hakiki serta pola pengalaman itu sendiri. Tokoh pemikir kaum behavior yakni B.F Skinner. 2. Eksperimentalisme dan behaviorisme Eksperimentalisme pada intinya merupakan perkawinan antara behaviorisme filosofis denga pragmatisme. Behaviorisme filosofis menganggap bahwa pengalaman personal merupakan keluaran dari perilaku antara makhluk hidup dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya. Tokoh filosofi eksperimental adalah adalah John Dewey. Pragmatisme memiliki sikap yang menganggap bahwa sebuah gagasan adalah benar jika menuntun ke arah konsekuensi-konsekuensi efektif bilamana diterapkan ke pemecahan masalah nyata ( praktis). 3. Eksperimentalisme dan ideologi Eksperimentalisme sebagai aliran utama yang bergerak dalam apa yang biasanya dipandang sebagai liberalisme pendidikan. C. Tiga Ungkapan Dasar Pemikiran Eksperimentalis 1. Eksperimentalisme Aliran Utama (Mainstream) Pemikiran eksperimentalisme aliran utama ini mengambil sikap bahwa semua komitmen terhadap penyelidikan yang terbuka dan kritis pastilah menyiratkan adanya komitmen yang selaras, terhadap sebuah masyarakat yang terbuka dan kritis. 2. Eksperimentalisme Egalitarian Mengisyaratkan sebuah masyarakat kritis sejati hanya bias mengakar di mana sudah ada sebuah pembagian kembali sumberdaya-sumberdaya dan kekuasaan-kekuasaan efektif yang

menyediakan kondisi-kondisi sosial dan ekonomi praktis yang diperlukan untuk membuat pilihan personal menjadi pilihan yang sungguh-sungguh bermakna. 3. Eksperimentalisme Teknokratis Yaitu para eksperimentalis yang mewakili sebuah jenis sudut pandang teknokratis, cenderung memandang pemikiran kritis sebagai sesuatu yang secara fundamental bergantung kepada sebuah masyarakat objektif (ilmiah), dimana pengetahuan ilmiah adalah prasyarat bagi keadilan sosial serta dalam jangka waktu yang panjang menjadi prasyarat bagi perwujudan diri individual. D. Eksistensialisme dan Liberalisme Pendidikan Filosofi ekstensialisme dipandang sebagai penuntun ke arah sebuah corak liberalisme pendidikan. 1. Eksistensialisme dan Persoalan Pilihan Bebas Seluruh ekstensialisme pada prinsipnya adalah empirisme radikal, yang mengikuti gagasan bahwa keberadaan (eksistensi; pengalaman personal) mendahului dan menentukan intisari (esensi; kebenaran, pengetahuan, makna). Seorang eksistensialis memiliki pendirian yang merupakan pendirian realism klasik, yakni prinsip kemandirian (independensi). Eksistensialisme mengambil sikap yang menyatakan bahwa adalah mungkin untuk membuat pilihan bebas untuk menolak sifat-sifat hakiki yang pasti bersifat subjektif (personal) dari seluruh makna dengan cara memilih untuk meyakini yang bukan itu. 2. Teologi Eksistensial dan Eksistensialisme Teologis Kaum eksistensialis yang mendasarkan pendirian teistik mereka pada pilihan eksistensial mengambil sikap bahwa keberadaan Tuhan tak bisa dibuktikan tetapi hanya bias muncul dari komitmen personal. Seorang teolog eksistensialis bisa dipaparkan sebagai seorang yang berpendapat bahwa dirinya sudah membuat pilihan eksistensial atau sebuah sikap yang bukan eksistensial (metafisis). Seorang eksistensial teologis berpendapat bahwa adalah mungkin untuk menjadi seorang teis (percaya pada keberadaan Tuhan yang personal) dalam konteks kesangsian eksistensial. 3. Eksistensialisme Pendidikan Eksistensialisme sering dipakai secara berbeda dalam psikologi khususnya dalam psikoterapi (terapi kejiwaan). Sebagai sebuah filosofi, eksistensialisme tidak meresepkan kebebasan sebagai obat bagi penyakit-penyakit sosial maupun personal. Kaum eksistensialis tidak menentang pemecahan masalah secara eksperimentalis sebagai pendekatan mendasar terhadap pendidikan. E. Dasar-Dasar Filosofis Liberalisme Pendidikan Pada dasarnya ada tiga pengamatan secara umum yang bisa dilakukan terhadap landasan filosofis dalam liberalisme pendidikan. 1. Pengetahuan harus dibuktikan dengan cara menerapkan gagasan-gagasan pada pemecahan masalah praktis yang ada di dalam dunia nyata; untuk melakukan itu orang harus berusaha untuk menjadi seilmiah mungkin dalam hal bagaimana ia berfikir serta dalam hal apa yang ia yakini kemudian. 2. Tidak semua eksperimentalis (seseorang yang memecahkan masalah dengan cara ilmiah) merupakan kaum liberalis pendidikan. Sebagian (kaum rekonstruksionis) melampaui

liberalisme, membela liberasionisme sebagai satu-satunya cara efektif untuk melembagakan kondisi-kondisi sosial yang diperlukan bagi demokrasi sosial. 3. Kaum eksistensialis jarang menjadi liberalis pendidikan. Penekanan mereka pada intelektualisme, bersimpati kepada banyak hal yang diajukan oleh kaum intelektualis. F. Corak-Corak Liberalisme Pendidikan Ada tiga corak utama liberalisme pendidikan : 1. Liberalisme Metodis Mereka yang mengambil sikap bahwa selagi metoda-metoda pengajaran harus disesuaikan dengan zaman supaya mencakup renungan-renungan psikologis baru dalam hakikat belajar oleh manusia, namun sasaran-sasaran atau tujuan pendidikan, termasuk isi tradisionalnya secara fundamental sudah baik dan tidak memerlukan penyesuaian yang penting. 2. Liberalisme Direktif Pada dasarnya liberalisme direktif menginginkan pembaharuan mendasar dalam hal tujuan sekaligus dalam hal cara kerja sekolah. Mereka menganggap bahwa wajib belajar adalah perlu dan memilih untuk mempertahankan beberapa keperluan mendasar tertentu serta mengajukan penetapan lebih dulu tentang isi pelajaran-pelajaran yang akan diberikan pada siswa. John Dewey dapat dikatakan berada pada aliran ini. 3. Liberalisme Non-direktif Kaum liberalisme non-direktif sepakat dengan pandangan bahwa tujuan dan cara-cara pelaksanaan pendidikan perlu diarahkan kembali secara radikal dari orientasi otoritariannya yang tradisional kea rah sasaran pendidikan yang mengajar siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri secara efektif. Tetapi mereka ingin mengurangi seluruh batasan di dalam situasi persekolahan konvensional, dengan cara melenyapkan hal-hal seperti wajib belajar, dan pengajaran mata pelajaran wajib. Tokoh liberalisme non-direktif diwakili oleh A.S Neill dan Carl Rogers. G. Landasan Pendidikan Liberal Landasan pendidikan liberal atau dalil-dalil pokok liberalisme pendidikan yaitu sebagai berikut: 1. Seluruh kegiatan hasil belajar adalah pengetahuan personal melalui pengalaman personal. 2. Seluruh hasil kegiatan belajar bersifat subjektif dan selektif. 3. Seluruh kegiatan belajar berakar pada keterlibatan pengertian indrawi. 4. Seluruh hasil kegiatan belajar didasari proses pemecahan masalah secara aktif dalam pola “coba-dan-salah” (trial and error) 5. Cara belajar terbaik diatur oleh penyelidikan kritis yang diarahkan oleh perintah-perintah eksperimental yang mencirikan metoda ilmiah, dan pengetahuan terbaik adalah yang paling selaras dengan pembuktian ilmiah yang sudah dianggap sahih sebelumnya. 6. Pengalaman yang paling dini adalah yang paling berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya dank arena itu juga paling penting artinya. 7. Kegiatan belajar diarahkan dan dikendalikan oleh konsekuensi-konsekuensi emosional dari perilaku. 8. Sifat-sifat hakiki dan pengalaman sosial mengarahkan dan mengendalikan sifat-sifat hakiki pengalaman personal. 9. Penyelidikan kritis dari jenis yang punya arti penting hanya bias berlangsung dalam

masyarakat yang terbuka dan demokratis yang memiliki komitmen terhadap ungkapan umum pemikiran dan perasaan individual. H. Idiologi Pendidikan dan Liberalisme Pendidikan 1. Tujuan pendidikan secara keseluruhan Tujuan utama pendidikan adalah untuk mempromosikan perilaku personal yang efektif. 2. Sasaran-sasaran Sekolah Keberadaan sekolah didasari oleh dua alasan mendasar : a. Untuk menyediakan informasi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk belajar secara efektif bagi dirinya sendiri. b. Untuk mengajar para siswa bagaimana cara memecahkan masalah praktis lewat penerapan tatacara-tatacara penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok yang didasarkan pada metoda-metoda ilmiah-rasional. 3. Ciri-ciri umum liberalisme pendidikan a. Menganggap pengetahuan berfungsi sebagai sebuah alat untuk digunakan dalam pemecahan masalah secara praktis, bahwa pengetahuan adalah sebuah jalan kea rah tujuan berupa perilaku efektif dalam menangani situasi-situasi sehari-hari. b. Menekankan kepribadian unik dalam diri tiap individu. c. Menekankan pemikiran efektif (kecerdasan praktis), mengarahkan perhatuan utamanya kepada kemampuan sikap individu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan personalnya sendiri secara efektif. d. Memandang pendidikan sebagai perkembangan dari keefektifan personal. e. Memusatkan perhatian kepada tatacara-tatacara pemecahan masalah secara individual maupun kelompok. f. Menekankan perubahan sosial secara tak langsung, melalui perkembangan kemampuan tiap orang berperilaku praktis dan efektif. g. Didirikan di atas tatacara-tatacara pembuktian secara ilmiah-rasional. 4. Anak sebagai pelajar Seorang anak pada umumnya cenderung untuk menjadi baik berdasarkan konsekuensikonsekuensi alamiah dari perilakunya sendiri yang terus berkelanjutan. Perbedaa-perbedaan individual lebih penting ketimbang persamaan-persamaannya, dan perbedaan-perbedaan itu sangat menentukan (determinatif) dalam penetapan programprogram pendidikan. 5. Administrasi dan pengendalian pendidikan Wewenang pendidikan harus ditanamkan di tangan para pendidik yang telah memperoleh latihan tingkat tinggi, yang memiliki komitmen terhadap proses penyelidikan kritis dan yang mampu membuat perubahan-perubahan yang diperlukan sehubungan dengan informasi baru dan relevan. Wewenang guru harus didasarkan terutama pada keterampilan-keterampilan yang dimilikinya dalam bidang pendidikan. 6. Sifat-sifat hakiki kurikulum a. Sekolah harus menekankan keefektifan personal, melatih anak untuk menyesuaikan diri secara efektif sesuai dengan tuntutan-tuntutan situasinya sendiri sebagaimana ia memahami situasi tersebut. b. Sekolah harus menekankan pemecahan masalah secara praktis, dan penekanan pada tata cara. c. Pelajaran ditentukan lebih dulu, baik yang wajib maupun pilihan yang seimbang. d. Penekanan pada hal-hal yang yang bersifat intelektual dan praktis. e. Sekolah harus menekankan pada penjelajahan yang terbuka dan kritis pada masalah dan isu-isu kontemporer selama hal itu dianggap penting bagi siswa.

f. Pemecahan masalah hendaknya dilakukan secara kelompok dan dengan pendekatan antar disiplin (keilmuan). 7. Metode-metode Pengajaran dan Penilain Hasil Belajar 8. Kendali Ruang Kelas a. Para siswa harus dianggap bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka sendiri. b. Guru harus bersifat demokratis dan obyektif dalam menentukan tolok ukur tingkah laku dan ia juga harus meminta persetujuan dari siswa tentang aturan-aturan yang akan dibuat. B. LIBERASIONISME PENDIDIKAN Menguraikan liberasionisme pendidikan, terasa tidak lengkap jika tidak dijelaskan siapa itu Paulo Freire. Hal ini penting mengingat Dia adalah tokoh penting disamping Ivan Illich dalam mengusung ideologi pendidikan liberasion di Amerika Latin dan kemudian memengaruhi beberapa negara ketiga lainnya. 1. Mengenal Paulo Freire Freire lahir tanggal 19 September 1921 di Recife, sebuah daerah miskin di timur laut Brazil (Yamin, 2009: 139). Freire kuliah di University of Recife untuk dididik menjadi pengacara. Nilai-nilai kekristenan relatif kental dalam benak Freire seiring dengan keikutsertaannya dalam gerakan aksi Katolik yang kemudian nantinya meletakkan dasar gerakan teologi pembebasan. Beberapa karya yang memengaruhi ideologi Freire, seperti “The Wretched of the Earth” karya Frantz Fanon, khususnya ketika akan menyelesaikan “Pedagogy of the Oppressed”, kemudian juga terpengaruh Albert Memi dengan bukunya “Colonizer and the Colonized”, setelah itu oleh Lev Vygotsky melalui bukunya “Thought and Language”, dan juga Gramsci. Selain itu, gagasan pemikiran pendidikan Freire dipengaruhi oleh gagasan teologi pembebasan Katolik dan pemikiran-pemikiran “Marxian”. Freire memulai aktivitas sosialnya pada tahun 1946 pada bagian pelayanan sosial di Pernambuco, ia mendapat tanggung jawab pada program pendidikan untuk masyarakat miskin kota dan pekerja industri, termasuk di daerah Recife, tempat kelahirannya sendiri. Di situlah ia kali pertama tertarik pada masalah pendidikan literasi orang dewasa dan pendidikan rakyat, di situ pula ia mulai membaca dan mengembangkan gagasan pendidikannya. Pada 1954 ia keluar dan mulai mengajar sejarah dan filsafat pendidikan di University of Recife. Kemudian pada pemilihan politik tahun 1959, Freire diberi kepercayaan untuk mengurus program pendidikan orang dewasa (Movimento de Cultura Popular) oleh walikota Recife terpilih yang dikenal progresif. Pada waktu yang sama ia mendapatkan gelar doktornya dari University of Recife, dalam karya doktoralnya ia menggambarkan perkembangan gagasan pendidikan orang dewasa yang ia formulasikan. Lingkup gerakan pendidikannya makin meluas ketika ia diangkat menjadi kepala dari program literasi nasional Brazil yang baru, melalui program itulah tahun 1964 metode pendidikan literasinya disebarkan sangat luas menjangkau lima juta orang yang buta huruf di seluruh Brazil. Sayangnya di tahun itu juga karena kudeta politik, maka ia sebagai bagian dari pemerintahan diusir dari Brazil. Ia kemudian ke Cili, seteah itu berangkat ke Harvard untuk mengajar dan sekaligus menulis di situ. Pada tahun 1970 ia bergabung dengan The World Council of Churches, di Jenewa, setelah itu ia hampir selalu bepergian ke banyak bagian negara di dunia untuk melihat dan mendampingi pengembangan program literasi yang ia gagas, dan ia pun tetap menulis, sampai pada tahun 1980 dia boleh kembali ke Brazil. Beberapa karya Freire, yakni: (1) Pedagogy of the Oppressed; (2) Pedagogy of The City (1993); Pedagogy of the Hope (1995); Pedagogy of the Heart (1997); Pedagogy of the

Freedom (1998); Pedagogy of the Indignation (2004) (Freire, 2008: xvi). Tepat tanggal 2 Mei 1997, Paulo Freire meninggal dunia du Rumah Sakit Albert Enstein, Sao Paulo. Dia wafat dalam usia 75 tahun akibat serangan jantung. Di samping berbagai karya yang telah dihasilkan, ia juga mewariskan keteladanan hidup sebagai pribadi yang terbuka, jujur, lugas, kreatif, dan penuh perjuangan. Dan yang lebih penting, Dia selalu berusaha sungguh-sungguh agar tindakannya mencerminkan kata-katanya (Freire, 2008: xvii). 2. Liberasion: Pengertian dan Hal-Hal yang Mencirikannya Secara etimologis liberasion berasal dari bahasa Portugis, yakni dari kata liberacion yang artinya pembebasan. Pendidikan liberasion mendorong pembaharuan sosial dengan cara memaksimalkan kemerdekaan personal di dalam sekolah, serta mengkondisikan pendidikan dengan kondisi yang manusiawi. Liberasionisme pendidikan menurut penulis buku ini (William F. O‟Neil) adalah ideologi pendidikan yang beranggapan bahwa sasaran puncak pendidikan haruslah berupa pelaksanaan pembangunan kembali masyarakat yang mengikuti jalur-jalur yang sungguh-sungguh berkemanusiaan (humanis), yang menekankan perkembangan sepenuhnya potensi-potensi setiap orang sebagai makhluk manusia. Sebaliknya, pembelajaran yang bersifat dehumanisasi, berdampak terhadap perkembangan kematangan psikologi pesrta didik. Menurut Rogers, pembelajaran yang cenderung bersifat dehumanisasi maka akan menghasilkan peserta didik yang menghambat kebebasan berpikir dan menentukan pilihan-pilihan, menciptakan kebosanan, perasaan frustrasi, marah dan bahkan putus asa terhadap peserta didik (Nemirof, 1992: 37). Pembelajaran yang humanis hanya dapat berlangsung di dalam kerangka kerja sebuah sistem sosial yang berkomitmen terhadap pengungkapan maksimum kebebasan kewarganegaraan individual dengan sebuah proses demokratis yang stabil dan tahan lama. Dalam pendidikan liberasionis sekolah harus menyediakan informasi serta keterampilan bagi siswa agar mereka dapat belajar secara efektif bagi dirinya sendiri. Disamping itu, sekolah harus rnengajarkan bagaimana caranya menyelesaikan persoalan-¬persoalan praktis, melalui penerapan teknik-teknik pemecahan masalah secara individual maupun kelompok, yang didasarkan pada pembuktian pengetahuan secara ilmiah-rasional. Sekolah juga harus membantu siswa untuk mengenali dan menanggapi kebutuhan bagi pembaharuan/perombakan apapun yang tampaknya merupakan tuntutan zaman. 3.Landasan Sosial Kedirian (selfhood) Ciri pemikiran kaum liberasionis ialah mendahulukan hal-hal yang mengarah kepada masalah sosial dari individual. Kaitan dengan hal tersebut, maka terdapat dua hal yang sangat penting diuraikan, yakni: Pertama, pengalaman personal selalu dialami di dalam dan melalui kerangka kerja budaya tertentu. Orang yang belajar pada intinya bersifat sosial, dan ia selalu bergerak melalui dan digerakkan oleh sebuah „jiwa tersosialkan‟ (sosialized psyche)-berdasarkan pada serangkaian batasan budaya tertentu. Manusia yang beradab pada intinya adalah sebentuk fenomena sosial. Kebudayaanlah yang menjadi agen fundamental untuk mengindoktrinasi individu dalam hal bagaimana menghadapi dan mengalami kehidupan di dunia. Apakah individualisme akan ada ataukah tidak, dan bagaimana „individualisme‟ semacam itu akan diungkapkan, akan ditentukan oleh hakikat serta dinamika budaya tertentu pada suatu waktu tertentu dalam masyarakatnya. Kedua, masih berkaitan dengan pertama, yakni apakah ilmu pengetahuan akan digunakan sebagai sebuah pendekatan yang hidup terhadap pemikiran dan kegiatan belajar, atau hanya

diterapkan pada penyelesaian problem-problem personal dan sosial yang relatif kabur? Penulis buku ini tampaknya lebih menyakini pada preposisional pertama, yakni empasis pada orientasi budaya. Ia menegaskan pula bahwa budaya-budaya yang tertutup dan bersifat otoritarian (dalam dunia pendidikan) sulit menerima perbaikan, khususnya yang berkaitan dengan pendekatan¬pendekatan demokratis yang terbuka terhadap proses berpikir dan belajar. Karena sistemsistem semacam itu (yang tertutup dan otoritarian) menolak pendekatan-pendekatan yang demokratis. Sebuah sistem pendidikan terbuka memerlukan suatu pendekatan yang terbuka dan bersifat eksperimental terhadap „belajar‟. Tujuan pokok sekolah menurut aliran liberasionisme adalah menciptakan kondisi-kondisi politis dan ekonomis yang perlu untuk mengenalkan dan melestarikan jenis masyarakat yang membuat pendidikan bersifat sungguh-sungguh liberal serta „membebaskan‟ (liberasion) dari jenis yang terbuka dan eksperimental. Diperlukan komitmen kolektif dari masyarakat yang belajar sebagai perwujudan diri individual untuk sebuah cita-cita sosial. 4. Corak Liberasionisme Pendidikan Dalam liberasionisme pendidikan, terdapat tiga corak, yakni: liberasionis reformis, liberasionis radikal; dan liberasionis evolusioner. (a) Liberalisionisme Reformis (pembaharu). Liberasionisme reformis beranggapan bahwa sangat perlu meluruskan dan mengoreksi serta membetulkan ketidakadilan sosial secara mendasar yang ada di dalam sistem pendidikan maupun masyarakatnya secara keseluruhan. Beberapa contoh misalnya, penyatuan kembali sekolah-sekolah yang semula berdasarkan ras, layanan bus secara umum tanpa ada pembedaan, dan sebagainya. Karena itu, menurut O‟Neil sangat penting dilakukan penyebarluasan informasi mengenai ketidakadilan sosial. Dan sebaliknya, mendidik anak-anak tentang perlunya aksi sosial. Ringkasnya, sekolah harus aktif „mendakwahkan‟ penanaman dan prinsip-prinsip demokratis di dalam sistem yang sudah ada. Penulis buku ini memberikan lima contoh gerakan liberasionisme reformis yang dianggap paling mewakili dalam masyarakat Amerika, yakni: (1) gerakan pembebasan masyarakat Kulit Hitam (Afro-Amerika); (2) gerakan pembebasan perempuan; (3) gerakan pembebasan kaum Hispanik-Amerika; (4) gerakan pembebasan masyarakat Pribumi Amerika (Indian Amerika); (5) gerakan pembebasan kaum gay atau homoseksual. Ciri-ciri liberasionisme reformis yakni, kebanyakan gerakan pembaharuan yang panting, seperti gerakan pembela hak-hak kewarganegaraan masyarakat Afro Amerika pada awal tahun 1960-an yang telah cenderung untuk menjadi radikal melalui bentrokan. Dalam kasus gerakan Kulit Hitam, apa yang tadinya adalah perjuangan terutama untuk menuntut hak-hak setara di dalam sistem selama hari-hari awal bentrokan hak-hak warganegara di bawah kepemimpinan kaum moderat seperti Martin King, secara bertahap makin menjadi seruan radikal bagi pemisahan diri (separatisme). Beberapa gerakan revolusioner di Amerika muncul dengan landasan marxis atau semu marxis, yang menyerukan perumusan kembali secara radikal atas lembaga-lembaga sosial mendasar, seperti: organisasi Black Panther, dan yang lebih baru adalah Weather Underground dan World Liberation front, bahkan yang disebutkan terakhir ini terlibat menentang tindakan-tindakan revolusioner langsung menentang sistem yang mapan di Amerika Serikat.

(b)Liberasionisme radikal. Kaum liberasionisme radikal menggunakan sekolah-sekolah untuk mengkritik dan membangun kembali dasar-dasar kebudayaan. Mereka berpendapat bahwa, perlu dipikirkan kembali dan memperbaiki secara radikal lembaga-lembaga tertentu yang paling fundamental yang menyokong tegaknya masyarakat. Jika „rekonstruksionisme‟ tradisional dari pemikiran John Dewey , George Counts, dan Theodore Brameld secara tradisional bisa dianggap sebagai sebuah corak liberasionisme radikal pra-revolusioner, yang mengait pada pembetulan/pengoreksian sebagian kesalahan atau noda-¬noda dalam sistem kapitalis, maka juga terdapat sejumlah kepustakaan karyakarya para pendidik komunis pasca revolusi dari Cina dan Uni Soviet, hingga ke berbagai tulisan yang telah dibuat mengenai lembaga-lembaga radikal seperti misalnya kibbutz sekular Israel, terutama menyangkut persoalan bagaimana sekolah bisa „membelajarkan kembali kesadaran‟ dalam kerangka kerja tatanan sosialis yang baru. (c) Liberasionisme Revolusioner. Kaum liberasionis revolusioner menganggap bahwa karena sekolah-sekolah adalah lembaga-lembaga yang melayani kepentingan-¬kepentingan budaya pada umumnya, dan karena budaya itu sendiri adalah kekuatan pendidikan utama dalam kehidupan anak-anak, maka sekolah¬-sekolah itu sendiri tidak bisa berharap secara realistis untuk membangun kembali masyarakat lewat kritik internal apapun juga terhadap praktik¬-praktik yang ada. Satu-satunya cara supaya sekolah-sekolah dapat menandingi secara efektif sebuah sistem sosial yang tidak memanusiakan manusia (dehumanisasi), adalah dengan cara menghapuskan segala kepura-puraan dalam „mendidik‟ anak-anak. Selanjutnya, menurut O‟Neil perlu diciptakan sistem-sistem atau kekuatan-kekuatan sosial baru yang lebih mampu menopang berupa prinsip-prinsip yang benar-benar manusiawi dan rasional. Pada persoalan ini, si penulis menegaskan bahwa idelogi pendidikan yang berkembang selama ini di Amerika Serikat (dan juga mungkin negara-negara yang berkiblat ke Amerika) lebih cenderung ke arah konservatif dengan dengan warna-warna liberalisme tertentu. Hanya masyarakat jenis baru yang telah mengubah dirinya yang pada puncaknya akan memungkinkan penetapan sekolah-sekolah yang nyata, ketimbang agen-agen pendidikanpalsu dalam penindasan sosial yang selama ini ada. Dengan kata lain, kaum liberasionis revolusioner yakin bahwa sekolah multi menjadi agen dasar bagi penyebarluasan revolusi sosial. Pendekatan ini, yang barangkali paling terwakili oleh „Pengawal Merah‟ Republik Rakyat Cina di akhir 1960-an di mana para siswa diaktifkan sebagai kekuatan tandingan untuk memerangi ancaman-¬ancaman reaksioner terhadap kekuasaan Ketua Mao. 5. Liberasionisme dalam Pendidikan Sebuah Rangkuman Jika sementara kita kesampingkan perbedaan antara sudut pandang religius dan sekular di dalam tradisi liberasionisme pendidikan, maka ideologi ini dasarnya adalah sebagai berikut: (a) Tujuan Pendidikan secara Menyeluruh Tujuan utama pendidikan adalah untuk mendorong pembaharuan¬pembaharuan sosial yang perlu, dengan cara memaksimalkan kemerdekaan personal di dalam sekolah, serta dengan cara membela kondisi-kondisi yang lebih manusiawi dan memanusiakan di dalam masyarakat secara urnum. (b) Sasaran-Sasaran Sekolah Sekolah ada lantaran tiga alasan utama: (1) untuk membantu para siswa mengenali dan menanggapi kebutuhan akan pernbaharuan/perombakan sosial; (2) untuk menyediakan informasi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan siswa supaya bisa belajar secara

efektif bagi dirinya sendiri; (3) untuk mengajar para siswa tentang bagaimana caranya memecahkan masalah-masalah praktis melalui penerapan teknik-teknik penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok yang didasari oleh metode-metoda ilmiah-rasional. Pada ranah ini, oleh James A. Bank (1977) menegaskan bahwa dalam sosial studies diperlukan metode-metode ilmiah rasional dalam mengembangkan pembelajaran IPS, khususnya pada sekolah menengah. Metode ilmiah itu disebutnya dengan metode inquiry, dengan langkah-langkah: identifikasi masalah-masalah sosial, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dan mengevaluasi data. Tujuan metode ini adalah agar pendidikan IPS dapat menghasilkan peserta didik yang rasional, memiliki keterampilan sosial dan tepat mengambil keputusan (decision making) dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. (c) Ciri-ciri Umum Liberasionisme Pendidikan Ada sembilan ciri-ciri umum liberasionisme pendidikan, yaitu: (1) Menganggap bahwa pengetahuan adalah alat yang diperlukan untuk melakukan pembaharuan/perombakan sosial. (1) Menekankan manusia sebagai sebentuk keluaran budaya;, budaya (2) merupakan penentusosial kedirian; (3) Menekankan analisis obyektif (ilmiah-rasional) serta evaluasi/penilaian terhadap kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik sosial yang ada; (4) Menganggap pendidikan sebagai perujudan yang paling utuh dari potensi-potensi khas tiap orang sebagai mahluk manusia; (5) Memusatkan perhatian kepada kondisi-kondisi sosial yangmenghalanghalangi perujudan paling penuh dari potensi-potensi individu, menekankan masa depan (yakni, perubahan-perubahan dalam sistem yang ada sekarang, yang perlu untuk mendirikan masyarakat yang lebih memanusiakan manusia); (6) Menekankan perubahan-perubahan ruang lingkup besar yang segera harus dilakukan di dalam masyarakat yang ada sekarang, menekankan perubahan-perubahan penting yang akan mempengaruhi sifat-sifat hakiki dan pelaksanaan sistem sosial yang mapan; (7) Didasarkan pada sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan secara ilmiah-rasional) dan/atau prakiraan-¬prakiraan yang sesuai dengan sistem penyelidikan semacam itu; (8) Didirikan di atas landasan prakiraan-prakiraan Manos atau Marxis baru (neo-Marxis) tentang seluruh kesadaran personal yang ditentukan oleh faktor sosio-ekonomis; (9) Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi ada di tangan mereka yang memahami konsekuensikonsekuensi patologis (bersifat merusak/berpenyakit) dari kapitalisme kontemporer dan segenap sikap sosial yang dihubungkan dengannya. (d) Anak-anak sebagai Pelajar Anak-anak condong untuk menjadi baik (yakni, ke arah tindakan yang efektif dan tercerahkan) jika diasuh dalam sebuah masyarakat yang baik (yakni bersifat rasional dan berkemanusiaan). Perbedaan-perbedaan individual lebih penting ketimbang kesamaan-kesamaan individual, dan perbedaan-perbedaan itu bersifat menentukan dalam penetapan program-program pendidikan. Anak-anak secara moral setara dan mereka musti mendapatkan kesempatan yang setara untuk berjuang demi ganjaran¬-ganjaran sosial dan intelektual yang lebih luas, lebih mudah diakses, dan dibagikan secara lebih adil/merata. Kedirian (kepribadian) tumbuh dari pengkondisian sosial, dan dari yang bersifat sosial ini menjadi landasan bagi penentuan „diri‟ lanjutan; anak hanya bebas di dalam konteks determinisme sosial dan psikologis. (e) Administrasi dan Pengendalian Wewenang pendidikan musti ditanamkan di tangan minoritas yang tercerahkan, yang terdiri

atas para intelektual yang bertanggung-jawab, yang sepenuhnya sadar akan kebutuhan objektif bagi perubahan¬-perubahan sosial yang konstruktif, dan yang mampu menanamkan perubahan-perubahan semacam itu melalui sekolah-sekolah. Upaya meningkatkan kompetensi pendidik oleh berbagai bangsa telah dilakukan dengan berbagai macam metode dan strategi. Di Indonesia misalnya, melalui amandemen UndangUndang, khususnya UU Sisdiknas, telah dihasilkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam Permendiknas tersebut dikatakan bahwa setiap guru minimal memiliki empat kompetensi dasar, yakni: (a) kompetensi pedagogik; (b) kompetensi profesional; (c) kompetensi kepribadian, dan (d) kompetensi sosial (UU Sisdiknas, Peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28 Ayat 3). Sebagaimana yang telah disebutkan pada paragraf sebelumnya bahwa diperlukan pendidik yang mampu membawa perubahan (sosial) bagi peserta didik, adalah sejalan dengan upaya Indonesia melalui UU Sisdiknas, khususnya mengenai kompetensi guru yang saat ini telah (mulai) dijalankan. (f) Sifat-sifat Hakiki Kurikulum Sifat hakiki kurikulum tergambar sebagai berikut, (1) Sekolah harus menekankan pembaharuan/perombakan sosio-ekonomis; (2) Sekolah musti memusatkan perhatian pada pemahaman diri serta tindakan sosial sekaligus; (3) Penekanan harus diletakkan pada tindakan yang cerdas dalam mengejar keadilan sosial; (4) Mata pelajaran harus bersifat pilihan dalam batas-batas penentuan yang umum; (5) Penekanan harus diletakkan pada penerapan praktis dari yang sifatnya intelektual (praksis) melebihi apa yang secara sempit bersifat praktis ataupun akademis; (6) Sekolah musti menekankan problema-problema sosial yang kontroversial, menekankan pengenalan dan analisis terhadap nilai-nilai dan prakiraanprakiraan dasar yang menggarisbawahi isu-isu sosial, dan memperagakan kepedulian khusus terhadap penerapan apa yang dipelajari di dalam ruang kelas kepada kegiatan-kegiatan yang punya arti penting secara sosial di luar sekolah; sekolah musti secara tipikal menampilkan pendekatan¬pendekatan antar-disiplin keilmuan yang berpusat pada problema, yang meliputi wilayah kajian seperti filosofi, psikologi, kesusasteraan konternporer, sejarah, dan ilmu-ilmu behavioral dan sosial. g. Metode-metode Pengajaran serta Penilaian Hasil Belajar Harus ada penekanan yang kurang-Iebih seimbang atau setara pada pemahaman problema (pengenalan dan analisis terhadap Problema-problema secara tepat) serta pemecahan masalah. Disiplin dan hapalan mungkin kadang-kadang perlu supaya bisa menguasai sebuah keterampilan yartg akan diperlukan demi menangani problema-problema personal atau sosial yang penting secara efektif, namun kegiatan belajar pada dasarnya adalah kegiatan sampingan dan kegiatan yang bermakna, dan hapalan harus diminimalisir dan/atau dihapus sama sekali jika mungkin. Kegiatan belajar-mengajar yang diarahkan oleh siswa dalam kerangka kerja kurikulum yang ditentukan berdasarkan relevansi sosialnya adalah lebih tinggi/lebih balk daripada belajar dengan ditentukan dan diarahkan oleh guru. Sang guru harus dipandang sebagai panutan dalam hal komitmen intelektual serta keterlibatan sosialnya. Ujian yang didasarkan kepada perilaku para siswa yang tanpa dilatih/dipersiapkan lebih dulu sebagai tanggapan atas persoalan¬-persoalan sosial yang penting adalah lebih disukai ketimbang ujian yang dinilai berdasarkan tes-tes biasa di ruang kelas.

Persaingan antarpribadi dan penyusunan peringkat nilai siswa secara tradisional harus diminimalisir dan/atau dihapus sama sekali jika mungkin, sebab hal-hal semacam itu menuntun siswa pada sikap-sikap buruk dan motivasi did yang merosot. Bimbingan dan penyuluhan personal, serta terapi kejiwaan, sebagaimana ada di luar sekolah di saat ini, umumnya berfungsi sebagai bentuk tersembunyi dari kontrol sosial dan pelatihan penyesuaian diri anak, yang menghalangi kesadaran anak akan kondisi-kondisi sosial yang melatarbelakanginya, yang melahirkan problema-problema kejiwaan individual. (h) Kendali di Ruang Kelas Para siswa musti dianggap bertanggung-jawab atas tindakan-tindakan mereka sendiri dalam arti seketika, namun musti diakui bahwa pertanggungjawaban siswa pada puncaknya tidak bisa dituntut dalam arti menurut konsep „kehendak bebas‟ tradisional. Para guru harus bersifat demokratis dan obyektif dalam menentukan tolok ukur perilaku. Tolok ukur itu harus ditentukan bersama-sama dengan siswa sebagai cara mengembangkan tanggung jawab moral mereka. Lantaran tindakan yang bermoral adalah tindakan yang paling cerdas, dalam situasi apapun, maka peningkatan kecerdasan paktis adalah corak pendidikan moral yang paling efektif. Di sisi lain, tindakan yang cerdas, sebagai sebuah cita-cita atau corak ideal secara sosial yang dianjurkan, memerlukan adanya masyarakat yang cerdas (yang obyektif) dimana setiap orang diberi kesempatan yang setara untuk membuat pilihan-pilihan tercerahkan berdasarkan kesempatan-kesempatan pendidikan yang setara. BAB III PENUTUP Untuk memperjelas pemahaman kita tentang pendidikan liberal dan pendidikan liberasionisme, maka pada bagian penutup ini akan diuraikan sekilas perbandingan beberapa hal kedua ideologi tersebut. Penegasan tentang kemuculan ideologi pendidikan liberasion dan kuga tentang pendidikan anarkhis akan diurai secara ringkas sebagai bagian dari pendidikan liberal. A. Liberasionisme Pendidikan: Muncul sebagai Antitesis terhadap Praktik Liberalisme dan Kapitalisme Pendidikan Pada dasarnya dalam buku Wiliam F. O‟neil ini memaparkan tentang berbagai macam ideologi pendidikan yang menjadi dasar pelakasanaannya sehingga pendidikan tidak terkesan hanya sebuah rutinitas tanpa tujuan yang jelas. Karena itulah ia memaparkan dengan jelas beberapa ideologi pendidikan baik itu ideologi konservatif, yang terdiri dari (a) fundamentalisme pendidikan; (b) intelektual pendidikan; dan (c) konservatisme pendidikan, ideologi pendidikan liberal, ideologi pendidikan liberasionisme, dan ideologi pendidikan anarkhis. Makalah ini membahas dua ideologi penting, yakni idelogi pendidikan liberal dan ideologi pendidikan liberalisionisme. Menurut kelompok kami, latar belakang munculnya ideologi liberasionis adalah dampak dari kegagalan pendidikan liberal. Dasar pemikiran ini adalah berdasarkan kenyataan bahwa pendidikan liberal telah gagal memanusiakan manusia dalam sebuah proses pendidikan. Ia juga gagal membangun peserta didik yang dapat bersikap dan berfikir kritis terhadap segala kondisi sosial ekonomi dan politik yang terjadi. Hal ini dapat dilihat uraian Freire tentang „pendidikan sistem bank‟. Maksudnya adalah bahwa seorang peserta didik hanya menerima saja segala apa yang dituangkan dan diberikan

oleh guru. Hal ini mempertegas bahwa, pendidikan liberal tidak memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dirinya. Walau beberapa praktik pendidikan liberal telah memberikan hal itu, namun masih sedikit secara kuantitas. Perhatian Freire terhadap pendidikan kaum miskin adalah hal yang paling utama. Sebaliknya, kebenciannya terhadap „penguasa‟ pengusung liberalisme dan kapitalisme memuncak ketika pendidikan tidak menjadi harapan semua orang. Pendidikan seakan hanya untuk orang yang berpunya, sebaliknya kaum miskin tetap meratapi dirinya akibat kekejaman sistem liberalisme dan kapitalisme yang di dukung oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Uraian di atas dipertegas oleh Freire dkk. melalui kritikna beberapa hal, yakni: (a) memaksa anak untuk “memanjat tangga” pendidikan yang tak berujung, yang hasilnya tak dapat meningkatkan mutu dan justru hanya menguntungkan individu-individu yang sudah mengawali pemanjatan itu sejak dini, yang lebih sehat, atau lebih siap. Sisanya hampir gagal. (b) pengajaran „wajib‟ hanya membunuh kehendak banyak orang untuk belajar secara mandiri; (c) pengetahuan diperlakukan ibarat komoditas, dikemas-kemas dan dijajakan, dan selalu langka di pasaran. (d) mendukung penghapusan sekolah (universal) dan mengganti berbagai sistem baru yang dianggap lebih tangkas menyiapkan orang untuk hidup dalam masyarakat modern (bahkan postmodern –dari pemakalah)(Illich, 2009: 518). Kondisi ini membuat Freire dan juga Illich melakukan resistensi dengan mengembangkan pendidikan penyadaran yang kemudian lebih dikenal dengan pendidikan liberasion dan anarkhisme pendidikan. C. Anarkhisme Pendidikan: Melanjutkan Ideologi Liberasion Anarkisme Pendidikan adalah cara pandang yang membela pemusnahan seluruh kekangan kelembagaan terhadap kebebasan manusia, sebagai jalan untuk mewujudkan potensi manusia seutuhnya. Menurut aliran ini, pendidikan bertujuan untuk membawa perombakan berskala besar dan segera dalam masyarakat dengan cara menghilangkan persekolahan wajib. Sistem sekolah formal yang ada sekarang harus dihapuskan, lalu diganti dengan pola belajar sukarela dan mengarahkan diri sendiri. Artinya, akses yang bebas dan universal untuk memperoleh bahan atau materi pendidikan harus tersedia. Selain itu, kesempatan belajar mandiri harus tercipta bagi siapa saja, tanpa sistem pengajaran wajib. Tampak jelas bahwa, anarkisme menekankan pilihan bebas dan penentuan nasib sendiri, dalam sebuah latar belakang sosial yang sehat dan humanis. Siswa berhak menentukan sendiri metode belajar yang sesuai dengan tujuan dan rancangan pembelajarannya, yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Pencetus pemikiran pendidikan anarkhis adalah Ivan Illich, dalam bukunya: “Deschooling Society”. Inti buku ini ada beberapa hal penting, yakni: (1) Mengkritisi praktek kemapanan pendidikan; (2) Sekolah adalah lembaga pendidikan yang membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial yang sangat tidak egaliter lagi diskriminatif; (3) Sekolah dianggap sebagai lembaga pendidikan dalam era industri yang telah menjadi sedemikian mekanistik namun memperkurus kemanusiaan (dehumanisasi – meminjam istilah Freire). Walaupun Ivan Illich sangat menentang lembaga persekolahan, namun ia pun memberikan saran dan kritik terhadap lembaga pendidikan formal yang ada saat ini. Ia berpendapat bahwa, sekolah harus menyediakan akses sumberdaya bagi semua pelajar yang ingin belajar setiap saat dalam kehidupan mereka, dan memungkinkan bagi semua orang yang yang belajar untuk saling berbagi pengetahuan (http://www.infed.org/thinkers/et-illic.htm).

Pernyataan itu dapat dipahami bahwa pendidikan saat ini yang cenderung mendehumanisasikan peserta didik, sudah seharusnya diakhiri melalui pemberian kebebasan kepada mereka untuk memperoleh ilmu pengetahuan kapan dan dari mana saja. Karena itu, jika sekolah menjadi pembatas untuk memeroleh pengetahuan, maka menghapus sekolah (deschooling society) mungkin merupakan sebuah jawaban. DAFTAR PUSTAKA Bank, James A. 1977. Teaching Strategies for Sosial Studies: Inquary, Valuing, and Decision Making. Addison-Wesley Publishing Company. Freire, Paulo. 2001. Pedagogi Pengharapan. (terj.) Yogyakarta: Kanisius. Freire, Poulo. 2008. Pendidikan Kaum Tertindas. (terj.).Yogyakarta: LP3ES. Freire, Paulo, Ivan Illich, dan Erich Fromm. Menggugat Pendidikan: Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009/. George, R. Knight. 2007. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Gama Media. Iksan, Rumtini. 2011. “Pemikiran Pendidikan John Dewey” (1859-1952), Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Depdiknas, No. 046, tahun ke-10, Januari 2001. (online). http://journal.uii.ac.id/index.php/JPI/article/view/191, diakses tanggal 3 November 2011. “Ivan Illich: Deschooling, Conviviality And The Possibilities For Informal Education And Lifelong Learning” (online), http://www.infed.org/thinkers/et-illic.htm, diakses tanggal 3 November 2011. Nemiroff, Greta Hofmann. 1992. Reconstructing education : toward a pedagogy of critical humanism. New York, NY 10010, An imprint of Greenwood Publishing Group, Inc. O‟Neil, William F. 2008. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna Syifa‟a Rachmahana. 2011. “Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan”, (online). Jurnal Pendidikan Islam “el Tarbawi”, NO. 1. VOL. I. 2008. Diakses tanggal 3 November 2011. Tilaar, H.A.R. dan Riant Nugroho. 2009. Kebijakan Pendidikan: Pengantar untuk Memahami Kebijakan Pendidikan dan Kebijakan Pendidikan sebagai Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. UU Sisdiknas, Peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28 Ayat 3. Yamin, Moh. 2009. Menggugat Pendidikan Indonesia: Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara. Yogyakarta: Ar Ruz Media.

Bandung-Banjarmasin PP
Desember 12, 2011 in Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Sejak kuliah dulu….penyakit yang sering menghinggapi adalah ketika lama di rantau jadi pengen pulang. Kelamaan di kampung juga pengen pulang (buat ngerjakan tugas-tugas kuliah plus tugas akhir). Entah bagaimana caranya…rezeki buat beli tket khususnya, selalu siap saja. Inilah mungkin yang disebut bahwa rezeki selalu datang dengan tiba-tiba bagi seseorang yang bertaqwa. Pertanyaannya apakah berarti saya termasuk orang yang bertaqwa? Semoga.

PENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MASALAH EKONOMI INTERNASIONAL PADA MATA PELAJARAN EKONOMI TERHADAP SISWA KELAS XII-IS SMA NEGERI SEMESTER I MELALUI PENERAPAN METODE BERVARIASI
September 18, 2011 in Makalah | Tinggalkan Komentar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa tumbuh kembang pada siswa merupakan masa penting dalam membentuk kepribadian siswa tersebut, maka dari itu pendidikan merupakan suatu bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terciptanya kepribadian yang utama, pendidikan juga merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang bertujuan untuk membentuk kedewasaan anak dan mengetahui sifat dasar yang ada pada diri anak atau manusia, sifat dasar yang ada pada manusia terdiri atas tiga komponen yang harus di bangun untuk membentuk kepribadian pada diri manusia yaitu Ruh, Jasmani dan Akal. Tujuan pendidikan nasional sendiri secara makro bertujuan membentuk organisasi pendidikan yang bersifat otonom sehingga mampu melakukan inovasi dalam pendidikan untuk suatu lembaga yang beretika, selalu menggunakan nalar, berkemampuan komunikasi sosial yang positif dan memiliki sumber daya manusia yang sehat dan tangguh. Agar tujuan pendidikan bisa tercapai, maka perubahan dalam sistem pendidikan harus dilakukan secara terencana dan menyeluruh, dan sistem pendidikan yang konvensional menuju sistem pendidikan yang berorientasi kompetensi. Sistem pendidikan yang hanya berbasis pada input dan proses dipandang kurang dinamis, kurang efisien, dan mengarah pada stagnasi pedagogik, sehingga mengakibatkan sistem pendidikan sulit beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan aspirasi serta kebutuhan masyarakat. Sedangkan guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai mahkluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran. Cara mengajar yang menggunakan teknik yang beraneka ragam disertai dengan pengertian yang mendalam dari pihak guru akan memperbesar minat siswa dan akan mempertinggi pula hasil belajarnya. Dengan mengajak, merangsang dan memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut serta menggunakan pendapat, belajar mengambil keputusan, bekerja dalam kelompok, membuat laporan dan lain-lain, akan membawa siswa pada suasana belajar yang sesungguhnya bukan pada suasana diajar saja. Berdasarkan dari semua itu, maka perlu dicari

langkah-langkah penyelesaian agar siswa tidak merasa enggan dengan mata pelajaran tersebut. Dari harapan dan kenyataan tersebut diatas penulis ingin mencoba untuk membahas dan meneliti melalui judul “Peningkatkan Prestasi Belajar Masalah Ekonomi Internasional Pada Mata Pelajaran Ekonomi Terhadap Siswa Kelas XII-IS Semester I Melalui Penerapan Metode Bervariasi”. B. Identifikasi Masalah Berikut masalah yang terlihat dari paparan latar belakang diatas: 1. Masa tumbuh kembang pada siswa merupakan masa penting dalam membentuk kepribadian siswa tersebut. 2. Tujuan pendidikan nasional sendiri secara makro bertujuan membentuk organisasi pendidikan yang bersifat otonom 3. Agar tujuan pendidikan bisa tercapai, maka perubahan dalam sistem pendidikan harus dilakukan secara terencana dan menyeluruh, dan sistem pendidikan yang konvensional menuju sistem pendidikan yang berorientasi kompetensi. 4. Penerapan metode yang bervaraiasi untuk meningkatkan prestasi belajar Ekonomi pada siswa kelas XII-Ilmu Sosial. C. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah sebagaimana disebutkan diatas timbullah permasalahan yang jika dirumuskan berkisar pada pertanyaan sebagai berikut : “Adakah Peningkatan Prestasi Belajar Ekonomi Pokok Bahasan Masalah Ekonomi Internasional Melalui Penerapan Metode Bervariasi Pada Siswa Kelas XII-Ilmu Sosial Semester I”. D. Batasan Masalah Penelitian Penelitian ini di batasi hanya pada 1. Kelas XII-IS.1 semester I yang berjumlah 31 siswa 2. Pokok bahasan Masalah ekonomi internasional 3. Meningkatkan prestasi dan minat serta pemahaman siswa terhadap pokok bahasan yang di sajikan. 4. Karena dilaksanakan dengan biaya mandiri penelitian dilakukan selama 2 bulan E. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan ini adalah : 1. Memberikan gambaran tentang penerapan metode bervariasi yang tepat untuk menjadikan siswa lebih tertarik dan aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan meningkatkan prestasi belajar. 2. Untuk mengetahui peranan pengajaran metode bervariasi terhadap pemahaman peserta didik pada pokok bahasan mata pelajaran Ekonomi. 3. Untuk mengetahui apakah pengajaran dengan penerapan metode bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi pokok bahasan masalah ekonomi internasional. F. Manfaat Penelitian Hasil dan pelaksanaan classroom action research yang dilakukan ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan maupun instansi di bawah ini : 1. Bagi guru : Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan ini, guru dapat lebih terampil menggunakan pembelajaran bervariasi, guru akan terbiasa melakukan penelitian kecil yang tentu sangat bermanfaat bagi perbaikan proses belajar mengajar. 2. Bagi siswa : Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi siswa yang bermasalah di kelas ini

agar berusaha meningkatkan aktivitas belajaranya sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. 3. Bagi sekolah : Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang banyak dalam rangka memperbaiki pembelajaran didalam kelas, peningkatan kualitas sekolah dan bermanfaat bagi sekolah-sekolah lain. 4. Bagi kurikulum : Hasil penelitian ini akan memberikan masukan bahwa dengan memberikan pembelajaran bervariasi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bertanya, sehingga dapat mengembangkan kurikulum dalam menggunakan metode pengajaran.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H
Agustus 29, 2011 in Catatan Harian | Tinggalkan Komentar Ramadhan telah meninggalkan kita, tinggallah kesedihan. Kesedihan karena Sang Penjamu „Allah SWT‟ „ telah „pergi‟. Ibarat tuan rumah dan tamu, maka Allah dalam posisi penjamu. Ia menjamu kita selama sebulan, ia menggandakan pahala, bahkan ia pun merahasiakan jumlah pahala yang akan ia berikan. Intinya urusan pahala hanya Allah yang tahu. Kita telah melalui Ramadhan. Apakah dengan kualitas puasa yang luar biasa atau biasa-biasa saja, hanya kita sendiri yang tahu hal itu. Harapan semua orang: puasa diterima, sholat (tarawih diterima), dosa diampuni serta dimasukkan ke dalam surga „Ar Royan‟ Surga bagi orang-orang yang berpuasa. Namun yang terpenting adalah kita meraih taqwa. Sebagaimana penghujung QS. Al Baqarah 183: lallakum tattakun: agar kamu menjadi orang yang bertaqwa. Apa definisi taqwa? Sangat banyak definisi dari para ahli, namun intinya adalah „takut kepada Allah‟ dalam pengertian: takut meninggalkan larangannya, dan takut takut tidak menjalankan perintahnya. MELALUI BLOG INI, KEPADA SELURUH BLOGER DAN PEMBACA BLOG INI, SECARA PRIBADI SAYA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MINAL AIDZIN WALFAIDZIN, TAQABBALLALLAHU MINNA WAMINKUM…..MOHON MAAF LAHIR BATHIN.

SEJARAH ISLAM DI AMERIKA
Juni 15, 2011 in Artikel | Tinggalkan Komentar Islam di Amerika Sebelum Columbus Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai „The New World‟ ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah „Dunia Baru‟. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika. Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika. ”Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam

evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba. Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika. Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. “Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli. Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba. Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu. Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California. Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi „Yasus bin Maria‟ yang dalam bahasa Arab berarti “Yesus, anak Maria”. “Ini bukan frase Kristen,” cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat. Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara. Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir. Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker. Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif.

Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor. Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ”Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,” papar Youssef. Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika – apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Pengaruh Islam di Benua Amerika Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut. Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab. Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba? Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra. Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem. Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba – masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana). Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat. Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika. Senin, 16 Juni 2008 Fakta Eksistensi Islam di Amerika T ahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan

Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M. Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya. Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona – kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam. Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida. Dari: Republika Online 16 Juni 2008

Sejarah PGRI
Juni 1, 2011 in Artikel | 1 komentar PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932. Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan huru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya. Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.

Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah – guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 – seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tangan bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan : 1. Memepertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia; 2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan; 3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya. Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Jiwa pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia. Dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen, dan tidak berpolitik praktis. Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun. Semoga PGRI, guru, dan bangsa Indonesia tetap jaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6050131

Menangkap Pesan Sejati Kartini
April 24, 2011 in Artikel | Tinggalkan Komentar

Tugas Makalah Sejarah Amerika Reguler A dan B.
Maret 5, 2011 in Catatan Harian | Tinggalkan Komentar 1. Amerika pada periode kuno: Peradaban suku Aztec. 2. Amerika pada periode kuno: Peradaban suku Inca. 3. Amerika pada periode kuno: Peradaban suku Maya.

4. Amerika pada periode awal kolonisasi bangsa-bangsa eropa. 5. Terbentuknya Koloni Amerika. 6.Perang kemerdekaan Amerika. 7. Perang Sipil (1861-1865) dan Rekonstruksi (1865-1877) . 8. Perubahan struktur social politik (termasuk hub. Luar negeri/diplomasi) masyarakat Amerika sampai akhir abad 19. 9.Perubahan struktur social ekonomi Amerika sampai akhir abad 19. 10. Perubahan struktur social politik (termasuk hub. Luar negeri/diplomasi) masyarakat Amerika abad Abad 20. 11.Perubahan struktur social ekonomi Amerika abad 20. 12. Amerika latin dalam menghadapi imprealisme dan kolonialisme bangsa-bangsa Eropa (sejak abad 19-20). 13. Amerika dan Perbudakan (sampai abad 20) 14. Amerika dan Demokrasi (abad 20-21) 15. Amerika dan Islam (abad 20-21) 16. Amerika dan Teroris (abad 20-21) 18.Amerika dan Politik Luar negeri (abad 20-21) 19. Amerika dan Yahudi/Israel (abad 20-21) 20. Amerika dan ekonomi kapitalis (Abad 20-21) 21 Amerika dan hubungannya dengan Negara-negara sosialis komunis (Abad 20-21) 22. Amerika dan hubungannya dengan Negara-negara Timur Tengah (Abad 20-21) 23. Amerika dan hubungannya dengan Indonesia (Abad 20-21) Catatan: Tugas makalah (pengantar, isi, kesimpulan+daftar pustaka 3-5 sumber). 2-3 orang per kelompok. Jika jumlah tema melebihi dari kelompok boleh dipilih tema yg disukai. Ketik 1,5 spasi di print out dan perbaikan akhir di copy ke CD (bisa 1 CD beberapa kelompok). Waktu: 2-3 Minggu.

Asal Usul Bangsa Indian di Amerika (Materi tgl 4 Maret 2011)
Maret 1, 2011 in Catatan Harian | Tinggalkan Komentar Menrt: M. Yamin bahwa bangsa Indian berasal dari Asia, masuk ke Amerika dalam 3 gelombang: (1) adalah perpindahan orang Mongol dari Asia Timur Laut menuju Amerika Utara dengan melalu Selat Bering, kurang lebih 13.000 th yl; (2) yaitu bangsa Austronesia dari barat ke timur melalui lautan Pasifik dan sampai di Amerika Selatan (3)yakni perpindahan pelaut Austronesia menurut arus laut yang bergerak dari New Zealand dan Asia Timur bergerak menuju Amerika Selatan. Perpaduan antara bangsa Mongol dan Austronesia melahirkan bangsa Indian di Amerika. Menurut versi lain, kurang lebih 20.000 sampai 50.000 tahun yang lalu bangsa Amurian dari Siberia di Rusia menyebrang melalui selat Bering ke benua Amerika. Kemudian disusul oleh bangsa Mongol awal abad ke-1 masehi, dari percampuran kedua bangsa tersebut, lahirlah bengsa Indian Amerika (Amerind) yang menyebar diseluruh benua Amerika dari utara ke selatan, mereka hidup dari berburu, menangkap ikan, mengumpulkan makanan dan buahbuahan liar. Teori Ketiga yaitu: Bahwa orang Indian berasal dari Samudera Atlantik, mereka berlayar ke Utara, terdampar ke wilayah Kanada dan selanjutnya mengikuti route yang sama dengan

teori pertama yakni dari Amerika Utara, AS, dan terus ke Meksiko yang umumnya beriklim sedang dan panas, dari sinilah mereka menetap dan menyebar ke wilayah Selatan di Amerika Latin. Pada mulanya bangsa Aztec merupakan suku yang pertama kali berjuang di daerah pinggiran wilayah tersebut. Selama pengembaraan mereka sebagai kelompok luar-garis, bangsa Aztec kadang-kadang mengalami kemerosotan sampai berpakaian dedaunan dan makan serangga. Pada sekitar tahun 1325 Masehi bangsa Aztec sampai ditempat yang sekarang menjadi kota Meksiko. Suku Maya mendiami daerah Meksiko Selatan dan bagian-bagian Amerika Tengah lainnya. Pusat kebudayaannya terdapat di Semenanjung Yukatan. Kota paling awal berdirinya diperkirakan pada abad ke-3 di hutan Guatemala yang lebat dan yang terakhir diperkirakan dibangun pada abad ke-10 dan abad ke-11 pada sebuah dataran di Yukatan bagian Utara. Kota-kota ini merupakan peninggalan orang-orang Maya yang memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi dengan catatan arsitektur paling beraneka ragam dan paling maju. Kebudayaan suku Maya ini berkembang dari abad ke-1 S M sampai mulainya penggalan Masehi. Tugas Individu: Buat Peta Amerika (dengan terlebih dahulu membuat peta dunia di pojok kanan dg ukuran kecil). Dilukis pada kertas A3, dikumpul setelah mendapat instruksi melalui SMS.

Pembagian Tugas Kelompok Sejarah Indonesia 4 Reg A.
Maret 1, 2011 in Catatan Harian | Tinggalkan Komentar A. Periode Organisasi Awal: 1. Budi Utomo 2. Sarekat Islam 3. Indische Partij B. 1. 2. 3. 4. Organisasi Agama: Muhammadiyah (Indonesia dan di Kalsel); NU (Indonesia dan di Kalsel); Musyawaratutthalibin (di Kalsel); MIAI, MASYUMI dan PSII;

C. Organisasi Sekuler: 1. PKI D. Elite Baru: 1. Perhimpunan Indonesia dan Taman Siswa E. Orientasi Baru: 1. PNI 2. PPPKI, dan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) F. Masa Krisis: 1. PBI, Parindra, dan Gerindo

G. Langkah Baru: 1. Petisi Sutardjo dan GAPI H. Masa Jepang (Indonesia dan Kaslel) I. J. Menjelang Kemerdekaan (Indonesia dan Kalsel Biografi tokoh: Soekarno dan M. Natsir;

Catatan: uraian tugas di atas hanya tema sedangkan judul dibuat sendiri dan menarik serta focus dalam satu masalah.Bentuk tugas makalah, 1 kel. 2 orang, diprint out, setelah perbaikan terakhir lalu burning CD (bisa digabung beberapa kelompok), dikerjakan selama 2 mgg setelah mendapat instruksi melalui SMS.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->