Standar pelayanan kebidanan — Presentation Transcript

  

 

1. STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN H.SURANI,M.KES PRODI KEBIDANAN CURUP POLTEKKES KEMENKES BENGKULU 2. A. STANDAR PELAYANAN UMUM 3. STANDAR 1 PERSIAPAN UNTUK KEHIDUPAN KELUARGA SEHAT Tujuan Memberikan penyuluhan kesehatan yang tepat untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dan terencana serta menjadi orang tua yang bertanggung jawab Standar Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada perorangan, keluarga dan masyarakat terhadap segala hal yang berkaitan dengan kehamilan termasuk penyuluhan kesehatan umum, gizi, KB dan kesiapan dalam menghadapi kehamilan dan menjadi calon orang tua, menghindari kebiasaan yang tidak baik dan mendukung kebiasaan yang baik Hasil Masyarakat dan perorangan ikut serta dalam upaya mencapai kehamilan yang sehat Ibu, keluarga dan masyarakat meningkat pengetahuannya tentang fungsi alatalat reproduksi dan bahaya kehamilan pada usia muda Tanda-tanda bahaya pada kehamilan diketahui oleh keluarga dan masyarakat 4. STANDAR 2 PENCATATAN DAN PELAPORAN Tujuan Mengumpulkan, mempelajari dan menggunakan data untuk pelaksanaan penyuluhan, kesinambungan pelayanan dan penilaian kinerja Standar Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang dilakukannya: pencatatan semua ibu hamil di wilayah kerja, rincian pelayanan yang telah diberikan sendiri oleh bidan kepada seluruh ibu hamil/bersalin/ nifas dan bayi baru lahir, semua kunjungan rumah dan penyuluhan kepada masyarakat. Bidan mengikutsertakan kader untuk mencatat semua ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang berkaitan dengan ibu hamil, ibu dalam proses melahirkan, ibu dalam masa nifas, dan bayi baru lahir. Bidan meninjau secara teratur catatan tersebut untuk menilai kinerja dan menyusun rencana kegiatan pribadi untuk meningkatkan pelayanannya 5. Hasil Terlaksananya pencatatan dan pelaporan yang baik. Tersedia data untuk audit dan pengembangan diri. Meningkatnya ketertiban masyarakat dalam kehamilan, kelahiran bayi, dan pelayanan kebidanan 6. B. STANDAR PELAYANAN ANTENATAL 7. STANDAR 3 IDENTIFIKASI IBU HAMIL Tujuan Mengenali dan memotivasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya Standar Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur. Hasil Ibu memahami tanda dan gejala kehamilan Ibu, suami, anggota masyarakat menyadari manfaat pemeriksaan kehamilan secara dini dan teratur serta mengetahui tempat pemeriksaan hamil. Meningkatnya cakupan ibu hamil yang memeriksakan diri sebelum kehamilan 16 minggu. 8. STANDAR 5 PALPASI ABDOMINAL Memperkirakan usia kehamilan, pemantauan pertumbuhan janin, penentuan letak, posisi dan bagian bawah janin. Standar Bidan melakukan pemeriksaan abdomen dengan seksama & melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan. Bila umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah, masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu. Hasil Perkiraan usia kehamilan yang lebih baik. Diagnosis dini kelainan letak, dan merujuknya sesuai dengan kebutuhan. Diagnosis dini kehamilan ganda dan kelainan lain, serta merujuknya sesuai dengan kebutuhan.

Rujukan tepat waktu telah dipersiapkan bila diperlukan. keluarganya pada trimester/ memastikan bahwa persiapan persalinan bersih dan aman dan suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik. ibu diijinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran. Meningkatnya jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan. Standar Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil. Menurunkan terjadinya perdarahan postpartum akibat salah penanganan kala tiga. Disamping itu. Penurunan angka kesakitan dan kematian akibat eklamsia. Disamping itu. Menurunnya komplikasi seperti perdarahan postpartum. serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya. Hasil Persalinan yang bersih dan aman Meningkatnya kepercayaan terhadap bidan. suami. Hasil Ibu hamil dengan tanda preeklamsia mendapat perawatan yang memadai dan tepat waktu. di samping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk.      9. STANDAR 7 PENGELOLAAN DINI HIPERTENSI PADA KEHAMILAN Mengenali dan menemukan secara dini hipertensi pada kehamilan dan melakukan tindakan yang diperlukan. Bidan juga melakukan pertolongan proses persalinan dan kelahiran yang bersih dan aman. Standar Bidan melakukan pertolongan persalinan bayi dan plasenta yang bersih dan aman. bila diperlukan. dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Berkurangnya kematian/ kesakitan ibu/bayi akibat partus lama. STANDAR 9 ASUHAN PERSALINAN KALA SATU Untuk memberikan pelayanan kebIdanan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. STANDAR 11 PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA TIGA Tujuan Membantu secara aktif pengeluamin plasenta dan selaput ketuban secara lengkap untuk mengurangi kejadian perdarahan pada persalinan. Hasil Menurunkan terjadinya perdarahan yang hilang pada persalinan kala tiga Menurunkan terjadinya atoni uteri Menurunkan terjadinya retensio plasenta Memperpendek waktu persalinan kala tiga. Standar Secara rutin bidan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga. asfiksia neonatorum. 11. 14. C. Pusalinan direncanakan di tempat yang aman dan memadai dengan pertolongan bidan terampil. trauma kelahiran. suami dan keluarga tergerak untuk merencanakan persalinan yang bersih dan aman. STANDAR PERTOLONGAN PERSALINAN 12. Hasil Ibu bersalin mendapat pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu. bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. 10. dengan memperhatikan kebutuhan ibu. memperpendek waktu persalinan kala 3. Bidan mengusahakan untuk melakukan kunjungan ke setiap rumah ibu hamil untuk hal ini. mencegah terjadinya atoni uteri dan retensio plasenta. 13. kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai. Menurunnya angka sepsis puerperalis . Standar Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamsia lainnya. Standar Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai. Hasil Ibu hamil. STANDAR 10 PERSALINAN KALA DUA YANG AMAN Memastikan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. . Adanya persiapan sarana transportasi untuk merujuk ibu bersalin. jika perlu. dengan sikap sopan d3n penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. STANDAR 8 PERSIAPAN PERSALINAN Untuk memastikan bahwa persalinan direncanakan dalam lingkungan yang aman dan memadai dengan pertolongan bidan terampil. Meningkatnya cakupan persalinan dan komplikasi lainnya yang ditolong tenaga kesehatan terlatih. ibu diijinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan. selama proses persalinan berlangsung.

19.        15. Penurunan kematian akibat perdarahan pasca persalinan primer. 22. Penurunan terjadinya kematian bayi baru lahir. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipoleuni. Meningkatnnya imunisasi pada bayi. dan mencegah hipoglikemia dan infeksi. asuhan bayi baru lahir. hipoglikemia dan infeksi Standar Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan. STANDAR 12: PENANGANAN KALA DUA DENGAN GAWAT JANIN MELALUI EPISIOTOMI Tujuan : Mempercepat persalinan dengan melakukan episiotomy jika ada tanda-tanda gawat janin pada saat kepala janin meregangkan perineum Standar Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat pada kala dua. D . Hasil Komplikasi segera dideteksi dan dirujuk. imunisasi dan KB. Di samping itu. Mendukung penggunaan cara tradisional yang berguna dan menganjurkan untuk menghindari kebiasaan yang merugikan Menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan bayi. Penurunan kejadian infeksi pada ibu dan bayi baru lahir. Mendukung dan menganjurkan pemberian ASI ekslusif. Standar Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau melalui kunjungan ke rumah pada hari ke-tiga. Pemberian ASI dimulai dalam 1 jam pertama sesudah persalinan. asfiksia. mencegah ashiksia. STANDAR 14 : PENANGANAN PADA DUA JAM PERTAMA SETELAH PERSALINAN Tujuan Mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang bersih dan aman selama persalinan kala empat untuk memulihkan kesehatan ibu dan bayi. 20. infeksi. menemukan kelainan. makanan bergizi. serta memberikan penjelasan tentang. pemberian ASI. dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI. 21. Penurunan kejadian hipotermia. STANDAR 15: PELAYANAN BAGI IBU DAN BAYI PADA MASA NIFAS Tujuan Memberkan pelayanan kepada ibu dan bap sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif. dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Hasil Bayi baru lahir menerima perawatan dengan segera dan tepat Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernafasan dengan baik. dan hipoglikemia pada bayi baru lahir. untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penatalaksanaan tali pusat yang benar penemuan dini. Meningkatkan asuhan sayang ibu dan sayang bayi. kebersihan perorangan. dan segera melakukan episiotomy dengan aman untuk memperlancar persalinan. Hasil Komplikasi Pada masa nifas segera dideteksi dan dirujuk pada saat yang tepat. penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas. STANDAR PELAYANAN NIFAS 17. STANDAR PENANGANAN KEGAWAT DARURATAN OBSTETRI DAN NEONATAL . 18. Masyarakat semakin menyadari pentingriya keluarga berencana/penjarangan kelahiran. Memulai pemberian ASI dalam waktu 1 jam pertama setelah persalinan dan mendukung terjadinya ikatan batin antara ibu dan bayinya Standar Bidan melakukan Pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi yang paling sedikit selama 2 jam setelah persalinan. kesehatan secara umum. E. bidan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu. minggu ke-dua dan minggu ke-enam setelah persalinan. serta melakukan tindakan yang diperlukan. diikuti dengan penjahitan perineum Hasil Penurunan kejadian asfiksia neonatorum berat Penurunan kejadian lahir mati pada kala dua 16. STANDAR 13: PERAWATAN BAYI BARU LAHIR Tujuan : Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernafasan serta mencegah hipotermi.

Hasil Penurunan kejadian perdarahan hebat akibat retensio plasenta. Meningkatnya . Standar Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada kehamilan. Hasil Penurunan kejadian eklamsia.      23. sesuai dengan kebutuhan. STANDAR 16 : PENANGANAN PERDARAHAN DALAM KEHAMILAN PADA TRIMESTER III Tujuan Mengenali dan melakukan tindakan cepat dan tepat perdarahan dalam trimester kehamilan. serta melakukan pertolongan pertama dan merujuknya. Ibu mendapatkan penanganan darurat obstetri yang cepat dan tepat. Penurunan kematian/kesakitan ibu/bayi akibat partus lama. STANDAR 21: PENANGANAN PERDARAHAN POSTPARTUM PRIMER Tujuan Mengenali dan mengambil tindakan pertolongan kegawat daruratan yang tepat pada ibu yang mengalami perdarahan postpartum primer/atoni uteri. Ibu hamil yang mengalami preeklamsia berat dan eklamsia mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. 27. Meningkatnya pemanfaatan bidan untuk konsultasi pada keadaan gawat darurat. Mengambil tindakan yang tepat dan segera dalam penanganan kegawatdaruratan bila eklampsia terjadi Standar Bidan mengenali secara tepat dan dini tanda dan gejala preeklamsia ringan. Penggunaan partograf secara tepat dan seksama untuk semua ibu dalam proses persalinan. Standar Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam pertama setelah persalinan (perdarahan postpartum primer) dan segera melakukan pertolongan pertama kegawat daruratan untuk mengendalikan perdarahan. STANDAR 18: PENANGANAN KEGAWAT DARURATAN PADA PARTUS LAMA/ MACET Tujuan Mengetahui dengan segera dan penanganan yang tepat keadaan darurat pada partus lama/macet. Hasil Mengenali secara dini gejala dan tanda partus lama serta tindakan yang tepat. 24. termasuk plasenta manual dan penanganan perdarahan. Bidan akan mengambil tindakan yang tepat. Extraksi vakum dapat dilakukan dengan aman. Hasil Ibu yang mengalami perdarahan pada trimester III kehamilan segera mendapat pertolongan yang cepat dan tepat. preeklamsia berat dan eklamsia. Ibu mendapat perawatan kegawat daruratan obstetri yang cepat dan tepat. Standar Bidan mampu mengenali retensio plasenta. Hasil Penurunan kematian dan kesakitan ibu akibat perdarahan postpartum primer. STANDAR 19: PERSALINAN DENGAN PENGGUNAAN VAKUM EKSTRAKTOR Tujuan Untuk mempercepat persalinan pada keadaan tertentu dengan menggunakan vakum ekstraktor. Standar Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus lama/macet serta melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu atau merujuk untuk persalinan yang aman. 26. merujuk ibu dan atau melaksanakan penanganan kegawatdaturatan yang tepat. memulai perawatan. Kematian ibu dan janin akibat perdarahan dalam kehamilan dan perdarahan antepartum berkurang. melakukannya secara benar dalam memberikan pertolongan persalinan dengan memastikan keamanannya bagi ibu dan janin1bayinya. Standar Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi vakum. STANDAR 20: PENANGANAN KEGAWAT DARURATAN RETENSIO PLASENTA Tujuan Mengenali dan melakukan tindakan yang tepat ketika terjadi retensio plasenta total/parsial. Ibu dengan retensio plasenta mendapatkaii penanganan yang cepat & tepat Penyelamatan ibu dengan retensio plasenta meningkat 28. STANDAR 17: PENANGANAN KEGAWAT DARURATAN PADA EKLAMSIA Tujuan : Mengenali secara dini tanda-tanda dan gejala –gejala pre eklampsia berat dan memberikan perawatan yang tepat dan memadai. Penurunan kesakitan dan kematian akibat eklamsia 25. Hasil Penurunan kesakitan/ kematian ibu/bayi akibat persalinan lama. Ibu dengan tanda-tanda preeklamsia ringan akan mendapatkan perawatan yang tepat waktu dan memadai serta pemantauan. dan memberikan pertolongan partama.

Meningkatnya pemanfaatan bidan... STANDAR 23: PENANGANAN SEPSIS PUERPERALIS Tujuan Mengenali tanda-tanda sepsis puerperalis dan mengambil tindakan yang tepat. melakukan perawatan dengan segera dan merujuknya. mengusahakan bantuan medis yang diperlukan. STANDAR MUTU PELAYANAN KEBIDANAN Defenisi Program menjaga mutu tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan standar. mengambil tindakan yang tepat dan melakukan pertolongan kegawatdaruratan bayi baru lahir yang mengalami asfiksia neonatorum.menilai hasil dan saran perbaikan yang harus selalu mengacu kepada standar yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai alat menuju terjaminnya mutu. STANDAR 22: PENANGANAN PERDARAHAN POSTPARTUM SEKUNDER Tujuan Mengenali gejala dan tanda-tanda perdarahan postpartum sekunder dan melakukan penanganan yang tepat untuk menyelamatkan jiwa ibu. Pengertian standar itu sendiri sangat beragam.... menetapkan penyebab masalah. memulai resusitasi bayi baru lahir... karena kegiatan pokok program tersebut adalah menetapkan masalah. . menetapkan cara penyelesaian masalah. Meningkatnya pemanfaatan bidan dalam pelayanan nifas... Standar Bidan mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan asriksia.. 31. di antaranya: . dan atau merujuknya... Ibu yang mempunyai risiko mengdaml perdarahan postpartum sekunder ditemukan dini dan segera ditangani secara memadai 30. dan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan ibu. Standar Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala perdarahan Post Partum sekunder.. STANDAR 24: PENANGANAN ASFIKSIA NEONATORUM Tujuan Mengenal dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia neonatorum. merujuk bayi baru lahir dengan tepat. serta melakukan tindakan secepatnya. Standar Bidan mampu mengenali secara tepat tanda dan gejala sepsis puerperalis..   pemanfaatan pelayanan bidan Rujukan secara dini untuk ibu yang mengalami perdarahan postpartum primer ke tempat rujukan yang memadai (rumah sakit atau puskesmas 29.menetapkan masalah... Penurunan kematian dan kesakitan akibat sepsis puerperalis.. Hasil Penurunan kematian bayi akibat asfiksia neonatorum. Hasil Kematian dan kesakitan ibu akibat perdarahan postpartum sekunder menurun. dan memberikan perawatan lanjutan yang tepat. Hasil Ibu dengan sepsis puerperalis mendapat penanganan yang memadai dan tepat waktu. Penurunan kesakitan akibat asfiksia neonatorum..

Absah 6. Menyakinkan 7. Masuk akal 3. Makin dipatuhi protokol tersebut. berat. Sedangkan untuk memandu para pelaksana program menjaga mutu agar tetap berpedoman pada standar yang telah ditetapkan maka disusunlah protokol. Syarat Standar 1. Penyimpangan yang terjadi tetap masih dalam batas-batas yang dibenarkan disebut toleransi (tolerance). namun terkandung pengertian yang sama. Standar adalah rumusan tentang penampilan atau nilai diinginkan yang mampu dicapai. Dapat dicapai 5. Standar adalah keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang dipergunakan sebagai batas penerimaan minimal. petunjuk pelaksanaan) adalah suatu pernyataan tertulis yang disusun secara sistimatis dan yang dipakai sebagai pedoman oleh para pelaksana dalam mengambil keputusan dan atau dalam melaksanakan pelayanan kesehatan. nilai atau mutu. Bersifat jelas 2. Mudah dimengerti 4. namun dalam bentuk minimal dan maksimal (range). makin tercapai standar yang telah ditetapkan. Lazimnya tingkat ideal tersebut tidak disusun terlalu kaku. Mantap. yaitu menunjuk pada tingkat ideal yang diinginkan. atau disebut pula sebagai kisaran variasi yang masih dapat diterima (Clinical Practice Guideline. dan peranan yang dimiliki tersebut. berkaitan dengan parameter yang telah ditetapkan. spesifikasi serta eksplisit Jenis standar sesuai dengan unsur-unsur yang terdapat dalam unsur-unsur program menjaga mutu. 1990).   Standar adalah sesuatu ukuran atau patokan untuk mengukur kuantitas. Adapun yang dimaksud dengan protokol (pedoman. Secara umum standar program menjaga mutu dapat dibedakan : .  DLL Berdasarkan batasan tersebut di atas sekalipun rumusannya berbeda.

yang harus dipatuhi oleh semua pelaksana. pola organisasi serta sistim manajemen. keperawatan dan non medis (standard of conduct). Standar lingkungan Dalam standar lingkungan ditetapkan persyaratan minimal unsur lingkungan yang diperlukan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu yakni garis-garis besar kebijakan program. Penampilan aspek medis pelayanan kesehatan b. 4. yaitu jenis. Standar proses Dalam standar proses ditetapkan persyaratan minimal unsur proses yang harus dilakukan untuk terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu. Standar penampilan minimal Yang dimaksud dengan standar penampilan minimal adalah yang menunjuk pada penampilan pelayanan kesehatan yang masih dapat diterima. yakni tindakan medis. dana (modal). dan kualifikasi/spesifikasi tenaga pelaksana sarana. jumlah.1. 3. 2.peralatan. Penampilan aspek non medis pelayanan kesehatan Bila kedua standar pelayan ini tidak sesuai maka tidak sesuai dengan yang ditetapkan maka pelayanan tidak akan bermutu 2. Standar Keluaran Adalah yang menunjuk pada penampilan(performance) pelayanan kesehatan. yang dibedakan dalam : 1. Standar ini karena menunjuk pada . Penampilan ada 2 macam: a. karena baik dan tidaknya mutu pelayanan sangat ditentukan oleh kesesuaian tindakan dengan standar proses. Standar masukan Dalam standar masukan yang diperlukan untuk minimal terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu. Standar persyaratan minimal Adalah yang menunjuk pada keadaan minimal yang harus dipenuhi untuk menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu.

Standar Pelayanan Persalinan (4) Standar 9 : asuhan persalinan kala I Standar 10 : Persalinan kala II yang aman Standar 11 : Penatalaksanaan Aktif persalinan kala III Standar 12 : Penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomi 4.Untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan maka keempat standar tersebut perlu dipantau. Untuk mengetahui apakah mutu pelayanan yang diselenggarakan masih dalam batas-batas kewajaran. maka perlu disusun prioritas Ruang lingkup Standar pelayanan kebidanan 1. Standar Pelayanan Antenatal (6) Standar 3 : Identifikasi ibu hamil Standar 4 : Pemeriksaan dan pemantauan Standar 5 : Palpasi abdominal Standar 6 : Pengelolaan anemia pada ibu hamil Standar 7 : Pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan Standar 8 : Persiapan persalinan 3. Standar Pelayanan umum (2) Standar 1 : Persiapan untuk kehidupan keluarga Standar 2 : Pencatatan dan pelaporan 2. Bila ditemukan penyimpangan perlu segera diperbaiki. dan dinilai secara obyektif serta berkesinambungan.unsur keluaran maka sering disebut dengan standar keluaran atau standar penampilan (Standard of Performance). Dalam pelaksanaannya pemantauan standar-standar tersebut tergantung kemampuan yang dimiliki. Standar Pelayanan Nifas (3) . maka perlu ditetapkan standar keluaran.

Standar Pelayanan kegawatdaruratan obstetri-neonatal (9) Standar 16 : Penanganan perdarahan dalam kehamilan pada trimester III Standar 17 : Penanganan kegawatan pada eklampsia Standar 18 : penanganan kegawatan pada partus lama/ macet Standar 19 : persalinan dengan menggunakan vacum ekstraktor Standar 20 : penanganan retensio plasenta Standar 21 : perdarahan perdarahan postpartum primer Standar 22 : penanganan perdarahan postpartum sekunder Standar 23 : penanganan sepsis puerperalis Standar 24 : penanganan asfiksia neonatorum .Standar 13 : Perawatan bayi baru lahir Standar 14 : Penanganan pada 2 jam pertama setelah persalinan Standar 15 : Pelayanan bagi ibu dan bayi pad masa nifas 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful