BAB IV

HASEL PENELITIAN DAN PEMBARASAN

4.1. Hasil Penelitian Pada bagian ini akan dijelaskan hasil penelitian mulai dari deskripsi data, uji persyaratan analisis, pengujian hipotesa, pembahasan dan berbagai permasalahan yang ditemul dalam penetitian lapangan. Hasil penelitian ini berpedoman pada data hasil penyebaran kuesioner yang pengolahannya dengan bantuan komputer. Untuk kebutuhan penelitian ini respondennya adalah 90 kepala kepala keluarga dari 3 Ke1urahan di Koatamadya Jakarta Barat yang menerima program. pembangunan terpadu pada tahun anggaran 2000. Ke1urahan. dimaksud adalah Kecamatan Jelambar, Teluk Gong dan Grogol Dalam penelitian ini, setiap Keluraga ditetapkan sejumlah 30 kepala keluarga yang menjdi sumber informasi, yang ditentukan secara acak. Artinya, setiap kepala keluarga memillki kesempatan yang sama untuk menjadi unit informasi. Penetapan kepala keluarga sebagai unit informasi adalah sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian ini yakni untuk menghimpun informasi mengenai pengaruh kebijakan pemerintah dan peranan pemimpin lokal terhadap pelayanan masyarakat, serta untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap peningkatan pelayanan masyarakat. Walaupun unit informasinya untuk setiap Ke1urahan. ditentukan secara acak, namun diusahakan responden dimaksud berasal dari RT atau RW yang secara langsung mendapat program pembangunan terpadu. Sebagai gambaran akan dijelaskan jum1ah RT, RW dan kepala ketuarga untuk setiap Ke1urahan. obyek serta besarnya sampel yang diambil pada tabael berikut. Tabel 4. 1. Data RT, RW, Kepala Keluarga dan banyaknya sampel yang diambil untuk setiap Ke1urahan obyek di Kotamadya Jakarta Selatan.

No.

Kelurahan/Kecamatan

RW

RT

Jumlah KK

Jumlah Sampel

1

Jelambar

12

105

7.928

30

2

Teluk Gong

11

167

8.883

30

3

Duri, Grogol

12

146

7.823

30

Jumlah

35

418

24.634

90

*) Penetapan penulis Sumber : Bapeko Jakarta Barat Rencana kegiatan Program Pembangunan Terpadu di Tiga Kelurahan, Kotamadya Jakarta Barat, Tahun Anggaran 2000

4.1.1. Deskripsi Data Data yang diperoleh dari hasil kuesioner secara berturut turut dideskripsikan sebarannya. Data data dimaksud yaitu kebijakan pemerintah (X,), peranan pemimpin lokal (X2) dan pelayanan masyarakat (Y). Deskripsi data yang dimaksud diantaranya adalah skor terendah dan skor tertinggi sehingga nampak rentang datanya, nilai rata rata, standar deviasi, modus, median, varian, dan distribusi frekuensi yang disertai histogram. Data data tersebut dihitung secara komputerisasi dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 10. 4.1.1.1. Kebijakan Pemerintah Distribusi frekuensi dari data variabel kebiajakan pemerintah yang diperoleh nampak pada tabel berikut ini. Tabel 4.2 Deskripsi Data Variabel Kebijakan Pemerintah

No

Ketrangan

Hasil

Range 31 4.2 yang disusun berdasarkan skor ltem terendah sampai tertinggi. Selanjutnya untuk mean.3 Pedoman Interpretasi Variabel Kebijakan Pernerintali . Sementara itu standar deviasinya = 5. Tabel 4.44 5.55 Sebagai gambaran bahwa untuk mengetahui kondisi kebijakan pemerintah di Kotamadya Jakarta Barat secara keseluruhan. Skor minimum 76 2.25 dan variannya = 27. 90 dan 91. Mean 91. Varian 27. sedangkan skor tertinggi = 380 (76 x 5) mengindikasikan semua jawaban atas 76 item.1.55 Dari tabel 4. digunakan pedoman interpretasi yang merujuk pada 5 (lima) interval seperti yang tertera pada Tabel 4. Skor maksimum 107 3. modus dan mediannya masing masing sebesar 91.44. Skor terendah = 76 ( 76 x 1) menunjukkan bahwa semua jawaban atas 76 item pernyataan dalam kuesioner kebijakan pemerintah adalah 1 (sangat tidak setuju). pemyataan dalam kuestoner kebijakan penierintah adalah 5 (sangat setuju). Modus 90 7. Standar deviasi 90 8. Tabel di atas juga memperlihatkan bahwa rentang datanya (range) adalah 31 (107 76). Median 91 6.1 di atas terlihat bahwa skor terendah (minirnum) yang diperoleh untuk variabel kebijakan pemerintah adalah 76 dan tertinggi (maksimum) adalah 107.

karena nilai rata ratanya berada pada interval 76 – 137.4 Disiribusi Frekuensi Skor Kebijakan Pemerintah No 1. Interval 76 79 80 83 84 87 88 92 93 97 98 J02 103 107 Hasil 1 4 13 36 28 4 4 Presentase 1.4. berikut ini. 3.44 .44 40. 2.44 4.3 dapat disimpulkan bahwa secara umum kebijakan pemerintah tergolong sangat rendah. 7.11 4.No Interval Kategori 1 2 3 4 5 76 137 138 199 200 261 262 323 324 .00 31.44 14. 5.11 4. Tabel 4. Hasil ini apabila merujuk pada pedoman yang terdapat pada tabel 4.44. 4.380 Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Sebagaimana. dijelaskan pada (Tabel 4. 6.2) di atas bahwa mean atau nilai rata rata yang diperoleh sebesar 91. Selanjutnya untuk distribusi frekuensi dari variabel kebijakan pemerintah berdasarkan data yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.

Sementara itu untuk data yang terendah berada pada interval 76 79.4 di atas. Peranan Pemimpin Lokal Data data untuk variabel peranan pemimpin lokal yang berhasil dihimpun. disajikan dalam tabel berikut ini.1.1. yaitu sebanyak 36 data atau 40. 11 %. ternyata data data yang terbanyak berada pada interval 88 92.2. yaitu 1 data atau 1.00%. Gambar 4. Lebih jelasnya data data distribusi frekuensi di atas dapat digambarkan dalam bentuk historgram seperti tampak pada gambar berikut ini. .1 Histogram Distribusi Frekuensi Skor Variabel Kebijakan Pemerintah 4.Jumlah 90 100 Berdasarkan Tabel 4.

81 8.Tabel 4. Mean 28. Standar deviasi 4.5 Deskripsi Data varlabel Peranan Pemimpin Lokal No Ketrangan Hasil 1. 14 Pedoman yang digunakan untuk menyimpulkan kondisi efektivitas peranan pemimpin lokal mengacu pada (lima) interval seperti yang tertera pada Tabel 4. Median 68 6. Dari tabel di atas juga diketahui bahwa rentang datanya (range) adalah 21. Skor terendah = 57 (57 x 1) menunjukkan bahwa semua jawaban atas 57 item penyataan dalam kuesioner peranan pemimpin lokal adalah 1 (sangat tidak setuju). modus = 67 dan mediannya = 68.81 dan variannya = 23. Modus 67 7.16.14 Berdasarkan tabel 4.5 di atas tertihat bahwa skor terendah minimum yang diperoleh untuk variabel peranan pernimpin lokal adalah 57 dan yang tertinggi (maksimum) adalah 78. Selanjutnya untuk mean atau nilai rata rata sebesar 68.6 yang disusun berdasarkan skor item tertendah sampai tertinggi. Skor maksimum 78 3. sedangkan skor . Sedangkan standar deviasinya diketahui sebesar 4.16 5. Range 21 4. Skor minimum 57 2. Varian 23.

.tertinggi = 285 (57 x 5) mengindikasikan semua jawaban atas 57 item pernyataan dalam kuesioner kepemimpinan adalah 5 (sangat setuju).

6 Pedoman Interpretasi Variabel Peranan Pemimpin Lokal No Interval 57 – 102 103 – 148 149 – 194 195 – 240 241 – 285 Kategori 1. Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Dari distribusi data di atas serta mengacu pada Tabel 4. 4 4.7 Distribusi Frekuensi Skor Variabel Peranan Pemimpin Lokal Presentase % No Interval Frekuensi 1. 19 21. 21 23.Tabel 4.5 terlihat bahwa mean atau nilai rata rata yang diperoleh sebesar 68. 14 15.6.11 . karena nilai rata ratanya berada pada interval 57 102.56 4. 5. 2. 4. 57 – 59 60 – 62 63 – 65 66 – 68 69 – 71 7 7. 3. Selanjutnya untuk distribusi frekuensinya dapat dilihat pada tabel berikut ini.44 3. Tabel 4. Nilai ini niencerminkan bahwa efektivitas peranan pemimpin lokal tergolong sangat rendah.33 5.1.78 2.

Selanjutnya untuk lebih jelasnya mengenai distribusi frekuensi variabel peranan pemimpin lokal. Gambar 4.33% Sedangkan data data yang berada pada interval 60 62 memiliki frekuensi yang paling kecil yaitu 4. 9 10.6. diperoleh distribusi data sebagai berikut: Tabel 4. 8 . Pelayanan Masyarakat Berdasarkan hasil perhitungan data untuk variabel pelayanan masyarakat.00 Jumlah 90 100 Sebagaimana terilhat pada tabel 4. yaitu sebanyak 23.7 di atas.1.1. data data yang berada pada interval 66 68 mendominasi data yang diperoleh untuk variabel peranan pernimpin lokal.3.78 7.2 Histogram Distribusi Frckuensi Skor Varlabel Peranan Pemimpin Lokal 4.44 %. 72 – 74 75 – 78 16 17. dapat dilihat pada historgram di bawah ini.

8 yang disusun berdasarkan skor item terendah sampai tertinggi. Median 65 6.31. Varian 24. Dari tabel di atas terlihat bahwa rentang datanya adalah 27. Modus 66 7.8 di atas diketahui bahwa. Sedangkan standar deviasinya = 4. Skor terendah adalah 52 (52 x 1) menunjukkan bahwa semua jawaban atas 52 item pernyataan dalam kuesioner pelayanan masyarakat adalah 1 (sangat tidak setuju ). Range 27 4. Skor maksimum 79 3.40. Selanjutnya untuk mean atau nilai rata rata sebesar 64.94 dan variannya 24. sedangkan skor tertinggi adalah 260 (52 x 5) mengindikasikan semua jawaban atas 52 item pemyataan dalam kuesioner pelayanan masyarakat adalah 5 (sangat setuju). Untuk mengetahui bagaimana kondisi pelayanan masyarakat: secara umum yang ada di Kotamadya Jakarta Barat.Deskripsi Data variabel Pelayanan Masyarakat No Ketrangan Hasil 1.31 5. Standar deviasi 4.40 Dari Tabel 4. skor terendah minimum yang diperoleh untuk variabel pelayanan masyarakat adalah 52 dan tertinggi (maksimum) adalah 79. . digunakan pedoman intepretasi yang merujuk pada (lima) interval seperti yang tertera pada Tabel 4. modus = 66 dan nilal mediannya = 65. Skor minimum 52 2. Mean 64.94 8.

3. Nilai ini mencerminkan bahwa pelayanan masyarakat di Koatamadya Jakarta Barat tergolong sangat buruk.89 4. 5. 4. 52 – 93 94 – 135 136 – 177 178 – 219 220 – 260 Sangat buruk Buruk Sedang Baik Sangat tinggi Dari distribusi data vaniabel pelayanan masyarakat pada tabel 4.31. 10 Distribusi Frekuensi Skor Pelayanan Masyarakat Presentase % No Interval Frekuensi 1. Selanjutnya untuk distribusi frekuensinya dapat dilifiat pada tabel berikut ini.9 Pedoman Interpretasi Variabel Pelayanan Masyarakat No Interval Kategori 1. 52 – 55 56 – 59 60 – 63 64 – 67 5 5.56 2. 9 10.Tabel 4. 26 28.8 di atas terlihat bahwa incan atau nilai rata rata yang diperoleh = 64. Tabel 4. karena nilai rata ratanya berada pada interval 52 93. 30 33. 2.00 3.33 .

Sementara data data yang berada pada interval 72 75 dan 76 79 masing masing memiliki frekuensi yang paling kecil yaitu sebesar 2 atau 2.1. 68 – 71 72 – 75 76 – 79 16 17. distribusi frek uensi variabel pelayanan masyarakat dapat dillhat pada historgram di bawah ini.22 7.22%. Selanjutnya.33%. ternyata data data yang dominan berada pada interval 64 67 sebanyak 30 atau 33. Gambar 4. 2 2.22 Jumlah 90 100.2.5.78 6. Pengujian Persyaratan Analisis .3 Histogram Distribusi Frekuensi Skor Variabel Pelayanan Masyarakat 4.00 Distribusi frekuensi skor untuk variabel pelayanan masyarakat. 2 2.

persyaratan analisis yang digunakan adalah uji normalitas data dan uji linieritas.Dalam penelitian ini pengujian.2. diperoleh nila Lilliefors hitutig (L hitung) sebesar 0. Hasil ini menunjukkan suatu distribusi normal.1. dimana nilai signiftkansi yang diperoleh. yang dihasilkan ternyata data data menvebar disepanjang garis diagonal. .05. maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data untuk varibel kebijakan pemerintah adalah normal.200.089 dan nilai signifikansi sebesar 0. 2. sedangkan untuk uji linieritas digunakan. Hasil pengujian norrinalitas data untuk variabel kebi akan.1. (Iihat pada lampiran ). persamaan regresi. yang berarti lebih besar dari 0. juga terlihat data data menyebar disepanjang gans diagonal. Pada data data vaniabel pelayanan diperoleh nilai Lilliefors hitung (L hitung) sebesar 0. normalitas data juga dapat dililiat dari diagram normalitas. Uji normalitas data 1. Uji linieritas variabel kebijakan pemerintah.072. Uji normalitas data vaniabel kebijakan pemerintah. 4.2.071 dengan nilal signifikansi = 0. Dengan hasil ini. berdasarkan perhitungan. maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data untuk varibel kepemimpinan adalah normal dimana nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar dari 0. Untuk varlabel kepernimpinan.05. pemerintah diperolefi nilai Lilliefors hitung (L hitung) sebesar 0. berdistribusi normal (lihat pada lampiran) 3. yang berarti data data untuk varlabel pelayanan masyarakat berdistribusi normal (1ihat pada lampiran).080 dan nilai signifikansi sebesar 0.05. Uji normalitas data varlabel pelayanan masyarakat. juga terlihat bahwa data data menyebar di sepanjang garis diagonal. yang bcrarti data data untuk variabel peranan pemimpin lokal. Sementara itu dari diagram normalitas data. Dari diagram.200.2. Merujuk pada hasil itu. terhadap pelayanan masyarakat. Uji nortnalitas data dilakukan dengan menggunakan statistik Lilliefors. Selain dapat dibuktikan dengan cara perhitungan statistik. yang artinya datadata untuk variabel kebijakan pemenintah berdistribusi normal. Sementara itu dari diagrarri normalitas data. Uji normalitas data variabel peranan pemimpin lokal. 4. lebili besar dari 0.1. Uji linieritas data 1.

yaitu program SPSS ( Stativtical Product and Service Solutions versi 10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel peranan pemimpin lokal linier terhadap variabel pelayanan masyarakat.11 Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik Antara Variabel Kebijakan Pemerintah (X1) dengan Pelayanan Masyarakat (Y) Variabel Bebas Koefisien Regresi T Hitung Kebijakan Pemerintah 0.1. Pengujian Hipotesis 4.660 (lihat Lampiran). 2.165 1. hal ini menggambarkan bahwa variabel kebijakan pemerintah linier terhadap variabel pelayanan. koefisien determinasi.545 (1ihat Lamipiran). Tabel 4.Dari hasil pengujian linieritas data untuk varlabel kebijakan pemerintah terhadap variabel pelayanan masyarakat. sebesar 2. terhadap pelayanan masyarakat.1.3.944 dan signifikansi 0.545) lebih besar dari. uji t dan regresi yang diperoleh dengan bantuan komputer. Nilai ini ternyata lebih kecil dari F tabel pada tingkat kepercayaan 95% dengan dk pembilang 19 dan dk penyebut 18 yaitu.19. diperoleh nilai F hitung sebesar 0. Sementara itu.262 Variebel Terikat : Pelayanan Masyarakat .830 dengan signifikansi 0. karena nilai F hitung lebih kecil dari nilal F tabel dan nilai signifikansinya (0. nilai F tabel pada taraf kepercayaan 95% dengan dk pembilang 24 dan dk penyebut 23 diketahui sebesar 2.05. 4. Nilai F hitung yang diperoleh untuk uji linieritas variabel peranan pemimpin lokal dengan pelayanan masyarakat adalah 0.666 Konstanta 49.05.1. demikian pula nilai signifikansinya lebih besar dari 0. Pengaruh Kebijakan Pemerintah terbadap Pelayanan Masyarakat. Uji linieritas variabel peranan pernimpin lokal. Hasil perhitungan statistik untuk pengujian hipotesis yang meliputi koefisien korelasi.04.3. terangkum pada tabel berikut ini.0.

R (Korelasi) R2 (koefisien determinasi) T Tabel : 0.666. maka ekualitas pelayanan masyarakat juga akan meningkat. Analisis koefisien determinasi Nilai koefisien determinasi yang diperoleh adalah 0. jika dibandingkan antara nilai thitun (1. Apabila nilai thitung lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel maka hipotesa nol (Ho) ditolak dan hipotesa alternatif (Ha) diterima. yaitu sebesar 96. hipotesa nol (Ho) diterima dan Ha ditolak. Dengan demikian.175) menunjukkan orientasi hubungan positif. Nilal ttabel pada taraf level of significant 5% ( = 0.99 Sumber : Diolah berdasarkan Program SPSS for Windows R. Untuk mengetahui diterima atau ditolaknya hipotesa yang dirumuskan. 2.175 : 0.2 %. Analisis uji hipotesa ( Uji t ) Hasil perhitungan uji hipotesa diperoleh nilai thitungsebesar 1.2 %.11 di atas diketahui nilai koefisien korelasinya (r) sebesar 0.05) dengan degree freedom (df) = 89 adalah sebesar 1.99. Ini berarti.032 atau dalam persentase = 3. Analisis korelasi Berdasarkan tabel 4. maka terlebih dahulu nilai t hitungdibandingkan dengan nilai ttabel. Besaran angka koefisien determinasi tersebut juga menunjukkan bahwa kontribusi variabel kebijakan pemerintah terhadap variabel pelayanan masyarakat adalah 3. dipengaruhi oleh variabel peranan pemimpin lokal dan variabelvariabel lain yang tidak dilibatkan dalam penelitian ini. Hal ini mencerminkan bahwa variabel bebas (kebijakan pemerintah) kurang mampu menjelaskan variasi perubahan variabel terikat (pelayanan masyarakat).666) dan nila ttabel (1. dimana semakin tinggi/semakin baik kebijakan pemerintah yang dilaksanakan/dipedomani oleh aparatur Kotamadya Jakarta Barat. 4. Maka nilai thitung lebih kecil dibandingkan nilai ttabel . 10 2002 1. Nilai ini mencerminkan bahwa antara kebijakasn pemerintah dengan pelayanan masyarakat secara kualitatif mempunyai hubungan pengaruh yang tergolong sangat rendah. 3. Hasil koefisien korelasi (r) yang positif (0. Sedangkan sisanya.99).031 : 1.175. atau dengan kata lain tidak terdapat hubungan yang positif dan tidak signifikan antara kebijakan pemerintah dengan pelayanan masyarakat di Kotamadya Jakairta Selatan. Analisis regresi sederbana .7%.

165) Yang terdapat pada koefisien regresi variabel bebas (kebijakan pemerintah) menggambarkan bahwa arah hubungan antara variabel kebijakan pemerintah dengan vartabel terikat (pelayanan masyarakat) adalah searah.262 + 0. Persamaan di atas apabila digambarkan garis regresinya tampak sebagai berikut. Selanjutnya nilal positif (0.4.11 di atas. 4. Garis Regresi Pengaruh Kebijakan. Secara matematis. Pengaruh Peranan Pemimpin Lokal terhadap Pelayanan Hasil perhitungan statistik antara peranan pernimpin lokal dengan pelayanan masyarakat terliliat pada tabel berikut ini. Berdasarkan iabel 4. juga menunjukkan bahwa persamaan regresi yang diperoleh tidak dapat digunakan.099) lebih besar dari 0. dimana setiap kenaikan satu satuan variabel kebijakan pemerintah akan. menyebabkan kenaikan pelayanan sebesar 0. nilai konstanta tersebut menyatakan bahwa pada saat kebijakan pemerintah benilai 0. Berdasarkan persamaan di atas dlketahui nilai konstantanya sebesar 49. Hal ini. selain menyatakan bahwa hipotesa alternatif (Ha) tidak diterima.2.262.165 X1. Gambar 4.05 dan nilai t hitung lebih kecil dari t-tabel. sebagai prediksi yang baik. Pemerintah (X1) terhadap Pelayanan Masyarakat (Y). dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut: Y = 49. 165.Dari hasil uji t diketahui bahwa nilai signifikansinya (0. maka pelayanan memiliki nilai 49. .1.3.262.

191 : 0.2002 . 10.99 Sumber : Diolah berdasarkan Program SPSS for Windows R.037 : 1.Tabel 4.12 Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik Antara Variabel Peranan Pemimpin Lokal (X2) dengan Pelayanan Masyarakat Variabel Koefisien Regresi T Hitung Kebijakan Pemerintah 0.196 1.829 Konstanta 50.922 Variebel Terikat R (Korelasi) R2 (koefisien determinasi) T Tabel : Pelayanan : 0.

1.12 di atas. Analisis regresi sederhana Dari hasil uji t diketahui bahwa nilai signifikansinya (0.7 %. bahwa angka koefisien korelasi bernilal positif (0.05) dan nilai thitung lebih kecil dari Mabel. Berdasarkan tabel 4.071) lebih besar dari 0.99.12 di atas adalah 0.037.922 + 0. dipengaruhi oleh variabel kebijakan pemerintah dan variabel variabel lain yang tidak dilibatkan dalam penelitian ini. 4. Besaran angka koefisien korelasi tersebut secara kualitatif tergolong sangat rendah Selanjutaya. atau dalam persentase sebesar 3.829. juga menunjukkan bahwa persamaan regresi yang diperoleh tidak dapat digunakan. Kontribusi variabel bebas (peranan perninipin lokal) terhadap perubalian variabel terikat (pelayanan masyarakat) hanya bernilai 5%. yaitu sebesar 95%. dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut: Y = 50.191. Elal ini. diketahui pula. maka pelayanan juga akan meningkat. Adapun sisanya.19l). Hal ini menunjukkan orientasi hubungan yang searah antara peranan. 2. Analisis korelasi Nilai koefisien korelasi antara peranan pemimpin lokal dengan pelayanan niasyarakat. Analisis uji hipotesa(Uji t) Dari pengujian hipotesa diperoleh nilal thitung sebesar 1. selain menyatakan bahwa hipotesa alternatif (Ha) tidak diterima. atau dengan kata lain: tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peranan pemimpin lokal dengan pelayanan masyarakat di Kotamadya Jakarta Barat.05) dengan degree offteedom (df) = 89yaitu sebesar 1. dimana apabila peranan pemimpin lokal semakin baik. sebagai prediksi yang baik. Analisis koefisien determinasi Nilai koefisien determinasi yang diperoleh sebesar 0. peimimpin lokal dengan pelayanan masyarakat. Ini berarti hipotesis nol (Ho) diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak. 3. Nilai ini ternyata lebih kecil dari nilai ttabel pada taraf level oj'significant 5% (= 0.196 X2 . Hal ini mencerminkan bahwa varlabel bebas (peranan pemimpin lokal) kurang mampu menjelaskan variasi perubahan variabel terikat (pelayanan masyarakat). sebagaimana yang tampak pada Tabel 4.

dimana setiap kenaikan satu satuan variabel peranan pemimpin lokal akan menyebabkan kenaikan.196. maka pelayanan masyarakat memiliki nilai 50.1. Garis Regresi Pengaruh Peranan Pemimpin Lokal (X2) terhadap Pelayanan Masyarakat (Y).3. pelayanan sebesar 0. Persamuan di atas apabila digambarkan garis regresinya tampak sebagai berikut.Berdasarkan persamaan di atas diketahui nila konstantanya sebesar 50. Gambar 4.922. Secara matematis. Secara bersama sama (simultan) hasil perhitungan statistik yang diperoleh terangkum pada tabel berikia ini.196) yang terdapat pada koefisien regresi variabel bebas (peranan pemimpin lokal) menggambarkan bahwa arah hubungan antara variabel peranan pernimpin lokal dengan variabel terikat (pelayanan masyarakat) adalah searah.5. .3. 4. nilai konstanta tersebut menyatakan bahwa pada saat peranan pemimpin lokal bernilai 0. Pengaruh Kebijakan Pemerintah (X1) dan Peranan Pemimpin Lokal (X2) terhadap Pelayanan Masayarakat (Y).922 Selanjutnya nilal positif (0.

sebagaimana terlihat pada Tabel 4. Analisis korelasi Dari hasil perhitungan secara simultan. Kontribusi variabel kebijakan pemerintah dan peranan pemimpin lokal terhadap perubahan variabel .319 Variebel Terikat R (Korelasi) R2 (koefisien determinasi) T Tabel : Pelayanan Masyarakat : 0. Hasil koefisien korelasi (r) yang positif (0. 10 2002 1. secara parsial. 2.2%. Hal ini mencerminkan bahwa variabel bebas (kebijakan pemerintah dan peranan pemimpin lokal) kurang mampu menjelaskan variasi perubahan variabel terikat (pelayanan).229) menunjukkan orientasi hubungan positif. atau dalam persentase sebesar 5.Tabel 4. Analisis koefisien determinasi Nilai koefisien determinasi yang diperoleh adalah sebesar 0.229.13 di atas.229 : 0.13 Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik Antara Variabel Kebijakan Pemerintah (XI) dan Peranan Pemimpin Lokal (X2) dengan Pelayanan Masyarakat (Y) Variabel Bebas Koefisien Regresi T Hitung Kebijakan Pemerintah 0.052 : 2. dimana apabila kebijakan pemerintah dan peranan pemimpin lokal semakin baik.158 Konstanta 43.123 2. Nilai ini ternyata lebih besar dari angka korelasi yang diperoleh.398 Peranan pemimpin lokal 0.052.71 Sumber : Diolah berdasarkan Program SPSS for Windows R. maka pelayanan juga akan meningkat. diperoleh angka korelasi sebesar 0. Besaran angka korelasi sebesar 0.229 secara kualitatif mempunyai hubungan yang tergolong sedang.

kebijakan pemerintah masih tergolong sangat rendah. Dari kenyataan ini dapat dijelaskan bahwa secara internal maupun eksternal. dapat dikatakan bahwa kebijakan.71). aparatur lebih melihat bahwa dengan adanya kebijakan pemerintah tersebut.8 %.05) dengan degree offreedom (df)= 89 adalah. . dan faktor eksternal yaitu: bagaimana mengiplementasikan ketentuan peraturan mengenai program pembangunan terpadu. Pembabasan Hasil Penelitian Setelah diuraikan hasil perhitungan beserta analisis yang disajikan secara singkat. sehingga belum dirasakan manfaatliya secara optimal oleh masyarakat. Karena pada kenyataannya. Dengan perhitungan statistik deskriptif. maka terlebih dahulu nilai Fhitungdibandingkan dengan nital Fhitung Apabila nilai Fhitung lebih besar dibandingkan dengan nilai Ftabel maka hipotesa nol (Ho) ditolak dan hipotesa alternatif (Ha) diterima. Nilai ini. Dengan demikian. Bertolak dari kondisi detntukan maka keinginan dan kemauan aparatur untuk memberikan pelayanan secara mak simal dan sungguh sungguh masih sangat kurang. diperoleh nilai rata rata variabel kebijakan pemerintah sebesar 91. Dengan kondisi demikian. Adapun sisanya. maka nilai Fhitung lebih kecil dibandingkan nilai Ftabel.1. apabila mengacu pada pedoman interpretasi untuk variabel kebijakan pemenintah. Ini berarti.7 1. Yang dimaksud dengan kebijakan pemerintah disini mencakup faktor internal yakni: seberapa besar pemahaman aparatur mengenai berbagai ketentuan peraturan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan program pembangunan terpadu. Nilai Ftabel pada taraf level of significant 5% ( = 0. yaitu sebesar 94.terikat (pelayanan) adalah 5. 4. hipotesa nol (Ho) diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak. pemerintah mengenai program pembangunan terpadu amat sulit untuk diimplementasikan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat.398 Untuk mengetahui diterima atau ditolaknya hipotesa yang dirumuskan. jika dibandingkan antara nilai F hitung (2.2 %. maka pada bagian ini akan dijelaskan pembahasan yang berkenaan dengan hasil perhitungan yang telah diperoleh. Kebijakan Pemerintah. atau dengan kata lain: tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kebijakan pemerintah dan peranan pemimpin lokal dengan pelayanan terhadap masyarakat di Kotamadya Jakarta Barat. temyata masuk dalam kategori sangat rendah.44. 3.2. 4. sebesar 2. Analisis uji hipotesa ( Uji F) Hasil perhitungan uji hipotesa diperoleh nilai Fhitungsebesar 2.2.398 dan nilal Ftabel (2. dipengaruhi oleh variabel variabel lain yang tidak dilibatkan dalam penelitian ini (selain variabel kebijakan pemerintah dan peranan pemimpin lokal).

Selain ltu. pada umumnya proyek proyek yang dilaksanakan di daerahnya dikerjakan oleh aparat teknis Pemerintah Kotamadya Jakarta Barat atau Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta melalui pihak ketiga (konsultan).1 %. Secara teoritis sebarusnya kebijakan pemerintah tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan pelayanan masyarakat.1 %. Peranan Pemimpin Lokal.191). Karena. ternyata peranan pemimpin lokal di Kotamadya Jakarta Barat rnasih terkategori sangat rendah.merupakan peluang untuk menciptakan berbagai usulan proyek yang pada gilirannya proyek dimaksud belurri merupakan kebutuhan masyarakat. 4. maka hal itu menunjukkan bahwa peranan pemimpin lokal di Kotarnadya Jak arta Selatan kurang dapat berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini mestinya menjadi pusat perhatian khusus sekaligus bahan koreksi diri segenap unsur pimpinan lokal di Kotamadya Jakarta Barat khususnya pada kelurahan kelurahan yang menjadi lokasi pelaksanaan program pembangunan terpadu. program atau sebagal arati yang menggerakkan dalam penentuan tujuan pembangunan yakni membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan keterbelakangan. dengan tingkat hubungan hanya sebesar 0. dengan kondisi kualitas hubungan variabel peranan pemimpin lokal dengan variabel pelayanan masyarakat yang sangat rendah (r = 0.2. Dengan perkataan lain bahwa kebijakan pemerintah cukup memiliki peran sentral dalam mengarahkan tindakan seseorang dan menentukan kualitas kinerjanya. Berdasarkan informasi vang diperoleh dari jawaban responden melalui kuesioner. 4. Ini berarti bahwa kebijakan pemerintah belum mampu memberikan kontribusi yang optimal terhadap kualitas pelayanan masyarakat.3. Namun dalam kenyataannya peran pernimpin lokal ini sangat kurang.175 dan koefisien detenninasi 3. khususnya masyarakat pada ke1urahan kelurahan program pembangunan terpadu di Kotamadya Jakarta Barat.2. Pelayanan Masyarakat. Hasil ini menggambarkan bahwa peranan peminipin lokal di Kotamadya Jakarta Barat masih tidak maksimal mempengeruhi pelaksanaan program pembangunan terpadu padahal seyogyanya pernimpin lokal mengambil peran sentral dalam melaksanakan program pembangunan terpadu di wilayahnya. dan dengan kontribusi hanya 3. . ternyata kontribusinya hanya sebesar 3.2.7 %. Hal ini sesuai dengan fungsi kebijakan pemerititah sebagagai penuntun dalam menggerakan aparatur dan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan. Hasil pengujian hipotesa menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dan pelayanan masyarakat tidak memiliki hubungan yang positif dan signifikan. bahkan adanya proyek proyek yang dilaksanakan di daerahnya tidak diketahui. Meskipun tidak memiliki hubungan yang positif dan signifikan.

Kondisi ini mengisyaratkan bahwa faktor faktor atau variabel variabel yang lebih dominan mempengaruhi pelayanan masyarakat di Kotamadya Jakarta. Temuan ini menunjukkan bahwa kontribusi dua variabel tersebut masih relatif kecil. Upaya ke arah ini penting dilakukan.2 %. karena meskipun kontribusi dua variabel tersebut secara bersama sama relatif kecil. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisien determinasi yang diperoleh dari dua faktor tersebut yang cuma 5. sehingga memerlukan perbaikan atau peningkatan. maka kualitas pelayanan masyarakat juga akan lebih baik. Itu artinya apabila kondisi dua variabel tersebut diperbaiki. prestasi ini bukan semata mata karena pengaruh kebijakan pemerintah dan peranan pemimpin lokal di Kotamadya Jakarta Barat. Namun. melainkan lebih disebabkan oleh variabel variabel lain. namun berinakna positif dan signifikan. Selatan bukanlah variabel kebijakan pemerintah dan peranan pemimpin lokal. .Berdasarkan analisis deskriptif atas data data pelayanan yang diperoleh dari responden teryata kualitas pelayanan masyarakat di Kotamadya Jakarta Barat tergolong kurang baik. diluar dua variabel tersebut. Hal inilah yang tampaknya menjadi tantangan bagi aparatur di Kotamadya Jakarta Barat dalam rangka memperbaiki kinerja pelayanannya terhadap masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful