ARTI MAHASISWA MAHASISWA???

Apa yang terlintas dalam benak pikiran kita ketika terdengar atau terlihat tentang kata – kata tersebut. Mungkin ada yang berpikiran mahasiswa adalah golongan kaum terpelajar yang berada atau menduduki tingkatan atas civitas akademika sehingga mereka telah dilengkapi dengan tingkat kemandirian yang tinggi , berwawasan luas, dapat mengatur dirinya sendiri dengan baik karena lamanya proses pendidikan yang mereka tempuh atau alami. Mungkin ada pula yang seperti ini mahasiswa adalah Sekelompok individu yang menimba ilmu jauh dari kota kelahirannya sehingga dia harus memiliki sifat tanggung jawab yang tinggi , pandai me – manage waktunya dan tingkat kemandirian yang tinggi pula. Mungkin ada juga yang berpikiran begini mahasiswa adalah golongan kaum elit yang biasanya berpenampilan wah atau parlente dengan kendaraan yang wah pula. Ataupun malah ada yang memiliki pikiran begini mahasiwa adalah sekelompok individu yang terlalu idealis sehingga saking terlalu idealisnya terkadang mereka tidak menyadari bahwa mereka telah disusupi oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga mudah diarahkan oleh mereka nantinya. Keempat pemikiran diatas sangatlah benar adanya. Kenapa saya mengatakan demikian?? Semua itu adalah konsep awal yang terbentuk ketika kita mendengar atau melihat kata – kata mahasiswa. Marilah kita telaah satu persatu., yang pertama adalah Golongan kaum terpelajar yang berada atau menduduki tingkatan atas civitas akademika sehingga mereka dilengkapi dengan tingkat kemandirian yang tinggi , berwawasan luas, dapat mengatur dirinya sendiri dengan baik karena lamanya proses pendidikan yang mereka tempuh atau alami. Menduduki tingkatan atas civitas akademika. Benar adanya karena mahasiswa berada pada tingkat paling atas dalam dunia pendidikan. Setelah berproses melewati S3 yaitu SD , SMP ataupun SMA tentunya mereka memiliki wawasan yang luas. Tetapi apakah kita sebagai mahasiswa telah dapat mengatur waktu dengan baik ( efektif dan efisien ) dan memiliki tingkat kemandirian yang tinggi pula?? Itulah yang masih menjadi pertanyaan besar hingga kini. Konsep yang kedua yaitu mungkin hampir sama dengan konsep yang pertama. Tetapi bertambah pula pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita apakah hanya Sekelompok individu yang menimba ilmu jauh dari kota kelahirannya saja yang dapat dikatakan mahasiswa??? Lalu bagaimana dengan yang kuliah di PN / PTS yang berada dikota kelahirannya apakah tidak dapat dikatakan sebagai mahasiswa?? Tentu tetap dikatakan mahasiswa, karena itu tadi hanya konsep awal saja. Konsep yang ketiga golongan kaum elit yang biasanya berpenampilan wah atau parlente dengan kendaraan yang wah pula. Kenapa sampai ada pemikiran seperti ini?? Pemikiran ini tidaklah salah, mungkin mereka berangkat dari konsep awal mereka bahwa biaya kuliah bertambah tinggi setiap tahunnya sehingga mereka yang mampu meneruskan ke jenjang perguruan tinggi hanyalah mereka yang termasuk golongan elit. Sehingga penampilan dan kendaraan mereka termasuk elit juga. Konsep keempat adalah sekelompok individu yang terlalu idealis sehingga saking terlalu idealisnya terkadang mereka tidak menyadari bahwa mereka telah disusupi oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga mudah diarahkan oleh mereka nantinya. Konsep ini sah – sah saja karena pemikiran atau opini tidak pernah salah karena opini bersifat subyektif. Mungkin mereka berpikiran begini karena konsep awal mereka yang melihat bahwa mahasiswa itu rajin sekali demo , berorasi tapi tidak semuanya mengerti esensi atau tujuan mereka berdemo. Mereka hanya ikut – ikutan atau mereha hanya digerakkan oleh suatu kelompok atau oknum dengan diembel – embeli uang untuk membela kepentingan mereka. Meminjam istilah dari Cecep Darmawan (dosen ilmu politik UPI) mengatakan,”jika dulu pemuda itu satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa, maka sekarang pemuda itu satu rupiah”. Artinya, dipersatukan oleh rupiah untuk melakukan suatu tindakan. Nah sekarang ini kita termasuk golongan yang mana dari keempat konsep diatas??kalau misalnya kita termasuk dalam dua golongan awal berarti kita paling tidak sudah termasuk golongan mahasiswa sepenuhnya yang dapat memahami dan mengerti apa arti mahasiswa itu sendiri. Jangan sampai kita masuk ke dalam golongan mahasiswa yang termasuk dalam konsep ketiga dan keempat, karena konsep – konsep tersebut telah menyimpang dari konsep awal apakah mahasiwa itu. Konsep ketiga, jelas sekali dari penampilan dan kendaraan, mereka telah hampir bisa dikatakan menomorduakan statusnya sebagai mahasiswa. Yang penting penampilan dan tongkrongannya. Dan mayoritas dari mahasiswa seperti ini lebih tertarik pada kegiatan – kegiatan diluar kampus ( dugem , hang – out dan shopping mungkin ). Golongan yang keempat malah lebih parah, mereka menyalahgunakan fungsi mahasiswa

Dalam perkembangannya saat ini. Padahal jika telah terkontaminasi virus dugem pasti tidak hanya sekadar ber – ajojing atau berangguk – angguk geleng – geleng saja. Fashion n Favourite) saja. Jika generasi muda telah dikendalikan dan dikuasai maka secara otomatis kedaulatan negara telah digenggam negara asing karena generasi muda ini nantinya akan memegang peranan dalam pemerintahan (Executive decision) nantinya. Terakhir tentu saja angka kriminalitas meningkat ( pemerkosaan . mikiran makanpun kadang sudah lupa. baik dari segi intelektualisme. perampokan . Kita pernah mempunyai angkatan – angkatan mahasiswa yang telah melakukan banyak hal yang sangat prestisius. akuntabilitas. transparansi. bebas melakukan apa yang dimauinya. dan iron stock(perangkat keras) suatu bangsa. apabila hal yang demikian ini terus dibiarkan terjadi maka akan terjadi pula apa yang terdapat pada judul buku tersebut. serta pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dengan icon menolak Soeharto sebagai calon presiden. Semuanya kita terima . Sehingga generasi emas yang diharapkan dapat melanjutkan pembangunan bangsa yang macet ini telah hilang dan menjadi generasi yang apatis yang hanya tunduk pada kesenangan dan wanita saja ( kaum hedonis ). Sehingga yang semula ada kontrol yang kuat . etika maupun semangat jati diri mereka. Selanjutnya mereka telah lupa bahwa sudah menjadi takdir mereka mendapatkan posisi dan perannya sebagai agent of change and agent of social control. hal demikian inilah yang terjadi sekarang ini. Yang tidak pernah dugem dikatakan ketinggalan zaman / kuno. kita ganti menyoroti apakah arti dari degradasi mahasiswa itu sendiri?? Mengutip dari istilah dalam artikel buletin ijo tentang degradasi mahasiwa yaitu Degradasi mahasiswa adalah suatu kemunduran atau kemerosotan yang melanda mahasiswa. Setelah kita mengerti apa arti mahsiswa itu. Kebanyakan mahasiswa saat ini terlalu senang “di nina-bobokan” RoDa-isme ( Romantisme. Hal itu semua nmemang kait mengkait secara erat sehingga sangat mustahil jika seseorang mencicipi yang satu tanpa mencicipi yang lainnya. Kalau kita melihat dari arti kata tersebut. Sehingga apabila sudah terlalu addicted. tetapi nantinya mereka hanya perlu menggunakan 3F ( Food . Berbangga diri dengan budaya westernisasi. lebih punya gengsi daripada makanan tradisional. moral force(kekuatan moral). Jika ini semua benar – benar terjadi . Selain itu mayoritas mahasiswa sekarang ini berada jauh dari pengawasan orang tua. narkoba dan tentu saja wanita. Dan disadari atau tidak . moral. sambil bersusah payah menghapus jati diri bangsa kita yang mulia. sebut saja pergerakan mahasiswa angkatan ’66 yang meneriakkan Tritura yang dibarengi penggulingan kekuasaan Soekarno yang saat itu sudah ingin berkuasa seumur hidup. melainkan juga menenggak minuman keras. Sangatlah disayangkan jika hal sedemikian rupa itu terjadi pada bangsa yang besar seperti Indonesia ini. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah diskotik mana lagi yang akan dikunjungi nanti malam? Ada barangnya( narkoba dan cewek ) ngga nanti malam. idealisme. maka benarlah ucapan seorang ilmuwan Belanda pada awal abad 20 yaitu bahwa pada abad milenium nanti ( abad 21 dan seterusnya). jangankan memikirkan kuliah . Begitu juga yang terjadi pada dunia fashion dan Favourite yang semakin meyerap budaya – budaya Western. patriotisme. jelaslah terjadi banyak kemunduran dalam dunia kemahasiswaan kita. Itu semua tak terlepas dari arus globalisasi yang mengalir masuk cukup deras pada negara yang paling kita cintai ini seakan – akan bangsa kita ini tidak memiliki filter yang dapat menyaring budaya – budaya dari luar. Lalu gerakan mahasiswa Indonesia angkatan ’78 yang mengangkat isu realisasi demokrasi. kita adopsi dalam berbagai kehidupan sehari – hari. Generasi muda sekarang ini lebih nyaman makan di gerai – gerai Fast Food. pembunuhan ). Tidak akan ada tongkat estafet kepemimpinan dari generasi tua ke generasi selanjutnya. Kemudian angkatan ’74 yang menorehkan tinta sejarah MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari) dengan tuntutan otonomisasi Negara dari intervensi asing dan reaksi atas isu NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus). Kita harus ingat pada sebuah judul buku yang mengatakan Indonesia akan hilang tahun 2015. . Dan akhirnya. Karena bangsa ini akan kehilangan sosok – sosok yang capable dari generasi – generasi penerus bangsa yang dapat melanjutkan pembangunan bangsa Ini. bangsa – bangsa maju ( barat ) tidak akan lagi menggunakan kekuatan militernya untuk menjaga kelanggengan hegemoninya . kini seperti bebas dari kungkungan penjara. Sedemikian besarlah dampaknya bagi kita. Dugemisme dan Apatisme). angkatan ’98 mampu menghancurkan kekuasaan bercorak militer dan represif rezim orde baru Soeharto dibawah naungan rindangnya “Pohon Beringin” selama 32 tahun. mahasiswa telah mengalami suatu degradasi cukup besar.sebagai agent of change dan social control demi hanya segepok duit / membela kepentingan orang lain yang belum jelas betul salahnya.

Hanya beberapa mahasiswa saja yang benar-benar konsisten serta matang dalam menggagas gerakan pembaharuan. kita harus semangat dan rajin dalam mengembangkan potensi yang kita miliki. yang bisa dan mempunyai potensi yang lebih dari yang lain sehingga kita tidak kaget apabila kita mendapatkan beban / tanggungjawab yang tinggi nantinya. kita sadarkan diri kita bahwa apabila kita sebagai mahasiswa . terutama tentang makna yang kita pahami dari intelektual itu sendiri dan sampai sejauh mana bias istilah . dan iron stock(perangkat keras) suatu bangsa. mahasiswa dituntut untuk dapat berperan lebih nyata terhadap perubahan atau paling tidak menjadi pendukung dari perubahan ke arah yang lebih baik. Comes great power . menuntut peranan yang lebih dari mahasiswa sebagai agen perubahan serta sebagai mekanisme kawalan. Mahasiswa sekarang. Dalam hal ini. cenderung untuk berfikir pragmatis dalam menghadapi persoalan. Tibalah saatnya kita memimpin negeri ini. moral force(kekuatan moral). Kesadaran yang tumbuh dalam masyarakat untuk melakukan perubahan terhadap sistem yang cenderung berorientasi pada kekuasaan yang membelenggu demokrasi. kita yakinkan diri kita ini bahwa kita ini adalah orang yang capable . bahkan dimandulkan oleh kekuasaan yang tidak mengenal adanya “kritikan”. hendaklah menyadarkan kita (mahasiswa) sebagai kelompok intelektual muda. Kedua . Mahasiwa sekarang. maupun semangat jati diri mereka. sepertinya tidak mempunyai visi yang jelas serta kehilangan konsep.!!!! Jadi Mahasiswa? Biasa aja deh… Pandangan masyarakat terhadap mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan sebagai agen gerakan pembaharuan. Yang terakhir . semoga kita bisa menjadi pemuda tangguh yang turut berkontribusi menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa ini.Kita semua sebagai generasi muda tentunya tidak akan membiarkan hal ini terjadi pada bangsa yang sangat kita cintai ini. dan bahkan cenderung bersifat euforia. otomatis juga menyandang beban berat sebagai agent of change and agent of social control. comes great responsibility too. Maka dari itu . Itu semua. terbentuklah mentality mahasiswa yang saat ini kita rasakan hedonis dan pragmatis. Tugas tersebut. yang mengalami degradasi. Pertama. namun sayang hal itu tidak berlaku. Dari sistem seperti itu. Premis awal yang kemudian ditanyakan adalah benarkah ada isu degradasi intelektual mahasiswa? “Permasalahan ini sebenarnya bias. Semuanya serba right on schedule. idealisme. idealnya memang dilakukan oleh partai politik. Keempat kita atur jadwal sehingga aktivitas kita menjadi terstruktur dan jelas. sepele memang tapi bisa berakibat buruk ke depannnya. dalam konteks itulah. Biarkan kita menjadi seorang pemuda yang mampu melintasi The History of World Civilization (sejarah peradaban dunia). Akhirnya. marilah kita menyusun kembali ( Re – arrange )dari hal – hal yang kecil yang menyangkut kepentingan kita sendiri dulu. disebabkan karena kesadaran mahasiswa akan suatu gerakan belum sepenuhnya terbuka. dan begitu seterusnya. Namun kalau dinilai. gerakan mahasiswa yang baru dibahas. letak peranan mahasiswa sebagai agent of social control serta sebagai agent of change. Hidup Pemuda Indonesia…. patriotisme. agar kita tidak terjerumus dalam hal yang menakutkan seperti yang telah saya sebutkan diatas. kita perlu hilangkan sifat malas kita . Kita terjebak dengan hanya berdebat di bilik kuliah. menghasilkan suatu kebaikan yang berguna untuk kebaikan lainnya. kita sadarkan diri kita. Kedudukan mahasiswa sebagai mekanisme kawalan. Kondisi seperti ini menjadikan kampus benar-benar menjadi suatu menara gading dan jauh dari jangkauan masyarakat kecil. Kita hilangkan budaya suka TA dan mencontoh pekerjaan teman ( termasuk penulis juga nih ) karena akan menjadi kebiasaan nantinya. Sehingga kita tidak berleha – leha dengan status ini. sebab kita dari awal dicetak untuk hidup yang serba praktis dan tidak mencoba berdialog dalam setiap pemikiran. Mahasiswa menjadi kelas yang elite dan seolah tidak tersentuh dengan persoalan kerakyatan. baik dari segi intelektualisme. Dan juga sebagai generasi emas yang meneruskan pembangunan nantinya. bermaksud sebagai pengimbang kepada kekuasaan yang ada pada pemerintah.

mahasiswa adalah sebutan bagi orang-orang yang melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi. Mahasiswa adalah harapan rakyat. Mahasiswa hanya dilihat sisi intelejensinnya saja. “Posisi ideal”. Sementara mahasiswa non aktifis juga dibagi dua : intens akademis yang bukan aktivis social (yaitu mereka yang mumtaz atau jayyid jiddan) dan non akademis yang kuper segalanya. akhirnya titik terang lahir bahwa awalnya kata itu diartikan sebagai daya nalar atau daya pikir saja tapi kemudian setelah perkembangan lebih lanjut. Pembatasan mata kuliah ternyata sangat berpengaruh kepada pilihan kawan-kawan mahasiswa untuk terlibat di organisasi ekstra kampus. Selain belajar. Mereka mengemban amanat dari seluruh masyarakat Indonesia. Sebaliknya. mahasiswa memiliki tipikal yang berbeda-beda. akhirnya adalah apa yang diserap. Sebagian besar mahasiswa bergerak bersama-sama untuk melawan rezim Orde Baru.itu”. organisasi ekstra kampus olahraga dan seni sangat diminati. Mahasiswa merupakan penyalur aspirasi rakyat ke pemerintah. Hal di atas tidak sepenuhnya kesalahan mahasiswa. Ia menghindari penilaian pragmatis yang sering memukul rata persoalan karena pada kenyataannya. Sebagian besar mahasiswa hanya mau mengejar keberhasilan saja. intelektual itu mengalami perluasan menjadi aksi dari kesadaran nalar kritis tersebut. diskusi. Mahasiswa selalu mempunyai kedudukan yang lebih di mata masyarakat. yang perlu ditegaskan adalah standar intelektual. Terbukti dengan banyaknya kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa. Mahasiswa mempunyai peranan yang amat penting bagi masyarakat. Mahasiswa! Ya. Tetapi pada kenyataannya. Intelektual adalah “Kecerdasan pola piker yang mampu ditransformasikan seseorang kepada masyarakat”. Selepas dari itu. Mahasiswa yang hanya mengejar keberhasilan di dunia kerja dan mahasiswa yang tidak hanya mengejar keberhasilan tetapi juga sebagai penyalur aspirasi. tanpa perlu memperhatikan emosional dan spiritualnya. disimpulkaan lalu dipersembahakan. Mahasiswa dapat digolongkan menjadi dua : mahasiswa aktivis dan mahasiswa non aktivis. Mahasiswa kini tidak lagi menjadi dirinya sesuai dengan fungsi yang diembannya. Organisasi ekstra kampus yang berbau ideologi atau gerakan pemikiran tidak laku dijual di UNEJ. Mahasiswa hanya “produk” yang dibuat oleh “produsen” untuk dipasarkan di berbagai industri di dunia. Masalahnya bukan pada penurunan kiprah namun minimnya persentase dibandingkan jumlah seluruh mahasiswa yang ada. Mahasiswa aktivis dibagi dua : mahasiswa yang orientasinya intelektual dan mahasiswa non intelektual. Menurut fakta.tapi kuper akan problematika lingkungan disekitarnya sedangkan mahasiswa non intelektual lebih aktif di berbagai kepanitiaan atau organisasi lainnya.”mahasiswa seharusnya mengikuti kajian-kajian intelektual dan keilmuan sekaligus juga terjun dalam dinamika”. Mahasiswa mempunyai banyak akses untuk menyalurakan aspirasi rakyat ke pemerintah. paparnya. Namun. Hal ini sangat kontras dengan mahasiswa yang berada di jaman Orde Baru. apakah fungsi mahasiswa sebagai agent of social change dan agent of social control akan tercapai tanpa pembelajaran yang tepat pada tingkat emosional dan spiritualnya. Tingkat maturitas sikap dan pemikiran mahasiswa tidak pernah diperhatikan mengingat sekarang ini jaman jetzet. Kampus hanya “mesin cetak” dan “mesin rakit” dipajang di etalase. pada jaman sekarang. Mahasiswa intelektual lebih intens pada pada kajian. Ia cenderung melihat bahwa kata itu masih abstrak dan berkutat di tataran wacana (maya) yang tidak bisa dipahami sebelum seseorang berbicara.Karena mereka menganggap bahwa mahasiswa adalah jaminan di dunia kerja. Lalu. Kalau intelektual dipagari dalam dimensi akademik saja. keilmuan. mahasiswa harus belajar dengan baik agar berhasil di dunia kerja. Segala keluhan masyarakat terhadap pemerintah dapat disalurkan melalui mahasiswa. “Jadi yang dimaksud intelektual di sini. mahasiswa dapat dibedakan menjadi dua. semuanya serba cepat. “Parameter apa yang kita gunakan untuk mengukur itu?” Jika kita berbicara tentang kondisi kawan-kawan mahasiswa UNEJ. Berbeda dengan mahasiswa jaman sekarang. Hanya segelintir mahasiswa yang mau menunaikan kewajiban ini. Dari sini. masih banyak lulusan mahasiswa yang masih menjadi pengangguran. suasana pergerakan mahasiswa masih terasa terutama dari FISIP. Mereka seakan tidak peduli dengan segala keluhan- . Kalau kiprah itu lebih menjurus ke peran seorang mahasiswa dalam kehidupan social. Jadi tidak sepenuhnya anggapan dari masyarakat tentang mahasiswa itu benar. Birokrasi dan regulasi kampus turut menyebabkan degradasi orientasi mahasiswa.

Karena mereka adalah harapan bagi masyarakat. pasti akan mudah lkalau dilakukuan bersama. Hal ini sungguh sangat ironis. Kita adalah harapan bagi masyarakat.keluhan masyarakat terhadap pemerintah. Karena kita adalah MAHASISWA………. Mahasiswa seharusnya menyadari hal ini. . Karena suara mahasiswa sangat berpengaruh. Bagaimana kehidupan masyarakat dapat menjadi sejahtera jika penyalur-nya saja tidak ada. Hanya segelintir mahasiswa yang masih mau menyalurkan amanat dari masyarakat. Walaupun misi ini sangat sulit. Marilah kita sebagai mahasiswa menyatukan langkah sebagai pengemban amanat dari masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful