P. 1
ian Sengketa Litigasi & Non-Litigasi

ian Sengketa Litigasi & Non-Litigasi

|Views: 967|Likes:
Published by kjohan_1

More info:

Published by: kjohan_1 on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/05/2013

pdf

text

original

BAB 1 Pendahuluan A. Latar Belakang Bisnis merupakan salah satu bidang pekerjaan yang mudah untuk dibentuk.

Banyak orang langsung membuat sebuah bisnis jika sudah memiliki memiliki ide dan modal. Modal yang di butuhkan pun bervariasi, dengan modal sedikit saja pebisnis sudah dapat mengembangkan penjualannya. Tidak heran bila bisnis merupakan salah satu kegiatan yang paling banyak di lakukan oleh manusia baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Dengan banyaknya bisnis tersebut maka tidak heran bila masalah atau sengketa dapat muncul dengan mudah. Karena itu agar sebuah bisnis dapat berjalan lancar, muncul sebuah hukum bagi bisnis. Hal ini berguna agar bisnis berjalan sesuai dengan aturan yang kemudian dapat melindungi masingmasing pebisnis dan bisnisnya. Sehingga jika terjadi sengketa atau masalah, hukum dalam bisnis dapat dijadikan sebagai acuan untuk menyelesaikan masalah. Namun dalam prakteknya penyelesaian dalam sengketa terbagi menjadi dua sistem. Satu melalui peradilan dan satunya diluar pengadilan yang biasa disebut sebagai Alternatif penyelesaian sengketa (ADR/Alternative Dispute Resolution). Berdasarkan hal tersebut saya memilih tema ini karena tertarik untuk mengetahui bagaimanakah proses / cara penyelesaian dari masingmasing sistem, hukum-hukum yang berlaku, kelebihan dan kekurangannya.

1

B. Rumusan dan Batasan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, saya bermaksud mencoba melakukan penelitian dengan sumber data penyelesaian sengketa bisnis yang berbentuk dari dalam pengadilan dan luar pengadilan (ADR) yang berada di Indonesia. Permasalahan mendasar dalam penelitian ini adalah munculnya 2 alternatif dalam penyelesaian sengketa, karena itu banyak orang ini mengetahui pilihan terbaik dari ke dua sistem ini. Dari permasalahan di atas, dapat dirinci rumusan masalah secara operasional sebagai berikut : 1. Bagaimana bila penyelesaian sengketa dilakukan melalui pengadilan, apa saja hukum yang menjadi dasarnya, apakah kelebihannya dan kekurangannya? 2. Bagaimana bila penyelesaian sengketa dilakukan di luar pengadilan, dengan cara seperti apa, adakah hukum yang menjamin, apakan kelebihan dan kekurangannya?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang jelas mengenai dua alternatif penyelesaian sengketa ini.

2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui hukum-hukum yang berlaku. b. Untuk mengetahui penerapannya di dalam Indonesia. c. Untuk mengetahui masing-masing keunggulannya.

2

b. Bagi Peneliti Selanjutnya Dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya mengenai hal yang sama secara lebih mendalam. c. Manfaat Penelitian Dari informasi yang didapat. 3 . 2.D. penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan konsep dan prinsip baru tentang cara penyelesaian sengketa yang terbaik. diharapkan penelitian ini mempunyai manfaat sebagai berikut: 1. sesuai dengan kepentingan masing-masing pebisnis. Bagi Peneliti Sebagai penambah wawasan/ilmu pengetahuan tentang masing-masing alternatif dalam penyelesaian sengketa. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi informasi bagi para pebisnis yang seddang terlibat dalam masalah sengketa. Bagi Pebisnis Diharapkan hasil dari penelitian ini akan memberikan masukan bagi pebisnis dalam menerapkan cara penyelesaian yang paling efektif sesuai dengan keadaan perusahaannya. Selain itu. Manfaat Praktis a.

pada waktu pelaksanaan terjadi perbedaan interprestasi. Kata peradilan dan pengadilan mempunyai arti yang berbeda akan tetapi terkadang dipakai untuk arti yang sama. B. mungkin saja terdapat klausul yang tidak jelas. Namun pada umumnya sengketa dalam hubungan industrial berpangkal dari adanya kontrak kerja. Akibatnya. Peradilan adalah sebuah sistem aturan 4 . baik formal maupun informal. Berbagai model penyelesaian sengketa. Bagaimana aspek-aspek yang lebih detail seperti pemilihan forum jika terjadi sengketa nampaknya masih dianggap sepintas lalu. yang dipentingkan adalah kata sepakat terlebih dahulu. Masalah Sengketa Dalam kehidupan sosial adanya konflik sudah menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan lagi dari kehidupan sehari-hari. apalagi dalam keadaan masyarakat Indonesia yang heterogen dan merupakan salah satu negara berpenduduk paling padat di dunia. dapat dijadikan acuan untuk menjawab sengketa yang mungkin timbul asalkan hal itu membawa keadilan. Ada hal-hal yang mestinya masuk di dalam kontrak tetapi tidak dimasukkan. Pada waktu pembuatan kontrak. ketika melakukan perjanjian. Karena umumnya. Apalagi banyak pihak sering menganggap kontrak itu masalah biasa. Sehingga pencarian berbagai jenis proses dan metode untuk menyelesaikan sengketa yang muncul adalah sesuatu yang urgen dalam masyarakat. Para ahli non hukum banyak mengeluarkan energi dan inovasi untuk mengekspresikan berbagai model penyelesaian sengketa (dispute resolution).BAB 2 Kajian Teori A. banyaknya kepentingan menyebabkan lebih banyak konflik. Apa itu Pengadilan? Istilah peradilan dan pengadilan berasal dari kata dasar “adil” yang berarti meletakkan sesuatu pada semestinya.

dan pengadilan inilah yang biasa disebut lembaga peradilan. Hal itu dilakukan oleh karena peradilan (sebagai institusi atau pranata hukum) dan pengadilan (sebagai organisasi penyelenggaraan peradilan) dipandang sebagai sesuatu yang otonom. Apa itu ADR? Alternatif Dispute Resolution atau ADR yang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti penyelesaian Sengketa Alternatif adalah suatu proses penyelesaian sengketa non litigasi dimana para pihak yang bersengketa dapat membantu atau dilibatkan dalam penyelesaian persengketaan tersebut atau melibatkan pihak ketiga yang bersifat netral. negosiasi. D. Ia dipandang sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi.yang mengatur agar supaya kebenaran adan keadilan bisa ditegakkan. mediasi. sedangkan pengadilan asalah sebuah perangkat organisasi penyelenggaraan peradilan. 30 tahun 1999 tentang Arbiterase dan Alternatif Penyelesaian sengketa mengartikannya sebagai lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi. Kekuatan Hukum Lembaga Peradilan Lembaga peradilan sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman ketentuannya diatur dalam UU 14 tahun 1970 tentang kekuasaan kehakiman yang merupakan induk dan kerangka umum yang meletakkan dasar serta asas-asas peradilan serta pedoman bagi 5 . atau “apa yang seharusnya”. konsiliasi atau penialaian ahli (Pasal 1 Ayat 10). Undang-undang No. yang terdiri atas berbagai unsur yang saling berhubungan dan saling tergantung. Menurut cik Hasan Basri tentang lembaga peradilan menyatakan: Pembahasan mengenai pengadilan biasanya dilakukan secara preskriptif. C.

Perubahan Undang-Undang Dasar Negara RI tahun 1945 telah membawa perubahan dalam kehidupan ketatanegaraan khususnya dalam pelaksanaan kehakiman dengan salah satu materi muatan dalam rangka perubahan UUD 1945 adalah mengubah atau menambah pasal tentang kekuasaan kehakiman yang semula terdiri dari dua pasal yaitu pasal 24 ayat (1) dan (2) dan pasal 25. Salah satu pasal yang mengalami perubahan dan penambahan adalah pasal 7 menjadi pasal 7A dan 7B yang terdiri dari tujuh ayat. pasal 24C terdiri dariu enam ayat serta pasal 25. 6 . tetapi secara administratif finansial berada di bawah departemen masing-masing. pengadilan agama.35 tahun 1999 dan secara komprehensif lagi dengan dikeluarkannya UU No.lingkungan peradilan umum. pasal 24A terdiri dari lima ayat. peradilan militer dan peradilan tata usaha negara. pasal 24B terdiri dari empat ayat. Dalam ketentuan Pasal 24 ayat (1) UUD RI tahun 1945 menentukan bahwa adanya sebuah Mahkamah Konstitusi. Dengan perubahan UUD 45 tersebut maka perubahan untuk penyesuaian juga dilakukan terhadap UU No 14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman sebagaimana telah dirubah dengan UU No. dirubah dan ditambah menjadi lima pasal yaitu pasal 24 terdiri dari dua ayat. badan peradilan militer dan badan peradilan tata usaha negara secara organisatoris maupun administratif finansial berada satu atap di bawah Mahkamah Agung. badan peradilan agama. maka lembaga peradilan umum. berhubungan erat dengan pasal-pasal diatas. Semua peradilan yang ada secara organisatoris berada di bawah Mahkamah Agung.4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.

7 . Pada dasarnya keberadaan ADR telah diakui sejak tahun 1970 yaitu dalam undang-undang No.E. khususnya negosiasi. mediasi dan arbiterase. mediasi dan arbiterase. Hukum adat di Indonesia sudah biasa dilakukan oleh warga pedesaan untuk menyelesaikan suatu perselisihan. penjelasan pasal 3 undang-undang ini menyatakan penyelesaian perkara di luar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui wasit (arbiterase) tetap diperbolehkan. 4 tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Kekuatan Hukum ADR Berikutnya pada penyelesainan sengketa di luar pengadilan / ADR. mediasi dan konsiliasi belum memiliki ketentuan perundang-undangannya yang secar tegas mengaturnya. Dan dasar hukum negosiasi. Istilah yang dikenal dalam hukum adat tersebut adalah musyawarah untuk mufakat yang pada hakekatnya sama dengan melakukan negosiasi. Hanya saja istilah yang digunakan berbeda. hanya sayangnya undang-undang ini tidak mengatur secara rinci dan tegas tentang bentukbentuk alternatif penyelesaian sengketa kecuali mengenai arbiterase. selain itu pasal 14 ayat (2) undang-undang ini juga menyatakan bahwa ketentuan dalam ayat 1 tidak menutup kemungkinan untuk usaha penyelesaian perdata secara perdamaian. Yang secara tegas menyatakan bahwa semua sengketa atau beda pendapat yang timbul atau yang mungkin timbul dari hubungan hukum tersebut akan diselesaikan dengan cara arbiterase atau melalui penyelesaian sengketa alternatif. Selain itu ADR memiliki sebuah instrumen penguat yaitu Undang-Undang Republik Indonesia No 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. hanya saja dalam dunia bisnis. padahal pola penyelesaian seperti ini bisa dilakukan di daerah-daerah pedesaan di Indonesia berdasarkan hukum adat. praktek ADR bertumpu pada etika Bisnis Indonesia. Istilah ADR relatif baru dikenal di negara kita.

BAB 3 ISI A. hanya batas dan isi kebebasannya dipengaruhi oleh sistem pemerintahan. politik. betapa pentingnya kekuasaan kehakiman yang bebas ini tidak dapat dipisahkan dari ketentuan konstitusional yang mengharuskan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum (rechtstaat) bukan negara kekuasaan (machtstaat). 8 . Kebebasan kekuasaan kehakiman yang penyelenggaraannya diserahkan pada badan-badan peradilan merupakan salah satu ciri khas negara hukum. yaitu kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila demi terselenggaranya negara hukum Republik Indonesia. maka dalam praktek ketatanegaraan Indonesia harus secara tegas meniadakan dan melarang kekuasaan pemerintah untuk membatasi atau mengurangi wewenang kekuasaan kehakiman yang merdeka yang telah dijamin dalam konstitusi tersebut. ekonomi dan sebagainya. Sejalan dengan ketentuan tersebut maka salah satu prinsip penting negara hukum adalah adanya jaminan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka. Pada hakekatnya kebebasan ini merupakan sifat pembawaan dari pada setiap peradilan. Sengketa Bisnis melalui Pengadilan Di Indonesia lembaga peradilan adalah penyelenggara kekuasaan kehakiman. Dari konsepsi negara hukum sebagaimana dikemukakan. bebas dari pengaruh kekuasaan lainnya untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Tuntutan akan perlunya kekuasaan kehakiman yang bebas dan terlepas dari pengaruh kekuasaan yang lainnya adalah tuntutan yang selalu bergema dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia dari waktu ke waktu.

ketertiban masyarakat. Selain menjamin perlakuan yang adil kepada para pihak. tetapi juga menjamin suatu bentuk ketertiban umum yang tertuang dalam undang-undang. peradilan juga memiliki kebaikan atau keuntungan dalam membawa nilai-nilai masyarakat yang terkandung dalam hukum untuk menyelesaikan sengketa. lembaga peradilan kadang-kadang tidak mampu menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana mestinya. antara lain peranannya adalah: a. b. Suyud Margono dalam bukunya ADR (alternatif 9 . baik secara eksplisit maupun implisit. Banyak masukkan dan kritikkan yang dilontarkan kepada lembaga peradilan yang berkaitan dengan kinerjanya. Terlepas dari fungsi lembaga peradilan seperti yang dicita-citakan oleh masyarakat sebagai tonggak untuk mencapai keadilan dan juga seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat sehingga munculnya sebuah konflik membutuhkan penanganan yang cepat dan baik.Sampai sekarang masyarakat masih memandang keberadaan peradilan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman tetap dibutuhkan. dan pelanggaran ketertiban umum. Peradilan masih tetap diharapkan berperan sebagai the last resort atau tempat terakhir mencari kebenaran dan keadilan sehingga peradilan masih tetap diandalkan sebagai badan yang berfungsi menegakkan kebenaran dan keadilan (to enforce the truth and enforce justice). menyelesaikan sengketa dan mejaga ketertiban umum. Tempat dan kedudukan peradilan dalam negara hukum danmasyarakat demokrasi masih dapat diandalkan. Sebagai katup penekan (pressure valve) atas segala pelanggaran hukum. Jadi peradilan tidak hanya menyelesaikan sengketa. kesempatan untuk didengar.

Putusan pengadilan tidak menyelesaikan masalah. d. Lambatnya penyelesaian sengketa. Putusan pengadilan dianggap tidak mampu memberikan penyelesaian yang memuaskan kepada para pihak. waktu dan pikiran (litigation paralyze people). Para hakim dianggap hanya memiliki pengetahuan yang sangat terbatas. Pengadilan kurang tanggap membela dan melindungi kepentingan umum serta sering mengabaikan perlindungan umum dankebutuhan masyarakat. c. Mahalnya biaya perkara. Ilmu pengetahuan yang mereka miliki hanya 10 . b. putusan pengadilan tidak mampu memberikan kedamaian dan ketentraman kepada pihakpihak yang berperkara. e. Selain itu putusan pengadilan juga kadang membingungkan dan tidak bisa diprediksi (unpredictable). Penyelesaian sengketa melalui proses litigasi pada umumnya lambat dan membuang banyak waktu (waste of time) dan hal ini dikarenakan proses pemeriksaan sangat formal dan sangat teknis. seperti biaya resmi dan upah pengacara yang harus tanggung. Hal ini berakibat orang yang berperkara di pengadilan menjadi llumpuh dan terkuras sumber daya.dispute resolution) dan Arbitrase menguraikan beberapa kritikan penting terhadap lembaga peradilan secara umum sebagai berikut: a. Peradilan tidak tanggap dan tidak responsif (unresvonsive). Kemampuan para hakim yang bersifat generalis. Dan pengadilan dianggap sering berlaku tidak adil (unfire). hal ini disebabkan salah satu pihak menang dan pihak lain pasti kalah (win-lose) dan keadaan kalah menang dalam berperkara tidak pernah membawa kedamaian. Ini didasarkan atas alasan pengadilan dalam memberikan kesempatan serta keleluasaan pelayanan hanya kepada lembaga besar dan orang kaya. tetapi menumbuhkan bibit dendam dan permusuhan serta kebencian. Makin lama penyelesaian mengakibatkan makin tinggi biaya yang harus dikeluarkan.

Masalah yang terjadi dalam Lembaga Peradilan Kinerja Pengadilan sebagai penyelenggara sistem peradilan di Indonesia mendapat sorotan tajam karena dinilai tidak mampu menegakkan supremasi hukum yang diamanatkan oleh rakyat. namun kepercayaan masyarakat terhadapnya telah berkurang. kokoh dan mandiri. Intrik. Meskipun kedudukan dan keberadaannya adalah sebagai pressure valve and the last resort dalam mencari kebenaran dan keadilan. tak perlu gusar dan responsif terkait isu-isu dan kritik-kritik diatas karena dibalik itu semua adalah keinginan untuk memiliki suatu lembaga peradilan yang dihormati. kekuasan dan uang adalah hal yang dapat mengaburkan kebenaran. politik. Hal ini dilakukan agar penilaian terhadap permasalahan yang dihadapi bisa dilakukan dengan jernih dan obyektif. di luar itu pengetahuan mereka hanya bersifat umum. Adapun beberapa permasalahan yang dihadapi lembaga peradilan di Indonesia antara lain yaitu: 11 . Masih banyak kritik yang dapat dideskripsikan akan tetapi dari deskripsi yang diutarakan diatas sudah dapat memberikan gambaran mengenai kegoyahan keberadaan peradilan sebagai kekuasaan kehakiman. B.dibidang hukum. Tak lepas dari permasalahan di atas perilaku korup yang sudah merajalela di negara ini adalah salah satu penyebab utamanya. Namun harus disadari juga oleh semua lapisan tentang adanya berbagai macam faktor permasalahan yang dihadapi oleh Mahkamah Agung dan lembaga-lembaga penyelenggara kekuasaan kehakiman yang lainnya yang juga sangat berpengaruh terhadap kinerja dan wibawa lembaga peradilan itu sendiri. Sangat susah bagi mereka untuk menyelesaikan sengketa yang mengandung kompleksitas dalam berbagai bidang.

frekuensi persentuhan masyarakat masih kurang dan lambat. Tunggakan Perkara di Mahkamah Agung (Tingkat Kasasi) Tentang banyaknya tunggakan perkara yang tidak terselesaikan pada tingkat kasasi sebagian berpendapat disebabkan karena rendahnya semangat dan etos kerja aparat Mahkamah Agung. sifat kekeluargaan dan tolong menolong masih kuat. Selain keterbatasan MA. Akan tetapi sejak era 1970-an terjadi pergeseran kehidupan sosial ekonomi yang menyeluruh dan merata pada semua lapisan dan sektor kehidupan. akan tetapi pada kenyataanya jumlah penyelesaiannya tidak sebanding dengan arus jumlah perkara yang masuk setiap bulan. MA menyadari dengan penuh kesadaran tertunggaknya peyelesaian perkara menimbulkan mata rantai yang panjang. tunggakan perkara juga disebabkan beberapa faktor yaitu: 1) Faktor historis. akan tetapi apabila ditinjau lebih jauh MA dengan segala upaya telah berusaha mempercepat dan memperkecil jumlah tunggakan dengan kemampuan yang maksimal. hubungan transaksi masih kurang dan bersifat sederhana. Semua ini mempertajam pertentangan kepentingan yang bersumber dari kegiatan penilaian ekonomis dan bisnis yang mengakibatkan munculnya berbagai jenis dan ragam persengketaan yang mereka 12 . 3) Para pihak yang berperkara mengalami kerugian ekonomis yang tidak sedikit. 2) Menimbulkan ketidakpastian (uncertainty) yang berlarut-larut diantara para pihak yang berperkara yang membuat mereka berada dalam keadaan resah yang berkepanjangan. 1) Lambatnya penyelesaian perkara menenggelamkan kebenaran dan keadilan dalam lembah yang curam sehingga sulit di raih oleh masyarakat pencari keadilan. Dalam suasana yang seperti itu jarang timbul sengketa oleh karena itu jumlah perkara sedikit dan sederhana. Sebelum masa orde baru kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia bercorak agraris.A.

3) Faktor sistem. sistem ini telah disalahgunakan untuk memperkosa kepentingan pihak lawan. 13 . banding atau kasasi. mengingat para hakim adalah manusia biasa yang tidak luput dari kealpaan dan kelalaian. Koreksi ini memang perlu. Selain itu penyelesaian perkara tidak bisa diolah berdasarkan keseragaman. Kebutuhan Hukum yang Selalu Berkembang Seiring dengan perkembangan dan meningkatnya dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin rumit dan komplit. Tujuan pemberian hak melalui system ini. Akan tetapi hal ini tidak lagi dimaksudkan sebagai upaya koreksi tetapi sudah diselewengkan untuk memperlambat penyelesaian dengan itikad buruk. 2) Faktor mekanisme beracara. B. semakin banyaknya kepentingan dan pada akhirnya menimbulkan kebutuhan untuk menyelesaikannya dengan baik.wujudkan dalam bentuk perkara yang diajukan penyelesaiannya melalui badan peradilan. produk hukum tidak bisa dibuat dalam waktu singkat dan lebih-lebih membutuhkan konsep yang matang yang diundangkan. Sementara berbagai persoalan muncul. tentu dibutuhkan sebuah perangkat hukum yang komplit dan prima. Berdasarkan ketentuan undang-undang diatur suatu system penyelesaian perkara yang memberi hak bagi pencari keadilan untuk mengajukan: a) Upaya hukum biasa: banding dan kasasi atas semua jenis perkara b) Upaya hukum luar biasa : peninjauan kembali. bermaksud sebagai saluran koreksi atas kelalaian dan keteledoran putusan tingkat pertama. Tak dapat dipungkiri beracara di persidangan harus sesuai dengan ketentuan hukum acara demi terjaminnya penyelenggaraan hukum.

Tingkat kepercayaan publik yang rendah terhadap hukum di Indonesia ini disebabkan tiga faktor: 1) Terjadinya penyelewengan hukum hampir di setiap tingkatan dan proses hukum (kepolisian. 3) Praktek korupsi. kolusi dan nepotisme yang hampir menyeluruh. 2) Belum terdapat mekanisme yang transparan untuk dapat meyakinkan publik bahwa masing-masing perangkat hukum menjalankan tugas secara proporsional dan profesional selain itu tidak adanya mekanisme yang transparan terhadap tindakan bagi aparat hukum yang melanggar profesinya. Dr. C. masalah KKN telah menjadi persoalan banyak Negara dalam upaya melakukan penegakan hukum. kejaksaan. Selain dari hal tersebut sistem hukum Indonesia tidak mengenal istilah special leave.penggunaan aturan hukum yang ada tetap dilakukan dan mungkin hal ini yangkurang bisa mengkoordinir kemauan para pencari keadilan. Jimly Asshidiqy yang juga sebagai ketua Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa hukum itu harus dijalankan seberapa adanya dengan sebaik-baiknya sambil jalan sambil memperbaikinya. Rendahnya Kepercayaan Publik terhadap Lembaga Peradilan Kepercayaan masyarakat terhadap hukum merupakan faktor yang sangat penting untuk dapat tegaknya “The Rule of Law” di suatu negara rendahnya tigkat kepercayaan publik terhadap hukum dengan segala perangkatnya akan berakibat buruk bagi berbagai aspek kehidupan masyarakat negara itu. pengacara) Ketidakpercayaan publik tersebut baik terhadap pengadilan tingkat pertama sampai ke tingkat kasasi. Dalam sebuah dialog di stasiun televisi swasta Prof. 14 . pengadilan. namun praktek KKN di Indonesia telah mencapai tahap yang sangat memprihatinkan. Sebagaimana yang diterapkan oleh sistem peradilan Australia.

Ketidakpuasan yang dimaksud bersumber pada persoalan waktu yang digunakan sangat lama dengan biaya sangat mahal 15 . oleh karena itu profesionalisme mutlak diperlukan untuk mengangkat kredibilitas seluruh aparat peradilan. perselisihan atau konflik yang sedang dihadapi. Kurangnya Kredibilitas Aparat Peradilan. Sengketa Bisnis diluar Pengadilan (ADR) Tidak semua masalah harus diselesaikan lewat persidangan atau pengadilan. Berkaitan dengan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan lembaga peradilan. dibantu oleh orang lain atau pihak ketiga yang bersifat netral. Setiap masyarakat memiliki berbagai cara untuk memperoleh kesepakatan dalam menyelesaikan sengketa. Namun ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pengadilan saat ini menjadikan penyelesaian sengketa atau konflik mulai beralih dari penyelesaian dengan cara non litigasi. Sebelum mengenal hukum tertulis cara yang ditempuh masyarakat adalah berdasarkan kebiasaan yang bersifat informal (hukum adat setempat) kemudian berkembang ke cara formal melalui lembaga-lembaga peradilan berdasarkan hukum tertulis.D. karena masyarakat tersebut secara berangsur-angsur menggunakan cara penyelesaian sengketa yang diakui oleh pemerintah sebab cara itu dianggap lebih memberikan keadilan dan kepastian hukum. Penyelesaian sengketa dapat dilakukan oleh kedua belah pihak secara kooperatif. faktor kredibilitas aparat peradilan adalah permasalahan intern yang dihadapi penyelenggara kekuasaan kehakiman aparat peradilan dianggap tidak terpelajar dan ahli dalam hukum (unskilled and unlerned in law ). C. Konsep ADR pertama kali muncul di Amerika Serikat sebagai jawaban atas reaksi masyarakat Amerika Serikat sendiri terhadap sistem peradilan mereka.

Umumnya kalau mereka menandatangani kontrak.serta diragukan kemampuannya dalam menyelesaikan secara memuaskan kasus-kasus yang rumit. Mayoritas pengusaha Indonesia adalah pengusaha kecil dan menengah. Pada umumnya mereka tidak terlalu mereka pedulikan kontrak dengan seksama. dijaman yang serba praktis ini para pebisnis lebih tertarik untuk menyelesaikan masalahnya diluar pengadilan. Sarana ini telah dipandang sebagai sarana yang paling efektif. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar bagi sistem ADR. Karena itu pula cara penyelesaian melalui cara ini memang dipandang yang memuaskan para pihak. Mereka kurang peduli dengan apa 16 . Karena itu wajar. Yang penting mereka ada transaksi bisnis. dibandingkan jika harus mengikuti prosedur yang rumit dan menghabiskan banyak uang apalagi jika ternyata kecurangan itu sendiri dapat dibeli. seperti tersirat dalam undang-undang dasar 1945. Penyelesaiannya tidak win-lose tetapi win-win. Para pebisnis lebih tertarik untuk duduk dan membicarakan masalah secara kekeluargaan. Lebih dari 80% (delapan puluh persen) sengketa di bidang bisnis tercapai penyelesaiannya melalui cara ini. Cara penyelesaian sengketa ini sangat cocok untuk masyarakat bisnis Indonesia. contohnya saja negosiasi. cukuplah bagaimana melaksanakan transaksi tersebut. Negosiasi sendiri adalah sarana paling banyak digunakan. Pancasila sendiri sebagai dasar filosofi kehidupan bermasyarakat Indonesia telah mengisyaratkan bahwa asas penyelesaian sengketa melalui musyawarah untuk mufakat telah diutamakan. mereka kurang begitu peduli terhadap bunyi klausul-klausul dalam kontrak. Dalam benak mereka. Mind-set seperti ini terbawa pula ketika ternyata kemudian sengketa mengenai kontrak lahir.

badan penyelesaian sengketa bisnis. konsultasi dan pemberian pendapat hukum dapat dilakukan secara bersama-sama antara para pihak yang bersengketa dengan konsultan atau ahli hukumnya sendiri. Salah satu tolok ukur dari keberhasilan badan-badan penyelesaian sengketa melalui arbitrase adalah kualitas para arbitratornya. Tantangan ke masa depan adalah tantangan untuk membuktikan masing-masing badan penyelesaian sengketa ini. Macam-macam ADR Ada banyak bentuk penyelesaian sengketa alternatif yang dikenal namun lazimnya penyelesaian sengketa alternatif yang dilaksanakan di Indonesia adalah seperti yang tertera dalam Undang-undang No. D. dll. Kalau ada sengketa. mereka upayakan menyelesaikannya secara baik-baik. sudah semakin populer. mediasi. Kontrak-kontrak komersial sudah cukup banyak mencantumkan klausul arbitrase dalam kontrak mereka. Badan-badan penyelesaian sengketa sejenis telah pula lahir.yang ada dalam klausul kontrak. Jika negosiasi melibatkan para pihak yang bersengketa secara langsung. 30 tahun 1999. selanjutnya mediasi dan konsiliasi melibatkan pihak ketiga yang berfungsi menghubungkan kedua belah pihak yang 17 . Selain itu ada juga penyelesaian sengketa melalui arbitrase sudah semakin populer di kalangan pengusaha. dapat kita temui sekurang-kurangnya ada enam macam tata cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan yaitu: Konsultasi. Bagaimana pun juga. secara kekeluargaan. negosiasi. Di antaranya adalah Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI). kualitas suatu badan arbitrase akan sangat banyak dipengaruhi oleh kualitas para arbitratornya. konsiliasi. Dewasa ini Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). pemberian pendapat hukum dan arbiterase.

dalam mediasi fungsi pihak ketiga dibatasi hanya sebagai penyambung lidah.bersengketa. Negosiasi Dalam bahasa sehari-hari kata negosiasi sering disebut dengan istilah “berunding” atau “bermusyawarah” sedangkan orang yang mengadakan perundingan disebut negosiator. Tidak ada suatu rumusan yang menyatakan sifat keterkaitan atau kewajiban untuk memenuhi dan mengikuti pendapat yang disampaikan oleh pihak konsultan. sedangkan arbiterase merupakan suatu bentuk peradilan swasta dengan arbiterase sebagai hakim swasta yang memutus untuk kedua belah pihak yang bersengketa. Secara umum pranata penyelesaian sengketa alternatif dapat digolongkan ke dalam: A. Konsultasi Tidak ada suatu rumusan ataupun penjelasan yang diberikan di dalam undang-undang No. 30 tahun 1999 mengenai makna maupun arti dari konsultasi pada prinsipnya konsultasi merupakan suatu tindakan yang bersifat personal antara suatu pihak tertentu yang disebut dengan klien dengan pihak lain yang merupakan pihak konsultan yang memberikan pendapatnya kepada klien tersebut. konsultan hanya memberikan pendapat (hukum) yang selanjutnya keputusan mengenai penyelesaian sengketa tersebut akan diambil sendiri oleh klien. sedangkan dalam konsiliasi pihak ketiga terlibat secara aktif dalam memberikan usulan solusi atas sengketa yang terjadi. Berdasarkan Proses Penyelesaian 1. Peran dari konsultan dalam menyelesaikan perselisihan atau sengketa yang ada tidak dominan. Secara umum negosiasi dapat diartikan sebagai suatu upaya penyelesaian sengketa para pihak tanpa melalui proses peradilan dengan tujuan mencapai kesepakatan bersama atas 18 . 2.

Dengan kata lain mediasi yaitu proses negosiasi pemecahan masalah dimana pihak luar yang tidak memihak (impartial) dan netral bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu memperoleh kesepakatan perjanjian secara memuaskan. Pada umumnya proses negosiasi merupakan suatu proses alternatif penyelesaian sengketa yang bersifat informal. Mediasi Mediasi atau dalam bahasa Inggris disebut dengan mediation adalah penyelesaian sengketa dengan menengahi. kejujuran dan tukar pendapat untuk tercapainya mufakat. tidak ada suatu kewajiban bagi para pihak untuk melakukan pertemuan secara langsung. disini para pihak berhadapan langsung secara seksama dalam mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dengan cara kooperatif dan saling terbuka. Melalui negosiasi para pihak yang berselisih atau bersengketa dapat melakukan suatu proses penjajakan kembali akan hak dan kewajiban para pihak dengan melalui suatu situasi yang sama-sama menguntungkan „win-win‟ dengan melepaskan atau memberikan kelonggaran (concession) atas hak-hak tertentu berdasarkan pada asas timbal balik. sedangkan mediator adalah orang yang menjadi penengah. 4.42 Mediasi adalah upaya penyelesaian sengketa para pihak dengan kesepakatan bersama melalui mediator yang bersikap netral dan tidak membuat keputusan atau kesimpulan bagi para pihak tetapi menunjang fasilitator atau terlaksananya dialog antar pihak dengan suasana keterbukaan.dasar kerjasama yang lebih harmonis dan kreatif. 3. Apabila para pihak yang 19 . pada saat negosiasi dilakukan negosiasi tersebut tidak harus dilakukan oleh para pihak sendiri. meskipun ada kalanya dilakukan secara formal. Konsiliasi Konsiliasi diartikan sebagai usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan perselisihan.

hal mana dituangkan dalam salah satu bagian dari kontrak. Pada dasarnya arbiterase adalah perjanjian perdata dimana para pihak sepakat untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi yang mungkin akan timbul dikemudian hari yang diputuskan oleh pihak ketiga atau penyeleasaian sengketa oleh seseorang atau beberapa orang wasit (arbiter) yang ahli di bidangnya secara bersama. proses ini disebut konsiliasi. 30 tahun 1999.bersengketa tidak mampu merumuskan suatu kesepakatan dan pihak ketiga mengajukan usulan jalan keluar dari sengketa. pemberian opini atau pendapat hukum dapat merupakan suatu masukan dari berbagai pihak dalam menyusun atau membuat perjanjian maupun dalam memberikan penafsiran ataupun pendapat terhadap salah satu atau lebih ketentuan dalam perjanjian yang telah dibuat oleh para pihak untuk memperjelas pelaksanaannya. 30 tahun 1999 juga mengenal istilah pendapat ahli sebagai bagian dari ADR. Konsiliasi dapat juga diartikan sebagai upaya membawa pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan permasalahan antara kedua belah pihak secara negosiasi. Pemberian Pendapat Hukum Undang-undang no. 6. arbiterase adalah cara penyelesaian suatu perkara perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbiterase yang di buat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa (Pasal 1 ayat (1)). 5. Arbiterase Menurut undang-undang No.sama ditunjuk oleh pihak yang berperkara dengan tidak diselesaikan melalui pengadilan.hal ini yang menyebabkan istilah konsiliasi kadang sering diartikan dengan mediasi. 20 . tetapi secara musyawarah.

B. lembaga ini tidak bersifat permanen dan akan bubar dengan sendirinya jika sengketa yang diserahkan untuk dimintakan penyelesaiannya. Lembaha ad hoc Yaitu lembaga yang dibentuk secara khusus untuk menangani perkara suatu sengketa tertentu. baik dalam bentuk mediasi. telah diselesaikan atau dalam hal lain yang dikehendaki oleh para pihak yang mengangkat para mediator. 2. setiap pihak yang ingin dan meminta institusi ini untuk menyelesaikan sengketa harus tunduk sepenuhnya pada aturan main yang telah ditetapkan. 21 . konsiliasi maupun arbiterase. konsiliator atau arbiter dan membentuk lembaga ad hoc ini. Lembaga ad hoc ini sering ditemukan dalam proses mediasi. kecuali ditentukan sebaliknya. Lembaga Penyelesaian Sengketa Alternatif Sesuai dengan namanya lembaga ini adalah suatu institusi permanen yang memiliki aturan main yang telah baku. meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa untuk proses konsiliasi maupun arbiterase dipergunakan juga lembaga ad hoc ini. Berdasarkan Pada Sifat Kelembagaan 1.

sehingga prosesnya lebih praktis dan hemat.BAB 4 Penutup A. Secara garis besar peradilan akan menyelidiki masalah lebih detail. Dan karena ADR hanya dilandaskan oleh etika / pihak ke tiga. sehingga lebih unggul. Jadi menurut saya kedua sistem penyelesaian ini sama-sama baik dan layak dipakai. sehingga dipastikan tidak adanya pelanggar perjanjian. Hanya saja ADR lebih sesuai dengan keadaan pebisnis di Indonesia. maka keputusan yang dibuat tidak memiliki kekuatan yang mutlak dilindungi. karena itu wajar jika biaya dan waktu yang dibutuhkan cukup banyak. tetapi hal tersebut bukan berarti bahwa seluruh sistem harus dirubah menjadi ADR dan Peradilan dihilangkan. sebenarnya setiap sistem penyelesaian memiliki keunggulannya sendiri-sendiri. Peradilan memiliki kekuatan yang besar untuk memberikan efek jera dan mengatur ketertiban. sedangkan ADR bersumber dari etika bisnis. mendalam. Dari perbedaan-perbedaan yang ada. Hasil yang dicapai dari peradilan umumnya bersifat Win-Lose solution. Peradilan menggunakan sumber penyelesaian berdasarkan hukum-hukum yang ada di Indonesia sendiri. Memang banyak masyarakat yang lebih memilih jalur nonhukum. 22 . Kesimpulan Dari uraian di atas. Sedangkan untuk ADR masalah lebih diselesaikan secara musyawarah dengan mencari jalan tengah. secara singkat dapat dikemukakan perbedaan mendasar antara sistem penyelesaian sengketa dari dalam peradilan dan diluar peradilan (ADR). Ada kalanya dalam beberapa situasi justru peradilan dapat menjadi solusi terbaik. sedangkan ADR memprioritskan hasil Win-Win Solution. dan spesifik.

serta bukti-bukti. hasil apa yang ingin kita capai. Saran dan Rekomendasi Adanya sengketa dalam perusahaan memang tidak ada yang mengundang. usahkan buat secara spesifik untuk menghindari perbedaan presepsi. Karena itu dalam pembuatan kontrak pertama kali. melalui cara apa. keuntungan. dll. Melalui pertimbangan-pertimbangan yang ada barulah kita tentukan model sistem penyelesaian sengketa yang terbaik untuk perusahaan. Namun hal tersebut biasanya terjadi saat kontrak yang dibuat tidak diperhatikan. 23 . Tentukan seberapa penting hal yang kita sengketakan. Yang paling baik adalah kita harus menganalisa masalah yang kita miliki tersebut. kerugian.B. keadaan budget. Tetapi jika masalah itu tetap muncul. tidak perlu ditakuti atau dihindari.

Kamus Inggris Indonesia. 1998). Seri Hukum Bisnis: Alternatif Penyelesaian Sengketa (Jakarta: Raja Grapindo Persada. Harijah Damis. hal. Rahmat Rosyadi dan Ngatino. 24 . cet. 24. “Mencari Sistem Alternatif Penyelesaian Sengketa”. Laporan Akhir Penelitian Hukum Tentang Penyelesaian Sengketa diluar Pengadilan (Draft) (Jakarta: Departemen Kehakiman RI. ADR (Alternative Dispute Resolution) & Arbitrase: Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum. No. Tahun. Echols dan Hasan Shadily. Mimbar Hukum. 2002). Undang-undang Nomr 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 21. Arbiterase dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Fositif (Bandung. Gunawan Wijaya. XXV (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2000).Daftar Pustaka Suyud Margono. Cet I. “Hakim Mediasi”. No. edisi ke-5 (Yogyakarta: Liberty. Sudikno Mertokusumo. 29. 2001). Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama). 1990). Pasal 1 Yahya Harahap. Joni Emerzon. PT Citra Aditya Bakti. VII (Jakarta: Al-Hikmah & DITBINPERA. 63. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1996). Yahya Harahap. “Pelaksanaan Kekuasaan Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Agama” Mimbar Hukum. John M. Hukum acara Perdata Indonesia. 1996). No. Mimbar Hukum. Cik Hasan Bisri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->