P. 1
Konflik Madura-dayak

Konflik Madura-dayak

|Views: 160|Likes:
Published by save_mode

More info:

Published by: save_mode on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/21/2015

pdf

text

original

RESUME STUDI-STUDI TENTANG KONFLIK DAN ETNISITAS

A. HASIL- HASIL TEMUAN STUDI 1.STUDI KEKERASAN ETNIK DAN PERDAMAIAN ETNIK DI KALBAR Ada 3 insiden kekerasan etnik di Kalbar. Pertama, beberapa sub-etnik Dayak melakukan ethnic cleansing terhadap sekelompok Cina yang tinggal di pedalaman, di sekitar perbatasan dengan Malaysia, yakni di wilayah Sambas, Bengkayang, Landak, dan Sanggau. Insiden itu terjadi Oktober hingga November 1967, satu titik waktu dimana rezim Orde Lama beralih ke Orde Baru. Kedua, beberapa sub-etnik Dayak melakukan ethnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Bengkayang, Landak, dan Sanggau. Insiden itu berlangsung sekitar 2 bulan, dari Januari hingga Februari 1997, satu titik waktu dimana rezim Orde Baru segera akan berakhir. Dan ketiga, satu sub-etnik Melayu melakukan etnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Sambas terjadi dari Februari hingga Maret 1999, satu titik waktu dimana Orde Reformasi baru mulai berdiri. Ada berbagai situasi, wacana publik, dan mekanisme sosial yang menyebabkan Kalbar di satu saat mengalami kekerasan etnik, namun di saat lain justru perdamaian etnik. Situasi yang dimaksudkannya merujuk kepada faktor eksternal yang memaksa para aktor untuk memperhitungkannya, namun secara inheren tidak berhubungan dengan kekerasan atau perdamaian etnik secara langsung. Ada sejumlah situasi yang membuat kekerasan etnik terjadi di masa lalu berubah menjadi perdamaian etnik dalam beberapa tahun terakhir ini. Pertama, situasi teritori inter-etnik. Di masa lalu, Dayak dan Melayu memiliki semacam kesepakatan lisan bahwa masing-masing menempati wilayah teritori tersendiri. Dayak di bagian pedalaman (bagian darat), Melayu di pesisir (bagian laut). Namun perkembangan sistem pemerintahan dan proses invansi-sukseksi kelompok etnik lainnya membawa ancaman terhadap kesepakatan itu. Kedatangan Cina dan Madura yang merembes masuk ke bagian pedalaman membuat masalahnya menjadi kompleks dan akut. Teritori Dayak menjadi semakin mengecil. Baik Cina maupun Madura cenderung membuat kantung-kantung (enclave) yang merujuk kepada teritori etnik masing-masing. Lebih khusus, kehadiran Madura yang notabene Islam juga berimplikasi pada meluasnya teritori Melayu dalam suatu wilayah yang secara normatif merupakan teritori Dayak. Situasi yang lain adalah perubahan dari bipolarisasi menjadi multipolarisasi. Kekerasan etnik di masa lampau terjadi dalam situasi bipolar. Ada satu kelompok etnik yang secara internal solid, dan pada saat yang sama berhasil membuat kelompok etnik lainnya memberikan dukungan kepada pihaknya, langsung atau tidak, untuk melawan satu kelompok etnik lainnya. Namun situasi ini sekarang berubah menjadi multipolar. Secara internal, Dayak dan Melayu mengalami proses fragmentasi; dan secara eksternal keduanya memiliki kekuatan yang relatif setara. Kemenangan hanya dapat dicapai dengan melakukan dengan aliansi dengan kelompok etnik etnik lain. Sayangnya, baik Cina maupun Madura sebagai kelompok yang paling potensial juga berada dalam posisi diametral dengan keduanya.

dan melalui suatu upacara seremonial. kelompok etnik lain biasanya menghindarkan diterapkannya hukum adat kepada anggotanya yang dianggap bersalah melakukan tindak pidana inter-etnik. Sebelumnya. merupakan mayoritas dan memiliki hak yang sama. Kalaupun ada pertemuan inter-etnik. pemerintahlah yang bisanya mengambil inisiatif tersebut. kelompok etnik lain melihat adanya perbedaan antara mereka yang sudah tinggal lama dan baru datang. penerapan sanksi bersifat eksternal. dan hingga batas tertentu. muncul wacana publik yang menyatakan bahwa yang merupakan penduduk asli Kalbar adalah Dayak. Ada 4 mekanisme. Sekarang Melayu mengakui penderitaan Dayak di masa lalu yang mendorong mereka untuk mengkompensasi hal itu. Perubahan yang dramatik juga terjadi antara Dayak dan Melayu. dan mengakui bahwa Dayak tidak perlu kehilangan identitasnya ketika mereka beralih ke agama Islam. Di masa lalu. mereka memaksa setiap . Sebelum Dayak dan Melayu mengambil tindakan secara kolektif. Di masa lalu para pemimpin cenderung mengadakan pertemuan internal di antara kelompok etniknya sendiri. wacana tidak berhubungan langsung dengan kekerasan etnik atau perdamaian etnik. Sebelum terjadinya kekerasan etnik. mereka melihat variasi dan karakter positif. praktek yang berlaku adalah kelompok etnik yang menjadi korban bertindak sebagai pihak yang mengeksekusi hukuman kepada seluruh anggota kelompok etniknya. dan sebagainya. Dan yang paling menarik. antara yang berasal dari pantai Barat dan Timur. Mekanisme kedua adalah penerapan hukum adat. Mekanisme sosial merujuk kepada tindakan para aktor yang secara sadar memang ditujukan untuk mencegah kekerasan etnik sejak dini. masing-masing kelompok etnik melihat kelompok lainnya seakan seragam dan hanya memiliki karakter negatif yang sama. Dengan kata lain. kelompok-kelompok etnik lain di luar Dayak. namun sesudah insiden yang memakan banyak korban itu terjadi. berbeda secara kontras sedemikian sehingga hanya Dayak yang memiliki monopoli dalam segala bidang kehidupan. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini. bersedia untuk menerima keberlakuan hukum adat dikenakan pada diri anggota mereka yang melanggar. Sekarang mereka mau mengakui bahwa sebenarnya Melayu juga merupakan saudara mereka sendiri yang beralih agama dan karena itu juga merupakan penduduk asli. Kristen. yakni dengan mengendalikan tindak pidana inter-etnik yang merupakan pemicu terjadinya kekerasan etnik. Dulu Melayu mengganggap Dayak sebagai pihak yang cenderung memaksakan kehendak dan memeluk agama Kristen. bertalian dengan konsepsi etnik. terutama Madura. namun sekarang ini. Melayu. penerapan sanksi internal. Hal ini paling jelas terlihat pada Madura. Madura dianggap secara umum sebagai orang-orang yang memiliki kecenderungan kriminal yang tinggi. mayoritas. Namun ada kecenderungan setelah dua insiden terakhir.Wacana merujuk kepada persepsi dan sikap para aktor terhadap situasi yang berkembang di lingkungannya. Mekanisme ketiga adalah komunikasi antara pemimpin melalui berbagai kelompok etnik masing-masing. Di masa lalu. Melayu dan Cina. antara pesisir dan pedalaman. Mekanisme pertama. Pemerintah dan aparat keamanan mengumpulkan berbagai orang yang dianggap sebagai pemimpin kelompok etnik. Seperti situasi. Madura mengambil tindakan lebih dulu dengan berusaha menekan atau menangkap anggotanya yang diduga telah melakukan tindak pidana inter-etnik kepada Dayak atau Melayu. bersedia berbagi kekuasaan dengan mereka. penerapan sanksi menjadi internal. Dulu Dayak selalu mengklaim bahwa hanya dirinya merupakan penduduk asli. Hal itu paling jelas terlihat pada pada konsepsi Madura. Pertama. Ini paling jelas terlihat di kalangan Dayak. Ada 4 jenis wacana yang berkembang sebelum dan sesudah kekerasan etnik.

Tidak ada alat penegak kekuasaan yang kasat mata. masalah kriminal individual telah berkembang menjadi kriminal kelompok etnik. tentara. militer cenderung menyelesaikan permasalahan dengan mengadu satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. Di lain pihak institusi adat merupakan entitas yang relatif sangat kecil. bupati hingga presiden. Bagus Suratmoko menemukan interaksi harmonis antara kelompok Dayak Salako dan kelompok Melayu di kampung Sasak Sambas. 2. kewilayahannya hanya sampai ke batas binua. Sebagai akibatnya. berfungsinya mekanisme lokal adat Dayak dalam menyelesaikan konflik-konflik sosial di Desa tersebut dan didukung oleh kuatnya kharisma pemimpin lokal orang Dayak di desa tersebut. kekerasan etnik terjadi ketika militer dalam posisi yang dominan. ada kecenderungan pemimpin kelompok etnik sendiri berusaha untuk mengambil inisiatif sejak awal untuk saling berhubungan. Institusi desa merepresentasikan negara sedangkan institusi adat merupakan bagian dari kesejarahan dan organisasi rakyat yang masih hidup. Namun. jaksa. Institusi desa merupakan bagian kecil dari badan yang lebih besar. Dalam beberapa tahun terakhir ini. namun karena polisi masih merupakan bagian dari militer. kultur dan religi yang berbeda.pemimpin untuk menandatangani kesepakatan damai inter-etnik. Dalam kapasitasnya yang semacam itu. jumlah populasi dalam kelompok yang tidak seimbang dan latar belakang sejarah maupun situasi politik kabupaten maupun propinsi—yang paling tidak dipersepsikan—tidak seimbang merupakan titik-titik sensitif dalam hubungan relasional kedua kelompok tersebut. Kemampuan komunitas Sasak dalam menjaga relasi ini terletak pada kreativitas mereka dalam menjaga “otonomi” dalam kepemimpinan masing-masing kelompok. teritori ini hanya kira-kira mencakup empat perlima wilayah geografis kecamatan. “Kepemimpinan” tertinggi dipegang oleh orang biasa yang berkedudukan di kampung. Kecamatan Kuala mandor B. Dua kelompok itu memang secara bersama-sama membentuk Kampung Sasak. tidak profesional dan polisi merupakan bagian yang integral dalam militer. Namun dua komponen komunitas Kampung Sasak ini hingga sekarang dapat menjaga hubungan yang harmonis yang jauh dari upaya rekayasa supaya “nampak baik” oleh orang luar. camat. Kabupaten Pontianak. Kendati perannya sudah banyak berkurang pada 1990-an. Alatalat penegak kekuasaan dan aturan sangat kuat: polisi. STUDI RELASI ETNIK YPB Peneliti menemukan bahwa kehidupan bersama antara orang Dayak dan Madura berlangsung baik di Desa Retok. Secara geo-sosial. karena Adaptasi orang Madura yang demikian baik dengan penduduk lokal. Simbolsimbol yang dibawanya sangat jelas. menyebabkan penanganan aparat keamanan terhadap tidak pidana inter-etnik tidak berjalan secara efektif. Aturan mainnya merupakan sesuatu yang tersistem dengan baik. Hal itu terlihat paling jelas dalam Insiden 1967. dan mencegah para angotanya untuk bertindak main hakim sendiri. Dalam hal masyarakat Dayak Salako di daerah ini. Dampak dari perubahan peran aparat keamanan. dari kepala desa. Relasi yang lain adalah antara institusi adat dan institusi desa. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya insiden 1997 dan 1999. Alat kekuasaan ini lebih bersifat moral spiritual yaitu . Di masa lalu. hakim.

Kecamatan Sebangki 21 kasus dan Kecamatan Menjalin 25 kasus. Mempawah Hulu dan Sebangki) Dari delapan aspek peta yang diteliti. . Dari 35 kasus konflik kolektive 8 kasus diantaranya adalah kasus konflik dengan karakteristik konflik kolektive antar anggota komunitas etnik. Kecamatan Mempawah Hulu 33 kasus. Dijalankannya politik diskriminatif yang memarginalkan Dayak sebagai penduduk asli dan memberi peluang yang besar kepada etnik Melayu dan etnik pendatang lainya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik selama Orde baru berkuasa. Kepemimpinan dalam institusi ini yang hingga kini “tidak bercacat” dalam menjaga moral tidak hanya mempertahankan kepercayaan orang banyak. tercatat setidaknya 44. yang mempunyai fungsi sebagai penghubung komunitas dengan “entitas politik eksternal” yang pada saat sekarang ditransformasikan pada jabatan kepala desa. Bahkan di samping semua hal tersebut. tetapi juga memperkuat rasa percaya diri institusi ini. 3.30% dari total kasus konflik atau setara dengan 35 kasus. STUDI TENTANG PETA KONFLIK PADA ARAS LOKAL DI 3 KECAMATAN (Menjalin. Ini dinampakkan dari cara institusi ini menempatkan dirinya. Dari total 79 kasus konflik. Namun bahkan dalam situasi seperti ini. institusi ini tetap menampakkan kearifannya. Pertarungan politik identitas antar berbagai etnik yang dominan b. 13 kasus konflik kolektive inter anggota komunitas etnik dan sisanya bersifat campuran. Terciptanya jabatan tuha laut pada jaman Belanda. pengaruh sejarah sejak masa kolonial hingga pemerintahan represif Orde Baru yang selalu membenturkan etnik asli berdasarkan agama atau SARA c. disimpulkan bahwa pada aras makro konflikkekerasan antar etnik yang sering terjadi di daerah ini karena adanya a. hubungan relasi yang tidak seimbang telah tercipta yaitu dengan tidak terakomodasikannya institusi adat ini di dalam institusi desa dan tidak diakuinya secara formal institusi ini dalam sistem hukum negara. konflik-kekerasan pada level komunitas dapat dijelaskan sebagai berikut : ditemukan 79 jenis kasus konflik sepanjang tahun 1999 s/d Juli 2004 (5 tahun) di tiga kecamatan tersebut. dengan proporsi konstribusi dalam kategori lima besar adalah sebagai berikut 1) Perebutan akses sumber daya alam memberikan konstribusi sebesar 20% dari seluruh kasus. Keseluruhan kasus konflik tersebut dipicu oleh 22 faktor. adalah kasus konflik yang bersifat kolektive dengan proporsi distribusi pada masing-masing kecamatan sebagai berikut. merupakan bentuk kreativitas dalam menempatkan jabatan spiritual sebagai “lebih tinggi” daripada jabatan politis dan dengan demikian menjaga hubungan relasional yang seimbang dan harmonis. Sedangkan pada aras mikro.pada keyakinan pada hubungan-hubungan yang seimbang antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam dan hubungan yang seimbang antara manusia dengan penciptanya. Kreativitas institusi ini dalam membaca situasi politik tidak terlepas dari sejarah. Konsistensi institusi adat yang menempatkan dirinya pada ranah moral spiritual menyebabkan institusi ini masih hidup di komunitas ini.

Tercatat bahwa pada bulan Maret terjadi kasus paling banyak yaitu sebesar 25 %. Setelah anggota komunitas sub etnik Dayak. tetapi jika dilihat dari proporsi jumlah pelaku cenderung lebih tinggi ketimbang jumlah korban. tercatat bahwa komunitas anggota komunitas sub etnik Dayak adalah pelaku sekaligus korban terbesar dari 79 kasus konflik sepanjang tahun 1999 sampai Juli 2004. Menarik untuk dicermati “penyakit miras dan judi”. disusul kemudian bulan Agustus sebesar 14%. Menarik untuk dicermati komunitas ini lebih cenderung menjadi pelaku ketimbang menjadi korban. Meski sama-sama menempati posisi kedua. pelaku dan juga korban terbesar kedua adalah Anggota Komuitas Etnik Melayu. dengan presentase sebesar 27 dan 24%. Pada saat inipula tercipta sebuah peluang bisnis baru dadakan termasuk diantaranya adalah bisnis minuman keras dan judi. sifat dan karakter pada satu titik yang sama. Aktivitas dimaksud adalah aktivitas seperti penyelenggaraan pesta yang disertai dengan hiburan-hiburan (kesenian tradisional atau musicmusic moderen/dangdutan) dan berbagai bentuk pertandingan khususnya dalam menyambut perayaan HUT RI. tiga kecamatan ini mempunyai kesamaan pada waktu (bulan) terjadinya kasus. Sama halnya dengan komunitas sub etnik Dayak. dan Agustus. Tercatat bahwa ada bulan-bulan tertentu jumlah terjadinya kasus konflik relatif tinggi. . judi dan miras. berdasarkan hasil telahaan dalam studi ini kami menemukan bahwa pada bulan ini masyarakat mempunyai kebiasaan untuk mengadakan berbagai aktivitas yang sifatnya mengundang kehadiran kerumunan massa pada satu “titik” tertentu. sebesar 5%.. 3) Miras disertai judi dan dendam memberikan konstribusi yang sama yaitu sebesar 9 %. keduanya menjadi pemicu konflik sebesar 6% dari 79 kasus dan kategori lima besar terakhir adalah masalah judi. yang cenderung diwartakan sebagai pelaku dibanyak kasus konflik kekerasan. juga cenderung lebih banyak menjuadi korban ketimbang menjadi pelaku. Mengapa kasus konflik banyak terjadi pada bulan-bulan ini. berdasarkan telaahan dari studi ini. Data ini setidaknya sedikit menepis streotype terhadap etnik ini. ternyata adalah salah satu pemicu terbesar dari konflik-konflik yang pernah terjadi. Dua kata terakhir. secara terpisah ternyata adalah faktor pemicu yang perlu mendapat perhatian lebih terlebih jika 2 penyakit sosial ini “beriringan” maka akan tampak bahwa kedua hal ini akan menjadi faktor pemicu utama dari kasus-kasus konflik Ditinjau dari pengaruh kebiasaan masyarakat berdasarkan kalender musiman kami menemukan bahwa. Dari lima besar pemicu konflik tampak bahwa miras dan judi. Bulan-bulan yang dimaksud adalah bulan Februari. komunitas etnik Madura. Mei 12% dan Februari sebesar 11%. dengan presentase sebesar 44 % dan 51% (lebih dari separuhnya korban kasus). Dengan kata lain pada momentum inilah berkumpul berbagai manusia dengan berbagai kepentingan. dari total kasus. Maret.2) Minuman keras (miras) sebesar 15%. Mei. setidaknya untuk tiga kecamatan ini. 4) Dendam dan masalah politik. Dalam perspektif etnisitas pelaku dan korban pada seluruh kasus.

disusul etnik Melayu.Secara umum kecenderungan sebuah komunitas etnik dalam posisi sebagai pelaku maupun korban. Sedangkan siapa yang menjadi pelaku pada setiap kasus yang terjadi berdasarkan status pekerjaan. akan lebih banyak petaninya ketimbang pelajar. Grafik yang terus meningkat memberikan “early warning”. Dengan kata lain. tetapi yang menarik adalah kalangan pelajar. Artinya meskipun mereka (pelajar) adalah kelompok kecil. yang pada umumnya adalah petani. ditemukan bahwa intensitas terjadinya kasus dari tahun ke tahun. Berdasarkan tingkat pendidikan. tercatat bahwa pelajar dan petani adalah pelaku kasus terbanyak dengan presentase yang sama yaitu sebesar 28%. disusul kemudian orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Orang Madura yang biasa . tercatat 32% nya dari 85 pelaku rata-rata berpendidikan SLTA. agar kasus-kasus konflik tersebut tidak terus menerus meningkat dan kemudian terakumulasi menjadi konflik kekerasan 4 PENELITIAN AKADEMIK LAINNYA Interaksi Etnik Madura dan etnik Dayak di desa ini dilandasi oleh pencitraan yang tidak terlepas dari sistem makna dan sistem nilai yang dipegang oleh orang Dayak Kanayatn dalam menanggapi orang Madura di Desa tersebut. Sedangkan berdasarkan status pekerjaan. sejalan dengan proporsi penyebaran penduduk pada tiga kecamatan ini. sebanyak 21%. tingkat pendidikan dan usia. Jawa dan Madura. Tercatat ditiga kecamatan ini komunitas sub etnik Dayak (Dayak Kanayatn) adalah etnik yang paling mendominasi. Dari telaahan di atas ternyata pendidikan tanggung dan tidak berpendidikan sama sekali. kepada kita bahwa perlu adanya penanganan yang cukup serius. Mengapa kalangan anak muda yang paling banyak terlibat konflik ?. dimana pada tataran usia disebut diatas temperamental emosional relatif tinggi. Pelaku dengan pendidikan relatif tinggi cenderung memberikan konstribusi yang kecil untuk menjadi pelaku. kami meyakini salah satu faktor tersebut berasal dari faktor psikologis. bahwa sebagian besar pelaku kasus konflik berasal dari kalangan anak muda. SLTP sebanyak 18% dan SD 13%. Tercatat bahwa dari 85 pelaku kasus konflik 32%nya berusia antara 15-25 Th. Data peningkatan kuantitas kasus ditunjukan dengan grafik halaman 93 pada tulisan ini. Tentunya jika diperbandingkan antara jumlah petani dengan jumlah pelajar di kecamatan ini. tetapi konstribusinya sebagai pelaku kasus sangat tinggi. dalam membentuk karaketer seseorang dalam mengelola konflik. Pada bagian terakhir analisis ini. khususnya dalam membantu masyarakat untuk mengelola konflik ditataran komunitasnya masing-masing. dan secara berturut-turut disusul oleh pelaku yang berusia 26-35 Th dan 46 th ke atas. Banyaknya jumlah petani yang menjadi pelaku konflik berbanding lurus dengan pekerjaan mayoritas penduduk di tiga kecamatan ini. samasama “berbahaya”. cenderung mengalami peningkatan yang cukup siginifikan. pelaku kasus terbanyak berasal dari kalangan orang yang berpendidikan setingkat SLTA.

Tak heran bila mereka berperang seperti kerasukan (trance). bibit tanaman. kesenjangan Ekonomi dan kecemburuan Sosial. b. bila harga diri mereka terusik. juga persoalan kesenjangan sosial. Jika sudah begitu. katanya. orang Dayak hanya gigit jari melihat pemberian hak istimewa itu”. setiap lakilaki Dayak usia dewasa wajib ikut perang. dan punya kebiasaan membawa senjata tajam. ketidakmampuan pendatang dalam menyesuaikan diri dengan budaya setempat. mereka selalu melakukan upacara magis. Perbedaan Budaya antar kedua Etnis. Uraian berikutnya lihat tabel 1 berikut : Dari segi budaya. perkelahian antar masyarakat itu tak bisa dilepas dari perbedaan karakter. Sesuai adat. tradisi dan adat. yaitu: a. Interaksi Sosial Etnik Dayak dengan Etnik Madura selama ini dilandasi oleh pencitraan yang tidak terlepas dari sistem makna dan sistem nilai yang dipegang oleh orang Dayak Kanayatn dalam menanggapi orang Madura di Desa Desa di Kalimantan Barat. seluruh komunitas Dayak akan lansung terlibat. beredarlah “mangkok merah” di kalangan masyarakat Dayak. B. karena warga tansmigran 1980-an diberi tanah dua hektar. Kejengkelan orang Dayak dialihkan kepada orang Madura. alat bertani. mudah tersinggung. Sedangkan sifat orang Dayak umumnya introvert dan lebih banyak mengalah. Sementara itu. sebagai pertanda dimulainya perang antar suku. Penelitian lain menemukan bahwa interaksi sosial antar warga berbagai suku bangsa di desa ini berlangsung baik karena berlakunya pranata-pranata sosial umum lokal dalam mengatur interaksi sosial dan proses perjalanan sejarah yang ditopang oleh faktor kepemimpinan lokal. Kepada orang Dayak dan Melayu . Ada tiga penyebab utama konflik. memanggil roh nenek moyang dan dewa-dewa. Namun. Orang Madura yang biasa melakukan tindakan kekerasan berulang kali di daerah ini ini telah membenarkan pemaknaan yang ada pada diri orang Dayak bahwa orang Madura menghalalkan kekerasan dan pembunuhan dalam menyelesaikan masalah.melakukan carok berulang kali di Desa ini telah membenarkan pemaknaan yang ada pada diri orang Dayak bahwa orang Madura menghalalkan kekerasan dan pembunuhan dalam menyelesaikan masalah. pupuk dan jaminan hidup. c. Namun. yang lebih bisa menjelaskan hal ini adalah persoalan ekonomi. Yang juga membuat orang Dayak berubah menjadi militan adalah karena setiap kali mau perang. ”orang pendatang umumnya keras. Peneliti-peneliti lainnya juga telah berhasil menemukan sejumlah hal tentang penyebab konflik selama ini. KESIMPULAN DARI STUDI STUDI DIATAS 1. Untuk itu penulis merekomendasikan agar secara internal orang Madura perlu upaya bersungguhsungguh untuk mengurangi kadar stereotif seperti ini.

satu titik waktu dimana rezim Orde Baru segera akan berakhir. Kec. Kehidupan bersama antara orang Dayak dan Madura berlangsung baik di banyak Desa Kecamatan Kuala mandor B. Hal ini menyiratkan bahwa Semua etnik di Kalbar sesungguhnya dapat hidup berdampingan. Sebangki karena Adaptasi orang Madura yang demikian baik dengan penduduk lokal.desa tersebut dan didukung oleh kuatnya kharisma pemimpin lokal orang Dayak maupun orang madura di desa-desa tersebut. hendaknya tidak mudah di provokasi untuk melakukan tindakan konflik-kekerasan. satu titik waktu dimana rezim Orde Lama beralih ke Orde Baru. Yang rugi dari setiap kekerasan yang terjadi di daerah ini adalah rakyat Kalbar sendiri. beberapa sub-etnik Dayak melakukan ethnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Bengkayang. dan Sanggau. Landak. Dari temuan ini. Kedua. dari Januari hingga Februari 1997. satu sub-etnik Melayu melakukan etnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Sambas terjadi dari Februari hingga Maret 1999. satu titik waktu dimana Orde Reformasi baru mulai berdiri. Dan ketiga. Penulis merekomendasikan kepada pemerintah daerah agar mendukung kegiatan-kegiatan rakyat di daerah-daerah seperti ini supaya mereka dapat hidup lebih baik lagi sambil terus mempertahankan kehidupan harmonis yang sudah terjalin. Ambawang. Pertama. Insiden itu berlangsung sekitar 2 bulan. Ada 3 insiden kekerasan etnik di Kalbar yang terjadinya persis diantara waktu peralihan Rezim pemerintahan nasional sedang berganti. dan Sanggau. Insiden itu terjadi Oktober hingga November 1967. Bengkayang. Kec. yakni di wilayah Sambas. beberapa sub-etnik Dayak melakukan ethnic cleansing terhadap sekelompok Cina yang tinggal di pedalaman. Pemerintah daerah dituntut untuk membuat kebijakan yang adil untuk semua etnik (kebijakan sensitif etnik). Landak. di sekitar perbatasan dengan Malaysia. Penulis tidak merekomendasikan kebijakan berupa relokasi yang tersegregasi dengan etnik lain. berfungsinya mekanisme lokal adat Dayak dalam menyelesaikan konflik-konflik sosial di Desa. seluruh Etnik yang tinggal di Kalbar. 2. karena bisa jadi provokasi-provokasi yang ada adalah tanda-tanda untuk terjadinya peralihan rezim di tingkat Nasional. .penulis merekomendasikan agar komunikasi dan interaksi dengan orang Madura perlu terus ditingkatkan. yang diperlukan sekarang adalah upaya untuk memperkuat modal sosial yang mempererat tali silaturahmi tersebut. 3. karena hal ini secara jelas mencitrakan bahwa antar etnik tidak dapat hidup berdampingan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->