DEGRADASI TANAH

Oleh : Evi Andriani Mahasiswa PascaSarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (S2) Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Abstrak Indonesia merupakan bagian dari ekosistem tropika basah yang tergolong sangat rentan terhadap degradasi tanah jika pengelolaannya tidak tepat. Degradasi tanah di lingkungan tropika cukup besar bila ditinjau dari faktor pembentuk tanah dan akibat aktivitas manusia dalam pengelolaan lahan yang tidak sesuai dengan kaidah konervasi lingkungan. Umumnya faktor-faktor penyebab degradasi baik secara alami maupun campur tangan manusia menimbulkan kerusakan dan menurunnya produktivitas tanah. Lima proses utama yang terjadi akibat timbulnya tanah terdegradasi, yaitu: menurunnya bahan kandungan bahan organik tanah, perpindahan liat, memburuknya struktur dan pemadatan tanah, erosi tanah, deplesi dan pencucian unsur hara. Faktor degradasi tanah dan proses tejadinya degradasi tanah mutlak untuk dikenali sehingga upaya rehabilitasi tanah terdegradasi dapat dilakukan dengan tepat sesuai kerusakan spesipik tanah terdegradasi. Rehabilitasi tanah terdegradasi merupakan upaya memperpendek tercapainya kerusakan sifat fisik, kimia dan biologi tanah, yaitu kondisi tanah semula sebelum terjadi degradasi. Rehabilitasi juga berdampak meningkatkan produktivitas tanah terdegradasi sehingga mampu mendukung sistem usahatani. Kata kunci : degradasi, tanah, rehabilitasi

Pendahuluan
Indonesia merupakan bagian dari ekosistem tropika basah yang tergolong sangat rentan terhadap degradasi jika pengelolaannya tidak tepat. Ekosistem tropika basah meliputi areal sekitar 1,5 milyar hektar lahan dengan populasi manusia sekitar 2 milyar, yang tersebar dalam 60 negara. Dua pupuh lima persen areal tersebut terdapat di Asia. Tanah-tanah lahan kering tropika basah merupakan tanah yang rentan terhadap degradasi, selain disebabkan faktor alami juga akibat campur tangan manusia (Pujianto, 2001). Umumnya faktor-faktor penyebab degradasi tersebut baik secara alami maupun campur tangan manusia menimbulkan kerusakan dan menurunnya produktivitas tanah. Defenisi degradasi tanah cukup banyak diungkapkan oleh para pakar tanah, namun kesemuanya menunjukkan penurunan atau memburuknya sifat-sifat tanah apabila dibandingkan dengan tanah tidak terdegradasi. Degradasi tanah menurut FAO adalah hasil satu atau lebih proses terjadinya penurunan kemampuan tanah secara aktual maupun potensial untuk memproduksi barang dan jasa. Defenisi tersebut menunjukkan pengertian umum dengan cakupan luas tidak hanya berkaitan dengan pertanian (Firmansyah, 2003).

overgrazing. penggunaan bahan kimia pertanian. masalah kesehatan. tanah yang muda rusak. dan umumnya tergantung dari aktivitas berikutnya apakah ditolerenkan. 2003). masalah kepemilikan lahan. pada tahun 1989 FAO membentuk Expert Consultation of the Asian Nerwok on Problom Soil. 2003). yaitu : deforestasi. Lima faktor penyebab degradasi tanah akibat campur tangan manusia secara langsung. digunakan ladang atau perkebunan maka akan terjadi pembakaran akibat campur tangan manusia yang tidak terkendali (Firmansyah. 2003). antara lain : deforestasi. Lahan subur untuk pertanian banyak beralih fungsi menjadi lahan non pertanian. kondisi sosial dan ekonomi. . 2000).Masalah degradasi sifat-sifat tanah dirasakan makin begitu penting belakangan ini. semakin lama semakin meningkat. Badan Dunia seperti FAO turut mengambil langkah kongkrit untuk membantu mengurangi laju peningkatan luas tanah yang mengalami penurunan sifat-sifatnya. ekploitasi berlebihan. aktivitas pertanian. kemiskinan penduduk. Oleh karena itu tanah yang terdegradasi perlu dilakukan upaya rehabilitasi. marjinalisasi penduduk. dan lain-lain. Faktor degradasi tanah akibat campur tangan manusia baik langsung maupun tidak langsung lebih mendominasi dibandingkan faktor alami. baik oleh ulah manusia maupun karena ganguan alam. Sedangkan faktor penyebab tanah terdegradasi dan rendahnya produktivitas. degradasi sifat kimia berupa penurunan kadar bahan organik tanah dan pencucian unsur hara. kebakaran. serta aktivitas industri dan bioindustri. dan pengembangan pertanian yang tidak tepat. media pengatur tata air maupun sebagai unsur perlindungan lingkungan (Latifah. 2005). curah hujan intensif. Badan ini bertemu secara rutin untuk membahas langkah-langkah guna mengurangi degradasi tanah di kawasan Asia (Firmansyah. serta upaya memperpendek tercapainya resiliensi melalui upaya rehabilitasi tanah terdegradasi. Dari rehabilitasi ini di harapkan dapat memperbaiki (memulihkan). Sebagai akibatnya kegiatan-kegiatan budidaya pertanian bergeser ke lahan-lahan kritis yang memerlukan infut tinggi dan mahal untuk menghasilkan produk pangan yang berkualitas (Mahfuz. Faktor-faktor tersebut di Indonesia pada umumnya terjadi secara simultan. Degradasi tanah dan lingkungan. Menurut Firmansyah (2003) faktor alami penyebab degradasi tanah antara lain: areal berlereng curam. Faktor-Faktor terjadinya Degradasi Tanah Degradasi tanah pada umumnya disebabkan karena 2 hal yaitu faktor alami dan akibat faktor campur tangan manusia. Makin intensif penggunaan suatu lahan. Degradasi tanah biasanya dievaluasi dari sifat fisik dan kimia tanah. mekanisme dalam usaha tani. baik sebagai unsur produksi. meningkatkan dan mempertahankan kondisi tanah yang rusak agar berfungsi secara optimal. Melalui Regional Office for Asia and the Pacific. antar lain: perubahan populasi. makin rendah kandungan bahan organik tanah. proses dan karakteristik tanah terdegradasi. dan penanaman secara monokultur (Lal. Perubahan penggunaan lahan dan pola pengelolaan tanah menyebabkan perubahan kandungan bahan organik tanah. ketidakstabilan politik dan kesalahan pengelolaan. Menurut Firmansyah (2003) bentuk degradasi tanah yang terpenting di kawasan Asia antara lain adalah erosi tanah. Makalah ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor terjadinya degradasi tanah. sebab deforestasi umumnya adalah langkah permulaan degradasi lahan.

Pada sistem usaha tani tebas dan bakar atau perladangan berpindah masih tergantung pada lama waktu bera agar tergolong sistem usaha yang berkelanjutan secara ekologis.496 ha (Dephut. K+. Kebakaran menyebabkan perubahan warna agregat luar memiliki hue dan chroma lebih rendah dan hue menjadi lebih merah dibandingkan warna dalam agregat. sedangkan erosi akibat kebakaran dapat berkisar sekitar 56 dan 45 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tanah tidak terbakar masingmasing pada intensitas tinggi dan sedang (Garcia et a. Dibandingkan tanah non terdegradsai. Secara khusus disebutkan bahwa sistem tersebut pada beberapa daerah marjinal dan tekanan populas terhdap lahan cukup tinggi. sebab kesuburan tanah berubah lebih cepat darpada warna tanah (Firmansyah. kebutuhan ekonomi makin meningkat mengakibatkan masa bera makin singkat sehingga sangat merusak dan menyebabkan degradasi tanah dan lingkungan. 2003). 56% lebih rendah biomass mikroba. data menunjukkan bahwa luas kebakaran hutan pada tahun 2002 sebesar 35. Karakteristik Tanah yang Terdegradasi .2 juta ha (Dephut. Na+. 2003). subsoil menjadi media tumbuh tanaman. Nilai pH non terdegradasi lebih tinggi daripada tanah terdegradasi. Kebakaran hutan seringkali terjadi di Indonesia. persentase Al tinggi.Umumnya faktor-faktor penyebab degradasi baik secara alami maupun campur tangan manusia menimbulkan kerusakan dan penurunan produktivitas tanah. 55% lebih rendah basa-basa dapat ditukar. KTK dan Ca2+. 2000). Deforstasi mengakibatkan penuruna sifat tanah. Selama itu terjadi penurunan Cadd dan meningkatkan kejenuhan Al. Penggunaan warna tanah setelah kebakaran untuk menduga kesuburan tanah sangat terbatas. sedangkan luas lahan kritis pada awal tahun 2000 keseluruhan seluas 23. Degradasi lahan akibat land clearing dan penggunaan tanah untuk pertanaman secara terus-menerus selama 17 tahun memicu hilangnya biotan tanah dan memburuknya sifat fisik dan kimia tanah. Mg2+. dan tingginya konsentrasi Al pada tingkat meracun serta rendahnya kejenuhan basa mendorong penurunan produksi tanaman (Firmansyah. serta bahan organik. Kebakaran juga menyebabkan meningkatnya ammonium. sebaliknya 13% lebih tinggi berat isi dan 14% pasir. maka terdegradasi lebi rendah 38% C organik tanah. menurunya nitrat. P tersedia. 44% lebih rendah kerapatan mikroartropoda.l. Tanah menjadi subyek erosi. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa setelah 5 tahun sejak pembakaran maka konsentrasi unsur hara menurun. 2000). Begitu pula ditemukan bahwa dekomposisi daun dan pelepasan unsur hara lebih rendah pada tanah terdegradasi daripada non terdegradasi selama 150 percobaan (Firmansyah.6 juta ha per tahun. Pengaruh antropogenik terhadap degradasi tanah akan sangat tinggi apabila tanah diusahakan bukan untuk non pertanian. Akibat penimbunan permukaan tanah dengan tanah galian sumur tambnag emas di Sukabumi mengakibatkan penurunan status hara. 2003). Laju deforestrasi di Indonesia sebesar 1. dan merubah iklim mikro (Hidayati. Perhitungan kehilangan tanah yang ditambang untuk pembuatan bata merah sangat besar. 2003). dan persentase kejenuhan basa rendah di subsoil setelah 2-5 tahun kebakaran. Handayani (1999) menyatakan bahwa deforestrasi menyebabkan kemampuan tanah melepas N tersedia (amonium dan nitrat) menurun. 2003). menurunkan populasi mikroba dan artropoda tanah.

Oleh karenanya pemanfaatan tanah ini harus hati-hati dan disesuaikan dengan kemampuannya. 2003). 2002). Perbandingan tanah hutan sebagai tanah non terdegradasi karena memiliki siklus tertutup artinya semua unsur hara di dalam sistem tanah hutan berputar dan sangat sedikit yang hilang atau keluar dari sistem siklus hutan. Lima proses utama yang terjadi akibat timbulnya tanah yang terdegradasi. di daerah iklim panas daripada daerah dingin. Kemampuan tanah untuk mendukung kegiatan usaha pertanian atau pemanfaatn tertentu bervariasi menurut jenis tanah. di daerah kering daripada daerah basah. 2002). Proses terjadinya Degradasi Tanah Problem degradasi tanah dan lingkungan umumnya lebih parah di daerahdaerah tropis daripada daerah temperate. tanaman dan faktor lingkungan. erosi tanah. Selain itu terjadi penurunan intensitas mineralisasi N pada lahan pertanian sebesar 39% pada kedalaman tanah 0-10 cm. perpindahan liat. salinasi. 2002). Handayani (1999) menyatakan bahwa tanah Ultisol Bengkulu di vegetasi hutan habis tebang 4 bulan dan tanah pertanian yang diusahakan 3 tahun terjadi penurunan kemampuan menyediakan N anorganik sebesar 12-13% dubandingkan tanah hutan. kerusakan karena pertambangan dan aktivitas perkotan.Secara jujur pada umumnya kita lebih senang membanggakan kesuburan tanah kita dan keberhasilan pertanian dengan panen melimpah serta lingkungan yang indah dan berkualitas. yang jauh dari kemampuan kebanyakan para petani untuk menangkalnya (Adi. Padahal kenyataannya lahan pertanian kita terus terancam oleh degradasi dari segala arah. serta pengembalaan berlebih dan komtaminasi dari polutn industri (Widjaja. Namun degradasi lebih banyak disebabkan karena adanya pengaruh intervensi manusia dengan pengelolaan yang tidak mempertimbangkan kemampuan dan kesesuian suatu lahan. Mengingat begitu luasnya lahan kritis serta laju degradasi yang semakin tinggi. maka usaha-usaha restorasi dan menekan laju lahan kritis sudah menjadi kebutuhan yang cukup mendesak (Subiksa. Sehingga terkesan. memburuknya struktur dan pemadatan tanah. Konversi penggunaan lahan hutan ke lahan pertanian telah menyebabkan degradasi pada siklus N. agar tanah dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan tanpa merusak lingkungan (Subika. Penurunan sifat pada tanah untuk penggunaan non hutan akan menunjukkan memburuknya sifat-sifat dari tanah tersebut (Firmansyah. Hal ini menunjukkan bahwa tanah hutan mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah pertanian. bahwa kita melalaikan pelestarian usaha pertanian. Diperkirakan diseluruh dunia tanah terdegradasi sekitar 2 milyar hektar dan 75% berada di daerah tropis. menyebabkan tanah-tanah di Indonesia didominasi oleh tanah marginal dan rapuh serta mudah terdegradasi menjadi lahan kritis. Sebaliknya kita enggan membicarakan usaha pertanian yang suram atau menurunnya produkstivitas suatu lahan. Sedangkan selain tanah hutan merupakan sistem terbuka dimana siklus hara dapat hilang dari sistem tersebut. Karakteristik tanah terdegradasi umumnya diukur dengan membandingkan dengan tanah non terdegradasi yaitu tanah hutan. Kondisi iklim di Indonesia seperti curah hujan dan suhu yang tinggi. deplesi dan pencucian unsur . khususnya Indonesia bagian barat. Degradasi tanah dapat disebabkan oleh banyak proses. yaitu: menurunnya bahan kandungan bahan organik tanah. termasuk erosi tanah yang dipercepat. 2003).

dan erosi dipercepat. yaitu: 1) degradasi fisik yang berhubungan dengan memburuknya struktur tanah sehingga memicu pergerakan. dengan faktor penyebab adalah deforestasi. kandungan bahan organik (Sudirman dan Vadari. dan diperkirakan sekitar 38% pada lahan sangat kritis. kimia dan maupun biologi memiliki pengaruh terhadap penurunan produksi padi mencapai sekitar 22% pada lahan semi kitis. dan aktivitas industri (Firmansyah. kritis dan tanah yang sangat kritis. . 46%. Sehingga dihasilkan penurunan kapasitas tanah saat ini atau kedepan untuk mendukung kehidupan manusia (Firmansyah. 2003). 2000). Degradasi tanah berpengaruh terhadap penurunan produktivitas tanah.hara (Firmansyah. Faktor lingkungan tersebut menyangkut berbagai sifat fisik tanah seperti ketersediaan air. kehutanan dan pelestarian alam. Pengaruh Degradasi Tanah terhadap Produktivitas Dalam rangka rehabilitasi lahan-lahan kritis yang luasnya semakin besar di Indonesia serta meningkatnya produktivitas untuk keperluan pertanian. Tanah yang produktif harus dapat menyediakan lingkungan yang baik seperti udara dan air bagi pertumbuhan akar tanaman disamping harus mampu menyediakan unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman tersebut. 2003). temperatur. dan 3) degradasi biologi yang berhubungan dengan menurunya kualitas dan kuantitas bahan organik tanah. pemadatan. 32 % pada lahan kritis. Derajat tipe degradasi terbagi menjadi rendah sedang. 2000). Tanah yang mengalami kerusakan baik kerusakan karena sifat fisik. salinasi dan polusi). dan degradasi fisik. 2) degradasi kimia yang berhubungan dengan terganggunya siklus C. aerasi dan struktur tanah yang baik (Mahfudz. 2003). Sedangkan untuk kacang tanah mengalami penurunan sekitar 9%. Klasipikasi tanah terdegradasi cukup banyak dimunculkan oleh para ahli diantaranya adalah GLASOD (Globall Aseeemen of Soil Degradation). 2) berdasarkan deterosiasi in situ terdiri dari degradasi kimia (hilangnya unsur hara/bahan organik. maka perlu dilakuakan upaya-upaya yang dapat yang dapat memodifikasi lingkungan tersebut (Subiksa. overgrazing. ekspoitasi berlebihan. P. S dan unsur-unsur lainnya. Sifat tanah yang berkorelasi nyata terhadap produksi padi adalah kedalaman solum. N. suatu proyek yang dirancang UNEP. Khusus untuk tanah-tanah tropika basa terdapat tiga proses penting yang menyebabkan terjadinya degradasi tanah. kuat dan ektrim. aktivitas biotik dan keragaman spesies fauna tanah yang juga menurun ikut menurun (Lal. Tipe degradasi tanah dibagi 2 macam. Kehilanagn produktivitas dicirikan dengan terjadinya erosi akibat tanah terdegradasi diperkirakan 272 juta Mg pangan dunia hilang berdasarkan tingkat produksi tahun 1996 (Lal. perkebunan. 2002). yaitu : 1) berhubungan dengan displasemen bahan tanah yang terdiri dari erosi air dan erosi angin. 58% masing-masing pada tanah semi kritis. kesalahan pengelolan pertanian. Klasipikasi GLASOD didasarkan atas keseimbangan antara kekuatan rusak iklim dan resisensi alami kelerengan terhadap kekuatan merusak akibat intervensi manusia. Klasifikasi Tanah yang Terdegradasi Tanah merupakan faktor lingkungan penting yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbuh di atasnya. 2003). aliran banjir berlebihan. 2000).

meningkatkan cadangan hara dan mekanisme siklus hara. Proses degradasi di lahan kering antara lain memburuknya struktur tanah. sedangkan resiliensi merupakan kemampuan sangga tanah atau ketahanan tanah terhadap perubahan. (2) lahan yang berlereng curam. 2) melakukan kuantifikasi terpadu mekanisme recovery setelah terjadinya gangguan. sedangkan Lal (2000) menyatakan bahwa resiliensi tanah tergantung pada keseimbangan antara restorasi tanah dan degradasi tanah. 2003). Selama gangguan.2 mm/thn yang mencakup areal 322 ribu hektar. selain erosi permukaan juga sering terjadi longsor yang sangat merusak tanah pertanian (Adi. Di Jawa Barat laju erosi mencapai 5. Hal ini terjadi karena: (1) curah hujan yang tinggi. atau dikembangkan menjadi recovery setelah gangguan. Berdasarkan penelitian Herrik dan Wander resiliensi tanah dapat dilakukan berdasarkan kuantifikasi percobaan melalui pengukuran lajunya. Kerusakan struktur tanah diawali dengan penurunan kestabilan agregat tanah sebagai akibat akibat dari pukulan air hujan dan kekuatan limpasan permukaan. di Jawa Tengah 15 mm/thn. kualitas tanah menjadi fungsi resistensi tanah. dan 3) mengukur sifat-sifat yang mendukung indikator mekanisme recovery tersebut. Resiliensi merupakan upaya dari rehabilitasi (Firmansyah. 2003). jika tanah tersebut mengalami degradasi atau terjadinya penurunan sifat-sifatnya dalam konteks dimensi waktu dan nilai. sedangkan resistensi ditunjukkan sebagai perbandingan kapasitas fungsi tanah setelah gangguan dan kapasitasnya sebelum terganggu. Laju erosi sebesar 1 mm/thn setara dengan kehilangan tanah sebanyak 10/ton/ha. Di beberapa wilayah pertanian. sedangkan setelah gangguan maka kualitas tanah merupakan fungsi dari resiliensi tanah (Firmansyah. Rehabilitasi pada Degradasi Sifat Fisik Tanah Degradasi sifat fisik tanah pada umumnya disebabkan karena memburuknya struktur tanah. karbon dan hara. dan (4) praktek pertanian tanpa disertai dengan adanya upaya pengendalian erosi. gangguan terhadap siklus air. Seybold (1999) menyatakan terdapat 3 pendekatan untuk mengkaji resiliensi tanah antara lain: 1) mengukur secara lngsung recovery setelah terjadinya gangguan. dan keragaman hayati.Pentingnya Rehabilitasi Tanah Terdegadasi dalam Upaya Memperpendek Tercapainya Resiliensi dan Meningkatkan Produktivitas Resilensi (resilience) merupakan gambaran ukuran kemampuan sistem tanah untuk kembali kepada kondis asli. Rehabilitasi tanah terdegradasi dapat ditinjau dari sifat tanah yang mengalami penurunan dan diupayakan dilakukan perbaikan dengan menggunakan amelioran. sedangkan restorasinya meliputi pembentukan mikroagregat mantap. 2003). degradasi sifat kimia berupa penurunan bahan organik tanah dan pencucian unsur hara. Menurut Firmansyah (2003) bentuk degradasi tanah yang terpenting di Kawasan Asia antara lain adalah adanya erosi tanah. . mekanisme humifikasi dan biomassa C tanah. di Jawa Timur sekitar 14 mm/thn. sedangkan resistensi tanah berhubungan dengan kualitas tanah dalam arti derajat perubahan tanah dalam fungsi tanah sebagai hasil gangguan. Degradasi tanah oleh proses erosi permukaan (sheet erosion) telah berlangsung sangat intensif dan meluas di Indonesia. dan di Lampung ditemukan laju erosi 3 mm/thn. Konsep resiliensi adalah mengevaluasi kemampuan tanah untuk kembali kepada tingkat penampilan semula. Resistensi tanah dalam istilah ini berhubungan dengan kulitas tanah dalam arti recovery fungsi tanah. (3) tanah peka erosi.

meningkatkan pH H20.64 menjadi 1. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa behan organik lebih efektif untuk tanah dengan kompaktilitas tinggi. Sehingga upaya perbaikan degradasi sifat fisik tanah mengarah terhadap perbaikan struktur tersebut (Suprayogo et al. Polyacrilamide (PAM) berberat molekul tinggi dan bermuatan negatif sedang mampu memantapkan permukaan tanah. yaitu meningkatkan aktivitas mikroba. penanaman tanaman penutup tanah yang cepat tumbuh. Rehabilitasi pada tanah terdegradasi yang dicirikan dengan penurunan sifat kimia dan biologi tanah umumnya tidak terlepas dari penurunan kandungan bahan organik tanah. degradasi sifat kimia berupa penurunan bahan organik tanah dan pencucian unsur hara (Firmansyah.. meningkatkan selisih pH. Pada saat hujan turun. menurunkan run-of dan erosi. Rehabilitasi terhadap Degradasi Sifat Kimia dan Biologi Tanah Perbaikan terhadap lahan yang terdegradasi meliputi penanaman dengan vegetasi asal. pori air tersedia. selain menyebabkan agregat tanah relatif mudah pecah juga menyebabkan terbentuknya kerak di permukaan tanah (soil crusting) yang mempunyai sifat padat dan keras bila kering. Rehabilitasi tanah terdegradasi dapat ditinjau dari sifat tanah yang mengalami penurunan dan diupayakan dilakukan perbaikan dengan menggunakan amelioran.10 Mg m-3 memilki pengaruh lebih besar daripada gambut terhumifikasi tinggi dengan BD 0.30 Mpa. ketahanan penetrsai maksimum tanah liat menurun dari 0. Untuk pengelolaan tanah.64 menjadi 0. 2003). dan (3) peningkatan diversitasi tanaman pohon dalam rangka meningkatkan jumlah dan penyebaran sistem perakaran (Suprayogo et al. Penurunan ketiga agen pengikat tanah tersebut. (2) meningkatan kandungan bahan organik tanah melalui peningkatan jumlah masukan seresah yang bervariasi kualitasnya. dan kemampuan tanah untuk mengalirkan air mengalami penurunan dan limpasan permukaan akan meningkat. 2003).. Pemberian dosis 20 Mg/ha dapat meningkatkan aerasi diatas 12%. Upaya perbaikan terhadap sifat tanah adalah dalam pemantapan agregat tanah yang memiliki tekstur lepas dengan menggunakan polimer organik. perbaikan aerasi tanah. aktivitas perakaran dan mikroorganisme tanah.29 Mg m-3 dalam menurunkan kompaktibilitas tanah. Pemberian bahan tersebut dapat memperbaiki sifat fisik tanah berupa peningkatan total ruang pori. sedangkan pada takaran 10 Mg/ha dapat memperbaiki ketahanan penetrasi (Firmansyah. Pemberian bahan organik jerami atau mucuna sebanyak 10 Mg/ha dapat memperbaiki sifat-sifat tanah. sehingga amelioran yang umum digunakan berupa bahan organik sebagai agen resiliensi. dan pada tanah berpasir meningkat dari 0. permeabilitas tanah dan menurunnya ketahanan penetrasi. Bentuk degradasi tanah yang terpenting di kawasan Asia antara lain adalah erosi tanah. disribusi pori tanah. kerak yang terbentuk di permukaan tanah juga menyebabkan penyumbatan pori tanah. 2001). Akibat proses penyumbatan pori tanah ini.08 Mpa. 2001). serta dengan penggunaan pupuk organik dan anorganik. porositas tanah. dengan cara menanam tanaman penutup tanah atau menanam berbagai jenis pohon. tiga strategi dasar yang perlu untuk disarankan adalah (1) eliminasi pengkerakan tanah atas melalui ”pengolahan dalam ” secara berkala.Penurunan kestabilan agregat tanah berkaintan dengan penurunan kandungan bahan organik tanah. Firmansyah (2003) menyatakan bahwa penggunaan gambut terhumipikasi rendah dengan BD 0. meningkatkan pH .

juga disebabkan karena pengkhelatan senyawa humit. Faktor degradasi tanah dapat terjadi secara alami dan dipercepat akibat aktivitas manusia seperti deporestasi. menurunkan Aldd dan meningkatkan C-organik tanah. dan perladangan berpindah. Peranan asam fulvik dalam mengkhelat Al jauh lebih tinggi dibandingkan asam humik sekitar tiga kalinya (Widjaja. Widhiastuti (2002) pemanfaatan limbah cair kelapa swit atau POME (Palm Oil Mill Efflunt) meningkatkan karbon mikroorganisme C-mic. Penggunaan amelioran. dan KTK tanah. tambang. 4. Ucapan terima kasih Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah bekerja sama dan membantu baik berupa saran ataupun pengumpulan bahan-bahan yang yang berhubungan dengan topik hingga selesainya penulisan makalah ilmiah ini. sebagai bahan organik merupakan salah satu upaya untuk rehabilitasi tanah terdegradasi.5 sedangkan bila karena keracunan Mn. Pengapuran umumnya ditujukan untuk menetralkan Aldd terutama pada tanaman yang peka terhadap keracunan Al. 3. DAFTAR PUSTAKA . 2002). Manik (2002) menyatakan bahwa tandan kosong kelapa sawit sebanyak 95 Mg/ha mampu meningkatkan pH tanah. Kesimpulan 1.0 (Firmansyah. 2003). Bahan organik sebagai bahan rehabilitasi juga didapat dari limbah. terutama limbah industri kelapa sawit yang banyak diluar pulau Jawa. Tingginya polifenol yang dihasilkan dari serasah daum mampu mengikat protein selama dekomposisi daun. hal tersebut merupakan peranan utama polifenol dalam bahan organik tanah dan peningkatan N pada tanah terdegradasi. Amelioran lain yang umum digunakan pada tanah-tanah tropika adalah kapur. kandungan P. maka pH perlu dinaikkan hingga 6. dengan kecenderungan makin lama limbah diaplikasikan kandungan C-mic makin meningkat. Penelitian lainnya yang menggunakan tanaman penutup tinggi ybahwa Leucochepphala dan Acacia leptocarpa merupakan spesies yang menjanjikan untuk ditanam saat masa bera dengan tujuan regenerasi tanah di tropika basah. Lal (2000) menyatakan bahwa dalam pertanian tradisional maka pemanfaatan cover crop pada masa bera dapat meningkatkan produktivitas tanah berliat aktivitas rendah di tropika basah diperkirakan dapat memfiksasi 172 kg/N dari atmosfir selama siklus 2 tahun. K. kebakaran hutan. meningkatkan pH 8. serta meningkatkan produksi tandan buah segar 16. Degradasi tanah menurunkan sifat-sifat tanah dan produktivitas tanah.2 atau KTK variabel yang tergantung pH. Penurunan Aldd selain disebabkan oleh kenaikan pH dan pengikatan oleh bahan-bahan tanah bermuatan negatif.3%. sehingga terjadi immobilisasi N. Rehabilitasi juga berdampak meningkatkan produktivitas tanah terdegradasi sehingga mampu mendukung sistem usahatani.NaF (mendorong pembentukan bahan anoganik tanah yang bersifat amorf). Biasanya meningkatkan pH tanah hingga 5. 2. Mg.

165(1):57-72 Latifah. Prosidng kongres Nasional VII HITI: pemanfaatn sumberdaya tanah sesuia dengan potensinya menuju keseimbanagan lingkungan hidup dalamrangka meningkatkan kesejahteraan rakyat.id. E. 2002. Prosiding Kongres Nasional VII HITI: pemanfaatan sumberdaya tanah sesuai potensinya menuju keseimbangan lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. dan J.triped. Kuantitas dan variasi nitrogen tersedia pada tanah setelah penebangan hutan. V.com/sem2-012/igm-subiksa. Tesis USU. Program Kehutanan.org. 1999. 2000. Brejda. S. 23 september 2003 Firmansyah.com/rudyet/indiv 2001/pujianto. J. C. M. Soil resilience: afundamental componenet of soil quality.co. 2001. 29 Maret 2009 pertanian Indonesia. Sudirman dan T. 2003. 14:111-115 Pujianto. E. J. http://www. Hal: 411-417 .id/. 2003. 2003. S. Tanah Trop. Andreu. 51:201-210 Handayani. Tanah Trop. Kegiatan reklamasi tanah pada bekas tambang. Pengaruh kekritisan lahan terhadap produksi padi dan kacang tanah di Garut Selatan. Herrick. Makalah pengantar falsapah sain. Resiliensi tanah terdegradasi. L. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Rejosari Lampung Selatan. Degradasi lahan pasca penambangan emas dan upaya reklamasinya: kasus penambangan emas Jampang-Sukabumi. Himpunan Tanah Indonesia. IPB Manik. A. 2002. nitrogen. 20 juli 2008. and J. Peningkatan produktivitas lahan kritis untuk pemenuhan pangan melalui usaha tani konservasi. http://www. http:// rudyet. Vadari. http://www. Universitas Sumatera Utara Mahfuz.. Seybold. 2003. Rubio. Makalah Falsafah Sains. Hal: 283294 Lal. K. Bandung 2-4 November 1999. S. Jurusan manajemen hutan. Susanto. European Jornal of Soil Science. J.htm. 2000. 164(4):224-234 Subiksa. E. Soil management in the developing countris.sinar tani- Dephut. dan Alfandi. J.hayatiip6. Soil science. I.Statistik Kehutanan. N. 23 Maret 2009. Soil Science. 8:215-226 Hidayati. S. Chanhe in organic matter. Sistem pertanian berkelanjutan di Indonesia. Bandung 2-4 Nopember 1999.Adi. Himpunan tanah Indonesia.htm. phosporous and cations in soil as aresult of fire and water erosion in a Mediteranean landscape. Degradasi tanah online. IPB Garcia. G. P. Pemanfaatan mikoriza untuk penanggulangan lahan kritis. 1999. Perubahan beberapa sifat kimia tanah akibat pemberian tandan kosong pada areal penanaman kelapa sawit di PT. A. 2000. 2000. I.dephut. K.

Pengaruh limbah cair pabrik pengolahan kelapa sawit yang digunakan sebagai pupuk terhadap sifat biologi dan kualitas air tanah. Aini. D.. R. 2002. F. Widianto.com/2009/04/12/degradasi-tanah/ . Khasanah.tripod. http://rudyct. R..Suprayogo.wordpress. Z. Kusumah. Jurnal Penelitian Pertanian. Jurnal Penelitian Pertanian Universitas Brawijaya. P. 6068 Widjaja. Degradasi sifat fisisk tanah sebagai akibat alih guna lahan hutan menjadi sistem kopi momokultur: kajian perubahan makro porositas tanah. Peningkatan karbon pada lahan terdegradasi. N. H. 21(2):105-111 Sumber Jurnal : http://uwityangyoyo. dan Z. 18 Oktober 2008 Widhiastuti.com/sem2 012/hermanu w.htm. H. Rusiana. Z. 2002. Widodo. 2001. Purnomosidi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful