ALIRAN JABARIYAH DAN QADARIYAH A.

Pendahuluan Persoalan Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini dalam ajaran Islam tampak jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di Mekkah. Pada periode Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang cukup kuat dibanding persoalan syari’at, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-Quran yang turun selama periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada masalah keimanan. Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam. Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan katakata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau ushuluddin, ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari agama. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan. Munculnya perbedaan antara umat Islam. Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi melainkan di bidang politik. Akan tetapi perselisihan politik ini, seiring dengan perjalanan waktu, meningkat menjadi persoalan teologi. Perbedaan teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis. Secara teoritis, perbedaan itu demikian tampak melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Tetapi patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis diluar persoalan keesaan Allah, keimanan kepada para rasul, para malaikat, hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya. Misalnya tentang kekuasaan Allah dan kehendak manusia, kedudukan wahyu dan akal, keadilan Tuhan. Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran, yaitu Mu'tazilah, Syiah, Khawarij, Jabariyah dan Qadariyah serta aliran-aliran lainnya.

Makalah ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah dan Qadariyah. Dalam makalah ini penulis hanya menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah dan Qadariyah. Mencakup di dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan ajaran-ajarannya secara umum. B. Aliran Jabariyah 1. Latar Belakang Lahirnya Jabariyah Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian memaksa. Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Salah satu sifat dari Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur). Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat, karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya. Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan yang sarih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan, yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah. Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di tengah bumi

QS al-Insan: 30 tBur tbrâä!$t±n@ HwÎ) br& uä!$t±o„ ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. b. Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyatalkat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini. tetapi Allah-lah yang melempar. tapi yang tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir. Selain ayat-ayat Alquran di atas benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah: a. sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme.yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka c. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. . QS al-Anfal: 17 ’tBur |Mø‹tBu‘ øŒÎ) |Mø‹tBu‘ ÆÅ3»s9ur ©!$# 4’tGu$ 4 Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar. Suatu ketika Nabi menjumpai sabahatnya yang sedang bertengkar dalam masalah Takdir Tuhan. dalam Alquran sendiri banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya paham jabariyah. QS ash-Shaffat: 96 ª!$#ur ö/ä3s)n=s{ $tBur tbqè=yJ÷ès? ÇÒÏÈ Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam. $¸JŠÎ=tã$ $VJ‹Å3ym ÇÌÉÈ Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu). Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut. kecuali bila dikehendaki Allah. diantaranya: a. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup.

. Kalau itu sebuah paksaan. c. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan. pencuri itu berkata "Tuhan telah menentukan aku mencuri". yaitu: hukuman potongan tangan karena mencuri dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan. Mendengar itu Umar kemudian marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta. Orang tua itu bertanya. tidak ada pahala sebagai balasannya. dan tidak pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa. maka tidak ada pahala dan siksa."apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan. d. yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah. Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut andil dalam melahirkan aliran ini. Adanya paham Jabar telah mengemuka kepermukaan pada masa Bani Umayyah yang tumbuh berkembang di Syiria. adanya paham Qadariyah. yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit. keduanya. Ketika ditntrogasi. yang mempunyai paham yang mengarah kepada Jabariyah. Di samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. Oleh karena itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu. gugur pula janji dan ancaman Allah. latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan kedalam dua factor. Adapun yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga perkara: pertama. Dengan demikian. Pahala dan siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia.b. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menangkap seorang pencuri. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran Jabar muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing. telalu tekstualnya pamahaman agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah adanya aliran salaf yang ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan sehingga membawa kepada Tasybih.

Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk. tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan.2. dan melihat. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Ajaran-ajaran Jabariyah Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan berdasarkan menjadi dua kelompok. tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. konsep iman. dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak. tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar yang . aliran ekstrim. yaitu ekstrim dan moderat. dan yang kekal hanya Allah. Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah. menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Alquran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. Segala akibat. tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimilki oleh paham Qadariyah. Surga dan nerka tidak kekal. Kalam Tuhan adalah makhluk. kalam Tuhan. Ia tidak mempunyai daya. dan melihat Tuhan di akherat. dan tidak mempunyai pilihan. tidak berdaya. Kedua. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah. Ja'ad bin Dirham. terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan. Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendaptnya adalah bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara. Manusia juga tidak dipaksa. Pertama. tidak mempunyai kehendak sendiri. baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah. mendengar. Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati. melihat dan mendengar. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal. baik itu positif atau negatif. seperti berbicara. ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia. Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia lemah. dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. meniadakan sifat Tuhan. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka.

Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah Pengertian Qadariyah secara etomologi. berasal dari bahasa Arab. Sedangkan adh-Dhirar (tokoh jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak. orang-orang yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin. ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. yakni baik dan buruk.mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia. Hadariansyah. demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah . Sementara W. tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Akan tetepi menurut Ahmad Amin. Namanya adalah Susan. yaitu qadara yang bemakna kemampuan dan kekuatan. mencakup semua perbuatan. Aliran-aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. Aliran Qadariyah 1. Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya. Adapun secara termenologi istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia menusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya. ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad alJauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. C. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbutanperbutannya. Manusia mampu melakukan perbuatan. kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen. Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan.

bukan oleh takdir Tuhan. Tokoh an-Nazzam menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya. Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat. Oleh karena itu. yaitu hokum yang dalam istilah Alquran adalah sunnatullah. manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya. Ajaran-ajaran Qadariyah Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. sejak azali. Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu. Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang politik Bani Umayyah. Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. Dalam perbuatannya. itu didasarkan atas pilihan pribadinya sendiri. 2.terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan alBasri sekitar tahun 700M. . Karena itu sangat pantas. baik berbuat baik maupun berbuat jahat. bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh Qadariyah dapat dikatakan lenyap tapi hanya untuk sementara saja. dan dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala perbuatannya. yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri. orang yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya. Manusia sendirilah yang melakukan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. sebab dalam perkembangan selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam Muktazilah. karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya selalu mendapat tekanan.

c. Manusia dalam demensi fisiknya tidak dapat bebruat lain. dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". &äóÓx« Ö? ƒÏ‰s % ÇÊÏÎÈ Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud). QS Ali Imran: 165 Js9urr& Nä3÷Gu. QS al-Kahfi: 29 yJsù uä!$x© `ÏB÷sã‹ù=sù ÆtBur uä!$x© ö? àÿõ3u‹ù=sù 4` Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. An-Nisa: 111 tBur ó=Å¡õ3tƒ $VJøOÎ) $yJ¯RÎ*sù ¼çmç7Å¡õ3tƒ 4’n?tã` ¾ÏmÅ¡øÿtR 4 Barangsiapa yang mengerjakan dosa. kecuali mengikuti hokum alam. kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.»|¹r& ×pt7ŠÅÁ•B ô‰s% Läêö6|¹r&£$! $pköŽn=÷VÏiB ÷Läêù=è% 4’¯Tr& #x‹»yd ( ö@è% uqèd ô`ÏB Ï ‰YÏã öNä3Å¡àÿRr& 3 ¨bÎ) ©!$# 4’n?tã Èe@ä. D. Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan kecuali tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas.Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah. QS. b. QS ar-Ra'd:11 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉi? tóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉi? tóム3 $tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan kepada Allah. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat Alquran yang berbicara dan mendukung paham itu a. d. Maka Sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa barang seratus kilogram. Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah: Sebuah Perbandingan tentang Musibah . padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar).

berkaitan dengan perbuatannya. Bagi yang berpaham Jabariyah biasanya dengan enteng mengatakan bahwa kecelakaan itu sudah kehendak dan perbuatan Allah. ilmu pengetahuan lebih pasti berkembang di dalam paham Qadariyah ketimbang Jabariyah. Dengan demikian. seperti di Indonesia. Orang Muslim yang berpaham Qadariyah merupakan kalangan yang terbatas atau hanya sedikit dari mereka. berkaitan dengan perbuatannya. Kedua paham teologi Islam tersebut membawa efek masing-masing. Kedua paham teologi Islam tersebut melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama) . Posisi manusia demikian tidak terdapat di dalam paham Jabariyah. bahwa perbuatan manusia ditentukan dan dikerjakan oleh manusia. kecelakaan pesawat terbang. dalam paham Qadariyah. paham Jabariyah disebut juga sebagai paham tradisional dan konservatif dalam Islam dan paham Qadariyah disebut juga sebagai paham rasional dan liberal dalam Islam. misalnya. selain manusia dinyatakan sebagai makhluk yang merdeka. Pada perkembangan selanjutnya. Sedang.Dalam paham Jabariyah. yang dominan adalah paham Jabariyah. karena menyikapinya sebagai . manusia digambarkan sebagai berkuasa penuh untuk menentukan dan mengerjakan perbuatannya. bukan Allah. Di negerinegeri kaum Muslimin. yang berpaham Qadariyah condong mencari tahu di mana letak peranan manusia pada kecelakaan itu. Sedang. Kedua paham itu dapat dicermati pada suatu peristiwa yang menimpa dan berkaitan dengan perbuatan manusia. Dalam paham Qadariyah. karena semua peristiwa dipandang sudah kehendak dan dilakukan oleh Allah. pada paham Qadariyah. juga adalah makhluk yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.sesuai pemahaman masing-masing atas nash-nash agama (Alquran dan hadits-hadits Nabi Muhammad) . Akibat dari perbedaan sikap dan posisi itu. Sedang yang berpaham Qadariyah akan menjawab. karena semua peristiwa yang berkaitan dengan peranan (perbuatan) manusia harus dipertanggungjawabkan oleh manusia melalui suatu investigasi. manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin.dan aqli (argumen pikiran). semangat investigasi amat besar. Dalam hal musibah gempa dan tsunami baru-baru ini. Pada paham Jabariyah semangat melakukan investigasi sangat kecil.

(Jakarta: Raja Grafindo Persada. Harun. 1986). Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam. 1996) Daudy. 1977) Nata. namun mengajukan pertanyaan yang harus dijawab: adakah andil manusia di dalam "mengganggu" ekosistem kehidupan yang menyebabkan alam "marah" dalam bentuk gempa dan tsunami? Untuk itu. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Ali Syami. Kedua alira. misalnya. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Kuliah Ilmu Kalam. Ilmu Kalam. Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran. DAFTAR PUSTAKA Anwar. (Bangil: alIzzah. paham Qadariyah membenarkan suatu investigasi (pencaritahuan). cet ke-5 an-Nasyar. 1997) Hadariansyah. baik Qadariyah ataupun Jabariyah nampaknya memperlihatkan paham yang saling bertentangan sekalipun mereka sama-sama berpegang pada Alquran. meski gempa dan tsunami tidak secara langsung menunjuk perbuatan manusia. Ilmu Kalam. Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam. 2006). Yusran. Sedang hikmat yang dimaksud hanya berupa pengakuan dosa-dosa dan hidup selanjutnya tanpa mengulangi dosa-dosa. sudah cukup bila tindakan membantu korban dan memetik "hikmat" sudah dilakukan. Abudin. Sedang bagi yang berpaham Qadariyah. (Jakarta: Bulan Bintang. Koreksi atas Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam. Rosihan. (Cairo: Dar al-Ma'arif. cet ke-2 Asmuni. dengan memotret lewat satelit kawasan yang dilanda musibah. (Bandung: Puskata Setia. 1998) . 2008) Maghfur. AB. (Jakarta: UI-Press. Filsafat dan Tasawuf. Ahmad.kehendak dan perbuatan Allah. (Banjarmasin: Antasari Press. 2002) Nasution. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya kemungkinan perbedaan pendapat dalam Islam. Muhammad. bagi yang berpaham Jabariyah. Penutup Sebagai penutup dalam makalah ini. E.

64-65 Ibid. 2004). Studi Ilmu-ilmu Alqur'an. h. op.th). Manna Khalil. (Jakarta: Litera AntarNusa. op. 64 Harun Nasution. h. sehingga dia ditangkap. cet ke4. Lihat asy-Syahrastani. Studi Ilmu-ilmu Alqur'an. 2008). h. 1997) Manna Khalil al-Qaththan. 1 Rosihan Anwar.th) Tim. h. (Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah. h. 239 Adapun riwayat Jahm tidak diketahui dengan jelas. (Jakarta: UI-Press. (Cairo: Dar al-Ma'arif. dan sebagai pemuka golongan Jahmiyah.al-Qaththan. 1997).. h.cit.. op. "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve. Rosihan Anwar. h. (Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah.. 2004) asy-Syahrastani. Karena kelerlibatanya dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Rosihan Anwar. cet ke-5. 1977). loc. al-Milal wa an-Nihal. Muhammad ibn Abd al-Karim. (Jakarta: Litera AntarNusa. "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve. Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam. h. Ilmu Kalam. h. 79-80 Hadariansyah. op.cit. 2006). h..cit. loc. t. op. t. (Bandung: Puskata Setia. Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Islam. 1986). 335 Rosihan Anwar. Enseklopedi Islam. al-Milal wa an-Nihal.. diterjemahkan dari "Mabahits fi Ulum al-Qur'an.cit.. 31 Tim. cet ke-2. Lihat juga Hadariansyah. 68 . akan tetapi sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa dia berasal dari Khurasan yang juga dikenal dengan tokoh murjiah. Enseklopedi Islam. 63 Harun Nasution.cit. Rosihan Anwar. (Banjarmasin: Antasari Press.cit.. h. 67-68. 86 Harun Nasution. diterjemahkan dari "Mabahits fi Ulum al-Qur'an. Ali Syami an-Nasyar.cit. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan.

op. h. Hadariansyah. h.. h. Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran. Filsafat dan Tasawuf. loc. 70.cit. h. Yusran Asmuni. op. h. 68 Hadariansyah. op.cit.cit. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 74 Harun Nasution. 1996). op.Ibid. 1998)... 71 Rosihan Anwar. Ilmu Kalam. 32.. loc. op.cit.cit.. 36. h. Hadariansyah. op. h.... h. 75 Lihat Rosihan Anwar. op.cit.. cit. Rosihan Anwar. h. Harun Nasution. op.. Abudin Nata.cit. Yusran Asmuni. 31 Rosihan Anwar. loc. 73 Label: Ilmu Kalam ....cit. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 41-42.cit. h. Abudin Nata.cit.

sebab ia hanya digerakkan oleh kekuatan atasan dimana ia tidak lain laksana robot yang mati. Sejarah Jabariyah Pendapat jabariah diterapkan di masa kerajaan Ummayyade (660-750 M). semua perbuatan manusia ditentukan Allah semata. Di sini ia bermain politik yang licik. Namun pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori paham jabariyah adalah al-Ja'ad bin Dirham. yang tidak mampu lagi menghadapi kekuatan Muawiyah. Dalam soal ini manusia itu dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin menurut arah yang diinginkan-Nya. Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang melepaskan diri dari seluruh tanggungjawab. Meskipun kaum Qadariyah dan Jahmiyah sudah musnah namun ajarannya masih tetap dilestarikan. tidak ada campur tangan manusia. aliran ini juga disebut Jahmiyah. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk memilih apa yang diinginkannya sendiri. Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin Shafwan. Dan yang dimaksud adalah suatu golongan atau aliran atau kelompok yang berfaham bahwa semua perbuatan manusia bukan atas kehendak sendiri. tidak berarti. dia juga disebut sebagai orang yang pertama kali menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluq dan meniadakan sifat-sifat Allah. Jahm bin Shafwan-lah yang mula-mula mengatakan bahwa manusia terpasung. Paham Jabariyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan karena itu kaum Jabariyah disebut sebagai kaum Jahmiyah. namun ditentukan oleh Allah SWT.Etimologi Kata "Jabariyah" berasal dari kata bahasa arab "Jabara" yang artinya memaksa. sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam arti bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia baik perbuatan buruk. Yakni di masa keadaan keamanan sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara Muawiyah dengan Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Dengan kata lain. yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Maka Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya. jahat dan baik semuanya telah ditentukan oleh Allah SWT dan bukan atas kehendak atau adanya campur tangan manusia. manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah Pencipta. Selanjutnya ditangan Mu'tazilah paham- . Karena kaum Mu'tazilah menjadi pewaris kedua pemahaman tersebut dan mengadopsi pokok-pokok ajaran kedua kaum tersebut. Ini dapat diartikan pula bahwa manusia itu akhirnya tidak bersalah dan tidak berdosa. tidak mempunyai kebebasan apapun. Disamping itu kaum Jahmiyah juga mengingkari adanya ru'ya (melihat Allah dengan mata kepala di akhirat). Awal Kemunculan Jabariyah Golongan Jabariyah pertama kali muncul di Khurasan (Persia) pada saat munculnya golongan Qodariyah. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia ingin memasukkan di dalam pikiran rakyat jelata bahwa pengangkatannya sebagai kepala negara dan memimpin ummat Islam adalah berdasarkan "Qadha dan Qadar/ketentuan dan keputusan Allah semata" dan tidak ada unsur manusia yang terlibat di dalamnya.

Akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat hingga mungkin mencapai soal-soal metafisika dan ba'ts/dihidupkan kembali di akhirat nanti. Disebut Qadariyah karena mereka mewarisi isi paham mereka tentang penolakan terhadap adanya takdir. Kalau kaum Mu'tazilah menafikanya maka kaum Jahmiyah meyakininya. b. Umar. Ja'd Bin Dirham Ia adalah seorang hamba dari bani Hakam dan tinggal di Damsyik. Hendaklah manusia menggunakan akalnya untuk tujuan tersebut bilamana belum terdapat kesadaran mengenai ketuhanan. karena kaum Mu'tazilah berbeda pendapat dengan kaum Jahmiyah dalam masalah Jabr (hamba berbuat karena terpaksa). Disebut Jahmiyah karena mereka mewarisi dari paham penolakan mereka yang meniadakan sifat-sifat Allah. . Ghallan al-Dimasyq sebagai tiga serangkai yang seide itulah sebabnya kaum Mu'tazilah dinamakan juga kaum Qadariyah dan Jahmiyah. Sehingga Imam As-Syafi'i menyebutnya Wasil. Pendapat-pendapatnya : a. dan pengingkatan mereka mengenai kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala di hari kiamat. Pendapat-pendapatnya: a. Bahwa keharusan mendapatkan ilmu pengetahuan hanya tercapai dengan akal sebelum pendengaran. Jahm bin Shafwan Ia bersal dari Persia dan meninggal tahun 128 H dalam suatu peperangan di Marwa dengan Bani Ummayad. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagai pengikut Mu'tazilah adalah Jahmiyah tetapi tidak semua Jahmiyah adalah Mu'tazilah.paham tersebut segar kembali. 2. Tidak pernah Allah berbicara dengan Musa sebagaimana yang disebutkan oleh Alqur'an surat An-Nisa ayat 164. Ia dibunuh pancung oleh Gubernur Kufah yaitu khalid bin Abdullah El-Qasri. Bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah dijadikan Allah kesayangan Nya menurut ayat 125 dari surat An-Nisa. Berkaitan dengan hal ini. dan menyandarkan semua perbuatan manusia kepada diri sendiri tanpa adanya intervensi Allah. Pemimpin Penganut Jabariyah 1. Al-quran itu Makhluk.

Para ulama Ahlu Sunnah wal jamaah telah menyangkal anggapan orang-orang sesat itu dengan pembatalan dan penolakan terhadap pendapat mereka. sebab manusia memiliki sifat-sifat yang demikian itu. Akidah yang rusak semacam ini membawa dampak pada penolakan terhadap kemampuan manusia untuk mengadakan perbaikan. Oleh sebab itu iman itu tidak meliputi tiga oknum keimanan yakni kalbu. Keyakinan semacam ini telah menyebabkan mereka meninggalkan amal shalih dan melakukan usaha yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah. Semua itu menurut keyakinan mereka tidak ada gunanya karena segala apa yang ditakdirkan Allah akan terjadi sehingga doa dan usaha tidak berguna baginya. Sehingga mereka menerima begitu saja kedzaliman orang-orang dzalim dan kerusakan yang dilakukan oleh perusak. Menjelaskan bahwa keimanan kepada . Maka tidaklah ada perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya dalam bidang ini. Maka mereka menyenanginya dan rela terhadapnya. Mereka berpendapat bahwa manusia terpaksa melakukan segala perbuatan mereka dan manusia tidak mempunyai kekuasaan yang berpengaruh kepada perbuatan. Tidak memberi sifat bagi Allah yang mana sifat itu mungkin diberikan pula kepada manusia. Iman itu adalah pengetahuan mengenai kepercayaan belaka. Dan penyerahan total kepada syahwat dan hawa nafsunya serta terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan karena menganggap bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh Allah atas mereka. Lalu mereka meninggalkan amar ma'ruf dan tidak memperhatikan penegakan hukum. sebab ia adalah semata pengetahuan belaka sedangkan pengetahuan itu tidak berbeda tingkatnya. Pelaku. Menghidupkan. Jika mereka mengerjakan suatu amalan yang bertentangan dengan syariat. Apa yang ditakdirkan kepada mereka pasti akan terjadi. seperti shalat. bahkan manusia seperti bulu yang ditiup angin. Mematikan sebab sifat-sifat itu hanya tertentu untuk Allah semata dan tidak dapat dimiliki oleh manusia. sebab itu berarti menyerupai Allah dalam sifat-sifat itu. Pencipta. Penolakan Terhadap Paham Jabariyah Kelompok jabariyah adalah orang-orang yang melampaui batas dalam menetapkan takdir hingga mereka mengesampingkan sama sekali kekuasaan manusia dan mengingkari bahwa manusia bisa berbuat sesuatu dan melakukan suatu sebab (usaha).b. Karena yakin bahwa segala yang telah ditakdirkan pada manusia akan menimpanya. karena apa yang dilakukan mereka telah ditakdirkan dan dikehendaki oleh Allah. c. puasa dan berdoa. lisan dan karya. Karena kejahatan merupakan takdir yang pasti akan terjadi. mereka merasa tidak bertanggung jawab atasnya dan mereka berhujjah bahwa takdir telah terjadi. maka tidak perlu seseorang untuk melakukan usaha karena hal itu tidak mengubah takdir. Maka Allah tidak diberi sifat sebagai satu zat atau sesuatu yang hidpu atau alim/mengetahui atau mempunyai keinginan. Maka dari itu mereka tidak berbuat apa-apa karena berhujjah kepada takdir. Tetapi boleh Allah disifatkan dengan Qadir/kuasa.

Hal ini ditunjukkan dengan dalil-dalil baik syariat maupun akal. Dia bisa membedakan sesuatu yang terjadi karena keinginannya sendiri karena merasa bertanggungjawab terhadapnya dan sesuatu yang tanpa disengaja sehingga dia merasa lepas tanggung jawab terhadapnya.takdir tidak bertentangan dengan keyakinan bahwa manusia mempunyai keinginan dan pilihan dalam perbuatannya serta kemampuannya untuk melaksanakannya. mengapa kita tidak bersandar kepada Kitab kita dan meninggalkan usaha?" Beliau menjawab. An Naba : 29) 2. Seperti orang yang mimpi basah di siang bulan ramadhan. At-Takwir : 28-29) . maka batallah puasanya karena hal itu terjadi akibat kehendak dan pilihannya. "(Yaitu) bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Tuhan semesta alam. Allah juga memberikan mereka kebebasan untuk mendatangi istri-istri mereka pada tempat yang ditetapkan sekehendak mereka. maka puasanya tidak batal karena hal itu terjadi karena bukan pilihan orang itu. "Ya Rasulullah." Lalu mereka bertanya. niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Dalil-Dalil Al Qur'an 1. "Ítulah hari yang pasti terjadi. Tetapi jika orang itu dengan sengaja melakukan onani sehingga keluar air mani. Allah SWT berfirman. Maka barangsiapa yang menghendaki. bahwa Allah SWT memberikan kebebasan kepada manusia untuk menempuh jalan yang dapat mengantarkannya menuju keridhaanNya." (HR." (QS. "Berusahalah karena semua itu akan memudahkan untuk menuju apa yang telah ditakdirkan kepadanya. Firman Allah SWT : "Istri-istrimu adalah seperti tanah tempat kamu bercocok tanam. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah. maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu sebagaimana saja kamu kehendaki. Al Baqarah : 223) Fokus pengambilan dalil dari kedua ayat di atas. (QS." (QS. Bukhari dan Muslim) Dalil-Dalil Dari Akal Setiap orang tahu bahwa dirinya mempunyai kehendak dan kemampuan untuk mengerjakan keduanya sesuai dengan keinginannya dan meninggalkan apa yang diinginkannya. Dalil-Dalil Dari As Sunnah Rasulullah SAW bersabda : "Setiap orang diantara kalian telah ditetapkan tempat duduknya di surga atau di neraka.

setiap perbuatannya baik yang jahat. Bahwa Alqur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah.. Bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi. Bahwa Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga. "Kita tidak berpendapat demikian dan kami mengingkarinya. 3. 7. Iman cukup dalam hati saja tanpa harus dilafadhkan. Aliran Jabariyah mengibaratkan bahwa perbuatan manusia tak ubah seperti dedanunan yang bergerak diterpa angin atau dalam ilustrasi yang sangat sederhana bisa dicontohkan bahwa aliran Jabariyah menggambarkan manusia bagaikan robot yang disetir oleh remote kontrol.Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia mempunyai kehendak yang masuk dalam kehendak Allah SWT." Beliau menjawab. "Allah memaksa manusia untuk taat. 8. Qadha dan Qadar Serta Makna Takdir Allah Menurut Jabariyah Aliran Jabariyah berpendapat mengatakan segala sesuatu yang terjadi pada manusia atau jagad raya ini meupakan kehendak Allah semata tanpa peran serta sesuatu pun termasuk di dalamnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia. Beliau menjawab. buruk atau baik semata Allah semata yang menentukannya. karena yang kekal dan abadi hanyalah Allah semata. Perbuatan. 5." Ciri . Imam Ahmad pernah ditanya oleh seseorang yang berkata bahwa Allah memaksa manusia atas semua perbuatan mereka. Bahwa Allah tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk ciptaanNya. dan akan hancur dan musnah bersama penghuninya. "Seorang laki-laki berkata. Kehendak Manusia Dengan Qudrat Iradat Allah Menurut Jabariyah . 6." Beliau berkata. Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan ikhtiar apapun. Bahwa surga dan neraka tidak kekal. Ilmu Allah bersifat Huduts (baru) 4. 2.Ciri Ajaran Jabariyah Diantara ciri-ciri ajaran Jabariyah adalah : 1. "Allah menyesatkan siapa yang berkehendak dan memberikan petunjuk kepada siapa yang berkehendak." Lalu datanglah kepadanya seorang lelaki seraya berkata. "Alangkah buruknya apa yang dikatakannya.

(QS: 4: An-Nisa': 13) Allah juga akan memberikan siksa kepada hambaNya yang selalu berbuat dosa artinya tidak mau ta'at kepada Allah dan rasul-Nya. Jika perbuatan tersebut disebut sebagai perbuatan manusia. maka tidak mungkin jika dia dibebani perintah dan larangan. Niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya. kabar gembira dan memberikan peringatan melalui para Rasul-Nya agar manusia dapat mengerti antara haq dan yang bathil sebagaimana firman Allah: Artinya: "Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan" (QS:18: Al-Kahfi: 56) Dari beberapa Kutipan Ayat suci Al-Quran diatas maka pendapat ulama Jabariyah menjadi lemah. atau disuruh untuk menjalankan syari'at dan hukum Islam. Dengan kata lain manusia tidak mempunyai peran apa-apa atas kehendak dan perbuatannya. (QS: 4: An-Nisaa':14) Dilihat dari sisi lain pendapat 'Ulama Jabariyah kurang kuat karena: Untuk apa pula Allah memberi petunjuk. munculnya kaum Jabariyah yang berpendapat bahwa perbuatan manusia itu baik dan buruk. Sebagaimana firman Allah: Arinya: "Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya. Kalau semua perbuatan manusia merupakan ketetapan dan kehendakan Allah mengapa manusia harus diberi pahala jika menjalani suatu kebaikan. padahal pada hakikatnya Tuhanlah yang mengalirkannya. Niscaya Allah memasukannya ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai. berpendapat bahwa semua perbuatan yang dilakukan oleh manusia merupakan kehendak dan ketetapan Allah. dan baginya siksa yang menghinakan". Perbuatan baik dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia merupakan Qudrat dan Iradat (kekuasaan atau kehendak) Allah.Para Ulama Pengikut aliran Jabariyah. Manusia tidak mempunai peran atas segala perbuatannya. Jabariah sebagai penolakan terhadap pandangan kaum qadariyah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran: Artinya: " Barangsiapa ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena sesungguhnya Al-Qur'an itu berisikan perintah dan larangan. Manusia menurut pandangan kaum Jabariyah tak ubahnya seperti bulu . maka hal ini hanya kiasan saja. Yakni tidak mau meninggalkan semua larangan-Nya dan tidak mau menjalankan semua perintah-Nya. Seperti saat kita menyatakan bahwa sungai itu mengalir. semuannya berasal dari Allah. semuanya berdasarkan Qadha dan Qadar Allah. dan itulah kemenangan yang besar". Dengan kata lain aliran Jabariyah menafikan fungsi dan peran Rasul Allah serta ancaman yang akan diberikan kepada pelanggar (durhaka) tatanan nilai Ilahiyah (syari'ah agama) dan pahala bagi para pelaksana (bertaqwa) tatanan nilai Ilahiyah (sayri'ah agama). sedang mereka kekal didalamnya. sehingga semua perbuatan yang dilakukan disandarkan pada takdir Allah. Sementara itu Yusuf Al Qardhawi memandang bahwa aliran Jabariyah hanya memandang satu sifat kekuasaan Allah dan tidak memandang keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Ulama aliran Jabariyah mengesampingkan usaha dan ikhtiar manusia. Hal ini menurut Jalaluddin Ar-Rumi bahwa: Sekiranya manusia dalam keadaan terkekang seperti pendapat aliran Jabariyah.

Abu Lubaba. Yasaguna. Berdasarkan keyakinan seperti ini maka kaum Jabariyah memiliki pandangan yang meniadakan sifat dan nama Allah.s. Fuad Mohd. Pustaka Quantum. Dr. Kebebasan Manusia atas Takdir Allah berdasar Konsep Penciptaan Nabi Adam a. Pustaka Firdaus. Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam. Said Aqil Humam Abdurrahman. dan Rafi'udin.ayam yang bertebangan ditiup angin (karena itulah maka kaum Jabariyah dan kaum qadariyah dikatakan dua golongan yang satu sama lainnya saling bertolak belakang. Sag. sementara Al-kalam (firman Allah) yang merupakan sifat Allah menurut pendapat mereka adalah hadis (sesuatu yang baru). Jakarta 3. Fachruddin. Jakarta: 2003 6.Wb <><><><><><>><><><><><> Oleh: Jenny HP Disarikan Dari: 1. Muhammad Sufyan Raji Abdullah. Pemikiran Hadist Mu'tazilah. Al-Azhar Press. 13 Maret 2006 . Jakarta: 2003 Milis Eramuslim Dikirim oleh: Jdp Senin. Husein. DR.. CV. Jakarta: 1990 4. Drs. Sag. Penerbit Buku Islam Kaffah.. Penjelasan menyeluruh tentang Qadha dan Qadar. Said bin Musfin Al-Qahthani. Buku Putih Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. A. Wassalamu'alaykum Wr. Jakarta: 2003 5. Lc. Mengenal Aliran-aliran Islam dan ciri-ciri ajarannya. Sutrisna Sumadi. Pustaka Al-Riyadl. Bogor:2004 2.

Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin Shafwan. Kata Jabariyah berasal dari kata Jabara dalam bahasa Arab yang mengandung arti memaksa dan mengharuskan melakukan sesuatu. Dengan kata lain. yang tidak mampu lagi menghadapi kekuatan Muawiyah. sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Yakni di masa keadaan keamanan sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara Muawiyah dengan Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Ditegaskan kembali dalam berbagai referensi yang dikemukakan oleh Asy-Syahratsan bahwa paham Al-Jabar berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah. aliran ini juga disebut Jahmiyah. Faktor Politik Pendapat Jabariah diterapkan di masa kerajaan Ummayyah (660-750 M). Atau dengan kata lain ada unsur keterpaksaan. semua perbuatan manusia ditentukan Allah semata. . (Harun Nasution. Jahm bin Shafwan-lah yang mula-mula mengatakan bahwa manusia terpasung. 2009 : 63). baik secara etimologi maupun sacara terminologi.ALIRAN JABARIYAH A. Maka Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya. yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Dalam soal ini manusia itu dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin menurut arah yang diinginkan-Nya. Golongan Jabariyah pertama kali muncul di Khurasan (Persia) pada saat munculnya golongan Qodariyah. perlu saya paparkan pengertian dari kata Jabariyah itu sendiri. manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah Pencipta. tidak mempunyai kebebasan apapun. SEJARAH KEMUNCULAN ALIRAN JABARIYAH Mengenai asal usul serta akar kemunculan aliran Jabariyah ini tidak lepas dari beberapa faktor. 1986 : 31) Dapat Kita simpulkan bahwa aliran Jabariyah adalah aliran sekelompok orang yang memahami bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan merupakan sebuah unsur keterpaksaan atas kehendak Tuhan dikarenakan telah ditentukan oleh qadha’ dan qadar Tuhan. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk memilih apa yang diinginkannya sendiri. Antara lain : 1. Kata Jabara setelah berubah menjadi Jabariyah (dengan menambah Yaa’ nisbah) mengandung pengertian bahwa suatu kelompok atau suatu aliran (isme). Dalam referensi Bahasa Inggris. Yaitu paham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha’ dan qadar Allah. B. Jabariyah disebut Fatalism atau Predestination. dengan kata lain. manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. tidak ada campur tangan manusia. Pengertian arti kata secara etimologi diatas telah dipahami bahwa kata jabara merupakan suatu paksaan di dalam melakukan setiap sesuatu. Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang melepaskan diri dari seluruh tanggungjawab. Di sini ia bermain politik yang licik. (Abdul Razak. PENGERTIAN JABARIYAH Sebelum kita memahami dan mengenal lebih dalam mengenai sejarah kemunculan aliran Jabariyah ini. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia ingin memasukkan di dalam pikiran rakyat jelata bahwa pengangkatannya sebagai kepala negara dan memimpin ummat Islam adalah berdasarkan "Qadha dan Qadar/ketentuan dan keputusan Allah semata" dan tidak ada unsur manusia yang terlibat di dalamnya.

Hendaklah manusia menggunakan akalnya untuk tujuan tersebut bilamana belum terdapat kesadaran mengenai . Jahm bin Shafwan Ia bersal dari Persia dan meninggal tahun 128 H dalam suatu peperangan di Marwan dengan Bani Ummayah. Tidak pernah Allah berbicara dengan Musa sebagaimana yang disebutkan oleh Alqur'an surat An-Nisa ayat 164. Faktor Geografi Para ahli sejarah pemikiran mengkaji melalui pendekatan geokultural bangsa Arab. Kehidupan bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir sahara memberikan pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka. Al-quran itu Makhluk. dan pengingkatan mereka mengenai kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala di hari kiamat. Pendapat-pendapatnya : a. dan menyandarkan semua perbuatan manusia kepada diri sendiri tanpa adanya intervensi Allah. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagai pengikut Mu'tazilah adalah Jahmiyah tetapi tidak semua Jahmiyah adalah Mu'tazilah. Bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah dijadikan Allah kesayangan Nya menurut ayat 125 dari surat An-Nisa. TOKOH-TOKOH SERTA DOKTRIN AJARAN 1. karena kaum Mu'tazilah berbeda pendapat dengan kaum Jahmiyah dalam masalah Jabr (hamba berbuat karena terpaksa). Pendapat-pendapatnya: a. bangsa Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keingianan mereka sendiri. Berkaitan dengan hal ini. C. Karena kaum Mu'tazilah menjadi pewaris kedua pemahaman tersebut dan mengadopsi pokok-pokok ajaran kedua kaum tersebut. Ketergantungan mereka kepada alam sahara yang ganas telah memunculkan sikap penyerahan diri terhadap alam. Meskipun kaum Qadariyah dan Jahmiyah sudah musnah namun ajarannya masih tetap dilestarikan. Disamping itu kaum Jahmiyah juga mengingkari adanya ru'ya (melihat Allah dengan mata kepala di akhirat). dia juga disebut sebagai orang yang pertama kali menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluq dan meniadakan sifat-sifat Allah. Bahwa keharusan mendapatkan ilmu pengetahuan hanya tercapai dengan akal sebelum pendengaran. Selanjutnya ditangan Mu'tazilah paham-paham tersebut segar kembali. 2. Sehingga Imam AsSyafi'i menyebutnya Wasil. Disebut Jahmiyah karena mereka mewarisi dari paham penolakan mereka yang meniadakan sifat-sifat Allah. Ja'd Bin Dirham Ia adalah seorang hamba dari bani Hakam dan tinggal di Damsyik. Akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat hingga mungkin mencapai soal-soal metafisika dan ba'ts/dihidupkan kembali di akhirat nanti. 2. mereka banyak bergantung kepada sikap Fatalisme. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. b. Situasi demikian.Paham Jabariyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan karena itu kaum Jabariyah disebut sebagai kaum Jahmiyah. Disebut Qadariyah karena mereka mewarisi isi paham mereka tentang penolakan terhadap adanya takdir. Namun pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori paham jabariyah adalah Al-Ja'ad bin Dirham. Ia dibunuh pancung oleh Gubernur Kufah yaitu khalid bin Abdullah El-Qasri. Kalau kaum Mu'tazilah menafikanya maka kaum Jahmiyah meyakininya. Umar. Ghallan al-Dimasyq sebagai tiga serangkai yang seide itulah sebabnya kaum Mu'tazilah dinamakan juga kaum Qadariyah dan Jahmiyah. Akhirnya.

buruk atau baik semata Allah semata yang menentukannya. Semua itu menurut keyakinan mereka tidak ada gunanya karena segala apa yang ditakdirkan Allah akan terjadi sehingga doa dan usaha tidak berguna baginya. dan akan hancur dan musnah bersama penghuninya. 5. sebab manusia memiliki sifat-sifat yang demikian itu. 2. lisan dan karya. Bahwa Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga. d. Lalu mereka meninggalkan amar ma'ruf dan tidak memperhatikan penegakan hukum. Bahwa Allah tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk ciptaanNya. Maka mereka menyenanginya dan rela terhadapnya. Oleh sebab itu iman itu tidak meliputi tiga oknum keimanan yakni kalbu. Dan penyerahan total kepada syahwat dan hawa nafsunya serta terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan karena menganggap bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh Allah atas mereka. Bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi. Tetapi boleh Allah disifatkan dengan Qadir/kuasa. c. Maka Allah tidak diberi sifat sebagai satu zat atau sesuatu yang hidpu atau alim/mengetahui atau mempunyai keinginan. Jika mereka mengerjakan suatu amalan yang bertentangan dengan syariat. Keyakinan semacam ini telah menyebabkan mereka meninggalkan amal shalih dan melakukan usaha yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah. karena yang kekal dan abadi hanyalah Allah semata. sebab itu berarti menyerupai Allah dalam sifat-sifat itu. Apa yang ditakdirkan kepada mereka pasti akan terjadi. maka tidak perlu seseorang untuk melakukan usaha karena hal itu tidak mengubah takdir. Maka tidaklah ada perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya dalam bidang ini. Pencipta. Menghidupkan.ketuhanan. Tidak memberi sifat bagi Allah yang mana sifat itu mungkin diberikan pula kepada manusia. CIRI-CIRI AJARAN JABARIYAH Diantara ciri-ciri ajaran Jabariyah adalah : 1. Bahwa surga dan neraka tidak kekal. puasa dan berdoa. Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan ikhtiar apapun. setiap perbuatannya baik yang jahat. Mematikan sebab sifatsifat itu hanya tertentu untuk Allah semata dan tidak dapat dimiliki oleh manusia. Karena kejahatan merupakan takdir yang pasti akan terjadi. Pelaku. Karena yakin bahwa segala yang telah ditakdirkan pada manusia akan menimpanya. Bahwa Alqur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah E. Maka dari itu mereka tidak berbuat apa-apa karena berhujjah kepada takdir. seperti shalat. Ilmu Allah bersifat Huduts (baru) 4. PENOLAKAN TERHADAP PAHAM JABARIYAH Kelompok jabariyah adalah orang-orang yang melampaui batas dalam menetapkan takdir hingga mereka mengesampingkan sama sekali kekuasaan manusia dan mengingkari bahwa manusia bisa berbuat sesuatu dan melakukan suatu sebab (usaha). sebab ia adalah semata pengetahuan belaka sedangkan pengetahuan itu tidak berbeda tingkatnya. Iman itu adalah pengetahuan mengenai kepercayaan belaka. Iman cukup dalam hati saja tanpa harus dilafadhkan. bahkan manusia seperti bulu yang ditiup angin. 3. Sehingga mereka menerima begitu saja . D. mereka merasa tidak bertanggung jawab atasnya dan mereka berhujjah bahwa takdir telah terjadi. Mereka berpendapat bahwa manusia terpaksa melakukan segala perbuatan mereka dan manusia tidak mempunyai kekuasaan yang berpengaruh kepada perbuatan. 7. 8. 6. Akidah yang rusak semacam ini membawa dampak pada penolakan terhadap kemampuan manusia untuk mengadakan perbaikan.

Jakarta : 1986¬ . Hal ini ditunjukkan dengan dalil-dalil baik syariat maupun akal. Ilmu Kalam. Abdul Razak.kedzaliman orang-orang dzalim dan kerusakan yang dilakukan oleh perusak. karena apa yang dilakukan mereka telah ditakdirkan dan dikehendaki oleh Allah. Menjelaskan bahwa keimanan kepada takdir tidak bertentangan dengan keyakinan bahwa manusia mempunyai keinginan dan pilihan dalam perbuatannya serta kemampuannya untuk melaksanakannya. Teologi Islam. Bandung : 2009¬ Harun Nasution.Ag. UI-Press. DAFTAR PUSTAKA DR. Pustaka Setia. Para ulama Ahlu Sunnah wal jamaah telah menyangkal anggapan orang-orang sesat itu dengan pembatalan dan penolakan terhadap pendapat mereka. M.