Modifikasi Perilaku

Teori Behavioristik dan Social Learning
Sunday, June 13th, 2010

BAB II Teori Belajar Behavioristik dan Social learning 1. A. PENDAHULUAN Bab ini mempelajari tentang teori-teori yang menjadi dasar dari modifikasi perilaku. Terutama tiga teori dasar dalam pendekatan perilakuan yaitu : classical conditioning dari Ivan Petrovich Pavlov, operant conditioning dari Burhuss Frederick Skinner dan social learning / social cognitive dari Albert Bandura. Aplikasi teori tersebut merupakan konten dari modifikasi perilaku yang dalam bab-bab selanjutnya akan dibicarakan secara lebih detil. Kata-kata kunci : classical conditioning, operant conditioning dan social learning. 1. B. TEORI PERKUATAN KLASIK (CLASSICAL CONDITIONING) IVAN PETROVICH PAVLOV 1. 1. Pengertian Perilaku Pada tahun 1913 di Amerika Serikat , J.B. Watson menentang aliran introspeksi yang sebelumnya menekankan aktivitas mental, beliau tidak setuju dengan aktivitas yang bersifat subjektif tersebut. Karena menurut Watson, proses perilaku terjadi karena proses psikologis yang bersifat objektif , nampak dan dapat dijelaskan dalam proses belajar. Peran lingkungan sangat besar dalam menjelaskan perilaku. Karena stimulus – respon merupakan koneksi dasar dalam proses belajar perilaku pada manusia. Tingkah laku manusia merupakan hasil belajar yang sifatnya mekanistis lewat proses perkuatan seperti teori operant conditioning dari B.F. Skinner. Salah satu proses adaptasi gerakan-gerakan otot dan aktivitas kelenjar juga dapat menjelaskan perilaku, kuncinya seperti dalam pengkondisian klasik (classical conditioning) dari Ivan Petrovich Pavlov. Ia dilahirkan di Rjasan pada tanggal 18 September 1849 dan wafat di Leningrad pada tanggal 27 Pebruari 1936. Pavlov (1849-19360) psikolog Rusia yang melakukan penelitian pertama tentang belajar. Prinsip pengkondisian klasik dasarnya melihat organisme belajar dengan mengasosiasikan satu stimulus dengan stimulus lain. Organisme belajar bahwa stimulus pertama adalah “kunci” untuk stimulus berikutnya. Penelitian Pavlov sebelumnya menggunakan anjing sebagai subjek penelitiannya. Pavlov memasangkan stimulus suara dengan makanan . Makanan akan keluar ke hadapan anjing setiap Pavlov menekan tombol.

Respon atau tingkah laku organisme bisa dikondisikan dan organisme bisa memiliki respon tertentu (CR) melalui belajar dan latihan. tetapi karena pemasangan maka akan menimbulkan respon tertentu. Conditional Response (CR) : respon yang dihasilkan akibat dari adanya pemasangan CS dengan US. Inhibisi merupakan suatu penurunan aktivitas otak. Penyajian satu stimulus akan mengisyaratkan ketidakhadiran stimulus tak bersyarat. Penyajian CS akan mengisyaratkan datangnya US.Unconditional Stimulus (US) : stimulus alamiah yang secara otomatis tanpa pemasangan pun akan menimbulkan respon tertentu. Eksitasi merupakan suatu peningkatan aktivitas otak . Ekstinsi : Apabila US tidak dihadirkan lagi bersama CS sehingga akan terjadi pemadaman Spontaneous Recover : Pemulihan untuk memberikan respon bersyarat tanpa melalui uji coba awal. Respon atau tingkah laku organisme bisa dikondisikan dan organisme bisa memiliki respon tertentu (CR) melalui belajar dan latihan. yang pada dasarnya tidak menimbulkan respon tertentu. stimulus yang menyebabkan eksitasi disebut stimulus positif. Conditional Stimulus (CS) : stimulus netral. 2. 1. Eksperiman Pavlov Pemadaman (Extinction) Proses pengurangan kekuatan CR dan akhirnya hilanglah performance Bel → ≠ makanan → saliva ? Pemulihan Menampilkan kembali CS pada organisme Umumnya kekuatan CS < sebelumnya . stimulus yang menyeabkan inhibisi disebut stimulus negatif. Akuisisi : Ujicoba selama subyek belajar mengasosiasikan dua stimulus. Unconditional Response (UR) : respon alamiah yang secara otomatis muncul akibat adanya US.

Novelnya di tahun 1948 yaitu “Walden II’ berisi tentang utopia Skinner tentang masyarakat yang baik (Walker. C. Skinner yakin bahwa pemahaman tentang kepribadian akan tumbuh dari tinjauan tentang perkembangan tingkah laku organisme manusia dalam interaksinya yang terus menerus dengan lingkungan. 1996). maka pandangan Skinner sering disebut teori perkuatan operan (operant reinforcement theory). interaksi ini telah menjadi pusat sejumlah besar penelitian eksperimental yang dilakukan secara cermat. yaitu proses mental internal yang mungkin dapat secara langsung atau tidak langsung direfleksikan dalam perubahan tingkah laku. Beberapa bukunya yang lain tentang perilaku manusia meliputi bagaimana proses belajar bahasa. pengajaran di sekolah. Konsep pertamanya tercantum di buku Behavior of Organism (1938) yang merupakan dasar dari operant conditions (Walker. Konsep kunci dalam sistem Skinner adalah prinsip perkuatan (principle of reinforcement). semata-mata perilaku dibentuk secara fungsional lewat proses learning (belajar) dan pengkondisian. makin serupa stimulus baru dengan stimulus asli maka makin tinggi pula kemungkinan timbul respon yang dikondisikan.1996). Pada usia 86 tahun. Bel → salivation Dering telepon → salivation Diskriminasi Tendensi atau kecenderungan untuk merespon suatu rentang stimulus tertentu atau hanya satu stimulus yang biasa digunakan dalam pelatihan Bel → salivation Nada Berbeda → ≠ salivation 1. Bersama banyak teoritikus. di sebuah senja sebelum waktu kematiannya karena leukemia. sebab Skinner tidak merasa perlu mempersoalkan masalah struktur kepribadian dan juga proses kognisi. Sehingga kepribadian dapat diartikan sebagai sejumlah pengalaman yang dialami individu yang merupakan hasil interaksi lingkungan dengan personal faktor yang ditunjukkan dalam perilaku . Sebagian besar teori Skinner adalah tentang perubahan tingkah laku. belajar dan modifikasi perilaku.Generalisasi Dalam generalisasi. Sejarah Teori Perkuatan Operan (Operant Conditioning) dari Skinner Tokoh utama adalah Burrhus Frederick Skinner (1904-1990). Aliran behaviorisme radikal Skinner merupakan teori kepribadian yang tidak menyeluruh. TEORI PERKUATAN OPERAN (OPERANT CONDITIONING) SKINNER 1. operant conditioning dan faktor budaya yang dapat membedakan perilaku individu. ia menyelesaikan papernya yang terakhir tentang seleksi alam. Maka. Kepribadian dibentuk dari proses belajar. juga tentang bagaimana mendesain budaya.

Fokus teori Skinner adalah pada operan respon. Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan response. yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Meskipun penelitiannya berawal dari subjek hewan. Perangsang-perangsang yang demikian itu. operant response atau instrumental behaviour merupakan bagian terbesar daripada tingkah laku manusia. Seperti Pavlov dan Watson. Jika seorang anak belajar (telah melakukan perbuatan). Sebaliknya. dan 5. Proses Operant Conditioning . Metode operan secara keseluruhan diilustrasikan dari prinsip psikologi belajar yang menekankan bahwa : 1. namun perlu mempertimbangkan perbedaan masing-masing individu dan juga sikap hati-hati jika akan menerapkannya pada subjek manusia. 1. Di dalam kenyataannya.yang observable.. Individu sangat dipengaruhi oleh lingkungannya 2. 2. diukur perilakunya dalam pola perilaku). tetapi berbeda dengan kedua tokoh yang terdahulu itu. mengembangkan dan memodifikasi tingkah laku (Walker 1996). Skinner membedakan adanya dua macam response. yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. yaitu : 1. Memandang pentingnya aspek pengukuran dari situasi . Perilaku dapat dibentuk dan diubah sebagai hasil dari interaksi individu dengan lingkungan 3. maka dia akan menjadi lebih giat belajar (responsenya menjadi lebih intensif/kuat). measurable dan memiliki definisi akurat. Perangsang yang demikian itu disebut reinforcing stimuli atau reinforcer. menimbulkan respon-respon yang secara relatif tetap. Memandang pentingnya system yang reliable untuk deteksi perubahan perilaku Psikologi perilaku mungkin dicirikan lewat objektivitas dalam pendefinisian perilaku. lalu mendapat hadiah. Jadi.secara praktis pada pilihan perilaku mana yang akan diubah (berfokus pada perilaku sasaran yangdapat dengan mudah direkam. Skinner membuat perincian lebih jauh. perangsang yang demikian itu mengikuti dan karenanya memperkuat sesuatu tingkah laku tertentu yang telah dilakukan. response jenis pertama itu (respondent response atau respondent behaviour) sangat terbatas munculnya pada manusia. dan karena adanya hubungan yang pasti antara stimulus dan response kemungkinan untuk memodifikasikannya adalah kecil. Memandang pentingnya spesifikasi “reaksi” sebagai perilaku yang diobservasi 4. Operant response (instrumental response) yaitu respon diharapkan muncul. Pada umumnya. b. Respondent response (reflexive response). perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya. 2. yang disebut eliciting stimuli . misalnya makanan yang menimbulkan keluarnya air liur. karena perangsangperangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme. yaitu bagaimana menimbulkan. dan kemungkinannya untuk memodifikasi boleh dikatakan tak terbatas.

atau stimuli yang bermakna yang hanya diberikan saat organisme memunculkan respon yang diharapkan. Perilaku yang mendapatkan pengukuh negatif bila perilaku tersebut meningkat atau terpelihara karena berasosiasi . Primary reinforcers: merupakan reniforcer yang berpengaruh langsung pada kondisi fisiologis seperti makanan pada saat lapar. Setelah proses asosiasi terjadi. insentif atau apresiasi berupa pujian dari atasan disesuaikan dengan prestasi bagi mereka yang melebihi standar. b. secondary reinforcement memiliki pengaruh untuk mengurangi atau meningkatkan kemungkinan munculnya respon.” dan mendapat senyuman dan sambutan gembira ibu. adalah pengukuhan bila perilaku sasaran jarang muncul. a. Ingat. Negative reinforcement: pembatasan stimuli yang tidak menyenangkan. DRL / differential reinforcement of low rates. dan karena keseringan pemunculan meningkatkan perilaku yang diharapkan.ee. Program DRO bila tanda yang berjarak 10 menit berbunyi ia tidak sedang melamun. 2. air pada saat haus. Maka anak tersebut akan mengulang mengucapkan “…mama…mam…. Jenis reinforcement ini (Walker. 4. yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respon. Penerapan terbaik : dengan menggunakan penguatan pengukuh positif bila suatu stimulus (benda atau kejadian) dihadirkan/ terjadi sebagai akibat / konsekuensi dari perilaku.. c. Landy (1984) mengemukakan tentang pemberian Contingent reinforcers yang efektif di tiga setting yaitu institusi kesehatan mental : contingent reinforcers efektif mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku yang benar dan sesuai.. 3.”. 1996) dibedakan menjadi : 1. bahwa dalam penerapan modifikasi perilaku pengukuh ini tidak dibiarkan terjadi secara alamiah. DRO / Differential Reinforcement of Other Behavior. ia mendapat pengukuh. setting pekerjaan misalnya dengan pemberian komisi akhir tahun. setting sekolah misalnya dengan token economy di kelas. oleh guru kepada muridnya untuk tujuan mengembangkan ketrampilan tertentu. 1. Secondary reinforcers: merupakan reinforcer yang baru berpengaruh apabila diasosiasikan dengan primary reinforcer.” muncul tidak lebih dari 2 kali tiap menit ibu tersebut mendapat pengukuh..Reinforcement merupakan kejadian yang muncul mengikuti respon yang diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan munculnya respon tersebut kembali. Misalnya seorang wanita yang banyak menggunakan kata “ ee…copot ee…” yang mengganggu dalam pembicaraan apalagi jika di depan forum DRL diprogram bila “ee…copot. bisa memunculkan respon jika diasosiasikan dengan kebutuhan fisiologis.. Contoh: uang. positive reinforcers: penyajian stimuli yang meningkatkan probabilitas suatu respon (cenderung menyenangkan). Misalnya seorang anak kelas 2 SD suka melamun bila disuruh mengerjakan tugas sekolah. Contingent reinforcers: reinforcer yang hanya mampu mengubah perilaku ketika seseorang tahu perilaku mana yang akan diberi reinforcer. tidur pada saat lelah. Tetapi diatur sedemikian rupa agar terjadi konsekuensi tindakan / perilaku yang ingin ditingkatkan atau dipelihara. jadi tugas sering tidak selesai dan nilai raport turun.mam.     Contoh : seorang bayi berlatih bicara “…mam….

hukum. bila perilaku sasaran yang akan dihilangkan muncul. 1994) v Shaping Behavior Adalah proses penguasan respon yang dikehendaki (dikondisikan). pujian adalah beberapa contoh pengukuh. maka peristiwa tersebut disebut pengukuh positif. Extinction . Beberapa contoh yang ada dibawah ini merupakan penerapan dari teori Skinner (Glover & Bruning. stimulus yang tidak menyenangkan (aversive stimuli) sebagai konsekuensi perilaku tersebut. Misalnya menonton acara televisi favorit. Jika pemberian hukuman tidak melihat tujuan dan kondisi situasionalnya. penghargaan. adik jatuh”. “Bu. Landy. 1. suatu stimulus (benda/kejadian) dipandang sebagai hal yang meskipun pada awalnya netral tetapi karena sering berpasangan dengan pengukuh kuat (bersyarat / tak bersyarat) . Lewat instruksi yang . Atau sebaliknya orangtua menggertak anak waktu anak rewel. token ekonomi dengan voucher atau poin belanja untuk meningkatkan frekuensi belanja pembeli di toko. penghapusan : menghentikan pemberian pengukuh positif atau menghentikan pengukuh negatif. 1990 . Anak menangis keras akan berhenti bila ada perhatian. ketika pembentukan perilaku merupakan pemberian reinforcement setelah sukses melakukan apa yang diinginkan melewati serangkaian perilaku yang diulangi untuk menjadi lebih baik lagi. Ibu akan segera datang memberi tanggapan. “ Bu. Misalnya perilaku anak sering bersifat pengukuh negatif bagi orangtuanya. Contoh : Nana sering berteriak memanggil ibunya. penguatan performen pegawai dengan bonus prestasi. moral dan etika akan menjadi sebuah kontroversi bahkan kontraproduktif dalam pengubahan perilaku. Bagi orang yang tidak mengalami rentetan peristiwa ini stimuli tersebut bersifat netral. Bentuk hukuman lain berupa penangguhan stimulus yang menyenangkan (removing a pleasant or reinforcing stimulus). Juga lewat penyisihan sesaat (time out) yang merupakan prosedur dengan memindahkan sumber pengukuhan untuk sementara waktu tertentu. 3. Bila sutu stimulus dihadirkan maka akan terjadi akibat/ konsekuensi suatu perilaku. Bedakan hal ini dengan extinction dan punishment. 2. dan bila karena seringnya perilaku tersebut muncul dan meningkat / terpelihara. Stimuli bersifat pengukuh hanya karena suatu rentetan peristiwa dalam pengalaman kehidupan seseorang. maka bayi akan menangis setiap bangun tidur. Prosedur di mana pemberian stimulus yang mengikuti suatu perilaku mengurangi kemungkinan berulangnya perilaku tersebut. anak diam. Baru ketika Nana berteriak. Aplikasi Teori Lewat teori conditioning reinforcement. Hukuman : pemberian stimulus yang tidak menyenangkan misalnya “contradiction or reprimand” setelah respon yang tidak diharapkan muncul. agak sulit dilaksanakan.dengan hilangnya atau berkurangnya suatu stimulus. Ibu tidak menanggapi akhirnya Nana tidak berteriak lagi. pertimbangan dari kepraktisan. adik nakal merusak mainanku”. minta-minta anda beri uang. stimuli ini lalu memperoleh sifat mengukuhkan. Contoh : pengemis datang. Denda dengan mengurangi kuantitas pengukuh atau kehilangan yang telah diterima. perhatian akan terulang jika anak menangis. uang. ia akan jadi langganan.

Fixed interval (FI): selang waktu tertentu (misalnya 5 menit) menentukan pemberian penguat berikutnya. “Fixed –Ratio Schedule (FR)’. “Fixed-interval schedule”. 3. Biasanya setelah penguatan perilaku operan akan tidak terjadi lagi. yang didasarkan atas satuan waktu tetap di antara “reinforcements”. jumlah perilaku respoden yang terjadi tidak ditentukan secara kaku (misalnya setelah 5 sampai 15 kali). Berbeda dengan jadwal yang berdasarkan interval waktu. Variable interval (VI) waktu pemberian penguat divariasi di antara selang waktu tertentu (3 samapai 5 menit. suatu jumlah respons tertentu menentukan kapan penguatan berikutnya diberikan (misalnya setelah 25 kali terjadinya perilaku operant) yang didasarkan pada penyajian bahan pelajaran. jumlah respon di antara penguat yang satu dengan yang berikutnya tidak terlalu berfluktuasi karena organisme tidak tahu pasti kapan penguat berikutnya akan diberikan. misalnya saat kita belajar mengendarai mobil. Tetapi pada VI. misalnya). v Self Control 1. pemberian reinforcement menurut respon betul yang pertama setelah terjadi kesalahan-kesalahan respon. Tahapan shaping behavior ini banyak dilakukan dalam terapi perilaku atau dengan menggunakan teknik modifikasi perilaku. FI menunjukkan bahwa organisme harus menepati waktu tertentu. yang didasarkan atas penyajian bahan pelajaran dengan penguat setelah sejumlah rata-rata respon Variable ratio (VR). 4. v Chaining Adalah menggabungkan beberapa respon secara bersama dalam satu urutan . jadwal yang berdasarkan ratio cenderung menghasilkan jumlah respons yang tinggi sekali. selang waktu tertentu (misalnya 5 menit) menentukan pemberian penguat berikutnya. Removing / avoiding: menghindar dari situasi yang berpengaruh buruk atau menjauhkan situasi yang berpengaruh buruk itu sehingga tidak lagi menerima stimulus yang berpengaruh buruk itu . 2.terprogram atau lebih sering disebut sebagai schedule of reinforcement atau penjadwalan reinforcement. dan meningkat pada saat penguat berikutnya akan diberikan. “Variable Ratio Schedule (VR)”. yang mana pemberi reinforcement baru memberikan penguatan respon setelah terjadi jumlah tertentu dari respon. Penjadwalan reinforcement Jadwal reinforcement menguraikan tentang kapan dan bagaimana suatu respon diperbuat? Ada empat cara penjadwalan reinfocement : 1. “Variable interval schedule”. Keempat pola jadwal penguatan ini menghasilkan pola perilaku operan yang berbeda-beda.

Reinforce oneself: memberi reinforcement kepada diri sendiri sesudah berhasil menahan diri melakukan tingkah laku yang tidak dikehendaki 4. walaupun observasi model mungkin merupakan faktor utama dalam proses belajar. Adalah mungkin untuk menghilangkan pola perilaku negatif dengan meminta seseorang mempelajari teknik alternatif dari peran model lain. TEORI BELAJAR SOCIAL (SOCIAL LEARNING THEORY) ALBERT BANDURA 1. demikian juga menunjukkan pendekatan tanpa rasa takut kepada suatu stimulasi fobik dapat berguna untuk memotivasi pendekatan pasien dengan objek atau situasi yang ditakutinya. Takut dengan gelap. tapi faktor personal juga terlibat. status dan kemiripan dengan seseorang. mengumumkan keinginannya kepada khalayak di sekitarnya sehingga setiap kali ia minum alkohol atau merokok menanggung resiko dikritik atau dipermalukan oleh lingkungannya 3. Aversive Stimuli: menciptakan stimulus yang tidak menyenangkan bersamaan dengan munculnya stimulus yang ingin dihindari responnya. Ahli teori belajar sosial mengkombinasikan teori pembiasaan klasik dan operan. Albert Bandura adalah pengaju utama bidang pengajaran sosial.2. dihilangkan secara berangsur-angsur melalui latihan menerima stimulus dengan tetap mengendalikan emosi. Pilihan seseorang akan suatu model dipengaruhi oleh berbagai faktor. seorang anak yang ketakutan menjadi berkurang rasa takutnya jika ia melihat anak. disiasati dengan mengurangi sinar lampu tidur secara bertahap 5. suatu konsep yang dikenal sebagai determinisme timbal balik (reciprocal determinism). seseorang mengembangkan kemanjuran diri (self-efficacy) . Pemabuk atau perokok berat yang ingin berhenti. Perilaku terjadi sebagai hasil dari saling peran antara faktor kognitif dan lingkungan. Pengantar Teori Belajar Sosial Bandura Teori belajar sosial (social learning theory) terletak pada modelling peran. Jika model yang dipilih mencerminkan norma dan nilainilai yang sehat. Successive approximation: menyususn langkah-langkah antara yang secara progresif menuju ke arah pencapaian tujuan. Orang belajar dengan mengobservasi orang lain. Sebagai contoh. proses tersebut dikenal sebagai modeling atau belajar melalui peniruan. peniruan model harus didorong atau dihadiahi jika perilaku yang diharapkan menjadi bagian dari seseorang. Seseorang dapat belajar dengan meniru perilaku orang lain. D. Jika model peran adalah orang yang tidak disukai oleh seseorang. Sehingga ada interaksi antara lingkungan.anak lain bertindak tanpa rasa takut dalam situasi yang sama. 1. ”rasa diri mampu” yang mendorong seseorang memiliki kemampuan diri untuk mengadaptasi kehidupan yang normal setiap hari maupun dalam situasi yang mengancam. perilaku dan proses psikologis individu (pikiran dan bahasa) dalam membentuk kepribadian. seperti usia. maka perilaku peniruan (imitative behavior) kemungkinan tidak terjadi. perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungannya dan sebaliknya perilaku individu yang muncul juga dapat mempengaruhi lingkungannya. Sebagai contohnya. identifikasi dan interaksi manusia. Desensitisasi: kepekaaan yang berlebihan terhadap sesuatu (yang memicu peningkatan ketegangan emosi). . jenis kelamin. baik secara sengaja maupun tidak .

Lalu ia memperoleh gelar kesarjanaannya dari Psikologi di Universitas British Columbia di tahun 1949. Sejarah Tokoh Albert Bandura (1925 ) Albert Bandura dilahirkan tanggal 4 Desember 1925. dimanipulasi dan menolak subjektivitas penilaian internal dan sesuatu yang tidak nampak misalnya mental. Meskipun dengan fasilitas sederhana. dan David Meichenbaum. Dan beberapa ahli lain seperti Aaron Beck (terapi kognitif). 1.Eksperimen Bandura yang terkenal adalah the bobo doll studies. Isi Teori Bandura Behaviorism menekankan pada variabel perilaku yang dapat diobservasi. Penerapan Teori Belajar Sosial 1. Di Iowa ini ia bertemu dengan Virginia Varns. Setelah SMU ia bekerja di Ukon. pengajar di sekolah perawat yang kemudian dinikahinya dan melahirkan dua anak perempuan. dan Albert Ellis (Rational Emotive Behavior Therapy). Kemudian gelar Ph. Michael Mahoney. keberhasilan belajar ia capai dengan baik. Imitasi tersebut sebenarnya sudah merupakan reward bagi anak-anak karena model yang ditampilkan menarik bagi anak-anak. Dari universitas inilah pengaruh tradisi behavioristik mempengaruhi lahirnya teori belajar yang disampaikannya. Di akhir tahun 1960-an. aliran behaviorism sosial ini memacu lahirnya era psikologi kognitif. 3. Serta pengikut lain George Kelly. 2. . Pada tahun 1973 ia menjadi presiden APA (American Psychological Association) dan menerima penghargaan Tokoh Terkemuka di tahun 1980. Padahal tidak ada reward konkret yang diberikan pada anak-anak tersebut. gangguan makan dan kebiasaan belajar. Pengabdian pada kampus ini tetap dia jalani hingga saat ini. beberapa orang yang menekuni riset tentang trait dan kepribadian Buss dan Plomin (teori temperamen). tapi bagaimana seseorang secara individual mengembangkan penilaian diri mereka terhadap perilaku yang dilakukannya. 1. Karena tidak sekedar melihat proses perilaku eksternal saja. Walter Mischel. Ia belajar dari SD. McCrae dan Costa (five factor theory). Mengabaikan fungsi mental yang menurut mereka abstrak. Di awal karirnya ia berkolaborasi dengan mahasiswanya. 1. Richard Walters dalam menulis buku tentang agresi pada remaja (1959). Posisi post doctoral ia laksanakan di Wichita Guidance Center di Kansas. Masalah perilaku yang diterapi dapat meliputi gangguan perilaku merokok. sekolah menengah dan SMU di sana.D dicapainya di Universitas Iowa di tahun 1952. di sebuah kota kecil Mundare di utara Alberta Canada. Self–Control Therapy Dasar pemikirannya adalah bahwa setiap individu dapat mengelola dan mengatur perilakunya. Kemudian karir akademisnya dilanjutkan dengan mulai mengajar di Universitas Stanford pada tahun 1953. Metode eksperimen yang digunakan adalah prosedur standar dari sebuah manipulasi variabel yang kemudian diukur efeknya pada yang lain. 4. Tentang film yang dimunculkan di hadapan anak taman kanak-kanak yang pada akhirnya perilaku model atau actor dalam film tersebut ditiru kembali oleh anak-anak ketika di hadapan anak-anak ada benda yang hampir sama dengan objek agresi actor dalam film tersebut. Termasuk dalam hal ini teori kepribadian yang melihat lingkungan adalah faktor penentu perilaku. Tokoh-tokohnya antara lain : Julian Rotter.

Dengan mengatur lingkungan sesuai waktu dan alternatif perilaku yang diharapkan.Behavioral charts. Judgement. perilaku orang lain atau juga standar yang kita tetapkan sendiri. membuat daftar perilaku dengan rinci misalnya dengan membuat diari dan membuat laporan perilaku dan daftar kebiasaan misalnya berapa kali merokok dalam sehari. escape seperti ketergantungan obat. membuat dan merencanakan setting lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan. misalnya apakah kita telah membaca satu buku dalam seminggu. dengan diucapkan atau diikrarkan di depan orang lain. Self-observation. Environmental planning. ketahui diri dengan akurat. alcoholism. Keterlibatan dengan orang lain yang tidak kondusif bagi program pembentukan perilaku yang diharapkan memang sedapat mungkin dihindari. mengamati dan menyadari perilaku sendiri 2. Sehingga ada upaya membuat parameter baik dengan diri kita sendiri maupun dengan orang lain. observasi diri baik. memberikan balikan diri. kontrak diri dapat ditulis dan bila perlu dipersaksikan di depan orang lain. Tapi bukan berarti harus memutus persahabatan atau relasi dengan orang lain yang dapat memunculkan relapse (munculnya kembali perilaku yang tidak diharapkan). melihat . rasa tertekan (compliant type). Regarding self-observation . 3. Self-contracts. delusi kebesaran atau superiority complex. 3. Yaitu mencoba mengoptimalkan penghargaan atau positive self-response daripada self-punishment yang berlebihan karena kegagalan dalam mencapai peilaku tertentu. inactivity seperti sikap apatis. Karena excessive self-punishment dapat mengakibatkan : compensation seperti sikap agresif. setelah makan atau sambil minum kopi. tapi penting untuk menyampaikan dengan baik perilaku apa yang diharapkan sebenarnya. gambaran diri yang otentik berkaitan dengan perilaku kita. 2. 2. 1. Sehingga menjadi penting untuk membuat regulasi diri dalam membentuk perilaku yang dapat meningkatkan harga diri serta membentuk konsep diri dengan utuh. Misalnya jika gagal menghukum diri sendiri dan berhasil kita mentraktir diri sendiri atau menjadi bangga dan merasa puas. Self-response. Regarding standards. Self-Regulation Self-regulation adalah bagaimana kita mengontrol perilaku kita sendiri dengan melakukan tiga langkah : 1. lari dari masalah (avoidant type) Bandura menyarankan untuk memperkuat konsep diri dengan tiga langkah dalam self-regulation: : 1. dengan teman atau sambil bekerja dan di tempat seperti apa. yakini bahwa standard jangan terlalu tinggi akan membuat kita gagal dan standard yang terlalu rendah menjadi kurang berarti bagi pencapaian . membandingkannya dengan standard perilaku yang ada seperti etika. situasinya seperti apa.

beri penghargaan diri dan jangan menghukum diri sendiri. tidak disukai . Orang dengan gangguan fobia dapat melihat model yang dengan rileks secara perlahan mendekati dan menyentuh ular tanpa rasa takut. 4. proses modeling terganggu karena lemahnya perhatian 2. Reproduction. 3. Kemudian dengan mencoba secara bertahap pada dirinya sendiri. Regarding self-response. Akuisisi yaitu: ujicoba selama subyek belajar mengasosiasikan dua stimulus. punishment tidak bekerja dengan baik dan seefektif reward dalam modeling ini. Motivation. Attention. Hal tersebut merupakan komponen yang penting dalam rencana pengobatan kelompok dimana anggota kelompok belajar dari satu sama lainnya. perlu adanya perhatian yang dipersiapkan lebih dulu. Rayakan kemenangan. 1. reinforcement yang dijanjikan misal insentif (promised reinforcements) dalam bayangan kita dan karena melihat dan mengingat reinforce yang telah diterima model (vicarious reinforcement). jika model kurang menarik perhatian. belajar dan modifikasi perilaku yang dibentuk secara fungsional lewat proses learning (belajar) dan pengkondisian. Organisme belajar bahwa stimulus pertama adalah “kunci” untuk stimulus berikutnya. Tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respon. 3. Ekstinsi yaitu: apabila US (unconditional stimuli) tidak dihadirkan lagi bersama CS (conditional stimuli) sehingga akan terjadi pemadaman. dorongan dari dalam individu dapat dipengaruhi oleh reinforcement yang dulu pernah diperoleh setelah melakukan perilaku tertentu (past reinforcement). Teori Skinner adalah tentang perubahan tingkah laku. Seperti misalnya pada fobia ular. Skinner .kesuksesan. yaitu : 1. Respon atau tingkah laku organisme bisa dikondisikan dan organisme memiliki respon tertentu melalui belajar dan latihan. dan jangan biarkan kegagalan menghantui. lapar dan tidak nyaman. kemampuan mengingat kembali dan memanggil materi ingatan dari dan menterjemahkannya dalam perilaku yang nyata. Spontaneous Recovery yaitu: pemulihan untuk memberikan respon bersyarat tanpa melalui uji coba awal. Modelling juga telah digunakan dalam program menurunkan berat badan dan berhenti merokok. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses modeling berhasil . Retention. Dimulai dengan membayangkan perilaku model yang kita lakukan sendiri dalam bayangan kita yang kemudian akan membantu kita menerapkannya dalam perilaku nyata. tetapi berbeda dengan Pavlov. RINGKASAN Prinsip pengkondisian klasik (classical conditioning) dasarnya melihat organisme belajar dengan mengasosiasikan satu stimulus dengan stimulus lain. Menurut Bandura. Kita perlu menyimpan informasi dalam ingatan dengan lebih dulu memberikan tanda dalam bentuk gambar atau bahasa sebagai bagian perilaku kita. Modelling Therapy Terapi ini dapat diterapkan pada gangguan fobia dan kecemasan. Standard yang berharga dan bermakna adalah yang sesuai dengan kapasitas individu dan sumber daya yang ada. atau klien/individu sedang mengantuk.

dan self control. Berikan penjelasan tentang bagaimana aplikasi teori classical conditioning/ operant conditioning / social learning* (pilih salah satu) pada: a. identifikasi dan interaksi manusia. Skinner? Berikan penjelasan dan sebutkan teknik modifikasi perilaku menurut pendekatan tersebut! 4. EVALUASI 2. Teori belajar sosial (social learning theory) terletak pada modelling peran. Contoh penerapannya. Apa asumsi dasar tentang perilaku menurut pendekatan operant conditioning dari Burhuss F. E. psikologi iklan c. A. Pavlov? Berikan penjelasan dan sebutkan teknik modifikasi perilaku menurut pendekatan tersebut! 3. yaitu: respondent response (reflexive response) dan operant response (instrumental response) yaitu respon diharapkan muncul. tapi faktor personal diperhatikan seperti proses kognitif dan self regulation. pengajaran self-help skill pada anak Teknik Desensitisasi Sistematik Sunday. shaping behavior. Seseorang dapat belajar dengan meniru perilaku orang lain. yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsang tertentu berupa pengukuh atau reinforcer. pembentukan sikap d. 1. peningkatan prestasi atau performansi kerja f. Reinforcement merupakan kejadian yang muncul mengikuti respon yang diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan munculnya respon tersebut kembali. Apa asumsi dasar tentang perilaku menurut pendekatan classical conditioning Ivan P. chaining. Apa asumsi dasar tentang perilaku menurut pendekatan social learning? Jelaskan prosedur – prosedur dari pendekatan tersebut! 5. June 13th. terapi terhadap rasa takut b. 2010 BAB III TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIK 1.membuat perincian lebih jauh dengan membedakan adanya dua macam respon. PENDAHULUAN . promosi hidup sehat e.

Ahli behavioral dalam menjalankan fungsi sebagai pelatih perilaku berdasarkan asumsi-asumsi sebagai berikut: (a) memandang manusia secara intrinsik bukan sebagai baik atau buruk. diantaranya desensitisasi sitematis. terapi aversif. Joseph Wolpe. B. SEJARAH TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIK Nietzel dan Berstein (1987) mengemukakan tentang latar belakang sejarah teknik ini antara lain tokoh Watson dan Rayner melihat bahwa rasa takut dipelajari lewat conditioning . Perhatian behavioral adalah pada perilaku yang nampak . Dengan pengkondisian klasik. Pendekatan behavioral memandang manusia atau kepribadian manusia pada hakikatnya adalah perilaku yang dibentuk berdasarkan hasil pengalaman dari interaksi individu dengan lingkungannya. misalnya mengubah kebiasaan tertentu (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien (d) penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi. sehingga terapi tingkah laku mendasarkan diri pada penerapan teknik dan prosedur yang berakar pada teori belajar. tetapi sebagai hasil dari pengalaman yang memiliki potensi untuk segala jenis perilaku (b) manusia mampu untuk mengkonsepsikan dan mengendalikan perilakunya (c) manusia mampu mendapatkan perilaku baru (d) manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana perilakunya juga dipengaruhi oleh orang lain. Salah satu aspek yang paling penting dalam memodifikasi perilaku adalah penekannya pada tingkah laku yang didefinisikan secara operasional. LATAR BELAKANG TEORITIS Adapun ciri-ciri terapeutik pendekatan behavioral yaitu: (a) pemusatan perhatian pada tingkah laku yang tampak dan spesifik (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan terapeutik. Desensitisasi sistematis sering digunakan untuk mengurangi maladaptasi kecemasan yang dipelajari lewat conditioning (seperti fobia) tapi juga dapat diterapkan pada masalah lain. respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Desensistisasi sistematis merupakan teknik yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif. Ada sekitar 30 teknik spesifik.Bab ini membicarakan tentang teknik desensitisasi sistematik merupakan salah satu teknik perubahan perilaku yang didasari oleh teori atau pendekatan behavioral klasikal. Kata-kata kunci: desensitisasi sistematis. yakni menerapkan prinsipprinsip belajar secara sistematis dalam proses perubahan perilaku menuju ke arah yang lebih adaptif. latihan perilaku asertif. counter conditioning. terapi implosive. C. psikolog Jerman. mengembangkan teknik “Autogenic training” yang . pembentukan perilaku model dan kontrak perilaku. Pendekatan behavioral memiliki sejumlah teknik spesifik yang digunakan dalam melakukan pengubahan perilaku berdasarkan tujuan yang hendak dikehendaki/ dicapai. biasanya berupa kecemasan dan disertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. 1. classical conditioning. teramati dan terukur. Tahun 1920-an Johannes Schulz. Untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku serta untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih dapat menyesuaikan. demikian juga sebaliknya rasa takut dapat dihilangkan lewat counter conditioning-nya.

yang secara fisiologis bertentangan dengan kecemasan . D. Desensitisasi sistematis dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang dapat membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu. Disediakan waktu untuk menyusun suatu tingkatan kecemasan-kecemasan klien dalam area tertentu. stimulus yang menimbulkan kecemasan dipasangkan dengan stimulus yang menimbulkan keadaan santai. Situasi-situasi dihadirkan dalam suatu rangkaian dari yang sangat tidak mengancam menuju yang sangat mengancam. kekuatan stimulus penghasil kecemasan dapat dilemahkan dan gejala kecemasan dapat dikendalikan dan dihapus melalui penggantian stimulus. dengan menghadapkan individu yang mengalami fobia pada stimulus yang tidak dapat menimbulkan kecemasan secara gradual ditingkatkan ke stimulus yang lebih kuat menimbulkan ketakutan. ketidaksetujuan atau fobia. Desensitisasi sistematis pertama kali disebutkan sebagai suatu terminology dalam buku Joseph Wolpe tahun 1958 tentang Psychotherapy by Reciprocal Inhibition (Nietzel & Berstein. Tingkatan stimulus-stimulus penghasil kecemasan dan respon kecemasan itu terhapus. 2. Cara yang digunakan dalam keadaan santai. Wolpe (dalam Corey. 1987). 2003). Tahun 1935 Guthrie mengemukakan beberapa teknik untuk menghapus kebiasaan maladaptiv termasuk kecemasan. yang secara sistematis diasosiasikan dengan aspek-aspek dari situasi yang mengancam. rasa iri. Prosedur pengkondisian desensitisasi sistematis: 1. Dalam teknik ini. Selama pertemuan-pertemuan terapeutik pertama klien diberi latihan relaksasi yang terdiri atas kontraksi. PROSEDUR PELAKSANAAN DESENSITISASI SISTEMATIK Desensitisasi sistematik menggunakan teknik relaksasi. dan lambat laun pengendoran otot-otot yang berbeda sampai . Desensitisasi diarahkan kepada mengajar klien untuk menampilkan suatu respon yang tidak konsisten dengan kecemasan. Klien dilatih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasikan. Wolpe telah mengembangkan suatu respon relaksasi. menunjukkan individu dalam situasi belajar baru dengan memasangkan pengalaman yang tidak menyenangkan dengan pengalaman yang menyenangkan (Martin & Pear. Pemasangan secara berulang-ulang sehingga stimulus yang semula menimbulkan kecemasan hilang secara berangsur-angsur. Dengan pengkondisian klasik. relaksasi dan autosugesti untuk klien yang mengalami kecemasan. Tingkatan dirancang dalam urutan dari situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya paling rendah hingga situasi yang paling buruk yang dapat dibayangkan oleh klien. 3.mengkombinasikan hypnosis. seperti penolakan. John Wolpe mengembangkan suatu hipotesis bahwa untuk menghilangkan respon yang tidak dikehendaki dapat dilakukan dengan counter conditioning . 2005) juga mengatakan bahwa systematic desensitization adalah teknik terapi untuk segenap tingkah laku neurotic yang merupakan ungkapan atau symptom dari kecemasan dan bahwa respon kecemasan dapat dihapus oleh penemuan respon-respon yang secara inheren berlawanan dengan respon tersebut. Terapis menyusun suatu daftar yang bertingkat mengenai situasi-situasi yang kemunculannya meningkatkan taraf kecemasan atau penghindaran.

dada dan kemudian anggta-anggota badan bagian bawah. dan cara mengendurkan bagianbagian tubuh tertentu. Proses desensitisasi melibatkan keadaan di mana klien sepenuhnya santai dengan mata tertutup. E. Tujuan dari terapi ini adalah menimbulkan pengalaman ketakutan klien yang sangat serius. 1. diikuti oleh kepala. Kemudian relaksasi dimulai lagi. maka prosedur desensitisasi dapat dimulai. Klien diminta untuk mempraktekkan relaksasi di luar pertemuan terapeutik. Sebelum latihan relaksasi dimulai. 4. PROSEDUR Seperti pada desensitisasi sistematik. sehingga secara nyata hal ini akan mengurangi ketakutannya terhadap situasi yang memuncak. Penyusunan hirarki penghindaran terhadap tanda/ isyarat (cue) . sekitar 30 menit lamanya setiap hari. Situasi yang netral diungkapkan. klien diberitahu tentang cara relaksasi dalam kehidupan sehari-hari. menggunakan prinsip-prinsip teori belajar dan psikodinamik. Dengan cara meniadakan reinforcement yang menguatkan rasa takut tersebut. Extinction adalah pengurangan secara bertahap respon-respon cemas yang merupakan hasil adanya rasa takut. Apabila klien telah dapat belajar untuk santai dengan cepat. Latihan relaksasi berdasarkan teknik yang digariskan oleh Jacobson dan diuraikan secara rinci oleh Wolpe. leher dan pundak. Pemikiran dan pembayangan (imagery) situasi-situasi yang membuat santai seperti duduk di pinggir danau atau berjalan-jalan di taman yang indah sering digunakan. Dia berpendapat bahwa takut dan hal-hal yang berhubungan dengan cemas merupakan hasil belajar dan ia tidak setuju bahwa takut dapat dikurangi secara efektif dengan cara pendekatan counter conditioning. Jika klien mampu tetap santai. Terapi ini dikembangkan oleh Thomas G. Klien diajari bagaimana mengendurkan segenap otot dan bagian tubuh dengan titik berat pada otot-otot wajah. Terapis mencerikan serangkaian situasi dan meminta klien untuk membayangkan dirinya berada dalam situasi yang diceritakan oleh terapis tersebut. Treatmen diangggap selesai apabila klien mampu untuk tetap santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling menggelisahkan dan menghasilkan kecemasan. Terapis bergerak mengungkapkan situasi-situasi secara bertingkat sampai klien menunjukkan bahwa dia mengalami kecemasan. punggung. dan klien diminta untuk membayangkan dirinya berada dalam situasi didalamnya. Hal yang penting adalah bahwa klien mencapai keadaan tenang dan damai. Stampfl tahun 60’an dalam Kanfer & Goldstein (1980). Otot-otot tangan terlebih dahulu. perut. dan pada saat itulah pengungkapan situasi diakhiri. 5. prosedur terapi ini menggunakan imaginasi tentang hal-hal yang menyebabkan cemas. hanya saja terapi ini tidak menggunakan latihan relaksasi. tetapi ia yakin bahwa seseorang dapat menjadi tidak takut dengan menggunakan prosedur yang didasarkan pada extinction model. dan klien kembali membayangkan dirinya berada dalam situasi-situasi yang diungkapkan terapis. Jadi proses extinction dilakukan terapis dengan cara menghadirkan kembali atau simbolisasi yang menghasilkan stimulus (cue) dimana respon cemas terkondisikan tanpa menghadirkan reinforcement yang menguatkan respon tersebut. maka dia diminta untuk membayangkan situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya paling rendah.tercapai suatu keadaan santai penuh.

suami/istri atau figur yang berhubungan dalam hidup klien. homosexual. sedangkan yang paling tinggi adalah yang dinamika internalnya berhubungan dengan masalah-masalah psikis klien yang sangat mendasar. maka kondisi yang dimaksud misalnya melihat bangunan-bangunan kantor dan partemen yang tinggi. Ini diperoleh dari penyataan-pernyataan klien selama interviu maupun tingkah laku non verbal yang menggambarkan faktor psikodinamik yang berhubungan dengan ketakutan klien. jalan-jalan yang melingkar di pegunungan . aktivitas seksual. 1. Punishment Pasien yang dibiasakan untuk melihat dirinya sendiri sebagai penerima kemarahan. misalnya oedipus. penolakan. Contoh: Aggresion Adegan yang ada biasanya berkisar tentang ekspresi kemarahan. permusuhan dan agresi dari orang-orang dalam kehidupannya. Penyusunan tersebut didasarkan pada teori psikodinamik dan pengetahuan terapis tentang reaksireaksi yang biasa dilakukan klien terhadap masalah-masalah yang hampir sama. Punishment biasanya diberikan karena pasien melakukan aktivitas-aktivitas yang dilarang. hukuman. Tanda-tanda itu biasanya berhubungan dengan masalah-masalah agresi dan permusuhan. bisa berupa kondisi-kondisi kejadian dalam hidup klien yang dapat diidentifikasi dengan cepat. jembatan-jembatan dan sebagainya. pada orang-orang yang takut pada ketinggian.Dari interviu awal. Loss of control Pasien didorong untuk membayangkan dirinya kehilangan kontrol impuls terhadap aktivitas sexual dan agresif. Hirarki ini hanya berisi aitem-aitem yang menghasilkan tingkat kecemasan maksimal klien. Tanda-tanda yang paling rendah adalah kejadian-kejadian yang berhubungan dengan ketakutan klien. Sexual material Macam-macam dugaan yang berhubungan dengan sex. terapis menyusun hipotesis yang berisi tanda-tanda penting ketakutan klien. Tema-tema dinamika yang khusus yang ditekankan dalam hirarki tergantung pada problem klien dan informasi selama interviu. agresi terhadap orangtua. hirarki disusun terapis sendiri tanpa klien setelah selesai interviu. kehilangan kontrol impuls dan kesalahan. aktivitas oral dan anal. Sebagai contoh. Dimulai dari stimulus-stimulus eksternal yang menimbulkan kecemasan sampai stimulus-stimulus internal yang diduga menghasilkan tingkat kecemasan yang maksimal. permusuhan. Pelaksanaan Terapi Implosif . Tingkat penderitaan badan meliputi kerusakan tubuh sampai kematian korban. saudara. Berbeda dengan desensitisasi sistematis. penderitaan fisik. kastrasi.

Klien tidak diminta untuk menerima dan menyetujui ketepatan imaginasinya. Untuk mengatasi hal ini. Sebagai pengganti. Prosedur ini dilewati selama kira-kira 30-40 menit. proses ini diulangi lagi. apakah akan diberikan dalam bentuk nyata (in vivo) atau khayalan (imaginal). Adegan yang menakutkan yang dapat menyebabkan tingkah laku penolakan (aversif) tertentu tersebut. juga waktu yang digunakan dalam pemberian adegan. pada awal sesi ketiga terapis menerangkan kepada klien tentang terapi tersebut. Terapis hanya menggunakan tanda-tanda eksternal dan gambaran adegan yang hidup. Selanjutnya klien diberi kesempatan untuk membayangkan sendiri adegan tersebut dalam imaginasinya. tanda-tanda psikodinamik dan atau interpretasi tidak digunakan. Bila sudah mencapai kecemasan yang tinggi. dalam masing-masing sesi tritmen.Setelah hirarki direncanakan. Adegan ini kemudian diterangkan dan diuraikan oleh terapis dengan gambaran yang hidup dan detail. Batasan-batasan dalam penerapan terapi implosif a) Terapis harus mengetahui dengan sungguh-sungguh teori-teori psikodinamik. Pada saat muncul tanda pertama kali penurunan kecemasan. Dalam formulasi adegan ini. dan didorong untuk memerankan partisipasi sepenuhnya. 1. Cara untuk mengetahui bila telah muncul kecemasan yaitu dengan observasi keadaan klien seperti munculnya gejolak . varasi baru dimasukkan untuk memperoleh respon kecemasan yang kuat. terutama psikoanalitik. menyeringai wajahnya. Lebih dramatis adegan itu. bagi beberapa klien dapat sangat mengerikan. klien tetap dibiarkan sampai secara spontan kecemasannya menurun. sebab penyajian dalam bentuk nyata. bahkan diberikan dalam waktu yang diperpanjang. akan lebih memudahkan klien berpartisipasi secara penuh dalam pengalaman itu. Terapis melanjutkan mengamati munculnya kecemasan dan mensugesti bahwa imaginasinya adalah hidup. bila tidak dia harus menahan diri untuk tidak menggunakan pendekatan ini b) Membuka imaginasi tentang situasi-situasi yang menakutkan . dapat diberikan variasi yaitu dengan memberikan stimulus nyata secara singkat pada saat khayalan berlangsung. justru akan dapat memperkuat ketakutan. Terapis mengatakan adegan-adegan yang akan diberikan kepada klien. menggerak-gerakkan kepala ke anan ke kiri dan meningkatnya aktivitas motorik di kursi. Penggunaan flooding ini harus dipertimbangkan. Sesi ini berakhir setelah 50-60 menit. Klien harus duduk di kursi dan hidup dalam imaginasi sesuai adegan dengan perasaan dan emosi yang tulus. maka digunakan prosedur flooding . Variasi terapi implosif Cara lain dari terapi implosif yang agak berbeda adalah yang disebut flooding. Prosedur ini diulangi sampai menghasilkan penuruunan kecemasan yang signifikan. 1. Perbedaan pokoknya pada tipe adegan yang diperlihatkan pada klien. sama dengan terapi implosif. Stampfl dan Levis mengatakan bahwa percobaan ini dilakukan oleh terapis untuk mencapai tingkat kecemasan maksimal klien. keringat. Kemudian klien diminta melakukan nya sendiri di rumah satu hari samapai pertemuan pada sesi berikutnya.

ketakutan menghadapi ujian. dan dapat berhubungan baik dengan klien yang mungkin mempunyai pengalaman negatif dengan adegan yang menimbulkan kecemasan yang diberikan 1. Jelaskan prosedur pelaksanaan teknik desensitisasi sistematik ! 3. RINGKASAN Dalam memilih metode yang tepat untuk mengurangi rasa takut. tetapi keliru apabila menganggap teknik ini hanya dapat diterapkan pada penanganan ketakutan-ketakutan. namun juga merupakan pilihan utama. harus dipertimbangkan jenis ketakutan /kecemasan yang bagaimana dan kondisi apa yang sesuai.fip. Terapi implosif bukan sebuah alternatif. Apa tujuan dari penggunaan teknik desensitisasi sistematik ? 2. EVALUASI 1. mencakup situasi interpersonal. Desensitisasi sistematis adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia. pelatih harus mengguakan modelling yang tersamar atau desensitisasi untuk membantu klien rileks. Bagaimana prosedur pelaksanaan terapi implosif? 5.Jika kecemasan terhadap situasi sosial sangat tinggi. tetapi bila klien takut untuk melakukan latihan asertif dalam situasi nyata. Dari beberapa penelitian desensitisasi sistematik merupakan metode yang paling baik untuk mengurangi berbagai jenis kecemasan. spesifiknya perilaku tersebut disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan. G. Desensitisasi sistematis dapat diterapkan secara efektif pada berbagai situasi penghasil kecemasan. Bagaimana menurut Anda keefektifan desensitisasi sistematik dibandingkan dengan terapi implosif? http://dosen. ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi.c) Terapis harus mengetahui betul tanda-tanda kecemasan yang ada. maka latihan asertif harus digunakan pertamatama. Keefektifan teknik desensitisasi sistematik sangat ditentukan oleh apa? Jelaskan kenapa factor tersebut berpengaruh ! 4. impotensi dan frigiditas seksual.id/hetti/?cat=1 . membuat adegan-adegan yang dapat menimbulkan kecemasan tinggi.um. kecemasankecemasan neurotic.ac. F.