P. 1
kejayaan dinasti abbasiyyah

kejayaan dinasti abbasiyyah

|Views: 716|Likes:
Published by Kie KieNz

More info:

Published by: Kie KieNz on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2014

pdf

text

original

Tugas Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Islam Dosen : Dra. Hj. Ummi Kulsum, M.Hum.

“ Kejayaan kebudayaan Islam Masa Dinasti Abbasiyyah“

Disusun oleh : Agus Setiawan Sakina 09140037 10140092

PRODI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Dinamakan dinasti abbasiyyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Pendiri dinasti ini adalah Abdullah Al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al- Abbas. Ia seorang pribadi yang tangguh dan memegang peranan penting dalam berdirinya Abbasiyah, sekaligus menjadi kholifah pertama pada dinasti ini. Meskipun pada awal berdirinya dinasti ini tampak jelas adanya berbagai pembantaian yang mana guna memperkokoh dan menyetabilkan pemerintahan, masa-masa keemasan dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya muncul berbagai aliran dan mazhab dan lain sebagainya juga mendominasi dalam masa dinasti ini. Meskipun pada akhirnya mengalami masa kehancuran juga seperti pada masa Bani Umayyah. Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan dalam rentang waktu yang panjang yaitu tahun 132 H/750 M - 656 H/1258 M,

mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Akan tetapi, kekuatan kekhalifahan mulai menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh orang Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke- 13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan. Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan dunia Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, banyak faktor yang menyebabkan menyebabkan keruntuhan dinasti abbasiyyah baik faktor internal maupun eksternal. Meskipun dinasti abbasiyyah akhirnya hancur oleh para tentara mongol yang membumi-hanguskan pusat pemerintahan dinasti abbasiyyah di Baghdad. Namun, pada masa inilah peradaban Islam mencapai masa kejayaan dalam sejarah peradaban Islam dunia.

BAB II PEMBAHASAN

A. Berdirinya Dinasti Abbasiyyah Dinasti Abbasiyah atau Bani Abbas merupakan dinasti yang berkuasa melanjutkan kekuasaan bani Umayyah. Dinamakan dinasti abbasiyyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Pendiri dinasti ini adalah Abdullah Al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al- Abbas. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H/750 M sampai dengan tahun 656 H/1258 M1. Pada abad ketujuh terjadi pemberontakan diseluruh negeri. Pemberontakan yang paling dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah). Yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abbul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah riwayat Dinasti Bani Umayyah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaan Abbasiyah. Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya Daulah Abbasiyah bukan saja pergantian Dinasti akan tetapi lebih dari itu adalah penggantian struktur sosial dan ideologi. Sehingga dapat dikatakan kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah merupakan suatu revolusi. Ada sejumlah alasan mengapa gerakan revolusi yang dipelopori oleh para keturunan Abbas berhasil mendapat dukungan massa. Yaitu banyaknya kelompok umat yang sudah tidak mendukung kekuasaan dinasti umayah diantaranya kelompok syi’ah, khawarij dan mawali. Selain itu, Abu Al Abbas yang enggerakkan roda revolusi ini menggunakan ideologi keagamaan untuk meruntuhkan legistimasi kekuasaan dinasti umayyah.

1

Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. (Jakarta : Raja Grafindo Persada. 1993), hlm. 49.

B. Perkembangan Pemerintahan Dinasti Abbasiyyah Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah Al-Mansur ―Saya adalah sultan Tuhan diatas buminya ―. Selama dinasti abbasiyyah berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan danpolitik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan dinasti abbasiyyah menjasi 5 periode 2: 1. Periode pertama (132 H/ 750 M-232H/847 M) Periode ini disebut juga sebagai periode pengaruh Persia yang pertama. 2. Periode kedua (232 H847 N-334 H-945 M) Periode ini disebut juga masa pengaruh Turki yang pertama. 3. Periode ketiga (334 H/945 M-447 H-1055 M) Pada periode ini daulat bani Abbasiyyah di bawah pemerintahan bani Buwaih. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. 4. Periode keempat (447 H/1055M-590 H/1199 M) Periode ini ditandai dengan kekuasaan bani Saljuk atas dinasti Abbasiyah. Periode ini juga disebut masa pengaruh Turki kedua. 5. Periode kelima (590H/1199 M-656 H/1258 M) Pada periode ini dinasti Abbasiyah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad. Wilayah kekuasaan khalifah sangat kecil dan kekuatan politiknya sangat lemah. Pada masa inilah kekuasaan Mongol dan Tatar di bawah pimpinan Hulahu Khan meluluh-lantahkan dinasti Abbasiyah dan tanpa ada perlawanan yang berarti. Pada masa awal berdirinya Daulah Abbasiyah ada 2 tindakan yang dilakukan oleh para Khalifah Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan mempertahankan dari kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu : pertama,

2

Bojena Gajane Stryzewska. Tarikh al-Daulat al-Islamiyah.(Beirut: Al-Maktabah Al-Tijari, Tanpa Tahun), hlm. 360.

tindakan keras terhadap Bani Umayah dan kedua pengutamaan orang-orang turunan persia. Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh seorang wazir (perdana menteri) atau yang jabatanya disebut dengan wizaraat . Sedangkan wizaraat itu dibagi lagi menjadi 2 yaitu: 1) Wizaraat Tanfiz (sistem pemerintahan presidential ) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah dan bekerja atas nama Khalifah. 2) Wizaaratut Tafwidl (parlemen kabimet). Wazirnya berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan . Sedangkan Khalifah sebagai lambang saja . Pada kasus lainnya fungsi Khalifah sebagai pengukuh Dinasti-Dinasti lokal sebagai gubernurnya Khalifah3. Selain itu, untuk membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah dewan yang bernama diwanul kitaabah (sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang raisul kuttab (sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa raisul diwan (menteri departemendepartemen). Tata usaha Negara bersifat sentralistik yang dinamakan an-nidhamul idary al-markazy. Selain itu, dalam zaman daulah Abbassiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara, baitul maal, organisasi kehakiman., Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Berikut khalifah-khalifah dinasti Abbasiyyah : 1. Abu Abbas As-Saffah 2. Abu Ja’far al Mansur 3. Al Mahdi 4. Al Hadi 5. Harun Ar Rasyid 6. Al Amin 7. Al Ma’mun 8. Al Mu’tasim 9. Al Wasiq 10. Al Mutawakkil 11. Al Muntasir 12. Al Musta’in 13. Al Mu’taz 14. Al Muhtadi 15. Al Mu’tamid 16. Al Mu’tadid
3

750-754 M 754-775 M 775-785 M 785-786 M 786-809 M 809-813 M 813-833 M 833-842 M 842-847 M 847-861 M 861-862 M 862-866 M 866-869 M 869-870 M 870-892 M 892-902 M

Ira M. Lapidus. Sejarah Sosial Umat Islam, bag,1&2terj.,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000),hlm.180.

17. Al Muktafi 18. Al Muktadir 19. Al Qahir 20. Ar Radi 21. Al Muttaqi 22. Al Muktafi 23. Al Muti 24. At Ta’I 25. Al Qadir 26. Al Qa’im 27. Al Muqtadi 28. Al Mustazir 29. Al Mustarsid 30. Ar Rasyid 31. Al Muqtafi 32. Al Mustanjid 33. Al Mustadi 34. An Nasir 35. Az Zahir 36. Al Mustansir 37. Al Musta’sim

902-908 M 908-932 M 932-934 M 934-940 M 940-944 M 944-946 M 946-974 M 974-991 M 991-1031 M 1031-1075 M 1075-1094 M 1094-1118 M 1118-1135 M 1135-1136 M 1136-1160 M 1160-1170 M 1170-1180 M 1180-1225 M 1225-1226 M 1226-1242 M 1242-1258 M

1. Periode pertama (132 H/ 750 M-232H/847 M) Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa

keemasannya. Secara politis, para Khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Sistem politik yang dijalankan oleh dinasti abbasiyyah periode I : a. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

b. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan. c. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia . d. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya . e. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah

Para khalifah pada periode ini yaitu : a. Abul Abbas as-saffah (750-754 M) b. Abu Ja’far al mansyur (754 – 775 M) c. Abu Abdullah M. Al-Mahdi bin Al Mansyur (775-785 M) d. Abu Musa Al-Hadi (785—786 M) e. Abu Ja’far Harun Ar-Rasyid (786-809 M) f. Abu Musa Muh. Al Amin (809-813 M) g. Abu Ja’far Abdullah Al Ma’mun (813-833 M) h. Abu Ishak M. Al Muta’shim (833-842 M) i. Abu Ja’far Harun Al Watsiq (842-847 M) Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman Khalifah Harun alRasyid (786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M). Dalam periode ini, sebenarnya banyak gerakan politik yang mengganggu stabilitas baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Namun, para khalifah mempunyai prinsip yang kuat dan tidak mudah terpengaruh sehingga semua gangguan dapat diatasi.

2. Periode kedua (232 H847 N-334 H-945 M) Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Kehidupan mewah para Khalifah ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Demikian ini menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh Khalifah alMu’tasim untuk mengambil alih kendali pemerintahan. Usaha mereka berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada di tangan mereka, sementara kekuasaan Bani Abbas di dalam Khilafah Abbasiyah yang didirikannya mulai pudar, dan ini merupakan awal dari keruntuhan Dinasti ini, meskipun setelah itu usianya masih dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun. Khalifah Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Pada masa pemerintahannya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat. Setelah Khalifah al-Mutawakkil wafat, merekalah yang memilih dan mengangkat Khalifah. Dengan demikian kekuasaan tidak lagi berada di tangan Bani Abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan Khalifah.

Sebenarnya ada usaha untuk melepaskan diri dari para perwira Turki itu, tetapi selalu gagal. Dari dua belas Khalifah pada periode kedua ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, selebihnya kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahtanya dengan paksa. Wibawa Khalifah merosot tajam. Setelah tentara Turki lemah dengan sendirinya, di daerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat, mendirikan Dinasti-Dinasti kecil. Inilah permulaan masa disintregasi dalam sejarah politik Islam.

3. Periode ketiga (334 H/945 M-447 H-1055 M) Pada periode ini, Daulah Abbasiyah berada di bawah kekuasaan Bani Buwaih. Keadaan Khalifah lebih buruk dari sebelumnya, terutama karena Bani Buwaih adalah penganut aliran Syi’ah. Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Bani Buwaih membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara : Ali untuk wilayah bagian selatan negeri Persia, Hasan untuk wilayah bagian utara, dan Ahmad untuk wilayah Al-Ahwaz, Wasit dan Baghdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi merupakan pusat pemerintahan Islam karena telah pindah ke Syiraz di masa berkuasa Ali bin Buwaih yang memiliki kekuasaan Bani Buwaih. Meskipun demikian, dalam bidang ilmu pengetahuan Daulah Abbasiyah terus mengalami kemajuan pada periode ini. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Maskawaih, dan kelompok studi Ikhwan as- Safa. Bidang ekonomi, pertanian, dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Kemajuan ini juga diikuti dengan pembangunan masjid dan rumah sakit. Pada masa Bani Buwaih berkuasa di Baghdad, telah terjadi beberapa kali kerusuhan aliran antara Ahlussunnah dan Syi’ah, pemberontakan tentara dan sebagainya.

4. Periode keempat (447 H/1055M-590 H/1199 M) Periode ini ditandai dengan kekuasaan Bani Seljuk atas Daulah Abbasiyah. Kehadiran Bani Saljuk ini adalah atas undangan Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaih di Baghdad. Keadaan Khalifah memang membaik, paling tidak karena kewibawaannya dalam bidang agama kembali setelah beberapa lama dikuasai oleh orangorang Syi’ah.

Sebagaimana pada periode sebelumnya, ilmu pengetahuan juga berkembang pada periode ini. Nizam al-Mulk, perdana menteri pada masa Alp Arselan dan Malikhsyah, mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan madrasah Hanafiyah di Baghdad. Cabang-cabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. Madrasah ini menjadi model bagi perguruan tinggi dikemudian hari. Dari madrasah ini telah lahir banyak cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Di antara para cendekiawan Islam yang dilahirkan dan berkembang pada periode ini adalah al-Zamakhsari, penulis dalam bidang Tafsir dan Ushul al-Din (teologi), AlQusyairi dalam bidang tafsir, al-Ghazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawwuf, dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Dalam bidang politik, pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa propinsi dengan seorang Gubernur untuk mengepalai masing-masing propinsi tersebut. Pada masa pusat kekuasaan melemah, masing-masing propinsi tersebut memerdekakan diri. Konflikkonflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri, dan sedikit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan mereka tersebut berakhir di Irak di tangan Khawarizm Syah pada tahun 590 H/ 1199 M.

5. Periode kelima (590H/1199 M-656 H/1258 M) Berakhirnya kekuasaan Dinasti Seljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode ini, khilafah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan Dinasti tertentu, walaupun banyak sekali Dinasti Islam berdiri. Ada di antaranya yang cukup besar, namun yang terbanyak adalah Dinasti kecil. Para Khalifah Abbasiyah sudah merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan Khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Baghdad. Baghdad dapat direbut dan dihancur luluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam, yang disebut masa pertengahan.

C. Kejayaan dan Hasil Kebudayaan Islam Masa Dinasti Abbasiyyah Pemerintahan dinasti abbasiyyah mencapai puncak kejayaannya yaitu pada periode pertama. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaaan politik dan agama sekaligus. Disisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembanan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Dasar-dasar pemerintahan dinasti abbasiyyah diletakkan dan dibangun oleh Abu Al-Abbas As-saffah dan Abu Ja’far Al-Manshur. Masa kejayaan dari dinasti ini berada pada khalifah sesudahnya yaitu Al Mahdi (775-785 M), Al Hadi (785-786 M), Harun Ar Rasyid (786-809 M), Al Amin (809-813 M), Al Ma’mun (813-833 M), Al Mu’tasim (833-842 M) dan Al Wasiq (842-847 M). Dengan puncak kejayaan yaitu pada masa pemerintahan khalifah Harun ArRasyid dan putranya Al-Ma’mun, yang menitik beratkan pada perkembangan atau kemajuan intelektual/ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.

1. Perkembangan di Bidang Pemerintah  Pemindahan ibukota dari Al-Hasyimiyah ke Baghdad pada tahun 762 M  Sistem Pemerintahan yang teratur dari tingkat pusat ke tingkat desa  Diangkat wazir, sebagai koordinator departemen  Menggunakan gelar tahta sebagai penguasa/khalifah seperti Al-Manshur  Urusan tata usaha negara dijalankan oleh Diwanul Kitabah dengan menterinya Raisal Kuttab dan dibantu oleh sekretaris-sekretaris urusan kehakiman, kepolisian, tentara, keuangan, dan surat-menyurat  Di tingkat desa atau qurra, kepala desa (Syaikhul Qurra) diberi hak otonom untuk mengatur desanya  Angkatan perang terdiri dari dua angkatan, yaitu angkatan darat dan angkatan laut  Untuk mengurus keuangan dibentuk Baitul Mal.

2. Perkembangan Intelektual Perkembangan Ilmu pengetahuan mencapai puncak kejayaan, kemajuan intelektual pada waktu itu setidaknya dipengaruhi oleh dua hal yaitu:Terjadinya Asimilasi antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu

mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan Gerakan penerjemahan kitab-kitab asing. Dari hasil ijtihad dan semangat riset, maka para ahli pengetahuan, para alim ulama, berhasil menemukan berbagai keahlian berupa penemuan berbagai bidang-bidang ilmu pengetahuan, antara lain :  Ilmu Umum a.Ilmu Filsafat 1) Al-Kindi (809-873 M) buku karangannya sebanyak 236 judul. 2) Al Farabi (wafat tahun 916 M) dalam usia 80 tahun. 3) Ibnu Bajah (wafat tahun 523 H) 4) Ibnu Thufail (wafat tahun 581 H) 5) Ibnu Shina (980-1037 M). Karangan-karangan yang terkenal antara lain: Shafa, Najat, Qoman, Saddiya dan lain-lain 6) Al Ghazali (1085-1101 M). Dikenal sebagai Hujjatul Islam, karangannya: Al Munqizh Minadl-Dlalal,Tahafutul Falasifah,Mizanul Amal,Ihya

Ulumuddin dan lain-lain. 7) Ibnu Rusd (1126-1198 M). Karangannya : Kulliyaat, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah dan lain-lain. b. Bidang Kedokteran 1) Jabir bin Hayyan (wafat 778 M). Dikenal sebagai bapak Kimia. 2) Hurain bin Ishaq (810-878 M). Ahli mata yang terkenal disamping sebagai penterjemah bahasa asing. 3) Thabib bin Qurra (836-901 M) 4) Ar Razi atau Razes (809-873 M). Karangan yang terkenal mengenai cacar dan campak yang diterjemahkan dalam bahasa latin. c. Bidang Matematika dan Fisika 1) al Farqani dan al Biruni 2) Al Khawarizmi: Pengarang kitab Al Gebra (Al Jabar), penemu angka (0) Logaritma. d. Bidang Astronomi Berkembang subur di kalangan umat Islam, sehingga banyak para ahli yang terkenal dalam perbintangan ini seperti :

1) Al Farazi : pencipta Astro lobe 2) Al Gattani/Al Betagnius 3) Abul wafat : menemukan jalan ketiga dari bulan 4) Al Farghoni atau Al Fragenius e. Bidang Sejarah dan Geografi 1) Dalam bidang sejarah, ulama yang terkenal : Ibu Ishaq, Ibnu Hisyam, al Waqidi, Ibnu Qutaibah, al Thabari dan lain-lain 2) Dalam bidang ilmu bumi atau geografi ulama yang terkenal : al Yakubi dengan karyanya al Buldan, Ibnu mawalik wa al Mawalik dan lain-lain. f. Bidang Seni dan Budaya Beberapa seniman ukir terkenal: Badr dan Tariff (961-976 M). Pada zaman Abbasiyah juga berkembang subur seni budaya, seperti seni suara yang mana adanya penyair-penyair seperti Abu Nawas, Abu Atahiyah, Abu Tamam, Da’bal Al-Khuza. Adapula seni drama yang sangat digemari oleh Abu Ala Al-Mu’ary. Demikian pula seni musik yang mana pada zaman itu terkenalah nama Yunus bin Sulaiman Al-Khatib sebagai pengarang musik yang pertama dalam Islam. Adapun seni-seni yang lain seperti ; seni pahat, seni sulam, seni lukis, seni bangunan dan lain-lain.  Ilmu Naqli a. Ilmu Tafsir Dalam ilmu tafsir ada 2 metode yaitu tafsir bi al-ra’yi dan tafsir bi alma’tsur. Para mufassirin yang termasyur: Ibnu Jarir ath Tabary, Ibnu Athiyah al Andalusy (wafat 147 H), As Suda, Mupatil bin Sulaiman (wafat 150 H), Muhammad bin Ishak dan lain-lain. b. Ilmu Hadist Muncullah ahli-ahli hadist ternama seperti: Imam Bukhori (194-256 H), Imam Muslim (wafat 231 H), Ibnu Majah (wafat 273 H),Abu Daud (wafat 275 H), At Tarmidzi, dan lain-lain c. Ilmu Kalam Dalam kenyataannya kaum Mu’tazilah berjasa besar dalam menciptakan ilmu kalam, diantaranya para pelopor itu adalah: Wasil bin Atha’, Abu Kharzabah dengan bukunya al

Huzail al Allaf, Adh Dhaam, Abu Hasan Asy’ary, Hujjatul Islam Imam Ghazali. d. Ilmu Tasawuf Ahli-ahli dan ulama-ulamanya adalah : Al Qusyairy (wafat 465 H). Karangannya : ar Risalatul Qusyairiyah, Syahabuddin (wafat 632 H). Karangannya : Awariful Ma’arif, Imam Ghazali : Karangannya al Bashut, al Wajiz dan lain-lain. e. Para Imam Fuqaha Lahirlah para Fuqaha yang sampai sekarang aliran mereka masih mendapat tempat yang luas dalam masyarakat Islam. Yang mengembangkan faham/mazhabnya dalam zaman ini adalah: Imam Abu Hanifah (700767M), Imam Malik (713-795M), Imam Syafi’I (767-820M), Imam Ahmad bin Hambal (780-855M) dan Para Imam Syi’ah

3. Perkembangan Peradaban di Bidang Fisik Perkembangan peradaban pada masa daulah Bani Abbasiyah sangat maju pesat, karena upaya-upaya dilakukan oleh para Khalifah di bidang fisik. Hal ini dapat kita lihat dari bangunan –bangunan yang berupa: a. Kuttab, yaitu tempat belajar dalam tingkatan pendidikan rendah dan menengah. b. Majlis Muhadharah,yaitu tempat pertemuan para ulama, sarjana,ahli pikir dan pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah. c. Darul Hikmah, Adalah perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid. Ini merupakan perpustakaan terbesar yang di dalamnya juga disediakan tempat ruangan belajar. d. Madrasah, Perdana menteri Nidhomul Mulk adalah orang yang mula-mula mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada sampai sekarang ini, dengan nama Madrasah. e. Masjid, Biasanya dipakai untuk pendidikan tinggi dan tahassus. Masjid-masjid yang dibangun yaitu Majlis Muhadharah, Masjid Raya Kordova (786 M), dan Masjid Ibnu Taulon di Kairo (876 M). f. Istana, seperti Istana Qarruzzabad di Baghdad, Istana di kota Samarra, Istana Al Hamra di Kordova dan Istana Al Cazar

4. Perkembangan di Bidang Perekonomian Permulaan masa kepemimpinan Bani Abbassiyah, perbendaharaan negara penuh dan berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak daripada pengeluaran. Yang menjadi Khalifah adalah Mansyur. Dia betul-betul telah meletakkan dasardasar yang kuat bagi ekonomi dan keuangan negara. Dia mencontohkan Khalifah Umar bin Khattab dalam menguatkan Islam. Dan keberhasilan kehidupan ekonomi maka berhasil pula dalam : a. Pertanian, Khalifah membela dan menghormati kaum tani, bahkan meringankan pajak hasil bumi mereka, dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali. b. Perindustrian, Khalifah menganjurkan untuk beramai-ramai membangun berbagai industri, sehingga terkenallah beberapa kota dan industri-industrinya. c. Perdagangan, Segala usaha ditempuh untuk memajukan perdagangan seperti: 1) Membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang. 2) Membangun armada-armada dagang. 3) Membangun armada : untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak laut. Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri. Akibatnya kafilah-kafilah dagang kaum muslimin melintasi segala negeri dan kapal-kapal dagangnya mengarungi tujuh lautan.

D. Keruntuhan Dinasti Abbasiyyah Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai dinasti abbasiyyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Seriap khalifah cenderung ingin hidup lebih mewah dari pendahulunya. Hal ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Kecenderungan mewah, ditambah kelemahan khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi sengsara.

1. Masa dominasi pasukan tentara pengawal turki (232 H/850 M-334 H/945 M) Untuk mengontrol pemerintahan kekhalifahannya, khalifah Al-Mu’tashim mengangkat tentara profesional asal Turki. Akan tetapi, lama-kelamaan peluang ini dimanfaatkan oleh para tentara tersebut untuk mengambil alih pemerintahan. Usaha mereka berhasil sehingga kekuasaan bani Abbas mulai memudar, ini merupakan awal keruntuhan bani abbas. Meskipun jabatan khalifah dipegang bani abbas tetapi para tentara tersebut yang mengendalikan pemerintahan. Setelah tentara turki itu lemah dengan sendirinya, di daerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat yang memisahkan diri dari kekuasaan pusat, dan mendirikan dinasti-dinasti kecil.

2. Dinasti-dinasti yang Memerdekakan Diri Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi-propinsi tertentu dengan pembayaran upeti. Alasannya, pertama para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya. Kedua, penguasa abbasiyyah lebih menitikberatkan pada pembinaaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Akibat kebijakan tersebut banyak propinsi-propinsi tertentu dipinggiran mulai lepas dari kekuasaan pusat. Munculnya dinasti-dinasti yang lahir dan ada yang melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah, di antaranya adalah4: Yang berbangsa Persia: 1) Bani Thahiriyyah di Khurasan, (205-259 H/820-872 M). 2) Bani Shafariyah di Fars, (254-290 H/868-901 M). 3) Bani Samaniyah di Transoxania, (261-389 H/873-998 M). 4) Bani Sajiyyah di Azerbaijan, (266-318 H/878-930 M). 5) Bani Buwaih, bahkan menguasai Baghdad, (320-447 H/ 932-1055 M). Yang berbangsa Turki: 1) Thuluniyah di Mesir, (254-292 H/837-903 M).

4

Badri Yatim. op. cit.,hlm. 65-66

2) Ikhsyidiyah di Turkistan, (320-560 H/932-1163 M). 3) Ghaznawiyah di Afganistan, (351-585 H/962-1189 M). 4) Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya: a. Seljuk besar, atau Seljuk Agung, didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). b. Seljuk Kinnan di Kirman, (433-583 H/1040-1187 M). c. Seljuk Syria atau Syam di Syria, (487-511 H/1094-1117 M). d. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan, (511-590 H/1117-1194 M). e. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah(Jazirah Anatolia), (470-700 H/10771299 M). Yang berbangsa Kurdi: 1) al-Barzuqani, (348-406 H/959-1015 M). 2) Abu 'Ali, (380-489 H/990-1095 M). 3) al-Ayyubiyyah, (564-648 H/1167-1250 M) Yang berbangsa Arab: 1) Idrisiyyah di Maghrib, (172-375 H/788-985 M). 2) Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M). 3) Dulafiyah di Kurdistan, (210-285 H/825-898 M). 4) 'Alawiyah di Thabaristan, (250-316 H/864-928 M). 5) Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil, (317-394 H/929- 1002 M). 6) Mazyadiyyah di Hillah, (403-545 H/1011-1150 M). 7) Ukailiyyah di Maushil, (386-489 H/996-1 095 M). 8) Mirdasiyyah di Aleppo, (414-472 H/1023-1079 M). Yang mengaku dirinya sebagai khilafah: 1) Umayyah di Spanyol. 2) Fatimiyah di Mesir.

3. Masa Bani Buwaih (334 H/945 M-447 H/1055 M) Pada periode ke-3, dinasti abbasiyyah berada di bawah pengaruh bani buwaih. Kehadiran bani buwaih berawal dari 3 orang putra Abu syuja Buwaih, seorang kebangsaan Persia dari Dalar yaitu Ali, Hasan dan Ahmad. Tiga saudara ini masuk dinas militer, mulanya mereka bergabung dengan pasukan daerah Dailam. Atas usaha kerasnya mereka dapat membentuk bani buwaih dan menaklukan beberapa daerah di Persia sampai menuju Baghdad dan berhasil menguasai pemerintahannya. Kekuatan politik bani buwaih tidak lama bertahan. Setelah generasi pertama, 3 saudaratersebut, kekuasaan menjadi ajang pertikaian diantara anak-anak mereka. Dengan berbagai faktor kekuasaan bani buwaih pun dapat direbut oleh bani saljuk. 4. Masa Bani Saljuk (448 H/1055 M-590 H/1194 M) Bani saljuk didirikan oleh seorang pemimpin Turki yaitu Saljuk ibn Tuqaq. Saat dipimpin oleh Thughrul Bek, bani saljuk memproklamirkan diri dan pada tahun 432 H/1040 M mendapat pengakuan dari khalifah abbasiyyah di Baghdad. Dan pada saat dipimpinya pula bani saljuk berhasil merebut kekuasaan bani buwaih di Baghdad. Dinasti-dinasti kecil yang memisahkan diri berhasil dipersatukan kembali dan mengakui kedudukan Baghdad sebagai pusat pemerintahan. Bahkan mereka terus mejaga keiutuhan dan keamanan abbasiyyah untuk membendung paham syi’ah dan mengembangkan paham sunni yang mereka anut. Setelah hampir 93 tahun berkuasa di Baghdad. Bani saljuk mulai mengalami kemunduran di bidang politik. Perebutan kekusaan diantara anggota keluarga, setiap propinsi berusaha memisahkan diri dari pusat, konflik-konflik dan peperangan antar anggota keluarga melemahkan mereka sendiri. Sementara itu beberapa propinsi telah memerdekakan diri seperti Syahat Khawarizm, ghuz dan al-ghuriyah. Pada sisi lain, sedikit demi sedikit kekuasaan khalifah abbasiyyah juga kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan bani saljuk pun berakhir ditangan Khawarizm Syah pada tahun 590 H/ 1199 M.

5. Perang Salib Perang salib bermula dari direbutnya Bait al-Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan dinasti Fatimiyyah yang berkedudukan di mesir oleh dinasti saljuk. Penguas saljuk menetapkan beberapa peraturan bagi umat Kristen yang berziarah kesana. Peraturan itu dirasa sangat menyulitkan mereka. Untuk memperoleh kembali kekuasaan berziarah kesana, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci. Perang tersebut dikenal dengan nama Perang Salib, yang terjadi selama 3 periode. E. Faktor Penyebab Kejayaan dan Keruntuhan Dinasti Abbasiyyah Setiap masa pemerintahan pastinya mengalami masa kejayaan dan juga masa keruntuhan. Begitu pula yang dialami oleh masa pemerintahan dinasti abbasiyyah. Berikut faktor-faktor penyebab kejayaan dan keruntuhan dinasti abbasiyyah.

1. Faktor Kejayaan Masa kejayaan dinasti abbasiyyah yaitu pada periode pertama. Dengan puncak kejayaan pada masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M). Adapun faktor-faktor yang menyebabkan masa kejayaan kekhalifahan abbasiyyah, diantaranya :

a. Faktor Internal 1) Fokus pada Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Peradaban Islam Berbeda dengan dinasti sebelumnya yaitu dinasti umayah, dinasti abbasiyyah lebih menfokuskan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam dibandingkan memperluas wilayah kekuasaan. Sehingga masa pemerintahan ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam. 2) Strategi kebudayaan rasionalisme (kebebasan berpikir) di kalangan umat Islam 3) Gerakan Penerjemahan Meski kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak Dinasti Umayyah, upaya untuk menerjemahkan dan menskrinsip berbahasa asing terutama bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab mengalami masa keemasan pada masa dinasti Abbasiyah. Para ilmuan diutus ke daerah Bizantium untuk

mencari naskah-naskah Yunani dalam berbagai ilmu terutama filasafat dan kedokteran. Sedangkan perburuan manuskrip di daerah timur seperti Persia adalah terutama dalam bidang tata negara dan sastra. Pelopor gerakan penerjemahan pada awal pemerintahan daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansyur yang juga membangun Ibu kota Baghdad. Pada awal penerjemahan, naskah yang diterjemahkan terutama dalam bidang astrologi, kimia dan kedokteran. Kemudian naskah-naskah filsafat karya Aristoteles dan Plato juga diterjemahkan. Dalam masa keemasan, karya yang banyak diterjemahkan tentang ilmu-ilmu pramatis seperti kedokteran. Naskah astronomi dan matematika juga diterjemahkan namun, karya-karya berupa puisi, drama, cerpen dan sejarah jarang diterjemakan karena bidang ini dianggap kurang bermanfa’at dan dalam hal bahasa Arab sendiri perkembangan ilmu-ilmu ini sudah sangat maju.

b. Faktor Eksternal 1) Proses Asimilasi dan Pengaruh Kebudayaan Luar Terjadinya Asimilasi antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan. Pengaruh Persia pada saat itu sangat penting dibidang pemerintahan. selain itu mereka banyak berjasa dalam perkembangan ilmu filsafat dan sastra. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemah-terjemah dalam banyak bidang ilmu, terutama Filsafat.

2. Faktor Keruntuhan Masa keruntuhan dinasti abbasiyyah sudah dimulai sejak periode kedua. Namun, faktor-faktor penyebab keruntuhan tidak datang secara tiba-tiba. Benihbenihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya saja karena khalifah pada periode ini sangat kuat, benih-benih tersebut tidak sampai berkembang. Disamping kehidupan mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan, banyak faktor yang menyebabkan kekhalifahan abbasiyyah

menjadi mundur, faktor-faktor tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut5 : a. Faktor Internal 1) Persaingan antar Bangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari orang Persia juga. Sementara itu, bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir ditubuhnya adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. Fanatisme kebangsaan ini tampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa abbasiyyah. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk

mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal Khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para Khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki tidak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Daulah Abbasiyyah sebenarnya sudah berakhir 2) Kemerosotan Ekonomi Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun. Sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya

pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan,
5

Ibid., hlm.80-85

banyaknya

terjadi

kerusuhan

yang mengganggu

perekonomian

rakyat.

diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. Jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan. 3) Konflik Keagamaan Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaaan. Muncul gerakan Zindiq yang menggoda keimanan khalifah. Konflik yang melatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara Muslim dan Zindik atau Ahlussunnah dengan Syi’ah saja, tetapi juga antara aliran dalam Islam. Konflik tersebut mulai dari bentuk sederhana seperti polemic tentang ajaran sampai kepada konflik bersenjata yang saling menumpahkan darah.

b. Faktor Eksternal 1) Perang Salib Perang salib yang berlangsung selama tiga periode yang menelan banyak korban dan harta. Walaupun demikian, umat Islam berhasil mempertahankan darahnya dari tentara salib, namun kerugian dan penderitaan yang dialami banyak sekali. Karena peperangan terjadi di wilayah kekuasaan umat Islam. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik melemah. Dalam kondisi demikian, banyak dinasti kecil yang memisahkan diri dari pemerintahan pusat dinasti abbasiyyah di Baghdad. 2) Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam Pada tahun 656 H/1258 M Hulagu khan, panglima tentara mongol dengan pasukannya memasuki kota Baghdad dan membunuh khalifah Al-Musta’shim serta membunuh penduduk kota Baghdad yang mereka temui. Mereka menjarah harta, membakar kitab-kitab dan menghancurkan banyak bangunan. Dengan demikian, berakhirlah kekhalifahan Bani Abbas di Baghdad.

BAB III PENUTUP

Dinasti Abbasiyah merupakan lanjutan dari pemerintahan Dinasti Umayyah. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para pendirinya adalah keturunan Abbas, paman Nabi. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah as-Safah. Kekuasaannya berlansung dari tahun 750-1258 M. Di dalam Daulah Bani Abbasiyah terdapat ciri-ciri yang menonjol yang tidak terdapat di zaman bani Umayyah, antara lain : 1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab. 2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa bani Abbas ada jabatan Wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. 3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya belum ada tentara Khusus yang profesional. Dinasti Abbasiyyah dipimpin oleh 37 khalifah dan masa pemerintahan dinasti abbasiyyah ini terdiri atas 5 periode. Pada masa pemerintahan dinasti abbasiyah peradaban Islam mencapai puncak kejayaan pada periode I tepatnya masa khalifah Harun Ar-Rasyid dan putranya Al-ma’mun. Puncak kejayaan masa dinasti abbasiyyah meliputi kemajuan dalam bidang intelektual atau ilmu pengetahahuan baik ilmu umum maupun ilmu agama, kemajuan dalam bidang pemerintahan, pembangunan fisik dan perekonomian. Adapun faktor-faktor kejayaan dinasti abbasiyyah yaitu Fokus pada Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Peradaban Islam, Strategi kebudayaan rasionalisme (kebebasan berpikir) di kalangan umat Islam, Gerakan Penerjemahan dan adanya asimilasi kebudayaan asing. Akan tetapi, setelah periode pertama pemerintahan dinasti abbasiyyah mulai mengalami kemunduran dengan ditandainya pengaruh tentara pengawal Turki, bani Buwaih, dan bani Saljuk didalam pemerintahan dinasti abbasiyyah. Selain karena hal tersebut adapun faktor lain yaitu persaingan antar bangsa, kemerosotan ekonomi, konflik keagamaan dan ancaman dari luar yakni perang salib dan serangan pasukan mongol. Meskipun pemerintahan dinasti abbasiyyah akhirnya harus berakhir, namun

pemerintahan abbasiyyah membawa dampak yang baik untuk perkembangan peradaban Islam di dunia selama masa pemerintahannya kurang lebih 4 abad lamanya.

DAFTAR PUSTAKA

Hamka. Sejarah Umat Islam. Jakarta : Bulan Bintang. 1975. Lapidus ,Ira M. Sejarah Sosial Umat Islam, bag,1&2terj.,Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2000. Maryam, siti dkk. Sejarah Peradaban Islam : dari Masa Klasik hingga Modern. Yogyakarta :LEFSI. 2003 Syalabi, Ahmad. Sejarah dan Kebudayaan Islam jilid 3. Jakarta : Pustaka Al-Husna. 1994. Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 1993.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->