A.

Pengertian Poligami
Kata-kata “poligami” terdiri dari kata “poli” dan “gami”. Secara etimologi, poli artinya
“banyak” dan gami artinya “istri”. Jadi, poligami itu artinya beristri banyak. Secara terminology,
poligami yaitu “seorang laki-laki mempunyai lebih dari satu istri”.
1
Atau, “seorang laki-laki
beristri lebih dari seorang, tetapi dibatasi paling banyak empat orang”.
Allah SWT memperbolehkan berpoligami sampai 4 orang istri dengan syarat dapat
berlaku adil kepada mereka. Yaitu adil dalam melayani istri, seperti urusan nafkah, tempat
tinggal, pakaian, giliran dan segala hal yang bersifat lahiriyah. Jika tidak bisa berlaku adil maka
cukup satu istri saja (monogami). Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
up)³4Ò u®7+^¼´= ·ºÒ¡ W-O7C´O^³¬> O)×
_O4©4-4O^¯- W-O÷·´¯^·· 4` =··C
ª7¯·¯ =}g)` g7.=Og)4¯- _/E_u14`
E+ÞU¬¦4Ò E74+O4Ò W up)¯·· ¯¦+^¼´=
·ºÒ¡ W-O7¯g³u¬·> EE³gÞ4O·· uÒÒ¡ 4`
;e·¯ÞU4` ¯ª7¯N4E©uCÒ¡ _ Elg¯·O
-OE+u1Ò¡ ·ºÒ¡ W-O7¯ON¬·> ^@÷
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), Maka nikahilah wanita-wanita
(lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan
dapat Berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.
Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.
Ayat diatas, berbicara tentang bolehnya berpoligami, turun berkaitan dengan sikap
sementara pemelihara anak yatim perempuan yang bermaksud menikahi mereka karena harta
tetapi enggan berlaku adil
2
.
Berkaitan dengan masalah ini, Rasyid Ridha mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh
Masyfuk Zuhdi, sebagai berikut:

1
Zakiah Daradjat, Ilmu Fiqh, hal. 60. Lihat pula Kamus Istilah Fiqh, hal. 261
2
M. Quraisy Shihab, Perempuan, hal. 180
Islam memandang poligami lebih banyak membawa madharat/resiko daripada
manfaatnya, karena manusia itu menurut fitrahnya (human nature) mempunyai watak cemburu,
iri hati, dan suka mengeluh. Watak-watak tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi, jika
hidup dalam kehidupan keluarga yang poligamis. Dengan demikian, poligami itu bisa menjadi
sumber konflik dalam kehidupan keluarga, baik konflik antara suami dengan istri-istri dan anak-
anak dari istri-istrinya, maupun konflik antara istri beserta anak-anaknya masing-masing.
B. Hukum Poligami
hukum asal poligami dalam pernikahan menurut Islam adalah monogami. Jadi,
berpoligami bukan wajib dan bukan sunat, tetapi oleh islam diperbolehkan. Karena dengan
monogami akan mudah menetralisasi sifat/watak cemburu, iri hati dan suka mengeluh dalam
kehidupan keluarga yang monogamis. Berbeda dengan kehidupan keluarga yang poligamis,
orang akan mudah peka dan terangsang timbulnya perasaan cemburu, iri hati/dengki, dan suka
mengeluh dalam kadar tinggi, sehingga bisa menggangggu ketenangan keluarga dan dapat pula
membahayakan keutuhan keluarga.
Karena itu, poligami hanya diperbolehkan, bila dalam keadaan darurat, misalnya istri
ternyata mandul, sebab menurut Islam, anak itu merupakan salah satu dari tiga human investment
yang sangat berguna bagi manusia setelah ia meninggal dunia, yakni bahwa amalnya tidak
tertutup berkah adanya keturunan yang shaleh yang selalu berdo’a untuknya. Maka dalam
keadaan istri mandul dan suami tidak mandul berdasarkan keterangan medis hasil laboratoris,
suami diizinkan berpoligami dengan syarat ia benar-benar mampu mencukupi nafkah untuk
semua keluarga dan harus bersikap adil dalam pemberian nafkah lahir dan giliran waktu
tinggalnya.
3

Suami wajib berlaku adil terhadap istri-istrinya dalam urusan: pangan, pakaian, tempat
tinggal, giliran berada pada masing-masing istri, dan lainnya yang bersifat kebendaan, tanpa
membedakan antara istri yang kaya dengan istri yang miskin, yang berasal dari keturunan tinggi
dengan yang berasal dari golongan bawah. Jika masing-masing istri mempunyai anak yang
jumlahnya berbeda, atau jumlahnya sama tapi biaya pendidikannya berbeda, tentu saja dalam hal
ini harus menjadi pertimbangan dalam memberikan keadilan.

3
Prof. Dr. Abdurrahman Ghozali, M.A, Fiqh Munakahat, hal. 131
Jika suami khawatir berbuat zalim dan tidak mampu memenuhi semua hak mereka, maka
ia haram melakukan poligami. Bila ia hanya sanggup memenuhi hak-hak istrinya hanya tiga
orang, maka ia haram menikahi istri untuk keempatnya. Bila ia hanya sanggup memenuhi hak-
hak istrinya dua orang, maka ia haram menikahi istri untuk yang ketiganya, dan begitu
seterusnya.
Berkenaan dengan ketidakadilan suami terhadap istri-istrinya, Nabi SAW bersabda:
يع تهايقلا موي ءاج اوُادحا يلإ ل اوف ىاتأزها َل تًاك يه :لاق نلس و َيلع ا يلص يبٌلا ىأ ةزيزُ يبا
.)ىابح يباو ئاسٌلاو ىذهزتلاو دواد وبا ٍاور( لئاه َقشو
Dari Abu Hurairah ra. sesungguhnya Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang
mempunyai dua orang istri, lalu memberatkan kepada salah satunya, maka ia akan datang pada
Hari Kiamat dengan bahunya miring.
Mengenai adil terhadap istri-istri dalam masalah cinta dan kasih sayang, Abu Bakar bin
Araby mengatakan bahwa hal ini berada di luar kesanggupan manusia, sebab cinta itu adanya
dalam genggaman Allah SWT yang mampu membolak-balikkannya menurut kehendak-Nya.
Begitu pula dengan hubungan seksual, terkadang suami bergairah dengan istri yang satu, tetapi
tidak bergairah dengan istri lainnya. Dalam hal ini, apabila tidak disengaja, ia tidak terkena
hukum dosa karena berada di luar kemampuannya. Oleh karena itu, ia tidak dipaksa untuk
berlaku adil
4
.


C. Hikmah Poligami
Mengenai hikmah diizinkan berpoligami (dalam keadaan darurat dengan syarat berlaku
adil) antara lain adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan keturunan bagi suami yang subur dan istri mandul

4
Slamet Abidin dan H. Aminuddin, Fiqh Munakahat, hal. 136-137
2. Untuk menjaga keutuhan keluarga tanpa menceraikan istri, sekaligus istri tidak
dapat menjalankan fungsinya sebagai istri, atau ia mendapat cacat badan atau
penyakit yang tak dapat disembuhkan
3. Untuk menyelamatkan suami dari yang hypersex dari perbuatan zina dan krisis
akhlak lainnya
4. Untuk menyelamatkan kaum wanita dari krisis akhlak yang tinggal di Negara atau
masyarakat yang jumlah wanitanya jauh lebih banyak dari kaum prianya,
misalnya akibat peperangan yang cukup lama
5
.
Mengenai hikmah Nabi Muhammad diizinkan beristri lebih dari seorang, bahkan
melebihi jumlah maksimal yang diizinkan bagi umatnya (yang merupakan khushushiyat bagi
Nabi) ialah sebagai berikut:
1. Untuk kepentingan pendidikan dan pengalaran agama. Istri Nabi sebanyak 9 orang
itu bisa menjadi sumber informasi bagi umat Islam yang ingin mengetahui ajaran-
ajaran Nabi dan praktek kehidupan Nabi dalam berkeluarga dan bermasyarakat,
terutama mengenai masalah-masalah kewanitaan/kerumahtanggaan.
2. Untuk kepentingan politik mempersatukan suku-suku bangsa Arab dan untuk
menarik mereka masuk agama Islam. Misalnya perkawinan Nabi dengan
Juwairiyah, putri Al-Harits (kepala suku Bani Musthaliq). Demikian juga
perkawinan Nabi dengan Shafiyah (seorang tokoh dari Bani Quraizhah dan Bani
Nadzhir).
3. Untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan. Misalnya perkawinan Nabi dengan
beberapa janda pahlawan Islam yang telah lanjut usianya seperti Saudah binti
Zum’ah (suami meninggal setelah kembali dari hijrah Abessinia), Hafshah binti
Umar (suami gugur di Badar), Zainab binti Khuzaimah (suami gugur di Uhud),
dan Hindun Ummu Salamah (suami gugur di Uhud). Mereka memerlukan
pelindung untuk melindungi jiwa dan agamanya, serta penanggung untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya.


5
Masyfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyah, hal. 15-16
D. Prosedur Poligami
Mengenai prosedur atau tata cara poligami yang resmi diatur oleh Islam memang tidak ada
ketentuan secara pasti. Namun, di Indonesia dengan Kompilasi Hukum Islamnya telah mengatur
hal tersebut sebagai berikut
6
:
Pasal 55
1. Beristri lebih satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya sampai empat istri.
2. Syarat utama beristri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap istri-
istri dan anak-anaknya.
3. Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi, suami dilarang
beristri lebih dari seorang.

Pasal 56
1. Suami yang hendak beristri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari Pengadilan
Agama.
2. Pengajuan permohonan izin dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut pada tata cara
sebagaimana diatur dalam Bab.VIII Peraturan Pemeritah No.9 Tahun 1975.
3. Perkawinan yang dilakukan dengan istri kedua, ketiga atau keempat tanpa izin dari
Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.

Pasal 57
Pengadilan Agama hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristri lebih dari
seorang apabila:
a. istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri.

6
H.Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, hal. 126
b. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
c. istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Pasal 58
1. Selain syarat utama yang disebut pada pasal 55 ayat (2) maka untuk memperoleh izin
pengadilan Agama, harus pula dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan pada pasal 5 Undang-
Undang No.1 Tahun 1974, yaitu :
a. Adanya pesetujuan istri.
b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup istri-istri dan anak-
anak mereka.
2. Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 41 huruf b Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun
1975, persetujuan istri atau istri-istri dapat diberikan secara tertulis atau dengan lisan, tetapi
sekalipun telah ada persetujuan tertulis, persetujuan ini dipertegas dengan persetujuan lisan
istri pada sidang Pengadilan Agama.
3. Persetujuan dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak diperlukan bagi seorang suami apabila istri
atau istri-istrinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak
dalam perjanjian atau apabila tidak ada kabar dari istri atau istri-istrinya sekurangkurangnya
2 (dua) tahun atau karena sebab lain yang perlu mendapat penilaian Hakim.

Pasal 59
Dalam hal istri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan izin untuk beristri lebih dari
satu orang berdasarkan atas salah satu alasan yang diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan 57,
Pengadilan Agama dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar
istri yang bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama, dan terhadap penetapan ini istri atau
suami dapat mengajukan banding atau kasasi.

E. Hikmah dilarang nikah dari empat istri
Allah SWT member batasan dalam polygami itu, sebanyak- banyaknya dua, tiga, atau
empat. Dan tidak boleh menambah jumlah ini, dalam Islam. Jadi, siapa yang khawatir akan tidak
berlaku adil kalau sampai empat, supaya dicukupkannya sampai tiga saja, dan kalau tiga itupun
masih khawatir akan tidak berlaku adil, supaya dicukupkan dua saja; dan kalau yang dua itupun
masih juga dikhawatirkan akan tidak adil, maka hendaklah menikah dengan seorang istri saja.
7

Jadi singkatnya, hikmah dilarangnya nikah lebih dari empat istri (bagi manusia biasa)
adalah :
1. Batas maksimal beristri bagi manusia biasa adalah empat istri. Jika lebih dari empat istri
berarti melampaui batas kemampuan, baik dari segi kemampuan fisik, mental maupun
tanggung jawab, sehingga nantinya akan repot sendiri, bingung sendiri, dan akhirnya kan
menimbulkan gangguan jiwa(stress).
2. Karena melampaui batas kemampuan, maka ia akan terseret melakukan kedzaliman-
kedzaliman atau aniaya baik terhadap diri sendiri maupun istri-istri nya.
3. Manusia biasa pada umumnya didominasi oleh nafsu syahwatnya, yang cenderung
melakukan penyimpangan, sehingga ia tidak mempunyai kekuatan untuk memberikan
hak-hak nya kepada istri- istri nya.
8



7
DR. Abdul Nasir Taufiq Al ‘Attar, Poligami Ditinjau dari segi Agama, sosial dan perundang-undangan, hal. 194
8
ibid

pakaian.3 Suami wajib berlaku adil terhadap istri-istrinya dalam urusan: pangan. sebab menurut Islam. iri hati. iri hati/dengki. B. poligami hanya diperbolehkan. karena manusia itu menurut fitrahnya (human nature) mempunyai watak cemburu. giliran berada pada masing-masing istri. dan suka mengeluh dalam kadar tinggi. tetapi oleh islam diperbolehkan. Hukum Poligami hukum asal poligami dalam pernikahan menurut Islam adalah monogami. Jika masing-masing istri mempunyai anak yang jumlahnya berbeda. iri hati dan suka mengeluh dalam kehidupan keluarga yang monogamis. dan lainnya yang bersifat kebendaan.Islam memandang poligami lebih banyak membawa madharat/resiko daripada manfaatnya. Abdurrahman Ghozali. misalnya istri ternyata mandul. bila dalam keadaan darurat. Fiqh Munakahat. tempat tinggal. hal. baik konflik antara suami dengan istri-istri dan anakanak dari istri-istrinya. Watak-watak tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi. Karena dengan monogami akan mudah menetralisasi sifat/watak cemburu. yang berasal dari keturunan tinggi dengan yang berasal dari golongan bawah. yakni bahwa amalnya tidak tertutup berkah adanya keturunan yang shaleh yang selalu berdo’a untuknya. berpoligami bukan wajib dan bukan sunat. dan suka mengeluh. sehingga bisa menggangggu ketenangan keluarga dan dapat pula membahayakan keutuhan keluarga. jika hidup dalam kehidupan keluarga yang poligamis. tentu saja dalam hal ini harus menjadi pertimbangan dalam memberikan keadilan. orang akan mudah peka dan terangsang timbulnya perasaan cemburu. 3 Prof. Dr. suami diizinkan berpoligami dengan syarat ia benar-benar mampu mencukupi nafkah untuk semua keluarga dan harus bersikap adil dalam pemberian nafkah lahir dan giliran waktu tinggalnya. anak itu merupakan salah satu dari tiga human investment yang sangat berguna bagi manusia setelah ia meninggal dunia. maupun konflik antara istri beserta anak-anaknya masing-masing. poligami itu bisa menjadi sumber konflik dalam kehidupan keluarga. Berbeda dengan kehidupan keluarga yang poligamis. 131 . Maka dalam keadaan istri mandul dan suami tidak mandul berdasarkan keterangan medis hasil laboratoris. Karena itu.A. Dengan demikian. atau jumlahnya sama tapi biaya pendidikannya berbeda. tanpa membedakan antara istri yang kaya dengan istri yang miskin. Jadi. M.

Bila ia hanya sanggup memenuhi hakhak istrinya dua orang. lalu memberatkan kepada salah satunya. Nabi SAW bersabda: ‫عي ابي ُزيزة أى الٌبي صلي هللا عليَ و سلن قال: هي كاًت لَ اهزأتاى فوا ل إلي احداُوا جاء يوم القياهت‬ . sebab cinta itu adanya dalam genggaman Allah SWT yang mampu membolak-balikkannya menurut kehendak-Nya. Aminuddin. maka ia akan datang pada Hari Kiamat dengan bahunya miring. Fiqh Munakahat. C. Mengenai adil terhadap istri-istri dalam masalah cinta dan kasih sayang. ia tidak dipaksa untuk berlaku adil4. dan begitu seterusnya. Untuk mendapatkan keturunan bagi suami yang subur dan istri mandul 4 Slamet Abidin dan H. Oleh karena itu. Berkenaan dengan ketidakadilan suami terhadap istri-istrinya. terkadang suami bergairah dengan istri yang satu. tetapi tidak bergairah dengan istri lainnya. ia tidak terkena hukum dosa karena berada di luar kemampuannya. apabila tidak disengaja. Dalam hal ini. 136-137 . Hikmah Poligami Mengenai hikmah diizinkan berpoligami (dalam keadaan darurat dengan syarat berlaku adil) antara lain adalah sebagai berikut: 1.)‫وشقَ هائل (رواٍ ابو داود والتزهذى والٌسائ وابي حباى‬ Dari Abu Hurairah ra. Abu Bakar bin Araby mengatakan bahwa hal ini berada di luar kesanggupan manusia. maka ia haram menikahi istri untuk yang ketiganya. Begitu pula dengan hubungan seksual. sesungguhnya Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang mempunyai dua orang istri. maka ia haram melakukan poligami. Bila ia hanya sanggup memenuhi hak-hak istrinya hanya tiga orang. maka ia haram menikahi istri untuk keempatnya.Jika suami khawatir berbuat zalim dan tidak mampu memenuhi semua hak mereka. hal.

sekaligus istri tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai istri. 5 Masyfuk Zuhdi. misalnya akibat peperangan yang cukup lama5. Masa’il Fiqhiyah. atau ia mendapat cacat badan atau penyakit yang tak dapat disembuhkan 3. Untuk menjaga keutuhan keluarga tanpa menceraikan istri. hal. 15-16 . Hafshah binti Umar (suami gugur di Badar). serta penanggung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk menyelamatkan kaum wanita dari krisis akhlak yang tinggal di Negara atau masyarakat yang jumlah wanitanya jauh lebih banyak dari kaum prianya. terutama mengenai masalah-masalah kewanitaan/kerumahtanggaan. Untuk menyelamatkan suami dari yang hypersex dari perbuatan zina dan krisis akhlak lainnya 4. Mereka memerlukan pelindung untuk melindungi jiwa dan agamanya. Untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan. putri Al-Harits (kepala suku Bani Musthaliq). Zainab binti Khuzaimah (suami gugur di Uhud). dan Hindun Ummu Salamah (suami gugur di Uhud). Untuk kepentingan politik mempersatukan suku-suku bangsa Arab dan untuk menarik mereka masuk agama Islam. Misalnya perkawinan Nabi dengan beberapa janda pahlawan Islam yang telah lanjut usianya seperti Saudah binti Zum’ah (suami meninggal setelah kembali dari hijrah Abessinia). Misalnya perkawinan Nabi dengan Juwairiyah.2. 2. 3. bahkan melebihi jumlah maksimal yang diizinkan bagi umatnya (yang merupakan khushushiyat bagi Nabi) ialah sebagai berikut: 1. Istri Nabi sebanyak 9 orang itu bisa menjadi sumber informasi bagi umat Islam yang ingin mengetahui ajaranajaran Nabi dan praktek kehidupan Nabi dalam berkeluarga dan bermasyarakat. Demikian juga perkawinan Nabi dengan Shafiyah (seorang tokoh dari Bani Quraizhah dan Bani Nadzhir). Mengenai hikmah Nabi Muhammad diizinkan beristri lebih dari seorang. Untuk kepentingan pendidikan dan pengalaran agama.

suami dilarang beristri lebih dari seorang. Namun. ketiga atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama. 2. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Pasal 57 Pengadilan Agama hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila: a. Prosedur Poligami Mengenai prosedur atau tata cara poligami yang resmi diatur oleh Islam memang tidak ada ketentuan secara pasti.9 Tahun 1975. 126 . Beristri lebih satu orang pada waktu bersamaan. terbatas hanya sampai empat istri. Suami yang hendak beristri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari Pengadilan Agama. istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri.Abdurrahman. hal. suami harus mampu berlaku adil terhadap istriistri dan anak-anaknya. tidak mempunyai kekuatan hukum. Pengajuan permohonan izin dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut pada tata cara sebagaimana diatur dalam Bab.VIII Peraturan Pemeritah No. 6 H. 3. Perkawinan yang dilakukan dengan istri kedua. di Indonesia dengan Kompilasi Hukum Islamnya telah mengatur hal tersebut sebagai berikut6: Pasal 55 1.D. Syarat utama beristri lebih dari seorang. Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi. 3. 2. Pasal 56 1.

9 Tahun 1975. Persetujuan dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak diperlukan bagi seorang suami apabila istri atau istri-istrinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau apabila tidak ada kabar dari istri atau istri-istrinya sekurangkurangnya 2 (dua) tahun atau karena sebab lain yang perlu mendapat penilaian Hakim. yaitu : a. Pasal 58 1. persetujuan ini dipertegas dengan persetujuan lisan istri pada sidang Pengadilan Agama. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup istri-istri dan anakanak mereka. . harus pula dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan pada pasal 5 UndangUndang No. Pengadilan Agama dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar istri yang bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama.b. 2. Pasal 59 Dalam hal istri tidak mau memberikan persetujuan.1 Tahun 1974. Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 41 huruf b Peraturan Pemerintah No. Selain syarat utama yang disebut pada pasal 55 ayat (2) maka untuk memperoleh izin pengadilan Agama. 3. dan permohonan izin untuk beristri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alasan yang diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan 57. Adanya pesetujuan istri. tetapi sekalipun telah ada persetujuan tertulis. c. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. b. istri tidak dapat melahirkan keturunan. dan terhadap penetapan ini istri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi. persetujuan istri atau istri-istri dapat diberikan secara tertulis atau dengan lisan.

Karena melampaui batas kemampuan. yang cenderung melakukan penyimpangan. atau empat. 3. dan akhirnya kan menimbulkan gangguan jiwa(stress). Abdul Nasir Taufiq Al ‘Attar.istri nya. tiga. Dan tidak boleh menambah jumlah ini. hal. Jika lebih dari empat istri berarti melampaui batas kemampuan. Poligami Ditinjau dari segi Agama. 2. Jadi. sehingga nantinya akan repot sendiri. supaya dicukupkannya sampai tiga saja. mental maupun tanggung jawab. Manusia biasa pada umumnya didominasi oleh nafsu syahwatnya. sebanyak. Hikmah dilarang nikah dari empat istri Allah SWT member batasan dalam polygami itu. 194 ibid . sosial dan perundang-undangan. supaya dicukupkan dua saja. dan kalau tiga itupun masih khawatir akan tidak berlaku adil.7 Jadi singkatnya. maka ia akan terseret melakukan kedzalimankedzaliman atau aniaya baik terhadap diri sendiri maupun istri-istri nya. dalam Islam.8 7 8 DR. maka hendaklah menikah dengan seorang istri saja. siapa yang khawatir akan tidak berlaku adil kalau sampai empat. bingung sendiri. sehingga ia tidak mempunyai kekuatan untuk memberikan hak-hak nya kepada istri.E.banyaknya dua. dan kalau yang dua itupun masih juga dikhawatirkan akan tidak adil. Batas maksimal beristri bagi manusia biasa adalah empat istri. baik dari segi kemampuan fisik. hikmah dilarangnya nikah lebih dari empat istri (bagi manusia biasa) adalah : 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful