P. 1
PAKAN IKAN

PAKAN IKAN

|Views: 263|Likes:
Published by Agus Tono

More info:

Published by: Agus Tono on Apr 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/31/2015

pdf

text

original

1

MODUL PELATIHAN

TEKNIK PEMBUATAN PAKAN IKAN

OLEH : AGUSTONO, Ir. M.Kes

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

2010

* Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Disampaikan pada Pembudidaya Perikanan di Bontang tanggal 15 – 17 Juni 2010

2

TEKNIK PEMBUATAN PAKAN IKAN Oleh : Ir. Agustono, M.Kes *
PENDAHULUAN Salah satu usaha dalam peningkatan produksi ikan adalah penyediaan pakan yang berkualitas, artinya bahwa pakan tersebut telah memenuhi persyaratan untuk kebutuhan hidup ikan untuk proses perumbuhannya. Pakan yang berkualitas adalah pakan ikan yang tidak hanya mampu menjadikan ikan dapat tumbuh dan berkembang dan sehat, tetapi juga sehat dan memberikan rasa aman bagi konsumen. Untuk mendapatkan itu semua yaitu yang sehat bagi ikan dan konsumen ada beberapa langkah faktor yaitu : 1. Pemilihan Bahan Pakan dengan nilai nutrisinya 2. Angka Kecukupan Gizi / Kebutuhan Gizi Ikan/udang 3. Formulasi Pakan 4. Pembuatan Pakan 5. Penyimpanan PEMILIHAN BAHAN PAKAN DAN NILAI NUTRISINYA Bahan Pakan adalah segala sesuatu yang dapat diberikan kepada ikan (baik berupa bahan organik maupun organik) yang sebagian maupun keseluruhannya dapat dicerna tanpa menganggu kesehatan ikan. Bahan pakan dibagi menjadi : 1. Silase (Silage) adalah hijauan yang sengaja diawetkan melalui proses fermentasi secara tanpa udara/oksigen (anaerob) dalam suatu tempat yang disebut Silo. 2. Sumber energi adalah bahan pakan yang banyak mengandung energi (kandungan energi lebih dari 2250 Kkal/kg). Contoh : Butir-butiran (jagung, sorghum/cantel, kedelai, kentang dll), Minyak (kelapa, sawit, kedele dll), lemak hewan (tallow), hasil smping industri pertanian (bekatul, pollard, tetes, dll). 3. Sumber protein adalah pakan yang mengandung protein lebih dari 20 %. Contoh : umumnya pakan asal hewani (tepung ikan, tepung daging, susu skim, tepung darah dll), kacang-kacangan/leguminosa (kacang tanah, kedele, turi, gamal, lamtoro dll), bungkil (bungkil dari kelapa, kelapa sawit, kedele, kacang, kapok, kapas, jagung dll). 4. Sumber Mineral. Contoh : tepung tulang, kerang, kapur, dicaphos(dicalcium posfat), tricaphos (tri calciumposfat), garam dll.

* Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Disampaikan pada Pembudidaya Perikanan di Bontang tanggal 15 – 17 Juni 2010

3 5. Sumber vitamin. Contoh : buah-buahan, tauge, hjauan kacang-kacangan, wortel dll. 6. Bahan additive adalah bahan yang perlu ditambahkan dalam jumlah relatif sedikit yang kadang kala diperlukan untuk melengkapi ransum yang disusun. Contoh : penambah aroma/citarasa, asam amino/campuran asam amino, Vitmineral-mix. Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan dalam pemilihan bahan pakan : 1. Mudah didapat. 2. Murah harganya 3. tidak bersaing penggunaannya dengan manusia 4. Tidak beracun 5. Mengandung Zat pakan yang sesuai dengan tujuan pemeliharaan ikan/udang Beberapa bahan pakan mengandung zat anti nutrisi yang dapat bersifat toksik (racun) bagi ikan, misalnya ketela pohon (asam sianida, mengakibatkan gangguan metabolisme), lamtoro (mimosine), turi (asm sianda), bayam (asam oksalat), wortel (carota toksin), daun kol (asam oksalat), rumput setaria (asam siklopropenoat), bungkil biji kapas (gosipol), bungkil jarak (risin). Oleh sebab itu penggunaannya dalam ransum perlu dipertimbangkan sampai batas tertentu dan dikaitkan dengan tujuan pemeliharaan ikan. Beberapa contoh Bahan pakan Golongan Limbah Pertanian Jenis Jerami jagung Jerami kcg. tanah Jerami ketela pohon Jerami kedelai Kulit ketela pohon Litter ayam BK 60.0 85.8 80.0 80.0 23.0 70.8 PK 3.3 15.9 3.2 10.0 2.6 10.1 EE 3.1 3.1 1.3 3.1 1.0 1.9 SK 22.7 22.7 26.6 28.8 1.5 17.5 Abu 7.5 7.5 39.8 8.7 4.1 30.5 BETN 38.5 38.5 9.1 29.4 14.0 19.1

Golongan Hijauan/Dedaunan Jenis Daun kedelai D. ketela rambat D. ketela pohon D. Lamtoro BK 28.0 10.0 23.0 29.0 PK 4.2 3.0 4.0 6.5 EE 1.9 0.3 1.7 1.8 SK 8.0 3.6 5.3 4.2 Abu 2.8 1.1 1.6 2.6 BETN 11.1 3.2 10.5 14.1

* Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Disampaikan pada Pembudidaya Perikanan di Bontang tanggal 15 – 17 Juni 2010

4 D. Turi D. kacang tanah D. kacang panjang 17.0 35.0 13.0 4.6 5.3 3.1 0.8 0.8 0.4 2.8 8.0 2.3 1.7 3.9 1.7 6.8 17.2 5.5

Golongan Bahan pakan sumber Protein & Energi Jenis Bungkil kelapa Kedelai Bk. Kedelai Biji kapas Bk. Biji kapas Bk. Biji kapuk Biji bunga matahari Bk. Biji bunga matahari Ubi jalar Ketela pohon Gaplek Onggok/ ampas cassava Bk. Kelapa sawit Bekatul Dedak padi kasar Dedak padi agak kasar Dedak padi halus Dedak kacang hijau Dedak gandum Pollard Tetes tebu Jagung kuning Jagung putih Ampas tahu basah Ampas bir kering Ampas kecap Ampas sagu Kulit ari kedelai Karak Limbah tapioka Limbah katak Limbah ikan teri Daging kanguru Kreco Bk. Wijen FORMULASI PAKAN Dalam menyusun ransum pakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan terutama mengenai pemilihan bahan. Setiap bahan pakan yang digunakan harus diketahui nilai
* Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Disampaikan pada Pembudidaya Perikanan di Bontang tanggal 15 – 17 Juni 2010

BK 86.0 86.0 86.0 86.0 86.0 86.0 86.0 86.0 31.0 35.0 87.0 82.7 86.0 86.0 86.0 86.0 86.0 87.7 86.0 86.0 77.0 86.0 86.0 16.0 88.0 86.0 88.4 84.0 86.0 26.1 95.7 76.6 26.6 91.0 94.5

PK 18.6 32.4 41.3 19.0 34.0 27.3 16.1 28.7 1.7 1.6 2.6 0.8 12.9 12.0 6.5 8.5 11.9 19.9 12.9 16.1 4.2 8.9 8.6 5.0 21.8 28.0 3.4 8.5 8.1 1.2 49.1 50.1 19.6 6.6 34.3

EE 8.8 16.6 4.9 20.6 5.0 8.3 28.6 8.8 0.4 1.6 1.0 0.2 9.4 10.4 3.2 4.2 12.1 1.0 3.5 45.0 0.2 4.0 4.1 1.2 6.5 17.1 1.0 2.2 1.7 2.7 6.6 7.0 1.2 1.9 5.7

SK 10.4 6.0 5.3 16.9 13.6 20.6 23.5 12.6 1.3 1.3 3.6 2.2 16.9 5.2 23.9 17.0 10.0 21.6 9.5 6.6 7.7 2.2 2.2 3.2 17.2 12.1 7.3 33.1 0.4 0.5 2.0 1.8 0.6 0.4 4.3

Abu 5.5 4.9 9.3 4.0 5.4 6.8 3.2 6.4 1.1 1.3 1.4 2.5 5.6 7.7 14.0 12.6 10.1 5.3 5.2 4.2 8.0 1.7 1.6 0.8 2.4 13.7 1.6 2.1 0.6 0.4 23.6 16.1 1.2 75.1 38.9

BETN 42.7 26.1 26.5 25.5 28.0 23.0 14.6 29.5 26.1 29.1 78.4 78.0 41.2 50.4 38.4 43.7 41.9 40.1 51.9 14.1 57.1 68.6 69.5 5.8 39.5 15.1 75.2 38.1 76.9 21.3 14.5 1.6 3.9 7.0 11.3

5 gizinya. Kandungan gizi dari bahan pakan tersebut dapat diketahui dengan melakukan analisis di laboratorium gizi, akan tetapi secara praktis dapat dilihat dari daftar komposisi yang merupakan hasil penelitian dari para ahli. Selain memiliki nutrisi yang tinggi bahan pakan juga harus memiliki kualitas yang bagus (bebas dari jamur dan bakteri), mudah didapat, murah, tidak ada persaingan dengan manusia serta tidak mengandung zat beracun (Mudjiman, 2004). Selain itu dalam menyusun formulasi pakan, juga harus memperhatikan nilai ekonomis dari penggunaan bahan baku, sehingga setiap formulasi pakan yang digunakan dapat menguntungkan para pembudidaya.. Untuk memudahkan dalam penyusunan ransum pakan perlu juga diketahui sumber bahan pakan, yaitu sumber protein dan sumber energi dan feed aditif. Penyusunan ransum yang tepat dalam pembuatan pakan sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap nilai nutrisi dari pakan itu sendiri. Penggunaan metode yang benar dalam menyusun ransum akan menghasilkan pakan dengan nilai gizi yang diharapkan. Teknik untuk menyusunan ransum dapat dilakukan dengan beberapa cara, mulai dari yang sederhana sampai yang lebih modern dengan menggunakan komputer. Cara penyusunannya dapat dilakukan dengan metode coba–coba (Trial and Error), metode bujur sangkar (Pearson), metode gabungan antara coba-coba dan bujur sangkar,

TEKNIK PEMBUATAN PAKAN IKAN Proses pembuatan pakan meliputi tahap-tahap penggilingan atau penepungan, penimbangan, pencampuran bahan pakan, pencetakan dan pengeringan. Penggilingan atau penepungan, untuk memperkecil dan menghaluskan bahan pakan yang semula masih terbentuk gumpalan atau butiran kasar. Proses penggilingan juga bertujuan untuk menginaktifkan beberapa senyawa toksik atau antinutrien dan untuk mempermudah dalam melakukan pencampuran bahan pakan. Setelah itu, dilakukan pengayakan untuk memisahkan bahan kasar dan bahan halus. Penimbangan, setelah bahan diayak kemudian bahan ditimbang dengan teliti sesuai dengan formulasi yang akan ditentukan. Bahan yang diperlukan dalam jumlah besar dapat menggunakan timbangan besar. Sedangkan bahan yang diperlukan dalam jumlah kecil (vitamin dan mineral) dapat menggunakan timbangan yang mempunyai ketelitian lebih tinggi. Bahan pakan dilakukan penimbangan untuk mendapatkan komposisi yang tepat Pencampuran bahan pakan, supaya seluruh bagian pakan yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama seperti ransum yang telah disusun. Pencampuran dilakukan secara
* Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Disampaikan pada Pembudidaya Perikanan di Bontang tanggal 15 – 17 Juni 2010

6 merata dan homogen dan dilakukan secara bertahap, dimulai dari bahan yang memiliki volume kecil kemudian bahan yang memiliki volume besar. Pencetakan, untuk menghasilkan bentuk dan ukuran pakan yang sesuai dengan kebutuhan udang. Bentuk dan ukuran pakan buatan bervariasi, antara lain emulsi atau suspensi, pasta, lempengan (flake), remah (crumble) dan pelet. Pengeringan, dihasilkan dengan cara penjemuran atau dengan menggunakan alat pengering khusus (dryer). Proses pengeringan pakan buatan menggunakan pengering khusus lebih menguntungkan karena tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca, lebih bersih dan lebih cepat.

Beberapa Bentuk dan Cara Membuat Pakan Ikan a) Bentuk Larutan Emulsi Bahan: 1 butir telur 40 gram tepung kedelai 5 gram tepung sagu 1 gram vitamin

Cara Pembuatan: 1. Sebutir telur direbus sampai masak, kemudian diambil kuningnya dan dilarutkan dalam 200 ml air. 2. Sambil diaduk, tambahkan tepung kedelai halus, sagu, dan akhirnya vitamin. 3. Panaskan larutan sambil tetap diaduk, sampai diperoleh cairan kental seperti lem yang encer. Larutan siap digunakan setelah dingin. 4. Masa simpan larutan 10 jam dan digunakan untuk makanan burayak ikan yang berumur 320 hari. b) Bentuk Larutan Suspensi Bahan 20 gram kedelai 1 butir telur

Cara Pembuatan:
* Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Disampaikan pada Pembudidaya Perikanan di Bontang tanggal 15 – 17 Juni 2010

7
1. Kedelai direbus sampai masak, agar zat penghambat tumbuhnya hilang, dihaluskan dan diberi air sedikit demi sedikit, kemudian disaring dengan kain mori halus. 2. Telur itik diberi perlakukan serupa dan yang digunakan hanya bagian yang kuning.

3. Larutan sari kedele dan larutan sari kuning telur dicampur dan diaduk merata.
3. Digunakan untuk makanan burayak. c) Bentuk Roti Kukus (I) Bahan: butir telur Tepung Ikan Tepung Terigu Tepung Susu Vitamin

Cara Pembuatan: 1. Telur itik dikocok sampai lumat dan berbuih. Secara berangsur-angsur ditambahkan tepung ikan, tepung terigu, dan tepung susu, sambil terus diaduk dan diberi air sedikit demi sedikit.

2. Adonan dikukus sampai masak selama 30 menit. Roti yang sudah masak didinginkan.
3. Vitamin B dan C dihaluskan, ditambah tetrasiklin yang telah dibuang kapsulnya dan beberapa tetes vitamin A+D-pleks dan Kalsidol. 4. Roti kukus yang telah dingin, dibentuk menjadi gumpalan kecil-kecil,kemudian dioleskan pada campuran vitamin dan antibiotik, sambil diremas-remas sampai campuran merata. Roti dapat disimpan dalam lemari es selama 3 hari. 5. Sebelum digunakan sebaiknya dibuat suspensi, yaitu dengan melarutkannya dalam air melalui kain saringan halus yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran burayak yang akan diberi makan. d. Pakan Bentuk Cake (II) Alat: Timbangan, Gelas Ukur, Bak plastik, Mixer, Kantong plastik, Pengukus, Saringan Bahan: 1 kg telur ayam (kuning telur) 75 gram tepung terigu cakra 300 gram tepung susu skim 100 cc air

Cara Pembuatan: 1. Telur dipisahkan antara putih dan kuningnya, ambil kuningnya saja. 2. Kocok kuning telur dengan menggunakan mixer sampai putih dan mengembang.
* Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Disampaikan pada Pembudidaya Perikanan di Bontang tanggal 15 – 17 Juni 2010

8
3. Masukkan berturut-turut tepung susu skim dan tepung terigu. Campur sampai merata sambil masukkan air sedikit demi sedikit. 4. Masukkan adonan yang sudah homogen ke dalam kantong plastik 5. Kukus sampai masak selama 1 jam 6. Dinginkan cake yang sudah jadi lalu larutkan dalam air 7. Saring dan simpan endapan dalam lemari es. e) Bentuk Pellet

1. Bahan untuk membuat pelet ada 2 macam, yaitu berupa: tepung kering dan gumpalan (pasta). 2. Bahan perekat dapat dicampur langsung dengan bahan lainnya saat masih kering, atau disendirikan. Bila disendirikan, bahan tersebut diseduh dulu dengan air mendidih sampai mengental seperti lem encer. Setelah itu bahan perekat dicampur dengan bahan-bahan lainnya. 3. Pencampuran bahan dimulai dengan bahan yang jumlahnya sedikit dan diakhiri dengan bahan yang jumlahnya paling banyak. Bahan yang berupa pasta dicampurkan paling akhir. Bahan perekat yang dibuat adonan tersendiri, dicampurkan paling akhir. Adonan yang masih kurang basah dapat ditambah air sedikit demi sedikit. 4. Apabila bahan perekat dicampur langsung dengan bahan-bahan lainnya, maka pembuatan adonan dilakukan dengan air panas sebanyak ¼ berat bahan baku. Pengadukan dilakukan di atas api kecil, agar air tidak cepat dingin. 5. Pengadukan adonan dilakukan sampai terjadi perubahan warna. 6. Adonan didinginkan di atas tampir. Apabila menggunakan ragi, maka pencampurannya dilakukan setelah adonan dingin. 7. Bahan baku yang telah dingin dicetak dengan penggiling daging dan akan diperoleh bentuk batangan-batangan. Batangan basah tersebut dipotong-potong sepanjang 3 cm. 8. Pelet basah yang telah dipotong-potong dijemur sampai kadar airnya 10-20%. Pengeringan dihentikan apabila pelet kering, keras dan mudah patah.
f) Bentuk Remah dan Tepung

1. Keduanya berasal dari pellet yang sudah kering. Pellet digiling lagi dengan penggiling kopi. Besar kecilnya ukuran butiran tergantung kendor kencangnya setelan gigi-gigi penggilas alat penggiling.

* Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Disampaikan pada Pembudidaya Perikanan di Bontang tanggal 15 – 17 Juni 2010

9 2. Tepung kasar dan halus dipisahkan dengan ayakan. - Untuk benih berumur 20-40 hari, mata saringnya 40-75 sampai 75-105 mikron. - Untuk benih berumur 40-80 hari, mata saringnya > 105 mikron. g) Bentuk Lembaran 1. Kuning telur ayam dikopyok sampai lumat, sambil berangsur-angsur ditambah air 100 ml, kemudian ditambah 20 gram tepung terigu. 2. Adonan dipanaskan sambil terus diaduk sampai adonan mengental menjadi emulsiarutan emulsi yang masih panas dan encer, dioleskan tipistipis dan tipis-tipis di atas lempeng aluminium, kemudian dipanggang sampai mengering dan akan mengelupas sendiri. 3. Lapisan yang telah mengelupas, dikumpulkan. Dalam keadaan demikian mudah pecah-pecah menjadi kepingan-kepingan kecil.

* Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Disampaikan pada Pembudidaya Perikanan di Bontang tanggal 15 – 17 Juni 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->