P. 1
Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen Berbasis Sekolah

|Views: 81|Likes:

More info:

Published by: Muchamad Khoirul Amin on Apr 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

Manajemen Berbasis Sekolah

Kompetensi Dasar 1: Menguasai landasan dan alasan MBS, konsep pengembangan pendidikan masa depan, karakteristik berbagai model MBS, dan mutu pendidikan. I. LANDASAN DAN ALASAN MBS 1. Landasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Landasan Manajemen Berbasis Sekolah menurut Mulyasa (2009) yaitu berdasarkan otonomi daerah; UU No. 22 tentang Pemerintah Daerah pada hakikatnya memberi kewenangan dan keleluasaan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan menurut Depdiknas (2007), landasan MBS yaitu berdasarkan landasan Yuridis yang dijamin oleh peraturan perundang-undangan: a. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 51 ayat (1). b. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program pembangunan Nasional tahun 2000-2004 pada Bab VII. c. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044 Tahun 2002 tentang Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. d. Kepmendiknas Nomor 087 tahun 2004 tentang Standar Akreditas Sekolah. e. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Suryosubroto (2010) menyatakan tentang landasan MBS yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang diberlakukan secara efektif mulai tanggal 1 Januari 2001.

Sekolah lebih mengetahui kelemahan. Pendidikan termasuk bidang yang didesentralisasikan ke pemerintah kota/ kabupaten. Sedangkan menurut Depdiknas (2007). diharapkan permasalahan pokok pendidikan yaitu masalah mutu. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah.Tidak jauh berbeda dengan Suryosubroto. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang berlaku 1 Januari 2001. 2. Nurkolis (2003) mengungkapkan sejak digulirkannya UU No. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. pemerataan. dapat disimpulkan bahwa Manajemen Berbasis Sekolah berlandaskan pada UU No. 2. Maka muncullah pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas yang disebut manajemen berbasis sekolah (MBS). Dari paparan di atas. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah. Alasan Diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Ada beragam alasan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah. dan manajemen dapat terpecahkan. Dengan pemberian fleksibilitas/ keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumber dayanya. 3. wacana desentralisasi pemerintah ramai dikaji. di antaranya adalah yang diungkapkan oleh Mulyasa (2009). . maka sekolah akan lebih insiatif/ kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah. peluang. relevansi. Melalui desentralisasi pendidikan. adanya berbagai program pendidikan yang pengelolaannya terlalu kaku dan sentralistik sehingga tidak memberikan dampak positif. MBS diterapkan dengan alasan-alasan sebagai berikut: 1. efisiensi. 22 tahun 1999 dan dan Landasan Yuridis. kekuatan. dan angka partisipasi pendidikan nasional maupun kualitas pendidikan tetap menurun.

5. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. peluang. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat. Alasan diterapkannya MBS menurut Nurkolis (2003): 1. 6. ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. b. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan akuntabilitas sekolah. dan pemerintah daerah setempat. MBS di Indonesia yang menggunakan model MPMBS muncul karena alasan: a. . 9. sehingga dia akan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. masyarakat sekitar. peserta didik. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. orang tua. dan masyarakat pada umumnya. kelemahan.4. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif yang didukung oleh orang tua siswa. 7. 10. 8.

maka diperlukan strategi pengelolaan pendidikan yang tepat dan mengedepankan kerja sama. Efisiensi administrasi e. Akuntabilitas h. Finansial f. maka diperlukan strategi pengelolaan pendidikan yang tepat dan mengedepankan kerja sama yang lebih dikenal dengan istilah collaborative school management yang selanjutnya menjadi model pengelolaan sekolah yang dinamakan school based management atau manajemen berbasis sekolah (MBS) Dari uraian di atas. bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota (Pasal 1 Ayat 2). Alasan ekonomis b. Menurut Bank Dunia. 2. Politis c. pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota. Profesional d. dan untuk dapat melaksanakan kewajiban ini. Untuk dapat melaksanakan kewajiban ini secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi penduduk daerah yang bersangkutan. alasan diterapkannya MBS: a. Evektivitas sekolah Suryosubroto (2010) menyatakan tentang alasan diterapkannya MBS. dapat disimpulkan bahwa alasan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah adalah karena adanya berbagai program pendidikan yang pengelolaannya terlalu kaku dan sentralistik. Prestasi siswa g. sekolah mempunyai otonomi atau . Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.c.

mengorganisasi. . MBS juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.wewenang untuk merencanakan. peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. keefisienan administrasi. merencanakan. pada dasarnya sekolahlah yang lebih mengetahui kekuatan. dan peningkatan fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah. politis dan keekonomian. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/ konformitas untuk semua sekolah). kelemahan. esensinya adalah peningkatan otonomi sekolah. akuntabilitas. Pelaksanaan 3. Pengawasan 4. ancaman. prestasi siswa. keefektifan sekolah. Untuk itu perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen. mengatur. melaksanakan dan bertanggung jawab atas segala kegiatan yang ada di sekolah dan lingkungan sekolah dengan keterlibatan warga sekolah serta masyarakat sekitar sehingga sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan dapat tercapai. mengatur. serta memimpin sumber-sumber daya insani serta barang-barang untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah. KONSEP PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MASA DEPAN Konsep pengembangan pendidikan masa depan menurut Mulyasa (2009). yaitu: 1. serta kebutuhannya termasuk dalam hal finansial. II. Perencanaan 2. mengambil keputusan. Pembinaan Konsep pengembangan pendidikan masa depan menurut Depdiknas (2007): Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). peluang. MBS memberikan kewenangan penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan dan pengajaran. profesionalitas. mengawasi. mempertanggungjawabkan.

menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/ konformitas untuk semua sekolah) dan tidak hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan serta menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. School policy (memuat visi. III. dan memimpin sumber-sumber daya insani serta barang-barang untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah. misi. MBS dibangun dengan memperhatikan kebijakan dan panduan dari pemerintah negara bagian satu pihak dan partisispasi masyarakat melalui school council (SC) serta parent and community association (P&C) di pihak lain. mempertanggungjawabkan. misi dan tujuan/ sasaran sekolah yang membawa implikasi terhadap pengembangan kurikulum sekolah dan programprogram operatif lainnya. merencanakan. dapat disimpulkan bahwa konsep pengembangan pendidikan masa depan yaitu dengan memberikan wewenang penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan dan pengajaran. School planning review (untuk jangka waktu 3 tahun) . Perpaduan dari dua kepentingan ini dituangkan dalam dokumen: 1. Dari berbagai uraian di atas. dan prioritas program) 2. sasaran.Suryosubroto (2010) mengungkapkan bahwa pengembangan pendidikan masa depan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan. mengawasi. MBS menempatkan sekolah sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk menetapkan kebijakan menyangkut visi. KARAKTERISTIK BERBAGAI MODEL MBS Menurut Mulyasa (2009) Manajemen Berbasis Sekolah/ MBS (School Based Management) merupakan refleksi pengelolaan desentralisasi pendidikan di Australia. mengorganisasi. pengembangan kurikulum. mengatur. Lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah.

School annual planning quality assurance dan accuntability dilakukan melalui kegiatan yang disebut external dan internal monitoring. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologis dan pisik) . lomba karya ilmiah remaja. perilaku sosial yang baik rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. dll dan output yang berupa prestasi non-akademik. lomba mata pelajaran. kedisplinan. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat i. kerajinan. toleransi. Sekolah memiliki “teamwork” yang kompak. Menurut Depdiknas (2007) karakteristik model MBS dikenal dengan karakteristik sekolah efektif yang memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. proses. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi b. harga diri. Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. dan dinamis g. keingintahuan yang tinggi. misal. 1. yang dikategorikan menjadi input. cerdas.3. dll. Kepemimpinan sekolah yang kuat c. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif e. Output dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: output berupa prestasi akademik. 2. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib d. Output. akhlak/ budi pekerti. Sekolah memiliki budaya mutu f. Proses. Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen j. dan output. Karakteristik proses: a. misalnya. Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) h.

Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi d. Munculnya model MBS di tiap-tiap negara tak terlepas dari sejarah pendidikan tertentu yang kemudian difokuskan untuk ditingkatkan kinerjanya. Memiliki kebijakan. Model MBS di Hong Kong: menekankan inisiatif sekolah. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan l. Memiliki komunikasi yang baik n. yaitu meningkatkan mutu sekolah dan pendidikan.k. tujuan dan sasaran mutu yang jelas b. Model MBS di Amerika Serikat: menekankan pengelolaan sekolah di tingkat sekolah itu sendiri. Model MBS di Kanada: menekankan pengambilan keputusan pada tingkat sekolah. . 1. Sekolah memiliki akuntabilitas o. Manajemen lingkungan hidup sekolah bagus p. Sekolah responsif dan antisipasi terhadap kebutuhan m. 3. Input: a. Sumberdaya tersedia dan siap c. Model MBS di Inggris: menekankan pengelolaan dana pada tingkat sekolah. 4. Fokus pada pelanggan (khususnya siswa) f. Memiliki harapan prestasi yang tinggi e. 2. Input manajemen Nurkolis (2003) berpendapat bahwa semua model MBS yang muncul mengarah pada satu titik. Sekolah memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas 3.

7. Akan tetapi semua model MBS yang muncul mengarah pada satu titik. 6. anggaran.5. Model MBS di Prancis: memberikan partsisipasi yang lebih besar pada badan pengelola sekolah. yang dikategorikan menjadi input. proses. kurikulum. dan input. Model MBS di Nikaragua: munculnya sekolah otonom dalam hal personel. 8. Model MBS di Australia: memberi kewenangan sekolah dalam hal kurikulum. dan pedagogi. dan output. Model MBS yang ideal: Dikembangkan oleh Slamet P. dan beberapa alternatif pengelolaan sekolah. Model MBS di El Salvador: melibatkan orang tua siswa dan masyarakat dalam pengelolaan sekolah. dapat disimpulkan bahwa karaketristik model MBS sebenarnya berbeda-beda antara satu negara dengan negara yang lain. Model MBS di Madagaskar: memfokuskan pada tingkat pendidikan dasar dengan melibatkan peran serta masyarakat. Berdasarkan uraian di atas. 10. memberikan fleksibilitas kepada sekolah dan mendorong partsisipasi secara langsung serta peraturan warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta perundang-undangan yang berlaku.H terdiri dari output. yaitu meningkatkan mutu sekolah dan pendidikan dan dikenal dengan karakteristik sekolah efektif yang memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. Model MBS di Selandia Baru: memfokuskan pada anggaran yang berbasis di sekolah (School-based Budget). Model MBS di Indonesia: menekankan pada mutu yang dikenal dengan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). . 12. 9. fleksibilitas penggunaan sumber daya sekolah. proses. 11. Model ini memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah.

diharapkan sekolah dapat bekerja dalam koridor-koridor tertentu.IV. 2. Penyususnan basis data dan profil sekolah menyangkut berbagai aspek akademis. Nurkolis (2003) mengungkapkan bahwa untuk meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui beberapa cara. administratif dan keuangan. 3. . Mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan merumuskan visi. sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen dan pembinaan struktural staf sekolah. Pertanggungjawaban/ accountabilitas. 2. Meningkatkan ukuran prestasi akademik melalui ujian nasional atau ujian daerah yang menyangkut kompetensi dan pengetahuan. antara lain: 1. Sumber daya sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. Membentuk kelompok sebaya untuk meningkatkan gairah pembelajaran melalui belajar secara koopertaif (kooperative learning). memperbaiki tes bakat (Scholastic Aptitude Test). sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar dan proses penyampaiannya. menurut Suryosubroto (2010). seperti: 1. misi dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya. 4. 4. Strategi peningkatan mutu berbasis sekolah. sertifikasi kompetensi dan profil portofolio (portofolio profile). Kurikulum. Melakukan evaluasi diri 3. 2. Merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau pendek. Personel sekolah. tahapan kegiatannya adalah: 1. MUTU PENDIDIKAN Dalam manajemen peningkatan mutu pendidikan.

proses. . 3. Tingkat kepemimpinan yang kuat dan dukungan politik dan dukungan kepemimpinan dari atas.3. membimbing siswa menilai pekerjaanpekerjaan. bertindak sebagai sumber kontak informal tenaga kerja. para guru. 4. cara lain untuk meningkatkan kualitas/ mutu pendidikan yang kini menggejala di seluruh pelosok dunia adalah melalui MBS. Meningkatkan pemahaman dan penghargaan belajar melalui penguasaan materi (mastery learning) dan penghargaan atas pencapaian prestasi akademik. dan lingkungan. dan anggota dewan sekolah adalah hal penting demi kesuksesan MBS. manusia. 6. Menetapkan secara jelas visi dan hasil yang diharapkan. 2. 5. 5. Adanya keadilan dalam pendanaan atau pembiayaan pendidikan. 4. Adanya kebijakan dari pusat yang berisi standar-standar kepada sekolah. Ada beberapa panduan yang komprehensif sebagai elemen kunci reformasi MBS yaitu: 1. Menciptakan fokus tujuan nasional yang memerlukan perbaikan. membimbing siswa membuat daftar riwayat hidupnya dan mengembangkan portofolio pencarian pekerjaan. Membantu siswa memperoleh pekerjaan dengan menawarkan kursus-kursus yang berkaitan dengan keterampilan memperoleh pekerjaan. Menciptakan kesempatan belajar baru di sekolah dengan mengubah jam sekolah menjadi pusat belajar sepanjang hari dan tetap membuka sekolah pada jam-jam libur. Pembangunan kelembagaan (capacity building) melalui pelatihan dan dukungan kepada kepala sekolah. Selain TQM. jasa. Cara lain untuk meningkatakan kualitas/ mutu pendidikan adalah dengan menerapkan Total Quality Management (TQM) yaitu suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk.

merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau pendek. dan pemerintah. Pada dasarnya MBS adalah otonomi manajemen sekolah dalam pengambilan keputusan partisispatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. siswa. melakukan evaluasi diri. Dalam kerangka inilah. masyarakat.Menurut Mulyasa (2009). efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antara sekolah. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antara sekolah. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif. Namun. masih . orang tua dan masyarakat untuk memiliki kontrol yang lebih besar dalam proses pendidikan dan memberikan mereka tanggung jawab untuk mengambil keputusan tentang anggaran. guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. administratif dan keuangan. misi dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya. dan kurikulum. MBS memberi kepala sekolah. personel. dapat disimpulkan bahwa peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai strategi yaitu dengan menyusun basis data dan profil sekolah yang menyangkut berbagai aspek akademis. dan pemerintah. Dari berbagai pendapat di atas. MBS juga membutuhkan kerja sama antara warga sekolah dengan masyarakat. MBS tampil sebagai alternatif paradigma baru manajemen pendidikan yang ditawarkan. masyarakat. MBS di negara Indonesia sudah cukup berjalan di sebagian besar sekolah. mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan merumuskan visi. Cara lain untuk meningkatakan kualitas/ mutu pendidikan adalah dengan menerapkan Total Quality Management (TQM) dan melalui MBS sebagai suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. pemberian otonomi pendidikan yang luas pada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum. guru. MBS merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu.

Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. 2010. di antaranya adalah: 1. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. 4. 2007. hanya orang-orang tertentu yang dilibatkan atau justru hanya melibatkan dirinya sendiri. atau membuat suatu anggaran. Seringkali yang terlibat dalam pendidikan belum siap berbagi. Adanya perbedaan generasi (tua-muda berbeda visi). Adanya benturan kepentingan atau misi masing-masing pihak. 2. dan Aplikasi. Belum bisa mengkoordinir atau mengkontrol. Manajemen Berbasis Sekolah-Konsep. Strategi dan Implementasi.kompasiana. Manajemen Pendidikan di Sekolah. http://edukasi. 2003. 3. Manajemen Berbasis Sekolah. 2009. Jakarta: PT Rineka Cipta. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Suryosubroto. Manajemen Berbasis Sekolah-Teori. Model. Nurkolis. SUMBER BAHAN/ PUSTAKA Depdiknas. Misalkan dalam mengadakan suatu proyek dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. Ada dua kelompok besar dalam MBS yaitu guru dan komite sekolah.banyak hambatan-hambatan yang dapat menghalangi keberhasilan program MBS di sekolah. Mulyasa. Kemauan untuk mengelola dan aktif terlibat langsung di dalam manajemen dari berbagai pihak adalah hal penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan agar suatu manajemen berbasis sekolah dapat berjalan dengan lancar dan tujuan dari peningkatan mutu pendidikan sekolah juga akhirnya dapat tercapai.com/2011/03/23/yuk-belajar-manajemen-berbasis-sekolah-1/ .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->