Manajemen Berbasis Sekolah

Kompetensi Dasar 1: Menguasai landasan dan alasan MBS, konsep pengembangan pendidikan masa depan, karakteristik berbagai model MBS, dan mutu pendidikan. I. LANDASAN DAN ALASAN MBS 1. Landasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Landasan Manajemen Berbasis Sekolah menurut Mulyasa (2009) yaitu berdasarkan otonomi daerah; UU No. 22 tentang Pemerintah Daerah pada hakikatnya memberi kewenangan dan keleluasaan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan menurut Depdiknas (2007), landasan MBS yaitu berdasarkan landasan Yuridis yang dijamin oleh peraturan perundang-undangan: a. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 51 ayat (1). b. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program pembangunan Nasional tahun 2000-2004 pada Bab VII. c. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044 Tahun 2002 tentang Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. d. Kepmendiknas Nomor 087 tahun 2004 tentang Standar Akreditas Sekolah. e. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Suryosubroto (2010) menyatakan tentang landasan MBS yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang diberlakukan secara efektif mulai tanggal 1 Januari 2001.

dapat disimpulkan bahwa Manajemen Berbasis Sekolah berlandaskan pada UU No. wacana desentralisasi pemerintah ramai dikaji. Sedangkan menurut Depdiknas (2007). dan manajemen dapat terpecahkan. Pendidikan termasuk bidang yang didesentralisasikan ke pemerintah kota/ kabupaten. dan angka partisipasi pendidikan nasional maupun kualitas pendidikan tetap menurun. Nurkolis (2003) mengungkapkan sejak digulirkannya UU No. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah. Melalui desentralisasi pendidikan. diharapkan permasalahan pokok pendidikan yaitu masalah mutu. 2.Tidak jauh berbeda dengan Suryosubroto. 22 tahun 1999 dan dan Landasan Yuridis. adanya berbagai program pendidikan yang pengelolaannya terlalu kaku dan sentralistik sehingga tidak memberikan dampak positif. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. . Dengan pemberian fleksibilitas/ keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumber dayanya. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang berlaku 1 Januari 2001. relevansi. di antaranya adalah yang diungkapkan oleh Mulyasa (2009). maka sekolah akan lebih insiatif/ kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah. MBS diterapkan dengan alasan-alasan sebagai berikut: 1. pemerataan. Dari paparan di atas. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah. kekuatan. 3. peluang. 2. Alasan Diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Ada beragam alasan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah. Sekolah lebih mengetahui kelemahan. Maka muncullah pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas yang disebut manajemen berbasis sekolah (MBS). efisiensi.

8. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. kelemahan. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif yang didukung oleh orang tua siswa. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. 10. masyarakat sekitar. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan akuntabilitas sekolah. b.4. peluang. MBS di Indonesia yang menggunakan model MPMBS muncul karena alasan: a. 6. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. peserta didik. Alasan diterapkannya MBS menurut Nurkolis (2003): 1. 9. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya. orang tua. ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. sehingga dia akan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan. . dan masyarakat pada umumnya. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat. dan pemerintah daerah setempat. 5. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. 7.

Politis c. alasan diterapkannya MBS: a.c. Untuk dapat melaksanakan kewajiban ini secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi penduduk daerah yang bersangkutan. Efisiensi administrasi e. Akuntabilitas h. Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. maka diperlukan strategi pengelolaan pendidikan yang tepat dan mengedepankan kerja sama. dapat disimpulkan bahwa alasan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah adalah karena adanya berbagai program pendidikan yang pengelolaannya terlalu kaku dan sentralistik. Alasan ekonomis b. 2. Menurut Bank Dunia. maka diperlukan strategi pengelolaan pendidikan yang tepat dan mengedepankan kerja sama yang lebih dikenal dengan istilah collaborative school management yang selanjutnya menjadi model pengelolaan sekolah yang dinamakan school based management atau manajemen berbasis sekolah (MBS) Dari uraian di atas. Profesional d. bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota (Pasal 1 Ayat 2). Evektivitas sekolah Suryosubroto (2010) menyatakan tentang alasan diterapkannya MBS. pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota. sekolah mempunyai otonomi atau . Finansial f. dan untuk dapat melaksanakan kewajiban ini. Prestasi siswa g.

kelemahan. mengawasi. profesionalitas. merencanakan. yaitu: 1. esensinya adalah peningkatan otonomi sekolah.wewenang untuk merencanakan. politis dan keekonomian. mengambil keputusan. mempertanggungjawabkan. KONSEP PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MASA DEPAN Konsep pengembangan pendidikan masa depan menurut Mulyasa (2009). mengatur. MBS juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. dan peningkatan fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah. . pada dasarnya sekolahlah yang lebih mengetahui kekuatan. Pelaksanaan 3. keefektifan sekolah. prestasi siswa. Pembinaan Konsep pengembangan pendidikan masa depan menurut Depdiknas (2007): Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/ konformitas untuk semua sekolah). Perencanaan 2. II. serta kebutuhannya termasuk dalam hal finansial. Untuk itu perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen. peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. mengatur. serta memimpin sumber-sumber daya insani serta barang-barang untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah. Pengawasan 4. peluang. MBS memberikan kewenangan penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan dan pengajaran. melaksanakan dan bertanggung jawab atas segala kegiatan yang ada di sekolah dan lingkungan sekolah dengan keterlibatan warga sekolah serta masyarakat sekitar sehingga sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan dapat tercapai. ancaman. keefisienan administrasi. akuntabilitas. mengorganisasi.

pengembangan kurikulum. mengawasi. merencanakan. sasaran.Suryosubroto (2010) mengungkapkan bahwa pengembangan pendidikan masa depan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan. mempertanggungjawabkan. MBS dibangun dengan memperhatikan kebijakan dan panduan dari pemerintah negara bagian satu pihak dan partisispasi masyarakat melalui school council (SC) serta parent and community association (P&C) di pihak lain. dan prioritas program) 2. School planning review (untuk jangka waktu 3 tahun) . School policy (memuat visi. Perpaduan dari dua kepentingan ini dituangkan dalam dokumen: 1. dapat disimpulkan bahwa konsep pengembangan pendidikan masa depan yaitu dengan memberikan wewenang penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan dan pengajaran. mengorganisasi. Dari berbagai uraian di atas. misi. KARAKTERISTIK BERBAGAI MODEL MBS Menurut Mulyasa (2009) Manajemen Berbasis Sekolah/ MBS (School Based Management) merupakan refleksi pengelolaan desentralisasi pendidikan di Australia. MBS menempatkan sekolah sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk menetapkan kebijakan menyangkut visi. dan memimpin sumber-sumber daya insani serta barang-barang untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah. menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/ konformitas untuk semua sekolah) dan tidak hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan serta menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. mengatur. III. misi dan tujuan/ sasaran sekolah yang membawa implikasi terhadap pengembangan kurikulum sekolah dan programprogram operatif lainnya. Lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah.

Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat i. kedisplinan. 1. Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen j. Menurut Depdiknas (2007) karakteristik model MBS dikenal dengan karakteristik sekolah efektif yang memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. Sekolah memiliki “teamwork” yang kompak. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologis dan pisik) . Sekolah memiliki budaya mutu f. Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif e. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib d. lomba mata pelajaran. Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) h. akhlak/ budi pekerti. yang dikategorikan menjadi input. dll dan output yang berupa prestasi non-akademik. harga diri.3. Output. dan output. Proses. toleransi. dan dinamis g. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi b. 2. cerdas. School annual planning quality assurance dan accuntability dilakukan melalui kegiatan yang disebut external dan internal monitoring. Kepemimpinan sekolah yang kuat c. Output dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: output berupa prestasi akademik. misal. keingintahuan yang tinggi. dll. lomba karya ilmiah remaja. proses. perilaku sosial yang baik rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. kerajinan. Karakteristik proses: a. misalnya.

Model MBS di Hong Kong: menekankan inisiatif sekolah. Memiliki komunikasi yang baik n. . Munculnya model MBS di tiap-tiap negara tak terlepas dari sejarah pendidikan tertentu yang kemudian difokuskan untuk ditingkatkan kinerjanya. Model MBS di Kanada: menekankan pengambilan keputusan pada tingkat sekolah. Model MBS di Amerika Serikat: menekankan pengelolaan sekolah di tingkat sekolah itu sendiri. Fokus pada pelanggan (khususnya siswa) f. Manajemen lingkungan hidup sekolah bagus p. Model MBS di Inggris: menekankan pengelolaan dana pada tingkat sekolah. yaitu meningkatkan mutu sekolah dan pendidikan. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan l. 1. Sekolah memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas 3. Memiliki harapan prestasi yang tinggi e. Input manajemen Nurkolis (2003) berpendapat bahwa semua model MBS yang muncul mengarah pada satu titik. 2. 4. Memiliki kebijakan. Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi d.k. Sekolah memiliki akuntabilitas o. tujuan dan sasaran mutu yang jelas b. Sumberdaya tersedia dan siap c. 3. Sekolah responsif dan antisipasi terhadap kebutuhan m. Input: a.

fleksibilitas penggunaan sumber daya sekolah. Model MBS di Nikaragua: munculnya sekolah otonom dalam hal personel. 9. dan beberapa alternatif pengelolaan sekolah. . Model MBS di Prancis: memberikan partsisipasi yang lebih besar pada badan pengelola sekolah. proses. Model MBS di Australia: memberi kewenangan sekolah dalam hal kurikulum. dan input. Berdasarkan uraian di atas. Model ini memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Model MBS di El Salvador: melibatkan orang tua siswa dan masyarakat dalam pengelolaan sekolah. 12. Model MBS di Indonesia: menekankan pada mutu yang dikenal dengan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Model MBS yang ideal: Dikembangkan oleh Slamet P. dan output. memberikan fleksibilitas kepada sekolah dan mendorong partsisipasi secara langsung serta peraturan warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta perundang-undangan yang berlaku. Akan tetapi semua model MBS yang muncul mengarah pada satu titik. dan pedagogi. 6.H terdiri dari output. 7. anggaran. dapat disimpulkan bahwa karaketristik model MBS sebenarnya berbeda-beda antara satu negara dengan negara yang lain. yang dikategorikan menjadi input. 8. yaitu meningkatkan mutu sekolah dan pendidikan dan dikenal dengan karakteristik sekolah efektif yang memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. proses. 10. Model MBS di Madagaskar: memfokuskan pada tingkat pendidikan dasar dengan melibatkan peran serta masyarakat. 11.5. kurikulum. Model MBS di Selandia Baru: memfokuskan pada anggaran yang berbasis di sekolah (School-based Budget).

4. Penyususnan basis data dan profil sekolah menyangkut berbagai aspek akademis. 2. Pertanggungjawaban/ accountabilitas. Personel sekolah. sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen dan pembinaan struktural staf sekolah. menurut Suryosubroto (2010). Membentuk kelompok sebaya untuk meningkatkan gairah pembelajaran melalui belajar secara koopertaif (kooperative learning). MUTU PENDIDIKAN Dalam manajemen peningkatan mutu pendidikan. memperbaiki tes bakat (Scholastic Aptitude Test). Kurikulum. Sumber daya sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. Strategi peningkatan mutu berbasis sekolah. 2. 3. sertifikasi kompetensi dan profil portofolio (portofolio profile). . Meningkatkan ukuran prestasi akademik melalui ujian nasional atau ujian daerah yang menyangkut kompetensi dan pengetahuan. misi dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya. sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar dan proses penyampaiannya. Mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan merumuskan visi. Merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau pendek. diharapkan sekolah dapat bekerja dalam koridor-koridor tertentu. 2. Nurkolis (2003) mengungkapkan bahwa untuk meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui beberapa cara.IV. administratif dan keuangan. 4. seperti: 1. tahapan kegiatannya adalah: 1. antara lain: 1. Melakukan evaluasi diri 3.

Pembangunan kelembagaan (capacity building) melalui pelatihan dan dukungan kepada kepala sekolah. 6. membimbing siswa membuat daftar riwayat hidupnya dan mengembangkan portofolio pencarian pekerjaan. dan anggota dewan sekolah adalah hal penting demi kesuksesan MBS. Menciptakan kesempatan belajar baru di sekolah dengan mengubah jam sekolah menjadi pusat belajar sepanjang hari dan tetap membuka sekolah pada jam-jam libur. 2. Membantu siswa memperoleh pekerjaan dengan menawarkan kursus-kursus yang berkaitan dengan keterampilan memperoleh pekerjaan. cara lain untuk meningkatkan kualitas/ mutu pendidikan yang kini menggejala di seluruh pelosok dunia adalah melalui MBS. Adanya kebijakan dari pusat yang berisi standar-standar kepada sekolah. membimbing siswa menilai pekerjaanpekerjaan. Ada beberapa panduan yang komprehensif sebagai elemen kunci reformasi MBS yaitu: 1. 4. 5. Menetapkan secara jelas visi dan hasil yang diharapkan. Selain TQM. 3. Menciptakan fokus tujuan nasional yang memerlukan perbaikan. 5. Cara lain untuk meningkatakan kualitas/ mutu pendidikan adalah dengan menerapkan Total Quality Management (TQM) yaitu suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk. . dan lingkungan. Meningkatkan pemahaman dan penghargaan belajar melalui penguasaan materi (mastery learning) dan penghargaan atas pencapaian prestasi akademik. manusia. Tingkat kepemimpinan yang kuat dan dukungan politik dan dukungan kepemimpinan dari atas. proses. bertindak sebagai sumber kontak informal tenaga kerja. 4. Adanya keadilan dalam pendanaan atau pembiayaan pendidikan.3. jasa. para guru.

Pada dasarnya MBS adalah otonomi manajemen sekolah dalam pengambilan keputusan partisispatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. masyarakat. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif. MBS juga membutuhkan kerja sama antara warga sekolah dengan masyarakat. mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan merumuskan visi. Dalam kerangka inilah. MBS merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. MBS tampil sebagai alternatif paradigma baru manajemen pendidikan yang ditawarkan. Cara lain untuk meningkatakan kualitas/ mutu pendidikan adalah dengan menerapkan Total Quality Management (TQM) dan melalui MBS sebagai suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. personel. masih . masyarakat. melakukan evaluasi diri. orang tua dan masyarakat untuk memiliki kontrol yang lebih besar dalam proses pendidikan dan memberikan mereka tanggung jawab untuk mengambil keputusan tentang anggaran. dan pemerintah. dan pemerintah. MBS di negara Indonesia sudah cukup berjalan di sebagian besar sekolah. administratif dan keuangan. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antara sekolah. dapat disimpulkan bahwa peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai strategi yaitu dengan menyusun basis data dan profil sekolah yang menyangkut berbagai aspek akademis. Dari berbagai pendapat di atas. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antara sekolah. siswa. Namun. pemberian otonomi pendidikan yang luas pada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum. merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau pendek.Menurut Mulyasa (2009). MBS memberi kepala sekolah. guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. guru. dan kurikulum. misi dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya.

Seringkali yang terlibat dalam pendidikan belum siap berbagi. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Ada dua kelompok besar dalam MBS yaitu guru dan komite sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta. hanya orang-orang tertentu yang dilibatkan atau justru hanya melibatkan dirinya sendiri. Suryosubroto. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Adanya perbedaan generasi (tua-muda berbeda visi). 2010. dan Aplikasi.com/2011/03/23/yuk-belajar-manajemen-berbasis-sekolah-1/ . Strategi dan Implementasi. Manajemen Berbasis Sekolah. 3. Kemauan untuk mengelola dan aktif terlibat langsung di dalam manajemen dari berbagai pihak adalah hal penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan agar suatu manajemen berbasis sekolah dapat berjalan dengan lancar dan tujuan dari peningkatan mutu pendidikan sekolah juga akhirnya dapat tercapai. 2007. 2009. 2003. SUMBER BAHAN/ PUSTAKA Depdiknas. Nurkolis. 2.kompasiana. 4. di antaranya adalah: 1. Adanya benturan kepentingan atau misi masing-masing pihak. Model. atau membuat suatu anggaran.banyak hambatan-hambatan yang dapat menghalangi keberhasilan program MBS di sekolah. Belum bisa mengkoordinir atau mengkontrol. Manajemen Berbasis Sekolah-Konsep. Misalkan dalam mengadakan suatu proyek dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah-Teori. http://edukasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mulyasa.