P. 1
Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan

Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan

|Views: 433|Likes:
Published by Gue Tetep Aank

More info:

Published by: Gue Tetep Aank on Apr 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2014

pdf

text

original

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

Pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, orangtua, dan masyarakat. Tanpa dukungan masyarakat, pendidikan tidak akan berhasil dengan maksimal. Sekarang hampir semua sekolah telah mempunyai komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah, sebab masyarakat dari berbagai lapisan sosial ekonomi sudah sadar betapa pentingnya dukungan mereka untuk keberhasilan pembelajaran di sekolah. Sebetulnya banyak sekali jenis-jenis dukungan masyarakat pada sekolah. Namun sampai sekarang dukungan tersebut lebih banyak pada bidang fisik dan materi, seperti membantu pembangunan gedung, merehab sekolah, memperbaiki genting, dan lain sebagainya. Masyarakat juga dapat membantu dalam bidang teknis edukatif antara lain menjadi guru bantu, sumber informasi lain, guru pengganti, mengajar kebudayaan setempat, ketrampilan tertentu, atau sebagai pengajar tradisi tertentu. Namun demikian, hal tersebut belumlah terwujud karena berbagai alasan. Pada dasarnya masyarakat baik yang mampu maupun yang tidak mampu, golongan atas, menengah maupun yang bawah, memiliki potensi yang sama dalam membantu sekolah yang memberikan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Akan tetapi hal ini bergantung pada bagaimana cara sekolah mendekati masyarakat tersebut. Oleh karena itu, sekolah harus memahami cara mendorong peran serta masyarakat agar mereka mau membantu sekolah. Tulisan ini berikhtiar membicarakan tiga hal antara lain; pentingnya peran serta masyarakat utamanya peran stakeholder bagi pengembangan madrasah; jenis-jenis peran serta masyarakat, serta cara mendorong peran serta masyarakat. Dari sini diharapkan muncul pokok-pokok gagasan setelah melalui proses diskusi dan simulasi yang mencakup munculnya identifikasi stakeholder (baca: kelompok masyarakat) dalam dalam membantu pendidikan; terinventarisasinya jenis-jenis PSM; serta teridentifikasinya beberapa cara mendorong peran serta masyarakat. Mengapa PSM itu perlu? • Pendidikan adalah tanggungjawab bersama keluarga, masyarakat, dan negara; • Keluarga bertanggungjawab untuk mendidik moralitas/agama, menyekolahkan anaknya, serta membiayai keperluan pendidikan anaknya; • Anak berada di sekolah antara 6-9 jam, selebihnya berada di luar sekolah (rumah dan lingkungannya). Dengan demikian, tugas keluarga amat penting untuk menjaga dan mendidik anaknya; • Pendidikan adalah investasi masa depan anak. Oleh karena itu, memerlukan biaya, tenaga dan perhatian. Keberatankah orang tua membayar SPP yang sifatnya bulanan, sedang mereka saja tidak berat untuk membeli rokok setiap hari? Mungkinkah anak menjadi pandai tanpa biaya? Harusnya kita sadar, kita sedang memasuki era globalisasi, dan jika anak kita tidak terdidik, kita akan kalah bersaing dengan bangsa lain. • Anak perempuan perlu mendapat pendidikan setinggi anak laki-laki mengingat mereka akan menjadi ibu dari bayi-bayinya. Ibu lebih dekat kepada anak dan mendidik anak perlu pengetahuan yang memadai agar anak tidak salah asuhan/didik; • Masyarakat berhak dan berkewajiban untuk mendapatkan dan mendukung pendidikan yang baik. Kewajiban mereka tidak sebatas pada bantuan dana, lebih dari itu juga pemikiran dan

Karena kemampuan pemerintah terbatas . • Pemerintah berkewajiban membuat gedung sekolah. menyediakan tenaga/guru. melakukan standarisasi kurikulum. alat peraga. dan lain sebagainya. menjamin kualitas buku paket.gagasan.

sampai organisasi-organisasi yang mungkin pada awalnya dibentuk oleh negara. Pembangunan seharusnya mengandung arti bahwa manusia ditempatkan pada posisi pelaku dansekaligus penerima manfaat dari proses mencari solusi dan meraih hasil pembangunan untuk dirinya dan lingkungannya dalam arti yang lebih luas. Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa bergesernya paradigmapembangunan yang sentralistik ke desentralistik telah mengubah cara pandang penyelenggara negara dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan. apakah itu golongan di dalam negeri seperti pejabat pemerintah atau usahawan. Dengan demikian. baik secara individual maupun secara kolektif. 1984). maka masyarakat justru akan terpinggirkan dari proses pembangunan itu sendiri. pengelompokan sosial yang mencakup mulai dari rumah tangga (household). Oleh karena itu. lebih-lebih dalam era globalisasi.D. Pada saat di mana suatu program pembangunan didominasi oleh peran pemerintah dan peran masyarakat lemah. apabila kemudian peran masyarakat kuat dan ditempatkan sebagai subjek. Namun dalam kenyataannya. organisasi-organisasi sukarela (termasuk partai politik). Sebaliknya. 1993). mengatakan bahwa titik pusat perhatian masa pasca industri adalah pada pendekatan ke arah pembangunan yang lebih berpihak kepada rakyat. maka akan bermakna sebagai upaya pemberdayaan atau penguatan masyarakat. Peranserta masyarakat harus lebih dimaknai sebagai hak daripada sekadar kewajiban. masyarakat harus mampu meningkatkan kualitas kemandirian mengatasi masalah yang dihadapinya. Penguatan partisipasi masyarakat haruslah menjadi bagian dari agenda pembangunan itu sendiri. baik secara institusional maupun perseorangan anggota masyarakat (Karsidi. Belajar dari pengalaman bahwa ketika peran pemerintah sangat dominan dan peranserta masyarakat hanya dipandang sebagai kewajiban. arti pembangunan mengalami gelombang pasang sesuai kebutuhan dan tuntutannya. 2002). dan eksternal seperti kekuatan besar misalnya lembaga (keuangan) internasional (Karsidi. Penguatan masyarakat secara institusional bisa diartikan sebagai pengelompokan anggota masyarakat sebagai warga negara mandiri yang dapat dengan bebas dan egaliter bertindak aktif dalam wacana dan praksis mengenai segala hal yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan pada umumnya. 2002). Pembangunan harus dipandang sebagai bagian dari kebutuhan masyarakat itu sendiri dan bukan semata kepentingan negara. Terasuk di dalamnya adalah jejaring. Korten (1980. Kontrol rakyat (anggota masyarakat) terhadap isi dan prioritas agenda pengambilan keputusan pembangunan harus dimaknai sebagai hak masyarakat untuk ikut mengontrol agenda dan urutan prioritas pembangunan untuk dirinya atau kelompoknya. maka masyarakat lalu hanya ditempatkan sebagai saluran mempercepat program-program pembangunan itu. Individu bukanlah sebagai . tidak akan dapat diterima jika satu golongan mendiktekan keinginan dan kepentingannya dalam isi dan prioritas agenda pengambilan keputusan pembangunan. tetapi melayani kepentingan masyarakat yaitu sebagai perantara dari negara di satu pihak dengan individu dan masyarakat di pihak lain (Hikam.

Oleh karena itu pemilihan orangorang yang mewakili sebagai peserta musyawarah untuk suatu keperluan seperti merumuskan kebutuhan masyarakat haruslah benar-benar yang mampu menyalurkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya. Penyadaran diri masyarakat merupakan satu di antara argumen-argumen yang paling telak dan tajam diajukan oleh Paulo Freire (1984). dan gagasan bahwa hal-ihwal dapat menjadi lain dan tersedia alternatif-alternatif jika dirinya terlibat langsung menyelesaikan masalah-masalahnya. Melalui kelompok akan dibina solidaritas. Salah satu cara yang efektif untuk membentuk kelompok adalah melalui pendekatan kepentingan yang sama secara primordial. Melalui kelompok. Dengan bertolak dari kelompok primordial. dan ini adalah inti dari usaha bagaimana bias mengangkat rakyat dari kelemahannya selama ini. dan mengarahkan proses yang mempengaruhi hidupnya sendiri. kerja sama. mengontrol sumber daya. 2001). Musyawarah adalah sebuah pendekatan kultural khas Indonesia yang dapat dimasukkan dalam proses eksplorasi kebutuhan dan identifikasi masalah. Dalam kelompok primordial itu. Musyawarah juga merupakan bentuk sarana untuk meningkatkan partisipasi dan rasa memiliki atas keputusan dan rencana pembangunan. Pembangunan yang memihak rakyat menekankan nilai pentingnya prakarsa dan perbedaan lokal. yang menentukan tujuan. musyawarah. Kesejahteraan dan realisasi diri manusia merupakan jantung konsep pembangunan yang memihak rakyat. Cara-cara kolektif berpartisipasi oleh masyarakat bisa teraktualisasikan dalam bentuk musyawarah dan juga terbentuknya institusi lokal oleh masyarakat itu sendiri. para anggota kelompok akan memperoleh referensi yang sama. maka pembangunan seperti itu mementingkan sistem swa-organisasi yang dikembangkan di sekitar satuan-satuan organisasi berskala manusia dan masyarakat yang berswadaya. rasa aman dan percaya kepada diri sendiri (Karsidi. Musyawarah dapat merupakan cara analisis kebutuhan (needs) dan tidak sekadar keinginan (wants) yang bersifat superfisial demi pemenuhan kebutuhan sesaat. para anggota akan menyusun program. Masyawarah harus dipandang sebagai bentuk dari community needs analysis. perasaan. Bentuk aktualisasi dan pernyataan penyadaran diri masyarakat secara kolektif dapat berupa partisipasinya dalam proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kebutuhan dirinya dan kelompoknya dalam komunitas yang melingkupinya. dan bekerja secara sistematis. pemikiran. Oleh karena itu. Ini akan menimbulkan keasyikan dan motivasi tersendiri. Pembentukan dan pengembangan kelompok masyarakat dapat dikatakan sebagai basis dari strategi pembangunan dari bawah. Kesempitan pandangan dan cakrawala rakyat diubah ke arah suatu keinsyafan. Dari kelompok-kelompok itu diharapkan akan timbul dinamika dari bawah. Perasaan berharga diri adalah sama pentingnya bagi pencapaian mutu hidup yang tinggi. maka para anggota akan merasakan adanya hal-hal baru jika mereka bersedia membandingkannya dengan situasi lama. Langkah lain dalam proses partisipasi masyarakat itu adalah pembentukan kelompok. serta bias merasakan adanya perkembangan dan kemajuan sebagai hasil kegiatan mereka. Hal yang mendasar dalam kelompok adalah perlunya penyadaran warga masyarakat untuk . melainkan berperan sebagai pelaku.objek.

Dua jenis kebijakan pemerintah tentang Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah serta Majelis Wali Amanah (MWA) di perguruan tinggi BHMN adalah contoh dari bentuk perwujudan mekanisme dan struktur kelembagaan untuk menyalurkan partisipasi masyarakat dalam penyelengaraan pendidikan. atau kelompok-kelompok masyarakat lainnya di luar sekolah. Program-program pembelajaran di sekolah berupa desain kurikulum dan pelaksanaannya. Namun cara seperti ini terkadang justru menyebabkan warga biasa (yang bukan tokoh) tidak akan mampu menjadi bagian dari forum dan pada gilirannya tidak tersalurkan pula aspirasinya. maka perlu segera dilakukan upaya pemulihan dan pengembalian tanggung jawab masyarakat terhadap pengembangan pendidikan baik dalam skala mikro maupun skala makro. masyarakat harus dilibatkan sejak dari proses perencanaan. karena sebenarnya yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah justru masyarakat itu sendiri. Mengacu pada lingkup partisipasi masyarakat. Lebih dari itu. seharusnya mempunyai tanggung jawab mengembangkan pendidikan secara mikro yaitu dalam lingkup pendidikan di sekolah dan secara makro adalah untuk pengembangan sumber daya manusia bangsa. ruang partisipasi tersebut harus dibuka lebar agar tanggung jawab pengembangan pendidikan tidak tertumpu pada lembaga pendidikan itu sendiri. Masalahnya adalah apakah kedua contoh kelembagaan tersebut telah mampu menjadi saluran partisipasi yang benar-benar mewakili masyarakat yang seharusnya diwakilinya. kegiatan-kegiatan nonkurikuler sampai pada pengadaan kebutuhan sumber daya untuk suatu sekolah agar dapat berjalan lancar. Demikian pula di lembaga-lembaga pendidikan lainnya nonsekolah. Inilah yang saya sebut sebagai reaktualisasi partisipasi masyarakat. maka dalam pengembangan pendidikan. Komponenkomponen masyarakat baik orang tua siswa. partisipasi masyarakat telah terjadi di sekolah dalam praktik penyelenggaraan musyawarah maupun pembentukan institusi lokal.mau dan mampu berpartisipasi sehingga dalam kelompok terjadi dinamika sebagai institusi masyarakat. pemanfaatan hasil dan evaluasinya. apakah lembaga-lembaga tersebut telah menjalankan fungsi penyaluran partisipasi masyarakat dari yang seharusnya disalurkan. Pada dasarnya. pelaksanaan. Tanggung jawab tersebut tidak pernah lepas tetapi pernah mengendor. Dalam hal apa saja seharusnya mereka berpartisipasi? Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa tanggung jawab pengembangan pendidikan sebagai proses sosialisasi adalah berada pada orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat yang berkepentingan. lebih-lebih pada pemerintah sebagai penyelenggara negara. Cara untuk penyaluran partisipasi dapat diciptakan dengan berbagai variasi cara sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah atau komunitas tempat masyarakat dan lembaga pendidikan itu . sejalan dengan dominannya paradigm pembangunan sentralistik. Oleh karena paradigma tersebut telah bergeser menuju kepada peluang yang lebar bagi teraktualisasikannya kembali partisipasi masyarakat. tampaknya harus sudah mulai diberikan ruang partisipasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Selama ini keterwakilan dalam suatu organisasi atau forum biasanya diserahkan kepada warga negara yang digolongkan sebagai tokoh masyarakat atau elit.

lalu menggunakannya jika menghasilkan output yang baik dan mengkritiknya jika terdapat output yang tidak baik. Bagaimana dengan tanggungjawab negara terhadap pengembangan pendidikan? Uraian di atas bukan bermaksud untuk mengurangi tanggung jawab pemerintah sebagai penyelenggara negara dalam bidang pendidikan.berada. Kondisi ini menuntut kesigapan para pemegang kebijakan dan manajer pendidikan untuk mendistribusi peran dan kekuasaannya agar bisa menampung sumbangan partisipasi masyarakat. Lebih dari itu. Untuk itu. Dengan cara demikian. Perkembangan teknologi (terutama di bidang teknologiinformasi) menyebabkan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan mulai bergeser. 2003 bahwa pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan. E. maka mutu pendidikan suatu lembaga pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara lembaga pendidikan dan komponen-komponen lainnya di masyarakat tersebut. . sebenarnya peluang bagi orang tua/warga dan kelompok masyarakat masih sangatlah luas. Di kemudian hari sekolah tidak lagi akan menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu. dari pihak masyarakat (termasuk orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat) juga harus belajar untuk kemudian bisa memiliki kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan. Lebih dari itu. termasuk orang tua siswa. 2. Kondisi ini telah merugikan pengembangan pendidikan itu sendiri dan semakin memberatkan pemerintah sebagai penyelenggara negara. membimbing. Pemerintah dan pemerintah daerah juga wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara dari usia tujuh sampai usia lima belas tahun. dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan. Mereka tidak bisa tinggal diam menunggu dari suatu lembaga pendidikan/sekolah sampai dapat meluluskan alumninya. menyebabkan masyarakat merasa hanya ditempatkan sebagai “bukan pemain utama” dan berakibat melemahkan kemauan berpartisipasi warga dan kelompok-kelompok masyarakat dalam pengembangan pendidikan. Sebagai contoh adalah tanggungjawab dunia usaha/industri. Kesimpulan 1. Demikian juga kelompok-kelompok masyarakat lain. Sebagaimana diamanatkan oleh UU Sisdiknas. Partisipasi dunia usaha/industri terhadap lembaga pendidikan harus ikut bertanggung jawab untuk menghasilkan output yang baik sesuai dengan rumusan harapan bersama. serta berkewajiban memberikan layanan dan kemudahan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Adanya opini masyarakat bahwa tanggung jawab utamapembangunan (dalam bidang pendidikan) hanya terletak ditangan pemerintah. maka dalam kondisi kualitas layanan dan output pendidikan sedang banyak dipertanyakan mutu dan relevansinya. pemerintah perlu menyusun mekanisme sehingga orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat dapat berpartisipasi secara optimal dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. membantu. maka pemerintah seharusnya memberikan peluang yang luas bagi partisipasi masyarakat. Sebaliknya.

seperti: menyediakan diri menjadi tenaga pengajar. Orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat harus dilibatkan dalam pengembangan pendidikan sejak dari proses perencanaan. Masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah dengan memasukkan anak ke sekolah. pembuatan gedung. Diperlukan adanya peraturan perundangan yang mengatur mekanisme partisipasi masyarakat terhadap pengembangan pendidikan baik dalam skala nasional. 5. • Masyarakat dapat terlibat dalam memberikan bantuan dana. Jenis-jenis PSM Ada bermacam-macam tingkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Jadi masyarakat berkewajiban membantu penyelenggaraan pendidikan. Peran serta tersebut dapat diklasifikasikan dalam 7 tingkatan. serta membicarakan pelaksanaan kurikulum dan kemajuan belajar. Bergesernya paradigma pembangunan sentralistik ke desentralistik telah membuka peluang yang lebar bagi teraktualisasikannya kembali partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan. Tingkatan tersebut terinci sebagai berikut: 1. Media dan forum yang dapat dimanfaatkan untuk penyaluran partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan antara lain adalah media musyawarah dan pembentukan institusi masyarakat yang mampu menampung aspirasi masyarakat.Peran guru juga tidak akan menjadi satu-satunya sumber belajar karena banyak sumber belajar dan sumber informasi yang mampu memfasilitasi seseorang untuk belajar. pelaksanaan. membantu anak berkesulitan membaca. yang dimulai dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi. terutama di wilayah atau komunitas tempat sekolah/lembaga pendidikan berada. Peranan orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat menjadi sangat penting untuk mengisi kekosongan peran yang tidak lagi mampu diambil oleh sekolah/lembaga pendidikan. maupun tingkat penyelenggara pendidika maka peran serta masyarakat sanga diperlukan. lokal. • Bantuan teknis edukatif juga sangat mungkin diberikan. Jenis PSM ini merupakan jenis paling umum. menentukan dan memelihara guru baru yang mempunyai kualifikasi. pagar. • Idealnya sekolah bertanggungjawab kepada pemerintah dan juga kepada masyarakat sekitarnya. Masyarakat juga dapat terlibat dalam bidang teknis edukatif. pemanfaatan hasil dan evaluasinya. 6. Peran serta dengan menggunakan jasa yang tersedia. daerah. 4. . • Kemampuan pemerintah terbatas sehingga mungkin tidak mampu untuk mengetahui secara rinci nuansa perbedaan di masyarakat yang berpengaruh pada bidang pendidikan. dan lain sebagainya. 3.

misalnya orangtua ikut membantu sekolah ketika ada studi banding. masalah gender. baik melalui uang sekolah maupun pajak. arahan dan dukungan tenaga.2. Masyarakat adalah stakeholder pendidikan yang memiliki kepentingan akan berhasilan pendidikan di sekolah. barang dan atau tenaga. Namun demikian. dengan jalan membentuk Komite Sekolah (KS) pada setiap sekolah dan Dewan Pendidikan (DP) di setiap . Untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah. kegiatan keagamaan. Peran serta dengan memberikan kontribusi dana. sarana dan prasarana. Orangtua datang ke sekolah untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya. bahan. orangtua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan (baik akademis maupun non akademis) dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam rencana pengembangan sekolah. konsep masyarakat itu perlu disederhanakan (simplified) agar menjadi mudah bagi sekolah melakukan hubungan dengan masyarakat itu. Peran serta melalui adanya konsultasi. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan yang didelegasikan/dilimpahkan. 4. Peran serta dalam pelayanan. dan tenaga. 7. guru. Penyederhanaan konsep masyarakat itu dilakukan melalui “perwakilan” fungsi stakeholder. Misalnya. 3. (Pasal 56. Artinya menyetujui dan menerima apa yang diputuskan oleh sekolah (komite sekolah). sekolah meminta orangtua/masyarakat untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan. serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan”. 6. ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003) Paradigma MBS beranggapan bahwa. Orantua/masyarakat terlibat dalam kegiatan sekolah. 5. dan lain sebagainya. dan masyarakat adalah pelaku utama dan terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sehingga segala keputusan mengenai penanganan persoalan pendidikan pada tingkatan mikro harus dihasilkan dari interaksi dari ketiga pihak tersebut. sehingga sekolahsekolah seharusnya bertanggungjawab terhadap masyarakat. entitas yang disebut “masyarakat” itu sangat kompleks dan tak berbatas (borderless) sehingga sangat sulit bagi sekolah untuk berinteraksi dengan masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan dana. Menuju Otonomi pada Tingkat Sekolah. Peran serta dalam pengambilan keputusan. Kepala sekolah. Ikhtiar Memberdayakan Komite Sekolah sebagi Bentuk Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan “Komite Sekolah/Madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan. misalnya komite sekolah memutuskan agar orang tua membayar iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orangtua menerima keputusan tersebut dengan mematuhinya. gizi dan lain sebagainya. dan akuntabilitas pendidikan. satu-satunya jalan masuk yang terdekat menuju peningkatan mutu dan relevansi adalah demokratisasi. Peran serta secara pasif. partisipasi. kegiatan pramuka. karena mereka adalah pembayar pendidikan.

tetapi dari kepuasan masyarakat atau stakeholder. fungsi kontrol dan akuntabilitas publik. tidak dapat dilaksanakan di dalam suatu lingkungan birokrasi yang tidak demokratis. tetapi akan menempuh jalan terjal yang penuh dengan onak dan duri. Fungsi pemerintah adalah fasilitator untuk mendorong sekolah-sekolah agar berkembang menjadi lembaga profesional dan otonom sehingga mutu pelayanan mereka memberi kepuasan terhadap komunitas basisnya. yaitu fungsi pemberi pertimbangan dalam pengambilan keputusan. tetapi harus dilakukan secara simultan dengan konsep yang jelas dan transparans. pengembangan demokratisasi pendidikan tidak harus menunggu birokrasinya menjadi demokratis dulu. Depdiknas memiliki keleluasaan untuk membangun kapasitas setiap penyelenggara pendidikan. yaitu sekolah-sekolah. Tetapi yang harus lebih difahami adalah fungsi Dewan dan Komite sebagai jembatan antara sekolah dan masyarakat. Bukti tanggungjawab masyarakat terhadap pendidikan diwujudkan dalam fungsi yang melekat pada DP dan KS. Adalah keliru jika DP dan KS adalah alat untuk “penarikan iuran”. Namun. Pelaksanaan desentralisasi pendidikan sebaiknya tidak dilakukan melalui suatu mekanisme penyerahan “kekuasaan birokrasi” dari pusat ke daerah. tetapi juga berkepentingan dsalam mewujudkan otonomi satuan pendidikan. Jalan panjang ini tidak selalu mulus. dan dengan MBS. jangankan “iuran” bahkan . Sekolah yang hanya terbatas personalianya. dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut serta memikirkan pendidikan di sekolah. Dengan konsep MBS. Kemandirian setiap satuan pendidikan adalah salah satu sasaran dari kebijakan desentralisasi pendidikan sehingga sekolah-sekolah menjadi lembaga yang otonom dengan sendirinya. Melalui strategi “desentralisasi pemerintahan di bidang pendidikan”. Sesuai dengan strategi ini sekolah bukan bawahan dari birokrasi pemerintah daerah. dan interaksi antara para pejabat pendidikan di pemerintah kabupaten/kota dengan Dewan Pendidikan. tetapi sebagai lembaga profesional yang bertanggung jawab terhadap klien atau stakeholder yang diwakili oleh Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. pergeseran menuju sekolah-sekolah yang otonom adalah jalan panjang sehingga memerlukan berbagai kajian serta perencanaan yang hati-hati dan mendalam. interaksi antara sekolah dan masyarakat dapat diwujudkan melalui mekanisme pengambilan keputusan antara sekolah-sekolah dengan Komite Sekolah. serta fungsi mediator antara sekolah dengan masyarakat yang diwakilinya. masyarakat akan merasa memiliki dan mereka akan merasa tanggungjawab untuk keberhasilan pendidikan di dalamnya. karena kekuasaan telah terbukti gagal dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu. bukanlah kelanjutan apalagi “kemasan baru” dari Badan Pembantu Pelaksanaan Pendidikan (BP3). fungsi pendukungan (supports). yaitu masyarakat. Jika ini dapat diwujudkan.kabupaten/kota. Keberhasilan pendidikan di sekolah tidak diukur dari pendapat para birokrat. Depdiknas tidak hanya berkepentingan dalam mengembangkan kabupaten/kota dalam mengelola pendidikan. akan sangat dibantu jika dibuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut memikirkan pendidikan di sekolah-sekolah. Dengan demikian. karena “penarikan iuran” yang dilakukan oleh BP3 terbukti tidak berhasil memobilisasi partisipasi dan tanggungjawab masyarakat. Orang bisa saja mengatakan bahwa paradigma baru untuk mewujudkan pengelolaan pendidikan yang demokratis dan partisipatif. Sekolah yang sangat tertutup bagi kontribusi pemikiran dari masyarakat harus kita akhiri. DP-KS sedapat mungkin bisa merepresentasikan keragaman yang ada agar benarbenar dapat mewakili masyarakat. Namun tentu saja. MBS mengembangkan satuan-satuan pendidikan secara otonom karena mereka adalah pihak yang paling mengetahui operasional pendidikan. Perlu juga difahami bahwa pengembangan paradigma MBS.

sekolah perlu diberikan kewenangan untuk melaksanakan kurikulum nasional dengan kemungkinan menambah atau mengurangi muatan kurikulum dengan meminta pertimbangan kepada Komite Sekolah. sebagai penjabaran lebih lanjut dari visi. syarat siswa yang akan diterima. misi. baik yang bersumber dari pemerintah Kabupaten/Kota maupun dari masyarakat secara mandiri. dalam era otonomi daerah ini sekolah harus telah memiliki kesadaran untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. sekolah secara bertanggung jawab harus dapat menentukan sendiri jumlah siswa yang akan diterima. tujuan. tujuan. Sudah barang tentu. fikiran bahkan kesempatan) akan mereka abdikan untuk kepentingan pendidikan anak-anak bangsa yang berlangsung di sekolah-sekolah. tenaga. menetapkan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang akan diadakan dan dilaksanakan oleh sekolah. dengan mempertimbangkan kepentingan daerah dan masa depan lulusannya. Sudah barang tentu. sekolah harus menjalin kerjasama sebaik mungkin dengan orangtua dan masyarakat sebagai mitra kerjanya. logo. . Setiap sekolah seyogyanya telah dapat menyusun dan menetapkan sendiri visi. Untuk mendukung program sekolah yang telah disepakati oleh Komite Sekolah diperlukan ketepatan waktu dalam pencairan dana dari pemerintah kabupaten/kota. Pengelolaan Pendidikan pada tingkat Sekolah Peran dan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan manajemen pendidikan di tingkat sekolah. misi. dan tata tertib sekolah. lagu. jumlah guru. strategi. Beberapa aspek manajemen yang secara langsung dapat diserahkan sebagai urusan yang menjadi kewenangan tingkat sekolah adalah sebagai berikut. menetapkan visi. Kedua. Urusan ini amat penting sebagai modal dasar yang harus dimiliki sekolah. orangtua dan masyarakat yang tergabung dalam Komite Sekolah. dan persyaratan lain yang terkait. Sudah barang tentu. Dalam kaitannya dengan penetapan kegiatan ekstrakurikuler. dsb. fasilitas yang ada. dan tenaga administratif yang dimiliki. Pertama. strategi. barang. misi. Ini merupakan bukti kemandirian awal yang harus ditunjukkan oleh sekolah. Ketiga. misalnya dalam mengambil kebijakan untuk menambah mata pelajaran seperti Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. sekolah juga harus meminta pendapat siswa dalam menentukan kegiatan ekstrakurikuler yang akan diadakan oleh sekolah.apapun yang mereka miliki (uang. Jika masa lalu sekolah lebih dipandang sebagai lembaga birokrasi yang selalu menunggu perintah dan petunjuk dari atas. lagu. dan tujuan sekolah tersebut. memiliki kewenangan dalam penerimaan siswa baru sesuai dengan ruang kelas yang tesedia. beberapa ketentuan yang ditetapkan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota perlu mendapatkan pertimbangan secara bijak. termasuk resiko anggaran yang diperlukkan untuk itu. kebijakan itu diambil setelah meminta pertimbangan dari Komite Sekolah. komputer. logo. dan tata tertib sekolah. Bahkan dalam menyusun program kerjanya. Oleh karena itu sekolah dapat melakukan pengelolaan biaya operasio-nal sekolah. strategi. Kurikulum muatan lokal. dan sekaligus lengkap dengan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Berdasarkan sumber daya pendukung yang dimilikinya. Oleh kaarena itu praktik birokrasi yang menghambat kegiatan sekolah harus dikurangi. serta seluruh warga sekolah harus dilibatkan secara aktif dalam menyusun program kerja sekolah. Dalam hal ini.

kreatif. proses pembelajaran pun diatur secara rinci dalam kurikulum nasional. dan kabupaten. pelaksanaan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. Misalnya. dengan mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. pengadaan sarana dan prasana pendidikan. Ketujuh. penghapusan barang dan jasa dapat dilaksanakan sendiri oleh sekolah. dengan menggunakan Komite Sekolah sebagai wadah pemberdayaan peran serta masyarakat. buku murid tidak seenaknya diganti setiap tahun oleh sekolah. urusan teknis edukatif yang lain sejalan dengan konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) merupakan urusan yang sejak awal harus menjadi tanggung jawab dan kewenagan setiap satuan pendidikan. Pada masa sentralisasi pendidikan. Kepala sekolah dan guru secara bersama-sama merancang proses pengajaran dan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan lancar dan berhasil. dengan memperhatikan standar dan ketentuan yang ada. dan dinas pendidikan kabupaten/kota lebih memiliki peran sebagai failitator dalam proses pembinaan. Amanat rakyat dalam undang-undang tersebut telah ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 . dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat perlu dibentuk Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota. dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. dan pelaporan. maka sekolah seharusnya diberikan peran nyata dalam perencanaan. efektif dan menyenangkan direkomendasikan sebagai model pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh sekolah. Pemilihan dan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah dapat dilaksanakan oleh sekolah. kurikulum nasional sedang dalam proses penyempurnaan menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK). pemantauan dan penilaian. Pemberdayaan Komite Sekola Desentralisasi pendidikan di tingkat sekolah merupakan satu bentuk desentraliasasi yang langsung sampai ke ujung tombak pendidikan di lapangan. barang dan jasa yang ada di sekolah justru tidak pernah dihapuskan. Ini merupakan kewenangan profesional sejati yang dimiliki oleh lembaga pendidikan sekolah. Kelima. proses pengajaran dan pembelajaran. meskipun ternyata barang dan jasa itu sama sekali telah tidak berfungsi atau malah telah tidak ada barangnya. karena kewenangan penghapusan itu tidak jelas. diharapkan para guru tidak akan terpasung lagi kreativitasnya dalam melaksanakan dan mengembangkan kurikulum. dengan tetap mengacu kepada standar dan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat atau provinsi dan kabupaten/kota. pengarahan. atau buku murid yang akan dibeli oleh sekolah adalah yang telah lulus penilaian. Jika kantor cabang dinas pendidikan kecamatan. Amanat rakyat ini sejalan dengan konsepsi desentralisasi pendidikan. Yang biasa terjadi justru. dan dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) sebagai proses pelaksanaan layanan pendidikan secara nyata di dalam masyarakat. bentuk desentralisasi pendidikan yang paling mendasar adalah yang dilaksanakan oleh sekolah. termasuk buku pelajaran dapat diberikan kepada sekolah. Dengan KBK ini.Keempat. Dalam era otonomi daerah. Oleh karena itu. Hal ini disebabkan karena proses interaksi edukatif di sekolah merupakan inti dari proses pendidikan yang sebenarnya. provinsi. baik di tingkat kabupaten/kota maupun di tingkat sekolah. Proses pembelajaran yang aktif. Keenam. dsb.

Komite Sekolah dapat menyatakan “setuju” atau “tidak setuju” terhadap rencana dan program pendidikan yang disusun oleh sekolah. Selain melaksanakan kurikulum yang telah ditetapkan dari pusat. propinsi maupun kabupaten/kota. Dalam Kepmendiknas tersebut disebutkan bahwa peran yang harus diemban Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah adalah (1) sebagai advisory agency (pemberi pertimbangan). melalui suatu mekanisme yang dikenal dengan konsepsi total football dengan menekankan pada mobilisasi kekuatan secara sinergis yang mengarah pada satu tujuan. Kedua.April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.kota. dalam fungsinya sebagai pelaksana pendidikan yang otonom. Komite Sekolah dapat membantu sekolah-sekolah untuk mengumpulkan fakta-fakta mengenai kebutuhan serta potensi sumberdaya yang tersedia di dalam masyarakat untuk diterjemahkan ke dalam program pendidikan “life skills” yang dapat dilaksanakan oleh sekolah. Program-program tersebut terdiri dari penyusunan dan pelaksanaan rencana kegiatan mingguan. dan hal ini merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip yang disebut sebagai total quality management. sekolah berperan dalam menyusun RAPBS . sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan. Untuk dapat memerankan fungsi ini. (2) supporting agency (pendukung kegiatan layanan pendidikan). Setiap rencana dan program yang disusun serta dilaksanakan di sekolah harus mengacu pada standar pelayanan minimum (SPM) yang diterapkan untuk pemerintahan kabupaten/kota serta standar teknis yang diterapkan untuk masing-masing satuan pendidikan. Pertama. memperbaiki serta menyesuaikan rencana dan program untuk semester berikutnya. Penyusunan Rencana dan Program. yaitu peningkatan mutu dan kesesuaian pendidikan dengan pengembangan masyarakat. untuk mencapai keberhasilan bersama. Itulah sebabnya maka paradigma MBS mengandung makna sebagai manajemen partisipatif yang melibatkan peran serta masyarakat. Dengan demikian. untuk menyusun. sekolah bertanggungjawab dalam menentukan kebijakan sekolah dalam melaksanakan kebijakan pendidikan sesuai dengan arah kebijakan pendidikan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Sebagai penyelenggara dan pelaksana kebijakan pendidikan nasional. Atas nama masyarakat yang diwakilinya. sehingga semua kebijakan dan keputusan yang diambil adalah kebijakan dan keputusan bersama. (3) controlling agency (pengontrol kegiatan layanan pendidikan). semesteran serta tahunan yang sesuai dengan arah kebijakan serta kurikulum yang telah ditetapkan baik pada tingkat pusat. sekolah harus dapat membina kerjasama dengan orangtua dan masyarakat. Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). sekolah-sekolah bertugas untuk menjabarkan kebijakan pendidikan nasional menjadi program-program operasional penyelenggaraan pendidikan di masing-masing sekolah. Komite Sekolah menjadi “pendamping” bahkan “penyeimbang” bagi sekolah-sekolah. bulanan. dan (4) mediator atau penghubung atau pengait tali komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah Untuk dapat memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat. Mekanisme yang mungkin dapat dilakukan adalah melalui rapat Komite Sekolah dengan sekolah yang dilaksanakan setiap semester atau tahunan. propinsi dan kabupaten. prinsip kemandirian dalam MBS adalah kemandirian dalam nuansa kebersamaan. sehingga setiap rencana dan program yang disusun oleh sekolah dapat diberikan masukan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh Komite sekolah dimaksud. sekolah-sekolah dapat juga menyusun program pendidikan life skills yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan pada masyarakat sekitar. Dalam penyusunan program pendidikan “life skills”. menciptakan suasa kondusif dan menyenangkan bagi peserta didik dan warga sekolah.

sampai kepada penilaian pendidikan. Kedua sisi anggaran tersebut dituangkan ke dalam suatu neraca tahunan sekolah yang disebut dengan RAPBS yang harus disyahkan atas dasar persetujuan bersama antara pihak sekolah dan Komite Sekolah yang ditandatangani oleh kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah. Dari sisi belanja sekolah. . Oleh karena karakteristik setiap murid juga berbeda-beda secara individual. Dari sisi pendapatan. maupun sumber-sumber lain yang diperoleh secara langsung oleh sekolah-sekolah. sejak perencanaan pendidikan. baik yang bersumber dari pemerintah pusat. Dengan kata lain. sistem pendidikan pada masa orde baru. melalui paradigma MBS sekolah-sekolah diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengurus dan mengatur pelaksanaan pendikdikan pada masing-masing sekolah. seluruh jenis dan sumber pendapatan yang diperoleh sekolah setiap tahun harus dituangkan dalam RAPBS. Pada waktu itu sekolahsekolah adalah bagian dari sistem birokrasi yang haru tunduk terhadap ketentuan birokrasi. buku dan sarana pendidikan. guru-guru. pemerintah kabupaten/kecamatan. Pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah dalam tempat yang berlainan dimungkinkan untuk menggunakan sistem dan pendekatan pembelajaran yang berlainan. Kepala sekolah tidak diberikan kesempatan untuk mengambil keputusan mereka sendiri dalam mengelola sistem pendidikan untuk memecahkan berbagai permasalahan pendidikan yang sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing. Dalam masa desentralisasi pendidikan ke depan.setiap akhir tahun ajaran untuk digunakan dalam tahun ajaran berikutnya. serta para siswa) maupun oleh Komite Sekolah sebagai wakil stakeholder pendidikan. pelaksanaan program pendidikan. Ketiga. Dengan demikian. metodologi dan pendekatan mengajar. Kepala sekolah diberikan keleluasaan untuk mengelola pendidikan dengan jalan mengadakan serta memanfaatkan sumber-sumberdaya pendidikan sendiri-sendiri asalkan sesuai dengan kebijakan dan standar yang ditetapkan oleh pusat. setiap rupiah yang diperoleh sekolah dari sumber-sumber tersebut harus sepenuhnya diperhitungkan sebagai pendapatan resmi sekolah dan diketahui bersama baik oleh pihak sekolah (kepala sekolah. Kepada guruguru juga tidak diberikan kesempatan untuk berinisiatif atau berinovasi dalam melaksanakan pengajaran atau mengelola kegiatan belajar murid secara maksimal karena metoda mengajar dan teknik evaluasi juga diatur secara langsung melalui juklak dan juknis yang dibuat dari pusat. Mekanisme ini diperlukan untuk memperkecil penyalahgunaan baik dalam pendapatan maupun dalam pengeluaran sekolah. Pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masa birokrasi dilakukan secara uniform (one fits for all) atau dilakukan secara baku dengan pangaturan dari pusat. seluruh jenis pengeluaran untuk kegiatan pendidikan di sekolah harus diketahui bersama baik oleh pihak sekolah maupun oleh pihak Komite Sekolah. kepada sekolah-sekolah tidak diberikan kesempatan untuk mengurus dan mengatur dirinya sendiri dalam pelaksanaan pendidikan. pegawai. Program-program yang sudah dirumuskan untuk satu semester atau satu tahun ajaran kedepan perlu dituangkan ke dalam kegiatan-kegiatan serta anggarannya masing-masing sesuai dengn pos-pos pengeluaran pendidikan di tingkat sekolah. sesuai dengan rencana dan program yang telah disusun bersama oleh kedua pihak tersebut. daerah bahkan sampai tingkat satuan pendidikan. sehingga anggaran resmi pendidikan di sekolah menjadi bertambah serta pendayagunaannya semakin efisien. maka pendekatan pembelajaran juga dimungkinkan berbeda untuk masingmasing murid yang berlainan. sehingga menjadi APBS pendidikan di tingkat sekolah yang resmi. pemerintah propinsi. pelaksanaan pendidikan di sekolah termasuk persiapan mengajar. pelaksanaan pendidikan secara langsung dikendalikan oleh sistem birokrasi dengan mata rantai yang panjang sejak tingkat pusat.

maka kepada mereka diberikan sanksi administratif. Dewan Pendidikan pada tingkat Kabupaten/Kota perlu menempatkan fungsinya sebagai wakil dari masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil-hasil pendidikan dalam mencapai prestasi belajar murid-murid pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Keempat. Pada waktu itu. pengawas atau para penilik sekolah untuk mengawasi dan meminta pertanggungjawaban sekolah-sekolah menganai proses pendidikan yang berkangsung di sekolahsekolah. Dewan Pendidikan juga dapat memberikan penilaian kepada berbagai kebijakan pendidikan yang diterapkan terutama menyangkut berbagai dampak yang sudah atau mungkin terjadi dalam penerapaan suatu kebijakan baru. Dewan Pendidikan atau Komite Sekolah tidak perlu melaksanakan kegiatan studi atau penilaian pendidikan. seperti teguran resmi. penundaan kenaikan gaji berkala. Dalam era demokrasi dan partisipasi. dalam masa orde baru. Jika terdapat “penyimpangan adminisgtratif” yang dilakukan oleh kepala sekolah atau guru-guru. Namun. Komite sekolah dapat melaksanakan fungsinya sebagai partner dari kepala sekolah dalam mengadakan sumbersumberdaya pendidikan dalam rangka melaksanakan pengelolaan pendidikan yang dapat memberikan fasilitasi bagi guru-guru dan murid untuk belajar sebanyak munghkin. diperlukan suatu mekanisme akuntabilitas pendidikan yang dibentuk melalui suatu Peraturan Daerah di bidang pendidikan. Dewan Pendidikan perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan bahkan “protes” kepada Dinas Pendidikan jika hasil-hasil pendidikannya tidak memuaskan masyarakat sebagai klien pendidikan. Sama halnya. maka Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah akan dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai penunjang dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang sejalan dengan kondisi dan permasalahan lingkungan masing-masing sekolah. satu-satunya pihak yang berwenang untuk meminta pertanggungjawaban pendidikan ke sekolah-sekolah adalah pemerintah pusat. penilaian melalui DPK. penundaan kenaikan pangkat dsan sejenisnya. Komite Sekolah bisa ikut serta untuk meneliti dan berbagai permasalahan belajar yang dihadapi oleh murid secara kelompok maupun secara individual sehingga dapat membantu guru-guru untuk menerapkan pendekatan belajar yang tepat bagi muridmuridnya. penilalaian tersebut lebih banyak diberikan terhadap proses administrasi pendidikan dan hampir tidak pernah ada sanksi (punishment) atau “ganjaran” (rewards) kepada guru-guru atau kepala sekolah atas dasar hasil-hasil yang dicapai dalam pembelajaran murid atau lulusan. tetapi cukup dengan menggunakan datadata yang tersedia atau hasil-hasil penilaian yang sudah ada sebagai bahan untuk menyampaikan kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap Dinas Pendidikan atau kepada masing-masing sekolah. Dengan demikian.Dalam keadaan seperti itu. Komite Sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan para orangtua murid akan rendahnya prestasi yang dicapai oleh suatu sekolah. sehingga pembelajaran menjadi semakin efektif. akuntabilitas pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah. akuntabilitas pendidikan. Dewan Pendidikan pada setiap Kabupaten/Kota dapat melaksanakan program pendukungan dalam bentuk studi atau penelitian terhadap berbagai permasalahan pendidikan di sekolah-sekolah agar dapat memberikan masukan kepada Dinas Kabupaten/Kota untuk menerapkan suatu kebijakan yang tepat dan kena sasaran. pemerintah pusat telah menempatkan “kaki tangan”nya di seluruh pelosok tanah air melalui pemeriksa. tetapi bahkan harus lebih banyak pada masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. [ .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->