P. 1
Pembelajaran Membaca Cepat Pada Siswa Kelas 3 Sd

Pembelajaran Membaca Cepat Pada Siswa Kelas 3 Sd

|Views: 1,375|Likes:
Published by Aryatmono Siswadi

More info:

Published by: Aryatmono Siswadi on Apr 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

Pengajaran membaca yang paling baik adalah pengajaran membaca yang

didasarkan pada kebutuhan siswa dan mempertimbangkan apa yang telah

28

dikuasai oleh siswa. Rofi’udin, (2002 : 37) mengemukakan beberapa

kegiatan yang dilakukan pada pengajaran membaca yaitu :

a) Peningkatan ucapan

Guru perlu mengidentifikasi bunyi-bunyi mna yang sulit diucapkan

anak dan bunyi tersebut perlu dilatih secara terpisah.

b) Kesadaran foremik (bunyi)

Kegiatan difokuskan untuk mengenal anak terhadap bunyi-bunyi

yang membangun susatu kata.

c) Hubungan antara bunyi-huruf

Pengetahuan tentang hubungan bunyi huruf merupakan pra syarat

dalam membaca. Guru dipandang perlu mengidentifikasi apakah anak

telah dapat dengan tepat mencocokan antara bunyi dengan huruf.

d) Membedakan huruf

Maksudnya kemampuan membedakan lambang bunyi. Jika anak

masih mengalami kesulitan membedakan huruf maka dia belum siap

untuk membaca.

e) Membedakan bunyi-bunyi

Kemampuan membedakan bunyi-bunyi bahasa merupakan hal

penting dalam pemerolehan bahasa. Latihan membedakan bunyi

diarahkan pada bunyi-bunyi sejenis, baik yang membedakan arti

maupun yang tidak membedakan arti.

Beberapa metode yang dikembangkan untuk mengembangkan

kecepatan membaca (Nurhadi,2008: 17)

29

a) Membaca kosakata

Metode kosakata adalah metode mengembangkan kecepatan

membaca melalui pengembangan kosakata. Artinya, metode ini

mengarahkan perhatian pada aspek perbendaharaan kata seorang pembaca.

Bagaimana caranya? Kosakata seseorang itu terbatas jumlahnya, dan akan

selalu berkembang terus sesuai dengan kemampuannya menambah

kosakata itu setiap hari. Latihan meningkatkan dan menambah kosakata itu

setiap hari. Latihan meningkatkan dan menambah kosakata baru dengan

cepat dan dalam jumlah yang banyak inilah prinsip metode kosakata di

atas.

Dasar pikiran metode ini sudah jelas, yaitu semakin besar dan

semakin banyak perbendaharaan kata seseorang, semakin tinggi kecepatan

membacanya. Inilah prinsipnya.

Akan tetapi, tampaknya metode ini tak banyak dipakai orang.

Sebab nyatanya perbendaharaan kata yang benar menjamin kecepatan

membaca seseorang. Aku dengan kata lain, peningkatan jumlah kosakata

baru belum tentu diikuti oleh kecepatan membacanya. Yang mungkin

terjadi ialah bahwa kekayaan akan kosakata, akan menjamin kelancaran

mencerna setiap kata yang dibaca seseorang. Akan tetapi, sebagai sarana

penunjang, tak ada jeleknya sarana metode ini diikuti, yaitu belajar

menambah perbendaharaan kosakata terus-menerus melalui media bacaan

baru.

b) Metode motivasi (minat)

30

Metode motivasi disebut minat. Cara kerjanya ialah memotivasi

para pemula (pembaca yang mengalami hambatan dalam kecepatan

membacanya) dengan berbagai macam rangsangan bacaan yang menarik

sehingga tumbuh minat membacanya. Dari sini kemudian diharapkan

muncul kebiasaan membaca tinggi, yang pada akhirnya meningkat pula

kecepatan dan pemahamannya terhadap bacaan.

Pikiran yang mendasari lahirnya metode ialah semakin tertarik ata

berminatnya seseorang pada jenis buku tertentu, semakin tinggi kecepatan

dan pemahaman seseorang. Demikian sebaliknya, bila seseorang membaca

buku yang kurang disukai maka ia akan membaca dengan kecepatan yang

rendah. Atau dengan kata lain, minat terhadap bacaan itu daya kata

seseorang. Oleh karena itu, saran pencipta metode ini, untuk meningkatkan

kecepatan membaca anak didik, berikan motivasi rangsangan membaca

dengan buku-buku atau bahan bacaan yang diminatinya.

Akan tetapi, tampaknya, seperti metode yang pertama, metode ini

tak bnyak diikuti orang, karena bukti bahwa tidak kecepatan membaca

yang tinggi ini disebabkan oleh daya terhadap buku yang dibaca. Bisa saja

terjadi bahwa seseorang membaca buku tertentu dengan kecepatan dan

kecermatan yang meskipun ia kurang senang dengan buku tersebut. Yang

benar mungkin ialah bahwa minat atau motifasi yang tinggi untuk

membaca, akan menimbulkan kebiasaan membaca. Dan kebahasaan

membaca inilah yang akan meingkatkan kecepatan dan kecermatan

membaca, sedikit demi sedikit. Tidak ada jeleknya metode ini diterapkan.

31

Bukan mengikuti prinsipnya, melainkan peningkatan minat baca itulah

barang kali yang paling penting.

c) Metode bantuan alat

Metode ketiga yang pernah dikembangkan untuk meningkatkan

keceptan dan kecermatan membaca anak didik adalah melatih keceptan

membaca itu dengan bantuan alat. Ketika seorang membaca (melihat baris-

baris bacaan), gerak matanya dipercepat dengan bantuan alat yang berupa

ujung ujung jari, atau alat penunjuk khusus dari kayu. Gerak mata oleh

gerak ujung alat yang digunakannya. Pertama dengan kecepatan rendah,

kemudian dipercepat, dan terus dipercepat. Jadi, kecepatan mata mengikuti

kecepatan gerak alat.

Metode ini memperoleh hasil cukup memuaskan. Terjadi

peningkatan membaca memindai. Akan tetapi ada efek negatifnya, yaitu

adanya ketergantungan pada alat yang digunakan. Begitu alat dihilangkan,

kecepatan membaca akan kembali seperti semula. Dan kecenderungan

yang kurang diterapkan pada pengajaran membaca lanjut.

d) Metode gerak mata

Metode gerak mata adalah metode yang paling banyak dipakai dan

dikembangkan orang saat ini, baik utnuk pengajaran membaca permulaan,

maupun bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kecepatan membacanya.

Metode ini diterapkan dengan mengebangkan kecepatan membaca dengan

meningkatkan kecepatan gerak mata. Kecepatan membaca itu sendiri

32

berarti kecepatan gerak mata dalam menelusuri unit-unit bahasa dalam

bacaan.

Metode ini mendapat sukses besar dalam meningkatkan kecepatan

membaca. Selain caranya yang mudah dan dalam waktu yang relatif

singkat, seseorang akan mampu meningkatkan kecepatan membacanya dua

sampai tiga kali lipat.

Jika di atas dijelaskan bahwa pengetahuan, pengalaman dan

kemampuan berkomunikasi lisan merupakan modal utama membaca,

tampaknya pengetahuan tentang teknik lebih cenderung dianggap sebagai

alat. Alat yang dapat digunakan dalam mencerna bahan tulis. Realisasinya

berupa seperangkat ketrampilan untuk mengolah setiap aspek bacaan

menjadi sesuatu yang bermakna bagi pembaca. Keterampilan ini berkaitan

dengan keseluruhan aktivitas membaca sehingga dapat mencakup makna

proses membaca sebagai kegiatan mempersepsi simbol-simbol tulis,

membaca sebagai aktivitas mengolah makna yang terkandung dalam

bahan bacaan, kreativitas membaca, sampai pada aktivitas membaca cepat.

Secara garis besar, pengetahuan tentang teknik membaca itu

meliputi (1)

Pengetahuan tentang aspek-aspek ketrampilan membaca, (2) pengetahuan

tentang teknik membaca cepat, dan (3) pengetahuan tentang membaca

telaah ilmiah. Berikut ini uraian dari masing-masing ketrampilan tersebut.

Menurut Nurhadi (2008 : 129) ada beberapa pengetahuan tentang

teknik membaca cepat, yaitu kemampuan membaca pemahaman dengan

33

kecepatan di atas 400 kata per menit, kemampuan membaca dengan teknik

skiming, dan kemampuan membaca cepat dengan teknik skaning.

Sejauh yang pernah dikembangkan para ahli membaca, metode

membaca cepat meliputi metode-metode di bawah ini (Nurhadi, 2008 : 129).

Berikut masing-masing keterangannya secara singkat.

a) Metode SQ3R

Sesuai dengan namanya, metode ini merupakan singkatan dari setiap tahap

dari masing-masing langkah yang harus dilalui oleh seorang pembaca

buku-buku ilmiah secara intensif. Tahapan itu meliputi Survey, Question,

Read, Recite, dan Review.

1. S = Survey, sebelum terjun membaca, sediakan waktu beberapa menit

untuk mengenal keseluruhan anatomi buku. Caranya dengan

membuka-buka buku secara cepat dan keseluruhan yang langsung

tampak mata. Yang dimaksud anatomi buku tersebut meliputi (1)

bagian preliminaries, yaitu meliputi halaman judul (Apakah judul

buku tersebut? Siapa pengarangnya? Siapa penerbitnya? Di mana

terbit?), halaman tentang keterangan hak cipta (Siapa pemegang hak

cipta buku tersebut? Tahun berapa dihakciptakan?), halaman daftar isi,

approvial sheet (halaman yang berisi ucapan terima kasih), daftar tabel

dan daftar gambar (Adakah daftar tabel, daftar grafik atau daftar

gambar?), atau barangkali juga halaman yang berisi persetujuan dari

yang berwenang menerbitkan buku tersebut. Mungkin juga ada

halaman yang berisi abstraksi. (2) bagian isi buku ( Bagaimana buku

34

tersebut ditata? Apakah terbagi dalam bab-bab yang disertai rincian

bab yang lebih kecil? Apakah setiap bab disertai denga kesimpulan-

kesimpulan? Apakah pada setiap bab disertakan juga pertanyaan

bacaan?). (3) bagian akhir buku ( Apakah pada bagian akhir buku ada

bab khusus yang berisi kesimpulan penulis? Adakah disertakan daftar

kepustakaan? Adakah juga daftar indeks? Dalam bentuk apa daftar itu

dibuat?) Kesemuanya harus diteliti secara sekilas, minimal untuk

mengenal seberapa tinggi tinglat keterpercayaan buku tersebut. Buku

yang baik (bersifat ilmiah) akan mengandung bagian-bagian buku

tersebut.

2. Q= Question, susunlah sejumlah pertanyaan (dan barangkali juga

jawaban) tentang hal-hal yang berkaitan dengan judul dan subjudul

(perhatikan daftar isi) buku. Tujuannya untuk mengarahkan pikiran

pada bidang yang akan dimasuki agar pembaca bersikap aktif dalam

membaca dan tidak hanya mengikut saja pada apa yang dikatakan

pengarang. Kalau perlu bersikap raga atau mengkingkari apa yang

dikatakan pengarang sambil nanti melihat buktinya.

3. R= Read, membaca. Pada tahap ketiga , bacalah keseluruhan isi buku

dengan teliti sambil meneliti kebenaran pertanyaan dan jawaban yang

telah dibuat tadi. Ketika membaca , perhatikan kata-kata kunci,

gagasan-gagasan utama, dan kesimpulan-kesimpulan yang dibuat

pengarang. Jika perlu, garisbawahlah hal-hal yang penting.

35

4. R=Recite, mengulang kembali pengertian apa yang telah dibaca.

Lakukan pada setiap akhir bab atau sebbab. Masih ingatkah terhadap

apa yang baru kita baca? Jika lupa , ulangi membaca apa yang

terlupakan.

5. R = Review, melihat kembali keseluruhan isi buku. Maksudnya bukan

membaca secara teliti untuk yang kedua kali, melainkan bacalah

kembali hal-hal yang penting. Terutama hal-hal yang kita beri tanda

atau garis bawahi. Ini juga bertujuan melihat barangkali ada hal-hal

yang terlewati-kan. Dapatkah kira-kira kita membuat skema isi buku

dan tema keseluruhannya? Juga , bagaiman penilaian kita terhadap

buku yang baru saja kita baca ?

b) Metode PQRST

Seperti halnya Metode SQ3R, metode ini juga menggambarkan

tahapan yang harus dilalui pembaca. Tahapan itu meliputi Preview,

Question, Read, Summerize, dan Test. Preview maksudnya melihat secara

selintas anatomi buku (=survey); Question, menyusun pertanyaan; Read,

membaca secara teliti; Summarize, membuat ringkasan bagian-bagian yag

telah kita baca (atau keseluruhan buku); dan Tes, yaitu pembaca menguji

diri sendiri, sejauh mana ia telah dapat memahami keseluruhan yang

tertuang dalam buku.

c) Metode PQ3R

Metode terakhir ini tampaknya tidak berbeda degan jenis metode

yang pertama. Hanya P yang pertama singkatan dari Prepare, artinya

36

langkah mula, yaitu melihat sekilas terhadap keseluruhan buku. Kemudian

dilanjutkan dengan Question, Read, Recite, dan Review.

Untuk dapat membaca cepat dengan efisien kunci utamanya adalah

sering berlatih. Ada beberapa teknik membaca cepat, yaitu gerakan mata

dalam membaca, melebarkan jangkauan mata, gerakan oto mata, dan

meningkatkan konsentrasi. Berikut penjelasannya.

Gerakan mata tinggal tergantung pada jarak benda yang bergerak

di lapangan yang luas, mata akan bergerak halus dan rata. Akan tetapi,

apabila mata melihat benda-benda yang berjarak dekat seperti melihat

gambar atau membaca gerakan mata akan cepat, tersentak-sentak dalam

irama tarikan-tarikan kecil melompat. Dalam membaca mata tidak boleh

mengambang liar, tetapi mengarah ke suatu sasaran (kata) sebentar lalu

melompat ke sasaran berikutnya (satu atau dua kata berikutnya) melompat,

berhenti, melompat, dan seterusnya. Pemberhentian ini disebut fiksasi.

Pada saat berhenti itulah mata membaca. Dan saat melompat mata tidak

mengamati apa-apa.

Pembaca yang tidak efisien dalam fiksasi hanya dapat satu atau dua

kata yang terserap. Pembaca yang efisien dapat menyerap tiga atau empat

kata. Kesulitan fiksasi bukan karena kesulitan fisik, melainkan karena

kesulitan mental. Bukan karena otot mata, melainkan karena

ketidakmampuan dari pikiran menyeraap dengan cepat dan tanpa salah

informasi berikutnya (Soedarso 2002: 29).

37

Untuk mendapatkan kecepatan dan efisien dapat digunakkan hal

berikut.

1. Melebarkan jangkauan mata dan lompatan mata, yaitu satu fiksasi

meliputi 2 atau 3 kata.

2. Membaca satu fiksasi untuk satu unit pengertian. Cara ini lebih mudah

diserap oleh otak.

Contoh:

Saya suka baju lengan panjang

Lebih mudah daripada

Saya suka baju lengan panjang

3. Selalu menbaca untuk mendapatkan isinya, artinya bukan untuk

menghafalkan kata-katanya.

4. Mempercepat peralihan dari fiksasi ke fiksasi, tidak terlalu lama

berhenti dalam satu fiksasi. Percepatan gerak mata dari satu fiksasi ke

fiksasi berikutnya. Semakin sedikit waktu untuk berhenti semakin

baik.

Pada saat mata berhenti, jangkauan mata dapat menangkap

beberapa kata sekaligus. Kata-kata dalam jangkauan mata itu dapat

dikenali sekalipun pembaca tidak memfokuskan pada setiap kata

(Soedarso 2002:30).

Gerakan mata dikendalikan oleh enam otot kecil yang kuat. Otot-

otot ini bersama-sama menarik mata dalam rangkaian tarikan-tarikan kecil

tetkala menelusuri baris demi baris banyak memboroskan gerakan mata.

38

Untuk merubah kebiasaan itu, diperlukan latihan gerakan kebawah,

gerakan kesamping, pengurangan bidang baca, membaca kolom, membaca

pola S. Latihan ini untuk kemajuan gerakan mata secara otomatis, cepat

dan berpola menurut kebutuhan (Soedarso 2001:39).

Kurangnya daya konsentrasi pada setiap orang disebabkan oleh hal-

hal yang berbeda. Ada orang yang memerlukan tempat yang tenang untuk

membaca, sementara orang lain perlu ditemani radio. Kurangnya

konsentrasi dapat juga disebabkan oleh kurangnya minat perhatian

terhadap apa yang dibaca, karena tidak menarik, terlalu sulit atau terlalu

mudah atau memang membosankan. Dapat juga memang orang itu belum

siap membaca misalnya karena badan terlalu lelah sehingga perhatiannya

pecah.

Untuk meiningkatkan daya konsentrasi ada dua kegiatan penting,

yaitu (1) menghilangkan atau menjauhi hal-hal yng dapat menyebabkan

pikiran menjadi kusut dan; (2) memusatkan perhatian secara sungguh-

sungguh. Hal ini termasuk memilih tempat dan waktu yang sesuai dengan

dirinya, serta memilih bahan-bahan yang menarik. Teknik-teknik

membaca seperti survai bahan bacaan sebelum memulai membaca, dan

menentukan tujuan membaca, termasuk cara-cara untuk berkonsentrasi

(Soedarso 2001:50).

4) Media Pembelajaran Membaca Cepat

Dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), siswa selau berinteraksi

dengan lingkungan belajar yang diatus oleh guru melalui proses

39

pembeajaran Lingkungan belajar tersebut meliputi tujuan pembelajaran,

bahan pembelajaran, dan metodoligi pembelajaran. Dalam metodologi

pembelajaran, ada dua aspek yang paling menonjol, yaitu metode

pembelajaran dan media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaran.

Media yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan

membaca cepat siswa bisa menggunakan transparansi yang dibantu dengan

OHP, bisa juga dengan menggunakan software membaca cepat. Media ini

memiliki manfaat antara lain (1) pembelajaran akan lebih menarik

perhatian siswa sehingga diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar

siswa, (2) materi pembelajaran lebih jelas meknanya sehingga siswa lebih

mudah memahami, (3) metodologi pembelajaran lebih bervariasi, dan (4)

pembelajaran terfokus kepada siswa dengan melakukan berbagai aktivitas.

Media pembelajaran membaca cepat yang dapat digunakan dalam

meningkatkan kemampuan membaca cepat terbagi atas dua jenis, yaitu (1)

media pembelajaran membaca cepat untuk pelatihan awal, dan (2) media

pembelajaran membaca cepat untuk pengukuran. Kedua jenis media ini

diuraikan secara rinci sebagai berikut.

a) Media Pelatihan Awal

Media pembelajaran membaca cepat yang digunakan untuk

pelatihan awal memiliki berbagai variasi. Variasi media pelatihan

membaca cepat ini bertujuan untuk (1) melatih gerak mata (fiksasi), (2)

metatih konsentrasi, (3) melatih persepsi siswa, (4) melatih daya ingat.

40

Keempat variasi media pelatiha awal ini disampaikan kepada siswa

sebelum dilakukan pengukuran membaca cepat siswa secara utuh.

Media pelatihan awal membaca cepat yang bertujuan untuk

melatih gerak mata memiliki dua variasi. Media pertama berupa dua

lingkaran kecil dalam satu garis horizon yang memiliki jarak yang

berbeda dalam setiap barisnya. Siswa perlu melihat lingkaran tersebut

secara cepat tanpa menggerakan kepala.

Media yang kedua berupa urutan angka maupun abjad yang

diacak dalam sebuah kotak (persegi panjang). Di dalam persegi

panjang berikut terdapat dua puluh enam huruf (A - Z) dan angka 1 -

50. Siswa perlu menarik secepat mungkin garis yang menghubungkan

huruf atau angka yang ada secara berurutan dengan cepat dan dicatat

waktu tempuhnya dengan mengurangi waktu selesai baca dengan

waktu mulai baca.

Media pelatihan awal membaca cepat yang bertujuan untuk

melatih konsentrasi siswa berupa urutan gambar yang disusun secara

vertikal dengan jumlah yang berbeda. Bentuk gambar yang disusun

secara vertikal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan siswa atau yang

biasa ditemui siswa di sekolah. Tanpa menggunakan jari, siswa

menghitung jumlah gambar dengan durasi waktu tidak lebih dari 30

detik dan menuliskan pada lingkaran yang tersedia.

Media pelatihan awal lainnya bertujuan untuk melatih persepsi

siswa. Media ini berbentuk deretan kata yang disusun secara horizontal

41

maupun vertikal. Siswa mencoret atau berusaha menemukan kata yang

sama dengan kata kunci yang telah ditentukan. Selanjutnya, media

pelatihan awal yang bertujuan untuk melatih daya ingat siswa berupa

serangkaian gambar maupun angka yang ditunjukkan secara cepat

(tidak lebih dari 30 detik) kepada siswa, selanjutnya siswa

menggambarkan kembali. Dari berbagai media pelatihan awal tersebut

diharapkan siswa memiliki kemampuan dalam menggerakkan mata

dan memiliki daya ingat yang cukup baik.

b) Media Pengukuran Kemampuan Cepat Siswa

Seseorang yang sedang membaca cepat sebuah bacaan

hendaknya dapat mengondisikan otak bekerja lebih cepat sehingga

konsentrasi akan lebih membaik secara otomatis. Dengan demikian,

kemampuan membaca cepat merupakan kemampuan seseorang dalam

memadukan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual

dengan kemampuan kognitifnya atau pemahaman isi bacaan melalui

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan.

Di negara-negara maju, khususnya Amerika, telah dilakukan

penelitian tentang kecepatan membaca siswa dalam setiap jenjang

pendidikan. Kecepatan membaca siswa Amerika untuk setingkat

SD/Diniyah di Indonesia adalah 140 kpm, setingkat SLTP/MTs adalah 140

s.d 175 kpm, setingkat SMA/SMK/MA adalah 175 s.d 245 kpm, dan

setingkat perguruan tinggi 245 s.d 280 kpm. Untuk kaum profesional,

kecepatan membacanya bisa mencapai 500 kpm.

42

Untuk mengukur kemampuan membaca cepat siswa, ada dua aspek

yang perlu diukur, yaitu aspek kecepatan membaca dan aspek pemahaman.

Aspek kecepatan membaca dapat diukur dengan jumlah kata dalam bacaan

yang dibaca dibagi dengan selisih antara waktu akhir baca dengan awal

baca, sedangkan pemahaman dihitung dengan membagi skor yang

diperoleh siswa dengan skor maksimal yang bisa didapat siswa. Hasil

perkalian antara kecepatan membaca dengan pemahaman menghasilkan

kecepatan efektif membaca (KEM).

Media pembelajaran untuk mengukur kemampuan kecepatan

membaca cepat siswa tentunya berupa sebuah bacaan dan pertanyaan-

pertanyaan yanng digunakan untuk mengukur pemahaman siswa. Bacaan

dapat diambil dari berbagai media informasi, baik media elektronik

maupun nonelektronik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->