P. 1
Pembelajaran Membaca Cepat Pada Siswa Kelas 3 Sd

Pembelajaran Membaca Cepat Pada Siswa Kelas 3 Sd

|Views: 1,376|Likes:
Published by Aryatmono Siswadi

More info:

Published by: Aryatmono Siswadi on Apr 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

Ada beberapa masalah umum yang dihadapi pembaca, umumnya

orang tak sadar dengan masalah membacanya. Orang telah puas dengan

kondisi kemampuan membacanya baik dalam kecepatan maupun dalam

tingkat pemahaman. Padahal, secara teoretis kecepatan dan pemahaman

45

terhadap bacaan itu dapat ditingkatkan dua atau tiga kali lipat dari

pemahaman semula.

Orang yang tidak mendapat bimbingan, latihan khusus membaca

cepat, sering mudah lelah dalam membaca karena lamban membaca, tidak

ada gairah, merasa bosan, tidak tahan membaca buku, dan terlalu lama

untuk bisa menyelesaikan buku yang tipis sekalipun. Untuk dapat

membaca dengan cepat, hal-hal yang dapat menghambat kelancaran atau

kecepatan membaca harus dihilangkan.

Beberapa faktor yang dapat menghambat kecepatan membaca

adalah sebagai berikut. Vokalisasi atau membaca dengan bersuara sangat

memperlambat membaca. Karena itu berarti mengucapkan kata demi kata

dengan lengkap. Menggumam, sekalipun degan mulut terkatup dan suara

tidak terdengar, jelas termasuk membaca degan bersuara. Menggerakkan

bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan

suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Semasa kanak-kanak

penglihatan kita memang masih sulit menguasai penampang bacaan.

Akibatnya adalah bahwa kita menggerakkan kepala kiri ke kanan untuk

dapat membac baris-baris secara lengkap.

Cara membaca dengan menunjuk dengan jari atau benda lain itu

sangat menghambat membaca sebab gerakan yangan lebih lambat daripada

gerakan mata. Sering kali mata bergerak kembali ke belakang untuk

membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Gerakan

tersebut disebut regresi. Selain menghambat kecepatan membaca, regresi

46

bahkan dapat mengaburkan pemahaman bacaan. Menurut Soedarso

(2002:8) beberapa alasan seorang pembaca melakukan regresi adalah

sebagai berikut: (1) pembaca meraasa kurang yakin dalam memahami

tulisan yang dibacanya; (2) pembaca merasa ada kesalahan cetak pada

tulisan yang dibacanya, kemudian mempertanyakan hal tersebut dalam

hati; (3) pembaca merasa ada kesalahan ejaan; (4) ada kata sulit atau baru;

(5) pembaca terpaku paada detail; (6) pembaca salah persepsi, misalnya

bertanya-tanya angka yang baru dibacanya 266 atau 267; (7) pembaca

merasa ada sesuatu yang tertinggal. Menurut Redway dalam

Wahyuningsih (2000: 15) dengan berlatih terus dan kecepatan membaca

meningkat, maka usaha mencegah regresi ini akan lebih mudah lagi.

Kecepatan akan memaksa si pembaca untuk berkonsentrasi lagi.

Hasilnya akan lebih meningkatkan pemahaman secara keseluruhan

dan akan mendorong pembaca untuk lebih siap mengantisipasi.

Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin atau pikiran kata-kata yang

dibaca dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya lebih tinggi.

Subvokalisasi juga menghambat karena kita menjadi lebih memperhatikan

bagaiman melafalkan secara benar daripada berusaha memahami ide yang

dikandung dalam kata-kata yang kita baca itu (Soedarso 2002: 8).

Wiryodijoyo dalam Wahyuningsih (2000: 13) mengungkapkan

bahwa suvokalisasi ini mengungkapkan pengaruh kebiasaan dalam

pengajaran membaca di sekolah dasar, yaitu (1) mengucapkan berulang-

ulang hal yang dianggap penting oleh guru. Usaha menghilangkan sama

47

sekali cara membaca dengan menghafalkan dalam hati hal yang dibaca,

memang tidak mungkin. Namun ada cara lain untuk memperkecil akibat

buruk dari subvokalisasi, yaitu dengan cara melebarkan jangkauan mata

sehingga satu fiksasi (pandangan mata) dapat menangkap beberapa kata

sekaligus dan langsung menyerap idenya. Cara ini lebih baik daripada

melafalkan (Soedarso 2001: 9).

Kemudian perhatia hampir sama dengan ketidaksiapan mental.

Pembaca mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan karena ia

terpaksa mempelajari bahan bacaan yang tidak menarik perhatiannya.

Masalah ini lebih serius lagi bila ada kosa kata yang sulit atau baru dan

belum dipahami oleh pembaca. Selain itu, pikiran pembaca tidak

sepenuhnya tertuju pada bacaan karena masih ada masalah lain yang lebih

menarik da mengganggu perhatiannya.

Hambatan dalam membaca cepat yang terakhir adalah kurang

motivasi. Motivasi ini dapat berasal dari dalam diri sendiri, dapat pula dari

luar. Ini sangat penting karena denga adanya motivasi, pembaca terpacu

untuk membaca dengan sungguh-sungguh. Dalam membaca cepat

motivassi juga perlu diperhatikan.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hambatan-

hambatan dalam membaca cepat adalah vokalisasi, gerak bibir, gerakan

kepala, menunjuk dengan jari, regresi, subvokalisasi, ketiadaan perhatian,

kurang motivasi.

48

Ada beberapa masalah dan hambatan yang umum terjadi pada

setiap orang. Masalah tersebut antara lain ada di bawah ini:

1. Rendahnya tingkat kecepatan membaca,

2. Minimnya pemahaman yang diperoleh,

3. Kurangnya minat baca,

4. Minimnya pengetahuan tentang cara membaca yang cepat dan efektif,

5. Adanya gangguan-gangguan fisik yang secara tidak sadar menghambat

kecepatan membaca (Nurhadi, 2008: 17).

Kecepatan membaca dapat ditingkatkan. Ada kecenderungan

anggapan bahwa seorang pembaca lambat itu berhubungan dengan

kecerdasannya. Tidak selalu demikian. Seorang pembaca yang lambat,

barangkali hanya tidak tahu bagaimana cara membaca cepat, sehingga apa

yang dilakukannya tidak efisien. Lambat dan lemah dalam tingkat

pemahaman akibat adanya gangguan membaca yang tak disadari

barangkali juga salah satu faktornya.

Dengan mengetahui metode dan teknik mengembangkan membaca,

kemudian diikuti oleh latihan yang intensif, membiasakan diri dengan

membaca cepat, maka dalam beberapa minggu saja akan terlihat hasilnya.

Secara teoritis mecepatan membaca itu daoat ditingkatkan menjadi dua

sampai tiga kali lipat dari kecepatan semula. Kecepatan membaca dengan

150 kata per menit dengan latihan intensif selama jangka waktu sampai

dua bulan akan meningkatkan menjadi lebih dari 400 kata per menit.

49

Untuk memperkuat hasil yang diperoleh dan latihan, perlu

membedakan antara pembaca yang efektif dan pembaca yag kurang

efektif. Ini digunakan sebagai perbandingan untuk melihat keberhasilan

latihan membaca. Pembaca dikatakan kurang efektif bila:

1. Membaca dengan kecepatan rendah, umumnya < 100 – 200 kata per menit.

2. Membaca dengan kecepatan konstan untuk berbagai cuaca dan kondisi

membaca. Kecepatan itu selalu sama meskipun pada tujuanm bahkan

bacaan, dan keperluan yang berbeda.

3. Gerak mata diarahkan/dipusatkan pada kata demi kata dan memahaminya

secara terputus.

4. Banyak terjadi pengulangan gerak mata (regresi).

5. Menggerakkan bola mata 8 – 12 kali atau lebih pada setiap baris bacaan.

4. Prinsip-prinsip Studi Kasus

Menurut Yin (2008: 1) studi kasus adalah salah satu metode

penelitian ilmu-ilmu sosial. Lebih lanjut Yin mengatakan bahwa

penggunaan setiap metode memiliki keuntungan dan kergian tersendiri,

tergantung kepada tiga hal, yaitu 1) tipe pertanyaan penelitiannya, 2)

kontrol yang dimiliki peneliti terhadap peristiwa perilaku yang akan

ditelitinya, dan 3) fokus terhadap fenomena penelitiannya (fenomena

kontemporer ataukah fenomena historis). Studi kasus merupakan strategi

yang cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how

atau why, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol

peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitiannya terletak

50

pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan

nyata. Selain itu, peneliti studi kasus dapat dibedakan menjadi tiga tipe,

yaitu studi-studi kasus eksplanatoris, eksploratoris dan deksriptif. Dalam

penggunaannya, peneliti studi kasus perlu memusatkan perhatian pada

aspek pendesainan dan penyelenggaraan agar lebih mampu menghadapi

kritik-kritik tradisional tertentu terhadap metode / tipe pilihannya.

Sebagai suatu strategi penilitian, studi kasus telahh digunakan di

berbagai lapangan, seperti:

1. Penelitian kebijakan, ilmu politik, dan administrasi umum;

2. Psikologi masyarakat dan sosiologi;

3. Studi-studi organisasi dan manajemen.

4. Penelitian perencanaan tata kota dan regional, seperti studi-studi

program, lingkungan, atau agen-agen umum serta;

5. Pengerjaan berbagai disertai tesis dalam ilmu-ilmu sosial (Yin, 2008:

2).

Untuk tujuan-tujuan pengajaran, studi kasus tak memerlukan

penerjemahan yang lengkap atau akurat terhadap peristiwa-peristiwa

aktual, karena tujuannya lebih diarahkan pada pengenbangan kerangka

kerja diskusi atau perdebatan. Karenanya, kriteria untuk mengembangkan

studi-studi kasus untuk keperluan pengajaran, biasanya jenis studi kasus

tunggal dan multikasus berbeda dari keperluan penelitian (yang

sebernarnya).

1. Penggunaan Masing-masing Strategi

51

Ada tiga kondisi yang perlu diperhatikan didallam hal ini, yaitu; (a)

tipe pertanyaan penelitian yang diajukan, (b) luas kontrol yang dimilliki

peneliti atas peristiwa perilaku yag diteliti, dan (c) fokusnya terhadap

peristiwa kontemporer sebagai kebalikan dari peristiwa historis. Tabel 1.1

menyajikan ketiga kondisi ini dalam setiap kolomnya dan menunjukan

bagaimana masing-masing berkaitan dengan lima strategi utama penelitian

dalam ilmu-ilmu sosial (eksperimen, survei, analisis arsip, historis, dan

studi kasus). Pentingnya setiap kondisi dalam membedakan kelima strategi

dimaksud dibahas sebagai berikut.

Tipe-tipe pertanyaan penelitian (tabel 1.1 kolom 1). Skema

kategori dasar untuk pertanyaan penelitian yang tak asing lagi, yaitu :

siapa, apa, dimana, bagaimana, dan mengapa.

Tabel 1.1. Situasi-situasi relevan untuk Strategi yang Berbeda

Strategi

Bentuk

Pertanyaan

Penelitian

Membutuhkan

Kontrol tbd.

Peristiwa t.l

Fokus terhadap

Peristiwa

Kontemporer

Eksperimen

Bagaimana,

Mengapa

Ya

Ya

Survei

Siapa,

apa,

dimana, berapa

banyak

Tidak

Ya

Analisis arsip

(mis.dlm.std.ekon.)

Siapa,

apa,

dimana, berapa

Tidak

Ya/tidak

52

banyak

Historis

Bagaimana,

mengapa

Tidak

Tidak

Studi kasus

Bagaimana,

mengapa

Tidak

Ya

Pertanyaan “apa”, jika ditanyakan sebagai dari studi eksploratoris,

sesiao bagi kelima strategi.

Jika pertanyaan-pertanyaan penelitian berfokus pada pertanyaan-

pertanyaan “apakah”, maka akan muncul salah satu dari dua kemungkinan

barikut ini. Pertama, beberapa tipe pertanyaan “apa” merupakan

pertanyaan eksploratoris, seperti, “cara apa yang efektif untuk

menyelenggarakan suatu sekolah?”. Tipe pertanyaan ini dapat digolongkan

rasional guna menyelenggarakan studi eksploratoris, untuk maksud

pengembangan hipotesis dan proposisi yang berkaitan bagi inkuiri

selanjutnya. Namun demikian, sebagai studi eksploratoris, strategi mana

pun dapat digunakan, misalnya survei eksploratoris, eksperimen

eksploratoris, atau studi kasus eksploratoris. Tipe kedua dari pertanyaan

“apa” pada dasarnya merupakan bentuk inkuiri beberapa banyak -

misalnya - “apakah hasil dari reorganisasi manajerial khusus selama ini?”.

Mengidentifikasi hasil semacam itu tampaknya lebih cocok untuk strategi

survei atau arsip daripada yang lain. Sebagai contoh, survei dapat didesain

untuk menghitung sesuatu yang dimaksud oleh pertanyaan “apa” tersebut,

53

sedangkan studi kasus bukan merupakan strategi yang menguntungkan

dalam situasi ini.

Sebagaimana halnya dengan tipe pertanyaan kedua “apakah”,

pertanyaan “siapakah” dan “dimanakah” (atau turunannya – “berapa

banyakkah”) tampaknya lebih sesuai untuk strategi survei atau analisis

rekaman-rekaman arsip, spertii dalam penelitian ekonomi. Strategi ini

menguntungkan bilamana tujuan penelitiannya adalah mendeskripsikan

kejadiann atau kelaziman suatu fenomena atau jika berkenaan dengan

memprediksi hasil-hasil tertentu. Penelitian sikap-sikap politis yang umum

)dimana survei atau pemungutan suara merupakan strategi yang

diharapkan) atau timbulnya penyakit (dimana alanisis statistik dasar

merupakan strategi yang cocok) mungkin dapat dijadikan contoh dalam

hal ini.

Sebaliknya, pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa” pada

dasarnya lebih eksplanatoris dan lebih mengarah ke penggunaan strategi-

strategi studi kasus, historis, dan eksperimen. Hal ini disebabkan

pertanyaan seperti ini berkenaan dengan kaitan-kaitan operasional yang

menuntut pelacakan waktu tersendiri, dan bukan sekedar frekuensi atau

kemunculan. Karenanya, jika anda ingin mengetahui bagaimana suatu

kelompok komunitas berhasil menggagalkan sebuah gagasan besar yang

diusulkan, misalnya kita akan bisa mengandalkan survei atau telah

rekaman arsip melainkan kita harus menyelenggarakan apa yang disebut

dengan analisis historis atau studi kasus. Demikian pula jika kita ingin

54

mengetahui mengapa penonton yang dekatt dengan suatu kejadian gagal

melaporkan kegawatan kondisi tertentu misalnya, kita dapat mendesain

dan menyelenggarakan serangkaian eksperimen.

Menentukan tipe pertanyaan penelitian merupakan tahap yang

paling penting dalam setiap penelitian, sehingga untuk tugas ini dituntut

adanya kesabaran dan persediaan waktu yang cukup. Kuncinya adalah

memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan penelitian selalu memiliki

substansi – misalnya, mengetahui apakah sebenarnya penelitian saya ini? –

dan bentuk – misalnya, apakah saya sedang, “siapakah”,

“apakah”,”dimanakah”,”mengapakah”, atau “bagaimanakah”. Ahli lain

telah memfokuskan diri pada beberapa isu yang substansi (Campbell, Daft,

& Hulin, 1982 dalam Yin, 2008: 11) dengan inti pembahasan bahwa

bentuk pertanyaan memberi rambu-rambu penting untuk strategi penelitian

yang sesuai. Dalam hubungan ini perlu tetap diingat adanya wilayah

tumpang tindih di antara beberapa strategi itu, agar dapat diyakinkan

bahwa beberapa pertanyaan untuk satu pilihan strategi memang betul-betul

ada.

Studi kasus lebih dikehendaki untuk melacak peristiwa

kontemporer, bilamana peristiwa-peristiwa tersebut yang bersangkutan tak

dapat dimanipulasi. Karena itu studi kasus mendasarkan pada teknik yang

sama dengan kelaziman yang ada pada strategi historis, tetapi dengan

menambahkan dua sumber bukti yang biasanya tak termasuk dalam pilihan

para sejarawan, yaitu obsservasi dan wawancara sistematik. Sekali lagi,

55

walaupun studi kasus dan historis bisa tumpang tindih, kekuatan yang unik

dari studi kasus ialah kemampuannya untuk berhubungan sepenuhnya

dengan berbagai jenis bukti; dokumen, peralatan, wawancara, dan

observasi. Lebih dari itu, dalam beberapa situasi seperti observasi

partisipan, manipulasi informal juga dapat terjadi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->