PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nilai sehingga

merupakan sumber dari segala penjabaran norma baik norma hukum, norma moral maupun norma kenegaraan lainnya. Terkandungn didalamnya suatu pemikiran – pemikiran yang bersifat kritis, mendasar, rasional dan komprehensif ( menyeluruh ) dan sistem pemikiran ini merupakan suatu nilai. Sebagai suatu nilai, Pancasila memberikan dasar – dasar yang bersifat fundamental dan universal bagi manusia baik dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai – nilai tersebut kemudian di jabarkan dalam suatu norma – norma yang jelas sehingga mereupakan suatu pedoman. Norma – norma tersebut meliputi : a) Norma moral yaitu yang berkaitan dengan tingkah laku manusia yang dapat diukur dari sudut baik maupun buruk. b) Norma hukum yaitu suatu sistem peraturan perundang- undangan yang berlaku di indonesia. Dalam pengertian inilah maka pancasila berkedudukan sebagai sumber dari segala sumber hukum di negar Indonesia. A. Pengertian Etika Etika adalah ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral. Etika merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran – ajaran dan pandangan – pandangan moral. Etika temasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu etika umum dan etika khusus. a) Etika Umum mempertanyakan prinsip – prinsip yang berlaku bagi setiap tindakkan manusia b) Etika khusus membahas prinsip – prinsip itu dalam hbugannya dengan pelbagai aspek kehidupan manusia. Etika khusus dibagi dua yaitu : (a) Etika Individual membahas tentang kewajibn manusia terhadap diri sendiri. (b) Etika Sosial membahs tentang kewajiban manusia terhadap manusia lain dalam hidup masyarakat, yang merupakan suatu bagian terbesar dari etika khusus. B. Pengertian Nilai, Norma dan Moral 1. Pengertian Nilai Di dalam Dictionary of sosiology and Related Sciences dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok, ( the believed capacity of any object to statistfy a human desire). Jadi nilai itu pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek itu sendiri. Misalnya : bunga itu indah, perbuatan itu susila. Indah, susila adalah sifat atau kualitas yang melekat pada bunga dan perbuatan. Dengan demikian maka nilai itu sebenarnya adalah suatu kenyataan yang “ tersembunyi” di balik kenyataan – kenyataan lainnya. Ada nilai itu karena adanya kenyataan – kenyataan lain sebagai pembawa nilai (wartrager). Di dalam nilai itu sendiri terkandung cita – cita, harapan – harapan, dambaan – dambaan dan keharusan. Berbicara tentang nilai berarti berbicara tentang das Sollen, bukan das Sein, kita masuk kerokhanian bidang makna normatif, bukan kognotif, kita msuk ke dunia ideal dan bukan dunia real. Meskipun demikian, diatara keduannya saling berhubungan atau saling berkait secara erat, artinya bahwa das Sollen itu harus menjelma menjadi das Sein, yng ideal harus menjadi real, yang normatif harus direalisasikan dalam perbuatan sehari – hari yang merupakan fakta.

2. Hierarki Nilai Max Sceler mengemukakan bahwa nilai – nilai yang ada, tidak sama luhurnya dan sama tingginya. Menurut tinggi rendahya, nilai – nilai dapat dikelompokkan dalam tingkatan sebagai berikut: a) Nilai – nilai kenikmatan : dalam tingkatn ini terdapat deretan nilai – nilai yang mengenakkan dan tidak mengenakkan b) Nilai – nilai kehidupan : dalam tingkat ini terdapatlah nilai – nilai yang penting bagi kehidupan c) Nilai – nilai kejiwan : dalam tingkat ini trdapat nilai – nilai kejiwaan yang sama sekali tidak tergantung dari keadaan jasmani maupun lingkungan d) Nilai – nilai kerohanian : dalam tingkat ini terdapatlah modalitas nilai dari yang suci dn tak suci. Walter G . everet menggolongkan nilai – nilai manusiawi kedalam delapan kelompok yaitu: a) Nilai – nilai ekonomis b) Nilai – nilai kejasmanian c) Nilai – nilai hiburan d) Nilai – nilai sosial e) Nilai – nilai watak f) Nilai – nilai estetis g) Nilai – nilai intelektual h) Nilai – nilai keagamaan Notonagoro membagi nilai menjadi tiga macam, yaitu: a) Nilai Material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan material ragawi manusia b) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas. c) Nilai kerokhanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerokhanian ni dapat dibagi menjadi empat macam: (a) Nilai kebenaran, bersumber dari pada akal manusia (b) Nilai keindahan, bersumber pada unsur perasaan (c) Nilai kebaikan, bersumber pada unsur kehendak (d) Nilai religius, bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia Dari uraian mengenai macam – macam nilai diatas, dapat dikemukakan pula bahwa yang mengandung nilai itu bukn hanya sesuatu yang bewujud material saja, akan tetapi juga sesuatu yang berwujud non material atau immatrial. Notonagoro berpendapat bahwa nilai – nilai pancasila tergolong nilai – nilai kerokhanian, tetapi nilai – nilai kerohanian yang mengakui adanya nilai material dan vital. Dengan demikian nilai – nilai lain secara lengkap dan harmonis, baik nilai matrial, nilai vital, nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan atau nilai moral, maupun nili kesucian yang sistematika-hierarkis, yang dimulai dari sila Ketuhanan yang Maha Esa sebagai „dasar‟ sampai dengan sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai „tujuan‟

Nilai Dasar, Nilai Instrumental dan Nilai Praksis a) Nilai Dasar Setiap nilai memiliki nilai dasar( dalam bahasa ilmiahnya disebut dsar onotologis), yaitu merupakan hakikat, esensi, intisari, atau makna yang terdalam dari nilai – nilai tersebut. Nilai dasar ini bersifat universal karena menyangkut hakikat kenyataan objektif segala sesuatu Misalnya: hakikat Tuhan, manusia atau segala sesuatu lainnya. Jikalau nilai dasar itu berkaitan dengan hakikat Tuhan, maka nilai tersebut bersifat mutlak karena hakikat Tuhan adalah causa prima ( sebab pertama), sehingga segala sesuatu di ciptakan ( berasal) dari Tuhan. Demikian juga jiklau nilai dasar itu berkaitan dengan hakikat manusia, maka nilai – nilai tersebut bersumber pada hakikat kodrat manusia, sehingga jikalau nilai – nilai dasar kemanusiaan itu dijbarkan dalam norma hukum maka di istilahkan sebagai hak dasar ( hak asasi). Nilai dasar dapt juga disebut sebagai sumber norma yang pada gilirannya dijabarkn atau direalisasikan dalam suatu kehidupan yang bersifat praksis. b) Nilai Instrumental Nilai Instrumental merupakan suatu pedoman yang dapat diukur dan dapat diarahkan. Bilaman nilai instrumental tersebut berkaitan dengan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari – hari, maka hal itu akan merupakan suatu norma moral. Namun jikalu nilai instrumental itu berkitan dengan suatu orgnisasi atau negara maka nilai – nilai instrumental itu merupakan suatu arahan, kebijaksanan atau strategi yang bersumber pada nilai dasar. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa nilai instrumental itu merupakan suatu eksplisitasi dari nilai dasar. c) Nilai Praksis Nilai praksis pada hakikatnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam suatu kehidupan yang nyata. 3. Hubungan Nilai, Norma dan Moral Nilai adalah kualitas dari suatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, bail lahir maupun batin. Dalam kehidupan manusia nilai di jadikan landasan, alasan, atau motivasi dalam bersikap dan bertingkah laku baik di sadari maupun tidak. Nilai dapat bersifat subjektif maupun objektif. Sedangkan norma adalah wujud yang lebih konkrit dan lebih objektif. Dari berbagai macam banyak norma, norma hukumlah yang paling kuat keberlakuannya. Selanjutnya nilai dan norma senantiasa berkaitan denga moral dan etika. Istilah moral mengandung integritas dan martabat pribadi manusia. Derajat kepribadian seseorang amat ditentukan oleh moralitas yang dimilikinya. Makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang itu tercermin dari sikap dan tingkah lakunya. Dalam pengertian inilah maka kita memasuki wilayah norma sebagi penuntun sikap dan tingkah laku manusia. Hubungan antara moral dn etika memang sangat erat sekali dan kadaangkala kedua hal tersebut disamakn begitu saja. Namun sebenarnya kedua hal tersebut memiliki perbedaan. Moral yaitu ajaran – ajaran ataupun nasihat – nasihat, patokkan, kumpulan peraturan, baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. Adapun di pihak etika adalah suatu cabang filsafat yaitu suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran – ajaran dan pandangan moral tersebut atau juga bagaimana yang di kemukakan de vos tahaun 1987, bahwa etika dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang kesusilaan. Adapun yang dimaksud kesusilaan adalah identik dengan pengertian moral, sehingga etika pada hakikatnya adalah sebgai ilmu pengetahuan yang membahas tenntang prinsip – prisip moralitas. Hal ini dapat dianalogikan bahwa ajaran moral; sebagai buku petunjuk tentang bagaiman kita memperlakukan sebuah mobil dengan baik, sedangkan etika memberikan pengertian pada kita tentang struktur dn teknologi mobil

dimensi politis mencakup lingkaran kelembagan hukum dan negara. Segala keterampilan yang dibutuhkannya agar berhasil dalam segal kehidupannya serta berpartisipasi dalam kebudayaan diperolehnya dari masyarkat. Manusia di dalam hidupnya mampu ber-eksistensi karena orang lain dan ia hanya dapt hidup dan berkembang karena dalam hubungannya dengan orang lain. Manusia di pandang sebagai sekedar srana bagi masyarakat. sistem – sitem nilai serta ideologi yang memberikan legitmimasi kepadanya. Maka sifat serta ciri khas kebangsan dan kenegaraan indonesia.itu sendiri. lembaga – lembaga tinggi negara. Walopun dalam hubungannya denga masyarakat bngsa maupun negara. Oleh karena itu etika politik berkait erat dengan bidang pembahasan moral. bukanlah totalitas individualistis ataupun sosialistis melainkan monodualistis b) Dimensi Politis Kehidupan Manusia Berdasarkan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Pengertian Politik Pengertian „politik‟ berasal dari kosakata „politics‟. hal ini di karenakan manusia sebagai warga masyrakat atau sebagai makhluk sosial. yang memiliki mkna bermacam – macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau „ negara‟. etika politik tetap meletakkan dsar fundamental manusia sebagai manusia. dimensi politis manusia senntiasa berkaitan dengan kehidupan . bangsa dan negara senantiasa diukur berdasarkan filosofi manusia sebagai makhluk sosial. kebijaksanaan ( policy). senantiasa mendasarkan hakikat sifat kodrat manusia adalah bersifat „monodualis‟. dalam hubungan masyarakat. memandan manusia sebagai makhluk individu yang bebas. pengambilan keputusan ( decision making). Pengertian politik secara sempit. Pengertian politik yang lebih luas. Kalangan kolektivisme merupakan cikal bakal sosialisme dan komunisme memandang sifat kodrat manusia sebagai makhluk sosial saja. yaitu menyangkut seluruh unsur yang membentuk suatu persekutuan hidup yang disebut masyarakat negara. kalangan aktivis politik serta para pejabat serta birokrat dalam pelaksanaan dan penyelengaraan negara. Etika Politik Secara substantif pengertian etika politik tidak dapat dipisahkan dengan subjek sebagai pelaku etika yaitu manusia. Berdasarkan pengertian – pengertian pokok tentang politik maka secara operasional bidang politik menyangkut konsep – konsep pokok yang berkaitan dengan negara ( state). 1. kebebasan sebagai individu dan segala aktivitas dan kreativitas dalam hidupnya senantiasa tergantung pada orang lain. 2. Segala hak dan kewajiban dalam kehidupan bersama senantiasa diukur berdasarkan kepentingan dan tujuan berdasarkan paradigma sifat kodrat manusia sebagai individu. Dimensi Politis Manusia a) Manusia sebagai Makhluk Individu – Sosial Paham individualisme yang merupakan cikal bakal paham liberalisme. Manusia sebgai makhluk yang berbudaya. yang menyangkut proses penentuan tujuan – tujuan dari sistem itu dan diikuti dengan pelaksanaan tujuan itu. Dasar ini lebih meneguhkan agar etika politik bahwa kebaikan senantiasa di dasarkan pada hakikat manusia sebagai mahkluk yang beradab dan berbudaya. Dalam hubungan dengan sifat kodrat manusia sebagi makhluk individu dan sosial. pembagian ( distribution). serta alokasi ( allocation). kekuasaan ( power). C. Dasar filosofis sebagai mana terkandung dalam pancasila yang nilainya terdpt dalm budaya bangsa. yaitu bidang politik lebih banyak berkaitan dengan para pelaksana pemerintahan negara. Segala hak dan kewajiban baik moral maupun hukum.

kekuasaan. etika politik menuntut agar kekuasaan dalam negeri di jalankan sesuai dengan: a) Asas legalitas ( legitimasi hukum) b) Di sahkan dan dijalankan secara demokratis ( legitimasi demokratis) c) Dilaksanakan berdasarkan prinsip – prinsip moral / tidak bertentangan dengannya ( legitimasi moral).negara dan hukum. Oleh karena itu pelaksanaan dan pnyelenggraan negara segala kebijaksanaan. Dua aspek ini yang senantiasa berhadapan dengan tindakkan moral mnusia. kekuasaan. oleh krena itu „ keadilan‟ dalam hidup bersama ( keadilan sosial ) sebgai mana terkandung dalam sila 5. adalah merupakan tujuan dalam kehidupan negara. Sebuah keputusan bersifat politis mnakala diambil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat sebagai suatu keseluruhan. sehingga senantiasa berkaitn dengan kehidupan masyrakat secara keseluruhan. Nilai – Nilai Pancasila sebagai Sumber Etika Politik Sila pertama „Ketuhanan yang Maha Esa‟ serta sila kedua „ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab‟ adalah merupakan sumber nilai –nilai moral bagi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. kenijaksanan yang menyangkut publik. pembagian serta kewenangan harus berdasarka legitimasi moral religius ( sila 1 ) serta moral kemanusiaan ( sila 2). 3. Dengan demikian dimensi politis manusia dapat ditentukan sebagai suatu kesadarn manusia akan dirinya sendiri sebagai anggota masyarakat sebagai sutu keseluruhan yang menentukan kerangka kehidupannya dan di tentukan kembali oleh kerangka kehidupanny serta ditentukan kembali oleh tindakan – tindakannya. Negara Indonesia adalah negara hukum. serta kewenangan harus dikembalikan pada rakyat sebagai pendukung pokok negara. baik menyangkut kekuasan. Sehingga dua segi fundamental itu dapat diamati dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dimensi politis manusia ini memiliki dua segi fundmental. Oleh karena itu rakyat adalah merupakan asal mula kekuasan negara. yaitu pengertian dan kehendak untuk bertindak. Pancasial sebagai suatu sistem filsafat memiliki tiga dasar tersebut. kewenangan. Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara. serta pembagian senantiasa harus berdasarkan atas hukum yang berlaku Negara adalah berasal dari rakyat dan segala kebijaksanaan dan kekuasaan yang dilakukan senantiasa untuk rakyat ( sila 4). Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara. Oleh karena itu dalam pelaksanaan dan pnyelenggraan negara. . segala kebijakan.

Maka bisa dikatakan bahwa fungsi pancasila sebagai etika itu sangatlah penting agar masyarakat harus bisa memilih dan menentukan calon yang akan menjabat dan menjadi pimpinan mayarakat dalam demokrasi liberal memberikan hak kepada rakyat untuk secara langsung memilih pejabat dan pemimpin tinggi (nasional. 61 / 1999) yang membuat rakyat miskin makin tidak mampu menjangkau. karena nilai-nilai itu harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan. . Sepertinya pengertian Etika diatas kurang lengkap. yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya. Analisis ini dapat dihayati melalui bagaimana politik pendidikan nasional (konsep : RUU BHP sebagai kelanjutan PP No. Disetiap saat dan dimana saja kita berada kita diwajibkan untuk beretika disetiap tingkah laku kita. ternyata ekonomi rakyat makin terancam oleh kekuasaan neoimperialisme melalui ekonomi liberal. Perkembangan etika yaitu Studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan. Pancasila memegang peranan dalam perwujudan sebuah sistem etika yang baik di negara ini. Eika juga ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita harus belajar tentang etika dan mengikuti ajaran moral. Filsafat praktis. silahkan dicermati dan dihayati Perpres No. * Dari asal usul kata. provinsi. yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran di dalam negara. Pemahaman konsep dan teori etika. Cabang ini mencakup: " ilmu etika. 76 dan 77 tahun 2007 tentang PMDN dan PMA yang tertutup dan terbuka. tentang hak dan kewajiban moral. kabupaten/kota) untuk mewujudkan harapan rakyat … ! dengan biaya tinggi serta adanya konflik horizontal. dalam era reformasi yang memuja kebebasan atas nama demokrasi dan HAM. Indonesia (1995) Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. menurut ruang dan waktu yang berbeda. Sesungguhnya. Etika berasal dari bahasa Yunani „ethos‟ yang berarti adat istiadat/ kebiasaan yang baik. Etika merupakan kelompok filsafat praktis (filsafat yang membahas bagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada ) dan dibagi mejadi kelompok. * Menurut Maryani & Ludigdo (2001) “Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia. yang mengancam hak-hak sosial ekonomi bangsa ! 2. namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan. Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk.Bidang sosial ekonomi. Menurut Kamus Besar Bhs. baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi”. Setiap sila pada dasarnya merupakan azas dan fungsi sendiri-sendiri. Pengertian etika sebagai salah satu cabang filsafat praktis. yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup perseorang " ilmu ekonomi.PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA POLITIK 1. Seperti tercantum di sila ke dua “ kemanusian yang adil dan beadab” tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran pancasila dalam membangun etika bangsa ini sangat berandil besar. Etika merupakan pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral.

Teori-teori etika konsekuensialis. Dan pancasila memegang peranan dalam perwujudan sebuah sistem etika yang baik di negara ini. Pengertian Etika Politik berdasarkan nilai-nilai etika yang terkandung dalam Pancasila. Sedangkan yang non-konsekuensialis kadang juga disebut teori etika deontologis. yaitu : a. Seperti tercantum di sila ke dua “ kemanusian yang adil dan beadab” tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran pancasila dalam membangun etika bangsa ini sangat berandilbesar. Disetiap saat dan dimana saja kita berada kita diwajibkan untuk beretika disetiap tingkah laku kita. b. Yakni dilihat apakah perbuatan atau tindakan itu secara keseluruhan membawa akibat baik lebih banyak daripada akibat buruknya atau sebaliknya. Termasuk dalam kelompok teori konsekuensialis dan teleologis adalah teori etika egoisme. yaitu etika tersebut sesuai dengan apa yang di katakan dan diperbuatnya. eudaimonisme. dan utilarisme. Moralitas adalah ha-hal yang menyangkut moral. karena menekankan konsep kewajiban (dalam bahasa Yunani = deon) moral yang wajib ditaati oleh manusia sebagai makhluk rasional Sedangkan teori etika non-konsekuensialis yang akan dibahas dalam kursus ini adalah teori etika deontologis I. 3. atau sebaliknya menghambat dan merupakan pengkhianatan terhadap cita-cita tersebut. Dalam mengkaji masalah etika diketahui terdapat 2 teori. Baik-buruknya perilaku orang dinilai dari apakah perilaku itu menunjang proses pencapaian tujuan akhir hidupnya sebagai manusia dan merupakan bentuk perwujudan nilai-nilai yang dicita-citakan dalam hidupnya sebagai manusia. Teori non konsekuensialis Sedangkan yang non-konsekuensialis menilai baik buruknya perbuatan atau benar-salahnya tindakan tanpa memperhatikan kesekuenasi atau akibatnya. Dalam melaksanakan hubungan politik itu seseorang harus mengetahui dan memahami norma-norma dan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi. Teori konsekuensialis Kelompok teori yang konsekuensialis menilai baik-buruknya perilaku manusia atau benarsalah tindakannya sebagai manusia berdasarkan konsekuensi atau akibatnya.Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda dari istilah itu. karena dalam menilai perbuatan atau tindakan juga merujuk pada tujuan (dalam bahasa Yunani = telos) . juga disebut teori-teori etika teleologis. yaitu bagaimana seseorang dalam suatu masyarakat kenegaraan ( yang menganut sistem politik tertentu) berhubungan secara politik dengan orang atau kelompok masyarakat lain. perilaku dan perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk. * Bagi ahli falsafah. dan moral adalah sistem tentang motivasi. Sesuai dengan arti dari kata konsekuen. . etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. melainkan berdasarkan sesuai tidaknya dengan hukum atau standar moral. Etika politik sebagai cabang dari etika sosial dengan demikian membahas kewajiban dan norma-norma dalam kehidupan politik. Kant dan etika nilai Max Scheler. Teori-teori ini mendasarkan diri atas suatu keyakinan bahwa hidup manusia secara kodrati mengarah pada suatu tujuan.

salah satunya adalah karena makna politik tidak lagi dipahami sebagai sebuah distribusi kekuasaan yang salah satu agendanya adalah kesejahteraan rakyat. terutama terhadap perempuan. penindasan. Secara terminologi. impunity dan feodalisme kekuasaan yang mengangkangi hukum. Berbicara politik lebih berorientasi untuk mengejar materi yang jembatannya adalah kekuasaan itu sendiri. program dan peraturan-peraturan partai lainnya. pengabaian kemiskinan. kemiskinan. Penerapan Nilai. Politik mengenal etika. Secara etimologi. perlu memotivasi perempuan untuk bersedia mengambil peran dalam kancah politik melalui sosialisasi. Pertama. terutama sejak anak-anak masih kecil. Kedua. memperkuat lembaga-lembaga strategis seperti pemerintahan daerah hingga gampong. Ketamakan dan kehausannya berwujud dalam sikap korupsi. perempuan dan laki-laki. setiap sila tidak dapat berdiri sendiri terlepas dari sila lainnya. Ia dapat dimaknai sebagai sebuah penggalian kemampuan manusia untuk menggunakan kemampuan daya pikirnya dalam upaya proses perubahan. memperkuat komunitas di tingkat akar rumput. Keempat. dan hubungan antaranya. Ketiga. dan perbedaan pendapat. Norma. pada akhirnya sering membenarkan kekerasan sebagai panglima digjaya. dan berbicara atas kepentingan kolektif (masyarakat) secara jujur dan sungguh-sungguh. apalagi penghancuran manusia. dan kebodohan. diantara sila satu dan lainnya tidak saling bertentangan. Budaya politik yang cendrung antagonis itu. Dalam pembentukan sistem etika dikenal namanya nilai. Kelima. yang lebih signifikan adalah. juga terhadap peraturan-peraturan internal partai baik AD/ART. Kekuasaan politik dikejar tak lebih untuk memperoleh pekerjaan dan jabatan. politik adalah strategi. kaum tertindas. soal kemiskinan. ketidakpedulian. ia juga tidak berisi permusuhan. kekerasan sosial. advokasi dan fasilitasi bagi kader politik perempuan. Mengingat tantangan etika politik ke depan adalah. dan Moral dalam kehidupan sehari-hari. serta adanya peraturan yang tegas dan dijamin dalam hukum (berupa sangsi) yang ketat terhadap proses-proses pengambilan kebijakan yang tidak menyertakan perempuan di setiap institusi. namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang sistematik. korupsi. meretas etika politik itu sedini mungkin melalui lingkungan keluarga: membiasakan pola relasi yang seimbang antara dua jenis manusia. a. norma dan moral. menghargai keberagaman. Maka.Setiap sila pada dasarnya merupakan azas dan fungsi sendiri-sendiri. membangun proses penyadaran akan pentingnya etika politik dalam setiap lapisan masyarakat. 4. justru peduli terhadap kaum minoritas. Politik tak beretika. keberagaman. pematangan konsensus bersama untuk mewujudkan keadilan bersama. kesenjangan sosial. dan pengabaian pada sejarah kekerasan di masa lalu dengan mengubur ingatan sosial. Pancasila adalah suatu kesatuan yang majemuk tunggal. Politik pun akhirnya bicara soal mata pencaharian yang instant. politik berarti memerdekakan manusia dari segala bentuk ketidakadilan. terutama perempuan agar melek politik. Penulis akan coba membahas pengertian tiap-tiapnya. pada tataran substansi. politik tentu tidak kejam. Pengertian . maka banyak strategi yang harus dilakukan. lembaga adat dan lembaga agama dengan mengintegrasikan etika politik di dalamnya.

. yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia.Nilai bersifat abstrak hanya dapat dipahami. Norma menjadi penuntun sikap dan tingkah laku manusia. dimengerti dan dihayatiolehmanusia. Nilai: kualitas dari suatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (lahir dan batin).Nilai dan norma senantiasa berkaitan dengan moral dan etika 4. bukan obyek itu sendiri Norma : Aturan tingkah laku yang ideal Moral : Integritas dan martabat pribadi manusia Sedangkan etika sendiri memiliki makna suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran dan pandangan moral. . norma dan moral langsung maupun tidak langsung memiliki hubungan yang cukup erat. b. misalnya penguasa atau penegak hukum 3.Nilai dapat bersifat subyektif bila diberikan olehs ubyek. Etika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang prinsip-prinsip moralitas. dan bersifat obyektif bila melekat pada sesuatu yang terlepasd arti penilaian manusia 2. yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.Nilai berkaitan dengan harapan. hanya nilai macam apa yang ada serta bagaimana hubungan nilai tersebut dengan manusia. Norma: wujud konkrit dari nilai. 5. yaitu: 1) Nilai material. atau kebutuhan material ragawi manusia. Banyak usaha untuk menggolong-golongkan nilai tersebut dan penggolongan tersebut amat beranekaragam. 3) Nilai kerokhanian. karena masing-masing akan menentukan etika bangsa ini. Norma hokum merupakan norma yang paling kuat keberlakuannya karena dapat dipaksakan oleh suatu kekuasaan eksternal.Nilai : Sifat atau kualitas yang melekat pada suatu obyek. dan segala sesuatu pertimbangan batiniah manusia . Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai. norma dan moral Nilai. Hubungan nilai.Moral dan etika sangat erat hubungannya. dipikirkan. Hubungan antarnya dapat diringkas sebagai berikut : 1. yang menuntun sikap dan tingkah laku manusia. 2) Nilai vital. yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohanimanusia nilai kerohanian ini dapat dibedakan atas empat macam yaitu : a) Nilai kebenaran b) Nilai keindahan c) Nilai kebaikan d) Nilai religious . keinginan.Makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang akan tercermin pada sikap dan tingkah lakunya. tergantung pada sudut pandang dalam rangka penggolongan tersebut. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga maacam. cita-cita.

Pengertian o Pancasila sebagai suatu kristalisasi dari nilai-nilai Budaya bangsa dituangkan dan diterapkan melalui peraturan perundang-undangan o Pancasila dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945 dan ditafsirkan oleh pasal-pasal batang tubuh UUD 1945. atau seluruh WNI untuk bertindak atau berperilaku dengan cara terteny sebagaimana diajarkan oleh Pancasila 7. 6. Formulasi Pancasila o BPUPKI bersidang tanggal 29 Mei-1 Juni 1945 bertugas merumuskan rancangan dasar negara sebagai arah kehiduoan bangsa yang akan merdeka. 4. dan Logia = kata / ajaran o Antoine Destut de Tracy (+1836). Tujuan Ideologi Pancasila Sebagai Etika Politik o Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai etika politik Kompetensi Dasar:  Mendeskripsikan Pancasila sebagai etika politik  Menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan etika politik  Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai etika politik 2. Pengertian Ideologi (1) o Ideologi = idein (Yunani) = melihat. o Ideologi=ilmu tentang terjadinya cita-cita atau gagasan. Pidato 29 Mei 1945 (Moh Yamin) o Peri Kebangsaan o Peri Kemanusiaan . Pengertian Ideologi (2) o Pengertian ideologi jarang dipahami sebagai ilmu mengenai gagasan atau idea sebagaimana pernha dikatakn de Tracy o Tetapi ideologi sebagai gagasan atau udea yang tujuannya bersifat politik. Supomo  Mr. ideologi = science des idees = ilmu yang mendasari ilmu-ilmu lain seperti pendagogik. o Pancaila sebagai sistem keyakinan yang memotivasi orang. kelompok masyarakat. atau juga ilmu mengenai gagasan atau buah pikir 5. PANCASILA o Ketuhanan Yang Maha Esa o Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab o Persatuan Indonesia o Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan o Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia 3. etika dan politik. o Tiga tokoh yang mengeluarkan formulasi pemikiran dasar negara adalah  Mr.Ideologi Pancasila Sebagai Etika Politik 1. Pancasila Sebagai Ideologi Negara o Pengertian ideologi oleh Daniel Bell dapat dipakai untuk memaknai Pancasila sebagai ideologi. M Yamin  Soekarno 8. o Daniel Bell menyatakan dewasa ini ideologi sebagai an action-oriented system of beliefs = sistem keyakinan yang memotivasi orang atau kelompok masyarakat untuk bertindak dengan cara tertentu sebagaimana diajarkan oleh ideologi tersebut.

yang sering menonjol adalah “sisi ular” ketimbang watak “merpati”-nya. betapa kita kaya sekali akan fosil.o Peri Ketuhanan o Peri Kerakyatan o Kesejahteraan rakyat atau keadilan sosial 9. Posisi Pancasila sebagai Ideologi o Ideologi dalam arti penuh o Ideologi terbuka o Ideologi implisit 12. Metafora sang filosof yang normatif dan simbolik itu sudah menjadi pengetahuan umum. Etika Politik dan Penerapannya Sri Sultan Hamengku Buwono Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pidato 31 Mei 1945 (Mr. Mahbub sendiri menulis kolom “Politik Kebun Binatang” untuk mengkritik tingkah laku politisi kita masa itu. dasar permusyawaratan o Prinsip kesejahteraan o Prinsip ketuhanan o Pidato akhir Soekarno ditutup dengan kelima prinsip dasar ini disebut Pancasila 11. Bahkan ekstimitas watak poltisi pun diasosiasikan dengan “watak binatang”1. Politisi kita diharapkan lebih berwatak hanif. liberalisme. para budayawan dan filosof kerap menggunakan kisahkisah perumpamaan “dunia binatang”. sosialisme. Jika kita sempat mengunjungi Museum Purbakala Sangiran. Sastrawan Inggris George Orwell mengarang fabel yang diterjemahkan almarhum Mahbub Djunaidi berjudul “Binatangisme”. Politik “Kebun Binatang” Memang. Supomo) o Paham negara persatuan o Budi pekerti kemanusiaan yang luhur o Moral yang luhur yang dianjurkan agama o Badan permusyawaratan o Sosialisme negara 10. Bahkan suatu ketika. ia juga punya watak ular yang licik dan jahat. serta selalu berupaya untuk memangsa merpati. yang terkenalnya adalah fosil manusia purba Pitecanthropus Errectus yang mirip “manusia kera”. Politisi memiliki watak merpati yang lembut dan penuh kemuliaan dalam memperjuangkan idealisme. ketika berbicara soal etika politik. pada sejak zaman dahulu. Tentu saja politisi kita bukan binatang. kapitalisme. Ideologi dalam Arti Penuh o Ideologi tertentu sudah memiliki pengertian yang lengkap pada dirinya sehingga pengertian lain tidak bisa danj tidak mungkin ditambahkan padanya o Ideologi ini diciptakan oleh penguasa dan dipaksakan keberlakuannya kepada masyarakat o Contoh: marxisme. walaupun ada istilah homo hopini lupus. Filosof Immanuel Kant pernah menyindir.dsb . dan sempat menyaksikan film dokumenter yang diputar untuk pengunjung. cinta dan konsisten pada kebenaran. fasisme. dasar perwakilan. konsevatisme. Celakanya. Tetapi. Pidato 1 Juni 1945 (Soekarno) o Kebangsaan o Internasionalisme o Mufakat. ada dua watak binatang terselip di setiap insan politik: merpati dan ular. . bukan melakukan “pembenaran”.

itulah yang terjadi di negeri ini. Yang ada hanyalah kebersaman fatamorgana. Sebuah kekaburan yang disebabkan kerena etika tidak dijadikan acuan dalam kehidupan politik. budaya. Prinsip menerima kebenaran pendapat lain sudah mati. Kemunduran etika politik para elite ini salah satunya ditandai dengan menonjolnya sikap pragmatisme dalam perilaku politik yang hanya mementingkan kelompoknya saja. Hal ini sangat ironis karena mengakibatkan hilangnya iman dalam kehidupan manusia. Uang menjadi penentu segala-galanya dalam ruang publik. Jadi jika kita tarik logika yang ada di kepala masing-masing kelompok. Inilah yang membuat publik terajari agar menerapkan orientasi hidup untuk mencari gampangnya saja. mengandung kekurangan yang bisa ditutup oleh pendapat kelompok lain. Artinya hanya diberi harapan tanpa realisasi.Uang adalah Panglima Etika. Sayangnya. Iman tidak lagi menjadi sumber inspirasi batin bagi kehidupan nyata. Politik tidak tersentuh oleh etika iman. Publik hanya disuguhi hal yang menyenangkan dan bersifat indrawi belaka. karena semua merasa benar sendiri. Keadaban kita sungguh-sungguh kehilangan daya untuk memperbarui dirinya. Etika politik yang berpijak pada Pancasila hancur karena politik identik dengan uang. kemunduran etika politik para elite dalam setiap jejak perjalanannya membuat kita menjadi “miris”. itu etika politik yang buruk. bila Pancasila dijadikan acuan dalam etika politik. . Di masa reformasi yang serba boleh ini. dan agama. 1998) mempunyai tujuan menerangkan kebaikan dan kejahatan. Kepentingan bangsa. menurut mereka bisa dibangun hanya melalui kelompoknya. Etika politik dengan demikian. seperti yang diajarkan oleh sila pertama dari Pancasila. Di sisi lain nasionalisme kita berubah menjadi “kebangsaan uang”. Rusaknya sendi-sendi ini membuat wajah masa depan bangsa ini kabur. pendidikan. padahal itu hanyalah kepentingankepentingan kelompok yang terkoleksi. Keadaban publik yang hancur inilah yang seringkali merusak wajah hukum. Tidak terlalu digubris bahwa nasionalisme kita hanya akan berkembang dengan subur di alam demokrasi ini. KeTuhanan Yang Maha Esa. Iman hanya sekedar simbol lahiriah yang menjelma dalam ritus dan upacara. dan tertimbun oleh arogansi untuk menguasai kelompok lain. Ini merupakan prasyarat dasar yang perlu dijadikan acuan bersama dalam merumuskan poltik demokratis yang berbasis etika dan moralitas. Hampir tidak ada kesepakatan di mata para politisi kita tentang akan dibawa ke mana bangsa ini. memiliki tujuan menjelaskan mana tingkah laku politik yang baik dan sebaliknya. Etika politik bisa berjalan kalau ada penghormatan terhadap kemanusiaan dan keadilan. Dan masing-masing kelompok berpikir demikian. atau filsafat moral (Telchman. Iman tidak terkait dengan tata kehidupan dan akibatnya dia tidak menjiwai kehidupan publik. (nyaris) tidak ada yang namanya kepentingan bersama untuk bangsa. Seolah-olah kepentingan bersama. Ketidakjelasan secara etis berbagai tindakan politik di negeri ini membuat keadaban publik saat ini mengalami kehancuran. Apa standar baik? Apakah menurut agama tertentu? Tidak! Standar baik dalam konteks politik adalah bagaimana politik diarahkan untuk memajukan kepentingan umum. Fungsi pelindung rakyat tidak berjalan sesuai komitmen. Jadi kalau politik sudah mengarah pada kepentingan pribadi dan golongan tertentu. dan tidak pernah mau menyadari di balik pendapat yang ia nyatakan.

seperti kekerasan. Demikian pula politik. . “run away”) menuju ke arah “jual-beli” menggunakan uang maupun sesuatu yang bisa dihargai dengan uang2. Sebuah rajutan koeksistensi di tengah kemajemukan tanpa dicemari fakta-fakta irrasional. Ke-berbagai-an dan ke-berbagi-an yang sayang sejak berdirinya bangsa ini tidak pernah diberi kesempatan belajar bagaimana hidup bersama dan berbagi secara rasional. Indonesia begitu majemuk. Itulah mengapa para pengkritik dan budayawan secara prihatin menyatakan arah etika dalam bidang politik (dan bidang lainnya) sedang berlarian tunggang-langgang (meminjam Giddens. Jadi etika politik lebih bersifat konvensi dan berupa aturan-aturan moral. penuh dengan perbedaan pendapat. kebohongan. politik berikut praktiknya perlu pula dibatasi dengan etika. dan mudah diabaikan tanpa rasa malu dan bersalah. sebagai bangsa. persoalan krusial yang belum terpecahkan sejak akta pendirian bangsa ini adalah mewujudkan tatanan hidup bersama secara rasional. Aneka kelompok. meregulasi. Untuk memaafkan fenomena tersebut lalu berkembang menjadi budaya permisif. daripada kekuasaan yang berwajah populis dan untuk kesejahteraan masyarakat.Memang benar alam raya ini penuh dengan perbedaan. rasa malu dan merasa bersalah bisa dengan mudah diabaikan. Ditunjang dengan alam kompetisi untuk meraih jabatan (kekuasaan) dan akses ekonomis (uang) yang begitu kuat. Etika politik yang bersifat umum dan dibangun melalui karakteristik masyarakat bersangkutan amat diperlukan untuk menampung tindakan-tindakan yang tidak diatur dalam aturan secara legal formal. Buktinya. Akibat luasnya cakupan etika politik itulah maka seringkali keberadaannya bersifat sangat longgar. karena untuk membuka seluasluasnya upaya mencapai kekuasaan (dan uang) dengan mudah. dan dengan cara apa pun. berkejaran dalam jagat keIndonesiaan. hegemoni. nilai etis politik kita cenderung mengarah pada kompetisi yang mengabaikan moral. melainkan juga disebut serba boleh. Bersamaan dengan menggelindingnya demokratisasi. Betapa sedih melihat ketika demokrasi yang kita rasakan dibangun oleh para elite dengan cara manipulatif dan penuh rekayasa untuk menjatuhkan lawan. dan tidak berkembangnya nilai-nilai tersebut sesuai dengan moralitas publik. dan sebagainya. Politik identik dengan cara bagaimana kekuasaan diraih. politik seringkali bermakna kekuasaan yang serba elitis. semua harga jabatan politik setara dengan sejumlah uang. Ke arah manakah etika politik akan dikembangkan oleh para politisi produk reformasi ini? Dalam praktik keseharian. bukan saja karena aturan yang hampa atau belum dibuat. ideologis maupun agamis. Akibatnya ada dua hal: pudarnya nilai-nilai etis yang sudah ada. Etika politik digunakan membatasi. semua serba boleh. ke-berbagai-an (kebhinekaan) dan keberbagi-an (resource sharing) yang sempat dibungkam secara ideologis semasa Orde Baru kembali bernapas. meski bertentangan dengan pandangan umum. Karena itulah. manipulasi. Budaya Demokratis Tidak dapat dimungkiri. Sehubungan dengan itu. Tanpa kita sadari. di samping aturan legal formal berupa konstitusi. Tapi di Indonesia perbedaan pendapat justru menjadi penghalang untuk mencapai visi bersama bangsa. Semua jabatan memiliki harga yang harus dibayar si pejabat. melarang dan memerintahkan tindakan mana yang diperlukan dan mana yang dijauhi. baik yang mengikat diri secara kultural.

legislatif. Demokrasi tanpa dibarengi budaya demokratis ibarat pelita tanpa minyak. Hasilnya. Melibatkan diri dalam hal ini bukan saja sebagai pengadil proses-proses politik. Pertikaian sosial hanya bisa diredam dengan tangan besi. Jika tiap-tiap warga negara dipandang sebagai rekanan dalam urusan politik. Damai lebih indah. Dimensi ketiga adalah diskursus demokrasi. Kewenangan pejabat-pejabat publik harus senantiasa dijadikan obyek strukturisasi publik. Demokrasi semata menetapkan prosedur-prosedur guna menjamin apa yang disebut democratic liberites. dan yudikatif berfungsi proporsional dan maksimal. Deliberasi individu harus berkonsentrasi pada argumen untuk menolak atau menerima sebuah aksi kolektif sehingga warga negara yang agendanya ditolak. dan menjalankan syariat agama. Sebagian democratic liberities yang umumnya dijamin adalah kebebasan berekspresi. Sebuah tatanan hidup bersama secara rasional membutuhkan lebih dari sekadar reformasi demokratis-prosedural. Masa jabatannya dibatasi dua kali. Lembaga eksekutif. Dimensi pertama adalah kedaulatan populis. kebebasan beragama tidak mengatur koeksistensi antarumat beragama. etika sosial pecah berantakan. Demokrasi cacat bila satu atau beberapa kelompok masyarakat memiliki defisit peluang dalam mengartikulasi keyakinan-keyakinannya dalam proses politik. Distribusi ekonomi yang timpang bisa jadi salah satu pemicunya. dan sebagainya. Demokrasi hanya retorika indah di seminar-seminar. Demokrasi prosedural seperti itu belum tentu menghasilkan etika sosial. dan kebersamaan. Pemilu multipartai dilangsungkan secara fair lima tahun sekali. Dimensi ini menuntut rakyat dan bukan pejabat publik yang berdaulat. Presiden dipilih langsung. Wajahnya centangperentang dan sukar disusun rapi. Masyarakat membutuhkan kedamaian bukan demokrasi. namun miskin secara praksis. Demokrasi diajukan ke meja hijau. Dimensi kedua adalah kesetaraan warga negara. tetapi juga sebagai partisipan aktif. Satu-satunya jalan adalah terwujudnya apa yang disebut budaya demokratis (democratic culture). Reformasi yang semata meluruskan prosedur-prosedur politik yang melenceng dari garis demokrasi. bukan sekedar kalah suara. Kebebasan berserikat bisa dijadikan alasan untuk menghukum para bidah. Disintegrasi! Itulah retorika magis yang membuka pintu bagi aparatur koersif untuk turun tangan. Musuh besar dimensi pertama demokrasi ini adalah segala bentuk previlese sosial. . ruang kuliah. Meski harus menjatuhkan diri kembali ke pelukan rezim tangan besi. kebebasan berekspresi bisa dijadikan jalan untuk mengobarkan sentimen anti-etnis atau agama tertentu. Tidak ada jalan lain. Ide-ide yang gegap-gempita di ruang-ruang penataran. dan media massa. paling tidak puas bahwa mereka berpeluang meyakinkan yang lain. Namun. Untuk itu. toleransi. Kesetaraan politik adalah kata kuncinya. Nyala rezim demokratis di berbagai belahan dunia meredup karena gagal mewujudkan budaya demokratis dalam masyarakatnya. Artikulasi gagasan didominasi donor-donor kaya. Dimensi ini menuntut setiap warga negara dipandang sebagai subyek hukum yang setara dalam melibatkan diri secara politis. Demokrasi dituduh meriuh-rendahkan kehidupan politik yang dulu senyap-sejuk. Bagaimana demokrasi bisa seiring dengan etika sosial. berserikat. peluang warga negara untuk mempengaruhi proses-proses politik harus dijamin setara. Dan. Demokrasi sendiri menuntut terpatrinya tiga dimensi kultural. mereka lebih dulu memposisikan diri sebagai individu yang bebas.Yang ada hanya kuliah-kuliah kering tanpa persatuan-kesatuan. Demokrasi dituding sebagai tidak indah.

Strategi pedagogis ini tentu membidik target jangka panjang. nalar publik. Pertama. filosofis. Prinsip nalar publik sederhana saja. Feodalisme adalah ketergantungfan in optima forma. nalar yang dipakai masih bersifat privat. diskursus politik yang fair dan setara. Otonom bukan berarti egosentris. Karena itu. Sasarannya adalah naiknya posisi tawar masyarakat dan menciptakan budaya kemandirian yang proaktif. Bagaimana membangun sebuah kultur demokratis? Tidak ada jalan lain kecuali menggelar strategi kebudayaan. menuntut tegaknya budaya demokratis. kemandirian dan kedua. kebohongan. bukan sebagai subyek diskursif yang setara. sektarian. Kultur feodalisme juga mengerem pertumbuhan civil society. Nalar yang cenderung tertutup. politik guna membela hak dan membebaskan warga negara dari ketergantungan politis lewat konsistensi dan advokasi. Potensi apatisme politik dalam masyarakat dikeraskan lewat perangkat koersif maupun ideologis. Sasarannya bukan mencari irisan kepentingan. adagium ini pulalah yang membuat kita untuk selalu tidak jenuh dan letih meneriakkan perlunya etika politik dalam mengemban . harus didasarkan pada satu argumentasi yang dapat diterima semua pihak yang berkepentingan. Politik ditafsirkan sebagai ajang cari makan dan status. Demokrasi yang beretika sosial menuntut enyahnya irasionalitas dari tatanan hidup bersama. Tiga dimensi demokrasi-kontrol populis terhadap pejabat-pejabat publik. Sebaliknya. Logika politik civil society bukan bukan politik praktis. Kelompok atau individu lain dipandang sekadar sebagai sarana. Ini harus dihayati betul oleh tiap individu atau kelompok dalam sebuah rezim demokratis. tetapi politik emansipatoris. Rezim Orde Baru dengan jeli memanfaatkan kondisi kultural ini. Padahal civil society berpijak pada logika politik yang berbeda. Sistem yang berfokus pada penciptaan individu-individu yang otonom dan kritis dalam daya pertimbangan. dan pemahaman “yang lain” (the others). pengenalan.Sensor. nalar publik mesti dijadikan sarana epistemik tiap perjumpaan ideologis. membangun sistem pendidikan yang menjadikan prinsip kemandirian dan nalar publik sebagai pijakan konseptual. pelajaran budi pekerti harus menekankan perjumpaan. Konkretnya. Kata kuncinya adalah understandability dan communicability. agamis. dan manipulasi adalah musuh-musuh utama dimensi ketiga demokrasi ini. Membudayakan nalar publik bukan tugas ringan. Budaya yang mengandung dua komponen pokok. Stuktur kultural feodalisme amat berseberangan dengan kultur kemandirian. Kebiasaan yang berulang dan menghasilkan pola yang dihayati bersama. maka kekuatan non-pemerintah diremehkan. Karier yang bagus berarti kantung tebal dan status sosial yang kian membumbung. dan tidak bisa menerima perbedaan. Dalam masyarakat yang sebagian besar masih dikungkung kubah-kubah primordial. Pola kultural yang belum sepenuhnya lepas dari masyarakat kita adalah pola-pola feodalisme. Untuk itu. kesetaraan politik warga negara. maupun ideologis. Artinya. tetapi efektifitas dan kesuksesan. Karena kekuasaan diagungkan. Kesimpulan Power tends to corrupt dan Ethics has no place in politics adalah dua adagium klasik dalam textbook ilmu politik yang ingin menunjukkan betapa mudahnya kita terperangkap pada kecenderungan berpolitik tanpa etika. Logikanya pun menjadi politik praktis: perebutan dan aksentuasi kekuasaan. Setiap klaim apakah itu moral. Strategi yang amat menentukan cerah-tidaknya masa depan demokrasi di negeri ini3. Budaya adalah struktur. Kultur yang menggantungkan segalanya pada kekuasaan dan melemahkan inisiatif publik.

Kritik dan Saran Setidaknya ada tiga muatan etika politik yang saya usulkan. Ketiga. soladiritas. Jakarta. Dalam kehidupan politik sehari-hari. kebhinnekaan. transparansi dan soladiritas. Kompas. watak baru yang berakar budaya. Pertama. etika politik bukanlah sekadar gagasan himbauan moral yang naif bila dikaitkan dengan kehidupan politik praktis seperti sinyalemen adagium di atas. akan melahirkan perilaku dan keputusan yang jauh lebih etis. “Etika Politik & Politisi Reformasi”. Semarang. Daftar Pustaka __________ Pidato Dies yang disampaikan dalam Temu Akbar Alumni Dies Natalis Ke-40 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Prasyarat pertama adalah prinsip kehati-hatian (principle of prudence). “Menyoal Dimensi Kultural Demokrasi“. membela rasa keadilan rakyat. “Dari Perbendaharaan Etika Politik”. sebuah tindakan yang memiliki motif untuk “memihak” kepentingan lebih luas dibanding dengan kepentingan sempit partai atau diri sendiri akan memiliki nilai etika yang jauh lebih tinggi dan terpuji. 2 Benny Susetyo Pr.tugas dan tanggung jawab bermasyarakat dan bernegara. Namun juga kedua aspek tersebut dapat diurai dalam bentuk nilai-nilai simbolik seperti trust. Prinsip yang ketiga adalah prinsip pilihan rasional (principle of rational choice) yang secara metodologis menimbang secara seksama atas manfaat dan biaya (costs and benefits) dari sebuah tindakan ataupun kebijakan dalam rangka kepentingan umum. Tajuk Rencana. stabilitas. 1 M Alfan Alfian. kebersamaan. kerukunan. Dalam prinsip ini. Sebuah tindakan atau keputusan yang memiliki manfaat yang sangat tinggi dan signifikan bagi kepentingan umum jauh lebih etis dibanding tindakan yang hanya melayani kepentingan pribadi ataupun kepentingan manuver partai politik yang sesaat. 8 Juli 2008. The Akbar Tandjung Institute. 3 Donny Gahral Adian. Universitas Diponegoro. 23 Mei 2005. Kesadaran akan pentingnya akuntabilitas. mengabdi Ibu Pertiwi demi kesejahteraan rakyat dan kemuliaan negara. sebuah prinsip yang “mempertanyakan” secara kritis tentang latar belakang berikut “pemihakan” dari sebuah tindakan ataupun kebijakan dari para pemegang kunci kekuasaan politik. Prinsip ini menyangkut pengukuran terhadap standar-standar yang digunakan di dalam menentukan sebuah tindakan ataupun kebijakan. Kedua. 22 Juli . dan kebangsaan Indonesia perlu dirajut ulang serta Pancasila ditegakkan kembali. secara otomatis. Opini. kita perlu mengingatkan pentingnya muatan etika politik sebagai acuan bersama bagi jagat perpolitikan kita. 3 Agustus 2008. ataupun loyalitas. Dalam teori politik. Prinsip kedua adalah prinsip tatakelola (principle of governance) yang berhubungan dengan masalah etika di dalam “proses” pengambilan keputusan ataupun penetuan tindakan. baik biaya (costs) maupun manfaat (benefits) tidak selalu hadir dalam bentuk fisik-material. Minimum ada tiga prinsip yang secara metodologis dapat dijadikan untuk mengukur muatan etika politik dari sebuah politik atau pun kebijakan publik4. Sinar Harapan. Dari uraian tersebut. berwatak progresif dan memihak bangsa.

sepertinya hal itu dapat dilakukan. dan melabelinya sebagai kaki tangan sebuah rezim kekuasaan. maka perlu juga dilihat noumena atau esensi dari fenomena itu. Ada satu hal yang selama ini menghantui penulis. “Tentang Etika Politik“. Pancasila menjadi korban. Pancasila sedang mengalami satu fase delegitimasi keberadaan. 9 April 2008. Pancasila sebagai Etika Politik:Ironi Pedoman hidup bangsa yang Diagungkan A.2002. Akhir-akhir ini kita tahu bahwa. sejak awal dirumuskan hingga sekarang ini. menjadi pedoman dan cara pandang bersama sebagai sebuah bangsa yang beraneka ragam? Atau ia hanyalah sebuah slogan yang didengungkan sebagai sebuah pilihan-pilihan politis para founding father kita untuk melegitimasi atau mengukuhkan keberadaan bangsa . dengan begitu sudut pandangnya tidak hanya dibatasi pada tataran luaran yang nampak. Pancasila sekarang sudah tidak sakti lagi. Korban yang diperalat. tetapi juga berupaya melihat apa yang sedang terjadi di dalam. terkait dengan Pancasila ini. dan korban untuk dijadikan kambing hitam. Melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Pancasila. di mana sebagai sebuah pandangan hidup sebuah bangsa ia tak lagi “diakui” sebagai pedoman hidup bersama. Begitulah nasib Pancasila. meski kita masih sering mendengar tiap tahunnya pada akhir bulan September dan awal Oktober selalu ada peringatan hari Kesaktian Pancasila. pada masa-masa Orba (orde baru). Dan sebagai generasi yang hadir hidup di tengah pergumulan “hidup-mati‟ Pancasila. Pendahuluan Adakah terdengar lagi gaung Pancasila dalam kancah kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini? Agaknya untuk melihat hal itu. perlu penelaahan yang cukup luas sudut pandangnya. Atau dapat dikatakan bahwa jika Pancasila dilihat sebagai sebuah fenomena. Kompas. Apakah Pancasila benar-benar ada dalam diri bangsa ini. Reformasi 1998-1999 telah mencabik-cabiknya. 4 Kastorius Sinaga.

serta kegiatan-kegiatan lain dari berbagai lembaga sosial. pembagian (distribution). kekuasaan (power). terhadap Tuhan. Hanya sebagai legitimator yang sekali-kali digunakan kala dibutuhkan. yang mencangkup kehidupan kenegaraan. penentuan dan pelaksanaan kebijakan negara tentang berbagai hal menyangkut kepentingan publik. Mengingat manusia memang memiliki kedua dimensi itu. Masuk dalam kategori filsafat praktis. etika adalah anak cabang dari filsafat. Begitulah etika sebagai bagian dari filsafat praktis bekerja. Bukan hanya berkenaan dengan sistem kenegaraan atau hubungan antar negara misal. Pertama. Pembahasannya langsung mengarah pada tindakan dan bagaimana manusia harus berbuat. Sebagai individu manusia memiliki kewajiban-kewajiban terhadap dirinya sendiri. Filsafat praktis ini diupayakan untuk memberi pemahaman pada manusia dalam mengarahkan tindakannya. Pintu Masuk Pembahasan Dalam pembagian cabang-cabang ilmu pengetahuan. dan alokasi (alocation). Pancasila sebenarnya telah hadir dalam kelokalan-kelokalan bangsa ini yang kemudian disintesiskan dan dinyatakan sebagai sebuah pedoman hidup bersama oleh kelompok-kelompok lokal yang telah menyatu. Kemudian pun etika masih dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial. Kedua. Sedangkan dimensi politik dalam etika politik di sini adalah dimaksudkan ada dalam pengertiannya yang lebih luas. Manusia hidup karena . partai politik dan organisasi keagamaan yang berkaitan langsung dengan kehidupan kemasyarakatan dan negara yang dibatasi oleh konsep-konsep negara (state). Secara kasar dapat disebutkan bahwa segala tindakan manusia atau bahkan manusia itu sendiri tidak akan lepas dari orientasi dan moda-moda politik. Dengan Pancasila adalah produk ide-ide yang sebenarnya tidak pernah diperlukan. pemerintahan. pengambilan keputusan (decission making).Indonesia. Jiwa dulu atau badannya yang ada? A. tetapi di sini pengertian itu diperluas lagi ke dalam tataran manusia sebagai makhluk yang berpolitik. Sedangkan sebagai makhluk sosial. Dengan cara lain kita dapat melihat hal itu. Pancasila ada sebagai pedoman bangsa setelah dirumuskan dan ditetapkan sebagai pedoman hidup bangsa ini. berkenaan dengan nilai-nilai moral yang menentukan sikap dan tindakan antarmanusia. Tak pernah benarbenar menjadi pedoman hidup bangsa ini. manusia diarahkan untuk mengatur hidup sesuai dengan garis kodrat mereka sebagai makhluk sosial. Sebagai individu dan makhluk sosial. dan wilayah-wilayah hidup mereka yang berkenaan dengan sisi individual.

Tanggal 29 Mei. ketuhanan yang Maha Esa. dalam Pancasila sebagai Etika Politik. negara yang kita bentuk harus berdasarkan aliran pikiran kenegaraan kesatuan yang bersifat . Dr. Sedangkan versi tulisannya. peri kerakyatan. Tiga orang ini dalam tiga hari berurutan berargumen di hadapan anggota sidang. Dalam sidang hari berikutnya. maka kita dapat memberi kesimpulan awal bahwa Pancasila adalah pedoman hidup bersama kita. yang disertai hak dan kewajibannya. terlebih dahulu membacakan dan menyerahkan usulannya. Moh. adalah tonggak baru sejarah bangsa Indonesia dalam upaya menjadi diri sebagai bangsa yang merdeka. rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Soekarno. sebagai warga negara. para founding father kita “bersitegang” mempersoalkan dasar atau falsafah negara yang akan digunakan. Prof. A. Baik sebagai warga dunia. Dengan melihat dua dimensi ini. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Soepomo menyampaikan usulannya. Pada masa itu. peri kebangsaan. dan sebagai makhluk Tuhan. Dalam tiga hari inilah. sebagi anggota masyarakat. dan kesejahteraan rakyat. peri ketuhanan. Pancasila lahir dari sidang BPUPKI yang pertama. Dengan kata lain Pancasila adalah moral identity kita. secara resmi diumumkanlah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritzu Zyundai Tjosakai oleh Panglima Tentara XVI Letjen Kumaici Harada. dan Ir. Kita dikenali karena kita memiliki Pancasila dalam diri kita sebagai pedoman hidup bersama. yang diselenggarakan tanggal 29 Mei-1 Juni 1945. Yang meliputi. sebagai warga negara. kerakyatan yang dipimpin oleh hidmat kebijaksanaan dalam permusyawatan/ perwakilan. Versi lisan yang diusulkan beliau adalah. Mohammad Yamin. Badan ini memiliki tugas untuk menyelidiki dan merumuskan dasar dan rancangan undang-undang dasar Indonesia. Di antara beberapa orang yang mengusulkan draft dasar negara adalah Prof. Sebagai warga dunia. Melihat Ulang Kesejarahan Pancasila Awal bulan ketiga tahun 1945. sebagai anggota masyarakat. Dr. sebagai individu. Soepomo. kebangsaan persatuan Indonesia. Secara kodrati sebagai makhluk individual atau sosial manusia akan memerlukan aturan-aturan atau norma-norma untuk dapat menjalani hidupnya. Kata kunci dari dimensi politik ini adalah kaitannya dengan hak dan kewajiban manusia. etika dan politik.berpolitik. Yamin. yang mengatur bagaimana kita bersikap dan bertindak antar satu dengan lain.

M. Ir. Yang isinya adalah rumusan Pancasila berikut ini. Karena kita langsung dapat menganalisanya sendiri dengan membandingkan tiga usulan di atas dengan Pancasila yang ada sampai sekarang ini. setiap warga dianjurkan untuk hidup berketuhanan tetapi urusan agama terpisah dari urusan negara. 4. Mencermati Lima Sila Abdul Hadi W. Kemudian juga mengusulkan dasar negara yang meliputi. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan 5. dibentuk Badan Musyawarah agar pemimpin negara bersatu jiwa dengan wakil rakyat. kebangsaan Indonesia-nasionalisme. usulan-usulan ini disintesiskan oleh Panitia 9 yang dibentuk oleh BPUPKI. Soekarno menyampaikan pidato filsafat dasar negaranya dengan rumusan. negara Indonesia yang besar atas semangat kebudayaan Indonesia asli. Kita tidak hendak melihat pergumulan ide antara ketiga orang ini atau alotnya sidang perumusan dasar negara ini. persatuan. kewargaan. dan menghasilkan sebuah dokumen dengan nama Piagam Jakarta. musyawarah dan keadilan sosial. dalam makalahnya[1] menyatakan bahwa Pancasila adalah landasan ideologis berdirinya NKRI merupakan sekumpulan sistem nilai. 1. Konsep siapa yang digunakan dan siapa yang menang. karena kesadaran bahwa Indonesia merdeka dan terbentuk bukan hanya karena umat Islam. Namun. Penduduk Indonesia yang mayoritas umat Islam tentu merasa senang hati dengan adanya tujuh kata ini. tujuh kata itu dihapus. timbul polemik yang sangat tajam antara para elit tokoh Indonesia terkait dengan tujuh kata pada sila pertama. atas usul Bung Hatta. tolong menolong dan sistem kooperasi. Hari berikutnya. menjadi Ketuhanan yang Maha Esa. 2. kesejahteraan sosial. mufakat atau demokrasi. sistem ekonomi diatur berdasarkan azas kekeluargaan. Sebagai sistem nilai yang . kesinambungan lahir batin. Dan kemudian pada tanggal 22 Juni. dan ketuhanan yang berkebudayaan. Keadilan sosial bagi seluruh Indonesia Setelah Indonesia diprokamirkan merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. A. 3. dan demi menangkal perpecahan pada negeri yang baru lahir.integralistis atau negara nasional yang bersifat totaliter. perikemanusiaan-Internasionalisme.

yang terakhir ini dalam bentuk bantuan. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.. Dan seperti apa yang dikatakan Abdul Hadi W.M. semangat persatuan. sila ini menjadi pengayom bagi sila yang lain dalam prakteknya. dan dan semangat keadilan berjalan dengan berlandaskan pada Ketuhanan. Keadilan di sini seperti yang dikatakan Abdul Hadi W. adalah Keadilan yang mencakup tiga bentuk keadilan: (1) Keadilan distributif: menyangkut hubungan negara terhadap warganegara. tercermin dalam bentuk ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam negara. Semangat kemanusiaan. Sila kelima. Persatuan Indonesia. berarti bahwa negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam membagi kemakmuran. Sila pertama.[2] A. sila ini dapat diartikan bahwa setiap warga negara Indonesia memperoleh perlakuan yang adil dan beradab. Titik Awal Menghidupkan Kembali Pancasila Sebagai Etika Politik Bangsa . Penutup. kesejahteraaan penghasilan negara. Di dasari oleh tiga sila sebelumnya.dijadikan pedoman hidup sebuah bangsa Pancasila adalah jiwa yang menghidupi kehidupan bangsa ini. (2) Keadilan legal. Sila kedua. Bangsa ini adalah mozaik yang terdiri dari fragmen-fragmen yang membentuknya. Satu nilai yang menjadi ciri bangsa ini adalah kebersamaan dan suka bermusyawarah dalam menentukan satu kebijakan demi kepentingan bersama. Sila ini paling tidak menggambarkan bahwa bangsa ini adalah satu keluarga besar yang di dalamnya didasari adanya kesadaran perbedaan satu sama lain. Dan secara luas. yaitu keadilan dalam kaitannya dengan hak dan kewajiban warganegara terhadap negara. Ketuhanan yang Maha Esa ada pada puncak pedoman hidup bangsa Indonesia. (3) Keadilan komutatif: yaitu suatu hubungan keadilan antara warga dengan warga lainnya secara timbal balik. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/Perwakilan.M. subsidi dan kesempatan untuk hidup bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban yang setara dan seimbang. Dari perbedaan inilah sebenarnya bangsa ini ada. Bahwa setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama tanpa harus dibeda-bedakan. Secara sempit atau ke dalam. semangat kerakyatan. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila keempat. bangsa Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian. Sila ketiga.

maka kita memang perlu melihat kembali sila-sila Pancasila. Pancasila adalah tetap Pancasila yang tetap terbuka bagi semua golongan dan nilai-nilainya akan terus termutakhirkan sesuai dengan perkembangan zaman.Dari pencermatan pada lima sila ini. berarti bangsa Indonesia secara khas memang memiliki nilai-nilai atau pedoman yang berkesuaian dengan Pancasila setelah dirumuskan. Nurcholish Madjid. yang bermasalah apakah Pancasila ataukah manusia-manusianya. Pertanyaan ini muncul karena terkait dengan fenomena sekarang ini. Sebenarnya tidaklah begitu penting apakah Pancasila hadir menjiwai terlebih dahulu sebelum badannya dirumuskan. kembali pada pertanyaan di atas bahwa apakah Pancasila hadir sebagai jiwa dahulu ataukah badannya terlebih dahulu? Jika Pancasila hadir dalam diri bangsa ini sebelum badan Pancasila itu dirumuskan. “Pancasila adalah sebuah ideologi. berarti ada kesepakat berikutnya tentang nilai-nilai baru yang terbentuk yang harus dipatuhi dan jadikan pedoman besama. berarti bukan Pancasilanya yang bermasalah. juga dalam tataran praktisnya. Namun. seperti yang dikatakan oleh Prof. Atau bahkan kita melepaskan itu semua. Bahwa Pancasila tidak lagi relevan adalah omong kosong belaka. didasari ketakberdayaan kita dalam menghadapi gerusan arus globalisasi. dengan melihat kondisi saat ini. kemudian bangsa ini menghayati nilai-nilainya. Bahan Bacaan dan Rujukan . Terakhir. fenomena akan ketidakpercayaan bangsa Indonesia pada Pancasila.”[3] Jadi manusia-manusianya yang kepribadiannya tergerus. Hanya saja ada implikasi yang dapat digunakan untuk menganalisa masalah delegitimasi Pancasila akhir-akhir ini dengan melihat itu mana yang hadir terlebih dahulu. Maka para pemuka Islam pun harus tanggap kepada masalah ini. Atau paling tidak sudah cukup dapat menampung watak dan kepribadian itu. Atau pe-marginal-an Pancasila dari kehidupan bangsa ini. Dr. Tetapi jika badannya terlebih dahulu yang hadir. masih menjadi pekerjaan rumah. Ketika melihat Pancasila sebagai jiwa yang hadir terlebih dahulu. Dan jika kemudian. yang bukan hanya diteliti dalam tataran teoritis atau sekedar wacana saja. maka itu berarti terbuka lebar adanya kesempatan untuk semua kelompok sosial guna mengambil bagian secara positif dalam pengisian dan pelaksanaannya. jika yang hadir terlebih dahulu adalah badannya. dengan nilai-nilai positif dan negatifnya. atau sebaliknya. Sudahkan hal itu sesuai dengan watak dan pribadi bangsa ini.

Filsafat mempertanyakan segala sesuatu. apakah ”dasar” dari kehidupan suatu ”polis”?2) Kedua. ”Common sense” adalah pengetahuan sehari-hari. Pancasila Sebagai Dasar Negara. yaitu perspektif instrumental. asas etika politik dan acuan kritik ideologi — Document Transcript  1. 2007 Abdul Hadi W. Tetapi salah satu ciri khas manusia adalah ”mempertanyakan”. kemanusiaan akan meredup tak lama kemudian. Pengantar Sebagian besar dari kehidupan kita. Tiga Fungsi Filsafat Ada begitu banyak pengertian mengenai filsafat dan cara berfilsafat serta corak filsafat. taken for granted. yang tidak tertampung dari suatu konsep yang sekarang kita miliki. yaitu semakin menjadi manusiawi. Sejak awal filsafat Yunani telahdipertanyakan apakah ”dasar” dari dunia kita. Mempertanyakan siapakah dan apakah aku ini adalah awal dari filsafat manusia.2. kita dibebaskan dari jawaban yang tidak dipertanyakan. Bahkan ada ”ekses” dari realitas. apakah ”dasar” dari perubahan. ”interrogating”.” makalah ini disampaikan pada mata kuliah Pancasila di ICAS Jakarta. Ia tidak puas dengan ”common sense”. apakah ”dasar” dari persamaan dan perbedaan manusia.M. Dalam setiap pertanyaan kita mengatakan ”tunggu sebentar”: ada yang lebih dari ini atau itu. Ensiklopedia Cak Nur. ”Pahamilah dirimu”demikian kata Sokrates. tetapi kita andaikan ”benar”. termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. yang diandaikan benar. Jakarta.“Pancasila sebagi Etika Politik dan Dasar Negara.Mempertanyakan manusia berarti mencari jalan bagaimana manusia mencapai tujuan hidupnya. Dalam pengertian ini bila filsafat harus mati. Paramadina. Berhenti bertanya hanya akan berakibat kemandekan dan berhentinya perkembangan. tetapi juga ’disiplin (ilmu) yang membebaskan’. ia terdorong untuk mengangkat apa yang dialami menjadi pertanyaan. Asas Etika Politik dan Acuan Kritik Ideologi1. filsafat mempertanyakan dan mencari ”dasar”. mencari dan . ”interrogating” kita mengatasi ”common sense”. ”adayang lebih” yang terbelenggu oleh berbagai struktur yang melilit kita. lebih jauh dari ilmu pengetahuan. 06 November 2006 Pancasila sebagai dasar negara.1) Pertama. dimana manusia ingin memperoleh makna dari dirinya.Ilmu pengetahuan mempertanyakan dan mencari jawaban atas pertanyaannya untuk digunakan bagi kepentingan manusia.Dalam arti apa? Manakala kita mengangkat pertanyaan. filsafat mempertanyakan.Mempertanyakan. apakah ”dasar” dari kebebasan manusia. yaitu jawaban berdasarkan ”common sense” semata. yang tidak kita pertanyakan kebenarannya. Dalam kaitan ini filsafat tidak hanya merupakan ”disiplin (ilmu) yang mempertanyakan”. interrogating adalah awal dari perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat. khususnya yang menyangkut ”nasib” diri manusia. Di depan sudah dikatakan bahwa filsafat itu berkembang dengan ”mempertanyakan”. Dalam kaitan dengan Pancasila. Begitu kita mengajukan ”pertanyaan”.Rahman.Ilmu pengetahuan mempertanyakan segala sesuatu termasuk manusia sampai batas tertentu atau dalam perspektif tertentu. ada sedikitnya tiga fungsi filsafat. Budhi Munawar. yang saling terkait satu dengan lainnya. kita lewatkan atas dasar ”common sense” atau yang kerapkali disebut sebagai ”akal sehat”. atau kehidupanpolitik.

sebetulnya yang dimaksudkan tidak lainadalah Pancasila sebagai dasar negara. Undang-undang ialah pelaksanaan daripadapokok itu dengan Pancasila sebagai penyuluhnya.bersatu. adil dan makmur. sedangkan istilah ”politik” (politics). Sangat lah tepat pertanyaan yang diajukanoleh Ketua BPUPKI. karena memuatnya di dalamnya Pancasila sebagai Ideologi negara. yang diminta oleh Paduka tuan Ketua yang mulia ialah dalambahsa Belanda: ’philosophische grondslag’ dari pada Indonesia Merdeka. adalah dasar mengatur politik negara danperundang-undangan negara. asal dan tujuan hidup manusia. sebagaimana dikatakan Bung Hatta. yang memberikanarah kemana bangsa dan negara harus dibangun atau suatu dasar rasional.”Dasar Negara” dapat disebut pula ”ideologi negara”. filsafat berfungsi pula sebagai kritik ideologi.beserta dua pernyataan lainnya yang menjadi bimbingan pula bagi politik negeri seterusnya.bukan sesuatu yang netral.Dengan ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara. jiwa. yang begitu saja dapat dijabarkan dalam tindakan. filsafat.filsafat 2.Pengetahuan dan kekuasaan saling berpautan. apakah batas kekuasaan politik?Siapa memiliki hak untukmelaksanakan kekuasaan politik itu? Isu-isu apa yang relevan bagi politik? Kalau dalam masaYunani kuno ”yang sosial” dan ”yang politik” terjadi tumpang tindih. seperti dikatakan oleh MohammadHatta: ”Pembukaan UUD.Dari uraian di atas. filsafat Pancasila sebagai etika politik. termasuk kritik terhadap distorsi dan penyalahgunaan Pancasilasecara ideologis. meskipun pada jaman itumodel alternatif terhadap ideologi-ideologi besar (liberalisme dan sosialisme) masih terbatas.dianggap sendi daripada hukum tatanegara Indonesia. terutama kebebasannya. Filsafat Pancasila dapat dilihat pertama.Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mendorong warga negarauntuk berperilaku etis dalam politik.yaitu prinsip-prinsip atau asas membangun negara. yang membelenggu manusia.3. maka akanmenjadi pandangan hidup atau Weltanschauung.”*2+Kalau seringkali dikatakan mengenai ideologi Pancasila. tetapi suatu orientasi. sementara dalam modernitas halitu tidak terjadi. tetapi harus dilandasi nilai-nilai etis. Pancasila sebagai Dasar NegaraFungsi filsafat yang pertama adalah mempertanyakan dan menjawab ”apakah dasar dari kehidupanberpolitik atau kehidupan berbangsa dan bernegara. Seringkali dikatakan bahwa filsafat mempertanyakan nilai dari suatu realitas dan tindakan manusia. ”ideologi negara”.Para ”founding fathers” sejak awal telah melakukan suatu ”kritik ideologi”.Marx telah memberi contohbagaimana melakukan suatu kritik ideologi terhadap ideologi kapitalis. kehidupan politik memiliki dimensi etis. pikiran yang sedalam-dalamnya. Pancasila sebagai kritik ideologi.*3+ Ini mempunyai implikasi pada masalah sejauhmana ’ruang lingkup politik’. Radjiman Wediodiningrat di hadapan rapat BPUPKI bahwa ”NegaraIndonesia yang akan kita bentuk itu apa dasarnya”? Soekarno menafsirkan pertanyaan itu sebagaiberikut: ”Menurut anggapan saya.3) Kedua. Istilah ”yang politik” menunjukkandomain. atau lingkup dimana deliberasi terjadi.5. Dr. yang merupakan hasilkonsensus mengenai asumsi-asumsi tentang negara dan bangsa yang akan dibangun. sebagai eksplisitasi secara filosofis Pancasila sebagai dasar negara. berdaulat. Jadi Pancasila bukanlah suatu ”doktrin” yanglengkap. Pancasila sebagai dasar etika politikDengan dipilihnya Pancasila sebagai dasar hidup bernegara dan berbangsa atau sebagai dasarhidup berpolitik. kedua. Adadua tradisi mengenai konsepsi ”yang sosial” dan ”yang politik” dan interaksi antara keduanya. hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka*1+.4. Philosophischegrondslag itulah fundamen. ketiga.Apabila nilai-nilai Pancasila ini dapat ditransformasikan ke dalam ethos masyarakat.Maka filsafat dapat mencerahi kehidupan manusia. supaya terdapat Indonesia merdeka seperti dicita-citakan: merdeka. maka politik tidaklah netral. merujuk kepadaaktivitas yang terjadi dalam lingkup itu. Itulah salah satutugas filsafat politik: mencerahi makna berpolitik dan mengeksplesitkan nilai-nilai etis dalam politikyang didasarkan atas Pancasila. . Filsafat berusaha untuk membuka selubung dari berbagai sistem pemikiran. menemukan makna dari realitas disekelilingnya. Pancasila Sebagai Acuan Kritik IdeologiAgnes Heller membedakan ”yang politik” dengan ”politik” (politics).

sehingga menjadi mandeg. Politik di dalam demokrasi liberal kapitalis didasarkan pada premis konsepsi mengenai individusebagai unit utama moral dan politik. Utopia dapat bersifat ”subversif”. Bangsa Indonesia telah menegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. melulu ”liberal” ataumelulu ”sosialis”.Kritik terhdap ideologi demikian pada abad ke 19 dilontarkan oleh Marx. Dari sebab itu kelima nilai Pancasila itu berlaku bagi perseorangan maupun sebagai masyarakat. maka selalu bisa dikritik. Namun negara haruslah berintervensidalam ekonomi dan masyarakat. menggoncangkan sistem-sistem yangdibangun berdasarkan orientasi ideologi. Secara etimologis Pancasila berarti lima asa kewajiban moral. Maka atas dasarPancasila itu pula dapat dilakukan kritik.Namun dengan berkembangnyademokrasi dan kewarganegaraan.Sistem yang dibangun tidak pernahmerupakan perwujudan utuh dari Pancasila. Jika manusia . yang menyatakan bahwakewarganegaraan modern lebih menguntungkan individu dari kelas borjuis. Tak ada lagi ideologi yang murni.*4+ Dengan demikian ”yang politik”lebih masuk ke dalam ”yang sosial”. Pancasila dan UUD 1945 mencari keseimbangan dan perpaduan antara keduanya. dimana nilai-nilai tersebut melekat pada kodrat setiap individu. Dengan demikian Pancasila juga merupakan moral negara. sepertidikemukakan oleh Daniel Bell. Mungkin dapat dikatakan dari perspektif ini Pancasilamerupakan ”utopia”.Bisa terjadi juga Pancasila sebagai ”ideologi” membenarkan dan meneguhkan sistem yangdibangun untuk kepentinan kelompok tertentu. lebih dari masa sebelumnya. Yang dimaksudkan dengan norma adalah prinsip atau kaidah yang memberikan perintah kepada manusia untuk melakukan sesuatu atau suatu larangan bagi manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Oleh karena itu Pancasila dapat disebut sebagai moral bangsa Indonesia. Nilah salah satu makna ”akhir dari ideologi”. kesejahteraan dan jaminan sosial.Dinamika Pancasila terletak dalam ketegangan antara ”ideologi” dan ”utopia”.Asumsinya ialah bahwa individu dengan usahanya sendiri dapat memenuhikebutuhannya tanpa terlalu banyak intervensi dari negara. 3. Pada abad ke 20negara-negara modern telah menyesuaikan diri dengan kritik ini dengan memperluas ”hak-haksosial” pada kesehatan.Dengan memahami norma-norma.Hak-hak ini memberikan prioritas kepada kepentingan pribadi individual di ataskepentingan umum. Pancasila sebagaiideologi memberi arah pembangunan sistem soasial dan politk. model liberal dianggap tidak memadai. yaitu moral yang berlaku bagi negara. Yang dimaksud dengan moral ialah keseluruhan norma dan pengertian yang menentukan baik atau buruknya sikap dan perbuatan manusia. Pancasila Sebagai Etika Moral Politik Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang telah disahkan sebagai dasar negara adalah merupakan suatu kesatuan utuh nilai-nilai budi pekerti atau moral. manusia akan tahu apa yang harus atau wajib dilakukannnya dan apa yang harus dihindari.Karenaya hak dan kebebasan didefinisikan lebih dalamkerangka individual. Selain itu Pancasila merupakan gagasan fundamental tentang kehidupan manusia. Utopia dapat menciptakan kreatifitas dengan imajinasisosialnya.

sebaliknya jika melanggar disebut jahat. Dalam hal ini pengadilanlah sebagai lembaga yang mewakili masyarakat resmi untuk menjatuhkan hukuman. Masyarakat secara resmi (negara) diberi kuasa untuk member sanksi atau menjatuhkan hukuman. Tanpa dibuatkan norma. Pengalaman sejarah pernah menjadikan Pancasila sebagai semacam norma etik bagi perilaku segenap warga negara bangsa.Akhirnya yang tampak dalam kehidupan dan melingkupi kehidupan kita adalah norma. berbeda pula sopan santunnya. Dengan demikian pada dasarnya norma adalah perwujudan dari nilai. yaitu sebagai berikut : Norma Agama Norma ini disebut juga dengan norma religi atau kepercayaan.mematuhi perintah norma disebut baik. Terdapat hubungan antara nilai dengan norma. terbatas secara lokal atau pribadi. Sanksi atas pelanggaran norma kesopanan berasal dari masyarakat setempat. Norma Kesopanan Norma kesopanan disebut juga norma adat. Sebuah nilai mustahil dapat menjadi acuan berprilaku kalau tidak diwujudkan dalam sebuah norma. Norma moral atau etik adalah norma yang paling dasar. Sopan santun di suatu daerah tidak sama dengan daerah lain. Norma atau kaidah adalah aturan pedoman bagi manusia dalam berprilaku sebagai perwujudan dari nilai. Norma kepercayaan dan keagamaan ditunjukkan kepada kehidupan beriman. Norma moral menentukan bagaimana kita menilai seseorang. Daerah berlakunya norma kesopanan itu sempit . Norma Moral (Etika) Norma ini disebut juga dengan norma kesusilaan atau etka atau budi pekerti . Norma yang tepat sebagai penjabaran atas nilai dasar Pancasila tersebut adalah norma etik dan norma hukum. kepatuhan atau kepantasan yang berlaku dalam masyarakat. Norma yang kita kenal dalam kehidupan shari-hari ada 4 (empat). Berbeda lapisan masyarakat. Norma kesusilaan berhubungan dengan manusia sebagai individu karena menyagkut kehidupan pribadi. Norma hukum berasal dari kekuasaan luar diri manusia yang memaksakan kepada kita. Norma Hukum Norma hukum berasal dari luar diri manusia. Nilai yang abstrak dan normative dijabarkan dalam wujud norma. Sumber norma ini adalah ajaran-ajaran kepercayaan atau agama yang oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai perintah Tuhan. Yaitu Ketetapan MPR No. Pancasila menjadi semacam etika perilaku para penyelenggara negara dan masyarakat Indonesia agar sejalan dengan nilai normative Pancasila itu sendiri. tata karma atau norma fatsoen. Jadi. Norma sopan santun didasarkan atas kebiasaan. Pancasila dijabarkan sebagai norma etik karena pada dasarnya nilai-nilai dasar Pancasila adalah nilai-nilai moral.Tuhanlah yang mengancam pelanggaran-pelanggaran norma kepercayaan atau agama itu dengan sanksi.II/MPR/1998 tentang P4 dapat dianggap sebagai etika sosial dan etika politik bagi bangsa Indonesia atas nilai-nilai Pancasila. sopan santun. Pancasila harus dijabarkan kedalam norma agar praksis dalam kehidupan bernegara. Norma ini ditujukan terhadap kewajiban manusia kepada Tuhan dan dirinya sendiri. nilai tidak bisa praksis artinya tidak mampu berfungsi konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seperangkat nilai dasar. Penataran P4 dan segala atributnya dianggap gagal bukan karena kesalahan nilai .

Bernegara karena merekalah yang menyelanggarakan negara dan menjadi contoh bagi bagi rakyatnya. bangsa maupun negara maka nilai.nilai tersebut di jabarkan dalam suatu norma-norma yang jelas sehingga merupakan suatu pedoman. atau .com/2010/10/pancasila-sebagai-etika-politik. Etika merupakan suatu pemikiran kritis yang mendasar tentang ajaranajaran dan pandangan-pandangan berhadapan dengan moral . Justru para penyelenggara negaralah yang seharusnya memiliki nilai dan norma. PENGERTIAN ETIKA Etika termasuk kelompok filsafat praksis dan di bagi menjadi dua kelompok yaitu etika umun dan etiika khusus. Para pejabat negara malahan banyak menyimpang dari apa yang dipidatokan kepada warga negara. bernegara dan bermasayarakat. Adapun manakala nilai-nilai tersebut akan di jabarkan dalam kehidupan yang bersifat fraksis atau kehidupan yang nyata dalam masyarakat. yang pada gilirannya harus di jabarkan lrbih lanjut dalam norma-norma etika. dan bermasyarakat. Memberikan landasan etik moral bagi seluruh komponen bangsa dalam menjalankan kehidupan kebangsaan dan berbagai aspek 2.blogspot.htm PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK Sebagai suatu nilai. Menjadi kerangka acuan dalam mengevaluasi pelaksanaan nilai-nilai etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikitu suatu ajaran moral tertentu. Di era sekarang ini tampaknya kebutuhan akan norma etik untuk kehidupan bernegara masih perlu bahkan amat penting untuk ditetapkan. pancasila memberikan dasar-dasar yang bersifat Fundamental dan universal bagi manusia baik dalam hidup bermasyarakat. berbangsa dan bernegara. 3. bernegara. Menentukan pokok-pokok etika kehidupan berbangsa. Norma-norma tersebut meliputi: (1) Norma moral yaiu yang berkaitan dengan tingkah laku manusia yang dapat di ukur dari sudut baik maupun sudut buruk.Terlebih lagi penataran P4 terkesan bukan untuk penyelenggara negara tapi dipaksakan pada warga. (2) Norma hukum yaitu suatu sistem perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Jadi sila-sila pancasila pada hakikatnya adalah bukan suatu pedoman yang langsung bersifat normatif auat pun praksis melaikan merupakan suatu sistem nilan-nilai etika yang merupakan sumber nilai baik meliputi norma moral maupun norma hukum.dan norma dari Pancasilanya tetapi cara pendekatannya yang indoktrinatif dan monolitik. moral maupun norma hukum dalam kehidupan berbangsa maupun bernegara. Etika kehidupan berbangsa. http://phity2. bernegara dan bermasyarakat ini bertujuan untuk : 1.

dambaan-dambaan dan keharusan. Menurut rendahnya. 2. tidak sama luhurnya dan sama tingginya. PENGERTIAN . NILAN. Hierarkhi Nilai Max Sceler mengemukakan bahwa nilai-nilai yang ada. Nilai-nilai dapat di kelompokan dalam 4 tingkatan sebagai berikut: (1) Nilai-nilai kenikmatan (2) Nilai-nilai kehidupan (3) Nilai-nilai kejiwaan (4) Nilai-nilai kerohanian Walter G Everst mengolongkan nilai-nilai manusiawai ke dalam delapan kelompok yaitu: (1) Nilai-nilai ekonomis (2) Nilai-nilai kejasmanian (3) Nilai-nilai hiburan (4) Nilai-nilai sosial (5) Nilai-nilai watak (6) Nilai-nilai estesis (7) Nilai-nilai intelektual (8) Nilai-nilai keagamaan Notonagoro memagi nilai menjadi tiga macam yaitu: (1) Nilai materrial . Pengertian Nilai Di dalam Dictionary of Sosciology and Related Sciences di kemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yang percayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. harapan-harapan. B. Dapat juga di katakan bahwa etika berkaitan dengan dasar-dasar filosofi dalam hubungan dengan tingkah laku manusia. Di dalam nilai itu sendiri terdapat cita-cita. NORMA DAN MORAL 1.bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab dengan berbagai ajaran moral. Sebenarnya etika lebih banyak bersangkutan dengan frinsif-prinsif dasar pembenaran dalam hubungan dengan tingkah laku manusia.

Sedangkan hubungan moral dengan etika sangat erat sekali dan kadangkala kedua hal tersebut di samakan begitu saja. Moral . 3. NORMA DAN MORAL Nilai dan norma senantiasa berkaitan dengan norma dan etika. Demikian juga hakekat nilai dasar itu dapat juga berlandaskan pada hakikat suatu benda . A. Nilai kebenaran B. Nilai keindahan C. aksi relasi ruang maupun waktu. kuantital. Nilai Dasar Nilai dasar in ibesifat universal karna menyangkut hakikat kenyataan objektif segala sesuatu misalkan hakikat tuhan.(2) Nilai vitual (3) Nilai kerohanian Dan khusus nilai kerohanian in dapat di bedakan menjadi empat macam: A. Bilamana nilai intrumental tersebut berkaitan dengan tinggak laku manusia dalam kehidupan sehari-hari maka hal ini merupakan suatu nilai norma. nilai praksis. B. Nilai religius Notonagoro berpendapat bahwa nilai-nilai pancasila tergolong nilai-nilai kerohanian. C. nilai intrumental. NILAI INTRUMENTAL DAN NILAI PRAKSIS Dalam kaitannya dengan deriviasi atau penjabaran maka nilai-nilai dapat di kelompokan menjadi tiga macam yaitu nilai dasar. Nilai kebaikan D. nilai intrumental dan nilai praksis itu merupakan suatu sistem perwujutannya tidak boleh menyimpang dari sistem tersebut. Tetapi nilai-nilai kerohanian yang mengakui adanya nilai material dan nilai vital. HUBUNGAN NILAI. Namun sebenarnya kedua hal tersebut memiliki perbedaan. Nilai Praksis Nilai praksis pada hakekatnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai intrumental dalam suatu kehidupan yang nyata. Nilai Intrumental Nilai intrumental lah yang merupakan suatu pedoman yang dapat di ukur dan di arahkan. NILAI DASAR. Demikianlah sehingga nilai dasar dapat juga di sebut sebagai sumber norma yang pada gilirannya di jabarkan atau di relisasikan dalam suatu kehidupan yang bersifat praksis. kualitas. Artinya oleh karna nilai dasar. Dalam pengertian inilah maka kita memasuki wilayah norma sebagai penutup sikap dan tingkah laku manusia. manusia auat segala sesuatu lainnya. Dan nilai intrumental sendiri juga dapat di katakan bahwa nilai intrumental itu merupakan suatu eksplistasi dari nilai dasar.

Untuk melaksanakan tujuan-tujuan perlu di tentukan kebijakan-kebijakan umun atau piblis policies. lembaga masyarakat maupun perseorangan. bangsa maupun negara bisa berkembang ke arah keadaan yang tidak baik dalam arti moral. Manusia juga sebagai mahluk yang berbudaya.ETIKA POLITIK Secara substantif pengertian etika polotik tidak dapat di pisahkan dengan subjek sebagai pelaku etika yaitu manusia. Dimensi Politis Kehidupan Manusia Dimensi politis manusia memiliki dua segi fundamental. 1. kumpulan peraturan. Oleh karena itu etika politi k berkaitan erat dengan bidang pembahasan moral. Sedangkan Etika tidak berwenang menentukan apa yang boleh atau tidak boleh di lakukan oleh seseorang. Dan politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat bukan tujuan pribadi seseorang. baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik.merupakan suatu ajaran-ajaran ataupun wewenang-wewenang. hal ini di karenakan manusia sebagai masyarakat atau sebagai mahluk sosial. yaitu pengertian dan kehendak untuk bertindak. 2. kebebasan sebagai individu dan segala aktivitas dan kreatifitas dalam hidupnya sentiasa tergantung kepada orang lain. yang menyangkut peraturan dan pembagian dari sumber-sumber yang ada. PENGERTIAN POLITIK Pengertian politik berasal dari kosa kata politics yang memiliki maksa bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau negara yang menyangkut proses penentuan tujuantujuan. . Manusia Sebagai Mahluk Individu-Sosial Berdasarkan fakta sehari-hari manusia tidak dapat memenuhi kebutuhanya sendiri saja. Sehingga dua segi fundamental itu dapat di amati dalam setiap aspek kehidupan manusia. Karena itu manusia manusia tidak mungkin bersifat bebas jikalau dia hanya bersifat totalitas individu atau sosial saja. DIMENSI POLITIS MANUSIA a. Selain itu politik juga menyangkut kegiatan berbagai kelompok termasuk partai politik. Misalnya suatu negara yang di kuasai oleh penguasa atau rezim yang otoritas. Hal itu berdasarkan pengertian moral. Berdasarkan suatu kenyataan bahwa masyarakat. yang memaksa kehendak kepada manusia tanpa memperhitungkan dan mendasarkan kepada hak-hak dasar kemanusiaan. patokan-patokan. b. C.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful