Analisa kasus pidana yang terkait pasal 55 KUHP dan 56 KUHP”

Perkara Pidana No.1426/Pid.B/2003/PN.PST a.n. Bambang Harymurti, Pemimpin Redaksi Majalah Mingguan Tempo Penasihat Hukum; Todung Mulya Lbs, Darwin Aritonang, Yogi S.M, dkk Kasus Posisi: Pada tanggal 10 Maret 2003, Tomy Winata telah mengadukan pimpinan redaksi atau penanggung jawab Majalah TEMPO dengan dugaan telah melakukan tindak pidana fitnah dan atau pencemaran nama baik kepada Polda Metro jaya. Tindak pidana yang dipersangkakan dalam laporan polisi tersebut adalah fitnah dan atau pencemaran nama baik sesuai dengan Pasal 310 KUHP dan 311 KUHP.Tomy Winata yang mendalilkan dirinya sebagai pihak yang menjadi korban dalam pemberitaan majalah berita mingguan TEMPO edisi tanggal 3-9 Maret 2003 khususnya pada berita dengan judul “Ada Tomy di „Tenabang‟?”. Kemudian, pada tanggal 11 Maret 2003 sekitar jam 10.00 WIB, Tomy Winata diperiksa sebagai saksi pelapor/pengadu. Keterangan Tomy tersebut secara singkat adalah: • Bahwa ada kalimat-kalimat dalam berita tersebut yang mengakibatkan saksi merasa difitnah dan nama baiknya dicemarkan, antara lain:

a) Konon, Tomy Winata mendapat proyek renovasi Pasar Tanah Abang senilai Rp. 53 miliar. Proposal sudah diajukan sebelum kebakaran. Sehingga kalimat tersebut saksi merasa dituduh bahwa saksi sudah mengajukan proposal sebelum terjadinya kebakaran, padahal saksi tidak pernah mengajukan proposal. b) Dari musibah kebakaran, Rabu dua pekan lalu Suwarti dan rekan-rekannya mungkin menangguk lebih banyak penghasilan ketimbang sebelumnya, tapi juga: Pemulung Besar”Tomy Winata nantinya. Pengusaha dari Grup Artha Graha ini, kata seorang arsitekk kepada Tempo. Dalam kalimat ini Tempo telah menuduh saksi bahwa saksi disamakan dengan pemulung, yang seolah-olah bahwa akibat dari kejadian kebakaran di Pasar Tanah Abang saksi akan mendapatkan suatu keuntungan. c) Disitu, kios-kios bikinan Tomy rencananya akan dijual Rp. 175 juta per meter persegi dan baru diserahkan ke Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya, sedangkan saksi tidak pernah mengajukanproposal apalagi membikin kios di Tanah Abang sehingga dengan menentukan harga Rp. 175 juta permeter persegi ini jelas tidak benar. d) Anda orang keenam yang telepon. Saya belum pernah bicara dengan siapapun, baik sipil, swasta, maupun pemerintah, katanya, geram. Saya ini nggak makan nangkanya (tapi) dikasih getahnya, “kalau (mereka) berani ketemu muka saya tabokin dia. Kalau ada saksi, bukti atau data-data yang mengatakan saya deal duluan, saya kasih harta saya separuhnya.” Sedangkan saksi tidak pernah mengubungi dan tidak pernah ditelpon oleh majalah Tempo. • Akibat pemberitaan tersebut, saksi sebagai pengusaha merasa dicemarkan nama baiknya dan saksi merasa difitnah karena setelah terbitnya pemberitaan tersebut, banyak telepon atauorang yang menemui saksi menanyakan tentang kebenaran berita tersebut, sehingga usaha saksi menjadi terganggu. Selain itu, saksi telah mendapat informasi bahwa ada sekelompok orang yang mengaku dari pedagang Pasar Tanah Abang mengancam akan membunuh saksi sehingga berakibat keselamatan saksi menjadi terancam dan perasaan saksi menjadi resah. Kasus ini menempatkan Bambang Harymurti, T. Iskandar Ali, dan Ahmad Taufik sebagai terdakwa. Namun dalam kasus ini, Jaksa Penuntut Umum telah melakukan pemisahan surat

…dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal XIV ayat (2) UndangUndang no. beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut paut satu dengan yang lain. Dakwaan JPU Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat melalui Surat Dakwaan No. Pasal 55 ayat (1) KUH Pidana Kesatu Primair : … menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan bohong. apabila pada waktu yang sama atau hampir bersamaan ia menerima beberapa perkara dalam hal: a. 1. beberapa tindak pidana yang bersangkut paut satu dengan yang lain. Pasal 142 KUHAP menyatakan bahwa “dalam hal penuntut umum menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka yang tidak termasuk dalam ketentuan Pasal 141. penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing masing terdakwa secara terpisah”. : PDM1069/JKTPS/07/2003. Pasal 310 (1) KUH Pidana Jo. Tujuan pemisahan surat dakwaan adalah untuk mendapatkan lebih banyak alat bukti. dalam Majalah Mingguan Tempo edisi tanggal 3/9 Maret 2003…dst dengan judul “Ada Tommy Di Tenabang”. Namun terdapat kejanggalan dalam proses pembuatan dakwaan ini. Tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 311 (1) Pidana.1 Tahun 1946 Jo. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal XIV ayat (1) UndangUndang no. sebenarnya tidak ada alasan bagi jaksa untuk memisahkan perkara ini. dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat. Ketentuan tersebut menyebutkan kriteria pemisahan perkara dengan mengacu pada Pasal 141 KUHAPyang berbunyi “Penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara dan membuat dalam satu surat dakwaan. dalam Majalah Mingguan Tempo edisi tanggal 3/9 Maret 2003…dst dengan judul “Ada Tommy Di Tenabang”. dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat. Perk. telah menyiarkan berita. c. Surat dakwaan bagi ketiga terdakwa dilakukan secara terpisah (splitzing).1 Tahun 1946 Jo. Iskandar Ali(editor) dan Ahmad Taufik(penulis). telah menyiarkan berita. Kedua . akan tetapi yang satu dengan yang lain itu ada hubungannya yang dalam hal ini penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan pemeriksaan. dengan dakwaan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal XIV ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaaan tidak menjadikan halangan terhadap penggabungannya. sehingga splitzing tidak perlu dan dinilai berlebihan. Berdasarkan ketentuan tersebut. b. Dalam kasus ini alat buktiyang dapat diajukan cukup banyak. sehubungan dengan Artikel yang diterbitkan oleh Majalah Tempo. “ Perkara ini secara jelas telah menempatkan para terdakwa sebagai pelaku atas tindak pidana yang masih memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Tahun 1946. Untuk membuat penuntutan secara splitzing harus mengikuti aturan yang telah ditentukan dalam KUHAP. tanggal 21 Juli 2003 telah mendakwa Bambang Harymurti dalam kapasitasnya sebagai Pemimpin Redaksi MajalahTempo. Reg. walaupun dalam praktik hal tersebut dapat saja dilakukan. Subsidair : … menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan bohong.dakwaan (splitzing) antara Bambang Harymurti(pemimpin redaksi) dengan T. dalam Edisi 3/9 Maret 2003 dengan judul : "Ada Tomy Di Tenabang?". Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kemudian diadakan rapat perencanaan yang dihadiri oleh Terdakwa Bambang Harymurti. supaya hal itu diketahui umum. Mengenai Dakwaan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. yang maksudnya terang. Iskandar Ali dan Ahmad Taufik telah mencantumkan Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Penggunaan Pasal 55 KUHP Surat dakwaan yang disusun untuk Bambang Harymurti maupun T. Dalam paragraf kedua menambah kata “Pemulung Besar” pada nama Tomy Winata. Penjelasan peran yang diambil oleh para terdakwa tentunya akan membuat terang dan jelas dakwaan atas para Terdakwa. 72 Menteng Jakarta Pusat.P. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP menyatakan bahwa” dipidana sebagai pembuat (dader) sesuatu perbuatan pidana: Ke-1 merekayang melakukan. saksi Ahmad Taufik.Primair : … sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang yang menuduhkan suatu hal. Subsidair : … sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang yang menuduhkan suatu hal. menyuruh lakukan atau yang turut serta melakukan. Lumbun selaku Walikota Jakarta Pusat dan saksi Cahyo Junaedi mewawancarai Dani Anwar dan M. supaya hal itu diketahui umum. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Kemudian hasil edit tersebut diserahkan ke redaktur bahasa untuk diperiksa tata bahasanya selanjutnya dilakukan rapat dam untuk menentukan penerbitan berita tersebut. Yusup karena dianggap kedua orang tersebut banyak mengetahui permasalahan pasar Tanah Abang. yang menyuruh melakukan atau turut melakukan perbuatan itu. JPU menjelaskan dengan cara-cara sbb: • Bahwa berdasarkan keterangan saksi Ahmad Taufik. Iskandar Ali mengetahui bahwa Tomy Winata adalah seorang pengusaha. saksi Raden Wahyu Muryadi bertempat di kantor majalah Tempo jalan Proklamasi No. Mengenai Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Iskandar Ali. • Bahwa terdakwa Bambang Harymurti di depan persidangan menerangkan selaku Pemimpin . Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. apakah sebagaiyang melakukan. • Selanjutnya saksi Ahmad Taufik ditugaskan oleh saksi Raden Wahyu Muryadi untuk mencari sumber berita yang akan diwawancarai. Dari hasil wawancara tersebut. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal 311 ayat (1) KUHP Jo. tidak dapat membuktikan. padahal saksi Ahmad Taufik dan T. Pasal tersebut berbunyi: (1) Dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa pidana: Orang yang melakukan. dengan melakukan kejahatan pencemaran yang telah diberikan kesempatan dibuktikan. • Bahwa naskah tulisan Ahmad Taufik tersebut diedit oleh T. saksi pernah menulis kebakaran tentang Pasar Tanah Abang tanggal 19 Februari 2003 dalam rubrik Nasional Majalah Tempo karena pasar Tanah Abang adalah pasar yang beromzet besar.”. yang menyuruh lakukan dan yang turut melakukan perbuatan. dengan merlakukan perubahan dari judul “ada Tomy di Tanah Abang” menjadi “Ada Tomy di „Tenabang‟?”. Ahmad Taufik kemudian menugaskan reporter Bernarda Rurit untuk mewawancarai Tomy Winata dan Indra Darmawan untuk mewawancarai H. kedua tokoh belum tahu tentang Tomy Winata mengajukan proposal untuk renovasi pasar Tanah Abang. Dalam dakwaan tersebut tidak disebutkan secara cermat dalam posisi apa para terdakwa tersebut. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal 310 ayat (1) KUHP Jo. Pada rapat itu saksi mengusulkan untuk menindaklanjuti berita tentang kebakaran Pasar Tanah Abang kemudian usul saksi disetujui oleh peserta rapat termasuk terdakwa. yang maksudnya terang.

telah dilakukan setting dan editing yang oleh saksi Ahmad Taufik dan T. maka berita dengan judul “Ada Tomy di „Tenabang‟?” dengan foto Tomy Winata dimuat dan dicetak dalam Majalah Berita Mingguan Tempo edisi 3-9 Maret 2003 kemudian dijual kepada umum. dilakukan perubahan dari judul “Ada Tomy di Tanah Abang”. menjadi “Ada Tomy di „Tebanang‟?”. . selaku Walikota Jakarta Pusat dan saksi Cahyo Djunaedi mewawancarai Dani Anwar dan M. Yusup. Iskandar Ali mengetahui bahwa Tomy Winata adalah seorang pengusaha.Bahwa dari hasil pengumpulan data oleh para wartawan Tempo tersebut. . . dengan pertimbangan bahwa: . jurnalis (wartawan). diantaranya dewan redaksi.. Iskandar Ali (keduanya sebagai terdakwa dalam berkas tersendiri). pada rapat itu saksi Ahmad Taufik mengusulkan untuk menindaklanjuti berita tentang kebakaran Pasar Tanah Abang. Rudy Satriyo. • Bahwa karena adanya persetujuan dari Terdakwa Bambang Harymurti. diadakan rapat perencanaan yang dihadiri oleh Terdakwa Bambang Harymurti. mereka yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana (doen plegen).MH sudah ada unsur kesengajaan. mereka yang turut serta/ bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana (medeplegen)? Terhadap “Unsur Dilakukan secara bersama-sama” (pasal 55 ayat (1) KUHP) Majelis Hakim dalam berkesimpulan bahwa unsur ini telah terpenuhi. diterbitkannya tulisan dengan judul “Ada Tomy di „Tenabang‟?” dalam Majalah Berita Mingguan Tempo edisi 3-9 Maret 2003 halaman 30-31 karena adanya perbuatan kerjasama yang nyata antara Terdakwa Bambang Harymurti dengan saksi Ahmad Taufik dan saksi T. Iskandar Ali tanpa meneliti kebenaran naskah berita tersebut. Kemudian usul saksi Ahmad Taufik tersebut disetujui oleh peserta rapat termasuk terdakwa Bambang Harymurti sebagai Pemimpin Redaksi.Bahwa berdasarkan data-data yang diperoleh para Reporter Majalah Tempo tersebut. . keuangan) sampai pada tingkat loper. divisi-divisi (iklan. . saksi Raden Wahyu Muriadi bertempat di Kantor Majalah Tempo Jalan Proklamasi No.Bahwa satu minggu sebelum terbit majalah Tempo Edisi 3-9 maret 2003. Hal tersebut menurut ahli Dr. saksi Ahmad Taufik. Disini JPU melupakan beberapa hal dalam pembuktian unsur ini.Bahwa selaku Pemimpin Redaksi dalam menjalankan tugasnya. JPU menyatakan unsur bersama-sama telah terpenuhi secara sah dan meyakinkan menurut hukum. dan terdakwa menyetujui dan mengizinkan berita tersebut untuk dimuat dalam Majalah Tempo edisi 3 s. saksi Ahmad Taufik membuat tulisan dengan judul “Ada Tomy di Tenabang?”. SH.P Lumbun.H. Pada rapat dami tersebut terdakwa Bambang Harymurti menyetujui tulisan Ahmad Taufik yang sudah diedit oleh T. Iskandar Ali kemudian hasilnya diserahkan kepada terdakwa untuk dikoreksi. editor. • Berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas. S.d 9 Maret 2003.Bahwa untuk mencari/ menemukan sumber berita terdakwa telah menugaskan beberapa orang wartawan. Dan dalam paragraph kedua menambahkan kata “Pemulung Besar” pada nama Tomy Winata. yaitu termasuk dalam menentukan termasuk dalam kategori pelaku manakah terdakwa Bambang Harymurti? Apakah sebagai mereka yang melakukan sendiri suatu perbuatan pidana (plegen). pemasaran. padahal saksi Ahmad taufik dan saksi T.Bahwa saksi Ahmad Taufik menugaskan reporter antara lain Bernarda Rurit untuk mewawancarai Tomy Winata dan Indra Darmawan ditugaskan untuk mewawancarai H. 72 Menteng Jakarta Pusat. . . terdakwa dibantu oleh beberapa tenaga teknis maupun tenaga administrasi perusahaan pers. Iskandar Ali. Dengan demikian.Bahwa oleh Saksi T.Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo yang mempunyai tugas dan tanggung jawab di seluruh bidang keredaksian dan mempunyai hak untuk menentukan diturunkan atau tidaknya suatu berita.

atau terdakwa merupakan orang yang turut serta/ bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana (medeplegen) dan atau terdakwa merupakan orang yang dengan sengaja menganjurkan/ menggerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana (uitloking). karena adanya kerjasama antara terdakwa Bambang harymurti dengan Saksi Ahmad Taufik dan saksi T.Bahwa dengan persetujuan terdakwa. dituliskannya semua pendapat para Ahli mengenai unsur „bersamasama‟ secara lengkap oleh Majelis Hakim tidak berguna sama sekali apabila tidak dapat menentukan unsur „bersama-sama‟ yang manakah yang kiranya telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa. Kesimpulan: 1. berita “Ada Tomy di Tenabang”. Prof. . bahwa dengan demikian unsur bersama-sama telah pula terpenuhi adanya. atau terdakwa merupakan seseorang yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana (doen plegen). mereka yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana (doen plegen). . Bahwa Majelis Hakim tidak melakukan analisis dan pertimbangan yang mendalam. Mr. Simons.Bahwa terdakwa tanpa meneliti kebenaran data berita yang dibuat oleh saksi Ahmad Taufik dan diedit oeh saksi T Iskandar Ali dengan judul “Ada Tomy di Tebanang”. pertimbangan Majelis Hakim tidak lengkap. . Kemudian. 3. .d 9 Maret 2003 halaman 30-31. Majelis Hakim sama sekali tidak menentukan termasuk unsur „bersama-sama‟ yang manakah yang kiranya telah dilakukan oleh terdakwa. Memang pada bagian awal pertimbangannya mengenai unsur „bersama-sama‟ ini. Majelis Hakim hanya memberikan pertimbangan hukum yang sekedarnya saja. Majelis Hakim tidak menentukan apakah terdakwa merupakan pelaku (dader) yaitu seseorang yang melakukan sendiri suatu perbuatan pidana (plegen).. Menimbang. Menurut pendapat saya. MvT. Majelis Hakim juga menambahkan beberapa pendapat para ahli mengenai unsur „bersama-sama‟ ini. dengan foto Tomy Winata dimuat dan dicetak dalam majalah berita Mingguan Tempo Majalah Mingguan Tempo Edisi 3 s. Hazewinkel Zuringa. 2. telah menyetujui dimuat dan dicetak dalam Majalah Mingguan Tempo Edisi 3 s. Namun. Menurut hemat saya. Majelis Hakim menyebutkan bahwa dalam Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP unsur „bersama-sama‟ sifatnya adalah alternatif.Bahwa terbitnya tulisan dengan judul “Ada Tomy di Tebanang” Majalah Mingguan Tempo Edisi 3 s. Majelis Hakim sama sekali tidak menentukan termasuk unsur „bersama-sama‟ yang manakah yang kiranya telah dilakukan oleh terdakwa. mulai dari pendapat Prof. tanpa merasa perlu untuk melakukan penggalian secara lebih mendalam terhadap semua unsur dakwaan yang kiranya telah terpenuhi oleh terdakwa. mereka yang turut serta/ bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana (medeplegen) dan mereka yang dengan sengaja menganjurkan/ menggerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana (uitloking). hingga Putusan MA RI No. 525K/Pid/1990 tanggal 28 Juni 1990. Iskandar Ali.d 9 Maret 2003. Jaksa Penuntut Umum tidak menjelaskan peran yang diambil oleh Terdakwa bersama dengan saksi Achmad Taufik dan Teuku Iskandar Ali dalam kerjasama yang telah dituduhkan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. dimana KUHP mengartikannya sebagai pelaku (dader) adalah mereka yang melakukan sendiri suatu perbuatan pidana (plegen).Bahwa terdakwa Bambang Harymurti selaku Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo mempunyai tugas dan tanggungjawab diseluruh bidang keredaksian dan mempunyai hak untuk menentukan diturunkan atau tidaknya suatu berita.d 9 Maret 2003. Noyon.

juga merusak moral pemerintah dan bangsa secara keseluruhan. namun sebenarnya telah dikenal sejak tahun 1930.000. minumana keras. narkoba dan lainnya. Perang terhadap kejahatan dibidang kehutanan dan konservasi sumber daya alam hayati belum secara khusus dilakukan namun terhadap illegal logging sudah dicanangkan Pemerintah sejak tahun 2001. akibatnya rakyat dirugikan tak kurang dari Rp 30 triliun per tahun . Adapun kedok yang digunakan untuk mengelabui atau menyamarkan uang haramnya tersebut. masalah kerahasian hubungan client dan lawyer yang dilindungi oleh hukum serta yang paling penting lagi adalah masalah kesungguhan pemerintah untuk memerangi kejahatan money loundring secara konsekuen. sehingga dana haram milik penjahat akan sulit terlacak. Oleh karena itulah masalah Korupsi dan beberapa kejahatan lainnya dimasukkan sebagai predikat crime di dalam Undang-undang TPPU. adalah dengan restoran-restoran Pizza yang banyak tersebar di Amerika Serikat .. yaitu menyimpan dana dengan nama samaran ataupun tanpa nama sehingga tidak bisa dilacak. Berbagai langkah pemerintah itu tidak menyurutkan. Pemerintah telah menggalang kerjasama internasional guna mengoptimalkan langkah penanganan yang telah dilakukan serta memberi tekanan terhadap negara-negara yang selama ini memanfaatkan kayu haram dari Indonesia. Pemerintah saat ini tengah merampungkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) mengenai illegal logging guna meningkatkan upaya mengatasi masalah kejahatan kehutanan ini secara lebih efektif. masalah teknologi perbankan secara elektronik yang terkenal dengan electronic money bahkan dengan E Comerce yang merupakan kejahatan maya (Cyber Crime) yang tentunya lebih sulit lagi untuk dilacak. Adapun faktor-faktor penyebab berkembangnya kejahatan money loundring di Indonesia maupun di dunia berkait erat dengan .(enam ratus juta dollar Amerika) yang ditransfer ke sejumlah bank di Swiss dan Italia.000. Tetapi secara makro baik langsung maupun tidak langsung dapat mengganggu berbagai system ekonomi dan politik Negara. sebaliknya kejahatan kehutanan terutama pembalakan liar terkesan semakin marak dan berani. yang dituangkan dalam pasal 2 Undang-undang no. 15 tahun 2002 yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2003. sehingga disamping berkait dengan uang Negara. karena berfungsi sebagai investment capital bagi pembangunan pada suatu Negara. karena cara kegiatannya yang kompleks menyangkut juga penggelapan pajak yang terkait dengan penyalah gunaan kekuasaan dan korupsi. Perkara Pizza Connection ini menyangkut dana haram bernilai sekitar USD 600. masalah adanya rahasia bank yang ketat. akibat terungkapnya kasus pemutihan uang mafia tersebut yang terkenal dengan kasus Pizza Connection. Kejahatan money loundering diakui mempunyai dampak positif bagi perekonomian Negara. yaitu pada tahun 1984 dengan upaya yang sangat rumit dan sulit untuk dideteksi. sehingga system perbankan melindungi kejahatan ini.Kejahatan Money Loundering A. sekalipun upaya memberantas kejahatan kehutanan sesungguhnya telah lama dilakukan di Indonesia dengan menggunakan banyak pendekatan terutama sejak diundangkannya UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. masalah penyimpanan dana secara anonymous saving passbook accounts. prestitusi. Istilah money loundering ini lebih terkenal lagi di Amerika Serikat. Pendahuluan Kejahatan Money Loundering pada awalnya selalu terkait dengan masalah perdagangan narkoba. yaitu terkait dengan perusahaan Loundry atau perusahaan pencucian pakaian yang dibeli oleh mafia di Amerika Serikat dengan menggunakan dana dari usaha gelap atau illegal mereka seperti usaha perjudian.

serta dalam pasal 5 KUHP untuk warga Negara Indonesia dimana saja bila ketentuan pidana Indonesia sebagai kejahatan dan dinegara tempat dilakukan juga diancam pidana. menghibahkan atau menyumbangkan. Juga dalam pasal 3 KUHP memperluas sampai di dalam perahu Indonesia. Demikian juga pasal 4 KUHP memperluas sampai di luar Indonesia. atau perbuatannya itu memang dikehendaki. ataukah hanya karena tbentuk pengeahuan. menukarkan atau perbuatan lainnya. apakah sebagai bentuk kesengajaan sebagai kehendak. maka . tentang Koservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.: 1. Setiap orang. yang adalah masing-masing perbuatan merupakan suatu alternative yang cukup dibuktikan salah satunya saja. membayarkan atau membelanjakan. Pasal 3 ayat (1) UU No 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UU no. kecuali seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus. artinya semua orang dapat dikenakan pasal ini. Menempatkan. Jumlah angka yang sangat fantastis.(seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 15.000. mentransfer. Dengan sengaja. namun kenyataannya kejahatan dibidang ini tetap berjalan. menyebutkan “Setiap orang yang dengan sengaja menempatkan. sudah diatur dalam UU No.000. Suatu keniscayaan bahwa kejahatan kehutanan tidak mungkin tak dapat diberantas. membayarkan atau membelanjakan menghibahkan atau menyumbangkan. untuk kejahatan tertentu. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis tumbuhan dan satwa yang dalam lampiran PP tersebut memuat jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. dikuatkan dengan PP No. menukarkan atau perbuatan lainnya. membawa keluar negeri.. 25/2003. artinya adanya pengetahuannya akan dampak dari perbuatannya. ini berarti orang yang disangkakan melakukan Tindak Pidana Pencucian uang tersebut harus dibuktikan sifat sengajanya. mengingat harganya yang sangat tinggi dan kemudahan dalam pembawaan dalam arti tidak memerlukan alat dan tempat yang besar dalam pengirimannya. Dalam pasal 2 KUHP menyebutkan “Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia.000. harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana (ke dalam penyedia jasa keuangan). Hal itu ditambah dengan bobroknya mental petugas bahkan ikut serta menjadi bagian dari kejahatan tersebut.-(lima belas milyar rupiah). menitipkan. mentransfer. Tindak Pidana Pencucian Uang. c.000. 5 tahun 1990. menitipkan. membawa keluar negeri. karena terkait dengan banyaknya permintaan baik dalam negeri maupun dari luar negeri. lebihlebih masalah Money Loundring ini sudah merupakan masalah global. Banyak pihak yang andil dalam rantai kejahatan ini dan menikmati hasil yang diperoleh. bahkan semakin marak.akibat illegal logging ini. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 100. diperuntukkan tanpa melihat kewarganegaraan seseorang. Pendekatan rezim anti pencucian uang yang lebih memfokuskan pada deteksi transaksi keuangan mencurigakan (suspicious transaction report) dan penelusuran aliran dana (follow the money) merupakan alternatif instrumen yang dapat digunakan untuk membantu memerangi kejahatan kehutanan ini. dapat dijelaskan sebagai berikut :Kata setiap orang.000. Harus diakui bahwa kejahatan kehutanan merupakan magnitude persoalan yang sangat besar. Dibidang konservasi sumber daya alam hayati. yang unsur-unsurnya sebagai berikut a. langsung maupun tidak langsung. b. B.

atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)”. Pasal 3 ayat (2) UU TPPU. disebut sebagai percobaan terhenti. 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. (lihat penjelasan pro parte dolus proparte culpa dalam point 2 b). c) Asal-usul harta kekayaan. tetapi harus dibuktikan tersendiri. mereka sudah dapat dikenakan pasal ini. yang berarti harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik. sehingga orang lain tidak dapat mengetahui uang atau harta kekayaan itu bersih atau kotor.Secara obyektif apa yang telah dilakukan pelaku harus mendekati delik. yaitu sebagaimana diatur dalam pasal 53 KUHP. Niat jika belum semua diselesaikan menjadi kejahatan akan tetap masih ada yang merupakan sifat bathin dan menjadi arah kepada perbuatan. “Setiap orang yang melakukan percobaan. seperti : d. yaitu : . Dapat dijelaskan sebagai berikut : a. harus terpenuhi 3 (tiga) syarat. Isinya niat tidak dapat diambil dari isinya kesengajaan. oleh karenanya untuk menjelaskan permulaan pelaksanaan. maksudnya orang tersebut dengan penilaiannya dia dapat mengetahui atau setidak-tidaknya secara kepatutan dapat memperkirakan (proparte dulus proparte culpa) bahwa harta itu diperolehnya dari hasil kejahatan. 2. artinya dalam hal ini cukup karena kekurang penghati-hatiannya maupun karena kurangnya penduga-dugaan. Unsur pasal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Kata dengan maksud. Harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. menunjukan sifat kesengajaannya. pembantuan. 2) Unsur Permulaan pelaksanaan Permulaan pelaksanaan tidak sama dengan persiapan pelaksanaan. tetapi secara potensial dapat menjadi kesengajaan. tetapi perbuatan tersebut harus dimaksudkan atau dikehendaki oleh pelaku untuk sebagaimana penjelasan di bawah ini. sebagaimana yang tertuang dalam pasal 2 ayat (1) Undangundang no. yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut : 1) Unsur niat Niat tidak sama dengan kesengajaan. . artinya darimana diperolehnya harta kekayaan yang dilakukan tindakan sebagaimana unsur kedua d) Yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Sedang yang dimaksud harta kekayaan disini adalah sebagaimana ketentuan pasal 1 angka 4 UU TPPU yang menyebutkan adalah semua benda bergerak atau benda tidak bergerak. Percobaan. tapi dalam konteks kehendak. artinya perbuatan sebagaimana unsur kedua dari huruf a sampai dengan huruf h tidak cukup sampai disitu. yang berbunyi . baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. b) Menyembunyikan atau menyamarkan artinya menyimpan ditempat yang tersembunyi atau membuat tidak terangnya sesuatu.kesemuanya harus dituangkan dalam berkas perkara.

misalnya nyawa. sebagaimana diatur dalam pasal 480 KUHP. 3) Pada pembantuan pasif persoalnnya terletak pada tidak melakukan suatu sebagai perbuatan pembantuan atau senada dengan perbuatan pembiaran. kemerdekaan. 2 Dalam pembantuan dapat terjadi pembantuan aktif dan pembantuan pasif.Secara objektif dari asfek niat tidak ada keraguan lagi perbuatan itu diarahkan kepada delik dimaksud. (c)Keadaan-keadaan yang dibedakan : (1) Keadaan sebelum/saat perbuatan dilakukan. Pembantuan. sehingga harus jelas terhentinya perbuatan sebagai akibat dari campur tangannya pihak lain b.Unsur ini diperlukan dengan maksud agar adanya jaminan tidak dipidananya orang yang secara sukarela membatalkan pelaksanaan kejahatan yang telah dimulai. Sifat dapat dihukum berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan dari hukuman.Merupakan perbuatan melawan hukum. pembujuk atau pemikat) ialah menganjurkan oranSistem pertanggungg lain melakukan sesuatu delik dengan mempergunakan sesuatu delik dengan mempergunakan sesuatu iktiar (pasal 55 (10 sub 2) . harta milik / benda. (d)Sifat dapat dihukum berkenaan dengan hukum. 4) Pembantuan yang terjadi setelah timbulnya delik disebut sebagai persekongkolan jahat atau Tindak Pidana penadahan. dalam hal ini dapat diartikan baik bersifat melawan hukum secara formal maupun melawan hukum secara material. kehormatan dsbnya. Unsur pokok obyektif Pidana terdiri dari : (a)Perbuatan manusia (positif atau negatif) (b)Menimbulkan akibat membahayakan. badan. dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Pembantuan atau medeplichtigheid. Sifat melawan hukum adalah bertentangan dengan hokum (larangan atau perintah). yaitu sebagaimana diatur dalam pasal 56 KUHP. 3 Unsur Tidak selesainya perbuatan bukan karena kehendak sendiri. sarana atau keterangan. Analisis Pasal 56 KUHP terhadap kejahatan money loundering.. dapat terjadi pada saat timbulnya delik tanpa daya upaya tertentu dan dapat terjadi dengan mendahului delik melalui daya upaya memberi kesempatan. Delik penyertaan (deelneming) diatur masing-masing : (a) Sebagai pembuat yang turut melaksanakan segala anasir delik (pasal 55 (1) sub 1) (b) Sebagai pembuat peserta hanya turut melaksanakan sebagiandari anasir-anasir delik (pasal 55 (1) sub 1) (c) Sebagai pembuat penyuruh/tidak langsung (manus domina / tangan yang merajai) yang turut campur dengan cara menyuruh melakukan delik oleh orang lain pembuat langsung (manus ministra / tangan mengabdi) (pasal 55 (1) sub 1) (d) Sebagai pembuat penganjur (dinamai juga pembuat intelektual. . merusak/menghilangkan kepentingan/ kepentingan yang dipertahankan oleh hukum. (2) Keadaan setelah perbuatan dilakukan.

selama menyangkut masalah keamanan Negara dan atau kepentingan publik. Di satu sisi. Menurut saya. kita dapat mengesampingkan UU di atas. Sistem pertanggungjawaban adalah penyertaan (deelneming). Karena jika hal tersebut tidak dapat dilakukan. maka para koruptor dapat secara aman menyimpan uang “haramnya” dengan sangat aman. terhadap pasal 56 KUHP terkait dengan kasus money loundering. Di sisi lain kejahatan kejahatan money loundering diakui mempunyai dampak positif bagi perekonomian Negara. adalah bahwa kejahatan tersebut tidak dapat dilakukan sendiri dan bersifat struktural. karena pasti banyak pihak yang terkait di dalamnya. Bank dalam hal ini pastinya memiliki keterkaitan dalam kejahatan ini. keterangan kepada orang yang bermaksud akan melakukan kejahatan/untuk memudahkan pelaksanaannya (pasal 56 (2).(e) Sebagai pembantu sementara kejahatan dilakukan yaitu turut memberi pertolongan kepada pembuat pada waktu kejahatan dilakukan (pasal 56 (1)) (f) Sebagai pembantu sebelum kejahatan dilakukan yaitu turut campur memberi kesempatan. Bank melindungi rahasia nasabahnya. sehingga dana haram milik penjahat akan sulit terlacak. sehingga system perbankan melindungi kejahatan ini. Dalam UU no 7 th 1992 tentang Perbankan. sarana. Bahkan biasanya terjadi tindak pidana lain (concursus) terkait kejahatan money loudering.adanya rahasia bank yang ketat. dalam pasal 1 ayat (16) berbunyi sbb: “Rahasia Bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keuangan dan hal-hal lain dari nasabah bank yang menurut kelaziman dunia perbankan wajib dirahasiakan” Menurut saya. karena berfungsi sebagai investment capital bagi pembangunan pada suatu Negara. dalam uraian di atas. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful