Analisa kasus pidana yang terkait pasal 55 KUHP dan 56 KUHP”

Perkara Pidana No.1426/Pid.B/2003/PN.PST a.n. Bambang Harymurti, Pemimpin Redaksi Majalah Mingguan Tempo Penasihat Hukum; Todung Mulya Lbs, Darwin Aritonang, Yogi S.M, dkk Kasus Posisi: Pada tanggal 10 Maret 2003, Tomy Winata telah mengadukan pimpinan redaksi atau penanggung jawab Majalah TEMPO dengan dugaan telah melakukan tindak pidana fitnah dan atau pencemaran nama baik kepada Polda Metro jaya. Tindak pidana yang dipersangkakan dalam laporan polisi tersebut adalah fitnah dan atau pencemaran nama baik sesuai dengan Pasal 310 KUHP dan 311 KUHP.Tomy Winata yang mendalilkan dirinya sebagai pihak yang menjadi korban dalam pemberitaan majalah berita mingguan TEMPO edisi tanggal 3-9 Maret 2003 khususnya pada berita dengan judul “Ada Tomy di „Tenabang‟?”. Kemudian, pada tanggal 11 Maret 2003 sekitar jam 10.00 WIB, Tomy Winata diperiksa sebagai saksi pelapor/pengadu. Keterangan Tomy tersebut secara singkat adalah: • Bahwa ada kalimat-kalimat dalam berita tersebut yang mengakibatkan saksi merasa difitnah dan nama baiknya dicemarkan, antara lain:

a) Konon, Tomy Winata mendapat proyek renovasi Pasar Tanah Abang senilai Rp. 53 miliar. Proposal sudah diajukan sebelum kebakaran. Sehingga kalimat tersebut saksi merasa dituduh bahwa saksi sudah mengajukan proposal sebelum terjadinya kebakaran, padahal saksi tidak pernah mengajukan proposal. b) Dari musibah kebakaran, Rabu dua pekan lalu Suwarti dan rekan-rekannya mungkin menangguk lebih banyak penghasilan ketimbang sebelumnya, tapi juga: Pemulung Besar”Tomy Winata nantinya. Pengusaha dari Grup Artha Graha ini, kata seorang arsitekk kepada Tempo. Dalam kalimat ini Tempo telah menuduh saksi bahwa saksi disamakan dengan pemulung, yang seolah-olah bahwa akibat dari kejadian kebakaran di Pasar Tanah Abang saksi akan mendapatkan suatu keuntungan. c) Disitu, kios-kios bikinan Tomy rencananya akan dijual Rp. 175 juta per meter persegi dan baru diserahkan ke Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya, sedangkan saksi tidak pernah mengajukanproposal apalagi membikin kios di Tanah Abang sehingga dengan menentukan harga Rp. 175 juta permeter persegi ini jelas tidak benar. d) Anda orang keenam yang telepon. Saya belum pernah bicara dengan siapapun, baik sipil, swasta, maupun pemerintah, katanya, geram. Saya ini nggak makan nangkanya (tapi) dikasih getahnya, “kalau (mereka) berani ketemu muka saya tabokin dia. Kalau ada saksi, bukti atau data-data yang mengatakan saya deal duluan, saya kasih harta saya separuhnya.” Sedangkan saksi tidak pernah mengubungi dan tidak pernah ditelpon oleh majalah Tempo. • Akibat pemberitaan tersebut, saksi sebagai pengusaha merasa dicemarkan nama baiknya dan saksi merasa difitnah karena setelah terbitnya pemberitaan tersebut, banyak telepon atauorang yang menemui saksi menanyakan tentang kebenaran berita tersebut, sehingga usaha saksi menjadi terganggu. Selain itu, saksi telah mendapat informasi bahwa ada sekelompok orang yang mengaku dari pedagang Pasar Tanah Abang mengancam akan membunuh saksi sehingga berakibat keselamatan saksi menjadi terancam dan perasaan saksi menjadi resah. Kasus ini menempatkan Bambang Harymurti, T. Iskandar Ali, dan Ahmad Taufik sebagai terdakwa. Namun dalam kasus ini, Jaksa Penuntut Umum telah melakukan pemisahan surat

Kedua . Ketentuan tersebut menyebutkan kriteria pemisahan perkara dengan mengacu pada Pasal 141 KUHAPyang berbunyi “Penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara dan membuat dalam satu surat dakwaan. Iskandar Ali(editor) dan Ahmad Taufik(penulis). Perk. apabila pada waktu yang sama atau hampir bersamaan ia menerima beberapa perkara dalam hal: a. dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat. dalam Majalah Mingguan Tempo edisi tanggal 3/9 Maret 2003…dst dengan judul “Ada Tommy Di Tenabang”. penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing masing terdakwa secara terpisah”. sehingga splitzing tidak perlu dan dinilai berlebihan. b. Namun terdapat kejanggalan dalam proses pembuatan dakwaan ini. Tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 311 (1) Pidana. : PDM1069/JKTPS/07/2003. 1. beberapa tindak pidana yang bersangkut paut satu dengan yang lain. sebenarnya tidak ada alasan bagi jaksa untuk memisahkan perkara ini. Untuk membuat penuntutan secara splitzing harus mengikuti aturan yang telah ditentukan dalam KUHAP. Pasal 55 ayat (1) KUH Pidana Kesatu Primair : … menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan bohong. Tujuan pemisahan surat dakwaan adalah untuk mendapatkan lebih banyak alat bukti. Dalam kasus ini alat buktiyang dapat diajukan cukup banyak.1 Tahun 1946 Jo. c. Dakwaan JPU Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat melalui Surat Dakwaan No. sehubungan dengan Artikel yang diterbitkan oleh Majalah Tempo. Berdasarkan ketentuan tersebut. Pasal 142 KUHAP menyatakan bahwa “dalam hal penuntut umum menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka yang tidak termasuk dalam ketentuan Pasal 141. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. “ Perkara ini secara jelas telah menempatkan para terdakwa sebagai pelaku atas tindak pidana yang masih memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. dengan dakwaan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal XIV ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. Tahun 1946. dalam Edisi 3/9 Maret 2003 dengan judul : "Ada Tomy Di Tenabang?".1 Tahun 1946 Jo. Surat dakwaan bagi ketiga terdakwa dilakukan secara terpisah (splitzing). telah menyiarkan berita. dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. dalam Majalah Mingguan Tempo edisi tanggal 3/9 Maret 2003…dst dengan judul “Ada Tommy Di Tenabang”. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal XIV ayat (2) UndangUndang no. beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaaan tidak menjadikan halangan terhadap penggabungannya. Pasal 310 (1) KUH Pidana Jo. telah menyiarkan berita. akan tetapi yang satu dengan yang lain itu ada hubungannya yang dalam hal ini penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan pemeriksaan. beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut paut satu dengan yang lain. Subsidair : … menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan bohong. tanggal 21 Juli 2003 telah mendakwa Bambang Harymurti dalam kapasitasnya sebagai Pemimpin Redaksi MajalahTempo.dakwaan (splitzing) antara Bambang Harymurti(pemimpin redaksi) dengan T. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal XIV ayat (1) UndangUndang no. walaupun dalam praktik hal tersebut dapat saja dilakukan. Reg.

Subsidair : … sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang yang menuduhkan suatu hal. dengan merlakukan perubahan dari judul “ada Tomy di Tanah Abang” menjadi “Ada Tomy di „Tenabang‟?”.Primair : … sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang yang menuduhkan suatu hal. Mengenai Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. dengan melakukan kejahatan pencemaran yang telah diberikan kesempatan dibuktikan. Iskandar Ali mengetahui bahwa Tomy Winata adalah seorang pengusaha. • Selanjutnya saksi Ahmad Taufik ditugaskan oleh saksi Raden Wahyu Muryadi untuk mencari sumber berita yang akan diwawancarai. • Bahwa naskah tulisan Ahmad Taufik tersebut diedit oleh T. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal 311 ayat (1) KUHP Jo.P. yang menyuruh melakukan atau turut melakukan perbuatan itu. Penjelasan peran yang diambil oleh para terdakwa tentunya akan membuat terang dan jelas dakwaan atas para Terdakwa. Kemudian diadakan rapat perencanaan yang dihadiri oleh Terdakwa Bambang Harymurti. Yusup karena dianggap kedua orang tersebut banyak mengetahui permasalahan pasar Tanah Abang. Iskandar Ali dan Ahmad Taufik telah mencantumkan Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Lumbun selaku Walikota Jakarta Pusat dan saksi Cahyo Junaedi mewawancarai Dani Anwar dan M. supaya hal itu diketahui umum. Penggunaan Pasal 55 KUHP Surat dakwaan yang disusun untuk Bambang Harymurti maupun T. yang maksudnya terang. Pasal tersebut berbunyi: (1) Dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa pidana: Orang yang melakukan. tidak dapat membuktikan. Ahmad Taufik kemudian menugaskan reporter Bernarda Rurit untuk mewawancarai Tomy Winata dan Indra Darmawan untuk mewawancarai H. Kemudian hasil edit tersebut diserahkan ke redaktur bahasa untuk diperiksa tata bahasanya selanjutnya dilakukan rapat dam untuk menentukan penerbitan berita tersebut. yang maksudnya terang. Iskandar Ali. menyuruh lakukan atau yang turut serta melakukan. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal 310 ayat (1) KUHP Jo. saksi Raden Wahyu Muryadi bertempat di kantor majalah Tempo jalan Proklamasi No. Dalam paragraf kedua menambah kata “Pemulung Besar” pada nama Tomy Winata. Dalam dakwaan tersebut tidak disebutkan secara cermat dalam posisi apa para terdakwa tersebut. Pada rapat itu saksi mengusulkan untuk menindaklanjuti berita tentang kebakaran Pasar Tanah Abang kemudian usul saksi disetujui oleh peserta rapat termasuk terdakwa.”. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. JPU menjelaskan dengan cara-cara sbb: • Bahwa berdasarkan keterangan saksi Ahmad Taufik. padahal saksi Ahmad Taufik dan T. • Bahwa terdakwa Bambang Harymurti di depan persidangan menerangkan selaku Pemimpin . Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Dari hasil wawancara tersebut. kedua tokoh belum tahu tentang Tomy Winata mengajukan proposal untuk renovasi pasar Tanah Abang. saksi Ahmad Taufik. apakah sebagaiyang melakukan. yang menyuruh lakukan dan yang turut melakukan perbuatan. 72 Menteng Jakarta Pusat. saksi pernah menulis kebakaran tentang Pasar Tanah Abang tanggal 19 Februari 2003 dalam rubrik Nasional Majalah Tempo karena pasar Tanah Abang adalah pasar yang beromzet besar. Mengenai Dakwaan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. supaya hal itu diketahui umum. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP menyatakan bahwa” dipidana sebagai pembuat (dader) sesuatu perbuatan pidana: Ke-1 merekayang melakukan.

JPU menyatakan unsur bersama-sama telah terpenuhi secara sah dan meyakinkan menurut hukum. Hal tersebut menurut ahli Dr.P Lumbun.d 9 Maret 2003. Rudy Satriyo. dilakukan perubahan dari judul “Ada Tomy di Tanah Abang”. divisi-divisi (iklan. yaitu termasuk dalam menentukan termasuk dalam kategori pelaku manakah terdakwa Bambang Harymurti? Apakah sebagai mereka yang melakukan sendiri suatu perbuatan pidana (plegen). Pada rapat dami tersebut terdakwa Bambang Harymurti menyetujui tulisan Ahmad Taufik yang sudah diedit oleh T. 72 Menteng Jakarta Pusat. . pada rapat itu saksi Ahmad Taufik mengusulkan untuk menindaklanjuti berita tentang kebakaran Pasar Tanah Abang. Iskandar Ali tanpa meneliti kebenaran naskah berita tersebut. . diterbitkannya tulisan dengan judul “Ada Tomy di „Tenabang‟?” dalam Majalah Berita Mingguan Tempo edisi 3-9 Maret 2003 halaman 30-31 karena adanya perbuatan kerjasama yang nyata antara Terdakwa Bambang Harymurti dengan saksi Ahmad Taufik dan saksi T. Iskandar Ali kemudian hasilnya diserahkan kepada terdakwa untuk dikoreksi. saksi Ahmad Taufik membuat tulisan dengan judul “Ada Tomy di Tenabang?”. • Bahwa karena adanya persetujuan dari Terdakwa Bambang Harymurti. Dengan demikian. . maka berita dengan judul “Ada Tomy di „Tenabang‟?” dengan foto Tomy Winata dimuat dan dicetak dalam Majalah Berita Mingguan Tempo edisi 3-9 Maret 2003 kemudian dijual kepada umum. Kemudian usul saksi Ahmad Taufik tersebut disetujui oleh peserta rapat termasuk terdakwa Bambang Harymurti sebagai Pemimpin Redaksi.Bahwa selaku Pemimpin Redaksi dalam menjalankan tugasnya. dengan pertimbangan bahwa: .Bahwa oleh Saksi T. mereka yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana (doen plegen). Iskandar Ali. jurnalis (wartawan). editor. padahal saksi Ahmad taufik dan saksi T.Bahwa berdasarkan data-data yang diperoleh para Reporter Majalah Tempo tersebut. Yusup. • Berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas. diantaranya dewan redaksi.Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo yang mempunyai tugas dan tanggung jawab di seluruh bidang keredaksian dan mempunyai hak untuk menentukan diturunkan atau tidaknya suatu berita.Bahwa saksi Ahmad Taufik menugaskan reporter antara lain Bernarda Rurit untuk mewawancarai Tomy Winata dan Indra Darmawan ditugaskan untuk mewawancarai H.MH sudah ada unsur kesengajaan. keuangan) sampai pada tingkat loper. SH. selaku Walikota Jakarta Pusat dan saksi Cahyo Djunaedi mewawancarai Dani Anwar dan M. telah dilakukan setting dan editing yang oleh saksi Ahmad Taufik dan T. saksi Ahmad Taufik. pemasaran.. diadakan rapat perencanaan yang dihadiri oleh Terdakwa Bambang Harymurti. menjadi “Ada Tomy di „Tebanang‟?”. .Bahwa satu minggu sebelum terbit majalah Tempo Edisi 3-9 maret 2003. mereka yang turut serta/ bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana (medeplegen)? Terhadap “Unsur Dilakukan secara bersama-sama” (pasal 55 ayat (1) KUHP) Majelis Hakim dalam berkesimpulan bahwa unsur ini telah terpenuhi. terdakwa dibantu oleh beberapa tenaga teknis maupun tenaga administrasi perusahaan pers. saksi Raden Wahyu Muriadi bertempat di Kantor Majalah Tempo Jalan Proklamasi No.Bahwa dari hasil pengumpulan data oleh para wartawan Tempo tersebut. . Iskandar Ali mengetahui bahwa Tomy Winata adalah seorang pengusaha. dan terdakwa menyetujui dan mengizinkan berita tersebut untuk dimuat dalam Majalah Tempo edisi 3 s. .H. S. Dan dalam paragraph kedua menambahkan kata “Pemulung Besar” pada nama Tomy Winata. Iskandar Ali (keduanya sebagai terdakwa dalam berkas tersendiri). Disini JPU melupakan beberapa hal dalam pembuktian unsur ini. .Bahwa untuk mencari/ menemukan sumber berita terdakwa telah menugaskan beberapa orang wartawan.

telah menyetujui dimuat dan dicetak dalam Majalah Mingguan Tempo Edisi 3 s. . Kesimpulan: 1. dimana KUHP mengartikannya sebagai pelaku (dader) adalah mereka yang melakukan sendiri suatu perbuatan pidana (plegen). dituliskannya semua pendapat para Ahli mengenai unsur „bersamasama‟ secara lengkap oleh Majelis Hakim tidak berguna sama sekali apabila tidak dapat menentukan unsur „bersama-sama‟ yang manakah yang kiranya telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa. Hazewinkel Zuringa. mereka yang turut serta/ bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana (medeplegen) dan mereka yang dengan sengaja menganjurkan/ menggerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana (uitloking). Jaksa Penuntut Umum tidak menjelaskan peran yang diambil oleh Terdakwa bersama dengan saksi Achmad Taufik dan Teuku Iskandar Ali dalam kerjasama yang telah dituduhkan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Menurut pendapat saya.d 9 Maret 2003 halaman 30-31. mulai dari pendapat Prof. dengan foto Tomy Winata dimuat dan dicetak dalam majalah berita Mingguan Tempo Majalah Mingguan Tempo Edisi 3 s. MvT. Bahwa Majelis Hakim tidak melakukan analisis dan pertimbangan yang mendalam.Bahwa dengan persetujuan terdakwa. 525K/Pid/1990 tanggal 28 Juni 1990.Bahwa terdakwa tanpa meneliti kebenaran data berita yang dibuat oleh saksi Ahmad Taufik dan diedit oeh saksi T Iskandar Ali dengan judul “Ada Tomy di Tebanang”. Simons. Mr. . mereka yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana (doen plegen). 3. . atau terdakwa merupakan orang yang turut serta/ bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana (medeplegen) dan atau terdakwa merupakan orang yang dengan sengaja menganjurkan/ menggerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana (uitloking). .d 9 Maret 2003. Majelis Hakim sama sekali tidak menentukan termasuk unsur „bersama-sama‟ yang manakah yang kiranya telah dilakukan oleh terdakwa. atau terdakwa merupakan seseorang yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana (doen plegen). Memang pada bagian awal pertimbangannya mengenai unsur „bersama-sama‟ ini. Kemudian. tanpa merasa perlu untuk melakukan penggalian secara lebih mendalam terhadap semua unsur dakwaan yang kiranya telah terpenuhi oleh terdakwa. hingga Putusan MA RI No. Majelis Hakim sama sekali tidak menentukan termasuk unsur „bersama-sama‟ yang manakah yang kiranya telah dilakukan oleh terdakwa. Majelis Hakim tidak menentukan apakah terdakwa merupakan pelaku (dader) yaitu seseorang yang melakukan sendiri suatu perbuatan pidana (plegen). Noyon. berita “Ada Tomy di Tenabang”. Namun. pertimbangan Majelis Hakim tidak lengkap. Menimbang.d 9 Maret 2003. Majelis Hakim hanya memberikan pertimbangan hukum yang sekedarnya saja. karena adanya kerjasama antara terdakwa Bambang harymurti dengan Saksi Ahmad Taufik dan saksi T. Majelis Hakim menyebutkan bahwa dalam Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP unsur „bersama-sama‟ sifatnya adalah alternatif. 2.Bahwa terdakwa Bambang Harymurti selaku Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo mempunyai tugas dan tanggungjawab diseluruh bidang keredaksian dan mempunyai hak untuk menentukan diturunkan atau tidaknya suatu berita. Menurut hemat saya.Bahwa terbitnya tulisan dengan judul “Ada Tomy di Tebanang” Majalah Mingguan Tempo Edisi 3 s. Iskandar Ali. bahwa dengan demikian unsur bersama-sama telah pula terpenuhi adanya. Prof. Majelis Hakim juga menambahkan beberapa pendapat para ahli mengenai unsur „bersama-sama‟ ini..

yaitu pada tahun 1984 dengan upaya yang sangat rumit dan sulit untuk dideteksi. Perkara Pizza Connection ini menyangkut dana haram bernilai sekitar USD 600. Tetapi secara makro baik langsung maupun tidak langsung dapat mengganggu berbagai system ekonomi dan politik Negara. yang dituangkan dalam pasal 2 Undang-undang no. minumana keras. yaitu terkait dengan perusahaan Loundry atau perusahaan pencucian pakaian yang dibeli oleh mafia di Amerika Serikat dengan menggunakan dana dari usaha gelap atau illegal mereka seperti usaha perjudian.Kejahatan Money Loundering A. sekalipun upaya memberantas kejahatan kehutanan sesungguhnya telah lama dilakukan di Indonesia dengan menggunakan banyak pendekatan terutama sejak diundangkannya UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. adalah dengan restoran-restoran Pizza yang banyak tersebar di Amerika Serikat . Pemerintah telah menggalang kerjasama internasional guna mengoptimalkan langkah penanganan yang telah dilakukan serta memberi tekanan terhadap negara-negara yang selama ini memanfaatkan kayu haram dari Indonesia. Istilah money loundering ini lebih terkenal lagi di Amerika Serikat. masalah penyimpanan dana secara anonymous saving passbook accounts. yaitu menyimpan dana dengan nama samaran ataupun tanpa nama sehingga tidak bisa dilacak. sebaliknya kejahatan kehutanan terutama pembalakan liar terkesan semakin marak dan berani. juga merusak moral pemerintah dan bangsa secara keseluruhan. Berbagai langkah pemerintah itu tidak menyurutkan. karena berfungsi sebagai investment capital bagi pembangunan pada suatu Negara. Adapun faktor-faktor penyebab berkembangnya kejahatan money loundring di Indonesia maupun di dunia berkait erat dengan . 15 tahun 2002 yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2003.000. Perang terhadap kejahatan dibidang kehutanan dan konservasi sumber daya alam hayati belum secara khusus dilakukan namun terhadap illegal logging sudah dicanangkan Pemerintah sejak tahun 2001. sehingga disamping berkait dengan uang Negara. narkoba dan lainnya. Pemerintah saat ini tengah merampungkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) mengenai illegal logging guna meningkatkan upaya mengatasi masalah kejahatan kehutanan ini secara lebih efektif. masalah adanya rahasia bank yang ketat. masalah kerahasian hubungan client dan lawyer yang dilindungi oleh hukum serta yang paling penting lagi adalah masalah kesungguhan pemerintah untuk memerangi kejahatan money loundring secara konsekuen. akibat terungkapnya kasus pemutihan uang mafia tersebut yang terkenal dengan kasus Pizza Connection. akibatnya rakyat dirugikan tak kurang dari Rp 30 triliun per tahun . Adapun kedok yang digunakan untuk mengelabui atau menyamarkan uang haramnya tersebut. masalah teknologi perbankan secara elektronik yang terkenal dengan electronic money bahkan dengan E Comerce yang merupakan kejahatan maya (Cyber Crime) yang tentunya lebih sulit lagi untuk dilacak. namun sebenarnya telah dikenal sejak tahun 1930. Kejahatan money loundering diakui mempunyai dampak positif bagi perekonomian Negara. Pendahuluan Kejahatan Money Loundering pada awalnya selalu terkait dengan masalah perdagangan narkoba. karena cara kegiatannya yang kompleks menyangkut juga penggelapan pajak yang terkait dengan penyalah gunaan kekuasaan dan korupsi.000. Oleh karena itulah masalah Korupsi dan beberapa kejahatan lainnya dimasukkan sebagai predikat crime di dalam Undang-undang TPPU. sehingga system perbankan melindungi kejahatan ini.. prestitusi. sehingga dana haram milik penjahat akan sulit terlacak.(enam ratus juta dollar Amerika) yang ditransfer ke sejumlah bank di Swiss dan Italia.

Juga dalam pasal 3 KUHP memperluas sampai di dalam perahu Indonesia. diperuntukkan tanpa melihat kewarganegaraan seseorang. sudah diatur dalam UU No.(seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 15. B. Pasal 3 ayat (1) UU No 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UU no. serta dalam pasal 5 KUHP untuk warga Negara Indonesia dimana saja bila ketentuan pidana Indonesia sebagai kejahatan dan dinegara tempat dilakukan juga diancam pidana. untuk kejahatan tertentu. mentransfer. karena terkait dengan banyaknya permintaan baik dalam negeri maupun dari luar negeri. maka . mengingat harganya yang sangat tinggi dan kemudahan dalam pembawaan dalam arti tidak memerlukan alat dan tempat yang besar dalam pengirimannya. menukarkan atau perbuatan lainnya. menghibahkan atau menyumbangkan. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis tumbuhan dan satwa yang dalam lampiran PP tersebut memuat jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Menempatkan. artinya semua orang dapat dikenakan pasal ini. bahkan semakin marak. baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Dengan sengaja. dapat dijelaskan sebagai berikut :Kata setiap orang. lebihlebih masalah Money Loundring ini sudah merupakan masalah global.-(lima belas milyar rupiah). Dalam pasal 2 KUHP menyebutkan “Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia. menitipkan.000.. yang adalah masing-masing perbuatan merupakan suatu alternative yang cukup dibuktikan salah satunya saja. apakah sebagai bentuk kesengajaan sebagai kehendak. membayarkan atau membelanjakan menghibahkan atau menyumbangkan. dikuatkan dengan PP No. 5 tahun 1990. mentransfer. yang unsur-unsurnya sebagai berikut a. c. ataukah hanya karena tbentuk pengeahuan. Dibidang konservasi sumber daya alam hayati. menukarkan atau perbuatan lainnya. Harus diakui bahwa kejahatan kehutanan merupakan magnitude persoalan yang sangat besar. membawa keluar negeri. kecuali seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus. Tindak Pidana Pencucian Uang. langsung maupun tidak langsung. Banyak pihak yang andil dalam rantai kejahatan ini dan menikmati hasil yang diperoleh. Pendekatan rezim anti pencucian uang yang lebih memfokuskan pada deteksi transaksi keuangan mencurigakan (suspicious transaction report) dan penelusuran aliran dana (follow the money) merupakan alternatif instrumen yang dapat digunakan untuk membantu memerangi kejahatan kehutanan ini. membayarkan atau membelanjakan. Hal itu ditambah dengan bobroknya mental petugas bahkan ikut serta menjadi bagian dari kejahatan tersebut. membawa keluar negeri. b. artinya adanya pengetahuannya akan dampak dari perbuatannya.akibat illegal logging ini. namun kenyataannya kejahatan dibidang ini tetap berjalan. tentang Koservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. ini berarti orang yang disangkakan melakukan Tindak Pidana Pencucian uang tersebut harus dibuktikan sifat sengajanya. Suatu keniscayaan bahwa kejahatan kehutanan tidak mungkin tak dapat diberantas. Jumlah angka yang sangat fantastis.000.000. harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana (ke dalam penyedia jasa keuangan). menyebutkan “Setiap orang yang dengan sengaja menempatkan. Setiap orang. menitipkan.: 1. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 100.000. Demikian juga pasal 4 KUHP memperluas sampai di luar Indonesia. atau perbuatannya itu memang dikehendaki. 25/2003.000.

b) Menyembunyikan atau menyamarkan artinya menyimpan ditempat yang tersembunyi atau membuat tidak terangnya sesuatu. c) Asal-usul harta kekayaan. tetapi perbuatan tersebut harus dimaksudkan atau dikehendaki oleh pelaku untuk sebagaimana penjelasan di bawah ini. Dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Unsur pasal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Kata dengan maksud. 2. seperti : d. menunjukan sifat kesengajaannya. yang berarti harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik. Isinya niat tidak dapat diambil dari isinya kesengajaan. baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. artinya perbuatan sebagaimana unsur kedua dari huruf a sampai dengan huruf h tidak cukup sampai disitu. yaitu sebagaimana diatur dalam pasal 53 KUHP. Sedang yang dimaksud harta kekayaan disini adalah sebagaimana ketentuan pasal 1 angka 4 UU TPPU yang menyebutkan adalah semua benda bergerak atau benda tidak bergerak. artinya dalam hal ini cukup karena kekurang penghati-hatiannya maupun karena kurangnya penduga-dugaan. atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)”. Pasal 3 ayat (2) UU TPPU. Niat jika belum semua diselesaikan menjadi kejahatan akan tetap masih ada yang merupakan sifat bathin dan menjadi arah kepada perbuatan. tapi dalam konteks kehendak. pembantuan. “Setiap orang yang melakukan percobaan.kesemuanya harus dituangkan dalam berkas perkara. Harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. sebagaimana yang tertuang dalam pasal 2 ayat (1) Undangundang no. tetapi secara potensial dapat menjadi kesengajaan. mereka sudah dapat dikenakan pasal ini. yang berbunyi . yaitu : . tetapi harus dibuktikan tersendiri.Secara obyektif apa yang telah dilakukan pelaku harus mendekati delik. maksudnya orang tersebut dengan penilaiannya dia dapat mengetahui atau setidak-tidaknya secara kepatutan dapat memperkirakan (proparte dulus proparte culpa) bahwa harta itu diperolehnya dari hasil kejahatan. disebut sebagai percobaan terhenti. artinya darimana diperolehnya harta kekayaan yang dilakukan tindakan sebagaimana unsur kedua d) Yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. 2) Unsur Permulaan pelaksanaan Permulaan pelaksanaan tidak sama dengan persiapan pelaksanaan. Percobaan. 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. oleh karenanya untuk menjelaskan permulaan pelaksanaan. (lihat penjelasan pro parte dolus proparte culpa dalam point 2 b). sehingga orang lain tidak dapat mengetahui uang atau harta kekayaan itu bersih atau kotor. yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut : 1) Unsur niat Niat tidak sama dengan kesengajaan. . harus terpenuhi 3 (tiga) syarat.

badan. dapat terjadi pada saat timbulnya delik tanpa daya upaya tertentu dan dapat terjadi dengan mendahului delik melalui daya upaya memberi kesempatan. Sifat dapat dihukum berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan dari hukuman. 2 Dalam pembantuan dapat terjadi pembantuan aktif dan pembantuan pasif. Sifat melawan hukum adalah bertentangan dengan hokum (larangan atau perintah). kehormatan dsbnya. Pembantuan. . Analisis Pasal 56 KUHP terhadap kejahatan money loundering. dalam hal ini dapat diartikan baik bersifat melawan hukum secara formal maupun melawan hukum secara material. harta milik / benda.. (c)Keadaan-keadaan yang dibedakan : (1) Keadaan sebelum/saat perbuatan dilakukan. Delik penyertaan (deelneming) diatur masing-masing : (a) Sebagai pembuat yang turut melaksanakan segala anasir delik (pasal 55 (1) sub 1) (b) Sebagai pembuat peserta hanya turut melaksanakan sebagiandari anasir-anasir delik (pasal 55 (1) sub 1) (c) Sebagai pembuat penyuruh/tidak langsung (manus domina / tangan yang merajai) yang turut campur dengan cara menyuruh melakukan delik oleh orang lain pembuat langsung (manus ministra / tangan mengabdi) (pasal 55 (1) sub 1) (d) Sebagai pembuat penganjur (dinamai juga pembuat intelektual.Merupakan perbuatan melawan hukum. 3) Pada pembantuan pasif persoalnnya terletak pada tidak melakukan suatu sebagai perbuatan pembantuan atau senada dengan perbuatan pembiaran. dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Pembantuan atau medeplichtigheid.Secara objektif dari asfek niat tidak ada keraguan lagi perbuatan itu diarahkan kepada delik dimaksud. (2) Keadaan setelah perbuatan dilakukan. (d)Sifat dapat dihukum berkenaan dengan hukum. Unsur pokok obyektif Pidana terdiri dari : (a)Perbuatan manusia (positif atau negatif) (b)Menimbulkan akibat membahayakan. kemerdekaan.Unsur ini diperlukan dengan maksud agar adanya jaminan tidak dipidananya orang yang secara sukarela membatalkan pelaksanaan kejahatan yang telah dimulai. sarana atau keterangan. 3 Unsur Tidak selesainya perbuatan bukan karena kehendak sendiri. misalnya nyawa. 4) Pembantuan yang terjadi setelah timbulnya delik disebut sebagai persekongkolan jahat atau Tindak Pidana penadahan. yaitu sebagaimana diatur dalam pasal 56 KUHP. pembujuk atau pemikat) ialah menganjurkan oranSistem pertanggungg lain melakukan sesuatu delik dengan mempergunakan sesuatu delik dengan mempergunakan sesuatu iktiar (pasal 55 (10 sub 2) . sebagaimana diatur dalam pasal 480 KUHP. merusak/menghilangkan kepentingan/ kepentingan yang dipertahankan oleh hukum. sehingga harus jelas terhentinya perbuatan sebagai akibat dari campur tangannya pihak lain b.

adalah bahwa kejahatan tersebut tidak dapat dilakukan sendiri dan bersifat struktural. terhadap pasal 56 KUHP terkait dengan kasus money loundering. keterangan kepada orang yang bermaksud akan melakukan kejahatan/untuk memudahkan pelaksanaannya (pasal 56 (2). karena berfungsi sebagai investment capital bagi pembangunan pada suatu Negara.(e) Sebagai pembantu sementara kejahatan dilakukan yaitu turut memberi pertolongan kepada pembuat pada waktu kejahatan dilakukan (pasal 56 (1)) (f) Sebagai pembantu sebelum kejahatan dilakukan yaitu turut campur memberi kesempatan. Karena jika hal tersebut tidak dapat dilakukan. karena pasti banyak pihak yang terkait di dalamnya. dalam pasal 1 ayat (16) berbunyi sbb: “Rahasia Bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keuangan dan hal-hal lain dari nasabah bank yang menurut kelaziman dunia perbankan wajib dirahasiakan” Menurut saya.adanya rahasia bank yang ketat. sarana. Bank dalam hal ini pastinya memiliki keterkaitan dalam kejahatan ini. dalam uraian di atas. Menurut saya. maka para koruptor dapat secara aman menyimpan uang “haramnya” dengan sangat aman. Dalam UU no 7 th 1992 tentang Perbankan. Di sisi lain kejahatan kejahatan money loundering diakui mempunyai dampak positif bagi perekonomian Negara. selama menyangkut masalah keamanan Negara dan atau kepentingan publik. Sistem pertanggungjawaban adalah penyertaan (deelneming). Di satu sisi. sehingga dana haram milik penjahat akan sulit terlacak. sehingga system perbankan melindungi kejahatan ini. kita dapat mengesampingkan UU di atas. . Bahkan biasanya terjadi tindak pidana lain (concursus) terkait kejahatan money loudering. Bank melindungi rahasia nasabahnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful