Analisa kasus pidana yang terkait pasal 55 KUHP dan 56 KUHP”

Perkara Pidana No.1426/Pid.B/2003/PN.PST a.n. Bambang Harymurti, Pemimpin Redaksi Majalah Mingguan Tempo Penasihat Hukum; Todung Mulya Lbs, Darwin Aritonang, Yogi S.M, dkk Kasus Posisi: Pada tanggal 10 Maret 2003, Tomy Winata telah mengadukan pimpinan redaksi atau penanggung jawab Majalah TEMPO dengan dugaan telah melakukan tindak pidana fitnah dan atau pencemaran nama baik kepada Polda Metro jaya. Tindak pidana yang dipersangkakan dalam laporan polisi tersebut adalah fitnah dan atau pencemaran nama baik sesuai dengan Pasal 310 KUHP dan 311 KUHP.Tomy Winata yang mendalilkan dirinya sebagai pihak yang menjadi korban dalam pemberitaan majalah berita mingguan TEMPO edisi tanggal 3-9 Maret 2003 khususnya pada berita dengan judul “Ada Tomy di „Tenabang‟?”. Kemudian, pada tanggal 11 Maret 2003 sekitar jam 10.00 WIB, Tomy Winata diperiksa sebagai saksi pelapor/pengadu. Keterangan Tomy tersebut secara singkat adalah: • Bahwa ada kalimat-kalimat dalam berita tersebut yang mengakibatkan saksi merasa difitnah dan nama baiknya dicemarkan, antara lain:

a) Konon, Tomy Winata mendapat proyek renovasi Pasar Tanah Abang senilai Rp. 53 miliar. Proposal sudah diajukan sebelum kebakaran. Sehingga kalimat tersebut saksi merasa dituduh bahwa saksi sudah mengajukan proposal sebelum terjadinya kebakaran, padahal saksi tidak pernah mengajukan proposal. b) Dari musibah kebakaran, Rabu dua pekan lalu Suwarti dan rekan-rekannya mungkin menangguk lebih banyak penghasilan ketimbang sebelumnya, tapi juga: Pemulung Besar”Tomy Winata nantinya. Pengusaha dari Grup Artha Graha ini, kata seorang arsitekk kepada Tempo. Dalam kalimat ini Tempo telah menuduh saksi bahwa saksi disamakan dengan pemulung, yang seolah-olah bahwa akibat dari kejadian kebakaran di Pasar Tanah Abang saksi akan mendapatkan suatu keuntungan. c) Disitu, kios-kios bikinan Tomy rencananya akan dijual Rp. 175 juta per meter persegi dan baru diserahkan ke Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya, sedangkan saksi tidak pernah mengajukanproposal apalagi membikin kios di Tanah Abang sehingga dengan menentukan harga Rp. 175 juta permeter persegi ini jelas tidak benar. d) Anda orang keenam yang telepon. Saya belum pernah bicara dengan siapapun, baik sipil, swasta, maupun pemerintah, katanya, geram. Saya ini nggak makan nangkanya (tapi) dikasih getahnya, “kalau (mereka) berani ketemu muka saya tabokin dia. Kalau ada saksi, bukti atau data-data yang mengatakan saya deal duluan, saya kasih harta saya separuhnya.” Sedangkan saksi tidak pernah mengubungi dan tidak pernah ditelpon oleh majalah Tempo. • Akibat pemberitaan tersebut, saksi sebagai pengusaha merasa dicemarkan nama baiknya dan saksi merasa difitnah karena setelah terbitnya pemberitaan tersebut, banyak telepon atauorang yang menemui saksi menanyakan tentang kebenaran berita tersebut, sehingga usaha saksi menjadi terganggu. Selain itu, saksi telah mendapat informasi bahwa ada sekelompok orang yang mengaku dari pedagang Pasar Tanah Abang mengancam akan membunuh saksi sehingga berakibat keselamatan saksi menjadi terancam dan perasaan saksi menjadi resah. Kasus ini menempatkan Bambang Harymurti, T. Iskandar Ali, dan Ahmad Taufik sebagai terdakwa. Namun dalam kasus ini, Jaksa Penuntut Umum telah melakukan pemisahan surat

Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Pasal 55 ayat (1) KUH Pidana Kesatu Primair : … menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan bohong. Namun terdapat kejanggalan dalam proses pembuatan dakwaan ini. sehingga splitzing tidak perlu dan dinilai berlebihan. dengan dakwaan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal XIV ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. Kedua . …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal XIV ayat (2) UndangUndang no. dalam Edisi 3/9 Maret 2003 dengan judul : "Ada Tomy Di Tenabang?". “ Perkara ini secara jelas telah menempatkan para terdakwa sebagai pelaku atas tindak pidana yang masih memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Pasal 142 KUHAP menyatakan bahwa “dalam hal penuntut umum menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka yang tidak termasuk dalam ketentuan Pasal 141. dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat. sehubungan dengan Artikel yang diterbitkan oleh Majalah Tempo. b. Berdasarkan ketentuan tersebut. Ketentuan tersebut menyebutkan kriteria pemisahan perkara dengan mengacu pada Pasal 141 KUHAPyang berbunyi “Penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara dan membuat dalam satu surat dakwaan.dakwaan (splitzing) antara Bambang Harymurti(pemimpin redaksi) dengan T. telah menyiarkan berita. Subsidair : … menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan bohong.1 Tahun 1946 Jo. Dakwaan JPU Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat melalui Surat Dakwaan No. penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing masing terdakwa secara terpisah”. Iskandar Ali(editor) dan Ahmad Taufik(penulis). Surat dakwaan bagi ketiga terdakwa dilakukan secara terpisah (splitzing). Pasal 310 (1) KUH Pidana Jo. c. beberapa tindak pidana yang bersangkut paut satu dengan yang lain. Tujuan pemisahan surat dakwaan adalah untuk mendapatkan lebih banyak alat bukti. Tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 311 (1) Pidana. beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaaan tidak menjadikan halangan terhadap penggabungannya. Untuk membuat penuntutan secara splitzing harus mengikuti aturan yang telah ditentukan dalam KUHAP. Reg. 1. sebenarnya tidak ada alasan bagi jaksa untuk memisahkan perkara ini. dalam Majalah Mingguan Tempo edisi tanggal 3/9 Maret 2003…dst dengan judul “Ada Tommy Di Tenabang”. Tahun 1946. Perk. dalam Majalah Mingguan Tempo edisi tanggal 3/9 Maret 2003…dst dengan judul “Ada Tommy Di Tenabang”. akan tetapi yang satu dengan yang lain itu ada hubungannya yang dalam hal ini penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan pemeriksaan. Dalam kasus ini alat buktiyang dapat diajukan cukup banyak. beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut paut satu dengan yang lain. apabila pada waktu yang sama atau hampir bersamaan ia menerima beberapa perkara dalam hal: a. walaupun dalam praktik hal tersebut dapat saja dilakukan. telah menyiarkan berita. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal XIV ayat (1) UndangUndang no. dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.1 Tahun 1946 Jo. : PDM1069/JKTPS/07/2003. tanggal 21 Juli 2003 telah mendakwa Bambang Harymurti dalam kapasitasnya sebagai Pemimpin Redaksi MajalahTempo.

JPU menjelaskan dengan cara-cara sbb: • Bahwa berdasarkan keterangan saksi Ahmad Taufik. Pasal tersebut berbunyi: (1) Dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa pidana: Orang yang melakukan. Iskandar Ali mengetahui bahwa Tomy Winata adalah seorang pengusaha. yang menyuruh lakukan dan yang turut melakukan perbuatan. Lumbun selaku Walikota Jakarta Pusat dan saksi Cahyo Junaedi mewawancarai Dani Anwar dan M. • Bahwa terdakwa Bambang Harymurti di depan persidangan menerangkan selaku Pemimpin . yang menyuruh melakukan atau turut melakukan perbuatan itu. 72 Menteng Jakarta Pusat. Kemudian diadakan rapat perencanaan yang dihadiri oleh Terdakwa Bambang Harymurti. Yusup karena dianggap kedua orang tersebut banyak mengetahui permasalahan pasar Tanah Abang. Mengenai Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Pada rapat itu saksi mengusulkan untuk menindaklanjuti berita tentang kebakaran Pasar Tanah Abang kemudian usul saksi disetujui oleh peserta rapat termasuk terdakwa. Dalam dakwaan tersebut tidak disebutkan secara cermat dalam posisi apa para terdakwa tersebut. padahal saksi Ahmad Taufik dan T. Dari hasil wawancara tersebut. Dalam paragraf kedua menambah kata “Pemulung Besar” pada nama Tomy Winata. • Selanjutnya saksi Ahmad Taufik ditugaskan oleh saksi Raden Wahyu Muryadi untuk mencari sumber berita yang akan diwawancarai. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal 311 ayat (1) KUHP Jo. Kemudian hasil edit tersebut diserahkan ke redaktur bahasa untuk diperiksa tata bahasanya selanjutnya dilakukan rapat dam untuk menentukan penerbitan berita tersebut. tidak dapat membuktikan. dengan melakukan kejahatan pencemaran yang telah diberikan kesempatan dibuktikan. Subsidair : … sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang yang menuduhkan suatu hal. yang maksudnya terang. Iskandar Ali. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP menyatakan bahwa” dipidana sebagai pembuat (dader) sesuatu perbuatan pidana: Ke-1 merekayang melakukan. dengan merlakukan perubahan dari judul “ada Tomy di Tanah Abang” menjadi “Ada Tomy di „Tenabang‟?”. apakah sebagaiyang melakukan. supaya hal itu diketahui umum. Mengenai Dakwaan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. saksi Ahmad Taufik. Ahmad Taufik kemudian menugaskan reporter Bernarda Rurit untuk mewawancarai Tomy Winata dan Indra Darmawan untuk mewawancarai H.”. saksi pernah menulis kebakaran tentang Pasar Tanah Abang tanggal 19 Februari 2003 dalam rubrik Nasional Majalah Tempo karena pasar Tanah Abang adalah pasar yang beromzet besar. yang maksudnya terang. menyuruh lakukan atau yang turut serta melakukan. saksi Raden Wahyu Muryadi bertempat di kantor majalah Tempo jalan Proklamasi No.Primair : … sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang yang menuduhkan suatu hal. Penggunaan Pasal 55 KUHP Surat dakwaan yang disusun untuk Bambang Harymurti maupun T. supaya hal itu diketahui umum. …dst Perbuatan Terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal 310 ayat (1) KUHP Jo. Penjelasan peran yang diambil oleh para terdakwa tentunya akan membuat terang dan jelas dakwaan atas para Terdakwa. Iskandar Ali dan Ahmad Taufik telah mencantumkan Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. kedua tokoh belum tahu tentang Tomy Winata mengajukan proposal untuk renovasi pasar Tanah Abang. • Bahwa naskah tulisan Ahmad Taufik tersebut diedit oleh T.P.

yaitu termasuk dalam menentukan termasuk dalam kategori pelaku manakah terdakwa Bambang Harymurti? Apakah sebagai mereka yang melakukan sendiri suatu perbuatan pidana (plegen). saksi Ahmad Taufik. editor. JPU menyatakan unsur bersama-sama telah terpenuhi secara sah dan meyakinkan menurut hukum.MH sudah ada unsur kesengajaan. dan terdakwa menyetujui dan mengizinkan berita tersebut untuk dimuat dalam Majalah Tempo edisi 3 s. dilakukan perubahan dari judul “Ada Tomy di Tanah Abang”. Dan dalam paragraph kedua menambahkan kata “Pemulung Besar” pada nama Tomy Winata. Pada rapat dami tersebut terdakwa Bambang Harymurti menyetujui tulisan Ahmad Taufik yang sudah diedit oleh T. .Bahwa saksi Ahmad Taufik menugaskan reporter antara lain Bernarda Rurit untuk mewawancarai Tomy Winata dan Indra Darmawan ditugaskan untuk mewawancarai H. selaku Walikota Jakarta Pusat dan saksi Cahyo Djunaedi mewawancarai Dani Anwar dan M. divisi-divisi (iklan. Iskandar Ali. • Berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas. • Bahwa karena adanya persetujuan dari Terdakwa Bambang Harymurti.Bahwa oleh Saksi T. Iskandar Ali kemudian hasilnya diserahkan kepada terdakwa untuk dikoreksi. Iskandar Ali tanpa meneliti kebenaran naskah berita tersebut. diadakan rapat perencanaan yang dihadiri oleh Terdakwa Bambang Harymurti. terdakwa dibantu oleh beberapa tenaga teknis maupun tenaga administrasi perusahaan pers. pemasaran.Bahwa satu minggu sebelum terbit majalah Tempo Edisi 3-9 maret 2003. mereka yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana (doen plegen). padahal saksi Ahmad taufik dan saksi T.Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo yang mempunyai tugas dan tanggung jawab di seluruh bidang keredaksian dan mempunyai hak untuk menentukan diturunkan atau tidaknya suatu berita. Yusup. S.P Lumbun. Disini JPU melupakan beberapa hal dalam pembuktian unsur ini. Kemudian usul saksi Ahmad Taufik tersebut disetujui oleh peserta rapat termasuk terdakwa Bambang Harymurti sebagai Pemimpin Redaksi. dengan pertimbangan bahwa: . diterbitkannya tulisan dengan judul “Ada Tomy di „Tenabang‟?” dalam Majalah Berita Mingguan Tempo edisi 3-9 Maret 2003 halaman 30-31 karena adanya perbuatan kerjasama yang nyata antara Terdakwa Bambang Harymurti dengan saksi Ahmad Taufik dan saksi T. . SH. keuangan) sampai pada tingkat loper. mereka yang turut serta/ bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana (medeplegen)? Terhadap “Unsur Dilakukan secara bersama-sama” (pasal 55 ayat (1) KUHP) Majelis Hakim dalam berkesimpulan bahwa unsur ini telah terpenuhi. Iskandar Ali mengetahui bahwa Tomy Winata adalah seorang pengusaha. saksi Raden Wahyu Muriadi bertempat di Kantor Majalah Tempo Jalan Proklamasi No. jurnalis (wartawan).Bahwa untuk mencari/ menemukan sumber berita terdakwa telah menugaskan beberapa orang wartawan. . Hal tersebut menurut ahli Dr. Dengan demikian. menjadi “Ada Tomy di „Tebanang‟?”. saksi Ahmad Taufik membuat tulisan dengan judul “Ada Tomy di Tenabang?”. telah dilakukan setting dan editing yang oleh saksi Ahmad Taufik dan T. Iskandar Ali (keduanya sebagai terdakwa dalam berkas tersendiri).H. pada rapat itu saksi Ahmad Taufik mengusulkan untuk menindaklanjuti berita tentang kebakaran Pasar Tanah Abang. Rudy Satriyo. .d 9 Maret 2003. 72 Menteng Jakarta Pusat.Bahwa dari hasil pengumpulan data oleh para wartawan Tempo tersebut. diantaranya dewan redaksi.Bahwa berdasarkan data-data yang diperoleh para Reporter Majalah Tempo tersebut. .Bahwa selaku Pemimpin Redaksi dalam menjalankan tugasnya. . .. maka berita dengan judul “Ada Tomy di „Tenabang‟?” dengan foto Tomy Winata dimuat dan dicetak dalam Majalah Berita Mingguan Tempo edisi 3-9 Maret 2003 kemudian dijual kepada umum.

Memang pada bagian awal pertimbangannya mengenai unsur „bersama-sama‟ ini. dituliskannya semua pendapat para Ahli mengenai unsur „bersamasama‟ secara lengkap oleh Majelis Hakim tidak berguna sama sekali apabila tidak dapat menentukan unsur „bersama-sama‟ yang manakah yang kiranya telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa. 2. Namun. atau terdakwa merupakan orang yang turut serta/ bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana (medeplegen) dan atau terdakwa merupakan orang yang dengan sengaja menganjurkan/ menggerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana (uitloking). pertimbangan Majelis Hakim tidak lengkap.d 9 Maret 2003 halaman 30-31. Majelis Hakim juga menambahkan beberapa pendapat para ahli mengenai unsur „bersama-sama‟ ini. berita “Ada Tomy di Tenabang”. Prof. Kesimpulan: 1. 3.. Jaksa Penuntut Umum tidak menjelaskan peran yang diambil oleh Terdakwa bersama dengan saksi Achmad Taufik dan Teuku Iskandar Ali dalam kerjasama yang telah dituduhkan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Bahwa Majelis Hakim tidak melakukan analisis dan pertimbangan yang mendalam. Menimbang. Simons. Menurut hemat saya. dimana KUHP mengartikannya sebagai pelaku (dader) adalah mereka yang melakukan sendiri suatu perbuatan pidana (plegen). Menurut pendapat saya. mereka yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana (doen plegen). .Bahwa terbitnya tulisan dengan judul “Ada Tomy di Tebanang” Majalah Mingguan Tempo Edisi 3 s. Majelis Hakim hanya memberikan pertimbangan hukum yang sekedarnya saja. dengan foto Tomy Winata dimuat dan dicetak dalam majalah berita Mingguan Tempo Majalah Mingguan Tempo Edisi 3 s.d 9 Maret 2003. telah menyetujui dimuat dan dicetak dalam Majalah Mingguan Tempo Edisi 3 s. Kemudian. Majelis Hakim sama sekali tidak menentukan termasuk unsur „bersama-sama‟ yang manakah yang kiranya telah dilakukan oleh terdakwa. karena adanya kerjasama antara terdakwa Bambang harymurti dengan Saksi Ahmad Taufik dan saksi T. . Noyon. 525K/Pid/1990 tanggal 28 Juni 1990. Mr. mereka yang turut serta/ bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana (medeplegen) dan mereka yang dengan sengaja menganjurkan/ menggerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana (uitloking). . hingga Putusan MA RI No. atau terdakwa merupakan seseorang yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana (doen plegen). bahwa dengan demikian unsur bersama-sama telah pula terpenuhi adanya. Majelis Hakim tidak menentukan apakah terdakwa merupakan pelaku (dader) yaitu seseorang yang melakukan sendiri suatu perbuatan pidana (plegen). Hazewinkel Zuringa. MvT. Majelis Hakim menyebutkan bahwa dalam Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP unsur „bersama-sama‟ sifatnya adalah alternatif.Bahwa terdakwa Bambang Harymurti selaku Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo mempunyai tugas dan tanggungjawab diseluruh bidang keredaksian dan mempunyai hak untuk menentukan diturunkan atau tidaknya suatu berita. mulai dari pendapat Prof.Bahwa dengan persetujuan terdakwa.d 9 Maret 2003. . Majelis Hakim sama sekali tidak menentukan termasuk unsur „bersama-sama‟ yang manakah yang kiranya telah dilakukan oleh terdakwa. Iskandar Ali. tanpa merasa perlu untuk melakukan penggalian secara lebih mendalam terhadap semua unsur dakwaan yang kiranya telah terpenuhi oleh terdakwa.Bahwa terdakwa tanpa meneliti kebenaran data berita yang dibuat oleh saksi Ahmad Taufik dan diedit oeh saksi T Iskandar Ali dengan judul “Ada Tomy di Tebanang”.

yang dituangkan dalam pasal 2 Undang-undang no. Pemerintah saat ini tengah merampungkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) mengenai illegal logging guna meningkatkan upaya mengatasi masalah kejahatan kehutanan ini secara lebih efektif. sehingga dana haram milik penjahat akan sulit terlacak. juga merusak moral pemerintah dan bangsa secara keseluruhan. Berbagai langkah pemerintah itu tidak menyurutkan. Perkara Pizza Connection ini menyangkut dana haram bernilai sekitar USD 600. adalah dengan restoran-restoran Pizza yang banyak tersebar di Amerika Serikat . masalah adanya rahasia bank yang ketat.(enam ratus juta dollar Amerika) yang ditransfer ke sejumlah bank di Swiss dan Italia. Istilah money loundering ini lebih terkenal lagi di Amerika Serikat. masalah penyimpanan dana secara anonymous saving passbook accounts. sebaliknya kejahatan kehutanan terutama pembalakan liar terkesan semakin marak dan berani. Kejahatan money loundering diakui mempunyai dampak positif bagi perekonomian Negara.000. prestitusi. minumana keras. sehingga disamping berkait dengan uang Negara. akibat terungkapnya kasus pemutihan uang mafia tersebut yang terkenal dengan kasus Pizza Connection. sehingga system perbankan melindungi kejahatan ini. masalah teknologi perbankan secara elektronik yang terkenal dengan electronic money bahkan dengan E Comerce yang merupakan kejahatan maya (Cyber Crime) yang tentunya lebih sulit lagi untuk dilacak. Pendahuluan Kejahatan Money Loundering pada awalnya selalu terkait dengan masalah perdagangan narkoba. masalah kerahasian hubungan client dan lawyer yang dilindungi oleh hukum serta yang paling penting lagi adalah masalah kesungguhan pemerintah untuk memerangi kejahatan money loundring secara konsekuen. sekalipun upaya memberantas kejahatan kehutanan sesungguhnya telah lama dilakukan di Indonesia dengan menggunakan banyak pendekatan terutama sejak diundangkannya UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.Kejahatan Money Loundering A.. Tetapi secara makro baik langsung maupun tidak langsung dapat mengganggu berbagai system ekonomi dan politik Negara. Perang terhadap kejahatan dibidang kehutanan dan konservasi sumber daya alam hayati belum secara khusus dilakukan namun terhadap illegal logging sudah dicanangkan Pemerintah sejak tahun 2001. akibatnya rakyat dirugikan tak kurang dari Rp 30 triliun per tahun . karena cara kegiatannya yang kompleks menyangkut juga penggelapan pajak yang terkait dengan penyalah gunaan kekuasaan dan korupsi. 15 tahun 2002 yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2003. yaitu terkait dengan perusahaan Loundry atau perusahaan pencucian pakaian yang dibeli oleh mafia di Amerika Serikat dengan menggunakan dana dari usaha gelap atau illegal mereka seperti usaha perjudian. Adapun kedok yang digunakan untuk mengelabui atau menyamarkan uang haramnya tersebut. Adapun faktor-faktor penyebab berkembangnya kejahatan money loundring di Indonesia maupun di dunia berkait erat dengan . Oleh karena itulah masalah Korupsi dan beberapa kejahatan lainnya dimasukkan sebagai predikat crime di dalam Undang-undang TPPU. narkoba dan lainnya. karena berfungsi sebagai investment capital bagi pembangunan pada suatu Negara. yaitu menyimpan dana dengan nama samaran ataupun tanpa nama sehingga tidak bisa dilacak. Pemerintah telah menggalang kerjasama internasional guna mengoptimalkan langkah penanganan yang telah dilakukan serta memberi tekanan terhadap negara-negara yang selama ini memanfaatkan kayu haram dari Indonesia. namun sebenarnya telah dikenal sejak tahun 1930.000. yaitu pada tahun 1984 dengan upaya yang sangat rumit dan sulit untuk dideteksi.

bahkan semakin marak. Juga dalam pasal 3 KUHP memperluas sampai di dalam perahu Indonesia. ataukah hanya karena tbentuk pengeahuan.-(lima belas milyar rupiah). artinya adanya pengetahuannya akan dampak dari perbuatannya. diperuntukkan tanpa melihat kewarganegaraan seseorang. untuk kejahatan tertentu. mengingat harganya yang sangat tinggi dan kemudahan dalam pembawaan dalam arti tidak memerlukan alat dan tempat yang besar dalam pengirimannya. ini berarti orang yang disangkakan melakukan Tindak Pidana Pencucian uang tersebut harus dibuktikan sifat sengajanya. membayarkan atau membelanjakan. Dibidang konservasi sumber daya alam hayati.000. c. Setiap orang. Demikian juga pasal 4 KUHP memperluas sampai di luar Indonesia. menyebutkan “Setiap orang yang dengan sengaja menempatkan. dikuatkan dengan PP No. b. serta dalam pasal 5 KUHP untuk warga Negara Indonesia dimana saja bila ketentuan pidana Indonesia sebagai kejahatan dan dinegara tempat dilakukan juga diancam pidana. yang adalah masing-masing perbuatan merupakan suatu alternative yang cukup dibuktikan salah satunya saja. menitipkan. apakah sebagai bentuk kesengajaan sebagai kehendak. membawa keluar negeri. dapat dijelaskan sebagai berikut :Kata setiap orang. mentransfer. menukarkan atau perbuatan lainnya. menitipkan. membayarkan atau membelanjakan menghibahkan atau menyumbangkan. maka . Jumlah angka yang sangat fantastis. namun kenyataannya kejahatan dibidang ini tetap berjalan.000. 25/2003. kecuali seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus. sudah diatur dalam UU No. yang unsur-unsurnya sebagai berikut a. Pendekatan rezim anti pencucian uang yang lebih memfokuskan pada deteksi transaksi keuangan mencurigakan (suspicious transaction report) dan penelusuran aliran dana (follow the money) merupakan alternatif instrumen yang dapat digunakan untuk membantu memerangi kejahatan kehutanan ini. Menempatkan.. Banyak pihak yang andil dalam rantai kejahatan ini dan menikmati hasil yang diperoleh. Pasal 3 ayat (1) UU No 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UU no. langsung maupun tidak langsung. Harus diakui bahwa kejahatan kehutanan merupakan magnitude persoalan yang sangat besar.000. membawa keluar negeri. atau perbuatannya itu memang dikehendaki. Tindak Pidana Pencucian Uang. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis tumbuhan dan satwa yang dalam lampiran PP tersebut memuat jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. B. lebihlebih masalah Money Loundring ini sudah merupakan masalah global.000. menukarkan atau perbuatan lainnya.(seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 15. harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana (ke dalam penyedia jasa keuangan). dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 100.akibat illegal logging ini. Dengan sengaja. Dalam pasal 2 KUHP menyebutkan “Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia. tentang Koservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Hal itu ditambah dengan bobroknya mental petugas bahkan ikut serta menjadi bagian dari kejahatan tersebut. menghibahkan atau menyumbangkan. karena terkait dengan banyaknya permintaan baik dalam negeri maupun dari luar negeri. Suatu keniscayaan bahwa kejahatan kehutanan tidak mungkin tak dapat diberantas. mentransfer.000. artinya semua orang dapat dikenakan pasal ini.: 1. 5 tahun 1990.

seperti : d. Unsur pasal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Kata dengan maksud. sehingga orang lain tidak dapat mengetahui uang atau harta kekayaan itu bersih atau kotor. “Setiap orang yang melakukan percobaan. baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud.Secara obyektif apa yang telah dilakukan pelaku harus mendekati delik. pembantuan. Dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Niat jika belum semua diselesaikan menjadi kejahatan akan tetap masih ada yang merupakan sifat bathin dan menjadi arah kepada perbuatan. Percobaan.kesemuanya harus dituangkan dalam berkas perkara. tetapi secara potensial dapat menjadi kesengajaan. yang berbunyi . tapi dalam konteks kehendak. tetapi harus dibuktikan tersendiri. Isinya niat tidak dapat diambil dari isinya kesengajaan. tetapi perbuatan tersebut harus dimaksudkan atau dikehendaki oleh pelaku untuk sebagaimana penjelasan di bawah ini. oleh karenanya untuk menjelaskan permulaan pelaksanaan. yaitu sebagaimana diatur dalam pasal 53 KUHP. 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. 2) Unsur Permulaan pelaksanaan Permulaan pelaksanaan tidak sama dengan persiapan pelaksanaan. sebagaimana yang tertuang dalam pasal 2 ayat (1) Undangundang no. c) Asal-usul harta kekayaan. Sedang yang dimaksud harta kekayaan disini adalah sebagaimana ketentuan pasal 1 angka 4 UU TPPU yang menyebutkan adalah semua benda bergerak atau benda tidak bergerak. maksudnya orang tersebut dengan penilaiannya dia dapat mengetahui atau setidak-tidaknya secara kepatutan dapat memperkirakan (proparte dulus proparte culpa) bahwa harta itu diperolehnya dari hasil kejahatan. yang berarti harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik. (lihat penjelasan pro parte dolus proparte culpa dalam point 2 b). harus terpenuhi 3 (tiga) syarat. b) Menyembunyikan atau menyamarkan artinya menyimpan ditempat yang tersembunyi atau membuat tidak terangnya sesuatu. 2. Pasal 3 ayat (2) UU TPPU. mereka sudah dapat dikenakan pasal ini. yaitu : . Harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. menunjukan sifat kesengajaannya. . disebut sebagai percobaan terhenti. artinya darimana diperolehnya harta kekayaan yang dilakukan tindakan sebagaimana unsur kedua d) Yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. artinya dalam hal ini cukup karena kekurang penghati-hatiannya maupun karena kurangnya penduga-dugaan. artinya perbuatan sebagaimana unsur kedua dari huruf a sampai dengan huruf h tidak cukup sampai disitu. atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)”. yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut : 1) Unsur niat Niat tidak sama dengan kesengajaan.

pembujuk atau pemikat) ialah menganjurkan oranSistem pertanggungg lain melakukan sesuatu delik dengan mempergunakan sesuatu delik dengan mempergunakan sesuatu iktiar (pasal 55 (10 sub 2) . 4) Pembantuan yang terjadi setelah timbulnya delik disebut sebagai persekongkolan jahat atau Tindak Pidana penadahan. kehormatan dsbnya. misalnya nyawa. 3) Pada pembantuan pasif persoalnnya terletak pada tidak melakukan suatu sebagai perbuatan pembantuan atau senada dengan perbuatan pembiaran. sebagaimana diatur dalam pasal 480 KUHP. Analisis Pasal 56 KUHP terhadap kejahatan money loundering. (2) Keadaan setelah perbuatan dilakukan. badan. (d)Sifat dapat dihukum berkenaan dengan hukum. harta milik / benda. sarana atau keterangan.. Unsur pokok obyektif Pidana terdiri dari : (a)Perbuatan manusia (positif atau negatif) (b)Menimbulkan akibat membahayakan. Delik penyertaan (deelneming) diatur masing-masing : (a) Sebagai pembuat yang turut melaksanakan segala anasir delik (pasal 55 (1) sub 1) (b) Sebagai pembuat peserta hanya turut melaksanakan sebagiandari anasir-anasir delik (pasal 55 (1) sub 1) (c) Sebagai pembuat penyuruh/tidak langsung (manus domina / tangan yang merajai) yang turut campur dengan cara menyuruh melakukan delik oleh orang lain pembuat langsung (manus ministra / tangan mengabdi) (pasal 55 (1) sub 1) (d) Sebagai pembuat penganjur (dinamai juga pembuat intelektual. sehingga harus jelas terhentinya perbuatan sebagai akibat dari campur tangannya pihak lain b. . dapat terjadi pada saat timbulnya delik tanpa daya upaya tertentu dan dapat terjadi dengan mendahului delik melalui daya upaya memberi kesempatan. 3 Unsur Tidak selesainya perbuatan bukan karena kehendak sendiri. dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Pembantuan atau medeplichtigheid. 2 Dalam pembantuan dapat terjadi pembantuan aktif dan pembantuan pasif. (c)Keadaan-keadaan yang dibedakan : (1) Keadaan sebelum/saat perbuatan dilakukan.Merupakan perbuatan melawan hukum. dalam hal ini dapat diartikan baik bersifat melawan hukum secara formal maupun melawan hukum secara material. merusak/menghilangkan kepentingan/ kepentingan yang dipertahankan oleh hukum. Sifat dapat dihukum berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan dari hukuman.Secara objektif dari asfek niat tidak ada keraguan lagi perbuatan itu diarahkan kepada delik dimaksud. yaitu sebagaimana diatur dalam pasal 56 KUHP. Pembantuan.Unsur ini diperlukan dengan maksud agar adanya jaminan tidak dipidananya orang yang secara sukarela membatalkan pelaksanaan kejahatan yang telah dimulai. Sifat melawan hukum adalah bertentangan dengan hokum (larangan atau perintah). kemerdekaan.

sehingga dana haram milik penjahat akan sulit terlacak. Menurut saya. Bank dalam hal ini pastinya memiliki keterkaitan dalam kejahatan ini.(e) Sebagai pembantu sementara kejahatan dilakukan yaitu turut memberi pertolongan kepada pembuat pada waktu kejahatan dilakukan (pasal 56 (1)) (f) Sebagai pembantu sebelum kejahatan dilakukan yaitu turut campur memberi kesempatan. kita dapat mengesampingkan UU di atas. Bahkan biasanya terjadi tindak pidana lain (concursus) terkait kejahatan money loudering. keterangan kepada orang yang bermaksud akan melakukan kejahatan/untuk memudahkan pelaksanaannya (pasal 56 (2). Sistem pertanggungjawaban adalah penyertaan (deelneming). Karena jika hal tersebut tidak dapat dilakukan. adalah bahwa kejahatan tersebut tidak dapat dilakukan sendiri dan bersifat struktural. . Di satu sisi. karena pasti banyak pihak yang terkait di dalamnya. karena berfungsi sebagai investment capital bagi pembangunan pada suatu Negara. sehingga system perbankan melindungi kejahatan ini. Di sisi lain kejahatan kejahatan money loundering diakui mempunyai dampak positif bagi perekonomian Negara. dalam pasal 1 ayat (16) berbunyi sbb: “Rahasia Bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keuangan dan hal-hal lain dari nasabah bank yang menurut kelaziman dunia perbankan wajib dirahasiakan” Menurut saya. sarana. terhadap pasal 56 KUHP terkait dengan kasus money loundering. dalam uraian di atas.adanya rahasia bank yang ketat. Dalam UU no 7 th 1992 tentang Perbankan. maka para koruptor dapat secara aman menyimpan uang “haramnya” dengan sangat aman. selama menyangkut masalah keamanan Negara dan atau kepentingan publik. Bank melindungi rahasia nasabahnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful