P. 1
Gel

Gel

|Views: 1,007|Likes:
Published by Renny Febrianty

More info:

Published by: Renny Febrianty on Apr 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/15/2013

pdf

text

original

Gel merupakan sediaan semipadat yang jernih, tembus cahaya dan mengandung zat aktif, merupakan dispersi koloid

mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan yang saling berikatan pada fase terdispersi. Dalam industri farmasi, sediaan gel banyak digunakan pada produk obat-obatan, kosmetik dan makanan. Polimer yang biasa digunakan untuk membuat gel-gel farmasetik meliputi gom alam tragakan, pektin, karagen, agar, asam alginat, serta bahan-bahan sintetis dan semisintetis seperti metil selulosa, hidroksietilselulosa, karboksimetilselulosa, dan karbopol yang merupakan polimer vinil sintetis dengan gugus karboksil yang terionisasi. Gel terbagi menjadi dua yaitu : 1. Dasar gel hidrofobik Dasar gel hidrofobik umumnya terdiri dari partikel anorganik, bila ditambahkan ke dalam fase pendispersi, hanya sedikit sekali interaksi antara kedua fase. 2. Dasar gel hidrofilik Dasar gel hidrofilik umumnya terdiri dari molekul organik yang besar dan dapat dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase pendispersi. Gel hidrofilik umumnya mengandung komponen bahan pengembang, air, humektan dan bahan pengawet.

Keuntungan sediaan gel : - kemampuan penyebarannya baik pada kulit - efek dingin, yang dijelaskan melalui penguapan lambat dari kulit - tidak ada penghambatan fungsi rambut secara fisiologis - kemudahan pencuciannya dengan air yang baik - pelepasan obatnya baik

Penggolongan sediaan gel : 1. Berdasarkan sifat fasa koloid :Gel Organik (pembentuk gel berupa polimer) dan Gel Anorganik 2.

Berdasarkan sifat pelarut :

Hidrogel (pelarut air) Hidrogel terbentuk dari molekul polimer hidrofilik yang berikatan melalui ikatan kimia. Hidrogel mempunyai tegangan permukaan yang rendah dibanding cairan biologi dan jaringan sehingga meminimalkan kekuatan adsorbsi protein dan adhesi sel. Hidrogel bersifat lembut/lunak dan elastis sehingga meminimalkan iritasi.

Organogel (pelarut bukan air/pelarut organik). Contoh : plastibase (suatu polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam minyak mineral dan didinginkan secara shock cooled), dan dispersi logam stearat dalam minyak.  Xerogel. Xerogel dihasilkan oleh evaporasi pelarut, sehingga yang tersisa hanya kerangka gel. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula dengan penambahan agen yang mengembangkan matriks gel. Contoh : gelatin kering, tragakan ribbons dan acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene. 3. 4.

Berdasarkan bentuk struktur gel: Kumparan acak, Heliks, Batang Berdasarkan jenis fase terdispersi:

Gel fase tunggal Terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misal karbomer) atau dari gom alam (misal tragakan). Molekul organik larut dalam fasa kontinu. Gel sistem dua fasa Terbentuk jika masa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah. Dalam sistem ini, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, masa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma. Partikel anorganik tidak larut, hampir secara keseluruhan terdispersi pada fasa kontinu. Eksipien sediaan gel: 1. Gelling Agent Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur yaitu gum arab, turunan selulosa, dan karbomer. Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam media air, selain itu ada yang membentuk gel dalam cairan nonpolar. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel. Konsentrasi yang tinggi dari beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan untuk menghasilkan gel yang jernih di dalam sistem yang mengandung sampai 15% minyak mineral. 2. Polietilen (gelling oil)

Digunakan dalam gel hidrofobik menghasilkan gel yang lembut, mudah tersebar, dan membentuk lapisan/film yang tahan air pada permukaan kulit. Untuk membentuk gel, polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di atas 800C) kemudian langsung didinginkan dengan cepat untuk mengendapkan kristal yang merupakan pembentukan matriks. 3. Koloid padat terdispersi

. Pengawet Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan mikroba.001 % w/v atau benzalkonium klorida 0. Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan dengan gelling agent :  Tragakan : metil hidroksi benzoat 0. Penampilan gel : transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang terdispersi.2 % w/v atau metil hidroksi benzoat 0.1 % w/v atau asam benzoat 0.2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0. 4.2 % w/v.02% w/v  Na CMC : metil hidroksi benzoat 0.02 % w/v  Polivinil alkohol : klorheksidin asetat 0.05 % w/v  Na alginate : metil hidroksi benzoat 0. Contohnya EDTA Hal yang harus diperhatikan: 1.2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0. Kombinasi tersebut membentuk mikroemulsi. atau klorokresol 0. Chelating agent Bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitive terhadap logam berat.12 % w/v atau klorokresol 0.2 % w/v  Starch glyserin : metil hidroksi benzoat 0. carnauba wax. Polivinil alkohol Untuk membuat gel yang dapat mengering secara cepat. air.Mikrokristalin selulosa dapat berfungsi sebagai gellant dengan cara pembentukan jaringan karena gaya tarik-menarik antar partikel seperti ikatan hidrogen. Dalam pemilihan pengawet harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan gelling agent.1-0. Film yang terbentuk sangat kuat dan plastis sehingga memberikan kontak yang baik antara obat dan kulit.2 % w/v  Pektin : asam benzoat 0. Wax Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media nonpolar seperti beeswax. 7. setil ester wax.1. tetapi semua gel mengandung banyak air sehingga membutuhkan pengawet sebagai antimikroba.1-0. dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi. Bentuk komersial yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah produk pembersih rambut. dan konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. Tersedia dalam beberapa grade yang berbeda dalam viskositas dan angka penyabunan. 6.0.2 % w/v  MC : fenil merkuri nitrat 0.02 % w/v 8. Surfaktan Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral.2 % w/v atau asam benzoat 0. 5.

Pemilihan komponen dalam formula yang tidak banyak menimbulkan perubahan viskositas saat disimpan di bawah temperatur yang tidak terkontrol. 7. Inkompatibilitas dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat kationik pada kombinasi zat aktif. sehingga saat disimpan bersifat solid tapi sifat soliditas tersebut mudah diubah dengan pengocokan sehingga mudah dioleskan saat penggunaan topikal. Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus tepat sebab saat penyimpanan dapat terjadi penurunan konsentrasi polimer yang dapat menimbulkan syneresis (air mengambang diatas permukaan gel) 8. Pelarut yang digunakan tidak bersifat melarutkan gel. Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert. pengawet atau surfaktan dengan pembentuk gel yang bersifat anionik (terjadi inaktivasi atau pengendapan zat kationik tersebut).2. Viskositas sediaan gel yang tepat. . sebab bila daya adhesi antar pelarut dan gel lebih besar dari daya kohesi antar gel maka sistem gel akan rusak. 3. aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain dalam formulasi. 5. 4. 6. Penggunaan polisakarida memerlukan penambahan pengawet sebab polisakarida bersifat rentan terhadap mikroba.

Komponen Gel 1. kalium. dan 5% sebagai pembawa. dan 3.  Jenis kopolimer utama ialah kappa. Fraksi kappa dan iota membentuk gel yang reversibel terhadap pengaruh panas. sistem cair yang mengandung gum harus mengandung pengawet dengan konsentrasi yang cukup. Tragakan  Menurut NF. dan ester-ester magnesium sulfat dari polimer galaktosa. Gel iota bersifat elastis dan tetap jernih dengan keberadaan ion K. Garam kalsium dapat ditambahkan untuk meningkatkan viskositas dan kebanyakan formulasi mengandung gliserol sebagai pendispersi. terdiri dari berbagai proporsi asam D-mannuronik dan asam L-guluronik yang didapatkan dari rumput laut coklat dalam bentuk garam monovalen dan divalen. Beberapa contoh gum alam : Natrium alginat Merupakan polisakarida. Polimer (gel organik) Gum alam (natural gums) Umumnya bersifat anionik (bermuatan negatif dalam larutan atau dispersi dalam air). atau spesies Asia dari Astragalus. merupakan gel yang terkuat dengan keberadaan ion K. Sisanya adalah polisakarida netral. Tersedia dalam bebrapa grade sesuai dengan viskositas yang terstandardisasi yang merupakan kelebihan natrium alginat dibandingkan dengan tragakan. a. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel. Karagenan  Hidrokoloid yang diekstrak dari beberapa alga merah yang merupakan suatu campuran tidak tetap dari natrium. Gel kappa yang cenderung getas. selain itu ada yang membentuk gel dalam cairan nonpolar. i. Berikut ini adalah beberapa contoh gelling agent : A. Termasuk dalam kelompok ini adalah gum alam. amonium. dan karbomer.    ii. maka natural gum mudah terurai secara mikrobiologi dan menunjang pertumbuhan mikroba. Gelling Agents (Pustaka : Dysperse System.5-2% digunakan sebagai lubrikan. Konsentrasi yang tinggi dari beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan untuk menghasilkan gel yang jernih di dalam sistem yang mengandung sampai 15% minyak mineral.6anhidrogalaktosa. dan lambda karagenan. seperti guar gum. II. dan kalium. Karena komponen yang membangun struktur kimianya. vol. . tragakantin. iii.  Digunakan sebanyak 2-3% sebagai lubrikan.  Material kompleks yang sebagian besar tersusun atas asam polisakarida yang terdiri dari kalsium. Natrium alginat 1. turunan selulosa. Gum ini mengembang di dalam air. didefinisikan sebagai ekstrak gum kering dari Astragalus gummifer Labillardie.  Semua karagenan adalah anionik. iota. magnesium. kalsium. dan 5-10% digunakan sebagai pembawa. Oleh karena itu. Pengawet yang bersifat kationik inkompatibel dengan gum yang bersifat anionik sehingga penggunaannya harus dihindari. page 499-504) Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk jaringan yang merupakan bagian penting dari sistem gel. Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam media air. meskipun dalam jumlah kecil ada yang bermuatan netral.

membentuk gel pada konsentrasi sekitar 0. HPC  Sering digunakan karena menghasilkan gel yang bersifat netral. Sterilisasi sediaan atau penambahan pengawet dapat mencegah penurunan viskositas yang diakibatkan oleh depolimerisasi oleh enzim yang dihasilkan dari mikroorganisme. Na CMC. rentan terhadap degradasi oleh mikroba. viskositas stabil.  Tragakan kurang begitu populer karena mempunyai viskositas yang bervariasi.  Derivat selulosa rentan terhadap degradasi enzimatik sehingga harus icegah adanya kontak dengan sumber selulosa. Derivat selulosa  Selulosa murni tidak larut dalam air karena sifat kristalinitas yang tinggi. EHEC. HPMC.  Derivat selulosa yang sering digunakan adalah MC. Dalam media air. dan NH4OH sebaiknya ditambahkan.  Gel yang dihasilkan harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat karena air dapat menguap secara cepat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya proses sineresis.  pH harus dinetralkan karena karakter gel yang dihasilkan dipengaruhi oleh proses netralisasi atau pH yang tinggi. HEC. gel yang jernih. Koloid padat terdispersi . Misalnya : MC. Pektin  Polisakarida yang diekstrak dari kulit sebelah dalam buah citrus yang banyak digunakan dalam makanan. akan dihasilkan gel yang lembut. basa anorganik seperti NaOH. gel akan terbentuk dengan cara netralisasi dengan basa yang sesuai. Formula mengandung alkohol dan/atau gliserol dan/atau volatile oil untuk mendispersikan gum dan mencegah pengentalan ketika penambahan air.  Dalam sistem cair. b.  Viskositas dispersi karbomer dapat menurun dengan adanya ion-ion. HEC. C. mudah tersebar. yang diperdagangkan dalam bentuk asam bebasnya. Substitusi dengan gugus hidroksi menurunkan kristalinitas dengan menurunkan pengaturan rantai polimer dan ikatan hidrogen antar rantai.  Merupakan gelling agent yang kuat.5%. KOH. B. pertama-tama dibersihkan dulu. Na CMC. maka hanya diperlukan dalam konsentrasi kecil.5-7. resisten terhadap pertumbuhan mikroba. Viskositas akan menurun dengan cepat di luar range pH 4.  Gel terbentuk pada pH asam dalam larutan air yang mengandung kalsium dan kemungkinan zat lain yang befungsi menghidrasi gum. dan membentuk lapisan/film yang tahan air pada permukaan kulit. dan menghasilkan film yang kuat pada kulit ketika kering. HEMC. setelah udara yang terperangkap keluar semua. polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di atas 800C) kemudian langsung didinginkan dengan cepat untuk mengendapkan kristal yang merupakan pembentukan matriks. HPMC c. iv. Untuk membentuk gel. Polietilen (gelling oil) Digunakan dalam gel hidrofobik likuid. HPMC merupakan derivat selulosa yang sering digunakan.  Sifat fisik dari selulosa ditentukan oleh jenis dan gugus substitusi. Polimer sintetis (Karbomer = karbopol)  Sebagai pengental sediaan dan produk kosmetik.  Karbomer merupakan gelling agent yang kuat. Merupakan gelling agent untuk produk yang bersifat asam dan digunakan bersama gliserol sebagai pendispersi dan humektan. dan HPC. Misalnya MC.

dan konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. b.1-0. karena adanya kompetisi dengan medium yang melemahkan interaksi antar partikel tersebut. F. Gellants lain Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media nonpolar seperti beeswax.02 % w/v Polivinil alkohol : klorheksidin asetat 0. E. atau klorokresol 0. tetapi semua gel mengandung banyak air sehingga membutuhkan pengawet sebagai antimikroba.001 % w/v atau benzalkonium klorida 0. veegum.1-0.025% sebagai pengawet. Dalam pemilihan pengawet harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan gelling agent.12 % w/v atau klorokresol 0. Surfaktan Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral.2 % w/v Starch glyserin : metil hidroksi benzoat 0. Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan dengan gelling agent : Tragakan : metil hidroksi benzoat 0. laponite D.2 % w/v MC : fenil merkuri nitrat 0. carnauba wax. G. Viskositas dapat menurun dengan adanya basa. Biasanya digunkan pelarut air yang mengandung metilparaben 0. Film yang terbentuk sangat kuat dan plastis sehingga memberikan kontak yang baik antara obat dan kulit.05 % w/v  Na alginate : metil hidroksi benzoat 0. Kombinasi tersebut membentuk mikroemulsi. Pengawet Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan mikroba.2 % w/v  Pektin : asam benzoat 0. Contohnya gliserol. Bentonit harus disterilkan terlebih dahulu untuk penggunaan pada luka terbuka. Tersedia dalam beberapa grade yang berbeda dalam viskositas dan angka penyabunan. Contohnya : Bentonit.2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0.1 % w/v atau asam benzoat 0.2 % w/v.1.02 % w/v Pada umumnya pengawet dibutuhkan oleh sediaan yang mengandung air. Konsentrasi rendah dibutuhkan untuk cairan nonpolar. Penambahan Bahan higroskopis Bertujuan untuk mencegah kehilangan air.2 % w/v atau metil hidroksi benzoat 0. Clays (gel anorganik) Digunakan sebanyak 7-20% sebagai basis. Untuk cairan polar diperlukan konsentrasi yang lebih besar untuk membentuk gel. Magnesium oksida sering ditambahkan untuk meningkatkan viskositas.2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0. Bentuk komersial yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah produk pembersih rambut.      2. Bentonit dapat digunakan pada konsentrasi 5-20%. Bahan tambahan a.0.  Mikrokristalin selulosa dapat berfungsi sebagai gellant dengan cara pembentukan jaringan karena gaya tarik-menarik antar partikel seperti ikatan hidrogen. propilenglikol dan sorbitol dengan konsentrasi 10-20 % c. Polivinil alkohol Untuk membuat gel yang dapat mengering secara cepat. Chelating agent .02% w/v Na CMC : metil hidroksi benzoat 0. Karakteristik gel yang terbentuk dapat bervariasi dengan cara meng-adjust proporsi dan konsentrasi dari komposisinya. air.075% dan propilparaben 0.2 % w/v atau asam benzoat 0. setil ester wax. Mempunyai pH 9 sehingga tidak cocok digunakan pada kulit.

R/ Ichtimol 2g Tragakan 5g Alkohol 10 mL Gliserol 2g Air hingga 100 g Buat 50 g Metoda pembuatan:  Disiapkan untuk 60 g sebagai antisipasi kehilangan dalam proses  Botol ditara dan siapkan mucilago tragakan dengan 33 mL air  Ichtimol.1 Formula Umum/standar R/ Zat aktif Basis gel Zat tambahan Formula Basis Gel CONTOH BASIS FORMULA GEL 1. Gilbert S. B. gliserol dan 10 mL air dicampurkan. lalu ditutup dan dikocok segera  Volume digenapkan. lalu dimasukkan ke dalam wadah Pembuatan mucilage tragakan :  Pembawa disiapkan  Botol bermulut lebar dikalibrasi. lalu diaduk/dikocok  Berat diadjust dengan air. New york. R/ Na-alginat 7g Gliserol 7g Metil hidroksi benzoate 0..2    . martin M. kemudian dimasukkan ke dalam wadah 3.3. lalu dinginkan hingga 60C dan diaduk atau distirer cepat Campuran Na-lginat-gliserol ditambahkan ke dalam vorteks dengan jumlah sedikit. kemudian tambahkan mucilage tragakan. Macel Dekker Inc. lalu diaduk lebih lanjut hingga homogen.Bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitive terhadap logam berat. kemudian dikocok kembali. Vol II.2 g Ca-glukonat 0. Gel minyak mineral R/ Polietilen 10 % 3. dikeringkan di dalam oven kemudian dinginkan  Alkohol dimasukkan kemudian tambahkan tragakan (jangan terbalik karena akan mengakibatakan terjadinya pengentalan) kemudian dilakukan pengocokkan untuk mencampurkan  Ditungkan kedalam wadah yang berisi pembawa.. R. Herbert A. 1989.. lalu dicampurkan dan dimasukkan kedalam wadah untuk penyimpanan 2. Phamaceutical Dosage Forms Disperse System..05 g Air hingga 100 g Catatan : basis ini harus disimpan semalam sebelum digunakan Metoda pembuatan : Na-alginat dibasahkan dengan gliserol dalam mortir Pengawet dan Ca-glukonat dilarutkan ke dalam 80 mL air dengan bantuan pemanasan. FORMULA 3. Formula gel (Pustaka : Liweberman. Contohnya EDTA III. Hal 504-506) 1.

2. Clear gel R/ Minyak mineral 10 % Polioksietilen 10 oleil eter 20.9 % Air 43.8 % NaOH (larutan 10 %) 3.2 % ZnO 20 % Air 76 % Cara pembuatan : Karbomer didispersikan ke dalam air. kemudian air dipanaskan secara terpisah hingga 85C.3 % Propilen glikol 8. Gel efedrin sulfat R/ Efedrin sulfat 10 g Tragakan 10 g Metil salisilat 0.5 % Cara pembuatan : Semua komponen dipanaskan kecuali air hingga 90C. Campurkan dengan baik dan simpan dalam wadah tertutup baik selama 1 minggu dengan pengadukan. Kemudian tambahkan ZnO dan campurkan hingga homogen 5. Air dicampurkan ke dalam komponen lain tersebut dengan pengadukan. kemudian komponen lainnya. Gel zinc oksida R/ Karbomer 934 P (karbopol 934 P) 0.1 mL Gliserin 150 g Air 830 mL Cara pembuatan : Efedrin sulfat dilarutkan ke dalam air dan ditambahkan gliserin.Minyak mineral 90 % Cara pembuatan .6 % Sorbitol 6.1 g Eucalyptol 1 mL Minyak pine needle 0. lalu dinginkan hingga 60C 4. tragakan. lalu dinginkan dengan cepat melalui pengadukan.7 % Polioksietilen fatty gliserida 10. kemudian ditambahakan NaOH dengan pengadukan yang lambat untuk menghindari penyerapan /penjerapan udara. Gel sun Screening R/ Etanol Karbomer 940 53 % 1% . Campuran dipanaskan hingga 90C campur hingga homogen. Dicampurkan dan aduk atau kocok. 3.

Tambahkan larutan hydrogen peroksida dingin secara perlahan dengan pengadukan yang baik. Temperatur dijaga pada suhu 50 F. Timbang zat aktif dan zat tambahan lainnya . Poloksamer F-127 ditambahkan secara perlahan dengan pengadukan yang baik kemudian pengadukan dilakukan kembali hingga larutan terbentuk.Gliseril-p-amino benzoat 3 % Monoisopropanolamin 0.2 g Natrium heksametafosfat 5g Gliserin 10 g Air murni 100 g Cara pembuatan : Metil paraben dilarutkan ke dalam gliserin dengan penambahan panas. Disperse System Vol. Kemudian ditambahkan air ke dalm gliserin yang hangat dengan pengadukanm yang cepat.91 % Cara pembuatan : Karbomer 940 didispersikan ke dalam alcohol dan giseril-p-amino benzoat dilarutkan ke dalm larutan. Lalu pindahkan ke dalam wadah dan disimpan dalam temperatur ruangan hingga cairan menjadi gel yang jernih. Timbang sejumlah gelling agent sesuai dengan yang dibutuhkan 2. Gelling agent dikembangkan sesuai dengan caranya masing-masing 3. 7. larutan akan jernih dan terbentuk gel.09 % Air 52. kemudian Natrium heksametafosfat dilarutkan ke dalam larutan. IV. Basis clear Jelly R/ Na-alginat 3g Metil paraben 0. 6.arut sempurna. Lalu ditambahkan Na-alginat dengan pengadukan cepat yang kontinu hingga terl. METODA DAN PROSEDUR PEMBUATAN Proses pembuatan (Pustaka : Lachman. Gel hidroksi peroksida R/ Poloksamer F-127 25 % Hidrogen peroksida (larutan 30 %) 10 % Air murni 65 % Cara pembuatan : Air dipanakan hingga 40-50 F dan disimpan pada wadah pencampuran. 2): 1. Secara perlahan Monoisopropanolamin ditambahkan. Kemudian secara perlahan-lahan ditambahkan air dan dikocok dengan seksama untuk menghindari penyerapan udara. PERHITUNGAN FORMULA Perhitungan formula gel : Mengacu pada salep!!! V.

Volume akhir disesuaikan dengan menambahkan air steril. dan benzalkonium klorida dilarutkan dalam air yang berbeda. Tambahkan gelling agent yang sudah dikembangkan ke dalam campuaran tersebut atau sebaliknya sambil diaduk terus-menerus hingga homogen tapi jangan terlalu kuat karena akan menyerap udara sehingga menyebabkan timbulnya gelembung udara dalam sediaan yang nantinya dapat mempengaruhi pH sediaan. Tube disterilkan dengan metoda panas kering. yaitu dengan pemanasan 160 C selama 1 jam. Ujung tube ditutup lalu diberi etiket dan dikemas dalam wa dah ynag dilengkapi brosur dan etiket Wadah Gel     Gel lubrikan harus dikemas dalam tube dan harus disterilkan Gel untuk penggunaan mata dikemas dalam tube steril. Dispersi karbomer kemudian ditambahkan ke dalam larutan pilokarpin pada kondisi aseptik. Produk yang sudah jadi kemudian diisikan ke dalam tube gel untuk mata yang sebelumnya sudah disterilkan. Larutan ini kemudian disterilisasi dengan metode filtrasi membran. juga dilakukan pada kondisi aseptik. VI. Contoh formula gel steril : Pilokarpin Hidroklorida (Sediaan Gel untuk Mata) R/ Pilokarpin HCl (zat aktif) 4% Benzalkonium klorida (pengawet) 0. Gel untuk penggunaan pada kulit dapat dikemas dalam tube atau pot salep. Cara lain gel dapat disterilkan dengan metoda sterilisasi akhir dengan radiasi sinar gamma Co60. Gel disterilkan dengan metoda sterilisasi awal yaitu bahan awal disterilkan masing-masing kemudiaan dibuat secara aseptic. dinatrium edetat. Pilokarpin HCl. Metoda sterilisasi wadah Wadah untuk gel sterl adalah tube yang terbuat Dari logam. . PEMBUATAN GEL STERIL Metoda sterilisasi : Gel steril digunakan untuk penggunaan mata dan untuk lubrikan alat/kateter yang dimasukkan ke dalam tubuh. dilakukan pada kondisi aseptik.4. 5. Wadah harus diisi cukup penuh dan kedap udara untuk mencegah penguapan. Gel yang sudah jadi dimasukkan ke dalam alat pengisi gel dan diisikan ke dalam tube sebanyak yang dibutuhkan 6. Gel kemudian di masukkan ke dalam wadah yang steril.08% Dinatrium edetat (chelating agent) Karbomer 940 (gelling agent) Natrium hidroksida (adjust pH) qs dan atau Asam Hidroklorida (adjust pH) qs Air murni (purified water) qs 100 mL Cara Pembuatan : Karbomer didispersikan ke dalam sebagian air dan disterilisasi dalam autoklaf.

Pharmaceutical Dosage Forms. Dalamnya penetrasi yang dihasilkan dilihat dari sudut kontak dengan sediaan diwawah suatu tekanan. 576 VII. Yield value suatu sediaan viskoelastis dapat ditentukan dengan menggunakan penetrometer. Lieberman. Distribusi ukuran partikel Prosedur : sebarkan sejumlah gel yang membentuk lapisan tipis pada slide mikroskop Lihat di bawah mikroskop Suatu partikel tidak dapat ditetapkan bila ukurannya mendekati sumber cahaya  Untuk cahaya putih. Uji Kebocoran ( Lihat Lampiran FI IV Hal.. Uji difusi bahan aktif dari sediaan gel (Pustaka TA Sriningsih “Kecepatan difusi kloramfenikol dari sediaan salep”) Prinsip : Menguji difusi bahan aktif dari sediaan gel menggunakan suatu sel difusi dengan cara mengukur konsentrasi bahan aktif dalam cairan penerima pada selang waktu tertentu) 10. 1096) 6. Homogenitas ( Diktat teknologi likuida dan semisolid hal.4 – 0. Parenteral Medication.Pustaka : Avis. Viskositas/rheologi (lihat lampiran martin. . Stabilitas gel (Dosage Form. warna dan bau.1 5. Lachman. Penampilan (Diktat teknologi likuida dan semisolid hal. Evaluasi fisik 1. Farfis hal 501) Menggunakan viscometer Stromer dan viscometer Brookfield 4. Hal. Isi minimum (Lihat Lampiran FI IV hal. Penetapan pH (Lihat Lampiran FI IV hal 1039) 8. Dengan lensa khusus dan sinar UV. Nilai dibawah ini menunjukkan sediaan terlalu lunak dan mudah mengalir.2 hal 507) 1 tube a. Yield value ini dapat dihitung dengan rumus :    SO m g p n = yield value = massa kerucut dan fasa gerak (g) = percepatan gravitasi = dalamnya penetrasi (cm) = konstanta material mendekati 2 Yield value antara 100-1000 dines/cm2 menunjukkan kemampuan untuk mudah tersebar.127) Yang dilihat penampilan. suatu mikroskop bisa dapat mengukur partikel 0. Alat ini berupa logam kerucut atau jarum. Uji pelepasan Bhan aktif dari sediaan gel (Pustaka TA Ivantina “Pelepasan Diklofenak Dari Sediaan Salep”) Prinsip : mengukur kecepatan pelepasan bahan aktif dari sediaan gel dengan cara mengukur konsentrasi zat aktif dalam cairan penerima pada waktu-waktu tertentu 9.997) 7. disperse system vol.127) Caranya: oleskan sedikit gel diatas kaca objek dan diamati susunan partikel yang terbentuk atau ketidak homogenan. 2nd Ed. 2. 1993. II. EVALUASI GEL (Total perkiraan yang dibutuhkan 20 tube) A. 3. batas yang lebih rendah dapat diperluas sampai 0. Vol. diatas nilai ini menunjukkan terlalu keras dan tidak dapat tersebar.5 m.

makin tinggi suhu bearti makin stabil) B. 40. 60. Evaluasi kimia Identifikasi zat aktif (sesuai dengan monografi FI IV/kompendia lain) Penetapan kadar zat aktif (sesuai dengan monografi FI IV/kompendia lain)  C. Amati apakah terjadi pemisahan atau tidak (Lachman hal 1081)  Manipulasi suhu Gel dioleskan pada kaca objek dan dipanaskan pada suhu 30.b. Amati dengan bantuan indicator (seperti sudan merah) mulai suhu berapa terjadi pemisahan. 70  C. 50. Dilakukan uji dipercepat dengan :  Agitasi atau sentrifugasi (Mekanik) Sediaan disentrifugasi dengan kecepatan tinggi (sekitar 30000 RPM). Evaluasi biologi  Uji penetapan potensi antibiuotik (lihat lampiran FI IV hal 891) Uji sterilitas (lihat Lampiran FI IV Hal 855) .

hal 315) II. tragakan ribbons dan acacia tears. sehingga sisa – sisa kerangka gel yang tertinggal. hidrogel bersifat lembut/lunak. hidrogel menstimulasi sifat hidrodinamik dari gel biological. ansel):  Gel fase tunggal. sel dan jaringan dengan berbagai cara. C. hal 7) Gel adalah sediaan bermassa lembek. Xerogel sering dihasilkan oleh evaporasi pelarut.Sediaan GEL   I. Hidrogel mempunyai biokompatibilitas yang tinggi sebab hidrogel mempunyai tegangan permukaan yang rendah dengan cairan biologi dan jaringan sehingga meminimalkan kekuatan adsorbsi protein dan adhesi sel. Contoh : bentonit magma. masing-masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan (Formularium Nasional. elastis sehingga meminimalkan iritasi karena friksi atau mekanik pada jaringan sekitarnya. dan sellulosa kering dan polystyrene. terpenetrasi oleh suatu cairan. hal 496) A.     Berdasarkan bentuk struktur gel: Kumparan acak Heliks Batang Bangunan kartu D. contoh : bentonit magma  Gel organik. Berdasarkan jenis fase terdispersi (FI IV. terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Contoh : plastibase (suatu polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam minyak mineral dan didinginkan secara shock cooled). Hidrogel pada umumnya terbentuk oleh molekul polimer hidrofilik yang saling sambung silang melalui ikatan kimia atau gaya kohesi seperti interaksi ionik. Contoh : gelatin kering.  Xerogel. Berdasarkan sifat fasa koloid :  Gel anorganik. gelatin  Organogel (pelarut bukan air/pelarut organik). TEORI 2. Kekurangan hidrogel yaitu memiliki kekuatan mekanik dan kekerasan yang rendah setelah mengembang. Gel yang telah padat dengan konsentrasi pelarut yang rendah diketahui sebagai xerogel. (FI IV. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula dengan penambahan agen yang mengimbibisi. Berdasarkan sifat pelarut :  Hidrogel (pelarut air). ikatan hidrogen atau interaksi hidrofobik. pembentuk gel berupa polimer B. dan mengembangkan matriks gel. berupa suspensi yang dibuat dari zarah kecil senyawaan organik atau makromolekul senyawa organik. (Lachman. gel kadang – kadang disebut jeli.1 Pengolongan (Disperse Sistem). dan dispersi logam stearat dalam minyak. Gel fase . DEFINISI Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar.

Dalam sistem ini. penampilan sediaan yang jernih dan elegan. termasuk pada shampo. elastis. pelepasan obatnya baik. bahan pengental pada sediaan cairan oral. Kekurangan sediaan gel : Untuk hidrogel : harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih pada berbagai perubahan temperatur. dan kulit – dan sediaan perawatan rambut. Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat menyebabkan pedih pada wajah dan mata.3  Keuntungan dan Kekurangan Sediaan Gel. Molekul organik larut dalam fasa kontinu.4 Sifat / Karakteristik Gel (lachman. bahan pelindung koloid pada suspensi. hal 495 – 496) Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral.        . gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik. 2. parfum. mudah dicuci dengan air. Pharmaceuitical Dosage System. aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang baik selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan kekuatan atau daya yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol. Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan atau dihilangkan untuk mencapai kejernihan yang tinggi. hampir secara keseluruhan terdispersi pada fasa kontinu. tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang ketika berkeringat.  Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non streril) atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril) (FI IV.  Untuk kosmetik. Keuntungan sediaan gel : Untuk hidrogel : efek pendinginan pada kulit saat digunakan. kemampuan penyebarannya pada kulit baik. masa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma. hal 8)  2. atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk bentuk sediaan obat long – acting yang diinjeksikan secara intramuskular. Partikel anorganik tidak larut.  Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi tablet. Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang diharapkan. pemerasan tube. penampilan yang buruk pada kulit bila terkena pemaparan cahaya matahari. dalam bentuk sediaan yang tepat. kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal. alkohol akan menguap dengan cepat dan meninggalkan film yang berpori atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi atau kontak dengan zat aktif. Gel sistem dua fasa. tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misal karbomer) atau dari gom alam (misal tragakan). pasta gigi. Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau digunakan). Dysperse system. atau selama penggunaan topikal. 496 – 499) Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert.2 Kegunaan (Lachman. jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar. Volume 2. daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga pernapasan pori tidak terganggu. 2.1989. pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus pandang. terbentuk jika masa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah. dan basis suppositoria.

  Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur. Swelling Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorbsi larutan sehingga terjadi pertambahan volume. Efek suhu Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Polimer separti MC. Pada waktu pembentukan gel terjadi tekanan yang elastis. Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik dimana ion berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut yang ada dan koloid digaramkan (melarut). Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan adanya sejumlah konsentrasi ion kalsium yang disebabkan karena terjadinya pengendapan parsial dari alginat sebagai kalsium alginat yang tidak larut. sehingga terbentuk massa gel yang tegar. Rheologi Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang terflokulasi memberikan sifat aliran pseudoplastis yang khas. HPMC. 5. sehingga memungkinkan cairan bergerak menuju permukaan. Pada peningkatan suhu larutan tersebut membentuk gel. Gel yang tidak terlalu hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit kecil akan meningkatkan rigiditas gel dan mengurangi waktu untuk menyusun diri sesudah pemberian tekanan geser. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation Sifat dan karakteristik gel adalah sebagai berikut (Disperse system): 1. selama transformasi dari bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas dengan peningkatan konsentrasi pembentuk gel. HPMC dapat terlarut hanya pada air yang dingin yang akan membentuk larutan yang kental dan pada peningkatan suhu larutan tersebut akan membentuk gel. 3. Elastisitas dan rigiditas Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan nitroselulosa. dan menunjukkan jalan aliran non – Newton yang dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan peningkatan laju aliran. Struktur gel dapat bermacam-macam tergantung dari komponen pembentuk gel. Pengembangan gel kurang sempurna bila terjadi ikatan silang antar polimer di dalam matriks gel yang dapat menyebabkan kelarutan komponen gel berkurang. Efek elektrolit. Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel. tapi dapat juga pembentukan gel terjadi satelah pemanasan hingga suhu tertentu. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation. 2. terlarut hanya pada air yang dingin membentuk larutan yang kental. Cairan yang terjerat akan keluar dan berada di atas permukaan gel. 6. Contoh polimer seperti MC. Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan terjadi interaksi antara pelarut dengan gel.5 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi . Sineresis. Mekanisme terjadinya kontraksi berhubungan dengan fase relaksasi akibat adanya tekanan elastis pada saat terbentuknya gel. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. 2. Sineresis dapat terjadi pada hidrogel maupun organogel. 4. Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan atau deformasi dan mempunyai aliran viskoelastik. Adanya perubahan pada ketegaran gel akan mengakibatkan jarak antar matriks berubah.

II. sehingga saat disimpan bersifat solid tapi sifat soliditas tersebut mudah diubah dengan pengocokan sehingga mudah dioleskan saat penggunaan topikal.1. selain itu ada yang membentuk gel dalam cairan nonpolar. Termasuk dalam kelompok ini adalah gum alam. dan karbomer. Pengawet yang bersifat kationik inkompatibel dengan gum yang bersifat anionik sehingga penggunaannya harus dihindari. 7. Berikut ini adalah beberapa contoh gelling agent : A. Pemilihan komponen dalam formula yang tidak banyak menimbulkan perubahan viskositas saat disimpan di bawah temperatur yang tidak terkontrol. 3. 2. dan 5-10% digunakan sebagai pembawa. terdiri dari berbagai proporsi asam D-mannuronik dan asam L-guluronik yang didapatkan dari rumput laut coklat dalam bentuk garam monovalen dan divalen. Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam media air. turunan selulosa. Natrium alginat 1. 5. Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus tepat sebab saat penyimpanan dapat terjadi penurunan konsentrasi polimer yang dapat menimbulkan syneresis (air mengambang diatas permukaan gel) 8. dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi. maka natural gum mudah terurai secara mikrobiologi dan menunjang pertumbuhan mikroba. Penggunaan polisakarida memerlukan penambahan pengawet sebab polisakarida bersifat rentan terhadap mikroba. sebab bila daya adhesi antar pelarut dan gel lebih besar dari daya kohesi antar gel maka sistem gel akan rusak.6. pengawet atau surfaktan dengan pembentuk gel yang bersifat anionik (terjadi inaktivasi atau pengendapan zat kationik tersebut). Penampilan gel : transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang terdispersi. page 499-504) Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk jaringan yang merupakan bagian penting dari sistem gel. Oleh karena itu.  Tersedia dalam bebrapa grade sesuai dengan viskositas yang terstandardisasi yang merupakan kelebihan natrium alginat dibandingkan dengan tragakan. ii. Komponen Gel 1. Polimer (gel organik) a. Inkompatibilitas dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat kationik pada kombinasi zat aktif. 4. Natrium alginat  Merupakan polisakarida. aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain dalam formulasi. meskipun dalam jumlah kecil ada yang bermuatan netral. Karagenan . Karena komponen yang membangun struktur kimianya. 6. vol. Beberapa contoh gum alam : i. Gum alam (natural gums) Umumnya bersifat anionik (bermuatan negatif dalam larutan atau dispersi dalam air).5-2% digunakan sebagai lubrikan. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel.  Garam kalsium dapat ditambahkan untuk meningkatkan viskositas dan kebanyakan formulasi mengandung gliserol sebagai pendispersi. 2. Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert. Pelarut yang digunakan tidak bersifat melarutkan gel. seperti guar gum. Viskositas sediaan gel yang tepat. Gelling Agents (Pustaka : Dysperse System. Konsentrasi yang tinggi dari beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan untuk menghasilkan gel yang jernih di dalam sistem yang mengandung sampai 15% minyak mineral. sistem cair yang mengandung gum harus mengandung pengawet dengan konsentrasi yang cukup.

 Material kompleks yang sebagian besar tersusun atas asam polisakarida yang terdiri dari kalsium. tragakantin. merupakan gel yang terkuat dengan keberadaan ion K. membentuk gel pada konsentrasi sekitar 0. kalsium. Sisanya adalah polisakarida netral. dan menghasilkan film yang kuat pada kulit ketika kering. Na CMC. gel yang jernih.  Derivat selulosa rentan terhadap degradasi enzimatik sehingga harus icegah adanya kontak dengan sumber selulosa. dan HPC. Viskositas akan menurun dengan cepat di luar range pH 4. Gel kappa yang cenderung getas.  Sifat fisik dari selulosa ditentukan oleh jenis dan gugus substitusi.   Hidrokoloid yang diekstrak dari beberapa alga merah yang merupakan suatu campuran tidak tetap dari natrium. amonium. Gel iota bersifat elastis dan tetap jernih dengan keberadaan ion K. setelah .5%.  Karbomer merupakan gelling agent yang kuat. didefinisikan sebagai ekstrak gum kering dari Astragalus gummifer Labillardie. dan 3. Pektin  Polisakarida yang diekstrak dari kulit sebelah dalam buah citrus yang banyak digunakan dalam makanan. Dalam media air. Polimer sintetis (Karbomer = karbopol)  Sebagai pengental sediaan dan produk kosmetik.  Digunakan sebanyak 2-3% sebagai lubrikan. iii.  Formula mengandung alkohol dan/atau gliserol dan/atau volatile oil untuk mendispersikan gum dan mencegah pengentalan ketika penambahan air. Derivat selulosa  Selulosa murni tidak larut dalam air karena sifat kristalinitas yang tinggi. Merupakan gelling agent untuk produk yang bersifat asam dan digunakan bersama gliserol sebagai pendispersi dan humektan. Misalnya MC. kalium.5-7. HEMC. HPMC merupakan derivat selulosa yang sering digunakan. resisten terhadap pertumbuhan mikroba. Tragakan  Menurut NF. HPMC. pertama-tama dibersihkan dulu. yang diperdagangkan dalam bentuk asam bebasnya.  Gel terbentuk pada pH asam dalam larutan air yang mengandung kalsium dan kemungkinan zat lain yang befungsi menghidrasi gum. HEC. Na CMC. dan 5% sebagai pembawa. iv. Substitusi dengan gugus hidroksi menurunkan kristalinitas dengan menurunkan pengaturan rantai polimer dan ikatan hidrogen antar rantai. Semua karagenan adalah anionik. rentan terhadap degradasi oleh mikroba.  Gel yang dihasilkan harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat karena air dapat menguap secara cepat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya proses sineresis. Fraksi kappa dan iota membentuk gel yang reversibel terhadap pengaruh panas. HEC. dan kalium. magnesium.6anhidrogalaktosa. Sterilisasi sediaan atau penambahan pengawet dapat mencegah penurunan viskositas yang diakibatkan oleh depolimerisasi oleh enzim yang dihasilkan dari mikroorganisme. dan ester-ester magnesium sulfat dari polimer galaktosa. b. viskositas stabil. Jenis kopolimer utama ialah kappa. EHEC.  Tragakan kurang begitu populer karena mempunyai viskositas yang bervariasi. HPC  Sering digunakan karena menghasilkan gel yang bersifat netral. Misalnya : MC. iota. Gum ini mengembang di dalam air. dan lambda karagenan. atau spesies Asia dari Astragalus. HPMC c.  Derivat selulosa yang sering digunakan adalah MC.

Magnesium oksida sering ditambahkan untuk meningkatkan viskositas. Untuk membentuk gel. dan konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. Mempunyai pH 9 sehingga tidak cocok digunakan pada kulit. dan membentuk lapisan/film yang tahan air pada permukaan kulit. Merupakan gelling agent yang kuat. Viskositas dapat menurun dengan adanya basa. pH harus dinetralkan karena karakter gel yang dihasilkan dipengaruhi oleh proses netralisasi atau pH yang tinggi.05 % w/v . G. setil ester wax.2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0. Clays (gel anorganik) Digunakan sebanyak 7-20% sebagai basis. Bentuk komersial yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah produk pembersih rambut. mudah tersebar. basa anorganik seperti NaOH. F. Konsentrasi rendah dibutuhkan untuk cairan nonpolar. air. C. Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan dengan gelling agent :  Tragakan : metil hidroksi benzoat 0. Bentonit dapat digunakan pada konsentrasi 5-20%. karena adanya kompetisi dengan medium yang melemahkan interaksi antar partikel tersebut. Kombinasi tersebut membentuk mikroemulsi. Film yang terbentuk sangat kuat dan plastis sehingga memberikan kontak yang baik antara obat dan kulit. polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di atas 800C) kemudian langsung didinginkan dengan cepat untuk mengendapkan kristal yang merupakan pembentukan matriks.    B. Tersedia dalam beberapa grade yang berbeda dalam viskositas dan angka penyabunan. dan NH4OH sebaiknya ditambahkan. Contohnya : Bentonit. veegum. Bentonit harus disterilkan terlebih dahulu untuk penggunaan pada luka terbuka. Koloid padat terdispersi Mikrokristalin selulosa dapat berfungsi sebagai gellant dengan cara pembentukan jaringan karena gaya tarik-menarik antar partikel seperti ikatan hidrogen. E. Surfaktan Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral. Polietilen (gelling oil) Digunakan dalam gel hidrofobik likuid. KOH. Pengawet Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan mikroba. laponite   D. udara yang terperangkap keluar semua. akan dihasilkan gel yang lembut. 2. Karakteristik gel yang terbentuk dapat bervariasi dengan cara meng-adjust proporsi dan konsentrasi dari komposisinya. Untuk cairan polar diperlukan konsentrasi yang lebih besar untuk membentuk gel. Bahan tambahan a. gel akan terbentuk dengan cara netralisasi dengan basa yang sesuai. Gellants lain Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media nonpolar seperti beeswax. tetapi semua gel mengandung banyak air sehingga membutuhkan pengawet sebagai antimikroba. Dalam pemilihan pengawet harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan gelling agent. maka hanya diperlukan dalam konsentrasi kecil. carnauba wax. Polivinil alkohol Untuk membuat gel yang dapat mengering secara cepat. Dalam sistem cair. Viskositas dispersi karbomer dapat menurun dengan adanya ion-ion.

1 % w/v atau asam benzoat 0. Chelating agent Bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitive terhadap logam berat. Penambahan Bahan higroskopis Bertujuan untuk mencegah kehilangan air. propilenglikol dan sorbitol dengan konsentrasi 10-20 % c.1-0. Contohnya EDTA  III. FORMULA 3.02 % w/v Pada umumnya pengawet dibutuhkan oleh sediaan yang mengandung air.075% dan propilparaben 0. kemudian dikocok kembali.12 % w/v atau klorokresol 0.2 . R/ Ichtimol 2g Tragakan 5g Alkohol 10 mL Gliserol 2g Air hingga 100 g Buat 50 g Metoda pembuatan:  Disiapkan untuk 60 g sebagai antisipasi kehilangan dalam proses  Botol ditara dan siapkan mucilago tragakan dengan 33 mL air  Ichtimol.001 % w/v atau benzalkonium klorida 0.2 % w/v  Starch glyserin : metil hidroksi benzoat 0.0.02 % w/v  Polivinil alkohol : klorheksidin asetat 0.1-0.2 g 3. Contohnya gliserol.1. R/ Na-alginat 7g Gliserol 7g Metil hidroksi benzoate 0.02% w/v  Na CMC : metil hidroksi benzoat 0. lalu dimasukkan ke dalam wadah Pembuatan mucilage tragakan :  Pembawa disiapkan  Botol bermulut lebar dikalibrasi.1 Formula Umum/standar R/ Zat aktif Basis gel Zat tambahan Formula Basis Gel CONTOH BASIS FORMULA GEL 1. lalu dicampurkan dan dimasukkan kedalam wadah untuk penyimpanan 2.2 % w/v.2 % w/v  MC : fenil merkuri nitrat 0. kemudian tambahkan mucilage tragakan. gliserol dan 10 mL air dicampurkan. b. lalu ditutup dan dikocok segera  Volume digenapkan.2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0. lalu diaduk/dikocok  Berat diadjust dengan air.Na alginate : metil hidroksi benzoat 0.025% sebagai pengawet.2 % w/v atau asam benzoat 0. atau klorokresol 0. Biasanya digunkan pelarut air yang mengandung metilparaben 0.2 % w/v  Pektin : asam benzoat 0.2 % w/v atau metil hidroksi benzoat 0. dikeringkan di dalam oven kemudian dinginkan  Alkohol dimasukkan kemudian tambahkan tragakan (jangan terbalik karena akan mengakibatakan terjadinya pengentalan) kemudian dilakukan pengocokkan untuk mencampurkan  Ditungkan kedalam wadah yang berisi pembawa.

Hal 504-506) 1.9 % Air 43. 2...   Ca-glukonat 0. tragakan.1 g Eucalyptol 1 mL Minyak pine needle 0.. kemudian komponen lainnya. Macel Dekker Inc. Formula gel (Pustaka : Liweberman. martin M.6 % Sorbitol 6. 3. Herbert A. Dicampurkan dan aduk atau kocok. B. Phamaceutical Dosage Forms Disperse System. Campurkan dengan baik dan simpan dalam wadah tertutup baik selama 1 minggu dengan pengadukan. lalu dinginkan hingga 60C dan diaduk atau distirer cepat Campuran Na-lginat-gliserol ditambahkan ke dalam vorteks dengan jumlah sedikit. kemudian air dipanaskan secara terpisah hingga 85C. Gel minyak mineral R/ Polietilen 10 % Minyak mineral 90 % Cara pembuatan . New york. Clear gel R/ Minyak mineral 10 % Polioksietilen 10 oleil eter 20.1 mL Gliserin 150 g Air 830 mL Cara pembuatan : Efedrin sulfat dilarutkan ke dalam air dan ditambahkan gliserin. Air dicampurkan ke dalam komponen lain tersebut dengan pengadukan. lalu diaduk lebih lanjut hingga homogen.3 % Propilen glikol 8. lalu dinginkan dengan cepat melalui pengadukan. Gilbert S. Vol II.5 % Cara pembuatan : Semua komponen dipanaskan kecuali air hingga 90C. R. lalu dinginkan hingga 60C .3. Gel efedrin sulfat R/ Efedrin sulfat 10 g Tragakan 10 g Metil salisilat 0.7 % Polioksietilen fatty gliserida 10. 1989. kemudian dimasukkan ke dalam wadah 3.05 g Air hingga 100 g Catatan : basis ini harus disimpan semalam sebelum digunakan Metoda pembuatan : Na-alginat dibasahkan dengan gliserol dalam mortir Pengawet dan Ca-glukonat dilarutkan ke dalam 80 mL air dengan bantuan pemanasan. Campuran dipanaskan hingga 90C campur hingga homogen..

7. Gel sun Screening Etanol 53 % Karbomer 940 1% Gliseril-p-amino benzoat 3 % Monoisopropanolamin 0.2 % ZnO 20 % Air 76 % Cara pembuatan : Karbomer didispersikan ke dalam air. larutan akan jernih dan terbentuk gel.4.2 g Natrium heksametafosfat 5g Gliserin 10 g Air murni 100 g Cara pembuatan : Metil paraben dilarutkan ke dalam gliserin dengan penambahan panas. Tambahkan larutan hydrogen peroksida dingin secara perlahan dengan pengadukan yang baik. Gel hidroksi peroksida R/ Poloksamer F-127 25 % Hidrogen peroksida (larutan 30 %) 10 % Air murni 65 % Cara pembuatan : Air dipanakan hingga 40-50 F dan disimpan pada wadah pencampuran. Basis clear Jelly R/ Na-alginat 3g Metil paraben 0. Gel zinc oksida R/ Karbomer 934 P (karbopol 934 P) 0.8 % NaOH (larutan 10 %) 3. Temperatur dijaga pada suhu 50 F. R/ 6. Poloksamer F-127 ditambahkan secara perlahan dengan pengadukan yang baik kemudian pengadukan dilakukan kembali hingga larutan terbentuk. Lalu pindahkan ke dalam wadah dan disimpan dalam temperatur ruangan hingga cairan menjadi gel yang jernih.91 % Cara pembuatan : Karbomer 940 didispersikan ke dalam alcohol dan giseril-p-amino benzoat dilarutkan ke dalm larutan. Kemudian secara perlahan-lahan ditambahkan air dan dikocok dengan seksama untuk menghindari penyerapan udara. kemudian Natrium . kemudian ditambahakan NaOH dengan pengadukan yang lambat untuk menghindari penyerapan /penjerapan udara. Kemudian ditambahkan air ke dalm gliserin yang hangat dengan pengadukanm yang cepat. Secara perlahan Monoisopropanolamin ditambahkan. Kemudian tambahkan ZnO dan campurkan hingga homogen 5.09 % Air 52.

Wadah Gel     Gel lubrikan harus dikemas dalam tube dan harus disterilkan Gel untuk penggunaan mata dikemas dalam tube steril. 2. Gel untuk penggunaan pada kulit dapat dikemas dalam tube atau pot salep. Contoh formula gel steril : Pilokarpin Hidroklorida (Sediaan Gel untuk Mata) . Wadah harus diisi cukup penuh dan kedap udara untuk mencegah penguapan.heksametafosfat dilarutkan ke dalam larutan. IV. 4. Tube disterilkan dengan metoda panas kering. 5. 3. Cara lain gel dapat disterilkan dengan metoda sterilisasi akhir dengan radiasi sinar gamma Co60. Metoda sterilisasi wadah Wadah untuk gel sterl adalah tube yang terbuat Dari logam. VI. Gel disterilkan dengan metoda sterilisasi awal yaitu bahan awal disterilkan masing-masing kemudiaan dibuat secara aseptic. 2): Timbang sejumlah gelling agent sesuai dengan yang dibutuhkan Gelling agent dikembangkan sesuai dengan caranya masing-masing Timbang zat aktif dan zat tambahan lainnya Tambahkan gelling agent yang sudah dikembangkan ke dalam campuaran tersebut atau sebaliknya sambil diaduk terus-menerus hingga homogen tapi jangan terlalu kuat karena akan menyerap udara sehingga menyebabkan timbulnya gelembung udara dalam sediaan yang nantinya dapat mempengaruhi pH sediaan. Gel yang sudah jadi dimasukkan ke dalam alat pengisi gel dan diisikan ke dalam tube sebanyak yang dibutuhkan 6. PEMBUATAN GEL STERIL Metoda sterilisasi : Gel steril digunakan untuk penggunaan mata dan untuk lubrikan alat/kateter yang dimasukkan ke dalam tubuh. yaitu dengan pemanasan 160 C selama 1 jam. PERHITUNGAN FORMULA Perhitungan formula gel : Mengacu pada salep!!! V. METODA DAN PROSEDUR PEMBUATAN Proses pembuatan (Pustaka : Lachman. Gel kemudian di masukkan ke dalam wadah yang steril. Disperse System Vol.arut sempurna. Lalu ditambahkan Na-alginat dengan pengadukan cepat yang kontinu hingga terl. Ujung tube ditutup lalu diberi etiket dan dikemas dalam wa dah ynag dilengkapi brosur dan etiket 1.

1096) 6. Lieberman. suatu mikroskop bisa dapat mengukur partikel 0.2 hal 507) 1 tube    . 1993. Volume akhir disesuaikan dengan menambahkan air steril. Uji Kebocoran ( Lihat Lampiran FI IV Hal. 2. II. Uji pelepasan Bhan aktif dari sediaan gel (Pustaka TA Ivantina “Pelepasan Diklofenak Dari Sediaan Salep”) Prinsip : mengukur kecepatan pelepasan bahan aktif dari sediaan gel dengan cara mengukur konsentrasi zat aktif dalam cairan penerima pada waktu-waktu tertentu 9. Farfis hal 501) Menggunakan viscometer Stromer dan viscometer Brookfield 4. Dengan lensa khusus dan sinar UV.997) 7. batas yang lebih rendah dapat diperluas sampai 0. 3. dilakukan pada kondisi aseptik.5 m. Homogenitas ( Diktat teknologi likuida dan semisolid hal. Uji difusi bahan aktif dari sediaan gel (Pustaka TA Sriningsih “Kecepatan difusi kloramfenikol dari sediaan salep”) Prinsip : Menguji difusi bahan aktif dari sediaan gel menggunakan suatu sel difusi dengan cara mengukur konsentrasi bahan aktif dalam cairan penerima pada selang waktu tertentu) 10. Distribusi ukuran partikel Prosedur : sebarkan sejumlah gel yang membentuk lapisan tipis pada slide mikroskop Lihat di bawah mikroskop Suatu partikel tidak dapat ditetapkan bila ukurannya mendekati sumber cahaya  Untuk cahaya putih. Viskositas/rheologi (lihat lampiran martin.4 – 0. Stabilitas gel (Dosage Form. Hal. Parenteral Medication. Pustaka : Avis. Lachman. Penampilan (Diktat teknologi likuida dan semisolid hal.Pilokarpin HCl (zat aktif) 4% Benzalkonium klorida (pengawet) 0.1 5.127) Caranya: oleskan sedikit gel diatas kaca objek dan diamati susunan partikel yang terbentuk atau ketidak homogenan. Produk yang sudah jadi kemudian diisikan ke dalam tube gel untuk mata yang sebelumnya sudah disterilkan.127) Yang dilihat penampilan. disperse system vol. Dispersi karbomer kemudian ditambahkan ke dalam larutan pilokarpin pada kondisi aseptik. dinatrium edetat. Larutan ini kemudian disterilisasi dengan metode filtrasi membran. Penetapan pH (Lihat Lampiran FI IV hal 1039) 8. Isi minimum (Lihat Lampiran FI IV hal. warna dan bau. Evaluasi fisik 1. Vol. 576 R/ VII. juga dilakukan pada kondisi aseptik. Pharmaceutical Dosage Forms. 2nd Ed. EVALUASI GEL (Total perkiraan yang dibutuhkan 20 tube) A. Pilokarpin HCl.08% Dinatrium edetat (chelating agent) Karbomer 940 (gelling agent) Natrium hidroksida (adjust pH) qs dan atau Asam Hidroklorida (adjust pH) qs Air murni (purified water) qs 100 mL Cara Pembuatan : Karbomer didispersikan ke dalam sebagian air dan disterilisasi dalam autoklaf. dan benzalkonium klorida dilarutkan dalam air yang berbeda.

40. diatas nilai ini menunjukkan terlalu keras dan tidak dapat tersebar. 70  C. Evaluasi biologi  Uji penetapan potensi antibiuotik (lihat lampiran FI IV hal 891) Uji sterilitas (lihat Lampiran FI IV Hal 855) .. Dilakukan uji dipercepat dengan :  Agitasi atau sentrifugasi (Mekanik) Sediaan disentrifugasi dengan kecepatan tinggi (sekitar 30000 RPM). Alat ini berupa logam kerucut atau jarum. Nilai dibawah ini menunjukkan sediaan terlalu lunak dan mudah mengalir.a. makin tinggi suhu bearti makin stabil) B. Dalamnya penetrasi yang dihasilkan dilihat dari sudut kontak dengan sediaan diwawah suatu tekanan. Amati dengan bantuan indicator (seperti sudan merah) mulai suhu berapa terjadi pemisahan. 60. Evaluasi kimia Identifikasi zat aktif (sesuai dengan monografi FI IV/kompendia lain) Penetapan kadar zat aktif (sesuai dengan monografi FI IV/kompendia lain)  C. 50. Amati apakah terjadi pemisahan atau tidak (Lachman hal 1081)  Manipulasi suhu Gel dioleskan pada kaca objek dan dipanaskan pada suhu 30. Yield value suatu sediaan viskoelastis dapat ditentukan dengan menggunakan penetrometer. Yield value ini dapat dihitung dengan rumus : SO m g p n = yield value = massa kerucut dan fasa gerak (g) = percepatan gravitasi = dalamnya penetrasi (cm) = konstanta material mendekati 2 Yield value antara 100-1000 dines/cm2 menunjukkan kemampuan untuk mudah tersebar. b.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->