P. 1
Makalah Munasabah Al-qur'An

Makalah Munasabah Al-qur'An

|Views: 2,521|Likes:
Published by Machrus Kamil
ILMU AL QUR'AN
ILMU AL QUR'AN

More info:

Published by: Machrus Kamil on Apr 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2013

pdf

text

original

1

MUNASABAH AL-QUR‟AN
Oleh:
1. Heri Amriyanto
2. Machrus

PEMBAHASAN
Al-Qur‟an diturunkan oleh Allah SWT. kepada Nabi Muhammad saw.
kurang lebih 23 tahun. Kitab samawi terakhir ini diturunkan secara berangsur-
angsur sesuai dengan kondisi dan masalah yang dihadapi oleh Nabi Muhammad
saw. Urutan turunnya ayat al- Qur‟an ternyata tidak dijumpai dalam mushaf yang
ada. Ayat-ayat al-Qur‟an yang termaktub di dalam mushaf sepintas seperti tidak
ada hubungan antara yang satu dengan yang lain. Tetapi walaupun demikian,
tertib ayat dalam mushaf disepakati oleh para ulama‟ adalah bersifat tauqifi.
Berbeda dengan tertib ayat, susunan surat-surat di dalam al- Qura‟an, para
ulama‟ berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa susunan surat atau tertib
al-suwar adalah tauqifi. Sementara ulama‟ yang lain berpendapat bahwa tertib al-
suwar sebagian merupakan tauqifi dan sebagian lainnya ada yang ijtihadi.
Terlepas adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama‟ tentang tertib al-
suwar, susunan yang termuat di dalam mushaf baik susunan surat maupun ayat,
membuahkan kajian pada pemahaman pada al-Qur‟an secara komprehensif. Untuk
memahami al-Qur‟an secara komprehensif dan agar al-Qur‟an terlihat
kekokohannya, bahwa antara satu ayat dengan ayat yang lain dan antara surat
dengan surat lainnya adalah saling menopang dan saling menyempurnakan, maka
ilmu Munasabah adalah salah satu jawabannya.
A. PENGERTIAN MUNASABAH
Menurut al-Zarkasyi (1972: 35) kata munasabah secara bahasa berarti
mendekati (muqarabah), seperti dalam contoh kalimat : fulan yunasibu fulan
(fulan mendekati/menyerupai fulan). Kata nasib adalah kerabat dekat, seperti
dua saudara, saudara sepupu, dan semacamnya. Jika keduanya munasabah
dalam pengertian saling terkait, maka namanya kerabat (qarabah).
2

Tidak berbeda dengan al-Zarkasyi, Manna Al-qathan (2009: 137)
mengatakan bahwa munasabah menurut bahasa berarti kedekatan (al-
muraqqabah). Misalnya jika ”si A munasabah dengan si Pulan”, berarti si A
mendekati dan menyerupai si pulan itu, atau contoh lain misalnya ‟illat
hukum dalam qiyas yaitu adanya aturan logis yang melandasi suatu hukum
yang dapat menghubungkan antara kedua kasus. Ilustrasi lebih konkrit
misalnya ”memabukkan” adalah ”illat munasabah” yang menyebabkan
diharamkan-nya”khomr”. Bila zat yang memabukkan itu dijumpai dalam
minum selain ”khomr”, maka minuman itu sama hukumnya dengan ”khamr”
yakni haram.
Secara terminologi menurut Muhammad Amin Suma dalam Abd.
Rozak (2010: 75) munasabah adalah segi-segi hubungan atau persesuaian al-
Qur‟an antara bagian demi bagian dalam bebagai bentuknya. Yang dimaksud
dengan segi hubungan atau persesuaian adalah semua pertalian yang merujuk
kepada makna-makna yang mempertalikan satu bagian dengan bagian
lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan bagian demi bagian adalah
semisal antar kata atau kalimat dengan kata atau kalimat, antara ayat dengan
ayat, antara awal surah dengan akhir surah, antara surah yang satu dengan
surah yang lain, dan begitulah seterusnya hingga benar-benar tergambar
bahwa al-Qur‟an itu satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh (holistik).
Sementara di dalam Ulumul Qu‟an disebutkan bahwa ilmu munasabah
atau tanasubil ayati was suwari adalah ilmu untuk mengetahui alasan-alasan
penertiban dari bagian-bagian al-Qur‟an yang mulia. Ilmu ini menjelaskan
segi-segi hubungan antara beberapa ayat atau beberapa surah al-Qur‟an.
Apakah hubungan itu berupa ikatan antara umum dan khusus, antara abstrak
dan konkret, antara sebab-akibat, antara rasional dan irasional, atau antara dua
hal yang kontradiksi (Djalal, 2008: 154).
Dengan demikian dapat didefinisikan bahwa munasabah dalam al-
Qur‟an adalah adanya keserupaan atau kedekatan di antara berbagai ayat,
3

surah, dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan. Hubungan tersebut
dapat berbentuk keterkaitan makna atau redaksinya.
B. URGENSI MUNASABAH
Untuk memahami suatu ayat atau surah al-Qur‟an terkadang seseorang
mengalami kesulitan dalam menangkap maknanya secara utuh. Diantara
alternatif yang dapat dilakukan untuk mengungkapya sesuai dengan metode
munasabah adalah dengan cara mencari penjelasan di ayat atau surat lain
yang mempunyai kesamaan atau kemiripan. Mengapa harus ke ayat atau ke
surah lain? Karena pemahaman ayat secara parsial (pemahaman ayat tanpa
melihat ayat lain) sangat mungkin terjadinya kekeliruan (Anwar, 2009: 61).
Lebih lanjut Fazlurrahman dalam Ulumul Qur‟an karya Abu Anwar tersebut
(2009: 61) mengatakan, apabila seseorang ingin memperoleh apresiasi yang
utuh mengenali al-Qur‟an, maka ia harus dipahami secara terkait. Apabila al-
Qur‟an tidak dipahami secara utuh dan terkait, al-Qur‟an akan kehilangan
relevansinya untuk masa sekarang dan akan datang. Sehingga al-Qur‟an tidak
dapat menyajikan dan memenuhi kebutuhan manusia.
Setidaknya menurut Abd. Rozak (2010: 79) ada tiga alasan lahirnya
ilmu munasabah. Pertama, munasabah terlahir didasari dari kenyataan bahwa
sistematika al-Qur‟an sebagaimana terdapat dalam mushaf Usmani sekarang
tidak berdasarkan fakta kronologis turunnya. Itulah sebabnya terjadi
perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang urutan surat (tertib surat) di
dalam al-Qur‟an.
Kedua, selain dari sebab perbedaan pendapat di atas, metode
munasabah ayat secara praktis memang diperlukan bagi upaya penafsiran
ayat-ayat al-Qur‟an secara tepat. Hal ini dimungkinkan mengingat: pertama,
al-Qur‟an diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu yang relatif lama
dengan kondisi dan latar belakang yang berbeda; kedua, uslub (gaya bahasa)
al-Qur‟an yang sangat tinggi dan indah, sehingga tidak terlalu mudah bagi
para mufassir untuk mengetahui makna yang sebenarnya dari satu ayat; dan
4

ketiga, bentuk lafaz atau teks al-Qur‟an memiliki banyak karakteristik yang
tidak mudah untuk dapat secara langsung dipahami.
Ketiga, sifat-sifat al-Qur‟an ruthbahnya dan maksud-maksudnya nilai
petunjuk al-Qur‟an dapat berjalan terus sepanjang masa. Untuk kepentingan
hal ini, rasanya tidak mungkin tafsir-tafsir klasik mampu menjawab
kebutuhan zaman dewasa ini, yang dinamikanya sangat tinggi. Oleh karena
itu, munasabah ayat merupakan metode yang logis dan wajar di zamannya.
Untuk meneliti keserasian susunan ayat dan surat (munasabah) dalam
al-Qur‟an diperlukan ketelitian dan pemikiran yang mendalam. As-Suyuthi
dalam Anwar (2010: 84) menjelaskan ada beberapa langkah yang perlu
diperhatikan untuk menemukan munasabah ini, yaitu:
1. Harus diperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek
pencarian.
2. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas
dalam surat.
3. Menentukan tingkatan uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau
tidak.
4. Dalam mengambil kesimpulannya, hendaknya memperhatikan ungkapan-
ungkapan bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan.
Sebagaimana Asbabun Nuzul, Munasabah dapat berperan dalam
memahami Al-Qur‟an. Muhammad Abdullah Darraz berkata : ”Sekalipun
permasalahan yang diungkapkan oleh surat-surat itu banyak, semuanya
merupakan satu kesatuan pembicaraan yang awal dan akhirnya saling
berkaitan. Maka bagi orang yang hendak memahami sistematika surat
semestinyalah ia memperhatikan keseluruhannya, sebagaimana juga
memperhatikan permasalahannya”(Anwar: 2010: 96).
Dengan demikian, mempelajari Munasabah itu banyak sekali
kandungan faedah dan kegunaannya, diantaranya adalah sebagaimana
diuraikan dibawah ini :
5

1. Dapat mengembangkan bagian anggapan orang bahwa tema-tema al-
Qur‟an kehilangan relevansi antara satu bagian dan bagian yang lainnya.
2. Mengetahui persambungan /hubungan antara bagian Al-Quran, baik antara
kalimat atau antar ayat maupun antar surat, sehingga lebih memperdalam
pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-Qur‟an sehingga
memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya.
Contohnya hubungan antara QS. Al-Fatihah ayat 6
4®7´³4-¯O÷©^¯- EO4O´_^¯- 4^g³u--
(tunjukilah kami jalan yang lurus) dengan QS. al-Baqarah ayat 2
Elg¯·O CU4-´:^¯- ºº =UuC4O O gOOg· O O1³¬-
=}1´³+÷©·Ug¢¯ ^g÷
(Kitab al-Qur‟an ini tidak ada keraguan di dalamnya petunjuk bagi
orang-orang yang bertakwa)
3. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an. Bila tidak
ditemukan Asbabun Nuzulnya. Setelah diketahui hubungan suatu kalimat
atau suatu ayat dengan kalimat atau ayat yang lain, dimungkinkan
seseorang akan mudah mengistinbathkan hukum-hukum atau isi
kandungannya. Contoh munasabah pada QS. an-Nisa ayat 34 dan QS. al-
Mujadalah ayat 11. Kedua ayat itu berkaitan erat dengan tegaknya
qiwamah, yaitu faktor ilmu pengetahuan dan ekonomi. Hal itu ditunjukkan
dengan kata kunci “Bima Fadhdhala” dalam QS. an-Nisa ayat 34 dan
“yarfa” dalam QS. al-Mujadalah ayat 11.
4. Untuk memahami keutuhan, keindahan, dan kehalusan bahasa, (mutu dan
tingkat balaghah al-Qur‟an ) serta dapat membantu dalam memahami
keutuhan makna Al-Qur‟an itu sendiri.
C. MACAM-MACAM MUNASABAH
Membicarakan masalah munasabah dalam al-Qur‟an, sangat berkaitan
erat dengan sistem penertiban ayat dan surat dalam al-Qur‟an. Dalam hal ini
dinyatakan Manna‟ Khalil al-Qattan(2009: 36) bahwa “al-Qur‟an terdiri atas
surat-surat dan ayat-ayat, baik yang pendek maupun yang panjang. Ayat
adalah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam sebuah surat dalam al-
6

Qur‟an, dan surat adalah sejumlah ayat al-Qur‟an yang mempunyai
permulaan dan kesudahan. Tertib dan urutan ayat-ayat al-Qur‟an adalah
tauqifi, ketentuan dari Rasulullah saw dan atas perintahnya”. Hal tersebut
merupakan asumsi dari sebuah riwayat, dari Usman bin Abil „As berkata :
لٍشبج ٌواحأ : لاق مث ،ًبوص مث يشصبب صخش رإ ملس و ًَلع ا يلص ا لوسس ذىع اسلاج جىك
ًر ءاخٍإ و ناسحلا و لذعلاب شمأٍ ا نإ( .ةسوسلا يزٌ هم عضوملا ازٌ تٍُا يزٌ عضأ نأ ٌوشمأف
: لحىلا ـ .يبشقلا 09 خلا ) .
Aku tengah duduk di samping Rasulullah, tiba-tiba pandangannya menjadi
tajam lalu kembali seperti semula. Kemudian katanya, “Jibril telah datang
kepadaku dan memerintahkan agar aku meletakkan ayat ini di tempat dari
surah ini : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan serta memberi kepada kerabat, …(an-Nahl : 90) dan seterusnya.
Sementara menurut Anwar (2009: 62) tertib surah dalam al-Qur‟an
terdapat tiga pendapat, yaitu pertama, jumhur ulama berpendapat tauqifi. Hal
itu ditunjukkan alasan bahwa setiap tahun Jibril datang menemui Nabi dalam
rangka mendengarkan atau menyimak bacaan al-Qur‟an yang dilakukan oleh
Nabi dan Nabi sering membaca al-Qur‟an dengan tertib surah seperti yang
ada sekarang; kedua, ada kelompok yang mengatakan ijtihadi. Alasan mereka
adalah tidak ada petunjuk langsung dari Nabi tentang tertib surah dalam al-
Qur‟an, sahabat pernah mendengar Nabi membaca al-Qur‟an berbeda dengan
susunan surah yang sekarang, dan mushaf yang ada pada catatan sahabat
berbeda-beda; dan ketiga, sebagian dikatakan tauqifi dan sebagian lagi
ijtihadi. Alasannya ternyata tidak semua nama-nama surah itu diberikan oleh
Allah, tetapi sebagian diberikan oleh Nabi seperti Surah Thaha dan Yasin.
Dalam pembagian munasabah, para ulama berbeda pendapat mengenai
pengelompokan munasabah dan jumlahnya, hal ini dipengaruhi bagaimana
seorang ulama tersebut memandang suatu ayat, dari segi berbeda. Menurut
Anwar dalam Ulum Al-Qur‟an (2009: 65-76), munasabah dapat dilihat dari
tiga segi, yaitu munasabah ayat dalam satu surah, munasabah antara suatu
7

surah dengan surah lainnya, dan munasabah antara nama surah dengan isi
yang dikandungnya.
1. Munasabah Ayat dalam Satu Surah
a. Munasabah Kalimat dengan Kalimat atau Ayat dengan Ayat
Munasabah antara kalimat atau ayat dalam al-Qur‟an, yaitu hubungan
atau persesuaian antara kalimat atau ayat yang satu dengan kalimat atau
ayat yang lain. Letak munasabah antar satu ayat dengan ayat yang lain
terkadang tampak jelas namun tidak jarang pula yang tidak jelas.
Kemungkinan jelasnya munasabah antar ayat lebih besar karena jarang
sekali pembahasan mengenai satu topik dapat selesai hanya dalam satu
ayat saja. Ayat berikutnya biasanya berfungsi untuk menguatkan,
menerangkan, memberi penjelasan, mengecualikan, mengkhususkan,
menengahi dan mengakhiri pembicaraan. Dalam hal demikian, ukuran
yang digunakan untuk mencari munasabah adalah dengan melihat sisi
hubungan, baik langsung („athaf) atau tidak langsung. Munasabah
dalam bentuk langsung (menggunakan huru „athaf) adalah munasabah
dua bagian makna, yang mengandung satu segi yang dapat
mensingkronkan, sehingga keduanya sesuai dan serupa walaupun tidak
sama persis, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 102
dan 103 berikut:
Og¬³Ò^4C 4ׯg~-.- W-ON44`-47
W-O¬³4>- -.- E-EO ·gOg>·³¬> ºº4Ò
E׬-O¬¼·` ·º)³ ª+^Ò¡4Ò 4pO÷©)U¯OG`
^¯´g÷ W-O÷©´4-;N-4Ò ÷¯lO4·±
*.- 4¬Og©E_ ºº4Ò W-O¬~·OE¼·> _
W-ÒNO7^O-4Ò =eE©u¬g^ *.-
¯ª7¯^OÞU4× ^O)³ u®7+L7 w7.-E³;NÒ¡
E--¯Ò·· 4×u-4 ¯ª7¯)O¬U¬~
®7+¯·4l;Ò·· ¼·gOg4©u¬gL)
L^4Ou=)³ u®7+L74Ò _OÞ>4N E¼E-
±E4O^¼NO =}g)` jOEL¯- ª7EO·³^Ò··
8

Ogu+g)` ¯ Elg¯EOE ÷×))-4:NC +.-
¯ª7¯·¯ ·gOg-4C-47 u7¯+UE¬·¯
4pÒ÷³4-¯g·¯ ^¯´@÷
102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati
melainkan dalam Keadaan beragama Islam.
103. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah
kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,
Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di
tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu
mendapat petunjuk.
Faedah dari munasabah ini adalah untuk menjadikan dua ayat tersebut
sebagai dua hal yang sama. Ayat102 menyuruh bertakwa dan ayat 103
menyuruh berpegang kepada agama Allah, dua hal yang sama.
Sementara jika tidak memakai huruf athaf, maka sandarannya adalah
qarinah ma‟nawiyah (hubungan maknawi). Contohya dapat dilihat pada
QS. Al-Ihlas.
¯¬~ 4O¬- +.- N³EOÒ¡ ^¯÷ +.-
÷³E©O¯- ^g÷ ¯ª·¯ ;)-4C ¯ª·¯4Ò
;³·¯ONC ^@÷ ¯ª·¯4Ò }7¯4C N¡-. -O¬¼¬±
l³EOÒ¡ ^j÷
Masing-masing ayat dalam surah tersebut saling menguatkan tema
pokoknya, yaitu tentang keesaan Allah.
Aspek musabah antara kalimat dengan kalimat atau ayat dengan ayat ini
dapat mengambil bentuk:
9

1) At-Tanzir ( خلا شٍزى ), yaitu membandingkan dua hal yang sebanding
menurut kebiasaan orang yang berakal. Misalnya QS. al-Anfal: 5.
.E©E ElE_4Ou=Ò¡ ElG4O }g`
Elg-uO4 ÷--E·^¯) Ep)³4Ò L³C@O··
=}g)` 4×-gLg`u·÷©^¯- 4pO¬-@O·¯·¯ ^)÷
Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan
kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang
beriman itu tidak menyukainya.
Sedangkan ayat sebelumnya (QS. Al-Anfal: 4) berbunyi:
Elj·^·¯Òq¡ Nª¬-
4pONLg`u·÷©^¯- E³EO _ ¯ª+¤=±
7eE_4OE1 E³4gN ¯¦)_)Þ4O
¬E4Og¼^¯4`4Ò ¬-^ejO4Ò _¦C@Oº±
^j÷
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.
mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi
Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.
Di sini ada dua keadaan yang sebanding, yaitu mereka yang
mengikuti perintah Tuhannya akan mendapat imbalan sesuai dengan
kerjanya. Imbalan tersebut adalah kebaikan dunia dalam bentuk
materi dari harta rampasan, dan imbalan akhirat adalah pahala yang
berlipat ganda serta keampunan dari pemberi perintah (Allah).
2) Al-Mudhadat ( اذضملا ث ) artinya berlawanan atau kontradiksi.
Misalnya QS. al-Baqarah: 6 dengan ayat sebelumnya, yaitu QS. al-
Baqarah: 3-5.
Ep)³ ¬-¯g~-.- W-ÒNOE¼E v7.-4OEc
¯¦)_^1ÞU4× ¯ª÷_·>¯OEO^Ò¡47 u¯Ò¡ ¯ª·¯
¯ª¬-¯O´OL¬> ºº 4pONLg`u·NC ^g÷
10

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu
beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga
akan beriman.
Ayat ini menerangkan watak orang kafir yang pembangkang, keras
kepala, tidak percaya kepada kitab-kitab Allah. Sedangkan ayat
sebelumnya Allah menerangkan watak orang mukmin yang sangat
berlawanan dengan orang kafir, yaitu memiliki memiliki
kepercayaan yang kuat. Mereka percaya adanya yang gaib,
melaksanakan shalat, memiliki sifat kebersamaan atau solidaritas,
dan percaya terhadap kitab-kitab Allah sebelum al-Qur‟an.
4ׯg~-.- 4pONLg`u·NC jU^O4¯^¯)
4pON©O´³NC4Ò ÞE_OÞUO¯- 4¼¯¯4Ò
¯ª÷_4L^~Ee4O 4pO¬³g¼LNC ^@÷ 4ׯg~-.-4Ò
4pONLg`u·NC .E¼g¯ 4·@O^q¡ El^O·¯)³ .4`4Ò
4·@O^q¡ }g` El)U¯l·~ jE4O´=E)4Ò ¯N×
4pONLg~ONC ^j÷ Elj·^·¯Òq¡ _OÞ>4N O1³¬-
}g)` ¯ª)_)Þ·O W Elj·^·¯Òq¡4Ò Nª¬-
¬]O÷·)U^¼÷©^¯- ^)÷
3) Al-Istithrad ( خسلا داشط ) artinya peralihan kepada penjelasan lain.
Misalnya QS. Al-A‟raf: 26
×/j_4:4C 4¯E1-47 ;³·~ 4L^¯4O^Ò¡
¯7¯^OÞU4× ±c4lg¯ OjO4ONC
¯ª7¯g>47¯OEc 1=CjO4Ò W +E4lg¯4Ò
¯O4O^³+-¯- Elg¯·O ¬O¯OE= _
¬Cg¯·O ;}g` ge4C-47 *.-
¯¦÷_^UE¬·¯ 4pÒNO-OO4C ^gg÷
Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu
pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk
perhiasan. dan pakaian takwa. Itulah yang paling baik. yang
demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah,
Mudah-mudahan mereka selalu ingat.
11

Ayat tersebut menjelaskan tentang nikmat Allah, sedang di
tengahnya dijumpai kata ( خلا سابل وق ى ) yang mengalihkan perhatian
pada penjelasan ini (pakaian). Dalam hal ini munasabah yang dapat
dilihat adalah antara penutup tubuh atau aurat dengan kata takwa.
4) At-Takhallus (peralihan)
Peralihan di sini adalah peralihan terus-menerus dan tidak kembali
lagi pada pembicaraan pertama, misalnya:
ºE··Ò¡ 4pÒNOO¬44C OÞ¯)³ ÷)e"-
E-^Oº± ;e·³)U7= ^¯_÷ OÞ¯)³4Ò
g7.4©OO¯- E-^Oº± ;eE¬g·+O
^¯g÷ OÞ¯)³4Ò ´·4:´_^¯-
E-^OE ;e4:´+^ ^¯_÷ OÞ¯)³4Ò
^·¯O·- E-^OE ;eE·gC÷c ^g´÷
17. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana
Dia diciptakan,18. dan langit, bagaimana ia ditinggikan? 19. dan
gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? 20. dan bumi
bagaimana ia dihamparkan?
Ayat ini mengandung pembicaraan yang terus menerus, yaitu mulai
dari unta, langit, gunung, dan seterusnya.
b. Munasabah antara penutup ayat dengan isi ayat
Munasabah di sini dapat bertujuan:
1) Tamkin (memperkukuh). Misalnya QS. Al-Ahzab: 25
E14O4Ò +.- 4ׯg~-.-
W-ÒNOE¼E ¯ª)_g¬^O4¯) ¯¦·¯
W-O7¯4L4C -LO¯OE= _ O·>E4Ò
+.- 4×-gLg`u·÷©^¯-
4·4´³^¯- _ ¬]~E4Ò +.-
CC÷O·~ -4OCjG4N ^g)÷
12

dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang Keadaan
mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh
Keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang
mukmin dari peperangan. Dan Allahlah Maha kuat lagi Maha
Perkasa.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Allah menghindarkan orang-
orang mukmin dari perang disebabkan kelemahan mereka (orang-
orang kafir), karena angin kencang atau malaikat yang dikirim
Allah. Pemahaman yang kurang lurus ini diluruskan dengan
fashilah artinya Allah berkuasa memisahkan antara dua golongan
dalam perang tesebut (perang Badar). Kejadian ini menguatkan
orang-orang beriman agar mereka merasa bahwa merekalah yang
menang.
2) Ighal (penjelasan tambahan untuk mempertajam makna) Misalnya
QS. An-Naml: 80:
ElE^)³ ºº ÷7g©¯O¬ _O4·¯OE©^¯- ºº4Ò
÷7g©¯O¬ ·eO¯- 47.~4×O.-
-·O)³ W-¯O-¯4Ò 4ׯ@O);³N` ^g´÷
Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang
mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli
mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling
membelakang.
Kandungan ayat ini sebenarnya sudah jelas dipahami. Jadi kalimat
(W4ׯ@O);³N`O-¯4Ò) sekedar penjelasan makna.
c. Munasabah antara uraian awal ayat dengan akhir ayat dalam satu surah.
Misalnya ayat awal dan akhir QS. Al-Mukminun:
;³·~ EEÞU^·Ò¡ 4pONLg`u·÷©^¯- ^¯÷
1 Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
_ +O^^)³ ºº ÷E)U^¼NC 4pÒNOg¼·¯^¯-
^¯¯_÷
13

117 Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.

2. Munasabah Antara Suatu Surah dengan Surah Lainnya
a. Munasabah kandungan suatu ayat dalam suatu surah dengan suatu ayat
pada surah sesudahnya.
Munasabah ini diantaranya terdapat pada surah al-Baqarah memberikan
perincian serta penjelasan terhadap al-Fatihah. Sedangkan surah Ali
Imran yang merupakan urutan surah berikutnya memberikan penjelasan
lebih lanjut terhadap kandungan suarh al-Baqarah, yaitu ancaman Allah
terhadap orang-orang kafir karena pengaruh harta dunia. Ayat dari
surah-surah tersebut adalah QS. Al-Fathah: 2, QS. Al-Baqarah: 152 atau
186 , dan QS. Ali Imran: 152.
÷³;©E·^¯- *. ´_ ^g÷
Segala puji bagi Allah, (QS. Al-Fatihah: 2)
EO)+ÒNO7^O·· ¯ª7¯O7^OÒ¡
W-ÒNO¬:;--4Ò Oj¯ ºº4Ò ÷pÒNO¬¼'¯·>
^¯)g÷
karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula)
kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu
mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. al-Baqarah: 152)
Ep)³ ¬-¯g~-.- W-ÒNOE¼E }·¯ ¬_j_^¯¬>
¯¦÷_u44N ¯¦÷_7¯4O^`Ò¡ ¨º4Ò ¦¬-÷³·¯uÒÒ¡ =}g)`
*.- 6*^OE- W Elj·^·¯Òq¡4Ò ¯ª¬- ÷1O¬~4Ò
jOE4¯- ^¯´÷
Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak
mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. dan
mereka itu adalah bahan Bakar api neraka (QS. Ali Imran: 10)
Contoh lain ungkapan “rabbil „alamin” dalam suarah al-Fatihah
berkorelasi dengan surah al-Baqarah: 21-22. Surah al-Fatihah: 6 dengan
surah al-Baqarah: 2.
b. Munasabah antara surah dalam bentuk tema sentral
14

Selain antar ayat, munasabah dapat membentuk tema sentral yang ada
dalam berbagai surah. Misalnya dalam surah al-Fatihah tema sentralnya
adalah ikrar ketuhanan, dalam surah al-Baqarah tema sentralnya adalah
kaidah-kaidah agama. Sedangkan dalam surah Ali Imran tema
sentralnya adalah dasar-dasar agama. Semua itu merupakan pondasi
bagi umat Islam dalam beramal, baik amal dalam makna sempit maupun
amal makna luas.
c. Munasabah antar ayat tentang satu tema
Berkaitan dengan munasabah ini sebagai contoh dapat dikemukakan
tentang tema qiwamah (tegaknya suatu kepemimpinan). Paling tidak
terdapat dua ayat yang saling bermunasabah, yakni QS. An-Nisa : 34
dan QS. Al-Mujadalah : 11
N·~E}@´O¯- ¬]ON`·O·~ OÞ>4N
g7.=Og)4¯- E©) º·_·· +.-
¯¦÷_º_u¬4 _OÞ>4N ¯*u¬4 .E©)4Ò
W-O¬³E¼^Ò¡ ;}g` ¯ª)_g¯4O^`Ò¡ _ ^@j÷
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena
Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan
sebagian dari harta mereka.” (Q.S. Annisa : 34)
Sementara Q.S. Al-Mujadalah : 11, Allah mengatakan:
;7··¯O4C +.- 4ׯg~-.- W-ONL4`-47
¯ª7¯Lg` 4ׯg~-.-4Ò W-O¬>Òq¡
=¦·Ug¬^¯- ±eE_4OE1 _ ^¯¯÷
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan
orang-orang yang diberi Ilmu Pengetahuan beberapa derajat.” (QS.
Al-Mujadalah: 11)
Tegaknya qiwamah (konteks parsialnya qiwamat al-rijal „ala al-nisa)
erat sekali kaitannya dengan faktor ilmu pengetahuan/teknologi dan
faktor ekonomi. Q.S. Al-Nisa menunjukkan kata kunci “Bima
Fadhdhala” dan “al-ilm”. Antara “Bima Fadhdhala” dengan “yarfa”
15

terdapat kaitan dan keserasian arti dalam kata kunci nilai lebih yang
muncul karena faktor ilmu.
d. Munasabah antara ayat terakhir dalam suatu surah dengan ayat pertama
dalam surah berikutnya
Contoh dari munasabah model ini antara lain ayat terakhir dari surah
al-Ahqaf dengan ayat pertama dari surah Muhammad.
u¯ª×gE+ÒWE 4¯¯O4C 4puÒ4O4C 4` ¬]Ò÷³4NONC
¯¦·¯ W-EO¬V4l·U4C ·º)³ LO4NEc }g)`
OOOgE+ _ [uÞU4 _ ¯E_·· ¬lÞU;_NC ·º)³
N¯¯O·³^¯- 4pO¬³´OE¼^¯- ^@)÷ ........ pada hari
mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa)
seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari.
(inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan
melainkan kaum yang fasik. (QS. Al-Ahqaf: 35)
Sementara dalam ayat pertama surah Muhammad difirmankan:
4ׯg~-.- W-ÒNOE¼E W-ÒO³=4Ò }4N
÷O):Ec *.- E=¯Ò¡ ¯ª÷_ÞU4··×Ò¡ ^¯÷
orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah,
Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka (QS. Muhammad: 1)
Dalam ayat terakhir surah al-Ahqaf tersebut dijelaskan tentang ancaman
siksa bagi orang-orang fasiq. Selanjutnya penjelasan siapa sebenarnya
orang-orang fasiq itu, jawabannya ada pada ayat pertama surah
Muhammad, yaitu orang-orang kafir dan orang-orang yang menghalangi
manusia dari berbuat kebaikan. Contoh tersebut menunjukkan bahwa
untuk memahami secara jelas makna yang ada pada ayat terakhir surah
al-Ahqaf harus dimunasabahkan dengan ayat pertama surah
Muhammad. Dengan kata lain apabila suatu ayat belum jelas maknanya,
maka pasti ada penjelasannya pada surah lain.
16

Contoh lainnya dalam munasabah ini ayat terakhir surah al-Waqiah
dengan permulaan surah al-Hadid
;E)Ol=O·· g®;-) El)Þ4O
g®7g¬E¬^¯- ^_g÷
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha
besar. (QS. Al-Waqiah: 96)
EE*lEc *. 4` O)× gª4O4©OO¯-
^·¯O·-4Ò W 4O¬-4Ò +OCjGE¬^¯-
N®7´¯O4^¯- ^¯÷
semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada
Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan Dialah yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hadid: 1)
Ayat ini memiliki munasabah dengan akhir ayat sebelumnya yang
memerintahkan kepada manusia agar bertasbih.

3. Munasabah Antara Nama Surah dengan Isi yang Dikandungnya
Nama-nama surah yang ada dalam al-Qur‟an mempunyai kaitan
dengan pembahasan yang ada pada isi surahnya. Misalnya surah al-
Baqarah, isinya banyak menceritakan lembu. Contoh lain surah al-Fatihah
yang mempunyai dua nama: Pertama disebut al-Fatihah, karena posisinya
di awal al-Qur‟an. Kedua disebut Ummul Kitab, karena isinya memuat
berbagai tujuan al-Qur‟an dan seterusnya.

D. KESIMPULAN
Ilmu munasabah yang merupakan hal baru dalam cabang ulumul
Qur‟an, telah mendapatkan perhatian khusus dikalangan para ulama. Sebab
dengan ilmu ini akan dapat diusahakan sebagai ilmu pencarian korelasi dan
hubungan baik antar kalimat, ayat, maupun surah dalam al-Qur‟an. Hal ini
17

bertujuan agar lebih bisa memahami al-Qur‟an tersebut secara utuh dan
menyeluruh terutama dalam penafsirannya.
Ilmu munasabah bersifat ijtihadi, sehingga wajar jika sebagian ulama
tidak menganggap urgensi ilmu ini. Namun, dalam perkembangannya,
munasabah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap penafsiran al-
Qur‟an. Apabila belum atau tidak ditemukan hadits tentang Asbab an- Nuzul
suatu ayat maupun surah, atau jika terjadi pertentangan antara hadits yang
satu dengan lainnya dalam satu ayat yang sama, maka kedudukan munasabah
ini menjadi sangat penting dalam menafsirkan al-Qur‟an.
Munasabah adalah sebuah metodelogi dari salah satu upaya memahami
al-qur‟an dari sisi keterkaitan antar ayat maupun surat itu sendiri, baik dari
sifat maupun konteksnya, tanpa terlepas dari kaidah kaidah yang ditetapkan
para ulama islam dalam menafsirkan al-Qur‟an. Sebagai metode, paling tidak
ada empat hal penting yang dapat diungkap. Pertama, dari sisi Balaghoh.
korelasi antara ayat dengan ayat menjadikan keutuhan yang indah dalam tata
bahasa al-Qur‟an, dan bila dihilangkan maka keserasian ayat akan hilang.
Kedua, ilmu Munasabah memudahkan orang dalam memahami makna surah
dan ayat. Sebab penafsiran al-Qur‟an dengan ragamnya, membutuhkan ilmu
Munasabah. Ketiga, membantu pembaca agar dapat memperoleh petunjuk
dalam waktu singkat tanpa membaca seluruh ayat al-Qur‟an. Keempat,
dengan ilmu Munasabah semakin memperkaya cakrawala pemahaman. Sebab
akan semakin banyak dan beragam pula seseorang mendapat petujuk dari
Allah SWT. Sehingga al-Qur‟an dapat memberikan sumber hidayah yang
tidak pudar.

DAFTAR PUSTAKA

Abd. Rozak. 2010, Studi Ilmu Al-Qur‟an. Jakarta: Mitra Wacana Media.
18

Al-Qattan, Manna‟ Khalil. 2009, Studi Ilmu-Ilmu Qur‟an (terj. Mabahis fi „Ulumil
Qur‟an oleh Drs. Mudzakir AS. Bogor : Litera Antar Nusa.
al-Zarkasyi, Badr al-Din. 1972, al-Burhân fi „Ulûm al-Qur‟an, Beirut : Dar al-
Ma‟rifah li al-Tiba‟ah wa al-Nasyr.
Anwar, Abu. 2009. Ulumul Qur‟an, Sebuah Pengantar. Jakarta: Amzah
Anwar, Rosihan. 2010, Ulum Al-Qur‟an. Bandung : Pustaka Setia
Djalal, H. Abdul. 2008, Ulumul Qur‟an. Surabaya: Dunia Ilmu.

.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->