P. 1
PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE EOQ (ECONOMIC ORDER QUANTITY) PADA PRODUKSI KAP LAMPU DI PT. CITILITE BUANA PUTRA

PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE EOQ (ECONOMIC ORDER QUANTITY) PADA PRODUKSI KAP LAMPU DI PT. CITILITE BUANA PUTRA

|Views: 1,256|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Apr 27, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

10/28/2015

PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE

EOQ (ECONOMIC ORDER QUANTITY) PADA PRODUKSI KAP
LAMPU DI PT. CITILITE BUANA PUTRA

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Kurikulum
Sarjana Strata-1









Disusun Oleh :
Ines Rachmawati P
207.415.013




JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2011

LEMBAR PERSETUJUAN

Telah diperiksa dan disetujui oleh Dosen Pembimbing Skripsi untuk diajukan
Sidang.
Nama : Ines Rachmawati Pailalah
Nrp : 207.415.013
Fakultas : Teknik
Program Studi : Teknik Industri
Judul : Pengendalian Persediaan Bahan Baku Dengan Metode
EOQ (Economic Order Quantity) Pada Produksi Kap
Lampu Di PT. Citilite Buana Putra”.


Jakarta, 14 Juli 2011

Pembimbing


( Ir. Lilik Zulaihah M.Si )

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Industri
Ketua Program Studi



(Ir. Sugeng Prayitno )


PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN
METODE EOQ (ECONOMIC ORDER QUANTITY) PADA
PRODUKSI KAP LAMPU DI PT. CITILITE BUANA PUTRA

Dipersiapkan dan disusun oleh :
Nama : Ines Rachmawati PailalaH
Nrp : 207.415.013


Telah dipertahankan di hadapan Komisi Penguji Jurusan Teknik Industri UPN
”Veteran” Jakarta pada tanggal dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk
diterima.


Persetujuan Komisi Penguji
No Jabatan Nama Tanda tangan
1 Ketua Ir. Lilik Zulaihah, M.Si ..........................
2 Anggota Nur Yulianti H. ST,MT ..........................
3 Anggota Ir. Siti Rohana Nasution, MT ..........................

Jakarta, Juli 2011
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Industri
Ketua Program Studi



(Ir. Sugeng Prayitno )


PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN
METODE EOQ (ECONOMIC ORDER QUANTITY) PADA
PRODUKSI KAP LAMPU DI PT. CITILITE BUANA PUTRA

Skripsi ini telah kami setujui untuk dipertahankan dihadapan Komisi Penguji
Jurusan Teknik Industri UPN “Veteran” Jakarta pada tanggal 14 Juli 2011 dan
dinyatakan LULUS .

Jakarta, Agustus 2011

Pembimbing


( Ir. Lilik Zulaihah M.Si )


Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Industri
Ketua Program Studi



(Ir. Sugeng Prayitno )


PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN
METODE EOQ (ECONOMIC ORDER QUANTITY) PADA
PRODUKSI KAP LAMPU DI PT. CITILITE BUANA PUTRA

Dipersiapkan dan disusun oleh :
Nama : Ines Rachmawati Pailalah
Nrp : 207.415.013


Telah dipertahankan di hadapan Komisi Penguji Jurusan Teknik Industri UPN
”Veteran” Jakarta pada tanggal 16 Juli 2011 dan dinyatakan telah memenuhi
syarat untuk diterima.


Persetujuan Komisi Penguji
No Jabatan Nama Tanda tangan
1 Ketua Ir. Sugeng Prayitno ..........................
2 Anggota Dr. Ir. Adella Hotnyda S.,M.Sc ..........................
3 Anggota Ir. Sulistiono, M.Sc ..........................

Jakarta, Agustus 2011
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Industri
Ketua Program Studi



(Ir. Sugeng Prayitno )
LEMBAR PERNYATAAN


Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Ines Rachmawati Pailalah
NRP : 207.415.013
Jurusan : Teknik Industri
Tempat dan Tanggal lahir : Jakarta, 29 Mei 1989
Alamat : Jalan Sarikaya Rt.005 Rw.014 No.182
Kelurahan Depok Jaya Kecamatan Pancoran Mas
Depok 16432

Dengan ini menyatakan bahwa,
Tugas Akhir dalam bentuk skripsi yang berjudul ”Pengendalian Persediaan
Bahan Baku Dengan Metode EOQ (Economic Order Quantity) Pada
Produksi Kap Lampu Di PT. Citilite Buana Putra”, adalah benar disusun dan
dibuat oleh saya sendiri dan jika dikemudian hari diketahui sebagai ciplakan
berdasarkan bukti-bukti yang kuat. Maka saya siap menerima segala akibat yang
ditimbulkan berupa pembatalan gelar akademik.

Demikian surat ini saya buat dengan sebenarnya.


Jakarta, Juli 2011
Hormat Saya,



( Ines Rachmawati P )
i


ABSTRAK


Pengendalian persediaan bahan baku merupakan masalah penting dalam
suatu perusahaan, karena jumlah persediaan masing-masing bahan baku akan
menentukan atau mempengaruhi kelancaran proses produksi dan dapat
mempengaruhi biaya persediaan bahan baku yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Perhitungan-perhitungan yang telah dilakukan adalah membuat peramalan
(forecasting) bahan baku plat baja 0,4 mm berdasarkan metode moving average (n
= 4) karena metode ini memiliki tingkat kesalahan peramalan yang terkecil yaitu
21,75 dan menghitung pengendalian persediaan bahan baku berdasarkan metode
Economic Order Quantity (EOQ) Deterministik. Berdasarkan perhitungan
tersebut diperoleh kebutuhan bahan baku plat baja 0,4 mm pada bulan Januari –
Desember 2011 adalah sebesar 15.136,86 lembar dengan jumlah pemesanan
ekonomis (Q) setiap kali pesan adalah 514,68 lembar dengan waktu antar
pemesanan (t) selama 10 hari dan frekuensi pembelian (f) adalah 29 kali dalam 1
periode (1 tahun). Batas atau titik pemesanan kembali (R) adalah 300 lembar,
sehingga total biaya persediaan (TC) bahan baku plat baja 0,4 mm untuk bulan
Januari – Desember 2011 adalah sebesar Rp. 1.531.332.230,-.

Kata Kunci : Economic Order Quantity (EOQ) Deterministik, Forecasting
(Peramalan).











ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik.
Mengingat penulisan tugas akhir ini masih jauh dari sempurna
dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis dalam penyusunan tugas akhir ini,
oleh karena itu sangatlah dihargai adanya setiap kritik dan saran yang menunjang
kesempurnaan tugas akhir ini demi meningkatkan mutu penulisan di masa
mendatang.
Sejak awal telah banyak tenaga, usaha dan waktu yang dicurahkan dari
berbagai pihak baik berupa dukungan moril maupun materil dalam membantu
penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Seiring dengan rasa syukur kehadirat
Allah SWT maka penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Bapak Ir. Sulistiono, M.Sc. selaku Dekan Fakultas Teknik UPN
“Veteran ” Jakarta.
2. Ibu Ir. Lilik Zulaihah M,Si. selaku Wakil Dekan Fakultas Teknik UPN
”Veteran” Jakarta dan pembimbing bagi penulis dalam menyelesaikan
tugas akhir ini.
3. Bapak Ir. Sugeng Prayitno, selaku Ketua Program Studi Teknik
Industri.
4. Ibu Nur Yulianti H.ST,MT. yang telah memberikan bantuan, saran
dan bimbingan kepada penulis.
iii

5. Bapak Catur Kurniawan S.pd, MT. selaku Manager Produksi di PT.
Citilite Buana Putra yang telah banyak memberikan arahan kepada
penulis selama penyusunan tugas akhir ini.
6. Seluruh karyawan dan staff Fakultas Teknik UPN “Veteran ” Jakarta
7. Kepada kedua orang tuaku tercinta, segenap keluarga yang telah
memberikan semangat dan dukungannya baik moril maupun materil
serta doa restunya selama penyusunan tugas akhir ini.
8. Danny Ismailliandy Putra, yang telah memberikan doa, semangat dan
dukungannya yang menjadi penyemangat bagi penulis.
9. Teman-temanku di Teknik Industri khususnya angkatan tahun 2007,
sahabatku Randi, Eko yang telah memberikan semangat dan
dukungannya, terima kasih atas kebersamaannya selama ini.
10. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini yang
tidak bisa penulis tulis satu per satu namanya disini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam
penyusunan tugas akhir ini. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun sehingga dapat menyempurnakan tugas akhir ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat dan
mempunyai arti bagi kita semua.
Jakarta, Juli 2011


Penulis
iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ………………………………………………………………. i
KATA PENGANTAR ……………………………………………… ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………….. iv
DAFTAR TABEL ……………………………………………………… vii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………… viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang …………………………………………… 1
1.2. Perumusan Masalah ……………………………………… 3
1.3. Tujuan Penelitian …………………………………………... 3
1.4. Batasan Masalah …….……..……………………………… 3
1.5. Sistematika Penulisan ..………………………………......... 4
BAB II LANDASAN TEORI
2.1. Persediaan ……………………………………………… 6
2.2. Alasan Diadakannya Persediaan ……………......…....… 8
2.3. Tujuan Persediaan …………………......……………....….. 10
2.4. Fungsi-Fungsi Persediaan …………………......……....... 10
2.5. Jenis-Jenis Persediaan ……………………......…….....…... 13
2.6. Pengendalian Persediaan Bahan Baku ……..……………. 14
2.6.1. Pengertian Persediaan Pengendalian Bahan Baku ..... 14
2.6.2. Prinsip-Prinsip Pengendalian ……………............... 15

v

2.6.3. Sistem Pengendalian Persediaan …………............ 17
2.6.4. Kerugian Dari Ketidakpatian Pengadaan Persediaan
Bahan Baku ………………………………………...... 18
2.6.5. Penggunaan Bahan Baku …………………………... 20
2.6.5.1. Pengertian Bahan Baku …..……………….. 20
2.6.5.2. Kebutuhan Bahan Baku ….………………. 21
2.6.5.3. Tingkat Kebutuahan Bahan Baku …………. 23
2.7. Struktur Biaya Persediaan …………………………………. 24
2.8. Metode Pengendalian Persediaan …………………………. 26
2.8.1. Model Pengendalian Persediaan Deterministik …....... 29
2.9. Metode Economic Order Quantity (EOQ) …………...…... 30
2.9.1. Pengertian EOQ ………………….......…………….. 30
2.9.2. Kebijakan-kebijakan EOQ ……….......……………... 37
2.10. Peramalan ………………………………………………… 41
2.10.1. Definisi Peramalan …………....…………….......…. 41
2.10.2. Pemilihan Metode Peramalan …………………........ 42
2.10.2.1. Metode Moving Average …………..…….. 43
2.10.2.2. Metode Double Moving Average ……....... 43
2.10.2.3. Metode Weighted Moving Average ……..... 45
2.10.2.4. Metode Single Exponential Smoothing ........ 45
2.10.2.5. Metode Double Exponential Smoothing ..... 46
2.10.2.6. Metode Triple Exponential Smoothing ....... 47
2.10.3. Ukuran Hasil Peramalan …………......…………….. 48
vi


BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Penelitian Pendahuluan …..…………………....……….... 51
3.2. Identifikasi Masalah ……………………………....………. 52
3.3. Pengumpulan Data ……………………………....………… 53
3.4. Pengolahan Data …………………………………....……… 53
3.5. Analisis Data ……………………………………....………. 53
3.6. Simpulan dan Saran …………………………....………….. 54
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1. Data Umum Prusahaan ………………………………...... 56
4.2. Pengumpulan Data ............................................................. 66
4.3. Pengolahan data ......... ....................................................... 69
BAB V ANALISIS DATA
5.1. Perhitungan Persediaan Bahan Baku Untuk Plat Baja 0,4 mm
Dengan Menggunakan Metode EOQ Deterministik Periode
Januari-Desember 2011 ........................................................ .. 72
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN
6.1. Simpulan ............................................................................... 76
6.2. Saran ..................................................................................... 77
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Metode Dasar Lot Sizing dan Cara Pemesanan …………..…… 28
Tabel 4.1 Data Kebutuhan Plat Baja 0,4 mm Januari-Desember 2010 … .. 66
Tabel 4.2 Data Bill Of Material Plat Baja 0,4 mm .. ............……………. 67
Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil peramalan ...................................................... 69
Tabel 4.4 Hasil Peramalan Dengan Metode Moving Average (MA) ............ 70
Tabel 4.5 Hasil Permalan Plat Baja 0,4 mm Periode Januari-Desember 2011
Dengan menggunakan Metode Moving Average (MA) ………... 71
Tabel 5.1 Hasil Perhitungan Dengan Metode EOQ ..................................... 75












viii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Persediaan dalam Metode EOQ ..................................... 35
Gambar 3.1 Alur Metodologi Penelitian ................................... ........ 55
Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. Citilite Buana Putra ................... 57
Gambar 4.2 Peta Rantai Suplai di PT. Citilite Buana Putra ............ ... 59
Gambar 4.3 Diagram Alir Keterkaitan Kerja Antar Divisi ................. 61
Gambar 4.4 Entitas-Entitas Yang Menyusun Proses Pembuatan Kap
Lampu ............................................................................ 64
Gambar 4.5 Perakitan Kap Lampu ...................................................... 64
Gambar 4.6 Struktur Produk dan Entity Flow Diagram ...................... 65
Gambar 4.7 Grafik Permintaan Plat Baja 0,4 mm Bulan Januari-
Desember 2010 ................................................................ 67
Gambar 5.1 Waktu Siklus Plat Baja 0,4 mm ........................................ 74
Gambar 5.2 Grafik Economic Order Quantity (EOQ) .......................... 75






ix


DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran A Perhitungan Peramalan, MAPE, MR Chart, dan Grafik MR Chart












i
ABSTRAK
Pengendalian persediaan bahan baku merupakan masalah penting dalam
suatu perusahaan, karena jumlah persediaan masing-masing bahan baku akan
menentukan atau mempengaruhi kelancaran proses produksi dan dapat
mempengaruhi biaya persediaan bahan baku yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Perhitungan-perhitungan yang telah dilakukan adalah membuat peramalan
(forecasting) bahan baku plat baja 0,4 mm berdasarkan metode moving average (n
= 4) karena metode ini memiliki tingkat kesalahan peramalan yang terkecil yaitu
21,75 dan menghitung pengendalian persediaan bahan baku berdasarkan metode
Economic Order Quantity (EOQ) Deterministik. Berdasarkan perhitungan
tersebut diperoleh kebutuhan bahan baku plat baja 0,4 mm pada bulan Januari –
Desember 2011 adalah sebesar 15.136,86 lembar dengan jumlah pemesanan
ekonomis (Q) setiap kali pesan adalah 514,68 lembar dengan waktu antar
pemesanan (t) selama 10 hari dan frekuensi pembelian (f) adalah 29 kali dalam 1
periode (1 tahun). Batas atau titik pemesanan kembali (R) adalah 300 lembar,
sehingga total biaya persediaan (TC) bahan baku plat baja 0,4 mm untuk bulan
Januari – Desember 2011 adalah sebesar Rp. 1.531.332.230,-.
Kata Kunci : Economic Order Quantity (EOQ) Deterministik, Forecasting
(Peramalan).
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Semakin meningkatnya perkembangan industri yang kian pesat di hampir seluruh
dunia, maka semakin banyak pula permintaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam suatu perusahaan manufaktur, sistem persediaan bagi suatu perusahaan
sangatlah penting bagi lancarnya proses produksi. Adanya persediaan menimbulkan
konsekuensi berupa risiko-risiko tertentu yang harus ditanggung perusahaan akibat
adanya persediaan tersebut. Persediaan yang disimpan perusahaan bisa saja rusak
sebelum digunakan, selain itu perusahaan juga harus menanggung biaya-biaya yang
timbul akibat adanya persediaan tersebut, tanpa adanya persediaan yang cukup maka
perusahaan akan dihadapkan pada risiko bahwa pada suatu waktu tidak dapat
memenuhi kebutuhan dan keinginan para pelanggannya.
Pengawasan persediaan merupakan masalah yang sangat penting, karena jumlah
persediaan akan menentukan atau mempengaruhi kelancaran proses produksi serta
keefektifan dan efisiensi perusahaan tersebut. Jumlah atau tingkat persediaan yang
dibutuhkan oleh perusahaan berbeda-beda untuk setiap perusahaan, pabrik,
tergantung dari volume produksinya, jenis pabrik dan prosesnya.(Assauri,1999:177).
Pada dasarnya semua perusahaan mengadakan perencanaan dan pengendalian
bahan dengan tujuan pokok menekan (meminimumkan) biaya dan untuk
memaksimumkan laba dalam waktu tertentu. Dalam perencanaan dan pengendalian
2

bahan baku masalah utama yang terjadi adalah menyelenggarakan persediaan bahan
yang paling tepat agar kegiatan produksi tidak terganggu dan dana yang ditanam
dalam persediaan bahan tidak berlebihan. Masalah tersebut berpengaruh terhadap
penentuan (1) berapa kuantitas yang akan dibeli dalam periode tertentu, (2) berapa
jumlah atau kuantitas yang akan dibeli dalam setiap kali dilakukan pembelian,(3)
kapan pemesanan bahan harus dilakukan, (4) berapa jumlah minimum kuantitas
bahan yang harus selalu ada dalam persediaan pengaman (safety stock) agar
perusahaan terhindar dari kemacetan produksi akibat keterlambatan bahan, dan
berapa jumlah maksimum kuantitas bahan dalam persediaan agar dana yang ditahan
tidak berlebihan.
PT. Citilite Buana Putra merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri
manufaktur dengan kegiatan utamanya adalah memproduksi kap lampu . Bahan baku
utama yang digunakan dalam proses produksi ini adalah plat baja dan dalam
pelaksanaan proses produksinya, bahan baku tersebut harus selalu tersedia untuk
kelancaran proses produksi. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan perencanaan dan
pengendalian bahan baku. Perusahaan harus bisa mengelola persediaan dengan baik
agar dapat memiliki persediaan yang seoptimal mungkin demi kelancaran operasi
perusahaan dalam jumlah, waktu, dan mutu yang tepat serta dengan biaya yang
serendah rendahnya. Dari latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk
menganalisis pengendalian plat baja sebagai bahan baku kap lampu di perusahaan
tersebut.


3

1.2. Perumusan Masalah
Bagaimana pengendalian persediaan bahan baku produksi kap lampu
dilaksanakan, sehingga :
1. Tidak terjadi penumpukan bahan baku.
2. Biaya total persediaan dapat ditekan.

1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah :
1. Menghitung pengendalian persediaan bahan baku plat baja 0,4 mm.
2. Menghitung total biaya persediaan bahan baku plat baja 0,4 mm.

1.4. Batasan Masalah
Adapun pembatasan masalah dilakukan sebagai berikut :
1. Penelitian ini dilakukan di PT. Citilite Buana Putra.
2. Pengendalian persediaan bahan baku dilakukan untuk periode Januari
sampai dengan Desember 2011
3. Perhitungan pengendalian persediaan dengan menggunakan model
Economic Order Quantity (EOQ) deterministik.
4. Data permintaan plat baja 0,4 mm di bulan Januari sampai dengan
Desember 2010 digunakan untuk menentukan peramalan kebutuhan
plat baja untuk satu tahun kedepan.
4

5. Data-data yang diperoleh dari perusahaan diasumsikan tidak
mengalami perubahan pada tahun berikutnya.

1.5. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang jelas dan terperinci, maka skripsi ini disusun
menurut sistematika sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan diuraikan latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,
pembatasan masalah dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini berisi teori-teori yang menjadi dasar pengolahan data,
pengembangan penelitian, dan hasil.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini membahas mengenai langkah-langkah
sistematika yang diterapkan dalam pemecahan masalah,
penelitian pendahuluan, identifikasi masalah, tujuan penelitian,
pengumpulan data, pengolahan data, serta kesimpulan dan
saran.

5

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Dalam bab ini akan diuraikan mengenai pengumpulan data
yang diperoleh dari PT. Citilite Buana Putra selanjutnya data
tersebut diolah dengan menggunakan metode Economic Order
Quantity (EOQ).

BAB V ANALISIS DATA
Dalam bab ini akan diuraikan mengenai analisa dari hasil
pengolahan data.

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini akan diuraikan kesimpulan yang diperoleh
berdasarkan hasil analisa untuk menjawab tujuan penelitian
dan memberikan saran-saran sebagai bahan pertimbangan yang
sekiranya akan berguna bagi perusahaan.




6

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Persediaan
Setiap perusahaan memerlukan berbagai jenis barang untuk keperluan
operasionalnya. Barang-barang ini dapat berbentuk bahan baku, bahan penolong, atau
barang-barang lain yang digunakan untuk memelihara peralatan dan fasilitas maupun
yang digunakan untuk pelaksanaan operasinya. Dalam banyak hal, barang ini
diperoleh dari tempat yang jauh, bahkan diimpor dari negeri lain. Di samping itu,
penggunaanya sering kali tidak teratur baik frekuensi maupun jumlah dan jenisnya
sehingga sebelum digunakan perlu disimpan terlebih dahulu dalam gudang
penyimpanan barang. Barang persediaan adalah barang-barang yang biasanya dapat
dijumpai di gudang tertutup, lapangan, gudang terbuka, atau tempat-tempat
penyimpanan lain baik berupa bahan baku, barang setengah jadi, barang jadi, barang-
barang untuk keperluan operasi, atau barang-barang untuk keperluan suatu proyek.
Persediaan didefinisikan sebagai stok bahan baku yang digunakan untuk
memfasilitasi produk atau untuk memuaskan permintaan konsumen. Persediaan dapat
membantu fungsi-fungsi penting yang dapat menambah fleksibilitas operasi
perusahaan. Terdapat tujuh tujuan penting dari persediaan (Zulfikarijah,2005: 6-9):
1. Fungsi ganda
Fungsi utama persediaan adalah memisahkan proses produksi dan distribusi
pada saat penawaran atau permintaan item persediaan tidak teratur, maka
mengamankan persediaan merupakan keputusan yang terbaik.
7

2. Mengantisipasi adanya inflasi
Penempatan kas dalam bank merupakan pilihan yang tepat untuk
pengembalian investasi, namun di sisi lain persediaan mungkin akan
meningkat setiap saat. Pada saat seperti ini, maka persediaan merupakan
investasi yang terbaik.
3. Memperoleh diskon terhadap jumlah persediaan yang dibeli
Banyak pemasok yang menawarkan diskon untuk pembelian dalam jumlah
besar. Pembelian dalam jumlah besar secara substansi dapat mengurangi
biaya produksi.
4. Menjaga adanya ketidakpastian
Dalam sistem persediaan terdapat ketidakpastian dalam hal permintaan,
penawaran dan waktu tunggu. Persediaan pengaman dijaga dalam
persediaan untuk memproteksi adanya ketidakpastian.
5. Menjaga produksi dan pembelian yang ekonomis
Sering terjadi memproduksi skala ekonomis pada bahan baku dalam lot,
dalam hal ini, lot diproduksi melebihi periode waktu dan tidak dilanjutkan
ke produksi sampai lot mendekati habis. Biaya pemesanan, diskon jumlah
pembelian dan biaya transportasi seringkali lebih ekonomis pada pembelian
dalam jumlah besar, maka sebagian lot dapat dijadikan persediaan untuk
penggunaan berikutnya.
6. Mengantisipasi perubahan permintaan dan penawaran
Situasi yang apabila terjadi perubahanpermintaan dan penawaran dapat
diantisipasi yaitu pada saat harga atau kemampuan bahan baku yang
8

diharapkan berubah. Dalam kondisi tertentu perusahaan seringkali
mengantisipasi permintaan dikarenakan karyawan dan persediaan juga
dipergunakan untuk mengantisipasi permintaan atau penawaran yang
berubah secara alamiah.
7. Memenuhi kebutuhan terus menerus
Persediaan transit terdiri dari bahan baku yang bergerak dari satu titik ke
titik lainnya. Persediaan ini dipengaruhi oleh keputusan lokasi pabrik, secara
teknis persediaan bergerak diantara tahapan-tahapan produksi dan didalam
pabrik dapat juga diklasifikasikan dalam persediaan transit.
Dalam persediaan terdapat sejumlah sistem yang mengatur dan menghitung
bagaimana mengisi kembali pesediaan barang. Sistem ini sering disebut juga dengan
sistem pengendalian persediaan, dimana sistem ini berisi cara mencatat transaksi
persediaan dan cara memantau kinerja manajemen persediaan dan dalam
operasionalnya dapat menggunakan manual maupun komputer atau
mengkombinasikan keduanya.

2.2. Alasan Diadakannya Persediaan

Pada prinsipnya semua perusahaan melaksanakan proses produksi akan
menyelenggarakan persediaan bahan baku untuk kelangsungan proses produksi dalam
perusahaan tersebut. Beberapa hal yang menyangkut menyebabkan suatu perusahaan
harus menyelenggarakan persediaan bahan baku menurut Ahyari (2003:150), adalah:
1. Bahan yang akan digunakan untuk pelaksanaan proses produksi perusahaan
tersebut tidak dapat dibeli atau didatangkan secara satu persatu dalam
9

jumlah unit yang diperlukan perusahaan serta pada saat barang tersebut akan
dipergunakan untuk proses produksi perusahaan tersebut. Bahan baku
tersebut pada umumnya akan dibeli dalam jumlah tertentu, dimana jumlah
tertentu ini akan dipergunakan untuk menunjang pelaksanaan proses
produksi perusahaan yang bersangkutan dalam beberapa waktu tertentu
pula. Dengan keadaan semacam ini maka bahan baku yang sudah dibeli oleh
perusahaan namun belum dipergunakan untuk proses produksi akan masuk
sebagai persediaan bahan baku dalam perusahaan tersebut.
2. Apabila perusahaan tidak mempunyai persediaan bahan baku, sedangkan
bahan baku yang dipesan belum datang maka pelaksanaan proses produksi
dalam perusahaan tersebut akan terganggu. Ketiadaan bahan baku tersebut
akan mengakibatkan terhentinya pelaksanaan proses produksi pengadaan
bahan baku dengan cara tersebut akan membawa konsekuensi bertambah
tingginya harga beli bahan baku yang dipergunakan oleh perusahaan.
Keadaan tersebut tentunya akan membawa kerugian bagi perusahaan.
3. Untuk menghindari kekurangan bahan baku tersebut, maka suatu
perusahaan dapat menyediakan bahan baku dalam jumlah yang banyak.
Tetapi persediaan bahan baku dalam jumlah besar tersebut akan
mengakibatkan terjadinya biaya persediaan bahan yang semakian besar
pula. Besarnya biaya yang semakin besar ini berarti akan mengurangi
keuntungan perusahaan. Disamping itu, resiko kerusakan bahan juga akan
bertambah besar apabila persediaan bahan bakunya besar.

10

2.3. Tujuan Persediaan


Menurut Assauri (1998:177), tujuan persediaan dapat diartikan sebagai usaha
untuk:
1. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga
menyebabkan proses produksi terhenti.
2. Menjaga agar penentuan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu
besar sehingga biaya yang berkaitan dengan persediaan dapat ditekan.
3. Menjaga agar pembelian bahan baku secara kecil-kecilan dapat
dihindari.
Tujuan dasar dari pengendalian bahan adalah kemampuan untuk mengirimkan
surat pesanan pada saat yang tepat pada pemasok terbaik untuk memperoleh kuantitas
yang tepat pada harga dan kualitas yang tepat (Matz,1994:229).
Jadi, dalam rangka mencapai tujuan tersebut diatas, pengendalian persediaan
dan pengadaan perencanaan bahan baku yang dibutuhkan baik dalam jumlah maupun
kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan untuk produksi serta kapan pesanan
dilakukan.

2.4. Fungsi-Fungsi Persediaan
Fungsi-fungsi persediaan penting artinya dalam upaya meningkatkan operasi
perusahaan, baik yang berupa operasi internal maupun operasi eksternal sehingga
perusahaan seolah-olah dalam posisi bebas.
Fungsi persediaan pada dasarnya terdiri dari tiga fungsi yaitu:
11

1. Fungsi Decoupling
Fungsi ini memungkinkan bahwa perusahaan akan dapat memenuhi
kebutuhannya atas permintaan konsumen tanpa tergantung pada suplier
barang. Untuk dapat memenuhi fungsi ini dilakukan cara-cara sebagai
berikut:
a. Persediaan bahan mentah disiapkan dengan tujuan agar perusahaan
tidak sepenuhnya tergantung penyediaannya pada suplier dalam hal
kuantitas dan pengiriman.
b. Persediaan barang dalam proses ditujukan agar tiap bagian yang
terlibat dapat lebih leluasa dalam berbuat.
c. Persediaan barang jadi disiapkan pula dengan tujuan untuk memenuhi
permintaan yang bersifat tidak pasti dari langganan.
2. Fungsi Economic Lot Sizing
Tujuan dari fungsi ini adalah pengumpulan persediaan agar perusahaan
dapat berproduksi serta menggunakan seluruh sumber daya yang ada
dalam jumlah yang cukup dengan tujuan agar dapat menguranginya biaya
perunit produk.
Pertimbangan yang dilakukan dalam persediaan ini adalah penghematan
yang dapat terjadi pembelian dalam jumlah banyak yang dapat
memberikan potongan harga, serta biaya pengangkutan yang lebih murah
dibandingkan dengan biaya-biaya yang akan terjadi, karena banyaknya
persediaan yang dipunyai.

12

3. Fungsi Antisipasi
Perusahaan sering mengalami suatu ketidakpastian dalam jangka waktu
pengiriman barang dari perusahaan lain, sehingga memerlukan persediaan
pengamanan (safety stock), atau perusahaan mengalami fluktuasi
permintaan yang dapat diperkirakan sebeumnya yang didasarkan
pengalaman masa lalu akibat pengaruh musim, sehubungan dengan hal
tersebut perusahaan sebaiknya mengadakan seasonal inventory
(persediaan musiman) (Asdjudiredja,1999:114).
Selain fungsi-fungsi diatas, menurut Herjanto (1997:168) terdapat enam
fungsi penting yang dikandung oleh persediaan dalam memenuhi
kebutuhan perusahaan antara lain:
a. Menghilangkan resiko keterlambatan pengiriman bahan baku atau
barang yang dibutuhkan perusahaan
b. Menghilangkan resiko jika material yang dipesan tidak baik sehingga
harus dikembalikan
c. Menghilangkan resiko terhadap kenaikan harga barang atau inflasi.
d. Untuk menyimpan bahan baku yang dihasilkan secara musiman
sehingga perusahaan tidak akan sulit bila bahan tersebut tidak tersedia
dipasaran.
e. Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan
kuantitas (quantity discount)
f. Memberikan pelayanan kepada langganan dengan tersediaanya barang
yang diperlukan.
13

2.5. Jenis-Jenis Persediaan
Persediaan dapat dikelompokkan menurut jenis dan posisi barang tersebut,
yaitu:
1. Persediaan bahan baku (raw material), yaitu persediaan barang-barang
berwujud yang digunakan dalam proses produksi. Barang ini diperoleh
dari sumber-sumber alam atau dibeli dari supplier atau perusahaan yang
membuat atau menghasilkan bahan baku untuk perusahaan lain yang
menggunakannya.
2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts), yaitu
persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang
diperoleh dari perusahaan lain yang dapat secara langsung dirakit atau
diasembling dengan komponen lain tanpa melalui proses produksi
sebelumnya.
3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan
barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak
merupakan bagian atau komponen barang jadi.
4. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in
process), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari
tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah.




14

2.6. Pengendalian Persediaan Bahan Baku
2.6.1. Pengertian pengendalian Persediaan Bahan Baku

Pengendalian bahan baku yang diselenggarakan dalam suatu perusahaan,
tentunya diusahakan untuk dapat menunjang kegiatan-kegiatan yang ada dalam
perusahaan yang bersangkutan. Keterpaduan dari seluruh pelaksanaan kegiatan yang
ada dalam perusahaan akan menunjang terciptanya pengendalian bahan baku yang
baik dalam suatu perusahaan. Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial
yang sangat penting bagi perusahaan, karena persediaan fisik pada perusahaan akan
melibatkan investasi yang sangat besar pada pos aktiva lancar. Pelaksanaan fungsi ini
akan berhubungan dengan seluruh bagian yang bertujuan agar usaha penjualan dapat
intensif serta produk dan penggunaan sumber daya dapat maksimal.
Istilah pengendalian merupakan penggabungan dari dua pengertian yang sangat
erat hubungannya tetapi dari masing-masing pengertian tersebut dapat diartikan
sendiri-sendiri yaitu perencanaan dan pengawasan. Pengawasan tanpa adanya
perencanaan terlebih dahulu tidak ada artinya, demikian pula sebaliknya perencanaan
tidak akan menghasilkan sesuatu tanpa adanya pengawasan. Menurut Widjaja
(1996:4), perencanaan adalah proses untuk memutuskan tindakan apa yang akan
diambil dimasa depan.
Perencanaan kebutuhan bahan adalah suatu sistem perencanaan yang pertama-
tama berfokus pada jumlah dan pada saat barang jadi yang diminta yang kemudian
menentukan permintaan turunan untuk bahan baku, komponen dan sub perakitan pada
saat tahapan produksi terdahulu (Horngren,1992:321). Pengawasan bahan adalah
suatu fungsi terkoordinasi didalam organisasi yang terus-menerus disempurnakan
15

untuk meletakkan pertanggungjawaban atas pengelolaan bahan baku dan persediaan
pada umumnya, serta menyelenggarakan suatu pengendalian internal yang menjamin
adanya dokumen dasar pembukuan yang mendukung sahnya suatu transaksi yang
berhubungan dengan bahan, pengawasan bahan meliputi pengawasan fisik dan
pengawasan nilai atau rupiah bahan.(Supriyono,1999:400)
Kegiatan pengawasan persediaan tidak terbatas pada penentuan atas tingkat dan
komposisi persediaan, tetapi juga termasuk pengaturan dan pengawasan atau
pelaksanaan pengadaan bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan jumlah dan
waktu yang dibutuhkan dengan biaya yang serendah-rendahnya. Pengendalian adalah
proses manajemen yang memastikan dirinya sendiri sejauh hal itu memungkinkan,
bahwa kegiatan yang dijalankan oleh anggota dari suatu organisasi sesuai dengan
rencana dan kebijaksanaannya. (Widjaja,1996:3). Pengendalian berkisar pada
kegiatan memberikan pengamatan, pemantauan, penyelidikan dan pengevaluasian
keseluruh bagian manajemen agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.
2.6.2. Prinsip-Prinsip Pengendalian
Menurut Matz (1994:230), sistem dan tehnik pengendalian persediaan harus
didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
a. Persediaan diciptakan dari pembelian (a) bahan dan suku cadang, dan
(b) tambahan biaya pekerja dan overhead untuk mengelola bahan
menjadi barang jadi.
b. Persediaan berkurang melalui penjualan dan perusakan.
16

c. Perkiraan yang tepat atas skedul penjualan dan produksi merupakan
hal yang esensial bagi pembelian, penanganan, dan investasi bahan
yang efisien.
d. Kebijakan manajemen, yang berupaya menciptakan keseimbangan
antara keragaman dan kuantitas persediaan bagi operasi yang efisien
dengan biaya pemilikan persediaan tersebut merupakan faktor yang
paling utama dalam menentukan investasi persediaan.
e. Pemesanan bahan merupakan tanggapan terhadap perkiraan dan
penyusunan rencana pengendalian produksi.
f. Pencatatan persediaan saja tidak akan mencapai pengendalian atas
persediaan.
g. Pengendalian bersifat komparatif dan relatif, tidak mutlak.
Oleh karena itu, Matz (1994:229) berpendapat bahwa pengendalian persediaan
yang efektif harus:
a. Menyediakan bahan dan suku cadang yang dibutuhkan bagi operasi
yang efisien dan lancar.
b. Menyediakan cukup banyak stock dalam periode kekurangan pasokan
(musiman, siklus atau pemogokan), dan dapat mengantisipasi
perubahan harga.
c. Menyiapkan bahan dengan waktu dan biaya penanganan yang
minimum serta melindunginya dari kebakaran, pencurian, dan
kerusakan selama bahan tersebut ditangani
17

d. Mengusahakan agar jumlah persediaan yang tidak terpakai, berlebih,
atau yang rusak sekecil mungkin dengan melaporkan perubahan
produk secara sistematik, dimana perubahan tersebut mungkin akan
mempengaruhi bahan suku cadang.
e. Menjamin kemandirian persediaan bagi pengiriman yang tepat waktu
kepada pelanggan.
f. Menjaga agar jumlah modal yang diinvestasikan dalam persediaan
berada pada tingkat yang konsisten dengan kebutuhan operasi dan
rencana manajemen.
2.6.3. Sistem pengendalian persediaan
Penentuan jumlah persediaan perlu ditentukan sebelum melakukan penilaian
persediaan. Jumlah persediaan dapat ditentukan dengan dua sistem yang paling umum
dikenal pada akhir periode yaitu:
a. Periodic system, yaitu setiap akhir periode dilakukan perhitungan
secara fisik agar jumlah persediaan akhir dapat diketahui jumlahnya
secara pasti.
b. Perpectual system, atau book inventory yaitu setiap kali pengeluaran
diberikan catatan administrasi barang persediaan.
Dalam melaksanakan panilaian persediaan ada beberapa cara yang dapat
dipergunakan yaitu:
a. First in, first out (FIFO) atau masuk pertama keluar pertama
Cara ini didasarkan atas asumsi bahwa arus harga bahan adalah sama
dengan arus penggunaan bahan. Dengan demikian bila sejumlah unit
18

bahan dengan harga beli tertentu sudah habis dipergunakan, maka
penggunaan bahan berikutnya harganya akan didasarkan pada harga
beli berikutnya. Atas dasar metode ini maka harga atau nilai dari
persediaan akhir adalah sesuai dengan harga dan jumlah pada unit
pembelian terakhir.
b. Last in, first out (LIFO) atau masuk terakhir keluar pertama
Dengan metode ini perusahaan beranggapan bahwa harga beli terakhir
dipergunakan untuk harga bahan baku yang pertama keluar sehingga
masih ada (stock) dinilai berdasarkan harga pembelian terdahulu.
c. Rata-rata tertimbang (weighted average)
Cara ini didasarkan atas harga rata-rata perunit bahan adalah sama
dengan jumlah harga perunit yang dikalikan dengan masing-masing
kuantitasnya kemudian dibagi dengan seluruh jumlah unit bahan
dalam perusahaan tersebut.
d. Harga standar
Besarnya nilai persediaan akhir dari suatu perusahaan akan sama
dengan jumlah unit persediaan akhir dikalikan dengan harga standar
perusahaan.
2.6.4. Kerugian dari Ketidakpastian Pengadaan Persediaan Bahan Baku
Pada umumnya penggunaan bahan baku didasarkan pada anggapan bahwa
setiap bulan selalu sama, sehingga secara berangsur-angsur akan habis pada waktu
tertentu. Agar jangan sampai terjadi kehabisan bahan baku yang berakibat akan
mengganggu kelancaran proses produksi sebaiknya pembelian bahan baku
19

dilaksanakan sebelum habis. Secara teoritis keadaan tersebut dapat diperhitungkan,
akan tetapi tidak semudah itu. Kadang-kadang bahan baku masih cukup banyak
namun sudah dilakukan pembelian sehingga berakibat menumpuknya bahan baku
digudang. Hal ini bisa menurunkan kualitas bahan dan akan memakan biaya
penyimpanan. Secara garis besar ada dua faktor yang mempengaruhi ketidakpastian
bahan baku yaitu dari dalam perusahaan dan faktor dari luar perusahaan.
Ketidakpastian dari dalam perusahaan disebabkan oleh faktor dari perusahaan itu
sendiri dalam pemakaian bahan baku, karena pemakaian bahan baku oleh perusahaan
tidaklah selalu tepat dengan apa yang selalu direncanakan. Mungkin suatu saat ada
gangguan tehnis sehingga akan mengganggu proses produksi yang akan
menyebabkan pemakaian bahan baku berkurang. Mungkin saja pemborosan-
pemborosan atau karena bahan baku yang kurang baik sehingga pemakaian bahan
baku keluar dari rencana semula.
Disamping ketidakpastian bahan baku dari dalam perusahaan terdapat pula
ketidakpastian dari luar perusahaan. Ketidakpastian dari luar perusahaan ini
disebabkan oleh faktor-faktor dari luar perusahaan. Dalam hal ini perusahaan pada
saat melaksanakan pembelian sudah diperhitungkan agar bahan baku yang dibeli
tersebut datangnya tepat pada saat persediaan yang ada sudah habis. Namun
kenyataannya bahan baku tersebut datangnya sering tidak sesuai dengan yang telah
diperhitungkan, atau bahan tersebut datang sebelum waktu yang dijanjikan.



20

2.6.5. Penggunaan Bahan Baku
2.6.5.1. Pengertian bahan Baku
Seluruh perusahaan yang berproduksi untuk menghasilkan satu atau beberapa
macam produk tentu akan selalu memerlukan bahan baku untuk pelaksanaan proses
produksinya. Bahan baku merupakan input yang penting dalam berbagai produksi.
Kekurangan bahan baku yang tersedia dapat berakibat terhentinya proses produksi
karena habisnya bahan baku untuk diproses. Akan tetapi terlalu besarnya bahan baku
dapat mengakibatkan tingginya persediaan dalam perusahaan yang dapat
menimbulkan berbagai resiko maupun tingginya biaya yang dikeluarkan perusahaan
terhadap persediaan tersebut.
Untuk lebih memahami arti dari bahan baku, maka penulis akan mengemukakan
beberapa pendapat mengenai pengertian dari bahan baku.
a. Pengertian bahan baku menurut Suadi (2000:64) adalah bahan yang
menjadi bagian produk jadi dan dapat diidentifikasikan ke produk jadi
b. Bahan baku adalah persediaan yang dibeli oleh perusahaan untuk
diproses menjadi barang setengah jadi dan akhirnya barang jadi atau
produk akhir dari perusahaan (Syamsuddin,2001:281).
c. Sedangkan menurut Reksohadiprodjo (1997:153) bahan baku adalah
bahan mentah, komponen, sub-perakitan serta pasokan (supplies) yang
dipergunakan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa.
Yang dimaksud dengan bahan baku dalam peneliltian ini adalah bahan yang
digunakan dalam produksi pada perusahaan.

21

2.6.5.2. Kebutuhan Bahan Baku
Pada umumnya persediaan bahan baku yang diselenggarakan oleh suatu
perusahaan akan dipergunakan untuk menunjang pelaksanaan proses produksi yang
bersangkutan tersebut. Dengan demikian maka besarnya persediaan bahan baku
tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan bahan baku tersebut untuk pelaksanaan
proses produksi yang ada didalam perusahaan. Jadi untuk menentukan berapa banyak
bahan baku yang akan dibeli oleh suatu perusahaan pada suatu periode akan banyak
tergantung kepada berapa besarnya kebutuhan perusahaan tersebut akan masing-
masing jenis bahan baku untuk keperluan proses produksi yang dilaksanakan dalam
perusahaan yang bersangkutan (Ahyari,2003:171)
Untuk dapat mengetahui berapa besarnya kebutuhan bahan baku yang
diperlukan perusahaan pada suatu periode tersebut maka manajemen perusahaan
tentunya akan menggunakan data yang cukup relevan untuk mengadakan peramalan
kebutuhan bahan baku dalam perusahaan tersebut. Beberapa data yang dapat
dipergunakan dalam penyusunan peramalan kebutuhan bahan baku ini antara lain
adalah data dari perencanaan produksi yang akan dilaksanakann dalam perusahaan
yang bersangkutan tersebut. Disamping data tersebut, maka kadang-kadang
manajemen perusahaan yang bersangkutan akan mempergunakan data penggunaan
bahn baku dari beberapa periode yang telah lalu. Hal ini lebih sering digunakan oleh
perusahaan-perusahaan dimana proses produksi yang dilaksanakan adalah proses
produksi terus-menerus sehingga pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan ini
merupakan pelaksanaan proses produkai dengan cara, urutan dan non produk yang
sama dari waktu ke waktu.
22

Peramalan perkiraan kebutuhan bahan baku yang baik adalah peramalan
kebutuhan bahan baku yang mendekati pada kenyataan yang disusun didalam
perusahaan yang bersangkutan tersebut merupakan suatu perkiraan-perkiraan tentang
keadaan masa yang akan datang dengan mendasarkan pada keadaan yang ada pada
waktu-waktu yang telah lalu. Dengan demikian maka hubungan antara tingkat
produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan dengan kebutuhan bahan baku yang
diperlukan tersebut akan menjadi erat. Atas dasar hal tersebut maka untuk
mengetahui kebutuhan akan bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi
dalam suatu perusahaan ini, manajemen perusahaan yang bersangkutan akan
mempertimbangkan tingkat produksi yang akan dilaksanakan dalam perusahaan
untuk kemudian diperhitungkan berapa bahan baku yang diperlukan untuk tingkat
produksi tersebut.
Untuk perusahaan yang berproduksi secara terus-menerus, dimana urutan dalam
pelaksanaan proses produksi selalu sama. Maka kadang-kadang manajemen
perusahaan yang bersangkutan tersebut akan mengadakan penyusutan peramalan
bahan baku dalam perusahaan yang bersangkutan dengan mempergunakan data
penggunaan bahan baku yang telah lalu. Atas dasar data dari penggunaan bahan baku
yang telah lalu ini disusun perkiraan kebutuhan bahan baku untuk pelaksanaan proses
produksi pada waktu yang akan datang. Hal ini dilaksanakan karena didalam produksi
terus-menerus ini kebutuhan akan selalu sejalan dengan pelaksanaan proses produksi
yang ada didalam perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian maka
perkembangan penggunaan bahan baku pada waktu-waktu yang lalu akan dapat
23

dipergunakan sebagai dasar untuk mengadakan penyusunan perkiraan jumlah unit
kebutuhan bahan baku pada waktu yang akan datang tersebut.
Apabila manajemen perusahaan yang bersangkutan tersebut telah mengetahui
berapa besarnya bahan baku yang dibutuhkan untuk keperluan proses produk dalam
suatu periode tersebut, maka jumlah bahan baku yang akan dibeli akan dapat
ditemukan pula. Penentuan jumlah bahan baku yang akan dibeli ini akan didasarkan
kepada jumlah kebutuhan bahan baku untuk keperluan proses produksi, dengan
mengingat data tentang persediaan yang ada didalam perusahaan. Persediaan awal
yang benar-benar ada didalam perusahaan tersebut serta rencana untuk persediaan
akhir didalam perusahaan perlu untuk diperhitungkan besarnya masing-masing.
Jumlah bahan yang akan dibeli oleh perusahaan yang bersangkutan ini akan sama
dengan jumlah kebutuhan bahan baku untuk keperluan proses produksi, kemudian
dikurangi dengan persediaan awal yang ada didalam perusahaan yang bersangkutan.
(Ahyari,2003:175)
2.6.5.3. Tingkat Penggunaan Bahan Baku
Usaha untuk mengadakan peramalan kebutuhan bahan baku dari suatu
perusahan akan dapat dilaksanakan dengan perhitungan atas dasar tingkat
penggunaan bahan baku yang berlaku dan dipergunakan didalam perusahaan yang
bersangkutan. Yang dimaksud dengan tingkat penggunaan bahan baku ini adalah
seberapa banyak jumlah bahan baku yang dipergunakan dalam proses produksi.
Tingkat penggunaan bahan baku atau yang sering disebut dengan meterial usage rate
ini akan dapat dipergukan untuk menyusun perkiraan kebutuhan bahan baku untuk
keperluan proses produksi apabila diketahui produk apa dan berapa jumlah unit
24

masing-masing yang akan diproduksikan didalam perusahaan yang bersangkutan.
Tingkat penggunaan bahan baku ini pada umumnya akan relatif tetap didalam
perusahaan tersebut kecuali terdapat perubahan-perubahan yang terjadi dalam produk
akhir perusahaan, atau didalam bahan baku itu sendiri. Perubahan produk perusahaan
ini misalnya terdapat perubahan desain dan bentuk produk, perubahan kualitas produk
dan lain sebagainya.

2.7. Struktur Biaya Persediaan
Biaya persediaan adalah semua pengeluaran dan kerugian yang timbul sebagai
akibat persediaan. Biaya tersebut adalah harga pembelian, biaya pemesanan, biaya
penyiapan, biaya penyimpanan, dan biaya kekurangan persediaan.
1. Harga pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang,
besarnya sama dengan harga perolehan sediaan itu sendiri atau harga belinya.
Pada beberapa model pengendalian sistem persediaan, biaya tidak dimasukan
sebagai dasar untuk membuat keputusan.
2. Biaya pemesanan adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan
pemesanan ke pemasok, yang besarnya biasanya tidak dipengaruhi oleh
jumlah pemesanan. Biaya ini meliputi biaya pemrosesan pesanan, biaya
ekspedisi, upah, biaya telepon/fax, biaya dokumentasi/transaksi, biaya
pengepakan, biaya pemeriksaan, dan biaya lainnya yang tidak tergantung
jumlah pesanan.
3. Biaya penyiapan (set up cost) adalah semua pengeluaran yang timbul dalam
mempersiapkan produksi. Biaya ini terjadi bila item sediaan diproduksi
25

sendiri dan tidak membeli dari pemasok. Biaya ini meliputi biaya persiapan
peralatan produksi, biaya mempersiapkan/menyetel (setup) mesin, biaya
mempersiapkan gambar kerja, biaya mempersiapkan tenaga kerja langsung,
biaya perencanaan dan penjadwalan produksi, dan biaya-biaya lain yang
besarnya tidak tergantung pada jumlah item yang diproduksi.
4. Biaya penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan dalam
penanganan/penyimpanan material, semi finished product, sub assembly, atau
pun produk jadi. Biaya simpan tergantung dari lama penyimpanan dan jumlah
yang disimpan. Biaya simpan biasanya dinyatakan dalam biaya per unit per
periode. Biaya penyimpanan meliputi berikut ini:
1) Biaya kesempatan. Penumpukan barang digudang berarti penumpukan
modal. Padahal modal ini dapat diinvestasikan pada tabungan bank
atau bisnis lain. Biaya modal merupakan opportunity cost yang hilang
karena menyimpan persediaan.
2) Biaya simpan. Termasuk dalam biaya simpan adalah biaya sewa
gudang, biaya asuransi dan pajak, biaya administrasi dan pemindahan,
serta biaya kerusakan dan penyusutan.
3) Biaya keusangan. Barang yang disimpan dapat mengalami penurunan
nilai karena perubahan teknologi.
4) Biaya-biaya lain yang besarnya bersifat variabel tergantung pada
jumlah item.
5. Biaya kekurangan persediaan. Bila perusahaan kehabisan barang saat ada
permintaan maka akan terjadi stock out. Stock out menimbulkan kerugian
26

berupa biaya akaibat kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan atau
kehilangan pelanggan yang kecewa (yang pindah ke produk saingan). Biaya
ini sulit diukur karena berhubungan dengan good will perusahaan. Sebagai
pedoman, biaya stock out dapat dihitung dari hal- hal berikut:
a. Kuantitas yang tak dapat dipenuhi, biasanya diukur dari keuntungan
yang hilang karena tidak dapat memenuhi permintaan. Biaya ini
diistilahkan sebagai biaya penaltiatau hukuman kerugian bagi
perusahaan.
b. Waktu pemenuhan. Lamanya gudang kosong berarti lamanya proses
produksi terhenti atau lamanya perusahaan tidak mendapatkan
keuntungan, sehingga waktu menganggur tersebut dapat diartikan
sebagai uang yang hilang.
c. Biaya pengadaan darurat. Agar konsumen tidak kecewa, maka dapat
dilakukan pengadaan darurat yang biasanya dapat menimbulkan biaya
lebih besar ketimbang biaya pengadaan normal. Dalam praktek, tidak
jarang ada kasus berupa suatu biaya sulit dapat diklasifikasikan dalam
biaya tetap (biaya pemesanan atau penyiapan) sekaligus dapat
diklasifikasikan dalam biaya variabel (biaya simpan, stock out).

2.8. Metode Pengendalian Persediaan (Fogharty,1991:203)
Dalam melakukan pengendalian persediaan sangatlah penting untuk mengetahui
apakah permintaan yang ada termasuk permintaan dependent atau independent.
Permintaan dependent adalah kebutuhan yang berkaitan dengan produk lain tidak
27

ditentukan oleh pasar. Sedangkan permintaan independent adalah kebutuhan yang
tidak berkaitan dengan produk lain, dan dipengaruhi oleh keadaan pasar yang berada
di luar jangkauan pengendalian operasi.
Untuk permintaan independent, digunakan filosofi pemenuhan utang
(replenishment philosophy). Ketika stok barang digunakan, barang tersebut akan diisi
lagi material yang ada mencukupi permintaan pelanggan. Ketika persediaan yang ada
mula berkurang, pesanan untuk tambahan material akan dikeluarkan sehingga
persediaan akan penuh kembali.
Untuk permintaan dependent, digunakan filosofi permintaan (requirement
philosophy). Jumlah stok barang yang dipesan dibuat berdasarkan permintaan barang-
barang pada level yang lebih tinggi. Ketika salah satu mulai habis, tambahan
persediaan bahan baku ataupun barang setengah jadi tak akan dipesan. Material lebih
akan dipesan hanya jika dibutuhkan pada barang-barang dengan level lebih tinggi
lainnya ataupun barang jadi akhir.
Aktivitas manajemen yang dapat dilakukan untuk mengatur persediaan item
tunggal adalah dengan memilih sistem manajemen persediaan yang tepat (metode
dasar dalam menentukan jumlah ukuran lot pemesanan dan kapan harus dilakukannya
titik pemesanan kembali) pada model persediaan baik untuk data independent
maupun dependent terdapat pada tabel 2.1 dimana berbagai kombinasi metode dapat
dilakukan sesuai dengan kondisi permasalahan yang ada.



28

Tabel 2.1 Metode dasar lot sizing dan cara pemesanan
Pemesanan Kapan harus dipesan Jumlah lot pemesanan
Independent
Order Point
Fixed Order Quantity
Economic Order Quantity
Periodic Variable Order Quantity
Time Phased Order Point Fixed or Discrete Order Quantity
Dependent Time Phasing (MRP) Discrete Order Quantity

Model sistem persediaan dapat digolongkan berdasarkan jenis datanya yaitu
model persediaan deterministik dan probabilistik dan masing-masing model
dibedakan lagi kedalam jenis data konstan/statis dan variabel/dinamis, yaitu sebagai
barikut :
1. Model Persediaan Statis Deterministik
Pada model ini, ukuran permintaan dikatakan deterministik karena ukuran
permintaan dalam satu periode diketahui dan konstan, dan laju
permintaannya sama untuk setiap periode.
2. Model Persediaan Dinamis Deterministik
Ukuran permintaan untuk setiap periode diketahui dan konstan tetapi laju
permintaan bervariasi (dinamis).
3. Model Persediaan Statis Probabilistik
Ukuran permintaanya bersifat acak namun berdistribusi tertentu yang
sama untuk setiap periodenya.
4. Model Persediaan Dinamis Probabilistik
29

Ukuran permintaannya bersifat acak,namun berdistribusi tertentu yang
berbeda dan bervariasi untuk setiap periodenya.
Secara umum,untuk semua data permintaan independen,model persediaan
hanya dibedakan berdasarkan jenis deterministik dan porbabilistik.
2.8.1. Model Pengendalian Persediaan Deterministik
Model ini digunakan untuk menentukan jumlah lot ekonomis untuk item
independent baik item yang di beli maupun yang diproduksi suatu perusahaan.
Asumsi-asumsi dasar yang mendukung terbentuknya model ini adalah sebagai berikut
: (nur bahagia:2003)
1. Permintaan barang selama horizon perencanaan (biasa 1 tahun) diketahui
dengan pasti dan akan datang secara kontinu sepanjang waktu dengan
kecepatan konstan.
2. Ukuran lot pemesanan tetap untuk setiap kali pemesanaan.
3. Barang yang dipesan akan datang secara serentak pada saat pemesanaan
dilakukan (lead time = 0).
4. Harga barang yang dipesan tidak tergantung pada jumlah barang yang
dipesan/dibeli dan waktu
5. Biaya pesan tetap untuk setiap pemesanaan dan biaya pesan sebanding
dengan jumlah barang yang disimpan dan harga barang/unit serta lama
waktu penyimpanaan.
6. Tidak ada keterbatasan, baik yang berkaitan dengan kemampuaan finansial,
kapasitas gudang dan lainnya
30

model persediaan yang paling banyak dipakai oleh kasus seperti di atas adalah Model
Economic Order Quantity (EOQ).

2.9. Metode Economic Order Quantity (EOQ)
2.9.1. Pengertian EOQ
Setiap perusahaan selalu berusaha untuk menentukan policy penyediaan bahan
dasar yang tepat, dalam arti tidak menganggu proses produksi dan disamping itu
biaya yang ditanggung tidak terlalu tinggi. Untuk keperluan itu terdapat suatu metode
EOQ (Economic Order Quantity). Menurut Gitosudarmo, (2002 : 101) EOQ
sebenarnya adalah merupakan volume atau jumlah pembelian yang paling ekonomis
untuk dilaksanakan pada setiap kali pembelian. Untuk memenuhi kebutuhan itu maka
dapat diperhitungkan pemenuhan kebutuhan (pembeliannya) yang paling ekonomis
yaitu sejumlah barang yang akan dapat diperoleh dengan pembelian dengan
menggunakan biaya yang minimal.
EOQ (Economic Order Quantity) adalah jumlah pesanan yang dapat
meminimumkan total biaya persediaan, pembelian yang optimal. Untuk mecari
berapa total bahan yang tetap untuk dibeli dalam setiap kali pembelian untuk
menutup kebutuhan selama satu periode. Menurut Ahyari (1995 : 163) untuk dapat
mencapai tujuan tersebut maka perusahaan harus memenuhi beberapa faktor tentang
persediaan bahan baku. Adapun faktor-faktor tersebut adalah :
a. Perkiraan pemakaian
Sebelum kegiatan pembelian bahan baku dilaksanakan, maka manajemen
harus dapat membuat perkiraan bahan baku yang akan dipergunakan
31

didalam proses produksi pada suatu periode. Perkiraan bahan baku ini
merupakan perkiraan tentang berapa besar jumlahnya bahan baku yang akan
dipergunakan oleh perusahaan untuk keperluan produksi pada periode yang
akan datang. Perkiraan kebutuhan bahan baku tersebut dapat diketahui dari
perencanaan produksi perusahaan berikut tingkat persediaan bahan jadi yang
dikehendaki oleh manajemen.
b. Harga dari bahan
Harga bahan baku yang akan dibeli menjadi salah satu faktor penentu pula
dalam kebijaksanaan persediaan bahan. Harga bahan baku ini merupakan
dasar penyusunan perhitungan berapa besar dana perusahaan yang harus
disediakan untuk investasi dalam persediaan bahan baku tersebut.
Sehubungan dengan masalah ini, maka biaya modal (cost of capital) yang
dipergunakan dalam persediaan bahan baku tersebut harus pula
diperhitungkan.
c. Biaya-biaya persediaan
Biaya-biaya untuk menyelenggarakan persediaan bahan baku ini sudah
selayaknya diperhitungkan pula didalam penentuan besarnya persediaan
bahan baku. Dalam hubungannya dengan biaya-biaya persediaan ini, maka
digunakan data biaya persediaan yaitu:
1) Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying cost)
Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar bila jumlah atau
kuantitas bahan yang disimpan semakin tinggi
Misal: Biaya pemeliharaan bahan, biaya asuransi.
32

2) Biaya pemesanan atau pembelian (ordering cost atau procurement
cost)
Biaya persediaan akan semakin besar bila ferkuensi pemesanan bahan
baku semakin besar.
Misal: biaya bongkar bahan, biaya administrasi.
3) Biaya tetap persediaan
Biaya yang jumlahnya tidak terpenuhi baik oleh jumlah unit yang
disimpan dalam perusahaan maupun frekuensi pemesanan bahan baku
yang dilakukan oleh perusahaan.
Misal : biaya bongkar perunit, gaji karyawan gudang perbulan.
4) Kebijaksanaan pembelanjaan
Seberapa besar persediaan bahan baku akan mendapatkan dana dari
perusahaan akan tergantung pada kebijakan pembelanjaan dari dalam
perusahaan tersebut.
d. Pemakaian senyatanya
Pemakaian bahan baku senyatanya dari periode-periode yang lalu (actual
demand) merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena untuk
keperluan proses produksi akan dipergunakan sebagai salah satu dasar
pertimbangan dalam pengadaan bahan baku pada periode berikutnya.
Seberapa besar penyerapan bahan baku oleh proses produksi perusahaan
serta bagaimana hubungannya dengan perkiraan pemakaian yang sudah
disusun harus senantiasa dianalisa. Dengan demikian maka dapat disusun
perkiraan bahan baku mendekati pada kenyataan.
33

e. Waktu tunggu
Waktu tunggu (lead time) adalah tenggang waktu yang diperlukan (yang
terjadi) antara saat pemesanan bahan baku dengan datangnya bahan baku itu
sendiri. Waktu tunggu ini perlu diperhatikan karena sangat erat
hubungannya dengan penentuan saat pemesanan kembali (reorder point).
Dengan waktu tunggu yang tepat maka perusahaan akan dapat membeli
pada saat yang tepat pula, sehingga resiko penumpukan persediaan atau
kekurangan persediaan dapat ditekan seminimal mungkin.
f. Model pembelian bahan
Manajemen perusahaan harus dapat menentukan model pembelian yang
paling sesuai dengan situasi dan kondisi bahan baku yang dibeli. Model
pembelian yang optimal atau Economic Order Quantity (EOQ).
g. Persediaan bahan pengaman (safety stock)
Persediaan pengamanan adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk
melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock
out). Selain digunakan untuk menanggulangi terjadinya keterlambatan
datangnya bahan baku. Adanya persediaan bahan baku pengaman ini
diharapkan proses produksi tidak terganggu oleh adanya ketidakpastian
bahan. Persediaan pengaman ini akan merupakan sejumlah unit tertentu,
dimana jumlah ini akan tetap dipertahankan, walaupun bahan bakunya dapat
berganti dengan yang baru.


34

h. Pemesanan kembali (reorder point)
Reorder point adalah saat atau waktu tertentu perusahaan harus mengadakan
pemesanan bahan baku kembali, sehingga datangnya pemesanan tersebut
tepat dengan habisnya bahan baku yantg dibeli, khususnya dengan metode
EOQ. Ketepatan waktu tersebut harus diperhitungkan kembali agak mundur
dari waktu tersebut akan menambah biaya pembelian bahan baku atau stock
out cost (SOC), bila terlalu awal akan diperlukan biaya penyimpanan yang
lebih atau extra carrying cost (ECC).
Ada beberapa cara untuk menetapkan besarnya reorder point, yaitu:
1) Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time ditambah prosentase
tertentu sebagai safety stock.
2) Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time ditambah penggunaan
selama periode tertentu sebagai safety stock.
3) Menetapkan lead time dengan biaya minimum.
Penentuan atau penetapan reorder point haruslah memperhatikan faktor-faktor
sebagai berikut:
1) Penggunaan bahan selama tenggang waktu untuk mendapatkan bahan
2) Besarnya safety stock
Tujuan Metode ini adalah untukmenentukan jumlah pemesanan ekonomis
setiap kai pemesanan, sehingga memperkecil biaya total persediaan. Secara grafis,
metode persediaan dapat digambarkan sebagai berikut :


35




















Gambar 2.1. Persediaan dalam model EOQ

Dasar perhitungan dari EOQ adalah jumlah (total) biaya persediaan termasuk
di dalamnya biaya-biaya terkait. Total biaya persediaan selama satu semester sama
dengan biaya pemesanan selama satu semester ditambah biaya penyimpanan selama
satu semester. Pengiriman yang cepat, pembelian materi sudah termasuk di mana
harga (biaya) per unit selalu tetap. Hanya biaya-biaya ini yang mempengaruhi jumlah
pemesanan. Dan dalam metode ini digunakan rumus-rumus sebagai berikut:
1. Rata-rata kebutuhan bahan baku ( )
( ) = ................................................................................... (2.1)



Tingkat persediaan (Q)
Titik saat pesanan di terima
Pesanan dilakukan
Rata-rata persediaan (Q/2)
Reoder point (R)
Waktu (T) L L
36

2. Jumlah pemesanan ekonomis ( )
= ..................................................................... (2.2)

3. Frekuensi pemesanan ( f )
f = ...................................................................................... (2.3)
4. Waktu pemesanan optimal (T)
T = W x ............................................................................... (2.4)
5. Biaya-biaya persediaan
1) Biaya pemesanan
= A x .......................................................................... (2.5)
2) Biaya penyimpanan
= i x ............................................................................ (2.6)

6. Total biaya persediaan (TC)
….……………………………..(2.7)
7. Titik pemesanan kembali (R)
L < t, R = L x DL ………………….………………………………… (2.8)
L > t, R = (L-t) x DL ………………………………………………… (2.9)

Dimana :
D = Tingkat kebutuhan bahan baku dalam unit per semester
DL = Tingkat kebutuhan bahan baku dalam unit per hari
A = Biaya pemesanan dalam rupiah
C = Unit Cost dalam rupiah
37

i = Biaya penyimpanan dalam rupiah
Q = Kuantitas atau jumlah pemesanan
TC = Total Cost persediaan
F = Frekuensi order per semester
W = Jumlah hari kerja dalam satu semester
L = Waktu Tenggang (lead time)

2.9.2. Kebijakan-kebijakan EOQ (Economic Order Quantity)

Bahan baku yang tersedia dalam menjamin kelancaran proses produksi dan
biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sehubungan dengan perusahaan tersebut
seminimal mungkin, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah menentukan
Economic Order Quantity (EOQ), Safety Stock, Reorder Point (ROP)
1. Menentukan jumlah bahan baku yang ekonomis (EOQ)
Setiap perusahaan industri, dalam usahanya untuk melakukan proses
produksinya yaitu dengan melakukan pembelian. Dalam melakukan
pembelian bahan baku yang harus dibeli untuk memenuhi kebutuhan
selama satu periode tertentu agar perusahaan tidak kekurangan bahan baku
dan juga bisa mendapatkan bahan tersebut dengan biaya seminimal
mungkin. Biaya-biaya yang timbul sehubungan dengan adanya pembelian
dan persediaan bahan baku (carrying cost dan ordering cost ) setelah
dihitung maka dapat ditentukan jumlah pembelian yang optimal atau
disebut EOQ, yaitu jumlah kuantitas bahan yang dapat diperoleh dengan
biaya minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang
optimal.
38

Ahyari (2003:160) menyebutkan bahwa pembelian dalam jumlah yang
optimal ini untuk mencari berapa jumlah yang tepat untuk dibeli dalam
setiap kali pembelian untuk menutup kebutuhan yang tepat ini, maka akan
menghasilkan total biaya persediaan yang paling minimal.
Unsur-unsur yang mempengaruhi Economic Order Quantity (EOQ) adalah :
a) Biaya penyimpanan perunit
b) Biaya pemesanan tiap kali pesan
c) Kebutuhan bahan baku untuk suatu periode tertentu
d) Harga pembelian
Menurut Supriyono (1999:396) perlu diperhatikan anggapan-anggapan yang
mendasari perhitungan EOQ, antara lain:
Selama periode yang bersangkutan tingkat harga konstan, baik harga beli
maupun biaya pemesanan dan penyimpanan
a) Selama saat akan diadakan pembelian selalu tersedia dana.
b) Pemakaian bahan relatif stabil dari waktu ke waktu selama
periode bersangkutan.
c) Bahan yang bersangkutan selalu tersedia dipasar setiap saat
akan dilakukan pembelian.
d) Fasilitas penyimpanan selalu tersedia berapa kalipun
pembelian akan dilakukan.
e) Bahan yang bersangkutan tidak mudah rusak dalam
penyimpanan.
f) Tidak ada kehendak manajemen untuk berspekulasi.
39

2. Menentukan safety stock (Persediaan Pengaman)
Suatu perusahaan industri perlu mempunyai jumlah bahan baku yang
selalu tersedia dalam perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
Persediaan bahan baku ini biasa disebut persediaan pengaman atau safety
stock. Persediaan pengaman adalah merupakan suatu persediaan yang
dicadangankan sebagai pengaman dari kelangsungan proses produksi
perusahaan (Ahyari, 2003 :199).
Persediaan pengaman diperlukan karena dalam kenyataannya jumlah
bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi tidak selalu tepat seperti
yang direncanakan. Dengan ditentukannya EOQ, sebenarnya masih ada
kemungkinan adanya out of stock didalam proses produksi. Menurut
Gitosudarmo (2002:112), kemungkinan stock out itu akan timbul apabila
penggunaan bahan dasar dalam proses produksi lebih besar dari pada yang
diperkirakan sebelumnya. Hal ini akan berakibat persediaan akan habis
diproduksi sebelum pembelian atau pemesanan yang berikutnya datang,
sehingga terjadilah out of stock.
3. Pesanan atau pembelian bahan dasar itu tidak dapat datang tepat waktunya
sehingga akan mundur
a) Jumlah yang dibeli setiap kali memesan bahan dasar.
Apabila jumlah yang dipesan setiap kali memesan bahan dasar dalam
jumlah relatif besar dan frekuensi pemesanan tinggi maka persediaan
besi yang ditetapkan juga dalam jumlah relatif besar dan sebaliknya.
b) Ketetapan perkiraan standart penggunaan bahan dasar terhadap produk
40

Apabila dalam penetapan standar penggunaan bahan dasar (standart
usage rate) adalah tepat untuk selama periode maka persediaan baja
relatif kecil dan sebaliknya.
c) Perbandingan SOC dan ECC
SOC (Stock Out Cost) adalah biaya yang dikeluarkan untuk
pembelian bahan pengganti atau substitusi akan datangnya pesanan
lebih lambat datang.
ECC (Extra Carrying Cost) adalah biaya yang dikeluarkan akibat
datangnya pesanan bahan baku terlalu awal.
Apabila SOC > ECC maka persediaan baja relatif besar
Apabila SOC < ECC maka persediaan baja relatif kecil.
d) Menentukan Reorder Point
Apabila besarnya persediaan pengaman telah diketahui, maka
perusahaan masih harus melakukan pemesanan kembali. Saat
pemesanan kembali tersebut dengan reorder point. Reoder point adalah
saat atau waktu tertentu perusahaan harus mengadakan pemesanan
bahan dasar kembali, sehingga datangnya pesanan tersebut tepat dengan
habisnya bahan dasar yang dibeli, khususnya dengan metode
EOQ.(Gitosudarmo,2002:108)
Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan Reorder point,
menurut Supriyono (1999:397) antara lain:
a) Waktu yang diperlukan dari saat pemesanan sampai bahan datang
diperusahaan (lead time).
41

Lead time ini akan mempengaruhi besarnya bahan yang dipakai
selama lead time. Semakin lama lead time semakin besar pula
jumlah beban yang diperlukan pemakaian selama lead time.
b) Tingkat pemakaian bahan rata-rata per hari atau satuan waktu
lainnya.
Besarnya bahan yang diperlukan selama lead time adalah jumlah
hari lead time dikalikan tingkat pemakaian bahan rata-rata.
c) Besarnya safety stock (persediaan pengaman)
Persediaan pengaman merupakan jumlah persediaan bahan yang
minimum harus ada untuk menjaga kemungkinan keterlambatan
datangnya bahan yang akan dibeli agar perusahaan tidak
mengalami stock out atau mengalami gangguan kelancaran
kegiatan produksi karena habisnya bahan yang umumnya
menimbulkan elemen biaya stock out. Penjumlahan besarnya
penggunaan bahan baku selama lead time dengan besarnya safety
stock, maka akan diketahui reorder point.
2.10. Peramalan
2.10.1. Definisi Peramalan
Peramalan adalah proses untuk memperkirakan beberapa kebutuhan di masa
dating yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi
yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa (Arman
Hakim:2003, hal 25). Dapat dikatakan bahwa peramalan tersebut merupakan taksiran.
Namun dengan menggunakan teknik-teknik tertentu maka peramalan akan menjadi
42

bukan hanya sekedar taksiran. Tentu saja peramalan akan semakin baik jika
mengandung sedikit mungkin kesalahan, walaupun kesalahan peramalan tetap
merupakan suatu hal yang sangat manusiawi.
Perlu diingat bahwa jarang ada atau bahkan tidak ada satupun metode
peramalan yang sempurna sehingga cocok diterapkan dalam setiap kegiatan
peramalan. Untuk itulah maka perlu dipilih metode peramalan yang terbaik yang
sesuai pola data yang ada dari suatu perusahaan tertentu yang bergerak dalam
bidangnya.
2.10.2. Pemilihan Metode Peramalan
Untuk memilih metode peramalan yang sesuai dengan benar, peramal harus
dapat mengerjakan hal-hal berikut :
a. Menetapkan sifat dasar masalah peramalan
b. Menjelaskan sifat dasar data yang sedang diteliti
c. mendeskripsikan kemampuan dan keterbatasan potensial dari teknik-
teknik peramalan yang kemungkinan sangat berguna.
d. mengembangkan sejumlah kriteria yang ditentukan terlebih dahulu
sebagai dasar untuk memilih keputusan.
Faktor utama yang mempengaruhi pemilihan teknik peramalan adalah
identifikasi dan pemahaman pola histeris data. Jika didapati trend, siklik, atau
musiman maka kemudian teknik-teknik yang mampu secara efektif mengekstrapolasi
pola ini dapat dipilih.
43

Metode peramalan yang dipilih pada penelitian ini adalah dari kelompok
metode peramalan yang berdasarkan deret waktu (time series forecasting methods)
dengan penjelasan sebagai penjelasan sebagai berikut :
2.10.2.1. Metode Moving Average (MA)
Moving average diperoleh dengan merata-rata permintaan berdasarkan
beberapa data masa lalu yang terbaru. Tujuan utama dari penggunaan
metode ini adalah untuk mengurangi atau menghilangkan variasi acak
permintaan dalam hubungannya dengan waktu. Tujuan ini dicapai dengan
merata-rata beberapa nilai data secara bersama-sama, dan menggunakan
nilai rata-rata tersebut sebagai ramalan permintaan untuk periode yang akan
datang. Secara matematis, maka MA akan dinyatakan dalam persamaan
sebagai berikut :
N
X ..... X X
F
1 n t 2 t 1 t
t
+ − − −
+ + +
= ..........................(2.9)
Dimana :
1 t
X


=

permintaan aktual pada periode 1 t −
N = banyaknya data permintaan yang dilibatkan dalam perhitungan
MA
F
t
= peramalan permintaan pada periode t

2.10.2.2. Metode Double Moving Average (DMA)
Suatu cara peramalan data deret waktu dengan trend-linier adalah
dengan menggunakan rata-rata bergerak ganda. Metode ini, sebagaimana
namanya : satu kelompok rata-rata bergerak dihitung dan kemudian
kelompok kedua dihitung rata-rata bergerak hasil pada kelompok pertama.
44

Persamaan yang dipakai dalam implementasikan Double Moving Average
ditunjukkan di bawah ini :
N
X ..... X X X
S'
1 n t 2 t 1 t t
t
+ − − −
+ + + +
= ..........................(2.10)
Persamaan (2.10) di atas mempunyai asumsi bahwa saat ini pada periode
waktu t dan mempunyai nilai masa lalu sebanyak N.MA (N) tunggal
dituliskan S’.

N
S' ..... ' ' S'
S"
1 n t 2 t 1 t t
t
+ − − −
+ + + +
=
S S
………..............(2.11)
Persamaan (2.11) diatas menganggap bahwa semua rata-rata bergerak
tunggal (S’) telah dihitung. Dengan persamaan itu lalu menghitung rata-rata
bergerak N-periode dan nilai-nilai S’ tersebut. Rata-rata bergerak ganda
dituliskan sebagai S”.
t t t t t
S S S S S a " ' 2 ) " ' ( ' − = − + = ..........................(2.12)
Persamaan (2.12) diatas mengacu terhadap penyesuaian MA tunggal (S’
t
)
dengan perbedaan (S’
t
– S”
t
)
) " ' (
1
2
t t t
S S
N
b −

= ..........................(2.13)
Persamaan (2.13) diatas menentukan taksiran kecenderungan dari periode
waktu yang satu ke periode waktu berikutya
m b a F
t t t
− = ..........................(2.14)
Persamaan (2.14) diatas menunjukkan bagaimana memperoleh ramalan
untuk m periode ke depan dari t.


45

2.10.2.3. Metode Weighted Moving Average (WMA)
Pada metode WMA, setiap data permintaan actual memiliki bobot
yang berbeda. Data yang lebih baru akan mempunyai bobot yang tinggi
karena data tersebut mempresentasikan kondisi yang terakhir terjadi.
Secara matematis WMA dapat dinyatakan sebagai berikut :
( )
t t
X Wt F × ∑ = ………………..(2.15)
Dimana :
W
t
= bobot permintaan aktual pada periode-t dengan keterbatasan ∑W=1
X
t
= permintaan aktual pada periode t

2.10.2.4. Metode Single Exponential Smoothing (SES)
Kelemahan teknik MA dalam kebutuhan akan data-data masa lalu
yang cukup banyak dapat diatasi dengan teknik SES. Model matematis SES
dapat dikembangkan dari persamaan berikut :






− + =

+
N
X
N
X
F F
N t t
t t 1
………………(2.16)
Dimana bila data permintaan aktual yang lama A
t-N
tidak tersedia, maka
dapat digantikan dengan nilai pendekatan yang berupa nilai ramalan
sebelumnya F
t,
sehingga persamaan (2.8) dapat dituliskan menjadi :






− + =
+
N
F
N
X
F F
t t
t t 1
.........................(2.17)
t t t
F
N
X
N
F ⎟





− + ⎟





=
+
1
1
1
1
..........................(2.18)
46

Dari persamaan (2.18) dapat dilihat bahwa ramalan ini (F
t+1
) didasarakan
atas pembobotan observasi yang terakhir dengan suatu niali bobot (1/N) dan
pembobotan peramalan yang terakhir sebelumnya (F
t
) dengan suatu bobot
[1-91/N)]. Karena N merupakan suatu bilangan positif, 1/N akan menjadi
suatu konstanta antara nol (jika N tak terhingga) dan 1 (jika N=1).
Dengan mengganti 1/N dengan α, persamaan (2.18) menjadi :
t t t
α)F (1 αX F − + = ..........................(2.19)
Cara lain untuk menuliskan persamaan (2.11) adalah dengan susunan
sebagai berikut :
) F (X F
t t t 1 t
− + =
+
α F ..........................(2.20)

2.10.2.5. Metode Double Exponential Smoothing (Brown’s One Parameter
Linier)
Dengan cara analogi yang dapat dipakai pada waktu memulai dari
rata-rata bergerak tunggal ke pemulusan (smoothing) exponensial tunggal
kita dapat juga memulai dari rata-rata bergerak ganda ke pemulusan
exponensial ganda. Persamaan yang dipakai dalam implementasi pemulusan
eksponensial linier satu parameter dari brown ditunjukkan di bawah ini :
1
' ) 1 ( '

− + =
t t
S X S α α ..........................(2.21)
1
" ) 1 ( ' "

− + =
t t
S S S α α ..........................(2.22)
Di mana S’
t
adalah nilai pemulusan eksponensial tunggal dan S”
t
adalah
nilai pemulusan eksponensial ganda.
t t t t t t
S S S S S a " ' 2 ) " ' ( ' − = − + = ..........................(2.23)
47

) " ' (
1
t t t
S S b −

=
α
α
..........................(2.24)
m b a F
t t m t
+ =
+
..........................(2.25)
Dimana m adalah jumlah periode ke muka yang diramalkan.

2.10.2.6. Metode Triple Exponential Smoothing (Brown’s One Parameter
Quadratic)
Sebagaimana halnya dengan pemulusan eksponensial linier yang dapat
digunakan untuk meramalkan data dengan suatu pola trend dasar, bentuk
pemulusan yang lebih tinggi dapat digunakan bila dasar pola datanya adalah
kuadratis, kubik atau orde yang lebih tinggi. Untuk memulai dari pemulusan
kuadratis, pendekatan dasarnya adalah memasukkan tingkat pemulusan
tambahan (smoothing tripel) dan memberlakukan persamaan peramalan
kuadratis. Peramalan untuk pemulusan kuadratis adalah :
1
' ) 1 ( '

− + =
t t
S X S α α ..........................(2.26)
1
" ) 1 ( ' "

− + =
t t
S S S α α ..........................(2.27)
1
" ' ) 1 ( " ' "

− + =
t t t
S S S α α ..........................(2.28)
t t t t
S S S a " ' " 3 ' 3 + − = ..........................(2.29)
[ ] ) " ' ) 3 4 ( " ) 8 10 ( ' ) 5 6 (
) 1 ( 2
2
t t t t
S S S b α α α
α
α
− + − − −

= ...........(2.30)
) " ' " 2 ' (
) 1 (
2
2
t t t t
S S S c + −

=
α
α
..........................(2.31)
2
2
1
m c m b a F
t t t m t
+ + =
+
..........................(2.32)
Persamaan yang dibutuhkan untuk pemulusan kuadratis sangat rumit
dari pada persamaan untuk pemulusan tunggal dan linier. Walaupun
48

demikian pendekatannya dalam mencoba menyesuaikan nilai ramalan
sehingga ramalan tersebut dapat mengikuti perubahan trend yang kuadratis
adalah sama.

2.10.3. Ukuran Akurasi Hasil Peramalan
Ukuran akurasi hasil peramalan merupakan ukuran kesalahan peramalan yaitu
tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan permintaan yang sebenarnya terjadi.
Ada 4 ukuran yang biasa digunakan yaitu :
a) Mean absolute Deviation (MAD)
MAD merupakan rata-rata kesalahan mutlak selama periode tertentu
tanpa memperhatikan apakah hasil peramalan lebih besar atau kecil
dibandingkan kenyataannya. Secara matematis MAD dirumuskan sebagai
berikut :
n
F X
MAD
n
1 t
t t ∑
=

= .......................(2.33)

Dimana :
Xt = permintaan actual pada periode t
Ft = peramalan permintaan pada periode t
N = jumlah periode peramalan yang terlibat



49

b) Mean Square Error (MSE)
MSE dihitung dengan menjumlahkan kuadrat semua kesalahan
peramalan pada setiap periode dan membaginya dengan jumlah periode
peramalan.
( )
n
F X
MSE
n
1 t
2
t t ∑
=

= .........................(2.34)

c) Mean forecast Error (MFE)
MFE sangat efektif untuk mengetahui apakah hasil peramalan selama
periode tertentu terlalu tinggi atau terlalu rendah. Bila hasil peramalan tidak
bias, maka nilai MFE akan mendekati nol. MFE dihitung dengan
menjumlahkan semua kesalahan peramalan selama periode peramalan dan
membaginya dengan jumlah periode peramalan.
( )
n
F X
MFE
n
1 t
t t ∑
=

= ..........................(2.35)

d) Mean Absolute Percentage Error (MAPE)
MAPE merupakan ukuran kesalahan relative. MAPE menyatakan
presentase kesalahan hasil peramalan terhadap permintaan aktual selama
periode tetentu yang akan memberikan informasi presentase kesalahan
terlalu tinggi atau terlalu rendah.
MAPE = ∑ ..........................(2.36)
50

Akurasi peramalan akan semakin tinggi apabila nilai-nilai MAD,MSE,MFE,
dan MAPE semakin kecil. Apabila suatu data aktual dinyatakan sebagai Xt nilai
ramalan dinyatakan sebagai Ft, maka galat ramalan (forecast error) dinyatakan
sebagai :
e
t
= Xt – Ft jadi Error = Data Aktual – Forecast
Berkaitan dengan validasi model peramalan, dapat menggunakan tracking
signal. Tracking signal adalah suatu ukuran bagaimana baiknya suatu ramalan
memperkirakan nilai-nilai actual. Tracking signal dihitung sebagai Running Sum of
the Forecast Error (RSFE) dibagi dengan Mean Absolute Deviation (MAD), sebagai
berikut :

MAD
RSFE
Signal Tracking =

( )
MAD
F X
Signal Tracking
n
t
t t ∑
=

=
1
..........................(2.37)
Tracking Signal yang positif menunjukkan bahwa nilai aktual permintaan lebih
besar dari pada ramalan, sedangkan tracking signal yang negative berarti nilai aktual
permintaan lebih kecil dari pada ramalan. Apabila tracking signal telah dihitung, kita
dapat membangun peta control tracking signal sebagaimana halnya dengan peta-peta
control dalam pengendalian proses statistical (statistical process control = SPC),
yang memiliki batas control atas (upper control limit) dan batas control bawah (lower
control limit).

51

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian merupakan suatu proses di mana rangkaian langkah-langkah
dilakukan secara terencana dan sistematis guna mendapatkan pemecahan dari
masalah yang ada atau mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan tertentu. Langkah-
langkah yang dilakukan harus serasi dan saling mendukung antara satu dengan yang
lainnya, agar penelitian yang dilakukan mempunyai suatu bobot yang memadai dan
memberikan suatu kesimpulan yang tidak meragukan.
Penelitian dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan melakukan studi lapangan
dan wawancara langsung dengan sumber yang berkaitan dan melakukan studi pustaka
yang berasal dari buku-buku atau referensi yang berhubungan dengan masalah yang
akan dibahas. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik, diperlukan suatu urutan
prosedur atau tahapan-tahapan secara sistematik sehingga penelitian ini mampu
menjadi alternatif untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Adapun
urutan prosedur atau tahapan-tahapan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

3.1. Penelitian Pendahuluan
Tahap awal yang dilakukan dalam suatu penelitian adalah mengadakan
penelitian pendahuluan dengan meninjau langsung untuk mengetahui situasi dan
kondisi dari perusahaan yang akan diteliti, sehingga dapat menentukan masalah yang
akan diangkat menjadi objek penelitian.
52

a. Tinjauan Pustaka
Di maksudkan untuk memberikan informasi sebagai penuntun dalam
memecahkan masalah dan menarik kesimpulan. Tinjauan pustaka ini juga
menjadi dasar bagi kerangka berfikir dalam memecahkan masalah-
masalah yang dihadapi.
b. Tinjaun Lapangan
Pengambilan data dilakukan dengan datang langsung ke perusahaan
untuk memperoleh data-data sekunder dari literature perusahaan dengan
menggunakan metode deskripsi yang memberikan gambaran atas suatu
keadaan dari hasil suatu perbandingan/analisa sejernih mungkin. Data
tersebut diperoleh dari bagian pengadaan dan produksi yang menangani
masalah persediaan bahan baku plat baja 0,4 mm pada perusahaan
tersebut.

3.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil pengamatan, adanya masalah mengenai pengendalian
persediaan bahan baku kap lampu yaitu plat baja 0,4 mm di PT. Citilite Buana Putra.
Dari sistem dan metode yang dipakai selama ini terlihat bahwa terdapat pengadaan
stok yang berlebihan dari yang dibutuhkan dalam proses produksinya.




53

3.3. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil data-data sekunder dari
dokumen perusahaan yaitu melalui bagian pengadaan dan produksi, data-data yang
dikumpulkan adalah :
1. Data permintaan kap lampu dari bulan Januari - Desember 2010
2. Biaya-biaya yang berkaitan dengan pengendalian persediaan bahan baku plat
0,4 mm yaitu biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya-biaya lainnya
yang berkaitan.

3.4. Pengolahan Data
Setelah data-data dikumpulkan mencukupi, maka data tersebut selanjutnya
diolah sebelum diproses (analisis) lebih lanjut, yaitu dengan menghitung persediaan
bahan baku dengan model EOQ Deterministik :
1. Jumlah pemesanan ekonomis.
2. frekuensi pemesanan.
3. Siklus persediaan.
4. Titik pemesanan kembali.
5. Total biaya persediaan.

3.5. Analisis Data
Pada bab ini proses pengolahan data-data aktual dengan melakukan
perhitungan-perhitungan berdasarkan teori pada tinjauan pustaka akan dianalisa
terhadap pengolahan data yang telah dilakukan guna mendapatkan pemecahan
54

masalah yang efektif dan efisien. Teknik Statistik yang pada umumnya digunakan
untuk menganalisis data pada penelitian-penelitian deskripsi ialah dengan
menggunakan table-tabel dan grafik. Analisa yang dilakukan adalah analisa terhadap
hasil perhitungan pengendalian persediaan bahan baku plat baja 0,4 mm dengan
menggunakan model EOQ Deterministik.

3.6. Simpulan Dan Saran
Dari penelitian yang dilakukan maka di dapat suati simpulan berdasarkan
analisa tersebut beserta keterbatasannya serta saran yang akan disampaikan kepada
perusahaan.
Keseluruhan langkah metodologi penelitian di atas secara ringkas dapat dilihat
pada gambar di bawah ini :











55

































Gambar 3.1 Alur Metodologi Penelitian


Tujuan penelitian :
1. Melakukan pengendalian persediaan
plat baja 0,4 mm sehingga dapat
meminimumkan biaya persediaan
Identifikasi Masalah
Pengumpulan data :
1. Data permintaan kap lampu dari
bulan Juli 2010 - Desember 2010
2. Data biaya pemesanan dan
penyimpanan
Pengolahan Data :
1. Menghitung persediaan bahan baku plat baja
0,4 dengan model EOQ Deterministik.
2. Meramalkan kebutuhan plat baja 0,4 mm
untuk periode Januari 2011 – Juni 2011

Simpulan dan Saran
Analisa
Studi Pendahuluan:
1. Wawancara
2. Studi Pustaka
56

BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1. Data Umum Perusahaan
PT. Citilite Buana Putra (CLBP) merupakan sebuah Perusahaan Swasta
Nasional yang didirikan pada bulan Agustus 1980 di Jakarta. Pada tahun 1991
perusahaan ini mendirikan pabrik di kawasan Depok. Perusahaan ini merupakan
vendor bagi retail-retail komponen elektronik kap lampu TL di Indonesia maupun
vendor bagi pekerjaan-pekerjaan proyek berbagai skala. Produk dibuat oleh CLBP
dikerjakan berdasarkan pesanan pelanggan melalui tender atau pembelian
langsung. Berdasarkan sistem manufaktur, maka CLBP menjalankan strategi
operasi MTO dan MFS. Hal ini dilakukan karena jenis produk yang dibuat
bersifat standar dan massal.

4.1.1. Struktur Organisasi
Dalam menjalankan aktifitas usahanya, CLBP memiliki struktur organisasi
seperti yang tertera pada Gambar IV.1.








57



















Gambar 4.1. Struktur Organisasi CLBP



4.1.2. Deskripsi Kerja Divisi-Divisi di CLBP
Divisi-divisi pada perusahaan CLBP diberi tugas dan kewenangan khusus
sedemikian hingga fungsi parsialnya dapat berkorelasi dan bersinergi sebagai
fungsi integral di dalam tubuh perusahaan sebagai berikut:

4.1.3. Divisi Retail
Bertugas merintis, membina, dan memperluas jaringan pemasaran dengan
retail-retail pemasaran kap lampu. Melakukan market intelejen dengan
menangkap volume kebutuhan setiap titik retail dan melakukan survei terhadap
ketahanan daya saing produknya di tengah produk lain.


Dewan
Komisaris
Direktur Utama
Manager Umum,
Adm & Keuangan
Manager
Marketing
Manager
Produksi
Quality
Control
Divisi
Factory
Gudang Divisi
Retail
Divisi
Projek
Divisi
Pembelian
Divisi Adm
& Umum
58

4.1.4. Divisi Projek
Bertugas membangun jaringan pemasaran berkelas projek. Melakukan
berita acara-berita acara kepesertaan tender dengan institusi penyelenggara tender.

4.1.5. Divisi Procurement
Bertugas mengatur pengadaan bahan baku dan kebutuhan pengadaan
properti perusahaan. Menerima permintaan pengadaan barang. Berkomunikasi
dengan supplier, memilih supplier, menentukan kuantitas dan mengontrol
kedatangan barang.

4.1.6. Divisi Gudang
Bertugas mengawasi dan mengendalikan persediaan bahan baku.
Mengecek jumlah dan kondisi material di gudang secara periodik atau insidential.
Mengatur dan melakukan pencatatan arus keluar masuk bahan baku.

4.1.7. Divisi Factory dan PPC
Bertugas melakukan perencanaan produksi, dan pengendaliannya.
Menyusun jadwal produksi untuk setiap pesanan pelanggan yang telah resmi
diterima dan melakukan pekerjaan fabrikasi.

4.1.8. Divisi QC
Bertugas menjaga kualitas produk. Memilih dan memisahkan produk yang
dibawah standar mutu.

59

4.1.9. Divisi Keuangan (Manager keuangan)
Bertugas melakukan aktifitas keuangan dan akunting. Mencatat dan
melakukan proses penerimaan uang masuk atau pembayaran uang keluar.
Mengatur arus kas dan melakukan penganggaran.

4.1.10. Adm dan Umum
Bertugas melakukan aktivitas administrasi persuratan perusahaan.
Memelihara arsip, mengurus kebutuhan administrasi proyek, melakukan
penjadwalan pengiriman barang, mengurus kebutuhan administrasi dan umum
perusahaan sehari-hari.

4.1.11. Rantai Supplai di CLBP
Rantai suplai antara pelanggan, perusahaan, dan supplier dipetakan pada
gambar 4.2 di bawah ini:






Aliran Pemesanan
Aliran Penyuplaian



Gambar 4.2. Peta Rantai Suplai di CLBP

















Supplier
Plat Baja
Serbuk Cat
Plat Mirror
Plat ST
Kait Reflector
Kardus Packing

Manufaktur
Kap Lampu


CLBP








Pelanggan
Retail
Projek
60



4.1.12. Alur Umum Proses Kerja PT.Citilite Buana Putra

Alur umum proses kerja di CLBP diselenggarakan sebagai berikut:
1) Alur kerja CLBP dimulai dari aktivitas pemasaran berupa penerimaan
order pelanggan sebagai hasil dari tender projek yang dimenangkan
perusahaan, dari penunjukan langsung atau dari pemesanan retailer secara
reguler.
2) Order yang telah diterima itu sebelumnya telah dikonfirmasi ke divisi
factory dan PPC perihal ketersediaan produk jadi yang telah siap (MTS)
atau lead time proses operasi produksi yang hendak dilakukan (MFS) dan
(MTO), namun setelah order dimenangkan, dilakukan konfirmasi ke dua
berupa pengesahan order menjadi Surat Perintah Kerja.
3) Selanjutnya pihak factory akan melakukan perencanaan kebutuhan bahan
baku sesuai kuantitas order dan Bill of Material produk. Perencanaan
kebutuhan bahan baku dikirimkan kepada bagian gudang sebagai
permintaan bahan baku.
4) Divisi gudang menyediakan bahan baku yang diminta, dan diberikan
kepada divisi factory.
5) Divisi factory melakukan proses produksi sesuai perencanaan penjadwalan
produksi mulai dari unit produksi potong, pon, tekuk, las, cat, hingga
packing.
6) Barang jadi dikirimkan ke pelanggan.


72

BAB V
ANALISIS DATA

5.1. Perhitungan Pengendalian Persediaan bahan baku plat baja0,4 mm
dengan Metode EOQ Deterministik Periode Januari sampai dengan
Desember 2011.
a. Kebutuhan plat baja 0,4 mm (D) = 15.136,86 lembar/tahun

b. Biaya pemesanan (A) = Rp. 300.000/pemesanan
c. Biaya penyimpanan (i) = Rp. 34.286/unit/tahun
d. Harga plat baja (C) = Rp. 100.000/lembar
e. Lead time = 6 hari
1. Jumlah pemesanan ekonomis ( Q )
Q = _
2 x A x Ð
ì

= _
2 x 300000 x 15136,86
34286

= 514,68 lembar

2. Frekuensi pemesanan ( f )
f =
Ð
Q

=
15136,86
514,68

= 29,4 ≈ 29 Kali
73

3. Waktu pemesanan optimal (T)
T = W x
Q
Ð

= 300 x
514,68
15136,86

= 10,20 ≈ 10 hari

4. Titik pemesanan kembali (R)
Kebutuhan satu tahun = 15136,86 lembar, maka
Kebutuhan per bulan = 15136,86/12
= 1261,41 lembar/bulan
Kebutuhan per hari = 1261,41/25
= 50,45 ≈ 50 lembar/hari

Jadi, Reoder point (R) = L< t
= L x dL
= 6 x 50
= 300 lembar
5. Biaya-biaya persediaan
1). Biaya pemesanan
= A x
Ð
ç

= 300.000 x
15136,86
514,68

= Rp. 8.823.071,-
74

2). Biaya penyimpanan
= i x
Q
2

= 34.286 x
514,68
2

= Rp. 8.823.159,-
6. Total biaya persediaan (TC)
7. IC = A x j
Ð
ç
[ + i x j
ç
2
[ +ÐxC
= 300.000 x
15136,86
514,68
+ 34.286 x
514,68
2
+ (15136,86 x 100.000)
= 8.823.071 + 8.823.159 + 1.513.686.000
= Rp. 1.531.332.230,-/tahun

Tingkat Persediaan (Ton)


q=514,68


R = 300



L = 6 waktu (hari)

t = 10 t = 10
75

Gambar 5.1 Waktu Siklus Plat baja 0,4 mm

Gambar 5.2 Grafik Economic Order Quantity (EOQ)

Tabel 5.1 Hasil perhitungan dengan metode EOQ
No Jenis Bahan
Baku
Kebutuhan
bahan baku
satu tahun
Frekuensi
pemesanan
satu tahun
Reoder
Point
Total biaya
persediaan
satu tahun.
1 Plat baja 0,4 mm 15136,86 29 300 RP. 1.531.332.230,-

Berdasarkan hasil perhitungan pengendalian bahan baku plat baja 0,4 mm
didapat, bahwa kebutuhan bahan baku selama periode bulan Januari 2011 sampai
dengan Desember 2011 yaitu sebesar 15136,86 lembar, dengan frekwensi
pemesanan sebanyak 29 kali dalam satu tahun. Perusahaan melakukan pemesanan
kembali (Reoder Point) pada saat posisi stok mencapai 300 lembar. Maka total
biaya persediaan bahan baku yang dikeluarkan perusahaan pada periode Januari
2011 sampai Desember 2011 untuk memenuhi kebutuhan persediaan bahan baku
plat baja 0,4 mm meliputi biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya bahan
baku, maka total biaya persediaan yang dikeluarkan adalah sebesar Rp.
1.531.332.230,-.
0.00
5,000,000.00
10,000,000.00
15,000,000.00
20,000,000.00
25,000,000.00
30,000,000.00
35,000,000.00
40,000,000.00
129 386 643 901 1,158 1,415
Units
Ordering Cost
Carrying Cost
Total Cost
76


5.2. Perhitungan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Plat Baja 0,4 mm
Dengan Metode Perusahaan.

1. Rata-rata kebutuhan bahan baku plat baja 0,4 mm
(D) = D / 2
= 15.136,86 / 2
= 7.568,43 lembar

2. Biaya-Biaya persediaan
1). Biaya pemesanan
= A x
Ð
ç

= 300.000 x
15136,86
514,68

= Rp. 8.700.000,-
2). Biaya penyimpanan
= i x ( D / f )
= 34.286 x ( 15.136,86 / 29)
= Rp. 17.895.944,-
3). Total harga plat baja 0,4 mm
= Harga bahan baku plat baja 0,4 mm x kebutuhan bahan baku
= Rp. 100.000,- x 15.136,86 lembar
= Rp. 1.523.686.000,-
3. Total Biaya Persediaan (TC)
4. IC = A x j
Ð
ç
[ + i x j
ç
]
[ +ÐxC
77

= 300.000 x
15136,86
514,68
+ 34.286 x(15.136,86/29)+(15136,86 x 100.000)
= 8.823.071 + 17.895.944 + 1.513.686.000
= Rp. 1.540.281.944,-/tahun

Dari hasil perhitungan pengendalian dengan metode yang diterapkan
diperusahaan dapat dilihat total biaya perusahaan selama 1 periode (tahun) yang
harus dikeluarkan perusahaan adalah sebesar Rp. 1.540.281.944,-. Umtuk itulah
sebagai pembanding dalam menentukan penggunaan metode EOQ (Economic
Order Quantity) dapat diterapkan pada PT. Citilite Buana Putra dapat dilihat dari
besarnya biaya persediaan selama satu tahun, karena semakin kecil total biaya
persediaan yang dikeluarkan maka semakin baik metode pengendalian persediaan
itu dapat digunakan.

Tabel. 5.2. Tabel Perbandingan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Plat Baja
0,4 mm Metode Perusahaan dengan Metode EOQ
No Jenis
Bahan Baku
Kebutuhan
bahan baku
satu tahun
Dengan Metode
Perusahaan
Dengan Metode
EOQ
Selisih
1 Plat baja 0,4 mm 15.136,86 RP. 1.540.281.944 RP. 1.531.332.230 RP. 8.949.714,-


Berdasarkan Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa dengan perhitungan yang
dilakukan perusahaan total biaya persediaan yang dikeluarkan selama 1 periode
(tahun) untuk pengadaan bahan baku adalah sebesar Rp. 1.540.281.944,- dan
dengan menggunakan metode EOQ adalah sebesar Rp. 1.531.332.230,-. Sehingga
78

perusahaan dapat meminimalkan biaya pengadaan bahan baku untuk proses
produksi kap lampu dengan efisiensi biaya sebesar Rp. 8.949.714,-.
76

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

6.1. Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat diambil suatu
simpulan sebagai berikut :
1. Analisis peramalan (forecasting) dan pengendalian persediaan bahan baku
dengan metode EOQ (Economic Order Quantity) Deterministik pada produksi
kap lampu di PT. Citilite Buana Putra yaitu perhitungan peramalan
permintaan bahan baku plat baja 0,4 mm dengan menggunakan program
excel, diperoleh hasil yang terbaik menggunakan Metode Moving Average
dengan n = 4 karena mempunyai tingkat peramalan terkecil yaitu 21,75 %,
dan hasil peramalan digunakan sebagai data aktual pada bulan Januari –
Desember 2011.
2. Berdasarkan perhitungan pengendalian persediaan bahan baku plat baja 0,4
mm yaitu sebesar 15.136,86 lembar.
3. Frekuensi pembelian bahan baku plat baja 0,4 mm bila menggunakan metode
EOQ (Economic Order Quantity) Deterministik adalah 29 kali pembelian
bahan baku dalam 1 periode (tahun).
4. Jumlah pemesanan ekonomis (Q) setiap kali pesan adalah sebanyak 514,68
lembar dengan waktu antar pemesanan (t) selama 10 hari.
77

5. Batas atau titik pemesanan kembali (R) bahan baku yang dibutuhkan
perusahaan adalah 300 lembar.
6. Total biaya persediaan (TC) bahan baku plat baja 0,4 mm untuk bulan Januari-
Desember 2011 adalah sebesar Rp. 1.531.332.230,-.

6.2. Saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka peneliti dapat memberikan saran kepada
perusahaan sebagai bahan pertimbangan adalah :
1. Perusahaan sebaiknya meninjau kembali kebijakan persediaan bahan baku
yang selama ini dilakukan perusahaan, apakah tahun berikutnya akan
melakukan peningkatan jumlah kapasitas produksi untuk meningkatkan
margin yang diperoleh perusahaan.
2. Perusahaan sebaiknya menentukan supplaier yang tetap agar tidak terjadi
keterlambatan pengiriman bahan baku untuk menghindari resiko kehabisan
bahan baku sehingga dapat meminimalisasi biaya bahan baku bagi
perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Assauri, Sofjan. Manajemen Produksi dan Operasi, Jakarta : Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1999
2. Biegel, John E. Pengendalian Produksi : Suatu Pendekatan Kuantitatif,
Jakarta: Akademika Pressindo, 1992.
3. Baroto, Teguh .Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Jakarta: Ghalia
Indonesia, 2002
4. Indrajit, Richardus Eko., Djokopranoto, Richardus. Manajemen
Persediaan, Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia, 2003.
5. Kusuma, Hendra. Perencanaan dan Pengendalian Produksi, yogyakarta :
ANDI, 2001.
6. Nasution, Arman Hakim. Perencanaan dan Pengendalian Produksi,
Surabaya : Guna Widya, 2003.
7. T. Hani Handoko, Manajemen Produksi dan Operasi, Yogyakarta: BPFE,
1999.
8. Yamit, Zulian. Manajemen Persediaan, Yogyakarta : Ekonosia FE UI,
1999.
 
 
Perhitungan Peramalan Dengan Menggunakan Metode Moving Average n = 3
Moving Average  n = 3 
Bulan  A(t)  F(t)  f(t)  |A(t)‐f(t)|  (A(t)‐f(t))^2  |(A(t)‐f(t))/A(t)|  f(t)‐A(t)  MR 
1  521,00                      
2  1187,00                      
3  1501,00  1069,67                  
4  1042,00  1243,33 1069,67 27,67 765,44 0,03 27,67   
5  976,00  1173,00 1243,33 267,33 71467,11 0,27 267,33 239,67 
6  1455,00  1157,67 1173,00 282,00 79524,00 0,19 ‐282,00 549,33 
7  1396,00  1275,67 1157,67 238,33 56802,78 0,17 ‐238,33 43,67 
8  1065,00  1305,33 1275,67 210,67 44380,44 0,20 210,67 449,00 
9  690,00  1050,33 1305,33 615,33 378635,11 0,89 615,33 404,67 
10  1410,00  1055,00 1050,33 359,67 129360,11 0,26 ‐359,67 975,00 
11  1405,00  1168,33 1055,00 350,00 122500,00 0,25 ‐350,00 9,67 
12  1235,00  1350,00 1168,33 66,67 4444,44 0,05 ‐66,67 283,33 
  
1350,00 MAD =  MSE =  MAPE =  MRbar = 422,05 
268,63 98653,27 0,26 UCL = 1122,65 
 
LCL = ‐1122,65 
A = 747,02 
  ‐747,02 
B = 375,62 
            ‐375,62 

 
1
 
 
Grafik Hasil Peramalan Dengan Menggunakan Metode Moving Average n = 3

 
   
 

2
 
 
Perhitungan Peramalan Dengan Menggunakan Metode Moving Average n = 4
Moving Average  n = 4 
Bulan A(t)  F(t)  f(t)  |A(t)‐f(t)|  (A(t)‐f(t))^2  |(A(t)‐f(t))/A(t)|  f(t)‐A(t)  MR 
1  521,00                      
2  1187,00                      
3  1501,00                      
4  1042,00  1062,75                  
5  976,00  1176,50 1062,75 86,75 7525,56  0,09 86,75   
6  1455,00  1243,50 1176,50 278,50 77562,25  0,19 ‐278,50 365,25
7  1396,00  1217,25 1243,50 152,50 23256,25  0,11 ‐152,50 126,00
8  1065,00  1223,00 1217,25 152,25 23180,06  0,14 152,25 304,75
9  690,00  1151,50 1223,00 533,00 284089,00  0,77 533,00 380,75
10  1410,00  1140,25 1151,50 258,50 66822,25  0,18 ‐258,50 791,50
11  1405,00  1142,50 1140,25 264,75 70092,56  0,19 ‐264,75 6,25
12  1235,00  1185,00 1142,50 92,50 8556,25  0,07 ‐92,50 172,25
13  1185,00 MAD =  MSE =  MAPE =  MRbar = 357,79 
14  1308,75 227,34 70135,52  21,75 UCL = 951,73 
15  1283,44
  
LCL = ‐951,73 
16  1253,05 A = 633,29 
17  1257,56   ‐633,29 
18  1268,20 B = 318,43 
19  1265,56    ‐318,43 
20  1261,09
21  1263,10
22  1264,49
23  1263,56
24 
      1263,06
3
 
 
Grafik Hasil Peramalan Dengan Menggunakan Metode Moving Average n = 3
 
 
 
4
 
 
Perhitungan Peramalan Dengan Menggunakan Metode Double Moving Average n = 2
Double Moving Average  n = 2 
Bulan A(t)  S'(t)  S"(t)  a(t)  b(t)  f(t)  |A(t)‐f(t)|  (A(t)‐f(t))^2  |(A(t)‐f(t))/A(t)|  f(t)‐A(t)  MR 
1  521,00                               
2  1187,00  854,00                           
3  1501,00  1344,00 1099,00 1589,00 ‐490,00                  
4  1042,00  1271,50 1307,75 1235,25 72,50 1099,00 57,00 3249,00 0,05 57,00   
5  976,00  1009,00 1140,25 877,75 262,50 1307,75 331,75 110058,06 0,34 331,75 274,75 
6  1455,00  1215,50 1112,25 1318,75 ‐206,50 1140,25 314,75 99067,56 0,22 ‐314,75 646,50 
7  1396,00  1425,50 1320,50 1530,50 ‐210,00 1112,25 283,75 80514,06 0,20 ‐283,75 31,00 
8  1065,00  1230,50 1328,00 1133,00 195,00 1320,50 255,50 65280,25 0,24 255,50 539,25 
9  690,00  877,50 1054,00 701,00 353,00 1328,00 638,00 407044,00 0,92 638,00 382,50 
10  1410,00  1050,00 963,75 1136,25 ‐172,50 1054,00 356,00 126736,00 0,25 ‐356,00 994,00 
11  1405,00  1407,50 1228,75 1586,25 ‐357,50 963,75 441,25 194701,56 0,31 ‐441,25 85,25 
12  1235,00  1320,00 1363,75 1276,25 87,50 1228,75 6,25 39,06 0,01 ‐6,25 435,00 
13 
  
1188,75 MAD =  MSE =  MAPE =  MRbar = 484,04 
298,25 120743,28 28,22 UCL = 1287,54 
 
LCL =

1287,54 
A = 856,74 
  ‐856,74 
B = 430,79 
                     ‐430,79 
 
5
 
 
Grafik Hasil Peramalan Dengan Menggunakan Metode Double Moving Average n = 2

 
 
6
 
 
Perhitungan Peramalan Dengan Menggunakan Metode Double Moving Average n = 3

Double Moving Average  n = 3 
Bulan  A(t)  S'(t)  S"(t)  a(t)  b(t)  f(t)  |A(t)‐f(t)|  (A(t)‐f(t))^2  |(A(t)‐f(t))/A(t)|  f(t)‐A(t)  MR 
1  521,00                              
2  1187,00                              
3  1501,00 1069,67                            
4  1042,00 1243,33                            
5  976,00 1173,00  1162,00 1184,00 ‐22,00                  
6  1455,00 1157,67  1191,33 1124,00 67,33 1162,00 293,00 85849,00 0,20 ‐293,00   
7  1396,00 1275,67  1202,11 1349,22 ‐147,11 1191,33 204,67 41888,44 0,15 ‐204,67 88,33 
8  1065,00 1305,33  1246,22 1364,44 ‐118,22 1202,11 137,11 18799,46 0,13 137,11 341,78 
9  690,00 1050,33  1210,44 890,22 320,22 1246,22 556,22 309383,16 0,81 556,22 419,11 
10  1410,00 1055,00  1136,89 973,11 163,78 1210,44 199,56 39822,42 0,14 ‐199,56 755,78 
11  1405,00 1168,33  1091,22 1245,44 ‐154,22 1136,89 268,11 71883,57 0,19 ‐268,11 68,56 
12  1235,00 1350,00  1191,11 1508,89 ‐317,78 1091,22 143,78 20672,05 0,12 ‐143,78 124,33 
13 
  
1667,78 MAD =  MSE =  MAPE =  MRbar = 359,58 
257,49 84042,59 24,85 UCL = 956,48 
 
LCL = ‐956,48 
A = 636,45 
  ‐636,45 
B = 320,02 
   ‐320,02 

7
 
 
Grafik Hasil Peramalan Dengan Menggunakan Metode Double Moving Average n = 3


 
8
 
 
 
Perhitungan Peramalan Dengan Menggunakan Metode Weighted Moving Average n = 0,17; 0,33; 0,5
Weighted Moving Average 
W(t) =  0,17  0,33  0,5                
Bulan  A(t)  F(t)  f(t)  |A(t)‐f(t)|  (A(t)‐f(t))^2  |(A(t)‐f(t))/A(t)|  f(t)‐A(t)  MR 
1  521,00                      
2  1187,00                      
3  1501,00  1233,00                  
4  1042,00  1219,17 1233,00 191,00 36481,00 0,18 191,00   
5  976,00  1085,50 1219,17 243,17 59130,03 0,25 243,17 52,17 
6  1455,00  1226,50 1085,50 369,50 136530,25 0,25 ‐369,50 612,67 
7  1396,00  1345,67 1226,50 169,50 28730,25 0,12 ‐169,50 200,00 
8  1065,00  1240,33 1345,67 280,67 78773,78 0,26 280,67 450,17 
9  690,00  932,67 1240,33 550,33 302866,78 0,80 550,33 269,67 
10  1410,00  1112,50 932,67 477,33 227847,11 0,34 ‐477,33 1027,67 
11  1405,00  1287,50 1112,50 292,50 85556,25 0,21 ‐292,50 184,83 
12  1235,00  1320,83 1287,50 52,50 2756,25 0,04 52,50 345,00 
13 
  
1320,83 MAD =  MSE =  MAPE =  MRbar = 448,88 
291,83 106519,08 27,22 UCL = 1194,02 
 
LCL = ‐1194,02 
A = 794,52 
  ‐794,52 
B = 399,50 
   ‐399,50 
 
9
 
 
Grafik Hasil Peramalan Dengan Menggunakan Metode Weighted Moving Average n = 0,17; 0,33; 0,5

 
 
1
0
 
 
Perhitungan Peramalan Dengan Menggunakan Metode Weighted Moving Average n = 0,10; 0,20; 0,30; 0,40

Weighted Moving Average 
W(t) =  0,10  0,20  0,3  0,4             
Bulan  A(t)  F(t)  f(t)  |A(t)‐f(t)|  (A(t)‐f(t))^2  |(A(t)‐f(t))/A(t)|  f(t)‐A(t)  MR 
1  521,00                      
2  1187,00                      
3  1501,00                      
4  1042,00  1156,60                  
5  976,00  1121,90 1156,60 180,60 32616,36 0,19 180,60   
6  1455,00  1233,30 1121,90 333,10 110955,61 0,23 ‐333,10 513,70 
7  1396,00  1294,30 1233,30 162,70 26471,29 0,12 ‐162,70 170,40 
8  1065,00  1233,40 1294,30 229,30 52578,49 0,22 229,30 392,00 
9  690,00  1020,20 1233,40 543,40 295283,56 0,79 543,40 314,10 
10  1410,00  1123,60 1020,20 389,80 151944,04 0,28 ‐389,80 933,20 
11  1405,00  1229,50 1123,60 281,40 79185,96 0,20 ‐281,40 108,40 
12  1235,00  1266,50 1229,50 5,50 30,25 0,00 ‐5,50 275,90 
13 
  
1266,50 MAD =  MSE =  MAPE =  MRbar = 451,28 
265,73 93633,20 25,38 UCL = 1200,41 
 
LCL = ‐1200,41 
A = 798,77 
  ‐798,77 
B = 401,64 
   ‐401,64 

1
1
 
 
Grafik Hasil Peramalan Dengan Menggunakan Metode Weighted Moving Average n = 0,10; 0,20; 0,30; 0,40


 
1
2
 
 
Perhitungan Peramalan Dengan Menggunakan Metode Single Exponential Smoothing α = 0,5
Single Exponential Smoothing  α = 0,5 
Bulan  A(t)  F(t)  f(t)  |A(t)‐f(t)|  (A(t)‐f(t))^2  |(A(t)‐f(t))/A(t)|  f(t)‐A(t)    
1  521,00  521,00                  
2  1187,00  854,00 521,00 666,00 443556,00 0,56 ‐666,00   
3  1501,00  1177,50 854,00 647,00 418609,00 0,43 ‐647,00 19,00 
4  1042,00  1109,75 1177,50 135,50 18360,25 0,13 135,50 782,50 
5  976,00  1042,88 1109,75 133,75 17889,06 0,14 133,75 1,75 
6  1455,00  1248,94 1042,88 412,13 169847,02 0,28 ‐412,13 545,88 
7  1396,00  1322,47 1248,94 147,06 21627,38 0,11 ‐147,06 265,06 
8  1065,00  1193,73 1322,47 257,47 66290,16 0,24 257,47 404,53 
9  690,00  941,87 1193,73 503,73 253748,32 0,73 503,73 246,27 
10  1410,00  1175,93 941,87 468,13 219148,33 0,33 ‐468,13 971,87 
11  1405,00  1290,47 1175,93 229,07 52471,42 0,16 ‐229,07 239,07 
12  1235,00  1262,73 1290,47 55,47 3076,57 0,04 55,47 284,53 
13 
  
1262,73 MAD =  MSE =  MAPE =  MRbar = 417,83 
332,30 153147,59 28,64 UCL = 1111,42 
 
LCL = ‐1111,42 
A = 739,56 
  ‐739,56 
B = 371,87 
               ‐371,87 
 
 
1
3
 
 
Grafik Hasil Peramalan Dengan Menggunakan Metode Single Exponential Smoothing α = 0,5

 
 
 
1
4
 
 
Perhitungan Peramalan Dengan Menggunakan Metode Double Exponential Smoothing α = 0,5
Double Exponential Smoothing  α = 0,5 
Bulan  A(t)  F(t)  F'(t)  f(t)  |A(t)‐f(t)|  (A(t)‐f(t))^2  |(A(t)‐f(t))/A(t)|  f(t)‐A(t)  MR 
1  521,00  521,00 521,00                  
2  1187,00  854,00 687,50 521,00 666,00 443556,00 0,56 ‐666,00   
3  1501,00  1177,50 932,50 687,50 813,50 661782,25 0,54 ‐813,50 147,50 
4  1042,00  1109,75 1021,13 932,50 109,50 11990,25 0,11 ‐109,50 704,00 
5  976,00  1042,88 1032,00 1021,13 45,13 2036,27 0,05 45,13 154,63 
6  1455,00  1248,94 1140,47 1032,00 423,00 178929,00 0,29 ‐423,00 468,13 
7  1396,00  1322,47 1231,47 1140,47 255,53 65296,22 0,18 ‐255,53 167,47 
8  1065,00  1193,73 1212,60 1231,47 166,47 27711,84 0,16 166,47 422,00 
9  690,00  941,87 1077,23 1212,60 522,60 273112,39 0,76 522,60 356,13 
10  1410,00  1175,93 1126,58 1077,23 332,77 110732,96 0,24 ‐332,77 855,37 
11  1405,00  1290,47 1208,53 1126,58 278,42 77515,48 0,20 ‐278,42 54,35 
12  1235,00  1262,73 1235,63 1208,53 26,47 700,90 0,02 ‐26,47 251,94 
13 
  
1235,63 MAD =  MSE =  MAPE =  MRbar = 397,95 
330,85 168487,60 0,28 UCL = 1058,54 
 
LCL = ‐1058,54 
A = 704,36 
  ‐704,36 
B = 354,17 
   ‐354,17 

 
 
1
5
 
 
Grafik Hasil Peramalan Dengan Menggunakan Metode Double Exponential Smoothing α = 0,5


 
1
6
 
 
POSISI STOCK BAHAN BAKU
TAHUN 2010
Plat 0.4X4X8


Tgl SPK Nama Barang
Qty Bahan Baku Saldo
Barang Masuk Keluar Bahan Baku
JANUARY     SALDO           150,58 
19  3255 II  RM 2 18 AL  60    7,7 142,88
19  3263 III  KV 218  60    3,7 139,18
19  3264  TKO 2 36  60    12 127,18
19  3271  TKI 2 36  60    13,6 113,58
19  3257  KV 2 36  100    11,7 101,88
19  3276  IB A ST 2 18  2    0,29 101,59
20  3252 I  TKO 2 18  60    6,10 95,49
20  3271  TKIK 2 18  120    20,50 74,99
20  3272  RM SM 1 18 ST  20    2,40 72,59
20  3273  TKI 3 36  148    52,75 19,84
21  3266 III  BLK TGS 136  60    4,70 15,14
21  3264  TKO 118  120    12,30 2,84
22     SJ 10010008     250    252,84
22  3273  TKI 236  120    27,13 225,715
22  3274  TKI 436  6    2,32 223,395
22  3275 I  RM SM 236 AL  30    6,60 216,795
23  3262 II  RM SM 236 ST  30    6,60 210,195
23  3257  RM SM 218 ST  20    2,50 207,695
23  3271  TKI 136  60    13,60 194,095
23  3275  RM SM 218 AL  30    3,70 190,395
23  3276  RMK 218 ST  60    7,50 182,895
23 
3275 II  RM SM 236 AL  30    6,60 176,295
1

 
 
25  3267  RM SM 236 ST  40    8,80 167,495
25  3272  TK JL 136  60    11,30 156,195
25  3274  BLK TGS 136  120    9,20 146,995
25  3275  BLK TGS 136 BAT NIC  9    0,75 146,245
25  3277  OB A BNG 2 18  30    4,50 141,745
25  3277  RM SM 218 ST  60    7,35 134,395
25  3280  TKI 236  60    13,60 120,795
26     SJ 10010009     250    370,795
26  3263 III  TKO 136  180    35,80 334,995
26  3277 I  BLK TGS 136  150    11,70 323,295
26  3279  IB K A PRIS 4X18  7    2,00 321,295
26  3279  IB A BNG 136 UK: 2X  30    8,00 313,295
27  3281  TKO 336  3    0,75 312,545
27  3258 II  RM 236 ST  60    13,50 299,045
27  3267  IB A SUSU 236  20    5,00 294,045
27  3277 II  BLK TGS 136  360    28,00 266,045
27  3278 I  KV 236  150    17,50 248,545
27  3280  RM 118 AL uk: 2X  3    0,40 248,145
27  3280  RMK 136 AL UK: 2X  4    0,90 247,245
28  3265  RM 236 AL  60    13,50 233,745
28  3242  TK JL 236  60    12,00 221,745
28  3267  BLK TGS 118  120    4,90 216,845
28  3273  TKI 136  60    13,50 203,345
28  3274 I  IB A BNG 218  30    4,20 199,145
29  3259  RMK 236 AL  60    12,60 186,545
29  3281  TKIK 218  60    10,00 176,545
29  3283  IBK A BNG 236 UK: 4X  4    1,85 174,695
29 
3272  TK JL 118  60    6,13 168,57
2

 
 
29  3281  RMK 418 AL  5    1,10 167,47
30  3264 II  TKO 236  60    12,00 155,47
30  3285  TKO 236  60    12,00 143,47
30  3283  TKI 236  60    13,60 129,87
30  3282  IB A BNG 418 REF ST  1    0,25 129,62
30  3282  IB A BNG 236 REF ST  2    0,50 129,12
30     SJ: 10010019     250    379,12
FEBRUARY     SALDO           379,12
1     SJ: 062A/CR/KMS/I/RW/10     361    740,12
1     SJ: 062B/CR/KMS/I/RW/10     370    1110,12
1  3207 II  KV 136  60    9,40 1100,72
1  3278 II  KV 236  150    17,50 1083,22
2  3284  RM SM 236 ST  30    6,80 1076,42
2  3284  RM SM 218 ST  60    7,35 1069,07
2  3285  TKO 236  60    12,00 1057,07
2  3286  OB A BNG 218  40    6,00 1051,07
2  3287  TKO T5 3X28  100    19,75 1031,32
2     SJ: 23/CBP/II/10        200,00 831,32
3   3274 II  IB A BNG 218  30    4,30 827,02
3  3278  RM 218 ST  60    7,70 819,32
3  3279  RM 218 AL  60    7,70 811,62
3  3286  IB A BNG 236     30    7,50 804,12
3  3287  TKI 236  60    13,60 790,52
3  3287 I  TKO 136  60    11,80 778,72
4  3283  RM 236 ST  60    13,50 765,22
4  3288  TKI MIRROR 118  26    2,95 762,27
4  3290  TKI 336  15    5,25 757,02

3290  IB A BNG 236  40    10,00 747,02
3

 
 
4  3290  1B A ST 236  4    1,00 746,02
5  3252 II  TKO 218  60    6,13 739,895
5  3288  RM SM 236 ST  30    6,80 733,095
5  3288  TKO 236  120    24,00 709,095
5  3289  TKI 236  60    13,60 695,495
6  3278  KV 118  60    4,90 690,595
6  3285  RMK 236 ST  60    12,60 677,995
6  3287 II  TKO 136  60    11,70 666,295
8  3285  KV 236  300    35,00 631,295
8  3289  RM SM 236 AL  30    6,70 624,595
8  3289  RM SM 218 AL  30    3,63 620,965
8  3291  RM SM 236 ST  30    6,70 614,265
8  3293  RMK EXO 218 AL  1    0,11 614,154
9  3291  TKI 236  60    13,60 600,554
9  3292  TKO 136  120    23,60 576,954
9  3292  TKO 236  120    23,75 553,204
9  3294  RMK 4 36 ST  1    0,37 552,834
9  3295  IB A BNG 236 FULL MIRROR  1    0,25 552,584
9  3295  IBK A BNG 236 FULL MIRROR  1    0,27 552,314
10  3264  TKI 218  60    7,50 544,814
10  3292  RM 236 ST  60    13,30 531,514
10  3293  TKI 136  60    13,50 518,014
10  3296  TKI 236  60    13,50 504,514
10  3297  RM 418 ST  15    3,75 500,764
10  3298  RMO 318 ST  4    0,60 500,164
11  3293 I I  RMK EXO 218 AL  51    5,60 494,564
11  3293 I  RMK EXO 418 ST  170    34,00 460,564
12 
3293 II  RMK EXO 418 ST  90    18,10 442,464
4

 
 
12  3294 I  IB A BNG 236  40    10,00 432,464
12  3301  BLK TGS 136  90    7,00 425,464
12  3301  BLK TGS 118 TLS  10    0,40 425,064
12  3301  BLK TGS 136 TLS  30    2,34 422,724
13  3296  TKI 218  60    7,60 415,124
13  3298  TKI 218  60    7,60 407,524
13  3298  TKI 236  60    13,60 393,924
13  3302  RMK 236 M5  21    4,45 389,474
13  3302  TKIK 236 TLS  22    6,10 383,374
15  3300  IB A SUSU 236  30    7,50 375,874
15  3303  IB A ST 218  260    37,20 338,674
15  3303  TKI 136 TTR MIRROR  63    12,10 326,574
16  3268  RM 236 AL  60    13,50 313,074
16  3295  RM 236 ST  60    13,50 299,574
16  3299  RM 218 ST  60    7,70 291,874
17  3303  IB A ST 236  104    26,00 265,874
17  3307  RMO SM 218 AL  26    3,50 262,374
18     SJ 060/CR/KMS/II/RW/10     472    734,374
18  3304 I  TKI 136  60    13,60 720,774
18  3304 I  TKI 118  60    7,62 713,154
18  3305  RMK 336 ST  31    11,50 701,654
18  3306  IBK A BNG 236 FULL MIRROR  4    1,10 700,554
19  3304 II  TKI 136  120    27,00 673,554
19  3304 II  TKI 118  60    7,62 665,934
20  3304  IBK A SUSU 418  20    5,80 660,134
20  3305  RMK 218 ST  30    3,70 656,434
20  3260 I  RMK 236 AL  60    12,60 643,834
20 
3269  TKI 218  60    7,70 636,134
5

 
 
22  3302  TKI 236  60    13,60 622,534
22  3304 III  TKI 118  60    7,70 614,834
22  3305 I   TKI 236  60    13,60 601,234
22  3307  TKO 236  60    12,00 589,234
22  3309  RM BED UK 2X G: ST,AL, CP  5    0,37 588,864
23  3309  RM EXO 236 AL  2    0,42 588,444
23  3296  TKI 136  2    0,50 587,944
23  3304 III  TKI 136  60    13,60 574,344
23  3306 I  BLK TGS 136  60    4,70 569,644
23  3308  TKO 136  60    11,80 557,844
24  3304 IV  TKI 136  60    13,60 544,244
24  3297  TK JL 136  60    11,50 532,744
24  3305 II  TKI 236  60    13,60 519,144
24  3306  RM 218 ST  60    7,70 511,444
24  3306 II  BLK TGS 136  60    4,70 506,744
24  3309  TKO 336  10    2,60 504,144
24  3310  TKI 236  60    13,60 490,544
25  3260 II  RMK 236 AL  60    12,60 477,944
25  3307  TKI 218  60    7,70 470,244
25  3310  OB A SUSU 218  20    3,00 467,244
25  3311 II  KV 236  150    17,50 449,744
27  3313  TKO T5 128  1    0,12 449,624
27  3313  TKO T3 228  1    0,14 449,484
27  3300  TKO 218  60    6,50 442,984
27  3308  TKO 236  120    24,00 418,984
27  3310  TKO 136  120    23,80 395,184
MARCH     SALDO           395,184

3300  TKO 118  60    6,50 388,684
6

 
 
1  3311 II  KV 236  150    17,50 371,184
1  3314 I  RM SM 236 ST  30    6,70 364,484
1  3314  TKO 136 SYP U  108    21,00 343,484
2  3311  IB A BNG 136 UK;2X  3    0,83 342,654
2  3312 I  TKO 136  120    23,80 318,854
2  3314  TKO 236 SYP U  108    21,00 297,854
2  3315 I  TKO 218  120    12,70 285,154
2  3319  RMO 218AL  10    1,50 283,654
2  3320  RM SM 136ST  10    2,10 281,554
2  3320  TKI 136UK LL:17 CM  1    0,17 281,384
2  3314 II  RM SM 236 ST  30    6,8 274,584
3  3311  KV 136  60    9,40 265,184
3  3299  RM 236 AL  60    13,50 251,684
3  3312  TKO 236  180    36,00 215,684
3  3312  RM 218 ST  60    7,70 207,984
3  3321  OB A BNG 236  10    2,70 205,284
3  3321  OB A BNG 218  60    8,70 196,584
3  3323  TKI 136 TTR MIRROR  1    0,20 196,384
3  3323  KV 236 TANP LBG STST EBE  1    0,12 196,267
4  3312 II  TKO 136  60    11,80 184,467
4  3316  TKI 236  120    27,00 157,467
4  3299  RM 218AL  60    7,70 149,767
4  3317  TKO 136  120    23,75 126,017
4  3323  TKIK 418 F MIR  1    0,28 125,742
4  3324  RMK EXO 418 AL  1    0,20 125,542
4  3319  KV 218  60    3,70 121,842
5  3312 III  TKO 136  60    11,70 110,142

3315 II  TKO 218  120    12,40 97,742
7

 
 
5  3316  TKO 118  120    12,30 85,442
5  3316  TKI 136  60    13,60 71,842
5  3317  TKO 236  120    23,80 48,042
5  3325  KV 236 TANP LBG STST EBE  1    0,117 47,925
6  3318  RM 236 ST  60    13,5  34,425
6  3326  TKO T5 128  60    7,20 27,225
6  3326  TKIK 318  8    2,20 25,025
8     SJ 025/CR/KMS/III/RW/10     519    544,025
8  3317  RM 218 AL  60    7,7 536,325
8  3318 I  RM 218 ST  60    7,7 528,625
8  3284  IB A SUSU 218  30    4,3 524,325
8  3324  RMK 236 AL  60    12,7 511,625
9  3327  RMSM 218 ST  30    3,8 507,825
9  3327  RMSM 136 ST  12    2,5 505,325
9  3327  RMSM 118 ST  6    0,7 504,625
9  3318 I  RM 236 AL  60    13,5 491,125
9  3320  TKO 136  60    11,7 479,425
9  3322  TK JL 118  60    6 473,425
9  3322  RMSM 236AL  30    6,8 466,625
9  3324  RMK 218AL  30    3,7 462,925
9  3325 III  RMO 236 AL  40    10,5 452,425
9  3328  RMK 218AL  20    2,5 449,925
10  3330  TKIK418  1    0,27 449,655
10  3325 II  RMO236AL  80    21 428,655
10  3328  KV236 B EBE LBG K TGH  264    30,8 397,855
10  3328 I  KV 236  150    17,5 380,355
10  3329  IB A NBG 218 FULL MIR  3    0,42 379,935
11 
   SJ 49/CBP/III/10        50 329,935
8

 
 
11  3325 III  RMO236AL  50    13,1 316,835
11  3326  RMO236ST  40    10,5 306,335
11  3322  TKI236  60    13,5 292,835
11  3329  RMSM218ST  30    3,6 289,235
11  3331  RMK436ST  12    4,4 284,835
11  3332  RM418ST  8    2 282,835
11  3332  TKO436  5    1,36 281,475
12  3328 II  KV 236  150    17,5 263,975
12  3331 I  RMSM 236ST  60    13,3 250,675
12  3333  TKI 236 FM  22    4,91 245,765
12  3333  RMK 336 ST  15    5,6 240,165
13  3334  TK JL236  60    12,8 227,365
13  3331 II  RMSM236ST  60    13,3 214,065
13  3335  RMO 336ST  7    2,3 211,765
15  3334  TK JL136  60    11,2 200,565
15  3335  KV 136  60    9,3 191,265
15  3335  RM EXO 236ST  80    16,8 174,465
15  3336 I  RMSM 236AL  30    6,5 167,965
15  3336  RMK 236ST F M  1    0,21 167,755
17  3337  TKO 136 TLS EBE PHILIPS  300    59,5 108,255
18  3337  TKO 136 TLS EBE PHILIPS  145    28,5 79,755
18  3334  RMK236AL  60    12,6 67,155
18  3294 II  IB A BNG236  40    10 57,155
18  3336 II  RMSM236AL  30    6,6 50,555
18  3336  RMSM236 ST  60    13,2 37,355
18  3337  TKO T5128  15    1,8 35,555
18  3338  IB A BNG 136UK:2X F M  60    13,2 22,355
18 
3338 I  IB A BNG236 F M  50    10,5 11,855
9

 
 
19     SJ 064/CR/KMS/III/RW/10     675    686,855
19  3337  TKO136  120    23,7 663,155
19  3338 II  IB A BNG236 F M  174    36,6 626,555
20  3308  RMK236ST  60    12,6 613,955
20  3339  TKO T5 128  100    12 601,955
20  3339  TKO T5  228  70    9,8 592,155
20  3340  TKO236 FM  36    3 589,155
22  3319  IB A SUSU236  30    7,5 581,655
22  3338 I  IB A BNG236  5    1,25 580,405
22  3339  BLK TGS136  120    9,2 571,205
22  3340  TKO136 FM  26    2,2 569,005
22  3341  BLK T5121  1    0,059 568,946
22  3341  BLK T5128  1    0,08 568,866
22  3341  BLK T5135  1    0,087 568,779
22  3342  OB A SUSU236  20    5,2 563,579
23     SJ 58/CBP/III/10 SMK I CBNG        100 463,579
23  3340  RM236ST  60    13,5 450,079
23  3318 II  RM218ST  60    7,6 442,479
23  3342  TK JL136  60    11,2 431,279
23  3342  TKI236 FM  4    0,8 430,479
24  3338 II  IB A BNG236  35    8,75 421,729
24  3343 I  KV136  60    9,4 412,329
24  3344  TKI136UK LL:17 CM  20    3,6 408,729
24  3344  OB A BNG136UK:2X  10    2,6 406,129
24  3344  TKO 236 FM  16    1,4 404,729
24  3345  RMSM218AL  30    3,62 401,109
24  3345  RM218AL  60    7,7 393,409
25 
3318  RM236AL  60    13,5 379,909
1
0

 
 
25  3343  TK JL 236  60    12 367,909
25  3345  RM236ST  60    13,5 354,409
25  3346  RMSM 218ST  30    3,6 350,809
25  3346  IB A SUSU218  40    5,8 345,009
25  3347  RMK136ST UK:2X  9    1,9 343,109
26  3347  OB A BNG236 TLS EBE  15    3,9 339,209
26  3348 I  BLK TGS 136  60    4,6 334,609
29  3349  BLK TGS136 TLS  10    0,77 333,839
29  3349  TKO 136  60    11,7 322,139
29  3351  KV236 TLS  17    2 320,139
30  3350  BLK T5121UK:BLKTGS  10    0,6 319,539
30  3350  BLK T5128 UK:BLK TGS  390    29,7 289,839
30  3350  BLK T5I35 UK: BLK TGS  439    41,7 248,139
31     SJ:      668    916,139
31  3348 II  BLK TGS136  60    4,6 911,539
31  3352  BLK TGS136  720    55,5 856,039
31     SJ:65/CBP/III/10         100 756,039
APRIL     SALDO        756,039
1  3349 II  TKO136  60    11,8 744,239
1  3353 I  TKO136  60    11,8 732,439
1  3353 I  KV236  150    17,5 714,939
1  3355  RMEXO318 ST  1    0,17 714,769
1  3355  KV136 TLS  17    2,7 712,069
1  3355  OB A SUSU236  1    0,26 711,809
3  3291  TKIK236  60    16,5 695,309
3  3356  RM218AL KISI2 POLOS  30    3,85 691,459
3  3356  RM318AL KISI2 POLOS  56    9,9 681,559

3352  RM236AL  60    13,5 668,059
1
1

 
 
5  3352  RM236ST  60    13,5 654,559
5  3353  TK JL136  60    11,3 643,259
6  3359  TKI136 MIRROR  18    3,6 639,659
6  3359  TKO218 MIRROR  1    0,11 639,549
6  3359  KV218 MIRROR  1    0,022 639,527
6  3360  TKO T5 128  150    18 621,527
6  3360  TKO T5 228  70    9,8 611,727
6  3360  IBK A BNG318  4    1,2 610,527
7  3362  BLK T5 114 TGS  1    0,05 610,477
7  3362  BLK T5 128 TGS  1    0,077 610,4
7  3363  BLK T5 135 TGS  1    0,095 610,305
7  3354  TKI136  60    13,6 596,705
7  3357  RMSM236ST  60    13,3 583,405
7  3356  RM218ST  60    7,75 575,655
7  3361  KV236 TLS  53    6,25 569,405
7  3357  IB A BNG236  20    5 564,405
7  3361 A  BAK TKO136 MIR  38    3,38 561,025
7  3362 A  BAK TKO236 MIR  18    1,6 559,425
8  3363  RM236M5  1    0,225 559,2
8  3349  RM218AL  60    7,7 551,5
8  3361  IB A PRIS 236  6    1,5 550
8  3366 B  SYP TKO136P:0.4  110    11,9 538,1
8  3364  RM236ST  60    13,5 524,6
8  3367  TKI136 MIRROR  4    0,8 523,8
8  3367  RM318ST  2    0,35 523,45
9  3365  B. IB 136 UK:2X + LIST  64    17,25 506,2
9  3365  B. IB 118 UK:2X + LIST  3    0,43 505,77

3365  B. IB 336            + LIST  48    16,42 489,35
1
2

 
 
10  3353 II  TKO136  60    11,85 477,5
10  3366  TKO136  60    11,85 465,65
10  3354 I  BLK TGS136  60    4,7 460,95
10  3368  TKO136 MIR  66    6,1 454,85
10  3368  TKO236 MIR  24    2,5 452,35
10  3366  RM218ST  60    7,7 444,65
12  3370  KV218      60    3,7 440,95
12  3371  B.KV236TLS L K TGH  53    2,31 438,64
12  3372  RM236ST  60    13,5 425,14
12  3357 II  IB A BNG236  20    5 420,14
12  33  BLK TGS 136 BAT NICAD  1    0,095 420,045
13  3315  TKI118  60    7,6 412,445
13  3357  OB A BNG236 TLS EBE  10    2,625 409,82
13  3354 II  BLK TGS136  60    4,6 405,22
13  3367  TKI236  60    13,6 391,62
13  3373 I    TKI118  60    7,6 384,02
13  3375  TKO218      60    6,12 377,9
13  3375  RM218 ST MIR KHUSUS  1    0,129 377,771
13  3374  TKO118  120    12,25 365,521
14     SJ 005/CR/KMS/IV/RW/10     350    715,521
14  3377  TKO236 MIRROR  2    0,164 715,357
14  3372  TKI236  120    27,12 688,237
14  3374  TKI236  60    13,6 674,637
14  3315  TKI218  60    7,7 666,937
14  3376  RMO SM336 ST  2    0,6 666,337
15  3377  BLK TGS 136 BAT NICAD  30    2,85 663,487
15  3377  BLK TGS136  120    9,25 654,237
15 
3373 II  TKI118  60    7,6 646,637
1
3

 
 
16  3343 II  KV136  60    9,3 637,337
16  3374 II  TKI236  60    13,6 623,737
16  3371 B  TTR KV236  53    3,67 620,067
16  3351 II  KV236  150    17,5 602,567
16  3375  RM T5228 AL UK;RMK  1    0,24 602,327
17  3372  RMK236AL  60    12,6 589,727
17  3378  TKO136  180    35,6 554,127
17  3379  RM318ST  10    1,75 552,377
19  3379  IB A SUSU236  40    10 542,377
19  3379  TKO236 MIRROR  12    1,1 541,277
19  3376  RM T5228 M5 UK RMK  1    0,24 541,037
19  3380  KV236 MIRROR  50    2,2 538,837
20  3378  RMSM218AL  60    7,3 531,537
20  3378  TKIK236 REF CAT  1    0,334 531,203
20  3346  TK JL218  60    6,7 524,503
20  3380  IB A SUSU236  20    5 519,503
20  3381  OB A SUSU236  10    2,62 516,883
20  3382  RM218ST  60    7,7 509,183
20  3383  OB A SUSU136UK 2X  1    0,262 508,921
20  3384  TKI136  60    13,6 495,321
20     SJ:78/CBP/IV/10 SMK I CBNG        100 395,321
21  3354  TK JL236  60    12 383,321
21  3382  RM236ST  60    13,5 369,821
21  3383  OPEN KAP T5114  6    0,06 369,761
21  3383  OPEN KAP T5121  4    0,06 369,701
21  3384  OPEN KAP T5128  17    0,36 369,341
21  3378 II  TKIK236 REF CAT KISI2 10  25    7,8 361,541
21 
3381  OB A BNG 236  10    2,7 358,841
1
4

 
 
22  3381  RM218AL  60    7,7 351,141
22  3382  RM236AL  60    13,5 337,641
22  3385 I  TKI118  60    7,63 330,011
22  3385  IB A SUSU118UK:2X  5    0,75 329,261
22  3386  IB A SUSU136uk:2X  7    1,87 327,391
22  3386  IB A BNG118UK:2X  5    0,75 326,641
22  3386  IB A SUSU218  20    2,9 323,741
23  3358 II  TKI118  120    15,2 308,541
23  3387  OB A BNG236      60    15,8 292,741
23  3388  IB A SUSU218  110    15,7 277,041
24  3388  RMSM136ST  30    5,9 271,141
24  3388  RMSM236ST  120    27,12 244,021
24  3391  B.IB118UK2X + LIST  2    0,3 243,721
24  3391  B.IB136UK2X + LIST  2    0,53 243,191
24  3391  B.IB336UK2X + LIST  3    1,1 242,091
24  3392  IB A BNG136UK2X  8    2,2 239,891
26  3389  BLK TGS 136  120    9,25 230,641
26  3392  TKIK236 REF CAT KISI2 10  7    2,2 228,441
26  3393  OB A BNG 336  15    5,75 222,691
27  3393  IBK A SUSU418  12    3,4 219,291
27  3389  TKJL118  60    6,2 213,091
27  3389  TKJL1136  60    11,2 201,891
27  3390  RMSM236AL  30    6,7 195,191
27  3392  RMSM236ST  60    13,4 181,791
28  3397 I  RMK236ST  1    0,22 181,571
28  3384  RM218ST  60    7,7 173,871
28  3393  TKO136  120    23,8 150,071
28 
3394  IB A BNG236  50    12,5 137,571
1
5

 
 
29     SJ 077/CR/KMS/IV/RW/10     705    842,571
29  3394  IBK A SUSU118UK2X  4    0,7 841,871
29  3395  IBK A SUSU218  4    0,7 841,171
29  3386  TKO118 SYP U  60    5,9 835,271
29  3396  TKO218 SYP U  120    11,9 823,371
29  3397 I  RMK236ST  59    12,48 810,891
30  3374 III  TKI236  60    13,6 797,291
30  3396  IB A SUSU218  30    4,3 792,991
30  3395 I  RMSM218AL  30    3,7 789,291
30  3395 I  RMSM236AL  30    6,6 782,691
30  3398  TKO136 MIRROR  48    4,4 778,291
30  3398  TKO236 MIRROR  12    1,13 777,161
30  3398  KV236 MIRROR  15    0,66 776,501
30  3399  TKIK318  24    6,53 769,971
30  3399  IB A BNG136 UK 2X  4    1,1 768,871
30  3399  RM T5 128ST LL:20 CM  1    0,193 768,678
MEI     SALDO           768,678
1  3397  IB A BNG236  30    7,5 761,178
3  3397  TKI236  60    13,6 747,578
3  3400  IB A SUSU136UK2X  10    2,7 744,878
3  3400  RM EXO236AL  20    4,42 740,458
3  3400  RMEXO 236ST  20    4,42 736,038
3  3401  RMK T5 236M5 P:0.5  1    0 736,478
3  3401 I  RM236ST  60    13,5 722,978
3  3403  RM318ST  5    0,88 722,098
4  3390  RM218ST  60    7,7 714,398
4  3401 II  RM236ST  60    13,5 700,898

3401  RMK EXO236AL  26    5,5 695,398
1
6

 
 
4  3402  TKO136  120    23,8 671,598
4  3404  RMK236ST+ COVER A BNG  1    0,23 671,368
5  3407  IB LOUVER WHITE236  1    0,25 671,118
5  3395 II  RMSM218AL  30    3,7 667,418
5  3402  RM236AL  60    13,5 653,918
5  3403  RM318AL KISI2 POLOS  15    2,7 651,218
5  3403  RM418AL  10    2,5 648,718
5  3404  KV236 MIRROR  10    0,5 648,218
5  3404  IB A BNG236 FULL MIRROR  26    5,5 642,718
5  3395 II  RM SM236AL  30    6,6 636,118
5  3405  TKO136 MIRROR  120    11,65 624,468
5  3405  TKO236 MIRROR  36    3,5 620,968
6  3408  TKO236  60    12 608,968
7  3406  KV218  60    3,7 605,268
7  3408  OB A SUSU236  20    5,36 599,908
7  3408  IB A BNG218  20    2,8 597,108
7  3409  RM236AL  60    13,5 583,608
7  3409  RM236ST  60    13,5 570,108
8  3406  RMK236ST  60    12,7 557,408
8  3406  KV236  300    35 522,408
8  3409  RMK418AL  30    6,6 515,808
10  3373  TKI218  60    7,62 508,188
10  3402  RM218ST  60    7,7 500,488
10  3405  TKIK236  60    16,5 483,988
10  3410  TKI236  60    13,56 470,428
10  3410  KV136  60    9,4 461,028
10  3414  RMO 236ST  30    7,8 453,228
11 
3411  IB A BNG236  30    7,5 445,728
1
7

 
 
11  3411  IB A BNG236  30    7,5 438,228
11  3411  TKI136  60    13,5 424,728
11  3412  KV118  60    4,9 419,828
11  3414  RMK236ST+ COVER A BNG  26    5,3 414,528
12  3412  OB A BNG236  20    5,4 409,128
12  3412  RMSM236ST  30    6,6 402,528
12  3413  RM236ST  60    13,5 389,028
12  3413  RM236AL  60    13,5 375,528
12  3416  TKI136 MIRROR  33    7,6 367,928
14  3413  RMSM236AL  30    6,7 361,228
14  3415 I  RM218ST  120    15,5 345,728
14  3416  IB A BNG236  30    7,5 338,228
14  3417  IBK A SUSU236 UK: 4X KOND PLAT  22    13,5 324,728
15  3418  IBK318 A BNG  7    2,00 322,728
17  3415 II  RM2118ST  120    15,5 307,228
17     SJ 96/CBP/V/10 SMK I CBNG        100 207,228
17  3414 I  IB A SUSU218  20    2,9 204,328
17  3415  TKI218  60    7,62 196,708
18  3415  RMK236ST  60    12,7 184,008
18  3419  IB A BNG236  20    5 179,008
18  3420  TKIK236 TLS  24    6,6 172,408
18  3420  KV236 TLS  26    3 169,408
19  3416  TK JL136  60    11,1 158,308
19  3420  TKI136 MIRROR  18    3,5 154,808
19  3410  RMK236AL  60    12,7 142,108
19  3421  TKO118  60    6,1 136,008
20  3425  RMK418AL  1    0,22 135,788
20 
3425  BLK T5114 TANP TTS M: TGS  1    0,049 135,739
1
8

 
 
20  3425  BLK T5121 TANP TTS M: TGS  1    0,057 135,682
20  3426  BLK T5135 TANP TTS M: TGS  1    0,095 135,587
20  3417  OB A BNG236  30    7,8 127,787
20  3421  RMSM218ST  30    3,6 124,187
20  3421  RMSM236ST  30    6,7 117,487
20  3422  RM236ST  60    13,5 103,987
20  3423 I  RM236AL  60    13,5 90,487
20  3423  RMK318ST  8    1,75 88,737
21     SJ      739    827,737
22  3427  TKO T5228  33    4,6 823,137
22  3428  IBK A SUSU236      4    1,1 822,037
22  3433  BLK T5114 TANP TTS UK 2.7X2.7  1    0,024 822,013
22  3433  BLK T5121 TANP TTS UK 2.7X2.7  1    0,037 821,976
22  3434  BLK T5135 TANP TTS UK 2.7X2.7  1    0,062 821,914
22  3434  RMK418AL UK LL;59.3  1    0,22 821,694
22  3432  RMK M5218 T 9.5 LYG P 0.5  1    0,00 821,694
22  3424  KV236 L2  1000    116 705,694
24  3430  RMO 236ST L: 23 CM TANP GNG  16    3,3 702,394
24  3431  RMK AC DIF 318ST  1    0 702,271
25  3429  BLK T5 121UK 0.7X2.7  45    1,2 701,071
25  3423 II  RM236AL  60    13,4 687,671
25  3429  TKO236 MIR  36    3,3 684,371
26  3429  TKO136 MIRROR  72    6,8 677,571
26  3427  TKO T5128  240    30,5 647,071
26  3432  IB A BNG236  30    7,5 639,571
27  3422  RM318ST  20    3,5 636,071
27  3434 I  BLK TGS136  60    4,6 631,471
27 
3435  TKI236  60    13,6 617,871
1
9

 
 
27  3436  TKI236  120    27,2 590,671
29  3424  RM218ST  60    7,75 582,921
29  3424  RMEXO218ST  20    2,43 580,491
29  3431 I  RMSM218AST  30    3,63 576,861
29  3437  RM218AL KISI2 POLOS  20    2,6 574,261
29  3437  RM318AL KISI2 POLOS  10    1,76 572,501
29  3438  RM236AL KISI2 POLOS  20    4,5 568,001
29  3439  IBK A SUSU318  1    0,28 567,721
29  3436  OB ASUSU218  10    1,5 566,221
31  3414  IB A SUSU218  20    2,8 563,421
31  3424  RMEXO236ST  20    4,5 558,921
31  3437  IB A BNG236  100    24,8 534,121
31  3438  IB A PRIS 236  6    1,5 532,621
31  3438  BLK T5121 0.7X2.7  15    0,4 532,221
31  3440  KV336  3    0,64 531,581
JUNI     SALDO           531,581
1  3430  RMSM236ST  60    12,6 518,981
1  3441  TKO136 SYP U  120    23 495,981
1  3443  TKI318  4    0,8 495,181
2  3441  TKO236 SYP U  120    23,2 471,981
2  3443  IBK A SUSU318  4    1,12 470,861
2  3434 II  BLK TGS136  60    4,6 466,261
3     SJ 109/VI/CBP/10        100 366,261
3  3431 II  RMSM218ST  30    3,63 362,631
3  3444  IB A SUSU436  2    0,8 361,831
3  3444  IB A SUSU218  30    4,2 357,631
3  3445  RMSM218AL  30    3,63 354,001

   SJ NO:A 02104     460    814,001
2
0

 
 
4  3442  TKO136 L2  500    100 714,001
4  3445  KV136  60    9,4 704,601
4  3445  OB A BNG218  10    1,5 703,101
4  3447  RMK318ST  14    3 700,101
5  3442  TKO236 L2  500    101 599,101
7  3370  BAK TKO136      1    0,091 599,01
7  3445 II  OB A BNG218  50    7,25 591,76
7  3445  IB A BN136 uk 2x  6    1,6 590,16
7  3447  TKO136 MIR  40    3,9 586,26
7  3449  IBK A SUSU318  11    3,1 583,16
8  3448  TKO136 L2 diubah baknya 2x  500    100 483,16
8  3449  TKO236 L2  265    53 430,16
8  3430 I  RMSM236AL  30    6,6 423,56
8  3446  TK JL136  60    11,35 412,21
8  3449  IB A BNG236  50    12,5 399,71
9  3448  IB A SUSU236  40    10 389,71
9  3450  TKI236  60    13,6 376,11
9  3450  RM118ST UK;2X  5    0,7 375,41
9  3450  RM218ST  60    7,7 367,71
10  3431  RM236ST  60    13,5 354,21
10  3451  OB A BNG236  30    8 346,21
10  3452  IB A SUSU136 UK ;2X  10    2,7 343,51
10  3449  TKO236 L2  235    48 295,51
11  3455  RMK318AL  1    0,22 295,29
11  3451  IB A BNG236  30    7,5 287,79
11  3440  RMSM236ST  60    13,2 274,59
11  3453  KV236 B EBE LBG K TGH  300    35 239,59
11 
3454  RMSM218ST  60    7,3 232,29
2
1

 
 
12  3453  KV236 B EBE LBG K TGH  379    44,2 188,09
12  3452  RMEXO236AL  10    2,2 185,89
12  3454  IB A SUSU218  30    4,2 181,69
12  3455  RMO236AL  10    2,62 179,07
14  3453  RMSM236ST  60    13,2 165,87
14  3454  RMSM236AL  60    13,2 152,67
14  3456  BLK T5128 0.7X2.7 TNP TTS  20    0,7 151,97
14  3456  RM336AL KISI2 POLOS  5    1,6 150,37
15  3457  TKI236 EBE TLS   31    7,000 143,37
15  3457  TKIK136 EBE TLS  46    12,7 130,67
15  3457  TKIK236 EBE TLS  39    10,7 119,97
15  3458  TK JL136 EBE TLS  35    6,62 113,35
15  3459  BLK TGS136 EBE TLS  30    2,31 111,04
15  3441  BLK TGSS158  15    1,45 109,59
16  3458  TKO136 EBE TLS  7    1,4 108,19
16  3458  TKO236 EBE TLS  107    21,3 86,89
16  3462  RMK236ST  60    12,6 74,29
17  3459  IBK A BNG136 UK 2X  1    0,275 74,015
17  3460  RMK318AL UK;59.3 X59.3 CM  100    22 52,015
17  3461  TKI236  60    13,56 38,455
17  3463  IB A SUSU118 UK 2X  1    0,148 38,307
17  3465  TKI 136 MIRROR  24    4,6 33,707
17  3448  TKO136 L2 diubah baknya 2x  500    2 31,707
18  3447  RM236ST  60    13,5 18,207
18     SJ DO/06/2010/2184     79    97,207
19  3462  TKO118  60    6 91,207
19  3464  KV136  60    9,3 81,907
19 
3464  IBK A SUSU318  7    2,000 79,907
2
2

 
 
19  3464  IB A BNG218  30    4,2 75,707
19  3465  RMO218ST  30    4,3 71,407
19  3463  BLK TGS 136 BAT NICAD  30    2,45 68,957
21     SJ SO/06/2010/2190     471    539,957
21     SJ 122/CBP/VI/10  SMK I CBNG        100 439,957
21  3466  RMK236ST  60    12,6 427,357
21  3467  RMO SM136AL  1    0,2 427,157
21  3466  KV136 EBE TLS  86    13,5 413,657
21  3465  RMKEXO236ST  60    12,6 401,057
22  3459  BLK TGS136  60    4,62 396,437
22  3461  TKI136  60    13,5 382,937
22  3449  TKO236 L2  500    2 380,937
23  3470  RMK318ST  5    1,1 379,837
23  3462  TKI118  60    7,5 372,337
23  3459 II  BLK TGS136  60    4,62 367,717
23  3467  RMSM236AL  60    13,2 354,517
23  3467  RMSM218AL  30    3,63 350,887
23  3468  RMO218AL  10    1,33 349,557
23  3468  TKI236  60    13,6 335,957
24  3469  RMK318AL LL:59.3 CM  50    11 324,957
24  3469  KV236 MIRROR  10    0,45 324,507
24  3471  IB A BNG118 UK 2X  36    5,4 319,107
24  3471 I  TKO236 EMBOS CITILITE  240    47,9 271,207
24  3474  TKO336  10    2,45 268,757
25     SJ 080/CR/KMS/VI/RW/10     602    870,757
25  3471 II  TKO236 EMBOS CITILITE  264    52,5 818,257
25  3472  TKO136 MIRROR  56    5,5 812,757
25 
3472  TKO236 MIRROR  17    1,7 811,057
2
3

 
 
26  3474  RMT5118ST LL:20CM  30    5,7 805,357
26  3475  OB A BNG336  10    3,8 801,557
26  3475  KV236EM. CITILITE LBG K. TGH  120    14 787,557
28  3472  RM218AL      60    7,75 779,807
28  3473  RMK236ST  60    12,7 767,107
28  3474  TKI218  60    7,7 759,407
28  3475  KV236EM. CITILITE LBG K. TGH  120    14 745,407
28  3475  RMKEXO318AL  10    2,000 743,407
30  3475  KV236EM. CITILITE LBG K. TGH  120    14 729,407
30  3476  TKI236  120    27,12 702,287
30  3477 I  TKI236  60    13,6 688,687
JULI     SALDO           688,687
1  3484  RMK236M5 MIR TEK GELBNG  1    0,22 688,467
1     SJ 130/CBP/VII/10 SMK I CBNG        200 488,467
2  3469  IB A BNG236  30    7,5 480,967
2  3477  RMO236ST  20    5,25 475,717
2  3482  RMK318ST  2    0,44 475,277
2  3482  RMK218ST  3    0,4 474,877
2  3480  KV218MIRROR  4    0,112 474,765
3  3475 IV  KV236EM CITILITE LKT  260    30,4 444,365
3  3475 V  KV236EM CITILITE LKT  144    16,8 427,565
3  3485  TKO236 L:30 T:7.5CM S.OVAL MIRROR 1    0,097 427,468
5  3470  RMSM236ST  30    6,6 420,868
5  3476  RMSM218ST  60    7,3 413,568
5  3477  KV218     60    3,7 409,868
5  3478  OB A SUSU336  8    3 406,868
5  3481  TKIK318  15    4,1 402,768

3482 I  IB A BNG236  60    15 387,768
2
4

 
 
6  3483  TKI318  6    1,2 386,568
6  3484  TKI136 MIRROR  10    2,000 384,568
6  3486  RMK218ST  2    0,26 384,308
6  3486  IB A SUSU436  1    0,394 383,914
6  3489  SYP TKO236 EM CITILITE L2  500    55,5 328,414
6  3489  BLK TKO136  500    44,5 283,914
7  3471  RM236AL  60    13,5 270,414
7     SJ 136/CBP/VII/10 SMK I CBNG        100 170,414
7  3486  BLK TGS136 1    0,077 170,337
7  3483  RM118ST UK;2X  4    0,55 169,787
8  3460  RM236ST  60    13,5 156,287
8  3477  TKI236  60    13,6 142,687
8  3482 II  IB A BNG236  30    7,5 135,187
8  3488  BLK TGS118 TLS  10    0,4 134,787
8  3488  BLK TGS136 TLS  10    0,77 134,017
8  3487 A  BAK TKO136 TLS L2  200    18,8 115,217
9     SJ 055/CR/KMS/VII/RW/10     551    666,217
9  3488  RMK318AL  45    10 656,217
9  3487 A  BAK TKO136 TLS L2  100    9,4 646,817
10  3480  TKI236 L2  120    27 619,817
11  3476  RMSM236ST  30    6,6 613,217
11  3496  TKI236 L2  120    27 586,217
12  3479  RM218ST  60    7,75 578,467
12  3491  RMSM236ST  60    13,2 565,267
12  3493  RMK218ST  10    1,23 564,037
12     SJ 139/CBP/VII/10 SMK I CBNG        100 464,037
13  3492  BLK TGS136 L2  210    16,2 447,837
13 
3479  RMK236ST  60    12,7 435,137
2
5

 
 
13  3489  RM236ST  60    13,5 421,637
13  3497  RM136ST LL ;23 LD :20 CM  12    2,3 419,337
13  3470  RMK418ST dikeluarkan tgl:2/7‐10  5    1,1 418,237
13  3496  KV236 MIRROR  3    0,13 418,107
14  3493  KV136 TL EBE LKT  120    18,75 399,357
15  3479  RM236AL  60    13,5 385,857
15  3491  RMSM218ST  60    7,3 378,557
15  3480  RM218AL  60    7,75 370,807
15  3491  RMSM236AL  60    13,2 357,607
15  3485  IB A BNG236  30    7,5 350,107
15  3504  RMT5128ST  2    0,39 349,717
16  3494  TKI218  60    7,7 342,017
17  3493  TKOT5128  76    9,2 332,817
17  3498  RMK318AL LL:59.3 CM  42    9,12 323,697
17  3499  BLK TGS136 TLS BAT NICAD  15    1,25 322,447
17  3499  BLK T5128L;3.5 T;3.5  192    13,00 309,447
17  3499  BLK T5114L;3.5 T;3.5  14    0,5 308,947
17  3500  OB A BNG236 F.M+SAKLAR  1    0,262 308,685
17  3494  KV136  60    9,4 299,285
20     SJ 084/CR/KMS/VII/RW/10     707    1006,285
20  3501  TKO218MIRR  2    0,16 1006,125
20  3502  TKO136MIR  42    4,1 1002,025
20  3502  TKO236MIR  15    1,5 1000,525
20  3498  B.TKO136 MIRLKG OVAL  33    3,2 997,325
20  3498  B.TKO236 MIRLKG OVAL  26    2,5 994,825
20  3483  IB A BNG136UK2X  6    1,6 993,225
20  3501  IBK A SUSU236  30    8,25 984,975
20 
3500  RMK236ST  60    12,7 972,275
2
6

 
 
20  3502  RMSM236ST  30    6,6 965,675
20  3494  KV118  60    4,92 960,755
21  3490  RM218ST  60    7,7 953,055
21  3501  RM236ST  60    13,5 939,555
22  3495  OB A BNG236  10    2,62 936,935
22  3505  RMSM236ST  30    6,7 930,235
22  3512  IBKA BNG318  1    0,281 929,954
22  3512  IBK A PRIS236  1    0,275 929,679
22  3512  IBKA PRIS318  1    0,281 929,398
22  3513  IBKA SUSU318  1    0,281 929,117
23  3490  RM218AL  60    7,7 921,417
23  3505  IB A BNG236 F.MIRROR  50    10,7 910,717
23  3506  TKO136 SYP U  60    11,5 899,217
23  3505  TKO136 SYP U  60    11,8 887,417
23  3510  RMT5228AL  41    9,8 877,617
23  3515  KV236 TLS EMBOS CITILITE  24    2,8 874,817
24  3515  IB ABNG136UK2X  2    0,53 874,287
24  3504  TKI136  60    13,5 860,787
24  3509 I  RM218AL  60    7,7 853,087
24  3511  KVT5228  38    4,4 848,687
26  3515  RM418AL EMBOS CITILITE Ket 11pcs b.nic  54    13,5 835,187
26  3508 I  RMSM236ST  30    6,6 828,587
26  3516  BLK T5128UK:3.5X3.5 CM  11    0,75 827,837
26  3517  TKI236MIRROR  3    0,6 827,237
26  3509  RM218ST  60    7,7 819,537
27     SJ 153/CBP/VII/10 SMK I CBNG        100 719,537
27  3490  RM236AL  60    13,5 706,037
27 
3507  RMSM236AL  60    13,2 692,837
2
7

 
 
27  3508  RMSM218AL  60    7,3 685,537
27  3509  RM236ST  60    13,5 672,037
28  3461  TKJL136  60    11,4 660,637
28  3517  KV336  2    0,43 660,207
28  3517  IB A BNG436  1    0,4 659,807
28  3511  KV236  150    17,5 642,307
29  3510  KV136  120    18,7 623,607
29  3516  OB A BNG236  20    5,25 618,357
29  3516  RMSM136ST  20    3,9 614,457
29  3518  RM136ST UK2X 10    2,3 612,157
29  3518  RM318ST  10    1,75 610,407
29  3518  TKO136 MIRROR  36    3,4 607,007
29  3519  TKI136 MIRROR  6    1,2 605,807
29  3520  TKIK418  12    3,3 602,507
29  3521  TKIK236 MIRROR  3    0,72 601,787
30  3510  RM236AL  60    13,5 588,287
30  3522  IB A SUSU236  20    5 583,287
30  3522  IB A SUSU218  50    7,000 576,287
30  3522  RM136ST UK 2X  22    5,1 571,187
31  3521 I  RM236ST  30    6,75 564,437
31  3523  RMKEXO236ST  64    13,6 550,837
AGUSTUS     SALDO           550,837
3  3523  IBK A SUSU236  8    2,2 548,637
3  3524  RMO236ST  26    6,8 541,837
3  3525  RM136ST UK2X  22    5,8 536,037
3  3525  OB A SUSU218  50    7,25 528,787
3  3526  BLK TGS110  20    0,5 528,287

3495  IB A BNG236  20    5 523,287
2
8

 
 
4  3497  TK JL136  60    11,4 511,887
4  3527  IB A BNG436  36    14,3 497,587
4  3523  TKI318  4    0,77 496,817
4  3523  TKI418  4    0,9 495,917
5   3519 I  BLK TGS 136  60    4,62 491,297
5  3527  TK JL136  60    11,4 479,897
5  3528  IB A BNG236  60    15 464,897
6  3529  IB A BNG136UK2X  6    1,6 463,297
6  3530  OB A SUSU336  4    1,5 461,797
6  3530  KV236 em.citilite B.EBE TLS lbg kabel tngh  270    31,5 430,297
6  3511  KV236  150    17,5 412,797
6  3497  KV218  60    3,7 409,097
7  3528  SYP TKO236  300    33,3 375,797
7  3500  TKJL118  60    6,4 369,397
7  3521 II  RM236ST  30    6,75 362,647
9  3529  IB A BNG236  30    7,5 355,147
9  3531  IB A SUSU236  120    30 325,147
9  3425  BAK TKO136  288    27,8 297,347
10  3533  BLK TGS136 B. NICAD 1    0,09 297,257
10  3519 II  BLK TGS 136  60    4,62 292,637
10  3506  TKI236  60    13,6 279,037
12  3534  KV218 EBE EM. CITILITE  24    1,5 277,537
12  3535  RM136ST LL20 CM  2    0,4 277,137
12  3535  RM418ST  1    0,25 276,887
12  3526  TK JL236  60    12,00 264,887
12     SJ 166/CBP/VIII/10        100 164,887
12  3495  BLK TGS118  60    2,5 162,387
13 
   SJ 074/CR/KMS/VIII/RW/10     355    517,387
2
9

 
 
13  3508 II  RMSM236ST  30    6,6 510,787
13  3533  IBK A SUSU418  2    0,6 510,187
13  3533  OB A BNG336  15    5,7 504,487
13  3538  BLK TGS136 B. NICAD 2    0,175 504,312
13  3519  TKO118  60    6,12 498,192
13  3529  KV236  300    35 463,192
14  3509 II  RM218AL  60    7,7 455,492
14  3492  RMK236ST  60    12,7 442,792
14  3537  RM418 ST  10    2,5 440,292
14  3536  OB A SUSU236  10    2,62 437,672
15  3507  TKI218  60    7,6 430,072
15  3530  SYP TKO236  64    7,1 422,972
16  3535 I  RM218AL  60    7,7 415,272
16  3536  RMSM236ST  60    13,2 402,072
16  3538  IBK A BNG218  13    2,00 400,072
16  3545  IB A BNG218  40    5,6 394,472
16  3539  TKIK418  19    5,2 389,272
16  3507  TKI 118  60    7,6 381,672
16  3504 II  TKI136  60    13,5 368,172
16  3537  TKI218  60    7,6 360,572
16  3543  TKI218  60    7,6 352,972
18  3505  RMK236AL  60    12,7 340,272
18  3539  IB A BNG236 F.MIRROR  60    12,8 327,472
18  3539  OB A SUSU436  2    1,00 326,472
18  3506 II  TKI236  60    13,6 312,872
19  3541  BLK T5 114  24    1,2 311,672
20  3540  KV236 em.citilite B.EBE TLS lbg kabel tngh  614    71,6 240,072
21 
3543  KV236  300    35 205,072
3
0

 
 
21  3534  BLK TGS136      120    9,24 195,832
21  3540  RMK EXO 236AL  60    13,5 182,332
21  3540  TKI236  60    13,6 168,732
23  3541  IB A PRIS218  1    0,143 168,589
23  3496 I  RMSM218ST  30    3,65 164,939
23  3542  RMEXO118AL UK2X KISI2 POLOS  20    3,1 161,839
23  3542  RMEXO218AL  KISI2 POLOS  30    3,8 158,039
23  3542  RMEXO218ST  KISI2 POLOS  30    3,8 154,239
23  3543  RMEXO136AL UK2X KISI2 POLOS  30    8,5 145,739
23  3554  RMK318AL LL 59.3X59.3  10    2,2 143,539
23  3546 I  TKI236  60    13,6 129,939
23  3520  KV136  120    18,7 111,239
24  3496 II  RMSM218ST  30    3,7 107,539
24  3536  RM236AL  60    13,5 94,039
24  3535 II  RM218AL  60    7,7 86,339
24  3544  RM218ST  60    7,7 78,639
24  3547  KV236 MIRROR  40    1,8 76,839
25     SJ 088/CR/KMS/VII/RW/10     711    787,839
25  3537  TKO136  144    28,8 759,039
26  3549  TKIK4118  1    0,275 758,764
26  3545  RMK236ST  60    12,7 746,064
26  3527  RM236ST  60    13,5 732,564
26  3546  RM236ST  60    13,5 719,064
26  3552  RM218ST  60    7,7 711,364
26  3549  TKO236 MIRROR  12    1,2 710,164
26  3550  TKO136 MIRROR  36    3,5 706,664
26  3551  KV218  120    7,2 699,464
26 
3551 I  KV118  60    5,00 694,464
3
1

 
 
28  3550  IB A SUSU236  20    5 689,464
28  3551  RMSM236ST  30    6,6 682,864
28  3552  IB A BNG218  80    11,5 671,364
28  3532 I  RM SM218AL  30    3,66 667,704
28  3553  RMK318 ST  2    0,45 667,254
28  3549 I  KV236  100    11,67 655,584
28  3546 II  TKI236  60    13,6 641,984
30  3544  RM236AL  60    13,5 628,484
30  3548  RMK218ST  20    2,5 625,984
30  3553 I  IB A BNG218  20    2,9 623,084
30  3537 II  TKO136  96    19,1 603,984
30  3545  KV136  120    18,6 585,384
30  3552  TKI236  60    13,6 571,784
31  3555  KV236 em.citilite B.EBE TLS lbg kabel tngh  43    5 566,784
31  3555  KV 236 MIRROR  20    1 565,784
31  3556  TKI236  60    13,6 552,184
SEPTEMBER     SALDO           552,184
1  3555  TK JL118  60    6,4 545,784
1  3554  IB A BNG 218  60    8,6 537,184
1  3556  RMK DUMMY 218 ST  1    0,16 537,024
1   3549 II  KV236  100    11,67 525,354
1  3560  TKO136  60    11,9 513,454
2  3532 II  RM SM218AL  30    3,66 509,794
2  3553 II  IB A BNG 218  20    2,9 506,894
2  3554  RMK236ST  60    12,7 494,194
3  3532  RMSM236AL  60    13,2 480,994
3  3508  RMSM218ST  60    7,3 473,694

3557  RM236AL  60    13,5 460,194
3
2

 
 
3  3557  RM218ST  60    7,7 452,494
3  3559  RMSM236ST  30    6,7 445,794
3  3558  RMSM218AL  30    3,7 442,094
3  3549 III  KV236  100    11,67 430,424
3  3560  KV236  100    11,7 418,724
3  3554  BLK TGS136  120    9,3 409,424
3  3534  BLK TGS118  120    5,00 404,424
3  3560  KV236  100    11,7 392,724
4  3560  RMK236AL  60    12,8 379,924
4     SJ 183/CBP/IX/2010        30 349,924
7  3562  KV236 em.citilite B.EBE TLS lbg kabel tngh  580    67,5 282,424
7  3559  TKJL136  60    11,4 271,024
7  3561  TKO136 MIRROR  36    3,5 267,524
7  3561  TKO236 MIRROR  12    1,2 266,324
18  3562  BAK RM236  240    54 212,324
18  3563  TKO236      300    61,3 151,024
20  3558  RM218AL  60    7,7 143,324
20  3559  RMSM218ST  30    3,7 139,624
20  3562  TKI136 MIRROR  50    10,00 129,624
21  3563  OB A BNG236  30    7,9 121,724
21  3564  IB A ST236em. Citilite  33    8,25 113,474
21  3565  IB A ST236em. Citilite B. NIC  12    3 110,474
21  3564  BLK TGS 136 em.citilite  52    4,1 106,374
21  3564  BLK TGS 136 em.citilite B. NIC  30    2,5 103,874
22  3566  RMSM136ST L20 CM  40    7,9 95,974
22  3566  RMSM236ST  30    6,7 89,274
22  3558  RMSM236AL  30    6,7 82,574
22 
3568  OB A BNG236  30    7,9 74,674
3
3

 
 
23  3563  TKO118  60    6,5 68,174
23  3569  TKO336  10    2,5 65,674
23           100    165,674
24  3566  RMSM236ST  30    6,7 158,974
24  3568  RMSM218AL  30    3,7 155,274
24  3569 I  RMK236ST  60    12,7 142,574
24  3570  RM EXO236ST MIR GTNG  192    43 99,574
24  3506 I   TKI136  60    13,6 85,974
25  3567  TKI218  60    7,6 78,374
25  3571  BLK TGS136  30    2,3 76,074
27  3566  RM218ST  60    7,7 68,374
27  3571  LAMP REKLAME T5 228 A SUSU  1    0,5 67,874
28  3560  KV236  100    11,7 56,174
28  3568  KV218  60    3,6 52,574
29  3531  IB A BNG236  20    5,00 47,574
29  3570  OB A SUSU136 UK 2X  12    3,2 44,374
29  3570  RMO236ST  40    10,5 33,874
29  3571  BAK RM418AL  1    0,25 33,624
29  3575  RM236ST EBE  10    2,25 31,374
29  3575  RM418ST EBE  30    7,5 23,874
29  3572  IB A BNG236  30    7,5 16,374
29  3575  IBK A SUSU 236 UK 4X KONDE PLAT  1    0,6 15,774
29     SJ CBP‐DO/09/10/0071     450    465,774
30  3576  TKO218  60    6,3 459,474
30  3567  TKJL 236  60    12,00 447,474
30  3569  KV136  60    9,3 438,174
30  3572  IB A BNG236  20    5 433,174
30 
3572  IB A SUSU218  40    5,75 427,424
3
4

 
 
30  3573  RMO236AL  20    5,25 422,174
30  3573  RMO236ST  20    5,25 416,924
30  3573  RMO218AL  20    3,00 413,924
30  3574  RM318AL  5    1,00 412,924
30  3576  IBK A BNG218  1    0,15 412,774
30  3577  LAMP RS T5 A SUSU 128  1    0,5 412,274
OCTOBER     SALDO           412,274
1  3581  TKI JL 136  60    11,3 400,974
1  3574  BLK TGS136  120    9,3 391,674
1  3576  KV136 MIRROR  16    2,5 389,174
1     SJ CBP‐DO/10/10/0002     300    689,174
1     SMK I CBNG        100 589,174
2  3579  TKIK236 MIR  1    0,275 588,899
2  3569  RMK236ST  60    12,7 576,199
2  3578  TKIK418  8    2,2 573,999
2  3579  RM218AL  60    7,7 566,299
2  3579  RM218ST  60    7,7 558,599
2  3580  IB A BNG218  30    4,3 554,299
4  3577  RMEXO236STem. Citilite m f tek glbng  1    0,22 554,079
4  3577  RMEXO218STem. Citilite m f tek glbng  1    0,125 553,954
4  3578  RMEX118STem. Citilite m f tek glbng  1    0,157 553,797
4  358  BLK TRAP 236 KLEM TK JL  1    0,12 553,677
4  3576  OB  A BNG136 UK 2X  3    0,8 552,877
4  3584  TKI218  60    7,6 545,277
5  3580  SYP TKO236  106    11,7 533,577
5  3578 I  TKI236  60    13,5 520,077
5  3581 I   RMSM236ST  30    6,7 513,377

3583  RM118ST UK 2X  17    2,3 511,077
3
5

 
 
5  3583  RMO136ST UK 2X  13    3,4 507,677
5  3584  RMEXO218AL  KISI2 POLOS  30    3,8 503,877
5  3585  RMK418ST  20    4,5 499,377
5  3585  IBK A BNG218  4    0,6 498,777
6  3590  KV136 60    9,3 489,477
6  3591  OB A BNG236  20    5,25 484,227
6  3582  TKIK236     90    24,5 459,727
6  3587  IB A SUSU318  1    0,22 459,507
6  3587  TKO318  3    0,4 459,107
7  3586  IB A BNG218  120    17 442,107
7  3581 II  RMSM236ST  30    6,6 435,507
7  3572  IB A SUSU236  50    12,5 423,007
7  3506 II  TKI136  60    13,6 409,407
7  3586 1  RMSM236ST  30    6,6 402,807
8  3582 II  TKIK236     90    24,5 378,307
8  3587  TKIK236     60    16,5 361,807
8  3585 RM CAT236 LL:40 PL:124 CM GRIL CAT PUTIH 13    6 355,807
8  3588 TK JL118 60    6 349,807
8  3589 SYP TKO136 264    29,3 320,507
8  3590 RM418ST 14    3,5 317,007
8  3591 IB A BNG236 10    2,5 314,507
9  3586 II  RMSM236ST  30    6,5 308,007
9  3588 RM218ST 60    7,6 300,407
9  3589 IB A SUSU236 60    15 285,407
9  3592 IB A BNG236 60    15 270,407
9  3593 OB A BNG336 3    1,00 269,407
12  3592 OB A BNG218 12    1,75 267,657
12 
3594 RM236ST 60    13,5 254,157
3
6

 
 
12  3594 RMSM236AST 30    6,6 247,557
12  3595 RMSM218ST 30    3,7 243,857
12  3595 TKO218 SYP U 48    5 238,857
12  3593 BLK TGS136 300    23 215,857
12  3598 TKI218 60    7,6 208,257
12  3599 TKIK218 60    9,2 199,057
13  3591 RMK218ST 30    3,7 195,357
13     SJ 205/CBP/X/10 SMK I CBNG       30 165,357
13  3593 RMK236ST 60    12,7 152,657
13  3594 RMK236ST 60    12,7 139,957
13  3598 TKIK236 28    7,5 132,457
15  3596 I  RMK236ST 120    25,5 106,957
15  3596 RM218AL 60    7,7 99,257
15  3599 RM236ST 60    13,5 85,757
15  3567 TKI136 60    13,6 72,157
15  3597 TKI118 60    7,6 64,557
15  3551 II  KV118 60    4,9 59,657
16     SJ CBP-DO/10/10/0109    611    670,657
18  3601 RMK136ST LL: 23 CM 1    0,196 670,461
18  3589 II IB A SUSU236 20    5 665,461
18  3592 IB A SUSU236 10    2,5 662,961
18  3598  OB A BNG236 10    2,6 660,361
18  3590 IBK A SUSU218 6    0,9 659,461
18  3600 TKJL236 60    12 647,461
18  3578 II  TKI236 60    13,5 633,961
18  3589 TKI236 60    13,5 620,461
19  3598 OB A BNG236 10    2,6 617,861
19 
   SJ 208/CBP/X/10 SMK I CBNG       170 447,861
3
7

 
 
19  3607 TKO136 180    35,8 412,061
19  3604 TKI218 60    7,6 404,461
20  3604 TKI318 1    0,2 404,261
20  3607 TKI418 1    0,23 404,031
20  3592 IB A SUSU236 10    2,5 401,531
20  3597 IB A SUSU236 20    5 396,531
20  3605 I RMSM236ST 30    6,6 389,931
20  3606 RMEXO236AL KISI2 POLOS 30    6,6 383,331
20  3601 RMEXO236AL KISI2 POLOS 10    2,2 381,131
20  3601 RMEXO218AL KISI2 POLOS 10    1,25 379,881
20  3605 RMEXO218AL KISI2 POLOS 50    6,25 373,631
20  3602 RMK236 M5 EM.CITILITE 1    0,213 373,418
20  3602 BLK T5128 EM.CITILITE 1    0,073 373,345
20  3600 BLK T5 128 UK 3X0.5 10    0,32 373,025
20  3600 BLK T5 135 UK 3X0.5 80    3,3 369,725
20  3597 IB A BNG236 20    5 364,725
20  36010 IB A BNG236 10    2,5 362,225
20  3618 TKIK236 21    5,6 356,625
20  3581 TKO236 240    47 309,625
22  3609 TKI318 3    0,6 309,025
22  3595 II  RMSM218ST 30    3,6 305,425
22  3596  RMK236ST 60    12,6 292,825
22  3606  RMEXO236ST 30    6,6 286,225
22  3609  RMO236ST LL:23 CM TANP GNG 10    2 284,225
22  3608  KV118MIRROR 16    0,6 283,625
22  3608  KV1136MIRROR 128    8 275,625
25  3605 II  RMSM236ST 30    6,6 269,025
25 
3612  RM236AL 60    13,5 255,525
3
8

 
 
25  3612  RM236ST 60    13,5 242,025
25  3612  IB A SUSU218 40    5,7 236,325
25  3608  KV236 MIRROR 20    1,4 234,925
26  3614  IB A BNG236 50    12,5 222,425
26  3516 I  RMSM236AL 30    6,6 215,825
26  3614  RMK218ST 30    3,6 212,225
26  3609  TKI218 EM.CITILITE 90    11,5 200,725
26  3610  TKI236 EM.CITILITE 5    1,2 199,525
26           200    399,525
27  3613  KV236 150    17,5 382,025
27  3615  KV236 TANP LBG STAT 28    3,3 378,725
27  3617  KV236 em.citilite B.EBE TLS lbg kabel tngh 70    8,1 370,625
27  3615  KV136 TANP LBG STAT 5    0,75 369,875
28  3516  RMK236AL 60    12,6 357,275
28  3605 I  RMSM218ST 30    3,6 353,675
28  3618  IB ASUSU236 20    5 348,675
28  3622  RMSM236ST 30    6,6 342,075
28  3619  IBK A SUSU318 4    1,1 340,975
28  3516 II  RMSM236AL 30    6,6 334,375
28  3618  RMO218ST 10    1,4 332,975
28  3613  TK0118 60    6 326,975
28  3614  TKO136 60    11,8 315,175
28  3623  SYP TKO236 48    5,3 309,875
28  3619  TKO136 300    59,5 250,375
29  3624  TKO136 300    59,5 190,875
29  3622  IB A BNG218 FULL MIRROR 50    6,00 184,875
29  3603  TKI236 60    13,6 171,275
29 
3613  TKI236 60    13,5 157,775
3
9

 
 
29  3620  TKI218 60    7,6 150,175
29     DIKIRIM TGL: 28-10-10    200    350,175
30  3616 III  RMSM236AL 30    6,6 343,575
30  3603  OB A BNG236 20    5,25 338,325
30  3628 I  RMSM236ST 30    6,6 331,725
30  3621  RMK136ST L: 23 CM P:120CM 10    2,00 329,725
30  3621  RMK418ST UK:60X60 CM 42    9,25 320,475
30  3621  RMK236ST P:120 CM 19    4,1 316,375
30  3623  RMSM136AL 14    2,8 313,575
NOVEMBER    SALDO          313,575
1  3605 II  RMSM218ST 30    3,6 309,975
1  3625  RM236AL  120    27 282,975
1  3625  IB A BNG118 UK :2X  4    0,6 282,375
1  3628 II  RMSM236ST  30    6,7 275,675
1  3613  KV236  150    17,5 258,175
2  3622  RM318AL  98    17,5 240,675
3  3623  TKO118  60    6 234,675
3  3624  TKO118  60    6,00 228,675
3  3604  TK JL136  60    11,8 216,875
3  3595  KV118  60    4,9 211,975
3  3626  BLK TGS136 L BALLAST 41.5 CM  50    3,8 208,175
4  3625  OB A BNG236 20    5,25 202,925
4  3626  IB A SUSU136 UK:2X  10    2,7 200,225
4  3626  TKI236  120    27 173,225
4  3627  RM418ST  5    1,25 171,975
4  3631  RM218AL  60    7,7 164,275
4  3631  RM218ST  60    7,7 156,575

3627  BLK TGS136      360    27,4 129,175
4
0

 
 
4  3588  TKI136  60    13,5 115,675
4  3631  TKI218  60    7,7 107,975
4  3617  TKIK236  60    16,5 91,475
5  3632  RMSM218ST  120    14,8 76,675
5  3634  RM218ST  120    15,5 61,175
5  3632  KV236 em.citilite B.EBE TLS lbg kabel tngh 32    3,75 57,425
5  3617  TKI236  60    13,6 43,825
5           320    363,825
5  3633  RMOT4 ST UK ;4X BEDAHAN  1    0,07 363,755
5  3633  RMT4 ST UK ;4X    BEDAHAN  1    0,07 363,685
6  3628  TK JL118  60    6 357,685
8  3629  TK JL 236  60    12 345,685
8  3629  TKI218  60    7,6 338,085
8  3637  TKO118  60    6,125 331,96
8  3620  KV136  60    9,3 322,66
8  3635  KV236 em.citilite B.EBE TLS lbg kabel tngh 10    1,12 321,54
8  3632  RMSM218ST  80    9,8 311,74
8  3629  IB A BNG236 20    5 306,74
8  3627  IB A SUSU218  20    2,9 303,84
8  3630  OB A SUSU236 10    2,6 301,24
8  3630  OB A BNG236  10    2,6 298,64
8  3615  RMK236ST 60    12,7 285,94
9  3632  RMK236ST 60    12,7 273,24
10  3636  IB A SUSU236 140    35 238,24
10  3634  TKI236 60    13,5 224,74
11  3633  IBK A SUSU236 UK: 4X 8    4,8 219,94
11  3640  OPEN KAP136 44    1,41 218,53
11 
3637  RMKEXO418ST 12    2,4 216,13
4
1

 
 
11  3640  RMKEXO218ST 4    0,5 215,63
11  3628  RM236ST 60    13,5 202,13
11  3634  RMK236ST 60    12,7 189,43
11  3639  RM236AL 30    6,75 182,68
11  3637  TKI218 60    7,6 175,08
11  3636  TKI236 60    13,6 161,48
11  3635  TK JL218 30    3,1 158,38
12  3644  IB A BNG318 2    0,45 157,93
12  3642  TKIK236 60    16,5 141,43
12  3641  TKI118 60    7,6 133,83
13           320    453,83
13  3639  RM236AL 30    6,75 447,08
13  3639  RMK236ST 60    12,7 434,38
13  3639  RM218ST 30    3,8 430,58
13  3641  RM236ST FULL MIRROR 6    1,35 429,23
15  3641  IB A BNG236 40    10 419,23
15  3644  RM236ST 60    13,5 405,73
15  3645  BAK OB 436 5    2,6 403,13
15  3647  IB A SUSU136UK 2X 10    2,7 400,43
15  3645  IB A SUSU318 UK LL;64X64 5    1,4 399,03
15     SJ 230/CBP/XI/10       100 299,03
16  3646  KV236 em.citilite B.EBE TLS lbg kabel tngh 72    11,2 287,83
16  3646  TKO236 252    50,1 237,73
16  3603  IB A SUSU236 30    7,5 230,23
16  3639  RM218ST 30    3,8 226,43
16  3644  RM236ST 60    13,5 212,93
16  3638  RM218AL 30    3,8 209,13
16 
3651  OB A BNG136 UK2X 9    2,4 206,73
4
2

 
 
18     SJ 230/CBP/XI/10 KET: DIKEMBALIKAN    100    306,73
18  3646  TKO236 48    9,6 297,13
18  3653  TKI236 27    6,1 291,03
18  3644  RM236ST 60    13,5 277,53
19  3638  IB A SUSU218  20    2,9 274,63
19  3644  IB A SUSU218  20    2,9 271,73
19  3647  IB A BNG218  20    2,9 268,83
19  3648  IB A BNG236 20    5 263,83
19  3619  IB A SUSU236  20    5 258,83
19  3647  RMSM236AL  30    6,7 252,13
19  3642 I  OB A SUSU236  10    2,6 249,53
20  3649  TKI218  60    7,7 241,83
20  3650  TKO118  60    6,2 235,63
20  3650  TKO218  60    6,3 229,33
20  3638  RM218AL 30    3,9 225,43
20  3653  TKIK236  28    7,8 217,63
20  3624  TK JL 136  60    12 205,63
21  3657  B.OB436 TLS EBE TANP COVER  1    0,5 205,13
21  3654  IB A SUSU318 UK LL;64X64 1    0,27 204,86
21  3657  IB A BNG318 1    0,19 204,67
21  3646  RM218ST  60    7,7 196,97
21  3649  IB A SUSU218  40    5,7 191,27
21  3650  RM236AL  60    13,5 177,77
21  3654  IB A SUSU218  60    8,5 169,27
21  3645  RM218AL  60    7,7 161,57
22           330    491,57
22  3653  RM218AL  120    15,5 476,07
22 
3654  RMO218AL  20    2,8 473,27
4
3

 
 
22  3656  IB A PRISMATIC 236  2    0,5 472,77
23  3642 II  OB A SUSU236  10    2,6 470,17
23  3648  RMSM236AL  30    6,7 463,47
23  3655  IB A BNG236  30    7,5 455,97
23  3657  IB A BNG218  30    4,3 451,67
23  3655  RMO218ST  20    2,8 448,87
23  3656  RM T5 214 ST LL;23 CM  30    2,6 446,27
23  3658  RM236ST  60    13,5 432,77
23     SJ 236/CBP/XI/10        100 332,77
23  3651  KV136  60    9,3 323,47
23  3652  KV236 TTS PLAT EBE TLS  25    2,93 320,54
23  3652  KV136 EBE TLS  31    4,8 315,74
24  3659  IBK A BNG136UK 2X  2    0,6 315,14
24  3659  BLK T5 128 UK 2.7X3 CM  1    0,03 315,11
24  3659  RM218AL  60    7,7 307,41
24  3662  RM218AL  60    7,7 299,71
24  3653  TKI236 33    7,4 292,31
25     SJ CBP‐DO/11/10/0162     500    792,31
25  3661  IBK A SUSU218  8    1,25 791,06
25  3661  IBK A SUSU418  5    1,4 789,66
25  3662  RM236ST  60    13,5 776,16
25  3649  IB A BNG236  20    5 771,16
25  3658  TKO218 EM. CITILITE  120    12,7 758,46
25  3664  TKO236  120    23,8 734,66
25  3663  KV236  100    11,7 722,96
26  3661  RMSM236AL  60    13,2 709,76
26  3662  IB A SUSU218  60    8,5 701,26
26 
3642  OB A BNG236  20    5,4 695,86
4
4

 
 
26  3664  RMEXO236AL POLOS  50    11,00 684,86
26  3665  IB A SUSU136 UK 2X  10    2,7 682,16
27  3668  RM236ST  60    13,5 668,66
27  3659 II  RM218AL  60    7,7 660,96
27  3667  RM418ST  20    5,00 655,96
27  3663  IB A BNG218  30    4,3 651,66
27  3667  IBK A BNG136 UK 2X  6    1,7 649,96
29  3652  BLK TGS 136  60    4,6 645,36
29  3669  TKO236 EBE TLS  22    4,4 640,96
29  3666  TKO136 SYP U  120    22,5 618,46
29  3667  TKO236 SYP U  60    11,2 607,26
30  3671  OB A BNG136 UK 2X  1    0,26 607
30     SJ 241/CBP/XI/10 SMK I CBNG        100 507
30  3665  RMSM236ST  60    13,2 493,8
30  3668  IB A BNG218  60    8,5 485,3
30  3670  TKO MIRROR 336  5    0,6 484,7
30  3691  TKO236 SYP U ( SYP SAJA )  60    6 478,7
DESEMBER     SALDO           478,7
1  3672  TKIK318  3    0,82 477,88
1  3638 I  RMSM218AL  30    3,7 474,18
1  3671  RMSM 218ST  30    3,7 470,48
1  3673  RMEXO218AL POLOS  50    6,25 464,23
1  3673  RMSM218ST  120    14,6 449,63
2  3675  RM418ST  3    0,75 448,88
2  3675  RM236AL  60    13,5 435,38
2  3670  TKI236  120    27 408,38
2  3678  KVMIRROR136  4    0,3 408,08

3669  TKO236  60    12 396,08
4
5

 
 
3  3671  TKO236  60    11,8 384,28
3  3669  KV236  120    14 370,28
4  3630  TKI136  60    13,5 356,78
4  3682  TKI MIRROR136  16    3,00 353,78
4  3684  TKI236  60    13,6 340,18
6     CPB‐DO/12/10/0044     450    790,18
6  3638 I  RMSM218AL  30    3,7 786,48
6  3674  TKO236  120    23,9 762,58
6  3677  RMSM118ST  6    0,7 761,88
6  3677  RMSM136ST  21    4,2 757,68
6  3684  TKIK236  60    16,5 741,18
7  3672  TKIK236  61    16,8 724,38
7  3643  RMK236ST  60    12,7 711,68
7  3639  RMK236ST  60    12,7 698,98
8  3676  RMSM236AL  90    19,8 679,18
8  3680  IB236 A BNG  30    7,5 671,68
8  3680  IB136 A BNG……  5    1,3 670,38
8     SJ 246/CBP/XII/10        50 620,38
9  3673  TK JL 136  60    11 609,38
9  3674 II  TKO236  120    23,8 585,58
9  3676  TKI118  60    7,5 578,08
10  3690  TKO336  6    1,4 576,68
10  3681  IB A BNG236 FULL MIRROR  200    42,2 534,48
10  3682  RMK DUMMY 236 ST  10    3 531,48
10     SJ 249/CBP/XII/10        50 481,48
10  3682  TKI218  60    7,6 473,88
12  3687  RM236ST  120    27 446,88
13 
3672  TKI136 14    3,2 443,68
4
6

 
 
13  3683  RMSM236ST  60    13,2 430,48
13  3683  RMSM236AL  60    13,2 417,28
13  3681  IB A BNG236 FULL MIRROR  100    25 392,28
13  3674  KV236  120    14 378,28
14  3681  IB A BNG418 FM UK:63X63 CM  48    11 367,28
14  3690  IB A SUSU318  10    1,9 365,38
14  3695  RM418ST  5    1,25 364,13
14  3688 I  IB A BNG236      2    0,5 363,63
15  3663  RMSM218AL  30    3,6 360,03
15  3688  RMSM236ST  30    6,6 353,43
15  3679  RMK236AL  60    12,7 340,73
15  3688  IB A BNG236  28    7 333,73
15  3696  IBK A SUSU218  4    0,62 333,11
15  3675  TKO118 60    6 327,11
15  3685  TKO218 60    6,1 321,01
16  3678 I  KV236  150    17,5 303,51
16  3674 III  TKO236  120    23,8 279,71
17  3620  KV118  60    4,7 275,01
17  3685  KV218  60    3,6 271,41
17  3643  IB A SUSU236  20    5 266,41
17  3688  IB A SUSU236  30    7,5 258,91
17  3687  RM236AL  60    13,5 245,41
17  3692  IBK A SUSU436 PIN NUT         24 221,41
17  3689  RM136ST UK 2X  72    17 204,41
17  3697  RM336AL  5    1,4 203,01
18  3699  KV236 ebe tls em. Citilite lbg tngh 14    1,6 201,41
18  3681  BAK IB 418  UK:63X63 CM Ganti yg rusak  6    1,4 200,01
18 
3687  RM218AL  60    7,7 192,31
4
7

 
 
18  3686  RM218ST  60    7,7 184,61
18  3677  KV136  60    9,4 175,21
18  3689  TK JL136  60    11 164,21
18  3690  TKO136 SYP U  60    11,2 153,01
18  3691  TKO236 SYP U  (BAK SAJA)  60    5,22 147,79
18  3691  SYP U TKO136  20    2 145,79
18  3679  RMK236ST  60    12,5 133,29
20  3697  IBK A BNG236  10    2,8 130,49
20  3698  RM236ST FULL MIRROR  12    2,7 127,79
20  3700  OB A SUSU136  5    1,2 126,59
20  3700  RM418 ST  4    1,000 125,59
20  3705  BAK IB 418  UK:63X63 CM Ganti yg rusak  3    0,7 124,89
21  3701  RMK218ST  30    3,7 121,19
21  3708  KV236 ebe tls em. Citilite lbg tngh  10    1,2 119,99
22     SJ 2952     400    519,99
22     SJ 2953     100    619,99
22  3693  RMSM318ST  30    4 615,99
22  3693  RMSM336ST  30    8 607,99
22  3694  IB A.BNG236  30    7,5 600,49
22  3704 I  RM236ST  60    13,5 586,99
22  3691  SYP U TKO236  20    2 584,99
23     SJ 2968     250    834,99
24  3694  RMSM236ST  60    13,2 821,79
24  3701 I  RM218AL  60    7,8 813,99
24  3702  IBK A BNG236  8    1,2 812,79
24  3706  OB A BNG236  4    1,1 811,69
24  3706  OB A BNG336  2    0,8 810,89
24 
3672  TKI136  60    13,6 797,29
4
8

 
 
24  3703  TKI118  60    7,6 789,69
24  3695 I  TKIK236  60    16,5 773,19
24  3703  TKI218  60    7,6 765,59
24  3710  TKO118  60    6,2 759,39
24  3708  TKI218  60    7,7 751,69
27  3700  BAK IBK318  14    4 747,69
27  3683 I  RMK236ST  60    12,7 734,99
27  3701  RMK218AL  30    3,6 731,39
27     SJ 262/CBP/XII/10 SMK I CBNG        100 631,39
27  3711  KV236 MIRROR  2    0,1 631,29
27  3678  KV236  150    17,5 613,79
29  3702  RM218ST  120    15,5 598,29
29  3704  RM236AL  60    13,5 584,79
29  3704  RM236ST  60    13,5 571,29
               0 571,29
29  3712  BAK IB 418  UK:63X63 CM Ganti yg rusak  7    2 569,29
29  3702  TKO236  120    24 545,29
29  3695 I  KV136  60    9,4 535,89
29  3695 II  TKIK236  60    16,5 519,39
30  3701 II  RM218AL  60    7,7 511,69
30  3708  RM236AL  60    13,5 498,19
31  3683 II  RMK236ST  60    12,7 485,49
31  3710  IB A BNG136 UK 2X  70    18,9 466,59
31  3710  RMK336AL  41    15,3 451,29
31  3711  OB A BNG136 UK 2X  30    7,8 443,49
 
4
9

 
 
Diagram Alir Keterkaitan Kerja Antar Divisi
Supplier Office Purchasing Office Expedisi Supplier Warehouse CLBP Fabrication

Gambar 4.3 Diagram Alir Keterkaitan Kerja Antar Divisi
Lap. Konsumsi 
Harian 
Kartu Stock Bidding Offering
Sedia >Min 
Bukti Permintaan 
Bahan Baku
1.Price? 
2.Quality? 
PO
SPK / WO 
SJ / DO
Warehouse
Delivery  Inspection 
QC OK?
Receiving
Retur
Cutting
Painting
Cutting
Welding
Finishing 
Good 
DP
Tidak
YES 
NO
YA
YA
Banding 
Legend : 
Fisik  
Informasi     
Ageing
(Via Accounting) 
6
1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->