P. 1
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERTAHANAN DALAM RANGKA MENDUKUNG KEMANDIRIAN ALAT UTAMA DAN SISTEM SENJATA ALUTSISTA

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERTAHANAN DALAM RANGKA MENDUKUNG KEMANDIRIAN ALAT UTAMA DAN SISTEM SENJATA ALUTSISTA

|Views: 485|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Apr 27, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

2.1.1. Kepentingan Nasional

Pada hakikatnya kepentingan nasional Indonesia adalah

tetap tegak dan utuhnya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan

Undang-undang Dasar (UUD) 1945 serta terjaminnya kelancaran

dan keamanan pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Kepentingan nasional tersebut diwujudkan dengan memperhatikan

tiga kaidah pokok, yakni tata kehidupan, upaya pencapaian tujuan

serta sarana yang digunakan. Tata kehidupan masyarakat, bangsa

dan negara Indonesia mencerminkan kesatuan tata nilai yang

berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berKetuhanan Yang

Maha Esa yang menjunjung tinggi kebhinekaan yang ditunjukkan

dalam interaksi sosial yang harmonis. Pembangunan nasional

merupakan upaya untuk mencapai tujuan nasional yang

pelaksanaannya secara berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan

berketahanan nasional berdasarkan Wawasan Nusantara.

Sebaliknya sarana yang dipergunakan dalam mewujudkan tujuan

nasional adalah seluruh potensi dan kekuatan nasional yang

didayagunakan secara menyeluruh dan terpadu.

Lingkungan strategis baik global, regional maupun nasional

yang terus berkembang dalam suatu dinamika yang sangat tinggi

9

menuntut penyesuaian diri dengan hakikat perubahan yang terjadi.

Atas dasar itu, kepentingan nasional Indonesia disusun dalam tiga

kategori : kepentingan nasional yang bersifat mutlak, kepentingan

nasional yang bersifat vital dan kepentingan nasional yang bersifat

penting.

Kepentingan nasional yang bersifat mutlak adalah tetap

tegaknya NKRI. Fungsi Pertahanan negara wajib menjaga dan

melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI serta

keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. NKRI

dengan wilayah terdiri dari 17.504 pulau sebagai satu kesatuan

wilayah Indonesia yang harus tetap dijaga keberadaan dan

keutuhannya. Posisi Indonesia yang strategis memiliki implikasi

pertahanan yang besar. Keutuhan wilayah NKRI tidak saja

menjadi kepentingan nasional Indonesia, tetapi juga menjadi bagian

strategis yang mempengaruhi kepentingan nasional sejumlah

negara di dunia. Wilayah NKRI yang utuh dan stabil akan

menjadi syarat mutlak terselenggaranya pembangunan nasional

untuk menyejahterakan rakyat, sekaligus terwujudnya stabilitas

kawasan yang mengitari Indonesia. Indonesia tidak akan

membiarkan setiap usaha yang akan mengganggu eksistensi dan

integritas NKRI. NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD

1945 yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke merupakan

keputusan final yang harus dijaga dan dipertahankan.

10

Kepentingan nasional yang bersifat vital menyangkut

pembangunan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan yang

Bhineka Tunggal Ika, sejahtera, adil dan makmur serta demokratis.

Kondisi obyektif Indonesia sebagai negara dengan penduduk

terbesar keempat di dunia merupakan tantangan untuk

mengembangkan pertahanan Indonesia ke depan. Dengan

penduduk yang sudah mencapai lebih dari 230 juta jiwa serta

karakteristik yang sangat pluralistik dalam suku, agama, ras dan

antar golongan (SARA) diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk

membangun kohesi dalam ikatan persatuan dan kesatuan bangsa.

Indikator terwujudnya kohesi nasional serta persatuan dan kesatuan

bangsa ditunjukkan dalam kehidupan sosial dan interaksi antar

warga masyarakat yang harmonis.

Kepentingan nasional yang bersifat utama atau penting

adalah kepentingan yang terkait dengan perdamaian dunia dan

stabilitas regional. Lingkungan strategis Indonesia adalah global

dan regional dengan segala dinamikanya. Indonesia juga tidak

terlepas dari limpahan sejumlah konflik di dunia. Oleh karena itu,

Indonesia akan tetap mengambil peran aktif bersama-sama dengan

bangsa lain melalui usaha-usaha yang bermartabat untuk

mewujudkan perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan,

perdamaian abadi dan keadilan sosial.1

1

Dephan RI, Buku Putih Pertananan Indonesia, 2008, hal 39-41

11

2.1.2. Kondisi Umum Pertahanan Negara

Sejarah perjalanan bangsa Indonesia membuktikan bahwa

Sistem Pertahanan Rakyat Semesta ampuh dan dapat diandalkan

untuk terus dipertahankan dan dikembangkan dalam menjaga

keutuhan wilayah negara dan menjamin keselamatan bangsa.

Dalam menyelenggarakan pembangunan nasional,

pemerintah masih menempatkan aspek kesejahteraan sebagai

prioritas. Dari alokasi APBN sampai dengan Tahun Anggaran

(TA) 2007, pertahanan negara belum menjadi prioritas dalam

pembangunan nasional. Dalam APBN 2008, sektor pertahanan

negara masih berada pada urutan prioritas ke-empat di bawah

fungsi pelayanan umum, pendidikan dan ekonomi. Sasaran pokok

yang ingin dicapai dalam upaya meningkatkan kemampuan

pertahanan negara pada TA. 2008 diarahkan pada kapabilitas

pertahanan, peningkatan jumlah dan kondisi kesiapan operasional

pertahanan, modernisasi alutsista serta teknologi dan industri

pertahanan dalam negeri. Sampai pada TA. 2010 ini alokasi

anggaran pertahanan sedikit naik dan menduduki tiga besar, namun

masih jauh dari alokasi anggaran untuk mendukung kemampuan

kekuatan pertahanan negara minimum (Minimum Essential

Forces/MEF). Hingga saat ini, selain jumlah maupun kandungan

teknologi alutsista masih di bawah standar penangkalan, juga

kualitas SDM dan tingkat kesejahteraannya masih rendah. Di

samping itu, kebutuhan pemenuhan, pemeliharaan maupun suku

12

cadang alutsista masih bergantung pada negara-negara lain.

Tantangan pembangunan nasional, seperti digambarkan di atas

berimplikasi terhadap pelaksanaan pembangunan sektor pertahanan

negara yang hingga sekarang belum mampu mencapai kekuatan

pertahanan minimum. Kondisi tersebut berdampak terhadap

kemampuan dan profesionalisme TNI dalam melaksanakan

fungsinya sebagai kompoen utama sispertahanan negara.

Perubahan geopolitik global, yang ditandai dengan

menguatnya pendekatan unilateralisme berdampak terhadap

berkembangnya doktrin pertahanan serangan pre-emptive, yang

dapat menembus batas-batas yurisdiksi suatu negara di luar

kewajaran hukum internasional. Selain itu, menguatnya

kemampuan militer negara tetangga yang secara signifikan

melebihi kemampuan pertahanan kita telah melemahkan posisi

tawar dalam diplomasi internasional. Tantangan utama yang

harus dihadapi Indonesia pada masa yang akan datang adalah

membangun kekuatan pertahanan negara di atas kekuatan

pertahanan minimal sehingga memiliki nilai efek penangkalan di

kawasan regional maupun internasional.

Tantangan berikutnya dalam pembangunan pertahanan

negara yaitu tuntutan kebutuhan untuk membangun TNI yang

profesional sehingga menjadi kekuatan nasional yang mampu

mengemban fungsinya di era globalisasi dengan hakikat ancaman

yang semakin kompleks. Usaha pertahanan untuk menjaga

13

kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI serta menjamin

keselamatan bangsa dari setiap ancaman akan sangat berat

dilakukan tanpa didukung oleh alutsista yang modern. Oleh karena

itu, tantangan dalam membangun TNI yang profesional pada

hakikatnya adalah membangun kemampuan pertahanan negara

dengan meningkatkan jumlah dan kondisi alutsista TNI untuk

mencapai kekuatan pokok minimum sesuai dengan kemajuan

teknologi.

Kondisi riil TNI saat ini harus diakui masih berada di

bawah standar profesionalisme. Kekuatan TNI dari segi alutsista

masih diperhadapkan dengan kondisi keterbatasan dan kekurangan

dari segi jumlah dan ketidaksiapan sebagai akibat alutsista yang

ada saat ini umumnya merupakan aset yang sudah ketinggalan

teknologi, sementara proses regenerasi berjalan sangat lambat.

Dalam rangka itu, membangun TNI yang profesional bukan saja

kebutuhan TNI semata, tetapi juga menjadi kebutuhan seluruh

bangsa Indonesia dalam mengangkat posisi tawar Indonesia

menghadapi ketatnya persaingan di era globalisasi.2

2.1.3. Hakikat dan Tujuan Pertahanan Negara

Pertahanan negara pada hakikatnya merupakan segala

upaya pertahanan yang bersifat semesta, yang penyelenggaraannya

2

Ibid, hal. 99-101

14

didasarkan pada kesadaran akan hak dan kewajiban seluruh warga

negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri untuk

mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia

yang merdeka dan berdaulat. Kesemestaan mengandung makna

pelibatan seluruh wilayah negara sebagai satu kesatuan pertahanan

yang utuh dan menyeluruh.

Upaya pertahanan yang bersifat semesta adalah model yang

dikembangkan berdasarkan pertimbangan strategis bukan karena

alasan ketidakmampuan dalam membangun pertahanan yang

modern. Meskipun Indonesia telah mencapai tingkat kemajuan

yang cukup tinggi, model tersebut tetap dikembangkan dengan

menempatkan warga negara sebagai subyek pertahanan negara

sesuai dengan perannya masing-masing. Sistem pertahanan negara

yang bersifat semesta bercirikan kerakyatan, kesemestaan dan

kewilayahan. Ciri kerakyatan mengandung makna bahwa orientasi

pertahanan diabadikan oleh dan untuk kepentingan seluruh rakyat.

Ciri kesemestaan mengandung makna bahwa seluruh sumber daya

nasional didayagunakan bagi upaya pertahanan. Ciri kewilayahan

merupakan gelar kekuatan pertahanan yang tersebar di seluruh

wilayah NKRI, sesuai dengan kondisi geografi sebagai satu

kesatuan pertahanan.

Pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi

kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan

segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. Tujuan pertahanan

15

negara dalam menjaga kedaulatan negara mencakup upaya untuk

menjaga sistem ideologi negara dan sistem politik negara. Dalam

menjaga sistem ideologi negara, upaya pertahanan negara

diarahkan untuk mengawal dan mengamankan Pancasila sebagai

dasar negara dan falsafah bangsa Indonesia. Sedangkan dalam

menjaga sistem politik negara, upaya pertahanan negara diarahkan

untuk mendukung terwujudnya pertahanan negara yang

demokratis, stabil, bersih dan berwibawa memungkinkan

terselenggaranya pembangunan nasional dengan baik.3

2.1.4. Postur Pertahanan Negara (Militer)

Postur Pertahanan Negara meliputi Postur Militer (TNI)

dan Postur Pertahanan Nirmiliter. Postur Militer secara organisasi

terdiri atas TNI AD, TNI AL, TNI AU, Mabes TNI dan Kemhan.

Kelima kelompok organisasi tersebut dalam penganggaran

pertahanan, masing-masing adalah unit organisasi (UO) yang

mengelola anggaran pertahanan dalam sektornya masing-masing.

Gambaran tentang kekuatan pertahanan militer yang disusun dalam

kekuatan personel, organisasi dan alutsista.

Kekuatan personel prajurit TNI pada tahun 2007 berjumlah

413.959 personel (lihat Tabel 2.1). Kekuatan pertahanan militer

yang ada di Dephan berjumlah 1.117 personel TNI yang

melaksanakan fungsi pemerintahan di bidang pertahanan negara

bersama-sama dengan 4.292 personel PNS Kemhan. Dalam

3

Ibid, hal 43-44

16

kerangka postur pertahanan negara, pencantuman Dephan dalam

uraian postur pertahanan negara didasarkan atas penggunaan

anggaran pertahanan, khususnya belanja personel (gaji dan

tunjangan) serta biaya pemeliharaan dan operasional.

Sementara pencantuman Mabes TNI dalam postur pertahanan

negara didasarkan pada statusnya sebagai pengguna anggaran

pertahanan, yakni belanja personel (penghasilan dan tunjangan

prajurit), biaya pemeliharaan dan operasional serta belanja modal

untuk alutsista (khususnya Kohanudnas dan Bais TNI).

Tabel 2.1. Kekuatan Personel TNI

ANGKATAN JUMLAH

KETERANGAN

TNI AD

317.273

Termasuk personel TNI AD di Dephan, Mabes TNI dan

Dep/LPND

TNI AL

62.556

Termasuk personel TNI AL di Dephan, Mabes TNI dan

Dep/LPND

TNI AU

34.130

Termasuk personel TNI AU di Dephan, Mabes TNI dan

Dep/LPND

Jumlah

413.959

Sumber : Dephan RI, Postur Pertahanan Negara (2007, 43)

a.

Kekuatan dan Kesiapan Alutsista TNI AD

Pengorganisasian kekuatan TNI AD disusun dalam

tiga kategori kekuatan, yakni kekuatan terpusat kekuatan

kewilayahan dan satuan pendukung. Kekuatan terpusat

terdiri dari 1 komando Cadangan Strategis Angkatan Darat

(Kostrad) dan 1 Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Kostrad adalah keuatan terpusat TNI AD, yang terdiri dari

Satuan Tempur (Satpur), Satuan Bantuan Tempur

17

(Satbanpur) dan Satuan Bantuan Administrasi (satbanmin)

yang diorganisasikan ke dalam Satpur, Satbanpur dan

Satbanmin. Selengkapannya pengorganisasian Kostrad

terinci pada Tabel 2.2.

Kopassus adalah kekuatan terpusat TNI AD yang

tersusun dalam kesatuan-kesatuan yang disebut Grup yang

terdiri atas : 1 Markas Komando Pasukan Khusus

(Makopassus); 2 Markas Grup (Magrup) Para Komando

(Parako); 1 Magrup Sandi Yudha (Sanda); 1 Magrup

Penanggulangan Teroris (Magrupgultor); 1 Pusdik

Koppassus; 6 batalyon Para Komando (Yon Parako); 3 Yon

Sanda; 2 Batalyon Khusus (Yonsus) dan 1 Detasemen

Teknik (Dennik).

Tabel 2.2. Pengorganisasian Kostrad

Satuan

Divisi

Brig/Men

Yon

Personel

Materil/

Alutsista

Satpur

2 Divif

6 Brigif

18 Yonif

97 %

60 %

Satbanpur

2

Menarmed

6 Yonarmed

2 Yonkav

2 Yonarhanudri

2 Yonzipur

97 %

60 %

Satbanmin

2 Yonbekang

1 Yonkes

97 %

60 %

Sumber : Dephan RI, Postur Pertahanan Negara (2007, 45)

Kondisi personel Kopassus terisi 100% TOP.

Kondisi materiil (alutsista) Kopassus sekitar 60% (diukur

dari ukuran ideal kelayakan materiil dalam mendukung

pencapaian tugas pokok Kopassus. Apabila dihadapkan

18

dengan perkembangan teknologi militer, alutsista Kopassus

banyak yang sudah ketinggalan (out of date). Sementara

kekuatan satuan kewilayahan TNI AD (12 Kodam dan 43

Korem), kondisi personel berkisar 92% dan 97%,

sedangkan kondisi kesiapan alutsista rata-rata 40%.4

b.

Kekuatan dan Kesiapan Alutsista TNI AL

Kekuatan TNI AL disusun dalam Sistem Senjata

Armada Terpadu (SSAT) yang terdiri dari KRI, KAL,

Pesawat udara, Marinir dan Pangkalan. Kekuatan SSAT

yang diawaki 62.556 personel TNI AL dan 8.840 PNS

dengan kesiapan alutsista berkisar 52%-82% seperti

tergambar dari Tabel 2.3.

Tabel 2.3 . Sistem Senjata Armada Terpadu TNI AL

SSAT

UNIT

KESIAPAN

(%)

KETERANGAN

KRI

143

65

35% tidak layak

operasional

KAL

312

82

Pesawat udara

68

52

48% tidak layak

terbang

Marinir

2 Pasmar

1 Brigif

1 Kolat

1 Denjaka

55

Dilengkapi dengan

429 Ranpur dan 42

pucuk meriam

Pangkalan

Lanal

11

Lantamal

(Lanal klas A)

22 Lanal klas B

20 Lanal klas C

60

60

4

Dephan RI, Postur Pertahanan Negara (2007, 47-48)

19

3 Lanal khusus

Labudal

1 Klas “A”

7 Klas “B”

2 Klas “C”

Fasharkan

6 Klas “A”

4 Klas “B”

2 klas “C”

Pangkalan Mar

2 Pangkalan

60

60

KRI

KAL

PESAWAT

UDARA

RANPUR

MARINIR

1 Kapal MA

16 PK

12 PKR

2 SS

4 KCR

2 KCT

40 PC

6 PR

2 BR

28 AT

2 ASG

5 BCM

2 BTD

5 BHO

3 BU

5 BAP

5 CAP

1 BRS

2 LAT

KAL : 312 buah

berbagai macam

jenis dan ukuran

1 Buffalo DHC-

5D

13 Cassa NC-

212

3 Cassa NC-

212-200

22 Nomad N-

22/24

2 Bonanza F-

33A

3 Tampico TB-9

4 Tabago TB-10

5 N Bell-412

8 Bolcow BO-

105

3 Colibri EC-

120

68 Tank PT-76

54 Tank

PTRecovery

BREM-2

25 Pansam AMX-

10P

25 Pansam BTR-

50 P

69 Pansam BTR-

50P (M)

34 Pansam BTR-

50 PK

5 Kapa K-61 (R)

26 Kapa K-61 (R)

9 Kapa PTS

8 Pansrod BTR-

152

12 BTR-80A

29 KPR BM-14/17

1 Sizu NA-140

21 BVP-2

2 VPV/Rec

6 Rocket RM70/85

Grad long Cal 122

mm

22 Pintam BRDM

Sumber : Dephan, Postur Pertahanan Negara (2007; 49-50)

20

c.

Kekuatan dan Kesiapan Alutsista TNI AU

TNI AU terdiri dari Skadron Udara, Satuan Radar,

Satuan Rudal, Pasukan Khas (Paskhas), Pangkalan Udara

(Lanud), Detasemen dan Pos. Skadron Udara terdiri atas

Skadron Tempur, Skadron Angkut, Skadron Intai, Skadron

Helikopter dan Skadron Latih. TNI AU memiliki 18

Skadron Udara dengan berbagai tipe pesawat, 17 Skadron

Radar Hanud, 1 Sat Rudal QW-3, Korpaskhas membawahi

3 Wing, 6 Skadron Flight, 1 Den Bravo dan 1 Den Walkol.

Pangkalan Udara TNI AU terdiri dari : Komando

Operasi Angkatan Udara (Koopsau I) meliputi 2 Lanud

Tipe “A”, 5 Lanud Tipe “B”, 8 Lanud Tipe “C”, 4 Lanud

Tipe “D”, 2 Wing Udara, 3 Skadron Teknik, 5 Detasemen

dan 40 Pos TNI AU ; Koopsau II terdiri atas 3 Lanud

Lanud Tipe “A”, 1 Lanud Tipe “B”, 12 Lanud Tipe “C”, 4

Lanud Tipe “D”, 3 Wing Udara, 3 Skadron Teknik, 4

Detasemen dan 37 Pos TNI AU; Komando Pendidikan TNI

AU (Kodikau) (1 Lanud Tipe “A”, 2 Lanud Tipe “B”, 2

Wing Dik, 1 Detasemen dan 1 Pos TNI AU.

21

Tabel 2.4. Kekuatan TNI AU

JENIS

UNIT

KEKUATAN

KESIAPAN

(%)

KET

Skadron

7 Skadron Tempur

5 Skadron Angkut

1 Skadron Intai

3 Skadron Heli

2 Skadron Ltaih

74 psw

49 psw

3 psw

49 psw

57 psw

42

62

33

70

58

Satrad

17 Satrad Hanud

94

Korpaskhas

3 Wing

6 Skadron

6 Flight

2 Den

70

70

70

70

Lanud

6 Tipe “A”

8 Tipe “B”

20 Tipe “C”

8 Tipe “D”

75

70

70

70

Detasemen

9 Den

70

Pos

78 Pos

70

Sumber : Dephan, Postur Pertahanan Negara (2007; 51)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->