Aplikasi Mikroorganisme Selulolitik Dan Pengujian Kebutuhan Air Pada Pembibitan Kelapa Sawit Di Tanah Gambut Application of Cellulolytic

Microorganism and Necessity of Water Testing on the Growth of Seeding Oil Palm in Peat Soil

Gusmawartati dan Wardati Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau Kampus Binawidya Km 12,5 Simp. Baru Pekanbaru 28293 ABSTRACT One effort to get a good oil palm seeding and quality is through the nursery, where the soil as the growing medium should be able to provide optimal nutrients for seeding growth. Land that is still stretching and enough potential to be developed into plantation land is peat land. One of the alternatives in the utilization of peat land is to utilize the soil microorganisms which cellulolitic microorganisms is one type of soil microorganisms that play a role in the reform process of organic materials through enzymatic hydrolysis with celulase enzymes as catalysts. The research was conducted at an area with peat soil as growth media was taken from desa Rimbo Panjang Kab. Kampar Province of Riau by Factorial Completely Randomized Design with three replication. The first factor consist of: 0, 10, 20 and 30 (ml/polybag) of cellulolytic mikrorganism. The second factor consist of: 2, 3 and 4 (times/day) watering. The result showed that using cellulolytic microorganism with frequwency of watering can improve peat soi fertilizers and increase nutrient up-take of N,P,K. using 20 ml of cellulolytic microorganism with several frequency of watering create the best growth of oil palm seed that is 28% of average increment of tall of plant and 27% of average stem around accorded to standard of seed growth from PPKS. Using cellulolytic microorganism only increase 14% of average tall of plant and 13% of average stem around, whereas frequency of watering only can’t increase growth of oil palm seed, number of leaf still under standard of oil palm seed of growth accorded to PPKS.

Key words: Cellulolytic Microorganisms, Watering, Oil Palm, Peat Soil, Nursery

1

Hal ini merupakan salah satu faktor pembatas dalam pengembangan usaha pertanian. Top soil merupakan tanah yang subur dan ketersediaannya akhir-akhir ini semakin berkurang. Komponen terbesar dari kayu- 2 . dimana selama pembibitan media tumbuh tanaman harus dapat menyediakan unsur hara secara optimal bagi pertumbuhan bibit.9 ton CPO (Crude Palm Oil) per ha per tahun yang masih jauh dari potensi hasil yaitu 5 – 7 ton CPO/ha/tahun (Dirjen Bina Produksi Perkebunan. Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut di Indonesia sangat besar karena menurut Najiyati dkk (2005) Indonesia mempunyai tanh gambut seluas 17. Menurut Andriesse (2007) diantara sifat inheren yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan. sehingga perlu dicari solusi penganti top soil tersebut sebagai media pembibitan. Pada tahun 2008 luas perkebunan kelapa sawit di Propinsi Riau mencapai 1. Menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (2005) media tanam yang biasa digunakan dalam pembibitan kelapa sawit adalah top soil dengan ketebalan 10 – 30 cm. dengan produksi rata-rata 2. Perkembangan ilmu Bioteknologi Tanah menawarkan suatu pendekatan baru dalam usaha pengelolaan tanah gambut untuk memanfaatkan mikroorganisme tanah. Keberhasilan penanaman di lapangan dan produksi tanaman kelapa sawit sangat tergantung dari kualitas bibit yang digunakan.2 juta ha yang tersebar di pulau Sumatera. 2009). Rusia dan Amerika Serikat. hal ini cerminan dari dukungan Pemerintah Daerah Riau dalam pengembangan sektor perkebunan dengan kelapa sawit sebagai komoditi utama.PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia saat ini. Kalimantan dan Irian Jaya sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara yang mempunyai cadangan gambut terbesar keempat di dunia setelah Kanada. Upaya mendapatkan bibit yang baik adalah melalui pembibitan. 2009).64 juta ha atau lebih kurang 27 % dari total luas perkebuan sawit di Indonesia ( Dinas Perkebunan Provinsi Riau. sehingga tanah-tanah marginal seperti gambut dapat digunakan sebagai alternatif untuk dimanfaatkan dalam pengembangan lahan pertanian termasuk sebagai media pembibitan.

BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan di kebun masyarakat. Sahar Hanafiah dkk (2007) menggunakan baskom berisi air sebagai wadah polybag pembibitandalam upaya mengkondisikan tanah gambut seperti di lapangan. kel.kayuan adalah selulosa yang sulit untuk didekomposisi. Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Riau mulai Mei 2011 sampai oktober 2011. Baru Kec.500) sehingga perlu dicarikan solusi pengaturan air di pembibitan agar bibit kelapa sawit dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. 3 . Simp. Penelitian ini bertujuan menentukan kebutuhan air optimal dengan menggunakan mikroorganisme selulolitik untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada media tanam tanah gambut. Akan tetapi dengan keberadaan sifat fisik yang lain seperti porositasnya yang tinggi dan kering tidak balik menyebabkan pengelolaan air pada tanah gambut menjadi faktor pembatas untuk usaha pertanian. Laboratorium Biologi . Tampan Pekanbaru. Tanah gambut sebenarnya merupakan tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman bila ditinjau dari kapasitas memegang air yang lebih tinggi dari tanah mineral sehingga tanaman bisa berkembang lebih cepat. Mikroorganisme Selulolitik (MOS) mempunyai kemampuan tumbuh pada selulosa dan dapat mendekomposisi bahan-bahan selulosa tersebut.000 – 12. Mengacu pada kenyataan di atas maka perlu kajian yang terinci dan terarah secara bertahap dan berkalanjutan tentang ”Aplikasi Mikroorganisme Selulolitik Dan Pengujian Kebutuhan Air Pada Pembibitan Kelapa Sawit Di Tanah Gambut”. Mengingat bibit yang dibutuhkan untuk satu hektar lahan cukup besar (25. Selama ini belum ditemukan data tertulis mengenai tata air pada tanah gambut di pembibitan kelapa sawit.

yang disusun secara faktorial yaitu: Faktor S: pemberian mikroorganisme selulolitik dengan 4 taraf : (tanpa pemberian mikroorganisme selulolitik. Tanah. 3 dan 4 kali sehari) Perbanyakan isolat dilakukan di Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Riau. Dua hari sebelum tanam media tanah gambut di dalam polybag pembibitan diberi furadan berupa insektisida untuk membunuh semut (hama-hama yang ada pada media tanam). diusahakan tidak mengenai akar dan bongkahan tanah jangan sampai pecah. pemberian mikroorganisme selulolitik 10.50 % kemudian dibersihkan dari sisa-sisa akar dan rumput selanjutnya tanah ditimbang masing-masingnya 6. Medium tanam berupa tanah gambut diambil dari desa Rimbo Panjang kabupaten Kampar dengan tingkat kematangan saprik. Selanjutnya polybag kecil dikoyak/disayat. 1970). kemudian bibit ditanam ke dalam polybag besar. Sebelum dilakukan penanaman tanah di dalam polybag disiram sampai kapasitas lapang.Metode Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Teknik pengambilannya secara komposit hingga kedalaman 30 cm sehingga dapat mewakili daerah tersebut. abu diaduk merata kemudian dimasukkan kedalam polybag yang telah disediakan yang berukuran 40 x 50 cm. 4 .5 kg / polybag. Perbanyakan isolat mikroorganisme selulolitik terpilih (JS34B. Tanah gambut yang diambil dikeringanginkan selama 3 hari sehingga kadar airnya 54. BS28E dan AS36A) dilakukan pada media cair selulosa agar (Aaronson. 20 dan 30 ml/polybag) dan FaktorA: frekwensi pemberian air dengan 3 taraf (penyiraman 2. sebelumnya bibit pada polybag kecil disiram terlebih dahulu sampai jenuh air. Kemudian dilobangi di tengah permukaan tanah sebesar ukuran polybag kecil menggunakan pipa paralon 3 inci untuk memudahkan lobang tanam. pupuk kandang.

P dan K. Jumlah Daun (helai) dan Lingkar Bonggol (cm) HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tanah Tabel 1.Pengamatan Untuk analisis tanah dan jaringan tanaman meliputi kadar hara N.15 3.00 146. Adapaun parameter tanaman yang diamati adalah: Tinggi Bibit (cm).88 42.8 26. berdasarkan kriteria secara umum menurut Balai Penelitian Tanah.30 0. 5 .64 28 4.39 54. Hasil Analisis Kimia Tanah Gambut Ciri Kimia pH H2O C-organik (%) N total (%) C/N P2O5 K2O KTK (me /100 g tanah) Ca-dd (me /100 g tanah) Mg-dd (me /100 g tanah) K-dd (me /100 g tanah) Na-dd (me /100 g tanah) Kejenuhan Basa (%) pH tanah setelah inkubasi Hasil Analisis 4.35 14.38 0.60 0.7 36.9 Kriteria Masam Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sedang Sangat tinggi Tinggi Tinggi Sedang Sedang Rendah Masam Tabel 1 menunjukkan data hasil analisis pendahuluan terhadap sifat kimia tanah gambut.

Kandungan P2O5 tanah gambut tergolong sangat tinggi sedangkan K2O tanah gambut tergolong sedang.Bogor. Sel-sel baru yang terbentuk merupakan akumulasi cadangan unsut hara di dalam tanah. Oleh karena itu diharapkan dengan adanya mikroorganisme selulolitik (MOS) dapat membantu perombakan bahan organik sehingga unsur hara dapat tersedia bagi tanaman.35 me /100 g tanah. Selama proses dekomposisi berlangsung penguraian senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa-senyawa sederhana berupa kation-kation basa seperti K. KTK yang tinggi ini disebabkan oleh banyaknya kandungan asam-asam organik pada tanah tersebut. Tanah gambut Kebun Percobaan Gambut Fakultas Pertanian Universitas Riau memiliki pH masam yaitu 4.38 me /100 g tanah (tinggi). 0. Menurut Sugito dkk (1995) bahwa oksidasi senyawa-senyawa yang mengandung karbon organik merupakan sumber energi bagi mikroorganisme heterotrof untuk sintesis sel-selnya. Nilai KTK tanah yang tinggi ini diikuti pula oleh rendahnya kejenuhan basa (KB) yaitu sebesar 28 %. 2010.60%.64 me /100 g tanah (sedang).88 % dan 36. Kandungan N total dan Corganik tanah tergolong sangat tinggi yaitu masing-masing 0. Tingginya nisbah C/N yaitu 42. hanya saja sebahagiannya dalam bentuk organik sehingga memerlukan proses dekomposisi untuk dapat dimanfaatkan tanaman. 3. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Noor (2002) bahwa kadar nitrogen pada tanah gambut relatif tinggi. Ca maupun Mg. Kandungan basa-basa tersedia pada tanah gambut yaitu Ca-dd . 0. Nilai KB yang rendah akan menghambat pertumbuhan tanaman karena penyediaan hara bagi tanaman menjadi rendah.15 me /100 g tanah (tinggi).30 me /100 g tanah (sedang).7 hal ini disebabkan oleh kandungan asam-asam organik yang terdapat pada koloid gambut. Nilai kapasitas tukar kation (KTK) tanah gambut tergolong sangat tinggi yaitu 54.00 diakibatkan kandungan N total yang tidak diikuti oleh tingginya ketersediaan N bagi tanaman. Karakteristik tanah seperti yang tersebut di atas menyebabkan ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman rendah sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. K-dd dan Na-dd secara berturut –turut 14. 6 . Mg-dd.

80 2.73 0.58 3.22 2.Kadar Hara Tanaman Tabel 2.46 2.32 3.32 P 0.80 1.09 0.10 0.13 0.10 0.75 0. membentuk zat hijau daun yang sangat berguna dalam kegiatan fotosintesis.80 Dalam pertumbuhan tanaman unsur N mempunyai peranan yang sangat penting dalam merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan baik batang. Hal ini diduga dengan tidak adanya mikroorganisme selulolitik yang ditambahkan ke dalam tanah gambut mengakibatkan proses dekomposisi bahan organik menjadi lambat sehingga ketersediaan haranya rendah begitu juga dengan nitrogen belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh tanaman karena sebagian besar masih dalam bentuk organik dan 7 . Tabel 2 memperlihat bahwa kadar unsur hara N pada pembibitan kelapa sawit umur 12 bulan telah mencukupi kebutuhan nitrogen bagi pertumbuhan tanaman kecuali pada perlakuan tanpa pemberian mikroorganisme selulolitik dengan penyiraman 2 kali sehari kadar unsur hara nitrogennya hanya 2.18 0.24 1. Hasil Analisis N.22 0. P dan K Tanaman Kelapa Sawit pada Umur 12 bulan Kombinasi Perlakuan S0A2 S0A3 S0A4 S1A2 S1A3 S1A4 S2A2 S2A3 S2A4 S3A2 S3A3 S3A4 N 2.22 0.88 0.36 4.09 0.36 0.98 1.98 2.18 3.98 3.44 3.31 0.98 0.67 0.18% (terendah) menunjukkan batas defisiensi nitrogen berdasarkan standar kadar hara daun kelapa sawit dari PPKS (Lampiran 3).06 K 0.67 0.24 0. cabang atau daun tanaman.17 0.11 2.22 0.

dan pertambahan luas daun. akar akan tumbuh relatif lebih lambat. Tabel 2 diatas juga memperlihatkan kandungan unsur hara fosfor rata-rata berada pada batas optimum kebutuhan tanaman sawit (Lampiran 3) kecuali pada perlakuan pemberian mikroorganisme selulolitik 30 ml/polibag mengalami defisiensi pada semua perlakuan penyiraman dimana semakin sering frekwensi penyiraman yang dilakukan maka defisiensi fosfor juga akan semakin berat.mengemukakan bahwa unsur N juga berperan dalam merangsang pertumbuhan vegetatif. Sebaliknya terhadap unsur K. Hal ini terjadi erat kaitannya dengan kelarutan unsur hara akibat ketersediaan air yang cukup. Selanjutnya Sutarta dkk (2001). kandungan K tanaman secara keseluruhan semua kombinasi perlakuan menunjukkan bahwa defisiensi K semakin berat dengan semakin seringnya dilakukan penyiraman pada pembibitan sawit di tanah gambut. Disini terlihat bahwa frekwensi penyiraman berkorelasi negatif dengan defisiensi hara. Tanaman yang mengalami kekahatan P akan tumbuh kerdil dengan pelepah yang pendek dan bentuk batang meruncing. membantu metabolisme karbohidrat dan tanaman lebih tahan terhadap gangguan hama dan penyakit. kerdil. semakin sering disiram maka kondisi media tanam akan selalu lembab terutama pada tanah gambut yang mempunyai porositas tinggi. 8 . gejala pada daun sangat beragam beberapa tanaman menunjukkan warna hijau tua mengkilap yang tidak normal (Darmosarkoro. 2003). Unsur P juga membantu dalam pembentukan buah dan biji. Menurut Hardjowigeno (2010) bahwa unsur P membantu dalam pembelahan sel. dan pelepah yang pendek. mempercepat perkembangan perakaran serta mempengaruhi proses penyerapan hara lainnya. Gejala defisiensi P pada tanaman kelapa sawit sebenarnya tidak mudah terlihat. perkembangan akar terhambat. tetapi batang tanaman dapat menunjukkan bentuk piramid. penyusun klorofil. sehingga pertumbuhan bagian atas tanaman diantaranya daun juga lambat. Menurut Sukarji dkk (2008) bila kadar N dalam tanah rendah.diikuti dengan ketersediaan air yang kurang yaitu hanya 2 kali penyiraman sehari menyebabkan kelarutan unsur hara rendah. mempercepat pematangan.

Secara lebih rinci pengaruh pemberian mikroorganisme selulolitik dan frekwensi pemberian air terhadap tinggi bibit kelapa sawit disajikan pada Tabel 3. Tanaman menyerap K dalam bentuk K+ berperan dalam metabolisme karbohidrat . Peningkatan penyiraman menjadi 3x sehari diikuti oleh penambahan dosis mikroorganisme selulolitik (20 dan 30 ml/polibag) nyata memberikan tinggi bibit lebih baik dari pada pemberian 10 ml/polibag mikroorganisme selulolitik. 2010). dibanding kation lain unsur K lebih mudah hilang akibat pencucian (Nyakpa dkk. membantu proses metabolik dalam sel.33% bila dibandingkan dengan tanpa pemberian mikroorganisme selulolitik. begitu juga dengan faktor tunggal pemberian mikroorganisme selulolitik . mencerminkan pertambahan protoplasma sel. Tinggi Tanaman Tinggi tanaman merupakan salah satu pengukuran yang dapat digunakan dalam menentukan pertumbuhan suatu tanaman. penambahan dosis mikroorganisme selulolitik 9 . Fungsi K yang lain adalah membantu proses membuka dan menutupnya stomata yaitu mengatur pernapasan dan penguapan (Hardjowigeno. Pemberian berbagai dosis mikroorganisme selulolitik dengan 2x kali penyiraman nyata meningkatkan tinggi bibit kelapa sawit rata-rata 28. Unsur K merupakan unsur yang jumlahnya terbatas dibagian tanaman karena selalu ditarnslokasikan ke jaringan yang lebih muda.Kalium mempunyai peranan utama dalam mengaktifkan enzim-enzim dan proses fisiologis lainnya. nitrogen dan sintesis protein. 1988). sebaliknya bila penyiraman ditingkatkan menjadi 4x sehari cenderung menurunkan tinggi bibit. mempercepat meristematik dan mengatur membuka dan menutupnya stomata. mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain dan dapat mempertinggi daya tahan terhadap kekeringan dan penyakit. Tabel 3 memperlihatkan bahwa pemberian beberapa dosis mikroorganisme selulolitik dan beberapa kali penyiraman berpengaruh nyata terhadap tinggi bibit kelapa sawit.

00 a Rerata 164.00 cd 194.Tabel 3. Bila kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi secara optimal maka peningkatan pertumbuhan tanaman akan maksimal karena laju fotosintesis 10 .33 bcd 165.33 abc 198.67 ab 177. FREKUENSI AIR 2x 146.22 b Hal ini menunjukkan bahwa proses dekomposisi tanah gambut berjalan lancar dengan adanya mikroorganisme selulolitik yang diberikan sehingga terjadi pelepasan hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk pertumbuhananya. Lakitan (2004) menjelaskan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman terjadi oleh peristiwa pembelahan dan pemanjangan sel tanaman yang didominasi pada daerah meristematik yaitu pada ujung pucuk dan akar tanaman.61 a 174.33 abc 177.33 abc 177.67 b 171. Disini terjadi interaksi positif antara pemberian mikroorganisme selulolitik dan ketersediaan air pada tanah gambut.08 a 4x 176.66 % Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT taraf 5%. Air merupakan bagian terbesar penyusun tanaman. Kandungan air tanah akan mempengaruhi penyerapan unsur hara oleh tanaman.63 a 3x 171.00 bcd 152.67 cd 169.33 d 173.00 abc 170. Sugito dkk (1995) mengatakan bahwa oksidasi senyawa-senyawa yang mengandung karbon organik merupakan sumber energi bagi mikroorganisme heterotrof untuk sintesis sel-selnya. Hal ini tercermin dari analisis jaringan tanaman (Tabel 2) bahwa kadar hara di daun tanaman kelapa sawit umur 12 bulan rata-rata pada kisaran optimum sampai tinggi. Rerata Pengaruh Pemberian Mikroorganisme Selulolitik dan Frekwensi Pemberian Air TerhadapTinggi Bibit Kelapa Sawit Umur 12 bulan dengan Media Tanam Tanah Gambut. Sel-sel baru yang terbentuk merupakan akumulasi cadangan unsur hara di dalam tanah. MIKRO ORGANIME 0 10 20 30 Rerata KK = 7.17 a 192.67 ab 177.78 b 187.

meningkat sehingga fotosintat yang dihasilkan juga meningkat. Tanaman yang mengalami kekurangan air. dimana mikroorganisme yang diberikan dapat bekerja optimal dalam penyediaan unsur hara bagi pertumbuhannya maupun akar tanaman dimana tidak terjadi persaingan nutrisi maupun ruang antara sesama mikroorganisme maupun dengan akar tanaman. dimana selama masa pertumbuhan dan perkembangan tanaman. maka fotosintat yang dihasilkan juga tidak maksimal. Selama proses dekomposisi terjadi fluktuasi berbagai jenis mikroorganisme perombak. namun bila dosisnya ditingkatkan menjadi 30 ml/polibag tinggi tanaman menurun secara nyata rata-rata 8%. turgor pada sel tanaman menjadi kurang maksimum akibatnya penyerapan hara dan pembelahan sel menjadi terhambat.22 cm merupakan tinggi terendah pada pemberian mikroorganisme selulolitik. Hal ini disebabkan karena penambahan dosis pemberian mikroorganisme selulolitik menyebabkan jumlah mikroorganisme perombak bertambah sehingga akan terjadi persaingan unsur hara baik sesama mikroorganisme maupun dengan akar tanaman. Akibatnya penyerapan unsur hara oleh tanaman menjadi tidak optimal. Gusmawartati dkk (2011) mendapatkan dosis optimum pemberian mikroorganisme selulolitik pada tanaman bawang merah yang ditanam di lahan gambut kebun percobaan gambut Faperta Unri adalah 10 ml.61cm dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. 11 . Diduga bahwa pemberian mikroorganisme selulolitik 20 ml/plot merupakan dosis optimum bagi pertumbuhan tinggi tanaman. mikroorganisme perombak bekerja secara berkesinambungan dan bersinergis. Tabel 3 juga memperlihatkan bahwa pemberian mikroorganisme selulolitk berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Pemberian mikroorganisme selulolitik 20 ml/plot menunjukkan tinggi tanaman yang tertinggi yaitu 187. Jika peningkatan dosis pemberian mikroorganisme selulolitik hingga 30 ml/plot memberikan hasil tinggi tanaman 174.

00 17.55 17.33 19.55 18.66 18.00 17.66 17.66 17.91 FREKUENSI AIR 3x 17.Jumlah Daun Tabel 4 menunjukkan bahwa peningkatan dosis mikroorganisme selulolitik dan frekuensi penyiraman maupun faktor tunggalnya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman kelapa sawit umur 12 bulan.91 17.00 17. Sedangkan frekuensi penyiraman secara tunggal menghasilkan jumlah daun dibawah standar pertumbuhan kelapa sawit dari PPKS hal ini cerminan bahwa Tabel 4. Hal senada juga dikemukakan oleh Dartius (1993) bahwa secara empiris faktor genetik berperan besar terhadap pertumbuhan tanaman. MIKRO ORGANIME 0 10 20 30 Rerata KK = 7.66 17. Menurut Martoyo (2001) bahwa respon pupuk terhadap pertambahan jumlah daun pada umumnya kurang memberikan gambaran yang jelas.11 17.33 17. karena pertumbuhan daun erat hubungannya dengan umur tanaman dan faktor genetik.41 4x 17. Hal ini diduga disebabkan oleh faktor genetik tanaman yang lebih dominan dalam mempengaruhi pertumbuhan dibandingkan akibat pemberian perlakuan.33 18.33 17. Rerata Pengaruh Pemberian Mikroorganisme Selulolitik dan Frekwensi Pemberian Air Terhadap Jumlah Daun Bibit Kelapa Sawit Umur 12 Bulan dengan Media Tanam Tanah Gambut. Namun kombinasi pemberian mikroorganisme selulolitik dan frekuensi penyiraman serta faktor tunggal pemberian mikroorganisme selulolitik cenderung menghasilkan jumlah daun sama bahkan ada yang melebihi standar pertumbuhan jumlah daun tanaman kelapa sawit umur 12 bulan dari PPKS.27 % 2x 18.77 Rerata 12 .00 17.

Menurut Harjadi (1996) bahwa jumlah daun berkaitan erat dengan tinggi tanaman.ketersediaan hara pada tanah gambut rendah baik makro maupun mikro meski ketersediaan air bagi tanaman tercukupi tanpa tambahan hara pertumbuhan tamanan tidak akan optimal. berpengaruh nyata terhadap lingkar bonggol bibit kelapa sawit pada umur 12 bulan. karena fotosintat yang dihasilkan digunakan tanaman dalam proses pembelahan dan deferensiasi sel seperti pertambahan jumlah daun tanaman. Dari hasil penelitian ini terlihat adanya korelasi positif antara tingi tanaman (Tabel 3) dan jumlah daun (Tabel 4) dimana semakin tinggi bibit maka jumlah daun yang terbentuk juga akan semakin banyak. Lingkar Bonggol Hasil pengamatan terhadap lingkar bonggol bibit kelapa sawit setelah dianalisis secara statistik menunjukkan bahwa pemberian beberapa dosis mikroorganisme selulolitik dan beberapa kali penyiraman tidak berpengaruh nyata terhadap lingkar bonggol bibit kelapa sawit begitu juga dengan faktor tunggal frekuensi penyiraman. Tabel 5 menunjukkan bahwa lingkar bonggol bibit terbesar 13 . tetapi faktor tunggal pemberian mikroorganisme selulolitik. sehingga ketersediaan hara bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman tercukupi. maka dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya. karena daun keluar dari nodus-nodus yang ada pada batang. Menurut Winarso (2005) bila unsur hara yang berada di dalam tanah sudah tersedia dengan cukup dan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Optimalnya aktivitas mikroorganisme selulolitik yang diberikan menyebabkan proses mineralisasi dan immobilisasi pada tanah gambut berjalan dengan baik. Tanaman yang mampu menghasilkan fotosintat yang lebih tinggi maka akan mempunyai banyak daun. baik secara konsentrasi maupun keseimbangannya dengan hara lain sesuai dengan kebutuhan tanaman. Hal yang sama juga dikemukakan Jumin (2002) bahwa pesatnya pertumbuhan tanaman tidak terlepas dari ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Hasil pengamatan rerata lingkar bonggol bibit kelapa sawit dan uji lanjutnya dapat dilihat pada Tabel 5.

13 b 34. Seperti yang telah dijelaskan bahwa pemberian mikroorganisme selulolitik telah mampu memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang dengan baik serta diikuti dengan ketersediaan air yang cukup bagi pertumbuhan tanaman.90 a Rerata 4x 31.86 abcd 33. sehingga laju fotosintesis meningkat.23 bcd 32. laju fotosintesis.46 d 31. Rerata Pengaruh Pemberian Mikroorganisme Selulolitik dan Frekwensi Pemberian Air Terhadap Lingkar Bonggol Bibit Kelapa Sawit Umur 12 Bulan dengan Media Tanam Tanah Gambut MIKRO ORGANIME 0 10 20 30 Rerata KK = 7. Tekanan turgor yang meningkat mampu mendorong proses pembukaan stomata pada tanaman.terjadi pada kombinasi pemberian 20 ml mikroorganisme selulolitik dengan semua perlakuan penyiraman dan berbeda nyata dengan tanpa pemberian mikroorganisme selulolitik maupun dengan pemberian 10 dan 30 ml/polibag mikroorganisme selulolitik. Lingkar bonggol terbesar yaitu 36.33 b 14 .66 ab 32.46 bcd 30. Menurut Brewster dalam Witch (1990) bahwa pemberian air erat kaitannya dengan perubahan suhu.06 meningkat secara rata-rata 27% bila dibandingkan dengan lingkar bonggol terendah (28.54 a 3x 31.66 bcd 34.00 abc 36.32 a 30. potensial osmotik dan tekanan turgor tanaman.46) pada perlakuan tanpa pemberian mikroorganisme selulolitik dengan frekuensi penyiraman 2x sehari.63 a 31. Hasil penelitian Darmawan (2006) Tabel 5. transpirasi.06 a 29.26 abcd 31.15 % Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT taraf 5%. Menurut Rebetzke dkk (2002) jumlah air yang lebih banyak di dalam tanaman dapat menyebabkan tekanan turgor meningkat. FREKUENSI AIR 2x 28.60 b 31.66 bcd 30.50 abcd 32.23 cd 32.

Lakitan (2004) menyatakan bahwa meningkatnya jumlah unsur hara yang dapat diserap tanaman secara tidak langsung akan meningkatkan proses fotosintesis yang akan menghasilkan fotosintat. KESIMPULAN Pemberian mikroorganisme selulolitik dengan beberapa kali penyiraman dapat memperbaiki kesuburan tanah gambut dan meningkatkan serapan hara N.33% dan lingkar bonggol rata-rata 27% . Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Selanjutnya fotosintat yang dihasilkan disimpan dalam jaringan batang dan daun Bonggol merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya tanaman yang masih muda. Bila pemberian mikroorganisme selulolitik saja peningkatkan tinggi tanaman hanya rata-rata 14% dan lingkar bonggol rata-rata 13% sedangkan bila hanya frekuensi pemberian air saja tidak mampu meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit terutama jumlah daun masih dibawah standar pertumbuhan bibit kelapa sawit menurut PPKS.pada tanaman kelapa sawit yang belum menghasilkan bahwa laju fotosintesis meningkat dengan meningkatnya ketersediaan air tanah. Aulia dan Ruli yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Pemberian 20 ml mikroorganisme selulolitik dengan berbagai frekuensi penyiraman memberikan pertumbuhan bibit kelapa sawit yang terbaik menurut standar pertumbuhan bibit dari PPKS dengan peningkatan tinggi tanaman rata-rata 28. Kementerian Pendidikan Nasional RI yang telah menyediakan dana penelitian ini melalui Skim Penelitian Hibah Bersaing TA 2010-2011 dan kepada sdr. 15 . P dan K bibit kelapa sawit.

Academic Press. Pemberian Mikroorganisme Selulolitik pada Tanah Gambut terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kedelai. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Nature and Management of Tropical Peat Soil.DAFTAR PUSTAKA Aaronso. Rome. Prosiding Seminar Nasional Hasil-hasil Penelitian Dosen Bidang Pertanian. Pekanbaru. 2009. Agrivigor 6 (1) 41-48 Darmosarkoro. Medan. 2011. 2006. Vol I: 90-100 Gusmawartati. JP. Pemberian Mikroorganisme Selulolitik (MOS) dan Pupuk NPK dalam Meningkatkan Produksi Bawang Merah Di Lahan Gambut. London. Aktivitas Fisiologi Kelapa Sawit Belum Menghasilkan Melalui Pemberian Nitrogen pada Dua Tingkat Ketersediaan Air Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Seminar Nasional Perkebunan Kelapa sawit Rakyat. Darmawan. Badan Pusat Statistik Provinsi Riau. Badan Pusat Statistik. Sumatera Utara. 1970. Riau dalam Angka. 16 . 2007. J. Pengaruh Pemberian Mikroorganisme Selulolitik (MOS) dan Air Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. Dirjen Bina Produksi Perkebunan. Vol I: 36-46 Gusmawartati dan Wardati. Penerbit Pusat Penelitian Kelapa Sawit. San Francisco. Lembaga Penelitian Universitas Riau. Gusmawartati dan Wardati. 2011. 2003. 2005. W. 2009. Andreesse. Food and Agriculture Organization of The United Nation. Program Pengembangan dan Peremajaan Perkebunan Kelapa sawit . Experimental Microbial Ecology. Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit edisi 1. Pekanbaru. New York. Laporan Penelitian Dosen Muda Dikti.) di Pre-nusery pada Tanah Gambut. Pemberdayaan Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat sebagai upaya Penguatan Ekonomi Kerakyatan. S. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Pertanian Terpadu Berbasis Organik Menuju Pembangunan Pertanian Berkelanjutan. Sampoerno dan Wardati.

Bogor. N. Y. R. A. A. Forests and Peatlands in Indonesia. Medan. Indonesia Noor. Crop Sci. K. Bandar Lampung. Proyek Chlimate Change. Nugoho. Jakarta.A. Bailey.H. 42. Medan Sukarji. Ca dan Mg pada Tanaman Kelapa Sawit pada Tanah Typic Distropept di Sumatera Utara. Panduan Pengelolaan Lahan Gambut untuk Pertanian Berkelanjutan. Laporan Hibah Bersaing. Lakitan. G.. 2000.B. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. 2002. S. Hong dan H.G. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. M. 2007. In Crop Physiology and Metabolism. PPKS. 17 . Kasinus. Pemupukan N. 2001. Rebetzke GJ. Yogyakarta. Breeding opportunities for increasing the effeiciency of water use and crop yield intemprature cereals. 2002.R. J. Suryadi Putra. Rajawali Press. 1986. dan I Nyoman N. Budidaya Kelapa Sawit.B. H. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Martoyo. Saul. Najiyati. Jumin. Agroekologi: Suatu Pendekatan Fisiologis. 2001. Lili M. Medan. Diha. A. Wetlands International-Indonesia Programmed an Wildife Habitat Canada. Sahar Hanafiah. 2005. 2004. Sutarta E. Usaha Peningkatan Pertumbuhan Kelapa Sawit Di Tanah Gambut Dengan Pemberian Pupuk Hayati Dan Amandemen. PT Raja Grafindo Persada. M. M. BPKS Medan. Sifat Fisik Tanah Ultisol Pada penyebaran Akar Tanaman Kelapa Sawit. Universitas Lampung. Warta. 2002. Pertanian Lahan Gambut Potensi dan Kendala.111-121 PPKS.S. Lubis.Hakim. Peranan Unsur Hara dan Sumber Hara Pada Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit. 8 (1) : 23-37. M. P. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Jakarta. K. AG Condon and AF van Herwaarden. B. Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara. Nyakpa. S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful