IFRS untuk Persediaan: Principle Based vs Rule Based

Akuntansi persediaan menjadi perhatian utama pada sebagian besar perusahaan, terutama perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur, karena pengaruhnya yang cukup signifikan atas laporan rugi laba, yaitu dalam bentuk kos penjualan, dan juga atas laporan posisi keuangan (neraca). Menurut IAS 2, persediaan didefinisikan sebagai berikut: Inventories are assets: (a) held for sale in the ordinary course of business; (b) in the process of production for such sale; or (c) in the form of materials or supplies to be consumed in the production process or in the rendering of services. Definisi persediaan menurut IAS 2 tersebut di atas tidak berbeda dengan definisi persediaan menurut US GAAP, sebagaimana dikutip oleh Kieso (2007) sebagai berikut: Inventories are asset items held for sale in the ordinary course of business or goods that will be used or consumed in the production of goods to be sold. Kompleksitas akuntansi persediaan disebabkan oleh beberapa faktor seperti tingkat volume perputaran persediaan, ragam alternatif pengukuran arus kos yang dapat diterima, dan klasifikasi persediaan. Pertanyaan mendasar dalam akuntansi persediaan adalah: 1. 2. 3. 4. Kapan item persediaan bisa diakuli dan dilaporkan sebagai persediaan? Kos atau pengeluaran apa saja yang dapat dimasukkan sebagi kos dari persediaan? Asumsi arus kos yang mana yang boleh digunakan untuk mengukur kos persediaan? Berdasarkan nilai apa persediaan harus dilaporkan (net realizable value)?

Secara umum dalam merumuskan standard akuntansi, IFRS dikatakan menggunakan principlesbased sedangkan US GAAP menggunakan rules-based. Benarkah demikian untuk kasus standard akuntansi persediaan?

pengukuran kos persediaan tetap harus menggunakan metode yang sama. perbedaan lokasi geografis persediaan tidak bisa digunakan sebagai pembolehan penggunaan formula kos yang berbeda. Sebagaimana halnya US GAAP. Untuk persediaan yang perputarannya rendah. IFRS (IAS2) menetapkan bahwa the lower of cost and net realizable value harus digunakan sebagai basis penilaian persediaan. dimungkinkan untuk menggunakan metode identifikasi khusus dalam pengukuran kosnya. Dalam hal penilaian persediaan. yaitu metode FIFO dan Rata-rata Tertimbang yang oleh IAS 2 disebut sebagai ?benchmark treatments?. Sama dengan paragraf sebelumnya. yaitu komite yang bertugas untuk menginterpretasikan IFRS. serta disediakan dan dipisahkan untuk proyek-proyek tertentu. sebagai contoh di US metode ini telah lama digunakan untuk memenuhi kepentingan pemenuhan pajak. kecuali undang-undang pajak di US juga diubah menjadi tidak membolehkan penggunaan metode LIFO. serta satu lagi metode yang oleh IAS 2 disebut sebagai ?allowed alternative treatments? yaitu metode LIFO.PEMBAHASAN Konsep Dasar Pengukuran Kos Persediaan Sebelum tahun 2005 IAS 2 membolehkan penggunaan tiga alternatif pengukuran kos persediaan. IFRS juga mengharuskan penggunaan metode akuntansi secara konsisten. Namun demikian jika undang-undang pajak diubah jelas akan memberikan dampak sangat tidak menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di US. bahkan dalam kasus akuntansi persediaan menjadi lebih rules-based dibanding US GAAP. SIC (the Standing Interpretations Committee). sehingga metode pengukuran kos yang berlaku tinggal metode FIFO dan metode Rata-rata Tertimbang. yaitu karena pengalaman yang cukup panjang terjadinya kecenderungan kenaikan harga. Pembatasan penggunakan metode akuntansi semacam ini merupakan indikasi bahwa IFRS pada dasarnya tidak sepenuhnya menggunakan principlesbased. Pada dasarnya metode LIFO telah lama digunakan di US dalam yurisdiksi tertentu. Uraian dalam paragraf ini mengindikasikan bahwa IFRS lebih condong ke rules-based dibanding ke principles-based. Dalam kasus ini FASB menghadapi kendala yang cukup berat bahkan tidak mungkin bisa melakukan konvergensi dengan IFRS. Namun demikian untuk persediaan yang memiliki sifat dan fungsi yang berbeda dimungkinkan untuk menggunakan metode pengukuran kos yang berbeda. Metode pengukuran kos dan penilaian persediaan sebagaimana diatur dan ditetapkan dalam IFRS adalah metode-metode yang selama ini sudah dikenal dan diterapkan dalam US GAAP. menyatakan bahwa perusahaan harus menggunakan formula kos yang sama untuk seluruh persediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang sama. Di sisi lain. Namun efektif mulai 1 Januari 2005 IFRS tidak membolehkan penggunaan metode LIFO. kecuali perubahan metode pengukuran kos tersebut dipandang memenuhi kriteria IAS 8. sehingga untuk kepentingan pajak metode LIFO dianjurkan untuk digunakan agar menghasilkan pelaporan laba dan pembayaran pajak yang lebih kecil. meskipun lokasi geografisnya berbeda. Sehingga perbedaan mendasar akuntansi persediaan antara IFRS dan US GAAP adalah pada . tetapi jika sifat dan fungsinya sama.

yang sama-sama menjadi topik utama kajian akuntansi persediaan. sedangkan US GAAP memberi keleluasaan lebih luas dalam memilih alternatif akuntansi persediaan yang akan diterapkan. dan (4) penjualan dengan hak istimewa untuk pengembalian barang (sales with generous or unusual right of return).alternatif metode yang diperkenankan untuk diterapkan. Secara umum. sehingga untuk kepentingan pelaporan persediaan dan kos penjualan dalam laporan keuangan diperlukan ketepatan penentuan transfer kepemilikan atas persediaan. sehingga dapat dikatakan bahwa untuk kasus standard akuntansi persediaan. yaitu IFRS justru lebih condong ke rules-based sedangkan US GAAP justru lebih condong ke principles-based. Kesalahan umum yang banyak terjadi. atau secara hukum telah menjadi hak milik perusahaan. IFRS lebih membatasi penggunakan alternatif metode akuntansi yang boleh digunakan. Baik IFRS maupun US GAAP menyatakan pentingnya ketepatan cut-off transaksi persediaan pada akhir periode akuntansi untuk menjamin ketepatan pengukuran kinerja operasional perusahaan selama satu periode. perusahaan harus mencatat adanya pembelian atau penjualan persediaan pada saat secara legal telah terjadi perpindahan kepemilikan persediaan. Dapat disimpulkan bahwa ketentuan standard akuntansi untuk kepemilikan persediaan. Untuk kasus sales with generous or unusual right of return. baik IAS 18 maupun FAS 48 (revenue recognition when right of return exists) sama-sama menyatakan bahwa pendapatan akan diakui pada saat jumlah retur penjualan dapat diestimasi dengan memadai. keduanya menyatakan bahwa persediaan hanya akan diakui sebagai aset perusahaan atau mudahnya diakui sebagai persediaan pada saat persediaan tersebut telah menjadi sumber ekonomi bagi perusahaan. yaitu: (1) persediaan dalam perjalanan dengan syarat FOB destination atau FOB shipping point. baik IFRS maupun US GAAP sama-sama menekankan pada kejelasan aturan akuntansi dengan mengacu . Dalam hal product financing arrangements. sementara secara legal persediaan yang ada ditangan belum tentu milik perusahaan dan sebaliknya persediaan yang tidak ditangan tidak selalu berarti tidak dimiliki oleh perusahaan. baik pada akuntansi persediaan berdasarkan IFRS maupun berdasarkan US GAAP adalah adanya anggapan atau pemahaman bahwa yang dimaksud dengan persediaan adalah seluruh persediaan yang ada di tangan. IAS 18 dan FAS 49 (accounting for product financing) sama-sama menyatakan bahwa substansi transaksi sama dengan peminjaman uang. Baik kajian akuntansi berdasarkan IFRS maupun berdasarkan US GAAP menyadari adanya empat hal yang bisa menimbulkan ketidaktepatan pelaporan persediaan. fakta yang terjadi justru sebaliknya. (3) pembelian persediaan dengan skema pendanaan tertentu (product financing arrangements). Tidak ada perbedaan standard akuntansi antara IFRS dan US GAAP untuk akuntansi atas empat kemungkinan kasus pembelian dan penjualan persediaan seperti tersebut di atas. Kepemilikan Persediaan Tidak ada perbedaan tentang standard pengakuan persediaan antara IFRS dengan US GAAP. misalnya dalam kasus barang konsinyasi atau barang komisi. (2) penjualan konsinyasi. sesuai dengan situasi dan keadaan yang dihadapi oleh masing-masing perusahaan.

asuransi. Berdasarkan paparan dalam . sama sekali tidak berbeda dengan standard pengukuran kos produksi versi US GAAP. alokasi harus dilakukan berdasarkan tingkat produksi normal. Dalam periode tingkat produksi turun secara tidak normal. IAS 23 mengatur bahwa bagian dari biaya pendanaan (borrowing costs) harus diperlakukan sebagai bagian dari kos persediaan. dapat dikatakan bahwa keduanya sama-sama menggunakan basis prinsip atau principles-based. IAS 2 menyebutkan bahwa kos konversi untuk proses produksi persediaan mencakup seluruh kos yang berhubungan langsung dengan proses produksi persediaan.pada substansi transaksi. yaitu yang jumlahnya tidak berubah-ubah menyesuaikan dengan volume produksi. dan bukannya menggunakan konsep principles-based. biaya angkut. Semestinya jika konsisten menggunakan principlesbased. dan tidak diperhitungkan sebagai bagian dari kos persediaan. sehingga mau tidak mau harus menggunakan konsep rules-based. maka financing costs tidak akan pernah terjadi. Alokasi biaya overhead harus dilakukan secara sistematis dan rasional. atau jika sudut pandangnya ditekankan pada substansi transaksi. sekali lagi dapat dirasakan bahwa IFRS membuat aturan dengan cukup jelas tetang bagaimana pengukuran kos produksi harus dilakukan. Untuk kasus persediaan yang memerlukan proses produksi cukup lama. atau justru menggunakan rules-based dan bukannya menggunakan principles-based. sehingga dapat disimpulkan baik IFRS maupun US GAAP tetap menggunakan konsep rules-based. rabat. Dalam IAS 23 selanjutnya dikatakan bahwa biaya pendanaan ?biasanya? tidak dikapitalisasi sebagai kos persediaan untuk kasus persediaan yang diperoleh dalam keadaan siap untuk dijual. karena jika manajemen memutuskan untuk tidak menggunakan dana luar dalam proses produksinya. Dikatakan bahwa kos atas pembelian persediaan mencakup harga beli. Penilaian Persediaan IAS 2 mendiskripsikan bahwa basis utama akuntansi persediaan adalah kos. Dapat disimpulkan bahwa sampai dengan titik ini. Dalam kasus standard pengukuran kos produksi ini. financing costs untuk keperluan proses produksi yang panjang semacam ini tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukannya diperlakukan sebagai production costs. seperti biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead. dan dalam kasus biaya overhead tetap. sebagian dari biaya overhead tetap harus dibebankan langsung ke periode terjadinya biaya. Dalam kasus ini dapat disimpulkan bahwa IFRS justru sangat mengatur tentang bagaimana biaya pendanaan harus diperlakukan. dan biaya penanganan persediaan (handling costs). tidak ada perbedaan kententuan pengukuran kos persediaan antara IFRS dengan US GAAP. karena memang untuk kasus kos perolehan persediaan tidak ada ruang untuk penerapan konsep principles-based. atau dengan kata lain harus diperlakukan sebagai biaya periode (period costs). keduanya membuat aturan yang boleh dikatakan sama persis. dan jenis-jenis potongan pembelian lain jika ada harus dikurangkan ke kos persediaan. sehingga bisa dikatakan bahwa kedua standard sama-sama menggunakan basis aturan atau rules-based. termasuk kos lain untuk membuat persediaan ada di lokasi perusahaan dan dalam kondisi seperti pada saat pelaporan persediaan. Potongan tunai. dan kos didefinisikan sebagai jumlah kos pembelian atau kos konversi.

biaya sewa peralatan produksi. Ketentuan dalam IFRS atas biaya produksi selain kos bahan baku dan kos konversi. pada saat kos dari masing-masing produk dalam produk bersama sulit diidentifikasi. tetapi menggunakan rules-based sebagaimana yang terjadi pada US GAAP. Kos lain yang harus dimasukkan sebagai bagian dari kos overhead. dan oleh karenanya diperlakukan sebagai bagian dari kos persediaan adalah biaya perbaikan dan pemeliharaan mesin. kos bahan-bahan produksi tidak langsung. Jika masing-masing jenis produk memiliki nilai yang cukup signifikan. Di sisi lain. biaya gaji pengawas produksi. sehingga dalam kasus inipun tidak bisa dikatakan bahwa IFRS menggunakan konsep principles-based dan US GAAP menggunakan konsep rules-based. seluruh biaya riset dan pengembangan produk. serta kos penggudangan persediaan. alokasi dilakukan berdasarkan pada nilai relatif dari masingmasing jenis produk. perusahaan memproduksi lebih dari satu jenis produk secara bersamaan. Byproducts didefinisikan sebagai produk yang memiliki nilai relatif tidak signifikan dibanding nilai dari produk utama perusahaan. sama sekali tidak ada alasan untuk bisa mengatakan IFRS menggunakan principlesbased dan US GAAP menggunakan konsep rules-based. dan dalam hal ini standard akuntansi yang ditawarkan oleh IFRS juga tidak berbeda dengan standard akuntansi versi US GAAP. Direct Costing . selanjutnya kos yang dialokasikan ke byproducts dikurangkan terhadap keseluruhan kos produksi. dan kos atas peralatan kecil yang tidak dikapitalisasi. kos sisa bahan-bahan produksi. yaitu yang diukur berdasarkan harga jual masing-masing jenis produk. tetapi akan lebih tepat dikatakan bahwa baik IFRS maupun US GAAP samasama menggunakan konsep rules-based. tidak boleh diperlakukan sebagai bagian dari kos persediaan. Joint Products dan By-Products Dalam beberapa kasus proses produksi. jika hanya salah satu produk yang memiliki nilai signifikan. berdasarkan IAS 38. Kos produksi selain bahan baku dan biaya konversi (biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead) hanya akan dibebankan sebagai bagian dari kos persediaan pada saat biaya tersebut dipandang sangat diperlukan untuk membuat persediaan dalam kondisi siap untuk dijual atau dilaporkan dalam laporan keuangan. yang diuraikan dalam paragraf ini. maka diperlukan alokasi kos produksi secara rasional ke masingmasing jenis produk. juga memperjelas fakta bahwa untuk kasus ini IFRS tidak menggunakan principlesbased. maka produk lain dinamakan sebagai by-produks atau produk sampingan. Dalam IAS 2. IFRS mendiskripsikan dengan sangat jelas tentang bagaimana standard akuntansinya. Contoh biaya semacam ini adalah biaya perancangan produk dan biaya persiapan produksi untuk memenuhi kepuasan sekelompok pelanggan tertentu. Dalam kasus pengukuran kos untuk joint products dan by-products. biaya tenaga kerja tidak langsung. biaya pengendalian dan pengawasan kualitas produk. Biasanya.paragraf ini. biaya peralatan produksi. IAS 2 menganjurkan bahwa by-products dinilai berdasarkan nilai bersih yang dapat direalisasi (net realizable value). produk tersebut dinamakan sebagai joint products atau produk bersama. Kos lain yang juga tidak perperbolehkan diperlakukan sebagai bagian dari kos persediaan adalah biaya administrasi dan biaya penjualan atas persediaan.

IAS 2 menetapkan bahwa metode identifikasi khusus harus diterapkan atas persediaan yang tidak saling menggantikan (interchangeable) serta atas barang yang dibuat dan dipisahkan untuk memenuhi projek tertentu. Namun demikian. yang menjadi keharusan hanyalah konsistensi dalam menggunakan metode akuntansi yang dipilih untuk diterapkan. yaitu terdiri dari kos bahan baku. Alasan utama penggunakan direct costing adalah agar kontribusi marjinal (marginal contribution) untuk masing-masing jenis produk bisa kelihatan jelas efek linieritasnya. yaitu variable costing atau direct costing. tetapi hanya menyodorkan alternatif metode penilaian. Pengukuran Kos Persediaan Dengan Metode Identifikasi Khusus Basis teoritis penilaian persediaan dan kos penjualan adalah berdasarkan kos produksi atau kos peroleh yang melekat pada barang yang masih ada dalam persediaan atau barang yang sudah terjual. First-Out (FIFO) dan Weighted-Average Cost Metode penilaian persediaan lain yang diperkenankan oleh IFRS adalah metode FIFO dan metode rata-rata tertimbang (weighted-average method). IFRS tidak menggunakan konsep principles-based melainkan sama persis dengan US GAAP yang menggunakan konsep rules-based. sehingga memudahkan proses perencanaan dan pengendalian bisnis. Namung demikian untuk keperluan keputusan manajerial perusahaan bisa menerapkan alternatif dari absorption costing. Untuk persediaan yang memenuhi kreteria semacam ini penggunaan metode identifikasi khusus menjadi keharusan (mandatory) dan alternatif metode penilaian persediaan yang lain tidak diperkenankan untuk diterapkan. selanjutnya seluruh kos tetap diperlakukan sebagai kos periode (period costs). Dapat disimpulkan bahwa dalam kasus direct costing. dan jika teori ini benar-benar diterapkan maka dikatakan bahwa penilaian persediaan menggunakan metode identifikasi khusus. tanpa memperhatikan aliran fisik persediaan yang sesungguhnya. Dalam metode FIFO diasumsikan bahwa barang yang pertama dibeli akan menjadi barang yang pertama digunakan atau barang yang pertama dijual. secara umum praktik penilaian persediaan semcam ini dipandang tidak praktis. Metode . Melihat fakta semacam ini. dan kos overhead variabel. sehingga direct costing dipandang sebagai metode yang tidak sesuai dengan IAS 2.Metode yang telah diterima secara umum dalam mengalokasikan kos overhead tetap ke dalam persediaan akhir dan kos penjualan dikenal dengan nama (full) absorption costing. Dalam direct costing kos persediaan hanya terdiri dari kos langsung saja. US GAAP tidak mengharuskan penerapan metode penilaian persediaan tertentu. dapat dikatakan bahwa untuk kasus semacam ini US GAAP lebih princile-based dibanding IFRS. kecuali untuk persediaanpersediaan yang memiliki nilai sangat tinggi dan perputarannya sangat rendah. karena biasanya setiap produk akan kehilangan identitas spesifiknya pada saat produk tersebut telah melewati proses produksi dan proses penjualan. penggunakan direct costing mengakibatkan kos persediaan tidak mencakup seluruh kos yang diperlukan untuk memproduksi persediaan. bahkan tidak bisa dioprasionalkan dalam tataran praktik. Firs-In. kos tenaga kerja langsung. sehingga jika perusahaan secara interen menggunakan direct costing maka untuk keperluan pelaporan keuangan harus membuat penyesuaian untuk membuat kos persediaan sesuai dengan IFRS yang menganjurkan penggunakan absorption costing. Namun demikian. Dalam kasus ini IAS 2 mengharuskan penerapan metode ini.

sehingga menurunkan jumlah rugi yang harus diakui. adalah merupakan mekanisme tidak langsung atau ?backdoor mechanism? untuk mengakui unrealized gain yang seharusnya tidak diakui. sehingga pelaporan persediaan menjadi semakin dekat dengan tujuan pelaporan aset sebesar nilai wajarnya. Paparan dalam dua paragraf di atas menegaskan bahwa IAS 2 sangat mengatur penerapan net realizable value. yaitu pertama persediaan tidak boleh dilaporkan di atas nilai bersih yang dapat direalisasi (net realizable value). penilaian harus dilakukan untuk setiap jenis persediaan untuk mencegah kemungikan terjadinya kompensasi unrealized gain dengan unrealized loss kelompok persediaan lain. Ketentuan ini didasarkan pada dua basis pertimbangan. Definisi tersebut sama definisi batas bawah (floor) pada penilaian persediaan dengan metode COMWIL atau LCM yang ditawarkan pada akauntansi persediaan berbasis US GAAP. sehingga dapat disimpulkan bahwa IFRS ternyata justru lebih condong ke rules-based dan bukannya berbasis pada konsep principles-based. Recoveries of previously recognized losses. Net Realizable Value IAS 2 mendefinisikan Net Realizable Value sebagai berikut: Net realizable value is the estimated selling price in the ordinary course of business less the estimated costs of completion and the estimated costs necessary to make the sale. sehingga perlu ditegaskan bahwa tuntutan dasar evaluasi penurunan nilai persediaan adalah diterapkan atas item demi item persediaan. di sisi lain US GAAP tidak mengatur hingga sedetil ini. Untuk kasus terjadinya kenaikan kembali nilai persediaan. karena persediaan yang pertama dibeli diasumsikan sebagai persediaan yang pertama dijual.ini dipandang paralel atau paling tidak lebih dekat dengan aliran fisik persediaan pada perusahaan-perusahaan yang memiliki persediaan dengan tingkat perputaran persediaan sedang hingga tinggi. maka saldo persediaan akan terdiri dari persediaan yang terakhir dibeli. Dikatakan bahwa evaluasi penurunan nilai persediaan yang dilakukan atas sekelompok persediaan. hal ini penting untuk diperhatikan mengingat IFRS melarang pengakuan unrealized gain pada laporan rugi-laba. Untuk kasus metode FIFO dan metode rata-rata tertimbang tidak ada perbedaan antara IFRS dengan US GAAP. keduanya membuat aturan dan ketentuan yang sama. kos persediaan akhir ditentukan sebesar rata-rata kos persediaan selama satu periode. IAS 2 menyatakan bahwa estimasi net realizable value harus diterapan untuk setiap jenis persediaan atau item demi item. IAS 2 mendeskripsikan bahwa pengukuran net realizable value harus dilakukan . Meskipun dalam metode rata-rata kos persediaan bisa terdistorsi oleh perubahan tingkat harga persediaan. Kekuatan metode ini adalah pada pelaporan persediaan dalam laporan posisi keuangan (neraca). Sebagai pedoman umum. kecuali terdapat sekelompok persediaan yang sejenis dan dapat dinilai secara tepat per kelompok jenis persediaan. tidak atas item per item persediaan. yaitu harus diterapkan item demi item demi untuk mencegah potensi pengakuan unrealized gain secara tidak langsung. tetapi metode persediaan ini dalam kasuskasus tertentu cukup praktis untuk diterapkan. Dalam metode rata-rata tertimbang. dan kedua penurunan nilai persediaan harus dilaporkan pada periode terjadinya penurunan nilai persediaan untuk ketepatan penandingan dengan pendapatan pada periode yang bersangkutan.

ternyata untuk kasus inipun keduanya lebih bisa dikatakan sama-sama menggunakan ruled-based. terutama pada saat . tidak ada perbedaan teknis perhitungan antara IFRS dengan US GAAP. 3. Metode perhitungan rasio kos atas harga eceran dapat diterapkan dengan berbagai kemungkinan sebagai berikut: 1. Dalam kasus ini perbedaannya dengan US GAAP adalah bahwa dalam US GAAP penurunan nilai persediaan yang telah diakui pada periode sebelumnya tidak boleh ditutup dengan kenaikan nilai pada periode berikutnya. maka penurunan nilai persediaan harus dibatalkan dengan membuat jurnal koreksi. Metode harga eceran dapat diterapkan pada metode pengukuran kos FIFO.pada setiap periode pelaporan keuangan. Kunci utama metode harga eceran adalah pada penentuan rasio kos atas harga eceran (cost-to-retail ratio). metode ini secara konsep tidak berbeda dengan metode harga eceran. sehingga untuk kasus ini dapat dikatakan IFRS dan US GAAP menggunakan konsep rules-based atau bisa juga dikatakan menggunakan konsep principles-based dari sisi keleluasaan pemilihan alternatif metode. yaitu FIFO atau rata-rata tertimbang. Perhitungan rasio bisa bervariasi sesuai dengan asumsi arus kos yang digunakan. dan pada saat tidak terdapat lagi fakta adanya penurunan nilai persediaan. Metode Harga Eceran (Retail Method) IAS 2 menjelaskan bahwa metode harga eceran mungkin diterapkan pada kelompok industri tertentu. 2. rata-rata tertimbang. Juga ditegaskan bahwa jurnal koreksi atau recovery hanya diperkenankan maksimum sebesar penurunan nilai yang telah diakui pada periode sebelumnya. keduanya mengatur teknis perhitungan kos persediaan dengan cara yang sama. Dari sudut pandang istilah konsep principles-based dan ruled-based. dan karena penurunan nilai persediaan telah dimasukkan ke dalam laporan rugi-laba. misalnya karena nilai persediaan mengalami kenaikan kembali. Metode harga eceran konvensional digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang menjual barangnya secara eceran untuk mengestimasi kos persediaan akhir. 4. fungsinya adalah untuk menentukan nilai persediaan akhir berdasarkan rasio kos atas harga jual. maka jurnal koreksi atas penurunan nilai persediaan juga harus direfleksikan dalam laporan rugi-laba. FIFO cost FIFO ? menggunakan LCNRV Average cost Average cost ? menggunakan LCNRV Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam hal persediaan dinilai dengan metode harga eceran (retail method). Gross Profit Method Metode lain yang juga dikenal dalam IFRS adalah metode laba bruto (gross profit method). atau pada metode the lower of cost or net realizable value (LCNRV).

IAS 41 menyatakan bahwa untuk produk-produk pertanian dapat dilaporkan berdasarkan fair value-nya. namun demikian sebagaimana telah dideskripsikan dalam berbagai metode penilaian persediaan di atas. Fair Value as an Inventory Costing Method Secara umum persediaan dilaporkan sebesar kos-nya. kos persediaan kemungkinan harus dipastikan kelayakannya dengan menggunakan berbagai metode penilaian sebagaimana dideskripsikan dalam IAS 2. sampai sejauh ini juga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan signifikan antara IFRS dengan US GAAP. dapat disimpulkan pula bahwa tidak ada perbedaan antara IFRS dengan US GAAP. maka perlu dilakukan penghapusan atas kos persediaan untuk merefleksikan adanya penurunan nilai (impairment) persediaan. Namun demikian untuk lingkungan industri tertentu dimungkinkan untuk melaporkan persediaan sebesar fair value di atas kos produksi atau kos perolehan persediaan. . Ketentuan tentang penggunaan fair value dalam penilaian persediaan.perusahaan dalam posisi tidak memungkinkan untuk melakukan perhitungan fisik persediaan. Produkproduk pertanian dinilai berdasarkan fair value pada saat penen dikurangi dengan taksiran biaya penjualan. dan pada saat jumlah nilai persediaan (recoverable amounts) tidak sama dengan kos persediaan (dalam hal ini lebih rendah dari kos). selanjutnya IAS 41 juga mendeskripsikan bahwa seluruh aset biologis harus dinilai berdasarkan fair value dikurangi taksiran biaya penjualan. Dalam hal teknis penerapan metode ini. kecuali pada saat fair value tidak bisa diukur dengan memadai. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kewajaran (reasonableness) jumlah dan nilai persediaan akhir. atau pada saat perhitungan fisik persediaan dipandang tidak layak untuk diterapkan.

yaitu mempengaruhi laporan posisi keuangan (neraca) dan sekaligus mempengaruhi laporan rugi-laba. sehingga dapat disimpulkan bahwa volume transaksi dan volume saldo persediaan secara umum jumlahnya akan signifikan terhadap laporan keuangan.PENUTUP Persediaan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap laporan keuangan. karena jumlah persediaan dalam neraca akan menentukan jumlah kos penjualan pada laporan rugi-laba. Kesalahan akuntansi atas persediaan secara otomatis akan berakibat ganda. karena esensi dari kegiatan bisnis. . terutama perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur. adalah melakukan jual beli persediaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful