1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah sebagai salah satu unsur utama dari ekosistem mempunyai peran ganda sebagai media produksi pangan dan sandang serta obat-obatan juga sebagai penyangga utama terciptanya lingkungan yang sehat serta berperan dalam menjaga keragaman biodiversity. Tanah yang merupakan tubuh alam yang dihasilkan dari berbagai proses dan faktor pembentuk yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainya dan dengan demikian akan memerlukan mananjemen berbeda pula untuk tetap menjaga keberlanjutan fungsi-fungsi tanah tersebut (Lopulisa, 2004). Tanah merupakan medium alam untuk pertumbuhan tanaman. Tanah menyediakan unsur-unsur hara sebagai makanan tanaman untuk pertumbuhan. Selanjutnya unsur hara diserap oleh akar tanaman melalui daun dirubah menjadi persenyawaan organik seperti karbohidrat, protein, lemak dan lain-lain yang

amat berguna bagi kehidupan manusia dan hewan. Sering kali kita mendengar adanya gerakan air dalam tanah misalnya gerakan air dari tanah yang masuk ke dalam akar tanaman dan tekanan air dari bendungan adalah contoh dari air berenergi tinggi ke daerah air berenergi rendah. Dengan demikian, perlu diketahui tenaga yang menentukan keadaan fisik atau kandungan energi air agar dapat dipahami perilaku air dalam tanah dan tumbuhan. Kekuatan tanah merupakan kekuatan terhadap keretakan oleh tegangan akibat kompresi. Kekuatan tanah juga menentukan daya dukung tanah terhadap kontruksi bangunan dan infrastruktur lainya seperti kendaraan (mesin-mesin pertanian), ketahanan terhadap akar tumbuhan dan kemudian untuk pengelolaan lahan. Kekuatan tanah dipengaruhi oleh kadar air dimana semakin tinggi kadar

2

air tanah maka kekuatan tanah akan semakin rendah dan sebaliknya jika semakin rendah kadar air tanah maka kekuatan tanah akan semakin tinggi. Selain itu, kekuatan tanah juga dipengaruhi oleh bulk density, struktur dan tekstur tanah. Kekuatan tanah juga mempengaruhi sifat pengelolaan tanah dilapangan. Pengelolaan tanah akan mudah dilakukan jika kekuatan tanah rendah dan sebaliknya jika kekuatan tanah tinggi maka pengelolaan tanah akan sulit. Test kekuatan tanah dapat dilakukan melalui pengukuran ketahanan penetrasi (penetration resistence), ketahanan geser (shear strength), ketahanan terhadap kondisi (compressive strength), ketahanan tarik (tensile strength), dan ketahanan ”retak” (rupture strength). Pemilihan jenis pengukuran mana yang akan dilakukan tergantung pada tujuan pengukuran dan ketersediaan alat. Walaupun semua pengukuran berguna, penetration resisten dan tensile strength adalah yang paling banyak digunakan untuk kepentingan pertanian. Kedua parameter kekuatan tanah ini misalnya dapat dikaitkan denga pertumbuhan akar atau pengompakan tanah (Gusli, 2008). Laju pergerakan air melalui tanah sangat penting dilihat dari berbagai aspek kegiatan pertanian dan kehidupan di pedesaan atau perkotaan. Masuknya air ke dalam tanah, pergerakan air ke akar tanaman, aliran air ke saluran drainase atau sumur, dan evaporasi air dari permukaan tanah adalah beberapa contoh yang jelas dimana laju pergerakan air memegang peranan penting. Sifat tanah yang menentukan karakteristik aliran air adalah Konduktivitas hidrolik dan retensi air (Gusli, 2008). Konduktivitas hidrolik tanah merupakan ukuran dari kemampuan tanah melakukan air, sedangkan karakteristik retensi air merupakan gambaran

3

kemampuan tanah menyimpan air dan kemudahan melepaskannya. Tiap jenis tanah dalam melalukan air berbeda-beda hal ini di sebabkan karena setiap tanah memiliki tekstur dan struktur yang berbeda-beda sehingga mengakibatkan kondisi aliran tidak jenuh pada suatu limpasan tanah yang bertekstur sedang atau lambat bukanya merangsang ke dalam profil bahkan sebenarnya menghambat aliran. Menurut ( Susanto, 2000 ) Air yang masuk kedalam tanah tidak dapat menjadi jenuh karena laju aliran terbatas melalui limpasan atas yang kurang permeabel pada kehantaran hidrolik jenuh lapisan bawah yang lebih besar. B. Tujuan dan Kegunaan Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui potensi, karakteristik, msalah, kelembagaan dan rekomendasi pengelolaan tanah. Kegunaan adalah sebagai bahan informasi mengenai potensi, karakteristik, msalah, kelembagaan dan pengelolaan tanah yang ada di indonesia.

BAB II PEMBAHASAN

2007). Ada lima Faktor Yang Mempengaruhi Proses Pembentukan Tanah Yaitu: 1) Iklim.4 A. 5 % bahan Organik. Melalui proses pelapukan. maka batubatuan berdisintegrasi dan terdisintegrasi menghasilkan bahan induk lepas dan selanjutnya. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Tanah Banyak batasan (defenisis) yang dibuat orang tentang tanah. 1986). dan . Suhu dan CH berpengaruh terhadap intensitas reaksi kimia dan fisika di dalam tanah 2) Organisme. dibawa pengaruh proses-proses pedogenetik berkembang menjadi tanah (hakim 1986). dan di ikuti oleh proses pencampuran bahan organik dan bahan mineral dipermukaan tanah. Tanah adalah Tubuh Alam (natural body) yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam (natural froces) terhadap bahan-bahan alam (natural material) di permukaan bumi. Tanah yang terbetuk dipermukaan bumi secara langsung atau tidak. baik secara fisik maupun kimia dibantu oleh pengaruh atmosfer. 25 % ruang pori-pori (pore space) terdiri atas air. siklus hara. 1. pemindahan dari bahan-bahan tanah dari bagian atas tanah ke bagian bawah dan berbagai proses lain yang dapat menghasilkan horizon-horizon tanah (Hardjowigeno. Akumulasi bahan organik. pembentukan struktur tanah. Defenisi yang dukemukan disini adalah merupakan kombinasi yang dibuat oleh Jooffe dan Marbut yang termasuk dua ahli ilmu tanah yang berkebangsaan dari Amerika Serikat. berkembang dari bahan mineral dan batuan-batuan. Secara umum tanah tersusun dari empat komponen utama. 25 % ruang pori-pori (pore space) terdiri atas udara . 45 % Fase padat (bahan mineral). Dalam kondisi alam. Perbandingan antara udara dan air selalu berubah-ubah tergantung pada iklim dan faktor lainnya (Hakim.

6 juta hectare atau sekitar 80 persen dariluas daratanya.6 juta hektare.34 juta hektare atau kurang dari 7 persen luas daratan Indonesia. Potensi dan Penggunaan Tanah Di Indonesia. berikut seluruh fasilitas penunjangnya serta pertambangan non-konsesi menempati tanah dengan luasan lebih kurang 5. Perbedaan tinggi atau bentuk wilayah atau bentang lahan. tergantung struktur batuan. Ditinjau dari penggunaan tanah per pulau dari tahun 2002.8 juta hektare dan pertaniaan tanaman kering seluas 39. .5 pembentukan unsur tanah sangat dipengaruhi oleh kegiatan organisme 3) Bahan Induk. Pada Gunung Krakatau letusan tahun 1983. Luas daratan idonesia lebih kuarang 190. 2007). pulau jawa dan bali yang luas daratannya 13. 2. Pemukiman industri. Jenis penggunaan tanah terluas untuk kedua pulau tersebut adalah pertanaian lahan kering dan pertanian lahan basah terutama sawah. membentuk horizon A setebal 25 cm selama 100 tahun (1883-1983) pada kondisi tidak terjadi erosi.4 juta hektare yang terdiri dari sawah seluas 7. Banyaknya waktu untuk membentuk tanah berbeda-beda.9 persen dari luas daratan. Luas keseluruhan luas tanah pertanian adalah sekitar 47. Jika bagian yang terjadi erosi Lapisan horizon A setebal 5 cm (Hardjowigeno. Penggunaan tanah yang terluas adalah hutan yang meliputi areal seluas116 juta hektare atau 64 persen dari total luas daratan. telah dimanfaatkan secara sangat intensif untuk berbagai jenis penggunaan tanah yakni seluas kurang lebih 10. Dari data tersebut berdasarakan data penggunaan tanah tahun 2002.923 ribu hektare. Susunan kimia dan mineral bahan induk sangat mempengaruhi intensitas pelapukan dan sifat tanah 4) Relief. dan 5) Waktu. 64% telah digunakan untuk berbagai kegiatan pembangunan tanah.5 juta hektare atau sekitar 2.

239 haktare. Berdasarkan pengamatan tersebut. Pada dasarnya penggunaan tanah/ruang adalah suatu fenomena yang dinamik. Penyusutan luas hutan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1. dimana sebagian besar yaitu sekitar 50 persen digunakan untuk perkebunan.992 hektare. rata-rata peruabahan tanah sawah menjadi tanah non pertanaian adalah 9.6 Ditinjau dari norma-norma tata ruang yang universal penggunaan tanah dikedua pulau tersebut sudah tidak memenuhi persyaratan. dan penggunaan tanah yang menang dalam kompetisi tersebut adalah jenis penggunaan tanah yang memberikan land rent yang terbesar.714 ha per tahun. Untuk pulau Sumatra persentase tanah yang telah dimanfaatkan adalah 54 persen. Dari luasan tersebut 48. Pada kurun tersebut perubahan tanah sawah yang menjadi tanah dengan kegiatan industri mencapai luas 39. Di Indonesia. Khusus pulau jawa dalam kurun pengamatan 1994-2002 luas perubahan jenis penggunaan tanah pertanaian baik sawah maupun lahan kering yang menjadi kegiatan industri dan pemukiman adalah 73.7 persen. Salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi dinamika penggunaan tanah adalah mekanisme pasar setiap jenis penggunaan tanah berkompetisi untuk memperebutkan suatu bidang tanah. Dari luasan tersebut sekitar 57 ribu hektare (kira-kira 55 persen) berasal dari tanah sawah.1 juta hectare pertahun. Persentase luas tanah yang dimanfaatkan pulau Kalimantan. Pada kurun 1994-2002 juga telah terjadi penyusutan luas tanah hutan untuk berbagai kegiatan pembangunan. baik sawah maupun pertanian lahan kering yang menjadi jenis kegiatan pemukiman dan industri adalah lebih kurang 108 ribu hektare.573 hektare atau 65. pada kurun 1994-2002 tercatat luas perubahan pengguaan tanah pertanian. berasal dari tanah sawah. Luas hutan pulau . papua serta Maluku relatif masih renadah yaitu berturut-turut sebesar 30 persen dan 19 persen.

Dan dari lahan non pertanian menjadi sawah seluas 2. 3. serta telah mengalami pencucian mineral liat (argilik) dan unsur-unsur lainnya dari bagian lapisan permukaan ke bagian subsoilnya (lapisan tanah bagian bawah).21 ribu ha. yaitu lahan sawah dengan kesuburan tinggi.42 ribu ha. pulau Kalimantan dan papua mengalami penyusutan luas terbesar yakni berturut-turut seluas 8.2 ribu ha dan yang dikonversi menjadi lahan yang bukan pertanaian sebesar 4. Lahan sawah yang dikonversi menajdi lahan pertaniaan paling tinggi terjadi di Sumatra sebesar 11. Karakteristi.9 ribu ha.71 juta hektare dan 109 juta hektare. Masalah dan Penyebaran Tanah Menurut USDA 1998 Ordo-ordo tanah beserta garis besar karakteristik dan penyebarannya adalah sebagai berikut: 1. Tanah ini terbentuk dari prosesproses pelapukan. Alfisol : yaitu tanah-tanah yang menyebar di daerah-daerah semiarid (beriklim kering sedang) sampai daerah tropis (lembap). dan lahan sawah yang dikonversi menjadi lahan bukan pertanian tertinggi terjadi terjadi di provinsi jawa timur sebesar 2.5 ribu ha. dan . 2008). Tanah ini cukup produktif untuk pengembangan berbagai komoditas tanaman pertanian mulai tanaman pangan.7 Sumatra. didaerah yang dekat dengan kosentrasi penduduk akan kalah bersaing dengan keuntungan lokasinya (location land rent) (Arsyad. 3.07 ribu ha.49 juta hektare. hortikultura. Tingginya konversi lahan sawah juga berhubungan dengan lokasi (locational land rent) yang lebih tinggi dari nilai kualitasnya (ricardian rent). Lahan sawah yang dikonversi menjadi lahan pertanaian yang bukan sawah di 8 provensi seluas 30. Sementara konversi dari lahan pertanian menjadi lahan sawah adalah seluas 7. yang merupakan bagian yang menyuplai air dan unsur hara untuk tanaman.

Sehubungan dengan lingkungannya yang kering. pH-nya ratarata mendekati netral dan KB > 35%. Andisol cenderung menjadi tanah yang cukup produktif. terutama setelah diberi masukan amelioran (seperti pupuk anorganik). Andisol seringkali dimanfaatkan orang untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan sayursayuran atau bunga-bungaan (seperti di daerah Lembang Kabupaten Bandung). terutama daerah-daerah yang ada hubungannya dengan material volkanik. . Andisol : yaitu tanah yang pembentukannya melalui proses-proses pelapukan yang menghasilkan mineral-mineral dengan struktur kristal yang cukup rapih. Tingkat kesuburannya (secara kimiawi) tergolong baik. Aridisol : adalah tanah-tanah yang berada di daerah-daerah dengan tingkat kekeringan yang ekstrem (sangat kering). Di seluruh dunia diperkirakan Alfisol penyebarannya meliputi 10% daratan. Andisol diperkirakan meliputi sekitar 1% dari luas permukaan daratan dunia di luar daratan es.8 perkebunan. dan diperkirakan luasnya mencakup sekitar 12% dari daratan bumi (di luar daratan es). 3. 2. Aridisol termasuk sangat sulit dimanfaatkan sebagai lahan untuk bercocok tanam. Aridisol umumnya dijumpai di padang-padang pasir dunia. terutama apabila sumber air untuk irigasi tidak tersedia (air tanah atau sungai). Mineral-mineral ini mengakibatkan Andisol memiliki daya pegang terhadap unsur hara dan air yang tinggi. bahkan sekalipun untuk petumbuhan vegetasi-vegetasi mesopit (seperti rumput). Tanah ini umumnya dijumpai di daerah-daerah yang dingin (pada ketinggian di atas 1000 m dpl) dengan tingkat curah hujan yang sedang sampai tinggi.

Diperkirakan penyebarannya meliputi sekitar 9% daratan permukaan bumi. kacang panjang. bayam. atau lumut yang cepat membusuk yang terdekomposisi dan terendapkan dalam air. atau telah didrainase oleh manusia. seperti daerah bukit pasir. di luar daratan es. Histosol (gambut) : merupakan tanah yang mengandung bahan organik tinggi dan tidak mengalami permafrost. karena terbentuknya dari material Gelic (campuran bahan mineral dan organik tanah yang tersegregasi es pada lapisan yang aktif). Terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan. Gelisol : adalah tanah yang terbentuk dalam lingkungan permafrost (lingkungan yang sangat dingin). daerah dengan kemiringan lahan yang curam. Histosol menyusun sekitar 1% dari daratan dunia. Pertanian yang dikembangkan di tanah ini umumnya adalah padi sawah secara monokultur atau digilir dengan sayuran/palawija. 6. terutama untuk tanaman sayur-sayuran seperti buncis. Histosol biasa disebut sebagai gambut. Kebanyakan selalu dalam keadaan tergenang sepanjang tahun. . 5. Entisol : adalah tanah tanpa atau dengan sedikit perkembangan dimana-sifatsifatnya sebagaian besar ditentukan oleh bahan induk. Terjadi di daerah dengan bahan induk dari pengendapan material baru atau di daerah-daerah tempat laju erosi atau pengendapan lebih cepat dibandingkan dengan laju pembentukan tanah. Belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap jenis tanah ini. diperkirakan tidak ada Gelisol yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanaman. dan daerah dataran banjir. Entisol diperkirakan terdapat sekitar 16% dari permukaan daratan bumi. sampah hutan. dan sehubungan dengan kondisinya yang berada pada iklim yang ekstrim. Dinamakan Gelisol. dan lainlain. Penggunaan Histosol paling ekstensif adalah sebagai lahan pertanian.9 4.

Tanah berwana gelap akibat bayak mengandung bahan organik (melanisasi) terdapat di AS dan bukit kapur. kopi. namun ada juga sebagian yang terbentuk dari batuan sedimen seperti batu pasir (sandstone). dan Amerika Selatan. mulai untuk bercocok tanam hortikultura tanaman pangan. atau batu liat (claystone). Mollisol secara karakter terbentuk di bawah rumput dalam iklim yang sedang. 8. Merupakan tanah yang memiliki epipedon mollik sampai kedalaman 180 cm dan KB (NH4OAc) ≥ 50%. Mollisol : adalah tanah yang mempunyai horison (lapisan) permukaan berwarna gelap yang mengandung bahan organik yang tinggi. Inceptisol : adalah tanah-tanah yang menyebar mulai di lingkungan iklim semiarid (agak kering) sampai iklim lembap. bahkan pada daerah-daerah yang eksotis. rekreasi. Amerika Utara. Asia. oleh karena itu tanah ini juga tergolong sangat subur. dikembangkan pula untuk agrowisata. Tanah ini tersebar luas di daerah-daerah stepa di Eropa. Inceptisol menyusun sekitar 17% dari tanah dunia di luar daratan es. Pemanfaatannya pun oleh manusia bervariasi sangat luas pula. Tanah ini kaya akan kation-kation basa. Penggunaan untuk pertanian beraneka ragam hutan. kakao. Umumnya tanah ini bekembang dari formasi geologi tuff volkan. dan lain sebagainya. batu lanau (siltstone). Memiliki tingkat pelapukan dan perkembangan tanah yang tergolong sedang . yang berbahaya adalah yang mengandung horizon sulfurik (cat clay). . Merupakan tanah yang berkembang belum matang (immature) dimana proses pedogenesis baru dimulai. sampai dikembangkan sebagai lahan-lahan perkebunan besar seperti sawit.10 7.

telah mengalami pelapukan lanjut. Reaksi jenis tanah ini adalah masam. Terdapat didaerah khatulistiwa. tanah ini juga peka terhadap erosi karena teksturnya berpasir sehingga cenderung gembur (remah).5 m. Mollisol diperkirakan meliputi luasan sekitar 7% dari tanah dunia. Merupakan tanah yang dicirikan oleh adanya lapisan pasir masam berwarna putih abu-abu (horizon albik)diatas lapisan lempung berpasir yang berwarna gelap. Adapun di Indonesia. . Oxisol meliputi sekitar 8% dari daratan dunia. namun intensitas pengelolaan dan pemanfaatannya relatif masih rendah. Tanah ini cenderung tidak subur (kurus unsur hara) dengn pH masam. Sulawesi. Kalimantan. seperti kwarsa. Kandungan tanah ini didominasi oleh mineral-mineral dengan aktivitas rendah. banyak dijumpai di Sumatra. Oxisol :adalah tanah yang telah mengalami pelapukan tingkat lanjut di daerah-daerah subtropis dan tropis. banyak digunakan untuk hutan dan pasture. 10. Spodosol : merupakan tanah yang terbentuk dari proses-proses pelapukan yang di dalamnya terdapat lapisan iluviasi (penumpukan) bahan organik berkombinasi dengan aluminium (dengan atau tanpa besi). Banyak digunakan untuk perladangan dan subsistem. Dicirikan dengan adanya horizon oksik pada kedalaman <1. unsur hara rendah. dan Papua. Merupakan tanah mineral yang kaya akan seskuioksida. kaolin. Tanah ini memiliki kesuburan alami yang rendah. Spodosol menyusun sekitar 4% lahan-lahan di dunia. tetapi tetap dibiarkan sebagai hutan.11 Walaupun dikatakan subur (dengan kondisi yang dijelaskan di atas). kandungan Al yang tinggi. 9. sehingga diperlukan pengapuran dan pemupukan serta pengelolaan yang baik agar tanah dapat menjadi produktif dan tidak rusak. Selain kesuburannya rendah. dan besi oksida. Sebaiknya tanah Spodosol tidak dijadikan lahan pertanian.

Merupakan tanah dengan horizon argilik atau kandik bersifat masam dengan KB <35%. . tetapi kembali mengerut apabila kering.Ultisol diperkirakan meliputi sekitar 8% dari lahan-lahan di dunia. didaerah paling basah tanah hanya kering beberapa minggu. menjadikan tanah ini termasuk berat untuk diolah. baik ditinjau dari segi fisik. kadar Al tinggi merupakan penghambat untuk pertanian. dalam arti jangan ditanami tanaman semusim sepanjang tahun. Akibatnya. didaerah paling kering tanah hanya basah 1-2 bulan. Oleh karena itu. serta lebih ditingkatkan penggunaan dan penanaman berbagai jenis tanaman leguminosa. Sifat fisiknya yang konsisten keras. maka tanah ini sebaiknya tidak digunakan untuk pertanian tanaman pangan terlalu intensif. yakni mempunyai sifat vertik. Vertisol: adalah tanah yang memiliki sifat khusus. tanah ini seringkali mengalami perubahan volume dengan berubahnya kelembapan.12 11. Merupakan tanah yang berkembang akibat adanya musim kering dalam setiap tahun. 12. maupun biologinya. kimia. tanah ini dicirikan mempunyai rekahan yang membuka dan menutup secara periodik. Ultisol : adalah tanah-tanah yang terbentuk di daerah yang lembap. ciri2 : (1) Mengembang mengerut (2) Memiliki slickenside. tetapi perlu diselingi dengan tanaman pupuk hijau. Tanah ini diperkirakan meliputi 2% dari daratan di dunia. karena mengandung banyak mineral liat yang mudah mengembang apabila basah atau lembap. (3) Tofografi gilgai. Mengingat beberapa kendala dari tanah Ultisol.

(1) 1. Selanjutnya Kartasapoetra et. al.13 Peta Penyebaran Jenis Tanah Di Dunia (Sumber : LITBANG) Gambar 1. Dari dua belas ordo tanah yang telah diuraikan di atas. karena memang kedua jenis tanah ini berkembangnya di daerah-daerah dengan kondisi iklim ekstrem. ANALISIS Kepekaan Tanah Terhadap Erosi Pairunan et. maupun yang disebabkan oleh angin (Erosi Angin). (1997) mengemukakan dalam bukunya bahwa erosi adalah proses pemindahan tanah dari suatu tempat ketempat yang lain. baik yang disebabkan oleh air (Erosi Air). (2000) mengemukakan bahwa. Sedangkan ordo tanah yang lainnya telah dijumpai keberadaannya di Indonesia.. al. sesungguhnya pengangkutan . erosi dapat juga dikatakan pengikisan atau kelongsoran.. dua ordo di antaranya yaitu Aridisol dan Gelisol tidak terdapat di bumi Indonesia.

. v = Vegetasi. proses erosi terjadi tiga tahap yaitu.14 tanah oleh desakan-desakan kekuatan air dan angin. Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya erosi air. v. Faktor-faktor tersebut dinyatakan dalam persamaan deskriptif (Arsyad. 2007). t = Tanah. Di antara kelima faktor tersebut. maka akan terjadi tahap ketiga yaitu pengendapan. r. faktor manusia paling menentukan apakah tanah yang diusahakannya akan rusak atau tidak produktif atau menjadi baik dan produktif secara lestari. pengangkutan (Transportation). sebagai berikut : E = f ( I. t. lereng. tahap pengangkutan oleh media yang erosif seperti aliran air dan angin. yaitu pengelupasan (Detachment). vegetasi dan manusia (Harjowigeno. baik yang berlangsung secara alamiah maupun yang berlangsung dengan tindakan-tindakan manusia. dan pengendapan (Sedimentation). f = Topografi . dan m = Manusia. Asdak (2002) menyatakan bahwa proses erosi terdiri atas tiga bagian yang berurutan. m ) Dimana : E = Erosi. I = Iklim. 2006). tahap pelepasan partikel tunggal dari massa tanah. sifat-sifat tanah. Pada kondisi dimana energi tidak lagi cukup mengangkut partikel. Suripin (2004) menyatakan bahwa. yang terpenting adalah: curah hujan.

dan liat (clay). Proses Terjadinya Erosi oleh Air Secara fisik. partikel-parrtikel tersusun dalam bentuk materi yang poriporinya kurang lebih 50 %. infiltrasi. struktur. Selanjutnya Asdak (2002). dan kandungan bahan organik. Tekstur tanah. semua penggunaan tanah dipengaruhi oleh sifat fisik tanah. adalah: 1. Secara esensial. Dalam kaitannya konservasi tanah dan air meliputi : tekstur. tanah terbentuk oleh ketiga kombinasi unsur tersebut diatas. Di lapangan. debu (silt). Tekstur tanah . biasanya berkaitan dengan ukuran dan porsi partikelpartikel dan akan membentuk tipe tanah tertentu. (Suripin. menjelaskan bahwa empat sifat fisik tanah yang penting dalam menentukan erodibilitas tanah (mudah tidaknya tanah tererosi). tanah terdiri dari partikel-partikel mineral dan organik dengan berbagai ukuran.15 Tanah dari Lereng atas Penghancuran tanah oleh curah hujan Penghancuran tanah oleh aliran permukaan Daya angkut curah hujan Daya angkut Aliran Permukaan Penghancuran tanah dalam perjalanan Total tanah yang dihancurkan bandingkan Total Daya angkut Total tanah yang di hancurkan < total daya angkut Total tanah yang di hancurkan > total daya angkut Total tanah yang diangkut ke lereng bawah Gambar 2. Tiga unsur utama adalah pasir (sand). sebagian terisi oleh air dan sebagian lagi terisi oleh udara. 2004).

3.10 mm). adalah susunan partikel-partikel tanah yang membentuk agregat tanah. Unsur organik cenderung memperbaiki struktur dan bersifat meningkatkan permeabilitas tanah.002).0 mm). persentase debu (0. dan persentase tanah liat (<0. Kumpulan organik diatas permukaan tanah dapat menghambat kecepatan air larian. 2002). model analog dan model digital.1-2. meskipun resistensi tersebut diatas akan tergantung pada topografi (Asdak. model stochastik dan model parametrik. Faktor erodibilitas tanah menunjukan resistensi partikel tanah terhadap pengelupasan dan transportasi partikel-partikel tanah tersebut oleh adanya faktor kinetik air hujan.05 mm).002-0. Permeabilitas tanah. kapasitas tampung air tanah. menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Model digital terdiri atas model deterministik. (Suripin. Selanjutnya dijelaskan suatu model parametric untuk memprediksi erosi dari suatu bidang tanah dan telah dikembangkan oleh Weischmeier dan Smith (1978) yang disebut Universal Soil . terdiri atas limbah tanaman dan hewan sebagai hasil proses dekomposisi. dengan menurunkan laju air larian. permeabilitas menaikkan infiltrasi. Struktur tanah mempengaruhi kemampuan tanah dalam menyerap air tanah. Struktur tanah. Tanah dengan demikian. 2004). Menurut Arsyad (2006). terdapat tiga model utama yaitu model fisik. Unsur organik.05-0. dan kesuburan tanah.16 meliputi persentase kandungan pasir (0. Struktur dan tekstur tanah serta unsur organik lainnya ikut ambil bagian dalam menentukan tinggi permeabilitas laju tanah. 2. persentase pasir sangat halus (0. 4.

Model sistemnya yaitu erosi permukaan lahan dengan menggunakan konsep laju erosi. Model-model dapat dilakukan dengan eksperimentasi terhadap suatu sistem tanpa harus mengganggu atau mengadakan perlakuan terhadap sistem yang diteliti dimana . Simulasi merupakan suatu metode pendekatan masalah dengan menggunakan model-model.17 Loss Equation (USLE). Skema Persamaan USLE (Arsyad. Besarnya erosi yang akan terjadi adalah fungsi: Hujan Kemungkinan Erosi Tanah Energi Sifat Tanah Pengelolaan Kekuatan Perusak Hujan Pengelolaan Lahan Pengelolaan Tanaman E R K L S P C Gambar 3. USLE memungkinkan perencana menduga laju rata-rata erosi suatu tanah tertentu pada suatu kecuraman lereng dengan pola hujan tertentu untuk setiap macam pertanaman dan tindakan pengelolaan (tindakan konservasi tanah) yang mungkin dilakukan atau yang sedang dipergunakan. sedangkan prinsip pengendalian laju erosi digerakkan melalui teknik simulasi. 2006) Model dikembangkan menurut hubungan penggunaan lahan dan penduga tingkat erosi. Persamaan yang digunakan mengelompokkan berbagai parameter fisik dan pengelolaan yang mempengaruhi laju erosi ke dalam peubah utama yang nilainya untuk setiap tempat dapat dinyatakan secara numerik.

Sejauh ini. dimana keduanya memiliki ruang lingkup pengaturan yang sama yaitu tanah. Sedangkan pengaturan keagrariaan didasarkan pada Undang-Undang No. Namun UUPA mengutamakan falsafat dan cita-cita bangsa untuk memanfaatkan tanah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan lebih fokus kepada hubungan hukum antara perorangan dan badan hukum dengan tanah (Arsyad.18 kegagalan seperti yang sering dialami pada eksperimentasi biasa tidak akan dialami (Suripin. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Selain dari pada itu telah terjadi penyimpangan pelaksanaan penatagunaan tanah dan pelaksanaan rencana umum tata ruang wilayah yang disebabkan berbagai kekurangan dan kesalahan yang perlu diperbaiki. Sebenarnya Undang-Undang Agraria Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria yang menjadi dasar pengelolaan agraria di Indonesia penuh dengan nilai-nilai kerakyatan dan dasar-dasar kebijakan yang mengutamakan kepentingan rakyat terutama golongan ekonomi lemah akan tetapi di dalam pelaksanaannya mengalami hambatan-hambatan sehingga menimbulkan berbagai masalah agraria yang pelik. 2004). . tidak dapat disangkal cita-cita bangsa Indonesia agar tanah dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat belum sepenuhnya tercapai. Kelembagaan dan Kebijakan Peraturan penataan ruang di Indonesia didasarkan pada Undang-Undang No. 2008). Salah satu masalah yang terpenting adalah buruknya distribusi pemilikan dan penguasaan tanah baik di perdesaan maupun di perkotaan. air dan ruang angkasa. 2. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

lahan juga berperan penting dalam menyangga lingkungan seperti mengendalikan sikius air dan menjaga keseimbangan komposisi udara di dalam atmosfer. 2. artinya harus ada ijin dari badan pertanahan nasional (BTN) dan MKTI (Masyarakat Konservasi Tanah Indonesia).19 Aspek Sosial dan Kelembagaan Pengelolaan Tanah Untuk mewujudkan agar pendayagunaan tanah dapat sesuai dengan amanah UUD 1945 pasal 33 dan UUPA No. Usaha pertanian dilakukan pada lahan basah yaitu lahan yang proses produksinya digenangi dengan air sedangkan lahan kering dalam proses produksi tidak digenangi. Pemerintah pusat dan daerah. Berbagai bentuk permasalahan di dalam pengelolaan (manajemen) sumberdaya lahan pertanian yakni berupa berbagai bentuk kerusakan atau degradasi kualitas lahan oleh . untuk membangun persepsi dan sikap kepedulian semua pihak yang terkait terhadap pelestarian tanah agar tetap berada pada produktivitas optimum. Rekomendasi Pengelolaan Manajemen Sumberdaya Lahan dalam Usaha Pertanian Berkelanjutan Selain sebagai rnodal dasar untuk memproduksi pangan. finasial. dan bahan lain untuk kehidupan seperti obat-obatan. Penyusunan program dan pelaksanaan konservasi tahah perlu dilakukan dengan model partisipasif. serat. 3. 3. Proses penyusunan pemanfaatan sumberdaya tanah harus dilakukan dengan melibatkan : 1. Masyarakat atau pihak-pihak pengguna dan pemerhati tanah sebelum tanah dikelola. 5 tahun 1960 yaitu memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. a. maka perencanaan pemanfaatan sumberdaya tanah harus dilakukan secara bijaksanan dengan mempertimbangkan faktor-faktor teknis. sosial dan pertimbangan lingkungan.

Untuk menjamin keberlanjutan penyediaan bahan kebutuhan manusia tersebut dun mempengaruhi kualitas lingkungan serta melestarikan fungsi sumberdaya Iahan maka lahan pertanian harus dikelola menggunakan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan Pertanian berkelanjutan mempunyai cirri-ciri (1) mantap secara ekologis. terganggunya keanekaragaman hayati. Kegiatan pemanfaatan lahan yang tidak didukung kaedah konservasi sumberdaya lahan akan mengakibatkan penurunan produktivitas lahan. dan (5) luwes. (3) adil. Pertanian berekelanjutan akan terwujud hanya apabila lahan digunakan untuk usaha pertanian yang tepat dengan cara penggunaan lahan berkelanjutan. atau bahkan dapat ditingkatkan. disparitas dan fragmentasi pemilikan lahan. (4) manusiawi. Penggunaan lahan berkelanjutan mempunyai ciri-ciri (1) penggunaan sumberdaya lahan berorientasj jangka panjang. dan (6) mampu mempertahanican Iingkungan dan ancaman kerusakan secara fisik. Konservasi Sumberdaya Lahan dalam Pemanfaatan Tanah Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan meningkatnya pembangunan berbagai sektor ekonomi dan sosial. terjadinya erosi dan sedimentasi. pemadatan tanah. (2) secara ekonomis berkelanjutan. b. mengakibatkan perubahan iklim mikro . maka kebutuhan akan lahan bertarnbah sedangkan luasan lahan tetap dan daya dukungnya terbatas serta mudah mengalami kerusakan. (5) dapat meningkatkan produktivitas dan kemampuan lahan. (4) kualitas lahan dipertahankan. (3) pendapatan masyarakat yang semakin meningkat.20 akibat salah kelola lahan. (2) dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan potensi untuk masa depan. konversi lahan pertanian produktif ke penggunaan nonpertanian.

dan (8) penggunaan geotekstil. (2) pembuatan guludan. dan (3) rezim kelembapan tanah (soil temperature regim). dan drainase). (5) penggunaan sisa tanaman sebagai pupuk hijau dan mulsa. struktur. dan menentukan metode konservasi tanah yang diperlukan untuk menghidari kerusakan tanah dan kehingan fungsi hidrologi tanah.sifat tanah mengelompokkan tanah (lahan) kedalam delapan kelas kemampuan lahan (KKL). (2) sifat-sifat tanah (tekstur. (4) agroforestry (wanatani). (3) penanaman dalam strip. (4) pembuatan rorak. Metode mekanik untuk koservasi tanah meliputi (1) pengelolaan tanah menurut kontur. Metode konservasi tanah meliputi penggunaan tumbuh-tumbuhan atau tanaman dan sisa-sisa tumbuhan /tanaman yang disebut metode vegetatif. kedalaman terhadap lapisan kedap. Penempatan berbagai konservasi tanah ditentukan oleh beberapa faktor. tanggul. Metode vegetatif untuk konservasi tanah meliputi (1) penanaman dengan tumbuhan yang menututupi tanah terus-menerus. . Menurut Sutanala Arsyad (2008) Kecuraman lereng dan sifat. (7) penggunaan berbagai preparat kimia sintetik yang disebut soil conditioner. dan manipulasi permukaan tanah dan pembangunan bangunan pencegah erosi yang disebut metode mekanik. penanaman rumput permanen. dan (6) penanaman saluran-saluran air dengan rumput. waduk. (2) pergiliran tanaman. seperti (1) tofografi (kemiringan permuakaan tanah). seperti penanaman tumbuhan hutan (pengutanan). dan (5) perbaiki drainase dan irigasi.21 dan dapat mengancarn kehidupan manusia dengan terjadinya banjir dan pencemaran sumberdaya lahan. penananman tanaman tahunan dengan tanaman penutup tanah yang baik. (3) pembuatan teras.

hutan produksi. agar tidak rusak. dan guludan bersaluran. kedalaman sedang (>50 cm-90 cm). LKK III memerlukan tindakan koservasi yang cukup berat serperti pembuatan guludan bersaluran. LKK IV adalah tanah yang terletak pada lereng miring atau berbukit (1530%) dan/atau telah mengalami erosi agak berat (>75% lapisan atas telah . dan tidak ada penghamabat pekerjaan pengelolaan tanah. LKK II memerlukan tindakan koservasi tanah yang ringan seperti pergiliran tanaman. dan tidak ada penghambat pertumbuhan tanaman. hutan produksi dan sebagainya. LKK II sesuai untuk segala keperluan manusia. dan/atau kedalaman tanah dangkal (25-50 cm). namun diperlukan upaya pemeliharaan kesuburan tanah seperti pemupukan dan penamambahan bahan organik kedalam tanah secara teratur. atau hutan lindung/suakan alam. agar tidak mengalami kerusakan dan kehilangan fungsi hidrologinya. padang rumput. Oleh karena itu. Jika digunakan untuk pertanian tanamam semusim. sesuai untuk segala jenis pertanian dan semua keperluan manusia. drainase baik. padang rumput. KKL I terlatak pada lereng yang datar (lereng 0-3%). tanahnya dalam.22 Lahan kelas kemampuan I ( KKL I ) adalah lahan terbaik. atau kombinasi dari beberapa metode vegetatif. termasuk untuk tanaman semusim. KKL I tidak memerlukan tindakan koservasi khusus. LKK II adalah tanah yang landai sampai berombak (3-8%) dan/atau telah mengalami erosi ringan (<25% lapisan atas telah hilang). LKK III adalah tanah yang terletak pada lereng dangan kemiringan agak agak miring atau bergelombang (8-<15%). jika digunakan untuk pertanian tanaman semusim. tanaman tahunan. peka erosi atau telah mengalami erosi yang agak berat. penggunaan mulsa. tanaman tahunan. teras berdasar lebar. LKK III masih sesuai untuk pertanian tanaman semusim.

. namun sesuai untuk tanaman pepohonan (tahunan) dengan tanaman penutup tanah yang baik. atau berbatu-batu. diperlukan metode konservasi yang lebih berat dari LKK III. hutan lindung atau suaka marga satwa. Tanah LKK V tidak sesuai untuk tanaman semusim. dan atau kedalaman tanah yang dangkal (<50-25 cm). Jika profil tanahnya dalam dapat digunakan untuk produksi pertanian (tanaman semusim atau tahunan) dengan metode pencegahan erosi yang berat seperti pembuatan teras bangku dan kombinasi metode vegetatif. atau iklim yang kurang sesuai. padang pengembalaan (rumput). rorak dan kombinasi berbagai metode vegetatif. untuk menghidari kerusakan tanah dan kehilangan fungsi tanah. namun dapat digunakan untuk padang pengembalaan (rumput) intensif. hutan produksi. akan tetapi selalu tergenang air atau ancaman banjir.23 hilang). LKK V adalah tanah yang terletak pada lereng datar. LKK IV dapat digunakan untuk tanaman semusim. dan/atau kedalaman yang sangat dangkal (<25 cm). seperti pembuatan teras bangku. atau hutan lindung suaka alam. tanaman pohon dengan tanaman penutup tanah yang baik. LKK V adalah tanah yang memiliki hamabatan penggunaan bukan oleh ancaman erosi akan tetapi oleh hambatan lain yang tidak praktis untuk dihilangkan sehingga membatasi pilihan penggunanya untuk pertanian. hutan produksi dan hutan lindung/suaka alam. LKK VI adalah tanah yang terletak pada lereng yang agak curam (>3045%). dan/atau telah mengalami erosi barat > 25 lapisan bawah telah hilang). Jika digunakan untuk tanaman semusim. hutan produksi. LKK VI tidak sesuai untuk tanaman semusim. padang pengembalaan (rumput) tidak intensif.

Akibat dan isu-isu tersebut yang kita rasakan saat ini adalah semakin berkurangnya ketersediaan sumber air baku. Untuk mengatasi isu-isu tersebut termasuk mengatasi dampaknya.24 LKK VII adalah tanah yang terletak pada lereng curam (>45-65%) dan/atau telah mengalami erosi sangat berat (erosi parit). konversi pemanfatan lahan yang tidak terkendali. Namun dapat digunakan untuk padang pengembalaan (rumput) terbatas. dan diperuntukan sebagai hutan lindung atau suaka alam atau areal rekreasi. isu-isu pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan dayadukung lingkungan. terjadinya kemacetan lalu lintas di perkotaan yang telah sampai pada taraf menurunkan produktivitas masyarakat dan rnenghambat arus barang dan jasa. dan terbaik adalah untuk hutan lindung /suaka alam. LKK VII tidak sesuai untuk tanaman semusim. hutan produksi dengan upaya pencegahan erosi. baik air permukaan maupun air bawah tanah (terutama di perkotaan). dan (3) pasir pantai atau padang pasir. Dan perspektif tata ruang. perlu diternpuh langkah-langkah yang sistematis yang dapat mengefektifkan . c. Contoh LKK VIII adalah : (1) lahan berlereng > 65%. LKK VIII tidak sesuai untuk usaha produksi pertanian apapun. ini merupakan isu utama dalarn pemanfaatan lahan. (2) lahan terdiri atas batubatu massif atau batu lepas. terjadinya banjir pada musirn hujan dan kekeringan pada musim kemarau. atau padang pasir. sebaiknya LKK VIII dibiarkan pada keadaan alami. LKK VIII adalah tanah yang terletak pada lereng snagat curam (>65%) dan/atau berbatu-batu. tumbuhnya kawasan kumuh di perkotaan. Pemanfaatan Lahan dalam Perspektif Penataan Ruang Perspektif tata ruang sangat menentukan orientasi tata kelola penggunaan lahan. dan pengaturan pemanfatan lahan yang tidak efisien.

maka pengertian tanah dalam arti luas meliputi tanah sebagai lahan. (b) penyiapan norma.25 penyelenggaraan penataan ruang. pada setiap kurun perjalanan hidup. biologi. Aspek Keagrariaan dalam Pengelolaan Tanah Sebagai sumberdaya agraris. Setiap dimensi tanah secara sendiri-sendiri ataupun secara bersama-sama mempunyai potensi memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. tujuan pengelolaan tanah adalah untuk memperoleh kesejahtaeraan dan tanah. termasuk dalam pengaturan pemanfaatan lahan agar sesuai dengan rencana tata ruang. standar. Kesejahteraan adalah konsep yang sangat dinamik. Lebih lanjut fenomena ini menyebabkan pasar gagal mendistribusikan tanah secara efisien dan adil. Kesulitan manajemen publik atas tanah sernakin besar disebabkan suplai tanah yang pada dasarnya inelastik. 2008). d. (c) pengawasan penyelenggaraan penataan ruang. Dalam konteks operasional. setiap manusia dalam upaya mencapai kesejahteraannya melalui setiap kesempatan yang tersedia baginya (Arsyad. air (perairan) dan ruang angkasa sepanjang terkait secara langsung dengan penggunaan tanah. Beberapa langkah penting yang sudah dan tengah dilakukan antara lain adalah (a) revisi Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang yang dirasakan tidak tegas dalam memberikan arahan bagi penyelenggara. sosial. Kerumitan dimensi tanah menyebabkan harga pasar tanah tidak mampu mencerminkan “nilai tanah yang sesungguhnya” bagi masyarakat yang rasional dan bermartabat. ekonomi. politik dan magis-religius. dan (d) penegakan hukum (law enforcement). pedoman dan manual bidang penataan ruang. Dalarn konteks ini tanah merupakan suatu kesatuan multidimensional yang meliputi dimensi fisik. kirnia. . dengan Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Namun pemanfaatan lahan terlantar yang adapun lebih banyak yang tersedia untuk dikembangkan menjadi lahan tanaman pangan kering dan lahan perkebunan. serta dilakukan kebijakan intensifikasi seperti peningkatan produktivitas tanah. Ketersediaan lahan potensial untuk perluasan areal tanaman pangan padi sawah dan perspektif fisik dan struktural sudah sangat terbatas bahkan sudah tidak lagi tersedia. . Urgensi Pengembangan Lahan Pertanian Pangan Abadi Lahan merupakan faktor produksi yang utama namun unik karena tidak dapat digantikan dalam usaha pertanian. hanya dapat dimanfaatkan dan lahan terlantar. Bila kebijakan diversifikasi pangan berhasil diterapkan. Guna memenuhi konsumsi pangan penduduk hingga tahun 2050. Kebijakan pengembangan areal lahan tanaman pangan. apabila tidak dilakukan perubahan kebijakan diversifikasi pangan dibutuhkan penambahan lahan sawah hingga 2.5 juta hektare.26 Sebenarnya Undang-undang Agraria Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria yang menjadi dasar pengelolaan agraria di Indonesia penuh dengan nilai-nilai kerakyatan dan dasar-dasar kebijakan yang mengutamakan kepentingan rakyat terutama golongan ekonomi lemah akan tetapi di dalam pelaksanaannya mengalami hambatan-hambatan sehingga menimbulkan berbagai masalah agraria yang pelik. e.

Konservasi Sumberdaya Lahan dalam Pemanfaatan tanah. Aspek Keagrariaan dalam Pengelolaan Tanah dan Urgensi Pengembangan Lahan Pertanian Pangan Abadi. Tanah adalah Tubuh Alam (natural body) yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam (natural froces) terhadap bahan-bahan alam (natural material) di permukaan bumi 2. kemasaman tanah (firit).923 ribu hektare. konversi lahan dan hak kepemilikan tanah. KESIMPULAN Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa : 1. 4. Rekomendasi pengelolaan tanah yaitu: Manajemen Sumberdaya Lahan dalam Usaha Pertanian Berkelanjutan. kimia dan biologi tanah untuk mengurangi dampak negatif (kerusakan tanah) yang terjadi dalam proses pengelolaan yang meliputi segala aspek kehidupan. Pemanfaatan Lahan dalam Perspektif Penataan Ruang. B. organisme (bahan organik).27 BAB III PENUTUP A. relief/tofografi. Aspek sosial. 64% telah digunakan untuk berbagai kegiatan pembangunan tanah. Luas daratan idonesia lebih kuarang 190. Masalah pengelolaan tanah yaitu erosi. dan waktu. bahan induk. kelembagaan dan kebijakan sangat penting dalam pengelolaan tanah agar tetap lestari. SARAN Pengelolaan atau pemnfaatan sumberdaya tanah sebaiknya dilakukan dengan meperhatikan karakteristik tanah baik fisik. Karakteristik setiap ordo tanah (12 ordo) berbeda yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pembentuk tanah seperti iklim. 6. 3. 5. Dari data tersebut berdasarakan data penggunaan tanah tahun 2002. .

Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air.G Nugroho.A Diha. 2002. Jakarta Hardjowigeno. Samosir. M. DC..R Saul. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur. IPB Press. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Tangkaisari. B. Jakarta Asdak.R. 2004. Washington. J.B Hong.L. eigth edition. Yogyakarta Syarief. 1997. S. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 1998. Y.. S.. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. A. Yayasan Obor Indonesia. Ujung Pandang Soil Survey Staff. Bailley. LEPHAS. Institut Pertanian Bogor. Indonesia. S dan Ernan Rustiadi. 1986. Gadjamada University Press. S. Arifin. 1986. A. Christianto. Lubis. G. Suripin. J. 2004. 2006. Ilmu Tanah. 2003. Tanah-Tanah Utama Dinia..K. Air. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Universitas Hasanuddin Makassar Hakim N. Jakarta Lopulisa. Penyelamatan Tanah. Andi. Pustaka Buana Bandung . Arsyad.. Lalopua. C. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Konservasi Tanah dan Air. Keys to Taxonomy. Fisika Kimia Tanah Pertanian. M. Hariadji Asmadi. 2008. Penuntun Praktikum Fisika Tanah. S. Ibrahim. 2008. Makassar Pairunan. Nyakta.M.. Lampung Hardjowigeno. S. 2007. Yogyakarta Gusli S. H. Akademika Pressindo. Akademika Pressindo. NRCS-USDA. Universitas Lampung. S.R. M. R. Nanere. dan Lingkungan.28 DAFTAR PUSTAKA Arsyad.

29 .

30 .

31 .

32 .

33 .

34 .

35 .