DIURETIKA

Diuretika adalah zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih (diuresis) akibat pengaruhnya yang langsung terhadap ginjal. Jika pada peningkatan ekskresi air, terjadi juga peningkatan ekskresi garam-garam, maka diuretika ini dinamakan saluretika atau natriuretika (diuretika dalam arti sempit). Walau kerjanya pada ginjal, diuretika bukan ‘obat ginjal’, artinya senyawa ini tidak dapat memperbaiki atau menyembuhkan penyakit ginjal, demikian juga pada pasien insufisiensi ginjal jika diperlukan dialisis, tidak akan dapat ditangguhkan dengan penggunaan senyawa ini. Obat-obat ini merupakan penghambat transpor ion yang menurunkan reabsorpsi Na+ pada bagian-bagian nefron yang berbeda. Akibatnya, Na+ dan ion lain seperti Clmemasuki urine dalam jumlah lebih banyak bila dibandingkan keadaan normal bersama-sama air, yang mengangkut secara pasif untuk mempertahankan keseimbangan osmotik. Jadi, diuretik meningkatkan volume urine dan sering mengubah pH-nya serta komposisi ion di dalam urine dan darah. Efektifitas berbagai kelas diuretik yang berbeda, sangat bervariasi, dengan peningkatan sekresi Na+ bervariasi dari kurang dari 2% untuk diuretik hemat kalium yang lemah, sampai lebih dari 20% untuk “loop diuretic” yang poten. Obat-obat yang menyebabkan dieresis dengan mempengaruhi ginjal secara tak langsung, tidak termasuk definisi ini, misalnya obat-obat jantung. Golongan diuretika yang memiliki efek yang kuat yaitu diuretika golongan Loop atau High-Ceiling Diuretic. Diuretik kuat mencakup sekelompok diuretik yang efeknya sangat kuat dibandingkan diuretik lain. Tempat kerja utamanya di bagian epitel ansa Henle bagian asenden, karena itu golongan ini disebut juga sebagai “loop diuretic”. Termasuk dalam golongan ini adalah asam etakrinat, furosemid dan bumetanid. Asam etakrinat termasuk diuretik yang dapat diberikan secara oral maupun parenteral dengan hasil yang memuaskan. Furosemid atau asam 4-kloro-Nfurfuril-5 sulfamoil antranilat masih tergolong derivat sulfonamid. Bumetamid merupakanderivat asam 3-aminobenzoat yang lebih poten daripada furosemid, tetapi dalam hal lain kedua senyawa ini mirip satu dengan yang lain. Diuretika jerat Henle tipe furosemida mempunyai struktur sulfanilamida dan pada posisi oterhadap gugus sulfonilamida mempunyai penyulih penarik elektron. Sifat yang khas pada senyawa ini adalah kerjanya yang singkat akan tetapi amat intensif. Pada pemakaian secara parenteral, segera setelah penyuntikan terjadi peningkatan ekskresi natrium, klorida, dan air yang lebih besar daripada ekskresi yang disebabklan oleh semua diuretika lainnya. Pembentukan kemih Fungsi utama dari ginjal adalah untuk mengeluarkan dari tubuh semua zat yang asing atau toksis, umpamanya obat-obat serta hasil-hasil penguraiannya, dan sisa-sisa pertukaran zat dari tubuh sendiri. Pengeluaran zat-zat ini terjadi sebagai larutan dalam air kemih. Ginjal adalah organ tubuh yang terpenting untuk mengatur homoiostatis. Dengan

fungsi-fungsi tubuli ini dapat dibagi dalam beberapa bagian yang perlu diketahui sehubungan dengan penggolongan diuretika. tetapi antara lain juga dari tekanan osmotis filtrate glomeruli. glukosa dan ± 70% dari natrium. Bagian proksimal dan distal menyerap kembali ion-ion Na+ dan bikarbonat (HCO3-) dan proses ini dikendalikan oleh enzim karbonanhidrase. Secara lebih terperinci. yang dikendalikan oleh aldosteron. Zat-zat yang tak berguna. di samping air dan klorida. yakni sebagai berikut: 1. sedangkan di antara dua bagian ini terletak suatu bagian tikungan. Air saringan glomeruli (ultrafiltrat) yang diperoleh pada penyaringan ini mengandung elektrolit-elektrolit dari darah di samping banyak air.5 liter air kemih. dipekatkan hingga menjadi hanya lebih kurang 1. Di bagian distal terjadi prose penukaran ion-ion Na+ dengan ion-ion K+. ultrafiltrat yang tiap harinya dihasilkan rata-rata 100 liter oleh seorang dewasa. ditampung di wadah-wadah (Bowman’s capsules) yang mengelilingi tiap gumpalan seperti corong dan kemudian disalurkan melalui pipa-pipa kecil (tubuli). Dinding-dinding glomeruli ini bekerja sebagai saringan halus yang secara pasif menahan sel-sel darah dan zat-zat putih telur. Di sini terjadi penarikan kembali secara aktif dari air dan zat-zat kimia (glukosa dan sebagian garam yang masih berfaedah bagi tubuh) dan dikembalikan kepada darah melalui kapilerkapiler yang meliliti tubuli tersebut. .homoiostatis dimaksudkan suatu keseimbangan dinamis antara cairan di dalam dan di luar sel-sel yang terutama sekali tergantung daripada pertukaran zat ion Na+. Dengan demikian. maka hanya sedikit air yang dapat diresorpsi kembali (diuresis osmotis). 3. 4. Henle’s loop menyerap kembali ± 20% dari ion-ion Na+ di samping penyerapan kembali dari air. tetapi dapat ditembus oleh air. garam-garam dan glukosa. yang disebut Henle’s loop. sedangkan ion-ion kalium adalah sebaliknya. Bagian proksimal meyerap ureum. Kehilangan ion-ion K+ sebagai efek sampingan dari hampir semua diuretika terjadi di bagian ini. misalnya jika larutan ini mengandung banyak glukosa. 2. Proses dieresis dimulai dengan mengalirnya darah ke dalam gumpalan-gumpalan pembuluh darah (glomeluri) yang terletak di bagian kulit (cortex) dari ginjal. Tubuli ini dapat dibagi dalam bagian proksimal dan distal. seperti ampas-ampas penguraian dari metabolism zat-zat putih telur (ureum) tidak diserap kembali. Ion-ion ini berada terutama di luar sel dalam cairan antar sel dan dalam plasma darah. Resorpsi air tidak saja tergantung dari resorpsi aktif ini.

Penggunaan penting pula adalah sebagai (pembantu) hipertensi guna mengurangi volume-darah seluruhnya hingga tekanan darah menurun. ginjal akan mengeluarkan seluruh sisa komponen tersebut sehingga udema akan lenyap dan terjadilah diuresis. Yang banyak digunakan pada hipertensi adalah terutama obat-obat long-acting seperti derivate-derivatthiazida. disebut diuresis osmotis. pada mana air tertimbun berlebihan di dalam rongga-rongga jaringan. yakni terutama pada pengobatan udema pada mana terdapat air berlebihan di jaringan-jaringan. Efek-efek sampingan umum Praktis semua diuretika menyebabkan kehilangan-kehilangan ion-ion kalium dan akhirnya hipokaliemia dengan gejala-gejala antara lain lemah otot. Pemberian KCl sebagai tablet/ enteric coated berbahaya. seringkali bersam suatu diuretikum yang menghemat kalium. klorida dan bikarbonat. Untuk ini biasanya dikombinasi dengan obat-obat hipertensi lainnya. Juga hiponatriemia dapat terjadi dengan gejala-gejala kejangan-kejangan otot. klortalidon dan mefrusid. Bila dengan suatu diuretikum salah satu komponen tersebut “ditarik” keluar. Akhirnya diuretika juga digunakan pada penyakit kencing batu guna membantu mengeluarkan endapan-endapan Kristal (“batu-batu”) dari ginjal dan saluran kemih. yang diperkuat efeknya oleh diuretika. sel-sel dan serabut-serabut. Diuresis yang berdasarkan penarikan keluar dari air. Guna mempertahankan keseimbangan ini. Terutama diuretika dari kelompok thiazida terkenal untuk ini. begitu pula semua penyakit lainnya yang menimbulkan terganggunya keseimbangan osmotic dari plasma darah. Udema. misalnya pada jantung lemah setelah infark (dekompensasi) peredaran tidak berlangsung sempurna lagi dan air tertimbun dalam paru-paru (udema paru-paru). letargi . Guna menghindarkan hipokaliemia tersebut diberikan kalium dalam bentuk larutan KCl atau suspense kaliumtartrat 2-6 g sehari.Penggunaan Diuretika digunakan pada semua keadaan dimana pengeluaran air yang lebih banyak dikehendaki. maka keseimbangan elektrolit dan tekanan osmotis dari cairan diluar sel (ekstraseluler) akan terganggu. Juga penyakit-penyakit di ginjal (nefrosis) dan udema hati. pusing-pusing dan gangguan-gangguan pada ritme jantung. Udema merupakan hanya gejala saja dari banyak keadaan sakit. karena dapat mengakibatkan luka dan perforasi dari usus. kejang-kejang otot. Cairan udema terdiri dari air dan ion-ion natrium. Sebab-sebab terjadinya adalah bermacam-macam.

Pasien penyakit jantung yang diobati dengan digitalis hendaknya berhati-hati pula dengan obat-obat yang mengeluarkan kalium. Efek-efek sampingan lain yang banyak terjadi adalah gangguan-gangguan lambung usus (thiazida.(selalu mengantuk ) dan kadang-kadang kolaps. Zat-zat perintang fungsi tubili Diuretika ini dapat dibagi lagi dalam beberapa kelompok. Yang terakhir kini sudah obsolete dan praktis tak digunakan lagi berhubungan tossisitasnya bagi ginjal dan efek-efek samping lainnya. 2. Kerja sampingan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menggunakan dosis permulaan rendah yang berangsur-angsur dipertinggi. yakni: derivate-derivat-thiazida. etakrinat. Karena itu. Akibatnya ialah ditariknya air keluar dari jaringan-jaringan dan terjadilah dieresis. Penggolongan Berdasarkan kegiatan farmakologinya diuretika dapat dibagi dalam beberapa kelompok. Oleh karena ini obat-obat ini terutama digunakan jika diinginkan dieresis tanpa kehilangan elektrolit. terutama pada diuretika kuat sebagai furosemid. atau dengan pemberian berkala. “diuretika air” dan senyawa-senyawa-raksa. Thiazida. yang dapat menimbulkan diuresis yang terlalu cepat dan kuat. ureum Zat-zat ini sedikit resorpsi kembalinya oleh sel-sel tubuli. Obat-obat ini diturunkan dari sulfonamide dan memiliki khasiat diuretic yang lebih lemah dan lebih lambat kerjanya daripada diuretika kuat seperti etakrinat. furosemid. zatzat perintang-perintang-karbonanhidrase. furosemid dan mefrusid. misalnya 3-4 kali seminggu. dekstran. mereka menyebabkan kenaikan tekanan osmotis di dalam tubuli. maka pasien-pasien encok dan diabetes harus dengan hati-hati menggunakan diuretika. asam etakrinat dan bumetanid. misalnya pada hiponatriemia yang disebabkan gangguangangguan sirkulasi. Setelah menembusi glomeruli. Berdasarkan khasiat pengeluaran garam-garam . triamteren dan amilorida). Mekanisme kerjanya melalui perintangan resorpsi kembali ion-ion natrium dan klorida sambil mempertinggi ekskresi kalium dan bikarbonat. yakni : 1. sedangkan ion-ion natrium diekskresi hanya dalam jumlah kecil. glukosa dan sorbitol. antagonis-antagonis-aldosteron. Diuretika osmotis : kalium dan amoniumklorida. karena hipokaliema mempertinggi toksisitas glikosidaglikosida jantung. begitu pula meningkatnya kadar asam urat (hiperuricemia dan serangan encok akut) dan meningginya kadar glukosa darah hingga dapat memperburuk diabetes yang sudah ada.

khasiat diuretiknya berdasarkan perintangan enzim karbonanhidrase. Obat-obat ini cocok bagi terapi pemeliharaan dari macam-macam udema. Perintang-perintang karbonanhidrase: asetazolamida. misalnya derivate-derivat xantin (teofylin). Aldosteron adalah suatu hormone steroida dari kulit anak ginjal yang mengatur keseimbanganelektrolit (mineralokortiroid) dalam darah. Memperbesar voluma-menit (cardiac output) dari jantung (digitalis) b. yakni dengan mempertinggi resorpsi kembali dari Na+ dan Cl-. Obat-obat ini jarang digunakan lagi sebagai diuretika berhubung efeknya setelah beberapa hari lenyap sama sekali. Cocok untuk digunakan pada keadaan-keadaan akut. Hanya digunakan pada glaucoma untuk mengurangi tekanan intra-okuler. Efeknya ialah bertambahnya ekskresi Na+. etoksazolamida (Cardrase) Obat-obat ini juga dapat dianggap turunan dari sulfonamide (gugusan-SO2NH2).dan air.tersebut. ascites (busung perut) dan hipertensi. yang cepat efeknya tetapi singkat. Mempertinggi tekanan intravaskuler (transfuse darah atau plasma) c. tubuli turut mengeluarkan sejumlah air hingga dieresis dipertinggi. Antagonis-antagonis-aldosteron merintangi fungsi tersebut dengan jalan kompetisi (spironolakton) atau dengan mencegah biosintesa hormon tersebut (metirapon). misalnya pada udema-udema paru-paru dan otak. Cl. sehingga menyebabkan dieresis kuat. “Diuretika air” : asam etakrinat. hingga dalam tubuli terjadi kekurangan ion-ion H+ untuk ditukarkan dengan ion-ion Na+. 3. sehingga ion ini memulihkan keseimbangan elektrolit yang terganggu. Stimulansia filtrasi-glomeruli Kegiatan filtrasi dari glomeruli dapat dipertinggi dengan jalan: a. Mendilatasi pembuluh-pembuluh di ginjal. serta ekskresi dari kalium. . Akibatnya ialah berkurangnya resorpsi kembali dari karbonat. maka zat-zat ini juga dinamakan saluretika. Enzim ini dibutuhkan untuk pembentukan asam karbonat menurut reaksi sebagai berikut: CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3- Obat-obat ini menginaktivir enzim tersebut. sedangkan ekskresi kalium diperhambat. furosemid dan bumetanid Zat-zat kelompok ini bekerja dengan menghambat resorpsi kembali dari air.

ultrafiltrat mengandung sejumlah besar garam yang disini direabsorbsi secara aktif untuk kurang lebih 70%. antara lain ion-Na+ dan air.K+. . sehingga pengeluaranya lewat kemih. sorbitol) bekerja di sini dengan merintangi reabsorbsi air dan juga natrium. pengeluaran K+ dan air juga diperbanyak. 3. Berhubung kerja vasodilatasinya terhadap bronchia obat-obat ini sering digunakan pada asma.dan demikian juga dari air-diperbanyak. Tubuli proksimal. bumetamida dan etakrinat.dan demikian reabsorbsi Na+. Lengkungan henle. Dibagian kedua segmen ini. Diuretika lengkungan seperti furosemida. 25% bsorbsi pasif dari Na+ dan K+ tetapi tanpa hingga filtrat menjadi hipotonis. Karena reabsorbsi berlangsung secara proporsional. begitu pula glukosa dan ureum. proses ini dikendalikan oleh hormon anak-ginjal aldosteron antagonis aldosteron (spirolacton) dan zat-zat penghemat kalium (amilorida.l. triateren) bertitik kerja disini dengan mengekibatkan ekskresi Na+ (5%) dan retensi. tetapi juga ditempat lain. Na+ direabsorbsi secara aktif pula tanpa air hingga filtrat menjadi lebih cair dan lebih hipotonis. Diuretika osmosis (manitol.Derivat-derivat-xantin berkhasiat diuretic berdasarkan dikuranginya resorpsi kembali air dan peninggian ekskresi Cl-. bekerja terutama di sini dengan merintangi transpor Cl. maka susunan filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhadap plasma. atau mungkin juga karena diperbesarnya permeabilitas dan kegiatan dari glomeruli dan tubuli ginjal.sentawa thiazida dan klortalidon bekerja di tempat ini dengan memperbanyak eksreksi Na+ dan Cl – sebesar 5-10%. ion Na+ ditukarkan dengan ion K + atau –NH4+. Dibagian pertama segmen ini. 2. praktis tidak lagi sebagai diuretikum. yakni : 1. Tubuli distal. Dibagian menaik dari Henle’s loop ini k. Obat-obat ini bekerja khusus terhadap tubuli. Mekanisme Kerja Diuretika Kebanyakan diuretika bekerrja dengan mengurangi reabsorbsi natrium.

Benzotiadiazid • • Benzotiadiazide atau Tiazid → efek utamanya meningkatkan ekskresi Na. Penghambat transport elektrolit di tubuli ginjal 3.4. urea Cara Kerja Diuretik osmotik: • • • Tubuli proksimal → penghambatan reabsorbsi Na dan air melalui daya osmotiknya Ansa Henle → penghambatan reabsorbsi Na dan air oleh karena hipertonisitas daerah medula menurun Ductus koligentis → penghambatan reabsorbsi Na dan air akibat adanya papilary wash out. K. kecepatan aliran filtrat yang tinggi atau adanya faktor lain 2. Diuretik Osmotik Diuretik osmotik → meningkatkan osmaliritas plasma dan cairan dalam tubulus ginjal → Na. Penghambat karbonik anhidrase 4. menurunkan tekanan intraokuler (glaukoma) Sediaan: manitol. air diekresikan Indikasi : Payah ginjal. Cl. Penggolongan Diuretik: 1. menurunkan tekanan intra kranial (edema otak). Cl dan sejumlah air Efek diatas disebabkan penghambatan mekanisme reabsorbsi elektrolit pada hulu tubuli distal . Hormon antidiuretika ADH (vasoprin) dari hipofisis bertitik kerja disini dengan jalan memengaruhi permeabilitas bagi air dari sel-sel saluran ini. Saluran pengumpul.

distribusi ke seluruh ekstrasel. K diekresi) → K direabsorpsi.• • • • • • Menurunkan TD → efek diuresis dan vasodilatasi Pada Diabetes insipidus → menurunkan diuresis (mekanisme belum jelas) Efek pada ginjal → mengurangi kecepatan filtrasi glomerulus Efek kaliuresis → akibat bertambahnya natriuresis Tiazid berfungsi menghambat ekskresi asam urat → (1) meningkatkan reabsorbsi asam urat di tubuli proksimal. Na diekskresi. gejala saluran cerna Indikasi: hipertensi. efek androgen.5 mg . 100 mg Dosis dewasa: 25 – 100 mg Kombinasi tetap: spironolakton 25 mg dan HCT 25 mg atau spironolakton 25 mg dan tiabutazid 2. Yang termasuk diuretik hemat kalium: • • • Antagonis aldosteron Triamteren Amilorid Antagonis Aldosteron • • • • • • • • • • Aldosteron atau mineralokortikoid → memperbesar reabsorbsi Na dan Cl di tubuli serta memperbesar ekskresi K Mekanisme kerja antagonis aldosteron adalah penghambatan kompetitif terhadap aldosteron Penyerapan di saluran cerna 70% Efek toksik: hiperkalemia Efek samping ginekomasti. udem. ditimbun di jaringan ginjal saja 5. (2) menghambat ekskresi asam urat oleh tubuli Absorbsi di saluran cerna baik. Diuretik hemat kalium Mengganggu pompa Na-K yang dikontrol ADH (Na ditahan. dapat melewati sawar uri. digunakan bersama diuretik lain untuk mengurangi efek hipokalemi Sediaan dan dosis: Tablet 25. 50.

6. Diuretik kuat .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful