CURRENT TRANSFORMER (TRAFO ARUS

)

Current transformer (CT) atau Trafo Arus adalah peralatan pada sistem tenaga listrik yang berupa trafo yang digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya hingga ratusan ampere dan arus yang mengalir pada jaringan tegangan tinggi. Di samping untuk pengukuran arus, trafo arus juga digunakan untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh, dan rele proteksi. Kumparan primer trafo dihubungkan seri dengan rangkaian atau jaringan yang akan dikur arusnya sedangkan kumparan sekunder dihubungkan dengan meter atau dengan rele proteksi.

Prinsip kerja trafo arus sama dengan trafo daya satu fasa. Bila pada kumparan primer mengalir arus I1, maka pada kumparan timbul gaya gerak magnet sebesar N1I1. Gaya gerak ini memproduksi fluks pada inti, dan fluks ini membangkitkan gaya gerak listrik pada kumparan sekunder. Bila terminal kumparan sekunder tertutup, maka pada kumparan sekunder mengalir arus I1. Arus ini menimbulkan gaya gerak magnet N2I2 pada kumparan sekunder. Pada trafo arus biasa dipasang burden pada bagian sekunder yang berfungsi sebagai impedansi beban, sehingga trafo tidak benar-benar short circuit. Apabila trafo adalah trafo ideal, maka berlaku persamaan : N1I1 = N2I2

I1/I2 = N2/N1 di mana, N1 : Jumlah belitan kumparan primer N2 : Jumlah belitan kumparan sekunder I1 : Arus kumparan primer I2 : Arus kumparan sekunder Dalam pemakaian sehari-hari, trafo arus dibagi menjadi jenis-jenis tertentu berdasarkan syarat-syarat tertentu pula, adapun pembagian jenis trafo arus adalah sebagai berikut : § Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Kumparan Primer a. Jenis Kumparan (Wound) Biasa digunakan untuk pengukuran pada arus rendah, burden yang besar, atau pengukuran yang membutuhkan ketelitian tinggi. Belitan primer tergantung pada arus primer yang akan diukur, biasanya tidak lebih dari 5 belitan. Penambahan belitan primer akan mengurangi faktor thermal dan dinamis arus hubung singkat. b. Jenis Bar (Bar) Konstruksinya mampu menahan arus hubung singkat yang cukup tinggi sehingga memiliki faktor thermis dan dinamis arus hubung singkat yang tinggi. Keburukannya, ukuran inti yang paling ekonomis diperoleh pada arus pengenal yang cukup tinggi yaitu 1000A.

b. . § Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Inti a. Jenis Rasio Tunggal Rasio tunggal adalah trafo arus dengan satu kumparan primer dan satu kumparan sekunder. Inti Tunggal Digunakan apabila sistem membutuhkan salah satu fungsi saja. Jenis Rasio Ganda Rasio ganda diperoleh dengan membagi kumparan primer menjadi beberapa kelompok yang dihubungkan seri atau paralel. b. Inti Ganda Digunakan apabila sistem membutuhkan arus untuk pengukuran dan proteksi sekaligus.§ Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Rasio a. yaitu untuk pengukuran atau proteksi.

Isolasi Epoksi-Resin Biasa dipakai hingga tegangan 110KV. b. penyulang pada sisi primer lebih pendek. dan jenis gardu.§ Jenis Trafo Arus Menurut Konstruksi Isolasi a. . Kelebihannya. Dibedakan menjadi jenis tangki logam. Merupakan trafo arus untuk tegangan tinggi yang digunakan pada gardu induk dengan pemasangan luar. Memiliki kekuatan hubung singkat yang cukup tinggi karena semua belitan tertanam pada bahan isolasi. digunakan untuk arus pengenal dan arus hubung singkat yang besar. Terdapat 2 jenis. Isolasi Minyak-Kertas Isolasi minyak kertas ditempatkan pada kerangka porselen. yaitu jenis bushing dan pendukung. kerangka isolasi.

Maka dibutuhkan sebuah CT yang mengubah representasi nilai aktual 2000A di lapangan menjadi 5A sehingga terbaca oleh alat ukur. Isolasi Koaksial Jenis trafo arus dengan isolasi koaksial biasa ditemui pada kabel. atau pada rel daya berisolasi gas SF6. arus yang mengalir adalah 2000A sedangkan alat ukur yang ada hanya sebatas 5A. dimana keterbatasan kemampuan baca alat ukur. dengan demikian terbuka jalan untuk membawa lapisan terluar bagian yang di-ground keluar dari trafo arus. Misal pada sistem saluran tegangan tinggi. Sering digunakan inti berbentuk cincin dengan belitan sekunder yang dibelit secara seragam pada cincin dan dimasukkan pada isolasi. Spesifikasi pada CT antara lain: . Pengujian Trafo Arus (Current Transformer) CT atau Trafo Arus merupakan perantara pengukuran arus. bushing trafo.c. CT umumnya selain digunakan sebagai media pembacaan juga digunakan dalam sistem proteksi sistem tenaga listrik. Sistem proteksi dalam sistem tenaga listrik sangatlah kompleks sehingga CT itu sendiri dibuat dengan spesifikasi dan kelas yang bervariatif sesuai dengan kebituhan sistem yang ada.

adalah titik saturasi/jenuh saat CT melakukan excitasi tegangan. dan kesalahan operasi sistem proteksi. Tegangan dapat dihasilkan oleh CT ketika skunder CT diberikan impedansi seperti yang tertera pada Hukum Ohm. Besarnya tegangan kneepoint bisa mencapai 2000Volt.) dapat berdampak pada besarnya kesalahan pembacaan di alat ukur. untuk sistem proteksi busbar digunakan Class X atau PX. Class. 3. Nilai daya ini harus lebih besar dari nilai yang terukur dari terminal skunder CT sampai dengan koil relay proteksi yang dikerjakan. maka nilai aktual arus yang mengalir di penghantar adalah 1000A.5Ohm atau CT tersebut dikembalikan ke pabrik untuk dilakukan penggantian. Kneepoint.1. Burden atau nilai maksimum daya (dalam satuan VA) yang mampu dipikul oleh CT. kelas CT menentukan untuk sistem proteksi jenis apakah core CT tersebut. 2. Misal untuk proteksi arus lebih digunakan kelas 5P20. Misal CT dengan rasio 2000/5A. kesalahan penghitungan tarif.5Ohm. rasio CT merupakan spesifikasi dasar yang harus ada pada CT. untuk kelas tarif metering digunakan kelas 0. nilai yang terukur di skunder CT adalah 2.2 atau 0. Misal: <2. maka impedansi CT pada Class X tidak boleh lebih dari 2. Ratio CT. Apabila lebih kecil. Kneepoint hanya terdapat pada CT dengan Class X atau PX.5A. Berdasarkan kriteria diatas. atau impedansi dalam CT. 4. Secondary Winding Resistance (Rct). dimana representasi nilai arus yang ada di lapangan di hitung dari besarnya rasio CT. Kesalahan rasio ataupun besarnya presentasi error (%err.5. maka relay proteksi tidak akan bekerja untuk mengetripkan CB/PMT apabila terjadi gangguan. 5. dan tentu saja besarnya kneepoint tergantung dari nilai atau desain yang diinginkan. Umumnya proteksi busbar menggunakan tegangan sebagai penggerak koilnya. namun pada Class X nilai ini ditentukan dan tidak boleh melebihi nilai yang tertera disana. maka dapat dilakukan pengujian CT sebagai berikut: . Impedansi dalam CT pada umumnya sangat kecil.

Tentu saja nilainya tidaklah tepat seperti yang tertera pada kalkulator tapi setidaknya nilai tersebut dapat tercapai. Metering ataupun instrument terpasang harus menunjukkan nilai kurang-lebih 2000A. Untuk mendapatkan nilai 2000A maka kita dapat membuat gulungan atau lilitan sebanyak 2000A/500A = 4 kali gulungan.Contoh-contoh beserta uraian dalam artikel kali ini saya ambil dari pengalamanpengalaman saya melakukan SAT CT dan HV Equipments pada Project: Cikarang Listrindo 4x60MW Gas Power Plant Project. Tentu saja alat ini sangat langka dan besar sekali. Dengan kata lain nilai presentase error-reading-nya bervariatif dan umumnya semakin kecil arus yang diberikan. . misal 500A. Ratio Test Misal: Ratio CT = 2000/5A Untuk melakukan pengujian bahwa apakah benar nilai skunder CT tersebut apabila line primer diberi arus sebesar 2000A adalah 5A. dan 2x250MW Muara Karang Gas Power Plant Project. Inalum 275kV OHL Prot’n Panel Replacement Project. Cara alternatif yang biasa digunakan adalah dengan alat inject yang lebih kecil. maka disini diperlukan alat injeksi arus yang mampu mengalirkan arus sebesar 2000A. Pada kasus umumnya yang terjadi di lapangan. ternyata jenis alat test yang mampu menghasilkan arus dalam jumlah yang besar ini cukup susah untuk dicari (karena harganya mahal maka umumnya kami rental dari temen-temen) Di balik itu ternyata banyak CT yang hasil pengukurannya tidak linear / atau tidak berbanding lurus dengan rasio yang tertera.

maka secara otomatis akan dapat menghemat biaya penggantian unit transformator. • Pemeriksaan/pengamatan berkala secara langsung (Visual Inspection) • Pemeriksaan-pemeriksaan secara teliti (overhauls) yang terjadwal. antara lain: • Meningkatkan keandalan dari transformator tersebut. antara lain adalah: • Pemeriksaan berkala kualitas minyak isolasi. • Memperpanjang masa pakai. Perawatan dan Pemantauan Kondisi Transformator Dengan melakukan perawatan secara berkala dan pemantauan kondisi transformator pada saat beroperasi akan banyak keuntungan yang didapat.Perawatan Transformator .presentase error-reading-nya semakin besar melampaui batas spesifikasi CT yang tertera pada nameplate. Gambar 1. Adapun langkah-langkah perawatan dari transformator. • Jika masa pakai lebih panjang. Padahal untuk beberapa sistem proteksi seperti Distance Relay menggunakan pembacaan parameter arus pada nilai yang rendah.

meliputi: – Tegangan tembus (breakdown voltage) – Analisa gas terlarut (dissolved gas analysis. DGA) . Peta Potensi Gangguan didalam Transformator Pemeriksaan Kondisi Transformator Saat Beroperasi Pada saat transformator beroperasi ada beberapa pemeriksaan dan analisa yang harus dilakukan. antara lain: 1. Pemeriksaan dan analisa minyak isolasi transformator. – Valves atau katup-katup – relay – Alat-alat ukur dan indikator-indikator Peta Potensi Terjadinya Gangguan didalam Transformator Gambar 2.Komponen-Komponen Utama Transformator Komponen-komponen utama transformator yaitu : • On-load tap changer (OLTC) • Bushing • Insulator / penyekat • Gasket • Sistem saringan / filter minyak isolasi • Peralatan proteksi.

– Analisa minyak isolasi secara menyeluruh (sekali setiap 10 tahun) • Pemeriksaan dan analisa kandungan gas terlarut (Dissolved gas analysis. Pengamatan dan Pemeriksaan Langsung (Visual inspections) – Kondisi fisik transformator secara menyeluruh. meliputi: power factor (cf. – Pemeriksaan dengan menggunakan sinar infra-merah (infrared monitoring). relay. kandungan air (water content). untuk mencegah terjadinya:(partial) discharges. Deteriorasi / pemburukan kertas isolasi/laminasi. Karakteristik Akibat Kegagalan Gas Rentang Waktu Pemeriksaan dan Analisa Minyak isolasi Tabel 2. neutralisation number. Kegagalan thermal (thermal faults). saringan/filter dll. setiap 2 tahun. – Alat-alat ukur. Karakteristik Akibat Kegagalan Gas Tabel 1. interfacial tension. rentang waktu pemeriksaan minyak isolasi . Tan δ). furfural analysis dan kandungan katalisator negatif (inhibitor content) 2. DGA). • Pemeriksaan dan analisa minyak isolasi secara menyeluruh.

PD-measurement c. Frequency Responce Analysis. Hmm. Analisa kimia – analisa kertas penyekat/laminasi (sekali setiap 10 tahun) 4. 3. FRA d. Untuk menguji CT 2000A cukup dibutuhkan arus sebesar 10% x 2000A = 200A saja.9 tahun. – power transformer – bushings – Transformator ukur (measurement transformator) – breaker capacitors Pengujian listrik (electrical test) dilakukan setidaknya setiap 6 . setiap 3 atau 6 tahun. voltage tests Kemudian IEC mengeluarkan standarisasi bahwa nilai pengukuran CT harus linear minimal s/d 10% dari nilai rating current atau arus nominal yang tertera. 2. – pembersihan. Pengujian yang dilakukan meliputi. .Tindakan yang biasa dilakukan pada saat Pemeriksaan Teliti (Overhaul) 1. a. Perawatan dan pemeriksaan teliti (Major overhaul) – Secara teknis setidaknya 1 kali selama masa pakai. Doble measurements b. Perawatan dan pemeriksaan ringan (Minor overhaul). pengencangan kembali dan pengeringan. – on-load tap changers – oil filtering dan vacuum treatment – relays dan auxiliary devices. Tentu saja ini menguntungkan bagi saya selaku tim SAT dan commissioning.. Pengujian listrik (Electrical Test) untuk peralatan.

maka nilai arus primernya adalah: 2000A dan nilai arus skundernya adalah 5.96A. adalah 0.5% Ratio 2000/5 A Injeksi Arus sebesar 200A. maksimum %err.1 .   Arus terukur pada sisi skunder CT adalah: 501. arus terukur pada sisi primer CT adalah: 199.Kemudian cara pengujian dan kalkulasi presentasi Contoh untuk 2000A:       CT 2.5 Security Factor (FS) < 20. tentu saja ada losses di kabel dan sambungan pada sisi primer.55 mA Dengan rumus diatas.33% [OK] .Core #3 Serial No. = 0. CT: 0805451 Terminal Tap yang digunakan 3S1~3S3 Class 0.0165A  Sehingga %err.

maka harus dilakukan penggantian kabel yang lebih besar atau penggantian relay dengan burden yang lebih kecil. Mengetahui nilai burden pada sisi sekunder CT pada dasarnya cukup sederhana. maka kita bisa memberikan arus sebesar 1A untuk sisi kabel yang terpasang pada CT. Berikut ini adalah skema wiring pada saat dilakukan pengujian Secondary CT Burden: . Apabila CT mengeluarkan arus 1A nominal. mulai dari kabel sampai dengan panel proteksi dan metering. Terminal sekunder CT tidak boleh ikut dialiri arus karena akan berdampak timbulnya arus besar pada sisi primer. Di dalam pengujian ini pada dasarnya kita hanya ingin mengetahui berapa sih besarnya impedansi loop tertutup pada beban CT (kabel + relay + metering + dst). Pengujian ini tidak bisa menentukan nilai burden nominal ataupun maksimal CT. untuk melakukan hal ini harus menggunakan metode tegangan atau dengan alat uji yang dikenal dengan nama CT Analyzer. Dimana VA = Arus x Tegangan. Apabila nilai burden atau impedansi terukur pada arus 1A melebihi rating burden nominal CT (dalam satuan VA). karena hanya menggunakan perhitungan Hukum Ohm.Pengujian Secondary Burden CT (VA) Pengujian secondary burden CT merupakan pengujian untuk mengetahui nilai aktual beban yang terpasang pada sisi sekunder CT.

dimana formulanya sangat mudah diingat (VA = Volt x Ampere): Pengujian Secondary Winding Resistance (Rct) Pengujian Secondary Winding CT umumnya mengacu pada standar IEC 60076-1. Pengujian diluar standar tersebut tidak sah dan tidak memenuhi kriteria pengujian standar CT.Berikut ini adalah contoh perhitungan nilai Secondary Burden yang didapat. disini saya buat sistem perhitungan otomatis dengan menggunakan Excel. Berdasarkan pada IEC 60076-1. .  VDC : Tegangan terukur yang dihasilkan oleh injeksi arus DC pada sisi kumparan/winding CT. Formula dan sistem pengujian harus mengacu pada setandar tersebut. elemen-elemen pengukuran yang harus diambil saat pengujian Secondary Winding CT adalah sebagai berikut:  IDC : Arus DC aktual yang diinjeksikan ke terminal sekunder CT. biasanya nilai arus yang saya gunakan adalah 5A untuk CT tipe 5A nominal secondary output.

mengingat bahwa test ini sekaligus merupakan pengecekan terhadap rangkaian beban CT seperti panel relay. R meas : Nilai winding resistance atau tahanan dalam CT. logger. pecah. biasanya nilai yang digunakan umumnya adalah 75°C.1%. Rangkaian tidak boleh ada impedansi yang besar atau bahkan terpotong. atau bahkan meledak. Hasil dinyatakan stabil jika Dev < 0. Rangkaian CT harus selalu tertutup (shortcircuit) agar dapat mengasilkan arus. metering. Alhasil CT bisa rusak. yang diperoleh dari hasil perhitungan VDC/IDC (Hukum Ohm). ketiganya memiliki nilai kneepoint yang berbeda namun ketiganya . Sebaiknya lihat data FAT pabrikan atau referensi manual dari CT. Pengujian ini sekaligus memastikan kondisi rangkain CT layak dioperasikan ataukah belum. buspro.   Time : Total waktu yang diperlukan dalam pengujian Dev : Sudut deviasi yang dinyatakan dalam nilai % antara nilai maksimum dan minimum yang terukur dan dievaluasi sekurang-kurangnya 10 detik dari pengukuran. Sehingga formulasi perhitungan Secondary Winding Burden CT dapat dibuat sebagai berikut ini: Pengujian secondary burden ini cukup penting. dsb. apabila terjadi maka arus tidak dapat mengalir dan CT menjadi panas dan overload.   Tmeas : ambient temperature atau suhu ruang Tref : operating temperature dari CT. Pengujian Eksitasi CT atau CT Kneepoint Di dalam pengujian titik saturasi CT atau kneepoint ada tiga jenis Standar yang mengatur.

Like ANSI 45° but forming a 30° angle. the knee point is defined as the point on the curve where a voltage increment of 10% increases the current by 50%. Model pengujian yang umumnya saya gunakan adalah seperti di bawah ini: .  IEC/BS . maka diperlukan sebuah sumber tegangan AC yang mampu digunakan untuk menguji CT Class X.Applies to current transformer cores without an air gap. sebagai standar intalasi tegangan tinggi dan menengah. the knee point is the point where.  ANSI 45° . the tangent line to the curve forms a 45° angle. bergantung dari Standar apa yang hendak digunakan setidaknya Produsen CT dan End-User menggunakan Standar yang sama.13. Pengukuran arus bisa dilakukan dengan cara memasang Ampere-meter yang dihubung seri dengan alat injeksi atau penggunakan clamp meter pada kabel output alat injeksi tegangan.dianggap sah.According to IEC 60044-1.Applies to current transformer cores with an air gap. Untuk melakukan pengujian CT.  ANSI 30° . dimana nilai kneepoint-nya bisa mencapai 2000Volts. with a double logarithmic representation. Di Indonesia umumnya mengacu pada Standar IEC.According to IEEE C57. kemudian tegangan dinaikan perlahan sampai mencapai nilai arus nominal CT. Tegangan eksitasi diberikan pada terminal skunder CT di tiap Core-nya.

maka grafik-nya akan berbentuk seperti dibawah ini: .Setiap perubahan arus signifikan atau setiap kelipatan berapa volts dari tegangan. bisa dilakukan pengukuran dan pencatatan secara simultan agar di dapat grafik yang halus dan presisi. Contoh grafik tersebut adalah seperti berikut ini: Jika dibuat grafik pada Excel.

7kV maka tegangan eksitasi CT harus melebihi 1. Titik yang bisa dilakukan pengetesan adalah:    Terminal Primer dengan Ground tidak boleh ada hubungan Terminal Primer dengan Skunder tidak boleh ada hubungan Terminal Skunder dengan Ground tidak boleh ada hubungan .Sayangnya.7kV untuk menghasilkan 5A. Pengujian Isolasi atau Megger Pengujian diatas secara keseluruhan hanyalah untuk menentukan bahwa CT tersebut layak beroperasi sesuai spesifikasi desain sistem dan tidak terjadi kesalahan pengukuran arus sebenarnya dimana CT merupakan elemen metering dan proteksi. Untuk menentukan apakah CT tersebut layak bertegangan ataukah tidak. Biasanya pabrikan hanya melampirkan data nilai eksitasi beserta nilai arus yang di dapat serta melampirkan grafiknya. tidak semua atau jarang sekali pabrikan CT yang menyebutkan nilai Kneepoint yang didapat saat dilakukan FAT (karena tidak semua orang mudah dan mengerti untuk menentukan nilai dari pengukuran yang didapat). Kunci inti pengujian tegangan eksitasi pada CT ini hanyalah menentukan di nilai berapa Volt. Maka CT tersebut memiliki spesifikasi yang sesuai dengan yang tertera. setidaknya 2kV baru mencapai 5A. maka harus dilakukan pengujian Isolasi atau Megger. Megger yang digunakan adalah 5kV untuk sisi primer dan 1kV untuk sisi skunder. Misal spesifikasi CT adalah Vk > 1. CT sudah mencapai titik jenuh dan sudah tidak menghasilkan perubahan arus yang signifikan.

Kesalahan arus (current error) : Di mana : Kn = perbandingan trafo = kesalahan arus % Is = Arus sekunder sebenarnya (A) Ip = Arus primer sebenarnya (A) Karena adanya perbedaan arus antara arus yang masuk di sisi primer dengan arus yang terbaca di sisi sekunder. atau bahkan rembesan oli trafo. C2H4 dan C2H2 GALAT PADA TRAFO ARUS Kesalahan pada trafo arus atau yang sering disebut dengan galat trafo arus merupakan perbandingan antara arus primer dan arus sekunder. “Mudah-mudahan artikel diatas mampu menambah wawasan dan meningkatkan kualitas kontrol terhadap produk-produk ataupun proyek-proyek pengembangan infrastruktur kelistrikan di Indonesia. antara lain: • Gangguan hubung singkat antar lilitan karena rusaknya laminasi. Listrik yang lebih baik untuk masa depan.” Penyebab Hubung Singkat didalam Transformator. • Perubahan kandungan gas H2. dapat menimbulkan perbedaan rasio transformasi arus yang sebenarnya dengan kenyatannya. CO. Tidak boleh ada retakan.Cek Fisik CT saat datang dan saat dipasang harus diulakukan cek fisik terlebih dahulu sebagai wujud sebuah quality control. dan mari ber-Hemat Energi. CH4. Bila CT dipergunakan untuk .

dimana saat arus primer sama dengan nI1. Securrity Factor (Fs) Faktor security adalah rasio dari sekuriti arus primer pengenal (Ips) dan arus primer pengenal (Ip). Oleh karena itu. kesalahn arus ini sangat berpengaruh terhadap pengukuran energy. nilai rms mempunyai perbedaan antara nilai sesaat dari arus primer dengan nilai sesaat dari arus sekunder sebenarnya yang dikalikan dengan rasio CT pengenal. Trafo arus untuk pengukuran arus segera jenuh untuk melindungi peralatan agar tidak kelebihan beban. Untuk kerja dari trafo arus pada saat primernya dialiri arus hubung singkat. Sekurity dari meter yang dihubungkan ke CT. Galat Komposit dari Trafo Arus Galat komposit merupakan pada kondisi di bawah steady state. Perbandingan arus magnetisasi efektif dengan arus sekunder disimbolkan sebagai galat komposit: Galat komposit = Di mana : Ip = arus primer (rms) ip = arus sesaat primer √ ∫ % . trafo arus ini memiliki factor arus lebih yang rendah yakni n=5.a dalah kebalikan dari Fs-nya. digambarkan dengan faktor arus lebih n.pengukuran energy (kWh meter). Untuk penggunaan pengukuran biasanya dioperasikan pada bagian kurva yang linier. biasanya memiliki factor arus lebih yang tinggi yakni n=10. Trafo atrus proteksi harus lambat mengalami kejenuhan1. galat masih dalam batas yang ditentukan. Sesuai standar sekuriti factor Fs = Fs5.

. sehingga alat pengukuran tidak sampai dialiri arus besar.is = arus sesaat sekunder T = satu perioda kn = rasio transformasi nominal 1 Jenuh pada arus gangguan yang besar diperlukan karena output arus di sekunder collapse.

2000 4.. Jakarta. Jakarta.html http://www.com/2010/06/transformator-arus.. “High Voltage Engineering and Testing” Peter Peregrinus Behalf IEE. Gilbertson O. 2003 3.I.blogspot. Ryan HM. 1998 2. PT Gramedia Pustaka Utama. 6. “Electrical Cables for Power and Signal Transmission”. “Peralatan Tegangan Tinggi”. “Teknik Tegangan Tinggi” Paradnya Paramita.. John Willey and Sons Inc. Tobing B.cz.html .REFERENSI 1. Arismunandar A.. 1984 5.cc/2011/04/pengujian-trafo-arus-current_12.ari-sty. http://ariyatheonata.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful