P. 1
TRAFO ARUS

TRAFO ARUS

|Views: 1,413|Likes:
Published by Sigit Dwi Anggoro

More info:

Published by: Sigit Dwi Anggoro on Apr 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/29/2013

pdf

text

original

CURRENT TRANSFORMER (TRAFO ARUS

)

Current transformer (CT) atau Trafo Arus adalah peralatan pada sistem tenaga listrik yang berupa trafo yang digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya hingga ratusan ampere dan arus yang mengalir pada jaringan tegangan tinggi. Di samping untuk pengukuran arus, trafo arus juga digunakan untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh, dan rele proteksi. Kumparan primer trafo dihubungkan seri dengan rangkaian atau jaringan yang akan dikur arusnya sedangkan kumparan sekunder dihubungkan dengan meter atau dengan rele proteksi.

Prinsip kerja trafo arus sama dengan trafo daya satu fasa. Bila pada kumparan primer mengalir arus I1, maka pada kumparan timbul gaya gerak magnet sebesar N1I1. Gaya gerak ini memproduksi fluks pada inti, dan fluks ini membangkitkan gaya gerak listrik pada kumparan sekunder. Bila terminal kumparan sekunder tertutup, maka pada kumparan sekunder mengalir arus I1. Arus ini menimbulkan gaya gerak magnet N2I2 pada kumparan sekunder. Pada trafo arus biasa dipasang burden pada bagian sekunder yang berfungsi sebagai impedansi beban, sehingga trafo tidak benar-benar short circuit. Apabila trafo adalah trafo ideal, maka berlaku persamaan : N1I1 = N2I2

I1/I2 = N2/N1 di mana, N1 : Jumlah belitan kumparan primer N2 : Jumlah belitan kumparan sekunder I1 : Arus kumparan primer I2 : Arus kumparan sekunder Dalam pemakaian sehari-hari, trafo arus dibagi menjadi jenis-jenis tertentu berdasarkan syarat-syarat tertentu pula, adapun pembagian jenis trafo arus adalah sebagai berikut : § Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Kumparan Primer a. Jenis Kumparan (Wound) Biasa digunakan untuk pengukuran pada arus rendah, burden yang besar, atau pengukuran yang membutuhkan ketelitian tinggi. Belitan primer tergantung pada arus primer yang akan diukur, biasanya tidak lebih dari 5 belitan. Penambahan belitan primer akan mengurangi faktor thermal dan dinamis arus hubung singkat. b. Jenis Bar (Bar) Konstruksinya mampu menahan arus hubung singkat yang cukup tinggi sehingga memiliki faktor thermis dan dinamis arus hubung singkat yang tinggi. Keburukannya, ukuran inti yang paling ekonomis diperoleh pada arus pengenal yang cukup tinggi yaitu 1000A.

Jenis Rasio Tunggal Rasio tunggal adalah trafo arus dengan satu kumparan primer dan satu kumparan sekunder. b. b. Inti Ganda Digunakan apabila sistem membutuhkan arus untuk pengukuran dan proteksi sekaligus. Jenis Rasio Ganda Rasio ganda diperoleh dengan membagi kumparan primer menjadi beberapa kelompok yang dihubungkan seri atau paralel. § Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Inti a.§ Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Rasio a. yaitu untuk pengukuran atau proteksi. . Inti Tunggal Digunakan apabila sistem membutuhkan salah satu fungsi saja.

Isolasi Epoksi-Resin Biasa dipakai hingga tegangan 110KV. Terdapat 2 jenis. Merupakan trafo arus untuk tegangan tinggi yang digunakan pada gardu induk dengan pemasangan luar. Memiliki kekuatan hubung singkat yang cukup tinggi karena semua belitan tertanam pada bahan isolasi. .§ Jenis Trafo Arus Menurut Konstruksi Isolasi a. digunakan untuk arus pengenal dan arus hubung singkat yang besar. Dibedakan menjadi jenis tangki logam. Isolasi Minyak-Kertas Isolasi minyak kertas ditempatkan pada kerangka porselen. penyulang pada sisi primer lebih pendek. yaitu jenis bushing dan pendukung. kerangka isolasi. Kelebihannya. b. dan jenis gardu.

dimana keterbatasan kemampuan baca alat ukur. Maka dibutuhkan sebuah CT yang mengubah representasi nilai aktual 2000A di lapangan menjadi 5A sehingga terbaca oleh alat ukur. Misal pada sistem saluran tegangan tinggi. arus yang mengalir adalah 2000A sedangkan alat ukur yang ada hanya sebatas 5A. Pengujian Trafo Arus (Current Transformer) CT atau Trafo Arus merupakan perantara pengukuran arus. Isolasi Koaksial Jenis trafo arus dengan isolasi koaksial biasa ditemui pada kabel. dengan demikian terbuka jalan untuk membawa lapisan terluar bagian yang di-ground keluar dari trafo arus. atau pada rel daya berisolasi gas SF6. Sering digunakan inti berbentuk cincin dengan belitan sekunder yang dibelit secara seragam pada cincin dan dimasukkan pada isolasi. Sistem proteksi dalam sistem tenaga listrik sangatlah kompleks sehingga CT itu sendiri dibuat dengan spesifikasi dan kelas yang bervariatif sesuai dengan kebituhan sistem yang ada. bushing trafo. Spesifikasi pada CT antara lain: .c. CT umumnya selain digunakan sebagai media pembacaan juga digunakan dalam sistem proteksi sistem tenaga listrik.

2 atau 0. Burden atau nilai maksimum daya (dalam satuan VA) yang mampu dipikul oleh CT. 3. maka dapat dilakukan pengujian CT sebagai berikut: .1. untuk kelas tarif metering digunakan kelas 0.5A. Misal CT dengan rasio 2000/5A. dan tentu saja besarnya kneepoint tergantung dari nilai atau desain yang diinginkan. maka impedansi CT pada Class X tidak boleh lebih dari 2. 2. kesalahan penghitungan tarif. dimana representasi nilai arus yang ada di lapangan di hitung dari besarnya rasio CT. Apabila lebih kecil.) dapat berdampak pada besarnya kesalahan pembacaan di alat ukur. Umumnya proteksi busbar menggunakan tegangan sebagai penggerak koilnya. Tegangan dapat dihasilkan oleh CT ketika skunder CT diberikan impedansi seperti yang tertera pada Hukum Ohm.5. maka nilai aktual arus yang mengalir di penghantar adalah 1000A. Misal untuk proteksi arus lebih digunakan kelas 5P20. 4. dan kesalahan operasi sistem proteksi. untuk sistem proteksi busbar digunakan Class X atau PX. Misal: <2. Nilai daya ini harus lebih besar dari nilai yang terukur dari terminal skunder CT sampai dengan koil relay proteksi yang dikerjakan.5Ohm atau CT tersebut dikembalikan ke pabrik untuk dilakukan penggantian. Secondary Winding Resistance (Rct). rasio CT merupakan spesifikasi dasar yang harus ada pada CT. 5. namun pada Class X nilai ini ditentukan dan tidak boleh melebihi nilai yang tertera disana. Class. nilai yang terukur di skunder CT adalah 2. Impedansi dalam CT pada umumnya sangat kecil.5Ohm. maka relay proteksi tidak akan bekerja untuk mengetripkan CB/PMT apabila terjadi gangguan. kelas CT menentukan untuk sistem proteksi jenis apakah core CT tersebut. Berdasarkan kriteria diatas. adalah titik saturasi/jenuh saat CT melakukan excitasi tegangan. Ratio CT. atau impedansi dalam CT. Besarnya tegangan kneepoint bisa mencapai 2000Volt. Kneepoint. Kesalahan rasio ataupun besarnya presentasi error (%err. Kneepoint hanya terdapat pada CT dengan Class X atau PX.

Inalum 275kV OHL Prot’n Panel Replacement Project. Metering ataupun instrument terpasang harus menunjukkan nilai kurang-lebih 2000A. misal 500A. dan 2x250MW Muara Karang Gas Power Plant Project. Cara alternatif yang biasa digunakan adalah dengan alat inject yang lebih kecil. maka disini diperlukan alat injeksi arus yang mampu mengalirkan arus sebesar 2000A. . Untuk mendapatkan nilai 2000A maka kita dapat membuat gulungan atau lilitan sebanyak 2000A/500A = 4 kali gulungan. ternyata jenis alat test yang mampu menghasilkan arus dalam jumlah yang besar ini cukup susah untuk dicari (karena harganya mahal maka umumnya kami rental dari temen-temen) Di balik itu ternyata banyak CT yang hasil pengukurannya tidak linear / atau tidak berbanding lurus dengan rasio yang tertera. Tentu saja alat ini sangat langka dan besar sekali. Dengan kata lain nilai presentase error-reading-nya bervariatif dan umumnya semakin kecil arus yang diberikan. Tentu saja nilainya tidaklah tepat seperti yang tertera pada kalkulator tapi setidaknya nilai tersebut dapat tercapai. Pada kasus umumnya yang terjadi di lapangan.Contoh-contoh beserta uraian dalam artikel kali ini saya ambil dari pengalamanpengalaman saya melakukan SAT CT dan HV Equipments pada Project: Cikarang Listrindo 4x60MW Gas Power Plant Project. Ratio Test Misal: Ratio CT = 2000/5A Untuk melakukan pengujian bahwa apakah benar nilai skunder CT tersebut apabila line primer diberi arus sebesar 2000A adalah 5A.

Perawatan dan Pemantauan Kondisi Transformator Dengan melakukan perawatan secara berkala dan pemantauan kondisi transformator pada saat beroperasi akan banyak keuntungan yang didapat.presentase error-reading-nya semakin besar melampaui batas spesifikasi CT yang tertera pada nameplate. Adapun langkah-langkah perawatan dari transformator. maka secara otomatis akan dapat menghemat biaya penggantian unit transformator. • Pemeriksaan/pengamatan berkala secara langsung (Visual Inspection) • Pemeriksaan-pemeriksaan secara teliti (overhauls) yang terjadwal. Gambar 1. antara lain: • Meningkatkan keandalan dari transformator tersebut.Perawatan Transformator . • Memperpanjang masa pakai. • Jika masa pakai lebih panjang. Padahal untuk beberapa sistem proteksi seperti Distance Relay menggunakan pembacaan parameter arus pada nilai yang rendah. antara lain adalah: • Pemeriksaan berkala kualitas minyak isolasi.

antara lain: 1. meliputi: – Tegangan tembus (breakdown voltage) – Analisa gas terlarut (dissolved gas analysis.Komponen-Komponen Utama Transformator Komponen-komponen utama transformator yaitu : • On-load tap changer (OLTC) • Bushing • Insulator / penyekat • Gasket • Sistem saringan / filter minyak isolasi • Peralatan proteksi. Pemeriksaan dan analisa minyak isolasi transformator. – Valves atau katup-katup – relay – Alat-alat ukur dan indikator-indikator Peta Potensi Terjadinya Gangguan didalam Transformator Gambar 2. DGA) . Peta Potensi Gangguan didalam Transformator Pemeriksaan Kondisi Transformator Saat Beroperasi Pada saat transformator beroperasi ada beberapa pemeriksaan dan analisa yang harus dilakukan.

meliputi: power factor (cf. furfural analysis dan kandungan katalisator negatif (inhibitor content) 2. Deteriorasi / pemburukan kertas isolasi/laminasi. DGA). rentang waktu pemeriksaan minyak isolasi . Tan δ). relay. neutralisation number. • Pemeriksaan dan analisa minyak isolasi secara menyeluruh. Karakteristik Akibat Kegagalan Gas Tabel 1. setiap 2 tahun. Kegagalan thermal (thermal faults). – Alat-alat ukur. untuk mencegah terjadinya:(partial) discharges. saringan/filter dll. interfacial tension. – Pemeriksaan dengan menggunakan sinar infra-merah (infrared monitoring). kandungan air (water content).– Analisa minyak isolasi secara menyeluruh (sekali setiap 10 tahun) • Pemeriksaan dan analisa kandungan gas terlarut (Dissolved gas analysis. Pengamatan dan Pemeriksaan Langsung (Visual inspections) – Kondisi fisik transformator secara menyeluruh. Karakteristik Akibat Kegagalan Gas Rentang Waktu Pemeriksaan dan Analisa Minyak isolasi Tabel 2.

pengencangan kembali dan pengeringan. PD-measurement c.. FRA d. setiap 3 atau 6 tahun. Doble measurements b. voltage tests Kemudian IEC mengeluarkan standarisasi bahwa nilai pengukuran CT harus linear minimal s/d 10% dari nilai rating current atau arus nominal yang tertera. Untuk menguji CT 2000A cukup dibutuhkan arus sebesar 10% x 2000A = 200A saja. Analisa kimia – analisa kertas penyekat/laminasi (sekali setiap 10 tahun) 4. Perawatan dan pemeriksaan ringan (Minor overhaul). Perawatan dan pemeriksaan teliti (Major overhaul) – Secara teknis setidaknya 1 kali selama masa pakai. . – on-load tap changers – oil filtering dan vacuum treatment – relays dan auxiliary devices. 3. – pembersihan. Tentu saja ini menguntungkan bagi saya selaku tim SAT dan commissioning. a. Pengujian yang dilakukan meliputi. Hmm. Frequency Responce Analysis. Pengujian listrik (Electrical Test) untuk peralatan. – power transformer – bushings – Transformator ukur (measurement transformator) – breaker capacitors Pengujian listrik (electrical test) dilakukan setidaknya setiap 6 .9 tahun. 2.Tindakan yang biasa dilakukan pada saat Pemeriksaan Teliti (Overhaul) 1.

0165A  Sehingga %err. adalah 0.33% [OK] .Core #3 Serial No.5% Ratio 2000/5 A Injeksi Arus sebesar 200A. maksimum %err.1 . maka nilai arus primernya adalah: 2000A dan nilai arus skundernya adalah 5.96A. = 0. CT: 0805451 Terminal Tap yang digunakan 3S1~3S3 Class 0.55 mA Dengan rumus diatas. tentu saja ada losses di kabel dan sambungan pada sisi primer.5 Security Factor (FS) < 20. arus terukur pada sisi primer CT adalah: 199.Kemudian cara pengujian dan kalkulasi presentasi Contoh untuk 2000A:       CT 2.   Arus terukur pada sisi skunder CT adalah: 501.

Berikut ini adalah skema wiring pada saat dilakukan pengujian Secondary CT Burden: . Terminal sekunder CT tidak boleh ikut dialiri arus karena akan berdampak timbulnya arus besar pada sisi primer.Pengujian Secondary Burden CT (VA) Pengujian secondary burden CT merupakan pengujian untuk mengetahui nilai aktual beban yang terpasang pada sisi sekunder CT. Mengetahui nilai burden pada sisi sekunder CT pada dasarnya cukup sederhana. Pengujian ini tidak bisa menentukan nilai burden nominal ataupun maksimal CT. untuk melakukan hal ini harus menggunakan metode tegangan atau dengan alat uji yang dikenal dengan nama CT Analyzer. karena hanya menggunakan perhitungan Hukum Ohm. Apabila CT mengeluarkan arus 1A nominal. Apabila nilai burden atau impedansi terukur pada arus 1A melebihi rating burden nominal CT (dalam satuan VA). Dimana VA = Arus x Tegangan. mulai dari kabel sampai dengan panel proteksi dan metering. Di dalam pengujian ini pada dasarnya kita hanya ingin mengetahui berapa sih besarnya impedansi loop tertutup pada beban CT (kabel + relay + metering + dst). maka harus dilakukan penggantian kabel yang lebih besar atau penggantian relay dengan burden yang lebih kecil. maka kita bisa memberikan arus sebesar 1A untuk sisi kabel yang terpasang pada CT.

Pengujian diluar standar tersebut tidak sah dan tidak memenuhi kriteria pengujian standar CT. dimana formulanya sangat mudah diingat (VA = Volt x Ampere): Pengujian Secondary Winding Resistance (Rct) Pengujian Secondary Winding CT umumnya mengacu pada standar IEC 60076-1. . biasanya nilai arus yang saya gunakan adalah 5A untuk CT tipe 5A nominal secondary output. disini saya buat sistem perhitungan otomatis dengan menggunakan Excel.Berikut ini adalah contoh perhitungan nilai Secondary Burden yang didapat. Berdasarkan pada IEC 60076-1.  VDC : Tegangan terukur yang dihasilkan oleh injeksi arus DC pada sisi kumparan/winding CT. Formula dan sistem pengujian harus mengacu pada setandar tersebut. elemen-elemen pengukuran yang harus diambil saat pengujian Secondary Winding CT adalah sebagai berikut:  IDC : Arus DC aktual yang diinjeksikan ke terminal sekunder CT.

biasanya nilai yang digunakan umumnya adalah 75°C. yang diperoleh dari hasil perhitungan VDC/IDC (Hukum Ohm).   Tmeas : ambient temperature atau suhu ruang Tref : operating temperature dari CT.1%. Sebaiknya lihat data FAT pabrikan atau referensi manual dari CT. Pengujian Eksitasi CT atau CT Kneepoint Di dalam pengujian titik saturasi CT atau kneepoint ada tiga jenis Standar yang mengatur. Pengujian ini sekaligus memastikan kondisi rangkain CT layak dioperasikan ataukah belum. metering. dsb. Alhasil CT bisa rusak. Rangkaian CT harus selalu tertutup (shortcircuit) agar dapat mengasilkan arus. pecah. Sehingga formulasi perhitungan Secondary Winding Burden CT dapat dibuat sebagai berikut ini: Pengujian secondary burden ini cukup penting. atau bahkan meledak. Rangkaian tidak boleh ada impedansi yang besar atau bahkan terpotong. buspro.   Time : Total waktu yang diperlukan dalam pengujian Dev : Sudut deviasi yang dinyatakan dalam nilai % antara nilai maksimum dan minimum yang terukur dan dievaluasi sekurang-kurangnya 10 detik dari pengukuran. apabila terjadi maka arus tidak dapat mengalir dan CT menjadi panas dan overload. R meas : Nilai winding resistance atau tahanan dalam CT. mengingat bahwa test ini sekaligus merupakan pengecekan terhadap rangkaian beban CT seperti panel relay. ketiganya memiliki nilai kneepoint yang berbeda namun ketiganya . logger. Hasil dinyatakan stabil jika Dev < 0.

the knee point is defined as the point on the curve where a voltage increment of 10% increases the current by 50%.Applies to current transformer cores without an air gap. the knee point is the point where. bergantung dari Standar apa yang hendak digunakan setidaknya Produsen CT dan End-User menggunakan Standar yang sama. the tangent line to the curve forms a 45° angle.13.dianggap sah. Di Indonesia umumnya mengacu pada Standar IEC.Like ANSI 45° but forming a 30° angle. Pengukuran arus bisa dilakukan dengan cara memasang Ampere-meter yang dihubung seri dengan alat injeksi atau penggunakan clamp meter pada kabel output alat injeksi tegangan. sebagai standar intalasi tegangan tinggi dan menengah.  ANSI 30° .According to IEEE C57. maka diperlukan sebuah sumber tegangan AC yang mampu digunakan untuk menguji CT Class X.  ANSI 45° . Tegangan eksitasi diberikan pada terminal skunder CT di tiap Core-nya. kemudian tegangan dinaikan perlahan sampai mencapai nilai arus nominal CT.Applies to current transformer cores with an air gap.  IEC/BS . Untuk melakukan pengujian CT. Model pengujian yang umumnya saya gunakan adalah seperti di bawah ini: . dimana nilai kneepoint-nya bisa mencapai 2000Volts.According to IEC 60044-1. with a double logarithmic representation.

Contoh grafik tersebut adalah seperti berikut ini: Jika dibuat grafik pada Excel. bisa dilakukan pengukuran dan pencatatan secara simultan agar di dapat grafik yang halus dan presisi.Setiap perubahan arus signifikan atau setiap kelipatan berapa volts dari tegangan. maka grafik-nya akan berbentuk seperti dibawah ini: .

Untuk menentukan apakah CT tersebut layak bertegangan ataukah tidak. Kunci inti pengujian tegangan eksitasi pada CT ini hanyalah menentukan di nilai berapa Volt. CT sudah mencapai titik jenuh dan sudah tidak menghasilkan perubahan arus yang signifikan. tidak semua atau jarang sekali pabrikan CT yang menyebutkan nilai Kneepoint yang didapat saat dilakukan FAT (karena tidak semua orang mudah dan mengerti untuk menentukan nilai dari pengukuran yang didapat).7kV maka tegangan eksitasi CT harus melebihi 1.Sayangnya. Pengujian Isolasi atau Megger Pengujian diatas secara keseluruhan hanyalah untuk menentukan bahwa CT tersebut layak beroperasi sesuai spesifikasi desain sistem dan tidak terjadi kesalahan pengukuran arus sebenarnya dimana CT merupakan elemen metering dan proteksi. Misal spesifikasi CT adalah Vk > 1.7kV untuk menghasilkan 5A. Megger yang digunakan adalah 5kV untuk sisi primer dan 1kV untuk sisi skunder. maka harus dilakukan pengujian Isolasi atau Megger. Biasanya pabrikan hanya melampirkan data nilai eksitasi beserta nilai arus yang di dapat serta melampirkan grafiknya. Titik yang bisa dilakukan pengetesan adalah:    Terminal Primer dengan Ground tidak boleh ada hubungan Terminal Primer dengan Skunder tidak boleh ada hubungan Terminal Skunder dengan Ground tidak boleh ada hubungan . Maka CT tersebut memiliki spesifikasi yang sesuai dengan yang tertera. setidaknya 2kV baru mencapai 5A.

dapat menimbulkan perbedaan rasio transformasi arus yang sebenarnya dengan kenyatannya. Listrik yang lebih baik untuk masa depan. dan mari ber-Hemat Energi. “Mudah-mudahan artikel diatas mampu menambah wawasan dan meningkatkan kualitas kontrol terhadap produk-produk ataupun proyek-proyek pengembangan infrastruktur kelistrikan di Indonesia. atau bahkan rembesan oli trafo.Cek Fisik CT saat datang dan saat dipasang harus diulakukan cek fisik terlebih dahulu sebagai wujud sebuah quality control. C2H4 dan C2H2 GALAT PADA TRAFO ARUS Kesalahan pada trafo arus atau yang sering disebut dengan galat trafo arus merupakan perbandingan antara arus primer dan arus sekunder. CH4. Bila CT dipergunakan untuk . Tidak boleh ada retakan. CO. antara lain: • Gangguan hubung singkat antar lilitan karena rusaknya laminasi. • Perubahan kandungan gas H2. Kesalahan arus (current error) : Di mana : Kn = perbandingan trafo = kesalahan arus % Is = Arus sekunder sebenarnya (A) Ip = Arus primer sebenarnya (A) Karena adanya perbedaan arus antara arus yang masuk di sisi primer dengan arus yang terbaca di sisi sekunder.” Penyebab Hubung Singkat didalam Transformator.

Untuk penggunaan pengukuran biasanya dioperasikan pada bagian kurva yang linier. trafo arus ini memiliki factor arus lebih yang rendah yakni n=5. Oleh karena itu.a dalah kebalikan dari Fs-nya.pengukuran energy (kWh meter). biasanya memiliki factor arus lebih yang tinggi yakni n=10. galat masih dalam batas yang ditentukan. Securrity Factor (Fs) Faktor security adalah rasio dari sekuriti arus primer pengenal (Ips) dan arus primer pengenal (Ip). kesalahn arus ini sangat berpengaruh terhadap pengukuran energy. nilai rms mempunyai perbedaan antara nilai sesaat dari arus primer dengan nilai sesaat dari arus sekunder sebenarnya yang dikalikan dengan rasio CT pengenal. Sesuai standar sekuriti factor Fs = Fs5. Untuk kerja dari trafo arus pada saat primernya dialiri arus hubung singkat. Perbandingan arus magnetisasi efektif dengan arus sekunder disimbolkan sebagai galat komposit: Galat komposit = Di mana : Ip = arus primer (rms) ip = arus sesaat primer √ ∫ % . dimana saat arus primer sama dengan nI1. Trafo arus untuk pengukuran arus segera jenuh untuk melindungi peralatan agar tidak kelebihan beban. Sekurity dari meter yang dihubungkan ke CT. digambarkan dengan faktor arus lebih n. Galat Komposit dari Trafo Arus Galat komposit merupakan pada kondisi di bawah steady state. Trafo atrus proteksi harus lambat mengalami kejenuhan1.

. sehingga alat pengukuran tidak sampai dialiri arus besar.is = arus sesaat sekunder T = satu perioda kn = rasio transformasi nominal 1 Jenuh pada arus gangguan yang besar diperlukan karena output arus di sekunder collapse.

.com/2010/06/transformator-arus. “Teknik Tegangan Tinggi” Paradnya Paramita.cz.html http://www.I. PT Gramedia Pustaka Utama. John Willey and Sons Inc. 1998 2. http://ariyatheonata. “Electrical Cables for Power and Signal Transmission”..REFERENSI 1. Gilbertson O. Tobing B. “High Voltage Engineering and Testing” Peter Peregrinus Behalf IEE. 6.cc/2011/04/pengujian-trafo-arus-current_12. 2000 4. Jakarta.blogspot. “Peralatan Tegangan Tinggi”. Jakarta. 1984 5.html .ari-sty.. Arismunandar A.. Ryan HM. 2003 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->