CURRENT TRANSFORMER (TRAFO ARUS

)

Current transformer (CT) atau Trafo Arus adalah peralatan pada sistem tenaga listrik yang berupa trafo yang digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya hingga ratusan ampere dan arus yang mengalir pada jaringan tegangan tinggi. Di samping untuk pengukuran arus, trafo arus juga digunakan untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh, dan rele proteksi. Kumparan primer trafo dihubungkan seri dengan rangkaian atau jaringan yang akan dikur arusnya sedangkan kumparan sekunder dihubungkan dengan meter atau dengan rele proteksi.

Prinsip kerja trafo arus sama dengan trafo daya satu fasa. Bila pada kumparan primer mengalir arus I1, maka pada kumparan timbul gaya gerak magnet sebesar N1I1. Gaya gerak ini memproduksi fluks pada inti, dan fluks ini membangkitkan gaya gerak listrik pada kumparan sekunder. Bila terminal kumparan sekunder tertutup, maka pada kumparan sekunder mengalir arus I1. Arus ini menimbulkan gaya gerak magnet N2I2 pada kumparan sekunder. Pada trafo arus biasa dipasang burden pada bagian sekunder yang berfungsi sebagai impedansi beban, sehingga trafo tidak benar-benar short circuit. Apabila trafo adalah trafo ideal, maka berlaku persamaan : N1I1 = N2I2

I1/I2 = N2/N1 di mana, N1 : Jumlah belitan kumparan primer N2 : Jumlah belitan kumparan sekunder I1 : Arus kumparan primer I2 : Arus kumparan sekunder Dalam pemakaian sehari-hari, trafo arus dibagi menjadi jenis-jenis tertentu berdasarkan syarat-syarat tertentu pula, adapun pembagian jenis trafo arus adalah sebagai berikut : § Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Kumparan Primer a. Jenis Kumparan (Wound) Biasa digunakan untuk pengukuran pada arus rendah, burden yang besar, atau pengukuran yang membutuhkan ketelitian tinggi. Belitan primer tergantung pada arus primer yang akan diukur, biasanya tidak lebih dari 5 belitan. Penambahan belitan primer akan mengurangi faktor thermal dan dinamis arus hubung singkat. b. Jenis Bar (Bar) Konstruksinya mampu menahan arus hubung singkat yang cukup tinggi sehingga memiliki faktor thermis dan dinamis arus hubung singkat yang tinggi. Keburukannya, ukuran inti yang paling ekonomis diperoleh pada arus pengenal yang cukup tinggi yaitu 1000A.

Jenis Rasio Ganda Rasio ganda diperoleh dengan membagi kumparan primer menjadi beberapa kelompok yang dihubungkan seri atau paralel. Inti Tunggal Digunakan apabila sistem membutuhkan salah satu fungsi saja. b. Inti Ganda Digunakan apabila sistem membutuhkan arus untuk pengukuran dan proteksi sekaligus. Jenis Rasio Tunggal Rasio tunggal adalah trafo arus dengan satu kumparan primer dan satu kumparan sekunder. yaitu untuk pengukuran atau proteksi. § Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Inti a. .§ Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Rasio a. b.

. Isolasi Epoksi-Resin Biasa dipakai hingga tegangan 110KV. kerangka isolasi. digunakan untuk arus pengenal dan arus hubung singkat yang besar. Terdapat 2 jenis. Isolasi Minyak-Kertas Isolasi minyak kertas ditempatkan pada kerangka porselen. Memiliki kekuatan hubung singkat yang cukup tinggi karena semua belitan tertanam pada bahan isolasi. Merupakan trafo arus untuk tegangan tinggi yang digunakan pada gardu induk dengan pemasangan luar. dan jenis gardu. penyulang pada sisi primer lebih pendek. Dibedakan menjadi jenis tangki logam.§ Jenis Trafo Arus Menurut Konstruksi Isolasi a. b. yaitu jenis bushing dan pendukung. Kelebihannya.

c. bushing trafo. dengan demikian terbuka jalan untuk membawa lapisan terluar bagian yang di-ground keluar dari trafo arus. dimana keterbatasan kemampuan baca alat ukur. Pengujian Trafo Arus (Current Transformer) CT atau Trafo Arus merupakan perantara pengukuran arus. atau pada rel daya berisolasi gas SF6. Spesifikasi pada CT antara lain: . CT umumnya selain digunakan sebagai media pembacaan juga digunakan dalam sistem proteksi sistem tenaga listrik. arus yang mengalir adalah 2000A sedangkan alat ukur yang ada hanya sebatas 5A. Maka dibutuhkan sebuah CT yang mengubah representasi nilai aktual 2000A di lapangan menjadi 5A sehingga terbaca oleh alat ukur. Sistem proteksi dalam sistem tenaga listrik sangatlah kompleks sehingga CT itu sendiri dibuat dengan spesifikasi dan kelas yang bervariatif sesuai dengan kebituhan sistem yang ada. Sering digunakan inti berbentuk cincin dengan belitan sekunder yang dibelit secara seragam pada cincin dan dimasukkan pada isolasi. Misal pada sistem saluran tegangan tinggi. Isolasi Koaksial Jenis trafo arus dengan isolasi koaksial biasa ditemui pada kabel.

Kesalahan rasio ataupun besarnya presentasi error (%err. dimana representasi nilai arus yang ada di lapangan di hitung dari besarnya rasio CT.5Ohm. Misal: <2. atau impedansi dalam CT.1. Secondary Winding Resistance (Rct). 5.5Ohm atau CT tersebut dikembalikan ke pabrik untuk dilakukan penggantian. maka impedansi CT pada Class X tidak boleh lebih dari 2. kelas CT menentukan untuk sistem proteksi jenis apakah core CT tersebut. rasio CT merupakan spesifikasi dasar yang harus ada pada CT. Kneepoint hanya terdapat pada CT dengan Class X atau PX. namun pada Class X nilai ini ditentukan dan tidak boleh melebihi nilai yang tertera disana. maka nilai aktual arus yang mengalir di penghantar adalah 1000A. Kneepoint. Apabila lebih kecil. Tegangan dapat dihasilkan oleh CT ketika skunder CT diberikan impedansi seperti yang tertera pada Hukum Ohm. Umumnya proteksi busbar menggunakan tegangan sebagai penggerak koilnya.5A. Burden atau nilai maksimum daya (dalam satuan VA) yang mampu dipikul oleh CT. untuk sistem proteksi busbar digunakan Class X atau PX. dan tentu saja besarnya kneepoint tergantung dari nilai atau desain yang diinginkan. Berdasarkan kriteria diatas.5.2 atau 0. Ratio CT. 4. maka dapat dilakukan pengujian CT sebagai berikut: . untuk kelas tarif metering digunakan kelas 0. 3. Misal CT dengan rasio 2000/5A. maka relay proteksi tidak akan bekerja untuk mengetripkan CB/PMT apabila terjadi gangguan. Besarnya tegangan kneepoint bisa mencapai 2000Volt. Class. kesalahan penghitungan tarif. nilai yang terukur di skunder CT adalah 2. dan kesalahan operasi sistem proteksi. Misal untuk proteksi arus lebih digunakan kelas 5P20. Impedansi dalam CT pada umumnya sangat kecil.) dapat berdampak pada besarnya kesalahan pembacaan di alat ukur. Nilai daya ini harus lebih besar dari nilai yang terukur dari terminal skunder CT sampai dengan koil relay proteksi yang dikerjakan. adalah titik saturasi/jenuh saat CT melakukan excitasi tegangan. 2.

Pada kasus umumnya yang terjadi di lapangan. maka disini diperlukan alat injeksi arus yang mampu mengalirkan arus sebesar 2000A. Untuk mendapatkan nilai 2000A maka kita dapat membuat gulungan atau lilitan sebanyak 2000A/500A = 4 kali gulungan. dan 2x250MW Muara Karang Gas Power Plant Project. Inalum 275kV OHL Prot’n Panel Replacement Project. Tentu saja nilainya tidaklah tepat seperti yang tertera pada kalkulator tapi setidaknya nilai tersebut dapat tercapai. Metering ataupun instrument terpasang harus menunjukkan nilai kurang-lebih 2000A.Contoh-contoh beserta uraian dalam artikel kali ini saya ambil dari pengalamanpengalaman saya melakukan SAT CT dan HV Equipments pada Project: Cikarang Listrindo 4x60MW Gas Power Plant Project. misal 500A. Tentu saja alat ini sangat langka dan besar sekali. Ratio Test Misal: Ratio CT = 2000/5A Untuk melakukan pengujian bahwa apakah benar nilai skunder CT tersebut apabila line primer diberi arus sebesar 2000A adalah 5A. ternyata jenis alat test yang mampu menghasilkan arus dalam jumlah yang besar ini cukup susah untuk dicari (karena harganya mahal maka umumnya kami rental dari temen-temen) Di balik itu ternyata banyak CT yang hasil pengukurannya tidak linear / atau tidak berbanding lurus dengan rasio yang tertera. Dengan kata lain nilai presentase error-reading-nya bervariatif dan umumnya semakin kecil arus yang diberikan. . Cara alternatif yang biasa digunakan adalah dengan alat inject yang lebih kecil.

Adapun langkah-langkah perawatan dari transformator. Perawatan dan Pemantauan Kondisi Transformator Dengan melakukan perawatan secara berkala dan pemantauan kondisi transformator pada saat beroperasi akan banyak keuntungan yang didapat. antara lain adalah: • Pemeriksaan berkala kualitas minyak isolasi. • Pemeriksaan/pengamatan berkala secara langsung (Visual Inspection) • Pemeriksaan-pemeriksaan secara teliti (overhauls) yang terjadwal. antara lain: • Meningkatkan keandalan dari transformator tersebut.Perawatan Transformator .presentase error-reading-nya semakin besar melampaui batas spesifikasi CT yang tertera pada nameplate. Gambar 1. • Memperpanjang masa pakai. Padahal untuk beberapa sistem proteksi seperti Distance Relay menggunakan pembacaan parameter arus pada nilai yang rendah. • Jika masa pakai lebih panjang. maka secara otomatis akan dapat menghemat biaya penggantian unit transformator.

Komponen-Komponen Utama Transformator Komponen-komponen utama transformator yaitu : • On-load tap changer (OLTC) • Bushing • Insulator / penyekat • Gasket • Sistem saringan / filter minyak isolasi • Peralatan proteksi. Pemeriksaan dan analisa minyak isolasi transformator. – Valves atau katup-katup – relay – Alat-alat ukur dan indikator-indikator Peta Potensi Terjadinya Gangguan didalam Transformator Gambar 2. Peta Potensi Gangguan didalam Transformator Pemeriksaan Kondisi Transformator Saat Beroperasi Pada saat transformator beroperasi ada beberapa pemeriksaan dan analisa yang harus dilakukan. DGA) . antara lain: 1. meliputi: – Tegangan tembus (breakdown voltage) – Analisa gas terlarut (dissolved gas analysis.

neutralisation number. rentang waktu pemeriksaan minyak isolasi . Karakteristik Akibat Kegagalan Gas Rentang Waktu Pemeriksaan dan Analisa Minyak isolasi Tabel 2. setiap 2 tahun. Karakteristik Akibat Kegagalan Gas Tabel 1. • Pemeriksaan dan analisa minyak isolasi secara menyeluruh. interfacial tension.– Analisa minyak isolasi secara menyeluruh (sekali setiap 10 tahun) • Pemeriksaan dan analisa kandungan gas terlarut (Dissolved gas analysis. Pengamatan dan Pemeriksaan Langsung (Visual inspections) – Kondisi fisik transformator secara menyeluruh. Tan δ). Deteriorasi / pemburukan kertas isolasi/laminasi. DGA). – Pemeriksaan dengan menggunakan sinar infra-merah (infrared monitoring). furfural analysis dan kandungan katalisator negatif (inhibitor content) 2. meliputi: power factor (cf. untuk mencegah terjadinya:(partial) discharges. saringan/filter dll. – Alat-alat ukur. kandungan air (water content). Kegagalan thermal (thermal faults). relay.

Hmm. – power transformer – bushings – Transformator ukur (measurement transformator) – breaker capacitors Pengujian listrik (electrical test) dilakukan setidaknya setiap 6 .9 tahun. pengencangan kembali dan pengeringan. Untuk menguji CT 2000A cukup dibutuhkan arus sebesar 10% x 2000A = 200A saja. – pembersihan. FRA d. Doble measurements b. a. 2. PD-measurement c. . Pengujian listrik (Electrical Test) untuk peralatan. Tentu saja ini menguntungkan bagi saya selaku tim SAT dan commissioning. Frequency Responce Analysis.. Perawatan dan pemeriksaan ringan (Minor overhaul). Pengujian yang dilakukan meliputi. Analisa kimia – analisa kertas penyekat/laminasi (sekali setiap 10 tahun) 4. 3. Perawatan dan pemeriksaan teliti (Major overhaul) – Secara teknis setidaknya 1 kali selama masa pakai. setiap 3 atau 6 tahun.Tindakan yang biasa dilakukan pada saat Pemeriksaan Teliti (Overhaul) 1. – on-load tap changers – oil filtering dan vacuum treatment – relays dan auxiliary devices. voltage tests Kemudian IEC mengeluarkan standarisasi bahwa nilai pengukuran CT harus linear minimal s/d 10% dari nilai rating current atau arus nominal yang tertera.

5 Security Factor (FS) < 20. maka nilai arus primernya adalah: 2000A dan nilai arus skundernya adalah 5. arus terukur pada sisi primer CT adalah: 199. maksimum %err. tentu saja ada losses di kabel dan sambungan pada sisi primer.Core #3 Serial No. CT: 0805451 Terminal Tap yang digunakan 3S1~3S3 Class 0. adalah 0.96A.55 mA Dengan rumus diatas.33% [OK] .   Arus terukur pada sisi skunder CT adalah: 501.5% Ratio 2000/5 A Injeksi Arus sebesar 200A.Kemudian cara pengujian dan kalkulasi presentasi Contoh untuk 2000A:       CT 2.0165A  Sehingga %err. = 0.1 .

mulai dari kabel sampai dengan panel proteksi dan metering.Pengujian Secondary Burden CT (VA) Pengujian secondary burden CT merupakan pengujian untuk mengetahui nilai aktual beban yang terpasang pada sisi sekunder CT. Apabila nilai burden atau impedansi terukur pada arus 1A melebihi rating burden nominal CT (dalam satuan VA). untuk melakukan hal ini harus menggunakan metode tegangan atau dengan alat uji yang dikenal dengan nama CT Analyzer. Apabila CT mengeluarkan arus 1A nominal. Berikut ini adalah skema wiring pada saat dilakukan pengujian Secondary CT Burden: . maka harus dilakukan penggantian kabel yang lebih besar atau penggantian relay dengan burden yang lebih kecil. karena hanya menggunakan perhitungan Hukum Ohm. Terminal sekunder CT tidak boleh ikut dialiri arus karena akan berdampak timbulnya arus besar pada sisi primer. Dimana VA = Arus x Tegangan. Mengetahui nilai burden pada sisi sekunder CT pada dasarnya cukup sederhana. Di dalam pengujian ini pada dasarnya kita hanya ingin mengetahui berapa sih besarnya impedansi loop tertutup pada beban CT (kabel + relay + metering + dst). maka kita bisa memberikan arus sebesar 1A untuk sisi kabel yang terpasang pada CT. Pengujian ini tidak bisa menentukan nilai burden nominal ataupun maksimal CT.

elemen-elemen pengukuran yang harus diambil saat pengujian Secondary Winding CT adalah sebagai berikut:  IDC : Arus DC aktual yang diinjeksikan ke terminal sekunder CT. . Pengujian diluar standar tersebut tidak sah dan tidak memenuhi kriteria pengujian standar CT. disini saya buat sistem perhitungan otomatis dengan menggunakan Excel.  VDC : Tegangan terukur yang dihasilkan oleh injeksi arus DC pada sisi kumparan/winding CT. Formula dan sistem pengujian harus mengacu pada setandar tersebut. biasanya nilai arus yang saya gunakan adalah 5A untuk CT tipe 5A nominal secondary output. Berdasarkan pada IEC 60076-1. dimana formulanya sangat mudah diingat (VA = Volt x Ampere): Pengujian Secondary Winding Resistance (Rct) Pengujian Secondary Winding CT umumnya mengacu pada standar IEC 60076-1.Berikut ini adalah contoh perhitungan nilai Secondary Burden yang didapat.

Sehingga formulasi perhitungan Secondary Winding Burden CT dapat dibuat sebagai berikut ini: Pengujian secondary burden ini cukup penting. apabila terjadi maka arus tidak dapat mengalir dan CT menjadi panas dan overload. ketiganya memiliki nilai kneepoint yang berbeda namun ketiganya . mengingat bahwa test ini sekaligus merupakan pengecekan terhadap rangkaian beban CT seperti panel relay. pecah. dsb.   Time : Total waktu yang diperlukan dalam pengujian Dev : Sudut deviasi yang dinyatakan dalam nilai % antara nilai maksimum dan minimum yang terukur dan dievaluasi sekurang-kurangnya 10 detik dari pengukuran. atau bahkan meledak. buspro. biasanya nilai yang digunakan umumnya adalah 75°C. Pengujian ini sekaligus memastikan kondisi rangkain CT layak dioperasikan ataukah belum.1%. logger. Alhasil CT bisa rusak. yang diperoleh dari hasil perhitungan VDC/IDC (Hukum Ohm). Pengujian Eksitasi CT atau CT Kneepoint Di dalam pengujian titik saturasi CT atau kneepoint ada tiga jenis Standar yang mengatur. R meas : Nilai winding resistance atau tahanan dalam CT. Rangkaian CT harus selalu tertutup (shortcircuit) agar dapat mengasilkan arus. Hasil dinyatakan stabil jika Dev < 0. Sebaiknya lihat data FAT pabrikan atau referensi manual dari CT.   Tmeas : ambient temperature atau suhu ruang Tref : operating temperature dari CT. Rangkaian tidak boleh ada impedansi yang besar atau bahkan terpotong. metering.

According to IEEE C57. with a double logarithmic representation. the knee point is defined as the point on the curve where a voltage increment of 10% increases the current by 50%.According to IEC 60044-1. Di Indonesia umumnya mengacu pada Standar IEC.Applies to current transformer cores with an air gap.  ANSI 45° . Untuk melakukan pengujian CT. maka diperlukan sebuah sumber tegangan AC yang mampu digunakan untuk menguji CT Class X.13.  ANSI 30° . dimana nilai kneepoint-nya bisa mencapai 2000Volts.Applies to current transformer cores without an air gap.  IEC/BS . the knee point is the point where.Like ANSI 45° but forming a 30° angle. the tangent line to the curve forms a 45° angle. kemudian tegangan dinaikan perlahan sampai mencapai nilai arus nominal CT. Pengukuran arus bisa dilakukan dengan cara memasang Ampere-meter yang dihubung seri dengan alat injeksi atau penggunakan clamp meter pada kabel output alat injeksi tegangan. Model pengujian yang umumnya saya gunakan adalah seperti di bawah ini: . Tegangan eksitasi diberikan pada terminal skunder CT di tiap Core-nya. bergantung dari Standar apa yang hendak digunakan setidaknya Produsen CT dan End-User menggunakan Standar yang sama. sebagai standar intalasi tegangan tinggi dan menengah.dianggap sah.

Setiap perubahan arus signifikan atau setiap kelipatan berapa volts dari tegangan. maka grafik-nya akan berbentuk seperti dibawah ini: . Contoh grafik tersebut adalah seperti berikut ini: Jika dibuat grafik pada Excel. bisa dilakukan pengukuran dan pencatatan secara simultan agar di dapat grafik yang halus dan presisi.

Biasanya pabrikan hanya melampirkan data nilai eksitasi beserta nilai arus yang di dapat serta melampirkan grafiknya. Kunci inti pengujian tegangan eksitasi pada CT ini hanyalah menentukan di nilai berapa Volt. CT sudah mencapai titik jenuh dan sudah tidak menghasilkan perubahan arus yang signifikan. Megger yang digunakan adalah 5kV untuk sisi primer dan 1kV untuk sisi skunder. setidaknya 2kV baru mencapai 5A.Sayangnya.7kV maka tegangan eksitasi CT harus melebihi 1. tidak semua atau jarang sekali pabrikan CT yang menyebutkan nilai Kneepoint yang didapat saat dilakukan FAT (karena tidak semua orang mudah dan mengerti untuk menentukan nilai dari pengukuran yang didapat). Misal spesifikasi CT adalah Vk > 1. Titik yang bisa dilakukan pengetesan adalah:    Terminal Primer dengan Ground tidak boleh ada hubungan Terminal Primer dengan Skunder tidak boleh ada hubungan Terminal Skunder dengan Ground tidak boleh ada hubungan . Pengujian Isolasi atau Megger Pengujian diatas secara keseluruhan hanyalah untuk menentukan bahwa CT tersebut layak beroperasi sesuai spesifikasi desain sistem dan tidak terjadi kesalahan pengukuran arus sebenarnya dimana CT merupakan elemen metering dan proteksi. Untuk menentukan apakah CT tersebut layak bertegangan ataukah tidak. Maka CT tersebut memiliki spesifikasi yang sesuai dengan yang tertera.7kV untuk menghasilkan 5A. maka harus dilakukan pengujian Isolasi atau Megger.

antara lain: • Gangguan hubung singkat antar lilitan karena rusaknya laminasi. CH4.Cek Fisik CT saat datang dan saat dipasang harus diulakukan cek fisik terlebih dahulu sebagai wujud sebuah quality control. CO.” Penyebab Hubung Singkat didalam Transformator. Tidak boleh ada retakan. “Mudah-mudahan artikel diatas mampu menambah wawasan dan meningkatkan kualitas kontrol terhadap produk-produk ataupun proyek-proyek pengembangan infrastruktur kelistrikan di Indonesia. • Perubahan kandungan gas H2. atau bahkan rembesan oli trafo. dan mari ber-Hemat Energi. C2H4 dan C2H2 GALAT PADA TRAFO ARUS Kesalahan pada trafo arus atau yang sering disebut dengan galat trafo arus merupakan perbandingan antara arus primer dan arus sekunder. Kesalahan arus (current error) : Di mana : Kn = perbandingan trafo = kesalahan arus % Is = Arus sekunder sebenarnya (A) Ip = Arus primer sebenarnya (A) Karena adanya perbedaan arus antara arus yang masuk di sisi primer dengan arus yang terbaca di sisi sekunder. dapat menimbulkan perbedaan rasio transformasi arus yang sebenarnya dengan kenyatannya. Bila CT dipergunakan untuk . Listrik yang lebih baik untuk masa depan.

galat masih dalam batas yang ditentukan. dimana saat arus primer sama dengan nI1.a dalah kebalikan dari Fs-nya. Trafo arus untuk pengukuran arus segera jenuh untuk melindungi peralatan agar tidak kelebihan beban.pengukuran energy (kWh meter). nilai rms mempunyai perbedaan antara nilai sesaat dari arus primer dengan nilai sesaat dari arus sekunder sebenarnya yang dikalikan dengan rasio CT pengenal. Galat Komposit dari Trafo Arus Galat komposit merupakan pada kondisi di bawah steady state. Sekurity dari meter yang dihubungkan ke CT. kesalahn arus ini sangat berpengaruh terhadap pengukuran energy. Trafo atrus proteksi harus lambat mengalami kejenuhan1. Oleh karena itu. biasanya memiliki factor arus lebih yang tinggi yakni n=10. Untuk kerja dari trafo arus pada saat primernya dialiri arus hubung singkat. Perbandingan arus magnetisasi efektif dengan arus sekunder disimbolkan sebagai galat komposit: Galat komposit = Di mana : Ip = arus primer (rms) ip = arus sesaat primer √ ∫ % . Securrity Factor (Fs) Faktor security adalah rasio dari sekuriti arus primer pengenal (Ips) dan arus primer pengenal (Ip). trafo arus ini memiliki factor arus lebih yang rendah yakni n=5. digambarkan dengan faktor arus lebih n. Untuk penggunaan pengukuran biasanya dioperasikan pada bagian kurva yang linier. Sesuai standar sekuriti factor Fs = Fs5.

.is = arus sesaat sekunder T = satu perioda kn = rasio transformasi nominal 1 Jenuh pada arus gangguan yang besar diperlukan karena output arus di sekunder collapse. sehingga alat pengukuran tidak sampai dialiri arus besar.

html . Jakarta. 6.REFERENSI 1. Tobing B. John Willey and Sons Inc.. Gilbertson O..com/2010/06/transformator-arus. Ryan HM.I. 1984 5.blogspot. 2003 3. PT Gramedia Pustaka Utama. 1998 2. 2000 4.. “Peralatan Tegangan Tinggi”. “Electrical Cables for Power and Signal Transmission”. http://ariyatheonata.cz. “Teknik Tegangan Tinggi” Paradnya Paramita.ari-sty.html http://www. “High Voltage Engineering and Testing” Peter Peregrinus Behalf IEE. Arismunandar A.cc/2011/04/pengujian-trafo-arus-current_12.. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful