ASPEK PSIKIATRI PADA PENDERITA EPILEPSI I.

PENDAHULUAN Epilepsi dapat terjadi pada siapa saja di seluruh dunia tanpa batasan ras dan sosial ekonomi. Laporan WHO (2001) memperkirakan bahwa rata-rata terdapat 8,2 orang penyandang epilepsi aktif diantara 1000 orang penduduk, dengan angka insidensi 50 per 100.000 penduduk. Angka prevalensi dan insidensi diperkirakan lebih tinggi di negara-negara berkembang.10 Epilepsi adalah suatu gangguan yang berhubungan dengan sistem saraf pusat, yang ditandai dengan adanya bangkitan kejang yang disebabkan oleh hiperaktifitas muatan listrik dari neuron otak secara spontan. Penderita epilepsi digambarkan mempunyai perilaku yang stereotipi, retardasi mental, psikotik, agresif, dengan gangguan kognitif, afektif, dan gangguan perilaku lain.1,4 Adanya manifestasi psikotik pada epilepsi menimbulkan kesulitan dalam menegakkan diagnosis gangguan psikiatri, apakah gejala ini merupakan bagian dari epilepsi atau merupakan gangguan psikiatri yang menyertai suatu epilepsi. Pada umumnya gangguan psikiatri ditemukan pada periode interiktal yaitu berupa gangguan mood, gangguan tingkah laku, psikotik, dan tindakan kekerasan.7 II. DEFINISI Epilepsi didefinisikan sebagai suatu yang ditandai oleh bangkitan (seizure) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermiten, yang disebabkan oleh lepas muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron- neuron secara paroksismal dan disebabkan oleh berbagai etiologi.5 Bangkitan epilepsi (epileptic seizure) adalah menifestasi klinik dari bangkitan serupa (streotipik), berlangsung secara mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran, disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf otak, bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut (unprovoked).5

1

III. ETIOLOGI a. Faktor biologis 1. Peranan neurotransmitter Defisiensi sistem noradrenergik dan/atau serotonergik, atau abnormalitas receptor 5HT2, dapat mempredisposisi penderita epilepsi menjadi psikotik dan depresi.1 2. Peranan asam folat Pasien psikosis dan depresi dengan epilepsi oleh karena pemakaian obat anti konvulsi selalu disertai dengan kadar konsentrasi folat yang rendah pada serum dan sel darah merah dibandingkan pasien psikiatri yang lain. Pasien dengan konsentrasi asam folat yang sangat rendah umumnya menunjukkan "rating" depresi yang cukup tinggi dibanding pasien dengan kadar konsentrasi asam folat yang normal.1 3. Faktor biokimiawi Keseimbangan antara fungsi neuron eksitatorik dengan inhibitorik merupakan prasyarat untuk normalitas fungsi sistem limbik yang mengatur emosi dan afek. Berbagai perubahan dalam sistem biokimiawi yang melibatkan norepinefrin, dopamin, dan GABA. Perubahan keseimbangan biokimiawi ini akan menimbulkan aktifitas berlebihan dari salah satu neuron terhadap yang lain.1 4. Neuroanatomik Gejala psikotik dan depresi yang terdapat pada pasien epilepsi berhubungan secara signifikan dengan suatu gangguan lobus frontalis bilateral akibat kurangnya metabolisme glukosa di otak.1

2

 Pola hubungan keluarga yang terganggu. Peranan penggunaan antikonvulsi Pada penderita epilepsi yang telah mendapat terapi antiepilepsi dalam jangka waktu lama. menyebabkan penderita epilepsi terbatas dalam pekerjaannya. seperti ketergantungan pada anggota keluarga yang lain. dimana depresi merupakan gangguan yang paling umum dijumpai. penolakan oleh anggota keluarga yang lain.  Bias sosial atau stigma.1 6.8 b. overproteksi. dan terbatas pergaulannya. antara lain gangguan psikiatri dan yang paling sering dijumpai yaitu depresi atau ansietas. bila terapi dihentikan tiba-tiba maka sering timbul berbagai efek pada penderita. Faktor psikososial Permasalahan psikososial sehari-hari yang membebani penderita epilepsi membuat penderita rentan terhadap gangguan psikotik dan gangguan tingkah laku. terbatas dalam kehidupan sehari-harinya. Faktor genetik Faktor genetik memegang peranan dalam menimbulkan gangguan psikotik dan depresi pada epilepsi.5. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi penderita epilepsi tersebut adalah :  Kerusakan neurologis yang diakibatkan oleh adanya struktur patologis merupakan dampak dari seringnya serangan kejang. Penderita epilepsi dengan gangguan psikotik dan depresi mempunyai riwayat keluarga menderita gangguan psikopatologis.8 3 .

hanya 30% fokus epileptiknya berada selain di lobus temporal (terutama di korteks frontalis). keagresifan. Pada psikosis post iktal. perubahan perilaku seksual. henti bicara/blocking atau mutisme. Psikosis post-iktal (PIP) Hampir 25% dari kasus psikosis pada penderita epilepsi adalah psikosis post. KLASIFIKASI DAN GEJALA KLINIS Psikosis merupakan komplikasi berat dari epilepsi meskipun jarang ditemukan. kecuali pada beberapa pasien dengan parsial sederhana dan EEG abnormal tidak terdeteksi.9%. Kebanyakan dari psikosis iktal mempunyai fokus epileptiknya pada lobus temporal. Psikosis iktal (IP) Psikosis iktal adalah kejadian yang berhubungan dengan discharge epilepsi dalam otak. automatisme. dan waham.5% . Psikosis iktal 2. psikosis menetap meskipun masa iktal telah selesai 2. Kecuali untuk kasus status parsial sederhana. Biasanya hal ini berangkai dengan iritabilitas. dapat ditemukan halusinasi (Auditorik. Psikosis inter-iktal 1. Gejala yang muncul dapat bermacam. keadaan perasaan secara umum menjadi memburuk.IV. Keadaan ini biasa disebut dengan psychoses of epilepsy (POE)2 Psychoses of epilepsy (POE) diklasifikasikan berdasarkan hubungan waktu antara kejadian dengan masa iktal :2 1. Berdasarkan penelitian epidemiologi yang dilakukan ditemukan kasus psikosis pada penderita epilepsi berkisar antara 0. 4 .iktal. gejala psikotik yang berlangsung singkat mengikuti berakhirnya seizure. Psikosis post-iktal 3. Adakalanya. visual ataupun taktil).

PENATALAKSANAAN PSIKOTIK PADA EPILEPSI Penatalaksanaan psikotik pada pasien epilepsi adalah sama saja antara pasien dengan atau tanpa epilepsi. halusinasi dengan gangguan moral/etika. Status epileptikus dan iktal diterapi dengan cara yang sama seperti epilepsi yang nonpsikiatrik. dan mulai dari usia 30 tahun. memiliki riwayat yang lebih baik bila dibandingkan dengan obat antipsikotik yang lebih lama. kurang inisiatif.3. Beberapa studi menyatakan bahwa risperidone.4 Psikosis iktal sangat baik diterapi dengan tujuan mengendalikan seizure. ditandai oleh paranoid. dengan beberapa catatan. interikta1. perilaku agresif dan ide bunuh diri. penilaian yang tidak terorganisasi dengan baik.8 5 . Penggunaan neuroleptik pada penderita epilepsi akan disesuaikan khususnya oleh etiologi dari psikotik apakah psikotik itu iktal. Psikosis inter iktal Psikosis inter-iktal merupakan keadaan psikosis yang persisten. tidak berhubungan dengan kejadian masa iktal dan tidak dengan penurunan kesadaran. Obat antipsikotik atipikal secara potensial sedikit sekali mengurangi ambang seizure dan kurang menyebabkan efek ekstrapiramidaL Dosis yang lebih rendah dibanding yang digunakan pada skizofrenia primer kelihatannya efektif. Psikosis post iktal lebih umum daripada psikosis iktal dan biasanya tidak memerlukan penggunaan obat antipsikotik jangka panjang.3 Terapi psikosis interiktal perlu dipertimbangkan penggunaan neuroleptik jangka panjang. Gejala yang biasanya muncul adalah waham. post iktal. Psikosis post iktal dapat diobati dengan memperbaiki kontrol seizure. Penggunaan neuroleptik jangka pendek atau benzodiazepine mungkin diperlukan untuk psikosis post iktal. Kejadiannya diperkirakan 9% dari semua populasi penderita epilepsi.6. Dukungan psikososial dan edukasi keluarga juga penting.2. V.3.

2. 6 . umur 32 tahun. I. 4. pendidikan S1 . maka pemberian bersamaan dengan obat antiepilepsi seperti asam valproat.10 1. data penggunaan neuroleptik pada penderita epilepsi dengan merekomendasikan sebagai berikut :4. masuk RSKD Dadi diantar oleh Tn A ( ayah kandung) pada tanggal 15 Februari 2011. haloperidol mungkin merupakan drug of choice untuk penderita epilepsi.7 Mc Connell menyimpulkan. gambaran Banyak obat neuroleptik dapat EEG berupa perlambatan aktivitas background ketika menggunakan dosis tinggi. Jika terapi jangka panjang diperlukan maka risperidone dan sulphiride mungkin sedikit menurunkan ambang seizure dengan efek ekstrapiramidal yang lebih kecil. molindone. chlorpromazine. 3. I. Tanpa memperhatikan pilihan neuroleptik. suku Makassar. dan thioridazine adalah alternatif lain yang memiliki efek sedikit menurunkan ambang seizure.9. mungkin lebih rendah menimbulkan risiko seizure. agama Islam. bertempat tinggal di Bangkala Kecamatan Kelara Kabupaten Jeneponto. Reaksi munculnya seizure selalu dipertimbangkan ketika memulai pengobatan neuroleptik. IDENTITAS PASIEN Tn.6. dimulai dengan dosis awal dan ditambahkan secara perlahan dengan memonitor derajat keparahan dan frekuensi dari seizure. fluphenazine. Di antara neuroleptik yang lama. Trifluoperazine. namun tidak ada alasan tidak memberikan terapi penderita yang memerlukan menyebabkan pengobatan perubahan antipsikotik.Ketika memilih obat antipsikotik yang spesifik. Clozapine. dan loxapine dihindari pada penderita epilepsi karena secara jelas meningkatkan potensi epilepsi. harus dipertimbangkan risiko penurunan ambang seizure dan interaksi obat secara potensial. Jika clozapine diperlukan.

Pasien merasa dibicarakan oleh orang lain apabila melihat tetangga-tetangganya dan orang yang berkumpul. autoanamnesis dan alloanamnesis dari Tn A (umur 62 tahun. Pasien mengamuk dan marah-marah jika menonton berita di TV dan mengatakan orang-orang koruptor semua didalam. kejang sering terjadi pada malam hari. juga pasien mendengar suara neneknya yang sudah meninggal tapi tidak tiap hari. Riwayat Penyakit Dahulu Tidak terdapat riwayat penyakit fisik. mendengar suara ting. trauma kapitis. pendidikan SMA (tamat). penyakit infeksi. Tidak ada riwayat minum alkohol dan penyalahgunaan obat-obatan.ayah kandung pasien) dan Ny. pendidikan PGSD. pekerjaan wiraswasta . Lamanya kejang  5 menit berupa kejang seluruh tubuh disertai mulut berbusa dan bola mata naik keatas. A. Nafsu makan menurun satu kali sehari dan juga sulit tidur pada malam hari. C. semakin memberat 2 bulan ini. ibu kandung pasien) . merokok (+). Kejang muncul secara tiba-tiba 2 kali dalam satu minggu. Jika mengamuk akan mengancam dan memukul orang. Terdapat riwayat kejang sejak tahun 2006. RIWAYAT PSIKIATRI Diperoleh dari catatan medik. Pasien pernah berobat ke dokter tapi tidak ada perubahan akhirnya pasien memilih berobat ke dukun. PNS sebagai guru SD. ting.II. Kadang-kadang pasien bicara dan tertawa sendiri. Keluhan Utama Mengamuk B. 7 . M ( umur 60 tahun. Riwayat Gangguan Sekarang Pasien mengamuk dialami sejak 5 bulan yang lalu. Menurut ibunya pasien sering kejang sejak tahun 2006 (selesai Wisuda S1) makanya belum bekerja karena penyakitnya itu. ting.

lahir normal cukup bulan dan ditolong oleh bidan. pasien mulai masuk SDN Inpres Bukit Jaya Jeneponto pada usia 6 tahun. Riwayat Masa Kanak-kanak Awal ( usia 1-3 tahun) Pasien mendapat ASI hingga berumur 2 tahun. tanggal 17 September 1978. demam tinggi. Prestasi di sekolah pasien termasuk anak yang cerdas. 5. 3. Pasien termasuk anak yang mudah bergaul. 2. Riwayat Masa Dewasa a. 4. Riwayat Pekerjaan Belum bekerja b. pertumbuhan dan perkembangan sama dengan anak sebayanya. Setelah tamat SMAN pasien melanjutkan pendidikan di Universitas Sawerigading di fakultas hukum ( tamat ). Saat dalam kandungan ibu pasien dalam keadaan sehat. kejang tidak ada. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun ) Pasien bersekolah tamat SDN Inpres Bukit Jaya Jeneponto lalu melanjutkan ke SMPN Kelara Kecamatan Kelara di Jeneponto setelah lulus dari SMPN melanjutkan ke SMAN 6 Makassar. Riwayat pernikahan Pasien Belum menikah 8 . Riwayat Masa Kanak Pertumbuhan (Usia 4-11 tahun) Selama masa ini pertumbuhan dan perkembangan normal. Riwayat Kehidupan Pribadi 1. Selama bersekolah di Makassar pasien tinggal sendiri di rumah kost.D. sabar dan ramah. Tidak ada riwayat ibu pasien pernah mengkonsumsi alkohol. rokok atau obat-obat terlarang. Riwayat Prenatal dan Perinatal Pasien lahir di Jeneponto . riwayat trauma. Prestasi disekolah pasien termasuk anak yang cerdas.

9 . SGOT : 35.000/mm3.7oC P : 20 x/mnt : dalam batas normal. Creatinin 0. III. : akral hangat. Ayah pasien bekerja sebagai wiraswasta. PEMERIKSAAN FISIK DAN NEUROLOGI A. Riwayat Keluarga Pasien merupakan anak ketiga dari 4 bersaudara ( ♀. edema -/- B.7 gr%. 7.600/mm3. trombosit 248.♀.♂ ). ibu serta adik laki-laki pasien. SGPT : 41. Status Internus Status vital : TD N cor/pulmo Abdomen Ekstremitas : 120/80mmHg. : dalam batas normal. : 96x/menit S : 36.♂. Riwayat Keluarga Saat Ini Pasien tinggal di Kecamatan Kelara Kabupaten Jeneponto bersama ayah. GDS 100 mg/dl. Pasien memiliki hubungan yang baik dengan orang tua dan saudarasaudaranya.6. ibu pasien bekerja sebagai pegawai negeri sipil sebagai guru SD. lekosit : 8. Status Neurologi GCS FKL RM : E4M6V5 : sulit dinilai : negatif Nn Cranialis : normal Motorik Sensibilitas SSO : normal : normal : dalam batas normal Laboratorium Hb 13. Ureum 19 mg/dl.82 mg/dl.

18 Februari 2011 Kesan : normal EEG tgl.Radiologis CT Scan kepala tanpa kontras tgl. 16 Februari 2011 Kesan : lesi struktural di frontal yang berciri epileptogenik 10 .

Empati : tidak dapat dirabarasakan C. Keserasian : tidak serasi 3. DIAGNOSIS NEUROLOGI Diagnosis klinis Diagnosis topis Diagnosis etiologis : general tonic clonic seizure : hemisfer serebri (frontal) : epilepsi V. Penampilan: Seorang pria mengenakan baju kaos warna hitam dan celana jeans panjang warna biru tua. Perilaku dan aktifitas psikomotor Saat wawancara pasien duduk dengan tenang 4. perawakan sedang. Taraf Pendidikan : Pengetahuan umum dan kecerdasan pasien sesuai dengan pendidikannya. 11 . Fungsi Intelektual (Kognitif) 1. cara jalan biasa. cukup spontan. wajah sesuai umur. 2. Kesadaran: Berubah 3. kurang rapi. Sikap terhadap pemeriksa : Cukup kooperatif B. Pembicaraan: Pasien menjawab sesuai pertanyaan. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL A. Afek : inappropriate 2. rambut ikal. 5. kesan perawatan diri cukup terawat. Keadaan Afektif 1. Deskripsi Umum 1. intonasi biasa tidak terdapat hendaya berbahasa.IV.

Taraf Dapat Dipercaya Dapat dipercaya 12 .2. Konsentrasi dan Perhatian : kurang 5. Bakat kreatif : terganggu : tidak ada 7. 2.ting. Jangka segera b. Jangka panjang : baik : baik : baik 4. Isi pikiran : Preokupasi : selalu memikirkan penyakitnya Gangguan pikiran : ideas of refrecurrent E. Waktu : baik b. Daya Nilai dan Tilikan 1. koheren. Orientasi : a. ting dan suara neneknya yang sudah meninggal Proses Berpikir 1. Pikiran Abstrak 6. kontuinitas relevan. Gangguan Persepsi Terdapat gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik suara yang berbunyi ting. Jangka pendek c. Arus pikiran Produktivitas cukup. Tempat : baik c. Kemampuan menolong diri sendiri : kurang D. Tilikan : Pasien tahu dirinya sakit F. Uji Daya Nilai : Terganggu : Terganggu 3. Penilaian Realitas : Terganggu 4. Daya ingat : a. Orang : baik 3. Norma sosial 2.

Hasil pemeriksaan EEG menunjukkan epileptogenik. Bila nonton TV pada acara berita pasien sering marah-marah dan mengatakan orang-orang koruptor semua didalam. tidak dapat lagi mengurus dirinya sendiri dan bekerja seperti biasanya dimana hal ini menimbulkan hendaya dalam bidang sosial. Pada pemeriksaan status mental. VII. didapatkan hendaya berat dalam menilai realita berupa halusinasi auditorit dan wahan ideas of refrecurrent sehingga pasien dikatakan mengalami gangguan jiwa psikotik. Pada pemeriksaan fisis dan neurologi. EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan gejala klinis yang bermakna berupa yakni sering mengamuk. maka 13 . sering tertawa dan bicara sendiri. Hasil pemeriksaan EEG menunjukkan lesi struktural di frontal yang berciri epileptogenik. serta daya nilai terganggu. Kejang muncul secara tibatiba 2 kali dalam satu minggu. bicara dan tertawa sendiri. marah-marah. masuk rumah sakit dengan keluhan mengamuk. Gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik serta memiliki gangguan isi pikir yang selalu merasa curiga. Hasil CT Scan kepala tidak tampak kelainan. tidak ditemukan kelainan yang bermakna. Sejak tahun 2006 pasien sering kejang. Pada kasus ini penderita mengalami gangguan mental dan perilaku yang berkaitan dengan kerusakan dan disfungsi otak. Pasien sulit tidur. pekerjaan dan penggunaan waktu senggang sehingga dapat digolongkan pasien mengalami gangguan jiwa. bila mengamuk akan memukul orang disekitarnya. Pasien juga merasa sering dibicarakan oleh orang lain. Keluhan mengamuk ini dialami sejak 5 bulan yang lalu. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA Seorang pria umur 32 tahun. Pemeriksaan status mental menunjukkan keadaan afektif inapproriate dan tidak ada keserasian.VI. Lamanya kejang  5 menit berupa kejang diseluruh tubuh dan disertai mulut berbusa dan bola mata naik keatas.

Pasien mengalami gejala berat dan disabilitas berat VIII. Sosiologik Ditemukan adanya hendaya dalam bidang sosial. maka pasien memerlukan psikoterapi. tetapi karena terdapat ketidakseimbangan psikofarmakoterapi. Psikologik Ditemukan adanya hendaya berat dalam menilai realita berupa halusinasi auditorik. dan penggunaan waktu senggang. dan waham deas of refrecurrent sehingga menimbulkan gejala psikis.8). PROGNOSIS Prognosis pasien ini adalah dubia IX. pekerjaan. Aksis II Belum cukup data untuk menegakkan suatu ciri kepribadian Aksis III Epilepsi Aksis IV Stressor psikososial tidak ada Aksis V GAF SCALE 50 – 41.berdasarkan PPDGJ III pasien ini didiagnosa dengan Gangguan Mental Lain YDT Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak dan Penyakit Fisik (F06. DAFTAR MASALAH Organobiologik Tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang bermakna. sehingga pasien memerlukan sosioterapi. neurotransmitter maka pasien memerlukan 14 .

DISKUSI Pasien ini didiagnosis sebagai psikosis epilepsi berdasarkan riwayat epilepsi yang dialami sejak tahun 2006 gangguan psikosis yang dialami sejak 5 bulan yang lalu. TATALAKSANA A. efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan. Terhadap pasien: Konseling: Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien sehingga dapat membantu pasien dalam memahami penyakitnya dan cara menghadapinya. Dari anamnesis didapatkan 15 .5 mg 3x1 Fenobarbital 100 mg 2x1 B1B6 2x1 B. Bimbingan: Membimbing pasien mengenali dan menghadapi penyakitnya. Psikoterapi 1. Memberi pengertian bagaimana pasien harus bersikap terhadap waham dan halusinasinya. XI. Hasil pemeriksaan EEG lesi struktural difrontal yang berciri epileptogenik.X. manfaat pengobatan. Terhadap Keluarga Sosioterapi Memberikan penjelasan kepada pasien dan orang-orang disekitarnya sehingga keluarga pasien dapat menerima dan memberikan dukungan moral menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membantu proses penyembuhan serta manfaat pengobatan secara teratur. Psikofarmaka Haloperidol 1. memotivasi pasien agar mau minum obat secara teratur. 2. membimbing pasien mengenali dan menghadapi stresornya. cara pengobatan. menunjang diagnosis suatu epilepsi.

daya nilai sosial terganggu. dan melakukan kegiatan rutin).riwayat pasien mengamuk dan pemeriksaan status mental menunjukkan keadaan yang inapproriate dan tidak ada keserasian. 3. gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik serta memiliki gangguan isi pikir yang selalu merasa curiga menggambarkan suatu gangguan psikotik. dan daya tilikan diri terganggu). Ada beberapa penjelasan tentang hubungan yang mungkin antara epilepsi dan psikotik.. disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak. Epilepsi didefinisikan sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan (seizure) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermiten yang disebabkan oleh lepas muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron secara paroksismal. serta daya nilai yang terganggu. secara luas dikiasifikasikan sebagai berikut : 1. fungsi-fungsi mental (bermanifestasi dalam gejala positif dan gejala negatif). Psikosis adalah hendaya berat dalam : kemampuan daya nilai realitas (yang bermanifestasi dalam gejala : kesadaran diri yang terganggu. Faktor lain yang mungkin. Epilepsi dan psikosis adalah bagian dan neuropatologi umum yang dapat terlokalisasi atau menyebar luas pada otak. fungsi kehidupan seharihari (bermanifestasi dalam gejala tidak dapat bekerja. bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut (unprovoked). Bangkitan epilepsi (epileptic seizure) adalah manifestasi klinik dari bangkitan serupa (stereotipik). secara langsung atau melalui perkembangan abnormal neurofisiologik atau neurokimia. berlangsung secara mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran. Psikosis disebabkan oleh gangguan elektrik berulang. 2. didasari oleh berbagai faktor etiologi.2 Mekanisme neurologik yang menyebabkan comorbidity psikiatrik pada penderita epilepsi adalah kompleks dan multifalctorial. neurotoksisitas dari 16 . menjalin hubungan sosial. seperti masalah psikologik.

17 .3 Tata laksana pada pasien ini dengan pemberian obat antipsikotik haloperidol yang mungkin merupakan drug of choice pada penderita psikosis epilepsi.obat antiepilepsi dan defisiensi drug induced seperti asam folat. dan pemberian obat antiepilepsi untuk mengendalikan kejang yang timbul. diharapkan kejang dapat diatasi. Dengan pengobatan yang teratur dan adekuat. dengan demikian gangguan psikotik yang ada bisa ikut teratasi. Prognosis dari pasien ini adalah baik.

. rumah sakit Dadi D : Siapa yang antar kesini? P : Keluargaku dok. iksan dokter D : Boleh kita berbincang-bincang sebentar? P : Boleh D : Berapa umur bapak ? P : 32 tahun D : Dimana tempat tinggalnya? P : Di Jeneponto D : Bapak tau dimana sekarang? P : (Terdiam sejenak) dirumah sakit dok. D : Bagaimana perasaan bapak waktu akan kejang ? P : Kadang tidak enak saya rasa. D : Apa yang bapak rasakan selain itu? P : Tidak ada lagi dokter D : Apa bapak mendengar suara-suara yang tidak ada orangnya ? P : Ada dokter D : Suara apa itu ? 18 . D : Assalamu alaikum. saya dr erna yang bertugas hari ini. perawakan sedang. ayah dan ibu D : Mungkin bapak bisa cerita apa yang terjadi sampai dibawa kesini? P : saya kurang tau dokter D : Mungkin ada yang kurang nyaman bapak rasa ? P : Mungkin karena saya sering kejang sampai saya dibawa kesini. wajah sesuai umur. kadang langsung tiba-tiba muncul kejangnya. lamami. nama bapak siapa? P : Waalaikumsalam .Autoanamnesis hari Selasa tanggal 17 Februari 2011 Seorang pria mengenakan baju kaos warna hitam dan celana jeans panjang warna biru tua. kesan perawatan diri kurang terawat. rambut ikal. D : Kejang maksudnya ? P : Kejang-kejang sampai pingsan. kurang rapi.

ting. silahkan istirahat dulu P : Pasien hanya tersenyum. 19 . dan suara nenek saya yang sudah meninggal D : Apa terus menerus kita rasakan ? P : Tidak. kadang juga malam D : Sudah berapa lama kita dengar itu suara? P : Sudah lama dokter D : Apa ada lagi yang mengganggu yang menggangu perasaan anda ? P : saya curiga sering mereka ceritakan saya D : memangnya bapak dengar apa yang mereka ceritakan ? P : saya tidak dengar dok. mereka koruptor semua didalam D : Terima kasih atas waktunya bapak. ting. kadang muncul pagi. tapi saya pikir mereka sedang membicarakan saya dengan penyakit yang saya derita D : bapak suka nonton TV? P : suka dokter D : biasanya acara apa itu ? P : acara berita dokter.P : Suara yang berbunyi ting.

Behavioral Science Clinical psychiatry. 1998.htm. Weisbrot DM. Epilepsy in The Word Health Report : Mental Health : New Understanding. Currents Concepts Current Medical Literature. Cockrell DC. Primary Care.com/neuro/topic 604. Ettinger AB. 7th ed William & Wilkin. Taylor MP. London : Bran inc . Robertson MM : Epilepsy and Mood Epilepsy.DAFTAR PUSTAKA 1. Guernien R. 2008. Existing Disorders.emedicine. Pharmacological treatment of psychosis in epilepsy. Behavior and Cogniture Function. Amygdala Pathology in psychosis of Epilepsy. Walz R. 9. 145-151. Emedicine. Kaplan HI. 2002 3. London. 539-552. Section 3. Hallk JEC. 4. Chapter 20 : 345-346. WHR. 1998. 1996 : 32-43.85k 8. et all. WHO. Blackwell Science Ltd. 2001 20 . Benyamin JS. Kelompok Studi Epilepsi Perdossi. Brazil : Hospital da clinic CIREP : 2004. 1996. Ed : Trimble MR Reynold E. Grebb JA : Sypnosis of Psychiatry. 568-571. dalam : Pedoman Tatalaksana Epilepsi. Butterwort Heinemann. Available from www. Psychiatric Disorders Associated with Epilepsy. Novack WJ. New Hope. 10. Beumer D. 20-21 2. 349-353 5. Psychiatric Comorbidity in Epilepsy Managing Epilepsy and Co. Lemieux L. Managing Epilepsy. 6. Shorvon SD : Epilepsi. Grupta Ak. 7. Elst LTV.

KJ PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011 21 . Lisal. Sp.Stase Neuropsikiatri 15 Maret 2011 ASPEK PSIKIATRI PADA PENDERITA EPILEPSI Oleh: Erna Heryani Pembimbing: Dr. Sonny T.

Sp. Dr. Makassar Pembimbing.KJ 22 .LEMBAR PENGESAHAN Telah didiskusikan dan disetujui untuk dipresentasikan pada : Hari Tanggal Tempat : Selasa : 15 Maret 2011 : Ruang Pertemuan RS Universitas Hasanuddin. Sonny T. Lisal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful