P. 1
Perbankan 10 - Tindak Pidana Perbankan

Perbankan 10 - Tindak Pidana Perbankan

|Views: 139|Likes:
Published by izhapellu

More info:

Published by: izhapellu on Apr 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2013

pdf

text

original

TINDAK PIDANA PERBANKAN

TINDAK PIDANA PERBANKAN SEBAGAI BAGIAN DARI TINDAK PIDANA DI BIDANG EKONOMI WHITE COLLAR CRIME  TINDAK PIDANA YANG MEMPUNYAI MOTIF EKONOMI DAN LAZIMNYA DILAKUKAN OLEH ORANG YANG MEMPUNYAI KEMAMPUAN INTELEKTUAL DAN MEMPUNYAI POSISI PENTING DALAM MASY. ATAU PEKERJAANNYA

TINDAK PIDANA PERBANKAN DALAM UU PERBANKAN 7/1992 SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UU 10/1998

2 JENIS:  KEJAHATAN  PELANGGARAN

APA PERBEDAANNYA? KEJAHATAN AKAN DIKENAKAN ANCAMAN HUKUMAN YANG LEBIH BERAT DIBANDINGKAN DENGAN PELANGGARAN .

DAN PASAL 51 A ADALAH KEJAHATAN” PASAL 51 AYAT (2): “TINDAK PIDANA SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL PASAL 48 AYAT (2) ADALAH PELANGGARAN” . 48 (1). PASAL 50. 49. 47.TINDAK PIDANA PERBANKAN DALAM UU PERBANKAN 7/1992 SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UU 10/1998 PASAL 51 AYAT (1): “TINDAK PIDANA SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 46.

MENGIZINKAN. UANG TAMBAHAN. MEMALSUKAN. MENGUBAH. MENYEMBUNYIKAN DLL)   PASAL 49 (2): MEMINTA ATAU MENERIMA. KOMISI. MENGHILANGKAN. PASAL 50: PIHAK TERAFILIASI . MENGABURKAN.KEJAHATAN PERBANKAN    PASAL 46 (1): PENGHIMPUNAN DANA DARI MASYARAKAT DALAM BENTUK SIMPANAN TANPA IJIN USAHA DARI BI PASAL 47: TERKAIT DENGAN RAHASIA BANK PASAL 48: INFORMASI / LAPORAN KEUANGAN BANK (MEMBUAT. PELAYANAN DLL. MENYETUJUI IMBALAN.

.PELANGGARAN PERBANKAN PASAL 48 (2): ANGGOTA DEWAN KOMISARIS. PEGAWAI BANK YANG LALAI MEMBERIKAN KETERANGAN YANG WAJIB DIPENUHI SEBAGAIMANA DIMAKSUD….” . DIREKSI.

TINDAK PIDANA PERBANKAN DI LUAR UU PERBANKAN    KUHPIDANA BUKU II TENTANG KEJAHATAN DAN BUKU III TENTANG PELANGGARAN UU 31/1999 JO. UU 25/2003 TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG . UU 20/2001 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI UU 15/2002 JO.

KEJAHATAN TERHADAP MATA UANG .

ADALAH OEANG. BUKTI EKSISTENSI NEGERI DI JAMANNYA.PENDAHULUAN “OEANG” BUKAN HANYA UANG ORI. OEANG BUKAN HARTA SEMATA OEANG BUKAN HANYA UANG OEANG ADALAH KOMITMEN PERJUANGAN OEANG ADALAH BUKTI ADA PERJUANGAN OEANG ADALAH HARGA DIRI BANGSA. .

– Sebagai aset likuid (liquid asset). . dan – faktor pengendali kegiatan ekonomi (controller of the economy).Fungsi Uang  AWAL: alat tukar  PERKEMBANGAN: berfungsi: – ukuran umum dalam menilai sesuatu (common measure of value). – komponen dalam rangka pembentukan harga pasar (framework of the market allocative system). – faktor penyebab dalam perekonomian (a causative factor in the economy).

mencetak uang bukan sekedar melakukan kegiatan usaha di bidang jasa percetakan belaka. Tetapi. . Uang suatu negara bukanlah sekedar alat pembayar.Fungsi Uang (Presiden SBY)   Bagi bangsa kita. kegiatan itu juga merupakan bagian dari upaya Negara dalam menjaga dan mempertahankan ketahanan nasionalnya. tetapi juga simbol dari suatu negara yang merdeka dan berdaulat.

melainkan pencetakan dan penerbitan uang tersebut sangat terkait dengan kebijakan moneter suatu negara.Dasar Pemikiran Pengaturan Mata Uang oleh Bank sentral   Best practice di berbagai negara: fungsi dan tugas di bidang pengelolaan dan pengedaran uang dilakukan oleh bank sentral. . Pencetakan dan penerbitan uang oleh suatu negara tidak dapat semata-mata diterbitkan begitu saja.

TUJUAN DAN TUGAS BI MENETAPKAN & MELAKSANAKAN KEBIJAKAN MONETER MENCAPAI & MEMELIHARA KESTABILAN NILAI RUPIAH MENGATUR DAN MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN MENGATUR & MENGAWASI BANK Ps 7 dan 8 .

TUNAI : MENGEDARKAN.TUGAS MENGATUR & MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN MENGATUR & MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN TUNAI DAN NON TUNAI . HARGA. MENCABUT. CIRI UANG YANG AKAN DIKELUARKAN NON TUNAI : MENGATUR DAN MENYELENGGARAKAN KLIRING SERTA PENYELESAIAN AKHIR TRANSAKSI PEMBAYARAN ANTAR BANK . MENETAPKAN MACAM. MENARIK DAN MEMUSNAHKAN UANG.

KEWENANGAN MENGELUARKAN DAN MENGEDARKAN UANG   DI INDONESIA. MENARIK. . DAN MEMUSNAHKAN UANG DIMAKSUD DARI PEREDARAN ADALAH BANK INDONESIA. LEMBAGA YANG MEMILIKI KEWENANGAN UNTUK MENGELUARKAN DAN MENGEDARKAN UANG RUPIAH SERTA MENCABUT. LEMBAGA YANG MELAKUKAN PENCETAKAN UANG RUPIAH ADALAH PERUM PERURI.

. yang lebih dikenal sebagai UU Mata Uang 1951.INDISCHE MUNTWET 1912   Di masa pemerintahan Hindia Belanda. pernah berlaku Indische Muntwet 1912 sebagai Undang-Undang yang mengatur tentang mata uang. 20 Tahun 1951 tentang Penghentian Berlakunya “Indische Muntwet 1912” dan Penetapan Peraturan Baru tentang Mata Uang. Tetap diberlakukan pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia hingga dinyatakan dicabut pada masa berlakunya UUDS 1950. yaitu dengan UU Darurat No.

13 TAHUN 1968 TENTANG BANK SENTRAL   Dengan UU ini maka UU tentang Mata Uang tahun 1951 dengan tambahan dan perubahannya dinyatakan tidak berlaku.UU NO. maka sejak tahun 1968 sampai dengan saat ini Indonesia tidak mempunyai UU yang khusus mengatur tentang mata uang. . Sejak dicabutnya “UU Mata Uang eks UUDS 1950” itu.

1915 No.732) yang kemudian diberlakukan atas dasar UU No.1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Untuk Seluruh Wilayah Republik Indonesia.DELIK KEJAHATAN TERHADAP MATA UANG  Wetboek van Strafrecht (Stbl. .

PASAL 23 B UUD 1945 (PERUBAHAN KEEMPAT)  Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-undang .

1915 No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No.Hukum Positif saat ini  Perangkat hukum yang berlaku pada dewasa ini yang mengatur tentang aspek-aspek mata uang: – UU No.732). 3 Tahun 2004 (UUBI) dan – Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang pada dasarnya merupakan peraturan yang dibuat pada masa pemerintah kolonial Belanda 100 tahun yang lalu (Stbl. .

– Pasal 19 s.d 23. . yaitu: – Pasal 2.UU BI NO 23 TAHUN 1989 DAN PERUBAHANNYA UU 3 TAHUN 2004  Pengaturan dalam UUBI. serta – Pasal 65 dan 66.

Pasal 2 – Mengatur mengenai:  satuan mata uang RI adalah Rupiah.  pengecualian penggunaan uang rupiah.  uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah (legal tender). .  kewajiban untuk menggunakan dan menerima uang rupiah bagi setiap orang atau badan yang berada di wilayah NKRI.

Pasal 19. s.d. 23

Mengatur mengenai kewenangan BI dalam:  menetapkan macam, harga, ciri, bahan, dan tanggal mulai berlakunya;  mengeluarkan, mengedarkan, mencabut, menarik, dan memusnahkan uang;  tidak memberikan penggantian atas uang yang hilang/musnah;  memberikan penggantian dengan nilai yang sama terhadap uang yang dicabut dari peredaran dalam batas waktu tertentu.

Pasal 65 dan 66 UUBI merumuskan bentuk pelanggaran serta ancaman pidana dan sanksi administratif, yaitu: – pelanggaran dengan sengaja terhadap kewajiban penggunaan uang rupiah diancam dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 3 (tiga) bulan, serta denda paling sedikit Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp 6.000.000,00 (enam juta rupiah); dan

UU BI 19. s.d. 23 (Lanjutan)

pelanggaran karena sengaja menolak uang rupiah diancam dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun, serta denda paling sedikit Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. mengatur delik kejahatan terhadap mata uang dan ancaman pidana.d 252.KUHP Pasal 244  KUHP dalam Bab X tentang pemalsuan mata uang dan uang kertas pada Pasal-Pasal 244 s. . sebagai berikut: – Pasal 244: Barangsiapa meniru atau memalsu mata uang atau uang kertas dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh edarkan.

dan menyuruh mengedarkan uang palsu.KUHP Pasal 245 – Pasal 245: Sengaja mengedarkan. diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. . menyimpan. memasukkan.

. diancam dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun. diancam karena merusak uang.KUHP Pasal 246 – Pasal 246: Mengurangi nilai mata uang dengan maksud untuk mengeluarkan atau menyuruh edarkan.

. diancam dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun.KUHP Pasal 247 – Pasal 247: Sengaja mengedarkan mata uang yang dikurangi nilainya atau menyimpan atau memasukkan dengan maksud mengedarkan atau menyuruh edarkan.

KUHP Pasal 249 – Pasal 249 (Pasal 248: dihapuskan atas dasar Stbl. 1938 No. 593): Sengaja mengedarkan uang yang dipalsu atau dirusak. dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. . kecuali yang ditentukan dalam Pasal 245 dan 247. diancam.

. diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.KUHP Pasal 250 – Pasal 250: Membuat atau mempunyai persediaan bahan atau benda untuk meniru. memalsu atau mengurangkan nilai mata uang.

sepanjang dipakai untuk atau menjadi obyek dalam melakukan kejahatan. uang kertas negara atau bank yang palsu atau dipalsu. maka mata uang palsu.KUHP Pasal 250 bis – Pasal 250 bis: Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan yang diterangkan dalam bab ini. dipalsu atau dirusak. . memalsu atau mengurangkan nilai mata uang atau uang kertas. dirampas juga apabila barang-barang itu bukan kepunyaan terpidana. bahan-bahan atau benda-benda yang menilik sifatnya digunakan untuk meniru.

KUHP Pasal 251 – Pasal 251: Dengan sengaja tanpa izin Pemerintah. menyimpan atau memasukkan ke Indonesia keping-keping atau lembarlembar perak untuk dianggap sebagai uang. . diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak sepuluh ribu rupiah.

pengampu atau pengampu pengawas atas orang yang bukan anak sendiri. (iv). hak menjadi penasihat atau pengurus menurut hukum. (iii).Pasal 252: Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 244-247 itu. 1 – 4 yaitu: (i). hak menjadi wali. hak memasuki angkatan bersenjata.KUHP Pasal 252 . hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan yang tertentu. . hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan aturan-aturan umum. (ii). dapat dicabut hak-hak tersebut pada Pasal 35 No. wali pengawas.

 Seyogianya dengan terpenuhinya unsur meniru atau memalsu uang. maka delik tersebut telah memenuhi unsur pemalsuan uang. Unsur Delik  Delik yang diatur dalam KUHP yang mencantumkan syarat “dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh edarkan” dapat melemahkan penuntutan dalam hal uang palsu dimaksud belum diedarkan. Sedangkan unsur mengedarkan seyogianya adalah merupakan unsur yang memberatkan.Beberapa kelemahan delik kejahatan terhadap mata uang dalam KUHP 1. .

Tidak fokus pada timbulnya kerugian. sehingga tindakan pemalsuan uang rupiah dapat pula dianggap sebagai kejahatan terhadap simbol negara. .   Dalam kasus pemalsuan uang rupiah. akan tetapi haruslah dilihat pula dari sisi yang lain. seharusnya tidak terfokus pada timbulnya kerugian setelah uang palsu tersebut diedarkan.Beberapa kelemahan delik kejahatan terhadap mata uang dalam KUHP 2. belum diedarkannya uang palsu dimaksud seyogianya tidak dijadikan alasan yang meringankan hukuman karena terdakwa belum menikmati hasil kejahatannya. yaitu bahwa uang rupiah adalah merupakan salah satu simbol kenegaraan. Oleh karena itu.

. maka hukumannya harus lebih berat.Fokus: Pemalsuan Uang   Seharusnya. yang dijadikan fokus adalah dengan telah selesainya perbuatan memalsukan uang rupiah. sehingga apabila pelaku pemalsuan uang juga sekaligus mengedarkan uang palsu tersebut. Perbuatan mengedarkan uang palsu seharusnya adalah delik yang berdiri sendiri (terpisah dari perbuatan memalsukan uang). maka kejahatan tersebut telah selesai dilakukan.

oleh karena itu biasanya pelaku tindak pidana pemalsuan uang tersebut dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian khusus. Pelaku tindak pidana di bidang mata uang pada umumnya dilakukan oleh para residivis.Pelaku Kejahatan Mata Uang    Kejahatan yang sifatnya tidak berdiri sendiri namun merupakan kejahatan yang terorganisir dengan baik. bahkan sangat mungkin merupakan kejahatan yang bersifat transnasional (transnational crime). Pemalsuan terhadap mata uang memerlukan suatu proses yang cukup rumit. . Hal ini kemungkinan karena hukuman yang dijatuhkan bagi para pelaku sangat ringan.

Pentingnya penerapan sanksi yang berat :      Aspek Filosofis Aspek Sosiologis Aspek Ekonomi Aspek Yuridis Aspek Politis .

Aspek Filosofis – Mata uang merupakan salah satu simbol negara dan mata uang mempunyai fungsi yang sangat penting bagi perekonomian suatu negara.  penyimpan nilai. .  satuan hitung.  ukuran pembayaran yang tertunda (menghitung jumlah pembayaran pinjaman). yaitu sebagai:  alat tukar.

.Aspek Sosiologis  Uang suatu negara haruslah dapat diterima oleh masyarakat sehingga ada kepercayaan masyarakat terhadap uang dimaksud.

Apabila masyarakat tersebut mendapat uang palsu dari pembeli. misalnya pedagang kecil (warung/asongan). . tetapi dapat mengancam kelangsungan usahanya karena pedagang kecil/asongan pada umumnya tidak memiliki simpanan uang yang cukup untuk menutupi kerugian dimaksud.Aspek Ekonomi  Pada umumnya korban kejahatan mata uang adalah masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang rendah. hal tesebut tidak hanya menimbulkan kerugian sebesar jumlah uang palsu tersebut.

karena harus meciptakan uang baru yg memiliki security fitures berbeda .Aspek Ekonomi-Security features uang    Bertujuan untuk menghindari pemalsuan uang Diperlukan teknologi tinggi dengan biaya yang tinggi. Merupakan kerugian bagi negara. Memerlukan keahlian dan kecermatan yang tinggi.

FEATURES UANG .

6 tahun 1981 tentang Pengesahan Konvensi Internasional mengenai Pemberantasan uang Palsu beserta Protokol. 1929) yang telah diratifikasi dengan UU No.Aspek Yuridis  Terkait dengan hal ini perlu diperhatikan pula konvensi internasional mengenai pemberantasan uang palsu. yaitu International Convention for the Suppression of Counterfeiting Currency and Protocol (Geneva. .

Aspek Politis   Salah satu simbol kedaulatan suatu negara dan di dalamnya sekaligus terkandung makna menjaga kestabilan ekonomi nasional. ORI pada masa mempertahankan kemerdekaan RI .

Hukuman Terhadap Pelaku  Kejahatan terhadap mata uang perlu diberikan hukuman yang berat (setimpal) dengan mempertimbangkan lamanya jangka waktu beredarnya suatu emisi uang rupiah. . Hukuman bagi pemalsu uang dikaitkan dengan jangka waktu edar suatu emisi uang agar para pemalsu tersebut setelah menjalani hukuman tersebut tidak dapat melakukan pemalsuan lagi terhadap uang rupiah dengan emisi yang sama.

oleh karena itu terhadap para pemalsu uang perlu ditambahkan hukuman lain yaitu berupa penggantian kerugian materil yang diakibatkan oleh kejahatan tersebut. pidana penjara saja tidak cukup untuk menimbulkan efek jera. (biaya yg dikeluarkan oleh negara (Penegak Hukum) untuk mengungkap kasus cukup besar) .Hukuman Tambahan  Selain itu.

sehingga tidak bersifat deterrent untuk mencegah terjadinya pemalsuan uang . Dari berbagai kasus tindak pidana di bidang mata uang. hukuman pidana yang dijatuhkan kepada para pelaku berdasarkan peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku relatif rendah.Ketentuan Pidana   Perlu ancaman pidana yang relatif berat (meliputi pidana penjara dan denda dengan batas minimum dan maksimum).

Legal tender .

Uang kertas berlaku sebagai legal tender dalam jumlah berapa pun pada setiap transaksi pembayaran. Namun demikian. pembatasan jumlah uang logam tidak berlaku bagi setoran nasabah kepada bank. berlaku sebagai legal tender untuk jumlah tertentu untuk setiap pecahan. Sedangkan untuk uang logam. pengertian legal tender untuk uang kertas dibedakan dengan uang logam dari sisi jumlahnya.Legal Tender    Sebagaimana currency act negara lain. .

Australia. penggunaan uang logam sebagai legal tender dibatasi dalam jumlah tertentu antara lain seperti Malaysia.Pertimbangan pembedaan uang kertas dan logam    Memberikan beban (resiko selisih kurang. handling cost) kepada pihak yang menerima pembayaran dalam jumlah besar apabila dilakukan dalam uang logam. Fungsi uang logam lebih ditujukan untuk pengembalian. . Secara best practice di beberapa negara lain. Kanada. Singapura. Thailand. Inggris.

BANK DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP    SANKSI ADMINISTRASI SANKSI PERDATA SANKSI PIDANA .

KREDIT BANK DAN LINGKUNGAN .

LAPANGAN KERJA DLL) MASYARAKAT LUAS (LAPANGAN KERJA. SOLVABILITAS DLL) PEMERINTAH (PERTUMBUHAN EKONOMI.LATAR BELAKANG   KREDIT BERPERAN DALAM PEMBANGUNAN TAHUN 1962 MULAI MUNCUL KESADARAN AKAN DAMPAK YANG TIMBUL AKIBAT PEMBANGUNAN – – – KASUL MINIMATA DI JEPANG SEJAK 1955 DAN BARU DISADARI BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN ISO 14000 ECOLABELING DEBITUR (KEMBANGKAN USAHA) BANK (BUNGA. PENINGKATAN PENGHASILAN DLL)  KREDIT HARUS BERMANFAAT UNTUK: – – – – .

JIKA MENUNTUT GANTI RUGI PROSES LAMA DAN BIAYA BESAR 3. . 2. PASAL 6 UU LINGKUNGAN HIDUP: TIAP ORANG BUKAN SAJA MEMILIKI HAK. 2. APABILA DICEMARI: 1. KEMAMPUAN BAYAR. 4. PROYEK DARI KREDIT YANG MENCEMARI LINGKUNGAN PROYEK DARI KREDIT YANG DICEMARI OLEH LINGKUNGAN JAMINAN KREDIT YANG MENCEMARI LINGKUNGAN JAMINAN KREDIT YANG DICEMARI LINGKUNGAN DAPAT MEMPENGARUHI USAHA.MENGAPA BANK HARUS MENEMPUH KEBIJAKAN KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN? 1. 3. TETAPI JUGA KEWAJIBAN DALAM MENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP BANK PERLU MELINDUNGI DIRI DAN KREDITNYA 1. 4. 3. 2.

HINDARI USAHA/PROYEK KREDIT DARI PENCEMARAN    PENCEMARAN: MASUKNYA / DIMASUKKANNYA MAKHLUK HIDUP. SEHINGGA KUALITAS LINGKUNGAN MENURUN SAMPAI TINGKAT TERTENTU SEHINGGA FUNGSI TIDAK SESUAI PERUNTUKANNYA PERUBAHAN MENURUN : DAMPAK SEHINGGA DIPERLUKAN PANDUAN UNTUK USAHAUSAHA YANG DIPERKIRAKAN MEMILIKI DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN . ZAT. ENERGI ATAU KOMPONEN LAIN KE DALAM LINGKUNGAN HIDUP OLEH KEGIATAN MANUSIA.

PP NOMOR 51 TAHUN 1993 KEGIATAN YANG:  EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM (SDA)  PERUBAHAN BENTUK LAHAN/BENTANG ALAM  USAHA YANG POTENSIAL MENYEBABKAN PEMBOROSAN SDA  MEMPENGARUHI KAWASAN KONSERVASI  KEGIATAN YANG MEMPENGARUHI PERTAHANAN NEGARA  PENERAPAN TEKNOLOGI .1.

PENGUKURAN BESAR KECIL DAMPAK      JUMLAH MANUSIA LUAS AREA LAMA BERLANGSUNG INTENSITAS DAMPAK KOMPONEN LAIN YANG TERKENA .

PASAL 15 UUPLH   RENCANA USAHA/KEGIATAN YANG KEMUNGKINAN BERDAMPAK BESAR WAJIB AMDAL JENIS USAHA YANG WAJIB AMDAL – – – – – – – – PERTAMBANGAN DAN ENERGI KESEHATAN PEKERJAAN UMUM PERTANIAN (TAMBAH LUAS MIN 50 HA) PARPOSTEL INDUSTRI PERHUBUNGAN KEHUTANAN .2.

KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN PROSES ANALISIS:      KASUISTIS AMAN SECARA AKTIF MAUPUN PASIF KEMUNGKINAN PERUBAHAN KERJASAMA (AMDAL) PERTIMBANGAN DAYA SAING DENGAN BANK LAIN   PASAL 18 UUPLH: WAJIB AMDAL UNTUK MEMPEROLEH IJIN MELAKUKAN USAHA DAN KEGIATAN PENJELASAN PASAL 8 UU NOMOR 10 TAHUN 1998 .

KENDALA KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN  INTERN: – – PENGETAHUAN KURANG TENTANG LINGKUNGAN KEBIJAKAN PERKREDITAN BANK YANG TIDAK TEGAS  EKSTERN: – – PERSAINGAN TENAGA PROFESIONAL DI LUAR BANK .

PROSES PERJANJIAN  ADA KLAUSULA-KLAUSULA PERSYARATAN YANG DAPAT DIMASUKKAN SEBAGAI SURAT PERSETUJUAN DENGAN TUJUAN UNTUK KEPENTINGAN BANK DAN LINGKUNGAN YANG AMAN – – – CONDITION PRECEDENT: NASABAH TELAH MENYERAHKAN SELURUH SURAT-SURAT (AMDAL.2. DLL) SEBELUM DROPPING NASABAH MEMASTIKAN LOKASI AMAN DARI PENCEMARAN NEGATIVE COVENANT:    NASABAH TIDAK MENEMPATKAN DI PROPERTINYA ZAT-ZAT BERACUN DAN MENCEMARI LINGKUNGAN NASABAH TIDAK PERNAH ATAU SEDANG MELANGGAR PERATURAN UULH NASABAH TIDAK AKAN MEMBUANG ZAT-ZAT YANG BERBAHAYA .

YAITU DOKUMEN PERUSAHAAN YANG MENYATAKAN KINERJA LINGKUNGAN (PERUBAHAN KONDISI LINGKUNGAN AKIBAT AKTIVITAS PERUSAHAAN. KOMITMEN DAN TANGGUNGJAWAB PERUSAHAAN) . MONITORING (KREDIT DAN USAHA)  MONITORING USAHA – – – – ADA/TIDAK PENINGKATAN OMZET ADMINISTRASI BAIK KEUNTUNGAN RISIKO SESUAI/TIDAK DENGAN TUJUAN KUALITAS KREDIT DOKUMENTASI KREDIT  MONITORING KREDIT – – –   MENEMPATKAN ORANG BANK / PIHAK III DALAM PERUSAHAAN KHUSUS TERKAIT DENGAN LINGKUNGAN LAPORAN DARI HASIL MONITOR: – – LAPORAN KEUANGAN LAPORAN LINGKUNGAN: EPR (ENVIROMENTAL PERFORMANCE REPORT).3.

APAKAH BANK DAPAT TERSANGKUT?      JIKA SYARAT ANALISIS TIDAK LENGKAP (PERIJINAN) JIKA BANK IKUT DALAM MANAJEMEN PERUSAHAAN LAPORAN LINGKUNGAN TIDAK DITINDAKLANJUTI JIKA JAMINAN DIBELI BANK DALAM RANGKA PENYELESAIAN KREDIT JIK BANK IKUT MEMASUKKAN MODAL PENYERTAAN DALAM PERUSAHAAN NASABAH .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->