Filsafat Ilmu

A. Pengertian Filsafat Ilmu Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsepkonsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabangcabang pengetahuan intelektual.) Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis) Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

B. Fungsi Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
    

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. C.Substansi Filsafat Ilmu Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi. 1.Fakta atau kenyataan Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
 

  

Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek

kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah. 2. Kebenaran (truth) Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001) a. Kebenaran koherensi Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental. b.Kebenaran korespondensi Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik c.Kebenaran performatif Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. d.Kebenaran pragmatik Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis. e.Kebenaran proposisi Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisiproposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan

yakni berdasarkan logika. f. atau axioma yang sudah dipastikan benar. Sedangkan untuk membuat penjelasan. yaitu logika induksi dan logika deduksi. (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.200:9) Di lain pihak. memprediksi proses dan produk yang akan datang.Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan. melainkan dilihat dari benar materialnya. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. belum ada skema moral yang jelas. koheren antara fakta dengan skema rasio. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. yang menguasai positivisme. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. yaitu : (1) meta ideologi. 3. Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya. Sampai sekarang analisis regresi. analisis faktor. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden.persyaratan formal suatu proposisi. Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. Secara garis besarnya. 4. postulat. Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional. ataupun reflektif. tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.Logika inferensi Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika. .Kebenaran struktural paradigmatik Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. deduktif. atau memberikan pemaknaan. (Ismaun. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu. D. diantaranya:  Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam. Pendapat lain yaitu dari Euclides. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi. tapi masih bersifat spesifik. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai. dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Belief pada Russel memang memuat moral. logika terbagi ke dalam 2 bagian. karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh. prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif.

tidak mengeksploitasi orang lain. Aliran Progresivisme A. William Kilpatrick. dan Harold Rugg diawal abad 20. dapat menguasai dan mengaturnya. untuk kesejahteraan. lingkungan. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit. B. untuk mengembangkan kepribadian manusia. atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan. kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional. Pendahuluan Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi: Ilmu Hayat. kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia. Tokoh-tokoh Progresivisme Filsafat pendidikan Progresivisme dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910) Gambar 1: William JamesSeorang psychologist dan seorang filosuf Amerika yang sangat terkenal. atau suatu keterangan akan dikatakan benar. Dalam pendapat lain. karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup. melainkan sebagai kepanjangan ide manusia.manusiawi. Antropologi yaitu bahwa manusia mempunyai pengalaman. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends. karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata. George Count. dan logis. benar. produk domain kognitif dan produk alasan praktis. harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. aktivitas. bahwa manusia untuk mengetahui kehidupan semua masalah. Dinamakan eksperimentalisme.  Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. Paham . hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. dengan demikian dapat mencari hal baru. Bila etik dimasukkan. yakni kebudayaan. Progressivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian. 1. pencipta budaya. pragmatisme berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar. Progresivisme dinamakan instrumentalisme. maka perlu ditambah koheren dengan moral. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human. dan pengalaman-pengalamannya. sifat-sifat alam. efisien dan produktif. belajar "naturalistik".

salah seorang psikolog eksperimental Amerika. berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit. tapi meskipun demikian. antropologi.P. baru peminatan. psikolog.S. Pensylvania tahun 1879-1881. 2. H. Dewey menulis buku The School and Society. pendidik dan kritikus sosial Amerika. John Dewey (1859 . Dewey juga menjadi tutor pribadi di bidang filsafat. namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. Sebagian besar kehidupan Dewey dihabiskan dalam dunia pendidikan. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed".dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika. Bersama gurunya.1952) Gambar 2: John DeweyJohn Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Gambar 3: Charles S. Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional. Dewey masuk kuliah di University of Vermont dengan spesifikasi bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Maka muncullah "Child Centered Curiculum". ia mengajar sastra klasik. PierceJohn Dewey merupakan filosof. sains. Dewey melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor dari John Hopkins University tahun 1884 dengan disertasi tentang filsafat Kant. Dewey kemudian mengajar di University of Michigan (1884-1894). ikut serta dalam aktifitas organisasi sosial dan membantu mendirikan sekolah baru bagi Social Reseach tahun 1919 di New York. hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal. yang memformulasikan metode dan kurikulum sekolah yang membahas tentang pertumbuhan anak. hukum. harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Adapun ide filsafatnya yang utama.A. seperti juga aspek dari eksistensi organik. dan aljabar di sebuah sekolah menengah atas di Oil City. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis. anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik. Selanjutnya. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas. Torrey. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian. Dewey banyak menulis masalah-masalah sosial dan mengkritik konfrontasi demokrasi Amerika. Selain itu. menjadi kepala jurusan filsafat. Salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut. teori politik dan ilmu jiwa. Pierce dan C. dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku. Aplikasi ide Dewey. dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu. Pada tahun 1899. Setelah tamat. psikologi dan pendidikan di University of Chicago tahun 1894. Dan reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Prugressivisme Amerika. bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran. Dewey juga belajar logika kepada Charles S. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil. Pada tahun 1875. Vermont. akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis. Lembaga-lembaga pendidikan . dosen serta penceramah dibidang filsafat. baik teori maupun praktek. dan "Child Centered School". Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Hall. tepatnya tanggal 20 Oktober 1859. Ia dilahirkan di Burlington. juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme.

4. Dewey akhirnya meninggal dunia tanggal 1 Juni 1952 di New York dengan meninggalkan tidak kurang dari 700 artikel dan 42 buku dalam bidang filsafat. pendidikan. Pertama. maka berarti sama dengan. Sehingga progresivisme dianggap sebagai The Liberal Road of Cultlire (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan. Namun demikian. Filsafat progressivisme sama dengan pragmatisme.1933) Gambar 4: Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Georges Santayana Georges digolongkan pada penganut pragmatisme ini. politik serta ilmu jiwa. Tahun 1894 Dewey memperoleh gelar Professor of Philosophy dari Chicago University. yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. sebagaimana dikembangkan oleh lmanuel Kant. bolehlah dianggap benar. satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. 3. menolak absolutisme dan otoriterisme dalam segala bentuknya. Gagasan filosofis Dewey yang terutama adalah problem pendidikan yang kongkrit.yang disinggahi Dewey adalah University of Michigan. Art and Experience. Experience and Nature (1925). filsafat progressivisme atau pragmatisme ini merupakan perwujudan dan ide asal wataknya. asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja. salah seorang penyumbang pemikir pragmatisme-progresivisme yang meletakkan dasar dengan penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi. antropologi. karena amat banyak pengaruh yang bertentangan dengan apa yang dialaminya. The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922). Tapi amat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka. Dengan demikian filsafat progresivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi akan nilai demokratis. dan pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya. Oleh karena itu filsafat progresivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan. hukum. Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat pendidikan progresif di Amerika. jika pengertian itu berguna. Hans Vaihinger (1852 . . Dewey juga memiliki sumbangan di bidang ekonomi. Dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah. Brubaeher. mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1885 1952). seni. Diantara karya-karya Dewey yang dianggap penting adalah Freedom and Cultural. dan yang paling fenomenal Democracy and Education (1916). Oleh karena itu apabila orang menyebut pragmatisme. untuk menguasai dunia. Tempat Asal Aliran Progresivisme Dikembangkan Progressivisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. politik dan pembaharuan sosial. toleran dan terbuka (open minded). baik yang bersifat teoritis maupun praktis. John S. sains. University of Colombia dan University of Chicago. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. Gambar 5: Georges Santayana C. Artinya filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ideide dasar filsafat pragmatisme di mana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk terus survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan. Didalam banyak hal progressivisme identik dengan pragmatisme.

Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20. Maksudnya adalah manusia sejak lahir telah membawa bakat dan kemampuan (predisposisi) atau potensi (kemampuan) dasar terutama daya akalnya sehingga dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya. melainkan selalu berkembang dan berubah. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku.peneliti. baik itu tantangan. Nampak bahwa aliran filsafat progresivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku (subyek) di dalam hidupnya. kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir (man's natural powers). berkompetitif. akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. Sebab. hambatan. . Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku. pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. curious (ingin mengetahui dan menyelidiki). tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. insiatif. Namun demikian filsafat progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia. adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya. Mereka harus memiliki sikap terbuka dan berkemauan baik sambil mendengarkan kritik dan ide-ide lawan sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argumen tcrsebut. Tampak filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju) bertindak secara konstruktif. aktif serta dinamis. Adapun filsafat progresivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil budi manusia. tidak terikat oleh doktrin tertentu). guna mengembangkan pengalamannya. Sehubungan dengan itu Wasty Soemanto menyatakan bahwa daya akal sama dengan intelegensi. di mana intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan-pemecahan masalah. Dengan demikian potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan dan hal ini menjadi perhatian progresivisme. Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir. guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya. tidak menolak perubahan. Di sini·tersirat bahwa intelegensi merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung masalah. di mana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. D. inovatif dan reformatif). toleran dan open minded (punya hati terbuka). Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu. Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusiamanusia yang berkualitas unggul.

Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah . mengajukan hipotesa. anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman. tetapi dengan jalan menemukan dan menggeneralisasi sendiri sebagai hasil kemandiriannya. mengkonfirmasikan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui. serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang IPA dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. George Count. Dengan metode pendidikan "Belajar Sambil Berbuat" (Learning by doing) dan pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem. di mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. untuk dapat bekerja sama. 1. saling menghargai pendapat teman. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. belajar "naturalistik". Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran IPA dengan situasi lebih alami dan situasi dunia nyata.Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau kurikulum eksperimental. Dalam pembelajaran IPA hendaknya guru dapat merancang dan mempersiapkan suatu pembelajaran dengan memotivasi awal sehingga dapat menimbulkan suatu pertanyaan. bahwa filsafat progresivisme mengakui anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan megakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif. Dengan begitu. William Kilpatrick. Landasan filosofis pembelajaran IPA terpadu ialah filsafat pendidikan Progresivisme yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis. saling berinteraksi dan mendiskusikan hasil secara bersama sama. Asas Belajar Pandangan mengenai belajar. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya. Dengan berpijak dari pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. Jadi terlihat bahwa siswa akan dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul diawal pembelajaran. sampai dapat memutuskan kesimpulan yang disepakati bersama. filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhlukmakhluk lain. aktivitas. dan Harold Rugg diawal abad 20. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan inkuari. Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep IPA dan berpikir tingkat tinggi dan memungkinkan mendorong siswa peduli dan tanggap terhadap lingkungan dan budayanya. guru yang bertugas dapat mendorong. untuk pembelajaran IPA hendaknya dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya heterogen. Seiring dengan pandangan di atas. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak dengan jalan mengingat seperangkat fakta-fakta. Ciri utama pembelajaran IPA adalah dimulai dengan pertanyaan atau masalah dilanjutkan dengan arahan guru menggali informasi. Dengan begitu.

mengutip pendapat John Dewey sebagai berikut: John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan: 1. Hal yang harus diperhatikan gura adalah "anak didik bukan manusia dewasa yang kecil" yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. Tegasnya. Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan. Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak. Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik. sedangkan guru sebagai pelayan siswa. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar "sekolah sambil berbuat" atau learning by doing. anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. jangan dipandang dari sudut orang dewasa. Di samping itu. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. menyataka anak harus dididik sesuai dengan alamnya. di mana anak sebagai subyek pendidikan. John Locke (1632-1704) mengemukakan. sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. Di sini prinsip kebebasan prilaku. Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. .berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif. minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. Untuk dapat melestarikan usaha ini. akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nila nilai. Beranjak dari ketiga pendapat di atas. sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlar 1984: 48). Anak bukan miniatur orang dewasa. Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. memberikan motivasi-motivasi dan stimulistimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses di mana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dalam pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat. Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778).

dan bukan perintah. sekolah pembangunan dan CBSA. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar belajar di sekolah. catat. di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan sekolah progresive. 5. 2. Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. karena sekolah didirikan untuk anak. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan 'kemerdekaan beraktivitas. Progresivisme menghendaki pendidikan yang progresif. Pandangan Kurikulum Progressivisme Selain kemajuan atau progres. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting). melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah. murid bersifat reseptif dan pasif saja. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik. dengar. tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif. Dari uraian di atas. memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas. lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. sekolah kerja. Guru mendominasi kegiatan belajar. Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar. tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan. tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula. Hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru. di mana ditandai dengan sifat verbalisme di mana terdapat cara belajar DDCH (duduk. Dalam abad ke-20 ini terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress. 4. Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. 3. bukan diciptakan . Murid tanpa diberikan kebebasan sarna sekali untuk bersikap dan berbuat. Sikap progressvisme. dinamika dan sifat-sifat yang sejenis. Memberi motivasi.2. dengan orientasi kehidupan masa kini. Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman. Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak. setiap anak didik berbeda kemampuannya. Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja. hafal).

Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas. John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan.sekehendak yang mendidiknya. melakukan pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang.H Kilpatrick. orang tua serta masyarakat. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan. afektif. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah. Untuk memenuhi keutuhan tersebut. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada kemampuan intelektualnya. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan sekolah sehingga . Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. melainkan harus terintegrasi dalam unit. W. akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk semangat demokrasi pendidikan. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja. maupun psikomotor. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar.H Kilpatrick mengatakan. Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952) dan dikembangkan oleh W. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu kehidupan yang bulat dan menyeluruh. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif. 2. di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga prinsip: 1. di bengkel. 3. Pengajaran dengan program unit. di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. metode yang diutamakan yaitu problem solving. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum. yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Dalam hal ini.

kesedihan. yang berarti perkembangan.H Kilpatrick tersebut ada beberapa hal yang perlu diungkapkan yaitu: (1) kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. kepustakaan). Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu. dan dalam hal ini apa saja yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang. Pandangan secara Aksiologi Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa. (2) kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik. Manusia akan tetap hidup berkembang. dengan demikian adanya pergaulan. Melalui proses pendidikan dengan menggunaka kurikulum yang bersifat intergrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial seharihari dengan baik. Pandangan dari Sudut Budaya Kebudayaan sebagai hasil budi manusia. kekuasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi pengalaman. jika ia mampu mengatasi perjuangan. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Progresivisme 1. proses. kebenaran adalah (sekuen dan pada sesuatu ide. maju setapak demi setapak mulai dari yang mudahmudah menerobos kepada yang sulit-sulit (proses perkembangan yang lama). keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati. sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. fakta. kecerdasan dari individu-individu. kegembiraan. Kebenaran dan kemampuan suatu ide memecahkan masalah. kehendak. Pengetahuan diperoleh manusia baik seeara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkun hidupnya. perasaan. Pengetahuan harus disesuaikan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku.anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan. pengalaman manusia tentang penderitaan. sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. 3. 2. Pandangan secara Epistemologi Pengetahuan adalah informasi. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan. Pandangan secara Ontologi Asal Hereby atau asal keduniawian. Pengalaman adalah perjuangan. melainkan selalu berkembang dan berubah. Dari penjelasan yang dikemukakan oleh W. adaptif dan kemandirian dan (4) kurikulum bersifat fleksibel atau luwes berisi tentang berbagai macam bidang studio. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan (buku-buku. Pengalaman adalah suatu sumber evolusi. maka makin besar persiapan menghadapi tuntutan masa depan. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek. Filsafat . realita pengetahuan dan daya guna. (3) kurikulum yang sanggup mengubah prilaku anak didik menjadi kreatif. Nilai itu benar atau salah. adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas. Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. 4. E. perubahan dan berani bertindak. hukum prinsip. baik atau buruk dapat dikatakan adalah menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia.

disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. Alamlah yang dikendalikan oleh manusia. sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain. yang memenuhi tuntutan zaman. titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. yang menjadi salah satu eksponen essensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. dan dijadikan pangkal berfilsafat. Pendahuluan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Alamlah yang mengendalikan manusia. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya.progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman. Realisme modern. Hidupnya hanya bergantung dengan alam. II. telah mempengaruhi pendidikan. di mana dengan pembaharuanpembaharuan pendidikan telah dapat mempengaruhi manusia untuk maju (progress). alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri. cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. Dan disana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental. masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju. Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua. Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. di mana serta terbuka untuk perubahan. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. pandanganpandangannya bersifat spiritual. sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional untuk memasuki zaman modern (progresif). ALIRAN ESENSIALISME A. Dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Maka. John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme. Sehingga semakin tinggi tingkat berpikirnya manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa. Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahanperubahan. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. . akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. rumahrumah mewah. karena itu timbul pada zaman itu.

Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. Tempat Asal Aliran Esensialisme Dikembangkan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik. serta segala isinya. C. B. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasangagasan (ide-ide). Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. di mana serta terbuka untuk perubahan. 2. yang merupakan pencipta adanya kosmos. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. melaksanakan). George Santayana George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. karena minat. perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut . maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) Gambar 6: Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Tokoh-tokoh Esensialisme 1. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. melainkan pertemuan keduanya.

memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. yang bersama-sama membentuk dunia ini. 2. Bentuk. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. sebagai filsafat hidup. apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya. bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori. yang memenuhi tuntutan zaman. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos.esensialisme. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. karena itu timbul pada zaman itu. mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain. namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. mengatur dalam ruang dan waktu. Determiuisme mutlak. Dengan mengambil landasan pikir tersebut. ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Pandangan Immanuel Kant. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal. 2. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas: 1. kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian: 1. yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Universum: Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilainilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. Bila orang berhadapan dengan benda-benda. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk. Jadi. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Maka. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. lelapi bendabenda itu yang terarah kepada budi. jadi harus ada. bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri. D. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Budi membentuk. Menurut idealisme. memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Bogoslousky. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar Idealisme. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif. Di . ruang dan ikatan waktu. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan. Determinisme terbatas.

yang sederhana merupakan fundamen at au dasar dari susunannya yang paling kompleks. Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak. Ilmu pengetahuan yang mempengaruhi aliran realisme dapat dilihat dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisika dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jalan khusus. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. kebenaran dan keagungan. mengejar kebutuhan. E. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Maka dalam sejarah perkembangannya. dan hidup aman dan sejahtera . Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat. emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan. . 4. 2. Kepribadian: Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. Dengan demikian berarti bahwa suatu kejadian yang paling sederhana pun dapat ditafsirkan menurut hukum alam di antaranya daya tarik bumi.antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam. kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk. dapat berkembang harmonis dan organis. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Esensialisme 1. Sivilisasi: Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. sesuai dengan kemanusiaan ideal. realisme dan sebagainya. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. Adapun uraian mengenai realisme dan idealisme ialah: 1. Sedangkan oleh ilmu-ilmu lain dikembangkanlah teori mekanisme. 3. fisiologi. penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. agama. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi . Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian. fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. kesusasteraan. kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Pandangan secara Ontologi Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela. sifat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya. asal usul tata surya dan lain-Iainnya. Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. kesenian. Realisme yang mendukung esensialisme yang disebut realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tcmpat manusia di dalamnya. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan.

Pengertian mengenai makrokosmos dan mikrokosmos merupakan dasar pengertian mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan. Ciri lain mengenai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam pengertian-pengertian makrokosmos dan mikrokosmos. Untuk mengerti manusia. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Bagi sebagian penganut realisme. 2. 1. Mikrokosmos menunjuk kepada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis. Sebab kesadaran kita. 2. Pandangan Kontraversi Jasmaniah dan Rohaniah Perbedaan idealisme dan realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita. sosial. Sebaliknya realist berpendapat bahwa kita hanya mengctahui sesuatu realila di dalam melalui jasmani. rohaniah. approach personalisme itu hanya melalui introspeksi. maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. jasmani dan rohani. Manusia sebagai individu. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit. baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan. 2. ldealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme obyektif. biologi. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan. Sebab jika manusia mampu menyadari realita scbagai mikrokosmos dan makrokosmos. Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda. Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian manusia.H Green. . ilmu alam. pikiran itu adalahjasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukumhukum phisis. Pendekatan (Approach) ldealisme pada Pengetahuan Kita hanya mengerti rohani kita sendiri. adalah makhluk yang semua tata serta kesatuannya merupakan bagian yang tiada terpisahkan dari alam semesta. Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. tarikan dan tekanan mesin yang sangat besar. tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Maksudnya adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. rasio manusia adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang Maha Sempurna. Pandangan secara Epistemologi Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. Manusia mengetahui sesuatu hanya di dalam dan melalui ide.dan dunia itu ada dan terbangun atas dasar sebab akibat. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Mikrokosmos menunjuk kepada fakta tunggal pada tingkat manusia. dan agama. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata. Menurut T. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual.

tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk. Neorealisme Secara psikologi neorealisme lebih erat dengan behaviorisme Baginya pengetahuan diterima. Tipe Epistemologi Realisme Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme.Teori Nilai Menurut Realisme Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. Di samping koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan behi viorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaa yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan terhadap berhas tidaknya belajar yang dilakukan. Pandangan secara Aksiologi Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. a. melaksanakan).3. Dengan demikian terjadi gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respon. Orang yang berpakaian serba formal seperti dalam upacara atau peristiwa lain yang membutuhkan suasana tenang. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai akibat adanya saling . ditanggap langsung oleh pikirar dunia realita. b. Menurut idealisme bahwa sikap.an dan pengamatan. b. ekspresi perasaan yang mencerminkan adanya serba kesungguhan dan kesenangan terhadap pakaian resmi yang dikenakan dapat menunjukkan keindahan baik pakaian dan suasana kesungguhan tersebut. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter at au nilai-nilai. Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusia pada umumnya. Cretical Realisme Aliran ini menyatakan bahwa media antara inetelek dengan realita adalah seberkas penginderi'. Untuk ini. karena minat. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. Dan manusia dalam hidupnya sdalu membentuk tatajawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan respon. karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak interaktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. tergantung pada pandangun-pandangan idealisme dan realisme sebab essensialisme terbina aleh kedua syarat tersebut. realisme bersandarkan atas keilumuan dan lingkungan. Menurut Teori Koneksionisme Teori ini menyatakan semua makhluk. 3. haruslah bersikap formal dan teratur. Teori Nilai Menurut Idealisme Penganut idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos. termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon. 4. Bagi aliran ini. nilainilai berasal. perhatian dan pengalaman seseorang turut menentukan adanya kualitas tertentu. yang sdalu menunjukkan kualitas yang tinggi dan rendah atau kuat lemah. Di Amerika ada dua tipe yang utama: a. George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. ltulah sebabnya neorialisme menafsirkan badan se bagai respon khusus yang berasal dari luar dengan sedikit atat tanpa adanya proses intelek.

atau teori. Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek kehidupan. tidak terkecuali di dunia pendidikan.1910) di Amerika Serikat. Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiranpemikiran Charles S. Tempat Asal Aliran Pragmatisme Dikembangkan Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa. Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. di samping itu. Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika. yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978. Pierce dan William James. Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia–yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya.hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh dari Iingkungan. telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme. yang dilakukan. artinya yang dikerjakan. paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat. perbuatan. Salah satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 . Atas dasar itu. Menurut filsafat ini. B. dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. ALIRAN PRAGMATISME A. C. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya. semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan. III. Pierce (1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme. Tokoh-tokoh Pragmatisme Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma. seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (15611626). etika epistemologi.1952). atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Dalam konteks inilah. baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme. merupakan “nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama”. dalil. Pragmatisme. William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris. dan pendidikan. Pendahuluan Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. filsafat politik. yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. . sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. Pragmatisme. Diakui atau tidak. tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James (1842 . yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. benar tidaknya suatu ucapan. dalil.

mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). penindasannya yang telanjang. ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan. sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran. telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”. dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. yakni suatu gerakan atau usaha –yang berkisar antara tahun 1400-1600 M– untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. yang menentang Trinitas. Meskipun demikian. yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. yakni keterlepasannya dari agama. Gerakan ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance. tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. seraya mempertahankan doktrin . maupun periode Scholastik (1000 . Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika. yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. Jadi. manusia. Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. kosmos. Asal Usul Pragmatisme Gambar 7: Thomas AquinasSetelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan. Calvin. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss). seperti masalah Tuhan. tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. Semangat Renaissance ini. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri.1.1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. Katholik dan Protestan. Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejarah mata rantai pemikiran Barat. Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragmatisme dalam konstelasi pemikiran Barat. dan etika. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yang mendasarkan pada pengenalan inderawi. Jadi. Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. atau dengan kata lain. Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani.

Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. Pada abad XIX. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. Selain George Berkeley dan David Hume. Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). Fichte (1762-1814).Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679). dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. Pada abad XVII. yaitu Positivisme. Baruch Spinoza (1632-1677). Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio. F. dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. manusia. sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. Kant juga mempercayai Empirisme. Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. hukum. Obyek luar ditangkap oleh indera. Pada abad sebelumnya. agama. sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. Hegel merupakan tokoh yang menonjol. Sedang pada Masa Aufklarung. Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (17111776). sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. seperti Feuerbach. salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia. George Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”. Karl Marx. ekonomi. dan Tuhan. dengan Rasionalisme dari Descartes. Yang ada adalah ciriciri yang diamati. Filsafat Kant disebut Kritisisme. aliran mereka disebut dengan Idealisme. Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia. Materialisme. baik langsung maupun tidak. dengan dua ide pokoknya. yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. John Locke (1632-1704). berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya. namun tidak berarti semua dari pengalaman. pendidikan dan sebagainya. . Dari ketiganya. tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Mereka terbagi dalam dua pandangan. Karenanya. dan Pascal (1623-1662). dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia. Namun demikian. atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. dan Pragmatisme. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat.

kebenaran itu merupakan suatu postulat. Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). atau yang mereka namakan positif. yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. Atas dasar itu. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. Kebenaran akan selalu berubah. 2. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Pertama. sejalan dengan perkembangan pengalaman. Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”. suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James.Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman Gambar 8: William James(Hegel) pada John Dewey. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). sedang di sisi lain. Jadi. Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesissintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). Dengan kata lain. nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). siap diuji dengan perdebatan atau . seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Selain John Dewey. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. Dalam The Meaning of The Truth (1909). Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872). Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (18201895). Pembahasan tentang Pragmatisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya. yang sifatnya tidak pasti. tidak diketahui kebenaran teori itu. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach. James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme.

harus merupakan hubungan yang dialami. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan). sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. berbeda dengan empirisme tradisional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta. Ketiga. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. dan kebenaran logis atau literal. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. Semua kebenaran pernyataan ini. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa). yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini –yang juga disebut Practicalisme– . tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. Hanya saja.Kedua. Merasakan adanya masalah 2. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. mendeduksi fakta dari prinsip. Meskipun berbeda-beda penekanannya. Menurut James. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. D. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. Pengalaman dan Pertumbuhan . berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. mencoba. 5. Pandangan Pragmatisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. Sedang pemikir Empirisme. yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpikir induktif. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving. Yang kedua adalah Complex Truth. yaitu kebenaran dalam pernyataan. berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. James. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. Menganalisis masalah itu. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. dengan demikian. Pertama adalah Trancendental Truth.diskusi. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis. Memilih dan menganalisis hipotesis. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. 3. Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum ke yang khusus. Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. 4. Peirce membagi kebenaran menjadi dua. Menguji. yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman.

2. Tujuan Pendidikan Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika. tidak ada batas. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. Oleh karenanya. tidak statis. berkembang menjadi sempurna. Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi. menurutnya. Menurut Dewey. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Dengan cara demikian. dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. Sains. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. dunia ini penciptaannya belum selesai. baik tingkah laku maupun pengetahuan. Akhirnya. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi. Dengan model tersebut. Di lembaga ini. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. All is in the making. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. semuanya dalam perkembangan. Hidup tidak statis. Segala sesuatu berubah. tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif. siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman. filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai. Sebagai tokoh pragmatisme. tidak mesti diperoleh dari buku-buku. dan tidak ada finalnya. tumbuh. khusunya malalui pendidikan. . tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. hukum moral pun berubah. berkembang. melainkan bersifat dinamis. Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah.Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses. Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. Dalam masyarakat industri. sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental. pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan. dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis. baik secara individual maupun kolektif. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual. Bahkan.

Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : 1. guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan. sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman. Dengan demikian. dan lain-lain. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. Yakni. Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat. yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda. yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran. asas saling menghormati kepentingan bersama. E. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Begitu pula. kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama. dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan. mengekspresikan pendapat. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. dalam konteks ideologis. Aqidah ini. Aqidah . Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan. Bahkan. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut. dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan. Pandangan dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Kebebasan tersebut harus dijamin. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya.

tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan. maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. Kedua pemikiran ini. Sedang yang kedua. Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. Sebab. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil –termasuk dalam hal ini Pragmatisme– pada hakekatnya adalah batil juga. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaan-Nya. ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. Ini adalah suatu kekeliruan. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. melalui serangkaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). Jadi. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V . berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemikiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. Jadi. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. 4. dan kehidupan. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. Sedangkan yang kedua. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. yakni keharusan menundukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. Yang pertama. dan kehidupan. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). Dan dari sinilah dibahas. maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq ini. Menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif. alam semesta. apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan.pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. antara dua pemikiran yang kontradiktif. Penyelesaian jalan tengah. . Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath’i (yang bersifat pasti). alam semesta. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi.XV M).

Memang. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. kelompok. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. logika. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. Sebab. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. bukan Metode Ilmiah. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. ada dua point : a. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. Argumen untuk ini. Atas dasar dua argumen ini. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Sedang Metode Akliyah. bukan Metode Ilmiah. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. Ketiga. Maka dari itu. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah. Maka. Ide ini keliru dari tiga sisi. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah . Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Maka. bukan Metode Ilmiah. Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak terindera seperti sejarah. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). Pertama. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia. Atau dengan kata lain. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. b. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. bahasa. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. Dengan kata lain. dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. Kedua. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. Maka. yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/material yang dapat diindera. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. 5. diperoleh melalui Metode Akliyah. Dan informasi sebelumnya ini. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah. dan hal-hal yang ghaib. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri.

maka tinggalkanlah dia…” (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara’. termasuk ide Pragmatisme. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah. shadaqah jariyah. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. bukan sembarang manfaat. dan bukan manfaat. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram.melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara’. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil . Maka. maka ambillah dia. teori. anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan. Allah SWT berfirman : “Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah” (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur. Maka. Namun demikian. Muslim) Benar.” (HSR. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : “Apabila anak Adam meninggal dunia. janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. Jadi. Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. ilmu yang bermanfaat. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. Tetapi maknanya adalah. Allah SWT berfirman : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara’. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya…” (Al A’raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. Allah SWT juga telah berfirman : “Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah. 6. atau hipotesis. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Amerika. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Jelas. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. ajaran. Selain itu. Dan apa yang dilarangnya bagimu. bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas manusia. yaitu Syari’at Islam. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan. kecuali tiga perkara. maka terputuslah amalnya. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme –sebagai standar ide dan perbuatan– sangat bertentangan dengan Islam.

misalnya. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak. melainkan didasarkan pada pengalaman. Karenanya. Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya. yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. yang penting bukan keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi. yang siap pakai. malainkan langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut. bahkan sama sekali tidak menghendaki adanya diskusi. pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. Kebenaran suatu teori. Bagi kaum pragmatis. melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit.oleh manusia sesuai kehendaknya. 8. baik bersifat psikologis. Dalam menghadapi berbagai persoalan. pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan. filsafat. Dekonstruksi Pragmatisme. Tinjaun Kritis lainnya Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak. mengabaikan peranan diskusi. epistemologis. dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya. rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi praktis. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. Dalam rangka itulah. religius dan sebagainya. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis. Pragmatisme. Pragmatisme mempunyai dua sifat. demi sesegera mungkin . karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu. yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah. Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi praktisnya. teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri. metafisik. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya. sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar. pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan. Sebagai prinsip pemecahan masalah. pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. misalnya fungsi pendidikan. Oleh karena itu. bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak yang muluk-muluk. Justru di sini muncul masalah. kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele. Teori yang tepat adalah teori yang berguna. pada konsekuansi praktisnya. Pendeknya. yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara praktis. Dan konsekuensi praktis yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi. mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. dan yang dalam kenyataannya berlaku. 7. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita.

sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini. Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali. kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasilhasilnya. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini. Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia. Pendahuluan B. tidak memiliki konsekuansi praktis. Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13. Tokoh-tokoh Perenialisme Gambar 9: AristotelesFilsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. terutama dalam bidang pendidikan. sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan . IV. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat. ALIRAN PERENIALISME A. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebuoayaan dan pendidikan zaman sekarang. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan. kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. C.mengambil tindakan langsung.

kebudayaan yang mempunyai dua sayap. bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal. Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. Jadi aliran perenialisme dipakai untuk program pendidikan yang didasarkan atas pokok-pokok aliran Aristoteles dan S. maka ia terkenal dengan nama perenialisme. yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri.keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. Tokoh-tokoh yang mengembangkan ini timbul dari lingkungan agama Katholik atau diluarnya.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan. Jadi sikap untuk kembali kemasa Iampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas. Jadi epistemologi dari perenialisme. 1990: 64-65). Gambar 10: PlatoAsas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat. ST. karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. D. Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H. khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya. yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik. Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme. manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib. dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles. Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan. yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki.T Thomas Aquinas. harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki. Pandangan Perenialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi. maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya. dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi . maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting.

di mana tug as pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri. sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Di samping itu.seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis. matematika. yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni: 1. bahan penerangan yang cukup. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang. politik. karena telah memiliki evidensi diri sendiri. ladi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. Dengan pengetahuan. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa . dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis. Masak dalam arti hidup akalnya. Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau. telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru. dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh orangorang besar. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian. Dengan mengetahui rulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut. sejarah. 2. Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme tersebut. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. ekonomi. menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain. Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut. jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. filsafat.

Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. Adapun aksiden adalah keadaankeadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial. sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu. perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Thomas Aquinas. sehingga makin lama makin jauh dari patensialitasnya. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Perenialisme 1. batu bangunan dasar. orang dalam bentuk.R Poedjawijatna bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas. maka manusia itu setiap waktu adalah patensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Setiap sesuatu yang ada. Hal-hal yang bersifat partikular yang merintangi kehidupan dapat diatasi. hewan. Uraian di atas sejalan dengan apa yang dikatakan I. ini disebut pendidikan umum (general education). esensi. Bila dihubungkan dengan manusia. tumbuhtumbuhan dan sebagainya mempakan hal yang logis dalam karakternya. Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu. Pandangan Epistemologis Perennialisme Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. material dan spiritual. atau suka berpakaian bagus. Benda individual disini adalah bend a sebagaimana nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu. Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia.oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama. warna dan aktifitas tertentu. diharapkan tiap individu itl! terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama. 2. bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah patensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan. tidak jarang pula dimilikinya akal. E. tidak jarang pula dimilikinya akal. Schula ini dapat dikurangi. Misalnya meskipun manusia dalam hidupnya jarang dikuasai oleh sifat eksistensi kemanusiaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian an tara pikir dengan benda-benda. perasaan dan kemauannya. maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang. ialah tujuan dan bentuk terakhir dari segalanya. misalnya partikular dan uni versal. Pandangan secara Ontologi Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individuIl. aksiden dan substansi. Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. rumput. tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau bend a tapi merupakan unsur patensiaJitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diutarakan aleh Aristateles tetapi ia juga merupakan sesuatu yang datang bersama-sama dari sesuatu "apa" yang terkandung dalam inti (essence) dan potensialitas dengan tindakan untuk "berada" yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh ST. misalnya orang suka bermain sepatu roda. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir. lembu. Maka dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini manusia dapat makin mendekatkan diri kepada gerak yang tanpa gerak itu. Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi. ukuran. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah .

Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme. yakni menerima universal yang abadi. kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas. Menurut Plato. Pendidikan hendaknya berorientasi pada p~tensi itu dan kepada masyarakat. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu. relatif atau kebenaran probability. hakiki dan berjalan dengan hukumhukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama. Khususnya dalam tingkah laku manusia. melainkan juga aksiologi. Tindakan yang baik adalah yang bersesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada . Secara etika. Aristoteles dan Thomas Aquinas. agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi. karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan.perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis. Untuk mencapai pendidikan itu. dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Dengan demikian jelaslah bahwa perenialisme itu rnenghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu. tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia. Kodrat wujud manusia yang pertama-tama adaJah lercermm dari jlwa dan pikirannya yang disebut dengan kekuataJl potensial yang membimbing tindakan manusia menuju pada Tuhan at au menjauhi Tuhan. telah memiliki potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal. Jadi manusia sebagai subyek dalam bertingkah laku. dengan kata lain melakukan kebaikan atau kejahatan. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi. Dalam aksiologi. Jelaslah bahwa pengetahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen. khususnya tingkah laku manusia. tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural. di samping adapula kecenderungan-kecenderunngan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. seperti Plato. Sejalan dengan uraian di atas. Kebaikan tertinggi adalah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional. emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang. Pandangan Aksiologi Perennialisme Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural. Dengan memperhatikan hal ini. maka aspek jasmani. Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. Dengan azas seperti itu. kemauan dan pikiran. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah "kehahagiaan". 3. bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi.

Kedua aliran tersebut. Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu sejalan dengan pandangan dasar di atas. B. Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan .dalam individu agar menjadi aktualitas. Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale. Harold Rugg C. seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar. sepaham dengan aliran perenialisme. aktif dan nyata. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. ingin membangun masyarakat baru. Dari prinsipprinsip pendidikan perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern. Pendahuluan Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri. Maka. rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang. masyarakat yang pantas dan adil. Oalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran. Walaupun demikian. kebingungan dan kesimpangsiuran. Untuk mencapai tujuan tersebut. Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. mempertinggi kemampuan anak untuk memiliki akal sehat. Aliran Rekonstruksionisme A. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930. perguruan tinggi. menengah. prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. pada prinsipnya. George Count. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt. Aliran rekonstruksionisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang scrasi dalam kehidupan. Aliran perennialisme memilih cara tersendiri. aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. Dalam konteks filsafat pendidikan. proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. V. untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. aliran rekonstruksionisme dan perenialisme. D. yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern.

sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi. Tuhan adalah aktualitas murni yang sarna sekali sunyi dan substansi. sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral. Dengan demikian gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif tersendiri. ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. Pada prinsipnya. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju kearah yang khusus menam pakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti bewan dan tumbuhan atau benda lain disekeiling kita. 2. selain substansi yang dipunnyai dan tiap-tiap benda tersebut. tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). E.Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. secara umum ruang lingkup (scope) ten tang pengertian "nilai" tidak terbatas. Pandangan Ontologis Dalam proses interaksi sesama manusia. Tetapi. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. Pandangan secara Ontologi Dengan ontologi. yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. dan dapat dipilih melalui akal pikiran. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Rekonstruksionisme 1. nasionalisme. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri. Descartes. seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini. dan realita yang kita ketahui dan kita badapi tidak terlepas dari suatu sistem. Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan. Kausa prima. kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal. dalam konteks ini. tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan. . mampu meningkatkan kualitas kesehatan. dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. Kemudian. Namun demikian. meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna. aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme. diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. sarna azali dan abadi. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan. yang merupakan kecenderungan man usia. akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian. keturunan. diperlukan nilai-nilai.

hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam. Sebagai ilustrasi. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan). memberikan argumentasi rasio tentang eksistensi Tuhan. baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahun. penafsiran yang demikian didukung oleh Thomas Aquinas yang inti pembicaraannya untuk mengetahui realita yang ada yang hams berdasarkan iman dan perkembangan rasional hanya dapat dijawab dan mesti diikuti dengan iman. dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi. Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok. metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada pemikiran yang hakiki. yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence). dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya. Karenanya. dengan memakai cara pengambilan kesimpulan deduktif dan induktif. Penalaran-penalaran memiliki hukum-hukum tersendiri agar dijadikan pegangan ke arah penemuan definisi atau pengertian yang logis. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka. Neo-Thomisme memandang bahwa etika. Karenanya. yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis. 3. Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence. menyatakan bahwa secara kritis realita semesta dapat dipahami dan tidak ada sesuatu di alam nyata ini diluar kekuasaan Tuhan karena semua itu sebagai perwujudan dari kesempurnaannya. seorang tokoh utama scholastik. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor.Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal. dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pad a prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasaldari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. . Alselpus. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. Kajian tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran. premis minor dan kesimpulan (condusion). yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral. Dalam perkembangan selanjutnya. karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan. realita dan eksistensinya. dengan jalan pernikirannya adalah silogisme. Dari gerakan intelektualitas pada abad pertengahan yang mencapai kristalisasi pada abad IX-XIV. yakni bukti yang ada pada diri sendiri. Pandangan Epistemologis Kajian epsitemologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. kreasi estetika dan organisasi politik. kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual. Keindahan yang maujud itu hanyalah keindahan khusus. kemudian berpikir rasional. yakni bersatu dengan Tuhan. pancaran un sur keindahan universal yang abadi. adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). Kemudian. maha indah dan Tuhan. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan.

re-searchengines.com/ http://id.geocities.com/ http://wordpress.com/ http://www.php http://hhmsociety.com/ http://www.blogspot.org/wiki/Main_Page http://e-pendidikan.com/artikel.geocities.2bryan.VI.or.com/athens/parthenon/4926/rencana/tunjang.html .wikipedia.id/index.com/ http://en.multiply. DAFTAR PUSTAKA http://edu-articles.multiply.com/ http://rajasidi.net/ http://gkagloria.org/wiki/Halaman_Utama http://mimbardemokrasi.htm http://www.com/HotSprings/6774/jurnal3.wikipedia.html http://www.

yang pertama di sebut landasan ontologis. landasan ini akan menjawab. ilmu dikonfrontasikan dengan agama. di sebut dengan landasan aksiologi. Dengan mengetahui jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Sedang yang ketiga. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu di kacaukan dengan seni. bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? . EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat. berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?.ONTOLOGI. Kedua di sebut dengan landasan epistimologis. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu.

Studi tentang yang ada. atau dalam rumusan Lorens Bagus. yaitu : abstraksi fisik. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. naturalisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Abstraksi fisik menampilkan . Ontologi membahas tentang yang ada. idealisme. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. tealaahnya akan menjadi kualitatif. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan.PEMBAHASAN A. abstraksi bentuk. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. atau hylomorphisme. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. Ontologi Objek telaah ontologi adalah yang ada. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. 1. dan abstraksi metaphisik. 2. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Bagi pendekatan kuantitatif. menampilkan pemikiran semesta universal. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme.

term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. badan itu fana’ (S-Tt) (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.[2] .keseluruhan sifat khas sesuatu objek. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi.

Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak . Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?[3] Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan a. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan. atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan sederhana tersebut. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. John Locke. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut.dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.Sementara Jujun S.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. Epistemologi Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Memang sebenarnya. bapak empirisme Britania. Menurut Locke. B. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian.

Tetapi para penganut rasionalisme juga benar. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. Kant membuat uraian tentang pengalaman. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita. d. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. c. b. Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. artinya. Analisa. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Intusionisme Menurut Bergson. atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan.kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. Fenomenalisme Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. . Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran.

sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi.Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. Hendaknya diingat. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust. namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. e. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentukhanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. C. Mereka mengatakan. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya.” melainkan faust yang menciptakan Goethe.” Menghadapi kenyataan seperti ini.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka. intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan . Aksiologi Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. atau dengan perkataan lain. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman. atau dengan perkataan lain. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. yaitu kenyataan.

sedangkan di pihak lain. dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran.keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus. keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?). Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. “segalanya punya moral. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[4] . Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Galileo dan ilmuwan seangkatannya. oleh pengadilan agama tersebut. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan.” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib. Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan. “asalkan kau mampu menemukannya. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap. Galileo (1564-1642). Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar.

Ontologis.PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : 1. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?[5] . cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. Aksiologi menjawab. 2. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. 3.

Filsafat Ilmu. Sistematika filsafat II. 1996. Penerbit Rake Sarasin. Yogjakarta. Pustaka Sinar Harapan. Suriasumantri. 2001. Jakarta. 1995. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pengantar filsafat. H. Kattsouff. Tiara Wacana. Prof. Louis O.DAFTAR PUSTAKA Jujun S. Noeng Muhadjir. Yogjakarta. Yogjakarta Sidi Gazalba. . Dr.