Filsafat Ilmu

A. Pengertian Filsafat Ilmu Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsepkonsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabangcabang pengetahuan intelektual.) Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis) Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

B. Fungsi Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
    

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. C.Substansi Filsafat Ilmu Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi. 1.Fakta atau kenyataan Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
 

  

Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek

kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah. 2. Kebenaran (truth) Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001) a. Kebenaran koherensi Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental. b.Kebenaran korespondensi Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik c.Kebenaran performatif Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. d.Kebenaran pragmatik Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis. e.Kebenaran proposisi Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisiproposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan

Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. logika terbagi ke dalam 2 bagian.Kebenaran struktural paradigmatik Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. yakni berdasarkan logika. yaitu logika induksi dan logika deduksi. diantaranya:  Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam. tapi masih bersifat spesifik.persyaratan formal suatu proposisi. D. Secara garis besarnya. . 3. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. (Ismaun. Belief pada Russel memang memuat moral. Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi. deduktif.200:9) Di lain pihak. 4. Sedangkan untuk membuat penjelasan. Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta.Logika inferensi Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika.Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. melainkan dilihat dari benar materialnya. dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai. ataupun reflektif. memprediksi proses dan produk yang akan datang. analisis faktor. Pendapat lain yaitu dari Euclides. koheren antara fakta dengan skema rasio. karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh. yaitu : (1) meta ideologi. belum ada skema moral yang jelas. atau memberikan pemaknaan. atau axioma yang sudah dipastikan benar. Sampai sekarang analisis regresi. postulat. prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif. f. yang menguasai positivisme. bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu. Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.

Pendahuluan Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita. Dinamakan eksperimentalisme. harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup. dapat menguasai dan mengaturnya. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit. pencipta budaya.manusiawi. dan Harold Rugg diawal abad 20. 1. Dalam pendapat lain. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata. William Kilpatrick. yakni kebudayaan. karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori. Tokoh-tokoh Progresivisme Filsafat pendidikan Progresivisme dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. pragmatisme berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human. belajar "naturalistik". atau suatu keterangan akan dikatakan benar. Antropologi yaitu bahwa manusia mempunyai pengalaman. dengan demikian dapat mencari hal baru. dan logis. Progresivisme dinamakan instrumentalisme. untuk mengembangkan kepribadian manusia. B. George Count. benar. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri. melainkan sebagai kepanjangan ide manusia. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya.  Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. dan pengalaman-pengalamannya. produk domain kognitif dan produk alasan praktis. bahwa manusia untuk mengetahui kehidupan semua masalah. untuk kesejahteraan. tidak mengeksploitasi orang lain. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends. Aliran Progresivisme A. Progressivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910) Gambar 1: William JamesSeorang psychologist dan seorang filosuf Amerika yang sangat terkenal. sifat-sifat alam. lingkungan. maka perlu ditambah koheren dengan moral. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi: Ilmu Hayat. terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia. kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional. aktivitas. atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan. Bila etik dimasukkan. kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. Paham . efisien dan produktif.

seperti juga aspek dari eksistensi organik. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut. Selanjutnya. sains. teori politik dan ilmu jiwa. pendidik dan kritikus sosial Amerika. salah seorang psikolog eksperimental Amerika. Hall. Dewey juga menjadi tutor pribadi di bidang filsafat. baik teori maupun praktek. akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi. 2. Adapun ide filsafatnya yang utama. H. PierceJohn Dewey merupakan filosof. dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu.S. Pensylvania tahun 1879-1881. Selain itu. seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed".1952) Gambar 2: John DeweyJohn Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Dewey kemudian mengajar di University of Michigan (1884-1894). John Dewey (1859 . ia mengajar sastra klasik. Dewey menulis buku The School and Society. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. psikolog. namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil. Dewey masuk kuliah di University of Vermont dengan spesifikasi bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Dewey juga belajar logika kepada Charles S. harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. dosen serta penceramah dibidang filsafat. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis. Bersama gurunya. tepatnya tanggal 20 Oktober 1859. Torrey. Vermont. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran. Pierce dan C. psikologi dan pendidikan di University of Chicago tahun 1894.P. Ia dilahirkan di Burlington. Pada tahun 1875. Maka muncullah "Child Centered Curiculum". Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional. juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme. anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik.dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika. Dewey melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor dari John Hopkins University tahun 1884 dengan disertasi tentang filsafat Kant. hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal. dan "Child Centered School". baru peminatan. dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku. bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. menjadi kepala jurusan filsafat. Dan reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Prugressivisme Amerika. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian. Gambar 3: Charles S. hukum. Dewey banyak menulis masalah-masalah sosial dan mengkritik konfrontasi demokrasi Amerika. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis. tapi meskipun demikian. berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit. Setelah tamat. dan aljabar di sebuah sekolah menengah atas di Oil City.A. Sebagian besar kehidupan Dewey dihabiskan dalam dunia pendidikan. antropologi. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas. yang memformulasikan metode dan kurikulum sekolah yang membahas tentang pertumbuhan anak. Lembaga-lembaga pendidikan . ikut serta dalam aktifitas organisasi sosial dan membantu mendirikan sekolah baru bagi Social Reseach tahun 1919 di New York. Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Pada tahun 1899. Aplikasi ide Dewey. Salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme.

1933) Gambar 4: Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. karena amat banyak pengaruh yang bertentangan dengan apa yang dialaminya. dan yang paling fenomenal Democracy and Education (1916). sains. . bolehlah dianggap benar. Pertama. Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat pendidikan progresif di Amerika. Gambar 5: Georges Santayana C. pendidikan. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. menolak absolutisme dan otoriterisme dalam segala bentuknya. antropologi. seni. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. Tempat Asal Aliran Progresivisme Dikembangkan Progressivisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Artinya filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ideide dasar filsafat pragmatisme di mana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk terus survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan. Oleh karena itu filsafat progresivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan. Dewey juga memiliki sumbangan di bidang ekonomi. Georges Santayana Georges digolongkan pada penganut pragmatisme ini. 4. Brubaeher. Tapi amat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka. jika pengertian itu berguna. hukum. filsafat progressivisme atau pragmatisme ini merupakan perwujudan dan ide asal wataknya. mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1885 1952). Gagasan filosofis Dewey yang terutama adalah problem pendidikan yang kongkrit. Art and Experience. Diantara karya-karya Dewey yang dianggap penting adalah Freedom and Cultural. Experience and Nature (1925). politik serta ilmu jiwa. untuk menguasai dunia. baik yang bersifat teoritis maupun praktis. The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922). Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja. Tahun 1894 Dewey memperoleh gelar Professor of Philosophy dari Chicago University. dan pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya. Namun demikian. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan. Didalam banyak hal progressivisme identik dengan pragmatisme. John S. Hans Vaihinger (1852 . satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Oleh karena itu apabila orang menyebut pragmatisme. Dewey akhirnya meninggal dunia tanggal 1 Juni 1952 di New York dengan meninggalkan tidak kurang dari 700 artikel dan 42 buku dalam bidang filsafat. 3. toleran dan terbuka (open minded). politik dan pembaharuan sosial. Dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah. Dengan demikian filsafat progresivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi akan nilai demokratis. salah seorang penyumbang pemikir pragmatisme-progresivisme yang meletakkan dasar dengan penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi. University of Colombia dan University of Chicago. maka berarti sama dengan.yang disinggahi Dewey adalah University of Michigan. Filsafat progressivisme sama dengan pragmatisme. sebagaimana dikembangkan oleh lmanuel Kant. Sehingga progresivisme dianggap sebagai The Liberal Road of Cultlire (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan.

Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusiamanusia yang berkualitas unggul. . curious (ingin mengetahui dan menyelidiki). tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. D. Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja. baik itu tantangan. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu. Mereka harus memiliki sikap terbuka dan berkemauan baik sambil mendengarkan kritik dan ide-ide lawan sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argumen tcrsebut.peneliti. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku. tidak terikat oleh doktrin tertentu). Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. guna mengembangkan pengalamannya. insiatif. inovatif dan reformatif). Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku. aktif serta dinamis. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. tidak menolak perubahan. guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya. berkompetitif. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20. melainkan selalu berkembang dan berubah. adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya. di mana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Tampak filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju) bertindak secara konstruktif. Di sini·tersirat bahwa intelegensi merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung masalah. Dengan demikian potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan dan hal ini menjadi perhatian progresivisme. Maksudnya adalah manusia sejak lahir telah membawa bakat dan kemampuan (predisposisi) atau potensi (kemampuan) dasar terutama daya akalnya sehingga dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya. Nampak bahwa aliran filsafat progresivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku (subyek) di dalam hidupnya. Adapun filsafat progresivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil budi manusia. Sebab. Namun demikian filsafat progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia. akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. Sehubungan dengan itu Wasty Soemanto menyatakan bahwa daya akal sama dengan intelegensi. di mana intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan-pemecahan masalah. toleran dan open minded (punya hati terbuka). Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir. kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir (man's natural powers). hambatan.

Dengan begitu. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis.Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau kurikulum eksperimental. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. Seiring dengan pandangan di atas. guru yang bertugas dapat mendorong. bahwa filsafat progresivisme mengakui anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan megakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif. tetapi dengan jalan menemukan dan menggeneralisasi sendiri sebagai hasil kemandiriannya. Ciri utama pembelajaran IPA adalah dimulai dengan pertanyaan atau masalah dilanjutkan dengan arahan guru menggali informasi. Dengan metode pendidikan "Belajar Sambil Berbuat" (Learning by doing) dan pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem. yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman. saling berinteraksi dan mendiskusikan hasil secara bersama sama. Asas Belajar Pandangan mengenai belajar. Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep IPA dan berpikir tingkat tinggi dan memungkinkan mendorong siswa peduli dan tanggap terhadap lingkungan dan budayanya. anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran IPA dengan situasi lebih alami dan situasi dunia nyata. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak dengan jalan mengingat seperangkat fakta-fakta. mengajukan hipotesa. sampai dapat memutuskan kesimpulan yang disepakati bersama. Landasan filosofis pembelajaran IPA terpadu ialah filsafat pendidikan Progresivisme yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. untuk dapat bekerja sama. George Count. aktivitas. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah . 1. Dengan berpijak dari pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. untuk pembelajaran IPA hendaknya dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya heterogen. William Kilpatrick. kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya. filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhlukmakhluk lain. di mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. Jadi terlihat bahwa siswa akan dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul diawal pembelajaran. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan inkuari. Dalam pembelajaran IPA hendaknya guru dapat merancang dan mempersiapkan suatu pembelajaran dengan memotivasi awal sehingga dapat menimbulkan suatu pertanyaan. Dengan begitu. dan Harold Rugg diawal abad 20. mengkonfirmasikan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui. belajar "naturalistik". serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang IPA dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. saling menghargai pendapat teman.

mengutip pendapat John Dewey sebagai berikut: John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan: 1. John Locke (1632-1704) mengemukakan.berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. sedangkan guru sebagai pelayan siswa. Di samping itu. bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive. tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak. menyataka anak harus dididik sesuai dengan alamnya. di mana anak sebagai subyek pendidikan. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses di mana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. Anak bukan miniatur orang dewasa. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlar 1984: 48). Beranjak dari ketiga pendapat di atas. Di sini prinsip kebebasan prilaku. berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dalam pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat. Tegasnya. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nila nilai. Hal yang harus diperhatikan gura adalah "anak didik bukan manusia dewasa yang kecil" yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. Untuk dapat melestarikan usaha ini. . Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar "sekolah sambil berbuat" atau learning by doing. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778). akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. jangan dipandang dari sudut orang dewasa. minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif. sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa. Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan. sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. memberikan motivasi-motivasi dan stimulistimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik.

Sikap progressvisme. Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman. di mana ditandai dengan sifat verbalisme di mana terdapat cara belajar DDCH (duduk. lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Dari uraian di atas. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula. Murid tanpa diberikan kebebasan sarna sekali untuk bersikap dan berbuat. sekolah pembangunan dan CBSA. 3. dan bukan perintah. sekolah kerja. Pandangan Kurikulum Progressivisme Selain kemajuan atau progres. catat. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak. Dalam abad ke-20 ini terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. setiap anak didik berbeda kemampuannya. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik. bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas. murid bersifat reseptif dan pasif saja. tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. 2. Hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru. dengan orientasi kehidupan masa kini. Progresivisme menghendaki pendidikan yang progresif. di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan sekolah progresive. Memberi motivasi. hafal). tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif. tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan 'kemerdekaan beraktivitas. 4. 5. Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional. karena sekolah didirikan untuk anak. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting). Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. Guru mendominasi kegiatan belajar. dinamika dan sifat-sifat yang sejenis. melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah. bukan diciptakan . Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar. dengar. Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja. maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan.2. individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar belajar di sekolah. dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil. Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress.

3.sekehendak yang mendidiknya. akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk semangat demokrasi pendidikan. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu kehidupan yang bulat dan menyeluruh.H Kilpatrick mengatakan. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. afektif. diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif. suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga prinsip: 1. metode yang diutamakan yaitu problem solving. di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). orang tua serta masyarakat. maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas. Pengajaran dengan program unit. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan sekolah sehingga . melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada kemampuan intelektualnya. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. melainkan harus terintegrasi dalam unit. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. melakukan pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952) dan dikembangkan oleh W. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah. maupun psikomotor. John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit. yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman. Dalam hal ini. 2. akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. di bengkel.H Kilpatrick. W. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Untuk memenuhi keutuhan tersebut. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak.

Pandangan secara Epistemologi Pengetahuan adalah informasi. melainkan selalu berkembang dan berubah. maka makin besar persiapan menghadapi tuntutan masa depan. Pengalaman adalah perjuangan.H Kilpatrick tersebut ada beberapa hal yang perlu diungkapkan yaitu: (1) kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. jika ia mampu mengatasi perjuangan. (2) kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik. Nilai itu benar atau salah. perubahan dan berani bertindak. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan. yang berarti perkembangan. Pengetahuan diperoleh manusia baik seeara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkun hidupnya. kehendak. Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. dan dalam hal ini apa saja yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku. dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. Pengetahuan harus disesuaikan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. Pandangan secara Ontologi Asal Hereby atau asal keduniawian. Filsafat . fakta. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu. adaptif dan kemandirian dan (4) kurikulum bersifat fleksibel atau luwes berisi tentang berbagai macam bidang studio. Pandangan secara Aksiologi Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa. Pandangan dari Sudut Budaya Kebudayaan sebagai hasil budi manusia. kekuasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi pengalaman. 2. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek. Manusia akan tetap hidup berkembang. 4. ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan (buku-buku. keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati. proses. kecerdasan dari individu-individu. baik atau buruk dapat dikatakan adalah menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia. dengan demikian adanya pergaulan. 3. maju setapak demi setapak mulai dari yang mudahmudah menerobos kepada yang sulit-sulit (proses perkembangan yang lama). Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Progresivisme 1. kebenaran adalah (sekuen dan pada sesuatu ide. adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas. kegembiraan.anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan. E. Dari penjelasan yang dikemukakan oleh W. hukum prinsip. (3) kurikulum yang sanggup mengubah prilaku anak didik menjadi kreatif. Pengalaman adalah suatu sumber evolusi. Kebenaran dan kemampuan suatu ide memecahkan masalah. realita pengetahuan dan daya guna. kesedihan. pengalaman manusia tentang penderitaan. perasaan. Melalui proses pendidikan dengan menggunaka kurikulum yang bersifat intergrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial seharihari dengan baik. kepustakaan). sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan.

progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman. Alamlah yang mengendalikan manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. di mana dengan pembaharuanpembaharuan pendidikan telah dapat mempengaruhi manusia untuk maju (progress). Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa. John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu. masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju. titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. Dan disana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental. Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahanperubahan. yang menjadi salah satu eksponen essensialisme. Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. II. alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri. dan dijadikan pangkal berfilsafat. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Maka. Alamlah yang dikendalikan oleh manusia. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme. Hidupnya hanya bergantung dengan alam. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Pendahuluan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. . Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa. pandanganpandangannya bersifat spiritual. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. telah mempengaruhi pendidikan. sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional untuk memasuki zaman modern (progresif). rumahrumah mewah. sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain. cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi. di mana serta terbuka untuk perubahan. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. karena itu timbul pada zaman itu. Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya. Sehingga semakin tinggi tingkat berpikirnya manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. Realisme modern. ALIRAN ESENSIALISME A. yang memenuhi tuntutan zaman. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme.

Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. George Santayana George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. 2. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut . Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan. maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah. dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme.Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT. Tempat Asal Aliran Esensialisme Dikembangkan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. melainkan pertemuan keduanya. C. berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai. serta segala isinya. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) Gambar 6: Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasangagasan (ide-ide). toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. karena minat. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. yang merupakan pencipta adanya kosmos. B. di mana serta terbuka untuk perubahan. melaksanakan). Tokoh-tokoh Esensialisme 1. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan.

Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Determiuisme mutlak. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal. yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. sebagai filsafat hidup. terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. karena itu timbul pada zaman itu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar Idealisme. Di . Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilainilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. D. yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Dengan mengambil landasan pikir tersebut. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. yang memenuhi tuntutan zaman. mengatur dalam ruang dan waktu. 2. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. jadi harus ada. Menurut idealisme. belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Pandangan Immanuel Kant. Budi membentuk. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas: 1. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. lelapi bendabenda itu yang terarah kepada budi. Bentuk. Universum: Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan. ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri. Bogoslousky. Jadi. menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya. mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain. yang bersama-sama membentuk dunia ini. tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang. Maka. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. ruang dan ikatan waktu. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. 2. kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian: 1. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda. yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar.esensialisme. Determinisme terbatas.

Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Esensialisme 1. mengejar kebutuhan. sifat. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan. fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam. kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian. 2. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk. kesusasteraan. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. E. yang sederhana merupakan fundamen at au dasar dari susunannya yang paling kompleks. sesuai dengan kemanusiaan ideal. Dengan demikian berarti bahwa suatu kejadian yang paling sederhana pun dapat ditafsirkan menurut hukum alam di antaranya daya tarik bumi. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya. kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme. 4. Kepribadian: Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. realisme dan sebagainya. Sedangkan oleh ilmu-ilmu lain dikembangkanlah teori mekanisme. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat. agama. Ilmu pengetahuan yang mempengaruhi aliran realisme dapat dilihat dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisika dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jalan khusus. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi . kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. kesenian. Pandangan secara Ontologi Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela. emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan. kebenaran dan keagungan. penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. dapat berkembang harmonis dan organis. Maka dalam sejarah perkembangannya. Adapun uraian mengenai realisme dan idealisme ialah: 1. Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak. . 3. dan hidup aman dan sejahtera . asal usul tata surya dan lain-Iainnya.antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam. fisiologi. Sivilisasi: Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Realisme yang mendukung esensialisme yang disebut realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tcmpat manusia di dalamnya.

Mikrokosmos menunjuk kepada fakta tunggal pada tingkat manusia. tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Sebab jika manusia mampu menyadari realita scbagai mikrokosmos dan makrokosmos. rasio manusia adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang Maha Sempurna. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. 2. Pengertian mengenai makrokosmos dan mikrokosmos merupakan dasar pengertian mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. Menurut T. Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. ilmu alam. dan agama. Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian manusia. 2. Sebab kesadaran kita. baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan. ldealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme obyektif. jasmani dan rohani. Bagi sebagian penganut realisme. approach personalisme itu hanya melalui introspeksi. Pandangan Kontraversi Jasmaniah dan Rohaniah Perbedaan idealisme dan realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Ciri lain mengenai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam pengertian-pengertian makrokosmos dan mikrokosmos. Pandangan secara Epistemologi Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. sosial. maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata. adalah makhluk yang semua tata serta kesatuannya merupakan bagian yang tiada terpisahkan dari alam semesta. Mikrokosmos menunjuk kepada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis. Untuk mengerti manusia. Manusia mengetahui sesuatu hanya di dalam dan melalui ide. Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda. 1. Sebaliknya realist berpendapat bahwa kita hanya mengctahui sesuatu realila di dalam melalui jasmani.H Green. biologi.dan dunia itu ada dan terbangun atas dasar sebab akibat. Manusia sebagai individu. rohaniah. . Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan. Pendekatan (Approach) ldealisme pada Pengetahuan Kita hanya mengerti rohani kita sendiri. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan. tarikan dan tekanan mesin yang sangat besar. Maksudnya adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. pikiran itu adalahjasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukumhukum phisis. 2. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual.

Teori Nilai Menurut Idealisme Penganut idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos. Di Amerika ada dua tipe yang utama: a.3. perhatian dan pengalaman seseorang turut menentukan adanya kualitas tertentu. Di samping koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan behi viorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaa yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan terhadap berhas tidaknya belajar yang dilakukan. b. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai akibat adanya saling . Pandangan secara Aksiologi Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Neorealisme Secara psikologi neorealisme lebih erat dengan behaviorisme Baginya pengetahuan diterima. tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk. George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Dengan demikian terjadi gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respon. realisme bersandarkan atas keilumuan dan lingkungan. Bagi aliran ini. Dan manusia dalam hidupnya sdalu membentuk tatajawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan respon.an dan pengamatan. a. Orang yang berpakaian serba formal seperti dalam upacara atau peristiwa lain yang membutuhkan suasana tenang. yang sdalu menunjukkan kualitas yang tinggi dan rendah atau kuat lemah. Tipe Epistemologi Realisme Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme. b. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter at au nilai-nilai. karena minat. karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak interaktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon. ltulah sebabnya neorialisme menafsirkan badan se bagai respon khusus yang berasal dari luar dengan sedikit atat tanpa adanya proses intelek. nilainilai berasal. 4. Untuk ini. melaksanakan). namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. Menurut Teori Koneksionisme Teori ini menyatakan semua makhluk. haruslah bersikap formal dan teratur. 3. Cretical Realisme Aliran ini menyatakan bahwa media antara inetelek dengan realita adalah seberkas penginderi'. Menurut idealisme bahwa sikap.Teori Nilai Menurut Realisme Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. tergantung pada pandangun-pandangan idealisme dan realisme sebab essensialisme terbina aleh kedua syarat tersebut. ekspresi perasaan yang mencerminkan adanya serba kesungguhan dan kesenangan terhadap pakaian resmi yang dikenakan dapat menunjukkan keindahan baik pakaian dan suasana kesungguhan tersebut. ditanggap langsung oleh pikirar dunia realita. Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusia pada umumnya.

sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya. tidak terkecuali di dunia pendidikan. perbuatan. telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme. Menurut filsafat ini. Pragmatisme.hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh dari Iingkungan. dalil. di samping itu. Pierce (1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme. filsafat politik.1910) di Amerika Serikat. Pendahuluan Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan. C. dan pendidikan. benar tidaknya suatu ucapan. Pierce dan William James. dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika. yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Tempat Asal Aliran Pragmatisme Dikembangkan Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa. paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat. Dalam konteks inilah. ALIRAN PRAGMATISME A. yang dilakukan. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978. artinya yang dikerjakan. Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia–yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. B. dalil. Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiranpemikiran Charles S. baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme. yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Salah satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 . seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (15611626). tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James (1842 . Tokoh-tokoh Pragmatisme Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma. . yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya. merupakan “nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama”. Atas dasar itu.1952). Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek kehidupan. yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme. semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan. atau teori. telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya. Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. Diakui atau tidak. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. etika epistemologi. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris. III.

penindasannya yang telanjang. Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejarah mata rantai pemikiran Barat. kosmos. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya. sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). seraya mempertahankan doktrin . Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. manusia. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. Jadi. yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). yang menentang Trinitas. Katholik dan Protestan. tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. Semangat Renaissance ini. seperti masalah Tuhan. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. Gerakan ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–. Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance. tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. dan etika. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran. telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yang mendasarkan pada pengenalan inderawi. Meskipun demikian. Asal Usul Pragmatisme Gambar 7: Thomas AquinasSetelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan.1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya. yakni suatu gerakan atau usaha –yang berkisar antara tahun 1400-1600 M– untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragmatisme dalam konstelasi pemikiran Barat. adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan. Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. atau dengan kata lain. yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika. yakni keterlepasannya dari agama. Calvin. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss).1. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”. Jadi. sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan. maupun periode Scholastik (1000 .

dan Pragmatisme. manusia. Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. Pada abad XVII. salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. dengan dua ide pokoknya. seperti Feuerbach. yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). Selain George Berkeley dan David Hume. dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. John Locke (1632-1704). Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. Yang ada adalah ciriciri yang diamati. aliran mereka disebut dengan Idealisme. Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (17111776). seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya. Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Kant juga mempercayai Empirisme. yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. Karl Marx. filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. Pada abad sebelumnya. sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. Fichte (1762-1814). Pada abad XIX. Baruch Spinoza (1632-1677). Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. Hegel merupakan tokoh yang menonjol. Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). Mereka terbagi dalam dua pandangan. dengan Rasionalisme dari Descartes. . Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio. George Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”. tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). baik langsung maupun tidak. ekonomi. dan Tuhan. Namun demikian. Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. Dari ketiganya. fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia. pendidikan dan sebagainya. dan Pascal (1623-1662). dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679). namun tidak berarti semua dari pengalaman. agama. Sedang pada Masa Aufklarung. Filsafat Kant disebut Kritisisme. hukum. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). Materialisme. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia.Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Obyek luar ditangkap oleh indera. dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia. sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. yaitu Positivisme. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. Karenanya. F.

kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesissintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. siap diuji dengan perdebatan atau . Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). Nilai-nilai politik dan sosial menurut Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. 2. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Jadi. Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Kebenaran akan selalu berubah. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. sejalan dengan perkembangan pengalaman. atau yang mereka namakan positif. Pertama. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme. Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (18201895). Selain John Dewey. melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. sedang di sisi lain. sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James. adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”. Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. yang sifatnya tidak pasti. yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Dalam The Meaning of The Truth (1909). tidak diketahui kebenaran teori itu. Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Dengan kata lain. Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872). kebenaran itu merupakan suatu postulat. dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. Pembahasan tentang Pragmatisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman Gambar 8: William James(Hegel) pada John Dewey. Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James.Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. Atas dasar itu.

yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. Pandangan Pragmatisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Hanya saja. dengan demikian. mencoba. berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. Menganalisis masalah itu. dan kebenaran logis atau literal. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpikir induktif. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. James. 3. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. D. Menguji. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis. yaitu kebenaran dalam pernyataan. berbeda dengan empirisme tradisional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. Ketiga. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. harus merupakan hubungan yang dialami. maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini –yang juga disebut Practicalisme– . mendeduksi fakta dari prinsip. Pengalaman dan Pertumbuhan . berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. 5. Yang kedua adalah Complex Truth. Merasakan adanya masalah 2. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. Semua kebenaran pernyataan ini. Meskipun berbeda-beda penekanannya. Pertama adalah Trancendental Truth. sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. Memilih dan menganalisis hipotesis. yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. Sedang pemikir Empirisme. 4. Menurut James. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis.Kedua. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. Peirce membagi kebenaran menjadi dua. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan). Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum ke yang khusus. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa).diskusi. Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving.

tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif. sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. . dan tidak ada finalnya. Sebagai tokoh pragmatisme. Dengan model tersebut. melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. melainkan bersifat dinamis. tumbuh. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis. tidak statis. Sains. Dengan cara demikian. tidak mesti diperoleh dari buku-buku. Di lembaga ini. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman. Bahkan. siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya. filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai. hukum moral pun berubah. menurutnya. Hidup tidak statis. sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. khusunya malalui pendidikan. semuanya dalam perkembangan. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. dunia ini penciptaannya belum selesai. Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. tidak ada batas. pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan. All is in the making. Menurut Dewey. baik tingkah laku maupun pengetahuan. berkembang. Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. Segala sesuatu berubah. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. Akhirnya.Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. Oleh karenanya. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental. 2. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi. dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput. dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. Tujuan Pendidikan Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika. baik secara individual maupun kolektif. berkembang menjadi sempurna. penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi. Dalam masyarakat industri.

Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : 1. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan. yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran. Aqidah . Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Pandangan dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. Bahkan. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. dalam konteks ideologis. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Yakni. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial. kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama.Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan. dan lain-lain. yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Dengan demikian. E. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan. Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. Kebebasan tersebut harus dijamin. dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama. karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang. guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan. asas saling menghormati kepentingan bersama. Aqidah ini. Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. mengekspresikan pendapat. Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman. Begitu pula.

melalui serangkaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V . yakni keharusan menundukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. Ini adalah suatu kekeliruan. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. Penyelesaian jalan tengah. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath’i (yang bersifat pasti). membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. 4. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif. apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama).pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil –termasuk dalam hal ini Pragmatisme– pada hakekatnya adalah batil juga. antara dua pemikiran yang kontradiktif. Kedua pemikiran ini. Sedang yang kedua. alam semesta. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. alam semesta. Jadi. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. Menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemikiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. Jadi. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan. baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial.XV M). adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. dan kehidupan. Yang pertama. Dan dari sinilah dibahas. dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq ini. dan kehidupan. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. . maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. Sebab. Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaan-Nya. Sedangkan yang kedua.

yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Sedang Metode Akliyah. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. bukan Metode Ilmiah. ada dua point : a. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri. Argumen untuk ini. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). Maka dari itu. Sebab. kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. Pertama. yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. b. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia. 5. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Atas dasar dua argumen ini. bukan Metode Ilmiah. Ketiga. Dengan kata lain. logika. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. kelompok. sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah. diperoleh melalui Metode Akliyah. Atau dengan kata lain. Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak terindera seperti sejarah. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. Kedua. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu. Maka. bukan Metode Ilmiah. Dan informasi sebelumnya ini. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. bahasa. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. Maka. Maka. Ide ini keliru dari tiga sisi. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/material yang dapat diindera. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah . sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. dan hal-hal yang ghaib. Kebenaran suatu ide adalah satu hal.Memang.

Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah. janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. maka terputuslah amalnya. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. Maka. Selain itu. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya…” (Al A’raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme –sebagai standar ide dan perbuatan– sangat bertentangan dengan Islam. Jelas. Namun demikian. kecuali tiga perkara. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : “Apabila anak Adam meninggal dunia. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah. termasuk ide Pragmatisme. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. atau hipotesis. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. Allah SWT berfirman : “Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah” (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur. maka ambillah dia. bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara’. maka tinggalkanlah dia…” (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. ajaran. teori. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan. shadaqah jariyah. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan. yaitu Syari’at Islam. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. bukan sembarang manfaat. Muslim) Benar. Dan apa yang dilarangnya bagimu. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. ilmu yang bermanfaat. Allah SWT berfirman : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara’. anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HSR. dan bukan manfaat. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil . bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas manusia. Allah SWT juga telah berfirman : “Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. Maka. Tetapi maknanya adalah.melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Amerika. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara’. Jadi. 6.

misalnya. bahkan sama sekali tidak menghendaki adanya diskusi. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara praktis. epistemologis. yang penting bukan keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. malainkan langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. Teori yang tepat adalah teori yang berguna. Tinjaun Kritis lainnya Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak. teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak. Bagi kaum pragmatis. yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis. Karenanya. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya. Dalam rangka itulah. Dan konsekuensi praktis yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit. karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu.oleh manusia sesuai kehendaknya. demi sesegera mungkin . rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi praktis. ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar. baik bersifat psikologis. misalnya fungsi pendidikan. Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya. pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan. melainkan didasarkan pada pengalaman. Dekonstruksi Pragmatisme. pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada. mengabaikan peranan diskusi. ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak yang muluk-muluk. metafisik. Dalam menghadapi berbagai persoalan. religius dan sebagainya. kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele. Sebagai prinsip pemecahan masalah. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis. Justru di sini muncul masalah. Kebenaran suatu teori. 7. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita. filsafat. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak. tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi. Pragmatisme mempunyai dua sifat. pada konsekuansi praktisnya. dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya. pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. 8. Oleh karena itu. yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi praktisnya. Pendeknya. dan yang dalam kenyataannya berlaku. Pragmatisme. bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. yang siap pakai. mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa.

Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia. C. kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasilhasilnya.mengambil tindakan langsung. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif. ALIRAN PERENIALISME A. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan. maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau. terutama dalam bidang pendidikan. sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini. karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. tidak memiliki konsekuansi praktis. Tokoh-tokoh Perenialisme Gambar 9: AristotelesFilsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. IV. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri. Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan . kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Pendahuluan B. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebuoayaan dan pendidikan zaman sekarang. Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali.

Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang. ST. maka ia terkenal dengan nama perenialisme. dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus. harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki. Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi . Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas. Jadi aliran perenialisme dipakai untuk program pendidikan yang didasarkan atas pokok-pokok aliran Aristoteles dan S. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya. Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan. dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles. Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan.keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. Gambar 10: PlatoAsas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. kebudayaan yang mempunyai dua sayap. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. 1990: 64-65).T Thomas Aquinas. yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi. yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik. D. maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting. Tokoh-tokoh yang mengembangkan ini timbul dari lingkungan agama Katholik atau diluarnya. maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal. manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib. Jadi sikap untuk kembali kemasa Iampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini. Pandangan Perenialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme. khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas. Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki. bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis. Jadi epistemologi dari perenialisme.

yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni: 1. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian. maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri. jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru. karena telah memiliki evidensi diri sendiri. di mana tug as pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Dengan mengetahui rulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut. dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis. ekonomi. ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya. dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini. matematika. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh orangorang besar. bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa . Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca.seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. 2. dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. Di samping itu. ladi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru. Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau. menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain. Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau. filsafat. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme tersebut. Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut. Masak dalam arti hidup akalnya. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. politik. Dengan pengetahuan. sejarah. sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. bahan penerangan yang cukup. Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu.

Schula ini dapat dikurangi. 2. Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. diharapkan tiap individu itl! terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama. maka manusia itu setiap waktu adalah patensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu. esensi. sehingga makin lama makin jauh dari patensialitasnya. ukuran. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Perenialisme 1. Hal-hal yang bersifat partikular yang merintangi kehidupan dapat diatasi. misalnya partikular dan uni versal. batu bangunan dasar. Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi. Benda individual disini adalah bend a sebagaimana nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu. Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu. misalnya orang suka bermain sepatu roda. rumput. atau suka berpakaian bagus. tidak jarang pula dimilikinya akal.oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama. tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau bend a tapi merupakan unsur patensiaJitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diutarakan aleh Aristateles tetapi ia juga merupakan sesuatu yang datang bersama-sama dari sesuatu "apa" yang terkandung dalam inti (essence) dan potensialitas dengan tindakan untuk "berada" yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh ST. E. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian an tara pikir dengan benda-benda. Maka dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini manusia dapat makin mendekatkan diri kepada gerak yang tanpa gerak itu. Uraian di atas sejalan dengan apa yang dikatakan I. Setiap sesuatu yang ada. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir. Pandangan Epistemologis Perennialisme Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. perasaan dan kemauannya. Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia. Pandangan secara Ontologi Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individuIl. lembu. material dan spiritual. perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Bila dihubungkan dengan manusia. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. aksiden dan substansi. Thomas Aquinas. Adapun aksiden adalah keadaankeadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial. orang dalam bentuk. ialah tujuan dan bentuk terakhir dari segalanya. tumbuhtumbuhan dan sebagainya mempakan hal yang logis dalam karakternya. maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang. Misalnya meskipun manusia dalam hidupnya jarang dikuasai oleh sifat eksistensi kemanusiaan. hewan. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah . bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah patensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan. ini disebut pendidikan umum (general education). tidak jarang pula dimilikinya akal.R Poedjawijatna bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas. warna dan aktifitas tertentu.

Kebaikan tertinggi adalah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional. maka aspek jasmani. maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi. Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya. Dalam aksiologi. 3. Jadi manusia sebagai subyek dalam bertingkah laku. Sejalan dengan uraian di atas. Aristoteles dan Thomas Aquinas. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. Dengan azas seperti itu. tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural. Jelaslah bahwa pengetahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen. melainkan juga aksiologi. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya. kemauan dan pikiran. bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis. manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. telah memiliki potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. Kodrat wujud manusia yang pertama-tama adaJah lercermm dari jlwa dan pikirannya yang disebut dengan kekuataJl potensial yang membimbing tindakan manusia menuju pada Tuhan at au menjauhi Tuhan. di samping adapula kecenderungan-kecenderunngan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas. Khususnya dalam tingkah laku manusia. Untuk mencapai pendidikan itu. Menurut Plato. Secara etika. agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan. tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang. Pandangan Aksiologi Perennialisme Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural. prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. seperti Plato. dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. khususnya tingkah laku manusia. mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada . Dengan memperhatikan hal ini. Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah "kehahagiaan". Dengan demikian jelaslah bahwa perenialisme itu rnenghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu. yakni menerima universal yang abadi. relatif atau kebenaran probability. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme. Pendidikan hendaknya berorientasi pada p~tensi itu dan kepada masyarakat. Tindakan yang baik adalah yang bersesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi. kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal. hakiki dan berjalan dengan hukumhukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama.perhatian mengenai esensi dari sesuatu. kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. dengan kata lain melakukan kebaikan atau kejahatan.

Kedua aliran tersebut. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu sejalan dengan pandangan dasar di atas. Maka. sepaham dengan aliran perenialisme. Pendahuluan Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Dari prinsipprinsip pendidikan perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern. George Count. D. B. Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. aliran rekonstruksionisme dan perenialisme. Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale. mempertinggi kemampuan anak untuk memiliki akal sehat. Harold Rugg C. Untuk mencapai tujuan tersebut. Oalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan . ingin membangun masyarakat baru. Aliran perennialisme memilih cara tersendiri. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930. menengah. memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran. rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang. seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar. prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. perguruan tinggi. Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. Aliran rekonstruksionisme. aktif dan nyata. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt. proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. Dalam konteks filsafat pendidikan. maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri. Walaupun demikian. pada prinsipnya. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang scrasi dalam kehidupan. yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. masyarakat yang pantas dan adil. aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. V. untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia.dalam individu agar menjadi aktualitas. Aliran Rekonstruksionisme A. yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. kebingungan dan kesimpangsiuran.

agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. E. Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan. Pandangan secara Ontologi Dengan ontologi. dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. diperlukan nilai-nilai. Namun demikian. diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Kausa prima. dan dapat dipilih melalui akal pikiran. Descartes. kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju kearah yang khusus menam pakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti bewan dan tumbuhan atau benda lain disekeiling kita. 2. aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme. selain substansi yang dipunnyai dan tiap-tiap benda tersebut. meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna. yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan. keturunan. Tuhan adalah aktualitas murni yang sarna sekali sunyi dan substansi. akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian. . yang merupakan kecenderungan man usia. ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia. Tetapi. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Rekonstruksionisme 1. tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan. semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. nasionalisme. Pada prinsipnya. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi. dalam konteks ini. mampu meningkatkan kualitas kesehatan. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal. tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). secara umum ruang lingkup (scope) ten tang pengertian "nilai" tidak terbatas. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri. sarna azali dan abadi. sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Dengan demikian gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif tersendiri. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral.Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Pandangan Ontologis Dalam proses interaksi sesama manusia. dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. dan realita yang kita ketahui dan kita badapi tidak terlepas dari suatu sistem. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. Kemudian.

yakni bukti yang ada pada diri sendiri. kemudian berpikir rasional. kreasi estetika dan organisasi politik. dengan memakai cara pengambilan kesimpulan deduktif dan induktif. adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis. Dari gerakan intelektualitas pada abad pertengahan yang mencapai kristalisasi pada abad IX-XIV. . kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor. karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan. realita dan eksistensinya.Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal. Kemudian. Karenanya. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka. memberikan argumentasi rasio tentang eksistensi Tuhan. metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada pemikiran yang hakiki. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan). dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya. baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahun. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasaldari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. 3. Sebagai ilustrasi. yakni bersatu dengan Tuhan. Alselpus. Dalam perkembangan selanjutnya. Pandangan Epistemologis Kajian epsitemologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Kajian tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran. Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok. Penalaran-penalaran memiliki hukum-hukum tersendiri agar dijadikan pegangan ke arah penemuan definisi atau pengertian yang logis. pancaran un sur keindahan universal yang abadi. yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral. maha indah dan Tuhan. dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pad a prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral. penafsiran yang demikian didukung oleh Thomas Aquinas yang inti pembicaraannya untuk mengetahui realita yang ada yang hams berdasarkan iman dan perkembangan rasional hanya dapat dijawab dan mesti diikuti dengan iman. menyatakan bahwa secara kritis realita semesta dapat dipahami dan tidak ada sesuatu di alam nyata ini diluar kekuasaan Tuhan karena semua itu sebagai perwujudan dari kesempurnaannya. dengan jalan pernikirannya adalah silogisme. premis minor dan kesimpulan (condusion). Karenanya. Keindahan yang maujud itu hanyalah keindahan khusus. hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. Neo-Thomisme memandang bahwa etika. seorang tokoh utama scholastik. Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence. dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi. yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence). Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam.

multiply.com/ http://rajasidi.com/ http://wordpress.org/wiki/Halaman_Utama http://mimbardemokrasi.or.multiply.com/ http://www.com/athens/parthenon/4926/rencana/tunjang.com/HotSprings/6774/jurnal3.net/ http://gkagloria.htm http://www.php http://hhmsociety.com/ http://www.re-searchengines.id/index.VI.html .html http://www.wikipedia.com/artikel.wikipedia.geocities.blogspot.org/wiki/Main_Page http://e-pendidikan.geocities.com/ http://en.com/ http://id. DAFTAR PUSTAKA http://edu-articles.2bryan.

cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. Sedang yang ketiga. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. Kedua di sebut dengan landasan epistimologis. di sebut dengan landasan aksiologi. landasan ini akan menjawab. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita.ONTOLOGI. Dengan mengetahui jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. ilmu dikonfrontasikan dengan agama. EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. yang pertama di sebut landasan ontologis. Ilmu di kacaukan dengan seni. bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? .

Bagi pendekatan kuantitatif. idealisme. 1. abstraksi bentuk. menampilkan pemikiran semesta universal.PEMBAHASAN A. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. Studi tentang yang ada. tealaahnya akan menjadi kualitatif. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Ontologi membahas tentang yang ada. Ontologi Objek telaah ontologi adalah yang ada. Abstraksi fisik menampilkan . realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. yaitu : abstraksi fisik. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. atau dalam rumusan Lorens Bagus. 2. atau hylomorphisme. dan abstraksi metaphisik. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. naturalisme.

term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis.keseluruhan sifat khas sesuatu objek. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. badan itu fana’ (S-Tt) (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.[2] . Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.

John Locke. Menurut Locke. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak . Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati. bapak empirisme Britania. B. Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman.dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?[3] Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan a. Memang sebenarnya. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian. Epistemologi Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan sederhana tersebut. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology.Sementara Jujun S. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan.

c. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri. Analisa. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar. atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. Intusionisme Menurut Bergson. d. Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Fenomenalisme Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan. artinya. . maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. b. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian.kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu.

Mereka mengatakan. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan . Hendaknya diingat. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. yaitu kenyataan. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. C. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi. atau dengan perkataan lain. namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. Aksiologi Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. e.” Menghadapi kenyataan seperti ini. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentukhanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah. atau dengan perkataan lain.” melainkan faust yang menciptakan Goethe.

Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. oleh pengadilan agama tersebut. keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?). dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. Galileo dan ilmuwan seangkatannya. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual.” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. “segalanya punya moral. sedangkan di pihak lain. Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[4] . Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama. Galileo (1564-1642). maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “asalkan kau mampu menemukannya.keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus.

2. Aksiologi menjawab. Ontologis. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?[5] . cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?.PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : 1. 3.

Yogjakarta Sidi Gazalba. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.DAFTAR PUSTAKA Jujun S. Yogjakarta. H. 1995. Pengantar filsafat. . Jakarta. Sistematika filsafat II. Louis O. Pustaka Sinar Harapan. 1996. Prof. Suriasumantri. Yogjakarta. Penerbit Rake Sarasin. Tiara Wacana. Noeng Muhadjir. 2001. Filsafat Ilmu. Kattsouff. Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful