Filsafat Ilmu

A. Pengertian Filsafat Ilmu Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsepkonsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabangcabang pengetahuan intelektual.) Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis) Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

B. Fungsi Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
    

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. C.Substansi Filsafat Ilmu Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi. 1.Fakta atau kenyataan Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
 

  

Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek

kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah. 2. Kebenaran (truth) Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001) a. Kebenaran koherensi Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental. b.Kebenaran korespondensi Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik c.Kebenaran performatif Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. d.Kebenaran pragmatik Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis. e.Kebenaran proposisi Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisiproposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan

Corak dan Ragam Filsafat Ilmu Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu. dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. atau axioma yang sudah dipastikan benar. memprediksi proses dan produk yang akan datang. diantaranya:  Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam. deduktif. yaitu logika induksi dan logika deduksi. Pendapat lain yaitu dari Euclides. yaitu : (1) meta ideologi. (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu. Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional. koheren antara fakta dengan skema rasio. .Logika inferensi Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai. analisis faktor.Kebenaran struktural paradigmatik Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Belief pada Russel memang memuat moral. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. 4. tapi masih bersifat spesifik. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya.persyaratan formal suatu proposisi. 3. belum ada skema moral yang jelas. tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik. (Ismaun. f. Sedangkan untuk membuat penjelasan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif. Secara garis besarnya. postulat.Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan. ataupun reflektif. melainkan dilihat dari benar materialnya. yang menguasai positivisme. bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya. atau memberikan pemaknaan. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh. logika terbagi ke dalam 2 bagian. yakni berdasarkan logika. Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. Sampai sekarang analisis regresi. D.200:9) Di lain pihak. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden.

William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910) Gambar 1: William JamesSeorang psychologist dan seorang filosuf Amerika yang sangat terkenal.manusiawi. Tokoh-tokoh Progresivisme Filsafat pendidikan Progresivisme dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. produk domain kognitif dan produk alasan praktis. Pendahuluan Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita. atau suatu keterangan akan dikatakan benar. harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. aktivitas. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri. pencipta budaya. terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia. dengan demikian dapat mencari hal baru. Antropologi yaitu bahwa manusia mempunyai pengalaman. karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori. kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. efisien dan produktif. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends. untuk kesejahteraan. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit. Dinamakan eksperimentalisme. kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas. Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata. untuk mengembangkan kepribadian manusia. belajar "naturalistik". Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional. George Count. dan logis. Dalam pendapat lain. tidak mengeksploitasi orang lain. B. melainkan sebagai kepanjangan ide manusia. yakni kebudayaan. Progresivisme dinamakan instrumentalisme. 1.  Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. sifat-sifat alam. Progressivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi: Ilmu Hayat. pragmatisme berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar. benar. Aliran Progresivisme A. Bila etik dimasukkan. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. William Kilpatrick. lingkungan. bahwa manusia untuk mengetahui kehidupan semua masalah. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human. dan pengalaman-pengalamannya. maka perlu ditambah koheren dengan moral. karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup. dan Harold Rugg diawal abad 20. atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan. Paham . dapat menguasai dan mengaturnya.

Selanjutnya. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis. ia mengajar sastra klasik. seperti juga aspek dari eksistensi organik. antropologi. Dewey banyak menulis masalah-masalah sosial dan mengkritik konfrontasi demokrasi Amerika.1952) Gambar 2: John DeweyJohn Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika).S. Vermont. Torrey. Pada tahun 1899. Sebagian besar kehidupan Dewey dihabiskan dalam dunia pendidikan. dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu. berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit. Salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme. akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis. Dewey masuk kuliah di University of Vermont dengan spesifikasi bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Setelah tamat. Aplikasi ide Dewey. dan "Child Centered School". dosen serta penceramah dibidang filsafat. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil. Adapun ide filsafatnya yang utama. sains. namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional. Dan reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Prugressivisme Amerika. harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Bersama gurunya. Dewey juga belajar logika kepada Charles S. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran. ikut serta dalam aktifitas organisasi sosial dan membantu mendirikan sekolah baru bagi Social Reseach tahun 1919 di New York. baru peminatan. Dewey kemudian mengajar di University of Michigan (1884-1894). dan aljabar di sebuah sekolah menengah atas di Oil City. Selain itu. tepatnya tanggal 20 Oktober 1859. menjadi kepala jurusan filsafat. seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed". dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku. PierceJohn Dewey merupakan filosof. Lembaga-lembaga pendidikan . bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut.dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika. psikolog. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian. Hall. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Maka muncullah "Child Centered Curiculum". 2. juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme. John Dewey (1859 . baik teori maupun praktek. Pierce dan C. Pada tahun 1875. Dewey juga menjadi tutor pribadi di bidang filsafat. Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Pensylvania tahun 1879-1881. hukum. pendidik dan kritikus sosial Amerika. Dewey menulis buku The School and Society. H. psikologi dan pendidikan di University of Chicago tahun 1894. Gambar 3: Charles S. salah seorang psikolog eksperimental Amerika.P. Ia dilahirkan di Burlington. teori politik dan ilmu jiwa. Dewey melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor dari John Hopkins University tahun 1884 dengan disertasi tentang filsafat Kant.A. yang memformulasikan metode dan kurikulum sekolah yang membahas tentang pertumbuhan anak. tapi meskipun demikian. anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik. hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal.

dan yang paling fenomenal Democracy and Education (1916). Experience and Nature (1925). Oleh karena itu apabila orang menyebut pragmatisme. Diantara karya-karya Dewey yang dianggap penting adalah Freedom and Cultural. The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922). dan pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya. politik dan pembaharuan sosial. Gagasan filosofis Dewey yang terutama adalah problem pendidikan yang kongkrit. salah seorang penyumbang pemikir pragmatisme-progresivisme yang meletakkan dasar dengan penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi. Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat pendidikan progresif di Amerika. baik yang bersifat teoritis maupun praktis. 4. Georges Santayana Georges digolongkan pada penganut pragmatisme ini. bolehlah dianggap benar. seni. sebagaimana dikembangkan oleh lmanuel Kant. filsafat progressivisme atau pragmatisme ini merupakan perwujudan dan ide asal wataknya. Dewey akhirnya meninggal dunia tanggal 1 Juni 1952 di New York dengan meninggalkan tidak kurang dari 700 artikel dan 42 buku dalam bidang filsafat. yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. John S. Didalam banyak hal progressivisme identik dengan pragmatisme. Namun demikian. . Filsafat progressivisme sama dengan pragmatisme. toleran dan terbuka (open minded). Dewey juga memiliki sumbangan di bidang ekonomi. untuk menguasai dunia. karena amat banyak pengaruh yang bertentangan dengan apa yang dialaminya. Artinya filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ideide dasar filsafat pragmatisme di mana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk terus survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan. antropologi.1933) Gambar 4: Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. 3. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. Art and Experience. Hans Vaihinger (1852 . mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1885 1952). Gambar 5: Georges Santayana C. menolak absolutisme dan otoriterisme dalam segala bentuknya. jika pengertian itu berguna.yang disinggahi Dewey adalah University of Michigan. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. pendidikan. maka berarti sama dengan. Brubaeher. Tempat Asal Aliran Progresivisme Dikembangkan Progressivisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. sains. Tahun 1894 Dewey memperoleh gelar Professor of Philosophy dari Chicago University. Tapi amat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka. Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. Oleh karena itu filsafat progresivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan. Dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah. politik serta ilmu jiwa. Dengan demikian filsafat progresivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi akan nilai demokratis. University of Colombia dan University of Chicago. satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Pertama. hukum. asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja. Sehingga progresivisme dianggap sebagai The Liberal Road of Cultlire (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan.

Nampak bahwa aliran filsafat progresivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku (subyek) di dalam hidupnya. ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. Mereka harus memiliki sikap terbuka dan berkemauan baik sambil mendengarkan kritik dan ide-ide lawan sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argumen tcrsebut. Namun demikian filsafat progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia. pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. baik itu tantangan. Di sini·tersirat bahwa intelegensi merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung masalah. Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir. Maksudnya adalah manusia sejak lahir telah membawa bakat dan kemampuan (predisposisi) atau potensi (kemampuan) dasar terutama daya akalnya sehingga dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu. Tampak filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju) bertindak secara konstruktif. Sehubungan dengan itu Wasty Soemanto menyatakan bahwa daya akal sama dengan intelegensi. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan.peneliti. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusiamanusia yang berkualitas unggul. Adapun filsafat progresivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil budi manusia. toleran dan open minded (punya hati terbuka). akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. di mana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20. melainkan selalu berkembang dan berubah. insiatif. kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir (man's natural powers). curious (ingin mengetahui dan menyelidiki). aktif serta dinamis. tidak terikat oleh doktrin tertentu). di mana intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan-pemecahan masalah. adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya. guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya. tidak menolak perubahan. tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja. berkompetitif. Sebab. inovatif dan reformatif). . Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku. hambatan. Dengan demikian potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan dan hal ini menjadi perhatian progresivisme. D. guna mengembangkan pengalamannya.

anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak dengan jalan mengingat seperangkat fakta-fakta. serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang IPA dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. Dalam pembelajaran IPA hendaknya guru dapat merancang dan mempersiapkan suatu pembelajaran dengan memotivasi awal sehingga dapat menimbulkan suatu pertanyaan. dan Harold Rugg diawal abad 20.Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau kurikulum eksperimental. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan inkuari. 1. Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran IPA dengan situasi lebih alami dan situasi dunia nyata. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. aktivitas. Dengan metode pendidikan "Belajar Sambil Berbuat" (Learning by doing) dan pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem. William Kilpatrick. kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya. filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhlukmakhluk lain. tetapi dengan jalan menemukan dan menggeneralisasi sendiri sebagai hasil kemandiriannya. Dengan begitu. Dengan berpijak dari pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. Jadi terlihat bahwa siswa akan dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul diawal pembelajaran. Landasan filosofis pembelajaran IPA terpadu ialah filsafat pendidikan Progresivisme yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep IPA dan berpikir tingkat tinggi dan memungkinkan mendorong siswa peduli dan tanggap terhadap lingkungan dan budayanya. yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman. Seiring dengan pandangan di atas. bahwa filsafat progresivisme mengakui anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan megakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif. guru yang bertugas dapat mendorong. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. Ciri utama pembelajaran IPA adalah dimulai dengan pertanyaan atau masalah dilanjutkan dengan arahan guru menggali informasi. George Count. mengkonfirmasikan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui. Asas Belajar Pandangan mengenai belajar. mengajukan hipotesa. belajar "naturalistik". Dengan begitu. di mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. sampai dapat memutuskan kesimpulan yang disepakati bersama. untuk dapat bekerja sama. saling menghargai pendapat teman. untuk pembelajaran IPA hendaknya dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya heterogen. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis. saling berinteraksi dan mendiskusikan hasil secara bersama sama. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah .

Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan. Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nila nilai. jangan dipandang dari sudut orang dewasa. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses di mana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar "sekolah sambil berbuat" atau learning by doing. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. menyataka anak harus dididik sesuai dengan alamnya. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. Di samping itu. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak. Tegasnya. Di sini prinsip kebebasan prilaku. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive. .berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik. berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dalam pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat. bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. Beranjak dari ketiga pendapat di atas. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778). tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlar 1984: 48). John Locke (1632-1704) mengemukakan. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. mengutip pendapat John Dewey sebagai berikut: John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan: 1. Untuk dapat melestarikan usaha ini. minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. memberikan motivasi-motivasi dan stimulistimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. di mana anak sebagai subyek pendidikan. sedangkan guru sebagai pelayan siswa. Anak bukan miniatur orang dewasa. anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif. sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. Hal yang harus diperhatikan gura adalah "anak didik bukan manusia dewasa yang kecil" yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis.

Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik.2. bukan diciptakan . individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Pandangan Kurikulum Progressivisme Selain kemajuan atau progres. Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman. memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas. tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif. Memberi motivasi. Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja. melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah. dengan orientasi kehidupan masa kini. karena sekolah didirikan untuk anak. di mana ditandai dengan sifat verbalisme di mana terdapat cara belajar DDCH (duduk. 2. Guru mendominasi kegiatan belajar. tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang. catat. Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. setiap anak didik berbeda kemampuannya. Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress. di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan sekolah progresive. 5. hafal). Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula. sekolah kerja. maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. murid bersifat reseptif dan pasif saja. bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. 4. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. Dalam abad ke-20 ini terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. 3. dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil. Sikap progressvisme. Progresivisme menghendaki pendidikan yang progresif. dinamika dan sifat-sifat yang sejenis. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan 'kemerdekaan beraktivitas. Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional. sekolah pembangunan dan CBSA. Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. Dari uraian di atas. dan bukan perintah. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak. tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar belajar di sekolah. Murid tanpa diberikan kebebasan sarna sekali untuk bersikap dan berbuat. Hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru. lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. dengar. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting). Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar.

Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium. filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas. akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum.sekehendak yang mendidiknya. di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah. orang tua serta masyarakat. 2.H Kilpatrick. Untuk memenuhi keutuhan tersebut. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan sekolah sehingga . Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. Pengajaran dengan program unit. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak. metode yang diutamakan yaitu problem solving. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan. di bengkel. yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk semangat demokrasi pendidikan. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif. maupun psikomotor. suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga prinsip: 1. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952) dan dikembangkan oleh W. W. melainkan harus terintegrasi dalam unit. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu kehidupan yang bulat dan menyeluruh. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman. melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada kemampuan intelektualnya. di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit. Dalam hal ini.H Kilpatrick mengatakan. John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan. melakukan pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. afektif. 3. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.

Kebenaran dan kemampuan suatu ide memecahkan masalah. Pengetahuan harus disesuaikan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. 2. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek. kecerdasan dari individu-individu. E. Pengalaman adalah perjuangan. Pandangan secara Ontologi Asal Hereby atau asal keduniawian. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu. Pandangan secara Aksiologi Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa. kesedihan. sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia.anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan. hukum prinsip. yang berarti perkembangan. (3) kurikulum yang sanggup mengubah prilaku anak didik menjadi kreatif. dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. Pandangan secara Epistemologi Pengetahuan adalah informasi. adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas. maju setapak demi setapak mulai dari yang mudahmudah menerobos kepada yang sulit-sulit (proses perkembangan yang lama). fakta. dan dalam hal ini apa saja yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang. baik atau buruk dapat dikatakan adalah menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia. pengalaman manusia tentang penderitaan. keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku. Nilai itu benar atau salah. Filsafat . 4. proses. Dari penjelasan yang dikemukakan oleh W. kekuasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi pengalaman. Melalui proses pendidikan dengan menggunaka kurikulum yang bersifat intergrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial seharihari dengan baik. Pandangan dari Sudut Budaya Kebudayaan sebagai hasil budi manusia. sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. dengan demikian adanya pergaulan. kebenaran adalah (sekuen dan pada sesuatu ide.H Kilpatrick tersebut ada beberapa hal yang perlu diungkapkan yaitu: (1) kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. kepustakaan). Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. Manusia akan tetap hidup berkembang. realita pengetahuan dan daya guna. jika ia mampu mengatasi perjuangan. kegembiraan. Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan (buku-buku. 3. Pengetahuan diperoleh manusia baik seeara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkun hidupnya. kehendak. (2) kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik. perubahan dan berani bertindak. perasaan. Pengalaman adalah suatu sumber evolusi. maka makin besar persiapan menghadapi tuntutan masa depan. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan. adaptif dan kemandirian dan (4) kurikulum bersifat fleksibel atau luwes berisi tentang berbagai macam bidang studio. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Progresivisme 1. melainkan selalu berkembang dan berubah.

Dan disana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental. II. alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri. akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. Sehingga semakin tinggi tingkat berpikirnya manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. yang memenuhi tuntutan zaman. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju. dan dijadikan pangkal berfilsafat. . di mana dengan pembaharuanpembaharuan pendidikan telah dapat mempengaruhi manusia untuk maju (progress). disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. karena itu timbul pada zaman itu. ALIRAN ESENSIALISME A. Maka. Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Alamlah yang mengendalikan manusia. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. rumahrumah mewah. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa. yang menjadi salah satu eksponen essensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. Pendahuluan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme. Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya. Hidupnya hanya bergantung dengan alam. di mana serta terbuka untuk perubahan. Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. telah mempengaruhi pendidikan. John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. Alamlah yang dikendalikan oleh manusia.progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman. Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahanperubahan. Dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. pandanganpandangannya bersifat spiritual. titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. Realisme modern. sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional untuk memasuki zaman modern (progresif).

Tempat Asal Aliran Esensialisme Dikembangkan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. melainkan pertemuan keduanya. dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah. Tokoh-tokoh Esensialisme 1. karena minat. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. serta segala isinya. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) Gambar 6: Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. yang merupakan pencipta adanya kosmos. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasangagasan (ide-ide). 2. melaksanakan). George Santayana George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. C. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut . toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. B. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai. di mana serta terbuka untuk perubahan.

Bogoslousky. menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Pandangan Immanuel Kant. Determiuisme mutlak. ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal. yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda. yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. 2. yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Menurut idealisme. asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar Idealisme. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas: 1. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka. Bila orang berhadapan dengan benda-benda. Di . Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Jadi.esensialisme. Budi membentuk. Bentuk. namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. lelapi bendabenda itu yang terarah kepada budi. kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian: 1. yang bersama-sama membentuk dunia ini. mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. yang memenuhi tuntutan zaman. ruang dan ikatan waktu. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. mengatur dalam ruang dan waktu. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif. bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri. memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk. 2. Maka. D. jadi harus ada. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori. belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Dengan mengambil landasan pikir tersebut. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilainilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. karena itu timbul pada zaman itu. Determinisme terbatas. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. sebagai filsafat hidup. Universum: Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1.

Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Esensialisme 1. Adapun uraian mengenai realisme dan idealisme ialah: 1. emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan. kesusasteraan. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi . sifat. fisiologi. Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. dapat berkembang harmonis dan organis. kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik. kebenaran dan keagungan. penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. Maka dalam sejarah perkembangannya. Sivilisasi: Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk. mengejar kebutuhan. asal usul tata surya dan lain-Iainnya. 3. yang sederhana merupakan fundamen at au dasar dari susunannya yang paling kompleks. Ilmu pengetahuan yang mempengaruhi aliran realisme dapat dilihat dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisika dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jalan khusus.antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam. 4. yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. E. Sedangkan oleh ilmu-ilmu lain dikembangkanlah teori mekanisme. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya. kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. dan hidup aman dan sejahtera . . Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. Kepribadian: Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. realisme dan sebagainya. kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme. agama. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan. Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak. Dengan demikian berarti bahwa suatu kejadian yang paling sederhana pun dapat ditafsirkan menurut hukum alam di antaranya daya tarik bumi. 2. fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. Pandangan secara Ontologi Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela. sesuai dengan kemanusiaan ideal. Realisme yang mendukung esensialisme yang disebut realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tcmpat manusia di dalamnya. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. kesenian. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan.

Manusia mengetahui sesuatu hanya di dalam dan melalui ide. Sebaliknya realist berpendapat bahwa kita hanya mengctahui sesuatu realila di dalam melalui jasmani. idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. Menurut T. Ciri lain mengenai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam pengertian-pengertian makrokosmos dan mikrokosmos. Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. ldealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme obyektif. Mikrokosmos menunjuk kepada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis. rohaniah. sosial. baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan. pikiran itu adalahjasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukumhukum phisis. 2. Pandangan Kontraversi Jasmaniah dan Rohaniah Perbedaan idealisme dan realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. biologi. Maksudnya adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. Pengertian mengenai makrokosmos dan mikrokosmos merupakan dasar pengertian mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. Pandangan secara Epistemologi Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. Untuk mengerti manusia. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit.dan dunia itu ada dan terbangun atas dasar sebab akibat. 2. adalah makhluk yang semua tata serta kesatuannya merupakan bagian yang tiada terpisahkan dari alam semesta. rasio manusia adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang Maha Sempurna. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan. . dan agama. Sebab kesadaran kita. Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda. Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan. Bagi sebagian penganut realisme. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. ilmu alam. Sebab jika manusia mampu menyadari realita scbagai mikrokosmos dan makrokosmos. tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain. 1. tarikan dan tekanan mesin yang sangat besar. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian manusia. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. 2. approach personalisme itu hanya melalui introspeksi. jasmani dan rohani. Pendekatan (Approach) ldealisme pada Pengetahuan Kita hanya mengerti rohani kita sendiri. Manusia sebagai individu.H Green. Mikrokosmos menunjuk kepada fakta tunggal pada tingkat manusia. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual.

Pandangan secara Aksiologi Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Di samping koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan behi viorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaa yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan terhadap berhas tidaknya belajar yang dilakukan. 4. Dan manusia dalam hidupnya sdalu membentuk tatajawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan respon. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai akibat adanya saling . haruslah bersikap formal dan teratur. Neorealisme Secara psikologi neorealisme lebih erat dengan behaviorisme Baginya pengetahuan diterima. George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Untuk ini. tergantung pada pandangun-pandangan idealisme dan realisme sebab essensialisme terbina aleh kedua syarat tersebut. Bagi aliran ini. Menurut idealisme bahwa sikap.an dan pengamatan. 3. ekspresi perasaan yang mencerminkan adanya serba kesungguhan dan kesenangan terhadap pakaian resmi yang dikenakan dapat menunjukkan keindahan baik pakaian dan suasana kesungguhan tersebut. karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak interaktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. Cretical Realisme Aliran ini menyatakan bahwa media antara inetelek dengan realita adalah seberkas penginderi'. perhatian dan pengalaman seseorang turut menentukan adanya kualitas tertentu. a. yang sdalu menunjukkan kualitas yang tinggi dan rendah atau kuat lemah. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter at au nilai-nilai. Teori Nilai Menurut Idealisme Penganut idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos. Menurut Teori Koneksionisme Teori ini menyatakan semua makhluk. Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusia pada umumnya. Dengan demikian terjadi gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respon. ltulah sebabnya neorialisme menafsirkan badan se bagai respon khusus yang berasal dari luar dengan sedikit atat tanpa adanya proses intelek. melaksanakan). Di Amerika ada dua tipe yang utama: a.Teori Nilai Menurut Realisme Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. realisme bersandarkan atas keilumuan dan lingkungan. karena minat. b. nilainilai berasal. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. b. tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk. Orang yang berpakaian serba formal seperti dalam upacara atau peristiwa lain yang membutuhkan suasana tenang. termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon. Tipe Epistemologi Realisme Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme. ditanggap langsung oleh pikirar dunia realita.3.

Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiranpemikiran Charles S. benar tidaknya suatu ucapan. telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya. Pierce dan William James. paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat. etika epistemologi. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang. dalil. Dalam konteks inilah. Pierce (1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme. Tempat Asal Aliran Pragmatisme Dikembangkan Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa.hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh dari Iingkungan. yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Pendahuluan Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan. William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya. yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika. yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek kehidupan. Salah satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 . tidak terkecuali di dunia pendidikan. filsafat politik.1952). Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978. Pragmatisme. atau teori. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris. Atas dasar itu. Tokoh-tokoh Pragmatisme Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma. C. baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme. Menurut filsafat ini. B. artinya yang dikerjakan. dalil. seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (15611626). ALIRAN PRAGMATISME A. . perbuatan. di samping itu. Diakui atau tidak. Pragmatisme. sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James (1842 . Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia–yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya.1910) di Amerika Serikat. III. dan pendidikan. semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan. yang dilakukan. telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme. dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. merupakan “nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama”.

Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya. Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejarah mata rantai pemikiran Barat. sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan. maupun periode Scholastik (1000 . ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan. dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. manusia. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. Jadi. Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. Jadi. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). kosmos. yakni suatu gerakan atau usaha –yang berkisar antara tahun 1400-1600 M– untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. atau dengan kata lain. penindasannya yang telanjang. Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragmatisme dalam konstelasi pemikiran Barat. mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). seperti masalah Tuhan. Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. seraya mempertahankan doktrin . tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance.1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. yang menentang Trinitas. yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yang mendasarkan pada pengenalan inderawi. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri. Katholik dan Protestan. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. Asal Usul Pragmatisme Gambar 7: Thomas AquinasSetelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. Calvin. adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika. Meskipun demikian. yakni keterlepasannya dari agama. Semangat Renaissance ini. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. Gerakan ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–. telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss). dan etika.1. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya.

yaitu Positivisme. George Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”. fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia. dan Pragmatisme. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. Baruch Spinoza (1632-1677). atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Pada abad sebelumnya. Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. Pada abad XIX. Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya. Selain George Berkeley dan David Hume. John Locke (1632-1704). yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. dan Pascal (1623-1662). Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. Pada abad XVII. hukum. Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). Mereka terbagi dalam dua pandangan. manusia. agama. dengan dua ide pokoknya. Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia. namun tidak berarti semua dari pengalaman. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Sedang pada Masa Aufklarung. Obyek luar ditangkap oleh indera. dengan Rasionalisme dari Descartes. Materialisme. Dari ketiganya. F. Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (17111776). yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). seperti Feuerbach. dan Tuhan. Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). . Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. Kant juga mempercayai Empirisme. baik langsung maupun tidak. pendidikan dan sebagainya. dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia. aliran mereka disebut dengan Idealisme. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia. filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. Yang ada adalah ciriciri yang diamati. Karenanya. Hegel merupakan tokoh yang menonjol. tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679). yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio. ekonomi.Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. Filsafat Kant disebut Kritisisme. Namun demikian. sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). Karl Marx. Fichte (1762-1814). salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik.

Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. Atas dasar itu. yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. sejalan dengan perkembangan pengalaman. adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”. Jadi. Selain John Dewey. suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Kebenaran akan selalu berubah. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. siap diuji dengan perdebatan atau . kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman Gambar 8: William James(Hegel) pada John Dewey. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. 2. Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (18201895). Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. Dalam The Meaning of The Truth (1909). Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. Dengan kata lain. Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Pertama. yang sifatnya tidak pasti. sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesissintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James. Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach. nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri. sedang di sisi lain. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872).Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. tidak diketahui kebenaran teori itu. tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. atau yang mereka namakan positif. kebenaran itu merupakan suatu postulat. Pembahasan tentang Pragmatisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya. Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu.

dengan demikian. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. Pandangan Pragmatisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. 3. yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. Pengalaman dan Pertumbuhan . James. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. berbeda dengan empirisme tradisional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta. Semua kebenaran pernyataan ini. harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. harus merupakan hubungan yang dialami. yaitu kebenaran dalam pernyataan. yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving. Sedang pemikir Empirisme. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. Memilih dan menganalisis hipotesis. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpikir induktif. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini –yang juga disebut Practicalisme– . Menurut James. Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum ke yang khusus. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. Menguji. D. mendeduksi fakta dari prinsip. Menganalisis masalah itu. Meskipun berbeda-beda penekanannya. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular. 4.Kedua.diskusi. yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan). Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa). Yang kedua adalah Complex Truth. Hanya saja. 5. mencoba. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. Ketiga. Pertama adalah Trancendental Truth. Peirce membagi kebenaran menjadi dua. berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. Merasakan adanya masalah 2. dan kebenaran logis atau literal.

tumbuh. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. tidak ada batas. tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif. siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual. Dalam masyarakat industri. melainkan bersifat dinamis. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. tidak statis. Dengan cara demikian. baik secara individual maupun kolektif. Sains. tidak mesti diperoleh dari buku-buku. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Sebagai tokoh pragmatisme. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi. berkembang. Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. dan tidak ada finalnya. Bahkan.Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses. menurutnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis. hukum moral pun berubah. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat. Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. khusunya malalui pendidikan. baik tingkah laku maupun pengetahuan. Akhirnya. dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah. Dengan model tersebut. . tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. dunia ini penciptaannya belum selesai. Tujuan Pendidikan Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika. Di lembaga ini. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. berkembang menjadi sempurna. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi. filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. Hidup tidak statis. Oleh karenanya. pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. semuanya dalam perkembangan. dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput. All is in the making. Menurut Dewey. melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. 2. Segala sesuatu berubah.

sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. E. maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. Kebebasan tersebut harus dijamin. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan. Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. Aqidah . Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan. yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran. asas saling menghormati kepentingan bersama. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya. Aqidah ini. guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan. yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda. Begitu pula. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan. dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. Dengan demikian. Bahkan. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. mengekspresikan pendapat. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan. kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama. dan lain-lain. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial. Yakni. dalam konteks ideologis. yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. Pandangan dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru.Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : 1.

Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. Penyelesaian jalan tengah. Menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemikiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. antara dua pemikiran yang kontradiktif. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. Jadi. 4. apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. alam semesta.XV M). Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath’i (yang bersifat pasti). Sedangkan yang kedua. . dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. Yang pertama. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. Dan dari sinilah dibahas. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi. melalui serangkaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. Sebab. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil –termasuk dalam hal ini Pragmatisme– pada hakekatnya adalah batil juga. dan kehidupan. yakni keharusan menundukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. alam semesta. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaan-Nya. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. dan kehidupan. ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq ini. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif. Jadi. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V . Ini adalah suatu kekeliruan. membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). Kedua pemikiran ini. Sedang yang kedua. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan.pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat.

yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. Dengan kata lain. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah . Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Sedang Metode Akliyah. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain. maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri. Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah. Argumen untuk ini. Maka. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. Dan informasi sebelumnya ini. bahasa. 5. Maka. Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Atas dasar dua argumen ini. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. Sebab. bukan Metode Ilmiah. tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. bukan Metode Ilmiah. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. Maka dari itu. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. ada dua point : a. dan hal-hal yang ghaib. kelompok. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/material yang dapat diindera. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia. Ide ini keliru dari tiga sisi. diperoleh melalui Metode Akliyah. sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak terindera seperti sejarah. Pertama. Maka. Kedua. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. logika. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu. Ketiga. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan.Memang. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. bukan Metode Ilmiah. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). b.

janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. ilmu yang bermanfaat. anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya. Allah SWT berfirman : “Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah” (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Amerika. maka ambillah dia.” (HSR. bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara’. maka tinggalkanlah dia…” (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. shadaqah jariyah. Tetapi maknanya adalah. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. teori. Namun demikian. bukan sembarang manfaat. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme –sebagai standar ide dan perbuatan– sangat bertentangan dengan Islam. maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan.melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas manusia. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara’. kecuali tiga perkara. Selain itu. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. dan bukan manfaat. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya…” (Al A’raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. 6. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. atau hipotesis. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah. Muslim) Benar. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. Dan apa yang dilarangnya bagimu. Jadi. ajaran. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : “Apabila anak Adam meninggal dunia. Maka. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide. Allah SWT berfirman : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara’. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. Maka. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil . maka terputuslah amalnya. yaitu Syari’at Islam. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram. Allah SWT juga telah berfirman : “Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. Jelas. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya. termasuk ide Pragmatisme.

oleh manusia sesuai kehendaknya. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. Pendeknya. Pragmatisme. tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis. Teori yang tepat adalah teori yang berguna. malainkan langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi praktisnya. dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya. Justru di sini muncul masalah. teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak. pada konsekuansi praktisnya. yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah. pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada. dan yang dalam kenyataannya berlaku. kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele. pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan. ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut. yang siap pakai. rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi praktis. karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu. 7. Pragmatisme mempunyai dua sifat. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita. pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. Dalam menghadapi berbagai persoalan. sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara praktis. religius dan sebagainya. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. mengabaikan peranan diskusi. ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak yang muluk-muluk. misalnya. pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri. Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya. Karenanya. bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. filsafat. epistemologis. Kebenaran suatu teori. Dekonstruksi Pragmatisme. metafisik. yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. Oleh karena itu. Tinjaun Kritis lainnya Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak. mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa. yang penting bukan keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. baik bersifat psikologis. Bagi kaum pragmatis. Dan konsekuensi praktis yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi. Sebagai prinsip pemecahan masalah. melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit. bahkan sama sekali tidak menghendaki adanya diskusi. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar. demi sesegera mungkin . misalnya fungsi pendidikan. 8. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak. Dalam rangka itulah. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis. melainkan didasarkan pada pengalaman. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya.

Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini. terutama dalam bidang pendidikan. dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasilhasilnya. maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. Tokoh-tokoh Perenialisme Gambar 9: AristotelesFilsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. Pendahuluan B. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali. Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia. kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan . sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebuoayaan dan pendidikan zaman sekarang. C. IV.mengambil tindakan langsung. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif. karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini. kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan. ALIRAN PERENIALISME A. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. tidak memiliki konsekuansi praktis. di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan.

yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik. Jadi epistemologi dari perenialisme. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis. Pandangan Perenialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal. Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H. 1990: 64-65).T Thomas Aquinas. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya. karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang. maka ia terkenal dengan nama perenialisme. maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting. D. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya. dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus. Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya. Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. ST. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi . Jadi aliran perenialisme dipakai untuk program pendidikan yang didasarkan atas pokok-pokok aliran Aristoteles dan S.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan. yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki. khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas. Jadi sikap untuk kembali kemasa Iampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini. maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh. yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri. kebudayaan yang mempunyai dua sayap. Gambar 10: PlatoAsas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat. dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib. Tokoh-tokoh yang mengembangkan ini timbul dari lingkungan agama Katholik atau diluarnya. Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme. Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan.keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang.

Masak dalam arti hidup akalnya. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini. Dengan mengetahui rulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme tersebut. dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau. Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham. Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. matematika. orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru. 2. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca. sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. ladi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh orangorang besar. karena telah memiliki evidensi diri sendiri. dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Di samping itu. dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian. di mana tug as pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. filsafat. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya. Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. bahan penerangan yang cukup. ekonomi. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra. maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri.seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. politik. Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu. jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni: 1. Dengan pengetahuan. bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa . sejarah.

Adapun aksiden adalah keadaankeadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial. Pandangan secara Ontologi Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individuIl. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah patensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan. Misalnya meskipun manusia dalam hidupnya jarang dikuasai oleh sifat eksistensi kemanusiaan. tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau bend a tapi merupakan unsur patensiaJitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diutarakan aleh Aristateles tetapi ia juga merupakan sesuatu yang datang bersama-sama dari sesuatu "apa" yang terkandung dalam inti (essence) dan potensialitas dengan tindakan untuk "berada" yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh ST. Thomas Aquinas. Uraian di atas sejalan dengan apa yang dikatakan I. ukuran. tidak jarang pula dimilikinya akal. ialah tujuan dan bentuk terakhir dari segalanya. tidak jarang pula dimilikinya akal. maka manusia itu setiap waktu adalah patensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. esensi. lembu. rumput. batu bangunan dasar. warna dan aktifitas tertentu. sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu. perasaan dan kemauannya. Setiap sesuatu yang ada. Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi. misalnya orang suka bermain sepatu roda. Pandangan Epistemologis Perennialisme Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. aksiden dan substansi. Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah . Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. Bila dihubungkan dengan manusia. orang dalam bentuk. diharapkan tiap individu itl! terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama. Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. atau suka berpakaian bagus. hewan. tumbuhtumbuhan dan sebagainya mempakan hal yang logis dalam karakternya. material dan spiritual. Schula ini dapat dikurangi. E. Maka dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini manusia dapat makin mendekatkan diri kepada gerak yang tanpa gerak itu. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir.oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama. perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Hal-hal yang bersifat partikular yang merintangi kehidupan dapat diatasi. misalnya partikular dan uni versal. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Perenialisme 1. Benda individual disini adalah bend a sebagaimana nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu. 2.R Poedjawijatna bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas. maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang. sehingga makin lama makin jauh dari patensialitasnya. ini disebut pendidikan umum (general education). Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian an tara pikir dengan benda-benda. Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia.

3. Jadi manusia sebagai subyek dalam bertingkah laku. khususnya tingkah laku manusia. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Pendidikan hendaknya berorientasi pada p~tensi itu dan kepada masyarakat. Menurut Plato. relatif atau kebenaran probability. Dengan memperhatikan hal ini. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis. Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya.perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Kebaikan tertinggi adalah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional. tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme. hakiki dan berjalan dengan hukumhukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama. kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal. Secara etika. tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia. yakni menerima universal yang abadi. seperti Plato. agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. di samping adapula kecenderungan-kecenderunngan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu. dengan kata lain melakukan kebaikan atau kejahatan. kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas. karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi. Sejalan dengan uraian di atas. di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. Tindakan yang baik adalah yang bersesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. Dengan azas seperti itu. melainkan juga aksiologi. Pandangan Aksiologi Perennialisme Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural. kemauan dan pikiran. dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah "kehahagiaan". maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi. Khususnya dalam tingkah laku manusia. Untuk mencapai pendidikan itu. maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. Aristoteles dan Thomas Aquinas. Jelaslah bahwa pengetahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen. Dalam aksiologi. Kodrat wujud manusia yang pertama-tama adaJah lercermm dari jlwa dan pikirannya yang disebut dengan kekuataJl potensial yang membimbing tindakan manusia menuju pada Tuhan at au menjauhi Tuhan. prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. telah memiliki potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada . maka aspek jasmani. bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi. Dengan demikian jelaslah bahwa perenialisme itu rnenghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu. karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan. emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang.

Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. pada prinsipnya. Dari prinsipprinsip pendidikan perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern. proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri. masyarakat yang pantas dan adil. Oalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Aliran rekonstruksionisme. aktif dan nyata. yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. aliran rekonstruksionisme dan perenialisme. Untuk mencapai tujuan tersebut. Walaupun demikian. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930. kebingungan dan kesimpangsiuran. memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran. Pendahuluan Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Aliran Rekonstruksionisme A. menengah. Aliran perennialisme memilih cara tersendiri. untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia. Harold Rugg C. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.dalam individu agar menjadi aktualitas. sepaham dengan aliran perenialisme. Dalam konteks filsafat pendidikan. yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale. mempertinggi kemampuan anak untuk memiliki akal sehat. Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Kedua aliran tersebut. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar. rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang scrasi dalam kehidupan. Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu sejalan dengan pandangan dasar di atas. Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan . Maka. ingin membangun masyarakat baru. aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. B. George Count. perguruan tinggi. V. D.

Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Rekonstruksionisme 1. seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini. Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju kearah yang khusus menam pakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti bewan dan tumbuhan atau benda lain disekeiling kita. selain substansi yang dipunnyai dan tiap-tiap benda tersebut. mampu meningkatkan kualitas kesehatan. tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan. . Pada prinsipnya. yang merupakan kecenderungan man usia. yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia. Dengan demikian gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif tersendiri. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan. Namun demikian. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri. Kausa prima. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal. keturunan. diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. diperlukan nilai-nilai. secara umum ruang lingkup (scope) ten tang pengertian "nilai" tidak terbatas. sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral. sarna azali dan abadi. Kemudian. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Tetapi. aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. E.Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan. kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit. dalam konteks ini. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. dan dapat dipilih melalui akal pikiran. dan realita yang kita ketahui dan kita badapi tidak terlepas dari suatu sistem. nasionalisme. meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna. Pandangan secara Ontologi Dengan ontologi. aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme. dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). Tuhan adalah aktualitas murni yang sarna sekali sunyi dan substansi. yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian. agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. 2. semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. Descartes. Pandangan Ontologis Dalam proses interaksi sesama manusia.

dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya. dengan memakai cara pengambilan kesimpulan deduktif dan induktif. Neo-Thomisme memandang bahwa etika. hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. seorang tokoh utama scholastik. Kajian tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran.Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal. Penalaran-penalaran memiliki hukum-hukum tersendiri agar dijadikan pegangan ke arah penemuan definisi atau pengertian yang logis. kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual. dengan jalan pernikirannya adalah silogisme. . Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam. Dari gerakan intelektualitas pada abad pertengahan yang mencapai kristalisasi pada abad IX-XIV. Dalam perkembangan selanjutnya. estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasaldari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. yakni bukti yang ada pada diri sendiri. penafsiran yang demikian didukung oleh Thomas Aquinas yang inti pembicaraannya untuk mengetahui realita yang ada yang hams berdasarkan iman dan perkembangan rasional hanya dapat dijawab dan mesti diikuti dengan iman. karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada pemikiran yang hakiki. maha indah dan Tuhan. premis minor dan kesimpulan (condusion). Pandangan Epistemologis Kajian epsitemologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. Alselpus. pancaran un sur keindahan universal yang abadi. dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pad a prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral. kreasi estetika dan organisasi politik. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka. adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). Karenanya. yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral. yakni bersatu dengan Tuhan. 3. Sebagai ilustrasi. Karenanya. Keindahan yang maujud itu hanyalah keindahan khusus. yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence). dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi. memberikan argumentasi rasio tentang eksistensi Tuhan. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan). menyatakan bahwa secara kritis realita semesta dapat dipahami dan tidak ada sesuatu di alam nyata ini diluar kekuasaan Tuhan karena semua itu sebagai perwujudan dari kesempurnaannya. kemudian berpikir rasional. Kemudian. realita dan eksistensinya. Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok. Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence. baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahun.

or.org/wiki/Halaman_Utama http://mimbardemokrasi.geocities.com/ http://www.com/ http://en.net/ http://gkagloria.id/index.com/ http://www.html http://www.html .htm http://www.com/ http://wordpress.com/ http://rajasidi.geocities.multiply.php http://hhmsociety.2bryan.re-searchengines.com/artikel. DAFTAR PUSTAKA http://edu-articles.com/athens/parthenon/4926/rencana/tunjang.blogspot.wikipedia.VI.multiply.com/ http://id.wikipedia.com/HotSprings/6774/jurnal3.org/wiki/Main_Page http://e-pendidikan.

seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. di sebut dengan landasan aksiologi. berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? . Sedang yang ketiga. Ilmu di kacaukan dengan seni. yang pertama di sebut landasan ontologis. Kedua di sebut dengan landasan epistimologis.ONTOLOGI. landasan ini akan menjawab. Dengan mengetahui jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu. ilmu dikonfrontasikan dengan agama. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya.

abstraksi bentuk. tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.PEMBAHASAN A. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. 1. 2. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. Bagi pendekatan kuantitatif. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Abstraksi fisik menampilkan . realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. yaitu : abstraksi fisik. dan abstraksi metaphisik. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. idealisme. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. menampilkan pemikiran semesta universal. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Ontologi membahas tentang yang ada. Studi tentang yang ada. Ontologi Objek telaah ontologi adalah yang ada. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. tealaahnya akan menjadi kualitatif. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. atau dalam rumusan Lorens Bagus. naturalisme. atau hylomorphisme.

sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. badan itu fana’ (S-Tt) (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi.[2] . term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori.keseluruhan sifat khas sesuatu objek. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat.

Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?[3] Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan a. Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati. Epistemologi Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak . Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan.Sementara Jujun S. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. John Locke. Menurut Locke. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. bapak empirisme Britania. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Memang sebenarnya. atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian. B. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan sederhana tersebut.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut.dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang.

artinya. Intusionisme Menurut Bergson. Fenomenalisme Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. c. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. b. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar. Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. d. karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. Kant membuat uraian tentang pengalaman. .kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan. melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri. Analisa.

intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. Aksiologi Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentukhanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. atau dengan perkataan lain. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita. C. Hendaknya diingat.” Menghadapi kenyataan seperti ini. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka. namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. yaitu kenyataan. Mereka mengatakan.” melainkan faust yang menciptakan Goethe. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi. e. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan . namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. atau dengan perkataan lain. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust.Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah.

namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama. oleh pengadilan agama tersebut. “segalanya punya moral.” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib. sedangkan di pihak lain. Galileo dan ilmuwan seangkatannya. pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?). terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. “asalkan kau mampu menemukannya. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[4] . Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik.keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Galileo (1564-1642). dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual.

merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. Ontologis. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?[5] . Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. 3. 2.PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : 1. Aksiologi menjawab.

Tiara Wacana. Noeng Muhadjir. 1996. Kattsouff. 1995. Jakarta. 2001. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Suriasumantri. Pustaka Sinar Harapan. Filsafat Ilmu. Dr. H. . Yogjakarta. Penerbit Rake Sarasin. Sistematika filsafat II.DAFTAR PUSTAKA Jujun S. Pengantar filsafat. Yogjakarta. Prof. Yogjakarta Sidi Gazalba. Louis O.