Filsafat Ilmu

A. Pengertian Filsafat Ilmu Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsepkonsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabangcabang pengetahuan intelektual.) Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis) Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

B. Fungsi Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
    

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. C.Substansi Filsafat Ilmu Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi. 1.Fakta atau kenyataan Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
 

  

Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek

kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah. 2. Kebenaran (truth) Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001) a. Kebenaran koherensi Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental. b.Kebenaran korespondensi Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik c.Kebenaran performatif Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. d.Kebenaran pragmatik Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis. e.Kebenaran proposisi Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisiproposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan

bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya. koheren antara fakta dengan skema rasio. memprediksi proses dan produk yang akan datang. (Ismaun. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. yakni berdasarkan logika. prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif. yang menguasai positivisme. belum ada skema moral yang jelas. deduktif. atau axioma yang sudah dipastikan benar. yaitu : (1) meta ideologi. melainkan dilihat dari benar materialnya. tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik. Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu.Logika inferensi Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika. Sedangkan untuk membuat penjelasan. atau memberikan pemaknaan. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. D. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. tapi masih bersifat spesifik.Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan. . dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. diantaranya:  Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi. logika terbagi ke dalam 2 bagian. (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu. 3. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai.persyaratan formal suatu proposisi. postulat. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. 4. ataupun reflektif. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional. karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu. Sampai sekarang analisis regresi.Kebenaran struktural paradigmatik Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Pendapat lain yaitu dari Euclides. yaitu logika induksi dan logika deduksi.200:9) Di lain pihak. Secara garis besarnya. analisis faktor. Belief pada Russel memang memuat moral. f.

Progresivisme dinamakan instrumentalisme. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional. pragmatisme berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit. produk domain kognitif dan produk alasan praktis. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends. sifat-sifat alam. benar. Pendahuluan Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita. Tokoh-tokoh Progresivisme Filsafat pendidikan Progresivisme dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. Dinamakan eksperimentalisme. dan Harold Rugg diawal abad 20. belajar "naturalistik". yakni kebudayaan. karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human. pencipta budaya. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. dan logis. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910) Gambar 1: William JamesSeorang psychologist dan seorang filosuf Amerika yang sangat terkenal. B. Progressivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian. untuk mengembangkan kepribadian manusia. terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia.manusiawi. atau suatu keterangan akan dikatakan benar. dengan demikian dapat mencari hal baru. dapat menguasai dan mengaturnya. Aliran Progresivisme A. melainkan sebagai kepanjangan ide manusia. Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri. untuk kesejahteraan. maka perlu ditambah koheren dengan moral. Paham . George Count. kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas. kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan. 1. dan pengalaman-pengalamannya.  Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. Bila etik dimasukkan. tidak mengeksploitasi orang lain. karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup. Dalam pendapat lain. Antropologi yaitu bahwa manusia mempunyai pengalaman. bahwa manusia untuk mengetahui kehidupan semua masalah. efisien dan produktif. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi: Ilmu Hayat. lingkungan. aktivitas. harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. William Kilpatrick.

Hall. tapi meskipun demikian. akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi. Bersama gurunya. Aplikasi ide Dewey. Pensylvania tahun 1879-1881. Sebagian besar kehidupan Dewey dihabiskan dalam dunia pendidikan. Dewey kemudian mengajar di University of Michigan (1884-1894). Selanjutnya. Vermont. Lembaga-lembaga pendidikan . Torrey.1952) Gambar 2: John DeweyJohn Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal. Salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme. Maka muncullah "Child Centered Curiculum". sains. baru peminatan. seperti juga aspek dari eksistensi organik. dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu. Dewey menulis buku The School and Society. PierceJohn Dewey merupakan filosof. Pada tahun 1875. Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional. Adapun ide filsafatnya yang utama. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis. ia mengajar sastra klasik. anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik. H. teori politik dan ilmu jiwa. Pada tahun 1899. Dewey melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor dari John Hopkins University tahun 1884 dengan disertasi tentang filsafat Kant. Setelah tamat. yang memformulasikan metode dan kurikulum sekolah yang membahas tentang pertumbuhan anak. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian. berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit. psikologi dan pendidikan di University of Chicago tahun 1894. dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku. harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. psikolog. seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed". Dewey juga menjadi tutor pribadi di bidang filsafat. Gambar 3: Charles S. salah seorang psikolog eksperimental Amerika. Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Pierce dan C. dosen serta penceramah dibidang filsafat. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut.dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika. hukum. tepatnya tanggal 20 Oktober 1859. ikut serta dalam aktifitas organisasi sosial dan membantu mendirikan sekolah baru bagi Social Reseach tahun 1919 di New York.P. Ia dilahirkan di Burlington. Selain itu.A. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. dan "Child Centered School". dan aljabar di sebuah sekolah menengah atas di Oil City.S. antropologi. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran. baik teori maupun praktek. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas. menjadi kepala jurusan filsafat. Dewey juga belajar logika kepada Charles S. Dan reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Prugressivisme Amerika. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil. namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. Dewey masuk kuliah di University of Vermont dengan spesifikasi bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial. John Dewey (1859 . Dewey banyak menulis masalah-masalah sosial dan mengkritik konfrontasi demokrasi Amerika. 2. bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. pendidik dan kritikus sosial Amerika. juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme.

3. Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat pendidikan progresif di Amerika. jika pengertian itu berguna. Tapi amat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka. Gagasan filosofis Dewey yang terutama adalah problem pendidikan yang kongkrit. Didalam banyak hal progressivisme identik dengan pragmatisme. Georges Santayana Georges digolongkan pada penganut pragmatisme ini. Artinya filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ideide dasar filsafat pragmatisme di mana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk terus survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan. Oleh karena itu apabila orang menyebut pragmatisme. Brubaeher. Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. 4. University of Colombia dan University of Chicago. Dengan demikian filsafat progresivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi akan nilai demokratis. Sehingga progresivisme dianggap sebagai The Liberal Road of Cultlire (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan. asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja. dan pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya.yang disinggahi Dewey adalah University of Michigan. salah seorang penyumbang pemikir pragmatisme-progresivisme yang meletakkan dasar dengan penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi. Namun demikian. . politik serta ilmu jiwa. karena amat banyak pengaruh yang bertentangan dengan apa yang dialaminya. maka berarti sama dengan. pendidikan. seni. sebagaimana dikembangkan oleh lmanuel Kant.1933) Gambar 4: Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. antropologi. Dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah. satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Art and Experience. bolehlah dianggap benar. Tempat Asal Aliran Progresivisme Dikembangkan Progressivisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. Diantara karya-karya Dewey yang dianggap penting adalah Freedom and Cultural. Dewey juga memiliki sumbangan di bidang ekonomi. baik yang bersifat teoritis maupun praktis. Tahun 1894 Dewey memperoleh gelar Professor of Philosophy dari Chicago University. Hans Vaihinger (1852 . sains. menolak absolutisme dan otoriterisme dalam segala bentuknya. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. Pertama. filsafat progressivisme atau pragmatisme ini merupakan perwujudan dan ide asal wataknya. yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. John S. hukum. politik dan pembaharuan sosial. Oleh karena itu filsafat progresivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan. Dewey akhirnya meninggal dunia tanggal 1 Juni 1952 di New York dengan meninggalkan tidak kurang dari 700 artikel dan 42 buku dalam bidang filsafat. Experience and Nature (1925). Gambar 5: Georges Santayana C. Filsafat progressivisme sama dengan pragmatisme. dan yang paling fenomenal Democracy and Education (1916). mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1885 1952). toleran dan terbuka (open minded). The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922). untuk menguasai dunia.

Namun demikian filsafat progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia. D. inovatif dan reformatif). Sehubungan dengan itu Wasty Soemanto menyatakan bahwa daya akal sama dengan intelegensi. Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter.peneliti. Adapun filsafat progresivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil budi manusia. berkompetitif. Nampak bahwa aliran filsafat progresivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku (subyek) di dalam hidupnya. . tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. aktif serta dinamis. insiatif. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. di mana intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan-pemecahan masalah. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu. curious (ingin mengetahui dan menyelidiki). Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir. toleran dan open minded (punya hati terbuka). di mana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja. kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir (man's natural powers). Maksudnya adalah manusia sejak lahir telah membawa bakat dan kemampuan (predisposisi) atau potensi (kemampuan) dasar terutama daya akalnya sehingga dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya. hambatan. ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. Mereka harus memiliki sikap terbuka dan berkemauan baik sambil mendengarkan kritik dan ide-ide lawan sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argumen tcrsebut. Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusiamanusia yang berkualitas unggul. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku. Dengan demikian potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan dan hal ini menjadi perhatian progresivisme. akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. Tampak filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju) bertindak secara konstruktif. Sebab. guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya. tidak terikat oleh doktrin tertentu). tidak menolak perubahan. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku. baik itu tantangan. pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. melainkan selalu berkembang dan berubah. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20. adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya. Di sini·tersirat bahwa intelegensi merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung masalah. guna mengembangkan pengalamannya.

Dengan berpijak dari pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. Asas Belajar Pandangan mengenai belajar. di mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. George Count. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis. guru yang bertugas dapat mendorong. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. mengajukan hipotesa. yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman. William Kilpatrick. Dengan metode pendidikan "Belajar Sambil Berbuat" (Learning by doing) dan pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem. untuk pembelajaran IPA hendaknya dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya heterogen. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah . anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. Landasan filosofis pembelajaran IPA terpadu ialah filsafat pendidikan Progresivisme yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey.Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau kurikulum eksperimental. untuk dapat bekerja sama. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. dan Harold Rugg diawal abad 20. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak dengan jalan mengingat seperangkat fakta-fakta. saling menghargai pendapat teman. filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhlukmakhluk lain. Seiring dengan pandangan di atas. Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep IPA dan berpikir tingkat tinggi dan memungkinkan mendorong siswa peduli dan tanggap terhadap lingkungan dan budayanya. bahwa filsafat progresivisme mengakui anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan megakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif. saling berinteraksi dan mendiskusikan hasil secara bersama sama. belajar "naturalistik". Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran IPA dengan situasi lebih alami dan situasi dunia nyata. Dalam pembelajaran IPA hendaknya guru dapat merancang dan mempersiapkan suatu pembelajaran dengan memotivasi awal sehingga dapat menimbulkan suatu pertanyaan. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan inkuari. Dengan begitu. mengkonfirmasikan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui. Ciri utama pembelajaran IPA adalah dimulai dengan pertanyaan atau masalah dilanjutkan dengan arahan guru menggali informasi. sampai dapat memutuskan kesimpulan yang disepakati bersama. kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya. Dengan begitu. aktivitas. 1. tetapi dengan jalan menemukan dan menggeneralisasi sendiri sebagai hasil kemandiriannya. Jadi terlihat bahwa siswa akan dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul diawal pembelajaran. serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang IPA dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari hari.

mengutip pendapat John Dewey sebagai berikut: John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan: 1. Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik. anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. . John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. Untuk dapat melestarikan usaha ini. Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses di mana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif. Di samping itu. bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. di mana anak sebagai subyek pendidikan. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nila nilai. Anak bukan miniatur orang dewasa. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. Hal yang harus diperhatikan gura adalah "anak didik bukan manusia dewasa yang kecil" yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa.berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak. berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dalam pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat. menyataka anak harus dididik sesuai dengan alamnya. jangan dipandang dari sudut orang dewasa. akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive. sedangkan guru sebagai pelayan siswa. sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan. minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778). Di sini prinsip kebebasan prilaku. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlar 1984: 48). memberikan motivasi-motivasi dan stimulistimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri. John Locke (1632-1704) mengemukakan. Beranjak dari ketiga pendapat di atas. Tegasnya. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar "sekolah sambil berbuat" atau learning by doing. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan.

Sikap progressvisme. Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif. Memberi motivasi. tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. karena sekolah didirikan untuk anak. dinamika dan sifat-sifat yang sejenis.2. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula. dengan orientasi kehidupan masa kini. individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik. Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. dan bukan perintah. Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional. memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas. Murid tanpa diberikan kebebasan sarna sekali untuk bersikap dan berbuat. murid bersifat reseptif dan pasif saja. Dalam abad ke-20 ini terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting). Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress. 2. dengar. 3. Guru mendominasi kegiatan belajar. 4. maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan. di mana ditandai dengan sifat verbalisme di mana terdapat cara belajar DDCH (duduk. dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil. setiap anak didik berbeda kemampuannya. sekolah kerja. bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. sekolah pembangunan dan CBSA. Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan sekolah progresive. 5. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak. hafal). Dari uraian di atas. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar belajar di sekolah. melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan 'kemerdekaan beraktivitas. Progresivisme menghendaki pendidikan yang progresif. Pandangan Kurikulum Progressivisme Selain kemajuan atau progres. tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang. lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman. catat. Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar. Hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru. Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja. bukan diciptakan .

Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium. akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. W. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah. Untuk memenuhi keutuhan tersebut. John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan. Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952) dan dikembangkan oleh W. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan. orang tua serta masyarakat. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan sekolah sehingga . maupun psikomotor. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang. suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga prinsip: 1. maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas. melakukan pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk semangat demokrasi pendidikan.H Kilpatrick. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu kehidupan yang bulat dan menyeluruh.H Kilpatrick mengatakan. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. di bengkel. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja. afektif.sekehendak yang mendidiknya. 3. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum. di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. Pengajaran dengan program unit. melainkan harus terintegrasi dalam unit. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). metode yang diutamakan yaitu problem solving. melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada kemampuan intelektualnya. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. 2. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. Dalam hal ini.

kesedihan. Filsafat . Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. kebenaran adalah (sekuen dan pada sesuatu ide. (3) kurikulum yang sanggup mengubah prilaku anak didik menjadi kreatif. Nilai itu benar atau salah. keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek. Pengetahuan harus disesuaikan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan.H Kilpatrick tersebut ada beberapa hal yang perlu diungkapkan yaitu: (1) kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas. Dari penjelasan yang dikemukakan oleh W. (2) kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik. sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. 4. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu. yang berarti perkembangan. kehendak. maka makin besar persiapan menghadapi tuntutan masa depan. 2. ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan (buku-buku. pengalaman manusia tentang penderitaan. hukum prinsip. kegembiraan. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan. baik atau buruk dapat dikatakan adalah menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia. Pandangan secara Aksiologi Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa. fakta. dan dalam hal ini apa saja yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang. dengan demikian adanya pergaulan. Pengalaman adalah perjuangan. Manusia akan tetap hidup berkembang. kepustakaan). perasaan. Pandangan secara Epistemologi Pengetahuan adalah informasi. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Progresivisme 1. E. Kebenaran dan kemampuan suatu ide memecahkan masalah. Pandangan dari Sudut Budaya Kebudayaan sebagai hasil budi manusia. Pengetahuan diperoleh manusia baik seeara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkun hidupnya. proses. Melalui proses pendidikan dengan menggunaka kurikulum yang bersifat intergrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial seharihari dengan baik. sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. jika ia mampu mengatasi perjuangan. perubahan dan berani bertindak. Pandangan secara Ontologi Asal Hereby atau asal keduniawian. Pengalaman adalah suatu sumber evolusi. maju setapak demi setapak mulai dari yang mudahmudah menerobos kepada yang sulit-sulit (proses perkembangan yang lama). realita pengetahuan dan daya guna. kekuasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi pengalaman. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. melainkan selalu berkembang dan berubah. 3.anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan. kecerdasan dari individu-individu. adaptif dan kemandirian dan (4) kurikulum bersifat fleksibel atau luwes berisi tentang berbagai macam bidang studio. dalam berbagai bentuk dan manifestasinya.

Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua. Pendahuluan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa. John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. telah mempengaruhi pendidikan. yang menjadi salah satu eksponen essensialisme. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahanperubahan. Maka. Alamlah yang dikendalikan oleh manusia. Hidupnya hanya bergantung dengan alam. Sehingga semakin tinggi tingkat berpikirnya manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. . Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Dan disana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. karena itu timbul pada zaman itu. Realisme modern. pandanganpandangannya bersifat spiritual. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. ALIRAN ESENSIALISME A. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa. yang memenuhi tuntutan zaman. sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional untuk memasuki zaman modern (progresif). Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju.progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman. di mana dengan pembaharuanpembaharuan pendidikan telah dapat mempengaruhi manusia untuk maju (progress). Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya. dan dijadikan pangkal berfilsafat. rumahrumah mewah. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. di mana serta terbuka untuk perubahan. II. akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi. titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain. Alamlah yang mengendalikan manusia.

Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak.Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. di mana serta terbuka untuk perubahan. Tokoh-tokoh Esensialisme 1. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai. berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. karena minat. perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. B. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut . serta segala isinya. C. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT. 2. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) Gambar 6: Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. melainkan pertemuan keduanya. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. George Santayana George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. yang merupakan pencipta adanya kosmos. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasangagasan (ide-ide). Tempat Asal Aliran Esensialisme Dikembangkan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan. maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah. melaksanakan). maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak.

Budi membentuk. ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. ruang dan ikatan waktu. Di . Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas: 1. tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilainilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya. Pandangan Immanuel Kant. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Universum: Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. yang bersama-sama membentuk dunia ini. asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri. Bogoslousky. Jadi. mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. 2. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Menurut idealisme. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang. namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. D. Determinisme terbatas.esensialisme. Bila orang berhadapan dengan benda-benda. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif. yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori. Determiuisme mutlak. mengatur dalam ruang dan waktu. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Maka. Bentuk. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. karena itu timbul pada zaman itu. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. 2. kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian: 1. terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. yang memenuhi tuntutan zaman. sebagai filsafat hidup. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar Idealisme. Dengan mengambil landasan pikir tersebut. apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda. lelapi bendabenda itu yang terarah kepada budi. jadi harus ada.

Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. 2. penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan. Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak. agama. kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik. mengejar kebutuhan. asal usul tata surya dan lain-Iainnya. yang sederhana merupakan fundamen at au dasar dari susunannya yang paling kompleks. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Esensialisme 1. kebenaran dan keagungan. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi . Ilmu pengetahuan yang mempengaruhi aliran realisme dapat dilihat dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisika dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jalan khusus. kesusasteraan. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya. Adapun uraian mengenai realisme dan idealisme ialah: 1. realisme dan sebagainya. emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan. kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan. Realisme yang mendukung esensialisme yang disebut realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tcmpat manusia di dalamnya. 4. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. Sedangkan oleh ilmu-ilmu lain dikembangkanlah teori mekanisme. Pandangan secara Ontologi Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela. dapat berkembang harmonis dan organis.antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam. Sivilisasi: Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. sesuai dengan kemanusiaan ideal. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. kesenian. dan hidup aman dan sejahtera . Maka dalam sejarah perkembangannya. fisiologi. . E. Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. 3. Kepribadian: Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk. Dengan demikian berarti bahwa suatu kejadian yang paling sederhana pun dapat ditafsirkan menurut hukum alam di antaranya daya tarik bumi. fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. sifat.

yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. 2. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. pikiran itu adalahjasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukumhukum phisis. Untuk mengerti manusia. Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Mikrokosmos menunjuk kepada fakta tunggal pada tingkat manusia. ldealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme obyektif. adalah makhluk yang semua tata serta kesatuannya merupakan bagian yang tiada terpisahkan dari alam semesta. Sebab jika manusia mampu menyadari realita scbagai mikrokosmos dan makrokosmos. 2. Manusia mengetahui sesuatu hanya di dalam dan melalui ide. 1. Ciri lain mengenai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam pengertian-pengertian makrokosmos dan mikrokosmos. Pengertian mengenai makrokosmos dan mikrokosmos merupakan dasar pengertian mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. rasio manusia adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang Maha Sempurna. Bagi sebagian penganut realisme. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. Manusia sebagai individu. approach personalisme itu hanya melalui introspeksi. 2. Sebaliknya realist berpendapat bahwa kita hanya mengctahui sesuatu realila di dalam melalui jasmani. tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain.dan dunia itu ada dan terbangun atas dasar sebab akibat. baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Menurut T. . maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. Pendekatan (Approach) ldealisme pada Pengetahuan Kita hanya mengerti rohani kita sendiri.H Green. Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda. idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan. Pandangan Kontraversi Jasmaniah dan Rohaniah Perbedaan idealisme dan realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita. Maksudnya adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. Sebab kesadaran kita. Mikrokosmos menunjuk kepada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis. ilmu alam. maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit. tarikan dan tekanan mesin yang sangat besar. dan agama. Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian manusia. jasmani dan rohani. sosial. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. biologi. rohaniah. Pandangan secara Epistemologi Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan.

Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusia pada umumnya. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter at au nilai-nilai. 4. Orang yang berpakaian serba formal seperti dalam upacara atau peristiwa lain yang membutuhkan suasana tenang. Teori Nilai Menurut Idealisme Penganut idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos. nilainilai berasal. Tipe Epistemologi Realisme Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme. karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak interaktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. Menurut Teori Koneksionisme Teori ini menyatakan semua makhluk. Menurut idealisme bahwa sikap. perhatian dan pengalaman seseorang turut menentukan adanya kualitas tertentu. Bagi aliran ini. Neorealisme Secara psikologi neorealisme lebih erat dengan behaviorisme Baginya pengetahuan diterima. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai akibat adanya saling . melaksanakan). ekspresi perasaan yang mencerminkan adanya serba kesungguhan dan kesenangan terhadap pakaian resmi yang dikenakan dapat menunjukkan keindahan baik pakaian dan suasana kesungguhan tersebut. a.3. b. karena minat. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. ltulah sebabnya neorialisme menafsirkan badan se bagai respon khusus yang berasal dari luar dengan sedikit atat tanpa adanya proses intelek. Di Amerika ada dua tipe yang utama: a. George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Cretical Realisme Aliran ini menyatakan bahwa media antara inetelek dengan realita adalah seberkas penginderi'. Untuk ini. tergantung pada pandangun-pandangan idealisme dan realisme sebab essensialisme terbina aleh kedua syarat tersebut. b.Teori Nilai Menurut Realisme Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. Di samping koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan behi viorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaa yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan terhadap berhas tidaknya belajar yang dilakukan. ditanggap langsung oleh pikirar dunia realita. Pandangan secara Aksiologi Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Dengan demikian terjadi gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respon. termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon. yang sdalu menunjukkan kualitas yang tinggi dan rendah atau kuat lemah. realisme bersandarkan atas keilumuan dan lingkungan. tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk. haruslah bersikap formal dan teratur. Dan manusia dalam hidupnya sdalu membentuk tatajawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan respon.an dan pengamatan. 3.

merupakan “nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama”. atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. tidak terkecuali di dunia pendidikan. . telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme. dalil. Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia–yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. Atas dasar itu. Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek kehidupan. Tokoh-tokoh Pragmatisme Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma. telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya. dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. yang dilakukan. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya. Pragmatisme. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang. artinya yang dikerjakan. Salah satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 . yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Pierce (1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme. sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James (1842 . ALIRAN PRAGMATISME A. dan pendidikan.1910) di Amerika Serikat. yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pendahuluan Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan. semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan. C.hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh dari Iingkungan. Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika.1952). Diakui atau tidak. di samping itu. etika epistemologi. Menurut filsafat ini. paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat. yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. perbuatan. Pragmatisme. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978. Dalam konteks inilah. Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiranpemikiran Charles S. yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. B. baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme. Pierce dan William James. Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (15611626). filsafat politik. III. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris. William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya. benar tidaknya suatu ucapan. dalil. Tempat Asal Aliran Pragmatisme Dikembangkan Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa. atau teori.

Jadi. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”. Asal Usul Pragmatisme Gambar 7: Thomas AquinasSetelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan. Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya. Meskipun demikian. sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). seperti masalah Tuhan. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yang mendasarkan pada pengenalan inderawi. yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya. Katholik dan Protestan. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani. dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran. seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. yang menentang Trinitas. mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. maupun periode Scholastik (1000 . dan etika. Jadi. Semangat Renaissance ini. Calvin. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri. yakni keterlepasannya dari agama. Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. yakni suatu gerakan atau usaha –yang berkisar antara tahun 1400-1600 M– untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi.1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss). atau dengan kata lain. yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance. manusia. Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejarah mata rantai pemikiran Barat. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. seraya mempertahankan doktrin . penindasannya yang telanjang. Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. kosmos. tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika.1. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragmatisme dalam konstelasi pemikiran Barat. Gerakan ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–. sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan.

yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Fichte (1762-1814). dan Pascal (1623-1662). Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). dan Tuhan. yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). George Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”. manusia. Materialisme. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). Karenanya. dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. Dari ketiganya. Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya. hukum. Obyek luar ditangkap oleh indera. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). Karl Marx. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. seperti Feuerbach. filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. Hegel merupakan tokoh yang menonjol. namun tidak berarti semua dari pengalaman. F. Pada abad XIX. Yang ada adalah ciriciri yang diamati. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. yaitu Positivisme. yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. dengan Rasionalisme dari Descartes. ekonomi. Mereka terbagi dalam dua pandangan. Pada abad XVII. berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. Kant juga mempercayai Empirisme. Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679). Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). agama. Namun demikian. salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. John Locke (1632-1704). dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia. yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio. Pada abad sebelumnya. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. aliran mereka disebut dengan Idealisme.Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (17111776). Filsafat Kant disebut Kritisisme. Sedang pada Masa Aufklarung. dengan dua ide pokoknya. Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. Selain George Berkeley dan David Hume. baik langsung maupun tidak. dan Pragmatisme. tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. pendidikan dan sebagainya. pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia. yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia. Baruch Spinoza (1632-1677). . sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke.

Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. 2. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872). yang sifatnya tidak pasti. Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme. Selain John Dewey. Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. sejalan dengan perkembangan pengalaman. yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. tidak diketahui kebenaran teori itu. Dalam The Meaning of The Truth (1909). kebenaran itu merupakan suatu postulat. dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James. James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri. sedang di sisi lain. Pembahasan tentang Pragmatisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. atau yang mereka namakan positif. Jadi. seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesissintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. Dengan kata lain. kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (18201895).Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Kebenaran akan selalu berubah. melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Atas dasar itu. suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Pertama. yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. siap diuji dengan perdebatan atau . kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman Gambar 8: William James(Hegel) pada John Dewey. Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”.

mencoba. maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. Hanya saja. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. harus merupakan hubungan yang dialami. Pengalaman dan Pertumbuhan . yaitu kebenaran dalam pernyataan. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. mendeduksi fakta dari prinsip. 3. sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini –yang juga disebut Practicalisme– . Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. 4. yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. Merasakan adanya masalah 2. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving. Semua kebenaran pernyataan ini. Menganalisis masalah itu. Meskipun berbeda-beda penekanannya. Sedang pemikir Empirisme. James. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum ke yang khusus. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh.diskusi. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. dengan demikian. 5. Menguji. Peirce membagi kebenaran menjadi dua. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. Pertama adalah Trancendental Truth. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpikir induktif. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. Memilih dan menganalisis hipotesis. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa). D.Kedua. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan). yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. Ketiga. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. berbeda dengan empirisme tradisional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta. dan kebenaran logis atau literal. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. Yang kedua adalah Complex Truth. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis. Menurut James. Pandangan Pragmatisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1.

tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif. Sains. Tujuan Pendidikan Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi. All is in the making. penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi. tidak mesti diperoleh dari buku-buku. Oleh karenanya. pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan. dunia ini penciptaannya belum selesai. Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis. berkembang menjadi sempurna. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. hukum moral pun berubah. Dalam masyarakat industri. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. tidak ada batas. melainkan bersifat dinamis. semuanya dalam perkembangan. ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. Dengan cara demikian. Bahkan. dan tidak ada finalnya. filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai. Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. baik tingkah laku maupun pengetahuan. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. Sebagai tokoh pragmatisme. 2. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. khusunya malalui pendidikan. dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput. siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya. Dengan model tersebut. melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. Di lembaga ini. Hidup tidak statis. tidak statis. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah. sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas.Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses. Segala sesuatu berubah. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental. Akhirnya. berkembang. menurutnya. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman. . baik secara individual maupun kolektif. tumbuh. tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Menurut Dewey.

dalam konteks ideologis. yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan. Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya. Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. dan lain-lain. Bahkan. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan. E. dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. Begitu pula. Dengan demikian. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. mengekspresikan pendapat. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut. karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : 1.Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. Aqidah ini. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan. yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan. Pandangan dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran. Yakni. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama. asas saling menghormati kepentingan bersama. dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kebebasan tersebut harus dijamin. Aqidah . Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan.

bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya.pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat. Sedang yang kedua. membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. alam semesta. alam semesta. dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. Sedangkan yang kedua. dan kehidupan. yakni keharusan menundukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. Ini adalah suatu kekeliruan. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V . Kedua pemikiran ini. melalui serangkaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath’i (yang bersifat pasti). antara dua pemikiran yang kontradiktif. Yang pertama. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemikiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif. Sebab. Jadi. maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan.XV M). Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. Dan dari sinilah dibahas. dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq ini. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. dan kehidupan. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil –termasuk dalam hal ini Pragmatisme– pada hakekatnya adalah batil juga. . apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. Jadi. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaan-Nya. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. 4. Penyelesaian jalan tengah. Menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama).

yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. Argumen untuk ini. kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. logika. bukan Metode Ilmiah. bahasa. Sebab. Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia. bukan Metode Ilmiah. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. Maka. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri. Ide ini keliru dari tiga sisi. ada dua point : a. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Dan informasi sebelumnya ini. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Dengan kata lain. Ketiga. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah . bukan Metode Ilmiah. Atas dasar dua argumen ini. Maka dari itu. Kedua. tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. Atau dengan kata lain. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah. kelompok. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. dan hal-hal yang ghaib. 5. Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak terindera seperti sejarah. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Maka. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu. Maka. b. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/material yang dapat diindera. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. diperoleh melalui Metode Akliyah.Memang. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah. yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah. Sedang Metode Akliyah. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pertama. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan.

Namun demikian. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara’. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara’. Jelas. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. shadaqah jariyah. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya. maka terputuslah amalnya. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. termasuk ide Pragmatisme. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah. Maka. 6. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah.melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme –sebagai standar ide dan perbuatan– sangat bertentangan dengan Islam. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Amerika. dan bukan manfaat. Allah SWT berfirman : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. maka ambillah dia. Selain itu. yaitu Syari’at Islam. kecuali tiga perkara. Allah SWT juga telah berfirman : “Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara’. teori. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. Jadi. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : “Apabila anak Adam meninggal dunia. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. bukan sembarang manfaat. ilmu yang bermanfaat. maka tinggalkanlah dia…” (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan. Muslim) Benar.” (HSR. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. Maka. anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya. Tetapi maknanya adalah. ajaran. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil . Dan apa yang dilarangnya bagimu. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. atau hipotesis. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya…” (Al A’raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas manusia. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. Allah SWT berfirman : “Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah” (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur.

ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak yang muluk-muluk. pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada. yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara praktis. Pragmatisme mempunyai dua sifat. Pragmatisme. Pendeknya. Bagi kaum pragmatis.oleh manusia sesuai kehendaknya. malainkan langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. dan yang dalam kenyataannya berlaku. epistemologis. yang siap pakai. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. 8. Karenanya. pada konsekuansi praktisnya. misalnya. yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. Dalam menghadapi berbagai persoalan. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak. rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi praktis. dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele. Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan. Dan konsekuensi praktis yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi. pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan. Sebagai prinsip pemecahan masalah. filsafat. religius dan sebagainya. misalnya fungsi pendidikan. pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. demi sesegera mungkin . tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi. sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. Oleh karena itu. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya. baik bersifat psikologis. bahkan sama sekali tidak menghendaki adanya diskusi. Kebenaran suatu teori. karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu. melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis. melainkan didasarkan pada pengalaman. Teori yang tepat adalah teori yang berguna. yang penting bukan keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. 7. mengabaikan peranan diskusi. Dalam rangka itulah. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis. Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi praktisnya. ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut. bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. metafisik. teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak. Dekonstruksi Pragmatisme. Justru di sini muncul masalah. yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita. mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa. Tinjaun Kritis lainnya Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak.

kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi. Tokoh-tokoh Perenialisme Gambar 9: AristotelesFilsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. terutama dalam bidang pendidikan. Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebuoayaan dan pendidikan zaman sekarang. sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. C. ALIRAN PERENIALISME A. karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13. dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasilhasilnya. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. tidak memiliki konsekuansi praktis. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali. Pendahuluan B. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini.mengambil tindakan langsung. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan . Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia. kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. IV. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif.

maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting. maka ia terkenal dengan nama perenialisme. Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H. manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib.keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya. yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik. bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis. Tokoh-tokoh yang mengembangkan ini timbul dari lingkungan agama Katholik atau diluarnya. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan. Pandangan Perenialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi . harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki. Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme. yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki. Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas. yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal.T Thomas Aquinas. D. yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi. maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh. Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. Gambar 10: PlatoAsas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat. Jadi epistemologi dari perenialisme. 1990: 64-65). Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya. khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas. kebudayaan yang mempunyai dua sayap. ST. Jadi sikap untuk kembali kemasa Iampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang. karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus. Jadi aliran perenialisme dipakai untuk program pendidikan yang didasarkan atas pokok-pokok aliran Aristoteles dan S.

Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau. Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut. orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. filsafat. Di samping itu. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme tersebut. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. sejarah. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham. menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini. 2. Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra. ekonomi. Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu. Masak dalam arti hidup akalnya. bahan penerangan yang cukup. dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan.seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya. ladi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. di mana tug as pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. politik. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru. Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Dengan pengetahuan. dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni: 1. Dengan mengetahui rulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut. karena telah memiliki evidensi diri sendiri. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa . bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca. matematika. maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri. sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh orangorang besar.

maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang. Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. perasaan dan kemauannya. Adapun aksiden adalah keadaankeadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial. sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu. esensi. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah . Pandangan secara Ontologi Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individuIl. ialah tujuan dan bentuk terakhir dari segalanya. Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi. material dan spiritual. Schula ini dapat dikurangi. Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia. Misalnya meskipun manusia dalam hidupnya jarang dikuasai oleh sifat eksistensi kemanusiaan. Hal-hal yang bersifat partikular yang merintangi kehidupan dapat diatasi. rumput. warna dan aktifitas tertentu. hewan. sehingga makin lama makin jauh dari patensialitasnya. 2. aksiden dan substansi. Uraian di atas sejalan dengan apa yang dikatakan I. Benda individual disini adalah bend a sebagaimana nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu.oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama. Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu. E. lembu. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian an tara pikir dengan benda-benda. tidak jarang pula dimilikinya akal. tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau bend a tapi merupakan unsur patensiaJitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diutarakan aleh Aristateles tetapi ia juga merupakan sesuatu yang datang bersama-sama dari sesuatu "apa" yang terkandung dalam inti (essence) dan potensialitas dengan tindakan untuk "berada" yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh ST.R Poedjawijatna bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah patensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan. perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Bila dihubungkan dengan manusia. batu bangunan dasar. maka manusia itu setiap waktu adalah patensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Pandangan Epistemologis Perennialisme Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. ukuran. diharapkan tiap individu itl! terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama. orang dalam bentuk. ini disebut pendidikan umum (general education). Maka dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini manusia dapat makin mendekatkan diri kepada gerak yang tanpa gerak itu. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir. Setiap sesuatu yang ada. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Perenialisme 1. misalnya orang suka bermain sepatu roda. tidak jarang pula dimilikinya akal. Thomas Aquinas. tumbuhtumbuhan dan sebagainya mempakan hal yang logis dalam karakternya. atau suka berpakaian bagus. Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. misalnya partikular dan uni versal.

telah memiliki potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. hakiki dan berjalan dengan hukumhukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama. tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural. kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. relatif atau kebenaran probability. Dengan demikian jelaslah bahwa perenialisme itu rnenghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis. Menurut Plato. Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya. Dengan azas seperti itu. Pendidikan hendaknya berorientasi pada p~tensi itu dan kepada masyarakat. seperti Plato. maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah "kehahagiaan". khususnya tingkah laku manusia. Sejalan dengan uraian di atas. Pandangan Aksiologi Perennialisme Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural. Kebaikan tertinggi adalah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. Jelaslah bahwa pengetahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen. melainkan juga aksiologi. kemauan dan pikiran. Dalam aksiologi. yakni menerima universal yang abadi. Jadi manusia sebagai subyek dalam bertingkah laku. Khususnya dalam tingkah laku manusia. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia. maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Secara etika. di samping adapula kecenderungan-kecenderunngan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. 3. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme. Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas.perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Dengan memperhatikan hal ini. mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada . dengan kata lain melakukan kebaikan atau kejahatan. Tindakan yang baik adalah yang bersesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi. Kodrat wujud manusia yang pertama-tama adaJah lercermm dari jlwa dan pikirannya yang disebut dengan kekuataJl potensial yang membimbing tindakan manusia menuju pada Tuhan at au menjauhi Tuhan. manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu. Untuk mencapai pendidikan itu. prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang. Aristoteles dan Thomas Aquinas. kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal. maka aspek jasmani. karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi. karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual.

Dalam konteks filsafat pendidikan. Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. masyarakat yang pantas dan adil. Untuk mencapai tujuan tersebut. untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia. Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu sejalan dengan pandangan dasar di atas. rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang. Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. sepaham dengan aliran perenialisme. menengah. aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Pendahuluan Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Walaupun demikian. pada prinsipnya. Maka. Aliran Rekonstruksionisme A. Oalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang scrasi dalam kehidupan. Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan . Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale. yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. B. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. George Count. aliran rekonstruksionisme dan perenialisme. prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar. aktif dan nyata. yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. ingin membangun masyarakat baru. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. D. V. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt. kebingungan dan kesimpangsiuran. memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran. mempertinggi kemampuan anak untuk memiliki akal sehat. Aliran perennialisme memilih cara tersendiri. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Kedua aliran tersebut. Dari prinsipprinsip pendidikan perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern. perguruan tinggi. Aliran rekonstruksionisme.dalam individu agar menjadi aktualitas. Harold Rugg C. maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri.

Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia. Descartes. 2. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan.Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme. Pada prinsipnya. diperlukan nilai-nilai. yang merupakan kecenderungan man usia. keturunan. Tetapi. mampu meningkatkan kualitas kesehatan. meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna. dalam konteks ini. dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Rekonstruksionisme 1. tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral. semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan. dan realita yang kita ketahui dan kita badapi tidak terlepas dari suatu sistem. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri. sarna azali dan abadi. akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian. Namun demikian. Kausa prima. yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju kearah yang khusus menam pakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti bewan dan tumbuhan atau benda lain disekeiling kita. sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi. Pandangan secara Ontologi Dengan ontologi. Dengan demikian gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif tersendiri. . agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. Tuhan adalah aktualitas murni yang sarna sekali sunyi dan substansi. secara umum ruang lingkup (scope) ten tang pengertian "nilai" tidak terbatas. E. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini. Kemudian. selain substansi yang dipunnyai dan tiap-tiap benda tersebut. nasionalisme. dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit. Pandangan Ontologis Dalam proses interaksi sesama manusia. diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. dan dapat dipilih melalui akal pikiran.

pancaran un sur keindahan universal yang abadi. yakni bersatu dengan Tuhan. Kajian tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran. . Dalam perkembangan selanjutnya. kemudian berpikir rasional. maha indah dan Tuhan. estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis. Neo-Thomisme memandang bahwa etika. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. kreasi estetika dan organisasi politik. Sebagai ilustrasi. seorang tokoh utama scholastik. dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor. Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok. Keindahan yang maujud itu hanyalah keindahan khusus. Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence. dengan memakai cara pengambilan kesimpulan deduktif dan induktif. Alselpus. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada pemikiran yang hakiki. Dari gerakan intelektualitas pada abad pertengahan yang mencapai kristalisasi pada abad IX-XIV. yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence). 3. hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. memberikan argumentasi rasio tentang eksistensi Tuhan. kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual. yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka.Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal. yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral. dengan jalan pernikirannya adalah silogisme. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasaldari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahun. Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam. Pandangan Epistemologis Kajian epsitemologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. realita dan eksistensinya. dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya. menyatakan bahwa secara kritis realita semesta dapat dipahami dan tidak ada sesuatu di alam nyata ini diluar kekuasaan Tuhan karena semua itu sebagai perwujudan dari kesempurnaannya. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan). penafsiran yang demikian didukung oleh Thomas Aquinas yang inti pembicaraannya untuk mengetahui realita yang ada yang hams berdasarkan iman dan perkembangan rasional hanya dapat dijawab dan mesti diikuti dengan iman. premis minor dan kesimpulan (condusion). karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan. Kemudian. Penalaran-penalaran memiliki hukum-hukum tersendiri agar dijadikan pegangan ke arah penemuan definisi atau pengertian yang logis. Karenanya. dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pad a prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral. Karenanya. adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). yakni bukti yang ada pada diri sendiri.

html . DAFTAR PUSTAKA http://edu-articles.multiply.htm http://www.re-searchengines.multiply.com/ http://www.wikipedia.com/athens/parthenon/4926/rencana/tunjang.com/ http://en.VI.org/wiki/Halaman_Utama http://mimbardemokrasi.com/artikel.php http://hhmsociety.net/ http://gkagloria.com/ http://rajasidi.com/ http://wordpress.com/HotSprings/6774/jurnal3.wikipedia.geocities.id/index.com/ http://id.or.2bryan.org/wiki/Main_Page http://e-pendidikan.geocities.blogspot.html http://www.com/ http://www.

EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. Ilmu di kacaukan dengan seni. Dengan mengetahui jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. ilmu dikonfrontasikan dengan agama. yang pertama di sebut landasan ontologis.ONTOLOGI. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? . di sebut dengan landasan aksiologi. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Kedua di sebut dengan landasan epistimologis. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. Sedang yang ketiga. landasan ini akan menjawab.

Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Abstraksi fisik menampilkan . Ontologi membahas tentang yang ada. Ontologi Objek telaah ontologi adalah yang ada. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. 2. naturalisme.PEMBAHASAN A. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. dan abstraksi metaphisik. Studi tentang yang ada. 1. Bagi pendekatan kuantitatif. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. atau dalam rumusan Lorens Bagus. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. idealisme. atau hylomorphisme. abstraksi bentuk. tealaahnya akan menjadi kualitatif. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. yaitu : abstraksi fisik.

sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis.[2] . dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. badan itu fana’ (S-Tt) (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi.keseluruhan sifat khas sesuatu objek. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas.

Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman.dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian. Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati. Memang sebenarnya. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Locke. kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Epistemologi Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?[3] Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan a. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut. atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan sederhana tersebut.Sementara Jujun S. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang. B. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak . Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan. John Locke. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). bapak empirisme Britania.

dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). d. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri.kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. . b. artinya. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. Analisa. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Fenomenalisme Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan. melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar. Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. Intusionisme Menurut Bergson. c.

Hendaknya diingat. ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan . sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentukhanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. atau dengan perkataan lain.” melainkan faust yang menciptakan Goethe. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. e. Aksiologi Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri.Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah. Mereka mengatakan. yaitu kenyataan.” Menghadapi kenyataan seperti ini. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita. namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka. atau dengan perkataan lain. C. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman.

keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus. namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga. Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib. sedangkan di pihak lain. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. “segalanya punya moral. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. “asalkan kau mampu menemukannya.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap. oleh pengadilan agama tersebut. pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Galileo dan ilmuwan seangkatannya. keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?). untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[4] . Galileo (1564-1642).

2. Aksiologi menjawab. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?[5] . Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. 3.PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : 1. Ontologis. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?.

Pustaka Sinar Harapan. Prof. . Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. H. 1996. Yogjakarta. Noeng Muhadjir. Jakarta. Yogjakarta Sidi Gazalba. 1995. Suriasumantri.DAFTAR PUSTAKA Jujun S. 2001. Tiara Wacana. Kattsouff. Pengantar filsafat. Yogjakarta. Louis O. Sistematika filsafat II. Dr. Penerbit Rake Sarasin. Filsafat Ilmu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful