P. 1
Filsafat Ilmu

Filsafat Ilmu

|Views: 117|Likes:
Published by Zaenal Mutakim

More info:

Published by: Zaenal Mutakim on Apr 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2015

pdf

text

original

Sections

  • A. Ontologi
  • B. Epistemologi
  • C. Aksiologi

Filsafat Ilmu

A. Pengertian Filsafat Ilmu Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsepkonsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabangcabang pengetahuan intelektual.) Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis) Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

B. Fungsi Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
    

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. C.Substansi Filsafat Ilmu Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi. 1.Fakta atau kenyataan Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
 

  

Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek

kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah. 2. Kebenaran (truth) Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001) a. Kebenaran koherensi Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental. b.Kebenaran korespondensi Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik c.Kebenaran performatif Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. d.Kebenaran pragmatik Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis. e.Kebenaran proposisi Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisiproposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan

Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai. f. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya. yakni berdasarkan logika. Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. yaitu : (1) meta ideologi. analisis faktor. karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. (Ismaun. ataupun reflektif. . yaitu logika induksi dan logika deduksi. prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif.Kebenaran struktural paradigmatik Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. 3.200:9) Di lain pihak. Sampai sekarang analisis regresi.persyaratan formal suatu proposisi.Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan. (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu. Sedangkan untuk membuat penjelasan. D. diantaranya:  Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. atau axioma yang sudah dipastikan benar. belum ada skema moral yang jelas. logika terbagi ke dalam 2 bagian. tapi masih bersifat spesifik. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Pendapat lain yaitu dari Euclides. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu.Logika inferensi Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika. tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik. atau memberikan pemaknaan. melainkan dilihat dari benar materialnya. Belief pada Russel memang memuat moral. yang menguasai positivisme. Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional. koheren antara fakta dengan skema rasio. memprediksi proses dan produk yang akan datang. 4. dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. deduktif. Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. postulat. Secara garis besarnya. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi.

manusiawi. dapat menguasai dan mengaturnya. melainkan sebagai kepanjangan ide manusia. Dalam pendapat lain. pragmatisme berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar. William Kilpatrick. Paham . Aliran Progresivisme A. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri. maka perlu ditambah koheren dengan moral. atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan. Dinamakan eksperimentalisme. dengan demikian dapat mencari hal baru. George Count. sifat-sifat alam.  Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia. Bila etik dimasukkan. yakni kebudayaan. Pendahuluan Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita. benar. B. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi: Ilmu Hayat. harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. dan logis. karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori. atau suatu keterangan akan dikatakan benar. karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup. 1. aktivitas. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human. Progresivisme dinamakan instrumentalisme. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910) Gambar 1: William JamesSeorang psychologist dan seorang filosuf Amerika yang sangat terkenal. kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. dan pengalaman-pengalamannya. Antropologi yaitu bahwa manusia mempunyai pengalaman. untuk mengembangkan kepribadian manusia. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional. efisien dan produktif. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. tidak mengeksploitasi orang lain. bahwa manusia untuk mengetahui kehidupan semua masalah. untuk kesejahteraan. Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata. Tokoh-tokoh Progresivisme Filsafat pendidikan Progresivisme dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. Progressivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian. pencipta budaya. kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas. produk domain kognitif dan produk alasan praktis. dan Harold Rugg diawal abad 20. belajar "naturalistik". lingkungan.

dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika. John Dewey (1859 . baik teori maupun praktek. akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi. ikut serta dalam aktifitas organisasi sosial dan membantu mendirikan sekolah baru bagi Social Reseach tahun 1919 di New York. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil. dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu. harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Hall. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis. juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme. Adapun ide filsafatnya yang utama. Selain itu. Ia dilahirkan di Burlington. 2. Pada tahun 1899. Bersama gurunya. Dewey kemudian mengajar di University of Michigan (1884-1894). dan aljabar di sebuah sekolah menengah atas di Oil City. salah seorang psikolog eksperimental Amerika. Pada tahun 1875. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis. ia mengajar sastra klasik.S. namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. Lembaga-lembaga pendidikan . Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas. tepatnya tanggal 20 Oktober 1859. Vermont.A. PierceJohn Dewey merupakan filosof. hukum. psikolog. Sebagian besar kehidupan Dewey dihabiskan dalam dunia pendidikan. Torrey. Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri.P. bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal. seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed". Salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme. Setelah tamat. antropologi. Dewey juga menjadi tutor pribadi di bidang filsafat. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut. Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional. Dan reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Prugressivisme Amerika. teori politik dan ilmu jiwa. Dewey melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor dari John Hopkins University tahun 1884 dengan disertasi tentang filsafat Kant. H.1952) Gambar 2: John DeweyJohn Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Pensylvania tahun 1879-1881. menjadi kepala jurusan filsafat. Maka muncullah "Child Centered Curiculum". Dewey banyak menulis masalah-masalah sosial dan mengkritik konfrontasi demokrasi Amerika. sains. Gambar 3: Charles S. yang memformulasikan metode dan kurikulum sekolah yang membahas tentang pertumbuhan anak. pendidik dan kritikus sosial Amerika. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Pierce dan C. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian. seperti juga aspek dari eksistensi organik. anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik. tapi meskipun demikian. baru peminatan. psikologi dan pendidikan di University of Chicago tahun 1894. Dewey masuk kuliah di University of Vermont dengan spesifikasi bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Dewey juga belajar logika kepada Charles S. dosen serta penceramah dibidang filsafat. Aplikasi ide Dewey. berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit. Selanjutnya. dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku. dan "Child Centered School". Dewey menulis buku The School and Society.

Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. Dewey akhirnya meninggal dunia tanggal 1 Juni 1952 di New York dengan meninggalkan tidak kurang dari 700 artikel dan 42 buku dalam bidang filsafat. antropologi. Namun demikian. jika pengertian itu berguna. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja. dan yang paling fenomenal Democracy and Education (1916). politik dan pembaharuan sosial. Hans Vaihinger (1852 . Artinya filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ideide dasar filsafat pragmatisme di mana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk terus survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan. Dengan demikian filsafat progresivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi akan nilai demokratis. untuk menguasai dunia. Oleh karena itu apabila orang menyebut pragmatisme. dan pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya. toleran dan terbuka (open minded). menolak absolutisme dan otoriterisme dalam segala bentuknya. 4. Dewey juga memiliki sumbangan di bidang ekonomi. Art and Experience. baik yang bersifat teoritis maupun praktis. 3. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan. maka berarti sama dengan. Tapi amat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka. Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat pendidikan progresif di Amerika. politik serta ilmu jiwa. Sehingga progresivisme dianggap sebagai The Liberal Road of Cultlire (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan. Diantara karya-karya Dewey yang dianggap penting adalah Freedom and Cultural. sebagaimana dikembangkan oleh lmanuel Kant.yang disinggahi Dewey adalah University of Michigan. satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. bolehlah dianggap benar. John S. mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1885 1952). karena amat banyak pengaruh yang bertentangan dengan apa yang dialaminya. Tahun 1894 Dewey memperoleh gelar Professor of Philosophy dari Chicago University. . hukum. Gagasan filosofis Dewey yang terutama adalah problem pendidikan yang kongkrit. Experience and Nature (1925). Tempat Asal Aliran Progresivisme Dikembangkan Progressivisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. Oleh karena itu filsafat progresivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan. pendidikan. Georges Santayana Georges digolongkan pada penganut pragmatisme ini. sains. The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922). salah seorang penyumbang pemikir pragmatisme-progresivisme yang meletakkan dasar dengan penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi. Dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah.1933) Gambar 4: Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. Brubaeher. yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. seni. University of Colombia dan University of Chicago. Gambar 5: Georges Santayana C. Filsafat progressivisme sama dengan pragmatisme. filsafat progressivisme atau pragmatisme ini merupakan perwujudan dan ide asal wataknya. Didalam banyak hal progressivisme identik dengan pragmatisme. Pertama.

peneliti. Namun demikian filsafat progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia. tidak terikat oleh doktrin tertentu). adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya. Mereka harus memiliki sikap terbuka dan berkemauan baik sambil mendengarkan kritik dan ide-ide lawan sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argumen tcrsebut. di mana intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan-pemecahan masalah. akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Nampak bahwa aliran filsafat progresivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku (subyek) di dalam hidupnya. Maksudnya adalah manusia sejak lahir telah membawa bakat dan kemampuan (predisposisi) atau potensi (kemampuan) dasar terutama daya akalnya sehingga dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya. guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20. di mana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Di sini·tersirat bahwa intelegensi merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung masalah. aktif serta dinamis. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku. Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusiamanusia yang berkualitas unggul. Adapun filsafat progresivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil budi manusia. toleran dan open minded (punya hati terbuka). hambatan. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku. Sebab. Sehubungan dengan itu Wasty Soemanto menyatakan bahwa daya akal sama dengan intelegensi. baik itu tantangan. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. berkompetitif. Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja. guna mengembangkan pengalamannya. ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. Tampak filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju) bertindak secara konstruktif. . kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir (man's natural powers). insiatif. Dengan demikian potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan dan hal ini menjadi perhatian progresivisme. tidak menolak perubahan. melainkan selalu berkembang dan berubah. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan. inovatif dan reformatif). curious (ingin mengetahui dan menyelidiki). Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu. Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. D.

Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep IPA dan berpikir tingkat tinggi dan memungkinkan mendorong siswa peduli dan tanggap terhadap lingkungan dan budayanya. mengajukan hipotesa. untuk pembelajaran IPA hendaknya dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya heterogen. saling berinteraksi dan mendiskusikan hasil secara bersama sama. bahwa filsafat progresivisme mengakui anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan megakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif. William Kilpatrick. tetapi dengan jalan menemukan dan menggeneralisasi sendiri sebagai hasil kemandiriannya. Dengan berpijak dari pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. guru yang bertugas dapat mendorong. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis. aktivitas. Landasan filosofis pembelajaran IPA terpadu ialah filsafat pendidikan Progresivisme yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya. George Count. Dengan begitu. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak dengan jalan mengingat seperangkat fakta-fakta. belajar "naturalistik". Dengan begitu. anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang IPA dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. Dengan metode pendidikan "Belajar Sambil Berbuat" (Learning by doing) dan pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem. Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran IPA dengan situasi lebih alami dan situasi dunia nyata. dan Harold Rugg diawal abad 20. 1. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan inkuari. saling menghargai pendapat teman. Asas Belajar Pandangan mengenai belajar. filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhlukmakhluk lain. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. Seiring dengan pandangan di atas. Ciri utama pembelajaran IPA adalah dimulai dengan pertanyaan atau masalah dilanjutkan dengan arahan guru menggali informasi. mengkonfirmasikan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui. yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. Jadi terlihat bahwa siswa akan dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul diawal pembelajaran. di mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya.Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau kurikulum eksperimental. Dalam pembelajaran IPA hendaknya guru dapat merancang dan mempersiapkan suatu pembelajaran dengan memotivasi awal sehingga dapat menimbulkan suatu pertanyaan. sampai dapat memutuskan kesimpulan yang disepakati bersama. untuk dapat bekerja sama. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah .

minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan. tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri. di mana anak sebagai subyek pendidikan. akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan. Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778). anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. . berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dalam pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlar 1984: 48). Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif. Di sini prinsip kebebasan prilaku. sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak. mengutip pendapat John Dewey sebagai berikut: John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan: 1. Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan. Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. Untuk dapat melestarikan usaha ini. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. Beranjak dari ketiga pendapat di atas. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar "sekolah sambil berbuat" atau learning by doing. jangan dipandang dari sudut orang dewasa. sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. sedangkan guru sebagai pelayan siswa. memberikan motivasi-motivasi dan stimulistimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. menyataka anak harus dididik sesuai dengan alamnya. Di samping itu. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive.berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa. Hal yang harus diperhatikan gura adalah "anak didik bukan manusia dewasa yang kecil" yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses di mana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. John Locke (1632-1704) mengemukakan. Anak bukan miniatur orang dewasa. Tegasnya. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nila nilai. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan.

dinamika dan sifat-sifat yang sejenis. karena sekolah didirikan untuk anak. 2. Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar belajar di sekolah. bukan diciptakan . Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik. Sikap progressvisme. di mana ditandai dengan sifat verbalisme di mana terdapat cara belajar DDCH (duduk. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan. 4. Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah. dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. sekolah pembangunan dan CBSA. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan 'kemerdekaan beraktivitas. dan bukan perintah. tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. Dari uraian di atas. 5. Hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru. bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan sekolah progresive.2. memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas. lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Murid tanpa diberikan kebebasan sarna sekali untuk bersikap dan berbuat. Memberi motivasi. tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. murid bersifat reseptif dan pasif saja. Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar. maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja. dengar. setiap anak didik berbeda kemampuannya. Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. catat. Progresivisme menghendaki pendidikan yang progresif. individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Pandangan Kurikulum Progressivisme Selain kemajuan atau progres. hafal). dengan orientasi kehidupan masa kini. Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula. Dalam abad ke-20 ini terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. 3. tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang. Guru mendominasi kegiatan belajar. Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak. Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting). sekolah kerja.

melainkan harus terintegrasi dalam unit. di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. metode yang diutamakan yaitu problem solving. diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif. 3. maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang.H Kilpatrick mengatakan. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu kehidupan yang bulat dan menyeluruh. afektif. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar.sekehendak yang mendidiknya. suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga prinsip: 1. Dalam hal ini. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak. melakukan pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman.H Kilpatrick. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai. akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk semangat demokrasi pendidikan. di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. Untuk memenuhi keutuhan tersebut. filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit. yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah. melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada kemampuan intelektualnya. 2. orang tua serta masyarakat. akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. di bengkel. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan. maupun psikomotor. John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan sekolah sehingga . Pengajaran dengan program unit. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan. W. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952) dan dikembangkan oleh W. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa.

kepustakaan). sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. Pengetahuan harus disesuaikan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. kebenaran adalah (sekuen dan pada sesuatu ide. keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati. yang berarti perkembangan. melainkan selalu berkembang dan berubah. Pandangan secara Aksiologi Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa. perasaan.H Kilpatrick tersebut ada beberapa hal yang perlu diungkapkan yaitu: (1) kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. hukum prinsip. Filsafat . pengalaman manusia tentang penderitaan. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu. Dari penjelasan yang dikemukakan oleh W. kegembiraan. (3) kurikulum yang sanggup mengubah prilaku anak didik menjadi kreatif. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku. Pengalaman adalah perjuangan. adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan. Kebenaran dan kemampuan suatu ide memecahkan masalah. dengan demikian adanya pergaulan. 3. dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. kesedihan. kehendak. Pandangan dari Sudut Budaya Kebudayaan sebagai hasil budi manusia. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Progresivisme 1. Manusia akan tetap hidup berkembang. Pengalaman adalah suatu sumber evolusi. Nilai itu benar atau salah. Melalui proses pendidikan dengan menggunaka kurikulum yang bersifat intergrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial seharihari dengan baik. maju setapak demi setapak mulai dari yang mudahmudah menerobos kepada yang sulit-sulit (proses perkembangan yang lama). kecerdasan dari individu-individu. sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. Pandangan secara Epistemologi Pengetahuan adalah informasi. jika ia mampu mengatasi perjuangan. baik atau buruk dapat dikatakan adalah menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia. proses. Pandangan secara Ontologi Asal Hereby atau asal keduniawian. kekuasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi pengalaman. Pengetahuan diperoleh manusia baik seeara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkun hidupnya. fakta. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek. ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan (buku-buku.anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan. realita pengetahuan dan daya guna. maka makin besar persiapan menghadapi tuntutan masa depan. adaptif dan kemandirian dan (4) kurikulum bersifat fleksibel atau luwes berisi tentang berbagai macam bidang studio. dan dalam hal ini apa saja yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang. perubahan dan berani bertindak. 4. (2) kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik. E. 2.

alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri. akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi. sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain.progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman. ALIRAN ESENSIALISME A. Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua. rumahrumah mewah. Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. . dan dijadikan pangkal berfilsafat. yang memenuhi tuntutan zaman. sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional untuk memasuki zaman modern (progresif). Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju. Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahanperubahan. Dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa. Hidupnya hanya bergantung dengan alam. Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. Maka. Alamlah yang dikendalikan oleh manusia. di mana serta terbuka untuk perubahan. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme. John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. pandanganpandangannya bersifat spiritual. Pendahuluan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. telah mempengaruhi pendidikan. II. di mana dengan pembaharuanpembaharuan pendidikan telah dapat mempengaruhi manusia untuk maju (progress). Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa. Dan disana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. karena itu timbul pada zaman itu. Sehingga semakin tinggi tingkat berpikirnya manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. yang menjadi salah satu eksponen essensialisme. cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. Alamlah yang mengendalikan manusia. Realisme modern. titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik.

melainkan pertemuan keduanya. George Santayana George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. C. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. Tempat Asal Aliran Esensialisme Dikembangkan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. melaksanakan). perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. karena minat. di mana serta terbuka untuk perubahan. dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit. yang merupakan pencipta adanya kosmos. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasangagasan (ide-ide).Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut . Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) Gambar 6: Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. 2. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan. maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah. serta segala isinya. Tokoh-tokoh Esensialisme 1. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. B. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir. berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai.

lelapi bendabenda itu yang terarah kepada budi. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilainilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. 2. terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian: 1. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal. ruang dan ikatan waktu. bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri. yang memenuhi tuntutan zaman. memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain. Determinisme terbatas. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Dengan mengambil landasan pikir tersebut. D. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Menurut idealisme. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas: 1. apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Maka. mengatur dalam ruang dan waktu. namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial.esensialisme. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif. bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. sebagai filsafat hidup. menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya. Bentuk. asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan. Bila orang berhadapan dengan benda-benda. Budi membentuk. Pandangan Immanuel Kant. memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Determiuisme mutlak. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. Di . Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar Idealisme. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. karena itu timbul pada zaman itu. jadi harus ada. 2. yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang. tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka. Jadi. Universum: Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bogoslousky. yang bersama-sama membentuk dunia ini.

Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat. asal usul tata surya dan lain-Iainnya. penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. E. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk. Ilmu pengetahuan yang mempengaruhi aliran realisme dapat dilihat dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisika dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jalan khusus. sifat. 3. kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. yang sederhana merupakan fundamen at au dasar dari susunannya yang paling kompleks. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Esensialisme 1. Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak. kesenian. emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan. kesusasteraan. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat.antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan. Pandangan secara Ontologi Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan. 2. . Sivilisasi: Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. dapat berkembang harmonis dan organis. Maka dalam sejarah perkembangannya. Kepribadian: Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. dan hidup aman dan sejahtera . Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya. kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme. kebenaran dan keagungan. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi . Dengan demikian berarti bahwa suatu kejadian yang paling sederhana pun dapat ditafsirkan menurut hukum alam di antaranya daya tarik bumi. Realisme yang mendukung esensialisme yang disebut realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tcmpat manusia di dalamnya. realisme dan sebagainya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. Sedangkan oleh ilmu-ilmu lain dikembangkanlah teori mekanisme. mengejar kebutuhan. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. Adapun uraian mengenai realisme dan idealisme ialah: 1. agama. fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. fisiologi. sesuai dengan kemanusiaan ideal. yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. 4. Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks.

idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata. maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. pikiran itu adalahjasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukumhukum phisis.H Green. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. approach personalisme itu hanya melalui introspeksi.dan dunia itu ada dan terbangun atas dasar sebab akibat. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan. Manusia mengetahui sesuatu hanya di dalam dan melalui ide. ilmu alam. ldealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme obyektif. Mikrokosmos menunjuk kepada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan. Manusia sebagai individu. Sebab jika manusia mampu menyadari realita scbagai mikrokosmos dan makrokosmos. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. 2. Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda. tarikan dan tekanan mesin yang sangat besar. Sebaliknya realist berpendapat bahwa kita hanya mengctahui sesuatu realila di dalam melalui jasmani. Pengertian mengenai makrokosmos dan mikrokosmos merupakan dasar pengertian mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. . 1. rasio manusia adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang Maha Sempurna. Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian manusia. rohaniah. 2. baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Pandangan secara Epistemologi Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. Maksudnya adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. 2. Pendekatan (Approach) ldealisme pada Pengetahuan Kita hanya mengerti rohani kita sendiri. Sebab kesadaran kita. biologi. Pandangan Kontraversi Jasmaniah dan Rohaniah Perbedaan idealisme dan realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita. Ciri lain mengenai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam pengertian-pengertian makrokosmos dan mikrokosmos. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain. jasmani dan rohani. adalah makhluk yang semua tata serta kesatuannya merupakan bagian yang tiada terpisahkan dari alam semesta. dan agama. Bagi sebagian penganut realisme. Menurut T. Untuk mengerti manusia. Mikrokosmos menunjuk kepada fakta tunggal pada tingkat manusia. sosial.

Tipe Epistemologi Realisme Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai akibat adanya saling . tergantung pada pandangun-pandangan idealisme dan realisme sebab essensialisme terbina aleh kedua syarat tersebut. George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. nilainilai berasal. melaksanakan). realisme bersandarkan atas keilumuan dan lingkungan. ekspresi perasaan yang mencerminkan adanya serba kesungguhan dan kesenangan terhadap pakaian resmi yang dikenakan dapat menunjukkan keindahan baik pakaian dan suasana kesungguhan tersebut. ditanggap langsung oleh pikirar dunia realita. yang sdalu menunjukkan kualitas yang tinggi dan rendah atau kuat lemah. karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak interaktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. Di Amerika ada dua tipe yang utama: a. Teori Nilai Menurut Idealisme Penganut idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos. b. Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusia pada umumnya. b.an dan pengamatan. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. 4. 3. Dan manusia dalam hidupnya sdalu membentuk tatajawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan respon.3. Di samping koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan behi viorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaa yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan terhadap berhas tidaknya belajar yang dilakukan. tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk. Orang yang berpakaian serba formal seperti dalam upacara atau peristiwa lain yang membutuhkan suasana tenang. Pandangan secara Aksiologi Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon.Teori Nilai Menurut Realisme Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. haruslah bersikap formal dan teratur. karena minat. Menurut Teori Koneksionisme Teori ini menyatakan semua makhluk. Dengan demikian terjadi gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respon. Menurut idealisme bahwa sikap. Bagi aliran ini. a. perhatian dan pengalaman seseorang turut menentukan adanya kualitas tertentu. ltulah sebabnya neorialisme menafsirkan badan se bagai respon khusus yang berasal dari luar dengan sedikit atat tanpa adanya proses intelek. Untuk ini. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter at au nilai-nilai. Cretical Realisme Aliran ini menyatakan bahwa media antara inetelek dengan realita adalah seberkas penginderi'. Neorealisme Secara psikologi neorealisme lebih erat dengan behaviorisme Baginya pengetahuan diterima.

merupakan “nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama”. Diakui atau tidak. di samping itu. yang dilakukan. Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia–yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya. etika epistemologi. yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Tokoh-tokoh Pragmatisme Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma.hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh dari Iingkungan. Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika. filsafat politik. telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme. Tempat Asal Aliran Pragmatisme Dikembangkan Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa. William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya. C. . tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James (1842 . dan pendidikan. dalil. artinya yang dikerjakan. semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan.1910) di Amerika Serikat. dalil. B. tidak terkecuali di dunia pendidikan. Pragmatisme. Atas dasar itu. ALIRAN PRAGMATISME A. seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (15611626).1952). yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Pierce (1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme. Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme. paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978. yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang. Menurut filsafat ini. Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiranpemikiran Charles S. Salah satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 . Dalam konteks inilah. Pragmatisme. perbuatan. III. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. Pierce dan William James. sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. atau teori. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris. Pendahuluan Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan. sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. benar tidaknya suatu ucapan. Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek kehidupan.

Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. maupun periode Scholastik (1000 . sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan. dan etika. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643).1. Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran.1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejarah mata rantai pemikiran Barat. Jadi. yang menentang Trinitas. yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. Jadi. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri. dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. seperti masalah Tuhan. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. penindasannya yang telanjang. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. yakni suatu gerakan atau usaha –yang berkisar antara tahun 1400-1600 M– untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. Katholik dan Protestan. yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. Calvin. tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. Meskipun demikian. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragmatisme dalam konstelasi pemikiran Barat. Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance. sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. manusia. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss). Asal Usul Pragmatisme Gambar 7: Thomas AquinasSetelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yang mendasarkan pada pengenalan inderawi. telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan. Gerakan ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–. kosmos. atau dengan kata lain. seraya mempertahankan doktrin . adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika. Semangat Renaissance ini. Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya. Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani. yakni keterlepasannya dari agama.

yaitu Positivisme. Kant juga mempercayai Empirisme. namun tidak berarti semua dari pengalaman. fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia. Sedang pada Masa Aufklarung. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (17111776). salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. baik langsung maupun tidak. Hegel merupakan tokoh yang menonjol. dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. dengan Rasionalisme dari Descartes. dan Tuhan. Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya. Pada abad XIX. berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. Materialisme. yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. Pada abad XVII. aliran mereka disebut dengan Idealisme. seperti Feuerbach. dan Pragmatisme. sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. manusia. John Locke (1632-1704). Filsafat Kant disebut Kritisisme. pendidikan dan sebagainya. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. Selain George Berkeley dan David Hume. sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. Pada abad sebelumnya. Karenanya. .Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. Yang ada adalah ciriciri yang diamati. Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. dengan dua ide pokoknya. F. atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. Fichte (1762-1814). Mereka terbagi dalam dua pandangan. Baruch Spinoza (1632-1677). tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Dari ketiganya. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio. sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia. Namun demikian. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). dan Pascal (1623-1662). yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. George Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”. yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. Obyek luar ditangkap oleh indera. Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. Karl Marx. pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia. hukum. dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia. agama. ekonomi. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679).

sejalan dengan perkembangan pengalaman. Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. kebenaran itu merupakan suatu postulat. Jadi. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. Pembahasan tentang Pragmatisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. atau yang mereka namakan positif. suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Atas dasar itu. sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesissintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). yang sifatnya tidak pasti. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. sedang di sisi lain. Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872). melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James. dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Pertama. terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). 2. yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Kebenaran akan selalu berubah. Dalam The Meaning of The Truth (1909). Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Dengan kata lain. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”. Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (18201895).Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman Gambar 8: William James(Hegel) pada John Dewey. siap diuji dengan perdebatan atau . Selain John Dewey. tidak diketahui kebenaran teori itu. nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri.

yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. 4. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving. Yang kedua adalah Complex Truth. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan). mencoba. Sedang pemikir Empirisme. Pertama adalah Trancendental Truth. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. 5. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. Menurut James. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpikir induktif. D. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. Peirce membagi kebenaran menjadi dua. berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa). dan kebenaran logis atau literal. yaitu kebenaran dalam pernyataan. James. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. Merasakan adanya masalah 2. Hanya saja. Meskipun berbeda-beda penekanannya. 3. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini –yang juga disebut Practicalisme– . Ketiga. berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular.diskusi. Memilih dan menganalisis hipotesis. Menganalisis masalah itu. Menguji. dengan demikian. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. harus merupakan hubungan yang dialami. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. berbeda dengan empirisme tradisional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta.Kedua. Semua kebenaran pernyataan ini. Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum ke yang khusus. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. Pengalaman dan Pertumbuhan . harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. mendeduksi fakta dari prinsip. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis. yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. Pandangan Pragmatisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis.

Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah. tidak ada batas. berkembang menjadi sempurna. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman. dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis. Sains. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. baik secara individual maupun kolektif. hukum moral pun berubah. Dengan model tersebut. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi. sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. baik tingkah laku maupun pengetahuan. Menurut Dewey. tidak statis. Dengan cara demikian. semuanya dalam perkembangan. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. Oleh karenanya. Hidup tidak statis. tumbuh. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Akhirnya. filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai. dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput. tidak mesti diperoleh dari buku-buku. khusunya malalui pendidikan. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi. Bahkan. Sebagai tokoh pragmatisme. All is in the making. . Dalam masyarakat industri. Segala sesuatu berubah. ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. 2. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Di lembaga ini. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat. berkembang. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual. melainkan bersifat dinamis. pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental.Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. menurutnya. tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif. Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. dan tidak ada finalnya. tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Tujuan Pendidikan Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika. dunia ini penciptaannya belum selesai. Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya.

Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat. yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. mengekspresikan pendapat. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. Aqidah . Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan. Aqidah ini. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. Pandangan dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Begitu pula. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia.Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama. karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. dalam konteks ideologis. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman. Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan. dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. asas saling menghormati kepentingan bersama. guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya. Bahkan. yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda. Dengan demikian. Kebebasan tersebut harus dijamin. Yakni. yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran. dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : 1. dan lain-lain. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan. sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang. E. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa.

Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). antara dua pemikiran yang kontradiktif. Jadi. dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil –termasuk dalam hal ini Pragmatisme– pada hakekatnya adalah batil juga. Yang pertama. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. dan kehidupan. Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath’i (yang bersifat pasti). baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. Penyelesaian jalan tengah. ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V . Sedangkan yang kedua. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan. Dan dari sinilah dibahas. alam semesta. Kedua pemikiran ini. maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi. Sedang yang kedua. melalui serangkaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. Menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa.pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat.XV M). Jadi. dan kehidupan. membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaan-Nya. Ini adalah suatu kekeliruan. alam semesta. yakni keharusan menundukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. 4. adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. . dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq ini. Sebab. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemikiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif.

Kebenaran suatu ide adalah satu hal. sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah. Maka. b. Ide ini keliru dari tiga sisi. Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. Sebab. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. Atau dengan kata lain. Pertama. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. Dengan kata lain. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah. Sedang Metode Akliyah. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. bukan Metode Ilmiah. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah . Dan informasi sebelumnya ini. bahasa. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri. tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. logika. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu. Atas dasar dua argumen ini. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Kedua. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/material yang dapat diindera.Memang. Ketiga. Argumen untuk ini. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. Maka. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. 5. bukan Metode Ilmiah. diperoleh melalui Metode Akliyah. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Maka. Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak terindera seperti sejarah. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). Maka dari itu. kelompok. kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. bukan Metode Ilmiah. yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. ada dua point : a. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. dan hal-hal yang ghaib.

Allah SWT berfirman : “Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah” (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : “Apabila anak Adam meninggal dunia. Maka. teori. Namun demikian. Allah SWT berfirman : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya. 6. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara’. kecuali tiga perkara. shadaqah jariyah. atau hipotesis. bukan sembarang manfaat. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme –sebagai standar ide dan perbuatan– sangat bertentangan dengan Islam. anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya. maka ambillah dia. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah. ilmu yang bermanfaat. bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas manusia. Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. Dan apa yang dilarangnya bagimu. maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan.” (HSR. termasuk ide Pragmatisme. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. dan bukan manfaat. Jelas. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya…” (Al A’raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. maka tinggalkanlah dia…” (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. Selain itu. Maka.melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. Tetapi maknanya adalah. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. maka terputuslah amalnya. ajaran. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara’. janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. Muslim) Benar. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Amerika. Allah SWT juga telah berfirman : “Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil . yaitu Syari’at Islam. bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara’. Jadi. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah.

Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya. demi sesegera mungkin . dan yang dalam kenyataannya berlaku. Karenanya. 7. Teori yang tepat adalah teori yang berguna. rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi praktis. Tinjaun Kritis lainnya Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis. Pendeknya. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan. pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara praktis. teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak. yang siap pakai. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak. Sebagai prinsip pemecahan masalah. Bagi kaum pragmatis. ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut. Kebenaran suatu teori.oleh manusia sesuai kehendaknya. Justru di sini muncul masalah. mengabaikan peranan diskusi. mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa. dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya. kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele. Dekonstruksi Pragmatisme. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita. yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. pada konsekuansi praktisnya. bahkan sama sekali tidak menghendaki adanya diskusi. filsafat. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. malainkan langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. religius dan sebagainya. Oleh karena itu. bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. epistemologis. misalnya fungsi pendidikan. 8. pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan. Dan konsekuensi praktis yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi. melainkan didasarkan pada pengalaman. pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada. Dalam menghadapi berbagai persoalan. tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi. misalnya. baik bersifat psikologis. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri. metafisik. Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi praktisnya. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis. karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya. Pragmatisme mempunyai dua sifat. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit. Pragmatisme. yang penting bukan keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak yang muluk-muluk. yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah. Dalam rangka itulah.

Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif. karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini.mengambil tindakan langsung. maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. ALIRAN PERENIALISME A. sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi. sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan. kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. C. tidak memiliki konsekuansi praktis. Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia. terutama dalam bidang pendidikan. dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasilhasilnya. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebuoayaan dan pendidikan zaman sekarang. Pendahuluan B. di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan . Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13. Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau. Tokoh-tokoh Perenialisme Gambar 9: AristotelesFilsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. IV. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat.

harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi . khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas. dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas. ST. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang. maka ia terkenal dengan nama perenialisme. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. 1990: 64-65). Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus. maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting. Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H. D. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya. yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki. yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri. Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. Tokoh-tokoh yang mengembangkan ini timbul dari lingkungan agama Katholik atau diluarnya.keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh. Gambar 10: PlatoAsas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Pandangan Perenialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme.T Thomas Aquinas. bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya. Jadi sikap untuk kembali kemasa Iampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini. karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Jadi aliran perenialisme dipakai untuk program pendidikan yang didasarkan atas pokok-pokok aliran Aristoteles dan S. yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik. Jadi epistemologi dari perenialisme. Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan. Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib. Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan. Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme. kebudayaan yang mempunyai dua sayap. yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi.

Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru. Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Masak dalam arti hidup akalnya. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh orangorang besar. karena telah memiliki evidensi diri sendiri. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme tersebut. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham. orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra. ekonomi. Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut. Di samping itu.seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya. Dengan pengetahuan. ladi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain. dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis. 2. bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis. filsafat. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu. dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau. Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau. Dengan mengetahui rulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. sejarah. yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni: 1. jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini. politik. maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri. matematika. sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. bahan penerangan yang cukup. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa . Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian. di mana tug as pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru.

Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. rumput. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian an tara pikir dengan benda-benda. tidak jarang pula dimilikinya akal. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah . Pandangan secara Ontologi Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individuIl. misalnya partikular dan uni versal. perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Uraian di atas sejalan dengan apa yang dikatakan I.R Poedjawijatna bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas. warna dan aktifitas tertentu. diharapkan tiap individu itl! terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir. Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu. Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia. maka manusia itu setiap waktu adalah patensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Hal-hal yang bersifat partikular yang merintangi kehidupan dapat diatasi. hewan. Schula ini dapat dikurangi. tidak jarang pula dimilikinya akal. esensi.oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama. batu bangunan dasar. lembu. orang dalam bentuk. Thomas Aquinas. Benda individual disini adalah bend a sebagaimana nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu. 2. perasaan dan kemauannya. E. maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang. tumbuhtumbuhan dan sebagainya mempakan hal yang logis dalam karakternya. material dan spiritual. misalnya orang suka bermain sepatu roda. sehingga makin lama makin jauh dari patensialitasnya. ukuran. Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu. Misalnya meskipun manusia dalam hidupnya jarang dikuasai oleh sifat eksistensi kemanusiaan. tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau bend a tapi merupakan unsur patensiaJitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diutarakan aleh Aristateles tetapi ia juga merupakan sesuatu yang datang bersama-sama dari sesuatu "apa" yang terkandung dalam inti (essence) dan potensialitas dengan tindakan untuk "berada" yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh ST. atau suka berpakaian bagus. ini disebut pendidikan umum (general education). aksiden dan substansi. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Perenialisme 1. Maka dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini manusia dapat makin mendekatkan diri kepada gerak yang tanpa gerak itu. Bila dihubungkan dengan manusia. Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah patensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan. Pandangan Epistemologis Perennialisme Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. ialah tujuan dan bentuk terakhir dari segalanya. Adapun aksiden adalah keadaankeadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial. Setiap sesuatu yang ada.

mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada . Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. Pandangan Aksiologi Perennialisme Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural. Jadi manusia sebagai subyek dalam bertingkah laku. Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. hakiki dan berjalan dengan hukumhukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama. Kodrat wujud manusia yang pertama-tama adaJah lercermm dari jlwa dan pikirannya yang disebut dengan kekuataJl potensial yang membimbing tindakan manusia menuju pada Tuhan at au menjauhi Tuhan. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah "kehahagiaan". Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme. yakni menerima universal yang abadi. relatif atau kebenaran probability. Jelaslah bahwa pengetahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen. Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. Khususnya dalam tingkah laku manusia. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas. bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi. khususnya tingkah laku manusia. Menurut Plato. dengan kata lain melakukan kebaikan atau kejahatan. Dengan demikian jelaslah bahwa perenialisme itu rnenghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu. melainkan juga aksiologi. emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang. maka aspek jasmani. Dengan azas seperti itu. dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya. karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi. agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Kebaikan tertinggi adalah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional. kemauan dan pikiran. di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan. Untuk mencapai pendidikan itu. Pendidikan hendaknya berorientasi pada p~tensi itu dan kepada masyarakat. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis. 3. Dalam aksiologi. manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu. kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. seperti Plato. Secara etika. Aristoteles dan Thomas Aquinas. tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural. Sejalan dengan uraian di atas. Tindakan yang baik adalah yang bersesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi. Dengan memperhatikan hal ini. Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. di samping adapula kecenderungan-kecenderunngan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia. kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal. telah memiliki potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya.perhatian mengenai esensi dari sesuatu.

Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale. Walaupun demikian. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Untuk mencapai tujuan tersebut. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia. aktif dan nyata. aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Aliran Rekonstruksionisme A. mempertinggi kemampuan anak untuk memiliki akal sehat. ingin membangun masyarakat baru. Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu sejalan dengan pandangan dasar di atas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt. perguruan tinggi. yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. Harold Rugg C. memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran. aliran rekonstruksionisme dan perenialisme. sepaham dengan aliran perenialisme. rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang. kebingungan dan kesimpangsiuran. Maka. Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. D.dalam individu agar menjadi aktualitas. maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930. proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. Dalam konteks filsafat pendidikan. Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan . yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Aliran perennialisme memilih cara tersendiri. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang scrasi dalam kehidupan. Aliran rekonstruksionisme. George Count. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. V. pada prinsipnya. Dari prinsipprinsip pendidikan perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern. prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Kedua aliran tersebut. menengah. seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar. yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. masyarakat yang pantas dan adil. B. Oalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. Pendahuluan Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali.

diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Pandangan secara Ontologi Dengan ontologi. yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia. Dengan demikian gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif tersendiri. diperlukan nilai-nilai. Descartes. kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit. aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme. sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi. nasionalisme. Pada prinsipnya. mampu meningkatkan kualitas kesehatan. Kemudian. ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan. semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. 2. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri. E. seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini. keturunan. secara umum ruang lingkup (scope) ten tang pengertian "nilai" tidak terbatas.Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. dalam konteks ini. selain substansi yang dipunnyai dan tiap-tiap benda tersebut. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. . Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju kearah yang khusus menam pakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti bewan dan tumbuhan atau benda lain disekeiling kita. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Rekonstruksionisme 1. akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian. yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal. Tetapi. Tuhan adalah aktualitas murni yang sarna sekali sunyi dan substansi. dan dapat dipilih melalui akal pikiran. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral. dan realita yang kita ketahui dan kita badapi tidak terlepas dari suatu sistem. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. yang merupakan kecenderungan man usia. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Pandangan Ontologis Dalam proses interaksi sesama manusia. Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan. meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna. sarna azali dan abadi. Kausa prima. Namun demikian.

menyatakan bahwa secara kritis realita semesta dapat dipahami dan tidak ada sesuatu di alam nyata ini diluar kekuasaan Tuhan karena semua itu sebagai perwujudan dari kesempurnaannya. metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada pemikiran yang hakiki. dengan memakai cara pengambilan kesimpulan deduktif dan induktif. Penalaran-penalaran memiliki hukum-hukum tersendiri agar dijadikan pegangan ke arah penemuan definisi atau pengertian yang logis. hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. Kajian tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran. penafsiran yang demikian didukung oleh Thomas Aquinas yang inti pembicaraannya untuk mengetahui realita yang ada yang hams berdasarkan iman dan perkembangan rasional hanya dapat dijawab dan mesti diikuti dengan iman. Pandangan Epistemologis Kajian epsitemologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. pancaran un sur keindahan universal yang abadi.Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal. memberikan argumentasi rasio tentang eksistensi Tuhan. dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi. yakni bersatu dengan Tuhan. Dari gerakan intelektualitas pada abad pertengahan yang mencapai kristalisasi pada abad IX-XIV. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan). kreasi estetika dan organisasi politik. realita dan eksistensinya. Keindahan yang maujud itu hanyalah keindahan khusus. karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan. kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual. dengan jalan pernikirannya adalah silogisme. Karenanya. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasaldari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Dalam perkembangan selanjutnya. Karenanya. Sebagai ilustrasi. dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya. baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahun. Alselpus. yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence. Neo-Thomisme memandang bahwa etika. 3. kemudian berpikir rasional. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka. maha indah dan Tuhan. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pad a prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral. . yakni bukti yang ada pada diri sendiri. Kemudian. seorang tokoh utama scholastik. yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral. Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor. estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis. adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence). Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam. premis minor dan kesimpulan (condusion).

blogspot.2bryan.org/wiki/Halaman_Utama http://mimbardemokrasi.php http://hhmsociety. DAFTAR PUSTAKA http://edu-articles.wikipedia.geocities.html .re-searchengines.com/ http://www.net/ http://gkagloria.com/ http://id.id/index.html http://www.org/wiki/Main_Page http://e-pendidikan.or.com/athens/parthenon/4926/rencana/tunjang.com/ http://wordpress.htm http://www.wikipedia.com/artikel.VI.multiply.geocities.com/ http://www.com/HotSprings/6774/jurnal3.multiply.com/ http://rajasidi.com/ http://en.

Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. di sebut dengan landasan aksiologi. berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. landasan ini akan menjawab. EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu. bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? . seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Ilmu di kacaukan dengan seni.ONTOLOGI. ilmu dikonfrontasikan dengan agama. yang pertama di sebut landasan ontologis. Sedang yang ketiga. Kedua di sebut dengan landasan epistimologis. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. Dengan mengetahui jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia.

naturalisme. tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. atau hylomorphisme. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. Abstraksi fisik menampilkan . tealaahnya akan menjadi kualitatif. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. 1. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. atau dalam rumusan Lorens Bagus. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. dan abstraksi metaphisik. idealisme. abstraksi bentuk.PEMBAHASAN A. Ontologi Objek telaah ontologi adalah yang ada. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. yaitu : abstraksi fisik. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Studi tentang yang ada. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. 2. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. menampilkan pemikiran semesta universal. Bagi pendekatan kuantitatif. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. Ontologi membahas tentang yang ada. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas.

dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.[2] . dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. badan itu fana’ (S-Tt) (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat. term tengah ada sesudah realitas kesimpulan.keseluruhan sifat khas sesuatu objek. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek.

seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan sederhana tersebut. John Locke. Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati. Epistemologi Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan.Sementara Jujun S. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?[3] Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan a. Memang sebenarnya. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak . Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian. Menurut Locke. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. B.dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). bapak empirisme Britania. kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.

c. Kant membuat uraian tentang pengalaman. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Intusionisme Menurut Bergson. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. b. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri. d. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan. Analisa. pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). . Fenomenalisme Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita. artinya. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan.kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama.

atau dengan perkataan lain.Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan.” melainkan faust yang menciptakan Goethe. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi. ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan . Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka. e. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri. namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentukhanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi.” Menghadapi kenyataan seperti ini. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. atau dengan perkataan lain. yaitu kenyataan. Mereka mengatakan. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. C. Hendaknya diingat. Aksiologi Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita.

Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. “asalkan kau mampu menemukannya. Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap. Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Galileo (1564-1642). Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama. keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?). sedangkan di pihak lain.keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus. “segalanya punya moral. Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Galileo dan ilmuwan seangkatannya. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[4] . dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. oleh pengadilan agama tersebut. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan.” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib.

2. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?.PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : 1. Ontologis. 3. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. Aksiologi menjawab. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?[5] . Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?.

Dr. Yogjakarta.DAFTAR PUSTAKA Jujun S. 2001. H. Yogjakarta. Sistematika filsafat II. Prof. . Suriasumantri. Yogjakarta Sidi Gazalba. Jakarta. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 1996. Tiara Wacana. Pengantar filsafat. Noeng Muhadjir. Filsafat Ilmu. Louis O. Penerbit Rake Sarasin. Kattsouff. 1995. Pustaka Sinar Harapan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->