Filsafat Ilmu

A. Pengertian Filsafat Ilmu Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsepkonsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabangcabang pengetahuan intelektual.) Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis) Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

B. Fungsi Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
    

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. C.Substansi Filsafat Ilmu Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi. 1.Fakta atau kenyataan Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
 

  

Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek

kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah. 2. Kebenaran (truth) Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001) a. Kebenaran koherensi Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental. b.Kebenaran korespondensi Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik c.Kebenaran performatif Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. d.Kebenaran pragmatik Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis. e.Kebenaran proposisi Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisiproposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan

belum ada skema moral yang jelas. koheren antara fakta dengan skema rasio. atau memberikan pemaknaan. yaitu logika induksi dan logika deduksi. Sedangkan untuk membuat penjelasan. analisis faktor. Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. tapi masih bersifat spesifik. tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.Kebenaran struktural paradigmatik Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. 3. Belief pada Russel memang memuat moral.Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan. karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh. D. Sampai sekarang analisis regresi. Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. memprediksi proses dan produk yang akan datang.200:9) Di lain pihak. dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. yaitu : (1) meta ideologi. Secara garis besarnya. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden.Logika inferensi Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika. yakni berdasarkan logika. atau axioma yang sudah dipastikan benar. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu. prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif. (Ismaun. 4. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai. . Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. f.persyaratan formal suatu proposisi. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. melainkan dilihat dari benar materialnya. (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu. Pendapat lain yaitu dari Euclides. logika terbagi ke dalam 2 bagian. ataupun reflektif. diantaranya:  Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam. yang menguasai positivisme. postulat. deduktif.

sifat-sifat alam. Pendahuluan Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita. lingkungan. kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. Aliran Progresivisme A. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. atau suatu keterangan akan dikatakan benar. atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan. dapat menguasai dan mengaturnya. dan Harold Rugg diawal abad 20. Dinamakan eksperimentalisme.  Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. bahwa manusia untuk mengetahui kehidupan semua masalah. B. 1. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910) Gambar 1: William JamesSeorang psychologist dan seorang filosuf Amerika yang sangat terkenal. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi: Ilmu Hayat. aktivitas. yakni kebudayaan. belajar "naturalistik". Antropologi yaitu bahwa manusia mempunyai pengalaman. terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional. karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup. maka perlu ditambah koheren dengan moral. Dalam pendapat lain. Progressivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian.manusiawi. melainkan sebagai kepanjangan ide manusia. karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori. pragmatisme berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar. Paham . benar. Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata. dan pengalaman-pengalamannya. George Count. Bila etik dimasukkan. dengan demikian dapat mencari hal baru. produk domain kognitif dan produk alasan praktis. kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas. Progresivisme dinamakan instrumentalisme. untuk kesejahteraan. tidak mengeksploitasi orang lain. efisien dan produktif. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends. William Kilpatrick. pencipta budaya. harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human. dan logis. untuk mengembangkan kepribadian manusia. Tokoh-tokoh Progresivisme Filsafat pendidikan Progresivisme dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey.

Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis. PierceJohn Dewey merupakan filosof. psikolog. Dewey juga belajar logika kepada Charles S.A. hukum. psikologi dan pendidikan di University of Chicago tahun 1894. Aplikasi ide Dewey. harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dewey masuk kuliah di University of Vermont dengan spesifikasi bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial. teori politik dan ilmu jiwa. H. tapi meskipun demikian. Ia dilahirkan di Burlington. dosen serta penceramah dibidang filsafat. Dewey banyak menulis masalah-masalah sosial dan mengkritik konfrontasi demokrasi Amerika. berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit. Gambar 3: Charles S. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran. dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.S. Pada tahun 1899. Adapun ide filsafatnya yang utama. Bersama gurunya. Vermont. Dan reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Prugressivisme Amerika. pendidik dan kritikus sosial Amerika. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut. tepatnya tanggal 20 Oktober 1859. menjadi kepala jurusan filsafat. Lembaga-lembaga pendidikan . ia mengajar sastra klasik. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian. baik teori maupun praktek. baru peminatan. seperti juga aspek dari eksistensi organik. Sebagian besar kehidupan Dewey dihabiskan dalam dunia pendidikan. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Dewey menulis buku The School and Society. dan aljabar di sebuah sekolah menengah atas di Oil City. John Dewey (1859 . Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas. Setelah tamat. namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. Selain itu. ikut serta dalam aktifitas organisasi sosial dan membantu mendirikan sekolah baru bagi Social Reseach tahun 1919 di New York. sains. dan "Child Centered School". dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu.dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika. bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang.1952) Gambar 2: John DeweyJohn Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal. Selanjutnya. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil. yang memformulasikan metode dan kurikulum sekolah yang membahas tentang pertumbuhan anak. Pierce dan C. Maka muncullah "Child Centered Curiculum". Dewey melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor dari John Hopkins University tahun 1884 dengan disertasi tentang filsafat Kant. Salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme. akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi. Torrey. Dewey kemudian mengajar di University of Michigan (1884-1894). 2. salah seorang psikolog eksperimental Amerika. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis. antropologi. juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme. Dewey juga menjadi tutor pribadi di bidang filsafat. Hall. seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed". anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik. Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional. Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Pada tahun 1875. Pensylvania tahun 1879-1881.P.

Tahun 1894 Dewey memperoleh gelar Professor of Philosophy dari Chicago University. Didalam banyak hal progressivisme identik dengan pragmatisme. Hans Vaihinger (1852 . dan yang paling fenomenal Democracy and Education (1916). Sehingga progresivisme dianggap sebagai The Liberal Road of Cultlire (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan. Artinya filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ideide dasar filsafat pragmatisme di mana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk terus survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan. bolehlah dianggap benar. antropologi. asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja. John S. Filsafat progressivisme sama dengan pragmatisme. Georges Santayana Georges digolongkan pada penganut pragmatisme ini. jika pengertian itu berguna. Dewey akhirnya meninggal dunia tanggal 1 Juni 1952 di New York dengan meninggalkan tidak kurang dari 700 artikel dan 42 buku dalam bidang filsafat. salah seorang penyumbang pemikir pragmatisme-progresivisme yang meletakkan dasar dengan penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi. Diantara karya-karya Dewey yang dianggap penting adalah Freedom and Cultural. Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat pendidikan progresif di Amerika. baik yang bersifat teoritis maupun praktis. Oleh karena itu filsafat progresivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan. mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1885 1952). dan pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya. Namun demikian. untuk menguasai dunia. Gagasan filosofis Dewey yang terutama adalah problem pendidikan yang kongkrit. politik serta ilmu jiwa. Tempat Asal Aliran Progresivisme Dikembangkan Progressivisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. Dewey juga memiliki sumbangan di bidang ekonomi. Tapi amat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka. filsafat progressivisme atau pragmatisme ini merupakan perwujudan dan ide asal wataknya. Dengan demikian filsafat progresivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi akan nilai demokratis. Brubaeher. Dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah. Pertama. Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. toleran dan terbuka (open minded). pendidikan.1933) Gambar 4: Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Experience and Nature (1925). 4. University of Colombia dan University of Chicago. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. 3. karena amat banyak pengaruh yang bertentangan dengan apa yang dialaminya.yang disinggahi Dewey adalah University of Michigan. Art and Experience. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. . maka berarti sama dengan. Gambar 5: Georges Santayana C. satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. seni. yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. politik dan pembaharuan sosial. The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922). hukum. sains. menolak absolutisme dan otoriterisme dalam segala bentuknya. Oleh karena itu apabila orang menyebut pragmatisme. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan. sebagaimana dikembangkan oleh lmanuel Kant.

ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. Nampak bahwa aliran filsafat progresivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku (subyek) di dalam hidupnya. Sehubungan dengan itu Wasty Soemanto menyatakan bahwa daya akal sama dengan intelegensi. . akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. curious (ingin mengetahui dan menyelidiki). guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya.peneliti. aktif serta dinamis. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu. tidak terikat oleh doktrin tertentu). Mereka harus memiliki sikap terbuka dan berkemauan baik sambil mendengarkan kritik dan ide-ide lawan sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argumen tcrsebut. Tampak filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju) bertindak secara konstruktif. D. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan. toleran dan open minded (punya hati terbuka). Namun demikian filsafat progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia. pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. melainkan selalu berkembang dan berubah. tidak menolak perubahan. guna mengembangkan pengalamannya. hambatan. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku. inovatif dan reformatif). adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya. Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir. berkompetitif. Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja. di mana intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan-pemecahan masalah. baik itu tantangan. Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusiamanusia yang berkualitas unggul. kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir (man's natural powers). di mana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Maksudnya adalah manusia sejak lahir telah membawa bakat dan kemampuan (predisposisi) atau potensi (kemampuan) dasar terutama daya akalnya sehingga dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya. Di sini·tersirat bahwa intelegensi merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung masalah. Adapun filsafat progresivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil budi manusia. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku. Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Dengan demikian potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan dan hal ini menjadi perhatian progresivisme. Sebab. insiatif.

filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhlukmakhluk lain. William Kilpatrick. 1. belajar "naturalistik". Seiring dengan pandangan di atas. untuk dapat bekerja sama. mengajukan hipotesa. Landasan filosofis pembelajaran IPA terpadu ialah filsafat pendidikan Progresivisme yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. mengkonfirmasikan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui. Asas Belajar Pandangan mengenai belajar. guru yang bertugas dapat mendorong. Dengan begitu. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak dengan jalan mengingat seperangkat fakta-fakta. serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang IPA dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. sampai dapat memutuskan kesimpulan yang disepakati bersama. Jadi terlihat bahwa siswa akan dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul diawal pembelajaran.Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau kurikulum eksperimental. Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran IPA dengan situasi lebih alami dan situasi dunia nyata. untuk pembelajaran IPA hendaknya dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya heterogen. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. aktivitas. Dengan begitu. saling berinteraksi dan mendiskusikan hasil secara bersama sama. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. Dengan metode pendidikan "Belajar Sambil Berbuat" (Learning by doing) dan pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem. Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep IPA dan berpikir tingkat tinggi dan memungkinkan mendorong siswa peduli dan tanggap terhadap lingkungan dan budayanya. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis. yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman. kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya. Dalam pembelajaran IPA hendaknya guru dapat merancang dan mempersiapkan suatu pembelajaran dengan memotivasi awal sehingga dapat menimbulkan suatu pertanyaan. anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. tetapi dengan jalan menemukan dan menggeneralisasi sendiri sebagai hasil kemandiriannya. di mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. dan Harold Rugg diawal abad 20. Dengan berpijak dari pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. George Count. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan inkuari. Ciri utama pembelajaran IPA adalah dimulai dengan pertanyaan atau masalah dilanjutkan dengan arahan guru menggali informasi. bahwa filsafat progresivisme mengakui anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan megakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif. saling menghargai pendapat teman. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah .

berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dalam pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlar 1984: 48). Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif. Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan. Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan.berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. jangan dipandang dari sudut orang dewasa. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan. memberikan motivasi-motivasi dan stimulistimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik. Di samping itu. sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778). Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. menyataka anak harus dididik sesuai dengan alamnya. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak. Untuk dapat melestarikan usaha ini. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nila nilai. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar "sekolah sambil berbuat" atau learning by doing. Anak bukan miniatur orang dewasa. tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri. sedangkan guru sebagai pelayan siswa. di mana anak sebagai subyek pendidikan. Hal yang harus diperhatikan gura adalah "anak didik bukan manusia dewasa yang kecil" yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. Tegasnya. Di sini prinsip kebebasan prilaku. . Beranjak dari ketiga pendapat di atas. John Locke (1632-1704) mengemukakan. anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses di mana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. mengutip pendapat John Dewey sebagai berikut: John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan: 1. akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa.

catat. hafal). sekolah pembangunan dan CBSA. tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan. Memberi motivasi. karena sekolah didirikan untuk anak. 3. Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar. Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. dinamika dan sifat-sifat yang sejenis. 4. tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. dengar. tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif. Progresivisme menghendaki pendidikan yang progresif. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak. dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting). Sikap progressvisme. Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula. individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru. di mana ditandai dengan sifat verbalisme di mana terdapat cara belajar DDCH (duduk. Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar belajar di sekolah. memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas. Dari uraian di atas. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. dan bukan perintah. Dalam abad ke-20 ini terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja. Pandangan Kurikulum Progressivisme Selain kemajuan atau progres. Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional. bukan diciptakan . melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah. dengan orientasi kehidupan masa kini. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan 'kemerdekaan beraktivitas. lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. sekolah kerja.2. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik. murid bersifat reseptif dan pasif saja. setiap anak didik berbeda kemampuannya. Murid tanpa diberikan kebebasan sarna sekali untuk bersikap dan berbuat. di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan sekolah progresive. 2. Guru mendominasi kegiatan belajar. Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress. 5. maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman.

melakukan pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan. W. yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. 3. Untuk memenuhi keutuhan tersebut. maupun psikomotor. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan.H Kilpatrick. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum. orang tua serta masyarakat. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan sekolah sehingga . 2. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga prinsip: 1.H Kilpatrick mengatakan. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium. di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan. melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada kemampuan intelektualnya. Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952) dan dikembangkan oleh W. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu kehidupan yang bulat dan menyeluruh. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah. di bengkel. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit. metode yang diutamakan yaitu problem solving. akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. afektif. maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). Dalam hal ini. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.sekehendak yang mendidiknya. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa. Pengajaran dengan program unit. diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif. akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk semangat demokrasi pendidikan. filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas. melainkan harus terintegrasi dalam unit.

yang berarti perkembangan. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Progresivisme 1. Pandangan dari Sudut Budaya Kebudayaan sebagai hasil budi manusia. Pengetahuan harus disesuaikan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. adaptif dan kemandirian dan (4) kurikulum bersifat fleksibel atau luwes berisi tentang berbagai macam bidang studio. kesedihan. Filsafat . kekuasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi pengalaman. 3. keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati. ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan (buku-buku. kecerdasan dari individu-individu. perasaan.H Kilpatrick tersebut ada beberapa hal yang perlu diungkapkan yaitu: (1) kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku. Manusia akan tetap hidup berkembang. maju setapak demi setapak mulai dari yang mudahmudah menerobos kepada yang sulit-sulit (proses perkembangan yang lama). Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. Pengetahuan diperoleh manusia baik seeara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkun hidupnya. proses. sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. Pengalaman adalah suatu sumber evolusi. jika ia mampu mengatasi perjuangan. (3) kurikulum yang sanggup mengubah prilaku anak didik menjadi kreatif. sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan. 4. Pandangan secara Ontologi Asal Hereby atau asal keduniawian. pengalaman manusia tentang penderitaan. realita pengetahuan dan daya guna. melainkan selalu berkembang dan berubah. dengan demikian adanya pergaulan.anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan. hukum prinsip. dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas. Pandangan secara Aksiologi Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa. baik atau buruk dapat dikatakan adalah menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia. Melalui proses pendidikan dengan menggunaka kurikulum yang bersifat intergrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial seharihari dengan baik. kegembiraan. maka makin besar persiapan menghadapi tuntutan masa depan. Pengalaman adalah perjuangan. fakta. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. 2. Pandangan secara Epistemologi Pengetahuan adalah informasi. Nilai itu benar atau salah. kepustakaan). dan dalam hal ini apa saja yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang. perubahan dan berani bertindak. E. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek. kebenaran adalah (sekuen dan pada sesuatu ide. kehendak. Dari penjelasan yang dikemukakan oleh W. (2) kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik. Kebenaran dan kemampuan suatu ide memecahkan masalah. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu.

Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme.progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman. akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi. di mana serta terbuka untuk perubahan. titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Realisme modern. pandanganpandangannya bersifat spiritual. sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional untuk memasuki zaman modern (progresif). cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri. II. Maka. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. yang memenuhi tuntutan zaman. Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua. di mana dengan pembaharuanpembaharuan pendidikan telah dapat mempengaruhi manusia untuk maju (progress). dan dijadikan pangkal berfilsafat. Dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. Dan disana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. yang menjadi salah satu eksponen essensialisme. . Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahanperubahan. Hidupnya hanya bergantung dengan alam. telah mempengaruhi pendidikan. John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu. Sehingga semakin tinggi tingkat berpikirnya manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. Alamlah yang mengendalikan manusia. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Pendahuluan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Alamlah yang dikendalikan oleh manusia. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya. masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju. karena itu timbul pada zaman itu. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. ALIRAN ESENSIALISME A. sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. rumahrumah mewah. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta.

akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan. melaksanakan). dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit. C. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Tokoh-tokoh Esensialisme 1. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasangagasan (ide-ide). Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. B. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. karena minat. yang merupakan pencipta adanya kosmos. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. George Santayana George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Tempat Asal Aliran Esensialisme Dikembangkan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. serta segala isinya. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut . yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. 2. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah.Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik. di mana serta terbuka untuk perubahan. melainkan pertemuan keduanya. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) Gambar 6: Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT.

Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda. tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk. Universum: Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. yang bersama-sama membentuk dunia ini. 2. bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori. jadi harus ada. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilainilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. mengatur dalam ruang dan waktu. Jadi. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. 2. bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas: 1.esensialisme. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Di . ruang dan ikatan waktu. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar Idealisme. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. Bentuk. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka. Pandangan Immanuel Kant. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif. memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain. Maka. karena itu timbul pada zaman itu. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang. Budi membentuk. lelapi bendabenda itu yang terarah kepada budi. menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya. Bogoslousky. memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Determinisme terbatas. sebagai filsafat hidup. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. D. asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan. terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal. Menurut idealisme. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. Bila orang berhadapan dengan benda-benda. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Determiuisme mutlak. yang memenuhi tuntutan zaman. Dengan mengambil landasan pikir tersebut. belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian: 1.

asal usul tata surya dan lain-Iainnya. Ilmu pengetahuan yang mempengaruhi aliran realisme dapat dilihat dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisika dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jalan khusus. Sivilisasi: Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme. Pandangan secara Ontologi Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela. yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. 2. kebenaran dan keagungan. realisme dan sebagainya. dapat berkembang harmonis dan organis. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik. Realisme yang mendukung esensialisme yang disebut realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tcmpat manusia di dalamnya. kesenian. yang sederhana merupakan fundamen at au dasar dari susunannya yang paling kompleks. fisiologi. mengejar kebutuhan. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Esensialisme 1. kesusasteraan. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam. sesuai dengan kemanusiaan ideal. penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. Maka dalam sejarah perkembangannya. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi . Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. 3. kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. . Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan. E. Dengan demikian berarti bahwa suatu kejadian yang paling sederhana pun dapat ditafsirkan menurut hukum alam di antaranya daya tarik bumi. fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. Adapun uraian mengenai realisme dan idealisme ialah: 1. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya. 4. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian.antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam. Sedangkan oleh ilmu-ilmu lain dikembangkanlah teori mekanisme. kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kepribadian: Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. dan hidup aman dan sejahtera . Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. sifat. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan. emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan. Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat. agama.

2. rohaniah. ldealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme obyektif. rasio manusia adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang Maha Sempurna. jasmani dan rohani. ilmu alam. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Maksudnya adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. 2. dan agama. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda. Sebab jika manusia mampu menyadari realita scbagai mikrokosmos dan makrokosmos. Pandangan secara Epistemologi Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. biologi. sosial. Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian manusia.dan dunia itu ada dan terbangun atas dasar sebab akibat. Sebab kesadaran kita. adalah makhluk yang semua tata serta kesatuannya merupakan bagian yang tiada terpisahkan dari alam semesta. Bagi sebagian penganut realisme. tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain. Ciri lain mengenai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam pengertian-pengertian makrokosmos dan mikrokosmos. pikiran itu adalahjasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukumhukum phisis. baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan. Mikrokosmos menunjuk kepada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis. 2. Mikrokosmos menunjuk kepada fakta tunggal pada tingkat manusia. Pengertian mengenai makrokosmos dan mikrokosmos merupakan dasar pengertian mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. Sebaliknya realist berpendapat bahwa kita hanya mengctahui sesuatu realila di dalam melalui jasmani. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Manusia sebagai individu. idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata. tarikan dan tekanan mesin yang sangat besar. Pendekatan (Approach) ldealisme pada Pengetahuan Kita hanya mengerti rohani kita sendiri.H Green. Pandangan Kontraversi Jasmaniah dan Rohaniah Perbedaan idealisme dan realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita. Manusia mengetahui sesuatu hanya di dalam dan melalui ide. Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. . Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. approach personalisme itu hanya melalui introspeksi. Menurut T. Untuk mengerti manusia. 1. maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya.

Di Amerika ada dua tipe yang utama: a. karena minat. 4. Neorealisme Secara psikologi neorealisme lebih erat dengan behaviorisme Baginya pengetahuan diterima. Pandangan secara Aksiologi Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. nilainilai berasal. Menurut idealisme bahwa sikap.an dan pengamatan. Di samping koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan behi viorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaa yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan terhadap berhas tidaknya belajar yang dilakukan. Bagi aliran ini. Untuk ini. Orang yang berpakaian serba formal seperti dalam upacara atau peristiwa lain yang membutuhkan suasana tenang. yang sdalu menunjukkan kualitas yang tinggi dan rendah atau kuat lemah. Dengan demikian terjadi gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respon. ditanggap langsung oleh pikirar dunia realita. melaksanakan). haruslah bersikap formal dan teratur. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter at au nilai-nilai. tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai akibat adanya saling . Dan manusia dalam hidupnya sdalu membentuk tatajawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan respon. George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Teori Nilai Menurut Idealisme Penganut idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos.3. Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusia pada umumnya.Teori Nilai Menurut Realisme Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. Cretical Realisme Aliran ini menyatakan bahwa media antara inetelek dengan realita adalah seberkas penginderi'. tergantung pada pandangun-pandangan idealisme dan realisme sebab essensialisme terbina aleh kedua syarat tersebut. Tipe Epistemologi Realisme Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme. realisme bersandarkan atas keilumuan dan lingkungan. ekspresi perasaan yang mencerminkan adanya serba kesungguhan dan kesenangan terhadap pakaian resmi yang dikenakan dapat menunjukkan keindahan baik pakaian dan suasana kesungguhan tersebut. Menurut Teori Koneksionisme Teori ini menyatakan semua makhluk. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon. b. perhatian dan pengalaman seseorang turut menentukan adanya kualitas tertentu. b. karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak interaktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. 3. ltulah sebabnya neorialisme menafsirkan badan se bagai respon khusus yang berasal dari luar dengan sedikit atat tanpa adanya proses intelek. a.

seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (15611626). Pragmatisme. Tempat Asal Aliran Pragmatisme Dikembangkan Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa. Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika. semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan. III. Pendahuluan Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan. tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James (1842 . dan pendidikan.1910) di Amerika Serikat. yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. etika epistemologi. Atas dasar itu. Tokoh-tokoh Pragmatisme Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma. Menurut filsafat ini. yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. dalil. atau teori. sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. artinya yang dikerjakan. dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiranpemikiran Charles S. Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia–yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. benar tidaknya suatu ucapan. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. C. paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya. telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978. yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek kehidupan. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang. filsafat politik. atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. ALIRAN PRAGMATISME A. yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pierce (1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme. merupakan “nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama”. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris. . Pierce dan William James. B. Dalam konteks inilah.1952). Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S.hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh dari Iingkungan. yang dilakukan. sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. di samping itu. tidak terkecuali di dunia pendidikan. Diakui atau tidak. baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme. telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya. dalil. Salah satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 . William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya. perbuatan. Pragmatisme.

tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. penindasannya yang telanjang. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. maupun periode Scholastik (1000 . Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. manusia. Gerakan ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss). dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. kosmos. yakni suatu gerakan atau usaha –yang berkisar antara tahun 1400-1600 M– untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. Jadi. seperti masalah Tuhan. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. yakni keterlepasannya dari agama. Asal Usul Pragmatisme Gambar 7: Thomas AquinasSetelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan. yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan. Semangat Renaissance ini. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragmatisme dalam konstelasi pemikiran Barat. atau dengan kata lain. Jadi. sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance.1.1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”. mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejarah mata rantai pemikiran Barat. ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan. Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. seraya mempertahankan doktrin . Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani. Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya. Katholik dan Protestan. yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. Meskipun demikian. Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yang mendasarkan pada pengenalan inderawi. tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). yang menentang Trinitas. Calvin. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran. seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri. dan etika. Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi.

Hegel merupakan tokoh yang menonjol. . yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. Pada abad XIX. salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Obyek luar ditangkap oleh indera. Karenanya. sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. dengan Rasionalisme dari Descartes.Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. Mereka terbagi dalam dua pandangan. John Locke (1632-1704). tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (17111776). pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia. Dari ketiganya. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio. manusia. Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Kant juga mempercayai Empirisme. berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. baik langsung maupun tidak. Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. dan Tuhan. agama. Materialisme. seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. namun tidak berarti semua dari pengalaman. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). Karl Marx. hukum. yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. dengan dua ide pokoknya. Pada abad XVII. fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia. dan Pragmatisme. dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia. ekonomi. dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Filsafat Kant disebut Kritisisme. Fichte (1762-1814). Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya. Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. dan Pascal (1623-1662). Selain George Berkeley dan David Hume. yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679). sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. Yang ada adalah ciriciri yang diamati. pendidikan dan sebagainya. yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. Baruch Spinoza (1632-1677). Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). Sedang pada Masa Aufklarung. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. F. yaitu Positivisme. seperti Feuerbach. Namun demikian. yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. aliran mereka disebut dengan Idealisme. Pada abad sebelumnya. George Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”.

adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”. yang sifatnya tidak pasti. dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. Pertama. Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Jadi. tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. kebenaran itu merupakan suatu postulat. Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. tidak diketahui kebenaran teori itu. Selain John Dewey. Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). Atas dasar itu. suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesissintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman Gambar 8: William James(Hegel) pada John Dewey. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme. 2. Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach. yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). siap diuji dengan perdebatan atau . nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872). melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Dengan kata lain. sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James.Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. sedang di sisi lain. sejalan dengan perkembangan pengalaman. Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (18201895). kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. atau yang mereka namakan positif. Pembahasan tentang Pragmatisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. Dalam The Meaning of The Truth (1909). Kebenaran akan selalu berubah.

Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. dan kebenaran logis atau literal. yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. 3. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. Ketiga. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini –yang juga disebut Practicalisme– . maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpikir induktif. yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. Menguji. Menurut James. berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. Peirce membagi kebenaran menjadi dua. D. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. berbeda dengan empirisme tradisional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta. Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa). Pandangan Pragmatisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi.Kedua. Sedang pemikir Empirisme. harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis. harus merupakan hubungan yang dialami. Meskipun berbeda-beda penekanannya. Memilih dan menganalisis hipotesis. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. Yang kedua adalah Complex Truth. Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum ke yang khusus. 5. yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. Semua kebenaran pernyataan ini. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. Pertama adalah Trancendental Truth. mendeduksi fakta dari prinsip. Hanya saja. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. Merasakan adanya masalah 2. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. Menganalisis masalah itu. mencoba. dengan demikian. James. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. 4. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan). Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara.diskusi. Pengalaman dan Pertumbuhan . dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. yaitu kebenaran dalam pernyataan.

Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat. penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi. baik secara individual maupun kolektif. Dengan model tersebut. Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis. ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. melainkan bersifat dinamis. tidak mesti diperoleh dari buku-buku. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. tidak ada batas. Oleh karenanya. berkembang. Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. Sebagai tokoh pragmatisme. Akhirnya. dan tidak ada finalnya. baik tingkah laku maupun pengetahuan. Tujuan Pendidikan Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika. dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya. dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput. semuanya dalam perkembangan. hukum moral pun berubah. Menurut Dewey. menurutnya. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. tidak statis. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. 2. dunia ini penciptaannya belum selesai. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Di lembaga ini. Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah. Sains. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. tumbuh. Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. Hidup tidak statis. All is in the making. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai. khusunya malalui pendidikan. Segala sesuatu berubah. berkembang menjadi sempurna. .Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental. Dalam masyarakat industri. Dengan cara demikian. tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif. Bahkan. sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi. pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman. tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup.

tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. Aqidah ini. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya. dalam konteks ideologis. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : 1. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama. Bahkan. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Begitu pula. karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. Aqidah . Dengan demikian. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut.Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan. Kebebasan tersebut harus dijamin. Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman. yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama. dan lain-lain. Yakni. Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan. E. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran. sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang. asas saling menghormati kepentingan bersama. dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. Pandangan dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. mengekspresikan pendapat.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. . Sedang yang kedua. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif. membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaan-Nya. adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi.pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat. Jadi. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil –termasuk dalam hal ini Pragmatisme– pada hakekatnya adalah batil juga. Jadi. antara dua pemikiran yang kontradiktif.XV M). dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. Dan dari sinilah dibahas. maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. 4. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemikiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. melalui serangkaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V . Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). Penyelesaian jalan tengah. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. yakni keharusan menundukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. Kedua pemikiran ini. alam semesta. baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan. Yang pertama. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi. Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath’i (yang bersifat pasti). Ini adalah suatu kekeliruan. dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq ini. Menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. Sedangkan yang kedua. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. Sebab. dan kehidupan. ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. dan kehidupan. Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. alam semesta.

Ide ini keliru dari tiga sisi. dan hal-hal yang ghaib. Ketiga. Maka. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. bahasa. yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. bukan Metode Ilmiah. b. yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak terindera seperti sejarah. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia. 5. Maka dari itu. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah . diperoleh melalui Metode Akliyah. Atas dasar dua argumen ini. Kedua. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu. Sebab. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. Sedang Metode Akliyah. Dengan kata lain. maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah. Argumen untuk ini. logika. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. Dan informasi sebelumnya ini. Pertama. Maka. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/material yang dapat diindera. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah. kelompok. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. bukan Metode Ilmiah. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. ada dua point : a. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Maka. Atau dengan kata lain. bukan Metode Ilmiah. tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas.Memang.

Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme –sebagai standar ide dan perbuatan– sangat bertentangan dengan Islam. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : “Apabila anak Adam meninggal dunia. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan. Tetapi maknanya adalah. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya. Allah SWT juga telah berfirman : “Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. Dan apa yang dilarangnya bagimu. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. maka terputuslah amalnya. Muslim) Benar. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. dan bukan manfaat. teori. Selain itu. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara’. bukan sembarang manfaat. Namun demikian. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. 6. Maka. termasuk ide Pragmatisme. yaitu Syari’at Islam. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide. bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas manusia. ilmu yang bermanfaat. Allah SWT berfirman : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara’. shadaqah jariyah.” (HSR. Maka. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw. maka ambillah dia. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya…” (Al A’raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. Jelas. bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara’. maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan. kecuali tiga perkara. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. maka tinggalkanlah dia…” (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Amerika. Allah SWT berfirman : “Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah” (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur. Jadi. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. ajaran. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil .melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah. atau hipotesis.

pada konsekuansi praktisnya. Pragmatisme mempunyai dua sifat. Pragmatisme. 8. Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi praktisnya. misalnya. demi sesegera mungkin . yang penting bukan keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan. melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis. bahkan sama sekali tidak menghendaki adanya diskusi. mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa. pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan. yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak. filsafat. Justru di sini muncul masalah. ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis. Teori yang tepat adalah teori yang berguna. baik bersifat psikologis. yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah. dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya. pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. yang siap pakai. dan yang dalam kenyataannya berlaku. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara praktis. kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele. sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi praktis. teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak. misalnya fungsi pendidikan. Kebenaran suatu teori. Dalam rangka itulah. Sebagai prinsip pemecahan masalah. pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada. bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri.oleh manusia sesuai kehendaknya. 7. Tinjaun Kritis lainnya Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak. epistemologis. melainkan didasarkan pada pengalaman. Dalam menghadapi berbagai persoalan. Pendeknya. Dekonstruksi Pragmatisme. Oleh karena itu. ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak yang muluk-muluk. Dan konsekuensi praktis yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi. malainkan langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu. Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya. religius dan sebagainya. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya. mengabaikan peranan diskusi. Karenanya. Bagi kaum pragmatis. metafisik. tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar.

IV. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini. Pendahuluan B. Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia. Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan . Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri. sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Tokoh-tokoh Perenialisme Gambar 9: AristotelesFilsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang.mengambil tindakan langsung. Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau. maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebuoayaan dan pendidikan zaman sekarang. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13. ALIRAN PERENIALISME A. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat. dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasilhasilnya. di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi. kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. terutama dalam bidang pendidikan. kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. C. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan. tidak memiliki konsekuansi praktis.

Gambar 10: PlatoAsas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat. Pandangan Perenialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme.T Thomas Aquinas. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H. maka ia terkenal dengan nama perenialisme. 1990: 64-65). Jadi epistemologi dari perenialisme. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. kebudayaan yang mempunyai dua sayap. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya. Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme. ST. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki. yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya. dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus. maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting. Jadi aliran perenialisme dipakai untuk program pendidikan yang didasarkan atas pokok-pokok aliran Aristoteles dan S. yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri. dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles. D. Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme. Tokoh-tokoh yang mengembangkan ini timbul dari lingkungan agama Katholik atau diluarnya. karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Jadi sikap untuk kembali kemasa Iampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini. harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki. maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh. Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi . khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas. bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis. manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib. yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya.keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang.

bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. karena telah memiliki evidensi diri sendiri. bahan penerangan yang cukup. sejarah. Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau. Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. ladi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. Dengan mengetahui rulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru. maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. Dengan pengetahuan. ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya. matematika. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. 2. jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca. filsafat. yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni: 1. telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau. dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis. Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut. Di samping itu. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh orangorang besar. menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian. Masak dalam arti hidup akalnya. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham. politik. dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. di mana tug as pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. ekonomi. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa .seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru. Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme tersebut.

Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Perenialisme 1. 2. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. Hal-hal yang bersifat partikular yang merintangi kehidupan dapat diatasi. ini disebut pendidikan umum (general education). Maka dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini manusia dapat makin mendekatkan diri kepada gerak yang tanpa gerak itu. lembu. misalnya orang suka bermain sepatu roda. Uraian di atas sejalan dengan apa yang dikatakan I. atau suka berpakaian bagus. Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu. tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau bend a tapi merupakan unsur patensiaJitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diutarakan aleh Aristateles tetapi ia juga merupakan sesuatu yang datang bersama-sama dari sesuatu "apa" yang terkandung dalam inti (essence) dan potensialitas dengan tindakan untuk "berada" yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh ST. rumput. hewan. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir. aksiden dan substansi. Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia. maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang.R Poedjawijatna bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas. Misalnya meskipun manusia dalam hidupnya jarang dikuasai oleh sifat eksistensi kemanusiaan. ialah tujuan dan bentuk terakhir dari segalanya. esensi. ukuran. material dan spiritual. Benda individual disini adalah bend a sebagaimana nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu. tidak jarang pula dimilikinya akal. orang dalam bentuk. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah . perasaan dan kemauannya. sehingga makin lama makin jauh dari patensialitasnya. misalnya partikular dan uni versal. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian an tara pikir dengan benda-benda. Thomas Aquinas. Pandangan secara Ontologi Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individuIl. Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. diharapkan tiap individu itl! terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama. perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. tumbuhtumbuhan dan sebagainya mempakan hal yang logis dalam karakternya. Adapun aksiden adalah keadaankeadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial. bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah patensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan. Pandangan Epistemologis Perennialisme Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. maka manusia itu setiap waktu adalah patensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas.oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama. sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu. E. Setiap sesuatu yang ada. Schula ini dapat dikurangi. batu bangunan dasar. Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi. warna dan aktifitas tertentu. tidak jarang pula dimilikinya akal. Bila dihubungkan dengan manusia.

mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada . yakni menerima universal yang abadi.perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Khususnya dalam tingkah laku manusia. maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi. maka aspek jasmani. Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. Secara etika. telah memiliki potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya. khususnya tingkah laku manusia. relatif atau kebenaran probability. Dengan demikian jelaslah bahwa perenialisme itu rnenghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu. 3. Jelaslah bahwa pengetahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. Tindakan yang baik adalah yang bersesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme. seperti Plato. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah "kehahagiaan". karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan. Jadi manusia sebagai subyek dalam bertingkah laku. Dengan azas seperti itu. Pendidikan hendaknya berorientasi pada p~tensi itu dan kepada masyarakat. karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi. manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu. Kebaikan tertinggi adalah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional. Dengan memperhatikan hal ini. Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya. di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Menurut Plato. Dalam aksiologi. bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi. dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. hakiki dan berjalan dengan hukumhukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama. Pandangan Aksiologi Perennialisme Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural. kemauan dan pikiran. maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang. melainkan juga aksiologi. kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal. di samping adapula kecenderungan-kecenderunngan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Untuk mencapai pendidikan itu. Sejalan dengan uraian di atas. dengan kata lain melakukan kebaikan atau kejahatan. agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Aristoteles dan Thomas Aquinas. Kodrat wujud manusia yang pertama-tama adaJah lercermm dari jlwa dan pikirannya yang disebut dengan kekuataJl potensial yang membimbing tindakan manusia menuju pada Tuhan at au menjauhi Tuhan.

yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. Oalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. sepaham dengan aliran perenialisme. yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. mempertinggi kemampuan anak untuk memiliki akal sehat. ingin membangun masyarakat baru. Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan . Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. Kedua aliran tersebut. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930. aktif dan nyata. aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt. proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. kebingungan dan kesimpangsiuran. Walaupun demikian. maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri. prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Aliran Rekonstruksionisme A. Aliran rekonstruksionisme. Untuk mencapai tujuan tersebut. V. D. pada prinsipnya. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang scrasi dalam kehidupan. aliran rekonstruksionisme dan perenialisme.dalam individu agar menjadi aktualitas. Harold Rugg C. untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia. B. Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu sejalan dengan pandangan dasar di atas. menengah. memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran. Dari prinsipprinsip pendidikan perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Dalam konteks filsafat pendidikan. perguruan tinggi. Pendahuluan Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. masyarakat yang pantas dan adil. rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang. George Count. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale. seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar. yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Maka. Aliran perennialisme memilih cara tersendiri. Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri.

keturunan. diperlukan nilai-nilai. tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit. dalam konteks ini. mampu meningkatkan kualitas kesehatan. agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian. Tetapi. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Pandangan secara Ontologi Dengan ontologi. Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan. Namun demikian. aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. selain substansi yang dipunnyai dan tiap-tiap benda tersebut. Pandangan Ontologis Dalam proses interaksi sesama manusia. yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Rekonstruksionisme 1. dan dapat dipilih melalui akal pikiran. dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. dan realita yang kita ketahui dan kita badapi tidak terlepas dari suatu sistem. aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme. tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan. Pada prinsipnya. sarna azali dan abadi. E. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri. Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju kearah yang khusus menam pakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti bewan dan tumbuhan atau benda lain disekeiling kita. yang merupakan kecenderungan man usia. . dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. Dengan demikian gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif tersendiri. Descartes. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral. nasionalisme. Kausa prima. semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. secara umum ruang lingkup (scope) ten tang pengertian "nilai" tidak terbatas. seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini. meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna. Kemudian.Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. 2. yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia. Tuhan adalah aktualitas murni yang sarna sekali sunyi dan substansi. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal.

Kajian tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran. yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence). kreasi estetika dan organisasi politik. maha indah dan Tuhan. kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual. dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi. premis minor dan kesimpulan (condusion). Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok. Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasaldari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan). hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. Pandangan Epistemologis Kajian epsitemologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. seorang tokoh utama scholastik. karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan. memberikan argumentasi rasio tentang eksistensi Tuhan. penafsiran yang demikian didukung oleh Thomas Aquinas yang inti pembicaraannya untuk mengetahui realita yang ada yang hams berdasarkan iman dan perkembangan rasional hanya dapat dijawab dan mesti diikuti dengan iman. dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pad a prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral.Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal. dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya. Keindahan yang maujud itu hanyalah keindahan khusus. Karenanya. 3. metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada pemikiran yang hakiki. dengan memakai cara pengambilan kesimpulan deduktif dan induktif. adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). pancaran un sur keindahan universal yang abadi. Alselpus. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor. Sebagai ilustrasi. Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence. Neo-Thomisme memandang bahwa etika. yakni bukti yang ada pada diri sendiri. dengan jalan pernikirannya adalah silogisme. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Penalaran-penalaran memiliki hukum-hukum tersendiri agar dijadikan pegangan ke arah penemuan definisi atau pengertian yang logis. baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahun. menyatakan bahwa secara kritis realita semesta dapat dipahami dan tidak ada sesuatu di alam nyata ini diluar kekuasaan Tuhan karena semua itu sebagai perwujudan dari kesempurnaannya. Dari gerakan intelektualitas pada abad pertengahan yang mencapai kristalisasi pada abad IX-XIV. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral. Karenanya. realita dan eksistensinya. kemudian berpikir rasional. Kemudian. yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. yakni bersatu dengan Tuhan. . estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis. Dalam perkembangan selanjutnya.

com/ http://id.id/index.com/ http://rajasidi.org/wiki/Halaman_Utama http://mimbardemokrasi.multiply.html http://www.com/artikel.htm http://www.geocities.multiply.com/ http://www.geocities.com/ http://wordpress.wikipedia.re-searchengines.blogspot.com/ http://www.net/ http://gkagloria.html .org/wiki/Main_Page http://e-pendidikan.or.com/athens/parthenon/4926/rencana/tunjang.com/ http://en.VI.2bryan.com/HotSprings/6774/jurnal3.php http://hhmsociety.wikipedia. DAFTAR PUSTAKA http://edu-articles.

Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Dengan mengetahui jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. ilmu dikonfrontasikan dengan agama. Sedang yang ketiga. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. di sebut dengan landasan aksiologi. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?.ONTOLOGI. Ilmu di kacaukan dengan seni. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu. yang pertama di sebut landasan ontologis. bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? . untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Kedua di sebut dengan landasan epistimologis. landasan ini akan menjawab. EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat.

atau hylomorphisme. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. dan abstraksi metaphisik. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. 2. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi Objek telaah ontologi adalah yang ada. atau dalam rumusan Lorens Bagus.PEMBAHASAN A. yaitu : abstraksi fisik. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. tealaahnya akan menjadi kualitatif. menampilkan pemikiran semesta universal. abstraksi bentuk. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. naturalisme. Studi tentang yang ada. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. 1. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Abstraksi fisik menampilkan . Bagi pendekatan kuantitatif. idealisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Ontologi membahas tentang yang ada. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima.

Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori.keseluruhan sifat khas sesuatu objek. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas.[2] . Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. badan itu fana’ (S-Tt) (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.

Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan sederhana tersebut. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut. kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology.dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan. atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. Memang sebenarnya. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang.Sementara Jujun S. B. bapak empirisme Britania. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. Menurut Locke. Epistemologi Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. John Locke. Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?[3] Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan a. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak . Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati.

atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Fenomenalisme Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri. b. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan. Kant membuat uraian tentang pengalaman. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita.kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. c. Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Intusionisme Menurut Bergson. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar. d. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. artinya. intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. . melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Analisa.

sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi. C. Hendaknya diingat. atau dengan perkataan lain. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. Aksiologi Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman. Mereka mengatakan. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.” Menghadapi kenyataan seperti ini. yaitu kenyataan. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya.” melainkan faust yang menciptakan Goethe.Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. e. atau dengan perkataan lain. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentukhanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi. ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan . namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa.

Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Galileo (1564-1642). dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama. “asalkan kau mampu menemukannya. Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap. “segalanya punya moral. keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?).” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib. Galileo dan ilmuwan seangkatannya.keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus. Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga. oleh pengadilan agama tersebut. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[4] . Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. sedangkan di pihak lain. Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan.

2. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. Aksiologi menjawab. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?[5] . merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. 3. Ontologis.PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : 1.

H. 1995. 2001. Penerbit Rake Sarasin. 1996. Yogjakarta Sidi Gazalba. Kattsouff. Jakarta. . Prof. Sistematika filsafat II. Suriasumantri. Tiara Wacana. Louis O. Dr. Yogjakarta. Pustaka Sinar Harapan. Yogjakarta. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Noeng Muhadjir. Filsafat Ilmu. Pengantar filsafat.DAFTAR PUSTAKA Jujun S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful