Filsafat Ilmu

A. Pengertian Filsafat Ilmu Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsepkonsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabangcabang pengetahuan intelektual.) Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis) Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

B. Fungsi Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
    

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. C.Substansi Filsafat Ilmu Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi. 1.Fakta atau kenyataan Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
 

  

Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek

kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah. 2. Kebenaran (truth) Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001) a. Kebenaran koherensi Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental. b.Kebenaran korespondensi Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik c.Kebenaran performatif Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. d.Kebenaran pragmatik Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis. e.Kebenaran proposisi Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisiproposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan

Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi. deduktif.200:9) Di lain pihak. Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional.Kebenaran struktural paradigmatik Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. atau memberikan pemaknaan. . ataupun reflektif. memprediksi proses dan produk yang akan datang. prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif. belum ada skema moral yang jelas. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. D. logika terbagi ke dalam 2 bagian. Sedangkan untuk membuat penjelasan. 3. Secara garis besarnya. Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. yaitu logika induksi dan logika deduksi. koheren antara fakta dengan skema rasio. yang menguasai positivisme. postulat. Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. yaitu : (1) meta ideologi. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. yakni berdasarkan logika. bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya. Sampai sekarang analisis regresi. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. diantaranya:  Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam. Pendapat lain yaitu dari Euclides. atau axioma yang sudah dipastikan benar. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu. (Ismaun. melainkan dilihat dari benar materialnya. (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu. tapi masih bersifat spesifik. karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh. Belief pada Russel memang memuat moral. tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik. analisis faktor.persyaratan formal suatu proposisi. dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. 4. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai. f.Logika inferensi Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika.Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan.

Bila etik dimasukkan. dapat menguasai dan mengaturnya. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional. 1. dan logis. benar. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends. Paham . George Count. melainkan sebagai kepanjangan ide manusia. Aliran Progresivisme A.  Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. dan pengalaman-pengalamannya. Dinamakan eksperimentalisme. belajar "naturalistik".manusiawi. B. aktivitas. Progresivisme dinamakan instrumentalisme. dan Harold Rugg diawal abad 20. terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia. harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Pendahuluan Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human. tidak mengeksploitasi orang lain. kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas. produk domain kognitif dan produk alasan praktis. Antropologi yaitu bahwa manusia mempunyai pengalaman. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi: Ilmu Hayat. dengan demikian dapat mencari hal baru. bahwa manusia untuk mengetahui kehidupan semua masalah. untuk kesejahteraan. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit. yakni kebudayaan. pragmatisme berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar. lingkungan. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri. William Kilpatrick. atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan. untuk mengembangkan kepribadian manusia. pencipta budaya. Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata. karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910) Gambar 1: William JamesSeorang psychologist dan seorang filosuf Amerika yang sangat terkenal. atau suatu keterangan akan dikatakan benar. karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori. sifat-sifat alam. maka perlu ditambah koheren dengan moral. Progressivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian. Dalam pendapat lain. efisien dan produktif. Tokoh-tokoh Progresivisme Filsafat pendidikan Progresivisme dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey.

dosen serta penceramah dibidang filsafat. sains. Dewey masuk kuliah di University of Vermont dengan spesifikasi bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial. ikut serta dalam aktifitas organisasi sosial dan membantu mendirikan sekolah baru bagi Social Reseach tahun 1919 di New York. tepatnya tanggal 20 Oktober 1859. Dewey juga menjadi tutor pribadi di bidang filsafat. Dewey banyak menulis masalah-masalah sosial dan mengkritik konfrontasi demokrasi Amerika. Vermont. dan "Child Centered School". Selain itu. tapi meskipun demikian. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut. PierceJohn Dewey merupakan filosof. Pierce dan C. Adapun ide filsafatnya yang utama. psikologi dan pendidikan di University of Chicago tahun 1894. psikolog. Pensylvania tahun 1879-1881. Ia dilahirkan di Burlington. Dewey menulis buku The School and Society. dan aljabar di sebuah sekolah menengah atas di Oil City. baru peminatan. H. berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit. menjadi kepala jurusan filsafat. pendidik dan kritikus sosial Amerika. Maka muncullah "Child Centered Curiculum".1952) Gambar 2: John DeweyJohn Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika).dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika.P. juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme. antropologi. Setelah tamat. anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik. teori politik dan ilmu jiwa. Selanjutnya. ia mengajar sastra klasik. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis. 2. Bersama gurunya. Pada tahun 1899. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil. Dewey kemudian mengajar di University of Michigan (1884-1894). Dan reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Prugressivisme Amerika. hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal. hukum. harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dewey juga belajar logika kepada Charles S. Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional. Hall. Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. yang memformulasikan metode dan kurikulum sekolah yang membahas tentang pertumbuhan anak. Lembaga-lembaga pendidikan . John Dewey (1859 . baik teori maupun praktek. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas.A. Aplikasi ide Dewey. Pada tahun 1875. bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran. akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi. seperti juga aspek dari eksistensi organik. Sebagian besar kehidupan Dewey dihabiskan dalam dunia pendidikan. Dewey melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor dari John Hopkins University tahun 1884 dengan disertasi tentang filsafat Kant. dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu. dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.S. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. Torrey. salah seorang psikolog eksperimental Amerika. Gambar 3: Charles S. seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed". Salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme.

Gagasan filosofis Dewey yang terutama adalah problem pendidikan yang kongkrit.yang disinggahi Dewey adalah University of Michigan. Sehingga progresivisme dianggap sebagai The Liberal Road of Cultlire (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan. University of Colombia dan University of Chicago. pendidikan. Namun demikian. John S. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. Hans Vaihinger (1852 . Tahun 1894 Dewey memperoleh gelar Professor of Philosophy dari Chicago University. toleran dan terbuka (open minded). 4. baik yang bersifat teoritis maupun praktis. karena amat banyak pengaruh yang bertentangan dengan apa yang dialaminya. Gambar 5: Georges Santayana C. untuk menguasai dunia. Didalam banyak hal progressivisme identik dengan pragmatisme. maka berarti sama dengan. Art and Experience. sains. Tempat Asal Aliran Progresivisme Dikembangkan Progressivisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. Oleh karena itu apabila orang menyebut pragmatisme. Filsafat progressivisme sama dengan pragmatisme. Oleh karena itu filsafat progresivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan. Dewey juga memiliki sumbangan di bidang ekonomi. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja. Pertama. Tapi amat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka. bolehlah dianggap benar. Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. politik serta ilmu jiwa. dan pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya. mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1885 1952). Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat pendidikan progresif di Amerika. Dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah. Experience and Nature (1925). The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922). politik dan pembaharuan sosial. dan yang paling fenomenal Democracy and Education (1916). yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan. Diantara karya-karya Dewey yang dianggap penting adalah Freedom and Cultural. Dengan demikian filsafat progresivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi akan nilai demokratis. jika pengertian itu berguna. Brubaeher. seni.1933) Gambar 4: Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Dewey akhirnya meninggal dunia tanggal 1 Juni 1952 di New York dengan meninggalkan tidak kurang dari 700 artikel dan 42 buku dalam bidang filsafat. salah seorang penyumbang pemikir pragmatisme-progresivisme yang meletakkan dasar dengan penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi. 3. sebagaimana dikembangkan oleh lmanuel Kant. . Georges Santayana Georges digolongkan pada penganut pragmatisme ini. antropologi. hukum. satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. menolak absolutisme dan otoriterisme dalam segala bentuknya. filsafat progressivisme atau pragmatisme ini merupakan perwujudan dan ide asal wataknya. Artinya filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ideide dasar filsafat pragmatisme di mana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk terus survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan.

Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusiamanusia yang berkualitas unggul. Adapun filsafat progresivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil budi manusia. Di sini·tersirat bahwa intelegensi merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung masalah. di mana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. toleran dan open minded (punya hati terbuka). kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir (man's natural powers). melainkan selalu berkembang dan berubah. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20. tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. tidak terikat oleh doktrin tertentu). ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. . Nampak bahwa aliran filsafat progresivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku (subyek) di dalam hidupnya. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu. pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja. adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya. di mana intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan-pemecahan masalah. inovatif dan reformatif). guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya. baik itu tantangan. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. Dengan demikian potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan dan hal ini menjadi perhatian progresivisme. hambatan. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku. curious (ingin mengetahui dan menyelidiki). Namun demikian filsafat progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia. guna mengembangkan pengalamannya. Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir.peneliti. aktif serta dinamis. Sebab. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku. Mereka harus memiliki sikap terbuka dan berkemauan baik sambil mendengarkan kritik dan ide-ide lawan sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argumen tcrsebut. Sehubungan dengan itu Wasty Soemanto menyatakan bahwa daya akal sama dengan intelegensi. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan. insiatif. D. tidak menolak perubahan. berkompetitif. Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Tampak filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju) bertindak secara konstruktif. Maksudnya adalah manusia sejak lahir telah membawa bakat dan kemampuan (predisposisi) atau potensi (kemampuan) dasar terutama daya akalnya sehingga dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya.

William Kilpatrick. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak dengan jalan mengingat seperangkat fakta-fakta. Dengan berpijak dari pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. Ciri utama pembelajaran IPA adalah dimulai dengan pertanyaan atau masalah dilanjutkan dengan arahan guru menggali informasi. Dengan metode pendidikan "Belajar Sambil Berbuat" (Learning by doing) dan pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem. mengkonfirmasikan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui. saling menghargai pendapat teman. mengajukan hipotesa. untuk pembelajaran IPA hendaknya dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya heterogen. filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhlukmakhluk lain. bahwa filsafat progresivisme mengakui anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan megakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif. tetapi dengan jalan menemukan dan menggeneralisasi sendiri sebagai hasil kemandiriannya.Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau kurikulum eksperimental. Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran IPA dengan situasi lebih alami dan situasi dunia nyata. belajar "naturalistik". Dalam pembelajaran IPA hendaknya guru dapat merancang dan mempersiapkan suatu pembelajaran dengan memotivasi awal sehingga dapat menimbulkan suatu pertanyaan. Dengan begitu. Jadi terlihat bahwa siswa akan dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul diawal pembelajaran. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya. 1. dan Harold Rugg diawal abad 20. Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep IPA dan berpikir tingkat tinggi dan memungkinkan mendorong siswa peduli dan tanggap terhadap lingkungan dan budayanya. guru yang bertugas dapat mendorong. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah . Landasan filosofis pembelajaran IPA terpadu ialah filsafat pendidikan Progresivisme yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan inkuari. serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang IPA dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. sampai dapat memutuskan kesimpulan yang disepakati bersama. Dengan begitu. aktivitas. di mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. George Count. anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis. untuk dapat bekerja sama. yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman. Asas Belajar Pandangan mengenai belajar. Seiring dengan pandangan di atas. saling berinteraksi dan mendiskusikan hasil secara bersama sama.

akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. Tegasnya. di mana anak sebagai subyek pendidikan. tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri. berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dalam pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat. Di sini prinsip kebebasan prilaku. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nila nilai. Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. mengutip pendapat John Dewey sebagai berikut: John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan: 1. . sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar "sekolah sambil berbuat" atau learning by doing. John Locke (1632-1704) mengemukakan. menyataka anak harus dididik sesuai dengan alamnya. yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa. sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. Untuk dapat melestarikan usaha ini. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive. Hal yang harus diperhatikan gura adalah "anak didik bukan manusia dewasa yang kecil" yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan. sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. Beranjak dari ketiga pendapat di atas.berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Anak bukan miniatur orang dewasa. Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778). Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlar 1984: 48). Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak. Di samping itu. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan. anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. sedangkan guru sebagai pelayan siswa. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses di mana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. jangan dipandang dari sudut orang dewasa. memberikan motivasi-motivasi dan stimulistimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak.

melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah. 4. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. Murid tanpa diberikan kebebasan sarna sekali untuk bersikap dan berbuat. setiap anak didik berbeda kemampuannya. sekolah pembangunan dan CBSA. bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. 2. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting). dengan orientasi kehidupan masa kini. Sikap progressvisme. catat. Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja. 5. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar belajar di sekolah. Progresivisme menghendaki pendidikan yang progresif. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula. Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan sekolah progresive. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan 'kemerdekaan beraktivitas. Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman. karena sekolah didirikan untuk anak. Pandangan Kurikulum Progressivisme Selain kemajuan atau progres. tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif. Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar. dinamika dan sifat-sifat yang sejenis. individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. dan bukan perintah. Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan. tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang. maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Memberi motivasi.2. 3. memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas. hafal). Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak. tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dari uraian di atas. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik. sekolah kerja. murid bersifat reseptif dan pasif saja. dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil. Dalam abad ke-20 ini terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional. Hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru. di mana ditandai dengan sifat verbalisme di mana terdapat cara belajar DDCH (duduk. Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. Guru mendominasi kegiatan belajar. bukan diciptakan . dengar.

Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. melakukan pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. Dalam hal ini. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang. akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu kehidupan yang bulat dan menyeluruh. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan sekolah sehingga . Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit. yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. di bengkel. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium. Pengajaran dengan program unit. maupun psikomotor. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga prinsip: 1. 2. melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada kemampuan intelektualnya. filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas. melainkan harus terintegrasi dalam unit.sekehendak yang mendidiknya. Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952) dan dikembangkan oleh W. akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk semangat demokrasi pendidikan. W. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. afektif. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah. John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. orang tua serta masyarakat. maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Untuk memenuhi keutuhan tersebut.H Kilpatrick. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja. diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan. 3. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa. di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). metode yang diutamakan yaitu problem solving.H Kilpatrick mengatakan.

Pandangan dari Sudut Budaya Kebudayaan sebagai hasil budi manusia. E. Pandangan secara Ontologi Asal Hereby atau asal keduniawian. kesedihan. proses. ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan (buku-buku. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek. Dari penjelasan yang dikemukakan oleh W. Pengalaman adalah suatu sumber evolusi. melainkan selalu berkembang dan berubah. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Progresivisme 1.H Kilpatrick tersebut ada beberapa hal yang perlu diungkapkan yaitu: (1) kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. Pengalaman adalah perjuangan. adaptif dan kemandirian dan (4) kurikulum bersifat fleksibel atau luwes berisi tentang berbagai macam bidang studio. pengalaman manusia tentang penderitaan. Melalui proses pendidikan dengan menggunaka kurikulum yang bersifat intergrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial seharihari dengan baik. Nilai itu benar atau salah. realita pengetahuan dan daya guna. Filsafat . dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku. (3) kurikulum yang sanggup mengubah prilaku anak didik menjadi kreatif. 4. kegembiraan. kebenaran adalah (sekuen dan pada sesuatu ide. perasaan. fakta. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan.anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan. Pandangan secara Aksiologi Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa. Manusia akan tetap hidup berkembang. dengan demikian adanya pergaulan. Pengetahuan harus disesuaikan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. dan dalam hal ini apa saja yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang. maka makin besar persiapan menghadapi tuntutan masa depan. Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. Pandangan secara Epistemologi Pengetahuan adalah informasi. Pengetahuan diperoleh manusia baik seeara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkun hidupnya. sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. kecerdasan dari individu-individu. Kebenaran dan kemampuan suatu ide memecahkan masalah. 2. adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas. kekuasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi pengalaman. kehendak. yang berarti perkembangan. jika ia mampu mengatasi perjuangan. (2) kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik. kepustakaan). baik atau buruk dapat dikatakan adalah menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia. hukum prinsip. 3. keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati. perubahan dan berani bertindak. maju setapak demi setapak mulai dari yang mudahmudah menerobos kepada yang sulit-sulit (proses perkembangan yang lama).

John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu. Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahanperubahan. Dan disana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental. Alamlah yang dikendalikan oleh manusia. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. rumahrumah mewah. alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri. karena itu timbul pada zaman itu. sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional untuk memasuki zaman modern (progresif). sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa. masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. dan dijadikan pangkal berfilsafat. Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. yang menjadi salah satu eksponen essensialisme. telah mempengaruhi pendidikan. II. Sehingga semakin tinggi tingkat berpikirnya manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. di mana serta terbuka untuk perubahan. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta.progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman. cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. di mana dengan pembaharuanpembaharuan pendidikan telah dapat mempengaruhi manusia untuk maju (progress). Pendahuluan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. . Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Alamlah yang mengendalikan manusia. Maka. yang memenuhi tuntutan zaman. akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. Realisme modern. pandanganpandangannya bersifat spiritual. ALIRAN ESENSIALISME A. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. Dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa. Hidupnya hanya bergantung dengan alam.

Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. B. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. melainkan pertemuan keduanya. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai. berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. George Santayana George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) Gambar 6: Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. serta segala isinya.Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik. 2. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasangagasan (ide-ide). Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. melaksanakan). di mana serta terbuka untuk perubahan. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut . yang merupakan pencipta adanya kosmos. C. Tempat Asal Aliran Esensialisme Dikembangkan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Tokoh-tokoh Esensialisme 1. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah. dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. karena minat.

Maka. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. yang memenuhi tuntutan zaman. jadi harus ada. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Bentuk. menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya. lelapi bendabenda itu yang terarah kepada budi.esensialisme. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. Dengan mengambil landasan pikir tersebut. asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Bogoslousky. Menurut idealisme. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilainilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk. yang bersama-sama membentuk dunia ini. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka. belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori. mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain. Determiuisme mutlak. Budi membentuk. D. sebagai filsafat hidup. Determinisme terbatas. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Jadi. ruang dan ikatan waktu. Di . Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian: 1. ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. 2. Universum: Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. mengatur dalam ruang dan waktu. memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas: 1. Pandangan Immanuel Kant. karena itu timbul pada zaman itu. yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. 2. Bila orang berhadapan dengan benda-benda. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar Idealisme. terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif.

Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk. sesuai dengan kemanusiaan ideal. asal usul tata surya dan lain-Iainnya. Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat. Sedangkan oleh ilmu-ilmu lain dikembangkanlah teori mekanisme. kesenian. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Esensialisme 1. agama. Maka dalam sejarah perkembangannya. 3. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. 4. kebenaran dan keagungan. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya. 2. Pandangan secara Ontologi Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela. yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan. kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam. Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. . Ilmu pengetahuan yang mempengaruhi aliran realisme dapat dilihat dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisika dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jalan khusus. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. dapat berkembang harmonis dan organis. Dengan demikian berarti bahwa suatu kejadian yang paling sederhana pun dapat ditafsirkan menurut hukum alam di antaranya daya tarik bumi. Kepribadian: Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. E. dan hidup aman dan sejahtera . yang sederhana merupakan fundamen at au dasar dari susunannya yang paling kompleks. Adapun uraian mengenai realisme dan idealisme ialah: 1. Realisme yang mendukung esensialisme yang disebut realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tcmpat manusia di dalamnya. fisiologi. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi . Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik. Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme. Sivilisasi: Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. mengejar kebutuhan.antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam. kesusasteraan. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. realisme dan sebagainya. sifat.

sosial. 2. ldealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme obyektif. Manusia sebagai individu. . Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan. Bagi sebagian penganut realisme. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. Mikrokosmos menunjuk kepada fakta tunggal pada tingkat manusia. biologi. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit. Ciri lain mengenai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam pengertian-pengertian makrokosmos dan mikrokosmos. ilmu alam. dan agama. Pandangan Kontraversi Jasmaniah dan Rohaniah Perbedaan idealisme dan realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. rohaniah. jasmani dan rohani. pikiran itu adalahjasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukumhukum phisis.H Green. Menurut T. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Mikrokosmos menunjuk kepada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis. adalah makhluk yang semua tata serta kesatuannya merupakan bagian yang tiada terpisahkan dari alam semesta. Manusia mengetahui sesuatu hanya di dalam dan melalui ide. idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata. Sebab jika manusia mampu menyadari realita scbagai mikrokosmos dan makrokosmos. Untuk mengerti manusia. Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan. Pandangan secara Epistemologi Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. 1. baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan. Maksudnya adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. rasio manusia adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang Maha Sempurna. Pengertian mengenai makrokosmos dan mikrokosmos merupakan dasar pengertian mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. approach personalisme itu hanya melalui introspeksi. 2. Pendekatan (Approach) ldealisme pada Pengetahuan Kita hanya mengerti rohani kita sendiri. Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda.dan dunia itu ada dan terbangun atas dasar sebab akibat. maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Sebab kesadaran kita. tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian manusia. 2. Sebaliknya realist berpendapat bahwa kita hanya mengctahui sesuatu realila di dalam melalui jasmani. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. tarikan dan tekanan mesin yang sangat besar.

a. melaksanakan). karena minat. Teori Nilai Menurut Idealisme Penganut idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos. tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk. Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusia pada umumnya. ltulah sebabnya neorialisme menafsirkan badan se bagai respon khusus yang berasal dari luar dengan sedikit atat tanpa adanya proses intelek. Tipe Epistemologi Realisme Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme.3. termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon. yang sdalu menunjukkan kualitas yang tinggi dan rendah atau kuat lemah. Bagi aliran ini. Menurut Teori Koneksionisme Teori ini menyatakan semua makhluk. Untuk ini. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter at au nilai-nilai. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. b.Teori Nilai Menurut Realisme Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya.an dan pengamatan. 3. Di Amerika ada dua tipe yang utama: a. tergantung pada pandangun-pandangan idealisme dan realisme sebab essensialisme terbina aleh kedua syarat tersebut. ditanggap langsung oleh pikirar dunia realita. realisme bersandarkan atas keilumuan dan lingkungan. Cretical Realisme Aliran ini menyatakan bahwa media antara inetelek dengan realita adalah seberkas penginderi'. b. George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Orang yang berpakaian serba formal seperti dalam upacara atau peristiwa lain yang membutuhkan suasana tenang. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai akibat adanya saling . nilainilai berasal. 4. perhatian dan pengalaman seseorang turut menentukan adanya kualitas tertentu. Di samping koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan behi viorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaa yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan terhadap berhas tidaknya belajar yang dilakukan. Pandangan secara Aksiologi Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Neorealisme Secara psikologi neorealisme lebih erat dengan behaviorisme Baginya pengetahuan diterima. Menurut idealisme bahwa sikap. ekspresi perasaan yang mencerminkan adanya serba kesungguhan dan kesenangan terhadap pakaian resmi yang dikenakan dapat menunjukkan keindahan baik pakaian dan suasana kesungguhan tersebut. karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak interaktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. Dan manusia dalam hidupnya sdalu membentuk tatajawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan respon. haruslah bersikap formal dan teratur. Dengan demikian terjadi gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respon.

. Pendahuluan Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan. sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. Salah satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 . yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan. Atas dasar itu. seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (15611626). perbuatan. Pragmatisme. Dalam konteks inilah.hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh dari Iingkungan. B. dalil. Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia–yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme. sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. etika epistemologi. Pierce dan William James. yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. dan pendidikan. Tempat Asal Aliran Pragmatisme Dikembangkan Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa. Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978. baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme. ALIRAN PRAGMATISME A.1952). Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya. yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat. dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. tidak terkecuali di dunia pendidikan. benar tidaknya suatu ucapan. dalil. III. Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek kehidupan. Menurut filsafat ini. Pragmatisme. filsafat politik. Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiranpemikiran Charles S. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris. telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya. Pierce (1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme. di samping itu. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang. yang dilakukan. Tokoh-tokoh Pragmatisme Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma. atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. merupakan “nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama”. atau teori. artinya yang dikerjakan. tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James (1842 . C.1910) di Amerika Serikat. William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya. Diakui atau tidak.

1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. Gerakan ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–. Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. Meskipun demikian. Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance.1. sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). seperti masalah Tuhan. Jadi. adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. atau dengan kata lain. penindasannya yang telanjang. yakni suatu gerakan atau usaha –yang berkisar antara tahun 1400-1600 M– untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. yang menentang Trinitas. seraya mempertahankan doktrin . seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan. yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani. Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss). Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejarah mata rantai pemikiran Barat. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika. yakni keterlepasannya dari agama. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yang mendasarkan pada pengenalan inderawi. Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya. Katholik dan Protestan. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragmatisme dalam konstelasi pemikiran Barat. tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya. dan etika. Semangat Renaissance ini. yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan. manusia. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. maupun periode Scholastik (1000 . mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. kosmos. Jadi. tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. Asal Usul Pragmatisme Gambar 7: Thomas AquinasSetelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan. Calvin. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran.

Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia. atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Yang ada adalah ciriciri yang diamati. yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. namun tidak berarti semua dari pengalaman. .Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. seperti Feuerbach. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Pada abad XVII. dan Tuhan. pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. Mereka terbagi dalam dua pandangan. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. Dari ketiganya. dan Pascal (1623-1662). Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (17111776). manusia. Fichte (1762-1814). tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. yaitu Positivisme. berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. ekonomi. Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Pada abad sebelumnya. yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia. Obyek luar ditangkap oleh indera. John Locke (1632-1704). George Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”. Karl Marx. dengan dua ide pokoknya. Pada abad XIX. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). Sedang pada Masa Aufklarung. fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia. pendidikan dan sebagainya. baik langsung maupun tidak. Baruch Spinoza (1632-1677). Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. Filsafat Kant disebut Kritisisme. yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. Selain George Berkeley dan David Hume. Materialisme. dengan Rasionalisme dari Descartes. Kant juga mempercayai Empirisme. sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. hukum. yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. Hegel merupakan tokoh yang menonjol. dan Pragmatisme. dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679). yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. aliran mereka disebut dengan Idealisme. Namun demikian. Karenanya. Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. F. filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. agama.

Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. yang sifatnya tidak pasti. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. kebenaran itu merupakan suatu postulat. 2. Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (18201895). suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Jadi. Dalam The Meaning of The Truth (1909). Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). Pembahasan tentang Pragmatisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Pertama. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme. nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri. yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872). Atas dasar itu. siap diuji dengan perdebatan atau . seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. Dengan kata lain. kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman Gambar 8: William James(Hegel) pada John Dewey. sejalan dengan perkembangan pengalaman. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James. sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesissintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. Kebenaran akan selalu berubah. Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach. sedang di sisi lain. tidak diketahui kebenaran teori itu. atau yang mereka namakan positif. adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”. Selain John Dewey. James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas.Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya.

yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular. harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan). mendeduksi fakta dari prinsip. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis. berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. Pandangan Pragmatisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini –yang juga disebut Practicalisme– . berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. Peirce membagi kebenaran menjadi dua. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. berbeda dengan empirisme tradisional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta. Semua kebenaran pernyataan ini. harus merupakan hubungan yang dialami. Yang kedua adalah Complex Truth. Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum ke yang khusus. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. Meskipun berbeda-beda penekanannya. Pertama adalah Trancendental Truth. mencoba. Ketiga. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. Menganalisis masalah itu. dan kebenaran logis atau literal. Menguji. 3. D. James. yaitu kebenaran dalam pernyataan. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa). yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. Menurut James. maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpikir induktif. dengan demikian. 5. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. Sedang pemikir Empirisme. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. Hanya saja. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving. Pengalaman dan Pertumbuhan . yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. Memilih dan menganalisis hipotesis. 4.diskusi. sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. Merasakan adanya masalah 2.Kedua. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan.

Segala sesuatu berubah. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. menurutnya. pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan. tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif. Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. tumbuh. dunia ini penciptaannya belum selesai. Sains. sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah. Tujuan Pendidikan Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika. hukum moral pun berubah. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat. melainkan bersifat dinamis. Dengan model tersebut. khusunya malalui pendidikan. . berkembang menjadi sempurna. Akhirnya. Menurut Dewey. semuanya dalam perkembangan. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai. baik secara individual maupun kolektif. penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi.Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses. Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. tidak ada batas. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual. Di lembaga ini. ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. berkembang. Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. dan tidak ada finalnya. siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya. Oleh karenanya. Dengan cara demikian. All is in the making. Dalam masyarakat industri. baik tingkah laku maupun pengetahuan. tidak mesti diperoleh dari buku-buku. melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Hidup tidak statis. Sebagai tokoh pragmatisme. Bahkan. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. tidak statis. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman. 2. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi. Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error.

Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Dengan demikian. Aqidah . dan lain-lain. mengekspresikan pendapat. Kebebasan tersebut harus dijamin. maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. asas saling menghormati kepentingan bersama. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan. guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan. Yakni. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman. yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : 1. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan. Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat. dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. Begitu pula. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial.Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama. dalam konteks ideologis. yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran. sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang. Bahkan. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan. kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama. Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya. E. Pandangan dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. Aqidah ini.

pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. Jadi. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V . maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif.XV M). Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). alam semesta. Jadi. Ini adalah suatu kekeliruan. melalui serangkaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. Kedua pemikiran ini. Sedang yang kedua. dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq ini. . dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. Dan dari sinilah dibahas. antara dua pemikiran yang kontradiktif. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. Sedangkan yang kedua. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. dan kehidupan. baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemikiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath’i (yang bersifat pasti). Yang pertama. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaan-Nya. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil –termasuk dalam hal ini Pragmatisme– pada hakekatnya adalah batil juga. dan kehidupan. 4. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan. Sebab. ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. yakni keharusan menundukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi. adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. Penyelesaian jalan tengah. Menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. alam semesta. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan.

tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. bukan Metode Ilmiah. Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. Sebab. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. Ketiga. Maka dari itu. Maka. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. 5. Kedua. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia. maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. Dengan kata lain. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. bahasa.Memang. Atau dengan kata lain. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Sedang Metode Akliyah. Ide ini keliru dari tiga sisi. Maka. yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. bukan Metode Ilmiah. Dan informasi sebelumnya ini. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu. Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak terindera seperti sejarah. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. bukan Metode Ilmiah. Atas dasar dua argumen ini. logika. kelompok. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah . atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah. diperoleh melalui Metode Akliyah. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. ada dua point : a. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. b. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. Argumen untuk ini. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/material yang dapat diindera. Pertama. dan hal-hal yang ghaib. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah. Maka. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah.

anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya. bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas manusia. Jelas. bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara’. Maka. maka terputuslah amalnya. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. Jadi. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara’. Dan apa yang dilarangnya bagimu. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. Allah SWT berfirman : “Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah” (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur. bukan sembarang manfaat. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. maka tinggalkanlah dia…” (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. 6. dan bukan manfaat. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah. ilmu yang bermanfaat. Namun demikian. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil . Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. Allah SWT juga telah berfirman : “Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. teori. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara’. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme –sebagai standar ide dan perbuatan– sangat bertentangan dengan Islam. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. Muslim) Benar. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan. Tetapi maknanya adalah. Allah SWT berfirman : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. shadaqah jariyah. ajaran. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw. termasuk ide Pragmatisme. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Amerika. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : “Apabila anak Adam meninggal dunia. yaitu Syari’at Islam. Maka. maka ambillah dia. atau hipotesis.melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. kecuali tiga perkara. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya…” (Al A’raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. Selain itu. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan.” (HSR.

Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi praktisnya. yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. Sebagai prinsip pemecahan masalah. kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele. Dalam menghadapi berbagai persoalan. Teori yang tepat adalah teori yang berguna. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. Oleh karena itu. Karenanya. misalnya fungsi pendidikan. 8. pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada. tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi. pada konsekuansi praktisnya. yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara praktis. metafisik. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar. demi sesegera mungkin .oleh manusia sesuai kehendaknya. teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak. Dekonstruksi Pragmatisme. Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya. bahkan sama sekali tidak menghendaki adanya diskusi. dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya. pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. mengabaikan peranan diskusi. Pragmatisme mempunyai dua sifat. bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. Pendeknya. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis. Kebenaran suatu teori. sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. melainkan didasarkan pada pengalaman. Justru di sini muncul masalah. pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. filsafat. ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak yang muluk-muluk. misalnya. 7. ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita. baik bersifat psikologis. melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit. Dalam rangka itulah. mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya. yang siap pakai. epistemologis. karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis. Dan konsekuensi praktis yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi. Tinjaun Kritis lainnya Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak. yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah. pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan. Pragmatisme. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi praktis. yang penting bukan keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. dan yang dalam kenyataannya berlaku. Bagi kaum pragmatis. malainkan langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. religius dan sebagainya.

Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Tokoh-tokoh Perenialisme Gambar 9: AristotelesFilsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat. IV. C. sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi. sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan. Pendahuluan B. kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebuoayaan dan pendidikan zaman sekarang. kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia. Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. ALIRAN PERENIALISME A. Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan . Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri. dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasilhasilnya. tidak memiliki konsekuansi praktis. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13.mengambil tindakan langsung. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif. maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. terutama dalam bidang pendidikan.

maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh. Tokoh-tokoh yang mengembangkan ini timbul dari lingkungan agama Katholik atau diluarnya. maka ia terkenal dengan nama perenialisme. yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi. dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus.keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi . Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme. ST. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya. Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik.T Thomas Aquinas. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal. Jadi epistemologi dari perenialisme. 1990: 64-65). Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H. Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme. Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan. dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya. kebudayaan yang mempunyai dua sayap. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Jadi sikap untuk kembali kemasa Iampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini. maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting. karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang. yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri. yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki. Pandangan Perenialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme. manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib. Gambar 10: PlatoAsas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat. khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas. bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan. yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik. D. Jadi aliran perenialisme dipakai untuk program pendidikan yang didasarkan atas pokok-pokok aliran Aristoteles dan S. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas. harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki.

Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra. Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau. bahan penerangan yang cukup. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Masak dalam arti hidup akalnya. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu. telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan.seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham. ladi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa . matematika. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru. dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni: 1. karena telah memiliki evidensi diri sendiri. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru. dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis. di mana tug as pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis. politik. filsafat. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca. Di samping itu. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme tersebut. ekonomi. sejarah. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh orangorang besar. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut. maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri. Dengan pengetahuan. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya. Dengan mengetahui rulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut. Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. 2. menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.

Hal-hal yang bersifat partikular yang merintangi kehidupan dapat diatasi. maka manusia itu setiap waktu adalah patensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah . tidak jarang pula dimilikinya akal. ukuran. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian an tara pikir dengan benda-benda. misalnya partikular dan uni versal.R Poedjawijatna bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas. Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi. hewan. misalnya orang suka bermain sepatu roda. diharapkan tiap individu itl! terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama. Bila dihubungkan dengan manusia. tidak jarang pula dimilikinya akal. Maka dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini manusia dapat makin mendekatkan diri kepada gerak yang tanpa gerak itu. atau suka berpakaian bagus. sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu. Benda individual disini adalah bend a sebagaimana nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu. aksiden dan substansi. Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia. tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau bend a tapi merupakan unsur patensiaJitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diutarakan aleh Aristateles tetapi ia juga merupakan sesuatu yang datang bersama-sama dari sesuatu "apa" yang terkandung dalam inti (essence) dan potensialitas dengan tindakan untuk "berada" yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh ST. perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. orang dalam bentuk. ialah tujuan dan bentuk terakhir dari segalanya. sehingga makin lama makin jauh dari patensialitasnya. Misalnya meskipun manusia dalam hidupnya jarang dikuasai oleh sifat eksistensi kemanusiaan. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. Adapun aksiden adalah keadaankeadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial. Setiap sesuatu yang ada. esensi. Pandangan secara Ontologi Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individuIl. Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. warna dan aktifitas tertentu. Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu. ini disebut pendidikan umum (general education). tumbuhtumbuhan dan sebagainya mempakan hal yang logis dalam karakternya. batu bangunan dasar. 2. rumput.oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama. lembu. E. bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah patensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan. perasaan dan kemauannya. Uraian di atas sejalan dengan apa yang dikatakan I. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Perenialisme 1. Schula ini dapat dikurangi. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir. material dan spiritual. Thomas Aquinas. Pandangan Epistemologis Perennialisme Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan.

Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. maka aspek jasmani. telah memiliki potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. Sejalan dengan uraian di atas. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis. Untuk mencapai pendidikan itu. kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. Pandangan Aksiologi Perennialisme Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural. Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. kemauan dan pikiran. tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural. Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya. karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi. di samping adapula kecenderungan-kecenderunngan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. Menurut Plato. Kebaikan tertinggi adalah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas. Pendidikan hendaknya berorientasi pada p~tensi itu dan kepada masyarakat. Aristoteles dan Thomas Aquinas. mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada . yakni menerima universal yang abadi. prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia. Jadi manusia sebagai subyek dalam bertingkah laku. di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah "kehahagiaan".perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Dalam aksiologi. Dengan azas seperti itu. Dengan memperhatikan hal ini. maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu. dengan kata lain melakukan kebaikan atau kejahatan. seperti Plato. bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi. Khususnya dalam tingkah laku manusia. karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan. maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi. emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang. kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal. 3. Secara etika. dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. Kodrat wujud manusia yang pertama-tama adaJah lercermm dari jlwa dan pikirannya yang disebut dengan kekuataJl potensial yang membimbing tindakan manusia menuju pada Tuhan at au menjauhi Tuhan. melainkan juga aksiologi. Dengan demikian jelaslah bahwa perenialisme itu rnenghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu. relatif atau kebenaran probability. hakiki dan berjalan dengan hukumhukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama. Tindakan yang baik adalah yang bersesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. khususnya tingkah laku manusia. Jelaslah bahwa pengetahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen.

Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu sejalan dengan pandangan dasar di atas. Dalam konteks filsafat pendidikan. Harold Rugg C. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt. D. untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930. Oalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. ingin membangun masyarakat baru. yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Maka. Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. aliran rekonstruksionisme dan perenialisme. aktif dan nyata. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang scrasi dalam kehidupan. yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. George Count. masyarakat yang pantas dan adil. Kedua aliran tersebut. yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. mempertinggi kemampuan anak untuk memiliki akal sehat. Aliran Rekonstruksionisme A. B. V. prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. sepaham dengan aliran perenialisme. Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale. proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. Aliran rekonstruksionisme. menengah. pada prinsipnya. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. perguruan tinggi. rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang. Dari prinsipprinsip pendidikan perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern. Aliran perennialisme memilih cara tersendiri. aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar. Pendahuluan Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Walaupun demikian. kebingungan dan kesimpangsiuran. memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran. Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan .dalam individu agar menjadi aktualitas. maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri. Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme.

Namun demikian. keturunan. meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna. aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme. dan realita yang kita ketahui dan kita badapi tidak terlepas dari suatu sistem. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Rekonstruksionisme 1. nasionalisme. yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia. Kausa prima. yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. yang merupakan kecenderungan man usia. tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. Pada prinsipnya. tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan. dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. secara umum ruang lingkup (scope) ten tang pengertian "nilai" tidak terbatas. dan dapat dipilih melalui akal pikiran. Tetapi. E. selain substansi yang dipunnyai dan tiap-tiap benda tersebut. akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian. Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan. agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. diperlukan nilai-nilai. ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. Descartes. Kemudian. Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju kearah yang khusus menam pakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti bewan dan tumbuhan atau benda lain disekeiling kita. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri. Pandangan Ontologis Dalam proses interaksi sesama manusia. dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. dalam konteks ini. Tuhan adalah aktualitas murni yang sarna sekali sunyi dan substansi. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. sarna azali dan abadi. Pandangan secara Ontologi Dengan ontologi. kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit. mampu meningkatkan kualitas kesehatan. 2. seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini. sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi.Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral. Dengan demikian gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif tersendiri. diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal. .

yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence). estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasaldari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Dari gerakan intelektualitas pada abad pertengahan yang mencapai kristalisasi pada abad IX-XIV. Pandangan Epistemologis Kajian epsitemologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. Keindahan yang maujud itu hanyalah keindahan khusus. kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual. 3. Alselpus. pancaran un sur keindahan universal yang abadi. memberikan argumentasi rasio tentang eksistensi Tuhan. kemudian berpikir rasional. yakni bukti yang ada pada diri sendiri. dengan memakai cara pengambilan kesimpulan deduktif dan induktif. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor. metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada pemikiran yang hakiki. yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. maha indah dan Tuhan. Kajian tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran. karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan. kreasi estetika dan organisasi politik. hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. yakni bersatu dengan Tuhan. seorang tokoh utama scholastik. dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya. yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral. Dalam perkembangan selanjutnya. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence. premis minor dan kesimpulan (condusion). menyatakan bahwa secara kritis realita semesta dapat dipahami dan tidak ada sesuatu di alam nyata ini diluar kekuasaan Tuhan karena semua itu sebagai perwujudan dari kesempurnaannya. Karenanya. Karenanya. Neo-Thomisme memandang bahwa etika. . penafsiran yang demikian didukung oleh Thomas Aquinas yang inti pembicaraannya untuk mengetahui realita yang ada yang hams berdasarkan iman dan perkembangan rasional hanya dapat dijawab dan mesti diikuti dengan iman. dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pad a prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral. Penalaran-penalaran memiliki hukum-hukum tersendiri agar dijadikan pegangan ke arah penemuan definisi atau pengertian yang logis.Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal. Kemudian. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan). dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. Sebagai ilustrasi. realita dan eksistensinya. baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahun. adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam. dengan jalan pernikirannya adalah silogisme. Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka.

com/HotSprings/6774/jurnal3.wikipedia.html http://www.com/ http://rajasidi.com/ http://id.php http://hhmsociety.VI.id/index.or.com/ http://www.2bryan.com/ http://en.com/artikel.html .com/ http://www.net/ http://gkagloria.geocities.multiply.geocities.org/wiki/Halaman_Utama http://mimbardemokrasi. DAFTAR PUSTAKA http://edu-articles.com/athens/parthenon/4926/rencana/tunjang.com/ http://wordpress.htm http://www.multiply.blogspot.re-searchengines.org/wiki/Main_Page http://e-pendidikan.wikipedia.

Kedua di sebut dengan landasan epistimologis. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. Ilmu di kacaukan dengan seni. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. ilmu dikonfrontasikan dengan agama. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu. Sedang yang ketiga. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. yang pertama di sebut landasan ontologis. bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? . Dengan mengetahui jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. di sebut dengan landasan aksiologi. landasan ini akan menjawab. berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?.ONTOLOGI. EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat. seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita.

naturalisme. 2. Abstraksi fisik menampilkan . pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. abstraksi bentuk. tealaahnya akan menjadi kualitatif. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. atau dalam rumusan Lorens Bagus. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. idealisme. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. atau hylomorphisme. dan abstraksi metaphisik. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. menampilkan pemikiran semesta universal. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Studi tentang yang ada. Bagi pendekatan kuantitatif.PEMBAHASAN A. tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. yaitu : abstraksi fisik. Ontologi membahas tentang yang ada. Ontologi Objek telaah ontologi adalah yang ada. 1.

Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. badan itu fana’ (S-Tt) (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat.[2] . term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.keseluruhan sifat khas sesuatu objek. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi.

Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. Memang sebenarnya. John Locke.dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.Sementara Jujun S. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. bapak empirisme Britania. B. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut. kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak . Menurut Locke. Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?[3] Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan a. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Epistemologi Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan sederhana tersebut. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati.

c. Analisa. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman.kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. Kant membuat uraian tentang pengalaman. pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Intusionisme Menurut Bergson. d. artinya. melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan. Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Fenomenalisme Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. b. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. . intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar. Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.

yaitu kenyataan. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya.” melainkan faust yang menciptakan Goethe.” Menghadapi kenyataan seperti ini. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka. namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan . Hendaknya diingat. sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi. intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. atau dengan perkataan lain. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust.Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah. atau dengan perkataan lain. Aksiologi Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. C. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. Mereka mengatakan. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita. e. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentukhanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri.

namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga.” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib. sedangkan di pihak lain. Galileo dan ilmuwan seangkatannya. oleh pengadilan agama tersebut.keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama. Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?). maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. “segalanya punya moral. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo (1564-1642). untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[4] . Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan. “asalkan kau mampu menemukannya. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual.

2. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. Aksiologi menjawab. Ontologis.PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : 1. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?[5] . merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. 3.

1996. . Noeng Muhadjir. Filsafat Ilmu. Prof. Kattsouff. 2001. Dr. Sistematika filsafat II. Tiara Wacana. Yogjakarta Sidi Gazalba. Louis O.DAFTAR PUSTAKA Jujun S. Jakarta. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. H. Penerbit Rake Sarasin. 1995. Pustaka Sinar Harapan. Pengantar filsafat. Suriasumantri. Yogjakarta. Yogjakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful