Filsafat Ilmu

Filsafat Ilmu

A. Pengertian Filsafat Ilmu Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsepkonsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabangcabang pengetahuan intelektual.) Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis) Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

B. Fungsi Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
    

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. C.Substansi Filsafat Ilmu Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi. 1.Fakta atau kenyataan Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
 

  

Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek

kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah. 2. Kebenaran (truth) Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001) a. Kebenaran koherensi Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental. b.Kebenaran korespondensi Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik c.Kebenaran performatif Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. d.Kebenaran pragmatik Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis. e.Kebenaran proposisi Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisiproposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan

Belief pada Russel memang memuat moral. tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik. memprediksi proses dan produk yang akan datang. yaitu : (1) meta ideologi. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. tapi masih bersifat spesifik. Sampai sekarang analisis regresi. atau memberikan pemaknaan. melainkan dilihat dari benar materialnya. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu. yaitu logika induksi dan logika deduksi. Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. belum ada skema moral yang jelas. koheren antara fakta dengan skema rasio.Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan.200:9) Di lain pihak. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya.Kebenaran struktural paradigmatik Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional. prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif. 4. Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. 3. logika terbagi ke dalam 2 bagian. ataupun reflektif. bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya. Secara garis besarnya. yang menguasai positivisme. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. atau axioma yang sudah dipastikan benar. deduktif. diantaranya:  Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai. . (Ismaun. dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu. D. postulat. yakni berdasarkan logika.Logika inferensi Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika. Pendapat lain yaitu dari Euclides. analisis faktor. f. Sedangkan untuk membuat penjelasan.persyaratan formal suatu proposisi.

pragmatisme berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human. untuk mengembangkan kepribadian manusia. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends. karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori. produk domain kognitif dan produk alasan praktis. dan logis. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. Paham . lingkungan. sifat-sifat alam. efisien dan produktif. atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan. George Count. Dinamakan eksperimentalisme. Progressivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian.manusiawi. Aliran Progresivisme A. Bila etik dimasukkan. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri. melainkan sebagai kepanjangan ide manusia. 1. Dalam pendapat lain. pencipta budaya. belajar "naturalistik". untuk kesejahteraan. Progresivisme dinamakan instrumentalisme. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional. dapat menguasai dan mengaturnya. maka perlu ditambah koheren dengan moral. dan pengalaman-pengalamannya. karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup. harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi: Ilmu Hayat. tidak mengeksploitasi orang lain. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit. William Kilpatrick. B. Tokoh-tokoh Progresivisme Filsafat pendidikan Progresivisme dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia. Antropologi yaitu bahwa manusia mempunyai pengalaman. atau suatu keterangan akan dikatakan benar. bahwa manusia untuk mengetahui kehidupan semua masalah. aktivitas. Pendahuluan Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita. benar. kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910) Gambar 1: William JamesSeorang psychologist dan seorang filosuf Amerika yang sangat terkenal. dan Harold Rugg diawal abad 20. Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata. kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. dengan demikian dapat mencari hal baru.  Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. yakni kebudayaan.

seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed". Adapun ide filsafatnya yang utama. ikut serta dalam aktifitas organisasi sosial dan membantu mendirikan sekolah baru bagi Social Reseach tahun 1919 di New York. berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit. John Dewey (1859 . baru peminatan. hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal. seperti juga aspek dari eksistensi organik. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis. akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi.dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika. Pada tahun 1875. salah seorang psikolog eksperimental Amerika. Pada tahun 1899. Dewey juga menjadi tutor pribadi di bidang filsafat. dosen serta penceramah dibidang filsafat.A. H. tapi meskipun demikian.1952) Gambar 2: John DeweyJohn Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Pensylvania tahun 1879-1881. Selanjutnya. Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Dewey juga belajar logika kepada Charles S. Gambar 3: Charles S. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil. antropologi. dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku. Bersama gurunya. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian. dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu. Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional. Dewey banyak menulis masalah-masalah sosial dan mengkritik konfrontasi demokrasi Amerika. baik teori maupun praktek. Selain itu. juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut. PierceJohn Dewey merupakan filosof. Pierce dan C. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang.P. anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik. dan "Child Centered School". psikologi dan pendidikan di University of Chicago tahun 1894. Dewey kemudian mengajar di University of Michigan (1884-1894). Dewey menulis buku The School and Society. dan aljabar di sebuah sekolah menengah atas di Oil City. Aplikasi ide Dewey. Dan reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Prugressivisme Amerika.S. Vermont. Hall. psikolog. menjadi kepala jurusan filsafat. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis. ia mengajar sastra klasik. teori politik dan ilmu jiwa. tepatnya tanggal 20 Oktober 1859. yang memformulasikan metode dan kurikulum sekolah yang membahas tentang pertumbuhan anak. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas. Dewey melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor dari John Hopkins University tahun 1884 dengan disertasi tentang filsafat Kant. sains. Dewey masuk kuliah di University of Vermont dengan spesifikasi bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Torrey. 2. Ia dilahirkan di Burlington. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran. Sebagian besar kehidupan Dewey dihabiskan dalam dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan . namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. hukum. harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. pendidik dan kritikus sosial Amerika. Salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme. Setelah tamat. Maka muncullah "Child Centered Curiculum".

Dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah. dan pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya. . hukum. satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. sebagaimana dikembangkan oleh lmanuel Kant. Experience and Nature (1925). Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan. University of Colombia dan University of Chicago. baik yang bersifat teoritis maupun praktis.yang disinggahi Dewey adalah University of Michigan. Oleh karena itu apabila orang menyebut pragmatisme. Artinya filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ideide dasar filsafat pragmatisme di mana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk terus survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan. dan yang paling fenomenal Democracy and Education (1916). Dewey juga memiliki sumbangan di bidang ekonomi. Gagasan filosofis Dewey yang terutama adalah problem pendidikan yang kongkrit. Dewey akhirnya meninggal dunia tanggal 1 Juni 1952 di New York dengan meninggalkan tidak kurang dari 700 artikel dan 42 buku dalam bidang filsafat. Filsafat progressivisme sama dengan pragmatisme. Tahun 1894 Dewey memperoleh gelar Professor of Philosophy dari Chicago University. politik serta ilmu jiwa. menolak absolutisme dan otoriterisme dalam segala bentuknya. Art and Experience. Tempat Asal Aliran Progresivisme Dikembangkan Progressivisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1885 1952).1933) Gambar 4: Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. pendidikan. politik dan pembaharuan sosial. maka berarti sama dengan. Hans Vaihinger (1852 . seni. Gambar 5: Georges Santayana C. The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922). John S. 4. Brubaeher. Namun demikian. filsafat progressivisme atau pragmatisme ini merupakan perwujudan dan ide asal wataknya. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. sains. Sehingga progresivisme dianggap sebagai The Liberal Road of Cultlire (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan. Pertama. Tapi amat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka. Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat pendidikan progresif di Amerika. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. untuk menguasai dunia. salah seorang penyumbang pemikir pragmatisme-progresivisme yang meletakkan dasar dengan penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi. bolehlah dianggap benar. yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Didalam banyak hal progressivisme identik dengan pragmatisme. Georges Santayana Georges digolongkan pada penganut pragmatisme ini. antropologi. Oleh karena itu filsafat progresivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan. jika pengertian itu berguna. karena amat banyak pengaruh yang bertentangan dengan apa yang dialaminya. Dengan demikian filsafat progresivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi akan nilai demokratis. Diantara karya-karya Dewey yang dianggap penting adalah Freedom and Cultural. 3. toleran dan terbuka (open minded). asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.

Di sini·tersirat bahwa intelegensi merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung masalah. Adapun filsafat progresivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil budi manusia. Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusiamanusia yang berkualitas unggul. hambatan. Maksudnya adalah manusia sejak lahir telah membawa bakat dan kemampuan (predisposisi) atau potensi (kemampuan) dasar terutama daya akalnya sehingga dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya. tidak terikat oleh doktrin tertentu). Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir (man's natural powers). Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja. berkompetitif. insiatif. akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. Namun demikian filsafat progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia. ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu. Tampak filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju) bertindak secara konstruktif. baik itu tantangan. pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Nampak bahwa aliran filsafat progresivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku (subyek) di dalam hidupnya. di mana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Mereka harus memiliki sikap terbuka dan berkemauan baik sambil mendengarkan kritik dan ide-ide lawan sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argumen tcrsebut. Dengan demikian potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan dan hal ini menjadi perhatian progresivisme. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku. toleran dan open minded (punya hati terbuka). Sehubungan dengan itu Wasty Soemanto menyatakan bahwa daya akal sama dengan intelegensi. D. aktif serta dinamis. tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. inovatif dan reformatif).peneliti. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20. Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. guna mengembangkan pengalamannya. curious (ingin mengetahui dan menyelidiki). Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir. di mana intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan-pemecahan masalah. guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya. melainkan selalu berkembang dan berubah. tidak menolak perubahan. Sebab. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan. . adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya.

Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis. saling berinteraksi dan mendiskusikan hasil secara bersama sama. Ciri utama pembelajaran IPA adalah dimulai dengan pertanyaan atau masalah dilanjutkan dengan arahan guru menggali informasi. Dalam pembelajaran IPA hendaknya guru dapat merancang dan mempersiapkan suatu pembelajaran dengan memotivasi awal sehingga dapat menimbulkan suatu pertanyaan. saling menghargai pendapat teman. filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhlukmakhluk lain. kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan inkuari. di mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. Dengan begitu. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah . bahwa filsafat progresivisme mengakui anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan megakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif. guru yang bertugas dapat mendorong. tetapi dengan jalan menemukan dan menggeneralisasi sendiri sebagai hasil kemandiriannya.Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau kurikulum eksperimental. Dengan metode pendidikan "Belajar Sambil Berbuat" (Learning by doing) dan pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem. Dengan begitu. George Count. Asas Belajar Pandangan mengenai belajar. William Kilpatrick. Seiring dengan pandangan di atas. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak dengan jalan mengingat seperangkat fakta-fakta. untuk pembelajaran IPA hendaknya dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya heterogen. 1. mengkonfirmasikan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui. untuk dapat bekerja sama. Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep IPA dan berpikir tingkat tinggi dan memungkinkan mendorong siswa peduli dan tanggap terhadap lingkungan dan budayanya. anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. Landasan filosofis pembelajaran IPA terpadu ialah filsafat pendidikan Progresivisme yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey. dan Harold Rugg diawal abad 20. Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran IPA dengan situasi lebih alami dan situasi dunia nyata. Dengan berpijak dari pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. belajar "naturalistik". mengajukan hipotesa. aktivitas. Jadi terlihat bahwa siswa akan dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul diawal pembelajaran. hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya. yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman. sampai dapat memutuskan kesimpulan yang disepakati bersama. serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang IPA dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas.

Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. John Locke (1632-1704) mengemukakan. di mana anak sebagai subyek pendidikan. tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri. Untuk dapat melestarikan usaha ini.berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlar 1984: 48). Anak bukan miniatur orang dewasa. Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778). Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan. menyataka anak harus dididik sesuai dengan alamnya. yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa. sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak. Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan. sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Di samping itu. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar "sekolah sambil berbuat" atau learning by doing. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nila nilai. mengutip pendapat John Dewey sebagai berikut: John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan: 1. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses di mana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. Tegasnya. berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dalam pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat. memberikan motivasi-motivasi dan stimulistimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. jangan dipandang dari sudut orang dewasa. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. Hal yang harus diperhatikan gura adalah "anak didik bukan manusia dewasa yang kecil" yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. sedangkan guru sebagai pelayan siswa. Beranjak dari ketiga pendapat di atas. akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. Di sini prinsip kebebasan prilaku. . anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja.

karena sekolah didirikan untuk anak. 3.2. sekolah pembangunan dan CBSA. Sikap progressvisme. dengan orientasi kehidupan masa kini. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar belajar di sekolah. Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja. individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. dan bukan perintah. Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan 'kemerdekaan beraktivitas. Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman. Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress. 2. di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan sekolah progresive. 4. tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif. melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah. tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang. Murid tanpa diberikan kebebasan sarna sekali untuk bersikap dan berbuat. Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar. sekolah kerja. Hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru. bukan diciptakan . hafal). tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. di mana ditandai dengan sifat verbalisme di mana terdapat cara belajar DDCH (duduk. dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil. Dalam abad ke-20 ini terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. Memberi motivasi. memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. setiap anak didik berbeda kemampuannya. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting). 5. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan. Guru mendominasi kegiatan belajar. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik. murid bersifat reseptif dan pasif saja. Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional. catat. Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Pandangan Kurikulum Progressivisme Selain kemajuan atau progres. dengar. Progresivisme menghendaki pendidikan yang progresif. Dari uraian di atas. lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. dinamika dan sifat-sifat yang sejenis.

Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu kehidupan yang bulat dan menyeluruh. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium. 3. maupun psikomotor. suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga prinsip: 1. melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada kemampuan intelektualnya. Dalam hal ini. melainkan harus terintegrasi dalam unit. filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas. 2. John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan. diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif. maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. di bengkel. di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan. akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk semangat demokrasi pendidikan. Untuk memenuhi keutuhan tersebut. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. melakukan pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952) dan dikembangkan oleh W. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan sekolah sehingga . Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja. orang tua serta masyarakat.H Kilpatrick.H Kilpatrick mengatakan. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. afektif. metode yang diutamakan yaitu problem solving. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah.sekehendak yang mendidiknya. Pengajaran dengan program unit. W. di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya.

E. Filsafat . kegembiraan. kepustakaan). melainkan selalu berkembang dan berubah. adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas. kecerdasan dari individu-individu. hukum prinsip. Pengetahuan diperoleh manusia baik seeara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkun hidupnya. Pengalaman adalah suatu sumber evolusi. (3) kurikulum yang sanggup mengubah prilaku anak didik menjadi kreatif.H Kilpatrick tersebut ada beberapa hal yang perlu diungkapkan yaitu: (1) kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. perasaan. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek. Melalui proses pendidikan dengan menggunaka kurikulum yang bersifat intergrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial seharihari dengan baik. dan dalam hal ini apa saja yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang. (2) kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik. baik atau buruk dapat dikatakan adalah menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Progresivisme 1. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu. proses. adaptif dan kemandirian dan (4) kurikulum bersifat fleksibel atau luwes berisi tentang berbagai macam bidang studio. 3. sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku. maju setapak demi setapak mulai dari yang mudahmudah menerobos kepada yang sulit-sulit (proses perkembangan yang lama). kekuasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi pengalaman. 4. keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati. perubahan dan berani bertindak. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. kesedihan. dengan demikian adanya pergaulan. jika ia mampu mengatasi perjuangan.anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan. sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. fakta. Kebenaran dan kemampuan suatu ide memecahkan masalah. Pandangan dari Sudut Budaya Kebudayaan sebagai hasil budi manusia. pengalaman manusia tentang penderitaan. yang berarti perkembangan. Pandangan secara Aksiologi Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan. kebenaran adalah (sekuen dan pada sesuatu ide. maka makin besar persiapan menghadapi tuntutan masa depan. dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. kehendak. realita pengetahuan dan daya guna. Dari penjelasan yang dikemukakan oleh W. Pengetahuan harus disesuaikan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. Pandangan secara Epistemologi Pengetahuan adalah informasi. Pandangan secara Ontologi Asal Hereby atau asal keduniawian. Nilai itu benar atau salah. Pengalaman adalah perjuangan. Manusia akan tetap hidup berkembang. 2. Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan (buku-buku.

Hidupnya hanya bergantung dengan alam. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Sehingga semakin tinggi tingkat berpikirnya manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. Maka. karena itu timbul pada zaman itu. rumahrumah mewah. ALIRAN ESENSIALISME A. cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme. alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri. Alamlah yang mengendalikan manusia. masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahanperubahan. . Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme.progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. yang memenuhi tuntutan zaman. Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. Dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa. dan dijadikan pangkal berfilsafat. Realisme modern. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. II. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa. Pendahuluan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. telah mempengaruhi pendidikan. di mana dengan pembaharuanpembaharuan pendidikan telah dapat mempengaruhi manusia untuk maju (progress). sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional untuk memasuki zaman modern (progresif). Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. pandanganpandangannya bersifat spiritual. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. di mana serta terbuka untuk perubahan. sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Alamlah yang dikendalikan oleh manusia. akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi. John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu. yang menjadi salah satu eksponen essensialisme. Dan disana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental.

namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas. akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. C. dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasangagasan (ide-ide). Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan. 2. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Tokoh-tokoh Esensialisme 1. di mana serta terbuka untuk perubahan. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) Gambar 6: Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. B.Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik. serta segala isinya. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. yang merupakan pencipta adanya kosmos. Tempat Asal Aliran Esensialisme Dikembangkan Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. George Santayana George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. karena minat. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut . melaksanakan). Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme. berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata. melainkan pertemuan keduanya. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir.

Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang. Budi membentuk. mengatur dalam ruang dan waktu. yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Di . belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilainilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. yang memenuhi tuntutan zaman. sebagai filsafat hidup. Bila orang berhadapan dengan benda-benda. yang bersama-sama membentuk dunia ini. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal. Determinisme terbatas. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas: 1. asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan. Bentuk. Pandangan Immanuel Kant.esensialisme. apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka. yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut. disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. D. mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. jadi harus ada. kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian: 1. memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Maka. terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk. Universum: Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. 2. lelapi bendabenda itu yang terarah kepada budi. bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori. Menurut idealisme. esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar Idealisme. Bogoslousky. 2. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Jadi. menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya. bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri. Determiuisme mutlak. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. karena itu timbul pada zaman itu. ruang dan ikatan waktu.

Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat. Pandangan secara Ontologi Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi . Sivilisasi: Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. mengejar kebutuhan. sifat. asal usul tata surya dan lain-Iainnya. Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. Sedangkan oleh ilmu-ilmu lain dikembangkanlah teori mekanisme. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. 2. fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. Maka dalam sejarah perkembangannya. fisiologi. Adapun uraian mengenai realisme dan idealisme ialah: 1. Realisme yang mendukung esensialisme yang disebut realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tcmpat manusia di dalamnya. dapat berkembang harmonis dan organis. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan. Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak. Ilmu pengetahuan yang mempengaruhi aliran realisme dapat dilihat dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisika dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jalan khusus.antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. . emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan. kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam. 4. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian. sesuai dengan kemanusiaan ideal. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Esensialisme 1. agama. E. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik. kesenian. realisme dan sebagainya. kesusasteraan. Kepribadian: Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan. dan hidup aman dan sejahtera . 3. kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. kebenaran dan keagungan. kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Dengan demikian berarti bahwa suatu kejadian yang paling sederhana pun dapat ditafsirkan menurut hukum alam di antaranya daya tarik bumi. penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. yang sederhana merupakan fundamen at au dasar dari susunannya yang paling kompleks.

idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual.dan dunia itu ada dan terbangun atas dasar sebab akibat. 2. Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Maksudnya adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. Menurut T. jasmani dan rohani. Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian manusia. approach personalisme itu hanya melalui introspeksi. ilmu alam. Pengertian mengenai makrokosmos dan mikrokosmos merupakan dasar pengertian mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. Ciri lain mengenai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam pengertian-pengertian makrokosmos dan mikrokosmos. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak. maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. pikiran itu adalahjasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukumhukum phisis. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan. Manusia sebagai individu. Mikrokosmos menunjuk kepada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis. sosial. Pandangan secara Epistemologi Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. Untuk mengerti manusia. 1. Bagi sebagian penganut realisme.H Green. Sebab kesadaran kita. biologi. . Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan. yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan. dan agama. Sebab jika manusia mampu menyadari realita scbagai mikrokosmos dan makrokosmos. Pandangan Kontraversi Jasmaniah dan Rohaniah Perbedaan idealisme dan realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. ldealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme obyektif. rohaniah. rasio manusia adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang Maha Sempurna. 2. 2. Sebaliknya realist berpendapat bahwa kita hanya mengctahui sesuatu realila di dalam melalui jasmani. adalah makhluk yang semua tata serta kesatuannya merupakan bagian yang tiada terpisahkan dari alam semesta. tarikan dan tekanan mesin yang sangat besar. Manusia mengetahui sesuatu hanya di dalam dan melalui ide. Mikrokosmos menunjuk kepada fakta tunggal pada tingkat manusia. tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain. Pendekatan (Approach) ldealisme pada Pengetahuan Kita hanya mengerti rohani kita sendiri. maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda.

3. a.3. tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk. Orang yang berpakaian serba formal seperti dalam upacara atau peristiwa lain yang membutuhkan suasana tenang. perhatian dan pengalaman seseorang turut menentukan adanya kualitas tertentu. Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusia pada umumnya. Menurut idealisme bahwa sikap. Teori Nilai Menurut Idealisme Penganut idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos. haruslah bersikap formal dan teratur.Teori Nilai Menurut Realisme Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter at au nilai-nilai. yang sdalu menunjukkan kualitas yang tinggi dan rendah atau kuat lemah. tergantung pada pandangun-pandangan idealisme dan realisme sebab essensialisme terbina aleh kedua syarat tersebut. termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon. Bagi aliran ini. Di Amerika ada dua tipe yang utama: a. ltulah sebabnya neorialisme menafsirkan badan se bagai respon khusus yang berasal dari luar dengan sedikit atat tanpa adanya proses intelek. Tipe Epistemologi Realisme Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme.an dan pengamatan. Pandangan secara Aksiologi Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Untuk ini. Di samping koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan behi viorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaa yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan terhadap berhas tidaknya belajar yang dilakukan. ditanggap langsung oleh pikirar dunia realita. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai akibat adanya saling . b. karena minat. realisme bersandarkan atas keilumuan dan lingkungan. Dengan demikian terjadi gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respon. Dan manusia dalam hidupnya sdalu membentuk tatajawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan respon. 4. melaksanakan). Menurut Teori Koneksionisme Teori ini menyatakan semua makhluk. ekspresi perasaan yang mencerminkan adanya serba kesungguhan dan kesenangan terhadap pakaian resmi yang dikenakan dapat menunjukkan keindahan baik pakaian dan suasana kesungguhan tersebut. nilainilai berasal. karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak interaktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. b. George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Cretical Realisme Aliran ini menyatakan bahwa media antara inetelek dengan realita adalah seberkas penginderi'. Neorealisme Secara psikologi neorealisme lebih erat dengan behaviorisme Baginya pengetahuan diterima. namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih.

Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek kehidupan. .1910) di Amerika Serikat. semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan. C. yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Menurut filsafat ini. baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme. di samping itu. artinya yang dikerjakan. Diakui atau tidak. perbuatan. seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (15611626). Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika. yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. dalil. Pragmatisme. William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya. dalil. telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya. Tempat Asal Aliran Pragmatisme Dikembangkan Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa. Pragmatisme. yang dilakukan. dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. filsafat politik. atau teori.1952). Pierce (1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme.hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh dari Iingkungan. atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Pierce dan William James. tidak terkecuali di dunia pendidikan. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang. telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya. Dalam konteks inilah. sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. ALIRAN PRAGMATISME A. merupakan “nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama”. Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia–yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. III. paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat. Salah satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 . Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiranpemikiran Charles S. benar tidaknya suatu ucapan. Atas dasar itu. yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. Tokoh-tokoh Pragmatisme Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma. dan pendidikan. etika epistemologi. B. yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. Pendahuluan Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan. tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James (1842 .

Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme.1. sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan. dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani. tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. manusia. Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya. yang menentang Trinitas. yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). Asal Usul Pragmatisme Gambar 7: Thomas AquinasSetelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan. Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya. yakni suatu gerakan atau usaha –yang berkisar antara tahun 1400-1600 M– untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. Gerakan ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri. dan etika. seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance. atau dengan kata lain. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragmatisme dalam konstelasi pemikiran Barat. Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejarah mata rantai pemikiran Barat. yakni keterlepasannya dari agama. seperti masalah Tuhan. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran. maupun periode Scholastik (1000 . Calvin. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. seraya mempertahankan doktrin . Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika. Meskipun demikian.1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yang mendasarkan pada pengenalan inderawi. Jadi. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. Semangat Renaissance ini. kosmos. Katholik dan Protestan. Jadi. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss). penindasannya yang telanjang.

Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (17111776). filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia. Pada abad XIX. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia. Karenanya. seperti Feuerbach. dengan Rasionalisme dari Descartes. pendidikan dan sebagainya. Pada abad XVII. Namun demikian. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio. dan Tuhan. salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. Kant juga mempercayai Empirisme. Selain George Berkeley dan David Hume. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679). yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. Pada abad sebelumnya. sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. dengan dua ide pokoknya. Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. ekonomi. Karl Marx. baik langsung maupun tidak. dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia. John Locke (1632-1704). Dari ketiganya. F. Mereka terbagi dalam dua pandangan. Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya. Hegel merupakan tokoh yang menonjol. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. manusia. hukum. Fichte (1762-1814). sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. Materialisme. yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. agama. namun tidak berarti semua dari pengalaman. Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. Obyek luar ditangkap oleh indera. dan Pragmatisme. sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. George Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”. Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). Yang ada adalah ciriciri yang diamati. dan Pascal (1623-1662). tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Baruch Spinoza (1632-1677). . Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia. Filsafat Kant disebut Kritisisme. Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). yaitu Positivisme. atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Sedang pada Masa Aufklarung.Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. aliran mereka disebut dengan Idealisme.

Atas dasar itu. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. tidak diketahui kebenaran teori itu. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesissintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. sedang di sisi lain. tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. Dengan kata lain. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (18201895). Nilai-nilai politik dan sosial menurut Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). siap diuji dengan perdebatan atau . kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. Pertama. 2. yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach. sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Kebenaran akan selalu berubah. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. yang sifatnya tidak pasti.Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. sejalan dengan perkembangan pengalaman. terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman Gambar 8: William James(Hegel) pada John Dewey. Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Jadi. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme. adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Dalam The Meaning of The Truth (1909). Selain John Dewey. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872). Pembahasan tentang Pragmatisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya. nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri. Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). atau yang mereka namakan positif. Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). kebenaran itu merupakan suatu postulat.

yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. Pertama adalah Trancendental Truth. yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. mencoba. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. Menguji. yaitu kebenaran dalam pernyataan. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. berbeda dengan empirisme tradisional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. Meskipun berbeda-beda penekanannya. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa). Merasakan adanya masalah 2. Hanya saja. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. Menurut James. 3. dan kebenaran logis atau literal. Menganalisis masalah itu. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. 4. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini –yang juga disebut Practicalisme– . berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. Semua kebenaran pernyataan ini. Yang kedua adalah Complex Truth.Kedua. D. sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. James. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. Pandangan Pragmatisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan 1. Pengalaman dan Pertumbuhan . 5. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. Peirce membagi kebenaran menjadi dua. dengan demikian. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpikir induktif. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. mendeduksi fakta dari prinsip. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving. Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum ke yang khusus. berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. Ketiga. Sedang pemikir Empirisme. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. harus merupakan hubungan yang dialami. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. Memilih dan menganalisis hipotesis. Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan). Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis.diskusi.

siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya. Dengan model tersebut. tidak ada batas.Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses. tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. All is in the making. sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. semuanya dalam perkembangan. ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai. dan tidak ada finalnya. 2. khusunya malalui pendidikan. Akhirnya. berkembang menjadi sempurna. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat. Menurut Dewey. melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual. baik tingkah laku maupun pengetahuan. penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Dengan cara demikian. dunia ini penciptaannya belum selesai. Bahkan. tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif. Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. Sains. Dalam masyarakat industri. Oleh karenanya. berkembang. tidak statis. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. Di lembaga ini. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. Sebagai tokoh pragmatisme. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi. Tujuan Pendidikan Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika. Segala sesuatu berubah. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. melainkan bersifat dinamis. hukum moral pun berubah. dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental. pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan. Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. baik secara individual maupun kolektif. . Hidup tidak statis. menurutnya. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah. tumbuh. tidak mesti diperoleh dari buku-buku. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman.

Aqidah . yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. mengekspresikan pendapat. Kebebasan tersebut harus dijamin. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Dengan demikian. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. Yakni. Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang. Begitu pula.Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. E. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. Pandangan dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama. Aqidah ini. Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Bahkan. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya. kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama. asas saling menghormati kepentingan bersama. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan. yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : 1. dan lain-lain. Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan. dalam konteks ideologis. karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan.

yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. alam semesta. Ini adalah suatu kekeliruan. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi. Sebab. Jadi. Penyelesaian jalan tengah. dan kehidupan. baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. 4. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemikiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). melalui serangkaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V . adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath’i (yang bersifat pasti). Yang pertama. antara dua pemikiran yang kontradiktif.pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. yakni keharusan menundukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil –termasuk dalam hal ini Pragmatisme– pada hakekatnya adalah batil juga. dan kehidupan. alam semesta.XV M). Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. Menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. Jadi. Sedang yang kedua. Kedua pemikiran ini. Dan dari sinilah dibahas. dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq ini. dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. Sedangkan yang kedua. Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaan-Nya. ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. . ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq.

Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah. Maka. sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah. Maka. dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. ada dua point : a. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. bukan Metode Ilmiah. bukan Metode Ilmiah. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. Pertama. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Ide ini keliru dari tiga sisi. bukan Metode Ilmiah. 5. Maka dari itu. bahasa. yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah . Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Argumen untuk ini. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. b. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya.Memang. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Sebab. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri. Dengan kata lain. kelompok. Maka. Atas dasar dua argumen ini. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak terindera seperti sejarah. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/material yang dapat diindera. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah. logika. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Kedua. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. Dan informasi sebelumnya ini. Ketiga. tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. diperoleh melalui Metode Akliyah. dan hal-hal yang ghaib. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. Sedang Metode Akliyah.

maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan. maka tinggalkanlah dia…” (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. atau hipotesis. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide.” (HSR. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya…” (Al A’raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil . maka ambillah dia. bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas manusia. Selain itu. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara’. teori. 6. dan bukan manfaat. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. Jelas. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara’. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme –sebagai standar ide dan perbuatan– sangat bertentangan dengan Islam. Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. Dan apa yang dilarangnya bagimu. Jadi. ilmu yang bermanfaat. Maka. Allah SWT juga telah berfirman : “Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara’. kecuali tiga perkara. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah. Allah SWT berfirman : “Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah” (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur. janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. yaitu Syari’at Islam.melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. bukan sembarang manfaat. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. maka terputuslah amalnya. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan. Muslim) Benar. Maka. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya. Tetapi maknanya adalah. shadaqah jariyah. ajaran. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : “Apabila anak Adam meninggal dunia. Namun demikian. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. Allah SWT berfirman : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. termasuk ide Pragmatisme. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Amerika. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw.

Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. 8. Dalam rangka itulah. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis. yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. Pragmatisme. malainkan langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. pada konsekuansi praktisnya. mengabaikan peranan diskusi. religius dan sebagainya. mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa. Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi praktisnya. ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak yang muluk-muluk. Tinjaun Kritis lainnya Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak. Kebenaran suatu teori. tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi. metafisik. sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. Oleh karena itu. pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara praktis.oleh manusia sesuai kehendaknya. 7. epistemologis. yang penting bukan keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu. filsafat. bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. Dekonstruksi Pragmatisme. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri. rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi praktis. misalnya. pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. Justru di sini muncul masalah. Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya. Dalam menghadapi berbagai persoalan. yang siap pakai. kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar. ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut. Bagi kaum pragmatis. dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya. pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada. Dan konsekuensi praktis yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita. Pendeknya. yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah. Sebagai prinsip pemecahan masalah. demi sesegera mungkin . baik bersifat psikologis. pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan. bahkan sama sekali tidak menghendaki adanya diskusi. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya. Teori yang tepat adalah teori yang berguna. Karenanya. teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak. melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit. misalnya fungsi pendidikan. Pragmatisme mempunyai dua sifat. melainkan didasarkan pada pengalaman. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. dan yang dalam kenyataannya berlaku.

Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. C. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini. Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat. IV. Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau.mengambil tindakan langsung. ALIRAN PERENIALISME A. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri. tidak memiliki konsekuansi praktis. kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali. sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi. Pendahuluan B. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebuoayaan dan pendidikan zaman sekarang. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Tokoh-tokoh Perenialisme Gambar 9: AristotelesFilsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasilhasilnya. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan . maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. terutama dalam bidang pendidikan. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini. kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis.

Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H. Tokoh-tokoh yang mengembangkan ini timbul dari lingkungan agama Katholik atau diluarnya. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal. Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. 1990: 64-65). maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting. Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang. dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki. yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki. manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi . maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh. ST. maka ia terkenal dengan nama perenialisme. yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik. Jadi sikap untuk kembali kemasa Iampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini. kebudayaan yang mempunyai dua sayap.T Thomas Aquinas. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya. Pandangan Perenialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme. khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan. D. Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme. Jadi epistemologi dari perenialisme. yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi. Gambar 10: PlatoAsas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat.keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme. bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis. Jadi aliran perenialisme dipakai untuk program pendidikan yang didasarkan atas pokok-pokok aliran Aristoteles dan S. dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya. Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas. yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles.

Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa . Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham. ekonomi. dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis. filsafat. karena telah memiliki evidensi diri sendiri. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru. dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme tersebut. Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra. matematika. Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu. Masak dalam arti hidup akalnya. jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. sejarah. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya. Dengan pengetahuan. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca. Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang. maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri. 2. bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis. dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh orangorang besar. telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. bahan penerangan yang cukup. orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni: 1. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Di samping itu. politik.seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru. sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut. di mana tug as pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain. ladi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. Dengan mengetahui rulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut.

diharapkan tiap individu itl! terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama. atau suka berpakaian bagus. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir. Hal-hal yang bersifat partikular yang merintangi kehidupan dapat diatasi. tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau bend a tapi merupakan unsur patensiaJitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diutarakan aleh Aristateles tetapi ia juga merupakan sesuatu yang datang bersama-sama dari sesuatu "apa" yang terkandung dalam inti (essence) dan potensialitas dengan tindakan untuk "berada" yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh ST. ini disebut pendidikan umum (general education).R Poedjawijatna bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas. batu bangunan dasar. aksiden dan substansi. maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang. tidak jarang pula dimilikinya akal. Schula ini dapat dikurangi.oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama. Thomas Aquinas. Pandangan secara Ontologi Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individuIl. Setiap sesuatu yang ada. tumbuhtumbuhan dan sebagainya mempakan hal yang logis dalam karakternya. hewan. Benda individual disini adalah bend a sebagaimana nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu. Maka dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini manusia dapat makin mendekatkan diri kepada gerak yang tanpa gerak itu. Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. ukuran. esensi. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Perenialisme 1. misalnya partikular dan uni versal. 2. Adapun aksiden adalah keadaankeadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial. sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah . Misalnya meskipun manusia dalam hidupnya jarang dikuasai oleh sifat eksistensi kemanusiaan. Pandangan Epistemologis Perennialisme Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Uraian di atas sejalan dengan apa yang dikatakan I. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian an tara pikir dengan benda-benda. ialah tujuan dan bentuk terakhir dari segalanya. rumput. maka manusia itu setiap waktu adalah patensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah patensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan. perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. lembu. sehingga makin lama makin jauh dari patensialitasnya. Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu. Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. orang dalam bentuk. Bila dihubungkan dengan manusia. perasaan dan kemauannya. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. misalnya orang suka bermain sepatu roda. warna dan aktifitas tertentu. tidak jarang pula dimilikinya akal. material dan spiritual. Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi. E. Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia.

Secara etika. hakiki dan berjalan dengan hukumhukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama. Dengan azas seperti itu. mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada . maka aspek jasmani. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya.perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis. maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. Untuk mencapai pendidikan itu. emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas. Pendidikan hendaknya berorientasi pada p~tensi itu dan kepada masyarakat. kemauan dan pikiran. 3. Dalam aksiologi. manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu. Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan. agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Aristoteles dan Thomas Aquinas. telah memiliki potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. Jelaslah bahwa pengetahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen. Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. yakni menerima universal yang abadi. Menurut Plato. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah "kehahagiaan". karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi. maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi. Sejalan dengan uraian di atas. prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia. khususnya tingkah laku manusia. Tindakan yang baik adalah yang bersesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya. kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal. melainkan juga aksiologi. Kebaikan tertinggi adalah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. di samping adapula kecenderungan-kecenderunngan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural. Jadi manusia sebagai subyek dalam bertingkah laku. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme. Khususnya dalam tingkah laku manusia. Dengan demikian jelaslah bahwa perenialisme itu rnenghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu. Kodrat wujud manusia yang pertama-tama adaJah lercermm dari jlwa dan pikirannya yang disebut dengan kekuataJl potensial yang membimbing tindakan manusia menuju pada Tuhan at au menjauhi Tuhan. bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. Dengan memperhatikan hal ini. Pandangan Aksiologi Perennialisme Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural. relatif atau kebenaran probability. seperti Plato. dengan kata lain melakukan kebaikan atau kejahatan.

Walaupun demikian. sepaham dengan aliran perenialisme.dalam individu agar menjadi aktualitas. untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut. Pendahuluan Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930. Dari prinsipprinsip pendidikan perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern. Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. Oalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri. ingin membangun masyarakat baru. proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. Maka. Aliran rekonstruksionisme. yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Harold Rugg C. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang scrasi dalam kehidupan. aliran rekonstruksionisme dan perenialisme. B. perguruan tinggi. D. Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu sejalan dengan pandangan dasar di atas. Aliran perennialisme memilih cara tersendiri. rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang. V. Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan . Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale. memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran. aktif dan nyata. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt. menengah. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. kebingungan dan kesimpangsiuran. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar. prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Dalam konteks filsafat pendidikan. Aliran Rekonstruksionisme A. masyarakat yang pantas dan adil. Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. George Count. yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. mempertinggi kemampuan anak untuk memiliki akal sehat. Kedua aliran tersebut. pada prinsipnya.

Descartes. dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju kearah yang khusus menam pakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti bewan dan tumbuhan atau benda lain disekeiling kita. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia. Tuhan adalah aktualitas murni yang sarna sekali sunyi dan substansi. sarna azali dan abadi. Pada prinsipnya. yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini. Tetapi. ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit. semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. selain substansi yang dipunnyai dan tiap-tiap benda tersebut. 2. yang merupakan kecenderungan man usia. Pandangan Ontologis Dalam proses interaksi sesama manusia. diperlukan nilai-nilai. Pandangan dan Sikap Saya tentang Aliran Rekonstruksionisme 1. Kausa prima. Pandangan secara Ontologi Dengan ontologi. secara umum ruang lingkup (scope) ten tang pengertian "nilai" tidak terbatas. Namun demikian. dalam konteks ini. akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian. aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. Dengan demikian gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif tersendiri. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme. mampu meningkatkan kualitas kesehatan. . Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. keturunan. nasionalisme. tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan. meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna. Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan. dan realita yang kita ketahui dan kita badapi tidak terlepas dari suatu sistem. sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi. sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. E. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan. dan dapat dipilih melalui akal pikiran. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral. agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. Kemudian. dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu.Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa.

estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis.Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan). yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pad a prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral. yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor. maha indah dan Tuhan. Neo-Thomisme memandang bahwa etika. kemudian berpikir rasional. seorang tokoh utama scholastik. hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. menyatakan bahwa secara kritis realita semesta dapat dipahami dan tidak ada sesuatu di alam nyata ini diluar kekuasaan Tuhan karena semua itu sebagai perwujudan dari kesempurnaannya. Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam. kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual. penafsiran yang demikian didukung oleh Thomas Aquinas yang inti pembicaraannya untuk mengetahui realita yang ada yang hams berdasarkan iman dan perkembangan rasional hanya dapat dijawab dan mesti diikuti dengan iman. Karenanya. yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence). kreasi estetika dan organisasi politik. Dalam perkembangan selanjutnya. pancaran un sur keindahan universal yang abadi. Karenanya. Sebagai ilustrasi. metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada pemikiran yang hakiki. realita dan eksistensinya. dengan memakai cara pengambilan kesimpulan deduktif dan induktif. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka. dengan jalan pernikirannya adalah silogisme. Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok. premis minor dan kesimpulan (condusion). karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasaldari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. yakni bersatu dengan Tuhan. Penalaran-penalaran memiliki hukum-hukum tersendiri agar dijadikan pegangan ke arah penemuan definisi atau pengertian yang logis. Kajian tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran. Pandangan Epistemologis Kajian epsitemologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). Keindahan yang maujud itu hanyalah keindahan khusus. dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya. dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi. Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence. 3. . Dari gerakan intelektualitas pada abad pertengahan yang mencapai kristalisasi pada abad IX-XIV. Alselpus. yakni bukti yang ada pada diri sendiri. baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahun. memberikan argumentasi rasio tentang eksistensi Tuhan. Kemudian.

wikipedia.VI.com/HotSprings/6774/jurnal3.net/ http://gkagloria.geocities.org/wiki/Main_Page http://e-pendidikan.geocities.com/athens/parthenon/4926/rencana/tunjang.wikipedia.com/ http://en.com/ http://rajasidi. DAFTAR PUSTAKA http://edu-articles.or.com/ http://id.id/index.html .com/ http://www.blogspot.com/ http://wordpress.html http://www.htm http://www.com/artikel.2bryan.php http://hhmsociety.org/wiki/Halaman_Utama http://mimbardemokrasi.multiply.re-searchengines.multiply.com/ http://www.

bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? . yang pertama di sebut landasan ontologis. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Kedua di sebut dengan landasan epistimologis. ilmu dikonfrontasikan dengan agama. berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita.ONTOLOGI. EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat. Dengan mengetahui jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. Sedang yang ketiga. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. di sebut dengan landasan aksiologi. landasan ini akan menjawab. Ilmu di kacaukan dengan seni.

tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. menampilkan pemikiran semesta universal. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. abstraksi bentuk. Bagi pendekatan kuantitatif. Ontologi membahas tentang yang ada. dan abstraksi metaphisik. naturalisme. Ontologi Objek telaah ontologi adalah yang ada. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. 2. Studi tentang yang ada. Abstraksi fisik menampilkan . realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. 1. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. tealaahnya akan menjadi kualitatif. atau hylomorphisme. atau dalam rumusan Lorens Bagus. yaitu : abstraksi fisik.PEMBAHASAN A. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. idealisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika.

sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.keseluruhan sifat khas sesuatu objek. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas.[2] . Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. badan itu fana’ (S-Tt) (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat.

Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan.Sementara Jujun S. atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang. bapak empirisme Britania. Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak . John Locke. B. Menurut Locke. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan.dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan. Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. Epistemologi Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?[3] Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan a. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan sederhana tersebut.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Memang sebenarnya. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan.

Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita. c. Fenomenalisme Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. Kant membuat uraian tentang pengalaman. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar. b. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. d. Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian.kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. artinya. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. Intusionisme Menurut Bergson. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri. Analisa. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. . karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan.

sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi.” melainkan faust yang menciptakan Goethe.Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah. Mereka mengatakan. C. yaitu kenyataan. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. Hendaknya diingat. atau dengan perkataan lain. intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. atau dengan perkataan lain. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri.” Menghadapi kenyataan seperti ini. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. Aksiologi Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita. ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan . e. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentukhanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan.

“asalkan kau mampu menemukannya. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. “segalanya punya moral. oleh pengadilan agama tersebut. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?). Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. Galileo (1564-1642). Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. sedangkan di pihak lain. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik.” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[4] . pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama. Galileo dan ilmuwan seangkatannya. Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan. namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga.keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus. Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.

merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. Aksiologi menjawab. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. 2. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?[5] . 3. Ontologis.PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : 1. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?.

H. Noeng Muhadjir. 1996. 2001. Jakarta. Penerbit Rake Sarasin. Yogjakarta. Pustaka Sinar Harapan. Prof.DAFTAR PUSTAKA Jujun S. Yogjakarta. 1995. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Tiara Wacana. Suriasumantri. Kattsouff. Filsafat Ilmu. Yogjakarta Sidi Gazalba. Pengantar filsafat. Dr. . Louis O. Sistematika filsafat II.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful