P. 1
Strategi Penerapan Mbs Di Indonesia

Strategi Penerapan Mbs Di Indonesia

|Views: 526|Likes:
Published by Nelli Novela Gultom

More info:

Published by: Nelli Novela Gultom on Apr 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2012

pdf

text

original

Kamis, 14 Oktober 2010

STRATEGI PENERAPAN MBS DI INDONESIA MAKALAH Manajemen Berbasis Sekolah Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Slameto, M.Pd

Disusun oleh : Kelas D Anggota : 1.Astri Yoda Arnaningrum 292008010 2.Tri Hartanti 292008026 3.Nurinayah 292008046 4.Aris Chandra Wibowo 292008061 5.Untari 292008104 6.Alfera Bekti Susanti 292008141

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2010

Abstraksi Dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Salah satu isi standar itu adalah standar pengelolaan. Berhubungan dengan pengelolaan sekolah maka pemerintah juga membuat gagasan yang sudah diterapkan di negara lain yang di kenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian balitbang diknas menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang. Dan sekolah diberikan kewenangan khusus untuk mengembangkannya. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS menuntut perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.

Pendahuluan 1.Latar Belakang Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. 2.Masalah Strategi yang digunakan untuk mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan sekolah serta bagaimana cara mengelola sekolah yang dapat dikatakan sukses 3.Tujuan Meningkatkan keprofesionalan dan manajerial sekolah secara utuh. Dengan meningkatkan mutu dan sarana prasarana yang mendukung proses pembelajaran. 4.Manfaat Orangtua : Memberi pemahaman dan bimbingan pribadi di lingkungan rumah pada anak serta pengawasan terhadap anak dalam setiap aktivitas dan pendidikannya dilingkungan rumah. Guru : Meningkatkan motivasi guru untuk mengembangkan kreatifitas pengajaran. Dan mengembangkan pola pikir guru untuk meningkatkan daya minat siswa dalam proses belajar Kepala Sekolah : memperketat pengawasan terhadap semua aktifitas dan kinerja seluruh pengelola kelas. Dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan.

Pembahasan Penerapan MBS di berbagai negara yaitu Kanada, Hongkong, Amerika Serikat dan akhirnya membawa dampak penerapan MBS di Indonesia. Pertama penerapan MBS di Kanada Pendekatan yang digunakan yang dikenal sebagai ( school site Decision-Making ) telah

menghasilkan desentralisasi alokasi sumber daya, tenaga pendidik dan kependidikan, perlengkapan, layanan pendidikan dan sebagainya. Menurut nurcholis, kemunculan MBS di Kanada didasari oleh kelemahan manajerial pendekatan fungsional yang mengintrol dan membatasi partisipasi bawahan, yang artinya tidak adanya keseimbangan antara atasan dan bawahan karena kekuatan bawahan diabaikan. Agar kekuatan bawahan menjadi suatu kekuatan nyata maka perlu dilembagakan dalam bentuk MBS. School-site Decision Making dapat dilihat sebagai : solusi bagi ketidakseimbangan ( kekuasaan ) antara atasan dan bawahan, dalam konteks sosial, sebagai alternatif baru bagi sistem administrasi, strategi administratif untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Kedua MBS yang diterapkan di Hongkong. Di Hongkong memiliki 5 kelompok kebijakan SMI yaitu : 1.Peran dan hubungan baru bagi Departemen Pendidikan 2.Peran baru bagi komite manajemen sekolah, para sponsor, pengawas sekolah dan kepala sekolah 3.Fleksibilitas yang lebih besar dalam keuangan sekolah 4.Partisipasi alam pengambilan keputusan 5.Sebagai kerangka acuan dalam hal tingkatam individual dan tingkatan saekolah secara menyeluruh. Pilar SMI di Hongkong dipilah menjadi 2 bagian yaitu : sistem pelaporan dan akuntabilitas. Yang dimaksud disini, pelaporan atau penilaian direkomendasikan dan diminta untuk dikonsultasikan kepada dewan serta memperhatrikan penilaian yang dimiliki. Serta akuntabilitas sekolah yang dimaksud sebagai suatu keseluruhan perlu membuat raencana tahunan sekolah, menetapkan tujuan dan kegiatan yang ingin dicapai serta mempertanggungjawabkannya. Jadi SMI didasari oleh usaha untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan memperluas kesempatan sekolah dan sistem pendidikan. Dalam penyelenggaraan sekolah menekankan partisipasi guru, orangtua, dan siswa tentunya. Penerapan MBS yang ketiga pada Negara Amerika Serikat. Site-based management dilatarbelakangi oleh munculnya pertanyaan diseputar relevansi dan korelasi hasil pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Maksudnya kinerja sekolah-sekolah di AS tidak sesuai dengan tuntutan yang diperlukan siswa untuk terjun didunia kerja. Indikasinya adalah prestasi siswa untuk mata pelajaran matematika dan IPA tidak memuaskan. Oleh karena itu MBS di Amerika Serikat sedikit diperbaharui, kemudian Reynolds (1997) menyarankan perlunya restrukturisasi sekolah yang mencakup 4 area utama, yaitu: a.Bagaimana cara memandang siswa dan pembelajaran b.Bagaimana cara mendefinisikan program pengajaran dan pelayanan yang diberikan c.Bagaimana cara mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan d.Bagaimana cara mengelola sekolah Dari ketiga pandangan penerapan MBS diatas dapat lilihat bagaimana pengaruh yang besar hingga terlahirnya penerapan MBS di Indonesia. Dasar hukum penerapan MBS di Indonesia adalah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. MBS di Indonesia bertujuan untuk membuat sekolah menjadi lebih mandiri dan menigkatkan partisipasi masyarakat. Program ini menekankan pada tiga komponen, yaitu MBS, Peran Serta Masyarakat (PSM), dan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ketiga komponen itu tertuang dalam Propenas 2000-2004 sebagai program untuk mengembangkan pola penyelenggaraan pendidikan berdasarkan MBS untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pada tahun 1999 dengan bekerjasama serta bantua dari UNESCO dan UNICEF, program MBS

telah dirintis di 124 SD/MI, yang tersebar di 7 kabupaten pada propinsi Jateng (Kab.Magelang, Banyumas, dan Wonosobo), Jatim (Kab.Probolinggo), Sulsel (Kab.Bontang), dan NTT (Kota Kupang). Pada tahun 2002 pemerintah New Zealand membantu pendanaan untuk memantapkan dan menyebarkan program tersebut ditujuh kabupaten/kota rintisan serta untuk mendiseminasikan program ditujuh kabupaten lainnya di Indonesia Timur, termasuk Papua dan NTB. Jumlah SD/MI berkembang menjadi 741 SD/MI. Diseminasi program oleh UNICEF di sejulah kabupaten di pulau Jawa juga dilakukan dengan menggunakan bantuan dana dari bank Niaga, BFI, Chef for Kids, dan City Bank. Beberapa bantuan juga diberikan oleh lembaga bantuan Australia (AusAID), sehingga pada tahun 2004 program tersebut telah berkembang ke 40 kabupaten di 9 propinsi dengan 1479 SD/MI. Replikasi program juga telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat di 30 propinsi di Indonesia. USAID- lembaga bantuan dari pemerintah Amerika Serikat juga telah mengembangkan pragram MBS sejenis di Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Managing Basic Education (MBE), serta pada tahun 2004 model MBS juga dilaksanakan di 3 kabupaten Jawa Timur dengan dukungan Indonesia-Australia Partnership in Basic Education (IAPBE). Mulai tahun 2005, USAID juga memberikan bantuan untuk model MBS ini di 7 propinsi di Indonesia melalui program Decentralized Basic Education (DBE). Dari paparan diatas kita dapat mengetahui motifmotif diterapkannya MBS di Indonesia. Ada 8 motif diterapkannya MBS : a.Motif ekonomi b.Motif profesional c.Motif politik d.Motik efisiensi administrasi e.Motif finansial f.Motif prestasi siswa g.Motif akuntabilitas h.Motif efektivitas sekolah Dari motif-motif tersebut diatas, motif terpenting dari penerapan MBS disatu sekolah adalah motif efektivitas sekolah karena dalam motif efektivitas sekolah sudah mencakup semua komponen yang memang harus ada dalam suaru sekolah. Komponen-komponen tersebut adalah a.Kepemimpinan yang kuat, apa bila sebuah sekolah dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat pasti para bawahanya juga akan kuat dan kegiatan sekolah dapat terorganisir dengan baik. b.Para guru yang terampil dan berkomitmen tinggi, apa bila sebuah sekolah dididik oleh seorang yang mempunyai keterampilan yang tinggi maka pembelajaran tidak akan membosankan karena para guru akan selalu membuat variasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak pernah merasa bosan dan lebih mudah menangkap materi yang diberikan. c.Mutu pembelajaran yang difokuskan untuk peningkatan prestasi siswa. Mutu pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan pestasi belajar siswa karena dengan pelaksanaan pembelajaran yang baik dan tidak membosankan secara otomatis materi yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap oleh peserta didik sehingga prestasi peserta didik sedikit demi sediket akan meningkat. d.Rasa tanggung jawab terhadap hasil. Sekolah yang yang berkulitas tinggi pasti meghasilkan lulusan yang baik oleh karena itu apa bila ingin menjadikan sekolah yang berkualitas maka harus diadakan penbelajaran yang mendukung atau menciptakan lulusan yang baik karena terciptanya lulusan yang baik dipengaruhi oleh proses yang baik pula.

3.Tersedianya sumberdaya yang kompetitif dan berdedikasi. tujuan dan sasaran mutu yang jelas. Ilustrasi penerapannya misalnya setiap 2 bulan sekali di sekolah diadakan rapat yang dihadiri oleh komite sekolah.Pengelolaan sekolah akan lebih desentarlistik. kominikatif dan akuntabilitas. Dalam pelaksanaan MBS ada beberapa hal yang mensyaratkan harus adanya prinsip-prinsip dalam penerapan MBS .Kemandirian.Proses pendidikan 1.Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana. c.Partisipasi Partisipasi berarti memberikan kesempatan warga sekolah dan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. 6. proses.Akan mengalami peningkatan manajemen.Memiliki kebijakan. h. guru. akan menggunakan team work.Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko.Transparansi .melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik dari profil sekolah mandiri. Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah. f. yaitu sebagai berikut : a.Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Karakteristik manajemen berbasis sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan input. karyawan. 8.Lingkungan sekolah yang nyaman.Input Pendidikan 1. 3. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. c. b.Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. kepala sekolah. pelaksanaan.Tim kerja yang kompak dan dinamis.Pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan sekolah. a. antisipatif. 5.Efektifitas yang tinggi dalam proses belajar mengajar 2.Kemudian dari motif penerapan MBS dapat disimpulkan bagaimana karakter MBS yang harus diterapkan di Indonesia sehingga dapat menjadi sekolah yang mandiri. 2. 4.Kepemimpinan yang kuat. Karakteristik Sekolah Mandiri Dengan MBS selanjutnya.Memiliki harapan prestasi yang tinggi.Komitmen pada pelanggan b.Responsif. 4. g.Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien. b. mulai dari pengambilan keputusan.Dalam bekerja. e. output pendidikan. orang tua murid atau wali murid jika merupakan suatu yayasan dapat juga ketua yayasan untuk memantau perkembangan sekolah serta evaluasi pendidikan serta memberikan solusi-solusi dalam setiap masalah yang dimiliki oleh sekolah. d.Out put yang diharapkan Tujuan umum peyelenggaraan pendidikan dan konsep dasar manajemen berbasis sekolah. partisipatif dan keterbukaan (transparansi) 7. di antaranya sebagai berikut: a.

Dapat kita paparkan contoh penerapan prinsip partisipasi.Kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa. Akuntabilitas tidak terlepas dari delapan standar nasioanl pendidikan. Selain itu guru harus membuat silabus yang benar sebagai bukti yang nyata untuk proses pembelajaran.Akuntabilitas Akuntabilitas berarti pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. Contoh kriteria keberhasilan manajenen implementasi MBS dalam meningkatkan mutu sekolah: a. dan standar penilaian sekolah. dan pemerintah. melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. masyarakat. yaitu dalam bentuk prestasi dan nilai-nilai yang bagus. Tidak memandang dari segi apapun kecuali dari potensi kemampuan siswa yang dimiliki.Prinsip Partisipasi Dalam pembelajaran dikelas siswa harus aktif. Untuk itu ada implementasi MBS dan juga strategi MBS. dan pemerintah mengenai hasil lulusan. Dengan demikian tingkat keberhasilannya pun akan berbeda pula. b.Yang dimaksud dengan transparansi adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. c. Jadi guru tidak selalu menggunakan metode ceramah. sarana dan prasarana. Selain itu. b. masyarakat. pengelolaan. Aktif bertanya. .Jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakain meningkat. Harus mengajar sesuai jadwal dan kalender akademik. mencari materi sendiri dan berpartisipasif dalam proses belajar. Sedang siswa bertanggungjawab atas semua dari hasil yang diperoleh. yaitu : Standar isi Standar proses Standar kompetensi lulusan Standar pendidikan dan tenaga kependidikan Standar sarana dan prasarana Standar pengeloolaan Standar pembiayaan Standar penilaian pendidikan Ilustrasi penerapannya misalnya setelah pembelajaran berlangsung selama 1 tahun atau 2 semester.Prinsip Transparansi Dalam pembelajaran dikelas guru adil dan transparan dalam memberikan nilai. daerah. Latar belakang implementasi MBS salah satunya yaitu adanya perbedaan antara negara. dan sekolah. Ilustrasi penerapannya misalnya orang tua murid mendapatkan hak untuk mengakses nilai anak mereka melalui sebuah web sekolah atau mendapatkan laporan nilai siswa dari guru kelasnya. a.Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas dalam belajar dapat diwujudkan dikelas dengan cara guru menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai guru. pembiayaan. Siswa aktif dan guru pasif. c. transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. orang tua murid mendapatkan transparansi keuangan setiap pembayaran SPP. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriah kebersamaan untuk meningkatkan mutu sekolah. Menyelesaikan bahan ajar sesuai kurikulum. kepala sekolah mengadakan rapat terbuka bersama warga sekolah.

tempat berekreasi. yaitu berupa masukan. informasi dan komunikasi. Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu. berdampak positif terhadap kualitas pendidikan.Relevansi pendidikan semakin baik karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat. proses pembelajaran. keputusan intruksional maupun organisasional.Kesejahteraan guru dan setaf sekolah membaik. e.Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.Kesimpulan Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. h.Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakaukan secara pukul rata. . Karena SPM pendidikan mencerminkan spesifikasi teknis layanan pendidikan dan merupakan bagian standar nasional. proses. tempat beribadah. Indikator pencapaian SPM pendidikan adalah kuantitatif dan kualilatif yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi.Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.c. konkrit. terbuka. Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut : Ruang kelas Ruang perpustakaan Laboratorium IPA Ruang Pimpinan Ruang Guru Tempat ibadah Ruang UKS Jamban Gudang Ruang sirkulasi Penutup 1. perpustakaan. f.Tingkat tinggal kelas menurun dan produktifitas sekolah semaki baik. termasuk penggunaan tekhnologi. serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang tempat bermain / berolahraga. tempat berolahraga. tempat bermain. bengkel kerja. terjangkau dan dapat dipertanggungjawabankan serta mempunyai batas waktu pencapaian. mudah diukur. SPM bersifat sederhana. hasil dan memanfaatkan pelayanan pendidikan di sekolah. d. Kaitan SPM dengan MBS yaitu SPM digunakan sebagai alat ukur parameter yang berlaku secara nasional. Sedangkan pengertian pelayanan dasar adalah pelayanan pendidikan bagi siswa yang mutlak untuk dipenuhi.Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah. g. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar. i. laboratorium.

c. b. Manajemen Berbasis Sekolah.id Diposkan oleh S1 PGSD UKSW KELAS E di 00.dan efisien.manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. guru dan tenaga adm harus mempunyai dua sifat yaitu profesional dan manajerial mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan. guru-guru. Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah. Melalui penerapan MBS. Fattah. MBS bukan sekedar mengubah penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis. 2. terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan.efektif. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai. 2007. Jakarta: Universitas Terbuka http://hambatan manajemen berbasis sekolah. kepala sekolah. M. sehingga segala keputusan yang diambil didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan Daftar Pustaka Depdiknas.51 . Karena tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujutkan secara optimal. Nanang dan Ali. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan.Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan mbs. Manajemen Berbasis Sekolah.Saran Saran dari kelompok kami diantarannya yaitu : a. serta kebutuhan masyarakat setempat.Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh (otonomi) kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan. kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan.Mbs juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. 2009. tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melaJui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS).

maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. pendidikan adalah sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam segala hal. moral. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi.20 Tahun 2003 (Sisdiknas. Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. baik industri. politik . Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya manusia Indonesia seutuhnya. perbankan. pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera. Namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan mayarakat. Pendahuluan Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat. di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. pasal 3). Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . 26 March 2010 13:54 administrator A. Bahkan SDM yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak. dan budaya. atau cenderung tambal sulam. Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja. Bagi pemeluk agama. telekomunikasi. Akibatnya. Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun. seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. sosial. masa depan mencakup kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. bangsa maupun antar bangsa. dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa.Upaya dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Friday. dan lain-lain. Oleh karena itu tidaklah heran apabila Negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. perbaikan sarana-sarana pendidikan. peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran. baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat. Dalam artian. Secara fungsional. bahkan lebih berorintasi proyek. penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas.

dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Oleh karena itu. kreatif. Para ahli lebih sering membahas kurikulum sebagai pokok permasalahan pendidikan di sekolah. Dengan komptensi yang dimiliki. kondisi bangsa ini menang sedang tidak nyaman. . maka semua itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-112 di antara 174 negara yang diteliti. Singkat kata. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan. Untuk memecahkan masalah pendidikan tersebut diperlukan usaha ekstra keras dari semua pihak secara sinergis. Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar. Saat ini. ketua umum Persyarikatan Muhammadiyah. berilmu. mutu pendidikan di negeri ini memang masih rendah. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi.sehat. Para ahli di bidang pendidikan. maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. yaitu sebagian besar keberhasilan agenda reformasi di bidang pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. guru diharapkan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. Tidak ada kata putus ada bagi orang yang masih percaya kepada kekuasaan-Nya. yaitu tenaga pendidik. secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan pendidikan yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan selama ini lebih terfokus kepada masalah kurikulum ketimbang dengan masalah pendidik (Kompas. termasuk dunia pendidikannya. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru. pemangku profesi keguruan. 28 Februari 2006). The Political dan Economics Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong telah meletakkan sistem pendidikan di Indonesia pada urutan ke-12 di antara 12 negara yang diteliti. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. telah menjadi pemahaman umum bahwa masalah pendidik jauh lebih penting daripada masalah kurikulum dan komponen pendidikan lain. Padahal. guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. sebagai contoh. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun sistem pendidikan. menyebut masalah pendidikan sebagai 'wajah bopeng pendidikan kita' (Republika. Ahmad Sjafii Maarif. tanpa kualitas guru yang baik.cakap. kompetensi dan manejemen pengembangan sumber daya manusianya.beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu contoh nyata yang terjadi dalam era reformasi. perlu mendapat prioritas dalam era pasca reformasi kini. 9 Mei 2005). Selama ini berbagai pandangan dan pemikiran kurang terpusat pada guru sebagai andalan utama pelaksana acara kurikuler. Sebagaimana diketahui. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang memadai oleh para praktisi pendidikan. berakhlak mulia. Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. Pendek kata. negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit. Di lain pihak. Hal ini harus dibarengi dengan pengingkatan mutu tenaga pendidik dan pendidikan dalam segi rekruitmen.

atau kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas. apakah telah dicapai harapan penguasaannya secara optimal atau belum. yakni Upayaupaya apa saja yang harus ditempuh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Bahkan banyak bahan ajar yang kini telah disusun dalam bentuk CD ROM. B. akan diterima oleh peserta didiknya sebagai rambu-rambu untuk diteladani atau dijadikan bahan pembelajaran. Oleh karena itu. sosok pendidik atau guru masih dipandang sebagai wakil orangtua ketika anak-anaknya tidak berada di dalam keluarga. Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran. Fasilitas pendidikan berupa buku sudah demikian canggih disusun. bukan buku yang tebal dan biasanya disusun . Apakah perlu diadakannya perbaikan atau penguatan. Namun demikian. penampilan profesional. Guru dikenal sebagai 'hidden currickulum' atau kurikulum tersembunyi. dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam menguasai kelas. serta menentukan rencana pembelajaran berikutnya baik dari segi materi maupun rencana strateginya. dan apa saja yang melekat pada pribadi sang guru.3 Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi. Guru harus mampu mengukur kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dari setiap proses pembelajaran atau setelah beberapa unit pelajaran. melakukan pengukuran. dan mengevaluasi dari kompetensi siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya. Dan strategi bagaimanakah meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Bagi sebagian besar orangtua siswa. guru setidaknya mampu menyusun instrumen tes maupun non tes. Faktor yang satu saling berpengaruh terhadap faktor yang lainnya. kemampuan individual.Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar. kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya terhadap bahan ajar. tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes. C. sehingga guru dapat menentukan keputusan atau perlakuan terhadap siswa tersebut. karena sikap dan tingkah laku. karena hitam-putihnya proses belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu gurunya. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh faktor majemuk. Permasalahan Tulisan ini akan lebih memfokuskan pembahasan dari aspek guru atau pendidik. faktor yang paling penting adalah guru. mampu membuat keputusan bagi posisi siswa-siswanya.

Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut: 1. Sumber informasi dengan mudah dicari dengan cara 'surfing' melalui bahan ajar virtual melalui internet. serta dalam era apa saja. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut secara efektif dalam proses pendidikan. peran pendidik tidak dapat digantikan oleh apa dan siapa. yang masih belum terpenuhi secara sempurna adalah gaji dan kompensasi dari pelaksanaan peran sebagai profesi. Itulah sebabnya. Hak utama pendidik yang harus memperoleh perhatian dalam kebijakan pemerintah adalah hak untuk memperoleh penghasilan dan kesejahteraan dengan standar upah yang layak. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan. dari lima syarat pekerjaan dapat disebut sebagai profesi. Dengan kata lain. Kebijakan "upah minimun" boleh jadi telah menyebabkan pegawai bermental kuli. maka langkah pertama peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan adalah memberikan kesejahteraan guru dengan gaji yang layak untuk kehidupannya. Peningkatan Gaji dan Kesejahteraan Guru Mohammad Surya (Ketua Umum Pengurus Besar PGRI). dan dinamisator bagi peserta didik. Dengan demikian peserta didik memiliki pilihan lain berupa sumber informasi yang tinggal 'ngeklik' di komputer pribadinya. serta apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai langkah yang telah ditentukan. Pertama. langkah-langkah besar apakah yang harus dilakukan dalam keseluruhan skenario itu. Dalam kondisi seperti itu. apa hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lain. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. bukan pegawai yang mengejar prestasi. pendidik dan tenaga kependidikan harus ditingkatkan mutunya dengan skenario yang jelas. Pertama. Hak-hak guru sebagai pribadi. dalam kondisi seperti itu. Kedua. Peran guru telah berubah lebih menjadi fasilitator. Ketiga. . Dalam era teknologi informasi peserta didik dengan mudah dapat mengakses informasi apa saja yang tersedia melalui internet. Pertanyaan besar yang akan dicoba dijawab dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana skenario yang harus diikuti untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan? Keseluruhan skenario itu akan meliputi beberapa pertanyaan. guru memang tidak lagi dapat berperan sebagai satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Nah. (1) bahwa pekerjaan itu memiliki fungsi dan signifikansi bagi masyarakat. pemangku profesi keguruan. perlu mendapat prioritas dalam reformasi". Langkah pertama ini juga dinilai sebagai pemutus rantai dari serangkaian mata rantai masalah yang sering sebagai lingkaran setan (vicious circle) yang tidak diketahui mana pangkal dan ujungnya. bukan 'upah minimum'. langkah pertama apakah yang dinilai sangat penting sebagai titik awal (starting point) untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. apakah peran pendidik masih diperlukan lagi? Pada era teknologi informasi. menyatakan dengan tegas bahwa "semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. yaitu guru. motivator.tidak semenarik komik atau majalah. Langkah pertama ini dinilai amat vital dan strategis untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Kelima syarat pekerjaan sebagai profesi adalah. maka guru diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar untuk memberikan rambu-rambu etika dan moral dalam memilih informasi yang diperlukan.

Yang akan diberikan kenaikan gaji adalah para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. maka kenaikan gajinya juga diselaraskan dengan pangkat dan golongan pegawai tersebut. agar langkah pertama tersebut tidak menjadikan iri bagi pekerjaan lainnya. (4) bahwa pekerjaan itu memerlukan organisasi profesi dan adanya kode etik tertentu. Dari kelima syarat tersebut. Pengalihtugasa tersebut dilakukan dengan syarat sebagai berikut: (1) mereka telah diberikan kesempatan untuk mengikuti diklat dan pembinaan secara intensif. kenaikan gaji dapat dilakukan secara menyeluruh dan bertahap. Alih Tugas Profesi dan Rekruitmen Guru Untuk Menggantikan Guru atau Pendidik yang Dialihtugaskan ke Profesi Lain Upaya kedua ini merupakan konsekuensi dan kesinambungan dari langkah pertama. . maka instrumen uji kompetensi harus disiapkan secara matang. Oleh karena dewasa ini terdapat berbagai pangkat dan golongan pegawai. karena peningkatan gaji dan kesejahteraan merupakan langkah yang memiliki dampak yang paling berpengaruh (multiplier effects) terhadap langkah-langkah lainnya. atau kalau perlu dipensiundinikan. uji kompetensi harus dilakukan dahulu secara jujur dan transparan. Alasan kedua. maka secara otomatis akan dapat merusak seluruh komponen dalam sistem ini. Dengan demikian. Kalau perlu. Jika syarat tersebut telah dilakukan. yakni gaji dan kompensasi yang memadai. misalnya tenaga administrasi.(2) bahwa pekerjaan itu memerlukan bidang keahlian tertentu. (2) guru tersebut memang tidak menunjukkan adanya perubahan kompetensi dan juga tidak ada indikasi positif untuk meningkatkan kompetensinya. Jika terjadi kecurangan dalam pelaksanaan uji kompetensi. maka mereka harus rela dan pantas untuk dialihtugaskan dari profesi guru menjadi tenaga lain yang sesuai. (3) bidang keahlian itu dapat dicapai dengan melalui cabang pendidikan tertentu (body of knowledge). 2. Langkah pertama ini akan berjalan dengan lebih matap jika sistem pembayaran gajinya telah dilaksanakan dengan melalui bank. Jangan ada kecurangan dalam proses uji kompetensi ini. Apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan langkah pertama ini dengan baik? Jika standar gaji yang akan dinaikkan itu cukup tinggi. dan kemudian (5) bahwa pekerjaan tersebut memerlukan gaji atau kompensasi yang memadai agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan secara profesional. Hal ini terkait dengan maraknya tindak korupsi yang telah mencapai tingkat yang berbahaya seperti virus yang telah menjangkiti semua aspek kehidupan manusia. Untuk itu. maka kenaikan gaji dapat dilakukan dengan standar kompetensi yang tinggi pula. tetapi tidak menunjukkan adanya perbagian yang signifikan. Para pendidik yang tidak memenuhi standar kompetensi harus dialihtugaskan kepada profesi lain. yang masih belum terpenuhi sepenuhnya adalah syarat yang kelima.

untuk ikut rekruitmen guru seseorang harus melalui guru bantu. tetapi bagaimana mengelolanya serta selama proses rekrutmen pelamar mendapatkan informasi yang membantu mereka memutuskan apakah kesempatan kerja yang ditawarkan itu cocok untuk mereka dan membutuhkan interaksi antara individu dan organisasi yang memikat dan menyeleksinya.Untuk mengganti tenaga pendidik yang telah dialihtugaskan ke profesi lain tersebut perlu diadakan seleksi (rekruitmen) secara jujur dan transparan.Untuk itu sekolah perlu melakukan proses rekrutmen guru baru karena rekrutmen merupakan hal yang sangat penting. tidak mungkin untuk melanjutkan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Program guru bantu dapat saja dimasukkan menjadi satu sistem dalam rekruitmen guru. maupun pekerja yang melanggar aturan yang telah ditetapkan sekolah tersebut. adanya pegawai yang berhenti karena ingin pindah kesekolah lain. Crass program seperti guru bantu sebaiknya tidak dilakukan di masa-masa mendatang. karena program seperti ini sama dengan ibarat memasang bom waktu yang berbahaya. dimana sekolah mempunyai rancangan program baru dan diperlukan guru yang ditugaskan dalam program tersebut sehingga membutuhkan calon guru baru. terutama jika tidak mengelola program ini dengan baik. Guru bantu yang tidak lulus tes secara otomatis menjadi masa akhir kontrak kerja untuk menjadi guru bantu. Sedangkan yang menjadi tujuan diselenggarakannya rekrutmen yaitu mengemban keinginankeinginan tertentu atau memikat para pelamar kerja. Artinya. dengan melalui proses rekrutmen sekolah akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. proses rekruitmen guru dilakukan dengan mekanisme melalui guru bantu. Alasan seperti itu karena terciptanya pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan baru. agar kegiatan belajar mengajar (KBM) pun dapat berjalan dengan lancar sebagaimana biasanya. Sehingga sekolah membutuhkan guru baru untuk mengisi lowongan pekerjaan tersebut. Sehingga tujuan aktivitas rekrutmen dapat berjalan dengan baik. Jadi. Rekruitmen pendidik yang jujur dan transparan ini telah dilakukan oleh Paulo Freirie dalam rangka reformasi pendidikan di Brazilia. . Selain itu. dan juga karena adanya guru di sekolah yang berhenti karena pensiun atau yang sudah lanjut usia. Rekrutmen guru merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk menduduki posisi tertentu di sebuah lembaga. sesuai standar kualifikasi yang telah ditetapkan. sehingga sekolah itu akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pilihan terhadap calon pegawai yang dianggap memenuhi standar yang ditetapkan. Tujuan aktivitas rekrutmen dalam proses penyusunan pegawai jelas terlihat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan aktivitas rekrutmen membutuhkan pemahaman yang tidak hanya pelamar mengidentifikasi dan memilih tawaran pekerjaan. Implementasi rekrutmen guru yang dilaksanakan oleh sekolah bertujuan untuk mencari guru yang memiliki potensi dan kemampuan serta berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Pola atau metode rekrutmen yang dipakai untuk pelaksanaan rekrutmen guru baru selalu sama dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah tersebut. yang harus dipenuhi agar sekolah tersebut dapat eksis. Selain itu untuk mendapatkan persediaan sebanyak mungkin calon-calon pelamar.

kegiatan yang harus dilakukan panitia yaitu mengecek semua kelengkapan yang harus disertakan beserta surat lamaran. Selain itu.Proses rekrutmen guru bisa dilakukan melalui empat kegiatan yaitu kegiatan pertama dalam proses rekrutmen guru baru adalah dengan melakukan Persiapan rekrutmen guru baru dimana kegiatan ini harus matang dengan melakukan pembentukan panitia rekrutmen guru baru. baik dalam kegiatan proses belajar mengajar maupun diluar jam pelajaran. salah satunya yaitu dengan membuat perencanaan rancangan program yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan dijalankan dengan baik oleh lembaga pendidikan. maupun psikomotorik siswa. afektif. seperti kebijaksanaan promosi serta kebijaksanaan kompensasi dan lain sebagainya sekolah harus mampu mengatasi berbagai kendala tersebut. sebelum menjalankan proses rekrutmen karena pihak sekolah sudah merencanakan kegiatan proses rekrutmen ini. media. serta alat evaluasi bagi anak didik agar tercapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif. sertifikat pendidik sebagaimana yang dimaksud disini yaitu yang diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Mengkaji berbagai kendala umum yang ada dalam pelaksanaan rekrutmen memang perlu karena untuk mengetahui kendala-kendala penarikan pegawai yang terjadi. Kemudian kompetensi kepribadian seorang guru harus mempunyai kepribadian yang baik agar menjadi contoh untuk anak didiknya. Dari kualifikasi tentang guru dan dosen juga dapat dipahami bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik yaitu telah menyelesaikan program sarjana. sehat jasmani dan rohani. Sehingga sekolah dapat mengetahui kendala.kendala yang ada dan dapat mengatasinya dengan baik. kompetensi sosial disini adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa. Disamping itu. Selain itu. Begitu pengumuman penerimaan lamaran guru baru telah disebarkan tentu masyarakat mengetahui bahwa dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian. penetapan persyaratanpersyaratan untuk melamar menjadi guru baru dan penetapan prosedur pendaftaran guru baru dan lain-lain. Begitu persiapan telah selesai dilakukan maka kegiatan berikutnya penyebaran pengumuman penerimaan guru baru yaitu dengan melalui media yang ada seperti brosur. memilih metode. secara teoritis rekrutmen guru merupakan hal yang sangat penting . surat kabar dan sebagainya. sebagaimana tercantum dalam pengumuman. kompetensi dalam hal ini dapat dilihat dari kompetensi pedagogik yakni hal ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yaitu persiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan skenario pembelajaran. Kemudian tahap selanjutnya seleksi atau penyaringan terhadap semua pelamar. Selanjutnya kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi seorang guru harus menguasai sepenuhnya materi yang akan ia ajarkan kepada anak didiknya tentunya sesuai bidang yang ia geluti. dengan kualifikasi tersebut akhirnya akan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dalam tahapan kegiatan proses rekrutmen ini dapat mempermudah pihak sekolah untuk melaksanakan pekerjaan mereka menjadi lebih tersusun dengan baik. ada penerimaan guru baru disekolah. Mengetahui ada penerimaan guru baru itu lalu masyarakat yang berminat memasukkan lamarannya.

Membangun Sistem Sertifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. untuk pendidik yang akan diangkat menjadi PNS harus diterapkan standar minimal kualifikasi pendidikan. Prasyarat yang harus dipernuhi sebagai berikut. melainkan lebih merupakan proses penting dalam sertifikasi yang berdasarkan kompetensi. maka sistem kenaikan pangkat bagi pendidik dan tenaga kependidikan sudah waktunya disesuaikan. Serta Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 4. seorang pendidik harus memiliki standar kompetensi yang diperlukan. karena hanya akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan 'jual beli ijazah' yang juga dikenal dengan 'STIA' atau 'sekolah tidak ijazah ada'. Kenaikan pangkat pendidik dan tenaga kependidikan bukan semata-mata sebagai proses administrasi semata-mata. Sebagai contoh. karena terkait dengan anggaran belanja negara yang sangat besar. Sistem itu harus dalam bentuk dokumen yang disyahkan dalam bentuk undang-undang atau setidaknya berupa peraturan pemerintah yang harus dilaksanakan oleh aparat otonomi daerah. atau menjadi kepala sekolah. yang juga sangat berat. proses rekruitmen guru baru harus dilaksanakan secara jujur dan transparan. Sementara bagi guru yang sudah memiliki pengalaman tidak perlu dituntut untuk memenuhi standar ijazah tersebut. Sementara itu. Peningkatan Kompetensi Yang Berkelanjutan Sebagaimana dijelaskan pada langkah sebelumnya. dan harus melalui proses pencapaian yang telah baku. untuk para pendidik yang sudah berpengalaman perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh lembaga inservice training yang juga sudah terakreditasi. Jika sistem sertifikasi ini telah mulai berjalan. Selain itu. Sebaliknya jika proses rekrutmen yang dilakukan tidak selektif maka akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM)yang biasa saja. pembangunan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga Kependidikan serta sistem penjamin mutu pendidikan merupakan langkah yang amat besar. Standar kualifikasi tersebut tidak dapat ditawar-tawar. langkah ketiga ini akan berjalan lancar jika sistem kenaikan pangkat pegawai berdasarkan sertifikasi sudah berjalan. Yang diperlukan bagi mereka adalah pendidikan profesi dan sistem diklat berjenjang yang harus dihargai setara dengan kualifikasi pendidikan tertentu. 3. Selain itu. 5. Standar pembinaan karir ini akan dapat dilaksanakan dengan matap apabila memenuhi prasyarat antara lain jika sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan telah berjalan dengan lancar. . disusunlah satu standar pembinaan karier.tentunya rekrutmen yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan yang ditentukan oleh sekolah agar mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional di bidangnya di sebuah lembaga pendidikan. dan dengan menggunakan standar kualifikasi yang telah ditetapkan. atau pengawas. Membangun Satu Standar Pembinaan Karir (Career Development Path) Seiring dengan pelaksanaan sertifikasi tersebut. Penataan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan tidak boleh tidak harus dilakukan untuk menjamin terpenuhinya berbagai standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. yang akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan langkah pertama. untuk menjadi instruktur.

akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. yang dimulai dengan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didiknya mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan kompetensi tersebut. yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan atau berperilaku. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). yaitu kompetensi yang berkaitan dengan intelektual. program pendidikan. Kegiatan sinergis peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan harus melibatkan organisasi pembinaan profesi guru. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. inservice training. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Upaya peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara terencana dan terprogram dengan sistem yang jelas. dan Musyawarah Kerja Penilik Sekolah (MKPS). Oleh karena itu. Ini dikarenakan kurikulum pendidikan haruslah disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru. baik secara akademis maupun non akademis. sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. Di antara kriteria-kriteria kompetensi guru yang harus dimiliki meliputi: 1) Kompetensi kognitif. system penyampaian. menghargai pekerjaan dan sikap dalam menghargai hal-hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. yaitu kompetensi atau kemampuan bidang sikap. hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. maka guru harus melengkapi dan meningkatkan kompetensinya. Sudah tentu termasuk PGRI. . dan on the job training. 3) Kompetensi psikomotorik. 2) Kompetensi afektif. pola. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). dan sebagainya. evaluasi. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. maka akan menjadikan guru profesional. Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin.mereka juga disyaratkan untuk mengikuti pendidikan profesi yang dapat dilaksanakan oleh lembaga tenaga kependidikan (LPTK) yang juga harus terakreditasi. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah. struktur dan isi kurikulumnya. Agar tujuan pendidikan tercapai. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Tujuan. seperti Kelompok Kerja Guru (KKG). organisasi perjuangan para guru. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal16. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya. Dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa. Jumlah pendidik yang besar di negeri ini memerlukan penanganan secara sinergis oleh semua instansi yang terkait dengan preservice education. kompetensi guru berperan penting.

2) Perumusan Visi. Kegiatan evaluasi diri ini juga merupakan refleksi/mawas diri. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. atau menerncanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. maka profesi guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran.strategi berikut ini: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi setiap sekolah yang ingin. dan evaluasi. mereka tidak berangkat dari nol. kegiatan belajar. kemajuan yang telah dicapai. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. dan diikuti juga anggota komite sekolah. dan seluruh staf. serta merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. Secara umum terdapat beberapa langkah strategi yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kependidikan dengan tujuan bahwa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan akan behasil melalui strategi. guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang. melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebagai tenaga kependidikan. dan tujuan . metode mengajar. guru. Sebagai pengajar. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. bahan pengajaran. Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. Untuk memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan evalusi diri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. tidak sebatas memberikan bahanbahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. melainkan dari kondisi yang dimiliki. Misi.D. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran.

Tujuan (jangka menengah). sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab : apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. Tujuan merupakan tahapan antara. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. dalam bentuk tertulis. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. Sedangkan misi. kemanusiaan. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya)masih tetap. 4) Pelaksanaan . perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan . Kondisi yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu.Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. keadilan. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. bagaimana. serta hasil seperti apa yang diharapkan. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. Dengan kata lain. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. keluhuran budi pekerti.

dengan siswa. Peran Guru dan Staf Sekolah Peran guru (staf pengajar) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan peran kepala sekolah. c. Peran dalam fungsi ini mencakup: penetapan tujuan dan standar. siswa. pengorganisasian. Peran Orang Tua Siswa dan Masyarakat . maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. Peran kepala sekolah/Madrasah Dengan kedudukan sebagai manajer kepala sekolah/Madrasah bertanggung jawab atas terlaksananya fungsi-fungsi manajemen. penentuan aturan dan prosedur kerja disekolah /madrasah. bahkan mingguan). b. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. menerapkan kepemimpinan yang demokratis dan memberdayakan siswa dengan mengambil keputusan sesuai kewenangan yang ia miliki dan menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan guru lain. pembuatan rencana. kepala sekolah mengidentifikasi dan merumuskan hasil kerja yang ingin dicapai oleh sekolah dan mengidentifikasi serta merumuskan cara-cara (metoda) untuk mencapai hasil yang diharapkan. misalnya menghadapi lomba bidang studi. Dalam lingkup yang lebih kecil (mikro) yaitu mengelola proses pembelajaran sesuai kelompok belajar atau bidang studi yang dipegangnya.Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. Untuk melihat peran tersebut dapat dilihat sebagai berikut: a. Peran masing-masing itulah yang juga perlu disoroti didalam implementasi strategi peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. dengan kepala sekolah dan orang tua. atau kegiatan lainnya. Tahap pelaksanaan. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. Sebagai perencana. Ia juga memonitor kemajuan siswa. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan. dan peramalan apa yang akan terjadi untuk masa yang akan datang. mensinergikan dengan metoda dan sumber belajar yang tepat yang ia kuasai).semesteran. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). setiap guru memahami visi dan misi sekolah. merencanakan proses pembelajaran. hanya lingkupnya yang berbeda. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. Guru juga memberi penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kemajuan dalam belajar (berprestasi) serta memberikan semangat/dorongan (motivasi) serta membantu siswa yang prestasinya kurang/belum memuaskan. serta melakukan evaluasi perkembangan setiap anak sebagai masukan bagi perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran secara terus menerus. (mengorganisasikan bahan.

(2) Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru. bidang keuangan. Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi menyeluruh. Ada hasil evaluasi tertentu yang pemanfaatannya bersifat internal (untuk . bidang teknis edukatif harus menjadi sorotan utama dengan focus pada capaian hasil (prestasi belajar siswa). Pemerintah Peran Pemerintah untuk tujuan dalam jangka panjang. Kegiatan pelaporan sebenarnya merupakan kelanjutan kegiatan evaluasi dalam bentuk mengkomunikasikan hasil evaluasi secara resmi kepada berbagai pihak sebagai pertanggung jawaban mengenai apa-apa yng telah dikerjakan oleh sekolah beserta hasilhasilnya. dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu. menyangkut pengelolaan semua bidang dalam satuan pendidikan yaitu bidang teknis edukatif (pelaksanaan kurikulum/proses pembelajaran dengan segala aspeknya). maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan. Orang tua siswa dan masyarakat berperan dalam mengawasi mutu hasil pendidikan yang dilaksanakan oleh tenaga kependidikan di sekolah. 6) Pelaporan Pelaporan disini diartikan sebagai pemberian atau penyampaian informasi tertulis dan resmi kepada berbagai pihak yang berkepentingan stake hokders. mengenai aktifitas manajemen satuan pendidikan dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu berdasarkan rencana dan aturan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pertanggung jawab atas tugas dan fungsi yang diemban oleh satuan pendidikan tersebut. Di abad ke-21 perolehan peningkatan mutu tenaga kependidikan itu memerlukan pengembangan keahlian para pendidik karena beberapa alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat. merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui kemajuan ataupun hasil yang dicapai oleh sekolah didalam melaksanakan fungsinya sesuai rencana yang telah dibuat sendiri oleh masing-masing sekolah. Orang tua siswa dan masyarakat harus aktif mengamati hasil yang diupayakan dan yang diajarkan oleh guru di sekolah. 5) Evaluasi Evaluasi sebagai salah satu langkah strategi dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. sehingga para guru disekolah tetap aktif untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan kualitas pendidikan kepada para siswanya d. Hanya perlu dicatat disini bahwa sesuai keperluan dan urgensinya tidak semua hasil evaluasi masuk kedalam laporan (pelaporan). bidang sarana prasarana dan administrasi ketatalaksanaan sekolah. Sungguh pun demikian.Kedua peran tersebut akan sulit dilaksanakan tanpa keikutsertaan peran orang tua siswa dan masyarakat. yaitu dengan mengupayakan kebijakan yang memperkuat sumber daya tenaga kependidikan melalui cara dengan memperkuat sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang memiliki keahlian. bidang ketenagaan.

ingin memperoleh pedoman. konsepsi manajemen pendidikan yang telah lama dipendam oleh para tokoh pendidikan untuk diaktualkan. Keberhasilan upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan indonesia (sungguhpun secara bertahap atau incremental) tidak lepas dari kondisi objektif yang mendukung pada saat (timing) yang tepat. serta dorongan peningkatan peran masyarakat dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik. sungguhpun isinya harus berdsarkan data dan informasi yang benar laporan memiliki tujuan tertentu sesuai dengan peran institusi yang dikirimi atau pembacanya. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai Daerah Otonomi. UU No.25 Tahun 2000 tentang Propenas. desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat. Konkritnya. 122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. Strategi tersebut dalam esensi tertentu sebenarnya sudah diimplementasikan oleh beberapa sekolah yang berada di Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka yang terbukti dengan adanya berbagai lembaga pendidikan swasta (swadaya masyarakat) tumbuh besar. serta sebagian birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak publikasi. serta UU Sisdiknas Tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk diterapkannya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan sebagai sebuah inovasi pendidikan untuk mencapai mutu tenaga kependidikan yang lebih baik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia . yang menyangkut pertanggungjawaban serta reputasi lembaga pendidikan. Elemen-elemen yang mendukung tersebut antara lain : iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi. petunjuk dan sebagainya. demokratisasi dan akuntabilitas. Disisi lain. bahkan masing-masing stake holder mungkin memerlukan laporan yang berbeda fokusnya.kalangan dalam sekolah sendiri). kebijakan yang mendukung. sebagai dokumen tertulis resmi. dan olah raga tahun 2000-2004. mereka ingin segera memperoleh kepastian. keluarnya UU No. Tidak kalah pentingnya dalam hal ini adalah suasana masyarakat (semua pihak) yang menghendaki desentralisasi (otonomi). Baik yang antusias menerima. meskipun disana-sini ada pro dan kontra baik secara terus terang maupun secara diam-diam. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di indonesia cukup mendapat respon/tanggapan yang positif. bahkan menuntut adanya definisi/batasan pengertian yang pasti. sistem pendidikan.tradisional. bahkan sebagian besar berbentuk lembaga pendidikan . baik yang berlandaskan agama maupun budaya. apalagi yang akan diimplementasikan untuk membuat pusing sekolah. ada yang untuk kepentingan eksternal (pihak luar). demokratisasi. dan Kepmemdiknas No. akuntabilitas. agar tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. Pemuda. termasuk pendidikan. serta pengalaman-pengalaman masa lalu yang dapat digunakan sebagai guru terbaik disamping mengambil manfaat dari pengalaman negara lain. ada yang pesimis bahkan sinis terhadap upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Disamping itu. transparansi. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan PP No. Demikian juga penerapan skenario peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia sangat terkait dengan sistem pemerintahan (yang baru mengalami perubahan besar dan implementasinya masih terus berkembang).

dan (8) pemberdayaan organisasi pembinaan profesional seperti KKG. (www.Dede Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan. 20 Tahun 2003.E.1994 Uzer Usman. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.Yogyakarta:Kanisius. Membina Mutu Pendidikan.. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.com. Mudahmudahan. DAFTAR BACAAN Hamalik. Membangun Profesionalitas Guru. Kompas. Jakarta: Bumi Aksara.K. (6) penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi. Menjadi Guru Profesional. Jakarta: Bina Aksara.Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru. Remaja Rosdakarya. Profesionalisme Keguruan. Azyumardi. Penutup Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan upaya peningkatan mutu pendidiknya dan tenaga kependidikannya. (3) standar kompetensi dan upaya peningkatannya. 6 Januari 2007 Ibrahim Bafadal. Edisi 01/Tahun 2003. Guru Profesional:Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru Jakarta: Raja Grafindo persada. yang perlu diberdayakan. (5) standar pembinaan karir. 2004 Samana. Azra. Asrorun. Jakarta: Prenada Media. dan MKPS. 2003. 3 februari 2005 . (4) seleksi/rekruitmen yang jujur dan transparan. MKKS. bermutu. Jakarta: Bumi Aksara. Inovasi Kurikulum. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. 2006 Kunandar. (2) standar kualifikasi. A. Moch. dan lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat. Roestiyah Masalah-masalah Ilmu Keguruan.am. Strategi Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Dalam Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan memenuhi sasaran yang diharapkan tanpa dimulai dengan peningkatan butu pendidik dan tenaga kependidikannya. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan tidak dapat dilepaskan dengan aspek-aspek penting sebagai berikut: (1) gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk kehidupannya. 2003 Peraturan Pemerintah RI No. Com). MGMP.Bandung: PT. Jakarta: Sinar Grafika. 2006 Undang-undang RI No.wordpress.2005 Adi Saiful. 2006 Rosyada. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.2007 N. .1989 Ni. Semoga melalui sumbangan pemikiran dalam peningkatann mutu pendidik dan tenaga kependidikan dapat terus ditingkatkan sehingga tercapai Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif melalui upaya mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif dengan adil. Jakarta: Sinar Grafika. dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global. www. Jakarta : eLSAS. (4) sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependiikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar kompetensi. (7) sistem diklat di lembaga inservice training dan pendidikan profesi di LPTK. Oemar.SaifulAdi..

Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan) Mohib asrori BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung.1999. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat.php?option=com_content&view=article&id=133:upaya-dan-strategiapeningkatan-mutu-pendidik-dan-tenaga-kependidikan IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Dalam implementasi MBS.Soebagio Atmodiworo. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. Namun.html http://www. Manajemen Kualitas. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Wahyu Ariyani. Dukungan finansial. Manajemen Pendidikan Indonesia Jakarta: PT. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Manajemen Pengembangan Mutu Dosen.blogspot. ketidakpuasan.dinaspendidikanparepare. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. yogyakarta: Andioffset 1999 Sumber data : http://mitrakuliah. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Jakarta: Logos wacana Ilmu. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. 2002. Syafarudin.info/index. Bedjo. Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Berkepanjangan. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. 2000. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk . Doretea. Oleh karena itu. ICW. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Grasindo. Uwes Sanusi. Sujanto. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Akhirnya.Ardadijaya. 2004.com/2009/06/upaya-dan-strategi-peningkatanmutu.

Berdasarkan latar belakangnya. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. bukan dengan pemerintah pusat. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal.dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. . Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. 22 tahun 1999. kelompok dan organisasinya. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. Pertama. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. Tetapi. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. Munculnya UU No. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. Kedua. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota.

bersahabat dan hangat. Keempat. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan.BAB II PEMBAHASAN A. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Teori yang Mendasari MBS Pertama. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Mandatnya sudah jelas. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. Sekilas tentang Wacana MBS 1. yaitu terprogram dan sistematik. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. Hubungan guru. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. tujuan dan akuntabilitas. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. 2. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. yang paling . Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. Kedua. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. Kedua. Ketiga. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. Apapun model MBS yang dipakai. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Pertama. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. yaitu melalui UU No.

menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). staf. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. tenaga. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. (c) wanita. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. Ketiga. Desentralisasi dalam kekuasaan. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. Karena itu. sosial dan budaya. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. melainkan memerlukan biaya. budaya. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. pengetahuan dan ketrampilan. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Namun. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. 3. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni.tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. Kedua. prinsip inisiatif sumber daya manusia. . Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. ekonomi dan politik. dan (d) penyandang cacat. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. pelayanan kepada masyarakat. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. informasi dan penghargaan. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. prinsip sistem pengelolaan mandiri. pengetahuan dan ketrampilan. Keempat. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. kepala sekolah dan orang tua siswa. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi.

yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. Kelima. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . Pertama. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Keempat. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . Kubick (1988) tentang School-Based Management. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai . terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. B. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Ketujuh. Kedelapan. Keenam. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Pada dasarnya. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil.Ketiga. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Kedua. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Kesembilan. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. Dengan demikian. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. Oleh karena itu. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Ketiga. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah.

H. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. Keenam. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Kedelapan. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. Kelima. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. Ketujuh. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. melakukan pemantauan terhadap proses dan . mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Ketiga. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. Ketujuh. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa.designer. implementasi pada proses pembelajaran. Keempat. Kedua. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. identifikasi peran masing-masing. membuat rencana jangka pendek. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Kesembilan. Kelima. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. fasilitator dan liaison. Sementara itu. diskusi. Pertama. Menurut Slamet P. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. motivator. Keempat. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. forum ilmiah dan media massa. Oleh karena itu. Keenam. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Kedelapan. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. Namun. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. Kesembilan. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri.

sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. Selain itu. 2. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. yaitu parisipasi masyarakat. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. kurikulum. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. waktu. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. masyarakat. dan budaya masyarakat. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. masalah partisipasi. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. budaya pemerintah daerah. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. Kedua.evaluasi terhadap hasil MBS. kepemimpinan. budaya sekolah. Pertama. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. kemandirian dan kerjasama. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. pendanaan. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. pembangunan kelembagaan (capacity building). (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. strategi dan monitoring serta evaluasi. keuangan. Wohlstetter dkk. 1. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. Ketiga. ketenaga kerjaan. dan lebih mampu mengelola . Oleh karena itu. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah.

Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. menciptakan visi bersama.dirinya secara lebih efektif. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. Keenam. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. 4. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. pelatihan. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. memperbaiki lingkungan kerja. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. Pertama. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. Kelima. bahkan dalam beberapa terminologi Sit.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. mendefinisikan peran baru. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. 3. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Kedua. Keempat. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung . Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. 5. Ketiga. memahami konteks perubahan. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. rancangan dan implementasi dari reformasi. berapa dana yang akan dialokasikan. Sementara itu. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. guru dan administrator tentang tujuan. monitoring yang ketat dan dukungan VEC.Base. Byrk dkk. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah.

Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. Sejak September 1999. kurangnya kepercayaan antar pihak. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung.C. Pertama. C. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru.dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. Menurut Taruna. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. 6 Oktober 2000). Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. implementasi MBS memakan waktu. Ketiga. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. (2) belajar untuk melaksanakan. J. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. Sekolah Dasar Swasta. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. Sekolah Dasar Inpres. Padahal dalam kenyataan. Oleh karena itu. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. Keempat. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. Kedua. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. (3) belajar untuk hidup bersama. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. dan (4) belajar untuk kemandirian. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. . Pertama.

Ketiga. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Ketiga. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. menciptakan visi bersama. Keempat. Kedua. Menurut Taruna. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. D. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. Namun. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah .Kedua. memperbaiki lingkunagn kerja. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. tantangan demokrasi. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. Selain itu. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. Pertama. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. mendefinisikan peran baru. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. memahami konteks perubahan. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan.

akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. Kedua. Ketiga. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. 16 April 2001). lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. bureaucratic. Keempat. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Dengan demikian. BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. dan market. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Pertama. Oleh karena itu. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. legal. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.Pada era desentralisasi. Pertama. teratur. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. terkonsep dan terorganisir rapi. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. fungsi dan wewenang. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. . professional. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Kedua. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Selanjutnya. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. Ketiga. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political.

Nurrawi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Arif. 2006.worldbank. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33. Amir Daien. Lori Jo. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Jalal. http://www. Fasli dan Dedi Supriadi (ed.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. School-Based Management.SMBQ&ASBM BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Mulyasa. Jakarta: PT Bumi Aksara. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.ed. 2006. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Pengantar Ilmu Pendidikan. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. 2001. Dalam implementasi MBS. 2002. 02.). 2003. School-Based management: ERIC Digest Number 99.org/education/globaleducationreform/06. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Lori Jo. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. E. Oswald. ___________.http://www.http://www1. Surabaya: Usaha Nasional. Aan dan Cepi Triatna.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dukungan .governancereform/06. 1973.ed. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Strategi dan Implementasi). 1995.Wallahu ‘alamu. Cetakan Ketiga dan Keempat. Cetakan Kedua. Komariah. Oswald. Surabaya.

Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Berdasarkan latar belakangnya.finansial. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. Oleh karena itu. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten . 22 tahun 1999. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. Namun. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. bukan dengan pemerintah pusat. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. ketidakpuasan. Kedua. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Akhirnya. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. Tetapi. kelompok dan organisasinya. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Pertama. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Munculnya UU No. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat .

Hubungan guru. Mandatnya sudah jelas. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. yaitu terprogram dan sistematik. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat.atau kota. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. yaitu melalui UU No. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan . Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. BAB II PEMBAHASAN A. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Sekilas tentang Wacana MBS 1. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Kedua. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Pertama. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. bersahabat dan hangat. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. tujuan dan akuntabilitas. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik.

sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang.menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. kepala sekolah dan orang tua siswa. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. melainkan memerlukan biaya. Namun. prinsip inisiatif sumber daya manusia. Teori yang Mendasari MBS Pertama. staf. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. pelayanan kepada masyarakat. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. prinsip sistem pengelolaan mandiri. Keempat. Desentralisasi dalam kekuasaan. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. informasi dan penghargaan. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. Kedua. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). tenaga. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. 3. 2. Apapun model MBS yang dipakai. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. Ketiga. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. pengetahuan dan ketrampilan. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Ketiga. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. ukuran keberhasilan . dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. Keempat. Karena itu. pengetahuan dan ketrampilan. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah.

Kedua. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. sosial dan budaya. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. dan (d) penyandang cacat. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Keenam. (c) wanita. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Kelima. Ketiga. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. Dengan demikian. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Kedelapan. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Kesembilan. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Keempat. budaya. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Ketujuh. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. B. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Kubick (1988) . ekonomi dan politik. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah.implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama.

Ketiga. Keempat. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Ketujuh. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. motivator. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. Kedelapan. Kedua. Oleh karena itu. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Kesembilan. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya.tentang School-Based Management. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. identifikasi peran masing-masing. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. . Pertama. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. Keenam. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Kelima. Oleh karena itu. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Pada dasarnya. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. implementasi pada proses pembelajaran. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. Sementara itu. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. fasilitator dan liaison. Namun. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya.

Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan . Oleh karena itu. forum ilmiah dan media massa. Pertama. ketenaga kerjaan. Kesembilan. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya.H. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. waktu. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. yaitu parisipasi masyarakat. Kelima. pembangunan kelembagaan (capacity building). Ketujuh. Kedelapan. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. Menurut Slamet P. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Keenam. 1. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. Kedua. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial.Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. strategi dan monitoring serta evaluasi. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. Ketiga. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. Pertama. pendanaan. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. kurikulum. Keempat. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. keuangan. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. membuat rencana jangka pendek. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. diskusi. masyarakat. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. masalah partisipasi. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. Kedua. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan.

Kelima. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. dan budaya masyarakat. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). Keempat. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. Ketiga. Kedua. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Pertama. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. 5. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. Keenam. guru dan administrator tentang tujuan. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Byrk dkk. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. rancangan dan implementasi dari reformasi. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. kemandirian dan kerjasama. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. Sementara itu. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. budaya pemerintah daerah. budaya sekolah. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. Selain itu. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. Ketiga.akuntabilitas. kepemimpinan. 4. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Wohlstetter dkk. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. 2. 3. yaitu pengadopsian suatu perspektif . masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. pelatihan.

Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa.Base. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. kurangnya kepercayaan antar pihak. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. Kedua. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. berapa dana yang akan dialokasikan. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. memahami konteks perubahan. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. C. Oleh karena itu. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. . menciptakan visi bersama. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Pertama. mendefinisikan peran baru. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas.yang lebih luas akan suatu sistem. memperbaiki lingkungan kerja. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. Ketiga.

Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Sejak September 1999. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. implementasi MBS memakan waktu. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. memperbaiki lingkunagn kerja. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada . memahami konteks perubahan. Padahal dalam kenyataan. tantangan demokrasi. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. Menurut Taruna. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. 6 Oktober 2000). yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. dan (4) belajar untuk kemandirian. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. mendefinisikan peran baru. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. Sekolah Dasar Swasta. (2) belajar untuk melaksanakan. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. (3) belajar untuk hidup bersama.C. Keempat. menciptakan visi bersama. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan.Keempat. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Kedua. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Sekolah Dasar Inpres. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. J. Ketiga. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Pertama. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. Pertama. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Menurut Taruna. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. Selain itu. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah.

institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. 16 April 2001). pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. professional. fungsi dan wewenang. Namun. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya.kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Kedua. Keempat. Ketiga. Ketiga. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. Pertama. Selanjutnya. . D. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. dan market. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi. legal. Ketiga. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Kedua. Dengan demikian. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. Kedua. bureaucratic. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Pertama. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi.

Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Strategi dan Implementasi).).gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. 2006. Mulyasa. http://www. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Aan dan Cepi Triatna. Surabaya: Usaha Nasional. 2003. 2001. 2006.BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. 1973. Oleh karena itu.ed. teratur. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. terkonsep dan terorganisir rapi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Komariah. Cetakan Ketiga dan Keempat. Jakarta: PT Bumi Aksara. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Wallahu ‘alamu. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Cetakan Kedua. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Bandung: PT . Jalal. Pengantar Ilmu Pendidikan. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Amir Daien. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. E. ___________.

Cetakan Pertama. Ace dan H. Revised Edition. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide. 2002. 2001. Larry J. “Manajemen Berbasis Sekolah”. 1993.S. 27. Oswald.worldbank. Inc.blogspot.id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.. Surabaya. http://www. Nurrawi.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Lori Jo. Bandung: PT Remaja Rosdakarya./implementasi-mbs-dalam-meningkatkan.R. 1996. Wohlstetter. Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar). School-Based Management.pdk. U. http://ww.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt.com/. http://ww. Slamet P. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. School-Based management: ERIC Digest Number 99. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33.A.htm. Oswald. California: Corwin Press.go. Ahmad. 1997.e. 1995. Arif.H.ed. School-based Management: Strategies for Succes..governancereform/06.html.gov/pubs/cpre/fb5sbm. Lori Jo. Wohlstetter.Remaja Rosdakarya. 1992. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform.SMBQ&ASBMReynolds. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam.http://www1. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.ed. gurutrenggalek. Tafsir. Suryadi. 02.html - . Bandung: Remaja Rosdakarya.http://www. Tilaar.org/education/globaleducationreform/06.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->