2.2.2.

2LitigasiDasar hukum untuk mengajukan gugatan di pengadilan terdapat dalam Pasal 38ayat 1 UU ITE dan Pasal 45 ayat 1 UUPK. Dalam Pasal 38 ayat 1 UU ITEdisebutkan bahwa “ Setiap orang dapat mengajukan gugatan terhadap pihak yang menyelenggarakan Sistem Elektronik dan/atau menggunakan Teknologi Informasi yang menimbulkan kerugian ”. Sedangkan gugatan yang diajukan berupa gugatan perdata (Pasal 39 ayat 1). Sedangkan dalam Pasal 45 ayat 1 UUPK disebutkan bahwa“ Setiap konsumen yang dirugikan bisa menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha ataumelalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum ”.Dengan diakuinya alat bukti elektronik sebagai alat bukti yang sah di pengadilansebagaimana disebutkan dalam Pasal 5 ayat 1, 2 dan 3 UU ITE maka alat-alat buktiyang dapat digunakan oleh konsumen di pengadilan adalah :i.Bukti transfer atau bukti pembayaran. ii. SMS atau e-mail yang menyatakan kesepakatan untuk melakukan pembelian. iii. Nama, alamat, nomor telepon, dan nomor rekening pelaku usaha.Pihakpihak yang boleh mengajukan gugatan ke pengadilan dalam sengketakonsumen menurut pasal 46 UUPK adalah :i.Seorang konsumen yang dirugikan atau ahli warisnyaii.Sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama iii. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhisyarat, yaitu berbentuk badan hukum atau yayasan yang tujuandidirikannya lembaga ini adalah untuk kepentingan konsumen.iv.Pemerintah atau instansi terkait 93

Yang perlu diperhatikan konsumen dalam mengajukan gugatan ke pengadilandalam sengketa konsumen adalah : a.

itb. daniii. 77 http://digilib. b.Keyakinan bahwa pintu keadilan seharusnya terbuka bagisiapa saja.148. hal ini karena UUPK menganut asas pertanggungan jawab produk (product liability) sebagaimana diatur dalam Pasal 19 juncto Pasal 28 UUPK.cit . h. Bahwa pembuktian ada tidaknya unsur kesalahan merupakan beban dantanggung jawab pelaku usaha. Dengan adanya prinsip product liability ini.id/gdl. 78 .Untuk menjaga intregitas badan-badan peradilan.bahan diakses tanggal 15 januari 2009. 94 kerusakan tersebut menimbulkan kerugian atau kecelakaan bagi sikonsumen. dimana beban pembuktian merupakantanggung jawab penggugat (konsumen) untuk membuktikan adanyaunsur kesalahan. 77 Ini berbeda dengan teori beban pembuktian pada acara biasa. termasuk para konsumen kecil dan miskin. op . hal ini diizinkan dengan memperhatikan hal-hal berikut : 76 i.ii. makakonsumen yang mengajukan gugatan kepada pelaku usaha cukupmenunjukkan bahwa produk yang diterima dari pelaku usaha telahmengalami kerusakan pada saat diserahkan oleh pelaku usaha dan 76Janus Sidubalok.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-dewi-5881-ecommerce&q=Usaha.Setiap bentuk kerugian yang dialami oleh konsumen bisa diajukan ke pengadilan dengan tidak memandang besar kecilnya kerugian yangdiderita.ac.Kepentingan dari pihak penggugat (konsumen) tidak dapatdiukur semata-mata dari nilai uang kerugiannya.

perawatan kesehatan. kompensasi tersebut menurut Pasal 19 ayat 2 UUPK meliputi pengembalian sejumlah uang.Karena dalam penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan. pihak yangdibebani untuk membuktikan ada atau tidaknya unsur kesalahan merupakan bebandan tanggung jawab pelaku usaha . penggantian barang atau jasa sejenis atauyang setara. terlihat bahwa penyelesaian sengketa konsumenmelalui jalur litigasi tidak serumit yang dibayangkan oleh konsumen pada umumnya.Maka dalam hal ini konsumen dapat mengajukan tuntutan berupa kompensasi/gantirugi kepada pelaku usaha.Berdasakan uraian diatas. dan pemberian santunan sesuai ketentuan perundangundangan.Dengan berlakunya prinsip hukum bahwa setiap orang yang melakukan suatuakibat kerugian bagi orang lain. harus memikul tanggung jawab yang diperbuatnya.

Masalah autentifikasi misalnya telah dapat terpecahkan dengan memasukkan unsur‐unsur origin dan accuracy of storage jika email ingin dijadikan sebagai barang bukti (sistem email telah diaudit secara teknis untuk membuktikan bahwa hanya orang tertentu yang dapat memiliki email dengan alamat tertentu. Hearsay rule. walaupun belum secara keseluruhan mencakup atau memayungi segala perbuatan atau kegiatan di dunia maya. dan 3. Di dalam dunia maya. namun telah cukup untuk dapat menjadi acuan atau patokan dalam melakukan kegiatan cyber tersebut. Termasuk pula untuk proses autentifikasi dokumen digital yang telah dapat diimplementasikan dengan konsep digital signature. dan tidak ada orang lain yang dapat mengubah isi email ataupun mengirimkannya selain yang bersangkutan). hal‐hal semacam email. Beberapa pasal dalam Undang-Undang Internet dan Transaksi Elektronik yang berperan dalam e-commerce adalah sebagai berikut : 1. tentu saja memiliki payung hukum. Namun tentu saja pengadilan harus yakin bahwa berbagai bukti tersebut benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. The Best Evidence rule. Cyberlaw Dalam E-Commerce Hak dan kewajiban tidak ada artinya jika tidak dilindungi oleh hukum yang dapat menindak mereka yang mengingkarinya. video. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Internet dan Transaksi Elektronik. dan tele‐conference dapat menjadi sumber potensi entiti yang dapat dijadikan bukti. 2. pengadilan biasanya berpegang pada prinsip originalitas (mencari bukti yang asli). foto. The rule of authentification. Faktor best‐evidence berpegang pada hirarki jenis bukti yang dapat dipergunakan di pengadilan untuk meyakinkan pihak‐pihak terkait mengenai suatu hal. rekaman pembicaraan. Pengadilan modern telah dapat mengadaptasi ketiga jenis aturan ini di dalam sistem e‐commerce. chatting. dan lain sebagainya. terutama di negara Indonesia. sehubungan dengan hal ini. mulai dari dokumen tertulis. Dalam melakukan kegiatan e-commerce. Hal‐hal semacam tersebut di atas selain secara mudah telah dapat didigitalisasi oleh komputer.C. dapat pula dimanipulasi tanpa susah payah. Pasal 2 . Sebuah dokumen untuk dapat diajukan ke depan pengadilan harus mengikuti tiga aturan utama: 1. Aspek hearsay yang dimaksud adalah adanya pernyataan‐pernyataan di luar pengadilan yang dapat diajukan sebagai bukti.

(2) Ketentuan mengenai pembentukan Lembaga Sertifikasi Keandalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Persetujuan atas penawaran Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan pernyataan penerimaan secara elektronik. (4) Para pihak memiliki kewenangan untuk menetapkan forum pengadilan. arbitrase. produsen. (5) Jika para pihak tidak melakukan pilihan forum sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Pasal 10 (1) Setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan Transaksi Elektronik dapat disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan. penetapan kewenangan pengadilan. (3) Jika para pihak tidak melakukan pilihan hukum dalam Transaksi Elektronik internasional. baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia. 2. Pasal 18 (1) Transaksi Elektronik yang dituangkan ke dalam Kontrak Elektronik mengikat para pihak. yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia. 4. 3. Pasal 9 Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak.Undang-Undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Pasal 20 (1) Kecuali ditentukan lain oleh para pihak. . dan produk yang ditawarkan. atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari transaksi tersebut. atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya. Transaksi Elektronik terjadi pada saat penawaran transaksi yang dikirim Pengirim telah diterima dan disetujui Penerima. (2) Para pihak memiliki kewenangan untuk memilih hukum yang berlaku bagi Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya. didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional 5. hukum yang berlaku didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional. arbitrase.

segala akibat hukum menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik. jika dilakukan melalui Agen Elektronik. segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab pemberi kuasa.6. (3) Jika kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat tindakan pihak ketiga secara langsung terhadap Sistem Elektronik. (5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa. segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik. 8. kesalahan. Pasal 21 (1) Pengirim atau Penerima dapat melakukan Transaksi Elektronik sendiri. (4) Jika kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat kelalaian pihak pengguna jasa layanan. (2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik. Pasal 30 (1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apa pun. b. jika dilakukan sendiri. dan/atau kelalaian pihak pengguna Sistem Elektronik. (2) Pihak yang bertanggung jawab atas segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sebagai berikut: a. segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab para pihak yang bertransaksi. segala akibat hukum menjadi tanggung jawab pengguna jasa layanan. . atau melalui Agen Elektronik. jika dilakukan melalui pemberian kuasa. 7. atau c. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggara Agen Elektronik tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. melalui pihak yang dikuasakan olehnya. Pasal 22 (1) Penyelenggara Agen Elektronik tertentu harus menyediakan fitur pada Agen Elektronik yang dioperasikannya yang memungkinkan penggunanya melakukan perubahan informasi yang masih dalam proses transaksi.

2002. Seyogyanya Indonesia memiliki ketentuan-ketentuan pidana khusus yang berkenaan dengan pemalsuan surat atau dokumen dengan membeda-bedakan jenis surat atau dokumen pemalsuan.(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar. yaitu kejahatan yang dilakukan dengan melakukan penipuan lewat internet. tahun 2000 beberapa situs atau web Indonesia diacak-acak oleh cracker yang menamakan dirinya Fabianclone dan naisenodni. yang merupakan lex specialist di luar KUH Pidana. tetapi ketentuan-ketentuan tersebut sifatnya masih sangat umum.00 (delapan ratus juta rupiah).000. Di Indonesia pernah terjadi kasus cybercrime yang berkaitan dengan kejahatan bisnis. Situs tersebut adalah antara lain milik BCA. salah satu diantaranya adalah dengan melakukan kejahatan terlebih dahulu yaitu .00 (tujuh ratus juta rupiah). 9. melampaui. Selanjutnya pada bulan September dan Oktober 2000.000. Pasal 46 (1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600. atau menjebol sistem pengamanan. atau perorangan. Perbuatan-perbuatan pemalsuan surat itu telah merusak iklim bisnis di Indonesia.000. (3) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.00 (enam ratus juta rupiah). seorang craker dengan julukan fabianclone berhasil menjebol web milik Bank Bali. Dalam KUH Pidana memang telah terdapat Bab khusus yaitu Bab XII yang mengkriminalisasi perbuatan-perbuatan pemalsuan surat. Pada saat ini surat-surat dan dokumen-dokumen yang dipalsukan itu dapat berupa electronic document yang dikirimkan atau yang disimpan di electronic files badanbadan atau institusi-institusi pemerintah. Contoh Kasus dalam e-Commerce Dalam beberapa dekade terakhir ini.37). banyak sekali perbuatan-perbuatan pemalsuan (forgery) terhadap surat-surat dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan bisnis. Bursa Efek Jakarta dan Indosatnet (Agus Raharjo. perusahaan. (2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.000.000. D. menerobos. Kerugian yang ditimbulkan sangat besar dan mengakibatkan terputusnya layanan nasabah (Agus Raharjo 2002:38). Bank ini memberikan layanan internet banking pada nasabahnya.000. Kejahatan lainnya yang dikategorikan sebagai cybercrime dalam kejahatan bisnis adalah Cyber Fraud.

31 Agustus 2002). terdakwa didakwa melakukan Cybercrime. memperjualbelikan. Di Indonesia kasus ini pernah terjadi antara PT. Dalam kasus tersebut.000. Satu lagi kasus yang berkaitan dengan cybercrime di Indonesia. Cyber Squalling.(Pikiran Rakyat. Mustika Ratu dan Tjandra. Terlebih mengenai UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Internet dan Transaksi Elektronika yang sampai dengan hari ini walaupun telah disahkan pada tanggal 21 April 2008 belum dikeluarkan Peraturan Pemerintah untuk sebagai penjelasan dan pelengkap terhadap pelaksanaan Undang-Undang tersebut. atau menggunakan suatu nama domain dengan itikad tidak baik atau jelek. 4. pihak yang mendaftarkan nama domain tersebut (Iman Sjahputra. dan diderita oleh sang korban.000. menyatakan Indonesia berada di urutan kedua setelah Ukraina (Shintia Dian Arwida. Menurut riset yang dilakukan perusahaan Security Clear Commerce yang berbasis di Texas. 2002). hasil kejahatannya digunakan untuk membeli barang-barang seperti helm dan sarung tangan merk AGV. Total harga barang yang dibelinya mencapai Rp. Namun.. hal ini dikarenakan masih terjadi perdebatan tentang regulasi yang berkaitan dengan kejahatan tersebut. Dalam amar putusannya Majelis Hakim berkeyakinan bahwa Petrus Pangkur alias Bonny Diobok Obok telah membobol kartu kredit milik warga Amerika Serikat. . 2002:151-152). beberapa contoh kasus yang berkaitan dengan cybercrime dalam kejahatan bisnis jarang yang sampai ke meja hijau.mencuri nomor kartu kredit orang lain denganmeng-hack atau membobol situs pada internet. Disamping itu banyaknya kejadian tersebut tidak dilaporkan oleh masyarakat kepada pihak kepolisian sehingga cybercrime yang terjadi hanya ibarat angin lalu. yang dapat diartikan sebagai mendapatkan. kasus tersebut diputus di Pengadilan Negeri Sleman dengan Terdakwa Petrus Pangkur alias Bonny Diobok Obok.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful