Kupas Tuntas Metode Penelitian Kualitatif Bagian 1 PENGERTIAN METODE PENELITIAN KUALITATIF Pengertian Metode Penelitian Kualitatif Terdapat

kesalahan pemahaman di dalam masyarakat bahwa yang dinamakan sebagai kegiatan penelitian adalah penelitian yang bercorak survei. Ditambah lagi ada pemahaman lain bahwa penelitian yang benar jika menggunakan sebuah daftar pertanyaan dan datanya dianalisa dengan menggunakan teknik statistik. Pemahaman ini berkembang karena kuatnya pengaruh aliran positivistik dengan metode penelitian kuantitatif. Ada dua kelompok metode penelitian dalam ilmu sosial yakni metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Di antara kedua metode ini sering timbul perdebatan di seputar masalah metodologi penelitian. Masing-masing aliran berusaha mempertahankan kekuatan metodenya Salah satu argumen yang dikedepankan oleh metode penelitian kualitatif adalah keunikan manusia atau gejala sosial yang tidak dapat dianalisa dengan metode yang dipinjam dari ilmu eksakta. Metode penelitian kualitatif menekankan pada metode penelitian observasi di lapangan dan datanya dianalisa dengan cara non-statistik meskipun tidak selalu harus menabukan penggunaan angka Penelitian kualitatif lebih menekankan pada penggunaan diri si peneliti sebagai alat. Peneliti harus mampu mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap fungsi inderawinya. Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh responden dan lingkungannya agar mampu mengungkap data yang tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa tubuh, perilaku maupun ungkapanungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan responden.

DASAR-DASAR PENELITIAN KUALITATIF Paradigma Metode Penelitian Ada dua metode berfikir dalam perkembangan pengetahuan, yaitu metode deduktif yang dikembangkan oleh Aristoteles dan metode induktif yang dikembangkan oleh Francis Bacon. Metode deduktif adalah metode berfikir yang berpangkal dari hal-hal yang umum atau teori menuju pada hal-hal yang khusus atau kenyataan. Sedangkan metode induktif adalah sebaliknya. Dalam pelaksanaan, kedua metode tersebut diperlukan dalam penelitian. Kegiatan penelitian memerlukan metode yang jelas. Dalam hal ini ada dua metode penelitian yakni metode kualitatif dan metode kuantitatif. Pada mulanya metode kuantitatif dianggap memenuhi syarat sebagai metode penilaian yang baik, karena menggunakan alat-alat atau intrumen untuk mengakur gejala-gejala tertentu dan diolah secara statistik. Tetapi dalam perkembangannya, data yang berupa angka dan pengolahan matematis tidak dapat menerangkan kebenaran secara meyakinkan. Oleh sebab itu digunakan metode kualitatif yang dianggap mampu menerangkan gejala atau fenomena secara lengkap dan menyeluruh.

dan bukan angka. Peneliti mengumpulkan dan mencatat data yang sangat rinci mengenai hal-hal yang dianggap bertalian dengan masalah yang diteliti. Ciri-ciri Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian lain. Masa ini disebut masa positivisme. dan post-positivisme. Mementingkan rincian kontekstual. Dengan demikian maka apa yang ada di balik tingkah laku manusia merupakan hal yang pokok bagi penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses daripada hasil. Menurut pandangan post-positivisme. . kebenaran tidak hanya satu tetapi lebih kompleks. Dapat dikatakan bahwa post-positivisme sebagai reaksi terhadap positivisme. Pandangan positivisme dalam perkembangannya dibantah oleh pendirian baru yang disebut postpositivisme. Peneliti sebagai alat penelitian. Subjek yang diteliti berkedudukan sama dengan peneliti. dikenal tiga metode yang secara kronologis berurutan yakni metode pra-positivisme. gambar. Penelitian kualitatif menuntut sebanyak mungkin kepada penelitinya untuk melakukan sendiri kegiatan penelitian di lapangan.Tiap penelitian berpegang pada paradigma tertentu. positivisme. Pendirian post-positivisme ini bertolak belakang dergan positivisme. maka timbullah metode ilmiah. Untuk mengetahui perbedaan tersebut ada 15 ciri penelitian kualitatif yaitu: Dalam penelitian kualitatif data dikumpulkan dalam kondisi yang asli atau alamiah (natural setting). artinya dalam pengumpulan data sering memperhatikan hasil dan akibat dari berbagai variabel yang saling mempengaruhi. jadi tidak sebagai objek atau yang lebih rendah kedudukannya. Latar belakang tingkah laku atau perbuatan dicari maknanya. Pada mulanya orang memandang bahwa apa yang terjadi bersifat alamiah. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa kata-kata. Dalam penelitian kualitatif digunakan metode triangulasi yang dilakukan secara ekstensif baik tringulasi metode maupun triangulasi sumber data. Peneliti bersifat pasif sehingga tinggal memberi makna dari apa yang terjadi dan tanpa ingin berusaha untuk merubah. Masa ini disebut masa pra-positivisme. artinya peneliti sebagai alat utama pengumpul data yaitu dengan metode pengumpulan data berdasarkan pengamatan dan wawancara Dalam penelitian kualitatif diusahakan pengumpulan data secara deskriptif yang kemudian ditulis dalam laporan. yakni bahwa peneliti dapat dengan sengaja mengadakan perubahan dalam dunia sekitar dengan melakukan berbagai eksperimen. Paradigma menjadi tidak dominan lagi dengan timbulnya paradigma baru. Setelah itu timbul pandangan baru. Mengutamakan data langsung atau “first hand”. sehingga tidak dapat diikat oleh satu teori tertentu saja. Dalam penelitian.

Seorang peneliti kualitatif yang menerapkan sudut pandang ini berusaha menginterpretasikan kejadian dan peristiwa sosial sesuai dengan sudut pandang dari objek penelitiannya. Dalam pendekatan interaksi simbolik diasumsikan bahwa objek orang. Pendekatan kebudayaan. Seorang peneliti dalam kegiatan penelitiannya. Peneliti dengan pendekatan ini mengatakan bahwa bagaimana sebaiknya diharapkan berperilaku dalam suatu latar kebudayaan. menerangkan. Pengertian yang dlberikan orang pada pengalaman dan proses penafsirannya bersifat esensial serta menentukan. Etnometodologi berusaha memahami bagaimana orang-orang mulai melihat. yakni bagaimana ia memandang dan menafsirkan dunia dan segi pendiriannya. Teori bersifat dari dasar. Data yang diperoleh langsung dianalisa. Pendekatan interaksi simbolik. KEDUDUKAN DAN RAGAM PARADIGMA Kedudukan Paradigma Dalam Metode Penelitian Kualitatif . sebaliknya pengertian itu diberikan kepada mereka. dan menguraikan keteraturan dunia tempat mereka hidup. artinya mementingkan pandangan responden. Penerapan metode ini antara lain melalui kasus yang bertentangan atau negatif. menjelaskan dan menggambarkan tata hidup mereka sendiri. Dasar Teoritis Penelitian Pada penelitian kualitatif. demikian seterusnya sampai dianggap mencapai hasil yang memadai. Pendekatan etnometodologi. Untuk menggambarkan kebudayaan menurut perspektif ini seorang peneliti mungkin dapat memikirkan suatu peristiwa di mana manusia diharapkan berperilaku secara baik. Metode kualitatif menggunakan sampel yang sedikit dan dipilih menurut tujuan penelitian. Verifikasi. menerapkan paradigma tertentu sehingga penelitian menjadi terarah.Mengutamakan perspektif emik. Pengambilan sampel secara purposif. baik dinyatakan secara eksplisit atau tidak. Etnometodologi berupaya untuk memahami bagaimana masyarakat memandang. Dalam pandangan fenomenologis. Dasar teoritis dalam pendekatan kualitatif adalah: Pendekatan fenomenologis. peneliti berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Menggunakan “Audit trail”. situasi dan peristiwa tidak memiliki pengertian sendiri. teori diartikan sebagai paradigma. Metode yang dimaksud adalah dengan mencantumkan metode pengumpulan dan analisa data. Mengadakan analisis sejak awal penelitian. Dengan data yang diperoleh dari penelitian di lapangan dapat dirumuskan kesimpulan atau teori. dilanjutkan dengan pencarian data lagi dan dianalisis.

Oleh karena itu para peneliti harus mempunyai pemahaman yang cukup terhadap dasar pemikiran paradigma-paradigma yang ada sehingga sebelum melakukan kegiatan penelitiannya. Bagi kegiatan penelitian. merupakan tradisi intelektual yang mendasarkan diri pada sesuatu yang nyata atau faktual dan yang serba pasti. Logico Empiricism. dan (3) perilaku sosial. namun di dalam melihat kebenaran tersebut. maka cabang studi itu haruslah memiliki unsur-unsur penemuan dan pengorganisasian. yang meliputi pengorganisasian fakta-fakta atau kenyataankenyataan. paradigma tersebut berkedudukan sebagai landasan berpijak atau fondasi dalam melakukan proses penelitian selengkapnya. baik yang berlandaskan pada aliran pemikiran Logico Empiricism maupun Hermeneutic. Menurut Bogdan dan Biklen paradigma dinyatakan sebagai kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama.Ilmu pengetahuan merupakan suatu cabang studi yang berkaitan dengan penemuan dan pengorganisasian fakta-fakta. Oleh Moleong prinsip-prinsip ini disebut sebagai aksioma-aksioma. konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian. konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian. Masing-masing paradigma tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Sedangkan Hermeneutika. yang menjadi dasar bagi para ilmuan dan peneliti di dalam mencari kebenaran melalui kegiatan penelitian. yang nyata atau yang terlihat. yang oleh Bogdan dan Biklen dinyatakan sebagai kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama. prinsip-prinsip serta metoda-metoda. tidak selalu dapat dan cukup didapat dengan melihat sesuatu yang nyata. (2) definisi sosial. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berusaha melihat kebenaran-kebenaran atau membenarkan kebenaran. Pilihan terhadap tradisi mana yang akan ditempuh peneliti sangat ditentukan oleh tujuan dan jenis data yang akan ditelitinya. Ragam Paradigma Dalam Metode Penelitian Dalam rangka melakukan pengumpulan fakta-fakta para ilmuwan atau peneliti terlebih dahulu akan menentukan landasan atau fondasi bagi langkah-langkah penelitiannya. para peneliti dapat memilih paradigma sebagai landasan penelitiannya secara tepat. Landasan atau fondasi tersebut akan dijadikan sebagai prinsip-prinsip atau asumsi-asumsi dasar maupun aksioma. Dasar-dasar untuk melakukan kebenaran itu biasa disebut sebagai paradigma. dan (4) struktural fungsional. dan metoda-metoda. Oleh karena itu pemahaman terhadap paradigma ilmu pengetahuan sangatlah perlu dilakukan oleh para peneliti. . (3) model konflik. Menurut Meta Spencer paradigma di dalam ilmu sosial meliputi (1) perspektif evolusionisme. Ada berbagai macam paradigma yang mendasari kegiatan penelitian ilmu-ilmu sosial. Dari sini dapat dipahami bahwa untuk dinyatakan sebagai ilmu pengetahuan. yang dalam bahasanya Moleong disebut sebagai paradigma. Menurut George Ritzer paradigma di dalam ilmu sosial terdiri atas (1) fakta sosial. dan harus melacaknya lebih jauh ke balik sesuatu yang nyata tersebut. merupakan tradisi intelektual yang mendasarkan diri pada sesuatu yang berada di balik sesuatu yang faktual. prinsip-prinsip. akan tetapi kadangkala perlu pula melihat sesuatu yang bersifat tersembunyi. (2) interaksionisme simbolik. Paradigma didalam ilmu pengetahuan sosial memiliki ragam yang demikian banyak. Paradigma-paradigma yang beragam tersebut tidak terlepas dari adanya dua tradisi intelektual Logico Empiricism dan Hermeneutika.

merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri. apabila tidak menghubungkan antar fenomena. yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di dalam kehidupan manusaia. Kriteria-kriteria Perumusan Masalah Ada setidak-tidaknya tiga kriteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam perumusan masalah penelitian yaitu kriteria pertama dari suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif. apabila rumusannya menunjukkan adanya hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena. Tanpa perumusan masalah. diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena. Kriteria Kedua dari suatu masalah penelitian adalah bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori. Perumusan masalah ini tidak berharga mati. maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian. dalam arti pemecahannya secara jelas. karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris. Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu Fungsi pertama adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan. Fungsi ketiga dari perumusan masalah. Perumusan masalah penelitian dapat dibedakan dalam dua sifat.Perbedaan dan keragaman paradigma dan atau teori yang berkembang di dalam ilmu pengetahuan sosial. adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti. diharapkan akan dapat . penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan. maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya. sampaisampai memunculkan suatu anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah. Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian. serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif. dan perumusan masalah eksplanatoris. PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN Pengertian dan Fungsi Perumusan Masalah Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri. suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. meliputi perumusan masalah deskriptif. menuntut para peneliti untuk mencermatinya di dalam rangka memilih paradigma yang tepat bagi permasalahan dan tujuan penelitiannya. baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. Fungsi kedua. Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem. Sedangkan fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan masalah penelitian. adalah sebagai pedoman. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti.

Kriteria ketiga. dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi kehidupan manusia. Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan. hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian. didapati beberapa variasi. (2) Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian dan (3) Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian. antara lain (1) Ada yang menempatkannya di bagian paling awal dari suatu sistematika peneliti. . karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan. juga hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual. Artinya. hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. baik sebagai pencipta teori-teori baru maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada. sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula. adalah bahwa suatu perumusan masalah yang baik.memberikan sumbangan teoritik yang berarti. kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun.

dan belum sampai menegaskan mana saja variabel yang berhubungan dengan ruang lingkup masalah dan mana yang tidak. Pada dasarnya Grounded Theory dapat diterapkan pada berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial. Oleh sebab itu. karena itu cocok digunakan untuk penelitian terhadap perilaku. dan Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques (1990). Pada tahap awal –sebelum pengumpulan data. namun demikian seorang peneliti tidak perlu ahli dalam bidang ilmu yang sedang ditelitinya. tujuan dari Grounded Theory Approach adalah teoritisasi data. Pendekatan ini pertama kali disusun oleh dua orang sosiolog. Asumsi ini dipertegas dalam Grounded Theory. supaya ia paham jenis dan format data yang dikumpulkannya. Penelitian ini tidak bertolak dari suatu teori atau untuk menguji teori (seperti paradigma penelitian kuantitatif). Pola-pola regulasi yang ditemukan melalui penelitian itulah yang dirumuskan menjadi teori. Keriteria dimaksud adalah adanya signikansi. Barney Glaser dan Anselm Strauss. Untuk maksud ini keduanya telah menulis 4 (empat) buah buku. karena prosedur kerjanya yang dirancang secara cermat sehingga memenuhi keriteria metode ilmiah. Theoritical Sensitivity (1978). Demikian pula tipe hubungan antarvariabelnya belum perlu dieksplisitkan dalam rumusan masalah yang dibuat. Untuk maksud itu. "The Discovery of Grounded Theory" (1967). adanya ketepatan dan ketelitian. bahwa rumusan masalah dalam Grounded Theory disusun lebih dari satu kali. dengan menyatakan bahwa. Selanjutnya. baik variabel maupun tipe hubungan antarvariabelnya. Teoritisasi adalah sebuah metode penyusunan teori yang berorientasi tindakan/interaksi. melainkan bertolak dari data menuju suatu teori. Substansi rumusan masalah dalam pendekatan Grounded Theory masih bersifat umum. yaitu. rumusan masalah dalam Grounded Theory disusun secara bertahap. yang kemudian nanti –setelah data yang bersifat umum dikumpulkan—rumusan masalahnya semakin dipersempit dan lebih difokuskan sesuai dengan sifat data yang dikumpulkan. Hal yang lebih penting adalah bahwa dari awal peneliti telah memiliki pengetahuan dasar dalam bidang ilmu yang ditelitinya. pendekatan Grounded Theory merupakan metode ilmiah. kesesuaian antara teori dan observasi. dan (b) hubungan antarkonsep belum terpahami atau belum tersusun secara konseptual. Menurut kedua ilmuwan ini.PENDAHULUAN ImagePendekatan grounded teori (Grounded Theory Approach) adalah metode penelitian kualitatif yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis guna mengembangkan teori dari kancah. yaitu dalam bentuk pertanyaan yang masih memberi kelonggaran dan kebebasan untuk menggali fenomena secara luas. Intinya adalah. Sesuai dengan nama yang disandangnya. dapat diteliti ulang. Qualitative Analysis for Social Scientists (1987). metode analisis yang ditawarkan Grounded Theory Approach adalah teoritisasi data (Grounded Theory). tidak mungkin bagi seorang peneliti untuk mengajukan masalah yang sangat spesifik –seperti yang dituntut dalam metode kuantitatif. Rumusan masalah yang diajukan pada tahap pertama dimaksudkan . dapat digeneralisasikan. yang diperlukan dalam proses menuju teori itu adalah prosedur yang terencana dan teratur (sistematis). paradigma kualitatif mengasumsikan bahwa di dalam kehidupan sosial selalu ditemukan regulasi-regulasi yang relatif sudah terpola. dikemukan rumusan masalah yang bersifat luas (tetapi tidak terlalu terbuka). (a) semua konsep yang berhubungan dengan fenomena belum dapat diidentifikasi. PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN Seperti diketahui. serta bisa dibuktikan. Bertolak dari dasar asumsi dan kemungkinan yang diutarakan di atas.

Jika penelitian bermaksud untuk memperluas teori yang telah ada. jika ternyata teori yang ditemukan identik dengan teori yang sudah ada. bahwa sesungguhnya peneliti belum memiliki pengetahuan tentang obyek yang diteliti. penelitian Grounded Theory tidak perlu terlalu terpangaruh oleh literatur karena akan menutupi kreativitas dalam mengumpul.sebagai panduan dalam mengumpul data. Jika penelitian dengan Grounded Theory menemukan teori yang memiliki hubungan dengan teori yang sudah dikenal. Jika ya. Jika peneliti sudah menemukan kategori-kategori dari data yang dikumpulkan. teori yang sudah ada harus diletakkan sesuai dengan maksud penelitian yang dikerjakan: Penelitian yang bermaksud menemukan teori dari dasar. PENGGUNAAN TEORI TERDAHULU Sebagaimana penelitian kualitatif pada umumnya. rumusan masalah yang disusun pada tahap awal adalah yang memiliki substansi yang jelas serta diformulasikan dalam bentuk pertanyaan. sedangkan rumusan masalah yang diajukan pada tahap berikutnya dimaksudkan sebagai panduan untuk menyusun teori. (a) mengenali secara tepat dan mendalam perilaku wanita yang sedang berpenyakit kronis dalam mengatasi kehamilannya. serta (c) berorientasi pada proses dan tindakan. Dengan demikian. Seperti lazimnya pada setiap penelitian. (a) berorientasi pada pengidentifikasian fenomena yang diteliti. . (b) obyek formal penelitian adalah wanita yang berpenyakit kronis yang sedang hamil. maka peneliti perlu memahami tentang apa saja yang dikatakan oleh peneliti lain tentang kategori tersebut. Namun demikian. Demikian pula. membangun kerangka berpikir. maka teori yang ada dapat dijadikan sebagai pengabsahan dari temuan baru itu. maka konsep-konsep yang digunakan oleh teori terdahulu dapat dipinjam untuk sementara sampai ditemukan konsep yang sebenarnya dari kancah. Perumusan masalah yang disebut terakhir ini inheren dengan perumusan hipotesis penelitian. "Bagaimanakah wanita yang berpenyakit kronis mengatasi kehamilan?" Pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah ini bermaksud untuk. dan menyusun bahan wawancara. karena akan menghambat pengembangan rumusan teori baru. termasuk jenis data dan kategori-kategori yang mungkin ditemukan. Inilah yang dimaksudkan dalam pendekatan Grounded Theory. memahami dan menganalisis data. dan bahkan tidak bertolak dari variabel-variabel yang direduksi dari suatu teori. Penelitian yang bermaksud memperluas teori. maka penelitian dapat dimulai dari teori tersebut dengan merujuk kerangka umum teori itu. tetapi bukan untuk mengikutinya. Dengan kata lain. (b) mengungkap secara tegas tentang obyek (formal dan material) yang akan diteliti. Contoh rumusan masalah awal pada Grounded Theory. Sungguh tidak relevan jika penelitian dengan Grounded Theory dimulai dengan teori atau variabel yang telah ada. Jika peneliti menghadapi kesulitan dalam hal konsep ketika merumuskan masalah. kerangka teoritik yang sudah ada bisa digunakan untuk menginterpretasi dan mendekati data. maka ia perlu memeriksa apakah sistem kategori serupa telah ada sebelumnya. penelitian yang sekarang harus dikembangkan secara tersendiri dan terlepas dari teori sebelumnya. pendekatan Grounded Theory sama sekali tidak bermaksud untuk menguji teori. Ciri rumusan masalah yang disarankan dalam Grounded Theory adalah. sedangkan obyek materialnya adalah cara-cara yang dilakukan oleh wanita itu dalam mengatasi persoalan kehamilan dalam kondisi sakit. dan (c) orientasi utama yang disoroti adalah tahapan tindakan si wanita dan jenis-jenis atau bentuk-bentuk tindakan yang dipilih. Oleh sebab itu. Dalam pendekatan Grounded Theory. maka temuan baru itu merupakan sumbangan baru untuk memperluas teori yang sudah ada.

Terdapat dua prosedur analisis yang merupakan dasar bagi proses pengkodean. melainkan memberikan konsep baru terhadap fenomena (atau kegiatan konseptualisasi). dan harus dilakukan secara bergantian (siklus). Dalam konteks penelitian Grounded Theory. (c) membantu peneliti mengatasi bias dan asumsi yang keliru. Tujuan pengkodean dalam penelitian Grounded Theory adalah untuk. Jadi pelabelan fenomena itu tidak lain adalah satu kegiatan konseptualisasi data. yang intinya berada pada sekitar. dan penyusunan kembali dengan cara baru. (i) relevansi fenomena atau data yang ditemukan dengan permasalahan pokok penelitian. atau dimodifikasi. Yang dimaksud dengan pelabelan fenomena adalah pemberian nama terhadap benda. (b) memberikan ketepatan proses penelitian. maka ia dapat dimanfaatkan untuk menyusun sejumlah pertanyaan atau menjadi pedoman dalam pengamatan /wawancara untuk mengumpul data awal. dan mengembangkan kepekaan untuk menghasilkan teori. maka peneliti dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa temuannya berbeda dengan teori yang ada. . Cara ini tidak sekedar meringkas hasil pengamatan atau wawancara dengan kata-kata kunci sebagai ganti dari sebuah deskripsi yang panjang. di mana masing-masing menyampaikan pendapat secara bergantian di bawah kordinasi seorang yang mengatur lalu-lintas pembicaraan. Jika penelitian sekarang bertolak dari teori yang sudah ada. (a) menyusun teori. Cara untuk melakukan pelabelan ini ialah dengan membandingkan insiden-insiden. Pengkodean Terbuka (Open Coding) Pelabelan fenomena Pelabelan fenomena merupakan langkah awal dalam analisis. pengonsepan. pelabelan itu merupakan suatu pembuatan nama dari setiap fenomena dengan konsep-konsep tertentu. yaitu. hal-hal yang diperbandingkan itu cukup beragam. sampai dapat diberikan nama yang sama untuk fenomena-fenomena yang serupa. dan (ii) posisi dari setiap fenomena dilihat dari sifat-sifat atau ukurannya dalam suatu tingkatan garis kontinum. Karena itu kegiatan analisis --yang dibicarakan pada bagian berikut-. Pada hakikatnya. jika peneliti melihat sekelompok orang duduk melingkar mengelilingi sebuah meja besar. sehingga memungkinkan teori awalnya dapat diubah. (a) pembuatan perbandingan secara terus-menerus (the constant comparative methode of analysis). ditambah. Sebagai contoh.penelitian dapat dengan bebas memilih data yang dikumpulkan. maka fenomena yang berlangsung dalam waktu yang lama ini dapat diberi label dengan diskusi atau rapat. Pengkodean merupakan proses penguraian data. ANALISIS DATA Pada esensinya kegiatan pengumpulan dan analisis data dalam Grounded Theory adalah proses yang saling berkaitan erat. Jika temuan penelitian sekarang berbeda dari teori yang sudah ada. kejadian atau informasi yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara. dan (d) memberikan landasan. Kegiatan analisis dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk pengkodean (coding). dan (b) pengajuan pertanyaan.telah dikerjakan pada saat pengumpulan data sedang berlangsung. memberikan kepadatan makna.

Jika dalam pelabelan fenomena dilakukan proses konseptualisasi. Penyusunan Kategori Dasar untuk penyusunan kategori adalah sifat dan ukurannya. "menjauhi teman". Kegiatan ini berkaitan dengan logika induktif. Akibatnya. "menangis". setiap kategori memiiki profil dimensional yang terpisah. lalu ada yang "merebut" mainan. karena cara inilah yang disarankan sesuai dengan pendekatan emic yang menjadi ciri dari setiap penelitian kualitatif. berupa kaos. Contoh lain. Proses kategorisasi ini pada dasarnya tergantung pada tujuan penelitian yang sudah ditetapkan pada rancangan penelitian. maka dalam pemberian nama kategori dilakukan proses abstraksi. maka semua konsep perilaku itu dapat dijadikan satu kategori. jaket. cara pemberian nama yang paling dianjurkan. . kemudian membagi-baginya ke dalam kelompok-kelompok tertentu (kategorisasi) sesuai sifat dan substansinya. topi. maupun kecerahannya. Kedua-duanya tetap dibenarkan dalam Grounded Theory. misalnya. Intensitas corak dan kecerahan itulah sifat dari "warna kuning" tersebut. jika anda melihat anak-anak sedang bermain. setiap kategori data bisa ditempatkan di mana saja di sepanjang kontinua dimensional secara bervariasi. adalah dengan menggunakan istilah yang dipakai oleh subyek yang diteliti. "menyembunyikan mainan". sedangkan ukuran adalah posisi dari sifat dalam suatu kontinium. dan sebagainya. misalnya. umbul-umbul. adalah konsep-konsep yang memiliki keserupaan dan dapat dikelompokkan jadi satu kategori dengan nama binatang menyusui (mamalia). semua dikategorikan dengan "warna kuning". Beberapa profil itu dapat dikelompokkan sehingga membentuk suatu pola. Demikian seterusnya. Intensitas corak warna itu. Dalam pemberian nama kategori ini. Kambing. "Warna kuning" (kategori) dari lambang-lambang yang tampak itu sesungguhnya tidak persis sama. di mana sejumlah unit data yang sama atau memiliki keserupaan dikelompokkan dalam satu kategori kemudian diberi nama yang lebih abstrak. tetapi adakalanya meminjam istilah yang sudah dibuat oleh peneliti atau ahli lainnya. Masing-masing sifat itu memiliki dimensi yang dapat diukur. Profil dimensional ini menggambarkan sifat khusus dari suatu fenomena dalam kondisi-kondisi yang ada. di sana ada perbedaan baik dari segi intensitas coraknya. Penyederhanaan data itu pada umumnya dilakukan dengan cara mereduksi data sehingga menjadi lebih ringkas dan padat. misalnya. bendera. Lambang-lambang Partai Golkar dalam suatu kampanye. adakalanya peneliti membuat sendiri nama yang sesuai dengan kelompok unit data. dapat diberi ukuran mulai dari yang "kuning tebal" (orange) sampai pada "kuning tipis" (keputih-putihan).Penemuan dan penamaan kategori Pada hakikatnya. Intinya adalah memadukan konsep-konsep –yang menurut tujuan penelitian anda memiliki keserupaan—menjadi satu kategori dan kemudian memberi label (nama) yang lebih abstrak yang mencakup semua konsep tersebut. Kapasitas intelektual manusia tidak cukup kuat untuk sekaligus memproses dan menganalisis informasi yang jumlahnya besar seperti itu. dimensional range). lembu. dan kerbau. Namun demikian. Yang dimaksud dengan sifat di sini adalah karakteristik atau atribut suatu kategori (yang berfungsi sebagai ranah ukuran. spanduk. yaitu sebagai "strategi untuk menghindari pinjaman atas mainan miliknya". Untuk menyederhanakan data tersebut perlu dipisahkan ke dalam beberapa kelompok. setiap fenomena yang sudah diberi label adalah unit-unit data yang masih berserakan. Setiap dimensinya dapat ditempatkan pada posisi tertentu dalam garis kontinium.

Ada beberapa tahapan kerja yang disarankan dalam proses pengkodean terpilih ini. Pola hubungan yang perlu ditemukan itu tidak terhenti pada hubungan antara dua kategori. yang dapat digambarkan ke dalam skema berikut: Pengkodean Terpilih (Selective Coding) Mengingat masalah penelitian dalam Grounded Theory masih bersifat umum. Alternatif hubunganhubungan itu adalah. Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk menyederhanakan data adalah dengan menggabungkan semua kategori. dengan mengajukan pertanyaan. karena datanya masih belum terfokus pada titik tertentu. yaitu kondisi kausal. dan konsekuensi. Dalam Grounded Theory. durasi. Untuk menyederhanakannya perlu dilakukan proses penggabungan dan atau seleksi secara sistematis. Kegiatan selanjutnya adalah menghubungkan subkategori dengan kategorinya. bagaimana peneliti dapat menemukan spirit teoritis dari semua kategori. kondisi pengaruh. Penggabungan tidaklah banyak berbeda dengan pengkodean terporos. Sistem pengelompokan kategori ini disebut dengan model paradigma Grounded Theory. Kepekaan teoritik dari peneliti amat penting di sini. sehingga menghasilkan tema khusus. melainkan harus dapat mengungkap hubungan antara semua jenis kategori. Mereproduksi kembali alur cerita atau susunan data ke dalam pikiran. hubungan antara kondisi pengaruh dengan strategi aksi/interaksi. Tugas peneliti pada tahap ini adalah memberi kode terhadap setiap kategori data. strategi aksi/interaksi. sedangkan sifat umum dari perilaku adalah frekuensi. tetapi tertangkap oleh pikiran peneliti. Sifat umum dari setiap kategori fenomena tentu tidak sama. Inti dari proses penggabungan itu adalah. adalah intensisitas corak dan kecerahan. Sifat umum dari warna. Kenyataan ini tentu dapat membingungkan. Pengkodean ini diawali dari penentuan jenis kategori kemudian dilanjutkan dengan penemuan hubungan antar kategori atau antarsubkategori. . hubungan antara kondisi kausal dengan strategi aksi/interaksi. intensitas. kecuali tingkat abstraksnya. hubungan antara konteks dengan strategi aksi/interaksi.Hal penting yang perlu dipahami adalah penentuan sifat umum dari suatu fenomena atau kategori. Pengkodean Terporos (Axial Coding) Pengkodean terporos adalah seperangkat prosedur penempatan data kembali dengan cara-cara baru dengan membuat kaitan antarkategori. dan seterusnya. mungkin sekali peneliti menemukan sejumlah besar data dengan kategori dan hubungan antarkategori/subkategori yang banyak dan bervariasi. hubungan antara strategi aksi/interaksi dengan konsekuensi. Spirit teoritis itu mungkin saja tidak tampak secara eksplisit. Cara ini merupakan tugas peneliti yang paling sulit. setiap kategori harus dikelompokkan ke dalam satu jenis kategori berikut. Sifat pertanyaan yang diajukan dalam pengkodean terporos mengarah pada suatu jenis hubungan. "termasuk jenis kategori apa data ini"? Model paradigma inilah yang menjadi dasar untuk menemukan hubungan antar kategori atau antarsubkategori. Konsep-konsep yang digunakan dalam penggabungan lebih abstrak dari konsep pengkodean terporos. konteks.

respon. Menentukan pilihan kategori inti. peneliti sebenarnya telah sampai pada penemuan tema pokok penelitian. Lain hal dalam Grounded Theory. (b) respon (strategi aksi/interaksi) terhadap perubahan. Berdasarkan masalah dan hipotesis itu. Kegiatan analisis ini terdiri dari penelusuran terhadap. Yang dimaksud dengan analisis proses adalah pengaitan urutan tindakan/interaksi. dan peristiwa sejarah. Kondisi. Pada umumnya metode kualitatif menganggap penelitian telah selesai pada penemuan tema ini. Hal penting yang perlu diingat di sini ialah bahwa kesemua unsur paradigma . dan akibat. Hasil analisis proses itu juga perlu ditunjukkan dalam penulisan laporan penelitian. Maksud analisis proses ini adalah sebagai cara untuk menghidupkan data melalui penggambaran dan pengaitan tindakan/interaksi untuk mengetahui urutan dan atau rangkaian data. atau "apa masalah utamanya". Pada penelitian Grounded Theory. Karena itu. tetapi sebagai cara untuk mempertajam analisis dalam pengkodean (khusus pada pengkodean terporos dan pengkodean terpilih). yang disebut sebagai teori. maka peneliti dapat mengkonsepkan data sebagai langkah-langkah. Pada tahap penggabungan dan atau pemilihan ini. (c) konsekuensi yang timbul dari respon. atau tahapan. fase-fase. Dalam prakteknya. dan konsekwensi harus dilihat sebagai tiga hal yang terus bergerak secara dinamis dan berputar mengikuti garis lingkaran. Kategori inti harus cukup luas agar mencakup dan berkaitan dengan kategori lain. Keriteria kategori inti yang disimpulkan itu ialah bahwa ia merupakan inti masalah yang dapat mencakup semua fenomena/data. Cara ini cukup baik untuk penelitian yang membahas tentang perkembangan.Mengidentifikasi data dengan menulis beberapa kalimat pendek yang berisi inti cerita atau data. Dalam pengaitan itu tidak hanya untuk mengenali urutan waktu atau kronologi suatu peristiwa. Pertanyaan yang perlu diajukan peneliti terhadap dirinya sendiri. transformasi mobilitas sosial. analisis proses bukan merupakan bagian dari tahapan kegiatan. proses dapat dilihat sebagai pergerakan progresif dan dapat pula dilihat sebagai pergerakan nonprogresif. melainkan yang lebih penting adalah untuk menemukan keterkaitan antara stimulus. respon. Kategori inti lainnya dijadikan sebagai kategori tambahan yang tidak menjadi inti pembahasan dalam penelitian ini. maka mau tak mau harus dipilih satu saja. (a) perubahan kondisi. Analisis Proses Menganalisis proses merupakan bagian penting dalam Grounded Theory. adalah "apakah yang tampak menonjol dari wilayah penelitian ini?". Menyimpulkan dan memberi kode terhadap satu atau dua kalimat sebagai kategori inti. Jika ternyata pada tahap "c" ada dua atau tiga kategori inti. Hasil pembuktian itulah yang menjadi temuan penelitian. Kategori inti ini dapat diibaratkan sebagai matahari yang berhubungan secara sistematis dengan planetplanet lain. 4. Jika proses dilihat sebagai pergerakan progresif. Kedua perspektif proses ini dapat dijabarkan sebagai berikut: Proses sebagai pergerakan progresif. peneliti perlu merumuskan masalah pokok dan hipotesis penelitiannya. imigrasi. Lalu kategori inti tersebut diberi nama (konseptualisasi). dan (d) penjabaran posisi konsekwensi sebagai bagian dari kondisi. sosialisasi. peneliti harus kembali lagi ke lapangan untuk mengabsahkan atau membutikannya. tema utama (yang sudah ditemukan) dipandang sebagai dasar untuk merumuskan masalah utama dan hipotesis penelitian.

Subyek-subyek yang diteliti secara berproses ditentukan di lapangan. karena fenomena itu melekat dengan subyek (orang atau benda). Paling tidak. Penyampelan teoritik adalah pengambilan sampel berdasarkan konsepkonsep yang terbukti berhubungan secara teoritik dengan teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena yang menunjukkan kategori. seperti halnya penelitian kualitatif pada umumnya. Karena fenomena itu melekat dengan subyek yang diteliti. maka jumlah subyek pun terus bertambah sampai tidak ditemukan lagi informasi baru yang diungkap oleh beberapa subyek yang terakhir. Berkenaan dengan proposisi terakhir. . Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara penyampelan teoritik. pada hakikatnya fenomena yang telah terpilih itulah yang dicari atau digali oleh peneliti ketika proses pengumpulan data. Penegasan ini memberi makna. sifat. bahwa pada dasarnya yang di sampel itu bukan obyek formal penelitian (orang atau benda-benda). PENGUMPULAN DATA DAN PENYAMPELAN TEORITIK Pada dasarnya instrumen pengumpul data penelitian Grounded Theory adalah peneliti sendiri. yaitu observasi dan wawancara mendalam (depth interview). di mana keterkaitan atau hubungan-hubungan antar unsur tetap dapat dieksplisitkan. tidak dapat direncanakan dari awal. "apa konsekwensi yang timbul dari suatu tindakan/reaksi?". Dalam proses kerja pengumpulan data itu. Seorang peneliti Grounded Theory selalu mempertanyakan "mengapa suatu kondisi terjadi?". Sebagai contoh. maka peneliti memutuskan untuk mendalami "intensitas corak" saja (tidak lagi membahas tentang 'kecerahan"). tindakan/reaksi. Proses sebagai pergerakan nonprogresif. Cara penyampelan inilah yang disebut dalam penelitian kualitatif sebagai snow bowl sampling. penentuan sampel subyek dalam penelitian Grounded Theory. jika peneliti sedang meneliti "warna kuning" yang di dimensinya terdiri atas "intensitas corak" dan "kecerahan". Hal yang spesifik yang membedakan pengumpulan data pada penelitian Grounded Theory dari pendekatan kualitatif lainnya adalah pada pemilihan fenomena yang dikumpulkan. dan "seperti apa tahap-tahap kondisi. masalah sampel penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi.Grounded Theory harus berperan dalam menjelaskan rentang waktu dan variasinya. Dalam Grounded Theory. peneliti dianjurkan untuk menganalisis penggantian atau perubahan tindakan/interaksi yang terencana sebagai tanggapan atas perubahan kondisi. Untuk fenomena seperti ini. maka dengan sendirinya obyek formal juga ikut di sampel dalam peroses pengumpulan atau penggalian fenomena. Namun demikian. berarti ia sudah melakukan penyampelan. dan ukuran yang secara langsung menjawab masalah penelitian. ada 2 (dua) metode utama yang dapat digunakan secara simultan. melainkan obyek material yang berupa fenomena-fenomena yang sudah dikonsepkan. Bagaimanapun tidak semua fenomena terjadi secara kronologis. kaetika pengumpulan data berlangsung. pada Grounded Theory sangat ditekankan untuk menggali data perilaku yang sedang berlangsung (life history) untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang bersifat kausalitas. Itulah sebabnya. melainkan pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. dan konsekwensi itu berlangsung"?. Metode observasi dan wawancara dalam Grounded Theory tidak berbeda dengan observasi dan wawncara pada jenis penelitian kualitatif lainnya. karena tidak jarang pula ditemukan fenomena yang tidak dapat dinyatakan sebagai langkahlangkah dan fase-fase progresif yang runtut.

Keterangan yang berkenaan dengan tiga pola penyampelan ini dapat diringkas sebagai berikut: Penyampelan Terbuka. Proses pengambilan sampel juga berlangsung secara terus menerus ketika kegiatan pengumpulan data. tujuan pengkodean terporos adalah menghubungkan secara lebih khusus kategori-kategori dengan sub-subkategorinya. Ketentuan umum dalam Grounded Theory adalah melakukan penyampelan hingga pemenuhan teoritik bagi setiap kategori tercapai. Penyampelan Relasional dan Variasional. (c) serta konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari tindakan/i nteraksi itu. Data yang terkumpul dari kegiatan pengumpulan data awal inilah kemudian dianalisis dengan pengkodean terbuka. dan (c) hubungan antarkategori sudah ditetapkan dan dibuktikan. melainkan hanya untuk situasi atau kondisi tersebut. maka obyek pengamatan dan orang-orang yang diwawncarai juga masih belum dibatasi. Maksudnya. rumusan teoritik sebagai hasil akhir yang ditemukan dari jenis penelitian ini tidak menjustfikasi keberlakuannya untuk semua populasi. Ada tiga pola penyampelan teoritik. seperti dalam penelitian kuantitatif. lokasi. Bertolak dari pola penalaran ini. penyampelan dihentikan apabila. (b) penyusunan kategorinya telah terpenuhi. (b) tindakan/interaksi yang merupakan respon terhadap kondisi itu. Dari keterangan tentang prinsip penyampelan di atas. Jumlah sampel bisa terus bertambah sejalan dengan pertambahan jumlah data yang dibutuhkan. atau dokumen yang memaksimalkan peluang untuk memperoleh data yang berkaitan dengan variasi ukuran kategori dan data yang bertalian dengan perubahan. Untuk maksud ini perlu dilakukan penyampelan yang berfokus pada pengungkapan dan pembuktian hubungan-hubungan tersebut. yang sekaligus menandai tiga tahapan kegiatan pengumpulan data. serta (c) penyampelan pembeda. Penyampelan ini bertujuan untuk menemukan data sebanyak mungkin sepanjang berkenaan dengan rumusan masalah yang dibuat pada awal penelitian. pengambilan kesimpulan dalam penelitian Grounded Theory tidak didasarkan pada generalisasi. Kegiatan itu dinamakan penyampelan relasional dan variasional. Hal pokok yang perlu pada penemuan perbedaan tingkat ukuran tersebut adalah proses dan variasi. Karena itu tujuan penyampelan pembeda di sini adalah penetapan subyek yang diduga dapat memberi peluang bagi peneliti untuk membuktikan atau menguji hubungan antarkategori. inti utama penyampelan di sini adalah memilih subyek. . Pada penyampelan relasional dan variasional diupayakan untuk menemukan sebanyak mungkin perbedaan tingkat ukuran di dalam data. penelitian Grounded Theory bermaksud untuk membuat spesifikasi-spesifikasi terhadap (a) kondisi yang menjadi sebab munculnya fenomena. Karena pada tahap awal itu peneliti belum yakin tentang konsep mana yang relevan secara teoritik. (b) penyampelan relasional dan variasional. Jadi. (a) penyampelan terbuka. Penyampelan ini bersifat kumulatif (di mana penyampelan terdahulu menjadi dasar bagi penyampelan berikutnya) dan semakin mengerucut sejalan dengan tingkat kedalaman fokus penelitian. Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian Grounded Theory berlangsung secara bertahap dan dalam rentang waktu yang relatif lama. Penyampelan Pembeda: Penyampelan pembeda berkaitan dengan kegiatan pengkodean terpilih. Sebagaimana diutarakan di atas. melainkan pada spesifikasi. penyampelan dalam Grounded Theory diarahkan dengan logika dan tujuan dari tiga jenis dasar prosedur pengkodean.Sesuai dengan tahap pengkodean dan analisis data. (a) tidak ada lagi data baru yang relevan. Jadi.

Paling tidak ada 3 (tiga) dasar kerangka berpikir kuantitif yang dipinjam Grounded Theory. Seperti diketahui. tetapi jika dilihat dari kerangka berpikir yang digunakan ternyata secara implisit pendekatan ini meminjam metode kuantitatif. Penggunaan variabel. Secara eksplisit memang tidak pernah disebut-sebut istilah variabel dalam Grounded Theory. bahwa dalam epistemologi ilmiah. prinsip kausalitas adalah salah asumsi dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. penelitian kualitatif pada umumnya tidak melakukan pengukuran terhadap data yang ditemukannya. tidak saja karena Strauss dan Glaser sebagai dua tokoh penggagas metode ini yang memiliki latar pemikiran yang berbeda (kualitatif dan kuantitatif). Proses perkawinan itu sendiri harus dimaklumi. Tetapi dengan penggunaan paradigma teoritik yang membagi fenomena ke dalam kondisi kausal. karena sangat diyakini bahwa segala hal yang terjadi di alam ini tidak lepas dari hukum sebab-akibat. Lain hal dengan Grounded Theory. sebagaimana yang lazim dilakukan pada metode kuantitatif. tindakan/interaksi. kondisi pengaruh. metode ini benar-benar bersifat kualitatif murni. Penggunaan hukum kausalitas sebagai dasar penyusunan teori. Pengukuran fenomena. prinsip. melainkan lebih menekankan pada pengelompokan konfigurasi dari variasinya. dan teknik yang digunakan.PENUTUP Grounded Theory Approach adalah satu jenis metode penelitian kualitatif yang berorientasi pada penemuan teori dari kancah. melainkan juga karena tuntutan perkembangan metode keilmuan yang terus berkembang. di sini dilakukan pengukuran-pengukuran. metode kualitatif harus menata prosedur dan teknik-teknik penelitiannya agar semakin dipercaya sebagai metode yang dapat diandalkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Perkawinan metode kualitatif dengan kuantitatif dalam Grounded Theory merupakan satu perkembangan baru yang patut diberi apresiasi positif. . Mau tak mau. konteks. Dilihat dari prosedur. serta mencari hubungan-hubungan antara unsur-unsur itu merupakan pertanda bahwa di dalam metode ini digunakan konsep-konsep yang identik dengan variabel. dan konsekwensi.