P. 1
Zahara Perempuan Bercadar Mawar

Zahara Perempuan Bercadar Mawar

5.0

|Views: 793|Likes:
Published by Kris Bheda Somerpes
Antara Sarah dan Azam masih ada rasa. Ada suara-suara malam yang terus memanggil, tentang cinta dan kebahagiaan. Namun, untuk sementara mereka hidup dalam diam. Dalam sepi yang panjang, yang berujung jua.
Sarah mengadu kepada senja, tentang semua kisahnya. Azam memendamkan wajahnya pada sajadah. Memohon petunjuk pada Allah, sehingga pada setiap saat ketika cinta menghampirinya, Azam akan selalu berujar “Hanya alam dan Tuhan yang tahu”.
Ya..hanya Alam dan Tuhan yang tahu. Alam begitu dekat dengan Sarah, sedangkan Azam memanjatkan penatnya kepada Allah. Jika saja, antara Azam dan sarah bersama melantunkan madah yang sama, keduanya akan menjadi sempurna. Sempurna dalam duka dan cita. Dalam cinta.
Tetapi, manusia tidak bisa memastikan kemahakuasaan Allah. Semuanya berpasrah kepada-Nya. Dalam doa yang terus dipanjatkan. Sarah, gadis senja yang selalu menanti cinta sejati. Azam, lelaki penyayang yang selalu setia berharap pada keajaiban. Antara Sarah dan Azam masih ada rasa yang semuanya belum tertumpah, tentang semua ‘Hanya Alam dan Allah yang tahu”
***
Suara adzan berkumandang, Sarah belum juga beranjak. Sementara senja kian pelan membenam. Rambutnya masih tergerai basah. Pada ujung-ujungnya menetes air mata. Jilbab jingganya, ia simbakkan. Seakan-akan ingin memaklumkan tentang fajar, tentang pagi yang senantiasa merekah. Ia ingin berteriak, meronta kepada alam. Tetapi tiada jua yang mendengar, selain sepi yang kian menyengat.
Dalam bayangnya berkelebat tentang sebuah heran. Mengapa aku tidak bisa melupakan Azam? Mengapa suara adzan yang dikumandangkannya seperti mengetuk-ngetuk ruang dada? Mengapa wajahnya begitu membekas dalam ingatan? Mengapa senyumnya masih saja seperti menyapa? Mengapa tutur kata lembutnya masih saja menghujam kesendirian?
Antara Sarah dan Azam masih ada rasa. Ada suara-suara malam yang terus memanggil, tentang cinta dan kebahagiaan. Namun, untuk sementara mereka hidup dalam diam. Dalam sepi yang panjang, yang berujung jua.
Sarah mengadu kepada senja, tentang semua kisahnya. Azam memendamkan wajahnya pada sajadah. Memohon petunjuk pada Allah, sehingga pada setiap saat ketika cinta menghampirinya, Azam akan selalu berujar “Hanya alam dan Tuhan yang tahu”.
Ya..hanya Alam dan Tuhan yang tahu. Alam begitu dekat dengan Sarah, sedangkan Azam memanjatkan penatnya kepada Allah. Jika saja, antara Azam dan sarah bersama melantunkan madah yang sama, keduanya akan menjadi sempurna. Sempurna dalam duka dan cita. Dalam cinta.
Tetapi, manusia tidak bisa memastikan kemahakuasaan Allah. Semuanya berpasrah kepada-Nya. Dalam doa yang terus dipanjatkan. Sarah, gadis senja yang selalu menanti cinta sejati. Azam, lelaki penyayang yang selalu setia berharap pada keajaiban. Antara Sarah dan Azam masih ada rasa yang semuanya belum tertumpah, tentang semua ‘Hanya Alam dan Allah yang tahu”
***
Suara adzan berkumandang, Sarah belum juga beranjak. Sementara senja kian pelan membenam. Rambutnya masih tergerai basah. Pada ujung-ujungnya menetes air mata. Jilbab jingganya, ia simbakkan. Seakan-akan ingin memaklumkan tentang fajar, tentang pagi yang senantiasa merekah. Ia ingin berteriak, meronta kepada alam. Tetapi tiada jua yang mendengar, selain sepi yang kian menyengat.
Dalam bayangnya berkelebat tentang sebuah heran. Mengapa aku tidak bisa melupakan Azam? Mengapa suara adzan yang dikumandangkannya seperti mengetuk-ngetuk ruang dada? Mengapa wajahnya begitu membekas dalam ingatan? Mengapa senyumnya masih saja seperti menyapa? Mengapa tutur kata lembutnya masih saja menghujam kesendirian?

More info:

Published by: Kris Bheda Somerpes on Apr 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2014

pdf

text

original

AZHARA

,
Perempuan Bercadar Mawar
*) Kris Bheda Somerpes Serupa luka yang tak sembuh, kenangan itu terus menyentuh ruang kalbu. Antara trauma dan suara panggil yang selalu kembali, Sarah, si gadis senja, mencoba untuk berperang melawan rasa. Akankah kenangan itu lupa lalu. Atau justru kembali menghampiri kesendirian yang setia menanti di sepi. Tiada kata di pusaran hari selain bersujud penuh sembah, memohon ridhoi Allah, untuk melupakan segala kenangan dengan penuh ikhlas. Walau terasa berat, Sarah sudah sedang selalu memberi, bahwa ia percaya hanya kepada-Nya cinta selalu kembali. Pada saat tertentu, kenangan itu menyembul senyum. Melejit mimpi-mimpi indah. Melesat harapharap terang benderang. Namun pada saat yang lain. Air mata tumpah. Jatuh membasahi mimpi indah, menghanyutkan segala harap. Mencerabutkan akar-akar. Jadi lunglai, pun pula gugur tanpa rupa.
2

Mengenang kisah itu, Sarah serupa berada pada senja yang mendung. Warna jingga yang selalu menghiasi wajah laut terasa berat mengurai benangbenang biasnya. Matahari yang setengah tenggelam tampak seperti menunggu. Langit menghitam serupa malam dan hujan. Antara masih siang dan atau akan malam, semua terceritakan pada senja. Wajah Sarah terlukis di sana, di ufuk barat, di kaki senja. Dengan air mata jatuh dalam tempo perlahan. Serupa mengiringi suara Adzan yang dikumandangkan dengan elok ustadz Azam. *** Antara Sarah dan Azam masih ada rasa. Ada suarasuara malam yang terus memanggil, tentang cinta dan kebahagiaan. Namun, untuk sementara mereka hidup dalam diam. Dalam sepi yang panjang, yang berujung jua. Sarah mengadu kepada senja, tentang semua kisahnya. Azam memendamkan wajahnya pada sajadah. Memohon petunjuk pada Allah, sehingga pada setiap saat ketika cinta menghampirinya, Azam akan selalu berujar “Hanya alam dan Tuhan yang tahu”. Ya..hanya Alam dan Tuhan yang tahu. Alam begitu dekat dengan Sarah, sedangkan Azam memanjatkan penatnya kepada Allah. Jika saja, antara Azam dan
3

sarah bersama melantunkan madah yang sama, keduanya akan menjadi sempurna. Sempurna dalam duka dan cita. Dalam cinta. Tetapi, manusia tidak bisa memastikan kemahakuasaan Allah. Semuanya berpasrah kepadaNya. Dalam doa yang terus dipanjatkan. Sarah, gadis senja yang selalu menanti cinta sejati. Azam, lelaki penyayang yang selalu setia berharap pada keajaiban. Antara Sarah dan Azam masih ada rasa yang semuanya belum tertumpah, tentang semua „Hanya Alam dan Allah yang tahu” *** Suara adzan berkumandang, Sarah belum juga beranjak. Sementara senja kian pelan membenam. Rambutnya masih tergerai basah. Pada ujungujungnya menetes air mata. Jilbab jingganya, ia simbakkan. Seakan-akan ingin memaklumkan tentang fajar, tentang pagi yang senantiasa merekah. Ia ingin berteriak, meronta kepada alam. Tetapi tiada jua yang mendengar, selain sepi yang kian menyengat. Dalam bayangnya berkelebat tentang sebuah heran. Mengapa aku tidak bisa melupakan Azam? Mengapa suara adzan yang dikumandangkannya seperti mengetuk-ngetuk ruang dada? Mengapa wajahnya begitu membekas dalam ingatan? Mengapa senyumnya masih saja seperti menyapa? Mengapa
4

tutur kata lembutnya kesendirian?

masih

saja

menghujam

Sarah melemparkan semua dan segala tanya itu pada alam. kepada bilah-bilah sinar. Mungkin dari kilatan sinarnya menyembul kegembiraan, yang walau entah sesaat. Kepada burung-burung yang kembali darat. Mungkin kepakan sayapnya menetas kesejukan, yang walau entah sebentar. Kepada setengah matahari yang tampak. Mungkin akan melepaskan senyum kenang, yang walau entah tak lama. Tapi, hanya alam dan Tuhan yang tahu, Sarah berpasrah. Sarah tidak menemukan apa-apa, selain rasa yang senyap. Suara adzan merendah kemudian menghilang. Terkabar pada angin-angin ke langit lepas. Bersama doa-doa segenap ummat. Sarah tak panjatkan doa di senja hari itu. Karena dia yakin, air mata kesetiaannya sudah mengungkapkan semuanya. Tuhan Maha Segala, Maha Semua, Maha Tahu. Segala gundah pasti akan terbang bersama adzan ke peraduan-Nya. Sebelum beranjak dari tepi karang yang indah, kepada jilbab jingga yang setengah basah, yang melintang di pangkuannya, Sarah melepaskan kesahnya “Bagaimana aku bisa membuktikan semuanya. Segala gundah sudah kupanjatkan. Segala rasa sudah kuungkapkan. Kepada-Mu Ya Allah, dalam warna jingga penuh air mata, aku berpasrah…Amin”
5

Sarah menitihkan air mata. Langkahnya gontai. Rambutnya dibiarkan jatuh terurai. Pulangnya tak berarah. Sinar wajahnya redup. Kecantikannya padam serupa ditikam bertubi gelap yang senyap. Ia menjadi sendiri. Yang ada hanya dirinya sendiri. Seonggok tubuh yang linglung. Ditampar-tampar angin gulita. Diolok-olok burung malam. Disinis bintang redup. Ditertawai mendung menggelantung. Air matanya ingin tumpah lebih banyak. Tapi rasa itu dipendamnya. Ia mendiamkannya rapat-rapat pada rahasia yang amat dalam. Yang hanya dapat dibuka dengan air mata. Tetapi sesungguhnya hanya Alam dan Tuhan yang tahu. Sarah sendiri pun tak tahu apa-apa. Dia menyadari sungguh dia manusia lunglai. Senyumnya pudar, cantiknya padam, dan keelokan katanya menjadi hambar. “Ugfh…” Hanya sepatah kata kesal itu. Wajahnya hampir ditampar pintu rumah. Di depan rumah, ia melepaskan butur-butir pasir yang masih melekat pada tapaknya. Ia tak ingin derita itu menghampiri kamarnya. Ruang dimana segala keindahan dikisahkan. Segala cerita ditumpahkan ke dalam catatan harian. Segala air mata bahagia dilimpahkan ke dalam mahligai Ilahi. kamarnya adalah tubuhnya. Dirinya. Pribadinya. Segalanya mengisahkan dan diskisahkan tentang hidupnya. ***
6

Belum juga lelah itu lepas, telephone genggam Sarah memanggil. Terbaca pesan tentang kisah cinta. Cinta yang seharunya lupa lalu. Cinta yang seharusnya pergi lenyap. Tetapi semakin ia diusir pergi, bagai dipanggil, ia kian mendekat ” Jelita mata bulan, merindu apa tatapanmu? apakah jelita tatapmu menatapku? kepada malam kutitipkan pesan, katakan kepadanya, aku merindukan Sarah” Air mata Sarah pun tumpah. Sebuah pesan tanpa alamat, tanpa nama. Tetapi kata-kata itu terasa menyayat rasa. Menyentak-nyentak ruang dada. “Azam, kaukah itu, mengapa kau membuatku menjadi sebatang kara, pada malam-malam lelah? pada malam-malam sendiri, engkau menghampiri dalam bayang. Dalam rindu yang kau ungkap, selalu kau selipkan misteri yang tak terpecahkan. Apa yang aku sampaikan? aku hanya dapat membalasnya dengan air mata.” Dalam diam, kata-kata itu meletup-letup. Melapangkan rongga dada. “Azam, kaukah di sana? yang selalu menyapaku dalam diam? jika kau merindu, mengapa kau harus pergi? Jika kau ingin menyapaku, mengapa harus selalu dalam gulita?” Keluh itu melepaskan Sarah ke luar jendela. Matanya melayang jauh ke gelap malam. Angin kecil menampar ari langsatnya. “Bulan” Ya…bulan. Saksi tentang cinta yang selalu jujur menghadirkan kisah. Azam tidak dapat mengelabui kisah cinta yang pernah dibangun. Bulan
7

menuturkan itu. malam menyaksikan semuanya. Dan pada lembaran catatan harian sudah dicatat semuanya. Pada halaman empat belas catatan harian, di ujung tinta jingga, tertulis sepenggal kalimat “Hanya Alam dan Tuhan yang tahu” Namun, pada pusaran rasa, Sarah melinglung. Hingga ia benamkan tubuh pada guyuran air mandian. Sarah masih membayangkan cerita bulan, tentang kejujuran cinta. malam tak pernah berdusta, walau dia gulita. Bulan tak pernah berbohong, walau diselimuti mendung. *** Rambutnya jatuh. Masih basah. Wajahnya berbinar. Seperti pagi. Bibirnya merekah. Bagai kembang. Di balik meja belajarnya, Sarah melepas senyum. Wangi rasanya terbang keluar melalui celah jendela dilepas kibasan furing putih kapas. Bulan setengah merekah menyambut senyum itu dalam paduan malam. Walau malam akan larut, Sarah tampak lebih cerah dari biasanya. Segala keluh dan kesah bagai lupa lalu. Sarah hendak bercerita, meminta kejujuran bulan. Semuanya tertumpah ke dalam catatan hariannya. Ia bentangkan lembar demi lembar catatan cokelat tuanya, dan ujung penanya pun menetaskan kisah.

8

Malam hari itu Sarah kisahkan tentang „Bunga-Bunga Impian‟ seperti yang disyairkan May Ziadah, wanita cantik dan cerdas, sastrawati Lebanon yang menjadi besar di Kairo. Seorang wanita yang berharap pada cinta dan Tuhan sebagai muara. Kepada Tuhan ia selalu pinta kekuatan. Kepada cinta ia berpasrah. Tentang cinta yang membuatnya berpasrah. Sarah menjadi seperti May Ziadah, mempelai kekasih di ruang jiwa yang tidak terjumpa. Namun demikian, Sarah menjadi perempuan kuat dan berdaya, karena cinta. Seperti May Ziadah yang mengharapkan cinta Kahlil Gibran, walau dalam sebatas surat yang menggambarkan ketegaran, demikian pula Sarah berpinta cinta Azam pada catatan harian. Pada selembar catatan harian, pada malam hari itu, Sarah menetaskan sebuah rasa. Bukan tentang sakit yang derita. Bukan tentang air mata-air mata. Tetapi tentang dirinya sendiri yang tegar. Tentang kekuatan-kekuatan jiwa. Tentang optimisme jejakjekaknya. “Mulanya aku berada pada garis yang tak tersentuh oleh rasa” Demikian Sarah menuliskan kisah pada catatan hariannya. “Jika ada, aku hanya berada pada lingkaran rasa yang hambar” Demikian Sarah melanjutkan. “Namun, ketika aku berjumpa Azam segalanya menjadi berubah. Aku berlari mendekat pada garis cinta. Hidupku jadi penuh warna bagai bunga.
9

Kakiku menjadi tegar melangkah. Jari-jariku menjadi tak lelah mengisahkan kata. Senyumku menjadi selalu merekah. Aku menjadi berbahagia” “Ya…aku menemukan cintaku yang sesungguhnya. Pada wajahnya yang teduh aku temukan kesejukan. Pada senyumnya yang menawan, aku temukan keelokan. Pada tuturnya yang terukur aku temukan kebijaksanaan. Pada dadanya aku temukan kenyamanan. Pada lengan dan tangannya aku temukan lindungan. Pada kakinya aku temukan kekuatan” “Azam menjadikan hidupku kian hari kian hari jadi sempurna. Kecerdasan dan kesantunannya membuatku menjadi wanita yang sangat berbahagia untuk bersanding dengannya. Pada dan melalui Azam, aku menemukan sejatinya cinta. Cinta yang tak pudar dan hambar” Tiba-tiba, air mata Sarah jatuh. Menetas bagai tinta pena membasahi catatan hariannya. Penanya tergeletak di samping catatan cokelat tua itu yang kian lama kian jadi genangan air mata. Celah jendela melebar, langit tampak pekat. Tiada berbintang, bulan pun tenggelam. Pekat, gulita. Hawa dingin malam itu menamparnampar wajahnya. Sebelum menutup cerah lembabnya malam hari itu, kembali Sarah bangkitkan pena. Pada catatan cokelat tua yang nyaris tak terbaca, Sarah menuliskan kembali kisah May Ziadah
10

dalam tanya “Apakah ini bunga-bunga impian?….ya hanya alam dan Tuhan yang tahu”. Sarah meneteskan air mata. Malam kian larut. Ia beranjak dari tempat duduknya, merapatkan pintu. Mengusir malam itu dengan gulana. Jilbab jingga yang ia kenakan ditanggalkan perlahan. Kecantikannya melekat pada wajahnya yang sembab. Tampak ia berduka, tapi sesungguhnya ia begitu tegar. Malam hari itu, ia menjadi wanita yang sadar bahwa kehidupan dan cinta adalah pergulatan yang tak berkesudahan. Semakin ia bergulat dengan keduanya, semakin ia menemukan bahwa dirinya menjadi bermakna dalam kehidupan. Sebelum terlelap dalam tidur yang panjang. Dalam mimpi-mimpi yang selalu diselimuti terang cinta. Sebentar, Sarah melayangkan ekor matanya pada wajah bingkai perak. Lukisan Azam. Selalu setiap malam, Sarah melakukan itu. Untuk sekedar mengingat dan memanggil Azam hadir dalam mimpimimpinya. Sebuah kebiasaan yang selalu pula diizinkan malam. Dan malam pun merestuinya dalam mimpi-mimpi indah. Tentang perjumpaan. Tentang cinta. Dan tentang keabadian. Sementara itu, di Pasantren Al Hidayah, Azam masih pejamkan mata. Biji tasbih masih mengalir dari jarijarinya. Wajahnya teduh. Ia tampak santun. Walau dari hatinya yang paling dalam bergejolak tanya
11

yang tak pernah tuntas untuk dijawab. “Hanya Alam dan Tuhan yang Tahu” selalu ia melepas jawaban itu. Sebuah jawaban yang sejatinya mengungkapkan kepasrahan, ketidakberdayaan. Kepada bulan, pada malam-malam panjang, ia benamkan kemelut rasanya. Kepada Allah sang pemberi kehidupan, ia pasrahkan segenap pergulatannya. Hanya kepada alam dan Tuhan Azam mengungkapkan isi hatinya secara terang dan jujur. Dalam jam-jam yang panjang Azam melakukan itu. Tanpa lelah, tanpa keluh kesah. Hingga tampak ia menjadi lelaki dewasa yang matang bukan hanya dalam penampilannya, tetapi juga dalam setiap penggalan katanya. Tutur katanya terukur, di balik setiap penampilannya yang bersahaja. Tetapi sesungguhnya di balik rasanya yang paling dalam, tersimpan kemelut yang tak terkira tentang cinta. Tentang kejadian yang sudah-sudah, yang sengaja selalu dilupakan, tetapi selalu pula menerjangnya. Tentang Sarah. Sarah selalu hadir dalam bayangbayangnya. Pada senyumnya yang teduh, pada wajahnya yang dingin, pada simpuhnya yang lunglai, pada tuturnya yang santun, pada semua, pada segala. Azam, memikirkan semuanya tentang Sarah. Dan itu mengalir bersama biji-biji tasbih pada jari-jarinya. Di atas sajadah dia bersimpuh, Sarah pun duduk dalam
12

dasar hatinya. Hingga berdoa tanpa kata, berteriak tanpa suara dan akhirnya berpasrah „Hanya alam dan Tuhan yang tahu‟ Hanya kepada malam-malam ia mengadu dan kepada Tuhan ia bersujud memohon petunjuk. *** Kesengajaan Azam untuk melupakan cinta Sarah adalah pergulatannya yang tak pernah tuntas di Al Hidayah. Dan kehadiran Nurillah, santriwati cantik dalam kehidupannya menjadi hambar. Pada setiap saat, Azam seperti selalu berada di ujung senja. Kepada Sarah atau Nurilah. Sarah hadir begitu melekat dalam ingatannya. Dan itu sengaja dilupakannya. Namun, kehadiran Nurillah ruparupanya tidak cukup untuk menuntaskan segala rasa. Sarah menjadi begitu kuat dalam ingatan Azam, bukan hanya karena kecantikan dan kecerdasannya, tetapi juga karena kesetiaan dan ketulusan dalam mencinta dan memberi kehidupan. Azam bagai terpenjara. Hendak ia meronta tetapi tiada yang melepaskannya. Hendak berteriak tetapi tiada yang mendengar. Hingga selalu Azam pasrahkan „Hanya Alam dan Tuhan Yang Tahu‟ Biji-biji tasbih mengalir dari jari-jarinya. Tanpa lelah. Seperti tak berkesudahan. Walau malam kian pekat. Bulan beringsut padam. Dan kantuk menerjang
13

matanya. Azam tetap bersimpuh diam, dengan mata terpejam mematung bagai khubah. Di balik diam dan sunyinya malam. Di balik kekhusukannya. Terpancar darinya bayang-bayang surga. Tentang sebuah perjumpaan dengan keindahan surga yang tak terlukiskan dengan kata. Yang hanya dapat dikisahkan dari butir-butir tasbih. Bahwa Allah hadir begitu dekat, begitu nyata. Bagi Azam, berdzikir kepada Allah di setiap saat merupakan sifat seorang mukmin. la bisa berdzikir, baik ketika berdiri maupun duduk, ketika tidur maupun terjaga, ketika sedang sibuk maupun di waktu luang dan dalam berbagai kesempatan lainnya. Inilah zikir yang dilakukan secara mutlak, demikian Azam meyakini, yaitu dzikir yang diperintahkan tanpa ada ikatan waktu, tempat, atau jumlah tertentu. Azam menjadi begitu taat karena di balik dadanya berdengung firman-Nya. ”Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya” (QS. al-Ahzab [33]: 41). Dan lantaran itu Azam meyakini sungguh. Setelah melewati zikir yang panjang. Azam menyudahinya dengan sepenggal istiqfar. Sebuah ungkapan maaf kepada Allah SWT, akan gundah yang selama ini dipendamnya. Ketika itu, mendung menggelantung dan malam memanggilnya tidur. Namun, matanya
14

tiba-tiba berkaca. Air matanya seperti hendak menetas duka. Wajah Sarah yang sejuk dan ketusan senyumnya tiba-tiba berkelebat menyelimuti malam Azam. Datang menerjang, menyengat ruang rasanya. Memanggil-manggilnya untuk mengingat-ngingat tentang sesuatu peristiwa di silam. Tentang tasbih. Tasbih yang memperjumpakannya dengan Allah pada setiap saat dan pada segala tempat. Sebab, tasbih pada jari-jarinya adalah tasbih pemberian Sarah. Perempuan yang ditinggalkannya tanpa alasan jelas. Entah karena ketakutan yang mendalam, kebimbangan yang besar dan atau ketaksanggupannya mengatasi masalah. Namun, semuanya itu menjadi alasan yang tidak masuk akal. Sebab dari balik dadanya, Sarah masih tetap menjadi wanita terindah. Dengan mata yang berkaca, seperti melantunkan istiqfar, Azam melepaskan kata-kata gundah penuh harap: “Sarah…ketulusan cintamu membuat aku selalu berkaca bahwa kehidupan ini nyata indahnya” demikian Azam berujar. “Tasbih yang kau berikan di bawah bulan, mengingatku pada kejujuran cinta yang pernah kusampaikan kepadamu. Aku sungguh mencintaimu” “Ketika aku berkata hanya alam dan Tuhan yang tahu, sebenarnya aku sedang memberikan ruang refleksi untuk kita masing-masing akan makna cinta
15

yang sesungguhnya. Apa sejatinya cinta di antara perbedaan yang sedang kita hadapi” “Dan tasbih yang kau berikan, membuatku perlahan sadar bahwa sejatinya engkau benar-benar beranjak mendekatiku. Engkau benar-benar ingin masuk ke dalam ruang rasaku. Engkau ingin memberikan segalanya, bukan hanya indah tubuh duniamu, tetapi juga jiwa surgamu” “Namun, aku belum meyakini itu sungguh. Bukan karena aku tidak mempercayaimu. Tetapi karena aku menjadi sangat takut dengan diriku sendiri. Aku belum menemukan keputusan yang pasti. Sehingga pada setiap siang maupun malam, aku selalu berpasrah kepada sumber segala pengetahuan yakni Allah” Biji tasbih mengalir dari jari-jarinya. Namun sampai diujung malam itu, walaupun ketika sudah beranjak ke kamarnya di Al Hidayah, Azam tak dapat pejamkan mata. Mengingat biji tasbih itu, Azam mengingat Sarah. Seakan-akan ia sudah sedang bezikir bersama Sarah. Seakan-akan Sarah menjadi dekat dan nyata bersamanya berjumpa Allah. Seakan-akan tangannya sudah sedang merangkul dan memeluk Sarah menuju gerbang surga. *** Empat bulan sudah Azam mencoba melupakan Sarah. Melepaskan segala kenangan indah pada
16

malam-malam panjang. Melupakan segala cengkerama, termasuk sebekas ciuman lembut pada kening di hari ulang tahun Sarah. Melupakan segala pemberian dan kado-kado indah, yang selalu mereka tukarkan pada setiap akhir pekan, entah sekuntum mawar, entah sepasang boneka, entah sebuah buku bacaan atau pun penggalan-penggalan kisah yang mereka kisahkan bersama di bawah purnama. Azam mencoba untuk yakin dengan dirinya sendiri, untuk membiarkan Sarah berjalan sendiri dalam ketidakpastian. Membiarkan Sarah menjadi sebatang kara, tanpa pelukan cinta. Membiarkan Sarah menyepi di kesendirian, bagai merpati putih yang terbang dengan sayap-sayap patah. Kepada Sarah, Azam tak meninggalkan apa-apa, selain hanya sebuah kesan penasaran yang mendalam. Yang membuat Sarah selalu merindu dalam linangan air mata. Membuat Sarah tak dapat pulihkan pikiran, karena selalu terbayang-bayang masa depan yang terpangkas dengan tiba-tiba oleh cinta yang timpang. Di bawah sinar purnama, empat bulan silam, Azam menjatuhkan pilihan yang berat. Ia, bukan hanya meninggalkan ketulusan cinta Sarah, dan membiarkan Sarah linglung dalam ketidakpastian. Tetapi juga membohongi dirinya sendiri, seolah-olah ia tidak pernah mengenal dan mencintai Sarah. Azam bahkan memenjarakan dirinya sendiri dalam rasa yang terluka. Membuatnya juga linglung dibebani rasa yang tak tuntas.
17

Hari-harinya hanya berparsah, kepada alam yang selalu memberi kesejukan dan keindahan, dan kepada Tuhan yang memberikan kebahagiaan yang tak terhingga. Hanya kepada alam dan Tuhan, Azam berpasrah. Namun demikian bukan tanpa alasan Azam menjatuhkan pilihan yang sulit lupa itu. Ia menyadari sungguh bahwa antara dirinya dan Sarah terdapat perbedaan yang besar. Keduanya tidak hanya lahir dari rahim budaya yang berbeda, tetapi juga dari keyakinan yang juga tidak sama. Azam, dididik dan dibesarkan dalam tradisi islami yang ketat dan taat. Pasantren Al Hidayah yang diasuh ayahnya menjadi simbol bahwa keluarganya adalah mukmin sejati. Setiap saat dan pada setiap kesempatan ia diajarkan untuk selalu memperkaya diri dengan aqidah. Mengaji, berzikir dan melakukan amal sholeh adalah kewajiban yang hampir tak pernah alpa dilakukannya. “Sarah…perbedaan antara kita terlampau jauh. Kita tidak hanya dilahirkan dari rahim kebiasaan yang berbeda, tetapi juga oleh budaya dan agama yang hampir tak dapat diperjumpakan” demikian Azam berujar empat bulan silam. “Aku adalah seorang muslim, dan kau Sarah, seoarang Kong Fu Chu yang berkepribadian lembut. Sulit bagiku untuk masuk lebih dekat dalam kehidupan dan kebiasaanmu. Demikian pula sebaliknya, kau Sarah, amat beresiko untuk selalu ada di sampingku. Oleh karena itu. Bukan aku tidak
18

mencintaimu, tetapi karena aku mencintaimu dengan tulus, dan menghargai siapa dirimu, maka aku putuskan supaya kita kembali ke jalan masingmasing. Seperti dulu, ketika engkau tidak mengenalku dan ketika aku tidak mengenalmu” Ketika itu empat bulan lalu, Azam menuturkan itu masih dengan ragu menggelantung di dadanya. Sesungguhnya ia tidak yakin betul akan keputusannya. Apakah keputusannya itu baik atau buruk pada ketika itu. Namun yang pasti, hingga empat bulan berlalu, ia bagai berkaca pada wajah Sarah. Sarah selalu datang membayangi malammalamnya. Memanggil-manggilnya kembali. Berharap cinta itu kembali. Melekat dalam ingatannya, pada empat bulan silam, wajah Sarah yang sembab karena duka. Yang tak dapat melontarkan kata-kata, selain menampakkan wajah seperti ditampar tiba-tiba. Wajah yang linglung tanpa rupa. Seonggok tubuh yang serupa dikhianati, dengan hati yang tercabik-cabik. Yang menatap ke arahnya penuh pasrah “Azam…suatu saat aku akan berada di sampingmu, dengan jilbab jingga menyapamu pada pagi-pagi merekah dan senja-senja berpulang” Tapi ketika itu, Azam bagai tak peduli. Keputusannya seakan-akan bulat. Namun setelah empat bulan sudah, Sarah hadir menjadi semakin tampak. Sebab, jauh sebelum duka itu merundung datang, Sarah sudah berjanji akan mengucapkan syahadat. Dan
19

ketika Azam hadir dalam kehidupannya, moment pembuktian itu menjadi semakin nyata. Sarah berkeinginan menjadi seorang mualaf. Dalam ketidakmenentuan, Azam menjadi perenung penuh tanya. Wajahnya menjadi tampak lebih dewasa. Tutur katanya menjadi lebih bijaksana. Namun dalam kesendiriaan, bathinnya meronta. Ia selalu merenungi kesendirian Sarah. Dan karena keputusannya, kadang ia merasa menjadi lelaki yang berdosa. Bersalah. “Mengapa aku harus melepaskan ketulusan cinta. Bukankah cinta melampaui agama, suku dan budaya mana pun. Ya Allah…hanya kepada-Mu aku berpasrah. Alam mendengar keluh kesah ini. Dan kepada-Mu aku pinta pengharapan” Selalu seperti itu Azam melantunkan doa yang serupa keluh. Dalam kesendirian pada hari-hari sepinya di Al Hidayah. Dalam lantunan madah-madah syahdu. Kian hari kian sepi. Ia berzikir kian khusuk. Ia mengaji kian rutin. Sembahyang menjadi tiang utama. Tetapi perlahan-lahan rasa itu menjadi bermakna. Ia seakan-akan kembali menjadi lelaki yang menawan. Penuh kejutan dan keajaiban. Pancaran matanya kian cerah. Senyumnya tampak setengah mekar. Semuanya menjadi berubah karena Nurillah. Nurillah adalah salah seorang santriwati pindahan dari pasantren Al Mukmin. Nurillah dipindahkan dari Al
20

Mukmin atas permintaan Habib Zukri, ayah Azam untuk membantu Azam mengajarkan shallat kepada anak-anak di lingkungan pasantren yang kian hari kian banyak jumlahnya. Kehadiran Nurillah serupa penyejuk rasa bagi Azam, sedang bagi Nurillah perjumpaannya dengan Azam seperti mimpi menjadi kenyataan. Lantaran itu dengan senang hati Nurillah menerima tawaran itu. Namun bukan karena pertama-tama untuk membangi ilmu pengetahuan, tetapi lebih karena sudah sejak lama ia memendam rasa cintanya kepada Azam. “Bang Azam, semoga Nurillah dapat memberikan yang terbaik kepada anak-anak. Dan semoga pula bang Azam dapat membimbing Nurillah” pinta Nurillah di awal perjumpaan. “Ya Nurillah, Abang juga merasa sangat berbahagia…kehadiran Nurillah semoga dapat mengurangi beban abang” jawab Azam memberi kepastian. Dari hati kecil Nurillah yang paling dalam, Azam adalah sosok lelaki idaman. Dan Nurillah berharap semoga dengan perjumpaan itu, cintanya kepda Azam menjadi nyata. Kecantikannya, dengan parasnya yang elok, senyumnya yang menawan, tutur katanya yang lembut, serta penampilannya yang santun bukankah dapat membuat Azam jatuh hati? Nurillah kadang melepas impian itu.
21

Gayung bersabut, karena kedekatan itu, Azam pun mulai membalas senyum manis Nurillah. Kadang, wajah-wajah mereka berdekatan dalam senyum yang akrab. Mereka membenturkan padanganpadangan mereka, melepas senyum-senyum manja. Melepas tawa-tawa gembira dalam aneka kisah dan cerita. Azam seperti sudah mulai bangkit dari murungnya. Kehadiran Nurillah dalam kehidupannya membuatnya menjadi lelaki periang. “Bang Azam, mengapa bang Azam begitu berbahagia?” selidik Nurillah suatu ketika. Para santri memperhatikan mereka dengan saksama. Nurillah seperti meminta jawaban tulus dan sungguh dari Azam. Tapi Azam tak pernah memberikan jawaban yang tuntas “Hanya alam dan Tuhan yang tahu” hanya sepenggall itu. Namun, Nurillah tidak patah semangat, jawaban Azam adalah kekuatan baginya untuk terus berharap. Terus berusaha untuk menjadi yang terindah di hati Azam. Walau sejatinya kegembiaraan Azam hanya sebuah pelarian yang sebentar. Karena sesungguhnya di hatinya yang paling dalam masih ada Sarah yang di seberang tempat terus menitihkan air mata dalam penantian yang panjang. Lima kilo meter dari Al Hidayah, tepatnya di jantung kota Malabiah, di bawah rumah beratap megah dalam kamar penuh boneka, dihiasi dinding penuh
22

taburan bunga marun, Sarah menjadi perempuan yang menderita. Hari-harinya kian hampa, bergulat dengan rasa yang sesak. Jiwanya berontak hebat mencoba untuk keluar dari keputusannya sendiri yang hampir menetas. “Aku harus segera mengucapkan syahadat, bukan hanya karena Azam, tetapi lebih dari itu karena Allah dan Muhammad rasul-Nya” Pergulatan itu kian memuncak. Tampak mau meledak pada hari puasa ke 21, 1431 Hijriah, ketika malam penuh bintang turunkan hidayah atas ummatnya. Tetapi tiada siapa yang mendengar, semua bagai tak bertelinga. “Berdosakah aku jika aku harus meninggalkan semua, melepaskan segala, karena kebutuhan akan pemenuhan makna jiwa?…” Sarah pinta dengan meronta. “Tidak..tidak… aku tidak mengkhianati Rujiao atau Konfusius. Rujiao atau Konfusius sudah mengantarkanku menjadi orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur…namun aku belum menemukan sejatinya kebenaran. Akan kelak, dalam Islam aku menemukan itu” Sarah terus bergulat. Dalam kesendirian tubuhnya menggigil. Jiwanya bagai melayang lepas entah ke entah. Peluh mengalir dari keningnya yang bening. Rambutnya pecah pada bantal yang lembab. Di
23

wajah kaca lemari baca, pribadinya serupa retak, pecah berantakan. Sarah sadar betul, konfusianisme tidak mengajarkannya tentang dosa. Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Sarah dan Penganutnya yang lain diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. “Apakah aku berkhianat terhadap segala tali sejarah nenek moyang. Terhadap ayah dan bunda. Mereka pasti akan menolakku, mengusirku dan menganggapku sebagai pecundang” Sarah mengumpat dirinya sendiri. “Aku pecundang, pengkhianat…..tapi aku tidak berdosa..tidak bersalah…..Aku sudah menemukan kebenaran dalam Islam, segala yang kualami selama ini adalah falsafah dan pandangan moral” kta-kata itu melepas terbata-bata, tak berarah. Namun demikian Sarah sadar, bahwa ajaran konfusius atau Rujiao yang diyakininya merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku. Dan, jika ia harus berpindah menjadi muslimah, ia yakin segala moral dan akhlak justru menjadi lebih diperkuat dalam landasan iman dan keyakinan kepada Allah.

24

“Hufz….hufz…hufz….Zzz..z” mendesis keras tak berupa kata, tak berbentuk kalimat. Lepasan kata tak bermakna melejit-lejit dari dua belah bibirnya yang gigil. Hendak ia berteriak keras. Hendak ia koyakan jiwa. Hendak ia runtuhkan tubuhnya. Tapi ia bagai tak berdaya. “Hufz….hufz…hufz…. Zzz..z” suara tanpa rupa kata itu kembali lepas. Sembari tangannya mencengkram ujung piyama. Ia mencaik-cabiknya, hingga nyaris menelanjangi dirinya. Setengah lengannya terlepas. Rambutnya gugur terurai. Menutupi separuh wajahnya yang tertelungkup. Jilbab jingganya terlempar di sisi sebelah kanan. Sebuah guling melayang ke atas meja belajarnya, memecahkan tempat pena, menjatuhkan catatan harian. Segalanya porak poranda. Seperti hatinya yang tak berbentuk rupa. Seperti jiwanya yang remuk redam. Sarah seperti gila. Ia benar-benar jatuh terjerembab dalam pengalaman yang tak terlukiskan dengan kata. Ia memasuki momen perbatasan yang tak pernah dialami dan dilalui oleh manusia kebanyakan. Sebuah momen „antara‟. Antara kepasrahan yang total yang berujung pada kematian dan kehendak untuk melakukan pemberontakan yang tuntas hingga hidup tercerahkan. Sarah memasuki momen dan wilayah itu. Ia memasuki sebuah wilayah di mana ia harus
25

menjatuhkan keputusan. Yang jawabannya masih di entah. Entah berbuah duka atau cita. Berbuah derita atau bahagia. Sarah benar-benar berpasrah. Benarbenar melepas segala jawaban kepada alam dan Tuhan Sang Maha Tahu. Dalam keputusan yang belum terjawab tuntas, Sarah merebahkan diri dalam kelelahan yang panjang. Tubuhkan direntangkan tak berarah, dengan kaki dan tangan dibiarkan melempang. Segala sendinya bagai lepas. Peluhnya masih terus jatuh mengalir. Antara sadar dan tidak, Sarah perlahan pejamkan mata. Terkulai lemah dalam lelap yang kian dekat menerjangnya. Tidak berapa lama, di bawah temaran lampu kamar merah jingga, Sarah melepaskan raganya dalam tidur yang panjang. Di luar jendela, purnama beranjak tinggi. Cerah. Secerah wajah Sarah yang pulas. Angin kecil menepi berlari-lari mengepakngepak furing jendela. Melepas kesejukan. Di bawah malam purnama itu Sarah mekarkan bunga mimpinya. Mimpi tentang keabadian. Mimpi yang selanjutnya menjadi kekuatan baginya untuk semakin membulatkan pilihan dan keputusannya kelak. Mimpi yang baginya adalah petunjuk dan hidayah dari Allah. Sebuah peristiwa rasa tanpa dosa, tanpa salah, tiada sesal, tiada pula pengampunan. Segalanya putih suci
26

mempesona. Disaksikan malam dengan purnama dan kerlap-kerlib bintang. Serupa dimaklumi alam semesta, bahwa keduanya adalah pangeran dan puteri alam semesta. Mimpi itu pun mekar. Sarah. Tubuhnya dibalut kain putih bagai jubah. Tak sedikitpun kulit tubuhnya tampak ke permukaan pandangan mata. Wajahnya bercadar, hanya setengah mata memekar pancarkan cahaya. Dari balik cadar, ia tak lelah melepas senyum cerah. Jiwanya menjadi sangat berbahagia di balik raga yang menawan. Keanggunan yang tak terlukiskan dengan kata, menjadikan Sarah serupa permaisuri alam raya. Jumbai cadarnya melayang-layang ke udara. Menyapa sinar-sinar bintang, menyapu-nyapu terang rembulan. Ujung-ujungnya terbetang antara utara dan selatan. Ujung-ujungnya yang lain jatuh di timur dan barat. Singgasana yang megah. Semilir angin timur menyapu wajahnya. Desirnya bagai nafiri. Ia tegak mematung penuh anggun, seperti sedang menunggu titah khalik. Kemegahan, kanggunan, dan kecantikannya, membuat Sarah menjadi serupa ratu semesta. Dalam menunggu. Dari kejauhan, dari arah matahari merekah, di batas pandangan matanya terjauh, muncul bayangan putih yang melezat kian mendekat. Seorang pria tampan tiba-tiba muncul
27

dihadapannya dengan mengendarai kuda berpelana emas, berpakaian bagai raja dengan kopiah dari anyaman sutra emas. Tangan kirinya memegang tali kekang. Sedang pada tangan kanannya menggenggam biji-biji tasbih. Wajahnya teduh, berwibawa. Pandangan matanya berkharisma. Senyumnya elok menebar harum semerbak. Dengan gagahnya sang pria menunduk menyapa penuh mesra menggenggam tangan Sarah menuju ke arah matahari merekah. Sarah menyambutnya dengan hangat. Alam raya menjadi latar terindah, dan sabana menjadi pijakan permadani cinta. Langit menjadi atap, dengan bulan yang setia melepaskan wajah cerah, kerlap-kerlip bintang menambah malam jadi temaran. Tiada derita, tiada air mata. Yang ada hanya damai dan kehangatan. “Sarah” suara itu menggetarkan Sarah. “Ya, Aku” jawab Sarah penuh bahagia. “Azam” Sarah balik menyapa. “Ya, Aku” jawab Azam pun pula penuh bahagia. “Allah hu akbar” keduanya sama-sama melepas pujian. Entah siapa yang mendesak, semuanya bagai se-ia sekata. Tanpa ragu Sarah menjatuhkan diri dalam pelukan Azam, Sarah melepaskan segala resah. Wajahnya menengadah, dengan mata setengah terpejam. Ke dalam pangkuan Azam, Sarah melepaskan semua,
28

menyerahkan segala. Bagai doa, bagai sembahyang, Sarah berpasrah. Azam terpesona. Ia terkesima. Dadanya bergetar, menatap rekah bibir indah di balik cadar yang setengah terbuka. Tapi, Azam tak menyentuhnya sedikit pun. Keindahan bibir yang tak pantas untuk disentuh dengan hasrat, tetapi oleh cinta. Dan itu bukan sekarang. Hanya pada bening kening Sarah, Azam melepaskan cintanya. Sebuah penghargaan atas ketulusan yang tak terlukiskan dengan kata. Dua belah bibirnya menyapa lembut. Seakan mengatakan, semuanya akan menjadi nyata dan bukan hanya sebatas angan. Sarah menutup cadarnya dan menitihkan air mata. Cinta. Terlukis sebuah peristiwa rasa tanpa dosa, tanpa salah, tiada sesal, tiada pula pengampunan. Segalanya putih suci mempesona. Disaksikan malam dengan purnama dan kerlap-kerlib bintang. Serupa dimaklumi alam semesta, Sarah memandang lekat wajah Azam, seakan menagih kepastian. Tetapi ia tak mengucapkan apa-apa. Hingga Azam memapahnya penuh sayang menuju pelana cinta. Bersama kuda, keduanya pergi bagai terbang. Entah ke mana. Hingga Fajar pagi merekah, mambangunkan Sarah yang pada kedua belah bibirnya masih
29

menggelantung rembulan. Senyum purnama. Ia seperti lupa akan segala duka. Hilang akan segala air mata. Mimpi telah mengusir kegundahannya, walau belum benar-benar tuntas. *** Tidak seperti hari-hari kemarin, yang pada setiap datang pagi menggelantung beban di bibirnya. Selalu menopang mendung di kedua bola matanya. Bahkan kadang jatuh air mata. Menyepi dan menyendiri di sudut perpustakaan yang sepi. Bukan untuk membaca, tetapi merenung tentang sesuatu yang tidak menentu. Sesuatu yang selalu membuatnya cemas. Namun, pagi itu wajah Sarah cerah ceria. Ia bangun lebih awal, segala keperluan kuliah pun ia persiapkan dengan cepat. Ke kampus pun ia berangkat lebih awal. Tak lagi menyudut di sudut ruang buku. Tak lagi merenung dan membuat puisi. Coretancoretannya yang penuh umpat seperti lenyap. Ia menulis puisi dengan lepas. Sangat indah. Wajahnya yang berpendaran bias ceria tak dia sembunyikan. Ia terbitkan dengan sengaja. Seperti hendak menunjukkan kepada alam, bahwa ia tidak tunduk di bawah duka dan air mata. Di bawah rindang cemara, pada taman depan perpustakaan ia diam melumat kata dari Rubaiyat Umar Khayam.

30

Perubahan itu tentu saja mengejutkan Dinda dan Dewi. Dua sahabat setianya. “Hy…hy…Sar, mimpi apa kamu semalam. Tidak seperti biasanya, wajah kamu sebegitu cerah pagi ini. Jangan-jangan mimpi bertemu pangeran, kemudian berkenalan, berjalan berdua, dan ah………..” Dinda yang spontan, datang mendekat sambil melepas duga dengan ceplas-ceplos bertubitubi. Seperti biasa ia selalu melepas kata dengan penuh semangat, tanpa melupakan ekspresi teatrikalnya. Namun, gurat wajahnya yang heran tidak dapat disembunyikan. “Wow….apa yang membuatmu tiba-tiba berubah Sar…..pagi ini kau tampak lebih cerah dari biasanya, lebih cantik dan nyaris sempurna” Dody muncul tiba-tiba. Melepas pujian itu kemudian menghilang di balik pintu perpustakaan. “Sst….brisik, pagi-pagi dah gombal…pergi sana!” Dody mengangkat kedua tangganya. Mulutnya dikatup rapat. Diam. Kemudian menghilang. Dinda membentaknya. Dewi yang sedari awal tak mengeluarkan kata. Seperti ragu mencoba menyapa. “Sar…” Dewi ingin tahu.
31

“Ya..” Sarah menjawab sambil melepas senyum. “Bolehkah Sar menceritakan kepada kami, tentang apa yang membuat Sar bahagia. Apa yang membuat Sar tiba-tiba berubah?” Dewi meminta. Sarah hanya tersenyum. Dia menatap wajah dua sahabatnya yang mematung bagai boneka dengan saksama. Sarah yakin, kehadirannya yang lebih ceriah dan penampilannya yang berbeda akan membuat kepanikan di antara sahabatnya. Sahabatsahabatnya pasti akan bertanya-tanya. Dengan gaya yang sama, penuh ekspresi dengan gerakan teatrikalnya yang kadang-kadang membuat tempat apa pun berubah jadi panggung pementasan, Dinda kembali melepas tanya “Kemarin, dan kemarin-kemarin di sini, di tempat ini kau melepas tubuhmu yang lelah…kau menyiram semua cerita dengan air mata. Kau memupukinya dengan duka…tetapi pagi ini….ya pagi ini, kau mengenanakan jilbab jingga, melepas senyum tampa lelah, membaca Rubaiyat…ada apa gerangan?” “Ya..ya..sebenarnya ada mimpi apa kamu semalam Sar” Dewi menimpal penuh tanda tanya. Sarah kembali membalas dengan senyum. Tiba-tiba ia membuka suara. Dari kedua belah bibirnya meluncur sekuplet sajak dari Umar Khayam yang dibacanya dari Rubaiyat:
32

“Bangkitlah dan tinggalkan sesal dunia yang telah lalu, Bergiranglah, dan biarkan dalam kegembiraan saat berlalu, Jika watak dunia punya sesayup kesetiaan, Giliranmu takkan datang samasekali, seperti yang lazim berlaku” Dewi dan Dinda ternganga. Kata-kata Sarah membuat dahi keduanya bergelombang. Tetapi Sarah tetap tenang. Sarah sadar betul. Ia tak akan menceritakan keindahan mimpinya semalam. Karena itu adalah pengalamannya yang terindah. Kepada sahabatnya, Dinda dan Dewi, ia cukup memberikan maknanya. Bahwa cinta itu sejatinya indah. Sangat indah, walau harus dilalui dengan luka. Sarah melanjutkan sekuplet dari Umar Khayam: “Mari kawan, mari kita lepaskan kesedihan esok hari, Dan tangkap kesempatan hidup saat ini; esok, penginapan kuno ini Bakal ditinggalkan, dan kita akan sama dengan mereka yang lahir tujuh ribu tahun yang silam di sini”

33

Dewi dan Dinda mengangguk. Seperti memahami maksud Sarah keduanya saling pandang dan mengangguk. Sarah memperhatikan tingkah sahabatnya dengan Senyum. Sarah tahu betul keduanya sahabatnya mengangguk tidak tahu. Tapi Sarah membiarkan itu. “Sar…sebenarnya apa yang kau bicarakan?” Dewi ingin tahu “Sar…apakah Sar tidak sedang bermimpi…atau tidak sedang mati suri…atau tidak sedang mengigau?” Sarah tersenyum. Hanya itu. Kemudian ketiganya larut dalam sepi. Dinda dan Dewi memperhatikan Sarah dengan saksama. Memperhatikan Rubaiyat Umar Khayam yang bersampul senja. Keduanya bingung tidak kepalang. Ingin meminta dari Sarah untuk membaca walau sepenggal. Tapi keduanya tidak sempat. Sarah pergi meninggalkan mereka menuju perpustakaan Dewi dan Dinda menggeleng-gelengkan kepala. Menyusul Sarah menuju perpustakaan dengan menggelantung sejuta tanya. Entah. *** Di tempat yang biasa di sudut perpustakaan itu Sarah menarik kursi lalu duduk. Ia meninggalkan Dewi dan Dinda yang jalan perlahan menyisir rakrak buku kemudian menjauh. Dinda dan Dewi tahu
34

betul itu, keduanya tak hendak mengusik. Karena jika Sarah sudah mengambil tempat dan duduk, maka segala usik tak akan digubrisnya. Dari sudut ruangan itu, Sarah mengeluarkan catatan hariannya. Sebuah buku catatan dengan sampul berwarna marun, pada lembaran-lembaran kuning tua terekam catatan-catatan harian entah dalam rupa sajak-sajak rindu, puisi-puisi syahdu dan atau barisan kata tanpa rupa, yang lebih tepat disebut sebagai coretan yang berisi kegundahan dan kekesalan. Tetapi pagi itu, Sarah bukan menulis sajak, bukan menulis puisi, pun pula bukan coretan-coretan tanpa rupa. Pada lembaran kuning tua itu, Sarah melukiskan tentang dirinya yang setia, sebagai wanita yang tegar menanti. Wanita yang tak tunduk di bawah duka. Yang tak tergerus dihanyut air mata haru. Yang tak tercerabut dari dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang lain. Tetapi semakin menjadi dirinya sendiri. “Aku perempuan bercadar” Demikian Sarah menulis mula-mula pada lembaran baru catatan hariannya. Kemudian ia lanjut menetaskan tinta: “Cadar jingga yang kukenakan bukan untuk menyebut diriku seorang yang berduka. Pun bukan menyebut diriku sebagai sumber segala air mata.
35

Sejujurnya aku mau mengatakan kalau aku adalah perempaun yang berbahagia…” Sarah merenung sejenak, seakan-akan mengingat segala kisah. Melayangkan mata jauh ke depan, kemudian kembali menyelam ke dalam lembaran catatan hariannya. “Aku teringat keagungan cadar merah pada masa Lima Dinasti, Later Jin. Merah melambangkan kebahagiaan. Dan setiap pengantin perempuan wajib mengenakan cadar merah untuk menunjukkan keanggunan, kejelitaan dan juga kerahasiaan agar tak terjamah siapa pun selain kepada dan hanya untuk pasangan pencintanya” “Sekarang, jika aku berjilbab jingga, aku pun mau mengatakan bahwa aku berbahagia. Hari-hari penuh derita yang kulalui, air mata yang kuseberangi, duka yang kupijaki adalah sesungguhnya peristiwa terindah yang kualami sebagai pemaknaan atas cinta” Sarah meletakkan pena. Memejamkan mata. Seperti sedang kembali ke masa silam, bergulat dengan derita. Terbayang dalam benaknya, Azam yang pergi meninggalkannya. Pergi dengan ketidakpastian. Pergi tanpa tinggalkan catatan. Selain hanya sepenggal jawaban yang membingungkan „hanya alam dan Tuhan yang tahu‟

36

“Azam….jika kau dengar jeritan hati ini. Kau pasti tahu, bahwa semua luka yang kuderita berawal dari cinta yang pernah kita bangun di bawah purnama. Andai kau tak memberi harap, andai kau tak memberi janji, aku tak mungkin menanti dengan sakit” Sarah menuliskan itu dengan sepenuh hati. Ia menumpahkan semua gundah, melepaskan semua gerahnya. “Kepada siapa aku menagih, jika kau tak peduli. Kepada angin aku menuai janji, kepada mimpi aku mengadu isi hati….aku merasakan sebagai peristiwa pedih yang tak terperi” “Tapi kini, setelah sedih perlahan-lahan pergi. Aku menjadi yakin, semua kenangan yang membekas dalam hati menjadi momen yang berarti. Kemarahanku, kegundahanku, menjadi sebuah ucapan terima kasih. Aku berterima kasih atas seluruh kisah masa lalu kita” “Dalam masa menunggu ini, aku mengucap syukur. Aku tak hendak menyebut kau pengkhianat cinta. Karena sesungguhnya dalam sakit yang diderita, kau masih yang terindah” “Aku hanya memanjat dalam doa-doa yang tak lelah. Walau aku bersimpuh dengan tubuh setengah kaku. Aku berharap kau kembali. Sebab cadar yang kukenakan ini, hanya kau yang boleh melepaskannya. Aku mau menjadi perempuan
37

terindah dalam hidupmu.” Demikian Sarah menutup kisahnya. Catatan harian itu ditutupnya dengan sepenggal kalimat “Aku perempuan bercadar”. Ia menenangkan segala pikirannya. Membereskan catatannya. Kemudian beranjak ke luar perpustakaan, hendak menjumpai Dinda dan Dewi, tetapi keduanya tidak tampak. Tanpa menunggu lama, karena hari telah beranjak siang, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Di Al Hidayah, sejak pagi hingga hari beranjak siang, Azam dan Nurillah tampak sedang mengajarkan shalat kepada anak-anak. Azam dan Nurillah mendampingi mereka dengan setia. Keduanya tampak begitu serius. Sahut menyahut anak-anak terdengar berganti-ganti. Seperti itu setiap pagi Azam dan Nurillah menjalankan aktivitasnya. Sebuah aktivitas rutin yang menjadi roh utama Al Hidayah. Habib Ridzki sangat menekankan itu, bahwa shallat harus ditanamamkan sejak dini kepada segenap kaum mukmin. ”Pangkal segala hal

ialah Islam. Sedangkan tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah” (Riwayat Tarmizi) Demikian Habib Rizdki selalu mengutip. Baginya, dan bagi segenap mukmin shalat adalah
amalan yang paling besar dan agung selepas iman. Tiada amalan yang lebih besar dan agung selepas
38

iman yang dapat menandingi shalat. Karena itulah di dalam Islam, shalat adalah menjadi tiang agama Islam. Tapaknya atau pondasinya adalah iman. Ia merupakan ibu segala ibadah di dalam Islam. Rasul SAW bersabda: ”Amalan yang pertama dihisab

dari seorang hamba pada hari kiamat ialah sholat. Jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, sebaliknya jika sholatnya jelek, maka jeleklah seluruh amalnya” (HR Tabrani)

Inilah alasan utama mengapa Al-Hidayah menjadi pasantren yang diminati. Keutamaan islami yang ditanamkan kepada para santri menjadi kewajiban utama. Hal itu tampak dalam keseriusan Al Hidayah mengajarkan segala keutamaan itu, bukan hanya dalam konsep-konsepnya, tetapi juga dalam pola laku dan akhlak.
Namun, terlepas dari segala konsep utama di atas, yang diyakini sungguh Azam dari ayahnya, baginya, kesempatan mengajar di Al Hidayah adalah untuk menambah pengelaman, sebelum, tiga bulan kemudian berangkat ke Cairo untuk meneruskan studi. Azam selain menjadi santri teladan di Al Hidayah, meruakan satu-satunya putra Habib Ridzki yang cerdas. Lantaran itu, Habib menaruh harapan besar kepada putranya itu, agar kelak dapat meneruskan Al Hidayah.
39

Sedangkan bagi Nurillah mengajar di Al Hidayah adalah kesempatan untuk mengenal Azam secara lebih dekat. Ia menjadi santriwati yang berbahagia, karena selain menuntut ilmu, juga menjadi bagian dari keluarga besar Habib Ridzki. Karena keluarga Habib sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Dengan demikian, kedekatan antara Nurillah dan Azam pada hari-hari di Al Hidayah, bagi Habib Ridzki adalah sesuatu yang wajar, layaknya sebagai sahabat dan saudara. Namun, bagi Nurillah, Azam bukan hanya sahabat dan kakak. Nurillah berharap lebih. Baginya Azam adalah kekasihnya. Lantaran itu ia berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik bukan hanya kepada anak-anak asuhnya ketika mengajar, tetapi juga kepada keluarga Habib Rizki. Agar dengan semakin ia diterima, semakin ia dicintai. Azam, menyadari itu. Ia paham betul segala upaya Nurillah. Sehingga, tanpa Nurillah mengerahkan seluruh ekspresi rasa untuk selalu tampil sempurna di hadapannya, sebenarnya Azam sudah menaruh hati sejak pertama memandang Nurillah. Baginya, Nurillah bukan hanya perempuan yang cantik jelita, tetapi juga cerdas dan solehah. Namun, keinginan untuk mengatakan cinta selalu terpendam dalam dada, karena Sarah masih memanggilnya pada malam-malam sembahyang. Sarah masih mengisi ruang hatinya, bagai pelita. Kendati ia mencoba mengusirnya, tetapi kisahnya
40

bersama Sarah begitu membekas dalam ingatannya. Biji-biji tasbih di tangan kanannya seperti selalu memancarkan rindu. Rindu Sarah. Tetapi hari itu, Azam menjadi pribadi munafik. Ia mencoba untuk membohongi dirinya sendiri. Ia tak bisa menyembunyikan ketertarikannya kepada Nurillah. Keselaluan mereka berjumpa, keseringan mereka menegur sapa, membuat perjumpaan antara keduanya menjadi bernyawa. Ada cinta di antara mereka yang tak dapat lagi dipendam. Segala rasa, semua ingin segera tertumpah. “Nurillah,…tolong ambilkan buku catatan saya di laci meja perpustakaan” Pinta Azam kepada Nurillah yang datang mendekatinya, seusai mengajar anakanak. Azam berharap Nurillah bisa memakluminya karena dia belum selesai mengajar. Tanpa menunggu Nurillah pun bergegas menuju perpustakaan. Sebelum Nurillah menarik laci meja, ia memperhatikan catatan-catatan tangan Azam yang bertebaran di atas meja. Ia beniat untuk merapikannya. Ia menemukan banyak catatan yang sulit dibaca, karena huruf Azam tak seindah wajahnya. Nurillah tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala. Namun ada satu lembaran catatan yang cukup menyita pandangannya, ditulis dengan hurufhuruf besar dan jelas terbaca. Pada kata-kata
41

tertentu diberi warna merah. Simbol kebahagiaan. Sementara pada kata-kata yang lain diberi garis bawah, seperti hendak memberi penegasan. “Nurillah…Andai kau tahu, kalau di dasar hatiku, kau hadir menjadi semakin nyata. Aku yang sedianya terluka karena kebimbangan dan ketidakpastian, kini menjadi berbahagia karena kehadiranmu. Aku tak tahu, apakah ini yang disebut jatuh cinta. Tetapi jika aku mau jujur, dan jika aku menanyakan ini kepadamu, aku dan juga kau akan menjawab „ya, ini jatuh cinta. Kita sedang saling jatuh cinta‟. Tapi entah kapan aku harus jujur mengatakan ini kepadamu. Namun yang pasti, semoga dengan membaca catatan ini, kau menjadi tahu, kalau sebenarnya aku mencintaimu” Nurillah terperanjat. Bibirnya setengah merekah. Ia hendak berteriak. Ia begitu gembira. Dadanya terasa sesak. Hendak ia melompat, hendak ia menari, hendak ia memeluk, hendak ia menangis. Segala rasa haru dan gembira membaur melebur jadi satu. Tak terlukiskan dengan kata. Lembaran catatan itu bagai mukjizat. Berulang ia menatap. Antara percaya dan tidak. Jika benar, maka akan menjadi seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, harapan akan cintanya menjadi nyata. Jika tidak, ia sudah sedang memasuki wilayah setengah waras. Lama ia terpesona, serupa patung yang sedang membaca sesuatu.
42

“Nurillah…” Nurillah tersintak, ia menjadi sangat malu. Ia tak menyangka kalau Azam sudah berada di belakangnya dan memperhatikan segala ekspresi rasanya. “Nurillah…” Azam kembali memanggilnya. Sarah membalikkan badan perlahan. Tak mengucapkan sepatah kata. Ia terpaku ditelan rasa. Mulutnya terkatub rapat. Di tangannya masih tergenggam catatan cokelat tua berisi kata rasa. Di hadapannya tampak Azam melepas senyum seakan-akan meminta kepastian. “Ya…ya…Zam…Azam…Bang…bang Azam” Nurillah melepas kata patah-patah. “Nurillah tidak temukan buku catatan itu bang..di mana abang meletakkannya” Nurillah mencoba mengalihkan rasa. Tetapi justru membuat Azam tertawa. “Catatan yang saya maksud ada di tanganmu…” jawab Azam tenang. “Sudah Nurillah baca catatan itu?” lanjutnya. “Ya…ya..sudah” Jawab Nurillah gugup. “Bagaimana?” Pinta Azam. Nurillah mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkacakaca. Tanpa kata, ia mengangguk, memberi kepastian. Azam mendekat, hendak ia memeluk dan memberi kecupan terindah pada kening Nurillah. Tetapi Azam
43

mengurungkan niatnya. Azam sadar betul bahwa antara keduanya belum terikat tali kasih sebagai suami dan istri. Kedua bukan mukhrim. Keduanya masih sepasang kekasih, ada jarak yang masih memisahkan mereka, yakni keyakinannya mereka pada norma-norma agama. Keduanya hanya melepaskan pandangan bahagia. Melepaskan senyum terindah. Tanpa kata. Dalam senyum dan pandang keduanya melepaskan rasa. Rasa yang sudah lama terpendam. Dan sekarang menjadi nyata. Bahwa keduanya saling jatuh cinta. Nurillah tak dapat melukiskan dengan kata atas semua peristiwa yang dialaminya. Semuanya bagai kejutan. Semua bagai anugerah. Semua bagai hidayah. Sudah sejak cintanya diterima Azam, hariharinya di Al Hidayah menjadi kian sempurna. Di sana ia belajar menjadi mukmin sejati. Di sana ia dicintai oleh anak didik dan keluarga Habib Rizdki. Dan di sana pulalah cinta yang dinanti hadir menjadi nyata dalam diri seorang Azam. “Subhanaallah” Hari-harinya menjadi penuh makna. Cintanya yang tulus kepada Azam menjadikannya perempuan yang sangat berbahagia. Pada setiap pagi, siang dan malam, tak lelah ia panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Karena ia yakin bahwa cintanya kepada Azam adalah atas ridho-Nya.
44

Sebagaimana Firman Allah Subhanallohu wa Ta‟ala: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum: 21) Nurillah meyakini itu. Cinta yang dibangunnya bersama Azam adalah cinta yang tulus dan suci. Walau untuk menjadi istri belum terpikir. Tetapi kebahagiaan itu sudah dialaminya menjadi kian dekat, kian nyata. Apalagi Habib Rizdki sudah mengetahui itu, kalau antara putranya, Azam dan Nurillah sudah menjalin kasih. Tapi Habib Rizdki tak hendak mengusiknya, sejauh cinta yang dibangun berjalan sesuai nilai-nilai dan norma islami. Dan cinta itulah yang sudah sedang dijaga Nurillah. Sebagai manusia biasa, Nurillah pun sadar bahwa apa yang sudah ia berikan kepada Azam dalam cinta adalah tindakan yang manusiawi. Dan oleh karena itu, Nurillah tetap mempertahankan cinta itu agar tetap berjalan dalam bingkai dan norma agama. Sebab, seperti yang dikatakan Habib Ridzki, bagi seorang muslim dan beriman, cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah. Segala bentuk dan rupa cinta walau tanpa batas ruang dan waktu, pun pula kepada siapa dan apa pun. Namun yang pasti bahwa
45

semuanya harus bersumber dari dan kepada cinta Allah. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165). Demikianlah Habib Rizdki selalu mengutip sebagai pengingat pada setiap nasehat. Inilah kekuatan bagi Nurillah dalam menjalankan cintanya bersama Azam. Ia menjadikan ungkapan cinta itu sebagai ibadah. Ia tidak hendak mencemarinya dengan hasrat manusiawi dan apalagi kenikmatan sesaat. Bagi Nurillah cinta itu suci dan tulus. Cinta adalah fitrah dalam peristiwa manusiawi manusia. Cinta adalah satu hubungan suci antara dua hati. Ia adalah anugerah Allah, sebab itu ia sangat bermartabat. Cinta yang tulus dan murni adalah kurnia Allah. Ia tidak datang menyembah dengan percuma. Allah akan menganugerah rasa cinta dan kasih pada mereka yang bersungguh berusaha mencarinya, tetapi tidak boleh melebihi cintanya kepada sang pemberi cinta yaitu Allah SWT. Warna hidup Nurillah, kian hari kian berwarna. Keindahan kepribadiannya terpancar dari senyumnya yang selalu merekah. Terbit dari ketekunannya dalam menjalankan ibadah. Tampak dari
46

semangatnya mengajarkan shalat kepada anak-anak. Nyata dari kecintaannya kepada keluarga Habib Ridzki. Juga hadir dalam ketulusan perhatian dan kasih sayangnya kepada Azam. Semuanya menjadi begitu mempesona. Begitu indah. Untuk dan dalam semuanya, Ia melakukannya dengan tulus dan ikhlas. Ia memberikan apa yang menjadi kewajibannya, ketika ia harus mencintai. Ia tidak menuntut lebih karena ia tahu batas-batas haknya. Ia menyerahkan semuanya, segalanya, karena ia yakin cinta pada hakikatnya adalah memberi sebagai mana Allah memberikan cinta-Nya kepada manusia. Berbeda dengan Nurillah, Azam justru menjadi pribadi yang lelah. Rapuh. Hari-harinya kian sepi. Sunyi. Menyendiri adalah pelarian. Perpustakaan menjadi ruang pelepasan. Segala buku dilumatnya. Segala kertas dicoretnya. Namun semuanya tanpa bentuk dan rupa. Semuanya tanpa arah. Terobangabing. Linglung. Diamnya tampak bagai sembahyang. Sendirinya seperti doa. Namun sesungguhnya ia tidak punya apa-apa selain setumpuk daging berisi kecemasan yang mendalam atas keputusannya yang akhirnya membuatnya menjadi pribadi yang kesal. Biji-biji tasbih yang mengalir dari jari-jarinya adalah susunan kepingan-kepingan cintanya bersama Sarah. Allah bagai terabaikan dalam kecemasan dan kebimbangannya yang mendalam.
47

“Astaqfirullahalazim…. Astaqfirullahalazim”

Astaqfirullahalazim…

Azam menengadah. Memohon pegampunan Allah atas keputusannya sesalnya. Ia merasa sangat berdosa karena telah mengungkapkan cinta kepada Nurillah, karena ternyata dari hati kecilnya yang paling dalam sebenarnya ia mengatakan tidak. Tidak hanya itu, salahnya bagai berlipat ganda, setelah ia membayangkan Sarah yang terjebak dalam duka. Juga karena salahnya. Cintanya kepada Nurillah hanyalah pelariannya atas penyesalan dan kegundahannya ketika ia tidak dapat memberikan kepastian cintanya atas Sarah. Cinta yang dibangungnya bersama Nurillah bagai sandiwara. Segala senyum yang ditebar, sikap dan penampilannya yang menawan serta keelokan tutur katanya kepada Nurillah kian hari menjadi kian hambar. Ia tidak hanya menjadi pecundang bagi Sarah, tetapi juga bagi Nurillah. Lebih dari itu sebenarnya ia telah mempermainkan ketulusan dan kesucian cinta. Ia telah menjadikan cinta sebagai duri. Kelopak cinta luluh dan jatuh berguguran jadi sampah, yang berdiri tegak adalah duri-durinya pada carang-carang yang pongah. Dia menyadari dirinya sebagai carang yang pongah.

“Astaqfirullahalazim…. Astaqfirullahalazim” Azam
48

kembali

Astaqfirullahalazim…

melepaskan

istiqfar. Ia menitihkan air mata. Dalam sujud yang khusuk Azam melantunkan taubat dan petunjuk.

. ‫ل‬

. .

. “Aku menghadap kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, dengan me-megang agama yang lurus dan aku tidak tergolong orang-orang yang mus-yrik. Sesungguhnya shalat, ibadah dan hidup serta matiku adalah untuk Allah. Tuhan seru sekalian alam, tiada sekutu bagiNya, dan karena itu, aku diperintah dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau, engkau Tuhanku dan aku ada-lah hambaMu. Aku menganiaya diriku, aku mengakui dosaku (yang telah kula-kukan). Oleh karena itu ampunilah selu-ruh dosaku, sesungguhnya tidak akan ada yang mengampuni dosa-dosa, ke-cuali Engkau. Tunjukkan aku pada akhlak yang terbaik, tidak akan menunjukkan kepadanya kecuali Engkau. Hindarkan aku dari akhlak yang jahat, tidak akan ada yang bisa menjauhkan aku daripada-nya, kecuali Engkau. Aku penuhi pang-gilanMu dengan kegembiraan, seluruh kebaikan di kedua tanganMu,
49

kejelekan tidak dinisbahkan kepadaMu. Aku hidup dengan pertolongan dan rahmatMu, dan kepadaMu (aku kembali). Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Aku minta ampun dan bertaubat kepadaMu”. Semuanya bermula dari perjumpaannya dengan Azam dalam mimpi yang meneguhkan. Mimpi itulah yang membayanginya. Yang membuatnya berubah begitu cepat. Dukacitanya memancarkan kegembiraan. Derai air mata menyemburkan senyum dan tawa. Mimpi itulah yang menerbitkan keyakinan akan pilihan yang segera ia putuskan. Ke mana ia harus melangkah. “Besok, Jumad, sehari sebelum 1 Syahwal 1431 Hijriah” Keputusan Sarah sudah bulat. Ia telah melewati pergulatan yang panjang. Bukan tentang resiko baik atau buruk yang secara jasmani akan diterimanya. Tetapi kebahagiaan yang nantinya akan diraihnya secara rohani. “Mimpi itu akan menjadi nyata esok hari tepat pukul 10 pagi” Sarah merebahkan raganya yang lelah di atas kasur yang berantakan. Kesadarannya untuk menjadikannya perempuan yang tegar, telah memberikannya kepuasan tersendiri.
50

Kegundahannya melayang, kecemasannya terbang, yang tertinggal adalah dinya yang diliputi kebahagiaan. “Ya Allah…ini ridho-Mu‟ Ia mengambil ponselnya. Mengirimkan pesan singkat untuk Dewi dan Dinda agar datang menjumpainya. Ia menarik napas panjang kemudian membanting tubuhnya, di antara boneka-boneka. Tubuhnya jatuh telentang. Matanya kemudian menerawang menatap langitlangit kamar. Menyapu dinding-dinding yang bertaburan bunga dan pigura. Kemudian ke kiri dan kanan, pada sisi-sisi tubuhnya. Boneka-boneka pun tertidur jenaka. Sarah tersenyum. Pandangannya pun membentur meja belajar di mana foto Azam bersamanya terpajang dalam bingkai perak. Sarah mengenang kisah itu, ketika sedang merindu di bawah purnama. Dia tersenyum. Perlahan pandanganya bergerak ke sisi sebelah kanan. Matanya menumbuk lemari kaca. Di balik pintu kaca tergantung sepasang cheongsam ukuran kecil pemberian orang tuanya sebagai kado ulang tahunnya yang ke-10. Cheongsam yang cantik. Lehernya tinggi, lengkung leher baju tertutup, dan lengannya yang panjang. Memiliki kancing di sisi kanan, bagian dada longgar,
51

selayak di pinggang, dan dibelah dari sisi, yang kesemuanya semakin menonjolkan kecantikan dari wanita yang mengenakannya. Termasuk Sarah. Hanya sekali itu ia mengenakan cheongsam itu, persis ketika hari ulang tahunnya yang ke-10, kemudian ia menggantungnya sebagai kenangan terindah. Itu, kado terindah yang diberikan orang tuanya sebelum ia pindah ke Malabiah beberapa tahun silam mengikuti kakek dan neneknya. “Papa…Mama…andai papa dan mama tahu isi hatiku yang paling dalam…” Sarah tak kuasa menahan haru. Membyangkan wajah ayah dan ibunya. Ayahnya yang pengertian dan ibunya yang penyayang. Ayah dan ibunya mencurahkan segala untuknya, karena dia adalah putri semata wayang di antara dua sadara laki-lakinya. “Bukan aku hendak meninggalkan papa dan mama. Bukan pula aku mengkhianati kasih sayang dan perhatian. Tetapi ini adalah pilihan hidup. Dan tentang semuanya itu hanya aku yang tahu…” Sarah seperti mengadu. Matanya terus melekat menatap cheongsam itu. Seperti sebuah pengakuan di hadapan ayah dan ibunya. “Sarah, ini adalah Cheongsam. Kado dari papa dan mama buatmu” Sarah mengenang kata-kata ayahnya. Ketika itu ayahnya memberikan dengan senyum disaksikan ibunya.
52

“Nak…ini salah satu jati diri kita bangsa Tionghoa. Pakaian Cheongsam cocok dengan bentuk tubuh wanita bangsa Tionghoa. Semoga dengan ini, kamu tetap menjaga kesederhanaan dan keanggunan, juga kemewahan dan kerapian…kami mencintaimu nak!!” Mengenang itu Sarah menitihkan air mata. Matanya kembali menerawang. Sarah menyapu air matanya dengan tepi seprei marun. “Papa…mama…maafkan aku, bukan aku yang memilih jalan ini, tetapi Allah yang memberikan aku jalan…aku temukan hidayahnya…di sini..di Malabiah” “Hy…hy…hy…bangun……………………….” Sarah bagai dicekik. Dadanya sesak. Mukanya pucat pasi. Lamunannya terbang. Suara Dinda dan Dewi yang tiba-tiba menyeruak dari balik pintu kamarnya membuatnya terperanjat. “Iihh…..kagetin aja….ketok alasamualaikum dulu” umpat membenarkan posisi duduknya. “Ya..ya..ya…maaf” Dinda merengek. “Asalamualaikum Sar….” Dinda memberi salam. “Ya…udah…duduk sini” Sarah sahabatnya agar mendekat. meminta dua Sarah pintunya, sambil

53

“Ada apa sih Sar…sms kita-kita, pake penting segala, darurat, gawat…kayak ada gempa bumi aja” ceplos Dewi. “Kau pun membuatku terperanjat. Membuat dadaku sesak. Kau tertidur karena lelah. Ataukah karena jiwamu yang terkulai. Aku datang sekarang. Memberikanmu jawaban-jawaban. Memberikanmu cerita tentang cinta. Mengajakmu mengisahkan tentang kehidupan…Sarah ada apa??” Dewi melepaskan cerewetnya. Di kamar itu dia pentaskan teater. Membaca sajak. “Ah….apa sih Wi…teater melulu…ne gawat ne” tegur Sarah. “Ya ne bocah…gak tau tempat…emang di sini sanggar teater apa???” Dewi mengekor. “Oke..maaf…ya udah…sebenarnya ada apa sih Sar” Dinda melembut. “Sarah mau minta bantuin lo berdua….mau kan?” “Bantuan…bantuan apa yang tak dapat kami berikan untukmu sahabatku…apa pun tawaranmu akan kami laksanakan, yang penting bukan ke kubur…” Lagilagi Dinda. “Woi..apa-apaan sih lo, serius ne. Mau ke kuburan..pentas teater di sana aja” Dewi benarbenar marah.
54

“Hehe…Nda, senang dech punya sahabat kayak lo…menghibur banget” Sarah tidak dapat menahan tawanya, melihat sahabatnya Dinda yang selalu pancarkan kecerahan dari wajahnya. Dinda tersnyum mendengar pujian itu. Dia mendekat dan duduk di samping Dewi. “Sar minta tolong ke kalian berdua untuk pergi ke pasantren Al Hidayah…jumpai Azam, sampaikan ke Azam kalau besok jam 10 pagi damingi Sarah di masjid Al Hidayah” “Untuk apa Sar…??” Dinda dan Dewi mengejarnya ingin tahu. “Besok jam 10 pagi, Sarah mau bersyahadat” “Apa…serius Sar?” Dewi ternganga. “Hehehehe…….” Dinda terkekeh. “Gila lo Sar….apa gue gak salah dengar?” Tanya Dewi. “Becanda kan Sar?…lo dah gak gila kan?…lo masih waras kan? Normal kan?” Sedertan pertanyaan itu meletup-letup dari dari mulutnya. Dari hatinya yang paling dalam, Dewi masih belum percaya. “Sar…Sekarang Sar bicara yang serius, sebenarnya untuk apa kami diajak ke sini…apa untuk mendengar yang lebay kayak gini? Dinda menyusul dengan tanya.
55

“Ya untuk itu. Untuk itu Sarah ajak kalian dua ke sini…dan hanya kalian berdua Sarah bisa percaya. Sarah juga yakin, kalian berdua bisa bantu Sarah” Sarah menatap lekat wajah kedua sahabatnya. Dewi dan Dinda tak dapat menahan haru. Antara gembira dan tidak percaya, marah dan bahagia, keduanya terdiam. Keduanya pun memandang lekat wajah Sarah, seakan-akan meminta kepastian. Menagih kebenaran. “Wi…Nda…dah lama Sarah memikirkan ini. Bergulat dengan ini. Sarah memutuskan jalan ini dengan menangis. Maafin Sarah, kalau selama ini Sarah gak jujur dan menyembunyikan semuanya ini. Karena Sarah gak mau kalau Wi dan Nda terlibat. Karena resikonya akan lebih besar” jelas Sarah. “Ya..ya..kami paham itu” “Ya..” Dewi dan Dinda memakluminya. Karena keputusan untuk bersyahadat dan memilih Islam menjadi agama adalah pilihan pribadi. Mereka pun sadar, jika mereka mengetahui ini sejak awal, maka mereka bisa diseret, suatu saat, sebagai penghasut. “Subahanaallah” “Alahu akbar”
56

Dewi dan Dinda menengadah. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Sarah akhirnya memilih menjadi penganut islam. Namun demikian, dari hati mereka yang paling dalam, masih terganjal pertanyaan yang belum tuntas dijawab. “Tapi bukan karena Azam kan Sar?” “Ya..ya, bukan karena dia maka Zar mau bermualaf kan?” Dewi dan Dinda kembali mengejar dengan tanya. Bagi keduanya ini bisa menjadi soal di kemudian hari. “Sarah mengenal Islam karena Azam…cintanya, kelembutan, perhatian dan kasih sayangnya kepada Sarah membuat Sarah berubah. Tetapi ketika Sarah ditinggalkan Azam, Sarah menjadi tak berdaya. Sarah menjadi benar-benar sebatang kara” Suara Sarah tampak kian berat. “Tapi, ketika Sarah memikirkan dengan matang…Sarah menjadi semakin yakin bahwa pengalaman perjumpaan dengan Azam hanyalah awal dari semuanya. Sarah perlahan-lahan mencoba meninggalkan cinta Sarah kepada Azam. Sarah menemukan keindahan cinta dan kebahagiaan dalam Islam. Sarah mencintai Allah dan Nabi-Nya Muhammad” Sarah menitihkan air mata. Ia benarbenar melepaskan semua rasanya.
57

Dewi dan Dinda pun tak dapat menahan keharuan yang sama. Keduanya pun menjatuhkan air mata. “Subahanaallah…Subahanaallah…Subahanaallah” Dewi dan Dinda melantunkan itu dengan gembira. “Wi..Nda…jangan tinggalin Sarah…Sarah mohon, tuntunlah dan dampingi Sarah…Sarah pasti akan mengalami banyak tantangan ke depan, tetapi Sarah harus memilih ini, sekarang…segala rahasia hidup Sarah hanya alam dan Tuhan yang tahu” “Amin…” “amin” Dewi dan Dinda bersahut-sahutan. Keduanya menenangkan Sarah beberapa saat. Hari sudah beranjak senja. Sebentar lagi waktunya berbuka. Dengan dada yang masih menggelantung tanya. Dengan rasa yang masih meletup-letup bimbang, keduanya pergi meninggalkan Sarah untuk segera menjumpai Azam. “Sar…kami berangkat sekarang ya? Keduanya pamit, kemudia bergegas tergesa-gesa membiarkan Sarah dalam kesendirian. Sarah mengangguk. Melepas senyum penuh haru. disampaikan Dewi dan Dinda tentu saja mengejutkan Azam. Dadanya bergetar. Jiwanya berontak. Hendak
58

ia menolak keputusan Sarah, dan mengatakan tidak atau jangan, tapi ia tidak kuasa. Ia tak dapat mengelaknya bukan hanya karena keputusan Sarah sudah bulat. Tetapi juga karena ia turut berperan dalam skenario kehidupan Sarah. “Ya Allah, ke dalam tangan-Mu kupasrahkan semuanya…sebab segalanya hanya Engkau yang tahu ya Allah” Sepanjang malam itu, Azam tak dapat memejamkan matanya. Bathinnya bergejolak. Bertubi-tubi datang pertanyaan yang tak tuntas dijawabnya. “Sarah…apakah engkau yakin dengan keputusanmu? Sudahkah engkau perimbangkan segala resiko yang akan mendera hari-harimu? Apakah sudah engkau katakan tentang maksud dan tujuanmu kepada kedua orang tuamu? Jika hanya karena aku engkau mengucapkan syahadat, maka segalanya akan menjadi sia-sia. Sarah, aku berharap bukan karena aku, engkau menjatuhkan keputusan ini” Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti. Membentur-bentur ruang kepalanya. Mencabik-cabik hatinya. Hendak ia bertafakur dalam khusuk, tetapi bathinnya meronta. Hendak ia pejamkan mata, tetapi kegelisahan itu membangunkannya. “Ya Allah…ya Rabb” Azam berpasrah. Di kamarnya, ia berjalan bagai mengelilingi kabah. Tasbih di tangannya tak ia lepaskan, walau bukan untuk apa59

apa, selain menjadi pelepas kesal. Sesekali ia memandang keluar jendela. Tak ada siapa, tak ada apa. Gelap. “Sarah…seharusnya bukan sekarang….bukan sekarang…bukan sekarang… Aku tahu kau akan melakukan itu. Dari hati kecilku yang paling dalam aku tahu kau akan memilih jalan ini. Aku pun tahu kalau kau tak akan pernah ingkar janji. Tetapi…. tetapi mengapa engkau melakukannya begitu cepat? “Dari hati kecilku yang paling dalam, aku berjanji bahwa aku tak akan pernah meninggalkamu. Tentang itu aku bersumpah…namun demikian aku berharap, semoga bukan karena aku, engkau mengambil keputusan ini. Sebab itu akan menjadi penghalang bagimu” “Ya Allah…ya Rabb…. ke dalam tangan-Mu kupasrahkan semuanya…sebab segalanya hanya Engkau yang tahu ya Allah” Gelisah Azam kian memuncak. Kescemasan kian mendera jiwanya. Ia benar-benar tak kuasa atas semua tanya yang menerjangnya. Segala sendi pada raganya bagai terlepas. Kepalanya berdenyut. Namun ia berusaha untuk tetap tenang. Beberapa saat ia terdiam. Mengosongkan segala tanya dari ruang kepalanya. Ia menyudahi perjalannya mengelilingi kamar. Menarik kursi dan menjejakkan duduknya. Azam mencoba menenangkan jiwanya.
60

Melepaskan kecemasannya perlahan. Ia pejamkan mata, menarik napas panjang. “Ya Allah….ya Allah…ya Allah” Kemudia Azam kembali diam. Larut dalam sepi malam. “Sarah…engkau pasti sudah sangat membenciku. Dan oleh karena itu bukan karena aku, engkau memutuskan ini. Tetapi mengapa engkau memintaku untuk menjadi pendampingmu. Ya…ya…aku yakin, engkau mau mengatakan kepadaku bahwa bukan karena aku. Ya, aku meyakini itu” Keraguan masih menyembul dari ruang kepalanya. “Sarah…menjadi seorang muslim berarti hanya mempercayai Allâh sebagai satu-satunya Allah. Itulah hakikat syahadat yang sesungguhnya dan utama. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan seseorang. Jadi dengan mengikrarkan syahadat, seorang muslim memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allah sebagai tujuan, motivasi, dan jalan hidup” “Sarah…syahadat juga merupakan pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allâh. Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allâh seperti yang disampaikan melalui Muhammad saw, seperti misalnya meyakini hadits-hadits Muhammad saw. Termasuk di dalamnya adalah tidak mempercayai nabi siapa pun setelah Muhammad saw”
61

Azam mencoba menguraikan sejatinya maksud syahadat. Sekedar untuk menenangkan jiwanya yang resah. Dan membangun keyakinan kalau-kalau, Sarah memutuskan untuk mengucakan syahadat adalah karena alasan seperti yang dimaksud kebanyakan mukmin. “Sarah…bukan karena aku, bukan? Karena demi Allah dan Nabi-Nya, maka besok, sehari sebelum 1 Syahwal 1431 H, tepat jam 10, seperti yang kau sampaikan, aku akan mendampingimu” Dari tempat duduknya, Azam menengadah. Memanjatkan doa. Memohon pertolongan dan petunjuk Allah. Kemudian, dengan gontai ia pindahkan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang. Bukan untuk pejamkan mata. Karena subuh sebentar lagi datang. Azam hanya melepaskan lelahnya. Setelah sepanjang malam bergulat dengan kecemasan, dan sekian pertanyaan yang tak tuntas dijawab. Tepat pukul 10 pagi, sehari sebelum 1 Syahwal 1431 Hijriyah, Sarah mengikrarkan syahadatnya, disaksikan Azam dan dua sahabatnya Dinda dan Dewi, serta keluarga besar pasantren Al Hidayah, Habib Ridzki, Umi Umayah, Nurillah, para pengasuh yang lain dan beberapa orang santri. Di hadapan ustazd Zainudin dengan wajah tenang dan hati yang rela, Sarah menyatukan dirinya dalam agama Allah lewat dua kalimat syahadat.
62

Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul/utusan Allah “Allahuakbar…” kata Sarah dalam hati. Beberapa menit setelah acara itu usai. Masjid Al Hidayah menjadi tempat terindah baginya di pagi hari itu. Pasantren keluarga Azam itu menjadi saksi bisu keajaibannya, yang disaksikan puluhan pasang mata penuh bahagia. Tampak, wajah Dinda dan Dewi berkaca-kaca, melepas senyum haru. Keterkejutan dan ketakyakinan mereka terbasuh ketika itu. Habib Ridzki, Umi Umayah dan Nurillah turut berbahagia. Ustaz Zainudin, guru agama yang selama ramadhan mengajarkannya tentang islam kepadanya, tampak pula berbahagia. Sementara Azam terpekur tunduk, larut dalam rasa yang masih terbelenggu ragu. Antara sesal, malu dan tak percaya melebur jadi satu. “Sarah, aku turut berbahagia atas kebahagiaan yang kau alami. Semoga Allah senantiasa memberimu hidayah. Dan hari ini aku menjadi yakin, jika
63

keyakinanmu itu adalah karena Ridho-nya dan bukan karena aku” Kata Azam dalam hatinya. Di atas sajadah cinta dan totalitas penyerahan diri yang tulus kepada Allah, Sarah tak lelah memanjatkan terima kasihnya. Ia yakin dan percaya bahwa Allah-lah yang telah membukakan pintu baginya. “Azam, segalanya telah berubah” kata hati Sarah ketika pandangannya membentur wajah Azam. Azam mencoba untuk menatapnya lekat, tapi Sarah segera mengalihkan perhatiannya kepada sahabat dan rekannya yang lain, yang sedang mengucapkan salam. Tak kuasa Azam menahan malu dan haru. Ia pun berlalu, dengan wajah lesu, kemudian menghilang di balik pintu. “Azam maafkah aku…ini bukan salahku. Aku dapat merasakan kelembutan dan kebaikan di matamu. Aku tahu semuanya adalah karenamu. Tapi tidak untuk hari ini dan hari-hari setelah hari ini. Karena sejatinya Allah adalah kekasihku” Padangan Sarah mengantar kepergian Azam. Hendak ia mengejar untuk mengatakan semuanya, agar segala rasa itu tuntas tertumpah. Tapi hendak itu mengurungnya. Azam telah menghilang dan dia pun sudah dilingkari salam bahagia kawan dan sahabatnya. Sarah pun larut dalam kebahagiaan dan kegembiraan itu, hingga hari meninggi, dan ketika ia
64

harus kembali ke kamarnya yang sepi. Namun dari hati kecilnya yang paling dalam, Sarah masih menyimpan janji. “Azam, aku akan mengatakan tentang semuanya. Mengapa aku menjadi berubah. Namun, perlu kau tahu, semuanya bukan karena aku membencimu. Tetapi justru, karena kau telah membuka mata hatiku dan mempertemukanku dengan kekasihku yang sungguh. Yaitu Allah saw” Idul Fitri adalah momen istimewa dimana segenap mukmin diajak kembali kepada dirinya sendiri, membersihkan hati dan membiarkan dirinya dimiliki Allah. Sarah meyakini itu sungguh. Penjelasan Ustazd Zainudin pada hari-hari belajarnya menguatkan keyakinan itu. Bahwa Idul Fitri adalah peristiwa fitrah bagi seoarang mukmin untuk bertemu dengan Allah. Sebuah momen perjumpaan yang ditunggu-tunggu oleh setiap mukmin setelah menjalankan puasa. Seperti yang disimaknya dengan sungguh dari yang dituturkan Ustaz Zainudin, bahwa Idul Fitri mengandung tiga hal penting. Yakni pertama, bahwa Idul Fitri merupakan peristiwa rasa penuh harap kepada Allah. Harapan pada pengampunan dosa dan salah. Sarah sudah melakukan pesan itu dengan sungguh. Puasa sudah dijalani dengan tekun dan serius. Ia menjalankan itu dengan tanpa celah. Kendati ia
65

belum sepenuhnya menjadi muslimah, tetapi sepanjang bulan suci ramadhan, kekhusukan itu sudah dibuktikannya. Momen Idul Fitri menjadi penting adalah juga sebagai kesempatan untuk melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang dilakukan telah sarat dengan makna, atau hanya sekedar menahan lapar dan haus semata. Ustaz Zainudin selalu berpesan kepadanya “Di siang bulan Ramadhan kita berpuasa, tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyak orang yang hanya sekedar berpuasa saja: Banyak

sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga“.”

Sarah pun menyadari itu sungguh. Segala risau dan kecemasan ia maklumi sebagai batu ujian Allah atasnya. Ia tidak hanya memaafkan dirinya sendiri, tetapi juga yang paling menyakitinya, yaitu Azam. Kekecewaan dan sakit hatinya atas Azam pupus. Dengan jiwa besar, Sarah memberikan pemaafan itu dengan ikhlas. Selanjutnya yang dipahami Sarah, kesempatan untuk yang sudah diraih. ketiga adalah, seperti yang momen Idul Fitri merupakan mempertahankan nilai kesucian Ustaz Zainudin, guru agamanya
66

yang baik hati dan penuh perhatian menjelaskan pula pesan itu kepadanya berulang: “Kita diharapkan agar tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, ketaqwaan kepada Allah harus terus dilanjutkan hingga akhir hayat” Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman,

bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam ” (QS.
Ali Imran: 102). Demikian Ustaz Zainudin mengutip ayat Quran, untuk menegaskan pesannya. Namun bagi Sarah, Idul Fitri, 1 syahwal 1431 H, menjadi moment yang paling berbahagia. Selain ketiga pesan yang disampaikan Ustazd Zainudin dijalani dengan sungguh sebagai ungkapan penyerahan dirinya yang tulus kepada Allah. Juga, hari-hari hidupnya menjadi lebih bermakna, karena Idul Fitri pada 1431 Hijriah merupakan yang pertama, terindah dan terbahagia. Menjadi yang pertama karena pada ketika itu, Sarah masuk dalam keluarga besar jemaat Islam, yang mengakui nabi besar Muhammad saw sebagai Rasul Allah. Menjadi yang terindah dan terbahagia karena ia menjadi muslimah, persis pada bulan suci Ramadhan. Bagi Sarah, itu adalah momen yang tak terlukiskan dengan kata.
67

Sudah sejak ia menjadi muslimah, hari-hari hidunya kian bergairah. Perpustakaan kampus tidak lagi menjadi ruang samadi. Taman kampus tak lagi menjadi tempat pelepasan gundah. Dewi dan Dinda, dua sahabatnya, tak lagi menjadi pelimpah beban. Kamarnya pun tidak lagi menjadi penjara. Alam pun menjadi sahabat setia dimana segala kebahagiaan dibagikan. Ketika langit cerah, menggelantung penuh bintang, walau bulan redup, ia tetap setia memandang. Dari balik jendela tak jenuh ia menengadah melepaskan niat-niat. Ia meyakini sungguh alam dan Tuhan mengetahui segala rasa dan hasratnya. Sepanjang hampir dua bulan itu, wajahnya kian cerah. Senyumnya kian menawan. Jelitanya menjadi kian tampak. Perubahan itu menjadikannya sebagai wanita terindah dan penuh bahagia. Keindahan dan kebahagiaan yang lahir dari jiwa yang ikhlas. Jiwa yang senantiasa mensyukuri nikmat Allah dalam dan untuk segala kehidupannya. Demikianlah Sarah, kian hari hidupnya kian mekar bagai bunga. Ia tumbuh dan berkembang menjadi muslimah yang kian hari kian kaya dalam pengetahuan dan iman. Ia tekun beribadah, rajin menghafal dan melafalkan aya-ayat suci Al-Quran, pun pula tidak mengeluh melaksanakan amal kasih. Pada pergaulan ia semakin diterima, baik di kampus maupun dalam lingkungan sosial masyarakat
68

Malabiah. Ia tidak hanya dikenal sebagai pribadi yang cerdas, tetapi juga penyayang, ramah dan murah senyum. Pribadi yang solehah. Ia dikagumi setiap laki-laki, dicintai, tetapi juga disegani karena keramahan dan penampilannya yang santun. Semuanya benar-benar berubah. Siapa pun bagai tak lagi mengenal sosok Sarah Ling. Bahkan, bukan hanya dirinya sendiri yang hampir melupakan nama itu. Nama Tionghoa yang diberikan orang tuanya 17 tahun silam. Tetapi juga, semua sahabat dan kenalannya. Semuanya bagai pergikan masa lalu itu. “Azzahara” Itulah nama yang dipilihnya ketika menjadi seorang muslimah. Dan sudah sejak itu pula ia dipanggil Zahra. Sebuah nama, yang oleh Ustazd Zainudin, guru agamanya, meramalkan akan menempatkannya sebagai salah satu „anggota keluarga‟ kesayangan Nabi Muhammad “Aku ingin menjadi bagian dari keluarga Nabi. Menjadi seperti Siti Fatimah Azzahara, putri bungsu kesayangan Rasulallah s.a.w.” Tekad Sarah atas plihan namanya itu. Demikian kisah mula-mula Sarah memilih mengganti namanya menjadi Azzhara. Nama itu tidak hanya memberikannya motivasi untuk menjadi pribadi yang tampil menawan dan jelita secara fisik, yang dalam
69

pergaulannya selalu hadir bagai bunga yang mekar semerbak (az-zahara). Tetapi juga menjadi pribadi yang selalu memancarkan pula kesetiaan dan ketaqwaan kepada Allah. Pribadi yang khusuk dan setia beribadah serta tekun menjalankan nilai-nilai islami. Ia hendak menjadi pribadi yang tulus berbagai kasih, pun pula sederhana serta tetap sabar dan tegar walau diterpa aneka badai masalah yang sudah dan mungkin bakal terjadi. “Aku mau menjadi seperti Siti Fatimah Azzahra yang telah mengorbankan seluruh hayatnya untuk kepentingan Islam dan Ummatnya, baik dalam suka maupun dalam duka” “Tidak hanya itu. Siti Fatimah digelari Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab, hasab dan nasab…Aku mau belajar menjadi seperti itu” Berulang Zahra memanjatkan niatnya itu. Pada setiap saat dan kapan saja. Kebahagiaan itu seperti akan segera sudah. Sesuatu yang mengganjal ruang dadanya tiba-tiba menyeruak ke permukaan. Hatinya gundah. Alur duka sepertinya mulai datang menggelombang. Zahra menyadari itu, bahwa segala duka akan menghadangnya. Duri-duri kehidupan akan dilaluinya.
70

“Ya Allah…hanya Engkau yang tahu tentang segala rahasia hidupku” Zahra melepas keluh dengan harap. Di depan pintu gerbang Zahra termangu. Ia menatap lekat rumahnya, sambil perlahan menanggalkan jilbabnya. Selalu seperti itu, ia menyembunyikan dirinya dari perhatian keluarganya. Ia tak hendak kakek dan neneknya mengetahui statusnya. Bahwa sudah hampir dua bulan ia menjadi muslimah. “Di sini di rumah ini aku tak dapat menjalankan semuanya. Aku mengalami secara perlahan kalau rumah ini bagai penjara” Ia melangkahkan kakinya perlahan. Tapaknya berat. Ia seperti memasuki sebuah tempat yang tidak lagi memberikan kebahagiaan. “Ya Allah…” Pintunya dibukakan perlahan. Penuh hati-hati. Ia tidak hendak mengagetkan kakek dan neneknya yang sedang asyik bercengkarama di seberang taman. Selalu seperti itu ketika hari menjelang senja. Jika bukan mengisahkan tentang keagungan budaya Tionghoa, maka yang diksahkan adalah tentang masa lalu mereka. “Opa, oma, maafkan Zahra” Zahra menaiki tangga, menuju kamarnya. Di atas tempat tidurnya yang rapi tertata, ia merebahkan raganya yang lelah. Dalam dadanya masih berkecamuk rasa yang belum tuntas dijawab.
71

“Ya Allah Ya Rabb…bagaimana aku harus jujur mengatakan tentang semuanya ini. Bagaimana aku harus jujur mengatakan kepada opa dan oma, juga kepada papa dan mama yang berada nun jauh di sana” Zahra merenungkan semuanya. Ia berada dalam saat yang berat. Hendak ia mengatakan dengan terang kepada keluarganya, maka kehidupannya akan berantakan. Ia tidak hanya diumpat, tetapi juga dimarahai dan dibenci. Ia tidak hanya tidak diakui sebagai anggota keluarga, tetapi akan diusir dari keluarganya sebagai pecundang, pengkhianat dan anak durhaka. “Oma opa, mama papa, aku sayang kalian semua. Aku mencintai kalian semua. Aku tak mau ninggalkan kalian semua” Mata Zahra berkaca. Dari hati kecilnya yang paling dalam. Zahra sebenarnya takut. Rasanya ciut di hadapan keluarganya. kakeknya adalah seorang yang berpendirian keras. Biacaranya meledak-ledak. Kesehariannya memang tampak tidak mempedulikan keluarga. Kakeknya lebih setia mengurusi bunga dan taman, tetapi sesungguhnya dia adalah seorang kakek yang penyayang. Kepada Zahra pun ia rela memberikan apa pun yang diminta, jika itu bertujuan untuk kuliah dan masa depan. Demikain juga dengan Neneknya. Neneknya adalah pribadi sabar dan penuh perhatian. Tidak
72

banyak kata keluar dari mulutnya. Neneknya adalah seorang yang tenang. Tetapi senyum dan matanya memberikan kebahagiaan yang besar buat Zahra. “Ya Allah….” Zahra benar-benar pasrah. Ia benarbenar berada dalam situasi yang sulit. “Mengapa aku harus melalui semuanya, ya Allah…berikan petunjukMu ya Allah agar aku dapat mengatakannya semua. Ya Allah, apakah harus sekarang?” Cemas, ragu dan takut kian berkecamuk. Kendatipun ia menyadari bahwa mengatakan semuanya secara jujur adalah tindakan yang berbahaya. Tetapi akan lebih berbahaya jika harus berlarut-larut dalam beban yang tak memberikannya jalan keluar. “Ya Allah, aku tidak sanggup mengatakan semuanya sekarang. Aku tidak sanggup. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini. Aku takut dengan diriku sendiri…Ya Allah, berikan petunjuk-Mu” Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Kemudian turun menyapu dinding-dindingnya. Matanya menatap sekelilingnya. Tak ada tanda yang memberikannya jalan keluar. Semuanya kaku, bisu dan sepi. Ia pejamkan mata. Meresapi semua tanya, menyelami segala segala cemas, mendalami seluruh takut. Ia memaknai pilihanya. “Ya Allah, Zahra yakin dan percaya bahwa Engkau akan memberikan aku hidayah-Mu”
73

Sepenggal harap itu adalah doanya. Ia memanjatkan itu dengan air mata. Dengan penuh pasrah dari balik dada yang lapang dan tulus. “Aku yakin Ya Allah, aku adalah Az-Zahra” Perlahan ia membuka matanya. Kembali ia melepas pandang menyapu sekitar. Matanya memandang pigura-pigura dengan lukisan-lukisan masa lalunya yang penuh kenangan. Di kamarnya ia menyaksikan dunianya. Di kamarnya ia menuliskan sejarah hidupnya. Dari dan dalam kamar segala cerita ada setiap harinya bermula, tidak hanya tentang kisahkisah bahagia, tetai juga tentang cerita-cerita duka. Pandangannya tiba-tiba berhenti di atas meja belajarnya. “Azam”. Ia menatap lekat ke arah bingkai perak itu. Senyum Azam seperti memberikannya tanda. Memberikannya jalan keluar. Memanggilnya untuk membagi beban. “Assalamualaikum” ucapan salam Zahra membuyarkan konsentrasi Azam dan Nurillah, yang sedang serius mendengarkan nasehat Habib Ridzki. Keduanya berpaling. “Waallaikumsalam” jawab ketiganya serempak. “Hy, Zahra…silahkan masuk” Sapa Nurillah ketika membukakan pintu. Keduanya berpelukan bagai kawan lama yang tak pernah bersua. Habib Ridzki
74

meyambutnya dengan senyum, membisu dengan wajah bingung.

sedang

Azam

“Maaf Abi kalau kedatangan Zahra mengganggu, karena sepertinya Abi, Azam dan Nurillah sedang serius” Zahra memandangi Abi dengan memohon. “Tidak apa-apa Zahra. Abi hanya memberikan nasehat-nasehat kecil buat Azam dan Nurillah. Buat anak-anak muda. Supaya mereka benar-benar setia dan taqwa kepada Allah, bukan hanya dalam kata, tetapi juga dalam tindakan, dalam pergaulan keseharian hidup mereka” jelas Habib Ridzki. “Amin” Zahra mengangguk sambil melepas senyum. “Ya, termasuk Zahra juga. Tetapi, Abi pikir Ustaz Zainudin sudah mengajarkan banyak hal kepada Zahra, bukan begitu Zahra?” “Alhamdulillah Abi. Tapi selama satu minggu ini Ustaz Zainudin sedang ke Solo, jadi Zahra untuk sementara tidak mendapat bimbingannya” “Oh ya, tidak apa-apa, Zahra bisa datang ke sini untuk sementara waktu, Abi bisa bantu. Tetapi kalau Abi lagi sibuk atau keluar kota, kan masih ada Azam atau Nurillah” “Insyaallah” jawab Azam dan Nurillah serempak.

75

“Terima kasih banyak Abi, Azam dan Nurillah yang mau menolong Zahra” puji Zahra tulus. “Tetapi, sebenarnya kalau Abi mau tahu, sebenarnya ada maksud apa Zahra datang kemari?” tanya Habib Ridzi ingin tahu. “Karena sudah hampir dua bulan kita tidak bertemu. Sepertinya ada sesuatu yang penting” lanjutnya. “Pertama-tama Zahra mau meminta maaf kepada Abi, maksud kedatangan Zahra sebenarnya mau bertemu dengan Azam, karena ada hal kecil yang hendak Zahra sampaikan kepada Azam” jawab Zahra. Zahra mencoba berbohong, karena ia tidak mau merepotkan Habib Ridzki dengan masalahnya. Habib Rizki mengangguk-angguk. Sementara Azam tampak mengernyitkan dahinya. Nurillah yang persis berada di samping Zahra hanya tersenyum. “Jadi bukan dengan Abi ya? Ha..ha” Habib Ridzi melepas canda. “Oke kalau begitu. Zahra, Abi tinggal dulu ya. Sebentar lagi jam lima dan Abi harus menjemput Umi di Al-Hikam…” Pamit Habib Ridzki. Zahra berdiri memberikan salam. Mengangguk sambil melepas senyum. Sedang Azam yang masih duduk terpaku tampak bingung. Azam tidak mengira jika kehadiran Zahra adalah ingin menjumpainya. Nurillah yang duduk persis di samping Zahra tampak sangat bahagia. Tidak ada kecemasan pada raut wajahnya. Bahkan, ia pun sengaja pergi
76

meninggalkan Zahra dan Azam, agar keduanya dapat dengan leluasa berbicara. “Zahra” sapa Azam. “Ya Azam” jawab Zahra. Hanya itu. Tidak ada tanya, pun tidak ada jawaban lagi. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Di hadapan Azam, mulut Zahra bagai terkunci. Ia duduk mematung. Walau pandangannya lekat menatap Azam. Demikian juga dengan Azam. Hendak ia menanyakan maksud dan tujuan kedatangan Zahra. Tetapi kedua belah bibirnya terasa berat. Ia tidak hanya terpaku oleh keraguan, tetapi juga oleh rasa bersalahnya. “Zahra…apakah ada yang dapat saya bantu?” Azam mencoba memberanikan diri. Ia mencoba berani mengalahkan tatapan mata Zahra. Sebab ia tahu, di balik mata Zahra ada harapan. Tetapi harapan itu jauh lebih besar dari sekedar harapan akan cinta darinya. “Ya Azam, Zahra mau Azam membantu memberi solusi, walau untuk sekali ini saja” jawab Zahra. Kemudian Zahra menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya. Menjelaskan segala resiko dan tantangan yang nantinya dihadapinya. Dan berharap semoga Azam memberikan solusi dan dan jala keluar untuk masalah yang dihadapinya.
77

“Maafkah Zahra, karena Zahra sudah memberikan beban bagi Azam untuk berpikir” “Astaqfirullahalazim…” Azam melepaskan istiqfar setelah mendengar semua penjelasan Zahra. “Zahra, Azam akan mencoba berusaha membantu Zahra sejauh kemampuan Azam” “Namun, jika Zahra tidak keberatan, besok kita bisa bertemu lagi untuk mendiskusikan tentang hal ini. Azam bukan tidak mau membantu Zahra sejarang, tetapi sebentar lagi akan segera magrib”. Jelas Azam. Bagi Azam, permintaan Zahra adalah kesempatan baginya untuk mengobati semua rasa bersalahnya kepada Zahra. Ia menyambut permintaan Zahra dengan antusias. Kecemasan di raut wajahnya tibatiba menghilang. Ia tampak sangat berbahagia. Walau sebenarnya dari hati kecilnya yang paling dalam kembali terbersit api cinta. Namun, sengaja ia sembunyikan itu dengan alasan yang masuk akal. Agar Nurillah tidak curiga dan ia pun bisa membantu Zahra dengan lebih leluasa. “Alhamdulillah” Zarah memanjatkan syukur kepada Allah “Terima kasih Azam, sudah mau mendengar dan bersedia memembantu Zahra” kata Zahra lebih lanjut. Kemudian ia mengucapkan salam dan pamit. Dalam perjalanan pulang, Zahra tak henti melepas senyum, seakan-akan segala beban hilang seketika.
78

Ia hanya berharap semoga Azam dapat mengurangi beban yang akan dideritanya. Walau sebenarnya, dari heti kecilnya yang paling dalam kembali terbersit api cinta. Namun, sengaja ia sembunyikan itu dengan alasan yang masuk akal. Agar Nurillah tidak curiga dan ia pun bisa dengan lebih leluasa berjumpa Azam. Seusai jam kuliah, Zahra langsung menemui Azam di Al Hidayah. Namun yang dijumpainya hanya Nurillah yang baru saja membubarkan anak-anak seusai belajar sore. “Bang Azam, Abi dan Umi sedang dalam perjalanan pulang dari Al Hikam” jelas Nurillah “Jadi, Zahra bisa tunggu sebentar” lanjutnya Zahra mengangguk. Kemudian mereka larut dalam cerita, entah tentang keseharian Nurillah di Al Hidayah, maupun tentang keseharian Zahra setelah menjadi muslimah. Tidak luput pula keduanya becerita tentang mimpi-mimpi mereka, termasuk tentang sosok pendamping hidup yang mereka idamidamkan. “Isnyaallah, sebelum Azam berangkat ke Cairo, kami akan melangsungkan pernikahan” jelas Nurillah. “Studi Azam ditunda sampai pertengahan tahun depan, jadi mungkin nanti pada Maret atau April kami melangsungkan pernikahan”

79

Wajah Zahra tiba-tiba berubah. Ia bagai disambar petir. Rasanya menyengat-nyengat. Hendak berteriak sekeras-kerasnya “Tidakkkkkkkk!!” tetapi ia tak kuasa. Ia tidak hendak kebahagiaan Nurillah pecah berantakan. Ia tidak sudi Tentang masa sebenarnya dari ia mengatakan menjadi lepas. Nurillah mengetahui segalanya. lalunya bersama Azam, walau hatinya yang paling dalam, hendak itu denga jujur, agar semuanya

“Oh..” hanya sepatah kata itu yang terontar dari kedua belah bibirnya. Bagai tak percaya, ia melanjutkan dengan tanya. “Mengapa harus Azam?” “Bang Azam adalah segalanya bagi Nurillah. Dia tidak hanya tampan dan cerdas. Tetapi juga penuh perhatian dan kasih sayang. Tutur katanya lembuh, itu meneduhkan buat Nurillah” Jelas Nurillah memberi alasan. “Bang Azam adalah juga pribadi yang ramah dan soleh. Nurillah sangat berbahagia memiliki pendamping seperti bang Azam” puji Nurillah berulang. Wajah Zahra memerah. Ia merasa kalah ditimpatimpa oleh rasa yang kian gundah. Matanya berkaca, hendak ia menumpahkan air matanya. Namun, ia
80

mencoba memendamnya. Ia tidak hendak mengusik senyum Nurillah. Dalam hati kecilnya yang paling dalam, Zahra hanya dapat memanjatkan harap “Ya Allah, mengapa rasa ini belum juga pergi. Haruskah aku terus menanti tentang sesuatu yang sepertinya tidak pasti. Sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain” Zahra melepaskan pandangannya jauh ke dalam rasa. Ia melihat masa lalunya dengan layu. Tentang kenangannya bersama Azam, entah ketika di bawah purnama maupun ketika dalam cengkerama di beranda rumahnya. Semuanya terekam jelas. Zahra mengingat semuanya.Tapi semuanya bagai melayang, ergi entah ke mana. “Ya Allah, mengapa semuanya pergi begitu cepat, dan mengapa pula aku harus menanti dalam ketidakpastian. Azam…andai kau tahu rasa hati ini…dan andai kau pun jujur dengan kata hatimu. Semuanya menjadi sempurna. Antara kita tidak ada jarak tersiksa. Kita tidak akan bergulat dengan duka. Dan hari-hari hidup kita tidak melulu berlinang air mata. Tapi…” “Zahra” Lamunan Zahra buyar. Nurillah memandangnya penuh tanya. Sembab mata Zahra membuat Nurillah bertanya. Garis-garis wajah Zahra, membuat Nurillah cemas. Ada sebuah rahasia yang terekam di balik jilbab jingga Zahra.
81

Apakah tentang Azam? Mengapa wajah Zahra tibatiba berubah ketika dirinya bercerita tentang Azam? Mengapa Zahra terperanjat? Nurillah mencoba menebak-nebak. Wajahnya pun tiba-tiba berubah. Ada rahasia yang membuatnya tidak melanjutkan cerita. Keduanya jatuh dalam diam yang sama. Zahra menjadi tak berdaya. Sementara Nurillah menjadi kian cemas. “Zahra…mengapa ngelamun?” memberanikan diri. Nurillah mencoba

“Tidak…tidak apa-apa” Jawab Zahra mengada-ada. “Hanya kepalaku sedikit sakit..sepertinya migren” Tambahnya memberi alasan. Tapi Nurillah tidak lekas percaya. Nurillah menyimpan semua rahasia itu dalam dadanya. Ia memendamkan semuanya. Mungkin dia salah menebak. Mungkin pula benar. Tetapi semuanya dibiarkan, dilepaskan. Hanya dirinya sendiri yang mengetahui kegundahan itu. “Oh…itu mereka sudah datang” Kata Nurillah kepada Zahra. Keduanya memandang ke arah pintu gerbang Al Hidayah. Azam, Umi Umayah dan Habib Ridzki mendekat, mengucapkan salam dengan senyum tertebar. Tetapi tidak bagi Azam. Dadanya bagai sesak. Rasanya gundah. Ia terperanjat. Ada sesuatu yang sudah terjadi antara Zahra dan Nurillah. Ia
82

memperhatikan keduanya dengan saksama. Wajah Zahra yang sembab, seperti sedang menumpahkan duka. Tatapan Nurillah yang cemas dan sinis, seperti menagih kejujuran. Tanpa kata terucap, Nurillah tiba-tiba meninggalkan mereka. Azam mengikuti langkah Nurillah dengan padangan yang cemas. “Ya Allah…apa yang sudah terjadi. Apakah Zahra sudah menumpahkan semua rasanya?” kata Azam dalam hatinya. Ia begitu cemas dan gugup. Ia menjadi ciut. “Abi..Umi…Zahra pamit, hari sudah sore” Zahra mengucapkan salam dan pamit. Ia tampak tergesagesa. Kepada Azam pun ia tidak tinggalkan pesan. Di depan teras rumah Habib Ridzki, segala tanya berkecamuk. Umi Umayah dan Habib Ridzky tampak kebingungan. Azam sudah bisa menduga, jika semuanya akan menjadi berantakan. Dadanya kian sesak. “Aku harus mengatakan semuanya…aku harus jujur denga kata hatiku…Nurillah maafkan aku..” katanya dalam hati, kemudian pergi meninggalkan teras rumahnya yang sepi. Habib Rizky dan Umi Umayah menyusulnya masih dengan segenggam tanya. Keduanya berpandangan. Menggelengkan kepala. “Mmmm…” Malam tiba. Dengan tanya yang masih merasuk. Azam, Zahra dan Nurillah jatuh dalam pelukan
83

malam dan berstereu dengan tanya-tanya itu. Tidak tenang. Ketiganya bergulat dengan diri mereka sendiri dalam sepi dan kesendirian. Ketiganya bergulat dengan rasa, tentang satu soal, cinta. Azam bergualat dengan ketakutan dan kecemasan. Nurillah bergulat dengan penasaran. Sedang Zahra bergulat dengan kenangan dan kepahitan. Malam itu ketiga bersama berharap menemukan jalan. *** Azam tak dapat lagi menyembunyikan rahasianya yang terdalam. Bahwa ia masih mencintai Zahra. Dan ia harus mengatakan itu dengan jujur kepada Zahra, bukan cuma supaya segala rasa terpendam itu lepas, tetapi juga supaya segala rahasia menjadi nyata. Namun, pada saat yang sama, Nurillah adalah kekasihnya. Dan tentang itu, ia tidak hanya telah memberikan harapan yang besar kepada Nurillah, tetapi karena relasi cinta yang sama, silatarim Al Hidayah dan Al Hikam tetap terjaga. Pergulatannya kian memuncak ketika ia harus mengatakan semua rahasia ini kepda Zahra dan Nurillah. “Ya Allah…aku tidak tahu apa yang mesti aku perbuat” Azam berpasrah. “Aku tidak akan melukai Nurillah, dan aku pun tidak akan membuat Zahra tetap menderita” lanjutnya.

84

“Nurillah sedang berbahagia. Kelompak cintanya sedang mekar. Ia bagai bunga yang tumbuh segar dalam taman yang tepat. Dan karenanya, aku tidak hendak melukai kebagiaannya” Azam menimbang dengan rasa. “Dan kau Zahra…cintamu masih tetap menyala, walau dalam ketidakpastian. Engkau telah melewati dengan sabar, melampaui apa yang dipikirkan manusia. Cintamu tulus, sayangmu lapang. Dan aku tidak hendak membuatmu terus menderita. Karena aku tahu semuanya adalah karena aku” Nurillah dan Zahra, dua pribadi yang dengan caranya masing-masing memberikan keajaiban bagi Azam. Melukai dan atau menambah luka bagi salah seorang dari keduanya, adalah dosa yang tak terampuni. Dia bukan hanya disebut pecundang, tetapi juga lelaki tidak berguna. “Haruskah aku memilih?” Tanya Azam kepada dirinya sendiri. Tidak. Aku tidak sedang dihadapkan pada pilihan. Aku sedang diuji untuk menjadi ribadi yang tegas. Mengatakan tidak kepada yang satu, dan mengakui cinta kepada yang lain. Cinta memang tidak untuk dimiliki dan memiliki. Tetapi aku harus mengakui bahwa dalam diri keduanya, baik Zahra maupun Nurillah ada cinta yang menyala. ***
85

Di seberang kamar. Nurillah tampak murung. Ada sebuah rahasia dalam dadanya yang belum tuntas dijawab. Siapakah Zahra bagi Azam. Siapakah Azam bagi Zahra. Mengapa antara keduanya begitu dekat. Pandangan mata mereka begitu menyatu. Adakah keduanya punya masa lalu yang indah kemudian terluka. Nurillah mencoba memutar kembali ingatannya. Ia melepaskan semua ingatan itu dalam tanya. Mengapa Zahra meminta Azam menjadi pendampingnya ketika menjadi seorang muslimah. Mengapa Zahra mengunjungi Al Hidayah dan ingin menjumpai Azam. Mengapa, dalam saat-saat tertentu sikap Azam begitu dingin terhadapnya. Mengapa Azam selalu memancarkan wajah bersalah ketika berjumpa Zahra. Mengapa Zahra memandang Azam dengan begitu berharap. “Astaqfirullahalazim” Nurillah beristiqfar. Tidak. Nurillah mencoba mengusir semua dugaannya. Ia merasa bersalah telah mencurigai Zahra dan Azam, sebelum mengetahui segala rahasia. Azam tidak mungkin melukainya, demikian juga Zahra. Jika keduanya punya masa lalu yang indah. Itu adalah masa lalu mereka. “Ya, itu bukan menjadi urusanku. Jika mereka pernah jatuh cinta. Itu adalah masa lalu mereka. Sekarang adalah sekarang. Dan itu tak akan pernah kembali” Nurillah mencoba menguatkan hatinya.
86

*** Malam yang kian larut, dari balik jendela kamar, Zahra melepas pandang ke langit lepas. Dingin gerimis menyapu wajahnya yang lunglai. Tapi ia tidak beranjak. Bersama gerimis yang jatuh perlahan, ia menitihkan air mata. “Ya Allah..ya Rabb…terlalu sakit bagiku untuk melalui semuanya ini. Kau mengujiku bertubi. Kau mencobaiku berulang. Aku tahu itu. Aku meyakini itu dengan sungguh. Dari karena aku percaya kepadaMu, bahwa Engkau pasti akan menolongku, maka aku berani memilih jalan ini” Zahra membayangkan semuanya. Masa lalunya ketika kanak-kanak. Masa indahnya bersama Azam, juga dukanya. Kegembiaraan dan kebahagiaanya menjadi muslimah, juga air matanya melelwati pilihannya itu. Semuanya melebur menjadi satu dalam sakit. “Ya Allah…Ya Rabb…bagaimana aku harus melupakan semua kisah indahku bersama Azam. Sudah kucoba untuk meninggalkannya dalam malam-malamku. Tetapi dalam mimi-mimpiku ia hadir menjadi nyata. Ia begitu dekat” Wajah Zahra ian baswah, bukan hanya karena gerimis yang diterpa angin malam, tetapi juga karena air matanya yang berguguran. Hendak ia melupakan semua, melenyapkan segala duka. Tetapi
87

duka itu serupa kian mendekat, menghujam-hujam dadanya. “Ya Allah..Ya Rabb…berikan aku keikhlasan dan kerelaan untuk melupakan Azam. Biarkan Engkau mengajariku bagaimana aku harus mencintai-Mu, tanpa ia hadir mengganjal hari-hariku. Aku mau mencintai-Mu dengan tulus hati, tanpa harus diintip dengan masa lalu yang ngeri” “Ya Allah…” *** Malam itu, dalam kesendirian mereka. Ketiganya berseteru dengan rasa. Masing-masing melukiskan kisah mereka. Azam bergualat dengan ketakutan dan kecemasan. Nurillah bergulat dengan penasaran. Sedang Zahra bergulat dengan kenangan dan kepahitan. Namun ketiganya punya jalan, ketiganya berpasrah kepada Allah. Tidak seperti biasa Nurillah terlambat memulai aktivitas rutinnya. Para santriwati sudah berkumpul. Dari ruangan terpisah Azam sesekali menyembulkan kepalanya, mencoba memastikan Nurillah sudah hadir atau belum. Namun, hingga tiga puluh menit berlalu, Nurillah belum juga menunjukkan dirinya. “Ya Allah, kemana Nurillah”

88

Azam mencoba menebak. Mungkin karena peristiwa kemarin sore. Mungkin Nurillah sudah mengetahui semuanya. Mungkin Nurillah kecewa. Sehingga memutuskan untung mengurung diri di dalam kamar, atau mungkin saja pergi ke Al Hikam. “Asalamuallaikum adik-adik” “Wallaiukum salam kakak” Azam tersenyum. Nurillah akhirnya datang juga. Tetapi tidak seperti biasanya. Wajah Nurillah pagi itu tampak sembab, seperti baru saja menitihkan iar mata. Penampilannya pun biasa, tidak secantik harihari sebelumnya. Tampak seperti tidak berdandan. Tetapi di hadapan santriwati, Nurillah tetap tampil seperti biasa. Ia meminta maaf atas keterlambatannya dan memberikan alasan yang cukup masuk akal, bahwa ia sedang mencari buku pelajaran yang entah di mana ia letakkan. Para santriwati memaklumi itu. Sedang, di sebelah ruangan, Azam menjadi tidak tenang. Ia was-was. Hingga pelajaran pagi itu usai 30 puluh menit kemudian, Azam masih tampak cemas. Pun ketika Nurillah pergi meninggalkan para santriwati tanpa mengucapkan salam kepadanya, hati Azam menjadi kian gundah. Azam menyusulnya hingga ke perpustakaan. Meminta Nurillah untuk mendengarkan duduk
89

masalah yang sebenarnya. Azam semakin yakin jika karena peristiwa kemarin sore yang membuat Nurillah tampak tidak ramah pagi hari itu. “Nurillah” sapanya. Namun Nurillah tidak menjawab. Ia berdiri mematung. Matanya menatap lekat wajah Azam. Tampak jelas kemarahan di matanya. “Nurillah” Nurillah berlalu, menyisir rak-rak buku. Mencai-cari. Tidak peduli. “Nurillah…Abang ingin mengatakan sesuatu tentang kemarin sore” Nurillah berhenti. Ia memalingkan wajah. Tetapi ia mencoba mengelak. “Sudah jelas bang…Nurillah tahu apa yang terjadi antara bang Azam dan Zahra. Yang membuat Nurillah ingin tahu adalah mengapa abang tidak pernah jujur kepada Nurillah sebelumnya?” wajahnya memerah. Kelembutannya seketika hilang. “Nurillah, Zahra adalah kisah masa lalu abang. Sekarang antara abang dan Zahra sudah tidak ada apa-apa lagi. Tetapi mengapa Nurillah menjadi marah seperti ini?” Azam mencoba menjelaskan.
90

“Jika benar Zahra adalah masa lalu abang, mengapa abang selalu cemas ketika berhadapan dengan Zahra. Mengapa tingkah dan tutur kata abang menjadi berbeda ketika berhadapan dengan Zahra. Mengapa Zahra meneteskan air matanya ketika Nurillah mengatakan akan menikah dengan Abang…Nurillah mohon suapaya abang jujur, sebelum semuanya terlanjur bang?” pinta Nurillah memohon. Azam terdiam beberapa saat. tenang. Mencoba untuk

“Nurillah…dulu antara abang dan Zahra saling mencintai. Tetapi kemudian karena alasan keyakinan abang meninggalkannya. Nurillah tahu kan…kalau Zahra bukan seorang muslimah. Tidak mungkin abang memilihnya menjadi kekasih. Namun, yang membuat abang selalu merasa cemas ketika berhadapan dengan Zahra adalah karena abang meninggalkan Zahra dalam ketidakpastian” Azam mencoba menjelaskan semuanya. “Jangan pernah membohongi hati seorang wanita bang…Nurillah adalah juga seorang wanita. Nurillah tahu kalau abang masih mencintai Zahra. Apalagi sekarang Zahra sudah menjadi seorang muslimah. Bukankah itu semua karena abang? Abang telah memberi harapan yang besar kepadanya?” Azam terdiam. Nurillah bertubi pertanyaan. menghujamnya dengan
91

“Nur….” “Cukup bang…penjelasan abang sudah cukup buat Nurillah” Nurillah memotongnya “Sekarang Nurillah minta kepada abang, supaya jujur kepada Nurillah…apakah abang masih mencintai Zahra atau tidak?” lanjutnya dengan tanya. “Nur…” “Jawab bang….ya atau tidak” kejar Nurillah. Nurillah tampak tidak sabar. Ia begitu gusar. Kelembutannya benar-benar hilang. Kecantikannya tiba-tiba raib. Sifat asalinya sebagai wanita yang keras tampak begitu nyata. Azam menatapnya lekat. Bibirnya bergetar. Ada kekesalan yang muncul dalam dadanya setelah melihat ketidaksabaran Nurillah. Ia tidak menyangka, kalau Nurillah begitu gusar. Karenanya, Azam mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Nurillah. Azam membalikkan badannya kemudian pergi. Nurillah ditinggalkannya sendiri. Azam tidak peduli.

92

93

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->