P. 1
Biografi Imam Hanafi

Biografi Imam Hanafi

|Views: 201|Likes:
Published by Bee Husna

More info:

Published by: Bee Husna on Apr 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/26/2014

pdf

text

original

http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-imam-hanafi.htmlhttp://kolombiografi.blogspot.

com/2009/01/biografi-imam-hanafi.html Biografi Imam Hanafi Imam Abu Hanifah yang dikenal dengan dengan sebutan Imam Hanafi bernama asli Abu Hanifah Nu‟man bin Tsabit Al Kufi, lahir di Irak pada tahun 80 Hijriah (699 M), pada masa kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Beliau digelari Abu Hanifah (suci dan lurus) karena kesungguhannya dalam beribadah sejak masa kecilnya, berakhlak mulia serta menjauhi perbuatan dosa dan keji. dan mazhab fiqhinya dinamakan Mazhab Hanafi. Gelar ini merupakan berkah dari doa Ali bin Abi Thalib r.a, dimana suatu saat ayahnya (Tsabit) diajak oleh kakeknya (Zauti) untuk berziarah ke kediaman Ali r.a yang saat itu sedang menetap di Kufa akibat pertikaian politik yang mengguncang ummat islam pada saat itu, Ali r.a mendoakan agar keturunan Tsabit kelak akan menjadi orang orang yang utama di zamannya, dan doa itu pun terkabul dengan hadirnya Imam hanafi, namun tak lama kemudian ayahnya meninggal dunia.

Pada masa remajanya, dengan segala kecemerlangan otaknya Imam Hanafi telah menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hukum islam, kendati beliau anak seorang saudagar kaya namun beliau sangat menjauhi hidup yang bermewah mewah, begitu pun setelah beliau menjadi seorang pedagang yang sukses, hartanya lebih banyak didermakan ketimbang untuk kepentingan sendiri. Disamping kesungguhannya dalam menuntut ilmu fiqh, beliau juga mendalami ilmu tafsir, hadis, bahasa arab dan ilmu hikmah, yang telah mengantarkannya sebagai ahli fiqh, dan keahliannya itu diakui oleh ulama ulama di zamannya, seperti Imam hammad bin Abi Sulaiman yang mempercayakannya untuk memberi fatwa dan pelajaran fiqh kepada murid muridnya. Keahliannya tersebut bahkan dipuji oleh Imam Syafi‟i ” Abu Hanifah adalah bapak dan pemuka seluruh ulama fiqh “. karena kepeduliannya yang sangat besar terhadap hukum islam, Imam Hanafi kemudian mendirikan sebuah lembaga yang di dalamnya berkecimpung para ahli fiqh untuk bermusyawarah tentang hukum hukum islam serta menetapkan hukum hukumnya dalam bentuk tulisan sebagai perundang undangan dan beliau sendiri yang mengetuai lembaga tersebut. Jumlah hukum yang telah disusun oleh lembaga tersebut berkisar 83 ribu, 38 ribu diantaranya berkaitan dengan urusan agama dan 45 ribu lainnya mengenai urusan dunia. Metode yang digunakan dalam menetapkan hukum (istinbat) berdasarkan pada tujuh hal pokok : 1. Al Quran sebagai sumber dari segala sumber hukum. 2. Sunnah Rasul sebagai penjelasan terhadap hal hal yang global yang ada dalam Al Quran. 3. Fatwa sahabat (Aqwal Assahabah) karena mereka semua menyaksikan turunnya ayat dan mengetahui asbab nuzulnya serta asbabul khurujnya hadis dan para perawinya. Sedangkan fatwa para tabiin tidak memiliki kedudukan sebagaimana fatwa sahabat. 4. Qiyas (Analogi) yang digunakan apabila tidak ada nash yang sharih dalam Al Quran, Hadis maupun Aqwal Asshabah. 5. Istihsan yaitu keluar atau menyimpang dari keharusan logika menuju hukum lain yang menyalahinya dikarenakan tidak tepatnya Qiyas atau Qiyas tersebut berlawanan dengan Nash. 6. Ijma‟ yaitu kesepakatan para mujtahid dalam suatu kasus hukum pada suatu masa tertentu. 7. „Urf yaitu adat kebiasaan orang muslim dalam suatu masalah tertentu yang tidak ada nashnya dalam Al Quran, Sunnah dan belum ada prakteknya pada masa sahabat. Karya besar yang ditinggalkan oleh Imam hanafi yaitu Fiqh Akhbar, Al „Alim Walmutam dan Musnad Fiqh Akhbar.

Sejatinya namanya adalah Nu’man bin Tsabit bin Marzaban Al-Farisi. Soal nama ini. Postur tubuhnya ideal. ilmu kalam. baik dalam pergaulan. Ketika lahir.” Kalimat yang hampir sama juga terlontar dari Imam Syafi'i. Sebab itu. seperti ilmu tauhid. Ali bin Ali Thalib berdoa untuknya. Menurut riwayat. para ahli sejarah punya beragam pandangan. Semua imam mazhab berjuang untuk menegakkan ajaran Alquran dan sunah Nabi SAW. ia juga dikenal dapat menyelesaikan masalah-masalah sosial keagamaan yang rumit.” Kisah ini juga pernah dituturkan Ismail bin Hamad bin Abu Hanifa. yang berarti ayah dari si Hanifah. Ada pula yang menerjemahkan kata “hanifah” berarti tinta dalam bahasa Persia. “Tidak seorang pun mencari ilmu fikih kecuali dari Abu Hanifah. dan indah bagai mutiara. Imam Hanafi kemudian menjadi seorang ahli dalam bidang ilmu fikih dan menguasai bebagai bidang ilmu agama lain. Namun. Tutur katanya santun. Pandangan lain menyebut. . Selalu tampil rapi dengan aroma harum yang menyerbak. Sudah hafal Alquran sejak masih usia kanak-kanak dan merupakan orang pertama yang menghafal hukum Islam dengan cara berguru. bertemu dengan Ali bin Ali Thalib.CO. Imam Hanafi pernah diajak oleh ayahnya. karena sejak kecil ia sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya sehingga ia dianggap seorang yang hanif (sikap yang lurus) pada agama. keturunan kelima Bani Umaiyyah. Saat masih kecil. Tsabit. kemasyhuran nama itu karena ia memiliki seorang anak lakilaki yang bernama Hanifah. Begitulah gambaran sosok Imam Hanafi. di dalam Islam tidak mengenal perbedaan antara orang Arab dan bukan Arab. cucu Imam Hanafi. Ada yang menyatakan. Selain dikenal dengan nama Imam Hanafi. Hanafi hidup dalam keluarga yang saleh. “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cerdas dari Imam Abu Hanifah. Yazid bin Harun berujar. tidak senang membicarakan hal-hal yang tak berguna.republika. cerdas. ia juga masyhur disebut Abu Hanifah. Ia punya garis keturunan Persia. berwibawa. “Mudah-mudahan di antara keturunan Tsabit ada yang menjadi orang baik-baik dan berderajat luhur. Pedagang Minyak Imam Hanafi lahir pada tahun 80 Hijriah bertepatan dengan 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. pemerintah kekhalifahan Islam dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan. ia diberi julukan dengan Abu Hanifah. Ucapannya sesuai apa yang datang dari Rasulullah SAW dan apa yang datang dari para sahabat.co. jelas. Bahkan dia memiliki toko untuk berdagang kain.id/berita/pendidikan/eduads/12/03/09/m0louo-pendiri-mazhab-imam-hanafi-daripedagang-menjadi-imam-besar-1 REPUBLIKA.ID. ilmu hadits. Hanafi biasa ikut rombongan pedagang minyak dan kain sutera. di samping ilmu kesusastraan dan hikmah. Sebelum Imam Hanafi kembali ke negerinya.http://www. salah satu imam mazhab dalam dunia Islam. Penuh kasih sayang. Ini berkaitan dengan kebiasaan beliau yang selalu membawa tinta ke manapun pergi. Doa Ali bin Ali Thalib ternyata terbukti. yang berarti satu-satunya imam mazhab yang bukan orang Arab. Dalam perjalanan waktu. bergelar Al-Imam Al-A'zham. Tak sebatas menguasai banyak bidang ilmu.

beliau mengerti betul tentang ilmu fiqih. Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan lagi. dan juga ilmu hadith. pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan. tetapi pengangkatan itu ditolaknya. dipukul dan sebagainya. 3. Kemudian masyhur dengan gelaran Imam Hanafi. Di dalam penjara ia diseksa. ke mana. Hanifah bererti tinta. Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab: 1. maka ia dianggap seorang yang hanif (kecenderungan/condong) pada agama.http://www. Imam Hanafi adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh. bukan orang yang berbuat kejahatan itu saja yang akan merasakan akibatnya.kisah. ilmu kalam. termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut Sebahagian dilukiskan dalam sebuah hadith Rasulullah SAW bahawa bumi ini diumpamakan sebuah bahtera yang didiami oleh dua kumpulan. Ia tidak mahu menerima kedudukan tinggi tersebut. seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Akibat dari penolakannya itu ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. 2. Ia menolak pangkat dan menolak wang yang dibelikan kepadanya. Untuk kebenaran ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya. namun tetap ditolaknya. Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Yazid bin Hurairah Al-Fazzari. ilmu tauhid. Imam Hanafi sangat rajin menulis hadith-hadith. dari keturunan Bani Umaiyyah kelima. maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah.htmlhttp://www. melainkan semuanya. Walaupun demikian orang-orang yang berjiwa jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau. Tetapi sebaliknya jika kumpulan yang baik itu mahu mencegah perbuatan orang-orang yang mahu membuat kerosakan di atas bahtera itu. Nama yang sebenarnya ialah Nu‟man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. iaitu sama-sama menegakkan Al-Quran dan sunnah Nabi SAW.web.id/tokoh-islam/imam-abu-hanifah-80-150-h. Itulah sebabnya ia masyhur dengan gelaran Abu Hanifah. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab. Sifat Imam Hanafi yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya.html Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bertepatan tahun 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. kerana menurut Imam Hanafi kalau kemungkaran itu tidak dicegah. Sampai berulang kali Gabenor Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. Kerana itu ia dinamakan Abu Hanifah. Dengan keberaniannya itu beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar. Menurut bahasa Persia. maka semuanya akan selamat. Imam Abu Hanafih adalah seorang imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam. Waktu ia dilahirkan. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain. Selaku pemimpin ia tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya.kisah. Kerana semenjak kecilnya sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya. . Di samping itu beliau juga pandai dalam ilmu kesusasteraan dan hikmah.id/tokoh-islam/imam-abu-hanifah-80-150h. Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. maka seluruh penghuni bahtera itu akan binasa. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan keredhaan Allah SWT. Kalau kumpulan jahat ini mahu merosak bahtera dan kumpulan baik itu tidak mahu mencegahnya. ia pergi selalu membawa tinta.web. Kerana ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah. Kumpulan pertama adalah terdiri orang-orang yang baik-baik sementara kumpulan kedua terdiri dari yang jahat-jahat. Pernah pada suatu ketika Imam Hanafi akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul mal).

Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila. tetapi ia tetap menolak. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani. Walaupun demikian ketika Imam Hanafi diseksa ia sempat berkata. Pada tahun 132 H sesudah Abu Abbas meninggal dunia diganti dengan ketua negara yang baru bernama Abi Jaafar Al-Mansur. dengan tidak dipukul.” Walaupun ada ancaman seperti itu. aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku. Ketika itu Imam Abu Hanifah telah berumur 56 tahun. Daud bin Abi Hind dan lain-lain. ketua negaranya bernama Abu Abbas as Saffah. juga ditolaknya.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya. Ketika itu gabenor menetapkan Imam Hanafi menjadi Pengetua jawatan Sekretari gabenor. Seolah-olah Imam Hanafi memusuhi pemerintah.Pada waktu yang lain Gabenor Yazid menawarkan pangkat Kadi (hakim) tetapi juga ditolaknya. Oleh kerana itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera. “Apakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?” . Imam Hanafi tetap menolak jawatan itu. Beberapa hari sesudah itu gabenor menawarkan menjadi kadi. Imam Hanafi juga menerima ujian. setelah itu baru dibebaskan. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali.” Ketika ia berusia lebih dari 50 tahun. Gabenor dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah. supaya ia datang mengadap ke istana. Imam Abi Laila pun dilarang memberi fatwa. Ahli fikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan. Ibnu Syblamah. bahkan ia tetap tegas. Tugasnya adalah bertanggungjawab terhadap keluar masuk wang negara. Dengan tawaran tersebut. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti. sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan. Sesampainya ia di istana Baghdad ia ditetapkan oleh baginda menjadi kadi (hakim) kerajaan Baghdad. dari keturunan Umaiyyah ke tangan Abbasiyyah. Salah satu di antaranya ialah Imam Ibnu Abi Laila. Kepada mereka. Kemudian pada tahun 132 H sesudah dua tahun dari hukuman tadi terjadilah pergantian pimpinan negara. masing-masing diberi kedudukan rasmi oleh Gabenor. Kerana sikap Imam Hanafi itu. Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Kerana sikapnya itu. Suatu hari Imam Hanafi mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur di Baghdad. “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu nescaya ia akan dihukum dengan pukulan. dikumpulkan di muka istananya.” Kerana ia masih tetap menolak. salah seorang pegawai negara bertanya: “Adakah guru tetap akan menolak kedudukan baik itu?” Dijawab oleh Imam Hanafi “Amirul mukminin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya. akhirnya ditangkap oleh gabenor. Ulama ini sejak pemerintahan Abu Abbas as Saffah telah menjadi mufti kerajaan untuk kota Kufah. Baginda bertanya. Pada suatu hari Imam Hanafi dikeluarkan dari penjara kerana mendapat panggilan dari Al-Mansur. kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad. bahawa ia tidak mahu menjadi pegawai kerajaan dan tidak mahu campur tangan dalam urusan negara. saudara muda dari Abul Abbas as Saffah. ketua negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. Rupanya Yazid tidak senang melihat sikap Imam Hanafi tersebut. Pada saat itu para ulama yang terkemuka di Kufah ada tiga orang. kerana itu timbul rasa curiganya. Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq. maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu. Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah.

kamu patut dan sesuai memegang jawatan itu. Imam Hanafi menolak semua tawaran yang diberikan oleh kerajaan daulah Umaiyyah dan Abbasiyah adalah kerana beliau tidak sesuai dengan corak pemerintahan yang mereka kendalikan. Setelah tiba di depan baginda. saya telah menyatakan bahawa saya tidak patut memegang jawatan itu. Suatu kali Imam Hanafi dipanggil baginda untuk mengadapnya. Setiap pagi dipukul dengan cambuk sementara dileher beliau dikalung dengan rantai besi yang berat.geocities. Imam Hanafi wafat dalam keadaan menderita di penjara ketika itu ia berusia 70 tahun.com/Athens/Acropolis/9672/imam4. yang merupakan guru dari Imam Syafi‟iy. Di antara murid beliau yang terkenal adalah Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani. Demikian juga fatwa-fatwa beliau dituliskan dalam kitab-kitab fikih oleh para murid dan pengikut beliau sehingga madzab Hanafi menjadi terkenal dan sampai saat ini dikenal sebagai salah satu madzab yang empat. sumber: http://www. masingmasing diberi surat pelantikan tersebut.” Dijawab oleh Imam Hanafi: “Amirul Mukminin. lalu diberinya segelas air yang berisi racun. sungguh baginda telah menetapkan sendiri. Adapun Imam Hanafi tidak mahu menerima pengangkatan itu di manapun ia diletakkan. baginda Abu Jaffar Al-Mansur memanggil tiga orang ulama besar ke istananya. kemudian ia melarikan diri ke Yaman. Setelah diminum air yang beracun itu Imam Hanafi kembali dimasukkan ke dalam penjara. lmam Syarik diangkat menjadi kadi di ibu kota.Dijawab oleh Imam Hanafi: “Wahai Amirul Mukminin semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin.” Pernah juga terjadi. takutlah kepada Allah. sungguh saya tidak sepatutnya diberi jawatan itu. maka bagaimana saya akan dipercayai di waktu marah. janganlah bersekutu dalam kepercayaan dengan orang yang tidak takut kepada Allah. Imam Sufyan ats Tauri diangkat menjadi kadi di Kota Basrah. Setelah mereka hadir di istana. Demi Allah saya bukanlah orang yang boleh dipercayai di waktu tenang. maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang maulana yang dipandang rendah oleh bangsa Arab. Wahai Amirul Mukminin. beliau tidak dikenal dalam mengarang kitab. Oleh sebab itu mereka berusaha mengajak Imam Hanafi untuk bekerjasama mengikut gerak langkah mereka. tetapi Imam Sufyan tidak mahu menerimanya. Ia dipaksa meminumnya. Oleh sebab itu Imam Abu Hanifah dimasukkan kembali ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman sebanyak 100 kali dera. Imam Sufyan ats Tauri dan Imam Syarik an Nakhaei. maka ketiganya ditetapkan untuk menduduki pangkat yang cukup tinggi dalam kenegaraan. jika saya benar. dan akhirnya mereka seksa hingga meninggal.htm Popularity: 17% [?] . iaitu Imam Abu Hanifah.” Baginda berkata lagi: “Kamu berdusta. Tetapi madzab beliau Imam Abu Hanifah atau madzab Hanafi disebar luaskan oleh murid-murid beliau. Imam Abu Hanifah juga tidak mahu menerimanya dan tidak pula berusaha melarikan diri. Jika saya berdusta. Sepanjang riwayat hidupnya. Imam Syarik menerima jawatan itu. Pengangkatan itu disertai dengan ancaman bahawa siapa saja yang tidak mahu menerima jawatan itu akan didera sebanyak l00 kali deraan. kerana Imam Hanafi menolak semua tawaran yang mereka berikan. Bangsa Arab tidak akan rela diadili seorang golongan hakim seperti saya.

Di waktu muda beliau juga merasakan keadilan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Disamping itu beliau juga sempat mendengar pengajaran ulama besar Tabi‟in seperti Atha‟ bin Abi Rabah. dan jika sebuah pembahasan sampai kepermasalahan adat. MENUNTUT ILMU Seperti kebiasaan ulama lainya. Abu Thufail Amir bin Wailah di Makkah dan Sahal bin Sa‟ad bin Sa‟idi di Madinah. lahir pada tahun 80 H di kota Kufah dan meniggal tahun 150 H (tahun lahirnya Imam Syafi‟i).a mengambil sikap untuk belajar Fiqh secara khusus dari seorang ulama saja atau yang dikenal dengan istilah mulazamah. Profil Imam Mazhab (Imam Abu Hanifah r. Beliau termasuk kalangan Tabi‟in. mungkin dikarenakan kondisi masyarakat Irak yang saat itu banyak perbedaan dan perdebatan masalah akidah sehingga memberikan pengaruh terhadap kecenderungan Abu Hanifah muda. Ketika beliau lahir umat Islam berada dibawah kekhalifahan Bani Umayyah. Nafi‟ Maula Ibnu Umar dan Hammad bin Abi Sulaiman. ABU HANIFAH SEORANG GURU Paca meniggalnya Imam Hammad bin Abi Sulaiman pada tahun 120 H. tepatnya khalifah Malik bin Marwan. Bahkan beliau menyamakan posisi gurunya ini dengan orang tuanya. bahkan dalam mengajar tidak sekali beliau menggunakan metode diskusi dengan murid-muridnya. seperti Anas bin Malik r. Imam Hammad sendiri waktu itu adalah salah seorang ulama besar kalangan Tabi‟in di Kufah. sebab waktu itu beberapa Shahabat masih hidup. Alqamah (murid Ibnu Mas‟ud) dan Ibrahim an-Nakha‟i. Jadi bisa dikatakan bahwa beliau sangat mengetahui tentang polemik. Dalam mengajar beliau sering mengemukakan hal-hal baru dan sering juga mendebat banyak pendapat.a) Lengkapnya. Sedangkan ketika beliau wafat umat Islam berada dibawah kekhalifahan al-Manshur dari Bani Abbasiyah. dan hidup beliau terus berlanjut ketika Bani Umayyah jatuh dan digantikan oleh Bani Abbasiyah. dalam hal ini beliau belajar kepada Hammad bin Abi Sulaiman r. 2009 @ 4:24 pm } · { Pengantar Fiqh } a. nama Imam Abu Hanifah adalah Nu‟man bin Tsabit bin Zutha. namun beliau tidak pernah bertemu dengan seorangpun diantara mereka. Dalam belajar Fiqh. kemajuan dan kemunduran kekhalifahan Bani Umayyah.a) sekitar awal abad ke dua hijriyah. masa kecilnya dilalui dengan menghafal al-Qur‟an kemudian beberapa hadits-hadits penting..a di Basrah. metode mereka itu diistilahkan dengan Fiqh al-Qiyas wa at-Takhrij. Inilah yang menjadi faktor asasi perubahan haluan ilmu beliau ke bidang Fiqh yang lebih nampak manfaatnya di tengah masyarakat. Abdullah bin Abi Aufa di Kufah. sementara sebagaimana yang kita ketahui bahwa Fiqh Kufah secara umum bermuara pada metode beberapa orang tokoh seperti Ali bin Abi Thalib.a yang merupakan murid Alqamah bin Qais r. posisinya digantikan oleh Imam Abu Hanifah. akhirnya Imam Abu Hanifah r. Imam Abu Hanifah mengambil Fiqh ulama Kufah dari berbagai aliran dan metode yang ada di sana. Sedang kehidupan ilmiyahnya dimulai dengan menekuni Ilmu Kalam. mashlahah dan masalah . Dan disebutkan dalam banyak buku bahwa Imam Abu Hanifah selalu menyertai gurunya ini sampai akhir hayatnya.MAZHAB HANAFI { Februari 13. sedang di Irak sendiri yang menjadi walinya adalah al-Hajjaj ats-Tsaqafi. yaitu selama 18 tahun. Dengan demikian mazhab ini adalah mazhab yang tertua diantara mazhab-mazhab Ahlu Sunnah. Setelah beberapa lama mengembara mendengar dan belajar dari ulama-ulama Kufah. Namun lama-kelamaan beliau menyadari bahwa selama ini ia telah mengikuti jalan yang tidak pernah diikuti para salafuna ashshalih dan sibuk dengan perdebatan-perdebatan yang tidak jelas manfaatnya.a (murid Ibnu Mas‟ud r. Ibnu Mas‟ud.

Metode yang dipakainya itu jika kita rincikan maka ada sekitar 7 Ushul Istinbath yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah: al-Qur‟an. bahkan lebih banyak mengemukakan masalah-masalah dan dilemparkan kepada murid-muridnya sembari memberikan dasar-dasar pijakan dalam menetapkan hukum. dari dunia pasar beliau mendapatkan kekuatan berdebat dan logika. dan hal ini tidak terjadi sekali saja!. saya ambil yang saya butuhkan dan saya tinggalkan yang tidak saya butuhkan. Beliau tidak sekedar menyampaikan ceramah. Dalam mengajar. Imam Abu Hanifah juga memandang Sunnah sebagai sumber hukum kedua setelah alQur‟an sebagaimana imam-mam yang lain. Dan tujuan dari metode ini adalah untuk meluaskan wawasan. Ijma‟. Bahkan ketika Abu Yusuf terlambat menghadiri majlis beliau karena membantu orang tuanya dalam mencari nafkah hidup. wara‟ dan tawadhu‟. Imam Abu Hanifah mengambil Ijma‟ secara mutlak tanpa memilah-milih. Abu Hanifah memandang al-Qur‟an sebagai sumber pertama pengambilan hukum sebagaimana imam-imam lainnya. Ibnu Sirin dan Sa‟id bin Musayyib (karena beliau menganggap mereka adalah mujtahid) maka saya akan berijtihad sebagaimana mereka berijtihad”. seperti hubungan bapak dengan anak. dunia pasar dan dunia ilmu. jika tidak saya temukan saya mengambil dari Sunnah dan Atsar dari Rasulullah saw yang shahih dan saya yakini kebenarannya. saya cari perkataan Sahabat. jika tidak saya temukan di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. 1. namun setelah meneliti kebenaran terjadinya Ijma‟ tersebut. metode beliau mirip dengan metode yang dipakai Socrates. Dengan demikian beliau menggabungkan dua dunia. karena ia satu saat akan berada di posisi murid dan di saat yang lain berada di posisi guru. al-Hasan. Qiyas. murid-muridnya merupakan orang-orang yang paling beliau cintai. menguatkan ilmu murid dan guru dalam waktu yang bersamaan. Sya‟bi. ahli ibadah. yang memperlihatkan bahwa Abu Hanifah bukan saja menilai sebuah hadits dari sisi Sanad (perawi). beliau panggil dan setelah mengetahui alasannya beliau tidak sungkan-sungkan memberikan 100 dirham agar Abu Yusuf tidak lari lagi dari majlis beliau. Yang berbeda adalah beliau menetapkan syarat-syarat khusus dalam penrimaan sebuah hadits (mungkin bisa dilihat di Ushul Fiqh). Bagi Imam Abu Hanifah. seperti dalam masalah mafhum mukhalafah. zuhud. Istihsan dan „Urf (Adat). kemudaian saya tidak akan mencari yang di luar perkataan mereka. dan di akhir beliau baru mengeluarkan pendapatnya. kemudian mereka berdiskusi dan berdebat bersamanya. dari khalifah sampai masyarakat biasa. dan dari dunia ilmu beliau mendapat sinar ke-tawadhu‟-an. Namun di saat yang sama beliau juga dikenal sebagai seorang guru yang banyak diam. tapi juga meneliti dari sisi Matan (isi) hadits dengan membandingkannya dengan hadits-hadits lain dan kaidah-kaidah umum yang telah baku dan disepakati. 2. Ijma‟. menghargai pendapat orang lain. Metode seperti ini tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki kepribadian yang kuat. 3.keadilan. Al-Qur‟an. Hanya saja beliau berbeda dengan sebagian mereka dalam menjelaskan maksud (dilalah) al-Qur‟an tersebut. Dengan segala kelebihan yang dimilikinya menyebabkan banyak orang yang mengikuti majlis ilmu dan metodenya dalam Fiqh. Dan tidak sedikit juga pujian datang baik itu secara terang-terangan disampaikan kepada beliau maupun yang tidak. Sunnah/Hadits. jika permasalahan berujung pada Ibrahim. baik dari yang sealiran maupun tidak. . Perkataan Shahabat. Sunnah. semuanya terdiam. METODE FIQH ABU HANIFAH Adapun metodenya dalam Fiqh sebagaimana perkataan beliau sendiri: “Saya mengambil dari Kitabullah jika ada.

b. Abdul Malik bin Juraih. seperti Abu Ishaq asy-Syaibani.a. belaiu menggunakannya jika mendapatkan permasalahan yang tidak ada nash yang menunjukkan solusi permasalahan tersebut secara langsung atau tidak langsung (dilalah isyarah atau thadhammuniyah). terbukti banyak sekali murid-muridnya yang menjadi ulama besar. akad dan syarat. pembebasan budak. Muhammad bin Ishaq (pengarang al-Maghazi). Abu Yusuf banyak belajar tentang Qadha‟ (hukum dan kehakiman). diantara muridnya yang terkenal adalah Imam Abu Yusuf Ya‟qub bin Ibrahim al-Anshari.a. Disamping belajar khusus dari kedua Imam di atas. IMAM ABU HANIFAH DAN ULAMA YANG SEMASA DENGANNYA Diantara ulama-ulama yang semasa dengannya di Kufah adalah Imam Sufyan ats-Tsauri r. Lahir kira-kira tahun 113 H dan meninggal tahun 182 H. disebutkan sekitar 17 tahun lamanya Abu Yusuf melakukan mulazamah dengan Abu Hanifah dan bisa dikatakan Abu Hanifahlah yang mengisi pundi-pundi ilmu Abu Yusuf sehingga menjadi seorang yang tidak kalah hebatnya dri Abu Hanifah sendiri. Guru yang paling berpengaruh dalam pembentukan dan pembinaan ilmu beliau adalah Imam Muhammad Ibnu Abi Laila al-Qadhi dan kemudian Imam Abu Hanifah sendiri. dalam masalh ini Imam Abu Hanifah juga termasuk orang yang banyak memakai „urf dalam masalah-masalah furu‟ Fiqh. 5.4. terutama dalam masalah sumpah (yamin). Qiyas. dengan demikian Abu Yusuf telah mendapatkan Fiqh secara ilmu dan praktek sekaligus dari dua tokoh tersebut. Imam Syafi‟i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Irak dan negeri-negeri lain. sedangkan dengan Imam Ibnu Abi Laila r. Imam Syarik bin Abdillah an-Nakha‟i (ulama Fiqh) dan Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila (ulama Fiqh). yang waktu itu menjadi Qadhi di Kufah. Istihsan. Ubaidillah bin Umar. Abdullah bin Umar. Abu Yusuf juga belajar dari banyak ulama-ulama besar lainnya.a tetap memiliki kharisma yang tinggi di kalangan masyarakat. al-Hajjaj bin Arthah. Abu Yusuf mengambil Fiqh dan belajar banyak dari Abu Hanifah. 6. Perkataan Shahabah. metode beliau adalah jika terdapat banyak perkataan Shahabah. perbedaan antara Ahli Hadits dengan Ahli Ra‟yi berpengaruh kepada hubungan beliau dengan Imam ats-Tsauri r. kita saksikan sendiri bagaimana Imam Abu Yusuf mengambil ilmu dari dua aliran besar Fiqh ketika itu. Imam Zufar bin Hudzail bin Qais al-Kufi dan Imam Hasan bin Ziyad al-Lu‟lu‟i. sementara dengan Imam Syarik r.Urf. Sufyan bin „Uyaynah. dan jika ada beberapa pendapat dari kalangan Tabi‟in beliau lebih cenderung berijtihad sendiri. lafaz talak. Banyak ulama yang menganggap beliau adalah seorang mujtahid muthlaq. Profil Rigkas Imam Abu Yusuf Lengkapnya beliau bernama Abu Yusuf Ya‟qub bin Ibrahim bin Habib al-Anshari. dan ulama-ulama lainnya dari Hijaz. 7. sedang dari Ibnu Abi Laila. kurang harmonis juga karena beliau sering mengeluarkan fatwa yang berbeda dengan Imam Ibnu Abi Laila r. sehingga kadang-kadang ada peringatan dari pemimpin negeri agar Imam Abu Hanifah tidak mengeluarkan Fatwa.a (ulama Hadits). Meskipun demikian Imam Abu Hanifah r.a. Imam Malik. dibandingkan imam-imam yang lain. Namun demikian Imam Abu Hanifah tetap orang yang paling berpengaruh pada dirinya bahkan beliau menganggap Abu Hanifah lebih dari orang tua dan keluarganya sendiri. Disinilah nampak kelebihan Imam Abu Hanifah dalam mencari sebab (ilat) hukum. Maka tidaklah mengherankan jika beliau dikatakan lebih faqih dari Abu Hanifah. Imam Muhammad bin Hasan bin Farqad asy-Syaibani (kemudian dikenal sebagai shahiba Abi Hanifah ulama besar mazhab Hanafi). Madrasah ar-Ra‟yi dan Madrasah al- . Hubungan antara Imam Abu Hanifah dengan mereka tidak terlalu baik. setara dengan Imam Abu Hanifah. Malik bin Anas. maka beliau mengambil yang sesuai dengan ijtihadnya tanpa harus keluar dari perkataan Shahabah yang ada itu. Imam Abu Hanifah adalah orang yang paling seirng menggunakan istihsan dalam menetapkan hukum.a ada sedikit persaingan karena satu masa.

dan tumbuh di Kufah sehingga kemudian belajar dari Imam Abu Hanifah.a. Yahya bin Ma‟in berkomentar: “Saya tidak pernah melihat di kalangan ashhab ar-ra‟yi yang paling tsabit (kuat) dalam masalah hadits. arRadd „Ala Siyar al-Auza‟i. Sedangkan diantara ulama-ulama yang pernah belajar kepada beliau seperti Imam Syafi‟i r. Beliau termasuk ulama yang banyak mengarang buku. Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dan lan sebagainya. Imam Muhammad bin Sulaiman (Ibnu Kamal Basya) membagi Ahli Fiqh secara umum kepada tujuh tingkatan: 1.Hadits. dan disebutkan juga bahwa seorang ahli hikmah dari kalangan Ahli Kitab memeluk Islam setelah membaca buku ini. Umar bin Dzar. paling kuat hafalan (ahfazh) dan paling shahih riwayatnya dari Abu Yusuf”. dan karangan monumental beliau al-Kharraj. Imam Malik r. Bakir bin Ammar dan Abu Yusuf. Dan tentang pengaruh beliau di kalangan masyarakat kita cukupkan dengan komentar Imam Ahmad bin Hanbal: ” Dalam menulis/mengambil hadits awalnya saya sering mendatangi Abu Yusuf dan saya menulis hadits darinya.a). Sufyan ats-Tsauri. Beliau meninggal pada hari yang sama dengan Imam al-Kasa‟i tahun 189 H di Ray. seperti para imam yang empat (Imam Abu Hanifah r. Buku-buku tersebut di kemudian hari dijadikan sebagai referensi utama Mazhab Hanafi sebagaimana yang diungkapkan Syeikh al-Kautsari . d. kemudian saya mendatangi orang banyak dan mereka berkata: ” Abu Yusuf lebih kami senangi dari Abu Hanifah dan Muhammad (Ibn Hasan)”. al-Auza‟i. Zam‟ah bin Shalih. akan tetapi meereka masih mengikut (taqlid) .a.a.a dan Imam Ahmad bin Hanbal r. jadi meskipun di sebagian permasalahan mereka berbeda dengan sang guru. Profil Ringkas Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani Beliau adalah Muhammad bin al-Hasan bin Farqad asy-Syaibani. Yang monumental adalah kitab al-Mabsuth. Tingkatan Mujtahid Agama yaitu ulama yang mampu merumuskan kaedah-kaedah ushul dan mampu menetapkan hukum furu‟ dari empat sumber (dalil) utama secara independen. sehinga Khalifah Harun ar-Rasyid berkata: ” Telah pergi hari ini Lughah dan Fiqh”. akan tetapi karangan beliau yang masih bertahan sampai saat ini hanya beberapa saja seperti buku al-Atsar. Malik bin Anas. Ikhtilaf Ibni Abi Laila Wa Abi Hanifah. lahir di daerah Wasith (di Irak) tahun 132 H. yang memang pantas memangku gelar Qadhi al-Qudhah untuk pertama kalinya di masa Harun al-Rasyid dan terus berlanjut sampai masa al-Mahdi dan al-Hadi. Selain Abu Hanifah. Tingkatan Mujtahid Mazhab yaitu ulama yang mampu mengolah dalil-dalil dan kemudian menghasilkan hukum dengan bantuan kaedah yang telah ditetapkan guru-guru mereka. c. karena mengikuti yang rajih (pendapat yang kuat) merupakan sebuah kemestian baik bagi mujtahid maupun muqallid. Imam Syafi‟i r. sehingga seorang yang bermazhab bisa memposisikan dirinya dan bisa melakukan pemilihan-pemilihan (tarjih) yang benar jika terjadi pertentangan pendapat di dalam satu mazhab. Imam Muhammad juga belajar dari Mus‟ir bin Kidam. 2. tanpa taqlid (mengikut) kepada siapapun. Tingkatan Ahli Fiqh Mazhab Hanafi (Thabaqat Fuqaha’ al-Hanafiyah) Mengetahui tingkatan-tingkatan dalam sebuah mazhab sangat berguna dalam bermazhab. yang sampai saat ini banyak dipelajari pakar ekonomi dunia. Malik bin Maghul. Banyak sekali kisah dan komentar dari para ulama yang menempatkan Abu Yusuf sebagai figur ulama besar umat ini. terlebih lagi dalam menghukum dan berfatwa. Imam Muhammad bin Hasan banyak menulis buku dibanding ulama lain yang semasa dengannya dan buku-bukunya tersebut juga banyak yang masih ditemukan saat ini. Abu Sulaiman al-Jauzjani (guru Imam Tirmidzi).

261 H). 593 H) dan lain sebagainya. Tingkatan Muqallid yang tidak mampu melakukan hal-hal yang di atas. zhahir al-mazhab dan riwayah nadirah. biasanya mereka tidak mengutip perkataan-perkataan yang ditolak dalam mazhab dan riwayat-riwayat yang lemah. Fakhruddin Qadhikhan (w. kemampuan mereka ini ditopang juga dengan kekuatan logika dan nalar mereka terhadap ushul dan kaedah-kaedah. 7. hadza aufaq lil qiyas (ini yang paling sesuai dengan qiyas) atau hadza arfaq lin nas (ini yang paling ringan bagi manusia). Syamsul A‟immah alHelwani (w. Tingkatan Ashhab at-Takhrij juga. hanya saja mereka menetapkan hukum-hukum dengan menggunakan kaedah ushul yang ditetapkan Imam. mereka mampu menjelaskan ungkapan atau istilah yang bersifat umum yang memiliki beberapa kemungkinan makna dan menjelaskan hukum yang memiliki dua kemungkinan. zhahir ar-riwayah. biasanya mereka sering menggunakan kata-kata hadza aula (inilah yang lebih utama). Abu Ja‟far ath-Thahawi (w. baik dalam segi ushul maupun furu‟. Tingkatan Mujtahid dalam permasalahan-permasalahan yang tidak ditemukan riwayat atau sumber langsung dari shahib al-madzhab (Imam Abu Hanifah r. Dan budaya ini juga yang menempatkan mereka sebagai perintis lahirnya Ilmu Qawaid Fiqhiyah. Ulama tingkatan ini seperti Imam Ahmad bin Ali bin Abu Bakar ar-Razi yang lebih dikenal dengan Imam Jashash. dan mengenai kelompok ini Ibnu Kamal Basya mengomentari: “Celakalah siapa yang mengikuti mereka ini!”. pengarang kitab al-wiqayah. 593 H) 6. Inilah yang dikemudian hari menjadikan mereka membentuk satu aliran besar dalam bidang Ushul Fiqh. Syamsul A‟immah as-Sarkhasi (w. e. namun tingkatan ini mereka hanya baru mampu memilih-milih riwayat-riwayat/perbedaan-perbedaan pendapat yang ada. Contoh ulama Hanafi jenis ini seperti Imam Abu Hasan al-Qadduri dan Imam al-Marghinani. pengarang Ahkam al-Qur‟an (w. Aliran Hanafiyah atau Aliran Fuqaha‟.a dan murid-murid Abu Hanifah r. Terdapat 3 jenis permasalahan yang diriwayatkan dalam buku-buku referensi mazhab Hanafi: a. 4. Fakhrul Islam al-Bazdawi (w. dan kemudian mereka bisa menerapkannya ke dalam permasalahan furu‟ yang semisal atau tergolong kedalam kategorinya. namun mereka tidak mampu menyalahi pendapat Imam. yaitu masalah-masalah yang diriwayatkan dari Ashhab al-Madzhab (Imam Abu Hanifah. 448 H). Permasalahan Zhahir ar-Riwayah (masalah asasi/ushul). pengarang kitab al-mukhtar. Dalam hal ini dalam mazhab Hanafi seperti Imam Abu Yusuf r. adh-dha‟if (yang lemah). 500 H). hadza audhah (ini yang paling jelas).a. 3. pengarang al-Hidayah (w. al-qawi (yang kuat). Abu al-Hasan al-Karkhi (w. akan tetapi dengan kemampuan mereka menguasai permasalahan ushul dan kaedah ushul. 340 H). Mereka adalah ulama-lama pengarang matan yang sering dipakai di kalangan mazhab. Tingkatan Pengikut (Muqallid) yang mampu membedakan antara al-aqwa (yang paling kuat).dan pengarang kitab al-majma‟. Muhammad bin Hasan r. 482 H). Ulama tingkatan ini seperti al-Khashaf (w. 370 H) 5. Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad) atau yang dikenal juga dengan sebutan “Ulama yang tiga”. Tingkatan Jenis Permasalahan Dan Buku Referensi Dalam Mazhab Hanafi Salah satu ciri khas mazhab Hanafi adalah dalam metode pengajaran dan penulisan buku. hadza ashahur riwayah (ini riwayat yang paling benar). 321 H).dari sisi kaedah ushul. jadi yang diwariskan dari imam-imam mereka bukanlah kaidah-kaidah yang baku sebagaimana yang lazim di mazhab lain. melainkan sekumpulan permasalahan. dari masalah-masalah itulah mereka menghasilkan kaidah-kaidah umum baik dalam bidang Ilmu Ushul maupun Ilmu Fiqh.a lainnya. apakah hukum ini dari shahib al-mazhab atau dari murid-muridnya. mereka biasa mengumpulkan masalah-masalah furu‟ untuk kemudian dicarikan hukumnya dan diwariskan disetiap generasi. Tingkatan Ashhab at-Takhrij dari golongan muqallidin (lawan mujtahid) yaitu ulama yang belum mampu berijtihad dalam masalah ushul. seperti pengarang kitab al-kanz. di beberapa kesempatan kadang juga memasukkan murid-murid .a).

2. Banyaknya murid Abu Hanifah dan perhatian mereka dalam menyebarkan dan menjelaskan pendapatpendapat Imam mereka. Parsi. Mazhab Hanafi dijadikan sebagai mazhab resmi negara semasa kekuasaan Abbasiyah. yaitu masalah-masalah yang diriwayatkan dari Ashhab al-Mazhab namun bukan dari buku-buku yang disebutkan di jenis pertama. Yaman. Hal ini menjadi Mazhab ini selalu memiliki solusi-solusi dalam setiap permasalahan . al-Jurjaniyat dan ar-Riqqiyat c. Jazair. al-Waqi‟at karangan Abul Abbas Ahmad bin Ahmad ar-Razi. Diantara poin penting yang menjadikan penyebaran Mahzab ini ke banyak negeri adalah: 1. namun kemudian terus meluas sampai ke daerah-daerah lain. Albania dan di kawasan Balkan. b. 3. Tripoli. India. seperti Mesir. bisa jadi di buku-buku karangan Imam Muhammad yang lain seperti al-Kisaniyat. Contoh buku-buku yang tergolong jenis ini seperti an-Nawazil karangan Abu Laits asSamarqandi. buku ini merupakan buku referensi utama dalam mazhab. Tunis. Sampai saat ini bisa dikatakan Mazhab Hanafi banyak dipakai di Irak. disamping buku-buku diatas. mutawatir atau paling kurang masyhur. Syam. Turkistan bahkan Brazil. Diantara buku-buku penting yang juga menjadi pegangan pokok seperti kitab al-Hidayah Syarh Bidayah al-Mubtadi karangan Syeikhul Islam al-Marghinani. yaitu masalah-masalah yang dihasilkan para mujtahid generasi belakangan ketika ditanya namun tidak mendapatkan jawaban pada riwayat-riwayat yang ada dari Ashhab al-Madzhab. Pengangkatan Imam Abu Yusuf sebagai Qadhi al-Qudhah (hakim tertinggi) yang memiliki kekuatan dalam memilih qudhahi (hakim-hakim) di daerah-daerah. Jika terjadi pertentangan antara masalah-masalah tersebut maka didahulukanlah yang dahulu berdasarkan urutan di atas. Turkistan. al-Jami‟ ash-Shaghir. Permasalahan al-Fatawi wa al-Waqi‟at. Permasalahan Nawadir. masih banyak buku-buku lain yang menjadi referensi penting dalam Fiqh Hanafi. alJami‟ al-Kabir. al-Muhith karangan Radhiyuddin asSarkhasi dan lain-lain. Afghan. Akan tetapi. Pembagian jenis permasalahn tersebut sekaligus menjelaskan urutan buku dan referensi yang digunakan di dalam Mazhab Hanafi. al-Haruniyat. f. Permasalahan ini disebut zhahir ar-Riwayah karena diriwayatkan dari Imam Muhammad secara yakin dan pasti. maupun syuruh. dan para hakim tersebut selalu memakai pendapat Imam Abu Yusuf dalam memutuskan perkara-perkara. az-Ziyadat. baik itu berupa mutun. 4. mukhtashar. negera-negara Kaukasia.Abu Hanifah yang lainnya. Cina. Perhatian besar ulama-ulama Mazhab ini dalam percepatan pertumbuhan Mazhab Hanafi dengan mencurahkan kemampuan mereka dalam mencari ilat hukum dan sekaligus mempraktekkannya dalam banyak masalah-masalah baru yang timbul. adz-Dzakhirah al-Burhaniyah yang juga karangan beliau. Turki. Ada satu buku lain yang juga dikenal sebagai buku asasi yaitu buku al-Kafi karangan Imam Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Maruzi al-Balkhi. as-Siyar ash-Shaghir dan as-Siyar al-Kabir. dan Badai‟ ash-Shanai‟ karangan Imam al-Kasani. khususnya yang pernah berada di bawah kekuasaan Abbasiyah. Romawi. Penyebaran Mazhab Hanafi Mazhab Hanafi banyak berkembang awalnya di Baghdad dan Kuffah. Bukhara. India. Syam/Syiria. Masalah-masalh ini dapat dijumpai dalam karangan-karangan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani seperti al-Mabsuth (al-Ashlu). Majmu‟ an-Nawazil Wa al-Hawadits Wa al-Waqi‟at karangan Ahmad bin Musa al-Kasyi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->