P. 1
bahasa anak 1

bahasa anak 1

|Views: 215|Likes:
Published by Jonnifer Pasaribu

More info:

Published by: Jonnifer Pasaribu on Apr 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2014

pdf

text

original

Sections

  • berkembangnya kemahiran bahasa peserta didik
  • D. Pengaruh Pola Asuh terhadap Perkembangan Bahasa Anak

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan bahasa, pada usia bawah lima tahun (balita) akan berkembang sangat aktif dan pesat.
Keterlambatan bahasa pada periode ini, dapat menimbulkan berbagai masalah dalam proses belajar di
usia sekolah. Anak yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa beresiko mengalami kesulitan
belajar, kesulitan membaca dan menulis dan akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang
secara menyeluruh, hal ini dapat berlanjut sampai usia dewasa muda. Selanjutnya orang dewasa dengan
pencapaian akademik yang rendah akibat keterlambatan bicara dan bahasa, akan mengalami masalah
perilaku dan penyesuaian psikososial.
Komunikasi adalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya
dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan
tulisan, bacaan dan tanda atau simbol. Berbahasa itu sendiri merupakan proses yang kompleks dan tidak
terjadi begitu saja. Setiap individu berkomunikasi lewat bahasa memerlukan suatu proses yang
berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana bahasa bisa digunakan untuk berkomunikasi selalu
menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori .
Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja ia dapat mengucapkan satu kata
dengan jelas tetapi tidak dapat menyusun dua kata dengan baik, atau sebaliknya seorang anak mungkin
saja dapat mengucapkan sebuah kata yang sedikit sulit untuk dimengerti tetapi ia dapat menyusun kata-
kata tersebut dengan benar untuk menyatakan keinginannya.
Masalah bicara dan bahasa sebenarnya berbeda tetapi kedua masalah ini sering kali tumpang tindih.
Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi, suara, kelancaran bicara (gagap), afasia
(kesulitan dalam menggunakan kata-kata, biasanya akibat cedera otak) serta keterlambatan dalam
bicara atau bahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk
faktor lingkungan atau hilangnya pendengaran. Gangguan bicara dan bahasa juga berhubungan erat
dengan area lain yang mendukung proses tersebut seperti fungsi otot mulut dan fungsi pendengaran.

Keterlambatan dan gangguan bisa mulai dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang “tidak
normal” (sengau, serak) sampai dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa,
atau ketidakmampuan mekanisme motorik oral dalam fungsinya untuk bicara dan makan.
Gangguan perkembangan artikulasi meliputi kegagalan mengucapkan satu huruf sampai beberapa
huruf, sering terjadi penghilangan atau penggantian bunyi huruf tersebut sehingga menimbulkan kesan
cara bicaranya seperti anak kecil. Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam pitch, volume atau
kualitas suara.
Afasia yaitu kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata atau kehilangan kemampuan untuk
menangkap arti kata-kata sehingga pembicaraan tidak dapat berlangsung dengan baik. Anak-anak
dengan afasia didapat memiliki riwayat perkembangan bahasa awal yang normal, dan memiliki onset
setelah trauma kepala atau gangguan neurologis lain (contohnya kejang).
Gagap adalah gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. Terdapat
pengulangan suara, suku kata atau kata atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik
dari otot-otot bicara seperti lidah, bibir dan laring. Terdapat kecendrungan adanya riwayat gagap dalam
keluarga. Selain itu, gagap juga dapat disebabkan oleh tekanan dari orang tua agar anak bicara dengan
jelas, gangguan lateralisasi, rasa tidak aman, dan kepribadian anak.

Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada kemampuannya menerima dan
memproduksi unit fonologi. Selama usia pra sekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan
sistem fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk
membedakan makna.
Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan vokal
dan konsonan. Bahkan dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV) atau konsonan-vokal-
konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan asimilasi dan substitusi sampai pada persepsi dan
produksi suara.

B. Rumusan Masalah
Ada beberapa rumusan masalah yang akan dibahas.
1. Bagaimana perkembangan bahasa anak sebagai komunikasi ?
2. Bagaimana kata-kata pertama yang digunakan dalam bahasa anak ditinju dari segi semantik ?
3. Bagaimana perkembangan kosa kata yang cepat dalam pembentukan kalimat awal ?
4. Mengapa dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa.
18-36 bulan ?
5. Apakah pemerolehan semantik berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari
gabungan vokal dan konsonan ?

C. Tujuan Penelitian
Berbahasa itu sendiri merupakan proses yang kompleks dan tidak terjadi begitu saja. Setiap individu
berkomunikasi lewat bahasa memerlukan suatu proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya.
Komunikasi adalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya
dalam bentuk bahasa. Komunikasi menjadi salah satu tujuan yang penting dalam membahas aspek
perkembangan bahasa anak yang ditinjau darisegi semantik.
Berikut beberapa tujuan yang menjadi tujuan penulisan:
1. Mengetahui perkembangan bahasa anak sebagai komunikasi.
2. Membahas proses percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang
dewasa. 18-36 bulan.
3. Mengetahui pemerolehan semantik berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari
gabungan vokal dan konsonan.

D. Manfaat Penelitian
Selama usia pra sekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem semantik tapi juga
mengembangkan kemampuan menentukan kata mana yang dipakai untuk membedakan makna.
Berikut beberapa manfaat yang didapat dari penulisan ini
1. Memberikan pengetahuan bahwa perkembangan bahasa anak di bidang semantik memberikan
makna yang berbeda.
2. Mampu menginterpretasikan perkembangan bahasa anak sebagai komunikasi yang dimengerti dalam
semantik.
3. Memberikan komunikasi timbal balik yang saling dimengerti sesuai dengan teori.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Proses Fisiologi Bicara
Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan
bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem neuromuskular untuk
mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh,
melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat
respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung.
Terdapat 2 hal proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan motoris. Aspek sensoris meliputi
pendengaran, penglihatan, dan rasa raba berfungsi untuk memahami apa yang didengar, dilihat dan
dirasa. Aspek motorik yaitu mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi, tindakan artikulasi dan laring yang
bertanggung jawab untuk pengeluaran suara.
Proses reseptif – Proses dekode

Segera saat rangsangan auditori diterima, formasi retikulum pada batang otak akan menyusun tonus
untuk otak dan menentukan modalitas dan rangsang mana yang akan diterima otak. Rangsang tersebut
ditangkap oleh talamus dan selanjutnya diteruskan ke area korteks auditori pada girus Heschls, dimana
sebagian besar signal yang diterima oleh girus ini berasal dari sisi telinga yang berlawanan.
Girus dan area asosiasi auditori akan memilah informasi bermakna yang masuk. Selanjutnya masukan
linguistik yang sudah dikode, dikirim ke lobus temporal kiri untuk diproses. Sementara masukan
paralinguistik berupa intonasi, tekanan, irama dan kecepatan masuk ke lobus temporal kanan. Analisa
linguistik dilakukan pada area Wernicke di lobus temporal kiri. Girus angular dan supramarginal
membantu proses integrasi informasi visual, auditori dan raba serta perwakilan linguistik. Proses dekode
dimulai dengan dekode fonologi berupa penerimaan unit suara melalui telinga, dilanjutkan dengan
dekode gramatika. Proses berakhir pada dekode semantik dengan pemahaman konsep atau ide yang
disampaikan lewat pengkodean tersebut.
Proses ekspresif – Proses encode
Proses produksi berlokasi pada area yang sama pada otak. Struktur untuk pesan yang masuk ini diatur
pada area Wernicke, pesan diteruskan melalui fasikulus arkuatum ke area Broca untuk penguraian dan
koordinasi verbalisasi pesan tersebut. Signal kemudian melewati korteks motorik yang mengaktifkan
otot-otot respirasi, fonasi, resonansi dan artikulasi. Ini merupakan proses aktif pemilihan lambang dan
formulasi pesan. Proses enkode dimulai dengan enkode semantik yang dilanjutkan dengan enkode
gramatika dan berakhir pada enkode fonologi. Keseluruhan proses enkode ini terjadi di otak/pusat
pembicara.
Di antara proses dekode dan enkode terdapat proses transmisi, yaitu pemindahan atau penyampaian
kode atau disebut kode bahasa. Transmisi ini terjadi antara mulut pembicara dan telinga pendengar.
Proses decode-encode diatas disimpulkan sebagai proses komunikasi. Dalam proses perkembangan
bahasa, kemampuan menggunakan bahasa reseptif dan ekspresif harus berkembang dengan baik.

B. Perkembangan Bahasa pada Anak Usia di Bawah 5 Tahun
Perkembangan bahasa sangat berhubungan erat dengan maturasi otak. Secara keseluruhan terlihat
dengan berat kasar otak yang berubah sangat cepat dalam 2 tahun pertama kehidupan. Hal ini
disebabkan karena mielinisasi atau pembentukan selubung sistem saraf. Proses mielinisasi ini dikontrol
oleh hormon seksual, khususnya estrogen. Hal ini menjelaskan kenapa proses perkembangan bahasa
lebih cepat pada anak perempuan.
Pada usia sekitar 2 bulan, korteks motorik di lobus frontal menjadi lebih aktif. Anak memperoleh lebih
banyak kontrol dalam perilaku motor volusional. Korteks visual menjadi lebih aktif pada usia 3 bulan,
jadi anak menjadi lebih fokus pada benda yang dekat maupun yang jauh. Selama separuh periode tahun
pertama korteks frontal dan hipokampus menjadi lebih aktif. Hal ini menyebabkan peningkatan
kemampuan untuk mengingat stimulasi dan hubungan awal antara kata dan keseluruhan. Pengalaman
dan interaksi bayi akan membantu anak mengatur kerangka kerja otak.
Diferensiasi otak fetus dimulai pada minggu ke-16 gestasi. Selanjutnya maturasi otak berbeda dan
terefleksikan pada perilaku bayi saat lahir. Selama masa prenatal batang otak, korteks primer dan
korteks somatosensori bertumbuh dengan cepat. Sesudah lahir serebelum dan hemisfer serebri juga
tumbuh bertambah cepat terutama area reseptor visual. Ini menjelaskan bahwa maturasi visual terjadi
relatif lebih awal dibandingkan auditori. Traktus asosiasi yang mengatur bicara dan bahasa belum

sepenuhnya matur sampai periode akhir usia pra sekolah. Pada neonatus, vokalisasi dikontrol oleh
batang otak dan pons. Reduplikasi babbling menandakan maturasi bagian wajah dan area laring pada
korteks motor. Maturasi jalur asosiasi auditorik seperti fasikulus arkuatum yang menghubungkan area
auditori dan area motor korteks tidak tercapai sampai awal tahun kedua kehidupan sehingga menjadi
keterbatasan dalam intonasi bunyi dan bicara.31,32 Pengaruh hormon estrogen pada maturasi otak
akan mempengaruhi kecepatan perkembangan bunyi dan bicara pada anak perempuan.
Tahap perkembangan bahasa di atas hampir sama dengan pembagian menurut Bzoch yang membagi
perkembangan bahasa anak dari lahir sampai usia 3 tahun dalam empat stadium.
1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik. 0-3 bulan. Periode lahir sampai akhir
tahun pertama. Bayi baru lahir belum bisa menggabungkan elemen bahasa baik isi, bentuk dan
pemakaian bahasa. Selain belum berkembangnya bentuk bahasa konvensional, kemampuan kognitif
bayi juga belum berkembang. Komunikasi lebih bersifat reflektif daripada terencana. Periode ini disebut
prelinguistik. Meskipun bayi belum mengerti dan belum bisa mengungkapkan bentuk bahasa
konvensional, mereka mengamati dan memproduksi suara dengan cara yang unik. Klinisi harus
menentukan apakah bayi mengamati atau bereaksi terhadap suara. Bila tidak, ini merupakan indikasi
untuk evaluasi fisik dan audiologi. Selanjutnya intervensi direncanakan untuk membangun lingkungan
yang menyediakan banyak kesempatan untuk mengamati dan bereaksi terhadap suara.
2. Kata-kata pertama : transisi ke bahasa anak. 3-9 bulan. Salah satu perkembangan bahasa utama
milestone adalah pengucapan kata-kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama, berlanjut
sampai satu setengah tahun saat pertumbuhan kosa kata berlangsung cepat, juga tanda dimulainya
pembetukan kalimat awal. Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya kontrol dan interpretasi
emosional di periode ini akan memberi arti pada kata-kata pertama anak. Arti kata-kata pertama
mereka dapat merujuk ke benda, orang, tempat, dan kejadian-kejadian di seputar lingkungan awal anak.
3. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal. 9-18 bulan. Bentuk kata-kata
pertama menjadi banyak, dan dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif dan produksi
kata-kata berlangsung cepat pada sekitar 18 bulan. Anak mulai bisa menggabungkan kata benda dengan
kata kerja yang kemudian menghasilkan sintaks. Melalui interaksinya dengan orang dewasa, anak mulai
belajar mengkonsolidasikan isi, bentuk dan pemakaian bahasa dalam percakapannya. Dengan semakin
berkembangnya kognisi dan pengalaman afektif, anak mulai bisa berbicara memakai kata-kata yang
tersimpan dalam memorinya. Terjadi pergeseran dari pemakaian kalimat satu kata menjadi bentuk kata
benda dan kata kerja.
4. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa. 18-36
bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan
perkembangan kognitif menjadi semakin dalam. Anak mulai berpikir konseptual, mengkategorikan
benda, orang dan peristiwa serta dapat menyelesaikan masalah fisik Anak terus mengembangkan
pemakaian bentuk fonem dewasa.
Perkembangan bahasa anak dapat dilihat juga dari pemerolehan bahasa menurut komponen-
komponennya.
C. Perkembangan Semantik
Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik, maka pada umur 6-9 bulan
anak telah mengenal orang atau benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep
berkembang pesat pada masa pra sekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata lebih banyak

akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan terjadi penambahan 5 kata perhari di usia
18 bulan sampai 6 tahun.Pemahaman kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi
strategi pemetaan yang cepat di usia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan
rujukannya. Pemetaan yang cepat adalah langkah awal dalam proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya
secara bertahap anak akan mengartikan lagi informasi-informasi baru yang diterima.
Proses pemerolehan bahasa merupakan bagian yang penting dalam perkembangan kemampuan bahasa
setiap individu. Pemerolehan bahasa atau akuisisi adalah proses yang berlangsung di dalam otak
seorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya( Abdul Chaer,
2005:161). Proses pemerolehan bahasa inilah yang menentukan kemampuan setiap individu dalam
menguasai bahasa pertamanya. Setiap anak mengalami perkembangan bahasa yang berbeda-beda.
Namun pada dasarnya setiap anak yang normal mulai berbicara antara umur dua puluh sampai dua
puluh delapan bulan. Hal tersebut terjadi karena organ-organ bicara yang dimiliki setiap anak sudah
mulai berkembang dan terprogram untuk memperoleh bahasa. Salah satu bidang bidang pemerolehan
bahasa pada anak menyangkut bidang semantis. Bidang semantik meliputi kemampuan anak dalam
memahami ujaran lawan bicaranya. seperti kemampuan memahami kata yang di ucapkan oleh lawan
bicaranya. Salah satu golongan kosakata yang dikuasai oleh anak adalah golongan kelas kata nomina
terutama yang akrab dengan tempat tinggalnya.
Beberapa peneitian tentang pemerolehan bahasa anak sudah banayak dilakukan, diantaranya oleh
Soejono Dardjowidjojo, beliau melakukan penelitian terhadap cucunya yang bernama Echa. Penelitian
yang dilakukannya bersifat longitudinal(dari satu waktu ke waktu yang lain/berkelanjutan). Hasilnya
menekankan bahwa jadwal kemunculan bunyi adalah jadwal biologis dan bukan kronologis. Menurutna
mugkin saja seorang anak mampu mengucapkan bunyi /r/ jauh lebih awal dari umur 49 bulan seperti
yang dinyatakan oleh Jacobson. Selain itu menurut beliau bahwa dari mulai usia dua tahun seorang anak
sudah mampu memahami beberapa kosa kata yang di ucapkan lawan bicaranya. Setiap anak memiliki
kemampuan yang berbeda dalam memahami suatu tuturan tergantung perkembangan psikologis anak.
Namun terkadang walaupun mereka sudah memahami sebuah kosakata ketika mereka
mengucapkannya kata yang mereka ucapkan mengalami pergeseran sehingga tidak sesuai dengan
acuan(referentnya).
Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya yaitu
proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan.
Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Kontempasi
ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performasi yang terdiri dari dua buah proses yakni proses
pemahaman dan proses penerbitran atau proses menghasilkan kalimat-kalimat. Proses pemahaman
melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati atau keampuan mempersepsi kalimat-kalimat
yang didengar . Sedangkan penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan atau meneritkan kalimat-
kalimat sendiri. Kedua jenis proses proses kompetensi ini apabila telah dikuasai kanak-kanak akan
menjadi kemampuan linguistik kanak-kanak itu. Jadi kemampuan linguistik terdiri dari kemampuan
memahami dan kemampuan melahirkan atau menerbitkan kalimat-kalimat baru.

Melaui bahasa, seorang anak belajar untuk menjadi “angota masyarakat”. Bahasa pertama(B1) menjadi

salah satu sarana untuk mengungkapkan perasaan, keinginan, pendirian dan sebagainya, dalam bentuk-
bentuk bahasa yang dianggap wajar oleh anggota-angota masyarakat di mana anak itu tinggal. Sebelum
mampu memahami tuturan lawan bicaranya secara sempurna, sejak usia satu tahun seorang anak mulai

belajar memahami tuturan lawan biaranya dalam bentuk yang sederhana. Biasanya mereka mulai
memahami kosakata yang diujarkan lawan bicaranya yang berkategori nomina seperti kata mamah,
bapa, baju, domba, dsb. Apabila seorang anak menggunakan ujaran-ujaran yang bentuk-bentuknya
benar bukan, ini belum berarti ia telah menguasai bahasa pertamanya itu, karena dapat saja ia memberi
arti yang lain pada kalimat-kalimat yang diucapkanya itu. Namun sebaliknya ada juga kecendurungan,
walaupun seorang anak sudah memahami tentang arti suatu kata tetapi ia mengucapkan kosa kata
tersebut menjadi berbeda atau tidak sesuai dengan kosakata yang sebenarnya. Contohnya ketika
peneliti menunjukan sebuah benda yang disebut sepatu, anak tersebut tidak mengucapkan
sapatu(sepatu) tetapi dia mengucapkan kata sopato. Padahal si anak sudah mengetahui bahwa benda
yang ditunjukan adalah sapatu, keterpahaman itu ditunjukkan ketika suatu saat ditanyakan kembali si
anak mengucapkan kata sapatu. Dalam hal ini terjadi penyimpanagan tuturan karena kosakata yang di
ucapkan tidak sesuai dengan dengan referentnya(acuannya).
Definisi kata benda anak usia pra sekolah meliputi properti fisik seperti bentuk, ukuran dan warna,
properti fungsi, properti pemakaian dan lokasi. Definisi kata kerja anak pra sekolah juga berbeda dari
kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar. Anak pra sekolah dapat menjelaskan siapa, apa,
kapan, di mana, untuk apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami
pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses. Anak akan mengembangkan kosa
katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya. Begitu kosa kata berkembang, kebutuhan untuk
mengorganisasikan kosa kata akan lebih meningkat, dan beberapa jaringan semantik atau antar relasi
akan terbentuk

BAB III
HASIL PENELITIAN

OLEH : SURYA HADIDI
NIM : 208311125
KELAS: B EKSTENSI

BIODATA ANAK :
NAMA : ADI SYAHPUTRA GINTING
JENIS KELAMIN : LAKI-LAKI
TT.LAHIR : MEDAN, 29 OKTOBER 2005
UMUR : 17 BULAN (SATU TAHUN 5 BULAN)
ANAK KE : TIGA DARI TIGA BERSAUDARA

BIODATA ORANGTUA ANAK:
NAMA
AYAH : DARSIM ANTONI GINTING
IBU : REHULINA BR SEMBIRING

PENDIDIKAN TERAKHIR
AYAH : S1
IBU : D3

PEKERJAAN ORANGTUA
AYAH : GURU
IBU : IBU RUMAH TANGGA
ALAMAT : POKOK MANGGA, PALES VII B. MEDAN

A. Semantik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI 2007), Semantik adalah
1) ilmu tentang kata dan kalimat; pengetahuan mengenai seluk-beluk dan pergeseran arti kata.
2) Bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan atau struktur makna suatu
wicara.
Dalam kajian semantik bahasa anak dibawah 5 tahun, Definisi kata benda anak usia ini meliputi properti
fisik seperti bentuk, ukuran ,warna dan bunyi. Definisi kata kerja anak pra sekolah juga berbeda dari kata
kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar. Anak pra sekolah dapat menjelaskan siapa, apa, kapan,
di mana, untuk apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami pertanyaan
bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses.
“guguk” => menyatakan anjing(kt,benda) berdasarkan bunyi yang dikeluarkan
“bem-bem” => menyatakan motor/mobil(berdasarkan bunyi yang dikeluarkan)
“yang melah mau Oty” => ( Oky mau yang merah) menyatakan kata benda(celananya) berdasarkan

warna

B. Daftar Kosa Kata yang Diucapkan
1. Mam = makan
2. Mimik = Minum
3. Wang = uang
4. seyibu = seribu
5. Sayatus = seratus
6. Buyung = burung
7. enjen = Jeni
8. Naik Kreta = Brum
9. Nana = Celana
10. cucu = Susu
11. Kerupuk = Keyupuk
12. Itan = Ikan
13. Puyang = Pulang
14. Joyok = jorok
15. boya = Bola
16. Bakco = Bakco
17. Cing = Kucing

C. Analisi Berdasarkan Semantik
1. Mam
Dari bahasa inggris artinya adalah ibu, tetapi segi semantic kata mam artinya adalah makan apabila
diucapkan oleh seorang anak apabila ia merasa lapar. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan percakapan

”mak mam” ibunya langsung mengambilkan makan kepada anaknya.

2. Mimik
Dari arti sebenarnya kata mimik ini adalah raut muka seseorang, tetapi Dari segi semantic kata mimik
artinya adalah minum, apabila kata ini diucapkan seorang anak apabila dia haus. Hal ini dapat dilihat

dalam kutipan percakapan “mak mimik” dan ibunya langsung mengambilkan minum kepada anaknya.

3. Wang
Menurut penelitian saya terhadap seorang anak kata wang deri segi semantic berarti kata uang. Hal ini
dapat dilihat dari kutipan percakapan “ pak, pak wang seyibu ( meminta uang seribu kepada bapaknya)”
bapaknya langsung mengasi uang seribu.
4. Seyibu
Dari segi semantik kata seyibu artinya adalah seribu apabila yang mengucapkan kata itu adalah seorang
anak. Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “ pak, pak wang seyibu ( meminta uang seribu kepada
bapaknya)” bapaknya langsung mengasi uang seribu.

5. Seyatus
Dari segi semantik kata seyatus artinya adalah seratus apabila yang menyebutkannya adalah anak-anak
yang baru bias bicara. Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan

percakapan “ pak seyatus “ ketika melihat uang seratus logam.

6. Buyung

Dari segi semantik kata buyung artinya adalah burung apabila yang menyebutkannya adalah anak-anak
yang baru bias bicara. Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “ pak tu buyung “ sambil menunjuk
burung yang terbang.
7. Nana
Dari segi semantik kata nana artinya adalah celana apabila yang menyebutkannya adalah seorang anak
yang baru bias bicara. Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “mak nana” sambil menunjuk celana
dan ibunya mengambilkan celana.
8. Cucu
Dari segi semantik kata cucu artinya adalah susu apabila disebutka oleh anak-anak yang baru bias
berbica bukan berarti cucu yang sebenarnya. Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “ mimic cucu”
yang artinya minum susus.

9. Joyok
Dari segi semantik kata joyok adalah jorok yang apabila yang menyebutkannya adalah seorang anak. Hal

ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “ mak tangan iki joyok” dan langsung membersihkannya.

10. Olang
Dari segi semantik kata olang berarti menyebutkan kata orang. Ini hanya disebutkan oleh anak-anak

yang baru bias bicara. Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “pak olang mananya itu” anak itu

bermaksud menyatakan orang.
11. Boya
Dari segi semantik kata boya artinya adalah bola apabila yang menyebutkannya itu adalah seorang anak.

Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “ pak main boya” padahal maksunya adalah bermain bola.

12. Bakco
Dari segi semantik kata bakco artinya adalah bakso apabila yang menyebutkannya adalah anak-anak

yang baru bisa berbicara. Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “ mak bli bakco sambil menunjuk
bakso yang sebenarnya “

13. Pempuan
Dari segi semantik kata pempuan artinya adalah perempuan apabila yang menyebutkannya adalah anak-

anak yang baru bias bicara. Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “pung pempuan datang”

disebutakn oleh seorang anak yang situasinya ompung perempuannya datang.
14. Pung
Dari segi semantik kata pung adalah ompung apabila yang menyebutkan kata itu adalah seorang anak.

Hal ini dapat dilihat dari kutipan percakapan “ pung pempuan datang” disebutakn oleh seorang anak

yang situasinya ompung perempuannya datang.
15. Cing
Kata cing dari segi semantik adalah kencing. Ini dapat terjadi karena anak yang saya teliti ketika ia ingin
kencing selalau mengatakan cing, hal ini dapat dilihat dalam percakapan berikut:

Anak : “mak cing,cing!”

Ibu : (langsung membukakan celananya)

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang kami lakukan dapat kami simpulkan bahwa:
1. Anak telah dapat memproduksi bentuk yang dekat bunyinya dengan bentuk orang dewasa dan dapat
mengaitkan bentuk dengan makna meskipun kata-kata yang diucapkan masih belum sempurna.
2. Dari segi semantik bahwa kata-kata yang diucapkan anak yang umur 4 tahun kebawah masih terdapat
penyimpangan makna. Dimana kata yang di ucapkan tidak sama dengan makna yang senenarnya.
3. Dalam penelitian tersebut diperoleh gambaran bahwa pada usia tersebut ada beberapa fonem yang
belum sempurna diucapkan yaitu Fonem /r/ digantikan dengan fonem /l/, /ng/, hal tersebut disebabkan
bahwa pada usia tersebut organ-organ penghasil tuturan terutama lidah belum sepenuhnya lentur.

DAFTAR PUSTAKA

Daulay, Syahnan. 2010. Pemerolehan dan Pembelajaran bahasa. Bandung: Citapustaka Media Perintis
http://endonesa.wordpress.com/ajaran-pembelajaran/pembelajaran-bahasa-indonesia/
http://aiman-khairul.blogspot.com/2010/03/pada-dasarnya-seluruh-manusia-belajar.html
Dardjowidjojo, Soejono, Jaya Atma Unika.2003.Psikolinguistik.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia
http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/06/tahap pemerolehan bahasa.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemerolehan_bahasa

Dr Widodo Judarwanto SpA
CHILDREN ALLERGY CLINIC
PICKY EATERS CLINIC (Klinik kesulitan makan)

Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa.
Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan
dan tanda atau simbol. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi
begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam
tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai cara berkomunikasi
selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori
tentang pemerolehan bahasa.. Lebih rumit dan luas mengingat ada lebih dari seribu bahasa yang
ada di seluruh dunia.

Bahasa adalah bentuk aturan atau sIstem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi
dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan
emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Selain itu bahasa
dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup
aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah
ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah
cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa
gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda
beda.

Lundsteen membagi perkembangan bahasa dalam 3 tahap :

1. Tahap pralinguistik
- 0-3 bulan, bunyinya di dalam (meruku) dan berasal dari tenggorok.
- 3-12 bulan, meleter, banyak memakai bibir dan langit-langit, misalnya ma, da, ba.

2. Tahap protolinguitik
- 12 bulan-2 tahun, anak sudah mengerti dan menunjukkan alat-alat tubuh. Ia mulai berbicara
beberapa patah kata (kosa katanya dapat mencapai 200-300).
3. Tahap linguistik
- 2-6 tahun atau lebih, pada tahap ini ia mulai belajar tata bahasa dan perkembangan kosa
katanya mencapai 3000 buah.

Tahap perkembangan bahasa di atas hampir sama dengan pembagian menurut Bzoch
yang membagi perkembangan bahasa anak dari lahir sampai usia 3 tahun dalam empat
stadium.

1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik. 0-3 bulan. Periode lahir sampai
akhir tahun pertama. Bayi baru lahir belum bisa menggabungkan elemen bahasa baik isi, bentuk
dan pemakaian bahasa. Selain belum berkembangnya bentuk bahasa konvensional, kemampuan
kognitif bayi juga belum berkembang. Komunikasi lebih bersifat reflektif daripada terencana.
Periode ini disebut prelinguistik. Meskipun bayi belum mengerti dan belum bisa mengungkapkan
bentuk bahasa konvensional, mereka mengamati dan memproduksi suara dengan cara yang unik.
Klinisi harus menentukan apakah bayi mengamati atau bereaksi terhadap suara. Bila tidak, ini
merupakan indikasi untuk evaluasi fisik dan audiologi. Selanjutnya intervensi direncanakan

untuk membangun lingkungan yang menyediakan banyak kesempatan untuk mengamati dan
bereaksi terhadap suara.
2. Kata – kata pertama : transisi ke bahasa anak. 3-9 bulan. Salah satu perkembangan bahasa
utama milestone adalah pengucapan kata-kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama,
berlanjut sampai satu setengah tahun saat pertumbuhan kosa kata berlangsung cepat, juga tanda
dimulainya pembetukan kalimat awal. Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya kontrol dan
interpretasi emosional di periode ini akan memberi arti pada kata-kata pertama anak. Arti kata-
kata pertama mereka dapat merujuk ke benda, orang, tempat, dan kejadian-kejadian di seputar
lingkungan awal anak.
3. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal. 9-18 bulan. Bentuk kata-kata
pertama menjadi banyak, dan dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif dan
produksi kata-kata berlangsung cepat pada sekitar 18 bulan. Anak mulai bisa menggabungkan
kata benda dengan kata kerja yang kemudian menghasilkan sintaks. Melalui interaksinya dengan
orang dewasa, anak mulai belajar mengkonsolidasikan isi, bentuk dan pemakaian bahasa dalam
percakapannya. Dengan semakin berkembangnya kognisi dan pengalaman afektif, anak mulai
bisa berbicara memakai kata-kata yang tersimpan dalam memorinya. Terjadi pergeseran dari
pemakaian kalimat satu kata menjadi bentuk kata benda dan kata kerja.
4. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa. 18-
36 bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang
lebih luas dan perkembangan kognitif menjadi semakin dalam. Anak mulai berpikir konseptual,
mengkategorikan benda, orang dan peristiwa serta dapat menyelesaikan masalah fisik Anak terus
mengembangkan pemakaian bentuk fonem dewasa

Perkembangan bahasa anak
dapat dilihat juga dari
pemerolehan bahasa menurut
komponen-komponennya.

Perkembangan Pragmatik
Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini, pertama-tama dari
tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena lapar, popok basah. Dari sini bayi
akan belajar bahwa ia akan mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga
kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu buatnya. 30
Usia 3 minggu bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya wajah seseorang, tatapan
mata, suara dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial. Usia 12 minggu mulai dengan pola dialog
sederhana berupa suara balasan bila ibunya memberi tanggapan Usia 2 bulan bayi mulai
menanggapi ajakan komunikasi ibunya. Usia 5 bulan bayi mulai meniru gerak gerik orang,
mempelajari bentuk ekspresi wajah. Pada usia 6 bulan bayi mulai tertarik dengan benda-benda
sehinga komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi dan benda-benda. Usia 7-12 bulan anak
menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai

dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran
gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku kata. Usia 2 tahun anak kemudian
memasuki tahap sintaksis dengan mampu merangkai kalimat 2 kata, bereaksi terhadap pasangan
bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik
dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku ibu
yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik baru. Lewat umur 3 tahun
anak mulai berdialog lebih lama sampai beberapa kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai
mampu mempertahankan topik yang selanjutnya mulai membuat topik baru. Hampir 50 persen
anak 5 tahun dapat mempertahankan topik melalui 12 kali giliran. 30
Sekitar 36 bulan, terjadi peningkatan dalam keaktifan berbicara dan anak memperoleh kesadaran
sosial dalam percakapan. Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara menjadi jelas, tersusun
baik dan teradaptasi baik untuk pendengar.2 Sebagian besar pasangan berkomunikasi anak
adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Saat anak mulai membangun jaringan sosial
melibatkan orang di luar keluarga, mereka akan memodifikasi pemahaman diri dan bayangan diri
dan menjadi lebih sadar akan standar sosial. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh bermakna
pada proses belajar berbahasa. Ibu memegang kontrol dalam membangun dan mempertahankan
dialog yang benar. Ini berlangsung sepanjang usia pra sekolah. 2,30
Anak berada pada fase mono dialog, percakapan sendiri dengan kemauan untuk melibatkan
orang lain. Monolog kaya akan lagu, suara, kata-kata tak bermakna, fantasi verbal dan ekspresi
perasaan. 2

Perkembangan Semantik
Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik, maka pada umur 6-9
bulan anak telah mengenal orang atau benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan
pemerolehan konsep berkembang pesat pada masa pra sekolah. Terdapat indikasi bahwa anak
dengan kosa kata lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan
terjadi penambahan 5 kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun..2 Pemahaman kata bertambah
tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi strategi pemetaan yang cepat di usia ini
sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan rujukannya. Pemetaan yang cepat adalah
langkah awal dalam proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya secara bertahap anak akan
mengartikan lagi informasi-informasi baru yang diterima. 2
Definisi kata benda anak usia pra sekolah meliputi properti fisik seperti bentuk, ukuran dan
warna, properti fungsi, properti pemakaian dan lokasi. Definisi kata kerja anak pra sekolah juga
berbeda dari kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar. Anak pra sekolah dapat
menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, untuk apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya
mereka belum memahami pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses.
Anak akan mengembangkan kosa katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya. Begitu
kosa kata berkembang, kebutuhan untuk mengorganisasikan kosa kata akan lebih meningkat, dan
beberapa jaringan semantik atau antar relasi akan terbentuk.

Perkembangan Sintaksis
Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan walaupun pada beberapa anak
terlihat pada usia 1 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata.

Rangkaian dua kata, berbeda dengan masa “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut masa

holofrastis. 30 Kalimat satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan konteks
penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin kita

menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut.2,30
Peralihan dari kalimat satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara
bertahap. Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi kalimat,
rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata memberi makna lebih
dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda
Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun,
yang mencapai puncaknya pada akhir usia 2 tahun.

Tahap perkembangan sintaksis secara singkat terbagi dalam :

1. Masa pra-lingual, sampai usia 1 tahun
2. Kalimat satu kata, 1-1,5 tahun
3. Kalimat rangkaian kata, 1,5-2 tahun
4. Konstruksi sederhana dan kompleks, 3 tahun.

Lewat usia 3 tahun anak mulai menanyakan hal-hal yang abstrak dengan kata tanya “mengapa”,”
kapan”. Pemakaian kalimat kompleks dimulai setelah anak menguasai kalimat empat kata sekitar

4 tahun. 9

Perkembangan Morfologi

Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan rata-rata, yang diukur
dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan, mean length of utterance (MLU) adalah alat prediksi
kompleksitas bahasa pada anak yang berbahasa Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan
usia dan merupakan prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa.
Dari usia 18 bulan sampai 5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan
morfem mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa sumber
yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya merupakan
bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. 2,30

Perkembangan Fonologi
Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode bahasa. Sebagian besar
konstruksi morfologi anak akan tergantung pada kemampuannya menerima dan memproduksi
unit fonologi. Selama usia pra sekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem
fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk
membedakan makna. 2

Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan
vokal dan konsonan. Bahkan dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV) atau
konsonan-vokal-konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan asimilasi dan substitusi
sampai pada persepsi dan produksi suara.2

Perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif
Myklebust membagi tahap perkembangan bahasa berdasarkan komponen ekspresif dan reseptif
sebagai berikut 34:
1. Lahir – 9 bulan : anak mulai mendengar dan mengerti, kemudian berkembanglah pengertian
konseptual yang sebagian besar nonverbal.

2. Sampai 12 bulan : anak berbahasa reseptif auditorik; belajar mengerti apa yang dikatakan,
pada umur 9 bulan belajar meniru kata-kata spesifik, misalnya, dada, muh, kemudian menjadi
mama, papa.
3. Sampai 7 tahun : anak berbahasa ekspresif auditorik termasuk persepsi auditorik kata-kata dan
menirukan suara. Pada masa ini terjadi perkembangan bicara dan penguasaan pasif kosa kata
sekitar 3000 buah.
4. Umur 6 tahun dan seterusnya : anak berbahasa reseptif visual (membaca). Pada saat masuk
sekolah ia belajar membandingkan bentuk tulisan dan bunyi perkataan.
5. Umur 6 tahun dan seterusnya : anak berbahasa ekspresif visual (mengeja dan menulis).

A. Pengertian Perkembangan Bahasa Remaja

Perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds,

2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat

tubuh dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia

dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang

berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1)

perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.

Sedangkan yang dimaksud dengan bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh

seorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat

bergaul. Oleh karena itu penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan

berkomunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain,

sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka

perkembangan bahasa seorang (anak bayi) dimulai dengan meraba (suara atau bunyi tanpa arti)

dan diikuti dengan bahasa atau suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana dan

seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan

tingkat perilaku sosial.

Bahasa juga merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam

pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, di mana pikiran dan perasaan

dinyatakan dalam bentuk lambang atau symbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian,

seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka. Bahasa

merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa sangat erat

kaitannya dengan perkembangan pikir individu. Perkembangan pikiran individu tampak dalam

perkembangan bahasanya yaitu kemampuan memebentuk pengertian, menyusun pendapat, dan

menarik kesimpulan.

Dan kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to

grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi

tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode

pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak

memberikan pengertian remaja (adolescence) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui

pengertian masa remaja (adolescence).

Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11

hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal

(13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa

remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah

mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-

kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa

remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan

perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan

cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa

depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-

kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990).

Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan

masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan

semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan

mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).

Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif yang berarti faktor

intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi yang

tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana, bahasa yang

digunakannya juga sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai

mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat

sederhana menuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh

lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi)

belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain, meniru dan mengulang hasil yang telah

didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal. Bayi bersuara, „mm mmm‟, ibunya tersenyum

mengulang menirukan dengan memperjelas dan memberi arti suara itu menjadi „maem-maem‟.

Bayi belajar menambah kata-kata dengan meniru bunyi-bunyi yang didengarnya. Manusia

dewasa (terutama ibunya) disekelilingnya membetulkan dan memperjelas. Belajar bahasa yang

sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia enam sampai tujuh tahun, disaat anak mulai

bersekolah. Jadi perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat

berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-

tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya

seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.

B. Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja

Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang ia telah banyak belajar dari

lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk dari kondisi lingkungan. Lingkungan

remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya pergaulan teman sebaya, dan

lingkungan sekolah. Pola bahasa yang dimiliki adalah bahasa yang berkembang di dalam

keluarga atau bahasa itu.

Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di

mana mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan

masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bahasa. Bersamaan dengan

kehidupannya di dalam masyarakat luas, anak (remaja) mengkutip proses belajar disekolah.

Sebagaimana diketahui, dilembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan

kaidah-kaedah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala

ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem

budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya)

terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa

pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa

sandi, bahasa kelompok yang bentuknya amat khusus, seperti istilah baceman dikalangan pelajar

yang dimaksudkan adalah bocoran soal ulangan atau tes. Bahasa prokem terutama secara khusus

untuk kepentingan khusus pula.

Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga masyarakat, dan sekolah dalam

perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain.

Hal ini ditunjukkan oleh pilihan dan penggunaan kosakata sesuai dengan tingkat sosial

keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan pendidikan rendah atau buta huruf, akan banyak

menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar. Masyarakat

terdidik yang pada umumnya memiliki status sosial lebih baik, menggunakan istilah-istilah lebih

selektif dan umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa lebih baik.

Ragam bahasa remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang

digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui

proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti „permainan diganti

dengan mainan, pekerjaan diganti dengan kerjaan.

Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentuk-bentuk

elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan kalimat menjadi lebih pendek sehingga

seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Dengan menggunakan struktur yang

pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat pendengar yang bukan

penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan untuk memahaminya. Kita bisa mendengar

bagaimana bahasa remaja ini dibuat begitu singkat tetapi sangat komunikatif.

C. Faktor yang Mempengaruhi

Menurut Chomsky (Woolfolk, dkk. 1984) anak dilahirkan ke dunia telah memiliki

kapasitas berbahasa. Akan tetapi seperti dalam bidang yang lain, faktor lingkungan akan

mengambil peranan yang cukup menonjol, mempengaruhi perkembangan bahasa anak tersebut.

Mereka belajar makna kata dan bahasa sesuai dengan apa yang mereka dengar, lihat dan mereka

hayati dalam hidupnya sehari-hari. Perkembangan bahasa anak terbentuk oleh lingkungan yang

berbeda-beda.

Berpikir dan berbahasa mempunyai korelasi tinggi anak dengan IQ tinggi akan

berkemampuan bahasa yang tinggi. Sebaran nilai IQ menggambarkan adanya perbedaan

individual anak, dan dengan demikian kemampuan mereka dalam bahasa juga bervariasi sesuai

dengan variasi kemampuan mereka berpikir.

Bahasa berkembang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, karena kekayaan lingkungan akan

merupakan pendukung bagi perkembangan peristilahan yang sebagian besar dicapai dengan

proses meniru. Dengan demikian remaja yang berasal dari lingkungan yang berbeda juga akan

berbeda-beda pula kemampuan dan perkembangan bahasanya.

Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh karena itu perkembangannya

dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Umur anak

Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambahnya

pengalaman, dan meningkatkan kebutuhan. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan

pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik dan ikut mempengaruhi sehubungan

semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-

gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang kemampuan

berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan, dengan dibarengi oleh perkembangan tingkat

intelektual, anak akan mampu menunjukkan cara berkomunikasi dengan baik.

b. Kondisi lingkungan

Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil untuk cukup besar

dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dilingkungan perkotaan akan berbeda dengan

dilingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan dan

daerah-daerah terpencil menunjukkan perbedaan.

Pada dasarnya bahasa dipelajari dari lingkungan. Lingkungan yang dimaksud termasuk

lingkungan pergaulan dalam kelompok, seperti kelompok bermain, kelompok kerja, dan

kelompok sosial lainnya.

c. Kecerdasan anak

Untuk meniru bunyi atau suara, gerakan dan mengenal tanda-tanda, memerlukan

kemampuan motorik yang baik. Kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru,

memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan

baik dan memahami atau menangkap maksud suatu pernyataan fisik lain, amat dipengaruhi oleh

kerja pikir atau kecerdasan seseorang anak.

d. Status sosial ekonomi keluarga

Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang

baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dengan anggota keluarganya. Rangsangan untuk

dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan

keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan tampak perbedaan perkembangan bahasa bagi

anak yang hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata lain pendidikan

keluarga berpengaruh terhadap perkembangan bahasa.

d. Kondisi fisik

Kondisi fisik di sini kesehatan anak. Seseorang yang cacat yang terganggu

kemampuannya untuk berkomunikasi, seperti bisu, tuli, gagap, dan organ suara tidak sempurna

akan mengganggu perkembangan alam berbahasa.

D. Permasalahan yang Muncul

Semakin zaman berkembang, pola pikir anak akan semakin pesat dan lebih modern.

Remaja akan lebih bervariasi, mulai dari berpakaian, cara berfikir, sampai berbicara/berbahasa.

Bahasa pada remaja sekarang sudah mulai bervariasi dan lebih sulit difahami. Hampir tidak ada

lagi bahasa baik atau bahasa indonesia baku yang dipergunakan remaja sehari hari. Remaja

sekarang lebih sering menggunakan bahasa “gaul” untuk berbicara.

Begitu juga dengan bahasa daerah. Sudah sekitar dua ratus bahasa daerah indonesia yang

punah. Hal ini juga dikarenakan para remaja atau generasi penerus dari sebuah suku yang

menggunakan bahasa daerah tersebut sudah melupakan dan juga bergeser kiblat ke arah bahasa

asing yang disebut bahasa “gaul” tersebut.

Bahasa kehidupan sehari hari masyarakat indonesia sekarang sudah bergeser menjadi

bahasa bahasa baru yang muncul. Remaja sudah tidak mau lagi berbahasa yang baik. Menurut

mereka bahasa indonesia yang baku tidak layak untuk digunakan. Mereka akan merasa aneh

apabia mendengar bahasa baku, bahkan sampai ada yang tidak mengerti arti dari bahasa baku

tersebut. Apabila hal ini terus akan berlangsung, bukan tidak mungkin kalau bahasa indonesia

yang baku juga akan punah seiring berkembangnya zaman dan enggannya remaja menggunakan

bahasa yang baik.

Aspek-aspek perkembangan anak tk berdasarkan kurikulum 2004 antara lain:

1. Usia 4-5 tahun

Anak usia 4-5 tahun sangat aktif dan energik. Waktunya dihabiskan untuk bermain, seperti
berlari, Pada usia ini, ide-ide anak mulai berkembang. Anak juga mulai dapat berteman dan ada
keinginan untuk bergabung dengan kelompok.

Manfaat Permainan anak sesuai perkembangan anak tk

1. Aspek pengembangan fisik

Aspek perkembangan fisik ini meliputi:

1. Pengembangan motorik kasar, yaitu gerakan yang dilakukan dengan menggunakan otot
besar, yang meliputi:

Ø Berjalan dengan berbagai variasi.
Ø Naik-turun tangga tanpa berpegangan.
Ø Memanjat dan bergelantungan/berayun.
Ø Menaiki, menuruni, dan berjalan di papan titian dengan jarak 40 cm.
Ø Berlari dengan stabil.
Ø Senam dengan gerakan sendiri.
Ø Menendang, menangkap dan melempar bola dari jarak 3-4 meter.

1. Pengembangan motorik halus, yaitu gerakan yang dilakukan dengan menggunakan otot
halus dan koordinasi mata serta jari-jari tangan yang meliputi:

Ø Mencontoh bentuk +, x, lingkaran, bujur sangkar, segitiga secara bertahap.
Ø Membuat garis lurus, vertikal, melengkung.
Ø Membedakan permukaan 7 jenis benda melalui perabaan.
Ø Melipat kertas lebih dari satu lipatan.
Ø Menggambar bebas dengan menggunakan beragam media.

1. Aspek pengembangan kognitif

Aspek pengembangan kognitif meliputi:

Ø Mengelompokkan, memasangkan benda yang sama dan sejenis atau sesuai
pasangannya.
Ø Menyebutkan 7 bentuk.
Ø Membedakan beragam ukuran.
Ø Membedakan rasa, bau.
Ø Menyebutkan bilangan 1-10.
Ø Mencoba menceritakan apa yang terjadi jika warna dicampur, biji ditanam, balon

ditiup dll.

1. Aspek pengembangan bahasa

Aspek pengembangan bahasa meliputi:

Ø Membedakan berbagai jenis suara.
Ø Mengenal masing-masing bunyi huruf.
Ø Menyatakan dengan 6-10 kata.
Ø Mengerti dan melaksanakan 1-2 perintah.
Ø Menjawab dengan kalimat lengkap.
Ø Menyebutkan nama benda, fungsi serta sifatnya.
Ø Berbicara lancar dengan kalimat sederhana.
Ø Membuat sebanyak-banyaknya kata dari suku kata awal yang disediakan.
Ø Bercerita tentang kejadian di sekitarnya.

1. Aspek pengembangan sosial emosional

Aspek pengembangan sosial emosional meliputi:

Ø Mematuhi etika dan jadwal makan.
Ø Bergaul dengan sopan.
Ø Terbiasa menggunakan WC atau kamar mandi.
Ø Berani ke sekolah tanpa diantar.
Ø Dapat memilih kegiatan sendiri.
Ø Bangga dengan hasil pekerjaannya.
Ø Menunjukkan ekspresi yang wajar sesuai perasaannya.
Ø Menjadi pendengar dan pembicara yang baik.
Ø Mengembalikan alat/benda pada tempatnya semula.
Ø Sabar menunggu giliran.
Ø Terbiasa antri.
Ø Mulai mengerti aturan main dalam suatu permainan.
Ø Mengerti akibat jika melakukan kesalahan atau melanggar peraturan.
Ø Menjaga kerapian diri.
Ø Dapat memimpin kelompok kecil.

1. Aspek pengembangan moral dan nilai-nilai agama

Aspek ini meliputi:

Ø Menyanyikan lagu keagamaan.
Ø Berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan
Ø Bersikap yang benar saat berdoa.
Ø Membedakan ciptaan Tuhan dengan buatan manusia.
Ø Mengenal sifat-sifat Tuhan.
Ø Mengucapkan salam.
Ø Mengucapkan terimakasih setiap menerima sesuatu.
Ø Mengucapkan kata-kata santun.

Ø Menolong teman apabila kesulitan.
Ø Menunjukkan rasa sayang dan cinta dengan membelai/merangkul.

6. Aspek Pengembangan seni

Aspek ini meliputi:

Mengekspresikan gerakan dengan irama yang bervariasi.
Membentuk irama dengan bertepuk atau membunyikan benda-benda.
Memainkan alat musik.
Melukis dengan alat yang bervariasi.

B. Usia 5-6 Tahun

Anak usia 5-6 tahun adalah anak yang periang dan imajinatif. Mereka tiada hentinya bergerak
dan berbuat sesuatu. Dunia sekitar mereka seakan mengundang mereka, menunggu untuk
ditemukan, dikuasai dan penuh tantangan. Untuk itulah perlu disediakan suatu lingkungan yang
baik, yang kaya dengan stimulus untuk membantu mereka mengembangkan seluruh aspek
dirinya.

Manfaat Permainan anak tk

1. Aspek pengembangan fisik.

a. Aspek pengembangan fisik untuk motorik kasar meliputi:

Merayap dengan berbagai variasi.
Merangkak dengan berbagai variasi.
Berjalan lurus, berjingkat, mengangkat tumit dll.
Berlari: lurus, berjingkat, mengangkat tumit dll.
Berjingkat dengan satu atau dua kaki.
Berjalan di atas papan titian dengan membawa cangkir berisi air tampa tumpah
Melompat dengan menggunakan satu dan dua kaki dengan alat/tanpa alat secara
bervariasi.
Meloncat dari ketinggian 20-50 cm sambil menghadap ke arah tertentu.

b. Aspek pengembangan fisik untuk motorik halus meliputi:

Mencontoh bentuk +, X, Lingkaran, bujur sangkar, segi tiga.
Menjiplak angka, bentuk-bentuk lain.
Menjahit sederhana dengan menggunakan tali sepatu, benang woll dll.
Memasukkan surat ke dalam amplop.
Membentuk dengan plastisin.
Memasukkan benang ke dalam jarum
Menggunting mengikuti bentuk
Menganyam.

1. Aspek pengembangan kognitif

Aspek ini meliputi:

Menyebut urutan bilangan 1-20.
Menguasai konsep bilangan.
Mengenal lambang bilangan.
Menyebutkan semua jenis bentuk-bentuk.
Mengelompokkan benda dengan berbagai cara.
Mengenal perbedaan benda berdasarkan ukuran, ciri-ciri fisik benda dll.
Mengenal sebab akibat.

1. Aspek pengembangan bahasa

Aspek ini meliputi:

Menirukan 2-4 urutan angka, kata (latihan pendengaran)
Mengukuti 2-5 perintah sekaligus.
Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa, mengapa, di mana, berapa,
bagaimana dll.
Menceritakan kembali isi cerita yang sudah diceritakan guru.
Memberikan keterangan tentang suatu hal.
Memberikan batasan beberapa kata/benda.
Berbicara lancar dengan kalimat yang kompleks.
Memecahkan masalah dengan berdialog.

1. Aspek pengembangan moral dan nilai-nilai agama

Aspek ini meliputi:

Memnyayikan lagu keagamaan.
Selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan sikap berdoa yang benar.
Dapat melakukan ibadah.
Membedakan ciptaan tuhan dengan buatan manusia.
Memnyayangi semua ciptaan tuhan.
Mengucapkan kata-kata santun.
Menolong teman bila kesulitan.
Menunjukkan rasa sayang, cinta dengan membelai dan merangkul.
Menghargai teman.
Tidak memaksakan kehendak.
Menunjukkan prilaku atas dasar keyakinan adanya tuhan.
Mengucapkan salam.
Selalu mengucapkan terimakasih setiap menerima sesuatu.

1. Aspek pengembangan sosial emosional.

Aspek ini meliputi:

Mematuhi etika dan jadwal makan.
Bermain bersama dan bergantian menggunakan alat permainan.
Terbiasa menggunakan wc atau kamar mandi.
Berani ke sekolah tanpa diantar.
Terbiasa antri.
Mengerti aturan main dalam suatu permainan.
Mengerti akibat jika melakukan kesalahan.
Menjaga kerapian diri.
Dapat memimpin kelompok kecil.
Mengetahui hak dan kewajibannya.
Dapat memilih kegiatan sendiri.
Bangga dengan hasil pekerjaannya.
Menunjukkan ekspresi yang wajar sesuai perasaannya.
Menjadi pendengar dan pembicara yang baik
Mengembalikan alat atau benda ke tempat semula.
Sabar menunggu giliran.

1. Aspek pengembangan seni

Aspek ini meliputi:

Menari sesuai dengan irama musik.
Memainkan alat musik.
Melukis dengan bahan bervariasi.
Bertepuk tangan membentuk irama.

Jenis Permainan Yang Sesuai Dengan Aspek-Aspek Pengembangan Anak Tk

1. Permainan berdasarkan tinggi rendahnya keterlibatan anggota tubuh.
1. Kegiatan bermain aktif.

Kegiatan bermain jenis ini sangat dipengaruhi beberapa faktor yaitu:

Kesehatan
Jenis kelamin.
Alat permainan.
Lingkungan tempat.
Penerimaan sosial dari kelompok teman bermain.
Tingkat kecerdasan anak.

Macam-macam kegiatan bermain aktif:

Bermain bersama teman.
Bermain dengan kelompok.

1. Kegiatan bermain pasif.

Manfaat dari bermain pasif yaitu :

Sebagai sumber pengetahuan.
Menambah perbendaharaan kata.
Belajar mematuhi peraturan.
Belajar memusatkan perhatian terhadap apa yang dilihat.
Beberapa jenis hiburan dapat menghasilkan ilham untuk berkreasi.
Melakukan identifikasi dengan contoh-contoh cerita.
Membantu anak menangani masalah emosional yang dialaminya.
Penyaluran kebutuhan dan keinginan anak yang tidak mungkin diwujudkan dalam
kehidupan nyata.

Macam-macam kegiatan bermain pasif:

Membaca
Mendengarkan radio
Mendengarkan musik.
Menonton film

1. Permainan berdasarkan kemampuan dan ketrampilan yang dikembangkan anak
1. Bermain untuk pengembangan kemampuan kognitif
2. Bermain drama sebagai latihan pengembangan berbahasa.
3. Bermain untuk pengembangan kemampuan seni.
4. Bermain sebagai penumbuhan aspek morsl dan nilai-nilai kehidupan.
5. Bermain sebagai latihan koordinasi gerakan motorik (fisik).
6. Bermain konstruktif untuk pengembangan kemampuan kognitif dan ketrampilan
motorik halus.

Program Bermain Yang Sesuai Dengan Aspek-Aspek Pengembangan Anak Tk

1. Bermain pasir.
2. Bermain alat manipulatif.
3. Sudut rumah tangga.
4. Bermain di perpustakaan.
5. Bermain di luar.
6. Bermain air.
7. Bermain balok.

Bahasa bisa mengacu kepada kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan
menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, atau kepada sebuah instansi spesifik dari
sebuah sistem komunikasi yang kompleks. Kajian ilmiah terhadap bahasa dalam semua indra
disebut dengan linguistik.

Sekitar 3000-6000 bahasa yang digunakan oleh manusia sekarang adalah suatu contoh yang
menonjol, tapi bahasa alami dapat juga berdasarkan visual daripada rangsangan pendengaran,
sebagai contoh pada bahasa isyarat dan bahasa tulis. Kode dan bentuk lain dari sistem
komunikasi artifisial seperti yang digunakan untuk pemrograman komputer juga dapat disebut
bahasa. Bahasa dalam konteks ini adalah sebuah sistem isyarat untuk enkoding dan dekoding
informasi. Kata bahasa Inggris "language" diturunkan secara langsung dari Latin lingua,
"language, tongue", lewat bahasa Prancis Tua. [1]

Bila digunakan sebagai konsep umum,
"bahasa" mengacu pada kemampuan kognitif yang membuat manusia dapat belajar dan
menggunakan sistem komunikasi yang kompleks.

Bahasa sebagai sistem komunikasi dikatakan pada dasarnya berbeda dari dan lebih tinggi tingkat
kerumitannya daripada spesies lain dimana ia berdasarkan pada sebuah sistem kompleks dari
aturan yang berkaitan dengan simbol dan makna, sehingga menghasilkan sejumlah kemungkinan
penyebutan yang tak terbatas dari sejumlah elemen yang terbatas. Bahasa dikatakan berasal sejak
hominid pertama kali mulai bekerja sama, mengadopsi sistem komunikasi awal yang
berdasarkan pada isyarat ekspresif yang mengikutkan teori dari pikiran dan dibagi secara
sengaja. Perkembangan tersebut dikatakan bertepatan dengan meningkatnya volume pada otak,
dan banyak ahli bahasa melihat struktur bahasa telah berkembang untuk melayani fungsi
komunikatif tertentu. Bahasa diproses pada otak manusia dalam lokasi yang berbeda, tetapi
secara khusus berada di area Broca dan area Wernicke. Manusia mengakuisisi bahasa lewat
interaksi sosial pada masa balita, dan anak-anak sudah dapat berbicara secara fasih sekitar umur
tiga tahun. Penggunaan bahasa telah berakar dalam kultur manusia dan, selain digunakan untuk
berkomunikasi dan berbagi informasi, ia juga memiliki fungsi sosial dan kultural, seperti untuk
menandakan identitas suatu kelompok, stratifikasi sosial dan untuk dandanan sosial dan hiburan.
Kata "bahasa" juga dapat digunakan untuk menjelaskan sekumpulan aturan yang membuat ia
bisa ada, atau sekumpulan penyebutan yang dapat dihasilkan dari aturan tersebut.

Semua bahasa bergantung pada proses semiosis untuk menghubungkan sebuah isyarat dengan
sebuah makna tertentu. Bahasa lisan dan isyarat memiliki sebuah sistem fonologikal yang
mengatur bagaimana suara atau simbol visual digunakan untuk membentuk urutan yang dikenal
sebagai kata atau morfem, dan sebuah sistem sintaks yang mengatur bagaimana kata-kata dan
morfem digunakan membentuk frasa dan penyebutan. Bahasa tulis menggunakan simbol visual
untuk menandakan suara dari bahasa lisan, tetapi ia masih membutuhkan aturan sintaks yang
memproduksi makna dari urutan kata-kata. Bahasa-bahasa berubah dan bervariasi setiap waktu,
dan sejarah evolusinya dapat direkonstruksi ulang dengan membandingkan bahasa modern untuk
menentukan ciri-ciri mana yang harus dimiliki oleh bahasa pendahulunya untuk perubahan
nantinya dapat terjadi. Sekelompok bahasa yang diturunkan dari leluhur yang sama dikenal
sebagai keluarga bahasa. Bahasa yang digunakan dunia sekarang tergolong pada keluarga Indo-
Eropa, yang mengikutkan bahasa seperti Inggris, Spanyol, Rusia dan Hindi; Bahasa Sino-Tibet,
yang melingkupi Bahasa Mandarin, Cantonese dan lainnya; bahasa Semitik, yang melingkupi
Arab, Amhar dan Hebrew; dan bahasa Bantu, yang melingkupi Swahili, Zulu, Shona dan ratusan

bahasa lain yang digunakan di Afrika. Empat puluh persen bahasa di dunia terancam dan ada
kemungkinan menjadi punah. [2]

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->