P. 1
KANKER

KANKER

|Views: 15|Likes:
Published by Moh Firman H

More info:

Published by: Moh Firman H on Apr 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

KANKER KOLOREKTAL

Posted on Maret 9, 2008 by harnawatiaj Pendahuluan Kolon ( termasuk rectum ) merupakan tempat keganasan tersering dari saluran cerna. Kanker kolon menyerang individu dua kali lebih besar dibandingkan kanker rectal. Kanker kolon merupakan penyebab ketiga dari semua kematian akibat kanker di Amerika Serikat, baik pada pria maupun wanita ( Cancer Facts and Figures, 1991). Ini adalah penyakit budaya barat. Diperkirakan bahwa 150.000 kasus baru kanker kolorektal didiagnosis di negara ini setiap tahunnya. Insidensnya meningkat sesuai dengan usia , kebanyakan pada pasien yang berusia lebih dari 55 tahun. Kanker ini jarang ditemukan di bawah usia 40 tahun, kecuali pada orang dengan riwayat kolitis ulseratif atau poliposis familial. Kedua kelamin terserang sama seringnya, walaupun kanker kolon lebih sering pada wanita, sedangkan lesi pada rectum lebih sering pada pria. Distribusi tempat kanker pada bagian – bagian kolon adalah sebagai berikut : Asendens : 25 % Transversa : 10 % Desendens : 15 % Sigmoid : 20 % Rectum : 30 % Namun pada tahun – tahun terakhir, diketemukan adanya pergeseran mencolok pada distribusinya. Insidens kanker pada sigmoid & area rectal telah menurun, sedangkan insidens pada kolon asendens dan desendens meningkat. Lebih dari 156.000 orang terdiagnosa setiap tahunnya, kira – kira setengah dari jumlah tersebut meninggal setiap tahunnya, meskipun sekitar tiga dari empat pasien dapat diselamatkan dengan diagnosis dini dan tindakan segera. Angka kelangsungan hidup di bawah 5 tahun adalah 40 – 50 %, terutama karena terlambat dalam diagnosis dan adanya metastase. Kebanyakan orang asimptomatis dalam jangka waktu yang lama dan mencari bantuan kesehatan hanya bila mereka menemukan perubahan pada kebiasaan defekasi atau perdarahan rectal. Etiologi Penyebab nyata dari kanker kolorectal belum diketahui secara pasti, namun faktor resiko & faktor predisposisi telah diidentifikasi. Faktor resiko yang mungkin adalah adanya riwayat kanker payudara dan tumor uterus atau kanker kolon atau polip dalam keluarga ; riwayat penyakit usus inflamasi kronis. Faktor predisposisi yang penting adalah adanya hubungan dengan kebiasaan makan, karena kanker kolorektal ( seperti juga divertikulosis ) adalah sekitar 10 kali lebih banyak pada penduduk di dunia barat, yang mengkonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung karbohidrat refined dan rendah serat kasar, dibandingkan penduduk primitive ( Afrika ) dengan diet kaya serat kasar. Burkitt ( 1971 ) mengemukakan bahwa diet rendah serat, tinggi karbohidarat refined mengakibatkan perubahan pada flora feses dan perubahan degradasi garam – garam empedu atau hasil pemecahan protein & lemak, dimana sebagian dari zat – zat ini bersifat karsinogenik. Diet rendah serat juga menyebabkan pemekatan zat yang berpotensi karsinogenik ini dalam feses yang bervolume lebih kecil. Selain itu, massa transisi feses meningkat, akibatnya kontak zat yang berpotensi karsinogenik dengan mukosa usus bertambah lama. Patofisiologi Kanker kolon dan rektum terutama ( 95 % ) adenokarsinoma ( muncul dari lapisan epitel usus ). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan

Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon 3. keinginan defekasi atau sering berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat – alat tersebut. nyeri kejang. Prognosis relative baik bila lesi terbatas pada mukosa dan submukosa pada saat reseksi dilakukan. Adanya perubahan dalam defekasi. Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses. darah pada feses. anemia dan perdarahan rectal merupakan keluhan yang umum terjadi. Pemeriksaan Diagnostik The American Cancer Society merekomendasikan pemeriksaan rectal manual setiap tahun bagi orang dengan usia di atas 40 tahun. sering timbul gangguan obstruksi. dan kembung sering terjadi. Kanker kolorektal dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu : 1. konstipasi dan diare bergantian. tetapi jarang pada stadium awal. karena tercampur dalam feses. insisi abdomen atau lokasi drain. kanker kolorektal digolongkan berdasarkan metastasenya : Stadium A : tumor dibatasi pada mukosa dan submukosa saja Stadium B : kanker yang sudah menembus usus ke jaringan di luar rectal tanpa keterlibatan nodus limfe. yang mengikuti . Penderita mungkin mengalami perasaan tidak enak pada abdomen. Kanker kolon kiri dan rectum cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks.normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya.Melalui aliran darah. cenderung tetap tersamar hingga stadium lanjut. dan jauh lebih jelek bila telah terjadi metastase ke kelenjar limfe. pembuluh limfe atau vena. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling sering ke hati ). karena lumen usus lebih besar dan feses masih encer. dan darah bersifat samara dan hanya dapat dideteksi dengan tes Guaiak ( suatu tes sederhana yang dapat dilakukan di klinik ). Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi. dan kadang – kadang pada epigastrium.Penyebaran ke luka jahitan. biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke system portal. menimbulkan gejala – gejala pada tungakai atau perineum. 2. serta feses berdarah. Hemoroid. dimana isi kolon berupa caiaran. 4. nyeri pinggang bagian bawah. tenesmus. Baik mucus maupun darah segar sering terlihat pada feses.Penyebaran secara transperitoneal 5. sample feses untuk menilai adanya darah setiap tahun setelah usia 50 tahun dan proktosigmoidoskopi setiap 3 – 5 tahun setelah usia 50 tahun. Gejala yang mungkin dapat timbul pada lesi rectal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi. tumor kolon kanan mungkin dapat teraba. perubahan dalam penampilan feses. Feses dapat kecil dan berbentuk seperti pita. seperti ke dalam kandung kemih. tahap penyakit. Dapat terjadi anemia akibat kehilangan darah kronik. Kanker kolon kanan. Mucus jarang terlihat. dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Diare. meliputi penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. konstipasi. Pada orang yang kurus. Dengan menggunakan metode Dukes. Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder. Manifestasi Klinis Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker. Pertumbuhan pada sigmoid atau rectum dapat mengenai radiks saraf. Stadium C : invasi ke dalam system limfe yang mengalir regional Stadium D : metastase regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas & tidak dapat dioperasi lagi. Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar. serta timbulnya metastase pada jaringan lain.Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan. Anemia akibat perdarahan sering terjadi.

berhubungan dengan makan atau defekasi ) Pola eliminasi terdahulu dan saat ini Deskripsi tentang warna. 1993 ) : Reseksi segmental dengan anastomosis Reseksi abdominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanent Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan anastomosis lanjut dari kolostomi Kolostomi permanent atau ileostomi. pembedahan kadang dianjurkan untuk mengatasi kanker kolon D. dan massa padat Inspeksi specimen terhadap karakter dan adanya darah . suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk meminimalkan luasnya pembedahan pada beberapa kasus. Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut ( Doughty & Jackson. Berkenaan dengan teknik perbaikan melalui pembedahan. Reseksi usus diindikasikan untuk kebanyakan lesi Kelas A dan semua Kelas B serta lesi C.pemeriksaan dengan dua kali hasil negative setiap tahunnya. durasi. Pilihan mencakup kemoterapi. Rekomendasi ini adalah untuk orang – orang yang asimtomatik. dan evaluasi lebih sering pada individu yang diketahui mempunyai factor – factor resiko yang lebih tinggi. Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada jaringan sekitar. Pembedahan dapat bersifat kuratif atau palliative. Stoma ini dapat berfungsi sebagai diversi sementara atau permanent. serat & konsumsi alcohol ) juga riwayat penurunan BB. Penatalaksanaan Medis Pembedahan merupakan tindakan primer pada kira – kira 75 % pasien dengan kanker kolorektal. bau dan konsistensi feses. Pasien dengan kanker rectal Kelas B dan C diberikan 5-FU dan metil CCNU dan dosis tinggi radiasi pelvis. Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk pendukung atau terapi ajufan. Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam membuat keputusan di kolon . ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KANKER KOLOREKTAL Pengkajian Riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang : Perasaan lelah Nyeri abdomen atau rectal dan karakternya ( lokasi. Pengkajian objekif meliputi : Auskultasi abdomen terhadap bising usus Palpasi abdomen untuk area nyeri tekan. maka operasi tidak dapat dilakukan. frekuensi. massa tumor kemudian dieksisi. Kanker yang terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop. Sebanyak 60 % dari kasus kanker kolorektal dapat diidentifikasi dengan sigmoidoskopi. kolostomi dilakukan pada kuarang dari sepertiga pasien kanker kolorektal. Kolostomi laparoskopik dengan polipektomi. terapi radiasi dan atau imunoterapi. Konsistensi drainase dihubungkan dengan penempatan kolostomi. Riwayat penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal Riwayat keluarga dari penyakit kolorektal dan terapi obat saat ini Kebiasaan diet ( masukan lemak. Terapi ajufan standar yang diberikan untuk pasien dengan kanker kolon kelas C adalah program 5FU/Levamesole. Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah. Ini memungkinkan drainase atau evakuasi isi kolon keluar tubuh. distensi. Apabila tumor telah menyebar dan mencakup struktur vital sekitarnya. tujuan pembedahan dalam situasi ini adalah palliative. Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah. mencakup adanya darah atau mucus.

prosedur pembedahan dan perawatan diri setelah pulang. mempertahankan keseimbangan cairan & elektrolit. gosokan punggung. adalah sebagai berikut : Konstipasi b/d lesi obstruksi Nyeri b/d kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi Keletihan b/d anemia dan anoreksia Perubahan nutrisi. karbohidrat serta rendah residu diberikan pada pra op selama bberapa hari untuk memberikan nutrisi adekuat dan meminimalkan . penurunan ansietas. 3. pembentukan stoma. pedoman keamanan umum dan kebijakan institusi mengenai tindakan pengamanan harus diikuti. reduksi / penghilangan nyeri. peningkatan toleransi aktivitas. 4. memahami tentang diagnosis. kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual dan anoreksia Resiko kekurangan volume cairan b/d muntah dan dehidrasi Ansietas b/d rencana pembedahan dan diagnosis kanker Kurang pengetahuan mengenai diagnosa. dan teknik relaksasi.Menghilangkan Nyeri Analgesic diberikan sesuai resep Lingkungan dibuat kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan lampu. dan kontaminasi fekal terhadap kulit periostomal Gangguan citra rubuh b/d kolostomi. dan membatasi pengunjung dan telepon bila diinginkan oleh pasien Tindakan kenyamanan tambahan ditawarkan : perubahan posisi. Intervensi Keperawatan PraOperatif 1. mematikan TV atau radio. dan perawatan diri setelah pulang Kerusakan integritas kulit b/d insisi bedah ( abdominoperineal ).Mempertahankan eliminasi Frekuensi dan konsistensi defekasi dipantau Laksatif dan enema diberikan sesuai resep Pasien yang menunjukkan tanda perkembangan ke arah obstruksi total disiapkan untuk mejalani pembedahan. prosedur pembedahan. Apabila transfusi darah diberikan. diagnosa keperawatan utama yang mencakup. diet tinggi kalori. Perencanaan & Implementasi Tujuan Tujuan utama dapat mencakup eliminasi produk sisa tubuh yang adekuat. perlindungan kulit periostomal yang adekuat.Memberikan Tindakan Nutrisional Bila kondisi pasien memungkinkan. penggalian dan pengungkapan perasaan dan masalah tentang kolostomi dan pengaruhnya pada diri sendiri. mendapatkan tingkat nutrisi optimal. mempertahankan penyembuhan jaringan optimal. 2.Diagnosa Keperawatan Berdasarkan semua data pengkajian. protein. Aktivitas post op ditingkatkan dan toleransi dipantau. Terapi komponendarah diberikan sesuai resep bila pasien menderita anemia berat.Meningkatkan Toleransi Aktivitas Kaji tingkat toleransi aktivitas pasien Ubah dan jadwalkan aktivitas untuk memungkinkan periode tirah baring yang adekuat dalam upaya untuk menurunkan keletihn pasien.

teknik perawatan kolostomi. Kadang – kadang kecemasan berkurang. Setiap informasi dari dokter harus dijelaskan. Atur pertemuan dengan rohaniawan bila pasien menginginkannya. dan Neomisin Sulfat sesuai resep. usus juga dapat dibersihkan dengan enema. dengan dokter bila pasien mengharapkan diskusi pengobatan atau prognosis. Haluaran kurang dari 30 ml / jam dilaporkan sehingga terapi cairan intravena dapat disesuaikan. untuk menggantikan penipisan nutrient. Kaji TTV untuk mendeteksi hipovolemia : takikardi. serta peningkatan berat jenis urine dilaporakan. Untuk meningkatkan kenyamanan pasien. dan dokter diberitahu bila terdapat penurunan BB pada saat menerima nutrisi parenteral. Penderita stoma lain dapat diminta untuk berkunjung bila pasien mengungkapkan minat untuk berbicara dengan mereka. Pantau pemberian cairan IV dan elktrolit. eritromisin (Erythromycin).Pendidikan Pasien Pra Operatif Kaji tingkat kebutuhan pasien tentang diagnosis. vitamin dan mineral. Selian itu. Kaji status hidrasi. yang akan menyediakan data akurat tentang keseimbangan cairan Batasi masukan maknan oral dan cairan untuk mencegah muntah. sementara yang lain memilih untuk tidak mengetahuinya. prognosis. Penimbangan BB harian dicatat. bila pasien mengetahui persiapan fisik yang diperlukan selama periode pra op dan mengetahui kemungkinan post op. Diet cair penuh 24 jam pra op. 8. kesedihan atau pertanyaan yang diajukan oleh pasien. 7. Luangkan waktu untuk mendengarkan ungkapan. dan tingkat fungsi yang diinginkan pasca op.kram dengan menurunkan peristaltic berlebih. Berikan antiemetik sesuai indikasi Pasang selang nasogastrik pada periode pra op untuk mengalirkan akumulasi cairan dan mencegah distensi abdomen Pasang kateter indwelling untuk memantau haluaran urin setiap jam. Informasi yang diperlukan pasien tentang persiapan fisik untuk pembedahan. terutama kadar serum untuk mendeteksi hipokalemia dan hiponatremia. Jawab pertanyaan pasien dengan jujur dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.Mempertahankan Keseimbangan Cairan & Elektrolit Catat masukan dan haluaran. untuk mengurangi bakteri usus dalam rangka persiapan pembedahan usus. mencakup pemberian privasi bila diinginkan dan menginstruksikan pasien untuk latihan relaksasi. yang terjadi akibat kehilangan cairan gastrointestinal. penurunan turgor kulit. atau irigasi kolon.Mencegah Infeksi Berikan antibiotic seperti kanamisin sulfat ( Kantrex ). beberapa pasien akan lebih senang jika diperbolehkan untuk melihat hasil pemeriksaan. 5. 6. membrane mukosa kering. Preparat diberikan per oral untuk mengurangi kandungan bakteri kolon dan melunakkan serta menurunkan bulk dari isi kolon. penampilan dan perawatan yang diharapkan dari luka pasca op.Menurunkan Ansietas Kaji tingkat ansietas pasien serta mekanisme koping yang digunakan Upaya pemberian dukungan. urine pekat. bila perlu. perawat harus mengutamakan relaksasi dan perilaku empati. prosedur bedah. pembatasan diet. mencakup muntah. hipotensi dan penurunan jumlah denyut. .

rabas ( rembesan berjumlah sedikit adalah normal ). emoragik. Lorraine M. Jakarta. luka diobservasi dengan cermat untuk tanda hemoragik.. dan perdarahan ( tanda abnormal ). dan penatalaksanaan obat dimsukkan ke dalam materi penyuluhan. Bersihkan kulit peristoma dengan perlahan serta keringkan untuk mencegah iritasi. Gale. Danielle & Charette. Luka dapat mengandung drain atau tampon yang diangkat secara bertahap. DAFTAR PUSTAKA Smeltzer. 1995. Pantau adanya peningkatan TTV yang mengindikasikan adanya proses infeksi. infeksi atau nekrosis. EGC.Citra Tubuh Positif Dorong pasien untuk mengungkapkan masalah yang dialami serta mendiskusikan tentang pembedahan dan stoma ( bila telah dibuat ). 2. Jane. 2002. dehidens. Konsep Klinis Proses–Proses Penyakit Vol. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Vol. untuk meyakinkan bahwa luka akan sembuh tanpa komplikasi ( infeksi. Bantu pasien untuk membebat insisi abdomen selama batuk dan napas dalam untuk mengurangi tegangan pada tepi insisi. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Suzanne C. Brenda G. Apabila malignansi telah diangkat dengan rute perineal. Berikan lingkungan yang kondusif bagi pasien serta berikan dukungan dalam meningkatkan adaptasi pasien terhadap perubahan yang terjadi akibat pembedahan. 1. EGC. Jakarta. warna ( stoma sehat adalah mera jambu ). Ajarkan pasien mengenai perawatan kolostomi dan pasien sudah harus ulai untuk memasukkan perawatan stoma dalam kehidupan sehari – hari. Patofisiologi . Mungkin terdapat jaringan yang terkelupas selama beberapa minggu. Sylvia A. Dokumentasikan kondisi luka perineal. Edisi 4. Intervensi Keperawatan Pasca Operatif 1. edema berlebihan ). Ganti balutan sesuai kebutuhan untuk mencegah infeksi. Periksa stoma terhadap edema ( edema ringan akibat manipulasi bedah adalah normal ).control nyeri. adanya perdarahan.. berikan pelindung kulit sebelum meletakkan kantung drainase. 2000. Price. Proses ini juga dipercepat dengan irigasi mekanis luka atau rendam duduk yang dilakukan dua atau tiga kali sehari. & Wilson. EGC..Perawatan Luka Luka abdomen diperiksa dngan sering dalam 24 jam pertama. Jakarta. Edisi 8. 2. & Bare. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->