A.

Sejarah Suku Anak Dalam Kubu Sejarah Suku Anak Dalam atau SAD masih penuh misteri, bahkan hingga kini tak ada yang bisa memastikan asal usul mereka. Hanya beberapa teori, dan cerita dari mulut ke mulut para keturunan yang bisa menguak sedikit sejarah mereka. Sejarah lisan Orang Rimba selalu diturunkan para leluhur. Tengganai Ngembar (80), pemangku adat sekaligus warga tertua SAD yang tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, mendapat dua versi cerita mengenai sejarah Orang Rimba dari para terdahulu. Ia memperkirakan dua versi ini punya keterkaitan. Yang pertama, leluhur mereka adalah orang Maalau Sesat, yang meninggalkan keluarga dan lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, TNBD. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Sedangkan versi kedua, penghuni rimba adalah masyarakat Pagaruyung, Sumatera Barat, yang bermigrasi mencari sumber-sumber penghidupan yang lebih baik. Diperkirakan karena kondisi keamanan tidak kondusif atau pasokan pangan tidak memadai di Pagaruyung, mereka pun menetap di hutan itu. Versi kedua ini lebih banyak dikuatkan dari segi bahasa, karena terdapat sejumlah kesamaan antara bahasa rimba dan Minang. Orang Rimba juga menganut sistem matrilineal, sama dengan budaya Minang. Dan yang lebih mengejutkan, Orang Rimba mengenal Pucuk Undang Nang Delapan, terdiri atas hukum empat ke atas dan empat ke bawah, yang juga dikenal di ranah Minang. Di Kabupaten Tanah Datar sebagai pusat Kerajaan Pagaruyung sendiri, terdapat sebuah daerah, yaitu Kubu Kandang. Merekalah yang diperkirakan bermigrasi ke beberapa wilayah di Jambi bagian barat. Sedangkan perilaku Orang Rimba yang kubu atau terbelakang, menurut Ngembar, disebabkan beratus tahun moyang mereka hidup di tengah hutan, tidak mengenal peradaban. Kehidupan mereka sangat dekat dan bergantung pada alam. “Kami beranak pinak dalam rimba, makan sirih, berburu, dan meramu obat alam, sehingga lupa dengan peradaban orang desa. Kami terbentuk jadi Orang Rimba,” tuturnya. Mereka hidup seminomaden, karena kebiasaannya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tujuannya, bisa jadi “melangun” atau pindah ketika ada warga meninggal, menghindari musuh, dan membuka ladang baru. Orang Rimba tinggal di pondok-pondok, yang disebut sesudungon, bangunan kayu hutan, berdinding kulit kayu, dan beratap daun serdang benal. Hasil survei Kelompok Konservasi Indonesia (KKI) Warsi tahun 2004 menyatakan, jumlah keseluruhan Orang Rimba di TNBD ada 1.542 jiwa. Mereka menempati hutan yang kemudian dinyatakan kawasan TNBD, terletak di perbatasan empat kabupaten, yaitu Batanghari, Tebo, Merangin, dan Sarolangun. Hingga tahun 2006, paling sedikit terdapat 59 kelompok kecil Orang Rimba. Beberapa ada yang mulai hidup dan menyatukan diri dengan kehidupan desa sekitarnya. Namun sebagian besar masih tinggal di hutan dan menerapkan hukum adat sebagaimana nenek moyang dahulu. Selain di TNBD, kelompok- kelompok Orang Rimba juga tersebar di tiga wilayah lain. Populasi terbesar terdapat di Bayung Lencir, Sumatera Selatan, sekitar 8.000 orang. Mereka hidup pada sepanjang aliran anak-anak sungai keempat (lebih kecil dari sungai tersier), seperti anak Sungai Bayung Lencir, Sungai Lilin, dan Sungai Bahar. Ada juga yang hidup di Kabupaten Sarolangun,

Sekitar tahun 1025. dan pemerkosaan. Kisah yang dituturkan Ngembar tak berbeda jauh dengan warga Suku Anak Dalam (SAD) di kawasan lain TNBD. salah seorang peneliti antropologi asal Australia.sepanjang anak Sungai Limun. Identitas Orang Rimba yang tertuang lewat seloka. dan Kembang Bungo. Ada satu seloka yang bisa menjelaskan tentang Orang Rimba: Bertubuh onggok berpisang cangko beratap tikai berdinding baner melemak buah betatal minum air dari bonggol kayu. Cara hidup dengan makan buah-buahan di hutan. yang jika dilanggar akan dikenai hukuman 500 lembar kain. Tumenggung Tarib. Karena tidak dekat dengan peradaban dan hukum modern. tetapi kijang. Tabir. Batang Asai. Ada lagi: berkambing kijang berkerbau tenu bersapi ruso Mereka sehari-harinya tanpa baju. Makanan mereka bukan hewan ternak. Inilah larangan terberat. jumlahnya sekitar 1.200 orang. membedakannya dari orang terang – sebutan untuk masyarakat di desa. Kelompok lainnya menempati Taman Nasional Bukit Tigapuluh. termasuk Tiongkok dan Chola. Mereka menyebutnya seloka adat. berburu. dan mengonsumsi air dari sungai yang diambil dengan bonggol kayu. dan rusa. ayam hutan. Mereka membuat seloka tentang orang terang: berpinang gayur berumah tanggo berdusun beralaman beternak angso Seloka yang muncul lewat mimpi juga memberi panduan mengenai hidup sosial di rimba. Orang Rimba memiliki sendiri hukum rimba. Aturanaturan Orang Rimba memang tidak jauh dari Pucuk Undang Nang Delapan. dan sangat sulit disanggupi. pimpinan di salah satu rombongan SAD. sekitar 500 orang. sebuah kerajaan di India Selatan. karenanya Orang Rimba berusaha untuk mematuhi. Untuk sejarah lisan ini. Aturan rimba sendiri melarang adanya pembunuhan. Pelepak. Merangin. Kerajaan . diturunkan sampai enam generasi ke bawah. mengemukakan bahwa mereka adalah keturunan Kerajaan Pagaruyung (dharmacraya) yang merantau ke Jambi. Jumlah kain sebanyak itu dinilai sangat berat. Rumahnya hanyalah beratap rumbia dan dinding dari kayu. yang dibawa dari minang. Kerajaan Sriwijaya menguasai Selat Malaka serta melakukan perniagaan dan memiliki hubungan sosial dengan mancanegara. kecuali cawat penutup kemaluan. yang juga pernah menetap di hutan rimba Taman Nasional Bukit Dua belas (TNBD). Terdesak penjajahan Johan Weintre. pencurian. menuliskan. menurut Tarib.

Keturunan dari Sumatera Selatan. Hal ini terkait dengan kebiasaan mereka yang dari kecil nyaris tidak berhenti merokok serta rambut yang terlihat kusut karena jarang disisir dan hanya dibasahi saja. Budaya Melangun . Sejarah mereka juga kaum pelarian pada Perang Sriwijaya. umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari. Ciri fisik lain yang menonjol adalah penampilan gigi mereka yang tidak terawat dan berwarna kecoklatan. 2. kulit sawo matang. Dari hakikat tersebut Muchlas menarik kesimpulan bahwa Anak Dalam berasal dari tiga turunan yaitu: 1. menyebutkan bahwa orang rimba sebagai orang primitif yang taraf kemampuannya masih sangat rendah dan tak beragama. 1975) Menurut Van Dongen (1906) dalam Tempo (2002). masyarakat adat melayu kuno di Kuto Rayo. laki-laki dan perempuan yang dewasa banyak makan sirih. mereka melakukan transaksi dengan bersembunyi di dalam hutan dan melakukan barter. Senada dengan Bernard Hagen (1908) dalam Tempo (2002) (die orang kubu auf Sumatra) menyatakan orang rimba sebagai orang pra melayu yang merupakan penduduk asli Sumatera. umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersam (Batanghari). dan menganut sistem matrilineal. BAB II ISI B. Tentang asal usul Suku Anak Dalam (Muchlas. yang mengitari kawasan TNBD. juga memegang hukum adat Pucuk Undang Nang Delapan dari Minang. namun juga pada daerah sekitarnya. membangun komunitas baru di daerah terpencil. Mereka kemudian disebut kubu. C.Keturunan dari Jambi Asli yaitu Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko (Muchlas. masyarakat SAD tidak jauh berbeda dengan masyarakat lain di sekitarnya. 1975) menyebutkan adanya berbagai hikayat dari penuturan lisan yang dapat ditelusuri seperti Cerita Buah Gelumpang.Keturunan dari Minangkabau. Pengaruh Minang tidak hanya lekat di sana. Lalu sebagian penduduk yang tidak ingin dikuasai penjajah. 3.Chola menyerang Kerajaan Sriwijaya dan menguasai daerahnya. Demikian pula Paul Bescrta mengatakan bahwa orang rimba adalah proto melayu (melayu tua) yang ada di semenanjung Melayu yang terdesak oleh kedatangan melayu muda. Kabupaten Merangin. Bungo. Karakteristik dan Kultur Suku Kubu Ciri-ciri fisik dan non fisik Suku anak dalam termasuk golongan ras mongoloid yang termasuk dalam migrasi pertama dari manusia proto melayu. wilayah Kabupaten Sarolangun. Salah satu buktinya. mereka meletakkannya di pinggir hutan. Asal Usul Suku Anak Dalam Kubu Penyebutan Orang Rimba pertama kali dengan berakhiran huruf „o‟ pada disertasi tersebut dipertentangkan oleh beberapa antropolog meski tidak ada perbedaan makna. telapak kaki tebal. mengungsi ke hutan. Merangin. dan Muaro Tebo. rambut agak keriting. Sebenarnya. kemudian orang melayu akan mengambil dan menukarnya. Kecamatan Tabir. tetapi akhiran „o‟ pada sebutan Orang Rimbo merupakan dialek Melayu Jambi dan Minang.

Mereka juga tidak menyebut nama orang yang sudah meninggal dunia. ketentraman dan dihindarkan dari mara bahaya. Seloko dan Mantera Kehidupan Suku Anak Dalam sangat dipengaruhi oleh aturan-aturan hukum yang sudah diterapkan dalam bentuk seloko-seloko yang secara tegas dijadikan pedoman hukum oleh para pemimpin Suku. ladang. tempat mereka hidup. khususnya Tumenggung dalam membuat suatu keputusan.Titian galling tenggung negeri (Tidak ke sini juga tidak kesana/labil) Besale kata besale dapat diartikan secara harafiah duduk bersama untuk bersama-sama memohon kepada Yang Kuasa agar diberikan kesehatan. sesap. juga tidak seluruh anggota Suku Anak Dalam tersebut yang pergi melangun. Orang Rimba mengenal wilayah peruntukan seperti adanya Tanoh Peranokon. istilah ethnic mereka yakni dewo dewo. 2. Hutan. Hanya angota keluarga-keluarga mendiang saja yang melakukannya. Bentuk seloko itu antara lain: 1.Orang Rimba tidak diperbolehkan memanggil istri atau suami dengan namanya.Pada masa sekarang apabila terjadi kematian di suatu daerah. Temenggung adalah pemimpin utama dalam struktur kelompok. Peruntukan wilayah merupakan rotasi penggunaan sumber daya hutan dari rimba menjadi lading dan kemudian menjadi sesap. demikian pula antara adik dengan kakak dan antara anak dengan orang tua. Mereka mempercayai adanya dewa yang mendatangkan kebajikan jika mereka menjalankan aturannya. beranak-pinak. yang bagi mereka merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Sistem Kekerabatan Sistem kekerabatan orang Rimba adalah matrilineal yang sama dengan system kekerabatan budaya Minangkabau. Kebudayaan orang Rimba juga mengenal sistem pelapisan sosial. Organisasi Sosial dan Kelompok Masyarakat pada Suku Kubu . Sebenarnya menyebut nama seseorang dianggap tabu oleh orang Rimba. rimba. sumber pangan. D.Bak emas dengan suasa . sampai pada tempat dilakukannya adat istiadat yang berlaku bagi mereka.Mengaji di atas surat 3. belukor dan benuaron. Kepercayaan Komunitas adat terpencil Suku Anak Dalam pada umumnya mempunyai kepercayaan terhadap dewa. Pengelolaan Sumberdaya Alam Orang Rimba yang selama hidupnya dan segala aktifitas dilakukan di hutan.Banyak daun tempat berteduh 4. E. Seloko juga menjadi pedoman dalam bertutur kata dan bertingkah laku serta dalam kehidupan bermasyarakat Suku Anak Dalam.

Namun mereka tidak dengan mudah berganti-ganti kelompok/tumenggungnya karena terdapat hukum adat yang mengaturnya . untuk membawa barang dan untuk melengkapi sistem adat. Menyidang orang secara adat/hakim Kepemimpinan Anak Dalam tidak bersifat mutlak. H. seperti keladi. Wilayah Persebaran Suku Kubu Daerah yang didiami oleh Suku Anak Dalam ada di kawasan Taman Nasional Bukit XII antara lain terdapat di daerah Sungai Sorenggom. Sungai Makekal dan Sungai Sukalado. umbi silung dan binatang buruan seperti babi hutan.Kelihatannya menurut kosmologi orang Rimba. F. kayu dan kulit. daun. laki-laki sering memakai celana dan perempuan menutupi badannya agar mereka tidak merasa malu. mereka tidak terdorong atau tergoda mempunyai harta benda. rusa. adalah karena kawasan ini memenuhi ciri-ciri atau kriteria yang sifatnya kualitatif yang mengacu pada kriteria umum Man and Biosphere Reserve Program. Dahulu aslinya mereka menggunakan cawat dari kulit kayu terap atau serdang. sehingga mereka meninggalkannya dan beralih dengan kain yang mereka beli di pasar melalui masyarakat umum. rotan. Susunan organisasi sosial pada masyarakat Suku Anak Dalam terdiri dari: 1. UNESCO seperti berikut: . dan wadah untuk tempat menyimpan.Menti. Tingkat kemampuan intelektual suku anak dalam dapat disebut masih rendah dan temperamen mereka pada umumnya keras dan pemalu. Peralatan. Sungai Terap dan Sungai Kejasung Besar/Kecil. namun mereka menggunakan cawat kain untuk menutupi kemaluannya. ubi kayu. demi menghormati budaya dusun serta agar diterima dengan baik. G. Ada kerajinan yang dibuat dari bambu. Nama-nama daerah tempat mereka bermukim mengacu pada anak-anak sungai yang ada di dekat permukiman mereka. termasuk barang seni dan alat teknologi . Cagar Biosfer. jumlah kelompok yang diwakili oleh Temenggung naik dari 3 kelompok pada tahun 1980an. namun karena cawat dari kulit kayu sering menimbulkan rasa sakit akibat kutu kayu yang masuk ke dalam kulit. atau sebagai alat tukar-menukar dalam upacara perkawinan. rumput. Pengganti Tumenggung jika berhalangan 3. Walaupun masih terbatas. tetapi sudah terjadi interaksi sosial dengan masyarakat luas sehingga keterbukaan terhadap nilai nilai budaya luar semakin tampak.Tumenggung. Komunikasi & Seni Suku Kubu sebagai orang yang memiliki harta benda minimal. Pakaian Meraka pada umumnya tidak berpakaian. Seperti tikar untuk membungkus barang atau sebagai tempat tidur. Pada umumnya. kancil dan lain-lain.Wakil Tumenggung. Menurut Temenggung Tarib. Sebenarnya makanan pokok mereka waktu dahulu adalah segala jenis umbi-umbian yang tumbuh di hutan. ubi jalar.Masyarakat Suku Anak Dalam hidup secara berkelompok. Kepala adat/Kepala masyarakat 2. Mereka bebas untuk tinggal bersama dengan kelompok lain. saat mereka pergi ke pasar mingguan atau keluar hutan untuk pergi ke dusun. mereka sekarang dipilih berdasarkan pengajuan Tumenggung disetujui seluruh anggota. Kehidupan Masyarakat Suku Kubu Makanan Mereka sudah banyak yang menggunakan beras sebagai makanan pokok sehari-hari.

umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari. tebo dan batang hari. Walaupun mereka jarang menggunakan sungai sebagai tempat membersihkan dirinya. 2. modifikasi dan atau binaan. Mereka sehari-hari tanpa baju. bungo. sama dengan budaya minag kabau.rumahnya hanya beratap rumbia dan berdinding dari kayu.Keturunan dari Jambi Asli yaitu Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko (Muchlas. semoga dapat di ketahui dan bermanfaat bagi kita semua. Asal usul suku anak dalam pertama kali di publikasikan oleh Muntholib soetomo pada tahun 1995 dalam desertasinya yang berjudul “Orang Rimbo”.Mempunyai komunitas alam yang unik. 2. bukit ini memliki 12 undakan untuk sampai dipuncaknya.Keturunan dari Minangkabau. langka dan indah.Merupakan tempat bagi penyelenggaraan pemantauan perubahan perubahan ekologi melalui kegiatan penelitian dan pendidikan (Dirjen PHPA. merangin. 1975) Menurut Van Dogen (1906) bahwa orang rimba sebagai orang primitive dan tak beragama. berburu dan mengkonsumsi air dari sungai. Kesimpulan Suku anak dalam jambi (Suku Kubu) adalah orang malau sesat yang meninggalkan keluarganya dan lari kehutan rimba sekitar Taman Nasional Bukit 12 itu di namakan mayang segayo. Wilayah Taman Nasional Bukit XII memiliki beberapa tempat tinggal lain di kaki bukitnya. Kawasan yang di diami orang rimba ini secara geografis adalah kawasan yang dibatasi oleh batang tabir di sebelah barat. 4.sering memakan buah-buahan dari hutan. terutama pihak keluarganya. 1993).. Di tempat inilah menurut mereka banyak terdapat roh nenek moyang mereka. Dinamakan Bukit Dua Belas karena menurut Suku Anak Dalam.orang rimba menganut sistim matrinial. sehingga pemukiman mereka selalu diarahkan tidak jauh dari anak anak sungai. Menurut Muchlas (1975) suku anak dalam berasal dari tiga keturunan.di kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas terdapat tiga kelompok Orang Rimba yaitu kelompok Air Hitam di bagian selatan kawasan.1. Penghuni rimba itu masyarakat pagaruyung (Sumatra barat) yang berimigrasi mencari sumber kehidupan yang lebih baik. 3.Keturunan dari Sumatera Selatan. itu merupakan peristiwa yang menyedihkan.Merupakan landscape atau bentang alam yang cukup luas yang mencerminkan interaksi antara komunitas alami dengan manusia beserta kegiatannya secara harmonis. dewa-dewa dan hantu-hantu yang bisa memberikan kekuatan. umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersam (Batanghari).Merupakan kawasan yang mempunyai keperwakilan ekosistem yang masih alami dan kawasan yang sudah mengalami degradasi. yaitu: 1. Budaya suku anak dalam itu ketika seorang anggota keluarganya meninggal dunia. tetapi keberadaan sungai sebagai sarana kehidupan mereka terutama untuk kebutuhan air minum. batang tembesi. Mereka yang berada disekitar rumah . yaitu kabupaten sarolangun. Orang Rimba hidup dalam kelompok kelompok kecil yang selalu menempati wilayah bantaran sungai baik di badan sungai besar ataupun di anak sungai dari hilir sampai ke hulu. dengan Bukit Dua Belas sebagai titik sentralnya. kecuali cawat penutup kemaluan. kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas terletak diantara lima kabupaten. BAB III PENUTUP Demikian makalah tentang Suku Anak Dalam (SUku Kubu) ini saya buat. 3.

sebelum menikah tidak ada tradisi berpacaran. Pada umumnya mereka percaya terhadap dewa-dewa.kepercayaan tersebut bermula di dahulu kala semenjak mereka tinggal di dalam hutan.kematian akan pergi karena menganggap bahwa tempat tersebut tempat sial.kebudayaan suku anak dalam ini sangat berbeda dengan kebudayaan masyarakat modern seperti sekarang ini. dan tidak boleh juga menyebut orang yang telah meninggal dunia. istilah ethnik yakni dewo-dewo.mereka yang percaya roh-roh sebagai sesuatu kekuatan gaib. .sisitim kekerabatan orang rimba tidak boleh menyebut nama-nama mereka.

Jenis mata pencaharian lain yang dilakukan adalah meramu didalam hutan. Pada awalnya untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Di samping itu untuk mendapatkan binatang buruan juga menggunakan sistem perangkap dan jerat. gadung. Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda. Jika meramu dihutan lebat. dan buah-buahan lainnya. Lokasi tempat meramu sangat menentukan jenis yang diperoleh. seperti sistem matrilineal. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau. dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200. Rusa. Namun dengan perkembangan pengetahuan dan peralatan hidup yang digunakan akibat adanya akulturasi budaya dengan masyarakat luar. Kegiatan berburu dilaksanakan secara bersama-sama dengan membawa anjing. yang mengungsi ke Jambi. Mereka mayoritas hidup di propinsi Jambi. Kera.000 orang. Di daerah semak belukar dipinggir sungai dan lembah mereka mengumpulkan pakis. merupakan salah satu bentuk mata pencaharian mereka. biasanya mendapatkan buah-buahan. Ular. Suku Anak Dalam. . melaksanakan kegiatan berburu. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. dan rumbia. yaitu mengambil buah-buahan dedaunan dan akar-akaran sebagai bahan makanan. Taman Nasional Bukit 12. Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatra Selatan. durian. Beruang. kini telah mengenal pengetahuan pertanian dan perkebunan. Berburu binatang seperti Babi.Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra. Labi-labi. Alat yang digunakan adalah Tombak dan Parang. meramu. Taman Nasional Bukit Duabelas. menangkap ikan dan memakan buah-buahan yang ada di dalam hutan. enau. walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya. Kijang dan berbagai jenis unggas. Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat. tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung. dan proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatra Selatan. yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu. Monyet. seperti cempedak. arang paro. yang lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam. dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). rebung.

Ketiga adalah kelompok yang pemukimnya bergandengan dengan pemukiman orang luar ( orang kebiasaan )Cara berpakaiannya pun kini bervariasi. Pertama yang bermukim didalam hutan dan hidup berpindah-pindah. Ukuran bangunan sekitar 4 x 5 meter atau sesuai dengan kebutuhan keluarga. Kini mereka juga telah mengenal pertanian dan perkebunan dengan mengolah ladang dan karet sebagai mata pencahariannya. dibagian bawahnya dijadikan sebagai lumbung (bilik) yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi. Konstruksi bangunannya dengan sistem ikat dari bahan rotan dan sejenisnya. Disamping bangunan tempat tinggal. Bangunannya berbentuk panggung dengan tinggi 1. mengambil madu. yaitu: (1) bagi yang tinggal di hutan dan berpindah-pindah pakaiannya sederhana sekali. dalam satu lingkungan keluarga besar terdapat pondok tanpa atap sebagai tempat duduk- duduk dan menerima tamu. Bangunan tempat tinggalnya berupa pondok yang terbuat dari kayu dengan atap jerami atau sejenisnya .Semua bentuk dan jenis peralatan yang digunakan dalam mendukung dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup nya sangat sederhana sekali. di . Kini terdapat tiga kategori kelompok pemukiman Suku Anak Dalam.Mencari rotan.5 meter. yaitu cukup menutupi bagian tertentu saja. Kedua kelompok yang hidup didalam hutan dan menetap. menangkap ikan adalah bentuk mata pencaharian lainnya. (2) yang tinggal di hutan tetap menetap.

keputusan yang ditetapkan harus dipatuhi. (2) Penegak hukum yang memutuskan perkara. Di dalam hutan mereka membuat pertahanan. mereka memiliki sistem kepemimpinan yang berjenjang. Tebo. Anak laki-laki yang sudah kawin harus bertempat tinggal dilingkungan kerabat istrinya. Asal usul Suku Anak Dalam sering juga disebut dengan orang rimba atau Suku Kubu merupakan salah satu suku asli yang ada di Provinsi Jambi. Dalam lingkungan kehidupannya dikenal istilah kelompok keluarga dan kekerabatan.Peran Temenggung sangat penting karena berfungsi sebagai: (1) Pimpinan tertinggi (sebagai Rajo). seperti bahasa.Sejumlah ahli antropolog berpandangan bahwa Suku Anak Dalam termasuk kategori protom Melayu (Melayu Tua) dari beberapa hasil kajian yang dilakukan. sarung atau celana. Pendapat ini didasari dengan istilah yang digunakan dalam penyebutan Suku Anak Dalam sebagai orang kubu (Kubu bermakna pertahanan). Sarolangun dan Merangin. Salah satu contoh adalah bentuk pelaksanaan upacara besale ( upacara pengobatan ) pada masyarakat anak dalam hampir sama dengan bentuk upacara aseik (upacara pengobatan) pada masyarakat Kerinci yang juga tergolong sebagai protom melayu.Suku Anak Dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya diatur dengan aturan.Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. kesenian dan nilai-nilai tradisi lainnya. seperti keluarga kecil dan keluarga besar. Bungo. juga terkadang menggunakan pakaian seperti masyarakat umum seperti baju.Di samping itu ada juga yang beranggapan bahwa Suku Anak Dalam adalah kelompok masyarakat terasing berasal dari kerajaan Pagaruyung. seperti Temenggung. Keluarga besar terdiri dari beberapa keluarga kecil yang berasal dari pihak kerabat istri. menggambarkan bahwa kebudayaan Suku Anak Dalam yang ada di Provinsi Jambi memiliki kesamaan dengan suku melayu lainnya.samping berpakaian sesuai dengan tradisinya. (3) Pemimpin upacara ritual. seperti di Kabupaten Batang hari. berpakaian seperti masyarakat desa lainnya. Mereka mengungsi kedalam hutan karena mendapat serangan dan tidak mau dikuasai serta diperintah oleh musuh. yaitu sekitar dua atau tiga pondok dalam satu kelompok. Temenggung merupakan jabatan tertinggi. (3) yang tinggal berdekatan dengan pemukiman masyarakat luar atau desa. Bagi mereka yang melanggar akan dijatuhi hukuman atau sangsi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Mereka merupakan satu kesatuan sosial dan tinggal dalam satu lingkungan pekarangan. Keluarga kecil terdiri dari suami istri dan anak yang belum menikah. Suku Anak Dalam dalam hidup berpindah-pindah. (4) Orang yang memilki kemampuan dan kesaktian. Setiap keluarga kecil tinggal dipondok masingmasing secara berdekatan. Oleh sebab itu dalam menentukan siapa yang akan menjadi emenggung harus . norma dan adat istiadat yang berlaku sesuai dengan budayanya. Mangku. Menti dan Jenang. Dikawasan hutan secara berkelompok dan menyebar di beberapa Kabupaten. Namun kebiasaannya tidak menggunakan baju masih sering ditemukan dalam wilayah pemukimannya. Depati.

Suku Anak Dalam meyakini bahwa penyakit yang diderita sisakit merupakan kemurkaan dari dewa atau roh jahat oleh sebab itu perlu memohon ampunan agar penyakit yang diderita dapat disembuhkan. baik dalam bentuk kebaikan. kendatipun diantara mereka telah mengenal agama islam.Kepercayaan Suku Anak Dalam terhadap Dewa-dewa roh halus yang menguasai hidup tetap terpatri. Mereka yakini bahwa setiap apa yang diperolehnya. penyakit dan mencari jejak. seperti keturunan dan kemampuan memimpin dalam menjalankan tugasnya. Salah satu bentuk upacara ritual yang sering dilaksanakan adalah Besale (upacara pengobatan). keberhasilan maupun dalam bentuk musibah dan kegagalan bersumber dari para dewa.Dari proses adaptasinya dengan lingkungan. Suku Anak Dalam juga memilki pengetahuan tentang bahan pengobatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Properti yang digunakan dalam upacara besale sangat sarat dengan simbol-simbol. mereka melaksanakan upacara ritual sesuai dengan keperluan dan keinginan yang diharapkan. Sebagai wujud penghargaan dan persembahannya kepada para dewa dan roh. Melalui panca indranya mampu membedakan tumbuhan beracun dan tidak beracun termasuk mengolahnya. Pengetahuannya tentang teknologi sangat sederhana. keburukan. .diperhatikan latar belakangnya. namun memiliki kemampuan mendeteksi masalah cuaca.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful