Makalah Struma

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Keseimbangan hormon penting untuk menjaga fungsi tubuh tetap normal. Jika terganggu, akan terjadi masalah kesehatan, termasuk penyakit gondok. Fungsi kelenjar gondok yang membesar dan metabolisme tubuh yang meningkat (hipermetabolisme) juga terkadang disertai kelelahan, jari-jari gemetar atau tremor dan mata menonjol. Terjadinya goiter atau penyakit gondok memang terkait kelainan yang menyerang kelenjar tiroid yang letaknya di depan leher di bawah jakun. Kelenjar ini menghasilkan hormon tiroid yang fungsinya mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh seseorang. Jika kelenjar kurang aktif memproduksi hormon, terjadilah defisiensi hormon. Begitu juga jika terlalu aktif, hormon yang dihasilkan akan berlebihan. Dua kondisi ketidaknormalan ini memicu perbesaran kelenjar yang hasil akhirnya antara lain penyakit gondok (struma endemik). Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia, dan tersebar hampir di seluruh provinsi. Survei Pemetaan GAKY tahun 1997/1998 menemukan 354 kecamatan di Indonesia merupakan daerah endemik berat. Kekurangan iodium ini tidak hanya memicu pembesaran kelenjar gondok, bisa juga timbul kelainan lain seperti kretinisme (kerdil), bisu, tuli, gangguan mental, dan gangguan neuromotor. Untuk itu, penting menerapkan pola makan sadar iodium sejak dini. B. Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini 1. Untuk mengetahui Definisi Struma endemic 2. Untuk mengetahui klasifikasi Struma endemic 3. Untuk mengetahui Etiologi Struma endemic 4. Untuk mengetahui Patofisiologi Struma endemic 5. Untuk mengetahui Penyimpangan KDM struma endemic 6. Untuk mengetahui Manifestasi klinis Struma endemic 7. Untuk mengetahui Data penunjang Struma endemic 8. Untuk mengetahui Komplikasi Struma endemic 9. Untuk mengetahui penatalaksanaan Struma endemic 10. Untuk mengetahui Konsep ASKEP Struma endemic yang meliputi Pengkajian,pemeriksaan fisik, diagnose keperawatan,intervensi dan rasional.

BAB II ISI A. Konsep Medis 1. Definisi Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme. (Sri Hartini, Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, hal. 461, FKUI, 1987). 2. Klasifikasi Struma nodusa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal, yaitu : 1.Berdasarkan jumlah nodul : Bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter (uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut

bentuk lokasi. Defisiensi iodium Pada umumnya. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia Phenolic dan phthalate ester derivative dan resorcinol berasal dari tambang batu dan batu bara. kistik. Rasa tercekik di tenggorokan c. 5. dan yang utama ialah fungsi . Suara serak e. Berdasarkan kemampuan menangkap iodium aktif. kubis. Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis. Manifestasi klinis Tanda dan gejala yang dapat ditimbulkan oleh astruma endemic yaitu a. 2004) 4. misalnya daerah pegunungan. 3. Disfagia 6. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide. 3. Makanan. dan goitrin dalam rumput liar. iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Pembentukan struma terjadi pada difesiensi sedang yodium yang kurang dari 50 mcg/d. Etiologi Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain : a. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid. Sayur-Mayur jenis Brassica ( misalnya. penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium. g. Kesulitan menelan f.Berdasarkan konsistensinya: Nodul lunak.nodul hangat dan nodul panas. singkong. masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. sulfonylurea dan litium). c.struma multinodosa. sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Bahan yang mengandung iodium diserap usus. keras dan sangat keras. . dikenal 3 bentuk nodul tiroid yaitu: nodul dingin. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Data penunjang a. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis. Sedangkan defisiensi berat iodium adalah kurang dari 25 mcg/d dihubungkan dengan hypothyroidism dan cretinism. e. Dalam kelenjar. d. 2. Nyeri d. Pembesaran pada leher yang dapat mengganggu nilai penampilan b.Riwayat radiasi kepala dan leher : Riwayat radiasi selama masa kanak-kanak mengakibatkan nodul benigna dan maligna (Lee. Pemeriksaan sidik tiroid Hasil pemeriksaan dengan radioisotope adalah teraan ukuran. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid. brussels kecambah). Patofisiologi Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Kesulitan bernafas. padi-padian millet. pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. b. lobak cina.

Masalah terbukanya vena besar dan menyebabkan embolisme udara. Biopsy aspirasi jarum halus tidak nyeri. cair. menurut Gobien. dindingnya tipis. Memaksa sekresi glandula ini dalam jumlah abnormal ke dalam sirkulasi dengan tekanan.Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan apakah nodul itu ganas atau jinak. Pemeriksaan ini dilakukan khusus pada keadaan panas dengan sekitarnya > C dan dingin0. lebih aman. Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) Dengan pemeriksaan USG dapat dibedakan antara yang padat. d. dan sidik tiroid adalah 98 % 7. pada penelitian Alves dkk. b. 3. dapat dilakukan pada orang hamil atau anak-anak. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.0. c. Kerugian pemeriksaan dengan cara ini adalah dapat memberikan hasil negative palsu karena lokasi biopsy kurang tepat. Biopsi aspirasi jarum halus Biopsy ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. kadang-kadang disertai halo yaitu suatu lingkaran hipoekonik disekelilingnya. b. c. tetapi belum dapat membedakan dengan pasti apakah suatu nodul ganas atau jinak. Pemeriksaan ini dibandingkan pemeriksaan sidik tiroid lebih menguntungkan karena dapat dilakukan kapan saja tanpa perlu persiapan. dan beberapa bentuk kelainan. teknik biopsy kurang benar. Termografi Termografi adalah metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu tempat dengan memakai Dynamic Telethermography. Kemungkinan karsinoma : nodul padat. Pemeriksaan ini paling sensitive dan spesifik bila dibanding dengan pemeriksaan lain. Pada pemeriksaan ini pasien diberi NaI peroral dan setelah 24 jam secara fotografik ditentukan konsentrasi yadium radioaktif yang ditangkap oleh tiroid.9 > C. Penatalaksanaan a. b. d. Komplikasi Komplikasi tiroidektomi 1. pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah interpretasi aleh ahli sitologi. didapatkan bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas.9 Khususnya pada penegakan diagnosis keganasan. Trauma pada nervus laryngeus recurrens. 2. hamper tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih. 6. Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Hipotiroidisme pasca bedah akibat terangkatnya kelenjar para tiroid. Sepsis yang meluas ke mediastinum. dan lebih dapat membedakan antara yang jinak dan ganas. Adenoma/nodul padat : iso atau hiperekoik. 4. Tiroiditis hipoekoik. 5. 7. ketepatan diagnosis gabungan biopsy. USG. Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan . Perdarahan. Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada sekitarnya. biasanya tanpa halo. difus. Kista : kurang lebih bulat.Hal ini menunjukkan fungsi yang rendah. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG ialah : a. yaitu : a. Dari hasil sidik tiroid dapat dibedakan 3 bentuk. seluruhnya hipoekoik sonolusen. c.bagian-bagian tiroid. Trakeumalasia (melunaknya trakea). 8. meliputi seluruh kelenjar.

Paliasi : eksisi massa tumor yang tidak dapat disembuhkan. Penyuntikan lipidol Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc. Penatalaksanaan Bedah Indikasi untuk eksplorasi bedah glandula tiroidea meliputi : 1. vena tiroidea media dan vena tiroidea inferior perlu dipotong. b. Bila dilakukan pengupasan suatu lobus.Apabila didapatkan nodul hangat.8 cc. Reseksi Subtotal Reseksi subtotal akan dilakukan identik untuk lobus kanan dan kiri. a. untuk tumor ganas maka pembuluh darah tiroidea superior. Konsep ASKEP .Nodul panas dengan diameter < 2. Terapi : pengurangan masa fungsional dan pengurangan massa yang menekan. isthmus dan lobus piramidalis. Pengobatan untuk nodul tiroid yang bukan tiroiditis atau keganasan : . Prinsip reseksi untuk mengeksisi sebagian besar tiap lobus. Apabila nodul mengecil maka terapi dapat diteruskan namun apabila tidak mengecil dilakukan biopsi aspirasi atau operasi.berat. dapat diberikan preparat l-thyroxin selama 4-5 bulan dan kemudian sidik tiroid dapat diulang. Lobektomi Total Dilakukan untuk tumor ganas glandula tiroidea dan bila penyakit unilobaris yang mendasari tidak pasti. 3. Ekstirpasi :penyakit keganasan.5 cm observasi saja.5 mm terapinya ialah operatif karena dikhawatirkan mudah timbul hipertiroidisme. Pada sejumlah tumor ganas seperti varian folikularis dan meduler direkomendasikan lobektomi total bilateral dengan pengupasan kelenjar limfe sentral. Sisa thyroidea dari lobus kiri harus sekitar 3 sampai 4 gram. Glandula paratiroidea dan nervus laryngeus diidentifikasi dan dilindungi. Bagian kelenjar yang dieksisi merupakan sisi anterolateral tiap lobus. . tetapi kalau > 2. struma multinodular non toksik. B. b. yang memotong pembuluh darah tiroidea superior. Reseksi subtotal dilakukan dalam kasus struma multinodular toksik. dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium. c. dengan mobilitas sama pada tiap sisi.2 cc – 0. Ligasi pembuluh darah tiroidea superior harus hati-hati untuk tidak mencederai ramus externus nervus laryngeus superior dapat menimbulkan perubahan suara yang bermakna. Nervus ini diidentifikasi sebagai struktur putih tipis yang berjalan di bawah ligamentum dan biasanya di bawah cabang terminal arteria tiroidea inferior. sedang kurang dari enam tahun diberi 0. d. yang menimbulkan gejala penekanan mengganggu. Ini dapat dinilai dengan menilai berbagai ukuran thyroidea pada timbangan. 2. vena + hyroidea media dan vena tiroidea inferior utuh. Edukasi Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat. Lobus tiroidea diretraksi ke medial dengan dua glandula paratiroidea terlihat dekat cabang terminal fasia (ligamentum Berry). Lobus dapat dieksisi lengkap dengan memotong isthmus atau ia dapat dijaga kontinyu dengan isthmus yang dikupas bebas dari tracea di bawahnya.

Ditentukan lokalisasi benjolan terhadap trakea (mengenai lobus kiri. Karena tiroid dihubungkan oleh ligamentum cartilago dengan thyroid yaitu ligamentum Berry. kehilangan berat badan yang mendadak.Pembengkakan : • bentuk : . gangguan koordinasi. f. Auskultasi . .Posisi penderita duduk dengan leher terbuka. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat akibat disfagia 3.Mobilitas.Konsistensi (lunak. c.Jarang dilakukan . diaforesis. Pernafasan . Diagnosa keperawatan 1. Keamanan . edema paru (pada krisis tirotoksikosis). makan banyak. e.diffus atau lokal • ukuran : besar dan kecil • permukaan : halus atau modular • keadaan : kulit dan tepi • gerakan : pada waktu menelan. emosi labil.Dilakukan hanya jika ada pulsasi pada pembengkakan. d. b. . . Perubahan citra diri berhubungan dengan perubahan bentuk leher 4. insomnia. nyeri orbital.Jarang dilakukan . edema jaringan. otot lemah. kistik. b. . kehausan. Seksualitas . Eliminasi . dispnea.Diperiksa dari belakang dengan kepala diflexikan diraba perluasan dan tepinya. lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah. nyeri. diare. Palpasi . makannya sering. iritasi pada konjungtiva dan berair. eksoptalmus : retraksi. libido menurun. Inspeksi . 3. h. mual dan muntah. tidak toleransi terhadap panas. d. pruritus.Pembesaran kelenjar getah bening disekitar tiroid : ada atau tidak. alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan). pembesaran tyroid. keras atau sangat keras). impotensi. Integritas ego . g. Perkusi . hangat dan kemerahan.1. fotofobia. depresi. Pengkajian a. kelelahan berat. Rasa nyeri/kenyamanan . kulit halus.Nyeri pada penekanan atau tidak. perubahan dalam faeces. .Hanya untuk mengetahui apakah pembesaran sudah sampai ke retrosternal. nafsu makan meningkat. .atrofi otot. ketidaknyamanan. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan laring. frekuensi pernafasan meningkat. Aktivitas/istirahat . Makanan/cairan . 2. kanan atau keduanya).Ditentukan ukuran (diameter terbesar dari benjolan). .40C. Adanya pembesaran tiroid dapat dipastikan dengan menelan ludah dimana kelenjar tiroid akan mengikuti gerakan naik turunnya trakea untuk menutup glotis. Pemeriksaan Fisik a. rambut tipis. suhu meningkat di atas 37. keringat yang berlebihan. . Pola napas tak efektif berhubungan dengan penekanan kelenjar tiroid terhadap trachea 2. goiter.Infiltrasi terhadap kulit/jaringan sekitar. mengkilat dan lurus. mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik. . takipnea. c. sedikit hiperekstensi. perdarahan sedikit atau tidak sama sekali. urine dalam jumlah banyak.

I / Selidiki kesulitan menelan. 4.keinginana untuk makan dan anoreksia R / Memberikan kesempatan untuk mengobservasi penyimpanagn dari normal/dari dasar pasien dan mempengarui pilihan intervensi. Perhatikan kualitas suara. h. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi.pengobatanya / persepsi yang salah tentang penyakit yang diderita. c. R/ Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi. e. I / Pantau frekuensi pernafasan. R / Edema atau nyeri dapat mengganggu kemampuan pasien untuk mengeluarkan dan membersihkan jalan nafas sendiri. catat adanya suara ronchi. R / Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat. I / berikan larutan nutrisi pada kecepatsn yang dianjurkan melalui alat control infuse sesuai kebutuhan. R / Merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku pada jaringan sekitar daerah operasi. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi.jumlah kaloori yang tepat. I / Dokumentasikan masukan oral selama 24 jam. Gangguan rasa aman : Ansietas berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit . R / Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan evaluasi. c. balutan bagian anterior mungkin akan tampak kering karena darah tertampung/terkumpul pada daerah yang tergantung. kedalaman dan kerja pernafasan. I / Bantu dalam perubahan posisi. I / Kaji adanya dispnea. I / Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai indikasi. d. catat warna dan karakteristik sputum. terutama pada bagian posterior R / Jika terjadi perdarahan. Intervensi dan rasional a. Diagnosa 2 Tujuan yang ingin dicapai : Mendemonstrasikan berat badan stabil atau penambahan berat badan progresif kearah tujuan dengan normalisasi dan bebas dari tanda malnutrisi. g. b.dan menyadarkan perawat terhadap ketidaktepatan kecenderungan dalam penurunan berat badan. d. selama perawatan setiap hari perhatikan tingkat energy. menyokong kepala dengan bantal.5. b. Kaji status nutrisi secara kontinu. I / Timbang berat badan setiap hari dan bandingkan dengan berat badan saat penerimaan R / membuat data dasar . tetapi hal itu perlu untuk membersihkan jalan nafas. R / Mengidentifikasi keseimbangan antara perkiraan kebutuhan nutrisi dan masukan actual. R / Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi dan intervensi segera. Intervensi dan rasional a. dan sianosis. Namun batuk tidak dianjurkan dan dapat menimbulkan nyeri yang berat. 6.spasme laringeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat. stridor. f. tetapi berkembangnya distres pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trakea karena edema atau perdarahan. I / Auskultasi suara nafas. I / Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur. penumpukan sekresi oral.riwayat makanan. membantu dalam memntau keefektifan atursn terapeutik. latihan nafas dalam dan atau batuk efektif sesuai indikasi. R / Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka karena pembedahan. I / Waspadakan pasien untuk menghindari ikatan pada leher. . Intervensi dan rasional Diagnosa 1 .Atur kecepatan pemberian per jam sesuai anjuran.

e. Kunjungan pasien secara teratur. melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi. d. I / berikan metode komunikasi alternatif yang sesuai. mampu mengidentifikasi cara hidup yang sehat untuk membagikan perasaannya I/ Kaji tingkat kecemasan dengan skala 0-5. seperti papan tulis. beri pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak. R/Pengkajian yang dilakukan menegaskan bahwa rasa cemas yang dirasakan berhubungan dengan krisis situasi yang dialami oleh klien. kertas tulis/papan gambar. I/ Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya tentang penyakit yang diderita R/Ungkapan perasaan klien kepada perawat sebagai bukti bahwa klien mulai mempercayai perawat. I/ Bina hubungan saling percaya R/ Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi yang teraupetik perawat dan klien. mengurangi bicara. I / Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan jawablah bel panggilan dengan segera. c. Kecepatan konsisten dari pemberian nutrisi akan menjamin penggunaan tepat dengan efek samping lebih sedikit Diagnosa 3 Tujuan: mengungkapkan penerimaan terhadap keadaan diri sendiri diungkapkan secara verbal I/ Kaji pandangan klien terhadap penampilan dirinya R/ Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang kekurangan dan kelebihan yang dimiliki memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatakan kemajuan kesehatannya. I / Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. R / Menurunkan kebutuhan berespon. Diagnosa 5 Tujuan : klien tampak rileks.R / ketentuan dukungan nutrisi didasarkan pada perkiraan kebutuhan kalori dan protein. R / Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunias. I / Kaji fungsi bicara secara periodik. R / Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan karena pembedahan pada saraf laringeal yang berakhir dalam beberapa hari kerusakan saraf menetap dapat terjadi kelumpuhan pita suara atau penekanan pada trakea. I/ Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien R/ Memberikan hal yang positif atau pengakuan akan meningkatkan harga diri klien Diagnosa 4 Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami Intervensi dan rasional a. R / Meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi perlahan dan menurunkan kerasnya suara yang harus diucapkan pasien untuk dapat didengarkan. I/Berikan lingkungan yang menyenangkan agar klien dapat isirahat R/Suasana sekitar lingkungan yang nyaman dapat meningkatkan periode istirahat klien dan kenyamanan psikologis . b. I / Pertahankan lingkungan yang tenang. R / Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk menciptakan kebutuhan yang diketahui/memerlukan bantuan. f. R / Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan. I / Pertahankan komunikasi yang sederhana.

sedatif) dan pantau efeknya R/dapat digunakan bersamaan dengan pengobatan untuk menurunkan pengaruh dari sekresi hormon tiroid yang berlebihan Diagnosa 6 Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. nyeri otot pada daerah operasi. I / Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan. I / Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal. I / Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.I/Observasi tanda – tanda vital setiap 8 jam R/Perubahan pada tanda-tanda vital (peningkatan denyut nadi/frekuensi pernapasan) menunjukkan tingkat ansietas yang dialami pasien atau merefleksikan gangguan-gangguan faktor psikologis misalnya ketidakseimbangan endokrin. menentukan efektivitas terapi. e. Intervensi dan rasional a. f. Menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian dengan aktif sesuai situasi. R / Membatasi ketegangan. I / Berikan es jika ada indikasi BAB III PENUTUP . b. I / Beri obat analgetik dan/atau analgetik spres tenggorok sesuai kebutuhannya. b. Instruksikan pasien menggunakan tangannya untuk menyokong leher selama pergerakan dan untuk menghindari hiperekstensi leher. R / Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri. c. menentukan pilihan intervensi. catat lokasi. I / Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong selama perubahan posisi. I / Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan bantal pasir/bantal kecil. I/Berikan obat ansietas (tranzquilizer. R / Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman secara lebih efektif. d. relaksasi progresif. intensitas (skala 0 – 10) dan lamanya. I/ Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam jangkauan yang mudah. R / Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan. R / Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas gari jahitan. seperti imajinasi. Kolaborasi a. musik yang lembut. R / Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan tegangan otot.

Diagnosis ditegakkan dari hasil anamnesa. Kesimpulan Struma nodosa non toksik adalah pembesaran dari kelenjar tiroid yang berbatas jelas dan tanpa gejalagejala hipertiroidi. sepsis. berdasarkan kemampuan menangkap iodium aktif dan berdasarkan konsistensinya. Biopsi Aspirasi Jarum Halus (Bajah).Gejala klinis tidak khas biasanya penderita datang dengan keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan tanpa keluhan hipo atau hipertiroidi.Etiologi dari struma nodosa non toksik adalah multifaktorial namun kebanyakan struma diseluruh dunia diakibatkan oleh defisiensi yodium langsung atau akibat makan goitrogen dalam dietnya. termografi. Saran Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita. terbukanya vena besar dan menyebabkan embolisme udara. namun penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan. 1. Untuk Mahasiswa D III keperawatan UB kami mengharapkan makalah kami ini dapat dijadikan bahan bacaan yang menambah wawasa .A.Komplikasi dari tindakan pembedahan (tiroidektomi) meliputi perdarahan. 2. dan petanda Tumor (tumor marker). hipotiroidisme dan traceomalasia. B. maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi perbaikan makalah selanjutnya.Penatalaksanaan meliputi terapi dengan l-thyroksin atau terapi pembedahan yaitu tiroidektomi berupa reseksi subtotal atau lobektomi total. Pemeriksaan sidik tiroid. menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca khususnya bagi mahasiswa. Untuk Dosen mata kuliah KMB III kami mengharapkan dapat disimpan di perpustakaan untuk bahan bacaan dan dijadikan literatur dalam pembuatan makalah selanjutnya.Klasifikasi dari struma nodosa non toksik didasarkan atas beberapa hal yaitu berdasarkan jumlah nodul. pemeriksaan USG. trauma pada nervus laryngeus recurrens.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful