P. 1
feodalisme

feodalisme

|Views: 433|Likes:
Published by kunthng_maniz

More info:

Published by: kunthng_maniz on Apr 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2013

pdf

text

original

Feodalisme adalah struktur pendelegasian kekuasaan sosiopolitik yang dijalankan kalangan bangsawan/monarki untuk mengendalikan berbagai wilayah

yang diklaimnya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra. Dalam pengertian yang asli, struktur ini disematkan oleh sejarawan pada sistem politik di Eropa pada Abad Pertengahan, yang menempatkan kalangan kesatria dan kelas bangsawan lainnya (vassal) sebagai penguasa kawasan atau hak tertentu (disebut fief atau, dalam bahasa Latin, feodum) yang ditunjuk oleh monarki (biasanya raja atau lord). Istilah feodalisme sendiri dipakai sejak abad ke-17 dan oleh pelakunya sendiri tidak pernah dipakai. Semenjak tahun 1960-an, para sejarawan memperluas penggunaan istilah ini dengan memasukkan pula aspek kehidupan sosial para pekerja lahan di lahan yang dikuasai oleh tuan tanah, sehingga muncul istilah "masyarakat feodal". Karena penggunaan istilah feodalisme semakin lama semakin berkonotasi negatif, oleh para pengkritiknya istilah ini sekarang dianggap tidak membantu memperjelas keadaan dan dianjurkan untuk tidak dipakai tanpa kualifikasi yang jelas. Dalam penggunaan bahasa sehari-hari di Indonesia, seringkali kata ini digunakan untuk merujuk pada perilaku-perilaku negatif yang mirip dengan perilaku para penguasa yang lalim, seperti 'kolot', 'selalu ingin dihormati', atau 'bertahan pada nilai-nilai lama yang sudah banyak ditinggalkan'. Arti ini sudah banyak melenceng dari pengertian politiknya.

FEODALISME MENUMBUHKAN MENTAL MISKIN
Abstrak Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Namun ternyata kekayaan tidak bisa membuat bangsa ini keluar dari kemiskinan. Masih banyak masyarakatyang hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan ini disebabkan selain karena faktor struktural yang tidak memberi kesempatan masyarakat untuk mengakses sektor – sektor kehidupan, namun juga disebabkan oleh nilai – nilai budaya yang dinut leh masyarakat. salah satunya adalah budaya feodalisme, dimana masyarakat selalu berorientasi ke atasan, senior, dan pejabat untuk dimintai restunya ketika akan melakukan kegiatan atau usaha. Budaya ini mengakibatkan masyarakat menjadi terkungkung, kurang kreatif karena selalu menurut pada atasan. Akibatnya yang mendapatkan keuntungan hanya kelas atas yang jumlahnya sedikit, sementara kelompok bawah yang mayoritas tidak mendapat apa – apa dan akan selalu hidup dalam keterbatasan. Soluisnya adalah dengan menanamkan budaya egaliter dan demkrasi secara utuh. Dengan hal itu akan memberi kesempatan setiap individu untuk dapat berkreasi dan tidak selalu terbelenggu oleh perintah atasan. Keyword: Kemiskinan dan Feodalisme Feodalisme sebagai Musuh Demokrasi Masyarakat Indonesia masih hidup dalam iklim feodalisme yang kuat. Masyarakat Indonesia masih hidup dalam iklim feodalisme yang kuat. Memang ada pernyataan tegas, tiap warga negara setara di hadapan hukum. Namun, pernyataan itu rupanya tidak menjadi

realitas. Banyak orang dianggap tidak setara dengan orang lain. Orang kaya dan penguasa masih mendapat fasilitas lebih. Sementara orang miskin dan lemah tidak mendapat fasilitas apa pun. Untuk hidup normal pun, mereka kesulitan. Mereka dianggap warga negara yang lebih rendah. Kultur feodalisme Kultur feodalisme itulah yang menjadi salah satu penyebab kita tidak bisa melakukan pemilu secara efektif dan efisien. Banyak calon anggota legislatif menggunakan gelar kultural, seperti raden mas, untuk menarik pemilih. Saat gagal dalam pemilu, mereka merasa terhina. Perasaan itu muncul karena mereka menganggap dirinya ”berdarah biru”. Mereka menganggap status dirinya lebih tinggi dari warga lain. Simak pertemuan-pertemuan umum. Bagaimana sapaan terhadap pejabat tinggi lalu turun ke strata paling rendah. Dari ini tercium bau kultur feodalisme. Coba juga cara pejabat melewati jalan raya. Merasa diri sebagai raja, yang memiliki status lebih tinggi dari orang lain. Maka, di Indonesia, slogan kesetaraan di hadapan hukum masih sekadar impian. Faktanya, banyak orang berpikir feodal, menempatkan diri atau orang lain pada status lebih tinggi daripada status orang pada umumnya. Feodalisme ekonomi Hal yang sama berlaku dalam ekonomi. Semakin banyak uang dimiliki seseorang, semakin ia mendapat tempat istimewa atau lebih tinggi daripada orang lain. Uang bisa membeli segalanya. Hak asasi seseorang hanya bisa terpenuhi jika ia memiliki daya beli yang tinggi. Orang yang tidak punya uang, dianggap tidak memiliki daya beli tinggi, dinilai tidak layak mendapat hak-hak dasar. Uang membuat orang mendapatkan keistimewaan dari yang seharusnya diperoleh. Feodalisme ekonomi dan kultural juga menyuburkan korupsi. Jika orang itu punya gelar tinggi di mata masyarakat, masyarakat umumnya takut menuntut mereka dengan tuduhan korupsi. Hal ini harus dihindari. Semua orang—baik bangsawan, pengusaha, pejabat, maupun profesor— harus diadili dan dihukum jika terbukti definitif melakukan korupsi. Musuh demokrasi Demokrasi berdiri di atas asumsi bahwa setiap warga negara setara di hadapan hukum. Semua bentuk feodalisme harus dihilangkan. Demokrasi juga berdiri di atas asumsi keterbukaan terhadap semua bentuk cara hidup selama cara hidup itu tidak melanggar hukum yang sah di mata rakyat. Maka, tidak ada cara hidup yang lebih tinggi daripada cara hidup lainnya. Baik orang keturunan keraton, pemuka agama, pengusaha kaya, maupun pejabat tinggi, semua memiliki kedudukan setara di mata hukum maupun negara. Feodalisme dalam segala bentuknya harus dimusnahkan. Jika masyarakat Indonesia masih hidup dalam alam feodalisme, demokrasi tidak akan pernah terbentuk. Buah feodalisme adalah diskriminasi, intoleransi, penindasan, korupsi, dan akhirnya pemusnahan kelompok minoritas. Pendidikan antifeodalisme Senjata utama untuk menghancurkan feodalisme adalah pendidikan. Pendidikan itu tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di masyarakat maupun keluarga secara intensif. Pendidikan antifeodalisme dimulai dengan pernyataan bahwa semua orang itu setara. Semua bentuk diskriminasi atau ketidaksetaraan adalah ciptaan manusia, yang akhirnya bisa merusak tatanan yang ada. Setara tak berarti orang boleh kurang ajar satu sama lain. Prinsip penghormatan dan kepercayaan juga perlu diajarkan.

Jadi, siapa pun orangnya, baik orangtua berstatus tinggi maupun orang miskin, semua harus diperlakukan dengan penghormatan dan kepercayaan yang sama. Tak ada diskriminasi apa pun. Dengan pendidikan antifeodalisme yang memadai, demokrasi bisa tumbuh subur dan korupsi dalam segala bentuknya secara bertahap dilenyapkan. Seseorang bisa menjabat sebagai pemimpin dalam bidang apa pun bukan karena keturunan orang hebat, punya uang, atau punya kedudukan sosial tinggi, tetapi karena ia mau dan mampu membela kepentingan yang mengacu pada kebaikan bersama. Setiap orang setara di hadapan hukum dan negara karena setiap orang setara di hadapan Tuhan yang Mahakuasa.

Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan).[1] Istilah ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία – (dēmokratía) "kekuasaan rakyat",[2] yang dibentuk dari kata δῆ (dêmos) "rakyat" dan κράτος (Kratos) "kekuasaan", μος merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.[3] Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat).[4] Abraham Lincoln dalam pidato Gettysburgnya mendefinisikan demokrasi sebagai "pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat".[5] Hal ini berarti kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi ada di tangan rakyat dan rakyat mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur kebijakan pemerintahan.[6] Melalui demokrasi, keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak.[7] Demokrasi terbentuk menjadi suatu sistem pemerintahan sebagai respon kepada masyarakat umum di Athena yang ingin menyuarakan pendapat mereka.[5] Dengan adanya sistem demokrasi, kekuasaan absolut satu pihak melalui tirani, kediktatoran dan pemerintahan otoriter lainnya dapat dihindari.[5] Demokrasi memberikan kebebasan berpendapat bagi rakyat, namun pada masa awal terbentuknya belum semua orang dapat mengemukakan pendapat mereka melainkan hanya lakilaki saja.[8] Sementara itu, wanita, budak, orang asing dan penduduk yang orang tuanya bukan orang Athena tidak memiliki hak untuk itu.[9] [8] Di Indonesia, pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang berwatak anti-feodalisme dan anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis.[10] Bagi Gus Dur, landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti juga otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang dia inginkan.[11] Masalah keadilan menjadi penting, dalam arti setiap orang mempunyai hak untuk menentukan sendiri jalan hidupnya, tetapi hak tersebut harus dihormati dan diberikan peluang serta pertolongan untuk mencapai hal tersebut.[11]

Daftar isi
[sembunyikan]
• • • •

1 Sejarah demokrasi 2 Prinsip-prinsip demokrasi 3 Asas pokok demokrasi 4 Ciri-ciri pemerintahan demokratis 5 Referensi

[sunting] Sejarah demokrasi
Sebelum istilah demokrasi ditemukan oleh penduduk Yunani, bentuk sederhana dari demokrasi telah ditemukan sejak 4000 SM di Mesopotamia.[9] Ketika itu, bangsa Sumeria memiliki beberapa negara kota yang independen.[9] Di setiap negara kota tersebut para rakyat seringkali berkumpul untuk mendiskusikan suatu permasalahan dan keputusan pun diambil berdasarkan konsensus atau mufakat.[9] Barulah pada 508 SM, penduduk Athena di Yunani membentuk sistem pemerintahan yang merupakan cikal bakal dari demokrasi modern.[9] Yunani kala itu terdiri dari 1,500 negara kota (poleis) yang kecil dan independen.[12] [3] Negara kota tersebut memiliki sistem pemerintahan yang berbeda-beda, ada yang oligarki, monarki, tirani dan juga demokrasi.[3] Diantaranya terdapat Athena, negara kota yang mencoba sebuah model pemerintahan yang baru masa itu yaitu demokrasi langsung.[13] Penggagas dari demokrasi tersebut pertama kali adalah Solon, seorang penyair dan negarawan.[3] Paket pembaruan konstitusi yang ditulisnya pada 594 SM menjadi dasar bagi demokrasi di Athena namun Solon tidak berhasil membuat perubahan.[3] Demokrasi baru dapat tercapai seratus tahun kemudian oleh Kleisthenes, seorang bangsawan Athena.[3] Dalam demokrasi tersebut, tidak ada perwakilan dalam pemerintahan sebaliknya setiap orang mewakili dirinya sendiri dengan mengeluarkan pendapat dan memilih kebijakan.[14] Namun dari sekitar 150,000 penduduk Athena, hanya seperlimanya yang dapat menjadi rakyat dan menyuarakan pendapat mereka.[8] Demokrasi ini kemudian dicontoh oleh bangsa Romawi pada 510 SM hingga 27 SM.[9] Sistem demokrasi yang dipakai adalah demokrasi perwakilan dimana terdapat beberapa perwakilan dari bangsawan di Senat dan perwakilan dari rakyat biasa di Majelis.[14]

[sunting] Prinsip-prinsip demokrasi

Rakyat bebas menyampaikan aspirasinya demi kepentingan bersama.

Prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara demokrasi telah terakomodasi dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.[15] Prinsip-prinsip demokrasi, dapat ditinjau dari

pendapat Almadudi yang kemudian dikenal dengan "soko guru demokrasi".[16] Menurutnya, prinsip-prinsip demokrasi adalah:[16]
1. Kedaulatan rakyat; 2. Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah; 3. Kekuasaan mayoritas; 4. Hak-hak minoritas; 5. Jaminan hak asasi manusia; 6. Pemilihan yang bebas dan jujur; 7. Persamaan di depan hukum; 8. Proses hukum yang wajar; 9. Pembatasan pemerintah secara konstitusional; 10.Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik; 11.Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.

[sunting] Asas pokok demokrasi
Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah pengakuan hakikat manusia, yaitu pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan yang sama dalam hubungan sosial. [17] Berdasarkan gagasan dasar tersebut terdapat 2 (dua) asas pokok demokrasi, yaitu:[17]
1. Pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, misalnya pemilihan wakilwakil rakyat untuk lembaga perwakilan rakyat secara langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jujur dan adil; dan 2. Pengakuan hakikat dan martabat manusia, misalnya adanya tindakan pemerintah untuk melindungi hak-hak asasi manusia demi kepentingan bersama.

[sunting] Ciri-ciri pemerintahan demokratis

Pemilihan umum secara langsung mencerminkan sebuah demokrasi yang baik

Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia.[4] Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut.[4]
1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik langsung maupun tidak langsung (perwakilan). 2. Adanya pengakuan, penghargaan, dan perlindungan terhadap hak-hak asasi rakyat (warga negara). 3. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang. 4. Adanya lembaga peradilan dan kekuasaan kehakiman yang independen sebagai alat penegakan hukum 5. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara. 6. Adanya pers (media massa) yang bebas untuk menyampaikan informasi dan mengontrol perilaku dan kebijakan pemerintah.

7. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat. 8. Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, adil untuk menentukan (memilih) pemimpin negara dan pemerintahan serta anggota lembaga perwakilan rakyat. 9. Adanya pengakuan terhadap perbedaan keragamaan (suku, agama, golongan, dan sebagainya).

[
1. . Munculnya Feodalisme Istilah feodialisme dalam sejarah akan mengacu pada suatu sistem kepemilikan tanah oleh para bawahan raja yang berkembang selama ratusan tahun di Eropa, sistem feodalisme merupakan sesuatu yang bersifat native dan endemik dalam sejarah Eropa. Meskipun feodalisme merupakan suatu faktum yang bersifat universal dan dapat terlihat dalam bentuk-bentuknya yang berbeda di berbagai sejarah peradaban bangsa manapun, akan tetapi intensitas, temporalitas serta status quonya tidak akan semapan dalam sejarah Eropa khususnya sejak abad pertengahan hingga akhir abad 19—feodalisme merupakan warisan sekaligus ciri khas dalam perjalanan sejarah Eropa. Istilah feodalisme sendiri berasal dari bahasa Perancis kuno dari etimologi kata fehu-ôd, feud, foed yang berarti pinjaman terutama yang berkaitan dengan tanah yang dipinjamkan dengan pretensi politis. Lawan kata dari fehu-ôd adalah kata All-ôd yang berarti miliki sendiri atau kepunyaan pribadi dalam hal tanah—dalam peristilahan hukum adat istilah feodum menyerupai tanah gumantung, gaduh atau paratantra sedangkan allod menyerupai tanah yasan, yosobondo atau svatantra dalam peristilahan Jawa kuno. Sistem feodalisme atau kepemilikan tanah ini berkembang di Eropa terutama pada abad pertengahan, tidak terdapatnya sistem peredaran uang menjadikan salah satu penyebab berkembangnya sistem kepemilikan tanah untuk membayar para buruh ladang dari hasil panen. Konsentrasi kekuasaan pada abad pertengahan bersifat terpusat bukan pada istana kerajaan namun terpusat pada gereja, dalam sistem feodalisme yang terapkan pada abad pertengahan feodalisme pun diterpakan dalam lingkungan biara-biara—dimana dalam suatu kompleks biara yang cukup luas dibuat suatu tata-ruang yang memungkinkan para biarawan dan biarawati tetap melaksanakan tugas keagamaan dan duniawinya, sehingga dalam kompleks biara selain terdapat gereja, rumah tingga bersama serta perpustakaan juga terdapat tanah yang cukup luas untuk di olah dan kelola untuk kepentingan biara. Feodalisme memunculkan golongan baru dalam masyarakat yaitu golongan tuan tanah yang memiliki hak mutlak atas tanah dan hasil panen dari tanah yang telah digarapnya. Awalnya munculnya feodalisme ini merupakan suatu hal yang sifatnya politis yaitu untuk mempertahankan negara dari ancaman musuh dalam hal ini negara yang juga mempertahankan gereja dari ancaman serang pasukan muslim, sehingga perlu mencari pasukan sewaan yang kuat dan persenjataan yang lengkap untuk menjaga keamanan kerajaan khususnya dan keamanan pribadi/individu masyarakat. Maka untuk menggaji para kesantria (knight) yang kuat tersebut adalah dengan memberikan bagian-bagian tanah raja/kerajaan beserta para penduduknya kepada para kesatria tersebut— mengingat tidak terdapatnya peredaraan uang saat itu, maka munculnya istilah vassal, sub-vassal, count yang merupakan bawahan para kerajaan untuk memiliki dan mengolah tanah kerajaan.

Feodalisme ini selanjutnya terus berkembang di Eropa dan menjadi suatu ciri khas dari sejarah Eropa abad pertengahan, hal ini mendapat porsi yang cukup besar dari bidang sejarah—mengingat feodalisme merupakan salah satu ciri utama dari penulisan sejarah abad pertengahan sehingga fokus para penulis/penulisan sejarah pada abad pertengahan yang dilakukan oleh para pastur (bapak) dan para biarawan di fokuskan pula pada feodalisme—karena feodalisme merupakan jiwa zaman dalam penulisan sejarah abad pertengahan, ciri kebudayaan terepresentasikan dalam feodalisme selain juga teosentris dan teologis. Apabila dalam penulisan sejarah (historiografi) abad pertengahan tidak di temukan istilah yang berpretensi pada feodalisme maka perlu dipertanyakan otentisitas tulisan tersebut, karena feodalisme merupakan salah satu ciri penting dalam hsitoriografi abad pertengahan dengan coraknya yang khas. 1. III. HISTORIOGRAFI ABAD PERTENGAHAN Membahas mengenai historiografi abad pertengahan bayangan kita akan langsung tertuju pada sejarah Eropa, hal bukanlah suatu kekeliruan—mengingat historiografi abad pertengahan merupakan suatu corak dan bentuk historiografi yang diperuntukan bagi penulisan sejarah Eropa. Di Indonesia sendiri bentuk dan corak historiografinya hanya terbagi dalam saja yaitu historiografi tradisional dan historiorafi modern, tentunya dengan berbagai pecahannya. Sementara untuk historiografi Eropa, historiografi abad pertengahan merupakan bagian selain historiografi tradisional dan historiografi modern. 1. Ciri dan Bentuk Historiografi Abad Pertengahan Setiap penulisan sejarah (historiografi) memiliki ciri dan bentuknya tersendiri—yang membedakan dengan ciri dan bentuk historiografinya, akan tetapi perlu di ingat bahwa suatu penulisan sejarah (histiografi) akan sangat di pengaruhi dan di tentukan oleh konteks waktu, kondisi zaman, bentuk kebudayaan dan kehidupan sosialnya serta kehidupan keagamaanya (religiusitasnya)—karena berbagai faktum dan kriterian tersebutlah yang menjadi ciri dan bentuk penulisan sejarah (historiografi) suatu zaman akan terlihat. Sama halnya dengan hisitoriografi tradisional dengan empat bentuk utamanya yaitu : mitologi, genealogi, kronik serta annals; merupakan bentuk yang hanya dimiliki oleh historiografi tradisional—adapun yang menjadi ciri-ciri dari historiografi tradisional adalah : kosmos-magis, pars par prototo, oral tradision, etnosentris, anakronis serta statis. Hal ini tentu saja sangat dipengaruhi dan di tentukan oleh konteks waktu, kondisi zaman, bentuk kebudayaan dan kehidupan sosialnya serta religiusitasnya, dalam kurun waktu sebelum dan awal-awal abad masehi kondisi zamanya masih tradisional dan sederhana—sementara kehidupan sosial dan kebudayaanya masih homogen dan kesukuan, tradisi tulis menulis belumlah ada dan berkembang, kehidupan religius masih bersifat politeisme dan panteisme (animisme dan dinamisme) sehingga faktum-faktum tersebut akan berdampak besar dalam tradisi historiografi yang berkembang pada saat itu. Ketika tradisi tulis menulis belum berkembang maka tradisi lisanlah yang menjadi media pengembangan sejarahnya, religiusitas yang politeisme dan panteisme dengan kepercayaan akan banyak dewa, kekuatan alam dan benda-benda menjadikan mikrokosmos dan makrokosmos berkembang.

Begitu pula dengan historiografi yang berkembang pada abad pertengahan konsteks waktu, kondisi zaman, kehidupan kebudayaan dan sosial serta kehidupan keagamaan (religiusitas) berpengaruh besar dalam penulisan sejarahnya (historiografi). Konteks waktu abad pertengahan berlangsung cukup lama dalam sejarah Eropa sekitar 600 tahun, sejak abad 6 sampai abad 12—sementara kondisi zaman, kehidupan kebudayaan sangat besar di pengaruhi oleh (dogma) agama, institusi gereja serta ketaatan pada Tuhan dan kitab suci, segala pengetahuan dan kebudayaan harus bersumber dari gereja—agama dan gereja sangat menentukan sekaligus mengatur seluruh tatanan kehidupan manusia, kehidupan sosial sangat bersifat feodalistis dengan sistem kepemilikan dan sewa tanah sebagai cara untuk mempertahankan hidup sekaligus negara. Kehidupan keagamaan (religiusitas) abad pertengahan begitu taat, maka tidak keliru juga “Abad Iman” merupakan istilah lain untuk abad pertengahan—segala sendi-sendi kehidupan harus bersumber pada kitab suci, mengikuti aturan-aturan gereja dan kepatuhan pada Paus dan para bapak sebagai wakil Tuhan di dunia, karena kehidupan dunia akan menuju pada Tuhan; maka apabila hidup didunia tidak berdasarkan pada (dogma) agama, kitab suci dam gereja maka kehidupannya adalah kehidupan setan yang sesat. Dari berbagai faktum-faktum yang telah dijelaskan maka ciri-ciri historiografi abad pertengahan begitu terlihat, diantaranya sebagai berikut : Teosentris/teologis : merupakan utama dan pertama dari historiografi abad pertengahan, sifatnya yang dipusatkan pada ketuhanan dan kehidupan beragama mendapat bobot bahkan seluruh kehidupan harus berpusat padanya. Sehingga penulisan sejarahnya pun akan berkaitan dengan masalah-masalah ketuhanan dan keagamaan seperti dalam tulisan St. Agustinus dalam karyanya yang berjudul Confenssion dan The City of God yang merupakan fakta dari historiografi abad pertengahan—penulisan sejarah tidak akan keluar dari lingkaran teosentris dan teologis, karena tulisan sejarah diluar lingkaran tersebut adalah sesat dan bid’ah. Pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan berada di biara-biara : hal ini merupakan suatu keniscayaan sejarah pada abad pertengahan, dimana gereja mendapat otoritas secara penuh atas keberlangsungan hidup manusia di dunia sehingga harus tetap dalam kontrolnya. Pada abad pertengahan biara merupakan suatu tempat dimana para biarawan dan para bapak mengabdikan hidupnya untuk agama, dalam kompleks tersebut selain adanya gereja perpustakaan, sekolahsekolah (paroki) serta pusat kebudayaan berada dalam lingkungan biara—sehingga orang-orang yang berpendidikan dan memiliki ilmu pengetahuan adalah para biarawan dan biarawati, penulisan sejarah pun dilakukan oleh mereka serta tidak lepas dari tangan mereka. Masalah ketuhanan, keagamaan dan gereja merupakan obyek penulisan sejarah pada abad pertengahan—persentase penulisan sejarah mengenai obyek tersebut begitu besar secara kuantitaf karena para sejarawan abad pertengahan adalah para ahli agama dan orang-orang dari gereja. Feodalistis : feodalistis merupakan fenomena sejarah yang muncul dan berkembang pada abad pertengahan, sistem kepemilikan tanah dan sewa tanah oleh para tuan tanah merupakan kegiatan sosial-ekonomi yang berkembang pada abad pertengahan—sehingga penulisan sejarah pun akan terkonsentrasi pada fenomena sosial tersebut. Bagaimana kehidupan sosial masa feodalisme dan suara agama dalam menanggapi fenomena tersebut adalah masalah-masalah yang menjadi obyek penulisan sejarah (historiografi) abad pertengahan, kemunculan para kesatria yang di berikan hak tanah oleh raja dengan penduduknya sehingga menimbulkan stratifikasi sosial

masyarakat feodal dari raja-kesatria-vassal-sub vassal-sub-sub vassal dan count merupakan kajian hsitoriografi abad pertengahan. Selain ciri-ciri tersebut, historiografi abad pertengahan masih memiliki suatu karakteristik yang membedakannya dengan historiografi tardisional. Jika dalam historiografi tradisional bentuk penulisan sejarahnya masih dalam bentuk annals dan kronik seperti kronik perang dan para raja seperti tulisan sejarah kronik Anglo-Saxon—sementara dalam historiografi abad pertengahan terutama memasuki abad 9 masehi bentuk naratif lebih di kembangkan dalam penulisan sejarah meskipun masih didomonasi oleh eklesiastikal seperti dalam tulisan Bede mengenai Eccslesiatical History of English People. Hal ini menandakan adanya suatu perubahan dalam bentuk historiografi tradisional dengan menggunakan bentuk naratif tidak lagi kronik dan annals. Bentuk historiografinya yang menekankan pada agama, gereja dan kitab suci (injil) yang merupakan sumber utama dan pusat segala kebenaran dari sejarah pada masa abad pertengahan dalam kehidupan manusianya—abad pertengahan pun memiliki suatu konten analisis sejarah (filsafat) sejarah yang khas yang beranggapan bahwa sejarah merupakan suatu proses yang bersifat horisontal yaitu pandangan filsafat sejarah yang bersifat linier yang berawal dari suatu titik/tahap tertentu menuju pada suatu tahapan akhir sejarah yaitu kehidupan di surga yang abadi di “kota Tuhan”. Historiografi abad pertengahan sangat menentang bentuk historiografi tradisional atau historiografi sekuler masa Yunani-Romawi yang menganggap sejarah sebagai suatu siklus, abad pertengahan mengartikan sejarah lebih sebagai perjuangan (struggle) keabaikan melawan keburukan—dalam hal ini antara “kota Tuhan” melawan “kota Setan” yang akan dimenangkan oleh “kota Tuhan” dengan kemenangan abadi yang di dunia dan di akhirat. 1. IV. OBYEK DAN FOKUS HISTORIOGRAFI ABAD PERTENGAHAN Teosentris/teologis sebagai ciri utama dari historiografi abad pertengahan akan memperlihatkan mengenai obyek dan fokus kajian mana yang menjadi lapangan kerjanya, selain obyek dan fokus pengkajian sejarahnya yang di khususkan pada masalah agama (kristen) dan gereja—sejarah kehidupan para nabi-nabi serta kelahiran agama kristen yang dibawa oleh Isa sebagai penyelamat kehidupan manusia merupakan hal yang banyak ditulis dalam sejarah abad pertengahan. Kehidupan duniawi dan masyarakat akan sangat ditentukan oleh wahyu dalam kibat suci (injil), sehingga historiografi abad pertengahan bukan lebih untuk meneliti, mengkaji dan menemukan kebenaran sejarah manusia dan masyarakat pada abad tersebut—namun lebih sebagai justifikasi atas kebenaran sejarah dalam kitab suci, sehingga penulisan sejarah abad pertengahan adalah apologis dan bersifat a priori karena hanya sekedar untuk membenarkan dan menyalahkan sejarah apabila peristiwa tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama dan kitab suci. Diluar bidang kehidupan agama, religiusitas serta keimanan pada Tuhan; maka persitiwa tersebut akan di anggap keliru dan menyimpang—para penulis sejarah pun adalah para orang-orang dalam gereja yaitu biarawan sehingga kontrol gereja mengenai sejarah akan di khususkan pada masalah agama, gereja dan kitab suci. 1. TOKOH SEJARAWAN ABAD PERTENGAHAN 1. Saint Agustinus (Sang Sejarawan Abad Pertengahan)

Membahas historiografi abad pertengahan tidak akan lengkap tanpa mengkaji salah satu tokoh besar sebagai bapak sejarah abad pertengahan yaitu Santo Agustinus—nama aslinya adalah Aurelius Agustinus atau dalam historiografi dan lingkungan sejarah kristen lebih masyhur dengan sebutan Saint Agustinus dari Hippo. Ia lahir pada tahun 354 M di Thagaste, sebuah kawasan pesisir pelabuhan di Afrika Utara yang saat itu dikuasai oleh Kekaisaran Romawi—ibunya adalah seorang penganut agama kristen yang taat, sedangkan ayahnya masih menganut aliran sistem kepercayaan. Agustinus sendiri belum menganut agama kristen, pendidikan awalnya ia tempuh di Madaura dalam bidang bahasa dan kesusastraan Yunani dan banyak mendalami puisi-puisi Homerus yang menurutnya banyak memiliki kelemahan—kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Chartago yang merupakan kota pelabuhan besar di kawasan Afrika Utara dan belajar retorika. Ia begitu tertarik pada negarawan dan ahli retorika Cicero—mempelajari karya-karyanya dan tertarik pada pemikiran sejak umur 19 tahun, terutama mengenai kebahagiaan hidup melalui pengabdian diripada usaha mencari ilmu untuk mencapai kebijaksanaan; dan hal ini yang menyebabkan ia masuk dalam serikat/perkumpulan Manichees yang merupakan suatu aliran kepercayaan yang mengutamakan kepentingan dan keluhuran moral serta hidup dalam kesederhaan duniawi. 1. Motif Penulisan dan Karya-Karya Agustinus Agustinus adalah seorang tokoh agama kristen yang berwawasan luas serta begitu taat dalam kehidupan beragamanya, pada dasarnya ia bukanlah seorang sejarawah. Hal itu dapat ditelusuri dari dua mahakaryanya dalam penulisan sejarah abad pertengahan yaitu (The Confenssions dan The City of God) bukan untuk menghasilkan suatu karya sejarah, namun lebih untuk kepentingan agamanya (kristen). The Confenssions di tulis lebih pada usaha pencarian kebenaran (sejarah) berdasarkan pada ajaran agama kristen (injil)—sementara The City of God dimaksudkan sebagai upaya mempertahankan kebenaran (sejarah) agama kristen dari “celaan dan tuduhan” orang-orang pagan yang menganggap agama kristen dan umatnya yang tidak mau menyembah para dewa menyebabkan kehancuran Kekaisaran Romawi oleh serangan bangsa Vandal, Alan dan Serevi. Dari berbagai motivasi dan tujuan penulisan sejarah yang dilakukan oleh Agustinus menimbulkan suatu problematika kaitannya dalam bagaimana meninjau Agustinus dan karya-karyanya dalam perspektif histotiografi? Adalh lebih nyata dan releven melihat Agustinus sebagai tokoh besar agama kristen daripada sebagai seorang tokoh sejarawan! Akan tetapi dibalik problematika dan kritikan mengenai Agustinus dan karya-karyanya, terdapat beberapa hal mengapa Agustinus pantas di sebut sebagai tokoh sejarawan besar abad pertengahan dengan karya-karya termasuk dalam historiografi yang patut di perhitungkan. Dua karya utama Agustinus yang telah banyak diteliti oleh para sejarawan dari berbagai sudut (tidak hanya keagamaan) seperti oleh Scheville, yang menyimpulkan bahwa The Confenssions merupakan suatu autobiografi yang begitu lengkap dan kompreherensif mengenai perkembangan kehidupan Agustinus serta perjalanan spiritualnya menuju agama kristen—selain sebagai pedoman hidup yang fungsinya hampir sama dengan kitab suci injil dan sebagai karya sastra yang memuja keagungan Tuhan. Adapun The City of God menurut Scheville merupakan karya sejarah yang perlu diperhatikan karena telah membentuk sikap bangsa Eropa sepanjang abad pertengahan, The City of God memuat peristiwa-peristiwa sejarah dan filsafat sejarah—Agustinus melalui The City of God termasuk yang pertama menghasilkan sejarah agama kristen dengan menganalisa aliran-aliran yang bergerak dalam kehidupan manusia. Dalam The City of God di jelaskan mengenai asala mula

kehidupan manusia yang hidup pada dua kota yaitu “Kota Tuhan” dan “Kota Setan” dimana “Kota Tuhan” merupakan akhir tujuan kehidupan abadi manusia dengan cara hidup taat dan mengikuti aturan agama dan kitab suci. 1. Proses Sejarah Menurut Agustinus Proses sejarah menurut Agustinus bukanlah semata-mata proses perjalanan waktu ataupun proses siklus sebagimana tradisi Yunani-Romawi yang dianggapnya berisi unsur-unsur “Kota Setan” yang selalu melakukan peperangan untuk memperebutkan kekuasaan duniawi, sejarah bagi Agustinus di artikan sebagai perjuangan antara kebaikan melawan keburukan. Suatu konflik antara “Kota Tuhan” melawan “Kota Setan” dengan kemenangan di pihak “Kota Tuhan”—sebuah kemenangan yang abadi didunia dan di akhirat. Agustinus menggambarkan bahwa sejarah adalah proses gerakan horisontal dari suatu titik awal hingga tujuan akhir, dengan kata lain sejarah suatu proses bertahap yang mempunyai tahap awal dan tahap akhir—artinya proses sejarah yang “linier” membentuk garis lurus menuju pada suatu tahap titik akhir yang merupakan akhir sejarah; dan manusialah yang menjalankan proses sejarah dari tahap awal menuju proses tahap akhir bagi semua yaitu “Kota Tuhan”, gerak sejarah bagikan sebuah drama yang diciptakan dan dijalankan oleh Tuhan. Manusia tidak dapat mengetahui apalagi menentukan proses akhir sejarah—proses dan gerak sejarah merupakan bukanlah ciptaan manusia, tetapi ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa. Dengan kata lain Tuhan selalu dan senantiasa intervensi dalam gerak sejarah manusia, sehingga manusia harsulah taat dan tundak pada-Nya dengan cara mengikuti ajaran dan dogma agama kristen dan kitab suci agar menuju pada tahap akhir sejarah yang damai dan selamat yaitu “Kota Tuhan”. Posted by dailygrin on February 16, 2011 at 4:28 am Filled under Uncategorized | Leave a comment | Trackback URI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->