POLITIK H.

ISLAM PADA MASA PRA KEMERDEKAAN

Penyusun:

ALIMUDDIN( 09340094)

PRODI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2012
PENDAHULUAN

Pada bagian akhir tulisan ini.[2] . Pertanyaan-pertanyaan seperti: seberapa jauh pengaruh kemayoritasan kaum muslimin Indonesia itu terhadap penerapan hukum Islam di Tanah Air –misalnya-. Berkembangnya komunitas muslim di wilayah itu kemudian diikuti oleh berdirinya kerajaan Islam pertama di Tanah air pada abad ketiga belas.Tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam di Indonesia adalah unsur paling mayoritas. tulisan ini dihadirkan. atau pada sekitar abad ketujuh dan kedelapan masehi. namun setidaknya apa akan Penulis paparkan di sini dapat memberikan gambaran tentang perjalanan hukum Islam. Proses sejarah hukum Islam yang diwarnai “benturan” dengan tradisi yang sebelumnya berlaku dan juga dengan kebijakan-kebijakan politik-kenegaraan. Dalam tataran dunia Islam internasional. Penulis juga menyampaikan kesimpulan tentang apa yang sebaiknya dilakukan oleh kaum muslimin Indonesia untuk –apa yang Penulis sebut dengan“mengakrabkan” bangsa ini dengan hukum Islam. Kerajaan ini dikenal dengan nama Samudera Pasai.[1] Sebagai gerbang masuk ke dalam kawasan nusantara. umat Islam Indonesia bahkan dapat disebut sebagai komunitas muslim paling besar yang berkumpul dalam satu batas teritorial kenegaraan. Karena itu. gerakan dakwah itu kemudian membentuk masyarakat Islam pertama di Peureulak. sejarah itu menunjukkan bahwa proses Islamisasi sebuah masyarakat bukanlah proses yang dapat selesai seketika. kajian tentang sejarah hukum Islam di Indonesia juga dapat dijadikan sebagai salah satu pijakan –bagi umat Islam secara khusus. Secara perlahan. serta tindakan-tindakan yang diambil oleh para tokoh Islam Indonesiaterdahulu setidaknya dapat menjadi bahan telaah penting di masa datang. Ia terletak di wilayah Aceh Utara. Untuk itulah.untuk menentukan strategi yang tepat di masa depan dalam mendekatkan dan “mengakrabkan” bangsa ini dengan hukum Islam. Tentu saja tulisan ini tidak dapat menguraikan secara lengkap dan detail setiap rincian sejarah hukum Islam di Tanah air. Aceh Timur. menjadi sangat menarik untuk memahami alur perjalanan sejarah hukum Islam di tengah-tengah komunitas Islam terbesar di dunia itu. Hukum Islam pada Masa Pra Penjajahan Belanda Akar sejarah hukum Islam di kawasan nusantara menurut sebagian ahli sejarah dimulai pada abad pertama hijriyah. dapat dijawab dengan memaparkan sejarah hukum Islam sejak komunitas muslim hadir di Indonesia. Setidaknya. sejak awal kedatangan agama ini ke bumi Indonesia hingga di era reformasi ini. kawasan utara pulau Sumatera-lah yang kemudian dijadikan sebagai titik awal gerakan dakwah para pendatang muslim. Di samping itu.

Tidak jauh dari Aceh berdiri Kesultanan Malaka. Hukum Islam pada Masa Penjajahan Belanda Cikal bakal penjajahan Belanda terhadap kawasan nusantara dimulai dengan kehadiran Organisasi Perdagangan Dagang Belanda di Hindia Timur. 2. Fakta-fakta ini dibuktikan dengan adanya literatur-literatur fiqh yang ditulis oleh para ulama nusantara pada sekitar abad 16 dan 17. Upaya ini diselesaikan pada tahun 1760. Akibatnya. Sebagai sebuah organisasi dagang.[3] Dan kondisi terus berlangsung hingga para pedagang Belanda datang ke kawasan nusantara. Dalam kenyataannya. VOC pun membebaskan penduduk pribumi untuk menjalankan apa yang selama ini telah mereka jalankan. penggunaan hukum Belanda itu menemukan kesulitan. Penetapan hukum Islam sebagai hukum positif di setiap kesultanan tersebut tentu saja menguatkan pengamalannya yang memang telah berkembang di tengah masyarakat muslim masa itu.itu tentu saja kemudian menetapkan hukum Islam sebagai hukum positif yang berlaku. Kompilasi ini kemudian dikenal dengan Compendium Freijer. Kesultanan-kesultanan tersebut –sebagaimana tercatat dalam sejarah.[4] Kaitannya dengan hukum Islam. . VOC juga mewakili Kerajaan Belanda dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan. Mataram dan Cirebon. Hal ini sangat dimungkinkan sebab Pemerintah Kerajaan Belanda memang menjadikan VOC sebagai perpanjangtangannya di kawasan Hindia Timur.Pengaruh dakwah Islam yang cepat menyebar hingga ke berbagai wilayah nusantara kemudian menyebabkan beberapa kerajaan Islam berdiri menyusul berdirinya Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. dapat dicatat beberapa “kompromi” yang dilakukan oleh pihak VOC. Ini disebabkan karena penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum yang asing bagi mereka. Dalam Statuta Batavia yag ditetapkan pada tahun 1642 oleh VOC. dinyatakan bahwa hukum kewarisan Islam berlaku bagi para pemeluk agama Islam. Adanya upaya kompilasi hukum kekeluargaan Islam yang telah berlaku di tengah masyarakat. kemudian di Sulawesi dan Maluku berdiri Kerajaan Gowa dan Kesultanan Ternate serta Tidore. Tentu saja dengan menggunakan hukum Belanda yang mereka bawa. VOC dapat dikatakan memiliki peran yang melebihi fungsinya. Karena itu disamping menjalankan fungsi perdagangan. atau yang lebih dikenal dengan VOC. yaitu: 1. lalu di pulau Jawa berdiri Kesultanan Demak.

Atas dasar teori resepsi yang dikeluarkan oleh Snouck Hurgronje. Pada pertengahan abad 19. lembaga-lembaga dan kebiasaan pribumi dalam hal persengketaan yang terjadi di antara mereka. Namun kompilasi yang satu ini memiliki kelebihan dibanding Compendium Freijer. yang intinya perkara perdata sesama muslim akan diselesaikan dengan hakim agama . Itulah sebabnya. Di Semarang. hasil kompilasi itu dikenal dengan nama Kitab Hukum Mogharraer (dari al-Muharrar). Diantaranya dengan (1) menyebarkan agama Kristen kepada rakyat pribumi. Pemerintah Hindia Belanda melaksanakanPolitik Hukum yang Sadar.[8] 3. Pada tahun 1925. Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922 kemudian membentuk komisi untuk meninjau ulang wewenang pengadilan agama di Jawa dalam memeriksa kasus-kasus kewarisan (dengan alasan. dimana ia juga memuat kaidah-kaidah hukum pidana Islam. selama tidak bertentangan dengan asas kepatutan dan keadilan yang diakui umum. ia belum diterima oleh hukum adat setempat). Namun upaya itu menemui kesulitan akibat adanya perbedaan agama antara sang penjajah dengan rakyat jajahannya. Adanya upaya kompilasi serupa di berbagai wilayah lain. Cirebon.3. dilakukan perubahan terhadap Pasal 134 ayat 2 Indische Staatsregeling (yang isinya sama dengan Pasal 78 Regerringsreglement). seperti diSemarang. Pemerintah Belanda menginstruksikan penggunaan undang-undang agama. semakin nampak bahwa pihak Belanda berusaha keras mencengkramkan kuku-kuku kekuasaannya di wilayah ini.[6] Bila ingin disimpulkan. misalnya.[7] 2.[5] Pengakuan terhadap hukum Islam ini terus berlangsung bahkan hingga menjelang peralihan kekuasaan dari Kerajaan Inggris kepada Kerajaan Belanda kembali. [9] 4. Gowa dan Bone. Scholten van Oud Haarlem. yaitu kebijakan yang secara sadar ingin menata kembali dan mengubah kehidupan hukum di Indonesia dengan hukum Belanda. Klausa terakhir ini kemudian menempatkan hukum Islam di bawah subordinasi dari hukum Belanda. Setelah Thomas Stanford Raffles menjabat sebagai gubernur selama 5 tahun (1811-1816) dan Belanda kembali memegang kekuasaan terhadap wilayah Hindia Belanda. khususnya umat Islam yang mengenal konsep dar alIslam dan dar al-harb. Pemerintah Belanda mengupayakan ragam cara untuk menyelesaikan masalah itu. maka upaya pembatasan keberlakuan hukum Islam oleh Pemerintah Hindia Belanda secara kronologis adalah sebagai berikut: 1. Atas dasar nota disampaikan oleh Mr. dan (2) membatasi keberlakuan hukum Islam hanya pada aspek-aspek batiniah (spiritual) saja.

Mendirikan Shumubu (Kantor Urusan Agama Islam) yang dipimpin oleh bangsa Indonesia sendiri. Soepomo. Berupaya memenuhi desakan para tokoh Islam untuk mengembalikan kewenangan Pengadilan Agama dengan meminta seorang ahli hukum adat. Menyetujui berdirinya Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada bulan oktober 1943. Namun upaya ini kemudian “dimentahkan” oleh Soepomo dengan alasan kompleksitas dan menundanya hingga Indonesia merdeka.[12] 5. 2. nyaris tidak ada perubahan berarti bagi posisi hukum Islam selama masa pendudukan Jepang di Tanah air. segera Pemerintah Jepang mengeluarkan berbagai peraturan. Abikusno Tjokrosujoso menyatakan bahwa.Islam jika hal itu telah diterima oleh hukum adat dan tidak ditentukan lain oleh sesuatu ordonasi. yang menegaskan bahwa Pemerintah Jepag meneruskan segala kekuasaan yang sebelumnya dipegang oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda. Diantaranya adalah: 1. 4.[11] Meskipun demikian. 6. Mengizinkan berdirinya ormas Islam. Salah satu diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1942. masa pendudukan Jepang lebih baik daripada Belanda dari sisi adanya pengalaman baru bagi para pemimpin Islam dalam mengatur masalah-masalah keagamaan. Hukum Islam pada Masa Pendudukan Jepang Setelah Jendral Ter Poorten menyatakan menyerah tanpa syarat kepada panglima militer Jepang untuk kawasan Selatan pada tanggal 8 Maret 1942. Pemerintah Pendudukan Jepang tetap melakukan berbagai kebijakan untuk menarik simpati umat Islam di Indonesia. Menyetujui berdirinya Hizbullah sebagai pasukan cadangan yang mendampingi berdirinya PETA. 3. seperti Muhammadiyah dan NU. Janji Panglima Militer Jepang untuk melindungi dan memajukan Islam sebagai agama mayoritas penduduk pulau Jawa.[13] Dengan demikian. .[10] Lemahnya posisi hukum Islam ini terus terjadi hingga menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di wilayah Indonesia pada tahun 1942. Namun bagaimanapun juga. Ketetapan baru ini tentu saja berimplikasi pada tetapnya posisi keberlakuan hukum Islam sebagaimana kondisi terakhirnya di masa pendudukan Belanda. pada bulan Januari 1944 untuk menyampaikan laporan tentang hal itu.

Menurut Muhammad Yamin kalimat ini menjadikan Indonesia merdeka bukan sebagai negara sekuler dan bukan pula negara Islam. Mereka mulai “melirik” dan memberi dukungan kepada para tokoh-tokoh nasionalis Indonesia. meskipun Soekarno dan Mohammad Hatta berusaha agar aggota badan ini cukup representatif mewakili berbagai golonga dalam masyarakat Indonesia”.[16] Perdebatan panjang tentang dasar negara di BPUPKI kemudian berakhir dengan lahirnya apa yang disebut dengan Piagam Jakarta. Maka tidak mengherankan jika beberapa badan dan komite negara. Ada banyak kabut berkenaan dengan penyebab hal itu. mereka menyadari bahwa Islam adalah suatu kekuatan di Indonesia yang dapat dimanfaatkan. seperti Dewan Penasehat (Sanyo Kaigi) dan BPUPKI (Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai) kemudian diserahkan kepada kubu nasionalis. Jepang mulai mengubah arah kebijakannya. Dalam hal ini.[14] Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan (1945) Meskipun Pendudukan Jepang memberikan banyak pengalaman baru kepada para pemuka Islam Indonesia. Hatta mengatakan ia . komite yang terdiri dari 62 orang ini. Hingga Mei 1945.Kebijakan pemerintah Belanda telah memperlemah posisi Islam. Tetapi rumusan kompromis Piagam Jakarta itu akhirnya gagal ditetapkan saat akan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI. Ketika pasukan Jepang datang. namun pada akhirnya. paling hanya 11 diantaranya yang mewakili kelompok Islam. nampaknya Jepang lebih mempercayai kelompok nasionalis untuk memimpin Indonesia masa depan. Kalimat kompromi paling pentingPiagam Jakarta terutama ada pada kalimat “Negara berdasar atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Ramly Hutabarat menyatakan bahwa BPUPKI “bukanlah badan yang dibentuk atas dasar pemilihan yang demokratis. Belanda menjalankan kebijakan politik yang memperlemah posisi Islam. seiring dengan semakin lemahnya langkah strategis Jepang memenangkan perang –yang kemudian membuat mereka membuka lebar jalan untuk kemerdekaan Indonesia-.[17] Dengan rumusan semacam ini sesungguhnya lahir sebuah implikasi yang mengharuskan adanya pembentukan undang-undang untuk melaksanakan Syariat Islam bagi para pemeluknya.[15] Atas dasar itulah. Tapi semua versi mengarah kepada Mohammad Hatta yang menyampaikan keberatan golongan Kristen di Indonesia Timur. Islam tidak memiliki para pegawai di bidang agama yang terlatih di masjid-masjid atau pengadilanpengadilan Islam.

[18] Pada akhirnya. Isa Ashary mengatakan.menyangkal hal tersebut. seorang tokoh Kristen dari Indonesia Timur lainnya. Keseriusan tuntutan itu lalu perlu dipertanyakan mengingat Latuharhary –bersama dengan Maramis. Ia bahkan menyebutkan justru Latuharhary yang menyampaikan keberatan itu. di periode ini. Namun Letkol Shegeta Nishijima –satu-satunya opsir AL Jepang yang ditemui Hatta pada saat itu.[19] .telah menyetujui rumusan kompromi itu saat sidang BPUPKI. Kejadian mencolok mata sejarah ini dirasakan oleh umat Islam sebagai suatu „permainan sulap‟ yang masih diliputi kabut rahasia…suatu politik pengepungan kepada cita-cita umat Islam. status hukum Islam tetaplah samar-samar.mendapat informasi tersebut dari seorang opsir angkatan laut Jepang pada sore hari taggal 17 Agustus 1945.

Jakarta. 4.56. [2] Ramly Hutabarat.cit. [4] Ramly Hutabarat. hal. [5] Ibid. 64-66. Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia dan Peranannya dalam Pembinaan Hukum Nasional.. Jakarta. Jakarta. Oktober 1998. Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia. Bahtiar Effendy.. Sementara itu Bahtiar Effendy menyebutkan bahwa Islam mulai diperkenalkan di wilayah nusantara pada akhir abad 13 dan awal abad 14 Masehi. Hukum Islam dan Reformasi Hukum Nasional. 67-68.. Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusikonstitusi Indonesia dan Peranannya dalam Pembinaan Hukum Nasional. [1] Sebagaimana disebutkan dalam Ramly Hutabarat. Nopember 2004/RamadhanSyawal 1425 H. 27 September 2000. berdiri pada kisaran waktu tersebut. Jakarta. 21. Islam dan Negara. op. Paramadina. Bahtiar Effendy. Chamzawi. 61. 61. hal. 6364. Islam dan Negara.cit. no. op. hal. Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia. [7] Ibid. Jakarta. Paramadina. Memperjuangkan Berlakunya Syari’ah Islam di Indonesia (Masih Perlukah?). tahun XVIII. 68. Majalah Amanah. [3] Ibid.DAFTAR PUSTAKA 1. Ramly Hutabarat. 61-62.. Kesimpulan ini sangat mungkin didasarkan pada fakta bahwa kesultanan Islam pertama. . op. Lih. hal. Samudra Pasai. Mei 2005..Seminar Penelitian Hukum tentang Eksistensi Hukum Islam dalam Reformasi Sistem Nasional. Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia. hal. 3. Kedudukan Hukum Islam Konstitusi-konstitusi Indonesia. Oktober 1998.. hal. hal. Mei 2005. Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia.cit. Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia. 2. [6] Ramly Hutabarat. Jimly Ashshiddiqie. Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia. hal.

. Islam dan Negara. jilid III.105. op.. Bandung: Secretariat Jenderal Konstituante. hal. Islam dan Negara. 93. Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia. op.. 1959.Islam dan Negara. Sementara dalam Ramly Hutabarat menyebutkan dalam Kedudukan Hukum Islam..Lev.cit. [17] Ibid.A.. 85. hal. 92-93. [9] Ibid. 1959. 68-70. 89-90. hal.cit.. 60. Kedudukan Hukum Islam. disebutkan jumlah kubu Islam adalah 15 orang. hal. hal. sebagaimana dinukil dari Bahtiar Effendy.Wahid Hasjim. hal.” [18] Ibid. hal. hal. [12] Mengenai apakah Masyumi versi ini merupakan asal-usul Partai Masyumi di kemudian hari. tanpa tahun.. hal. op.. Islamic Courts in Indonesia. Jumlah ini didasarkan pada apa yang dituliskan oleh Muhammad Yamin dalam Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945.. 34. 72.cit. hal. Mereka antara lain adalah Ki Bagus Hadikusumo. . 325. hal.[8] Ibid. jilid I dan II.. 85. [19] Risalah Perundingan 1957.cit.cit. dan K. hal. Data ini didasarkan pada pidato Abdul Kahar Muzakkir di Konstituante. [11] Ibid. lihat Bahtiar Effendy. Agus Salim. [14] Daniel S. op. Jakarta: Yayasan Prapanca. Konstituante Republik Indonesia. 83. [15] Bahtiar Effendy. hal. op. [16] Ramly Hutabarat. Sebagaimana terlihat dengan jelas bahwa perubahan ini juga sangat dipengaruhi oleh TeoriReceptio Snouck Hurgronje. hal. 91. Islam dan Negara. op. Abdul Kahar Muzakkir. 84.cit. 70. hal. 35. dalam Tentang Dasar Negara di Konstituante. [13] Ramly Hutabarat.. sebagaimana dinukil dari Bahtiar Effendy.cit. hal. [10] Ramly Hutabarat. hal. Abikusno Tjokrosujoso.H. Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia. tanpa tempat. Titik kompromi lain juga terlihat dalam rumusan tentang syarat menjadi Presiden Republik Indonesia yang haruslah “orang Indonesia asli dan beragama Islam. catatan kaki no. op. H. 76. 76-79..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful