17087298 Karakteristik Pembelajaran IPA SD

I

BERKENALAN DENGAN PENDIDIKAN IPA SEKOLAH DASAR

A. TUJUAN Setelah mengkaji materi pada bagian I ini mahasiswa mampu: • Mendeskripsikan kondisi objektif pelaksanaan pembelajaran IPA di SD pada umumnya. • Mendeskripsikan pentingnya pembelajaran IPA dilaksanakan sejak dini bagi siswa. • Mendeskripsikan dimensi dan ruang lingkup pendidkan IPA menurut kajian para akhli dan kurikulum. • Mengidentifikasi keterkaitan antar dimensi/ruang lingkup pendidikan IPA yang dikemukakan oleh para akhli dan kurikulum. • Mengidentifikasi ciri-ciri pembelajaran IPA yang efektif serta persaratan kompetensi profesional yang harus dimiliki guru untuk mencapai hal itu. B. KAJIAN MATERI

1. Pendahuluan

B

agaimana pengertian Anda tentang belajar, mengajar, dan mendidik? Adakah perbedaan antara pembelajaran, pengajaran, dan

pendidikan? Setujukah jika pendidikan dimaknai sebagai proses mereproduksi serta mengelaborasi sistim nilai dan budaya ke arah yang lebih baik, antara lain dalam hal pembentukan wawasan, keyakinan (belieft), kepribadian, keterampilan dan kematangan intelektual peserta didik. Bagaimana pula pandangan Anda bahwa dalam lembaga formal proses reproduksi sistim nilai dan budaya ini dilakukan terutama dengan mediasi proses belajar mengajar sejumlah mata pelajaran dalam kelas. Jika Anda mendukung gagasan-gagasan tersebut, bagaimana Anda menjelaskan bahwa salah satu mata pelajaran yang turut berperan penting dalam mendidikkan wawasan, keterampilan dan sikap ilmiah

sejak dini bagi anak adalah mata pelajaran IPA? Sekedar untuk mengungkap ulang hasil belajar Anda pada beberapa mata kuliah terdahulu, jawablah

1

pertanyaan-pertanyaan tersebut. Setelah itu, untuk mengkritisi jawaban Anda sendiri, simaklah paparan berikut. Sejatinya, melalui pembelajaran dan pengembangan potensi diri pada pembelajaran IPA siswa akan memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk memahami dan menyesuaikan diri terhadap fenomena dan perubahan-perubahan di lingkungan sekitar dirinya, disamping memenuhi keperluan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pembelajaran dan pengembangan potensi ini merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam memasuki dunia teknologi, termasuk teknologi informasi pada era globalisasi. Meskipun demikian, pencermatan terhadap realitas di lapangan; pada mayoritas waktu dan tempat, pembelajaran IPA di sekolah dasar masih menunjukkan sejumlah kelemahan. Salah satu kelemahan pembelajaran IPA pada mayoritas SD selama ini adalah bahwa pembelajaran tersebut lebih menekankan pada penguasaan sejumlah fakta dan konsep, dan kurang memfasilitasi siswa agar memiliki hasil belajar yang comprehensive. Keseluruhan tujuan dan karakteristik berkenaan dengan pendidikan IPA SD -sebagaimana tertuang dalam kurikulum- pada kegiatan pembelajaran secara umum telah direduksi menjadi sekedar pemindahan konsepkonsep yang kemudian menjadi bahan hapalan bagi siswa. Tidak jarang pembelajaran IPA bahkan dilaksanakan dalam bentuk latihan-latihan penyelesaian soal-soal tes, semata-mata dalam rangka mencapai target nilai tes tertulis evaluasi hasil belajar sebagai “ukuran utama” prestasi siswa dan kesuksesan guru dalam mengelola pembelajaran. Pembelajaran IPA yang demikian jelas lebih menekankan pada penguasaan sejumlah konsep dan kurang menekankan pada penguasaan kemampuan dasar kerja ilmiah atau keterampilan proses IPA. Oleh karena target seperti itu maka guru tidak terlalu terdorong untuk menghadirkan fenomena-fenomena alam – betapa pun melalui alat peraga sederhana – ke dalam pembelajaran IPA.

2

Kondisi objektif bermasalah lainnya di lapangan saat ini adalah bahwa materi penilaian hasil belajar untuk mata pelajaran IPA -dengan pelaksanaan yang dikordinasikan oleh Dinas Pendidikan kabupaten/kota- masih didominasi dan berfokus pada penilaian hasil belajar ranah kognitif melalui tes. Oleh karena itu, penilaian tersebut tidak pernah mengukur sejauh mana kinerja, karya, dan sikap siswa dalam kegiatan praktikum atau proses inkuiri IPA di SD itu telah berjalan dengan benar, melainkan yang diukur dan dievaluasi itu adalah sejauh mana siswa SD menguasai (mengetahui) sejumlah konsep-konsep IPA yang terdapat dalam buku ajar. Tidak jadi soal dengan cara apa siswa memperoleh pengetahuan dan penguasaan konsep-konsep tersebut. Dengan bersandar pada alasan ini lah para guru di SD pada umumnya "cenderung enggan" menyelenggarakan pembelajaran IPA yang lebih menuntut siswa terlibat dalam berbagai kegiatan praktikum dan jenis kegiatan inkuiri lainnya sekurang-kurangnya melalui metode demonstrasi, karena hal demikian dipandang kurang efektif untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep dalam IPA. Dengan mencermati karakteristik soal-soal ujian (Tes Formatif dan Tes Sumatif (EHB dan EBTA/ EBTANAS) -khususnya untuk Mata Pelajaran IPA SD- yang hanya mengukur hasil belajar siswa pada ranah kognitif belaka; maka nilai IPA siswa pada raport dan STTB -hingga kahir tahun 2004- pada umumnya belum menjadi indikator yang representatif dan sahih bagi hasil belajar yang komprehensif (meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif); serta tidak begitu relevan dengan karakteristik pendidikan IPA. Namun demikian, tidak lah serta merta aspek kognitif siswa pada pembelajaran IPA di SD menjadi tidak penting, karena penguasaan konsep-konsep IPA pun berperan memberikan kemampuan dasar akademis bagi siswa untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hanya saja persoalannya menjadi tidak benar apabila demi mencapai nilai EHB dan EBTA/EBTANAS yang tinggi belaka, kemudian pembelajaran IPA direduksi menjadi sekedar pemindahan/penuangan pengetahuan IPA dari benak guru ke otak anak; dan dengan sadar mengabaikan tuntutan ideal kurikulum dan hakikat pendidikan IPA sebagai proses, produk, dan sikap (nilai).

3

1985:292 dan 1992:32). kebutuhan daerah dalam konteks kesatuan bangsa. Hal demikian mendesak untuk dipenuhi karena bagaimana pun operasionalisasi kurikulum harus berhadapan dengan berbagai kendala. cara dan contoh pengembangan silabus. Selain melakukan uji coba di beberapa sekolah yang dijadikan sebagai pilot project. dan hasil keluaran dari kurikulum pendidikan dasar dan menengah (khususnya IPA) hingga periode Kurikulum Tahun 1994 memberikan temuan sejumlah kelemahan yang berujung dengan kesimpulan perlunya penyempurnaan kurikulum sesuai dengan tuntutan masyarakat yang cenderung berubah. Akronim dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (Depdiknas.Kondisi pembelajaran IPA di SD selama ini telah mendorong para pakar melakukan studi reflektif dan evaluatif terhadap isi (content). Ada kesan serius dalam penyusunan kurikulum 2004 atau kurikulum 2006 ini. pedoman penilaian berbasis kelas. perkembangan ilmu dan teknologi. tuntutan dan kondisi objektif di lapangan (Eddy. 2001:6). dan upaya membangun bangsa agar menjadi negara maju. Denganl demikian sangat jelas pentingnya pembelajaran – termasuk IPA – di SD dilaksanakan secara profesional. Hal-hal tersebut juga harus dikuasai oleh para guru dan mahassiswa calon guru. Kurikulum ini selama proses penyusunan awalnya sejak tahun 2000/2001 populer dengan nama KBK. berwibawa dan kompetitif dalam percaturan pasar bebas dan global internasional. dan rambu-rambu pembelajaran efektif. 4 . Sehubungan dengan temuan itu upaya pengembangan kurikulum mutakhir (Kurikulum tahun 2004 dan disempurnakan menjadi kurikulum 2006) yang beralih dari kurikulum berbasis isi atau materi (content-based curriculum) ke kurikulum berbasis kemampuan (competency-based curriculum) dimana terdapat keseimbangan peningkatan kemampuan konseptual dan kemampuan prosedural merupakan langkah maju Departemen Pendidikan Nasional dalam mengantisipasi kecenderungan pembelajaran IPA selama ini. pelaksanaan. pemerintah melalui Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas juga BSPN menerbitkan buku-buku pelayanan profesional yang terkait langsung dengan penerapan kurikulum di lapangan. Misalnya cara pengelolaan kurikulum di sekolah. Dahar. 1996:20. mandiri.

sifat-sifat fisis. Ia menggoyang-kannya. dan memutarkannya perlahan-lahan sehingga ia bisa melihat bagaimana setiap sisinya terkena cahaya. Inilah potensi scientist dalam diri anak. Proses penelitian yang dilakukan anak seperti demikian. mengangkatnya. fotosintesis. mencatat data. dan kerumitan bahasa yang kacau dengan cara yang menyenangkan dan bebas stres. Pernahkah Anda memperhatikan seorang bayi yang meneliti dengan saksama sebuah mainan baru? Ia meraih mainan tersebut dan memasukkanya ke dalam mulut untuk mengetahui rasanya. sehingga Anda telah menciptakan kondisi yang sempurna bagi anak Anda untuk belajar apa saja". Proses ini juga didukung dengan faktorfaktor umpan balik positif dan rangsangan dari lingkungan. salah satu anugerah terbesar dari Tuhan bagi manusia yang sekaligus membedakannya dari makhluk lainnya. kini. melaporkan data. Dan kita semua memiliki peralatan yang memadai untuk memuaskannya. menjatuhkannya ke lantai dan mengambilnya kembali. disebut belajar secara menyeluruh (global learning). "Kita semua dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan. Global Learning merupakan cara efektif dan alamiah bagi seseorang untuk belajar. Dari sini diketahui bahwa otak seorang anak hingga usia enam atau tujuh tahun adalah seperti spons. Karena begitu besarnya potensi ini terdapat dalam diri anak maka Herbert Zim dengan 5 . membongkar bagian-bagiannya dan menyelidikinya satu demi satu. Mengapa mereka harus belajar mengobservasi. magnet. Ia menempelkannya di telinga. Mengapa Anak SD Harus Belajar IPA ? Mengapa harus disusun kurikulum pembelajaran IPA bagi anak SD? Mengapa di SD anak-anak harus belajar IPA? Mengapa mereka harus belajar konsep-konsep listrik.2. menyerap berbagai fakta. bahkan melakukan penyelidikan? Akan kah mereka semua dijadikan ⎯ atau bahkan digiring ⎯ menjadi ahli IPA? Untuk membantu Anda menjawab pertanyaan ini. pertama-tama cermatilah apa yang ditulis Bobbi dePorter & Mike Hernacki berikut dalam Quatum Learning (1992:22). atau dasar-dasar antariksa nun jauh di sana.

dalam konteks era globalisasi dan informasi . 6 . & Ahlgren. mengapa matahari hanya nampak pada siang hari. Ada-lah tugas utama pendidikan (melalui kolaborasi guru-siswa) untuk mengembangkan potensi saintis siswa secara optimal sejak dini melalui proses pembelajaran IPA yang dikelola secara profesional. peristiwa. mengapa jika ia berlari pada saat rembulan muncul rembulan tersebut selalu mengikutinya.” (Holt.J. Anak ingin mengerti mengapa benda-benda bergerak. dan sikap yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan dan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan di sekelilingnya. sehingga mereka mampu turut serta memilih dan mengolah informasi untuk digunakan dalam mengambil keputusan. Dan masih banyak lagi fenomena-fenomena alam lainnya yang mengusik rasa ingin tahunya. mengapa tumbuhan dan hewan beragam.1989:16). Anak secara intrinsik terdorong ingin mengerti dan menelusuri apa saja. berhadapan dengan dunia IPA yang sederhana sampai yang membutuhkan pemikiran kompleks.dengan tuntutan keterampilan hidup (life sklill) yang semakin tinggi dan kompleks – pembelajaran IPA di SD merupakan wahana untuk membekali siswa dengan pengetahuan. Susan. et al.. Selain itu. istilah dan pengertian IPA. Connor.et al. Tepat apa yang dinyatakan oleh Roth. F.A. 1990:6/7. 2001:6. Carin & Sund. Rutherford. keterampilan. (Depdiknas. Yager.F. (1993:127) bahwa “An important task of science educators is to help students develop the thinking skills of scientists”. termasuk yang berkaitan dengan IPA. 1991:1-6).tegas menyatakan. W..1990.1990:2/31. 1993:4. Tugas penting guru IPA dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir saintis ini dapat dituangkan dalam pembelajaran IPA bagi anak melalui penyediaan konteks yang autentik yang melibatkan benda-benda. Potensi scientist dibawa serta oleh anak dalam serangkaian kegiatan sehari-hari. “Young children are more scientists then they are anything else. Para pakar IPA sepakat bahwa dengan melibatkan siswa ke dalam kegiatan IPA sejak dini akan menghasilkan generasi dewasa yang melek sains yang dapat menghadapi tantangan hidup dalam dunia yang makin kompetitif.

3. IPA sebagai kumpulan pengetahuan IPA sebagai kumpulan pengetahuan mengacu pada kumpulan berbagai konsep IPA yang sangat luas. dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar. Menurut mereka. Karakteristik tersebut sekurangkurangnya meliputi pengertian dan dimensi (ruang lingkup) pendidikan IPA. dan generalisasi yang menjelaskan alam. gagasan. teori. Sedangkan dalam kurikulum 2004 sains (IPA) diartikan sebagai cara mencari tahu secara sistematis tentang alam semesta. penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan. IPA dipertimbangakan sebagai akumulasi berbagai pengetahuan yang telah ditemukan sejak zaman dahulu sampai penemuan pengetahuan yang sangat baru. Menurut Hendro dan Jenny (1993:3) ucapan Einstein: Science is the atempt to make the chaotic diversity of our sense experience correspond to a logically uniform system of thought. Oleh karenanya pemahaman yang benar tentang karakteristik pendidikan IPA mutlak diperlukan guru. Untuk membahas hakikat IPA. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagaimana dikemukakan oleh Hardy & Fleer (1996:15-16) sehingga memungkinkan para guru memahami IPA dalam perspektif yang lebih luas. IPA secara sederhana didefinisikan sebagai ilmu tentang fenomena alam semesta. Pengertian dan Dimensi Umum Pendidikan IPA Cara pandang guru terhadap hakikat (esensi dan karakteristik) pendidikan IPA akan sangat mempengaruhi profil pembelajaran IPA yang diselenggarakan guru bersama siswa. sekurang-kurangnya ada 7 ruang lingkup pemahaman IPA sebagaimana berikut. Pengetahuan tersebut berupa fakta. yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan. Dalam kurikulum pendidikan dasar terdahulu (1994) dijelaskan pengertian IPA (sains) sebagai hasil kegiatan manusia berupa pengetahun. a. yang dikenal dengan istilah pola berpikir ilmiah. mempertegas bahwa IPA merupakan suatu bentuk upaya yang membuat berbagai pengalaman menjadi suatu sistem pola berpikir yang logis tertentu. 7 .

yang melalui IPA mereka didanai. Ini termasuk di dalamnya nilai kejujuran. d. Bagaimanapun juga. 8 .b. IPA sebagai hasil konstruksi manusia Pandangan ini menunjuk pada pengertian bahwa IPA sebenarnya merupakan penemuan dari suatu kebenaran ilmiah mengenai hakikat semesta alam. IPA sebagai suatu proses penelusuran (investigation) IPA sebagai suatu proses penelusuran umumnya merupakan suatu pandangan yang menghubungkan gambaran IPA yang berhu-bungan erat dengan kegiatan laboratorium beserta perangkatnya. pandangan ini mene-kankan pada aspek nilai ilmiah yang melekat pada IPA. e. IPA dipertimbangkan sebagai suatu cara di mana manusia mengerti dan memberi makna pada dunia di sekeliling mereka. Dalam kategori ini IPA dipandang sebagai sesuatu yang memiliki disi-plin yang ketat. dilatih dan diberi penghargaan akan hasil karya. c. Oleh karenanya. Pengetahuan ilmiah ini tidak lain merupakan akumulasi kebenaran. objektif. dan suatu proses yang bebas nilai. politik. pemerintah. selain juga merupakan salah satu cara untuk mengetahui dunia beserta isinya dengan segala keterbatasannya. IPA sebagai kumpulan nilai IPA sebagai kumpulan nilai berhubungan erat dengan pene-kanan IPA sebagai proses. rasa ingin tahu. IPA sebagai cara untuk mengenal dunia Proses IPA dipengaruhi oleh cara di mana orang memahami kehidupan dan dunia di sekitarnya. Para ilmuwan ini sangat terikat dengan kepentingan institusi. f. Hal pokok dalam pandangan ini adalah IPA merupakan konstruksi pemikiran manusia. dapat saja apa yang dihasilkan IPA memiliki sifat bias dan sementara. IPA sebagai institusi sosial Ini berarti bahwa IPA seharusnya dipandang dalam penegrtian sebagai kumpulan para profesional. bahkan militer. dan keterbukaan.

(2) mampu memprediksi peristiwa yang akan terjadi. Dimensi Proses. Kursi dan ruang kelas adalah contoh konsep teramati. prinsip-prinsip. hokum dan teori) tidak diperoleh berdasarkan fakta semata. dan bukan mendefinisikannya. melainkan berdasarkan data yang telah teruji melalui serangkaian eksperimen dan penyelidikan.g. suhu adalah contoh konsep terdefinisi. Energi. Carin & Sund (1989:4) mengajukan tiga kriteria bagi suatu produk IPA yang benar. Dimensi produk meliputi konsep-konsep. dan dimensi sikap. hukum-hukum. melainkan pula cara bagaimana orang berpikir mengenai situasi sehari-hari sangat kuat dipengaruhi oleh pendekatan ilmiah (scientific approach). Bukan saja pemakaian berbagai jenis produk teknologi sebagai hasil investigasi dan pengetahuan. Bertumpu pada sekumpulan data yang sahih itulah suatu fenomena alam diabstraksikan ke dalam bentuk konsep. medan. IPA sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari Orang menyadari bahwa apa yang dipakai dan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sangat dipengaruhi oleh IPA. Fakta adalah fenomena alam yang berhasil diobservasi tetapi masih memungkinkan adanya perbedaan persepsi di antara pengamat (pelaku observasi). Sarkim (1998) maka hakikat pendidikan IPA dapat dikategorikan kedalam tiga dimensi yaitu: Dimensi Produk. prinsip. konsep terdefinisi. Berdasarkan hasil analisis terhadap berbagai paparan para pakar tentang ruang lingkup IPA sebagaimana dilakukan oleh T. Produk IPA (konsep. dan teori-teori di dalam IPA yang merupakan hasil rekaan manusia dalam rangka memahami dan menjelaskan alam bersama dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. (3) mampu diuji dengan eksperimen sejenis. Fakta yang dipersepsi sama oleh setiap observer disebut data. 9 . dan konsep menyatakan hubungan. Ketiga kriteria tersebut adalah: (1) mampu menjelaskan fenomena yang telah diamati atau telah terjadi. Sedangkan rumus-rumus dan kalimat matematika adalah contoh konsep menyatakan hubungan. Secara sederhana ada tiga jenis konsep: konsep teramati. Kita dapat memahaminya semata-mata dengan menyaksikan bentuk konkritnya.

yaitu: melakukan observasi. aspek proses ini muncul dalam bentuk kegiatan belajar mengajar. Metode ilmiah dalam proses IPA memiliki kerangka dasar prosedur yang dapat dijabarkan dalam enam langkah: (1) sadar akan adanya masalah dan merumusan masalah. Metode ini dalam IPA sekarang merupakan gabungan antara metode induksi dan metode deduksi. 10 . kemauan untuk mempertimbangkan interpretasi/pandangan lain. Kemudian. memprediksi. Sarkim. Setelah melewati berbagai perubahan yang dinilai perlu. dimana seorang peneliti mula-mula menggunakan metode induksi dalam menguhubungkan pengamatan dengan hipotesis. dan (6) melakukan generalisasi. membandingkan. Dalam pengajaran IPA. Termasuk ke dalam kelompok pertama. hipotesis ini kemudian diuji melalui serangkaian data yang dikumpulkan secara empiris. kesadaran akan perlunya bukti ketika mengemukakan suatu pernyataan. yang dikenal dengan keterampilan proses. merumuskan hipotesis. menganalisis data. dan kedua. seperangkat sikap yang bila diikuti akan membantu proses pemecahan masalah. Ada tidaknya aspek proses ini sangat bergantung pada guru. mengklasifikasi. secara deduksi hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan yang ada untuk melihat kecocokan dan implikasinya.Dimensi proses. Dimensi sikap ilmiah adalah berbagai keyakinan. menyimpulkan. (5) pengujian hipotesis. (4) perumusan hipotesis. melakukan eksperimen. b. Sikap dapat diklasifikasi ke dalam dua kelompok besar. seperangkat sikap tertentu yang merupakan cara memandang dunia serta berguna bagi pengembangan karir di masa yang akan datang (T. yaitu metode memperoleh pengetahuan. antara lain adalah: a. Pertama. 1998:134). Pada tahap-tahap tersebut terdapat aktivitas-aktivitas yang secara umum biasa dilakukan oleh para peneliti. (2) pengamatan dan pengumpulan data yang relevan. dan mengkomu-nikasikan hasil penelitian. yang disebut dengan metode ilmiah. (3) pengklasifikasian data. opini dan nilai-nilai yang harus dipertahankan oleh seorang ilmuwan khususnya ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru. mengukur. Metode gabungan ini merupakan kegiatan beranting antara deduksi dan induksi.

sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru (originality) c. kiranya cukup jelas bahwa pendidikan IPA bukan sekedar berisi rumus-rumus dan teori-teori melainkan suatu proses dan sikap ilmiah untuk mendapatkan konsep-konsep ilmiah tentang alam semesta. d. sikap bertanggung jawab (responsibility) h. e. sikap ingin tahu (curiousity) b. sikap terbuka untuk menerima (open-mindedness) f. c. 11 . menyadari adanya keterbatasan dalam penemuan keilmuan. Pengembangan sikap ilmiah ini bukan melalui ceramah melainkan dengan memunculkannya ketika siswa terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah. sikap mawas diri (self critism) g. sikap kedisiplinan diri (self discipline) Dari keseluruhan uraian tentang hakikat IPA di atas. pengakuan pentingnya pemahaman keilmuan dalam masa kini. sikap kerja sama (cooperation) d. Kesembilan sikap tersebut adalah: a. Sedangkan sikap-sikap yang termasuk kelompok kedua adalah: a. sikap berpikir bebas (independence in thinking) i. mengakui IPA merupakan hasil dan kebutuhan aktivitas manusia. dan d. sikap tidak putus asa (perseverance) e. b. Wynne Harlen (1987) dalam Teaching and Learning Premary Science semenjelaskan sembilan sikap ilmiah yang harus dikembangkan sejak dini pada siswa sekolah dasar.c. memiliki rasa antusias untuk menguasi pengetahuan dan metode ilmiah. kemauan melakukan eksperimen atau kegiatan pengujian lainnya secara berhati-hati. rasa ingin tahu terhadap dunia fisik/biologis dan cara kerjanya. pengakuan bahwa IPA dapat membantu pemecahan masalah-masalah individual dan global.

4. Sedangkan di kelas rendah pembelajaran IPA ini terintegrasi bersama mata pelajaran lainnya. Pada prinsipnya. konsep-konsep. keterampilan menggunakan alat dan bahan secara benar dengan selalu mempertimbangkan keselamatan kerja. 2004:3). Keterampilan proses ini meliputi: keterampilan mengamati dengan seluruh indera. pendidikan sains (IPA) di sekolah dasar (SD) secara eksplisit berupa mata pelajaran mulai diajarkan pada jenjang kelas tinggi. mengkomunikasikan hasil temuan secara beragam. terutama dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui model pembelajaran tematis. menafsirkan data. pembelajaran IPA harus dirancang dan dilaksanakan sebagai cara ‘mencari tahu’ dan cara ‘mengerjakan/melakukan’ yang dapat membantu siswa memahami fenomena alam secara mendalam (Depdiknas. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung. Dalam KTSP ditegaskan pengertian Sains (IPA) sebagai cara mencari tahu tentang alam secara sistematis dan bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta. mengajukan pertanyaan. Pendidikan IPA di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya. IPA dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi Menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK tahun 2004 dan KTSP. Fungsi dan Tujuan Pendidikan IPA Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dijelaskan bahwa mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) berfungsi untuk menguasai konsep dan manfaat IPA dalam kehidupan sehari-hari serta untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah 12 . prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Dalam pembelajaran tersebut siswa difasilitasi untuk mengembangkan sejumlah keterampilan proses (keterampilan atau kerja ilmiah) dan sikap ilmiah dalam memperoleh pengetahuan ilmiah tentang dirinya dan alam sekitar. serta menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari. Kurikulum Tingakat Satuan Pendidikan tahun 2006). menggolongkan data.

serta bertujuan: (1) Menanamkan pengetahuan dan konsepkonsep sains yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. (5) Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara sains. Ruang Lingkup (dimensi) Mata Pelajaran IPA Ruang lingkup mata pelajaran Sains (IPA) di SD menurut KBK tahun 2004 (cikal bakal Kurikulum 2006) meliputi dua dimensi: (1) Kerja Ilmiah dan (2) Pemahaman Konsep dan Penerapannya. Penyelidikan/Penelitian Siswa menggali pengetahuan yang berkaitan dengan alam dan produk teknologi melalui refleksi dan analisis untuk merencanakan. pengembangan kreativitas dan pemecahan masalah. memecahkan masalah dan membuat keputusan. Kerja ilmiah sains dalam kurikulum sekolah dasar terdiri dari penyelidikan. a. (2) Menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positip terhadap sains dan teknologi. melainkan oleh cara melibatkan siswa ke dalam kegiatan di dalamnya (Galton & Harlen. berkomunikasi ilmiah. (4) Ikut serta dalam memelihara. teknologi dan masyarakat. karakteristik dan tujuan pendidikan IPA SD dalam kurikulum menuntut proses belajarmengajar IPA yang tidak terlalu akademis yakni penekanan pada penyampaian konsep-konsep dengan sistimatika yang ketak berdasarkan buku teks dan lebihlebih sekedar verbalistik semata. Berikut adalah deskripsi kerja ilmiah tersebut. menjaga dan melestarikan lingkungan alam. bersikap ilmiah dan religius. mengum-pulkan. 13 . dan (6) Menghargai alam dan segala ketera-turannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.Tsanawiyah (MTs). lingkungan. 1990:2). memiliki keterampilan ilmiah. Secara global dimensi yang hendak dicapai oleh serangkaian tujuan kurikuler pendidikan IPA dalam kurikulum pendidikan dasar adalah mendidik anak agar memahami konsep IPA. Dalam kegiatan pembelajaran kedua dimensi ini dilaksanakan secara sinergi dan terintegrasi. Keilmiah dan tujuan transendental pendidikan IPA sebagaimana dipaparkan di atas sudah barang tentu tidak serta merta dapat dicapai oleh materi pelajaran IPA. (3) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar. Dengan demikian pengertian. sikap dan nilai ilmiah.

c. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah. mengkomunikasikan kesim-pulan. kreatif dalam menghasilkan karya ilmiah. bunyi. Energi dan perubahannya meliputi: gaya. Benda/materi. cahaya dan pesawat sederhana.mengolah dan menafsirkan data. tata surya. d. serta kesehatan. bumi. Pengembangan Kreatifitas dan Pemecahan Masalah Siswa mampu berkreatifitas dan memecahkan masalah serta membuat keputusan dengan menggunakan metode ilmiah. b. padat dan gas. dan benda-benda langit lainnya. Makhluk hidup dan proses kehidupan. Berkomunikasi Ilmiah Siswa mengkomunikasikan pengetahuan ilmiah hasil temuan dan kajiannya kepada berbagai kelompok sasaran untuk berbagai tujuan. dan Masyarakat (salingtemas) merupakan penerapan konsep IPA dan saling keterkaitannya dengan lingkungan. magnet. d. Adapun dimensi Pemahaman Konsep dan Penerapannya mencakup: a. tekun dan teliti. serta menilai rencana prosedur dan hasilnya. yaitu manusia. Teknologi. hewan. sikap dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan 14 . Lingkungan. peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan. sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair. e. c. tum-buhan dan interaksinya dengan lingkungan. terbuka pada pikiran dan gagasan baru. teknologi dan masyarakat melalui pembuatan suatu karya teknologi sederhana termasuk merancang dan membuat. keterampilan. Sains. Sikap dan Nilai Ilmiah Siswa mengembangkan sikap ingin tahu. tidak percaya tahayul. listrik. Kompetensi Pendidikan IPA Kompetensi yang merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional dalam Kurikulum 2004 diartikan oleh Pusat Kurikulum Balibang Depdiknas sebagai ‘pengetahuan. jujur dalam menyajikan data faktual. b. panas.

struktur. mengembangkan. dan nilai-nilai untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupannya. Siswa memilih. c. dan diperolehnya dari berbagai sumber dan mampu menilai. Kesembilan KLK tersebut adalah sebagai berikut. dan teknologi serta mempunyai pengetahuan. keterampilan.dalam kebiasaan berpikir dan bertindak’. Siswa memahami konteks budaya. dalam kaitan ini siswa memahami hak-hak dan kewajiban serta menjalankannya secara bertanggung jawab. memadukan dan menerapkan konsep-konsep dan teknik-teknik numerik dan spasial. d. Siswa memahami dan berpartisipasi dalam kegiatan kreatif di ling-kungannya untuk saling menghargai karya artistic. budaya dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab. Siswa memahami dan menghargai dunia fisik. serta untuk bertinteraksi dengan orang lain. dan hubungan. Siswa menyadari bahwa setiap orang mempunyai hak untuk dihargai dan merasa aman. e. dan dievaluasi dengan berorientasi pada pencapaian kompetensi tertentu oleh siswa. geografi dan sejarah. serta memiliki pengetahuan. keterampilan. Siswa menyadari kapan/apa teknologi dan informasi yang diperlukan. a. Siswa menggunakan bahasa untuk memahami. ditemukan. Kompetensi tersebut antara lain kompetensi lintas kurikulum (dicapai siswa melalui pembelajaran-pembelajaran dari semu rumpun pembelajaran). f. kompetensi rumpun mata pelajaran (standar kompetensi kajian) dan standar kompetensi mata pelajaran. g. dioperasionalkan. Pembelajaran IPA dirancang. serta berinteraksi dan berkontribusi dalam masyarakat dan budaya global. 15 . menggunakan dan berbagai informasi dengan orang lain. serta mampu menyusun pola. Ada sembilan Kompetensi Lintas Kurikulum (KLK) yang terkait dengan pendidikan Sains. makhluk hidup. b. dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi. dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan.

seluk beluk dan teka-teki fenomena alam di sekitar dirinya. serta siap menghadapi berbagai kemungkinan. Mampu memahami proses pembentukan ilmu dan melakukan inkuiri ilmiah melalui pengamatan dan sesekali melakukan penelitian sederhana dalam lingkup pengalamannya d. 5. Kompetensi tersebut dikenal dengan istilah Standar Komptensi Mata Pelajaran. c. dan peka terhadap makhluk hidup dan lingkungan. memberikan kesenangan bermain dan kepuasan intelektual bagi mereka dalam membongkar misteri. bekerjasama. Siswa menunjukkan motivasi dan percaya diri dalam belajar serta mampu bekerja mandiri sekaligus dapat bekerjasama. Mampu bersikap ilmiah dengan penekanan pada sikap ingin tahu. Kompetensi Rumpun Mata Pelajaran Sains (IPA) berkaitan dengan pencapaian kompetensi yang meliputi kerja ilmiah dan penguasaan konsep yakni pemahaman dan penerapannya. i. Mampu memanfaatkan sains dan merancang/membuat produk teknologi sederhana dengan menerapkan prinsip sains dan mampu mengelola lingkungan di sekitar rumah dan sekolah serta memiliki saran/usul untuk mengatasi dampak negatif teknologi di sekitar rumah dan sekolah. memperbaiki 16 . Mampu menterjemahkan perilaku alam tentang diri dan lingkungan di sekitar rumah dan sekolah. Dari kompetensi rumpun mata pelajaran ini kemudian dijabarkan menjadi kompetensi yang lebih operasioanl dan lebih mencerminkan aspek-aspek khusus pencapai tujuan mata pelajaran. mengembangkan potensi saintis yang terdapat dalam dirinya. b. Siswa menunjukkan kemampuan untuk berpikir konsekuen. berpikir lateral. bertanya. Standar Kompetensi mata pelajaran Sains (IPA) di SD/MI adalah: a.h. memperhitungkan peluang dan potensi. Bagaimana Mengajarkan Sains (IPA) di SD? Pembelajaran IPA sebagai media pengembangan potensi siswa SD seharusnya didasarkan pada karakteristik psikologis anak.

Sesekali tidak boleh terjadi. Pembelajaran IPA akan berlangsung efektif jika kegiatan belajar mengajarnya mampu mencitrakan kepada siswa bahwa kelas adalah tempat untuk bermain. sambil membekali keterampilan dan membangun konsep-konsep baru yang harus dikuasainya. Saat Anda merayakan ulang tahun pertama. dan komprehensif bagi setiap aspek proses dan hasil belajar siswa. mulailah dari apa yang ada pada/di sekitar siswa dan yang dikenal. Meskipun demikian. Secara psikologis. Dengan kata lain. Boleh jadi anak ini sangat mirip dengan Anda dahulu. serta memfasilitasi siswa untuk secara lugas mengemukakan dan mencobakan ide-idenya. transparan. proporsional. Anda dapat melakukannya walau dengan berkali-kali tersandung dan terjatuh. pembelajaran IPA di SD justru mengabaikan ⎯ apalagi menghilangkan ⎯ dunia bermain anak. dari sederhana ke rumit. Bobbi dePorter dalam Quantum Learning (1999:22-24) menginformasikan kepada Anda tentang pentingnya menciptakan suasana kelas sebagai tempat ' bermain sambil belajar ' yang aman dari caci maki dan ancaman serta bermakna bagi siswa. Berdasarkan jenjang dan karakteristik perkembangan intelektual anak seusia siswa SD maka penyajian konsep dan keterampilan dalam pembelajaran IPA harus dimulai dari nyata (konkrit) ke abstrak. "Marilah kita mencermati beberapa tonggak belajar pada usia awal seorang anak yang normal dan sehat. Mengapa demikian? 17 . diminati serta diperlukan siswa. dari mudah ke sukar. Tugas guru adalah menciptakan dan mengoptimalkan suasana bermain tersebut dalam kelas sehingga menjadi media yang efektif untuk membelajarkan siswa dalam IPA. mungkin Anda telah belajar berjalan ⎯ suatu proses yang rumit baik secara fisik maupun mental yang hampir-hampir mustahil dapat dijelaskan dengan kata-kata atau diajarkan tanpa mendemons-trasikannya. aman dari segala bentuk ancaman dan hambatan psikologis.konsepsi mereka yang masih keliru tentang fenomena alam. dan dari dekat ke jauh. anak usia SD berada dalam dunia bermain. Selain itu penilaian dalam pengajaran IPA harus dilakukan dengan menggunakan sistem penilaian (asesmen) yang adil.

yang merupakan salah seorang tokoh penting dalam hidup Anda saat itu. Lalu Anda mendengar beberapa anak tertawa dan guru berkata. . Keyakinan Anda terguncang. "Tidak. dan benih-benih keraguan mulai tersemai dalam jiwa Anda. sebagai orang dewasa. ini lah awal terbentuknya citra negatif diri. mungkin ketika di kelas satu atau kelas dua. Jadi. Lalu pada suatu hari. mengapa justru pada saat kanak-kanak Anda mencoba dan mencoba lagi ketika Anda sedang belajar berjalan? Jawabannya adalah. "Siapa yang dapat menjawab pertanyaan ini?" Anda mengacungkan tangan sambil bergeser ke ujung tempat duduk Anda dengan bersemangat hingga guru memanggil nama Anda. belajar menjadi tugas berat". bahwa Anda tidak mengenal konsep mengenai kegagalan. hingga pada usia enam atau tujuh tahun. . Anda dapat mengingat dan membandingkannya dengan beberapa kasus ketika Anda menyerah mempelajari sesuatu yang baru setelah gagal satu atau dua kali. Komentar negatif enam kali lebih banyak dibandingkan komentar positif! Dengan demikian kelas (sekolah) telah memindahkan siswa dari lingkungan hidup yang humanis dan demokratis ke 'kamp-kamp konsentrasi ala Nazi'. Bagi banyak orang. Setiap keberhasilan diakhiri dengan kegembiraan dan tepukan. Dengan penuh keyakinan Anda menjawabnya. Untuk membantu.Saya yakin. Sejak saat itu. itu salah! Saya heran kamu berani tergesa-gesa menjawab!" Anda merasa malu sekali di hadapan teman-teman dan guru. Anda duduk di kelas dan guru berkata. yang memompa diri diri Anda untuk lebih berhasil . Jack Canfield (1982) dalam Quantum Learning melaporkan hasil penelitiannya di sejumlah sekolah dasar di USA bahwa setiap anak dalam sehari rata-rata menerima 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau yang bersifat mendukung. 18 . orangtua Anda meyakinkan betul bahwa Anda bisa melakukannya jika terus menerus berusaha dan mereka selalu mendampingi Anda untuk mendorong Anda. Anda menjalani apa yang oleh para pakar pendidikan dianggap sebagai tugas belajar tersulit yang dapat dilakukan oleh manusia ⎯ Anda belajar membaca!. Semua itu dapat Anda jalani dengan relatif tidak ada kendala.

menyiapkan siswa agar dapat menggunakan IPA dan teknologi dalam memahami dan memperbaiki kehidupan sehari-hari. jelas sangat bertentangan dengan hakikat anak dan pendidikan IPA itu sendiri. 19 . Menurut Connor (dalam Rowe. kejelasan wawasan guru tentang ruang lingkup IPA juga sangat menentukan kualitas pengajaran IPA di Sekolah Dasar. dalam deretan bangku-bangku yang berjajar menghadap ke depan. M. dan verbalistis. Sedangkan Carin & Sund (1989:16) memberikan arahan bagaimana semestinya IPA diajarkan pada pendidikan dasar ⎯ termasuk SD. b. (3) aplikasi. Disamping pemahaman dan pengimplementasian karakteristik psikologis siswa pada pembelajaran IPA. sementara guru dengan fasih menceramahkan materi IPA. (2) Social Issues: menanamkan tanggung jawab terhadap isu-isu sosial yang berkaitan dengan IPA. menyiapkan siswa agar dapat menggunakan IPA dan teknologi dalam menghadapi isu-isu sosial yang berhubungan dengan IPA.. dalam pembelajaran IPA guru mengharapkan siswa diam dengan sikap duduk tegak dan bersidekap tangan.B.Sangat disayangkan! Berdasarkan hasil survey dan penelitian penulis di sejumlah SD. Hilang sudah kinerja saintis anak yang begitu cekatan mengobservasi dan memperlakukan bendabenda apa saja yang ada di sekitarnya. (2) pengembangan konsep. (3) Career Education Awareness: menanamkan kesadaran akan sifat dan ruang lingkup IPA yang berhubungan dengan pengembangkan bakat dan minat. Masih sering terjadi. dan (4) isu sosial yang berdasar pada sains. linear. pembelajaran IPA di sekolah dasar tradisional telah mengalihkan anak dari pendekatan "global learning" yang menyenangkan dan holistik menjadi pendekatan kaku. Connor (1990:7) berkesimpulan bahwa pendidikan IPA untuk sekolah dasar harus secara konsisten berorientasi pada: (1) pengembangan keterampilan proses. 1990:6) cakupan pendidikan IPA untuk pendidikan dasar harus berorientasi pada empat hal: (1) Personal needs: menyiapkan individu yang mampu menggunakan IPA bagi peningkatan tarap hidup dan menghadapi perkembangan teknologi. Pembelajaran IPA yang demikian. yaitu: a. (4) Academic Preparation: memberi landasan bagi siswa yang akan mendalami IPA secara akademik dan profesional.

menanamkan kesadaran dan pengertian akan hakikat IPA sebagai program internasional. Hal lain yang juga penting disadari oleh para guru adalah bahwa pendidikan IPA di SD tidak boleh lepas dari pendidikan teknologi. serta mengambil keputusan (Horsley. menanamkan pengertian akan adanya hubungan yang erat antara IPA dan teknologi.c.1990). sifat dan struktur benda. Sehubungan dengan keterkaitan antara pendidikan IPA. (2) merancang dan membuat produk teknologi berdasarkan ciri-ciri makhluk hidup. menanamkan ke dalam diri siswa keingintahuan akan alam sekitar. teknologi lingkungan. memecahkan masalah. Penerapan Sains perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. maka pendidikan teknologi bertujuan untuk memberi siswa cara-cara memberi nilai tambah terhadap benda yang di lingkungan serta cara-cara berurusan dengan kehidupan moderen yang kompleks. d. konsep gaya beserta karakteristiknya. Keberhasilan menghubungkan pendidikan IPA dengan pendidikan teknologi dapat meningkatkan dan mengembangkan proses berpikir yang meliputi keterampilan mengumpulkan informasi. dan (3) memperbaiki produk teknologi yang ramah lingkungan dan masyarakat. Sains diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. dan perubahan yang terjadi pada bumi dan sistem tata surya. Penekanan pembelajaran salingtemas diarahkan pada pe-ngalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalaui penerapan konsep sains dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. dan masyarakat. f. Sub aspek salingtemas yang perlu dipelajari siswa adalah: (1) mengidentifikasi kebutuhan dan kesempatan. lingkungan . dan masyarakat (salingtemas) Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains Kurikulum 2004 menjelaskan: Sains terdapat di dalam teknologi. serta dapat memahami penjelasan-penjelasan ilmiah tentang fenomena alam. Jika pendidikan IPA terutama ditujukan untuk mendorong siswa agar mampu menjelaskan hasil observasi mengenai lingkungan sekitar. Literasi sains dan teknologi serta peran keduanya dalam lingkungan dan masyarakat sangat penting dan mendesak untuk diperkenalkan sejak tingkat 20 .

materi pelajaran dan strategi pembelajaran yang dikembangkan. Untuk itu dituntut kemampuan guru dalam mengemas pembelajaran IPA sehingga membentuk konfigurasi yang bermakna yang mengkaitkan antara materi IPA. dan urutan bahan pelajaran dalam satu caturwulan. jika dalam kurikulum tertulis Kompetensi Dasar: 'Mengidentifikasi ciri-ciri umum makhluk hidup dan kebutuhannya’ maka tujuan pem21 . tujuan instruksional dan pelaksanaan pembelajaran. dan keadaan daerah siswa. Materi Pokok dan Indikator Pencapaian Hasil Belajar sebagaimana tercantum pada kurikulum Mata Pelajaran Sains SD. metode yang dipilih. fisik. Guru pengajar IPA yang amanah dan profesional dituntut untuk mampu mengelaborasi keenam prinsip di atas dalam kegiatan belajar mengajar IPA di kelas. Prinsip-prinsip tersebut adalah: a. Mengacu pada tujuan. penggunaan pendekatan dan metode mengajar. b. keterampilan teknologi dan isu-isu ilmiah yang berada di lingkungan masyarakat. Tujuan pembelajaran yang disusun. penggunaan sarana dan sumber belajar. baik antar tingkat/kelas di SD maupun antara SD dan SLTP. Kesinambungan bahan pelajaran. satu sama lain harus saling bertautan dengan serta bersumber dari Kompetensi Umum. d. f. Pada buku Pedoman Belajar Mengajar Sekolah Dasar dicantumkan enam prinsip (azas) pengembangan dan operasional pembelajaran bagi para guru SD. Belajar aktif dan koperatif baik secara mental. serta evaluasi yang digunakan. e. c.pendidikan dasar agar peserta didik terbiasa untuk cepat tanggap terhadap situasi lingkungan dan masyarakat serta terampil menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep yang telah dipelajari melalui pendidikan. Keseimbangan antara bahan pelajaran teoritis dan kegiatan-kegiatan-kegiatan nyata serta pengembangan sikap dan nilai. yang harus relevan antara tujuan kurikuler. Sebagai contoh. tingkat pemahaman. Kesesuaian dalam hal tingkat usia. Keluwesan dalam hal penyesuaian waktu. maupun sosial. Kompetensi Dasar.

sedangkan evaluasi hasil belajar di samping menggunakan tes penguasaan konsep.belajaran yang dirumuskan harus menggambarkan aktifitas siswa melakukan pengidentifikasian ciri-ciri mahkluk hidup dan kebutuhannya. siswa lain lebih mudah dengan melihat (visual). 2003:5-6)) pembelajaran yang efektif secara umum diartikan sebagai Kegiatan Belajar Mengajar yang memberdayakan potensi siswa (peserta didik) serta mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik. atau dengan cara kinestetika (gerak). waktu belajar. materi pembelajaran. Dalam buku Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif (Depdiknas. 22 . kesenangan. Misalnya. dan menyelidiki kebutuhan dan cara hidup jenis-jenis hewan dan tumbuhan dalam mempertahankan hidupnya. semestinya juga disertai dengan penilaian kinerja (assessment performance) terhadap proses dan produk kegiatan praktikum yang dilakukan siswa. Proses tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. menunjukkan ciri-ciri makhluk hidup dan makhluk tak hidup. dan cara belajar. dan cara penilaian perlu beragam sesuai karakteristik siswa. Siswa berbeda dalam minat. Siswa memiliki perbedaan satu sama lain. 6. berpijak pada prinsip konstruktivisme. Pembelajaran IPA pada jenjang pendidikan dan dengan menggunakan pendekatan serta model apa pun harus benar-benar efektif. berpusat pada siswa. organisasi kelas. Ketujuh ciri itu adalah: Pertama. Metode yang harus digunakan guru dalam pembelajaran topik tersebut adalah metode eksperimen. Siswa tertentu lebih mudah belajar dengan dengar-baca. Kedua. pengalaman. alat belajar. melainkan sebagai proses siswa membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Pembelajaran IPA yang Efektif. Pembelajaran beranjak dari paradigma guru yang memandang bahwa belajar bukanlah proses siswa menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. mengklasifikasi jenis makhluk hidup berdasarkan cirinya. 2003:7-11). Ada baiknya jika guru yang akan merancang pembelajaran IPA di SD memperhatikan tujuh ciri utama pembelajaran efektif yang memberdayakan potensi siswa sebagaimana diuraikan pada buku tersebut (Depdiknas. Oleh karena itu kegiatan pembelajaran. kemampuan.

dan saling menjelaskan. semua siswa diharapkan memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman inderawi yang memungkinkan mereka memperolah informasi dari melihat. Dengan demikian. Karena itu. Pilihan pengalaman belajar melalui kegiatan mendengar adalah pilihan terakhir. atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau guru. memantapkan. Artinya. membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. beberapa topik tidak mungkin disediakan pengalaman nyata. mengembangkan keterampilan sosial. guru atau pihak-pihak lain. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi. kemampuan. Dengan kata lain. kaidah dan prinsip ilmu yang dipelajari. prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. kognitif. belajar dengan mengalami. pembelajaran perlu mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga 23 . saling bertanya. Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam. sikap. pembelajaran perlu menyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan atau dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep. meraba/menjamah. Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau guru. Keempat. cara dan strategi belajar. Ketiga. sebaiknya siswa dapat memperoleh pengalaman melalui alat audiovisual (dengar-pandang). pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat. dan emosional. kemampuan. mendengar.Pembelajaran perlu menempatkan siswa sebagai subyek belajar. dan mencium. mencicipi. Dalam hal ini. memperdalam. Jika ini juga tidak mungkin. motivasi belajar. guru dapat menggantikannya dengan model atau situasi buatan dalam wujud simulasi. minat. dan latar belakang sosial siswa. Artinya pembelajaran memperhatikan bakat. Pembelajaran perlu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain. Pembelajaran perlu mendorong siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal.

imajinasi. dan fitrah ber-Tuhan agar setiap sesi kegiatan pembelajaran menjadi wahana untuk memberdayakan ketiga jenis potensi ini. Rasa ingin tahu dan imajinasi merupakan modal dasar untuk peka. dan solidaritas. belajar sepanjang hayat. Karena itu. mengenali dirinya baik kelebihan maupun kekurangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan YME kepadanya. perpaduan kemandirian dan kerjasama. Pembelajaran perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat berkompetisi sehat untuk memperoleh penghargaan. mandiri.dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya. rasa fitrah ber-Tuhan merupakan embrio atau cikal bakal untuk bertaqwa kepada Tuhan. Siswa memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat untuk bisa bertahan (survive) dan berhasil (sukses) dalam menghadapi setiap masalah sambil menjalani proses kehidupan sehari-hari. imajinasi. bekerjasama. baik secara formal di sekolah maupun secara informal di luar kelas. bekerjasama. Demikian pula pembelajaran perlu membekali siswa dengan keterampilan belajar. kritis. mengembangkan keingintahuan. dan fitrah ber-Tuhan. Ketujuh. dan fitrah berTuhan. keingintahuan. Siswa perlu berkompetisi. Siswa dilahirkan dengan memiliki rasa ingin tahu. siswa memerlukan fisik dan mental yang kokoh. dan kreatif. Pembelajaran perlu menyediakan tugas-tugas yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri. Sementara. dan mengembangkan solidaritasnya. pada pelaksanaannya akan menunjukkan tingginya 24 . Kelima. Keenam. Pembelajaran IPA yang dirancang berdasarkan syarat-syarat pembelajaran efektif di atas. Pembelajaran perlu mempertimbangkan rasa ingin tahu. imajinasi. kemampuan memahami orang lain. kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama supaya mendorong dirinya untuk senantiasa belajar. Pembelajaran perlu mendorong siswa untuk dapat melihat dirinya secara positif. yang meliputi pengembangan rasa percaya diri.

karakteristik tersebut meliputi dimensi (ruang lingkup) proses ilmiah. Dimensi produk pendidikan IPA berhubungan dengan sejumlah fakta. Menurut Horsley (1990:42) salah satu upaya untuk meningkatkan kadar on-task siswa adalah dengan mengembangkan kegiatan hands-on (psikomotor) dan minds-on (kognitif-afektif) melalui sejumlah keterampilan (skill) yang dilakukan siswa dalam kelas. konsep. Menurutnya ada empat jenis keterampilan: keterampilan laboratorium (laboratory skills). Sebagaimana telah disinggung di muka. atau teori tentang fenomena alam semesta yang harus dikuasai siswa sebagaimana tertuang dalam kurikulum dan berbagai buku ajar pendidikan IPA. data. Kegiatan dasar ini sering disebut sebagai metode ilmiah (Scienctific Method) dan keterampilan proses. Produk IPA membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan dan wawasan IPA. maupun sebagai dasar akademis bagi siswa dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dimensi sikap merupakan hasil internalisasi dari akumulasi pengetahuan dan pengalaman siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPA. produk ilmiah dan sikap ilmiah. Dimensi sikap ini sering disebut sebagai sikap ilmiah (Scientific Attitude). Sekedar untuk menegaskan ulang. hukum. keterampilan intelektual (intellectual skills). baik untuk kepentingan memahami peristiwa-peristiwa alam yang ditemukannya dalam kehidupan sehari-hari. keterampilan berpikir dasar (generic thinking skills) dan keterampilan berkomunikasi (communications skills). Dalam penjelasan sederhana. Pembelajaran IPA yang efektif juga dicirikan oleh tingginya kadar ontask (aktivitas edukatif) dan rendahnya kadar off-task (aktivitas non-edukatif) siswa dalam pembelajaran. Keempat jenis keterampilan ini 25 . dimensi sikap IPA adalah cara pandang dan tindakan siswa terhadap sesuatu yang dilandasi oleh wawasan dan pengalaman yang diperolehnya dalam pendidikan IPA.kemampuan pembelajaran tersebut dalam menyajikan karakteristik atau hakikat pendidikan IPA di SD. dimensi proses pendidikan IPA dengan ketat menuntut guru untuk melibatkan siswa secara aktif kedalam kegiatankegiatan dasar yang biasa dilakukan oleh para ilmuwan dalam upaya memperoleh pengetahuan.

Jika semua itu tercapai secara optimal maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran IPA yang diselenggarakan guru adalah pembelajaran IPA yang efektif. diperoleh rambu-rambu pembelajaran IPA di SD sebagai berikut. kelas III dan IV. Ada 6 pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran IPA yang berorientasi pada siswa. melainkan cara untuk menyampaikan bahan pembelajaran yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu sikap pro aktif guru adalah sejak awal berusaha memahami benar rambu-rambu pembelajaran IPA dalam kurikulum. Dalam menyelenggarakan pembelajaran IPA dengan pendekatan dan model apa pun guru harus tetap pro aktif sebagai fasilitator. mau memonitor seberapa besar kadar on-task siswa. a. yaitu: 26 . tetapi diajarkan dengan pendekatan tematis. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman. dan sejauh mana konsep-konsep IPA dikuasai dan diimplementasikan siswa. 7. Pengembangan aspek ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak artinya tidak harus seluruh aspek serta merta ada pada setiap kegiatan. Rambu-rambu Pembelajaran Sains (IPA) dalam Kurikulum Dari berbagai buku layanan profesional yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum Depdiknas (2003) untuk pelaksanaan Kurikulum 2004 atau sekarang disempurnakan menjadi kurikulum 2006. Bahan kajian sains untuk kelas I. seberapa banyak keterampilan dan sikap ilmiah siswa yang dapat dikembangkan. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran IPA berorientasi pada siswa. dan nara sumber lain. Aspek kerja ilmiah bukanlah bahan ajar. c.tidak lain merupakan pengelompokan dari keterampilan proses IPA yang sudah kita kenal. serta kelas V dan VI. Aspek kerja ilmiah disusun bergradasi untuk kelas I dan II. II dan III tidak diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri. b. Peran guru bergeser dari menentukan “apa yang akan dipelajari” ke ‘bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”. lingkungan.

g. menggolongkan. nyanyian. 5) Pemecahan Masalah. Guru berperan sebagai fasilitator sehingga siswa lebih aktif berperan dalam proses belajar. demonstrasi/peragaan model. tulisan. diskusi. Teknologi dan Masyarakat (Salingtemas). Kegiatan pembelajaran lebih diarahkan pada pengalaman belajar langsung daripada pengajaran (mengajar). menafsirkan. Pembelajaran IPA dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pengamatan. simulasi/bermain peran. penggalian informasi mandiri melalui tugas baca. Lingkungan. 6) Pembelajaran IPA yang bermuatan nilai. 27 . dan diagram. 2) Inkuiri IPA. mengambil keputusan yang bertanggung jawab. f. Keterampilan proses yang digunakan dalam IPA antara lain: mengamati. bekerja keras dan cerdas. Pemberian pengalaman belajar secara langsung sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan mampu memecahkan masalah. belajar untuk menjadi dirinya sendiri (learning to be). guru diperkenankan mengubah urutan materi asal masih dalam semester yang sama. belajar untuk melakukan (learning to do). Guru membiasakan memberi peluang seluas-luasnya agar siswa dapat belajar lebih bermakna dengan memberi respon yang mengaktifkan semua siswa secara positip dan edukatif. pengujian/penelitian. Apabila dipandang perlu. memprediksi. 3) Konstruktivisme. Agar mampu “bekerja secara ilmiah” pada para siswa perlu ditanamkan sikap: rasa ingin tahu. mengukur. wawancara nara sumber. menggunakan alat. bekerja sama secara terbuka. mengkomunikasikan hasil melalui berbagai cara seperti lisan.1) Empat pilar pendidikan yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know). melakukan percobaan. d. e. peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan. belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together). 4) Sains.

Teknologi. Guru dapat memberikan tugas proyek yang perlu dikerjakan serta ditinjau ulang untuk senantiasa menyempurnakan hasil. Setiap kompetensi yang berkaitan dengan mata pelajaran lain perlu dinilai dalam kegiatan belajar proyek tersebut. Lingkungan. portofolio. Dengan demikian. skala sikap. pembuatan sari bacaan. penelitian dan pengujian. Tugas proyek ini diharapkan menyangkut Sains. pengamatan. 28 . bukan hanya hasil (produk). Penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir periode tetapi dilakukan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran dalam arti kemajuan belajar dinilai dari proses. Hasil penilaian dapat diwujudkan dalam bentuk nilai dengan ukuran kuantitatif ataupun dalam bentuk komentar deskriptif kualitatif. tujuan pembelajaran untuk masingmasing mata pelajaran serta kompetensi pendidikan yang diharapkan akan tetap tercapai. i. Penilaian IPA dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti tes perbuatan. penulisan gagasan ilmiah atau sejenisnya dengan demikian. tes tertulis. Tugas proyek hendaknya dikaitkan dengan kompetensi mata pelajaran lain di luar IPA. pembuatan kliping. hasil proyek. lingkup penilaian IPA dapat dilakukan baik pada hasil belajar (akhir kegiatan) maupun pada proses perolehan hasil belaj ar (selama kegiatan belajar). hal ini untuk menghindari pengelapan. kuesioner. dan Masyarakat (Salingtemas) secara nyata dalam konteks pengembangan teknologi sederhana.h. Penilaian tentang kemajuan belajar siswa dilakukan selama proses pembelajaran.

Jika hal ini dilaksanakan dengan tepat maka pembelajaran IPA di SD akan mampu mefasilitasi perkembangan potensi sikap. serta pembinaan profesionalitas para pelaksana.C. • Seperti halnya pada gagasan-gagasan luhur lainnya. berperilaku dan keterampilan dasar scientist yang terdapat pada diri siswa. pembelajaran IPA yang efektif dan berkualitas di SD hanya dapat terwujud apabila praktisi dan pengelola lembaga tersebut ⎯ guru dan kepala SD serta para pemegang tanggung jawab birokrasi terkait ⎯ melakukan upaya pro aktif untuk menyelenggarakan pembelajaran IPA 29 . Pelaksanaan evaluasi pada pembelajaran IPA di SD masih berorientasi dan didominasi oleh soal-soal tertulis untuk mengukur hasil belajar ranah kognitif (penguasaan konsep). • Dalam Kurikulum 2004 (yang disempurnakan menjadi Kurikulum 2006) ruang lingkup Mata Pelajaran IPA meliputi: (1) Kerja Ilmiah dan (2) Penguasaan Konsep dan Penerapannya. berpikir. Di lapangan hingga saat ini pembelajaran IPA miskin media dan alat peraga serta ditampilkan dalam bentuk transfer informasi dari guru atau buku ke dalam otak siswa dengan mereduksi hakikat pendidikan IPA sebagai proses ilmiah. • Bagaimana pun. fasilitas yang diperlukan. produk ilmiah. • Tugas guru dalam pembelajaran IPA di SD antara lain menyajikan IPA sesuai dengan karakteristik pendidikan IPA dan karakteristik anak yang berada pada masa perkembangan kognitif operasional konkrit. Upaya untuk mendekatkan kesenjangan antara keharusan dan realitas pembelajaran IPA di lapangan terus dilakukan antara lain dengan membenahi kurikulum. RANGKUMAN • Masih terdapat kesenjangan antara pelaksanaan pembelajaran IPA pada mayoritas SD dengan tuntutan pembelajaran IPA berdasarkan kurikulum dan karakteristik pendidikan IPA. pada pembelajaran IPA selalu ada kesenjangan. dan sikap ilmiah.

seperti Niemi (1997:244) Anda dituntut untuk meyakini secara konsisten bahwa " . dan kegiatan asesmen menjadi tidak sistimatik dan tidak efektif dalam meningkatkan prestasi siswa. guru bukanlah seorang teoritis melainkan harus berkemauan untuk aktif bertindak." 30 . (3) Karakteristik psikologis anak sebagai ‘saintis’ kecil. maka rancangan mengajar. Untuk itu maka para guru dan calon guru SD harus memiliki wawasan dan keterampilan yang memadai menyangkut sekurang-kurangnya: (1) Hakikat Pendidikan IPA. . Tetapi tanpa petunjuk teori kognitif yang dikembangkan secara sistemik. (2) Karakteristik Pembelajaran IPA yang efektif. dalam pengembangan profesionalisme. . • Buku ini idealnya hendak menyertai Anda (calon guru dan guru SD) dalam memberdayakan pendidikan IPA di sekolah dasar. (3) Strategi membelajarkan siswa dalam IPA. pembelajaran. Sebelum mengkaji berbagai teori pada bagian demi bagian buku ini. dan (4) Sistim evaluasi yang tepat bagi pembelajaran IPA. tujuan dan fungsi pendidikan IPA sebagaimana digariskan dalam kurikulum. Bagi guru upaya ini dapat dilakukan dengan cara yang bersangkutan mengoptimalkan kemampuannya dalam merancang dan mengoperasionalkan strategi pembelajaran IPA yang konsisten dengan hakikat pendidikan IPA untuk anak.yang sesuai dengan karakteristik.

buatlah artikel singkat (kira-kira 2. Berdasarkan hal itu. Artikel Anda dikirim ke e-mail kelas yang telah ditentukan oleh dosen pengampu mata kuliah.500 kata / 10 halaman) yang mendeskripsikan permasalahan pembelajaran IPA di SD serta solusi untuk mengatasinya.D. b. _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 31 . internet. wawancara dengan guru SD atau melakukan observasi langsung ke lapangan. Setelah membaca wacana pada bagian I buku ini cari lah informasi lebih lanjut tentang pelaksanaan pembelajaran IPA di SD saat ini. MENGIKAT MAKNA 1. Dalam kaitannya dengan karakteristik tumbuh-kembang psikologis siswa SD. Tugas dan Latihan Soal a. Informasi bisa Anda peroleh melalui media cetak. jelaskan manfaat dan pentingnya pembelajaran IPA dilaksanakan sejak dini di SD.

1.c.___________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 2. Berdasarkan pencermatan terhadap karakteristik pendidikan IPA yang dikemukakan oleh para akhli. pendidikan IPA dapat dikategorikan ke dalam tiga dimensi. Sebutkan dan jelaskan dengan singkat dan benar ketiga dimensi tersebut.___________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 32 .___________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 3.

___________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ e. 1.d. ___________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 2. Kemukakan dengan singkat dua ruang lingkup pembelajaran IPA beserta rinciannya. Sebutkan cirri-ciri pembelajaran IPA yang efektif _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 33 .

Apakah Anda Ingin Tahu Lebih Lanjut? Tuliskan sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan hal-hal yang belum Anda fahami dari wacana pada Bagian I. dan 40% menggunakan kata tanya bagaimana. _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ 34 . 40% menggunakan kata tanya mengapa.2. Pertanyaan yang diajukan 20% menggunakan kata tanya apa.

_______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ Dosen pemeriksa : __________________ Tanggal memeriksa: ____________ Tandatangan: _____________________ 35 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful