MASALAH SAMPAH PERKOTAAN dan PEDESAAN PROVINSI BALI

Disusun Oleh : R.A WULANDARI SUNARYA NIM : 10. 330. 027

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN TANJUNG KARANG JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN TAHUN 2011/2012

sampah sejenis sampah rumah tangga. 1986).A. Sementara itu. tidak menimbulkan bau (tidak mengganggu nilai estetis). yaitu tidak mencemari udara. Meningkatnya volume sampah yang dihasilkan oleh masyarakat urban dapat disaksikan dari Kota Denpasar. air dan tanah. sosial politik. yang menyangkut kepedulian dan komitment pemerintah dalam menentukan anggaran APBD untuk pengelolaan lingkungan (sampah). dan sampah spesifik. membuat keputusan publik dalam pengelolaan sampah serta .200 m3/hari (Tim Kota Sanitasi Kota Denpasar. Dalam jangka waktu 4 tahun. FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM PENGELOLAAN SAMPAH Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumberdaya. yaitu tahun 2006. Dari sudut pandang kesehatan lingkungan. kesadaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan sampah di antaranya: 1. pengelolaan sampah dipandang baik jika sampah tersebut tidak menjadi media berkembang biaknya bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi medium perantara menyebarluasnya suatu penyakit. 2007). dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi suatu permasalahan yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan lingkungan bersih dan sehat. Syarat lainnya yang harus dipenuhi. yaitu pada tahun 2002 rata-rata produksi sampah sekitar 2. rendahnya pengetahuan. tidak menimbulkan kebakaran dan yang lainnya ( Aswar.114 m3/hari yang bersumber dari sampah rumah tangga. jumlah produksi sampah telah meningkat menjadi 2.

. sikap mental dan perilaku warga yang apatis. kegiatan ritual (upacara adat/keagamaan). dan kordinasi antarlembaga yang terkait dalam penanggulangan masalah lingkungan (sampah). keberadaan pemulung. Menurut hasil penelitian Nitikesari (2005) faktor-faktor tersebut di antaranya adalah tingkat pendidikan. keberadan lahan untuk tempat penampungan sampah. pengembangan teknologi dan model pengelolaan sampah merupakan usaha alternatif untuk memelihara lingkungan yang sehat dan bersih serta dapat memberikan manfaat lain. Aspek Sosial Demografi yang meliputi sosial ekonomi (kegiatan pariwisata. 2. finansial (keuangan). pasar dan pertokoan. Pengelolaan sampah perkotaan juga memiliki faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. nilai struktur ruang Tri Mandala. 5. 4. Sampah semakin hari semakin sulit dikelola. penempatan tempat sampah di dalam rumah. 6. adanya aksi kebersihan. adanya peraturan tentang persampahan dan penegakan hukumnya. 3. masyarakat masih enggan melakukan pemilahan sampah. penyuluhan dan latihan keterampilan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. aturan adat (awig-awig). Sosial Budaya yang menyangkut keberadaan dan interaksi antarlembaga desa/adat. keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Tingkat partisipasi masyarakat perkotaan (Kota Denpasar) dalam menangani sampah secara mandiri masih dalam katagori sedang sampai rendah. dan kegiatan rumah tangga.upaya pendidikan. jiwa pengabdian sosial yang tulus. sehingga disamping kesadaran dan partisipasi masyarakat.

j. Bagi daerah-daerah yang belum mendapat pelayanan pengangkutan mengingat sarana dan prasara yang terbatas telah dilakukan pengelolaan sampah secara swakelola dengan beberapa jenis bantuan fasilitas pengangkutan. Cepatnya perkembangan teknologi. Ketidakmampuan memelihara barang. g. d. Sulitnya mencari partisipasi masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan memelihara kebersihan. i. Selanjutnya diangkut dengan truk yang telah dilengkapi jarring ke TPA. dan air serta menurunnya estetika e. KONDISI PENGELOLAAN SAMPAH SAAT INI Berdasarkan data SLHD Bali (2005) tampak bahwa pada saat ini sampah sulit dikelola karena berbagai hal. Meningkatnya biaya operasional pengelolaan sampah Pengelolaan sampah yang tidak efisien dan tidak benar menimbulkan permasalahan pencemaran udara. mutu produk teknologi yang rendah akan mempercepat menjadi sampah. Semakin banyaknya masyarakat yang keberatan bahwa daerahnya dipakai tempat pembuangan sampah. Sulitnya menyimpan sampah yang cepat busuk. h. Bagi Usaha atau kegiatan yang menghasilkan sampah lebih dari 1 m3/hari diangkut sendiri oleh pengusaha atau bekerjasama dengan pihak lainnya .B. karena cuaca yang panas. seperti dari masyarakat (rumah tangga) dan tempat-tempat umum yang dikumpulkan di TPS yang telah disediakan. yang tidak disertai dengan keselarasan pengetahuan tentang sampah c. lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memahami porsoalan sampah. Pembiayaan yang tidak memadai. mengingat bahwa sampai saat ini kebanyakan sampah dikelola oleh pemerintah. Semakin sulitnya mendapat lahan sebagai tempat pembuangan ahir sampah. antara lain: a. f. b. Penanganan sampah yang telah dilakukan adalah pengumpulan sampah dari sumber-sumbernya. Menigkatnya tingkat hidup masyarakat. tanah.

Peningkatan peran masyarakat melalui pengelolaan sampah sekala kecil. terminal. 7. jalan-jalan protokol. Ini ternyata sebagai matapencaharian untuk mendapatkan penghasilan. Beberapa usaha yang telah berlangsung di TPA untuk mengurangi volume sampah. kelurahan. Sosialisasi pembentukan kawasan bebas sampah. Terhadap sampah yang mudah busuk telah dilakukan usaha pengomposan. termasuk dalam hal penggunaan teknologi daur ulang. Pengelolaan sampah dimasa yang akan datang perlu memperhatikan berbagai hal seperti: 1. Memberikan tekanan kepada produsen untuk bersedia menarik (membeli) kembali dari masyarakat atas kemasan produk yang dijualnya. botol. Hal ini menimbulkan permasalahan baru bagi lingkungan. air. seperti telah dilakukan pemilahan oleh pemulung untuk sampah yang dapat didaur ulang. dan udara. komposting. seperti bungkusan plastik. dan lain lain. dan penggunaan incenerator.seperti desa/kelurahan atau pihak swasta. dan lain sebagainya 3. seperti misalnya tempattempat wisata. pasar. yaitu pencemaran tanah. Penetapan peringkat kebersihan bagi kawasan-kawasan umum 4. alluminium foil. Penyusunan Peraturan daerah (Perda) tentang pemilahan sampah 2. Namun usaha tersebut masih menyisakan sampah yang harus dikelola yang memerlukan biaya yang tinggi dan lahan luas. Penanganan sampah dari sumber-sumber sampah dengan cara tersebut cukup efektif. bisa dimulai dari tingkat desa/kelurahan ataupun kecamatan. Penanganan sisa sampah di TPA sampai saat ini masih dengan cara pembakaran baik dengan insenerator atau pembakaran di tempat terbuka dan open dumping dengan pembusukan secara alami. Memberikan tekanan kepada para produsen barang-barang dan konsumen untuk berpola produksi dan konsumsi yang lebih ramah lingkungan 5. 6. Peningkatan efektivitas fungsi dari TPA .

efektif dan efisien serta dapat memberikan manfaat lain. Kota Denpasar. Meningkatkan usaha swakelola penanganan sampah terutama sampah yang mudah terurai ditingkat desa/kelurahan 15. Mendorong transformasi (pergeseran) pola konsumsi masyarakat untuk lebih menyukai produk-produk yang berasal dari daur ulang. 14. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di pusat maupun daerah. Kabupaten Badung. . Pengelolaan sampah dengan pendekatan teknologi diharapkan penanganan sampah lebih cepat. Perguruan Tinggi untuk peningkatan kapasitas pengelolan limbah perkotaan 11. LSM. Konsistensi pelaksanaan peraturan perundangan tentang persampahan dan lingkungan hidup. Melakukan evaluasi dan monitoring permasalahan persampahan dan pengelolaannya.8. Pengelolaan sampah dan limbah secara terpadu 10. dorongan. pengembangan sistem pendanaan pengelolaan sampah 13. Gianyar dan Tabanan telah melakukan kerjasama dalam usaha pengelolaan sampah secara terpadu yang berorientasi pada teknologi. 9. Memberikan fasilitasi. pendampingan/advokasi kepada masyarakat dalam upaya meningkatkan pengelolaan sampah. Optimalisasi pendanaan dalam pengelolaan sampah perkotaan. pengembangan penerapan teknologi yang ramah lingkungan 12. kondisi TPA dari aspek lingkungan.

bahwa masyarakat berhak atas Lingkungan hidup yang baik dan sehat. tentu menjadi kewajiban dan hak setiap orang baik secara individu maupun secara kolektif. Teknologi Komposting Pengomposan adalah salah satu cara pengolahan sampah.C. bersih. dan sehat. dalam UU NO. Untuk mendapatkan hak tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu (2008) menemukan bahwa pengomposan dengan menggunakan metode yang lebih . Berangkat dari ketentuan tersebut. Tata cara partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan tatanan sosial budaya daerah masing-masing. Masyarakat juga dinyatakan berhak berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan.23 Th. bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban dalam pengelolaan sampah. pengelolaan dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah. demikian pula kelompok masyarakat pengusaha dan komponen masyarakat lain untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah dalam upaya untuk menciptakan lingkungan perkotaan dan perdesaan yang baik.1997. Dalam hal pengelolaan sampah pasal 12 dinyatakan. PENANGGULANGAN SAMPAH Sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pada Pasal 5 UU Pengelolan Lingkungan Hidup No. 18 Tahun 2008 secara eksplisit juga dinyatakan. merupakan proses dekomposisi dan stabilisasi bahan secara biologis dengan produk akhir yang cukup stabil untuk digunakan di lahan pertanian tanpa pengaruh yang merugikan (Haug. Terkait dengan ketentuan tersebut. Beberapa pendekatan dan teknologi pengelolaan dan pengolahan sampah yang telah dilaksanakan antara lain adalah: 1. pada Pasal 6 dinyatakan bahwa masyarakat dan pengusaha berkewajiban untuk berpartisipasi dalam memelihara kelestarian fungsi lingkungan. mencegah dan menaggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan. setiap orang wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara berwawasan lingkungan. 1980).

Pemilahan sampah secara mandiri oleh masyarakat di Kota Denpasar masih tergolong rendah yakni baru mencapai 20% (Nitikesari. K lebih tinggi dan pH. 2005). 4. N. Pengelolaan sampah dengan pendekatan teknologi diharapkan penanganan sampah lebih cepat. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat  Berbagai masalah yang dihadapi masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman kota yang ada di Desa Seminyak. Teknologi Pembuatan Pupuk Kascing 3. P. kandungan C. Kota Denpasar. Kabupaten Badung. Model pengelolaan sampah mandiri akan memberikan manfaat lebih baik terhadap lingkungan serta dapat mengurangi beban TPA. Pengelolaan sampah mandiri Pengolahan sampah mandiri adalah pengolahan sampah yang dilakukan oleh masyarakat di lokasi sumber sampah seperti di rumah-rumah tangga. dan kandungan Colform yang lebih rendah dibandingkan dengan pengomposan secara konvensional. C/N rasio. Pengolahan sampah menjadi listrik. efektif dan efisien serta dapat memberikan manfaat lain. Sanur Kauh dan . Masyarakat perdesaan yang umumnya memiliki ruang pekarangan lebih luas memiliki peluang yang cukup besar untuk melakukan pengolahan sampah secara mandiri. 2. 5 .modern (aerasi) mampu menghasilkan kompos yang memiliki butiran lebih halus. Gianyar dan Tabanan telah melakukan kerjasama dalam usaha pengelolaan sampah secara terpadu yang berorientasi pada teknologi dalam suatu Badan Bersama yaitu SARBAGITA. Teknologi yang direncanakan yaitu teknologi GALFAD (gasifikasi landfill dan anaerobic digestion).

sekolah. sulit dan terbatasnya pemasaran kompos sehingga secara ekonomi pengelola cendrung mengalami defisit. . pengusaha/swasta. volume. aman. 18 Tahun 2008. Penutupan TPA dengan pembuangan terbuka harus dihentikan dalam waktu 5 tahun setelah berlakunya UU No. Komponen masyarakat perkotaan lebih banyak berasal dari pemukiman (Desa Pakraman dan Dinas). pemerintah. serta melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di TPA. dan jenis sampah yang dihasilkan. terbatasnya peralatan teknologi dan perawatannnya. Pemilihan model sangat tergantung pada karakteristik perkotaan dan perdesaan serta karakteristik sampah yang ada di kawasan tersebut. dan lestari Undang-Undang tentang pengelolaan sampah telah menegaskan berbagai larangan seperti membuang sampah tidak pada tempat yang ditentukan dan disediakan. LSM. yaitu: masalah pengadaan lahan untuk lokasi devo. Pola pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebaiknya dilakukan secara sinergis (terpadu) dari berbagai elemen (Desa. asri. dan Desa Temesi Gianyar. dan komponen lain yang terkait) dengan menjadikan komunitas lokal sebagai objek dan subjek pembangunan. LSM. pengusaha. terbatasnya dana untuk perekrutan tenaga kerja baru yang memadai. sedangkan di perdesaan umumnya masih sangat erat kaitannya dengan keberadaan kawasan persawahan dengan kelembagaan subak yang mesti dilibatkan. Dalam upaya pengembangan model pengelolaan sampah perkotaan harus dapat melibatkan berbagai komponen pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah.Sanur Kaja. produksi kompos yang masih rendah. sehat. membakar sampah yang tidak sesaui dengan persyaratan teknis. khususnya dalam pengelolaan sampah untuk menciptakan lingkungan bersih.  Model pengelolaan sampah pemukiman kota yang berbasis sosial kemasyarakatan dapat dilakukan secara adaptif dengan memperhatikan aspek karakteristik sosial dan budaya masyarakat. aspek ruang (lingkungan). dan masyarakat.

sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami. sebisa mungkin. SARAN 1.  Reuse (Memakai kembali). Produksi Bersih (Clean Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya. Prinsip-prinsip Produksi Bersih adalah prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R yaitu:  atau material yang kita pergunakan. Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.  Recycle (Mendaur ulang). mengurangi polusi secara keseluruhan. dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis. semakin banyak sampah yang dihasilkan. namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain. teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Misalnya. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan. Semakin banyak kita menggunakan material. buang).D. bisa didaur ulang. . Tidak semua barang bisa didaur ulang. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. mengganti kantong kresek kita dengan keranjang bila berbelanja. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai.  Replace ( Mengganti). barang-barang yg sudah tidak berguna lagi.

karena landfill tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Sampah yang dibuang harus dipilah. ada tiga asumsi dalam pengelolaan sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. . Untuk mencapai hal tersebut. Malahan alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat atau ke alam. minimalisasi sampah harus dijadikan prioritas utama. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk mereka untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumberdaya alam. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat. daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Prinsip ini berlaku untuk semua jenis dan alur sampah.2. sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai.