P. 1
Praktikum Sokletasi

Praktikum Sokletasi

|Views: 4,911|Likes:
Published by Arbhy Indera I

More info:

Published by: Arbhy Indera I on Apr 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/02/2013

pdf

text

original

Gambar 3.4.1 Proses Sokletasi.

Gambar 3.4.2 Proses Destilasi

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Selama proses sokletasi, suhu mantel pemanas diatur diatas titik didih n-

heksana. Dimana dengan demikian, pelarut heksana akan menguap dan akan

kembali mencair sewaktu masuk kedalam kondensor.

Biji pinang dihaluskan bertujuan untuk membesar luas permukaannya.

Dengan demikian heksan lebih mudah mengikat dan membawa minyak dalam biji

pinang. Ketika heksan dalam bentuk uap dilewatkan ke biji pinang, heksan akan

mengikat dan membawa minyak sampai ke kondensor. Sampai ke kondensor, uap

heksan yang telah mengikat minyak tadi berubah fasa menjadi cairan dan turun

merendam biji pinang dalam tabung soklet. Setelah heksan serta minyak dalam

tabung soklet penuh maka secara otomatis akan turun ke labu didih. Begitu

seterusnya sampai dirasa minyak dalal biji pinang telah habis.

Selama proses sokletasi digunakan batu didih yang bertujuan mempercepat

proses pendidihan, meratakan panas, dan mencegah terjadinya bumping (letupan

panas akibat panas yang tidak merata). Pelerut Heksan digunakan karena bersifat

nonpolar sehingga dapat mengikat molekul minyak biji pinang yang nonpolar

juga.

Proses sokletasi dihentikan apabila minyak dari sampel dirasa sudah

terekstrak habis, yaitu dengan mengambil selongsong pada tabung soklet dan

kemudian diperas dan ditampung, setelah itu dilakukan pengujian kadar minyak

yang masih terkandung dalam hasil perasan dengan larutan KMnO4. Apabila suatu

larutan sampel dicampur dengan KMnO4 berubah warna berarti kandungan

minyak masih ada dan begitu sebaliknya. Minyak yang didapat adalah sebesar

0,917 gram dengan rendemen sebesar 2,38%, hal ini disebabkan karena pada biji

pinang minyak yang terkandung cukup sedikit yaitu sekitar 14% (Anonim, 2010),

disamping itu biji pinang yang digunakan juga tidak dihaluskan secara merata

sehingga penarikan komponen minyak dari jaringan biji pinang belum maksimal.

Hal lain yang turut mempengaruhi adalah proses sokletasi yang belum maksimal

(dibituhkan waktu yang lebih lama lagi). Menurut [Nazaruddin, 1992] semakin

lama waktu proses sokletasi, maka semakin maksimal proses penarikan komponen

minyak dalam bahan yang digunakan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->