P. 1
Praktikum Shampo

Praktikum Shampo

|Views: 1,643|Likes:
Published by Arbhy Indera I

More info:

Published by: Arbhy Indera I on Apr 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2015

pdf

text

original

Sections

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBUATAN SHAMPO MOBIL ATAU MOTOR

OLEH KELOMPOK 3 KELAS A
ARBHY INDERA I FAJRINA QAISHUM NOFERI YANLI YOPALIM ZANSTRA 1007113576 1007113681 1007121556 1007135110

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSTAS RIAU PEKANBARU 2011

LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK Laporan ini telah diperiksa dan dinilai oleh dosen pembimbing Mata kuliah praktikum kimia organik

Disusun Oleh: 1. 2. 3. 4. Arbhy Indera I Fajrina Qaishum Noferi Yanli Yopalim Zanstra

Pekanbaru, 15 Oktober 2011 Menyetujui Asisten Dosen Pembimbing

Salamun Qaulan NIM 0807135304

Drs. Irdoni, HS. MS NIP 195704151986091001

ABSTRAK Sampo motor atau mobil yang sekarang dikonsumsi masyarakat adalah shampo yang terbuat dari deterjen, karena sampo yang menggunakan bahan alam sudah banyak ditinggalkan, sehingga saat ini jika orang berbicara mengenai sampo yang dimaksud adalah suatu deterjen. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari cara pembuatan shampo motor atau mobil, menentukan karakteristik (viskositas dan densitas) serta bagaimana aplikasinya. Bahan yang digunakan adalah LABS, NaOH, SLS, serta esens panden dan parfum. Langkah pertama untuk membuat shampo mobil atau motor ini adalah mencampurkan LABS dengan NaOH. Setelah itu campuran tadi dicampurkan lagi dengan SLS dan esens pandan serta parfum. Dari hasil percobaan, shampo yang didapat memiliki viskositas yang labih besar dari sampel, hal ini dikarenakan shampo hasil memiliki gaya gesekan antara molekul-molekul yang lebih besar dan saling bertautan, maka molekul tersebut akan bergerak sangat lambat. Pergerakan molekul yang lambat ini lah yang menyebabkan viskositasnya tinggi. Uji viskositas dilakukan dengan melihat kecepatan jatuh shampo yang telah dimasukkan kedalam botol yang dibalikkan dan telah dilubangi tutupnya dan didapatkan waktu jatuhnya 20 menit 50 detik Densitas shampo hasil percobaan sebesar 0,9582 gram/ml. Efektiftas pencucian shampo juga bagus, terbukti dengan banyaknya busa yang ditimbulkan dan kemampuan membersihkan kotoran yang bagus. Berdasarkan hasil yang didapat, shampo hasil percobaan memenuhi syarat sebagai deterjen yang mampu membersihkan kotoran yang melekat pada mobil atau motor. Kata Kunci : deterjen, shampo, surfaktan ABSTRACT Shampoo motorcycle or car which is now consumed by the public is made of detergent shampoo, because shampoo that uses natural ingredients have a lot left, so now when people talk about the shampoo in question is a detergent. The purpose of this experiment is to study ways of making shampoo motorcycle or car, determine the characteristics (viscosity and density) as well as how the application. The material used is LABS, NaOH, SLS, as well as panden essences and perfumes. The first step to make shampoo or motor car is mixing LABS with NaOH. After the mixture was mixed again with the SLS and pandan essences and perfumes. From the experimental results, a shampoo that has gained great labih viscosity of the sample, this is because the shampoo has the friction force between the molecules are larger and interlocked, then the molecule will move very slowly. This slow movement of molecules is what causes the high viscosity. Viscosity test conducted by looking at the falling speed which has been incorporated into the shampoo bottle is inverted and has perforated lid and fall time obtained 20 minutes 50 seconds Density shampoo experimental results of 0.9582 grams / ml. Efektiftas washing shampoo is also good, as evidenced by the amount of foam is generated and the ability of a good clean dirt. Based on the results obtained, shampoo experimental results qualify as a detergent that is able to clean the dirt on a car or motorcycle. Keywords: detergents, shampoos, surfactants

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dewasa ini shampo yang menggunakan bahan alam sudah banyak ditinggalkan masyarakat dan diganti dengan shampo yang terbuat dari bahan deterjen. Sehingga saat ini jika orang berbicara mengenai shampo yang dimaksud adalah shampo yang terbuat dari bahan deterjen. Shampo yang terbuat dari bahan deterjen lebih banyak digunakan karena memiliki efektifitas pencucian yang lebih bagus. Hal ini dikarenakan kandungan surfaktan dalam deterjen memiliki kemampuan untuk menurunkan tegangan permukaan serta mampu mengikat dan membersihkan kotoran (Ibnu, 2008). Dalam percobaan ini akan dilakukan proses pembuatan shampo mobil atau motor secara sederhana dan akan dilakukan pengamatan terhadap kinerjanya serta menentukan karakteristik shampo.

1.2 Tujuan Percobaan  Mempelajari cara pembuatan shampoo motor atau mobil  Menentukan karakteristik shampoo motor atau mobil dan bagaimana kinerjanya.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Shampo Motor atau Mobil Sampo motor atau mobil adalah suatu detergen yang sekarang sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan yang penting dalam pembuatan sampo ini adalah surfaktan, yaitu LABS (Linier Alkyl Benzene Sulfonat) atau kadang disebut juga Linier Alkyl Benzene (LAS) dan surfaktan penunjang yaitu SLS (Sodium Lauryl Sulfonat). Surfaktan (Surface Active Agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Sabun merupakan salah satu contoh dari surfaktan. Molekul surfaktan mempunyai dua ujung yang terpisah, yaitu ujung polar (hidrofilik) dan ujung non polar (hidrofobik) . Surfaktan dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu surfaktan yang larut dalam minyak dan surfaktan yang larut dalam air teknologi pembuatan sampo motor atau mobil ini termasuk salah satu teknologi tepat guna dalam pembuatannya. Karena dalam proses pembuatannya tidak memerlukan alat yang canggih dan proses yang rumit (H. Nirwana, 2010).

2.2 Surfaktan Komponen yang paling penting dari sistem deterjen adalah surfaktan. Sistem bahan pembersih pertamapada sabun adalah surfaktan. Terbentuk dari lemak nabati maupun hewani ditambah air dan alkali. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa tahun 1940-an,sabun mulai diganti dengan sintetis deterjen, yaitu, kombinasi sintetis surfaktan, sebagian besar alkylbenzene sulfonat (ABS), dan zat pembangun pentasodium tripolifosfat (STPP). Faktor lingkungan menyebabkan penggantian ABS oleh alkylbenzene linier sulfonat (LAS), dan penggantian STPP oleh zeolit, karena pembangunnya lebih kompleks (Bailey‟s, 1996).

Surfaktan merupakan suatu senyawa aktif penurun tegangan permukaan yang dapat diproduksi melalui sintesis kimiawi maupun biokimiawi. Karakteristik utama surfaktan adalah memiliki gugus polar dan non polar pada molekul yang sama. Sifat aktif permukaan yang dimiliki surfaktan diantaranya mampu menurunkan tegangan permukaan, tegangan antarmuka dan meningkatkan kestabilan sistem emulsi. Tegangan permukaan adalah gaya dalam dyne yang bekerja pada permukaan sepanjang 1 cm dan dinyatakan dalam dyne/cm, atau energi yang diperlukan untuk memperbesar permukaan atau antarmuka sebesar 1 cm2 dan dinyatakan dalam erg/cm2. Surface tension umumnya terjadi antara gas dan cairan sedangkan Interface tension umumnya terjadi antara cairan dan cairan lainnya atau kadang antara padat dan zat lainnya (anonim 2.http://smk3ae. wordpress.com,2009). Hal ini membuat surfaktan banyak digunakan dalam berbagai industri, seperti industri sabun, deterjen, produk kosmetika dan produk perawatan diri, farmasi, pangan, cat dan pelapis, kertas, tekstil, pertambangan dan industri perminyakan untuk Enhanced Oil Recovery (EOR). Surfaktan ini dapat berupa anionic (Alkyl Benzene Sulfonate/ABS, Linier Alkyl Benzene Sulfonate/LAS, Alpha Olein Sulfonate/AOS), Kationik (Garam Ammonium), Nonionic (Nonyl Phenol polyethoxyle), Amphoterik (acyl ethylenediamines) (Elefani, 2008). Jika surfaktan dilarutkan dalam satu fase pada campuran minyak dan air, sebagian surfaktan akan berkonsentrasi pada permukaan antara minyak-air, dan pada kesetimbangan energi bebas (disebut tegangan antar muka atau permukaan) akan lebih rendah dari tidak adanya surfaktan. Energi mekanik yang diberikan ke dalam sistem (misalnya, dengan mencampur) berfungsi untuk membagi satu fasa, akan meningkatkan jumlah total tegangan permukaan dan energi. Semakin rendah jumlah energi bebas antarmuka per satuan luas, semakin besar jumlah luas antar muka baru yang dapat dibuat dengan jumlah energi masuk yang diberikan . Tahap yang terbagi lagi disebut fase terputus-putus, dan fase lainnya adalah fase kontinyu (Bailey‟s, 1996).

Surfaktan memiliki lipofilik (suka lemak) dan hidrofilik (suka air). Bagian lipofilik dari surfaktan biasanya merupakan rantai-panjang asam lemak yang diperoleh dari lemak atau minyak. Bagian hidrofilik adalah nonionik (misalnya gliserol); anionik (bermuatan negatif, misalnya laktat), atau amfoter, baik membawa muatan positif dan negatif (misalnya, asam amino serin). Surfaktan yang berasal dari petrokimia, didominasi oleh LAS, sebagian besar telah menggantikan komposisi sabun. Namun demikian, surfaktan berbasis oleokimia masih berperan penting dalam formulasi deterjen. Sabun itu sendiri umumnya hadir sebagai komponen kecil untuk pengkontrol busa, mengurangi transfer pewarna, dan bertindak sebagai kosurfaktan atau zat pembangun. Selain LAS surfaktan dari petrokimia yang sering digunakan, adalah alkohol etoksilat, ethoxysulfates alcohol, dan sulfat alkohol primer, berasal dari alkohol rantai panjang yang dapat bersumber dari petrochemically atau oleochemically. Surfaktan lain yang telah digunakan di Jepang antara lain Metil Ester Sulfonat, alkyl polyglycosides, dan glucamides telah banyak digunakan. Surfaktan tersebut digunakan pada dasarnya sebagai pengganti anionik untuk LAS (Bailey‟s, 1996). Surfaktan, termasuk sabun, memiliki struktur bipolar, terdiri dari baik hidrofobik (ekor) dan kelompok hidrofilik (kepala). Sebagai hasil dari struktur bifunctional, surfaktan memiliki banyak sifat fisik yang unik. Dalam larutan, surfaktan berkonsentrasi sebagai monolayers di daerah antar muka antara dua fase konstanta dielektrik yang berbeda atau polaritas. Contoh daerah antarmuka adalah minyak dan air atau udara dan air. Bagian hidrofilik preferentially solubilizes dalam fase polaritas kutub atau lebih tinggi, sedangkan hidrofobik bagian secara istimewa solubilizes dalam tahap polaritas nonpolar lebih rendah. Kehadiran surfaktan pada antarmuka memberikan stabilitas di antarmuka dengan menurunkan total energi pada permukaan (Bailey‟s, 1996). Dengan demikian, surfaktan memfasilitasi stabilisasi bercampur, biasanya fase tidak bercampur, seperti minyak dalam air, dengan menurunkan energi yang diperlukan untuk mempertahankan besar interfacial wilayah yang terkait dengan pencampuran. Sebagai contoh, tanpa adanya surfaktan, suatu dalam campuran minyak-air, biasa disebut sebagai suatu emulsi, cepat memisahkan ke dua lapisan

yang berbeda untuk meminimalkan area permukaan atau kontak antara dua fase. Kemampuan surfaktan untuk menurunkan ini energi antarmuka antara minyak dan air memungkinkan untuk pembentukan dan stabilisasi tetesan minyak yang lebih kecil dan akan tersebar di seluruh air. Dalam hal ini, penurunan energi antarmuka mengakibatkan peningkatan permukaan total luas pada sistem. Lain halnya dengan surfaktan yang berkemampuan untuk membentuk agregat dalam larutan dan membentuk komposit dengan berbagai struktur, seperti misel dan kristal cair, sebagai fungsi dari konsentrasi dan suhu (Bailey‟s, 1996). Konsentrasi surfaktan dalam larutan meningkat,merupakan titik tercapai dimana molekul agregat akan membentuk misel. Konsentrasi ini didefinisikan sebagai konsentrasi misel kritis (CMC). Struktur misel meminimalkan energi melalui asosiasi surfaktan, sedangkan misel dalam air biasanya ditandai dengan ekor hidrofobik mengarah ke pusat dan kelompok kepala menunjuk ke arah air. Sebagai konsentrasi surfaktan dalam larutan lebih jauh meningkat, misel memanjang ke tubulus panjang yang sejajar dengan satu sama lain untuk membentuk susunan heksagonal (Bailey‟s, 1996). Struktur ini sering disebut kristal cair sebagai heksagonal. Jika konsentrasi surfaktan meningkat, tubulus akan berkembang di kedua arah dan membesar, lembaran pipih surfaktan, sering disebut sebagai lamelar kristal cair. Kristalkristal cair sangat penting dalam pembuatan sabun. Sebagai inti dari sebuah misel sangat hidrofobik, ia memiliki kemampuan untuk melarutkan minyak di dalamnya, serta untuk menstabilkan dispersi satu. Solubilisasi ini dan suspensi sifat surfaktan adalah dasar bagi kemampuan pembersihan sabun

dan surfaktan lainnya. Selain itu, kemampuan surfaktan untuk menstabilkan antarmuka daerah, khususnya antarmuka udara-air, merupakan dasar untuk penyabunan (Bailey‟s, 1996). Surfaktan dapat dikelompokkan beberapa macam : 1. Menurut komposisi ekor (yang dapat berupa) :  Hidrokarbon rantai: hidrokarbon aromatik (arena), alkana ( alkil ), alkena, sikloalkana, alkuna

 Alkil eter rantai:   Teretoksilasi surfaktan: polietilen oksida dimasukkan untuk

meningkatkan karakter hidrofilik dari surfaktan; Propoxylated surfaktan: polypropylene oksida dimasukkan untuk meningkatkan sifat lipofilik dari surfaktan;  Fluorocarbon rantai: fluorosurfactants ; siloxane. 2. Menurut Komposisi ekor a. Ionik Anionik : berdasarkan anion permanen ( sulfat , sulfonat , fosfat ) atau anion tergantung pH ( karboksilat ):      Alkil sulfat: amonium lauril sulfat , natrium lauril sulfat (SDS); Alkil eter sulfat: laureth natrium sulfat , juga dikenal sebagai natrium lauril eter sulfat (SLES), myreth natrium sulfat Sulfonat: Docusates : natrium dioktil sulfosuccinate,Sulfonat fluorosurfactants: perfluorooctanesulfonate (PFOS) Alkil benzena sulfonat siloxane rantai: surfaktan

Kationik, berdasarkan: pH-tergantung primer, sekunder atau tersier amina : amina primer menjadi bermuatan positif pada pH <10, amina sekunder menjadi dibebankan pada pH <4. Contohnya Octenidine dihidroklorida ;  Permanen dibebankan surfaktan kation. Contohnya

Alkyltrimethylammonium garam: bromida setil trimethylammonium (CTAB) alias hexadecyl amonium bromida trimetil, klorida setil trimethylammonium (CTAC) Zwitterionic ( amfoter ): berdasarkan primer, sekunder atau tersier amina atau surfaktan kation dengan:   Sulfonat: Chaps (3 - [(3-Cholamidopropyl) dimethylammonio]-1propanesulfonate);Sultaines:hydroxysultaine cocamidopropyl Carboxylates:Asam cocamidopropyl amino,Imino asam,Betaines:betaine

 

Fosfat: lesitin

Nonionik Alkohol lemak : Setil alkohol, Stearil alkohol

2.2.1 Macam-macam Surfaktan 2.2.1.1 Linear Alkyl Benzene Sulfonate (LABS) Alkylbenzene merupakan bahan baku dasar untuk membuat Linear Alkyl benzene sulfonate. Linear alkylbenzene sulfonate disebut juga dengan nama acid slurry. Acid slurry merupakan bahan baku kunci dalam pembuatan serbuk deterjen sintetik dan deterjen cair. Alkylbenzene disulponasi menggunakan asam sulfat, oleum atau SO3(g). Linear Alkylbenzene sulfonate diperoleh dengan variasi proses yang berbeda pada bahan yang aktif, bebas asam, warna maupun viskositas. Bahan baku utama untuk membuat acid slurry adalah dodecyl benzene, linear alkyl benzene. Nama Kimia Acid Slurry D.D.B.S. adalah Dodecyl Benzene Sulphonate dan L.A.B.S dan Linear Alkyl Benzene Sulphonate (NIIR Board, 2004) Alkylbenzene Sulfonates (ABS) merupakan bahan baku kunci pada industri deterjen selama lebih dari 40 tahun dan berjumlah kira-kira 50 persen volum total surfaktan anionik sintetik. Linear alkylbenzene Sulfonates (LAS) digunakan secara luas menggantikan Branch alkylbenzene sulfonates (BAB) dalam jumlah besar yang ada didunia karena LAS merupakan bahan deterjen yang lebih biodegradabilitas dibandingkan BAB. Produk umumnya dipasarkan berupa asam bebas (free acid) atau yang dinetralkan dengan basa kuat seperti sodium hidroksida yang ditambahkan kedalam slurry, yang umumnya dalam bentuk pasta. Sebagian besar pasta di produksi pada sprayed-dried menghasilkan serbuk deterjen. Pasta bisa juga di proses dengan drum-dried menjadi serbuk atau flake atau spray dried menjadi butir-butir halus yang memiliki densitas rendah. Bentuk kering LAS digunakan terutama pada industri dan produk kebersihan (Kent and Riegels, 2007). Agar berguna sebagai surfaktan, pertama Alkylbenzene harus disulfonasi. Untuk proses sulfonasi biasanya digunakan Oleum dan SO3 . Sulfonasi dengan

oleum memerlukan biaya peralatan yang relatif tidak mahal dan bisa dijalankan dengan proses batch atau continuous. Bagaimanapun ia juaga memiliki kerugian dalam terminologi dibandingkan harga SO3, sulfonasi dengan oleum memerlukan aliran pembuangan sisa asam dan ia juga memberikan masalah corossi potensial yang disebabkan oleh asam sulfat. Proses oleum biasanya menghasilkan 90% ABS, 6 sampai 10% asam sulfat, dan 0,5 sampai 1% minyak yang tidak mengalami proses sulfonasi (Kent and Riegels, 2007). Proses sulfonasi dengan tipe batch memiliki empat unit proses dasar untuk netralisasi antara lain yaitu sulfonation, digestion, dilution, dan phase separation. Pada tahap sulfonasi, alkyl benzene dan oleum dicampur pada tekanan 1 atm inert. Reaksi sulfonasi berlangsung dengan eksotermik tinggi. Dan perpindahan panas tercapai dengan menggunakan reaktor jacket dan atau adanya resirkulasi pemakaian ulang penukar panas. Variabel kunci dalam mengontrol luas reaksi dan warna produk adalah temperatur, keluaran asam, waktu reaksi dan perbandingan oleum dengan alkylate. Kemudian produk meninggalkan zona sulfonasi yang kemudian dilanjutkan proses digested 15 sampai 30 menit agar reaksi berlangsung secara sempurna. Setelah proses digested, kemudian campuran dilarutkan (diluted) dengan air untuk menyempurnakan raksi. Produk kemudian diumpankan ke dalam tangki separator yang berdasarkan pada gravitasi pada lapisan asam sulfat yang keluar dari asam sulfonate ringan. Waktu separasi bergantung pada konfigurasi tangki separator, viskositas asam sulfat, temperatur dan tingkat aerasi dalam aliran umpan. (Bassam, 2005). Sifat fisika LABS adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2.1.1 : Sifat fisika LABS Rumus molekul Berat molekul Titik didih Titik leleh Densitas
C12H25C6H5 246,435 Kg/kmol 327,61 OC 2,78 OC 855,065 Kg/m3

Wujud Energi panas pembentukan Kapasitas panas Viskositas

Cair 1787,0 KJ/mol 750,6 Kkal/kmol OC 750,6 Kkal/kmol OC

Sumber : tkk_handout_deterjen

2.2.1.2 Sodium Lauril Sulfat (SLS) Natrium lauril sulfat (SLS), atau sodium deodecil sulfat (NaDS atau C12H25SO4Na) adalah surfaktan anionoik yang digunakan dalam membersihkan lemak, dan pada produk-produk untuk kebersihan. Molekul ini memiliki 12 atom karbon, yang melekat pada gugus sulfat, dan memberikan sifat amphiphilic yang dibutuhkan deterjen. SLS adalah surfaktan yang sangat efektif dan digunakan untuk menghilangkan noda berminyak dan residu. Sebagai contoh, SLS ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi pada produk industry, termasuk degreasers mesin, pembersih lantai, sampo mobil. Penggunaan SLS dengan konsentrasi yang lebih rendah yaitu pada pembuatan pasta gigi, shampoo rambut, dan busa cukur. Sodium lauril sulfat merupakan komponen penting dalam formulasi untuk efek penebalan busa dan kemampuannya untuk menciptakan busa (Marrakchi S, Maibach HI, 2006). Penelitian menunjukkan bahwa SLS tidak karsinogenik jika

terkontaminasi langsung pada kulit ataupun dikonsumsi. Natrium lauril sulfat mengurangi rasa manis pada gigi, efek biasa terlihat setelah penggunaan pasta gigi yang mengandung bahan ini. Penelitian menunjukkan bahwa SLS dapat merupakan mikrobisida topikal yang berpotensi efektif, yang juga dapat menghambat dan mencegah infeksi oleh virus seperti virus Herpes simpleks. Selain itu SLS dapat meningkatkan kecepatan pembentukan hidrat metana sebesar 700 kali kecepatan awal. Dalam pengobatan, natrium lauril sulfat digunakan sebagai pencahar dubur di enema, dan sebagai eksipien pada aspirin terlarut dan kaplet terapi serat lainnya (Marrakchi S, Maibach HI, 2006). Natrium lauril sulfat, dalam sains disebut sebagai sodium dodecyl sulfat (SDS) atau Duponol, umumnya digunakan dalam menyusun protein untuk

elektroforesis

dalam

teknik

SDS-PAGE.

Senyawa

ini

bekerja

dengan

mengganggu ikatan non-kovalen dalam protein, sehingga protein mengalamii denaturing, dan menyebabkan molekul kehilangan bentuk asli mereka (konformasi). SLS disintesis dengan mereaksikan lauril alkohol dengan asam sulfat untuk menghasilkan hidrogen lauril sulfat yang kemudian dinetralisir melalui penambahan natrium karbonat. Karena metode ini sintesis, SLS komersial yang tersedia sebenarnya tidak sulfat dodesil murni tetapi campuran alkil sulfat dengan sulfat dodesil sebagai komponen utama. SLS dapat memperburuk masalah kulit pada individu dengan hipersensitivitas kulit kronis (Marrakchi S, Maibach HI, 2006).

2.2.1.3 Alkil Benzena Sulfonat (ABS). Proses pembuatan ABS ini adalah dengan mereaksikan Alkil benzena dengan Belerang trioksida, asam Sulfat pekat atau Oleum. Reaksi ini menghasilkan Alkil Benzena Sulfonat. Jika dipakai Dodekil benzena maka persamaan reaksinya adalah C6H5C12H25 + SO3 C6H4C12H25SO3H (Dodekil Benzena Sulfonat)

Reaksi selanjutnya adalah netralisasi dengan NaOH sehingga dihasilkan Natrium Dodekil Benzena Sulfonat. Linear alkylbenzene (kadang-kadang disebut alkil benzena linear atau hanya LAB) adalah perantara dalam produksi deterjen. Dorongan ke arah yang lebih ramah lingkungan akhir-akhir ini menggunakan bahan kimia ramah sejak 1960-an mengakibatkan LAB muncul sebagai cikal bakal dominan biodegradable deterjen.

2.2.1.4 Glikolipid Biosurfaktan yang paling dikenal adalah glikolipid. Glikolipid merupakan karbohidrat yang dikombinasikan dengan rantai panjang asam aliphatic atau asam hydroxyaliphatic. Contoh bakteri penghasil biosurfaktan glikolipid adalah Pseudomonas sp., Rhodococcus erythropolis, Torulopsis sp. dan lain-lain. Ada 3 glikolipid yang paling dikenal, yaitu rhamnolipid, trehalolipid dan sophorolipid (Desai, 1997).

Tabel 2.2.1.4.1 Klasifikasi Biosurfaktan dan Mikroba Asalnya

` 2.2.1.5 Trehalolipid

Sumber : tkk_handout_deterjen

Trehalolipid yang dihasilkan oleh organisme yang berbeda memiliki ukuran dan struktur asam myolic, jumlah atom karbon, dan derajat kejenuhan yang berbeda. Asam myolic merupakan asam lemak β-hydroxy dengan cabang α. Trehalolipid yang dihasilkan oleh spesies Mycobacterium, Nocardia dan Corynebacterium merupakan trehalose disakarida yang terikat pada C-6 dan C-6‟ dengan asam myolic. Spesies Rhodococcus erythropolis dapat menghasilkan senyawa trehalose dimycolate (Desai, 1997).

2.2.1.6 Metil Ester Sulfonat Surfaktan merupakan zat aktif penurun tegangan permukaan yang dapat diproduksi secara sintetis kimiawi atau biokimiawi. Surfaktan memiliki gugus hidrolik dan hidrofobik dalam satu molekul. Pembentukan film pada antar muka fasa menyebabkan terjadinya penurunan energi antar muka. Surfaktan dimanfaatkan sebagai bahan penggumpal, pembasah, pembusa dan emulsifier oleh industri farmasi, industri kosmetika, industri kimia, industri pertanian serta industri pangan (Suryani et al., 2002). Menurut Matheson (1996), kelompok surfaktan terbesar yang diproduksi dan digunakan oleh berbagai industri (dalam jumlah) adalah surfaktan anionik. Karakteristiknya yang hidrofilik disebabkan karena adanya gugus ionic yang cukup besar, yang biasanya berupa grup sulfat atau sulfonat. Beberapa contoh surfaktan anionik yaitu alkilbenzen sulfonat linear (LAS), alkohol sulfat (AS), alkohol eter sulfonat (AES), alfa olefin sulfonat (AOS), paraffin (secondaralkane sulfonate, SAS), dan metil ester sulfonat (MES). Jenis-jenis surfaktan tersebut diperoleh melalui tahapan sulfonasi atau sulfatasi. Metil ester sulfonat merupakan surfaktan anionik yaitu surfaktan yang bermuatan negative pada gugus hidrofiliknya atau bagian aktif permukaan (surface active). Struktur kimia metil ester sulfonat (MES) adalah sebagai berikut (Watkins, 2001): Menurut Watkins (2001), jenis minyak yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan metil ester sulfonat (MES) adalah kelompok minyak nabati seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak inti sawit, stearin sawit, minyak kedelai atau tallow. Metil ester sulfonat dari minyak nabati yang mengandung atom karbon C10, C12, dan C14 biasa digunakan untuk light duty diswashing detergent, sedangkan MES dari minyak nabati dengan atom karbon C16-C18 dan tallow biasa digunakan untuk detergen bubuk dan detergen cair (liquid laundry detergent). Menurut Matheson (1996), metil ester sulfonat (MES) telah mulai dimanfaatkan sebagai bahan aktif pada produk-produk pembersih (washing and cleaning products). Pemanfaatan surfaktan jenis ini pada beberapa produk adalah

karena metil ester sulfonat memperlihatkan karakteristik dispersi yang baik, sifat detergensi yang baik terutama pada air dengan tingkat kesadahan yang tinggi (hard water) dan tidak adanya fosfat, ester asam lemak C14, C16, dan C18 memberikan tingkat detergensi terbaik serta bersifat mudah didegradasi (good biodegradability). Jika dibandingkan petroleum sulfonat, surfaktan MES menunjukkan beberapa kelebihan diantaranya yaitu pada konsentrasi MES yang lebih rendah daya detergensinya sama dengan petroleum sulfonat, dapat mempertahankan aktivitas enzim yang lebih baik, toleransi yang lebih baik terhadap keberadaan kalsium, dan kandungan garam (disalt) lebih rendah. Menurut Hui (1996), pada dasarnya metil ester sulfonat (MES) digunakan sebagai surfaktan anionik pengganti LAS dan FAES (Fatty alcohol ether sulfate). Metil ester sulfonat (MES) diklaim memiliki beberapa manfaat diantaranya sifat deterjensinya baik pada konsentrasi rendah, beban terhadap lingkungan lebih rendah, merupakan pasokan yang baik untuk bahan yang berkualitas tinggi. Bentuk dari produk metil ester sulfonat (MES) menurut MacArthur et al., (1998) sangatlah penting, karena adanya kesulitan khusus dalam memformulasi metil ester sulfonat (MES) ke dalam sistem alkalin yang mengandung air. Metil ester sulfonat (MES) memperlihatkan stabilitas hidrolitik yang kurang baik pada pH yang tinggi dibandingkan dengan surfaktan anionik yang umum seperti linear alkilbenzen (LAB) sodium sulfonat. Sebagai contoh, ketika formulasi heavy duty laundry tertentu mengandung metil ester sulfonat (MES) di spray dried, maka fraksi metil ester sulfonat (MES) yang besar akan didegradasi ke bentuk di-salt selama proses pengeringan, sehingga hasil produknya memiliki stabilitas umur simpan yang buruk. Mac Arthur et al., (1998) menambahkan bahwa untuk memproduksi produk-produk yang formulanya mengandung metil ester sulfonat (MES) dibutuhkan teknologi yang cukup dan diusahakan metil ester sulfonat (MES) ada dalam bentuk fisik yang sesuai. Sebagai contoh, ketika menggunakan metil ester sulfonat (MES) dalam laundry detergent granules, teknologi yang menarik adalah aglomerasi, yang secara substansial berada dalam kondisi kering (kelembaban

kurang dari 2%), untuk selanjutnya metil ester sulfonat (MES) bubuk dicampur dengan builder yang diinginkan dan ingridient lain dalam formulasi. Daya detergensi linear alkilbenzen sulfonat (LAS), alkohol sulfat (AS) dan MES selain dipengaruhi oleh panjang rantai karbon juga dipengaruhi oleh kesadahan air yang digunakan. Semakin panjang rantai karbon asam lemak, maka daya detergensinya semakin meningkat. Metil ester sulfonat (MES) palmitat (C16) mempunyai daya detergensi paling tinggi dibandingkan dengan LAS dan AS yaitu sekitar 76%, sedangkan LAS dan AS masing-masing hanya sebesar 70% dan 60%. Semakin tinggi kesadahan air yang digunakan, maka daya detergensi LAS, AS, dan MES semakin rendah. Pada tingkat kesadahan 360 ppm CaCO3 daya detergensi dari MES lebih tinggi (56%) dibandingkan dengan LAS (20%) dan AS (38%) (Yamane and Miyawaki, 1990). Metil ester sulfonat (C16) bersifat lebih mudah terbiodegradasi dibandingkan dengan LAS dan AS. Pada hari ke-5, MES (C16) terbiodegradasi sempurna dan tidak meninggalkan residu karbon organic, sedangkan AS terbiodegradasi secara sempurna setelah hari ke-5, sedangkan LAS walaupun senyawa tersebut mengandung rantai karbon pendek tetapi relatif lebih sulit terbiodegradasi secara sempurna. Hal ini disebabkan karena LAS mengandung senyawa karbon aromatic (rantai karbon berbentuk cincin). Biodegradasi maksimum dari LAS terjadi setelah hari ke-10 dengan menghasilkan residu C organik sebesar 34% (Yamane and Miyawaki, 1990). Karakteristik surfaktan metil ester sulfonat (MES) komersial dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 2.2.1.6.1 Karakteristik Metil Ester Sulfonat Spesifikasi Metil ester sulfonat, (% b/b) a Disodium karboksi sulfonat (di-salt), (% b/b) a Air, (% b/b) a Nilai pH
a

MES (C16-C18) 83,0 3,5 2,3 5,3 45 39,0 – 40,2

Warna Klett, 5% aktif (MES + di-salt) a Tegangan permukaan (mN/m) b

Tegangan antar muka (mN/m) b Sumber : a Sheats (2002)
b

8,4 – 9,7

Pore (1993)

2.2.1.7 Alfa Sulfometil Ester (alpha-SFMe) Alfa SFMe (α-SFMe) yang diproduksi dari metil ester telah lama dikenal dan dipelajari terutama sejak krisis minyak di tahun 1973. Alfa SFMe lebih banyak dipelajari sebagai surfaktan yang diperoleh dari bahan baku mentah. Alfa SFMe belum mendapat posisi dalam surfaktan seperti LAS (Linear Alkylbenzene Sulphonate) atau AS (alcohol sulphate). Alasan mendasar dari fakta diatas adalah teknologi sulfonasi alfa SFMe belum dikembangkan dengan baik. Alfa SFMe dapat digunakan dalam deterjen sebagai surfaktan utama. Alfa SFMe tidak mengandung racun (rendah) dan dapat dibiodegradsi. Dalam kasus pembuatan alfa SFMe dari metil ester, metil ester C16 yang diperoleh dari distilasi fraksinasi dapat langsung digunakan tanpa hidrogenasi, sementara metil ester C18 harus dihidrogenasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Mekanisme reaksi sulfonasi terdiri dari 2 langkah. Reaksi pertama yaitu metil ester asam lemak (FAMe) disulfonasi dalam reaktor sulfonasi dengan menggunakan gas SO3 membentuk sulfoanhydride. Pada reaksi ini digunakan jumlah SO3 berlebih, yaitu sekitar 20-30 % mol.

2.2.1.8 7. Alkyl isethionate Alkyl isethionate pertama kali diproduksi di awal tahun tiga puluhan dan telah digunakan dalam sabun toilet sintetis karena manfaatnya terhadap kulit. Langkah pertama dalam pembuatan surfaktan ini adalah mempersiapkan natrium isethionate dengan mereaksikan etilen oksida dengan natrium bi-sulfit. Langkah berikutnya adalah mengeringkan natrium isethionate dan esterify gugus OH menggunakan asam lemak untuk memproduksi isethionate alkil (juga disebut igepon A).

2.2.1.9 5. AES (Alkyl Ether Sulphates) Digunakan dalam sampo dan dalam kombinasi dengan surfaktan anionik lainnya dan surfaktan non-ionik, dalam cairan pencuci piring. Surfaktan jenis ini diproduksi dengan mereaksikan alkohol rantai panjang dengan 2-4 mol etilena oksida diikuti oleh sulfonasi dari alkohol yang dihasilkan. LES adalah contoh yang khas dengan rumus : C12 – H25 – (O – CH2 – CH2)n – O – CH2 – CH2 – O – SO2 – Ona

2.2.1.10 N-metil glukamida N-metil glukamida diperoleh dari reaksi antara asam lemak, metil ester asam lemak atau trigliserida dengan N-metil glukamina. N-metil glukamida banyak digunakan sebagai produk farmasi dan biokimia lainnya. N-metilglukamida termasuk pada kelompok alkyl-glukamida surfaktan dimana kelompok surfaktan ini diproduksi dalam jumlah besar sebagai bahan pembersih, contohnya adalah N dodekanoil-N-metil glukamida (Holmberg, 2001). Penelitian ini menggunakan asam laurat sebagai sumber asam lemak. Kedua substrat yaitu asam laurat dan n-metil glukamina mempunyai polaritas dan kelarutan yang berbeda, asam laurat larut dalam pelarut hidrofilik sedangkan Nmetil glukamina sedikit larut. Sebagai pelarut pada reaksi amidasi ini dipilih isopropanol, tert butanol, tert-amil alkohol dan n-heksana karena alkohol ini dapat melarutkan N-metil glukamina, merupakan pelarut yang non toksik serta bukan merupakan substrat lipase. Katalis lipase yang immobil dari Candida antarctica dan Rhizomucor meihei dapat digunakan karena enzim immobilisasi ini mudah diperoleh, stabil dalam pelarut serta mudah direcovery (Maugard, dkk. 1998). Sintesis N-metil glukamida menggunakan bahan baku N-metil glukamina dari golongan gula amina. Senyawa-senyawa gula amina memegang peran penting dalam pembentukan dan perbaikan tulang rawan. Mekanisme kerja senyawa-senyawa gula amina adalah dengan menghambat sintetis

glikosaminoglikan dan mencegah destruksi tulang rawan. Gula amina dapat merangsang sel-sel tulang rawan untuk pembentukan proteoglikan dan kolagen yang merupakan protein esensial untuk memperbaiki fungsi persendian. Gula

amina dapat diperoleh dari reaksi glukosa, laktosa atau gula lainnya dengan amonia atau alkil amina. N-metil glukamina merupakan salah satu senyawa gula amina yang penting. N-metil glukamina diperoleh dari reaksi glukosa dengan monometil amina. Sifat-sifat N-metil glukamina adalah sebagai berikut (E Merck, 2008): Rumus Molekul : C7H17NO5 Rumus Kimia Berat Molekul Densitas Titik Lebur Titik Didih Kelarutan : CH3NHCH2(CHOH)4CH2OH : 195,22 gr/mol : 1,090 gr/cm3 : 128 - 131oC (1 atm) : 210oC (1 atm) : H2O, alkohol dan eter

2.3 Zat Pengisi (Filler) Bahan ini berfungsi sebagai bahan pengisi dari keseluruhan bahan baku. Pemberian bahan pengisi ini dimaksudkan untuk memperbesar atau

memperbanyak volume. Keberadaan bahan ini dalam deterjen semata-mata dilihat dari aspek ekonomis. Bahan pengisi deterjen disini menggunakan Sodium Sulfat (Na2SO4). Bahan ini merupakan bahan tambahan yang tidak memiliki kemampuan untuk meningkatkan daya cuci, tetapi dapat meningkatkan kuantitas deterjen.

2.3.1 Natrium Nitrat Natrium nitrat ialah tipe garam (NaNO3) yang telah lama digunakan sebagai komposisi bahan peledak dan dalam bahan bakar padat roket, juga pada kaca dan pelapis tembikar, dan telah ditambang secara luas untuk tujuan itu. Senyawa ini juga disebut caliche, saltpeter, dan soda niter. Selain itu natriun sulfat juga digunakan sebagai bahan pengisi atau filler pada deterjen yang berfungsi sebagai penambah volume dari deterjen.

Tabel 2.3.1.1 : Sifat-sifat
Umum Nama Natrium nitrat

Rumus kimia Rupa

NaNO3 Bubuk putih atau kristal tak berwarna Fisik

Bobot senyawa Titik lebur Titik didih Densitas Struktur kristal Kelarutan

85,0 sma 580 K (307 °C) terdekomposisi pada 653 K (380 °C) 2,3 ×103 kg/m3 ? 92 g dalam 100 mL air Z

ΔfH0cair ΔfH0padat S0padat

-452 kJ/mol -468 kJ/mol 117 J/mol·K Keamanan

Ingesti

Dapat menyebabkan gastroenteritis dan sakit perut.

Penghirupan iritasi pernapasan Kulit Mata Info lebih banyak Dapat menyebabkan iritasi. Dapat menyebabkan iritasi. MSDS

Sumber : http://de.wikipedia.org/wiki/Natriumnitrat 2.3.2. Produk pewangi Bahan-bahan kimia yang menimbulkan aroma yang harum pada buahbuahan mengandung senyawa kimia organic yang dinamakan ester (alkyl

alkanoat), Amil salisilat (wangi melati ), amilisinameldehida (herbal ), sitronerol (aroma jeruk), galaksolida (musk), dan organoklor (DDT, aldrin, dieldrin, kepon, intreks).

2.3.3. Bentonit Mineral bentonit memiliki diameter kurang dari 2 μm yang terdiri dari berbagai macam mineral phyllosilicate yang mengandung silica, aluminium oksida dan hidrosida yang dapat mengikat air. Bentonit memiliki struktur 3 layer yang terdiri dari 2 layer silika tetrahedron dan satu layer sentral octahedral. Bentonit sendiri diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu natrium bentonit dan kalsium bentonit. Natrium bentonit mengandung relatif lebih banyak ion Na+ dibandingkan ion Ca2+ dan Mg2+. Bentonit ini dapat mengembang hingga 8-15 kali apabila dicelupkan ke dalam air dan tetap terdispersi beberapa waktu di dalam air. Posisi pertukaran ion terutama diduduki oleh ion natrium. Penggunaan utama bentonit adalah sebagai lumpur pembilas pada kegiatan pemboran, pembuatan pelet biji besi, penyumbat kebocoran bendungan dan kolam. Selain itu digunakan juga dalam industri minyak sawit dan farmasi. Sementara kalsium bentonit mengandung lebih banyak ion Ca2+ dan Mg2+ dibandingkan dengan ion Na+. Bentonit kalsium kurang menyerap air, akan tetapi secara alamiah ataupun setelah diaktifkan dengan asam, mempunyai sifat menghisap yang baik dan tetap terdispersi dalam air. Perbandingan kandungan Na dan Ca rendah. Posisi pertukaran ion lebih banyak diduduki oleh ion kalsium dan magnesium. Cabentonit dipergunakan sebagai bahan pemucat warna pada proses pemurnian minyak goreng, katalis pada industri kimia, zat pemutih, zat penyerap dan sebagai filler pada industri kertas dan polimer. Kandungan utama bentonit adalah mineral monmorilonit (80%) dengan rumus kimia Mx(Al4-xMgx)Si8O20(OH)4.nH2O. Kandungan lain dalam bentonit merupakan pengotor dari beberapa jenis mineral seperti kwarsa, ilit, kalsit, mika dan klorit. Struktur monmorilonit terdiri dari 3 layer yang terdiri dari 1 lapisan alumina (AlO6) berbentuk oktahedral pada bagian tengah diapit oleh 2 buah lapisan silika (SiO4) berbentuk tetrahedral. Diantara lapisan oktahedral dan

tetrahedral terdapat kation monovalent maupun bivalent, seperti Na+, Ca2+ dan Mg2+ (lihat gambar) dan memiliki jarak (d-spacing) sekitar 1,2 – 1,5 μm. Nanofiller dapat diaplikasikan ke dalam material polimer menghasilkan material nanocomposite dengan peningkatan beberapa sifat dasar polimer,seperti sifat ketahanan termal, sifat mekanik, ketahanan terhadap bahan kimia dan sifat bakar (flammability). Dalam aplikasi kemasan nanocomposite juga diklaim telah meningkatkan ketahanan material terhadap daya tembus uap air dan gas, terutama gas oksigen. Dalam penelitian ini telah dilakukan modifikasi bentonit (clay) menjadi material organoclay dengan penambahan surfaktan, lebih dikenal dengan organolayersilica (OLS).

2.3.4. Natrium Sulfat Merupakan garam natrium dari asam sulfat. Secara kimiawi sifatnya sangat stabil, tidak reaktif terhadap senyawa pengoksidasi atau pereduksi pada suhu normal.

2.3.5. Boraks Untuk keperluan mencuci dengan mesin cuci, tambahkan setengah cangkir boraks ke dalam cucian untuk mendapatkan hasil yang bersih dan cemerlang. Sebelum mencuci, tambahkan satu sendok makan boraks ke dalam rendaman cucian dan biarkan selama 30 menit sebelum mulai dicuci. Boraks juga bisa digunakan untuk membersihkan peralatan masak dan toilet.

2.3.6 Pemutih Untuk meningkatkan tindakan pemutih deterjen ringan seperti natrium perborat yang tergabung dalam deterjen bubuk. Perborat yang terurai pada suhu tinggi melepaskan nascent oksigen untuk efek pemutihan ringan. Sebagai hasilnya, pakaian yang diperoleh lebih putih. Pemutih juga membantu untuk menyingkirkan noda pada pakaian. Namun, natrium perborat tidak stabil terutama dalam kondisi ambien seperti yang lazim di negara-negara tropis terutama pada kelembaban. Hal ini merupakan alasan mengapa natrium perborat, yang juga

menyediakan alkalinitas dan properti buffering, biasanya tidak dimasukkan dalam formulasi deterjen bubuk di India.

2.3.7 Trisodium Orthophospate (TSOP) TSOP bersifat sangat alkali dan memiliki sifat pelunakan air dengan pengendapan ion logam polivalen dalam air. Hal ini juga membantu dalam penyebaran tanah dan dapat melarutkan asam lemak dengan saponifikasi. Karena pertimbangan harga, TSOP hanya dapat menggantikan sebagian STPP di saat kekurangan STPP.

2.3.8 Magnesium sulfat Magnesium sulfat bukan bahan normal dalam bubuk deterjen. Namun, ia bertindak sebagai stabilisator dalam hubungannya dengan natrium silikat yang mana bubuk terdiri dari natrium perborat.

2.3.9 Natrium karbonat Natrium karbonat yang dikenal secara komersial sebagai soda abu merupakan zat pembangun yang paling penting yang digunakan dalam formulasi deterjen dan diproduksi baik oleh rute campuran kering serta dengan pengeringan semprot. Soda abu ini cukup larut dalam air dan larut dengan evolusi panas. Hal ini dapat melembutkan air dengan pengendapan kalsium dan garam magnesium serta memiliki kapasitas buffer yang baik dengan biaya rendah. Namun, tingginya tingkat abu soda menyebabkan pengendapan garam kalsium larut pada kain sehingga menjadi keras dan kehilangan parsial dalam proses pencemerlangan optik itu. Pada tingkat tinggi 40% dan di atas bubuk deterjen menjadi kasar untuk kulit. Kain berwarna dapat memudar jika di cuci ulang. Sebuah kombinasi dari jatah molar karbonat natrium bikarbonat (disebut sesquicarbonate natrium), lebih aman. Kapasitas adsorpsi abu soda untuk cairan khusus digunakan dalam pembuatan deterjen bubuk dengan pengeringan pencampuran. Dalam hal ini berbagai soda abu terang lebih disukai untuk padat.

2.3.10 Kalsit Untuk memfasilitasi kalsit pengendalian biaya yang digunakan dalam beberapa formulasi sampai tingkat sekitar 5-7%. Namun, merasa bahwa itu tidak baik untuk menggunakan bahan-bahan yang larut dalam deterjen bubuk.

2.4 Zat Penunjang (Builder) Kandungan lain yang penting adalah penguat (builder), yang meningkatkan efisiensi surfaktan. Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat berkonsentrasi pada fungsinya. Selain itu, builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit. Namun detergen fosfat memiliki dampak negatif terhadap lingkungan. Yaitu bila bercampur dengan air, fosfat menyebabkan masalah yang besar karena ion fosfat merupakan makanan ganggang sehingga menimbulkan eutrofikasi. Builder lain yang digunakan saat ini yaitu sodium perborat (NaBO2.H2O2) dan sodium metasilikat (Na2SiO3). Builder ini tidak begitu membahayakan lingkungan tetapi builder ini membentuk larutan kaustik yang menimbulkan iritasi pada kulit. Ketika natrium perborat bereaksi dengan air akan membentuk sebuah basa kuat dengan reaksi sebagai berikut : NaBO2.H2O2 + H2O2 + H2O  NaOH + HBO2 + H2O2 Hidrogen peroksida sebagai bahan pemutih dan pengurai yang membebaskan oksigen, reaksinya sebagai berikut : 2H2O2 2H2O + O2 Ketika natrium metasilikat bereaksi dengan air juga akan membentuk larutan basa kuat, reaksinya sebagai berikut : Na2SiO3 + H2O  2NaOH + H2SiO3 Salah satu kemampuan buider yang penting dan banyak digunakan adalah untuk menyingkirkan ion penyebab kesadahan dari cairan pencuci dan mencegah ion tersebut berinteraksi dengan surfaktan. Hal ini dilakukan karena interaksi

tersebut akan menyebabkan penurunan efektivitas pencucian. Secara umum, builder memberikan alkalinitas ke cairan pencuci sehingga berfungsi juga sebagai alkali. Selain itu, builder juga memberikan efek anti-redeposisi. Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Contoh senyawa builder 1. Zeolit (Na2Ox.Al2O3y.SiO2z.pH2O). Zeolit berfungsi sebagai builder

penukar ion. Zeolit yang banyak digunakan adalah zeolit tipe A. Ion natrium akan dilepaskan oleh kristal zeolit dan digantikan dengan ion kalsium dari air sadah. Hal ini akan menyebabkan penurunan kesadahan dari air pencuci. 2. Clay. Clay, seperti kaolin, montmorilonit, dan bentonit juga dapat digunakan sebagai builder. Natrium bentonit, misalnya dapat melunakkan air akibat kemampuannya menyerap ion kalsium. Namun, clay

dipertimbangkan sebagai bahan yang memiliki efektivitas pelunakkan air yang lebih rendah dibandingkan zeolit tipe A. Penggunaan clay sebagai builder juga memiliki nilai tambah lain. Clay montmorilonit, misalnya, dapat berfungsi sebagai komponen pelembut. Komponen ini akan diserap dan difilter ke dalam pakaian selama proses pencucian dan pembilasan. 3. Nitrilotriacetic acid. Senyawa N(CH2COOH)3 atau biasa disebut NTA ini, merupakan salah satu builder yang kuat. Senyawa ini merupakan tipe builder organik. Namun, penggunaaannya memiliki efek samping pada kesehatan dan lingkungan. 4. Garam netral. Natrium sulfat dan natrium klorida merupakan garam-garam netral yang dapat digunakan sebagai builder. Selain itu, senyawa-senyawa ini juga dipertimbangkan sebagai filler yang dapat mengatur berat jenis deterjen. Natrium sulfat juga dapat menurunkan Critical Micelle Concentration (CMC) dari surfaktan organik sehingga konsentrasi pencucian efektif dapat tercapai. 5. Natrium Perborate Na2B2O4 (H2O2) 26H2O atau Na2B2O4 (H2O2) 2H2O. Natrium perborate rilis nascent oksigen pada temperatur tinggi, dan bertindak sebagai pemutih hidrogen peroksida, dan telah digunakan dalam

pencucian sebagai pemutih selama bertahun-tahun. Kerugian utama itu adalah bahwa tindakan pemutihan hanya terjadi pada suhu yang tinggi. Untuk melepaskan itu pemutihan tindakan pada suhu yang lebih rendah, penggerak harus ditambahkan. Tipikal adalah N1N1 diamene tetra-metilena asetil, dan tetra asetil uril glikol (TAGU). Dalam bagian-bagian tertentu dari dunia perborate dibatasi karena garam boron itu mempengaruhi pertanian saat efluen disemprotkan ke tanah penggembalaan. 6. Natrium percarbonate 2Na2CO3 3H2O2. Ini bekerja dalam larutan seperti jika Anda telah karbonat natrium dan hidrogen peroksida ditambahkan secara terpisah. Menguntungkan adalah bahwa percarbonate melepaskan oksigen pada suhu yang lebih rendah, dan efektif sebagai pemutih cucian. 7. Soda abu (natrium karbonat) Na2CO3. Soda abu menyediakan alkalinitas tinggi, hanya natrium hidroksida yang lebih tinggi pada aw / v dasar. Hal ini melembutkan air dengan pengendapan karbonat kalsium dan magnesium, asalkan pH larutan lebih besar dari 9, dan bahwa pH ini dijaga. Sintetis soda abu (kimia diproduksi) adalah kualitas unggul soda abu ditambang alami. Dua nilai yang umum digunakan, soda abu terang, dan soda abu padat. Soda abu cahaya khususnya, dapat menyerap sejumlah besar bahan cair ke permukaan itu dan masih tetap kering untuk disentuh, dan menjaga sifat bebas itu mengalir. Hal ini juga digunakan sebagai bahan penetral untuk penyerapan DDBSA (surfaktan anionik). 8. Silikat. Penambahan silikat untuk deterjen sintetik telah terbukti sangat bermanfaat. Natrium silikat dibuat (melalui persamaan kimia berikut) dalam tanur listrik. Na2CO3 + SiO2 = Na2SiO3 + CO2. Ada juga proses basah, dimana silika dari pasir kehabisan di bawah tekanan dengan soda kaustik terkonsentrasi. SiO2 + SiO2 = Na2SiO3 + CO2. Hal ini menghasilkan silikat kristal, yang berisi air kristalisasi. Silikat melunakkan air dengan pembentukan endapan yang dapat dengan mudah dibilas pergi. Mereka cenderung tidak untuk deposit pada serat kain yang sedang dicuci, karena mereka memiliki besar menangguhkan dan anti-kembali-deposisi kualitas. Mereka digunakan dalam piring-cuci bubuk, untuk membasahi mereka dan

sifat pengemulsi. Semua silikat memiliki tindakan penyangga yang sangat baik terhadap senyawa asam. Hal ini penting, karena sebagian besar tanah dalam proses pencucian bersifat asam. Silikat dapat menghambat korosi dari stainless steel dan aluminium dengan deterjen sintetis dan fosfat kompleks. Natrium silikat metasilicate adalah bubuk yang umum digunakan, dan dapat anhidrat atau terhidrasi. Rumus khas adalah Na2SiO3. Kelompok lain, silikat koloid, tersedia dalam cairan terkonsentrasi, dan dikenal sebagai "gelas air". Mereka memiliki berbagai rasio Na2O: SiO2, dari 1:1.6 ke 1:3.75. Semakin tinggi proporsi yang hadir silika, bahan kurang larut menjadi, dan semakin rendah pH. 9. Asam Nitrilotriacetic (NTA), C6H9NO6, adalah asam karboksilat polyamino dan digunakan sebagai agen pengkelat yang membentuk senyawa koordinasi dengan ion logam (kelat) seperti Ca
2 +,

Cu

2 +

atau Fe

3 +.

Penggunaan NTA yang mirip dengan EDTA. Namun, berbeda dengan EDTA, NTA mudah biodegradable dan hampir sepenuhnya dihapus selama pengolahan air limbah. Senyawa ini secara komersial tersedia sebagai asam bebas dan garam natrium. Hal ini diproduksi dari amonia, formaldehid, dan sodium sianida atau hidrogen sianida. Kapasitas di seluruh dunia diperkirakan mencapai 100 ribu ton per tahun. Nitrilotriacetic asam adalah zat pengkelat. Hal ini digunakan untuk pelunakan air dan sebagai pengganti untuk trifosfat natrium dalam deterjen, dan trifosfat kalium dalam pembersih. Di laboratorium, senyawa ini dapat digunakan dalam titrasi kompleksometri. Sebuah varian dari NTA digunakan untuk isolasi protein dan pemurnian. NTA dimodifikasi digunakan untuk melumpuhkan nikel untuk dukungan solid. Hal ini memungkinkan pemisahan protein mengandung "tag" yang mengandung residu histidin enam di ujung C-. Asam Nitrilotriacetic mudah dibiodegradasi; 98% dihapus dalam biologi pabrik pengolahan air limbah. 10. Pirofosfat tetrasodium adalah alkalinitas, lebih basa mengurangi pada urutan. Mereka menghasilkan kompleks logam dengan ion logam. Ini dapat ditulis secara ionik sebagai Na2 (MgP2O7). Ini, ion magnesium dalam hal

ini tidak aktif, atau diasingkan. Produk tidak terbentuk endapan dari solusi. Pirofosfat tetrasodium yang terbaik untuk ion magnesium, dan natrium hexametaphosphate yang terbaik untuk ion kalsium. Sodium

Tripolyphosphate terletak di antara keduanya. Semua fosfat kompleks meningkatkan detergensi jenis deterjen sabun. Jika sepotong kain telah tertanam di dalamnya sejumlah kalsium dalam bentuk sabun kalsium larut, molekul fosfat kembali melarutkan kalsium, natrium rilis yang kembali menggabungkan dengan molekul sabun, dan dengan demikian melahirkan sabun bisa digunakan. Hal ini dicapai dengan natrium menggabungkan dengan anion asam lemak dari molekul sabun.

2.5 Bahan Aditif Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Beberapa aditif yang dapat digunakan dalam deterjen adalah : 1. Na-CMC. Natrium Carboxyl Methyl Cellulose sebagai aditif berfungsi sebagai agen anti-redeposisi yang paling umum digunakan pada kain katun. Namun, senyawa ini tidak berfungsi baik pada serat sintetis. 2. Blueing Agent. Blueing agent memiliki fungsi untuk memberi kesan biru pada kain putih sehingga kain akan terlihat semakin putih. Selain itu, blueing agent juga dapat memberi kesan warna yang lembut. 3. Fluorescent. Fluorescent merupakan agen pemutih yang pertama kali dikombinasikan dengan deterjen pada tahun 1940. Agen ini akan menyerap radiasi ultraviolet dan mengemisi sebagian energi radiasi tersebut sebagai sinar-sinar biru yang tampak. Konsentrasi aditif harus diperhatikan dalam penggunaannya karena jika konsentrasi aditif yang digunakan salah, fluoroecent tidak akan memberikan efek absorbsi sinar ultraviolet. 4. Proteolytic enzyme. Proteolytic enzyme banyak digunakan pada formula deterjen. Tujuan penggunaannya adalah untuk mendegradasi bercak-bercak

pada substrat yang dapat didegradasi oleh enzim. Penggunaan aditif ini membutuhkan waktu lebih lama daripada aditif lainnya karena merupakan bioteknologi. Enzim-enzim yang dapat digunakan sebagai aditif antara lain enzim amilase, trigliserida, dan lipase. 5. Bleaching agent. Bleaching agent anorganik yang banyak digunakan dalam formula deterjen adalah natrium perborat. Pada temperatur pencucian yang tinggi, sekitar 70-80 derajat Celcius, senyawa ini akan memucatkan (efek bleaching) bercak-bercak seperti bercak wine dan buah-buahan secara efektif. Namun, untuk memenuhi syarat lingkungan, sebbelum dibuang, air sisa cucian harus didinginkan hingga temperatur di bawah 50 derajat Celsius. Bleaching agent organik yang juga dapat digunakan adalah TAED (Tetra Acetyl Ethylene Diamine). Senyawa ini efektif digunakan pada temperatur pencucian 50-60 derajat Celcius. 6. Foam Regulator. Foam regulator seperti amin oksida, alkanolamida, dan betain terdapat dalam produk deterjen jika jumlah busa yang banyak diinginkan sehingga aditif ini umumnya ditemui pada cairan pencuci tangan dan sampo. 7. Organic sequestering. Aditif ini berfungsi untuk memisahkan ion logam dari bath deterjen. Beberapa aditif yang berfungsi sebagai organic sequestering adalah EDTA dan nitrilotriacetic acid.

8. Natrium Klorida. Natrium klorida, dikenal juga sebagai garam, garam dapur,
garam meja, atau garam karang , merupakan senyawa ionik dengan rumus NaCl . Natrium klorida adalah garam yang paling bertanggung jawab atas salinitas dari laut dan dari cairan ekstraselular dari multisel banyak organisme. Sebagai bahan utama dalam garam yang dapat dimakan ini, biasanya digunakan sebagai bumbu dan makanan pengawet. Garam saat ini diproduksi secara massal oleh penguapan dari air laut atau air asin dari sumber lainnya, seperti sumur air garam dan danau garam , dan pertambangan garam batu, disebut garam karang. Pada tahun 2002, produksi dunia diperkirakan 210.000.000 ton metrik, lima besar produsen (dalam juta ton) menjadi Amerika Serikat (40,3), Cina (32,9), Jerman (17,7), India (14,5) dan

Kanada (12,3). Garam ini akrab sekali digunakan sehari hari seperti untuk memasak , garam digunakan dalam berbagai aplikasi, dari industri pulp dan kertas, untuk pengaturan pewarna pada tekstil dan kain, untuk memproduksi sabun , deterjen , dan produk-produk mandi lainnya. Ini adalah sumber utama klorin industri dan natrium hidroksida , dan digunakan dalam hampir setiap industri. Natrium klorida kadang-kadang digunakan sebagai pengering yang murah dan aman karena sifatnya yang higroskopis, efektif untuk membuat pengawetan makanan metoda pengasinan, seperti menarik air dari bakteri melalui tekanan osmotik mencegah mereka dari reproduksi yang

menyebabkan makanan dirusak. Meskipun desiccants yang tersedia lebih efektif, hanya sedikit yang aman bagi manusia untuk ditelan. Banyak mikroorganisme tidak dapat hidup dalam lingkungan yang terlalu asin: air mereka ditarik keluar dari sel dengan osmosis. Untuk alasan ini garam digunakan untuk mengawetkan beberapa makanan, seperti daging asap atau ikan. Hal ini juga dapat digunakan untuk melepaskan lintah yang melekat sendiri. garam ini juga digunakan untuk membasmi kuman luka. Kristal murni NaCl adalah senyawa optik dengan berbagai macam transmisi dari 200 nm sampai 20 μm. Ini sering digunakan dalam rentang spektrum inframerah dan kadang-kadang masih digunakan. Saat ini kristal seperti selenide seng (ZnSe) yang digunakan sebagai pengganti NaCl (untuk rentang spektrum IR).

9. Boraks. Orang suku etnis Jawa lebih mengenal boraks, larutan garam
konsentrat tinggi, dengan istilah bleng. Untuk keperluan mencuci dengan mesin cuci, tambahkan setengah cangkir boraks ke dalam cucian untuk mendapatkan hasil yang bersih dan cemerlang. Sebelum mencuci, tambahkan satu sendok makan boraks ke dalam rendaman cucian dan biarkan selama 30 menit sebelum mulai dicuci. Boraks juga bisa digunakan untuk

membersihkan peralatan masak dan toilet.

10. Parfum (Jeruk Lemon). Wanginya yang segar sangat cocok menjadi
pengharum sintetis yang biasa digunakan saat mencuci pakaian. Teteskan satu sendok air perasan jeruk lemon ini pada bilasan terakhir cucian sebelum dijemur. Untuk memutihkan pakaian, tuangkan setengah cangkir air perasa

jeruk lemon pada rendaman pertama. Selain untuk cucian, air perasan jeruk lemon ini juga bisa digunakan untuk membersihkan dan mengharumkan perabotan rumah tangga lainnya, seperti kulkas, toilet, mesin cuci piring, dan microwave.

2.6 Anti Redoposisi Kandungan lain dalam detergen adalah anti redeposisi. Redeposisi dimaksudkan untuk mengikat kotoran yang sudah lepas dari pakaian agar tidak kembali menempel. Kotoran itu diikat oleh bahan yang dinamai sodium carboxy methyl cellulose (SCMC). Cara kerja SCMC adalah menyerap kotoran dengan membuat pembatas ion yang mencegah redeposisi. Kotoran terbungkus ion negatif atau kation demikian pula lapisan pakaian bermuatan negatif. Akibat dua kutub yang sama, maka terjadi saling tolak, sehingga kotoran akan larut dalam air saat pembilasan atau pengeringan. Builder memiliki efek anti redeposisi karena kemampuannya mengikat kotor. 1. Natrium percarbonate 2Na2CO3 3H2O2. Ini bekerja dalam larutan seperti jika Anda telah karbonat natrium dan hidrogen peroksida ditambahkan secara terpisah. Menguntungkan adalah bahwa percarbonate melepaskan oksigen pada suhu yang lebih rendah, dan efektif sebagai pemutih cucian. 2. Soda abu (natrium karbonat) Na2CO3. Soda abu menyediakan alkalinitas tinggi, hanya natrium hidroksida yang lebih tinggi pada aw / v dasar. Hal ini melembutkan air dengan pengendapan karbonat kalsium dan magnesium, asalkan pH larutan lebih besar dari pH9, dan bahwa pH ini dijaga. Sintetis soda abu (kimia diproduksi) adalah kualitas unggul soda abu ditambang alami. Dua nilai yang umum digunakan, soda abu terang, dan soda abu padat. Soda abu cahaya khususnya, dapat menyerap sejumlah besar bahan cair ke permukaan itu dan masih tetap kering untuk disentuh, dan menjaga sifat bebas itu mengalir. Hal ini juga digunakan sebagai bahan penetral untuk penyerapan DDBSA (surfaktan anionik). 3. Silikat. Penambahan silikat untuk deterjen sintetik telah terbukti sangat bermanfaat. Natrium silikat dibuat (melalui persamaan kimia berikut) dalam

tanur listrik. Na2CO3 + SiO2 = Na2SiO3 + CO2. Ada juga proses basah, dimana silika dari pasir kehabisan di bawah tekanan dengan soda kaustik terkonsentrasi. SiO2 + SiO2 = Na2SiO3 + CO2. Hal ini menghasilkan silikat kristal, yang berisi air kristalisasi. Silikat melunakkan air dengan pembentukan endapan yang dapat dengan mudah dibilas pergi. Mereka cenderung tidak untuk deposit pada serat kain yang sedang dicuci, karena mereka memiliki besar menangguhkan dan anti-kembali-deposisi kualitas. Mereka digunakan dalam piring-cuci bubuk, untuk membasahi mereka dan sifat pengemulsi. Semua silikat memiliki tindakan penyangga yang sangat baik terhadap senyawa asam. Hal ini penting, karena sebagian besar tanah dalam proses pencucian bersifat asam. Silikat dapat menghambat korosi dari stainless steel dan aluminium dengan deterjen sintetis dan fosfat kompleks. Natrium silikat metasilicate adalah bubuk yang umum digunakan, dan dapat anhidrat atau terhidrasi. Rumus khas adalah Na2SiO3. Kelompok lain, silikat koloid, tersedia dalam cairan terkonsentrasi, dan dikenal sebagai "gelas air". Mereka memiliki berbagai rasio Na2O: SiO2, dari 1:1.6 ke 1:3.75. Semakin tinggi proporsi yang hadir silika, bahan kurang larut menjadi, dan semakin rendah pH. 4. Asam Nitrilotriacetic (NTA), C6H9NO6, adalah asam karboksilat polyamino dan digunakan sebagai agen pengkelat yang membentuk senyawa koordinasi dengan ion logam (kelat) seperti Ca
2 +,

Cu

2+

atau Fe

3 +.

Penggunaan NTA

yang mirip dengan EDTA . Namun, berbeda dengan EDTA, NTA mudah biodegradable dan hampir sepenuhnya dihapus selama pengolahan air limbah. Senyawa ini secara komersial tersedia sebagai asam bebas dan garam natrium. Hal ini diproduksi dari amonia, formaldehid, dan sodium sianida atau hidrogen sianida. Kapasitas di seluruh dunia diperkirakan mencapai 100 ribu ton per tahun. Nitrilotriacetic asam adalah zat pengkelat. Hal ini digunakan untuk pelunakan air dan sebagai pengganti untuk trifosfat natrium dalam deterjen, dan trifosfat kalium dalam pembersih. Di laboratorium, senyawa ini dapat digunakan dalam titrasi kompleksometri. Sebuah varian dari NTA digunakan untuk isolasi protein dan pemurnian. NTA dimodifikasi

digunakan untuk melumpuhkan nikel untuk dukungan solid. Hal ini memungkinkan pemisahan protein mengandung "tag" yang mengandung residu histidin enam di ujung C-. Asam Nitrilotriacetic mudah dibiodegradasi; 98% dihapus dalam biologi pabrik pengolahan air limbah. 5. Pirofosfat tetrasodium adalah alkalinitas, lebih basa mengurangi pada urutan. Mereka menghasilkan kompleks logam dengan ion logam. Ini dapat ditulis secara ionik sebagai Na2 (MgP2O7). Ini, ion magnesium dalam hal ini tidak aktif, atau diasingkan. Produk tidak terbentuk endapan dari solusi. Pirofosfat tetrasodium yang terbaik yang untuk terbaik ion untuk magnesium, ion dan natrium Sodium

hexametaphosphate

kalsium.

Tripolyphosphate terletak di antara keduanya. Semua fosfat kompleks meningkatkan detergensi jenis deterjen sabun. Jika sepotong kain telah tertanam di dalamnya sejumlah kalsium dalam bentuk sabun kalsium larut, molekul fosfat kembali melarutkan kalsium, natrium rilis yang kembali menggabungkan dengan molekul sabun, dan dengan demikian melahirkan sabun bisa digunakan. Hal ini dicapai dengan natrium menggabungkan dengan anion asam lemak dari molekul sabun.

2.7 Anti Foam Antifoams adalah bahan kimia yang dirancang untuk mencegah pembentukan busa. Antifoams dapat ditambahkan ke solusi sebelum gejala berbusa terjadi, tetapi biasanya suntikan berlangsung sebagai respon. Antifoam yang disuntikkan akhirnya mencairkan seluruh persediaan solusi untuk mencegah generasi busa. Efisiensi tergantung pada kimia solusi massal, kondisi operasi dan agen aktif permukaan (surfaktan) menciptakan busa. Yang paling produktif antifoams secara tradisional telah sinergis campuran cairan dan padatan hidrofobik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja anti foam adalah : 1. Kelarutan Antifoams paling menunjukkan kelarutan sangat rendah dalam larutan air.

2. Droplet ukuran tetesan antifoam yang berfungsi untuk memasuki dinding gelembung. Umumnya meningkat seiring antifoam tetesan menjadi lebih kecil. 3. Kehadiran padatan hidrofobik Campuran cair / padat biasanya lebih efektif daripada komponen yang biasa digunakan. 4. Lingkungan geser Beberapa antifoams dinonaktifkan oleh geser. Hal ini terutama disebabkan oleh pemisahan padat / cair, dan tetesan antifoam terlalu kecil untuk jembatan lamellae gelembung. Geser juga memainkan peran utama dalam perbedaan antara ketegangan permukaan dinamis dan keseimbangan. Jika daerah antarmuka meningkat lebih cepat dari molekul surfaktan, tegangan permukaan dinamis akan lebih tinggi. Kesrtimbangan teagangan permukaan merupakan film surfaktan jenuh sepanjang antarmuka daerah. Dinamika yang sama berlaku untuk mempengaruhi kemampuan surfaktan antifoaming untuk menduduki antarmuka daerah. 5. Paparan berulang berbusa Seringkali, pemaparan berulang terjadi terhadap busa. Kemampuan antifoam untuk menghambat pembentuka terjadi karena pemisahan padatan hidrofobik dan ukuran tetesan berkurang. Percobaan goyang

Beberapa tes telah menunjukkan bahwa beberapa antifoams secara bertahap kehilangan kemampuan mereka antifoaming. 6. Konstituen kimia Bersaing Lain dengan konstituen kimia aktif permukaan yang telah ditemukan

untuk menempati daerah antarmuka dan mengurangi pengaruh antifoams. Inilah salah satu alasan mengapa beberapa antifoams bekerja lebih baik di lingkungan geser tinggi dimana gas - antarmuka cair yang terus-menerus terbentuk, dan tidak begitu baik ketika ditambahkan ke busa yang ada. Kehadiran co-surfaktan antifoam juga dapat menyebabkan penghambatan. 7. Konsentrasi Surfaktan

Konsentrasi surfaktan yang lebih tinggi cenderung mengurangi efektivitas antifoam oleh meningkatkan angkatan entri yang diperlukan untuk menjembatani film antarmuka. 8. Spesies garam terlarut dan konsentrasi Kehadiran ion logam valensi tinggi mengurangi antifoam efektivitas. Counter-ion mengelilingi ujung kutub dari molekul surfaktan, mengurangi mereka elektrostatik interaksi dengan molekul surfaktan lainnya dalam film tersebut.

2.8 Foam Buster Umumnya pada deterjen anionik ditambahkan zat aditif lain (builder) seperti golongan ammonium kuartener (alkyldimetihylbenzyl-ammonium cloride, diethanolamine/ DEA), chlorinated trisodium phospate (chlorinated TSP) dan beberapa jenis surfaktan seperti sodium lauryl sulfate (SLS), sodium laureth sulfate (SLES) atau linear alkyl benzene sulfonate (LAS). Golongan ammonium kuartener ini dapat membentuk senyawa nitrosamin. Senyawa nitrosamin diketahui bersifat karsinogenik, dapat menyebabkan kanker. Senyawa SLS, SLES atau LAS mudah bereaksi dengan senyawa golongan ammonium kuartener, seperti DEA untuk membentuk nitrosamin. SLS diketahui menyebabkan iritasi pada kulit, memperlambat proses penyembuhan dan penyebab katarak pada mata orang dewasa. Senyawa SLES (sodium lauryl ether sulfonate) adalah senyawa dibuat dari bahan lauryl ether (C12) dan oleum. Jika persenyawaan lauryl ( C12) ini digunakan pada shampoo, bahan ini menghasilkan busa sekaligus meningkatkan stabilitas busa, meningkatkan kekuatan pencucian, dan memiliki kekentalan yang stabil. Penggunaan oleum pada pembuatan shampoo ini hanya dimaksudkan untuk membantu proses pada pembuatan sodium lauryl ether sulfonate yaitu pada proses sulfonasi. Sifat-sifat umum SLES adalah sebagai berikut : 1. 2. Merupakan surfaktan anionic sebesar 68%-73% Memiliki pH sebesar 7.0-9.0

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Mengandung sodium sulfat sebesar 1 % Mengandung sodium klorida sebesar 0.1 % Mengandung dioksan sebesar 30 ppm Merupakan pasta berwarna kuning transparan Dibuat dari fatty alcohol Biasanya digunakan sebagai surfaktan pada pembersih dalam bahan alcohol

2.9 Densitas Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda, semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya besi) akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air). Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Rumus untuk menentukan massa jenis adalah ρ = m/v, satuan SI : kg/m3. Nilai massa jenis suatu zat adalah tetap, tidak tergantung pada massa maupun volume zat, tetapi tergantung pada jenis zatnya, oleh karenanya zat yang sejenis selalu mempunyai masssa jenis yang sama. Massa jenis zat dapat dihitung dengan membandingkan massa zat (benda) dengan volumenya. Massa jenis merupakan salah satu ciri untuk mengetahui kerapatan zat. Pada volume yang sama, semakin rapat zatnya, semakin besar massanya. Sebaliknya makin renggang, makin kecil massa suatu benda. Contoh : kubus yang terbuat dari besi akan lebih besar massanya dibandingkan dengan kubus yang terbuat dari kayu, jika volumenya sama. Pada massa yang sama, semakin rapat zatnya, semakin kecil volumenya. Sebaliknya, semakin renggang kerapatannya semakin besar volumenya. Contoh : volume air lebih besar dibanding volume besi, jika massa kedua benda tersebut sama.

2.10 Viskositas Setiap zat cair mempunyai karakteristik yang khas, berbeda satu zat cair dengan zat cair yang lain. Oli mobil sebagai salah satu contoh zat cair dapat kita lihat lebih kental daripada minyak kelapa. Apa sebenarnya yang membedakan cairan itu kental antara satu bagian dan bagian yang lain dalam fluida. Dalam fluida yang kental kita perlu gaya untuk menggeser satu bagian fluida terhadap yang lain. Di dalam aliran kental kita dapat memandang persoalan tersebut seperti tegangan dan regangan pada benda padat. Kenyataannya setiap fluida baik gas maupun zat cair mempunyai sifat kekentalan karena partikel di dalamnya saling menumbuk. Bagaimana kita menyatakan sifat kekentalan tersebut secara kuantitatif atau dengan angka, sebelum membahas hal itu kita perlu mengetahui bagaimana cara membedakan zat yang kental dan kurang kental dengan cara kuantitatif. Salah satu alat yang digunakan untuk mengukur kekentalan suatu zat cair adalah viskosimeter (http://belajarviskositas.blogspot.com/). Viskositas adalah gesekan internal fluida. Gaya viskos melawan gerakan sebagian fluida relatif terhadap yang lain. Efek visko merupakan hal yang penting di dalam aliran fluida dalam pipa, aliran darah, pelumasan bagian dalam mesin, dan contoh keadaan lainnya. Viskositas adalah suatu pernyataan “tahanan untuk mengalir” dari suatu sistem yang mendapatkan suatu tekanan. Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu. Viskositas dispersi koloidal dipengaruhi oleh bentuk partikel dari fase disperse.

2.11 Surfaktan Encanhed Oil Recovery Surfactant flooding merupakan salah satu metode dalam proses Enhanced Oil Recovery (EOR). Surfaktan yang telah banyak dimanfaatkan adalah surfaktan yang berbasis petroleum product. Dengan semakin tingginya harga minyak dunia dan perhatian dunia terhadap persoalan-persoalan lingkungan maka diperlukan surfaktan yang berbasis renewable resources, seperti Methyl Ester Sulfonate

(MES). Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi surfaktan MES dari ester metil CPO dengan nilai IFT rendah. Pelaksanaan penelitian ini meliputi : 1. proses produksi MES, yaitu sulfonasi ester metil dengan H2SO4, metanolisis dan netralisasi dengan larutan NaOH, 2. 3. penentuan kondisi optimum proses sulfonasi, pengujian kinerja MES di dalam core. Variasi yang digunakan pada penelitian ini adalah bahan baku, temperatur, dan lama sulfonasi. MES dapat bekerja dengan baik di dalam core pada nilai IFT yang sangat kecil dan konsentrasi yang tinggi. Konsentrasi MES tinggi bila perolehannya pada sulfonasi ME besar. Pada temperatur dan lama sulfonasi yang sama, MES dari ME 28 memiliki kualitas yang lebih bagus daripada MES dari ME 60. Untuk ME yang sama (ME 60), perolehan yang besar terjadi pada temperatur reaksi yang paling tinggi dari variasi yang digunakan, yaitu 90˚C. Sulfonasi terjadi secara optimum pada waktu sulfonasi 1 jam. Ada tiga macam teknik EOR yang umum: 1. Teknik thermal Menginjeksikan fluida bertemperatur tinggi ke dalam formasi untuk menurunkan viskositas minyak sehingga mudah mengalir. Dengan

menginjeksikan fluida tersebut, juga diharapkan tekanan reservoir akan naik dan minyak akan terdorong ke arah sumur produksi. Merupakan teknik EOR yang paling popular. Seringnya menggunakan air panas (water injection) atau uap air (steam injection). 2. Teknik chemical menginjeksikan bahan kimia berupa surfaktan atau bahan polimer untuk mengubah properti fisika dari minyak ataupun fluida yang dipindahkan. Hasilnya, minyak dapat lebih mudah mengalir. 3. Proses miscible Menginjeksikan fluida pendorong yang akan bercampur dengan minyak untuk lalu diproduksi. Fluida yang digunakan misalnya larutan hidrokarbon, gas hidrokarbon, CO2 ataupun gas nitrogen.

Surfaktan untuk enhanced oil recovery sangat banyak, seperti sulfat alkoksi alkohol dan olefin sulfonat internal. Produk berkisar sifat fisik dari cairan viskositas rendah untuk pasta, tergantung pada konsentrasi% aktif dan jenis surfaktan ENORDET. ENORDET surfaktan Tertentu (s) perlu dipilih dan disesuaikan dengan kondisi reservoir (suhu, air salinitas dan konsentrasi ion divalen; jenis minyak mentah) untuk mencapai kinerja yang optimal oil recovery ditingkatkan. Pencocokan surfaktan untuk waduk ENORDET surfaktan. Diagram menunjukkan bagaimana ENORDET surfaktan mencakup rentang suhu dan salinitas yang bervariasi kondisi di waduk. Ada dua kelompok luas dalam rentang surfaktan ENORDET: yang sulfonat - surfaktan suhu yang lebih tinggi untuk digunakan dalam waduk dari suhu ambien hingga 140° C para sulfat - dengan stabilitas yang lebih terbatas, produk ini terbatas untuk reservoir bawah 60° C. Struktur internal dan olefin (untuk surfaktan berbasis alkohol) bagian alkohol dan alkoksi dari molekul dapat dimodifikasi untuk mengoptimalkan surfaktan untuk bekerja di reservoir salinitas yang berbeda, seperti yang ditunjukkan oleh bar horizontal pada tabel. Individu ENORDET nilai surfaktan dapat dicampur antar-untuk mencocokkan salinitas reservoir tertentu, misalnya, untuk mencocokkan dengan salinitas yang berada dalam kesenjangan antara bar. Kombinasi surfaktan ENORDET pekerjaan komplementer.

Sumber : http://enordet.com/surfactant encanhed oil recovery/

Gambar 2.11.1 Kombinasi surfaktan ENORDET

Enhanced oil recovery terdiri dari sekelompok teknologi yang dirancang untuk meningkatkan pemulihan minyak dari reservoir minyak. Ketika ladang minyak mencapai akhir hidup normal, sebagian besar minyak (sebanyak dua pertiga) yang tersisa di tanah karena terlalu sulit atau terlalu mahal untuk keluar. Diperkirakan bahwa dengan memulihkan hanya 1% tambahan di seluruh dunia, setara 20-30 milyar barel minyak akan tersedia. Surfaktan berbasis enhanced oil recovery menggunakan surfaktan, polimer dan alkali (biasanya) untuk meningkatkan pemulihan minyak. Shell Chemicals membangun pengalaman panjang di bidang manufaktur surfaktan untuk mengembangkan dan memproduksi surfaktan yang tinggi minyak melakukan pemulihan ditingkatkan.

Bagaimana surfaktan ENORDET digunakan. Dalam surfaktan berbasis enhanced oil recovery, reservoir minyak dibanjiri oleh pemompaan dalam air yang mengandung persentase kecil dari surfaktan (s). Surfaktan (s) mengatasi gaya kapiler alami dengan menurunkan ketegangan minyak / air mentah antarmuka (IFT) ke tingkat ultra-rendah yang memungkinkan tetesan minyak (ganglia) dalam reservoir mengalir melalui poripori batuan dan menyatu untuk membentuk sebuah bank minyak bersih. Untuk mencapai hal ini, surfaktan tertentu (s) perlu dipilih dan disesuaikan dengan kondisi reservoir tertentu suhu air salinitas dan konsentrasi ion divalen minyak mentah jenis sumur minyak. Pemilihan struktur kimia yang benar dari surfaktan (s) adalah penting untuk mencegah pembentukan emulsi viskositas yang lebih tinggi, yang jika tidak akan menjadi terjebak dan mencegah transportasi yang efektif dari solusi surfaktan melalui reservoir. Alkali sering ditambahkan ke larutan surfaktan (s) untuk meningkatkan efisiensi. Alkali tidak menghasilkan surfaktan alami

tambahan melalui reaksi dengan asam dalam minyak mentah dan mengurangi penyerapan surfaktan pada permukaan batu. Sebuah polimer larut air biasanya ditambahkan untuk meningkatkan viskositas fase air.

Surfaktan polimer alkali (ASP) siput biasanya diikuti dengan menenggak larutan polimer yang bertindak sebagai piston untuk mendorong minyak kembali melalui reservoir ke sumur produksi. Setelah dimobilisasi, minyak mengalir keluar dari reservoir dengan cara yang berhubungan dengan bagaimana deterjen konvensional pergeseran tanah dari pakaian dan membawanya pergi dalam air limbah.

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat-alat 1. Tiga buah wadah plastik 2. Pengaduk kayu atau plastik 3. Gelas ukur 4. Timbangan 5. Botol aqua 800 ml

3.2 Bahan-bahan 1. LABS 2. SLS 3. NaOH 4. Aquadest 5. Parfum 6. Pewarna makanan

3.3 Prosedur Percobaan 3.3.1 Pembuatan larutan NaOH 40%  Timbang 10 gram NaOH Kristal kedalam cawan petri  Ambil aquadest 11,25 ml, lalu masukan ke dalam gelas ukur  Masukkan 10 gram NaOH ke dalam wadah lalu masukkan air sedikit demi sedikit  Aduklah hingga NaOH larut

3.3.2 Pembuatan LABSNa  Timbang LABS 60 gram kedalam gelas piala  Timbang NaOH sebanyak 20 gram dari larutan NaOH (a)  Sediakan aquadest sebanyak 120 ml dalam gelas ukur

 Masukkan sebagian aquadest kedalam wadah yang berisi larutan NaOH  Masukkan LABS sedikit demi sedikit ke dalam wadah yang berisi larutan NaOH dan aquadest sambil diaduk perlahan hingga homogen  Larutan yang telah diaduk tersebut merupakan larutan LABSNa

3.3.3 Buat larutan SLS  Timbang SLS sebanyak 10 gram didalam cawan petri.  Ukurlah 50 ml aquades didalam gelas piala  Campurkan SLS dan aquades 50 ml dan aduk hingga homogen  Tambahkan parfum dan warna secukupnya

3.3.4 Pembuatan Sampo  Ambil larutan LABSNa sebanyak 140 gram dari larutan (b)  Campurkan larutan LABSNa dengan larutan (c)  Aduk hingga homogen kemudian disaring  Shampo siap dan dimasukkan kedalam botol

3.3.5 Uji Viskositas  Botol aqua yang bervolume 800 ml di potong menjadi dua bagian  Pada bagian tutup di beri lubang dengan diameter 1 mm  Bagian tutup botol di letakkan pada posisi bawah  Tutup lubang pada penutup aqua dengan jari lalu masukkan 10 ml sampo  Setelah itu jari dilepaskan, hitung waktu yang dibututhkan sampo untuk keluar dari botol  Dengan cara yang sama gunakan kit lalu hitung waktu yang dibutuhkan kit untuk keluar dari botol

3.3.6 Uji berat jenis (densitas)  Timbang gelas ukur yang kosong  Kemudian masukan 10 ml sampo ke dalam gelas ukur  Hitung berat gelas ukur dan berat sampo pada timbangan analitik  Hitung berat jenis sampo dengan cara: berat gelas ukur dan sampo yang telah ditimbang di kurang berat gelas ukur kosong dibagi dengan volume sampo yang ditimbang.

3.3.7 Tes aplikasi  Masukan aquadest pada gelas ukur sebanyak 10 ml  Masukkan minyak 5 ml kedalam gelas ukur tersebut  Masukan 5 tetes shampo pada gelas ukur, hitung jatuhnya tetesan shampo dimulai dari permukaan minyak sampai melewati perbatasan minyak dengan aquadest  Hal yang sama lakukan pada KIT

3.4 Rangkaian Alat
NaOH 22,23 gr H2O 25 mL LABS 60 gr H2O 60 mL SLS 10 gr

H2O 120 mL

Pengharum secukupnya Laruta n SLS

Pewarna secukupnya

Larutan NaOH 20 gr

Larutan LABS

Larutan SLS

LABSNa 130 gr

Sham po

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
 Pembuatan Larutan NaOH 40% Pada pembuatan larutan NaOH dengan cara pengenceran diketahui bahwa larutan NaOH mengeluarkan hawa panas. Hawa panas yang keluar ini menjadi tanda bahwa NaOH memiliki sifat eksoterm dikarenakan sifat basa nya.  Pembuatan LABSNa Campuran LABSNa ini dibuat dengan cara mencampurkan NaOH, aquades dan LABS secara perlahan, Dalam pengadukan LABS dan NaOH yang telah dicampur dengan aquades akan ditimbulkan busa. Timbulnya busa ini merupakan bukti bahwa LABS merupakan surfaktan yang bisa menghasilkan busa ketika bersatu dengan air dan diberi suatu gerakan pengadukan.  Pembuatan Shampo Shampo yang telah jadi memiliki pembusaan yang bagus, hal ini benar-benar membuktikan bahwa LABS merupakan surfaktan yang kinerjanya bertambah dengan bantuan SLS. Terbukti busa yang dihasilkan dalam pengadukan menjadi lebih banyak. Efektifitas pencucian dari shampo juga bagus karena ditambahkannya NaOH sebagai builder yang meningkatkan efektifitas pencucian.  Uji Viskositas Uji viskositas dilakukan dengan cara memasukkan 5 ml shampo hasil dan pembanding kedalam sebuah botol yang telah dilubangi tutupnya, kemudian botol dibalikkan secara bersamaan dan dihitung waktu yang dibutuhkan shampo hasil dan pembanding untuk keluar secara keseluruhan dari botol. Dari hasil uji viskositas diketahui bahwa sampo hasil percobaan memiliki viskositas atau kekentalan yang lebih tinggi dibanding dengan sampo motor atau mobil merk lain. Hal ini dapat diketahui dari perbandingan waktu yang berbeda dari kedua sampo. Sampo hasil percobaan butuh waktu lebih lama untuk keluar dari

dalam botol dibanding dengan sampo pembanding dengan perbedaan waktu sekitar 12 menit 26 detik.  Penghitungan Berat Jenis (densitas) Perhitungan densitas dilakukan dengan cara memasukkan shampo hasil sebanyak 10 ml kedalam gelas ukur, kemudian ditimbang dan hasilnya dikurangkan dengan berat gelas ukur kosong, hasilnya adalah berat dari shampo hasil. Setelah itu berat shampo dibagi dengan volume awal tadi dan didapatlah berat jenis atau densitas dari shampo hasil adalah sebesar 0,9582 gram/ml.  Tes Aplikasi Shampo hasil memiliki fektifitas pencucian yang bagus sehingga memenuhi syarat karakteristik surfaktan. Hal ini disebabkan adanya surfaktan yang memiliki sifat yang mampu menurunkan tagangan permukaan serta mengikat dan membersihkan kotoran (Bailey‟s, 1996).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan  Shampo yang dihasilkan dalam percobaan ini mengandung surfaktan yang dapat menurunkan tegangan permukaan sehingga dapat menarik lemak atau minyak yang melekat pada objek yang akan dibersihkan.  Berat jenis yang dihasilkan pada shampo percobaan adalah sebesar 0,9582 gram/ml.  Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa shampo hasil percobaan telah memenuhi karakteristik surfaktan.

5.2 Saran Objek yang akan digunakan untuk uji aplikasi harusnya disamakan dengan kelompok lain agar terlihat perbandingan efektifitas pencucian dari shampo yang di buat dengan kelompok lain. Objek tersebut misalnya :     Penutup rantai pada sepeda motor yang biasanya banyak terdapat noda oli hasil cipratan dari rantai Bagian bawah pintu mobil Shock Breaker depan sepeda motor Bagian bawah mesin motor

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. DYNAX Fluorosurfactants untuk Coating dan Aplikasi Tinta. http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://ww w.dynaxcorp.com/technology/coating.html. Diakses pada 18 Desember 2011 Anonim. Surfactant Enccanhed Oik Recovery. http://enordet.com/surfactant encanhed oil recovery/. Diakses pada 6 Desember 2011 Anonim. Boraks. http://sarikartika99.wordpress.com/tag/boraks/. Diakses pada 16
Desember 2011

Anonim. Sejarah Penemuan Tinta. http://irengputih.com/sejarah-penemuantinta/1418/. Diakses pada 16 Desember 2011 Anonim. Kenapa Tinta Bisa Clogging. http://tinta-yogyakarta.blogspot .com/2011/08/kenapa-printer-bisa-clogging.html. Desember 2011 Anonim. 2009. Peranan Surfaktan pada Proses Deinking Flotation http://gladyza.blogspot.com/2009/04/peranan-surfaktan-pada-prosesdeinking.html. Diakses pada 16 Desember 2011 Anonim. 2009. Builder dan Aditif Dalam Deterjen. http://majarimagazine.com /2009/06/builder-dan-aditif-dalam-deterjen/. Diakses pada 4 Desember 2011 Anonim. 2010. Natrium Chlorida. http://datachem.blogspot,com/2010/11/ natrium-klorida-juga-dikenal-sebagai.hmtl, Diakses pada 16 Desember 2011 Anonim. 2010. Viskositas. http : //www.gurumuda.com/viskositas. Diakses pada 4 Desember 2011 Bailey, A. E, 1996. “Industrial Oil and Fat Products”, Interscholastic Publishing, Inc, New York. Dinda. 2008. Teori Tentang Sampo. http://medicafarma.blogspot.com/2008/05 /teori-tentang-sampo_11.html, (diakses 16 November 2011). Diakses pada 16

Elefani, Dinda. 2008. Produksi Metil Ester Sulfonat untuk Surfaktan. http:// majari magazine.com/2008/05/produksi-metil-ester-sulfonat-untuk-surfaktan (diakses 16 November 2011). Hayan, Ibnu. 2008. Pengertian Surfaktan http://ibnuhayyan. wordpress.com/2008 /09/10/surfaktan/. Diakses pada 10 November 2010. HZ, Nirwana, Irdoni. HS. 2011. Modul Praktikum Kimia Organik. Pekanbaru: Fakultas Teknik UR. San Lohat Lasar, Alexander. 2009. Viskositas. http://www. gurumuda.com/viskos itas/cairan. Diakses pada 28 November 2011. Marrakchi S, Maibach HI (2006). Sodium Lauryl Sulfate-Induced Irritation in the Human Face: regional and age-related differences Zhao, Yulin, and J.Y. Zhu, (2004), Paper Recycling, Vol. 14, No. 1, November 2004, USA

LAMPIRAN A DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Tabel A.1 Hasil Pengamatan No 1 2 Bahan 10 gr NaoH + 11,25 ml aquadest Hasil Pengamatan Larutan berwarna bening berwarna coklat

20 gram NaOH + 120 ml aquadest + Larutan 60 gram LABS LABSNa

kehitaman agak kental dan ada sedikit busa

4

50 ml aquades + 10 gram SLS Larutan SLS

Larutan erwarna bening

5

140 gram LABSNa + larutan SLS + Shampo telah terbentuk dengan parfum + pewarna (essens pandan) warna hijau pekat Beda waktunya 12 menit 26 detik (KIT lebih dulu) ρ shampo buatan = 0,9582 gr/ml 10 ml Waktu shampo buatan turun = 2

6

Uji viskositas shampo dan KIT 10 ml

7 9

Uji densitas shampo Uji aplikasi, campuran

aquadest + 5 ml minyak ditetesi menit 56 detik masing-masing 5 tetes shampo dan Waktu shampo kit turun = 20 KIT menit 21 detik

Perhitungan membuat larutan NaOH 40% Larutan NaOH Mol NaOH = 10 gram = =
gram Mr 10 gram 40

= 0,25 mol Volume Aquades Volume Aquades = =
mol NaOH X Mr Aq %NaOH 0,25 x 18 0,4

= 11,25 ml

Perhitungan massa jenis sampo

ρsampo buatan

= =

massa gelas ukur dan shampo −massa gelas ukur kosong Volume shampo 65,823 gram − 56,241 gram 10 𝑚𝑙

= 0,9582 gr/ml
−massa ρsampo pembanding = massa gelas ukur dan shamposhampo gelas ukur kosong Volume

=

65,789−56,241 10 𝑚𝑙

= 0,9548 gr/ml

LAMPIRAN B DOKUMENTASI PRAKTIKUM

Bahan Baku dan Alat

Campuran LABS dan NaOH

Pengambilan LABSNa 140 gram

Campuran SLS, pewarna, dan parfum

Pencampuran LABSNa dengan

Shampo yang telah jadi

campuran SLS, pewarna dan parfum

Uji Viskositas

Tes Aplikasi

LAMPIRAN C TUGAS
Fungsi Surfaktan pada Tinta Surfaktan adalah surface aktif agent yang berguna untuk menurunkan tegangan permukaan dari pelarut di dalam tinta. Aktifitas utama adalah sebagai agen penstabil untuk penyebaran pigmen. Selain itu surfaktan juga memiliki fungsi sebagai sebagai wetting agent (agen pembasah), menjaga agar tegangan permukaan air tetap rendah sehingga tinta dapat beraksi lebih leluasa dengan substrat. Surfaktan yang biasa digunakan dalam tinta adalah : 1. 2. DYNAX Fluorosurfactants Dodecyl Octa Ethylen Glykol

DYNAX Fluorosurfactants untuk Coating dan Aplikasi Tinta DYNAX telah mengembangkan Seri DX4000 dari fluorosurfactants dengan kinerja tinggi untuk industri pelapis dan tinta serta aplikasi industri lain di mana keunggulan dan sifat meratakan diperlukan. DYNAX DX4000

fluorosurfactants dirancang untuk menyediakan tegangan permukaan serendah mungkin dalam media air yang lebih cepat daripada fluorosurfactants lainnya di pasar. Aspek ketegangan dinamis dari permukaan surfaktan sangat penting, terutama untuk aplikasi yang membutuhkan waktu-kritis proses seperti lukisan semprot, pelapisan dengan kecepatan tinggi, ink-jet, percetakan, dll. DYNAX DX4000 fluorosurfactants semuanya berbasis air dan tidak mudah terbakar. Mereka juga dirancang untuk meminimalkan masalah pembusaan pada tinta dan masalah serius lainnya dalam penggunaan surfaktan lain untuk coating dan aplikasi tinta. Pembusaan dapat menyebabkan cacat permukaan, seperti lubang jarum, dan hilangnya gloss serta kejelasan dari tinta yang dugunakan. Defoamers biasanya digunakan untuk meminimalkan generasi busa, namun dalam beberapa kasus defoamers dapat menyebabkan cacat permukaan lainnya yang tidak diinginkan seperti kawah. Dalam hal ini DYNAX DX4000 fluorosurfactants

dapat melakukan hal yang lebih baik dengan sifat tegangan permukaanya yang jauh labih baik dari defoamers. DYNAX DX4000 fluorosurfactants juga sangat memebantu dalam hal pembasahan kertas yang disemprotkan tinta yang mengandung surfaktan ini. Tinta cenderung menyebar saat jatuh di atas permukaan kertas, dengan adanya surfaktan DYNAX DX4000 fluorosurfactants yang memiliki tergangan permukaan yang bagus, maka tinta tidak akan menyebar dan dengan cepat membasahi kertas serta meresap kedalam permukaan kertas.

Sumber : http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_material /ink-jet-ink-tinta-nge-print-berkualitas/

Gambar C.I Mekanisme Pembasahan Tinta Pada Kertas

Masalah yang sering terjadi dari printer adalah Clogging alias mampet pada head printer itu disebabkan oleh kandungan fixatif dan surfaktan pada cairan tinta yang sudah tidak proposional lagi, pemakaian fixatif dan surfaktan sangat diperlukan dalam pembuatan tinta. Fixatif berfungsi untuk melancarkan keluarnya tinta melalui head katrid, sedangkan Surfaktan berfungsi mengontrol tinta saat jatuh pada permukaan kertas agar tidak terlalu meleber dan menembus kertas hingga kebelakang sebelum tinta mengering. Surfaktan yang berlebihan atau lebih banyak dari fixatif itulah yang menyebabkan Clogging, karena tinta sebagian mengering saat baru saja keluar dari lubang nozzle head, jika berlangsung terus-menerus akan menyumbat lubang

Nozzle. Tapi dengan adanya surfaktan DYNAX DX4000 fluorosurfactants dalam tinta, hal itu akan teratasi. DYNAX DX4000 fluorosurfactants memiliki sifat tegangan permukaan yang bagus dan sudah diformulasikan untuk tidak terlalu cepat mengering atau terlalu lama mengering. Sedangkan kelebihan fixatif atau lebih banyak dari surfaktan akan menyebabkan tinta encer dan meleber kemanamana, bahkan saat tidak digunakanpun menetes melalui head printer, inilah yang disebut dengan Wicking.

Peranan Surfaktan Dodecyl Octa Ethylen Glykol pada Proses Deinking Flotation Surfaktan Dodecyl Octa Ethylen Glykol merupakan zat pengaktif permukaan yang banyak digunakan dalam berbagai proses industri dan pembuatan produk. Salah satu fungsi dari sistem surfaktan Dodecyl Octa Ethylen Glykol ini adalah untuk membersihkan partikel tinta dari serat kertas, menstabilkan partikel, mengagregasi partikel-partikel yang tersebar dan atau memodifikasi sifat permukaan pada pembersihan partikel tinta, dan untuk meningkatkan pembersihan tinta pada tahap flotasi. Meskipun dispersan dan collector tidak perlu digunakan dalam beberapa pulp, frother atau foaming agent banyak digunakan untuk menghasilkan lapisan busa yang stabil untuk membersihkan partikel-partikel tinta. Surfaktan yang digunakan dalam deinking (penghilangan/pembersihan tinta) dapat dikategorikan sebagai foaming agent/frother, dispersan, kolektor (collector), dan defoamer. Kebanyakn surfaktan meiliki peran ganda dan dapat memeberikan efek positif atau negatif pada proses drinking. Karena itulah, formulasi surfaktan untuk flotasi deinking pada kertas daur ulang memerlukan beberapa aspek untuk dipertimbangkan.

Penggunaan Surfaktan Dodecyl Octa Ethylen Glykol dalam Flotasi Penghilangan Tinta Meskipun nilai HLB, titik kekeruhan, konsentrasi misel kritis (CMC), dan struktur yang detail merupakan parameter yang digunakan untuk karakterisasi surfaktan, hal-hal tersebut tidak dapat digunakan sebagi faktor utama dalam

memilih sebuah surfaktan untuk flotasi penghilangan tinta. Kondisi penghilangan tinta, seperti kesadahan air, pH, dan temperatur, berbeda dalam setiap kertas daur ulang. Sebagai hasilnya, sebuah formulasi surfaktan yang bekerja dengan baik pada satu proses dapat bekerja pada proses lainnya (Zhao, 2004). Agen Dispersi dan Agen Anti-Redeposisi Dispersan berperan dalam pemisahan partikel-partikel tinta dari permukaan serat dan menghindari redeposisi pada pemisahan partikel tinta pada serat selama flotasi penghilangan tinta. Surfaktan nonionik seperti, alkohol linear etoksilat, alkil fenol etoksilat, asam lemak etoksilat, oligoetilen-oksida alkil eter, dan polietilenoksida alkil eter, secara luas digunakan dalam gilingan penghilangan tinta sebagai dispersan karena mereka dapat berfungsi secara mandiri, mereka tidak dipengaruhi oleh kesadahan air, dan bagian hidrofilik-hidrofobiknya dapat menjadi sangat mudah dikendalikan melalui sintesis kimia (Zhao, 2004). Dispersan dapat menurunkan tegangan permukaan pada media bubur kayu, dengan demikian dapat meningkatkan kemampuan pembasahan

(wettability) pada tinta pelapis serat dan mempermudah pelepasan tinta pada serat. Rao dan Stenius serta Pirttinen dan Stenius menyatakan bahwa surfaktan nonionik, seperti polietilenoksida alkil eter dan senyawa yang dimodifikasi pada jenis surfaktan ini, mampu membantu pelepasan pencetakan partikel-partikel tinta dari kertas koran. Dispersan dapat melarutkan pertikel-partikel tinta yang lepas dan membuat emulsi satbil yang tidak dapat kembali dengan cepat ke serat. Kerena dispersan menyediakan partikel-partikel tinta dengan kimia permukaan pelarutan sebagai penyerap surfaktan, jenis bahan kimia ini dapat memberi pengaruh interaksi yang kurang baik dengan kompleks sabun kalsium hidrofobik dan terjadi pada efisiensi flotasi yang sangat rendah. Sehingga, dispersan harus digunakan secara hati-hati dalam sistem flotasi yang menggunakan sabun asam lemak sebagai pengumpul (collector) (Zhao, 2004). Salah satu penggunaan surfaktan yang umum dalam proses flotasi penghilangan tinta adalah sabun asam lemak. Secara umum, asam lemak bereaksi dengan on kalsium dalam sistem membentuk sabun kalsium dan teradsorb ke dalam permukaan tinta dan memeberikan aksi sebagai collector. Sistem sabun

asam lemak pada umumnya merupakan dispersan yang tidak baik. Sistem tersebut dapat berfungsi sebagai dispersan hanya jika terdapat asam lemak bebas dalam suspensi pulp (Zhao, 2004).

Pengumpul (Collector) Seperti nama yang telah disebutkan, funsi dari collector adalah untuk mengagregasi partikel-partikel tinta yang sangat kecil yang dilepaskan dari serat melalui pulping action. Partikel-partikel ini menjadi lebih efisien untuk dibersihkan melalui penikan gelembung udara yang diinjeksikan oleh unit flotasi. Range ukuran pertikel optimal untuk flotasi penghilangan tinta adalah 10 sampai 100 µm. akan tetapi, sebelum collector ditambahkan kebanyakan partikel tinta ukurannya jauh lebih kecil dari 10 µm. collector dapat dibuat dari bahan yang terbentuk secara alami, seperti sabun asam lemak, secara sintetis seperti polietilen oksida dan kopolimer polipropilen oksida, dan campuran seperti asam lemak etoksilat, bahan-bahan tersebut diperlukan untuk menyeimbangkan efek pada collector di salah satu dispersan-dispersan tersebut dalam flotasi penghilangan tinta, ika menggunakan dispersan (Zhao, 2004). Asam lemak sering digunakan sebagai collector karena kemampuannya membentuk tinta-afinitif sabun dengan ion kalsium. Molekul amfoterik dengan 16-18 rantai karbon ini dihasilkan selama hidrolisis ester-NaOH (saponifikasi) pada aditif trigliserida. Gugus akhir asam siap untuk memebentuk kompleks denagn adanya ion kalsium dengan pulper untuk membentuk endapan sabun kalsium. Sabun ini akan secepatnya berikatan dengan partikel tinta yang lepas, dengan demikian membuat mereka hidrofobik. Penambahan ion-ion kalsium dengan media pulping memberikan netralisasi muatan pada partikel tinta. Kompleks sabun-tinta akan mengalami heterokoagulasi dengan kompleks yang hampir sama dan akhirnya dapat membentuk agregat partikel-partikel tinta dengan range ukuran kemampuan flotasi 10 sampai 100 µm. karena itulah, semua ukuran dari agregat heterokoagulat juga merupakan sebuah fungsi pengecilan gaya yang ada dengan pulper. Gaya ini mampu menganggu agregat yang lebih besar dan dengan demikian membuat ukuran rata-rata pertikel dengan sistem partikular.

Dalam hal ini juga ditemukan bahwa tanpa ikatan rangkap dalam rantai karbon pada asam lemak, seperti asam stearat, membantu pembersihan tinta dari serat (fungsi dispersi) ketika ada ikatan rangkap, seperti asam linoleat, membantu dalam flotasi fungsi collector. Formulasi dengan persentase asam stearat yang tinggi memberikan hasil flotasi penghilangan tinta yang terbaik (Zhao, 2004). Sekarang ini, sabun asam lemak secara luas digunakan dalam penghilangan tinta kertas koran dan majalah tua (ONP-OMG). Formulasi sabun kalsium-asam lemak sedang dipertimbangkan untuk menjadi sistem kolektor yang lazim dalam industri baru-baru ini, dan secara komersial tersedia agen penghilang tinta yang ditemukan. Meskipun formulasi sabun asam lemak secara luas digunakan dalam flotasi penghilangan tinta, ia masih memiliki efek yang tidak baik pada saat penghilangan tinta. Secara umum, ion-ion kalsium perlu ditambahkan untuk mengubah sabun asam lemak menjadi sabun kalsium. Karena itulah, ion-ion kalsium dipercaya dapat menyebabkan masalah deposisi pada mesin pembuat kertas dan peralatan lain dalam pabrik penghilang tinta (Zhao, 2004).

Frother (Penghasil Busa) Fungsi Frother adalah untuk membentuk lapisan busa di atas sel flotasi untuk pembersihan tinta. Penghasil busa/frother harus digunakan untuk menghasilkan lapisan busa yang stabil untuk membersihkan partikel tinta. Surfaktan nonionik Dodecyl Octa Ethylen Glykol secara luas digunakan sebagai frother dalam flotasi penghilangan tinta karena memiliki kemampuan berbusa dan funsi yang mandiri pada air sadah. Sistem asam lemak dapat berperan tidak hanya sebagai kolektor tetapi juga sebagai frother dan dispersan dalam flotasi penghilangan tinta hanya ketika terdapat sebagai asam lemak bebas dalam suspensi pulp (Zhao, 2004). Efisiensi pembersihan tinta tergantung pada beberapa faktor seperti kemampuan untuk memisahkan partikel tinta dari serat kertas, kemungkinana adanya tebrakan antara partikel tinta dengan permukaan gelembung udara, dan kontak permukaan yang spesifik antara partikel tinta dengan gelembung udara,

stabilitas busa pada pembersihan tinta tahap akhir, dan lain-lain. Seperti yang sudah diketahui, kimia permukaan memiliki peran utama dalam flotasi penghilangan tinta. Efisiensi pembersihan tinta meningkat dengan meningkatnya stabilitas busa. Ketidakbaikannya adalah saat peningkatan konsentrasi frother dalam suspensi pulp dapat meningkatkan adsorpsi surfaktan oleh partikel tinta sehingga hanya sedikit tinta yang mampu dibersihkan. Karena itu harus digunakan frother dengan konsentrasi yang optimum untuk penghilangan tinta yang efisien (Zhao, 2004). Terjebaknya serat kertas dalam jaringa gelembung udara secara fisik dan adhesi bagian hidrofobik dari serat pada permukaan gelembung udara berkontribuasi atas hilangnya sejumlah serat dalam flotasi penghilangan tinta. Kita juga menemukan bahwa hilangnya serat dan air secara langsung berhubungan dengan stabilitas dan struktur busa. Secara umum busa dengan struktur yang mengandung sedikit gelembung menyebabkan tingginya kadar serat dan air yang hilang (Zhao, 2004)

Defoamer atau Antifoamer Karena stabilitas busa, struktur busa, dan dinamika busa merupakan hal yang penting pada penghilangan tinta dan hilangnya serat dan air, terkadang ditambahkan suatu defoamer ke dalam bubur pulp untuk mengontrol stabilitas busa dan strukturnya. Penambahan defoamer dapat menekan pembentukan busa selama proses pembuatan kertas. Surfaktan HLB rendah dan partikel silika hidrofobik bercabang dengan sempurna yang terdispersi dalam minyak silikon merupakan defoamer yang efektif (Zhao, 2004).

Surfaktan sebagai Penyeimbang Tegangan Permukaan Kertas Kualitas cetak ditentukan oleh kualitas tinta yang digunakan. Tujuan utama dari setiap produsen Tintaprinter adalah untuk mengembangkan tinta yang dapat mencetak pada media multi dan tahan air, tahan lama, dan tahan pudar juga.

Tinta printer di cartridge Inkjet adalah salah satu cairan yang paling mahal di planet ini. Tinta ini dibuat dari kombinasi de-terionisasi air, baik pigmen atau pewarna, surfaktan suling, fungisida, biosida, humektan, resin, dan agen buffering. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi tampilan dari apa yang cetak adalah pewarnapigmen yang spesifik atau produsen menggunakan. Sebuah tinta printer dye berbasis awalnya akan menghasilkan kualitas cetak lebih tajam yang lebih cerah dalam warna daripada tinta pigmen berbasis. Namun tinta berbasis pewarna membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kering dan karena itu output sering mengaburkan. Pigmen printer inkjet tinta kering jauh lebih cepat daripada tinta berbasis pewarna. Untuk alasan ini mereka lebih cocok untuk tinta warna karena kabur disimpan ke minimum. Tinta pigmen juga memudar tahan, tahan air, dan kurang toksik dibandingkan tinta printer dye berbasis. Resin dalam tinta memastikan bahwa humektan tetap penguapan untuk minimum dan memastikan bahwa tinta melekat pada kertas. Surfaktan membantu menyeimbangkan tegangan permukaan kertas dan kertas sifat pembasahan.

Surfaktan sebagai agen pembasah atau penembus kertas Teknologi print dengan printer dot-matrik telah mulai banyak

ditinggalkan. Kini digantikan oleh teknologi baru yg memiliki kualitas hasil lebih baik, cepat dan relatif lebih tak bersuara, teknologi ink-jet printing. Ink-jet printing adalah proses print dimana tinta disemprotkan melalui lubang yg sangat kecil (orifice) untuk membentuk gelembung yang diarahkan ke media sehingga terbentuk gambar. Pada proses ini salah satu komponen yg menentukan adalah tintanya. Sifat kimia dan formulasi tinta menentukan kualitas gambar yg di-print. Selain itu sifat kimia dan formulasi tinta juga menentukan karakter penyemburan tetesan dan reliabilitas sistem printing. Berbagai jenis tinta telah dikembangkan dan digunakan dalam aplikasi ink-jet. Tinta printer yang secara umum saat ini banyak

digunakan adalah dengan pelarut air (aqueous/water-based ink), contohnya seri Hewlett-Packard DeskJet, Canon BJC, dan Epson Color Stylus. Perilaku tetesan tinta ketika jatuh di atas permukaan kertas biasa bisa dilihat pada gambar di bawah ini. Tinta cenderung menyebar sepanjang serat kertas dan masuk ke dalam ruah (bulk) kertas. Mekanisme pengeringan tinta berbahan dasar air tergantung penetrasi dan absorpsi. Terjadi sedikit penguapan air, tetapi pengeringan dengan cara ini seringkali sangat lambat. Perilaku ini menurunkan kerapatan warna dan resolusi tetesan pada kertas. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu tinta: 1. Agar diperoleh hasil printing yang baik maka disyaratkan tinta harus tidak menembus media terlalu dalam sehingga dapat terlihat dari balik kertasnya, penyebaran tinta yang terkontrol dan tidak ada pencampuran warna, tidak banjir, tidak memercik, tidak berkabut, halus (gloss), dan dapat print pada berbagai permukaan. 2. Dalam hal penyimpanan hasil print-nya maka tinta harus tahan air (waterfast, tidak luntur), tahan cahaya (lightfast, tidak mudah pudar), tahan gosok baik kering maupun basah, cepat kering dan waktu „setting‟ cepat. 3. Dalam hubungannya dengan kerja mesinnya maka tinta harus membentuk tetesan yang stabil, tidak terjadi seprotan yang melenceng, tidak membentuk kerak atau menyumbat lobang nozzle, langsung bisa digunakan setelah dimatikan, dan tidak mudah berbusa. 4. Dalam hal kompatibilitas dengan mesinnya maka harus tidak menyebabkan korosi pada „print head‟, tidak ada reaksi kimia dari sistem fluida, mudah dibersihkan dari bagian-bagian printer. 5. Dalam hal stabilitasnya maka tinta harus memiliki masa penyimpanan yang lama, tidak tumbuh mikroba, dan tidak berubah terhadap siklus pemanasan dan pembekuan. 6. Dalam hubungan dengan kesehatan dan keselamatan maka tinta harus tidak beracun, dan tidak mudah terbakar. 7. Dari persyaratan itu maka beberapa parameter kimia fisika yang penting pada tinta ink-jet adalah sebagai berikut: spektra absorpsi, viskositas, tegangan

permukaan (baik statis maupun dinamis), pH, konduktifitas listrik, densiti, tes „foaming‟, tes korosi, tes filtrasi, humektansi/redisolfabiliti, kecepatan penetrasi (Bristow), tes percepatan penuaan pada kenaikan temperatur, evaluasi terhadap rapatan optik, dan „show-through‟. Pada umumnya komposisi water-based tinta ink-jet adalah: air deionisasi yang berfungsi sebagai media pembawa dengan konsentrasi sekitar 60-90%, solven yang larut dalam air sebagai humektan atau pengontrol viskositas sebanyak 5-30%, pewarna atau pigmen untuk memberi warna kurang lebih 1-10%, surfaktan sebagai agen pembasah atau penembus sebanyak 0,1-10%, biosida untuk mencegah tumbuhnya materi biologi kurang lebih 0,05-1%, buffer untuk mengontrol pH tinta sebanyak 0,1-0,5%, dan aditif lain misalnya agen chelat, defoamer, solubiliser dan lain-lain dengan konsentrasi >1%. Viskositas tinta inkjet ini biasanya berada pada daerah 2 sampai 8 cps.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->