UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN

 3. pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau tanpa bantuan tambahan .  2. yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia. bahan baku pangan.termasuk bahan tambahan pangan. pengolahan.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN  Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :  1. dan atau pembuatan makanan dan minuman . sistem pangan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengaturan. . dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan. pembinaan dan atau pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi pangan dan peredaran pangan sampai dengan siap dikonsumsi manusia . pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati atau air baik yang diolah maupun tidak diolah.

 4. membuat. mengemas kembali Dan atau mengubah bentuk pangan . .  6. mengawetkan. produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan. menyiapkan mengolah. merugikan Dan membahayakan kesehatan manusia . pengangkutan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka memindahkan pangan dari satu tempat ke tempat lain dengan cara atau sarana angkutan apapun dalam rangka produksi. peredaran Dan atau perdagangan pangan . mengemas.  5. kimia dan benda lain yang dapat mengganggu. keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis.

dan kegiatan lain yang berkenaan dengan pemindahtanganan pangan dengan memperoleh imbalan . peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan manusia . peredaran pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran pangan kepada masyarakat. baik untuk diperdagangkan maupun tidak .  8. minuman.  9. termasuk penawaran untuk menjual pangan. 7. perdagangan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkain kegiatan dalam rangka penjualan dan atau pembelian pangan. sanitasi pangan adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan. .

lemak. 14. . iradiasi pangan adalah metode penyinaran terhadap pangan. baik dengan menggunakan zat radioaktif maupun akselerator untuk mencegahterjadinya pembusukan dan kerusakan serta membebaskan pangan dari jasad renik patogen . rekayasa genetika pangan adalah suatu proses yagn melibatkan pemindahan gen (pembawa sifat) dari suatu jenis hayati ke jenis hayati lain yang berbeda atau sama untuk mendaptkan jenis baru yang mampu menghasilkan produk pangan yang lebih unggul . kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan     atau membungkus pangan. 10. protein. gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat. baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak . 11. vitamin dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan Dan kesehatan manusia . mutu pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan. 12. kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanandan minuman . 13.

 18. setiap orang adalah orang perseorangan atau badan usaha. tulisan atau bentuk lain yang dilkaukan dengan berbagai cara untuk pemasaran dan atau perdagangan pangan . atau merupakan bagian kemasan pangan . . ditempelkan pada. baik yang berbentuk badan hukum maupun tidak. dimasukkan ke dalam. label pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar. iklan pangan adalah setiap keterangan atau pernyataan mengenai pangan dalam bentuk gambar. ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan berbagai rumahtangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup. 15. aman. atau bentuk lain yang disertakan pada pangan. merata dan terjangkau .  17. kombinasi keduanya. baik jumlah maupun mutunya.  16. tulisan.

tetapi belum diketahui dampaknya bagi kesehatan manusia.B A B II KEAMANAN PANGANBagian Pertama Sanitasi Pangan  (1) setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang menggunakan bahan apa pun sebagai bahan tambahan pangan yang dinyatakan terlarang atau melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan . wajib terlebih dahulu diperiksa keamanannya. .Pasal 11 Bahan yang akan digunakan sebagai bahan tambahan pangan.  (2) pemerintah menetapkan lebih lanjut bahan yang dilarang dan atau dapat digunakan sebagai bahan tambahan pangan dalam kegiatan atau proses produksi pangan serta ambang batas maksimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan penggunaannya dalam kegiatan atau proses produksi pangan untuk diedarkan dilakukan setelah memperoleh persetujuan Pemerintah.

keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan. . dan pemanfaatan metode rekaysa genetika dalam kegiatan atau proses produksi pengan.  (2) Proses perizinan penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi pangan yang dilakukan dengan menggunakan teknik dan atau metode iradiasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 14  (1) Iradiasi dalam kegiatan atau proses produksi pangan dilakukan berdasarkan izin Pemerintah . (1) setiap orang yang memproduksi pangan atau menggunakan bahan baku. pengembangan. bahan tambahan pangan. wajib memenuhi persyaratan kesehatan.  (2) Pemerintah menetapkan persyaratan dan prinsip penelitian. serta menetapkan persyaratan bagi pengujian pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika. dan atau bahan bantu lain dalam kegiatan atau proses produksi pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika wajib terlebih dahulu memeriksakan keamananpangan bagi kesehatan manusia sebelum diedarkan . penanganan limbah dan penaggulangan bahaya bahan radioaktif untuk menjamin keamanan pangan.

dan penggunaannya bagi pangan yang diedarkan dilakkan setelah memperolah persetujuan Pemerintah. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pangan yang pengadaannya dalam jumlah besar dan lazim dikemas kembali dalam jumlah kecil untuk diperdagangkan lebih lanjut. (3) Pemerintah menetapkan bahan yang dilarang digunakan sebagai kemasan pangan dan tata cara pegnemasan pangan tertentu yang diperdagangkan. Pasal 17 Bahan yang akan digunakan sebagai kemasan pangan. tetapi belum diketahui dampaknya bagi kesehatan manusia. . (1) Setiap orang dilarang membuka kemasan akhir pangan untuk dikemas kembali dan diperdagangkan . wajib terlebih dahulu diperiksa keamanannya. (2) Pengemasan pangan yang diedarkan dilakukan melalui tata cara yang dapat menghindarkan terjadinya kerusakan dan atau pencemaran .Kemasan pangan  Kemasan Pangan Pasal 16  (1) Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang       menggunakan bahan apapun sebagai kemasan pangan yang dinyatakan terlarang dan atau yang dapat melepasakan cemaran yang merugikan atau membahayakan kesehatan manusia.

Pangan tercemar  Pasal 21  Setiap orang dilarang mengedarkan :  a. Pangan yang sudah kadaluwarsa. Pangan yang mengandung bahan     beracun. . e. berbahaya. atau yang dapat merugiakan atau membahayakan kesehatan atau jiwa manusia . Pangan yang mengandung cemaran yang melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan . Pangan yang mengandung bahan yang dilarang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan . c. d. terurai atauyang berpenyakti atau berasal dari bangkai sehingga menjadikan pangan tidak layak dikonsumsi manusia . busuk. Pangan yang mengandung bahan yang kotor. b. tengik.

Label dan iklan pangan            (1) Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia pangan yang dikemas untuk diperdagangkan wjaib mencantumkan labl pada. Daftar bahan yang digunakan . Berat bersih atau isi bersih . Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia. Pasal 31 (1) Keterangan pada label. didalam dan atau di kemasan pangan . b. dan f. Nama produk . ditulis atau dicetak dengan menggunakan bahasa Indonesia. memuat sekurang-kurangnya keterangan mengenai : a. Tanggal. sebagaimana dimaksud dalam pasal 30. (2) Keterangan pada label. angka Arab dan huruf Latin . . e. c. bulan dan tahun kadaluwarsa (3) Selain keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Keterangan tentang halal . d. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemerintah dapat menetapkan keterangan lain yangwajib atau dilarang untuk dicantumkan pada label pangan. ditulis atau dicetak atau ditampilkan secara tegas dan jelas sehingga dapat mudah dimengerti oleh masyarakat . (2) Label.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful